GERAKAN REVITALISASI PEDULI PANGAN UNTUK MENCIPTAKAN
KEMANDIRIAN MASYARAKAT MENUJU INDONESIA SEJAHTERA
(Studi Kasus Kecamatan Talegong Kabupaten Garut)
Ence Surahman 1, Rahzianta2
1Teknologi Pembelajaran Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta Email: [email protected]
2Pendidikan Fisika Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta Email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam serta menemukan soluasi masalah ancaman krisis pangan di Indonesia khususnya di Kecamatan Talegong Garut disebabkan menurunnya minat para pemuda desa untuk menggarap lahan pertanian, perkebunan dan persawahannya, dan mereka lebih memilih bekerja di kota-kota besar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode ZOPP (Ziel Orientierte Projekt Planung - Objective Oriented Project Planning) penulis bermaksud mencari solusi atas permasalah tersebut, kemudian merancang program yang relevan dan merealiasikan program yang dihasilkan. Adapun hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat khususnya para pemuda tentang peduli pangan yang kian mengkhawatirkan. Diharapkan dengan terbukanya kerangka berpikir para pemuda bisa merevitalisasi upaya penyelamatan pangan guna mencapai visi misi pemerintah tentang kemandirian pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, membuka lapangan kerja di desa, mendidik mental wirausaha yang berwawasan global dengan pendekatan riset sederhana dan penerapan teknologi tepat guna untuk menunjang pencapaian standarisasi produk-produk pangan sehingga bisa bersaing di tingkat internasional.
Keyword : Revitalisasi Peduli Pangan, Kesejahteraan Masyarakat Desa, Kecamatan Talegong Garut.
PENDAHULUAN
Sektor pangan yang mencakup tanaman bahan makanan, peternakan, holtikultura, perkebunan, perikanan dan perhutanan merupakan satu dari tiga sektor yang penting dalam pemenuhan kebutuhan dasar hidup manusia selain sandang dan papan. Pangan yang baik berdampak pada peningkatan mutu dan kualitas kesehatan dan kesejahteraan manusia yang pada akhirnya mampu meningkatkan tarap kebahagiaan hidup manusia itu sendiri.
Pentingnya sektor pangan tersebut tidak dapat dipandang sebelah mata, sehingga membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai pihak baik pemerintah dalam hal ini stakeholder dalam bidang-bidang yang terkait sektor pangan maupun dari kalangan masyarakat dan pihak swasta. Sehingga sektor pangan senantiasa berkembang dan berkontribusi positif terhadap kesejahteraan masyarakat.
Namun pada kenyataannya perhatian dari tiga elemen penting di atas pada sektor pangan mengalami masalah kritis antara idealisme yang diharapkan dengan kenyataan di lapangan. Salah satunya sebagaimana proses pengamatan penulis pada sektor pangan di Kecamatan Talegong Kabupaten Garut. Berdasarkan hasil pengamatan dan studi lapangan serta studi pustaka yang penulis lakukan, ditemukan beberapa fakta menarik yang mengarah pada kemunduran kepedulian dan perhatian masyarakat pada sektor pangan di wilayah tersebut.
tidak terjangkau dari akses informasi update. Sampai saat ini belum ada satupun surat kabar harian yang membuka jaringan agennnya disana, selain itu Kecamatan Talegong tidak memiliki kantor POS walaupun kode posnya terdaftar. Hal ini juga sering menyulitkan proses komunikasi sebelum adanya jaringan telekomunikasi seperti saat ini.
Di sebelah timur laut Kecamatan Talegong berbatasan langsung ke Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur, kemudian di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Cisewu dan Kecamatan Pamulihan Kabupaten Garut. Talegong Memiliki luas wilayah sebesar 10.874 Ha dengan pembagian persentase 9 % perkampungan penduduk, 11 % pesawahan, 10 % tegalan, 25 % kebun campuran, 6 % perkebunan, 36 % hutan dan lain-lain-lain 2%. Dengan kemiringan lahan yang sangat tinggi yakni > 40 % kemiringan yang jumlahnya mencapai 91 % dari jumlah lahan dan semua lahannya berada di atas ketinggian > 500 mdpl. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 Kecamatan Talegong memilki jumlah penduduk sebanyak 30.179 jiwa (9.468 keluarga) dengan laju pertumbuhan 1,3 dan hampir 100 % penduduknya beragama Islam.
Mata pencaharian masyarakatnya mayoritas berkebun, berternak dan berdagang serta beberapa persen yang bekerja sebagai PNS dan karyawan swasta di Kota dan Kabupaten Bandung dan beberapa ada yang menjadi tenaga kerja Indonesia keluar negeri. Rendahnya kualitas pendidikan masyarakat yang mayoritas hanya sampai pendidikan sekolah menengah pertama, kemudian tidak adanya program penyuluhan dan pelatihan dalam bidang pangan diduga menjadi pemicu menurunnya minat dan kesadaran generasi para pejuang pangan di kawasan Talegong, hal itu terbukti dengan meningkatnya jumlah pemuda yang telah lulus sekolah menengah atas yang lebih memilih mencari pekerjaan di kota dibandingkan menjadi petani, peternak di desa. Kondisi ini diperparah dengan kondisi musim yang semakin tidak menentu, kemudian mahal dan langkanya suplai bibit berkualitas dan pupuk buatan, tidak adanya saluran irigasi yan baik, juga rendahnya harga produksi hasil pertanian di kalangan pembeli semakin menguatkan paradigma para pemuda untuk tidak memilih terjun ke sawah, ladang dan area perkebunan.
Maka dari itu penulis tergerak hati untuk mengkaji secara mendalam berkaitan dengan fenomena-fenomena masalah yang muncul, faktor penyebabnya, dan gagasan solusi dari masalah-masalah tersebut yang bisa diusulkan untuk kemudian ditindak lanjuti dalam bentuk program-program praktis yang terencana dan termonitor secara berkelanjutan.
Gerakan revitaliasi peduli pangan merupakan sebuah gagasan solusi berdasarkan hasil analisis dan kajian mendalam berkaitan dengan krisis pangan yang semakin mengancam khususnya di Kecamatan Talegong Garut. Gerakan ini berupa program penelitian dan pengabdian dalam bentuk program-program yang terencana, terukur dan berkelanjutan. Fokus dari program ini adalah pada pencerdasan peningkatan pemahaman masyarakat usia produktif khususnya para pemuda tentang pentingnya kemandirian pangan dan bagaimana cara dan upaya untuk mencapainya.
Revitalisasi pangan itu sendiri pernah dicanangkan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yodhoyono mulai tahun 2013 melalui kebijakan revitalisasi pangan yang digalakan oleh Kementerian Pertanian diantaranya dengan regulasi tentang penanaman serempak sebagai agenda utama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan pemerintahan desa dalam bentuk peraturan desa. Namun pada kenyataannya implementasi dari kebijakan tersebut belum maksimal khususnya untuk daerah Talegong Garut.
METODOLOGI
Metode penelitian ini yaitu metode studi pustaka dan kajian hasil pengamatan lapangan penulis. Dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan dalam penyusunan programnya menggunakan metode ZOPP (Ziel Orientierte Projekt Planung) atau metode perencanaan proyek yang berorientasi tujuan. ZOPP dikembangkan di Jerman sebagai metode bagi perencanaan proyek, tetapi dalam perkembangannya di Indonesia, sejak tahun 1988 ZOPP juga dikembangkan dalam proses perencanaan pembangunan daerah (Bondan,2012).
diawasi demi keberhasilan program, bagaimana keberhasilan suatu program dapat dinilai secara obyektif, serta dari mana data-data yang diperoleh untuk menghasilkan suatu program secara obyektif (Brantakusumah, 2004).
Penggunakan metode ZOPP menyangkut beberapa langkah analisis yang dilakukan secara bertahap dalam penelitian ini, antara lain: participation analysis (analisis partisipatif), problem analysis (analisis masalah), objectives analysis (analisis tujuan), discussion of alternatives (analisis alternatif dan penentuan prioritas), dan protect planning matrix (yang mencakup 4 tahap) (Bondan, 2012).
Penulis ingin mencari tahu secara mendalam tentang fenomena yang terjadi, faktor penyebabnya dan solusi yang bisa ditawarkan yang akan penulis tindak lanjuti bersama beberapa pemuda dan pihak-pihak yang menaruh perhatian lebih akan permasalahan pangan di Talegong khususnya dan di Indonesia pada umumnya, karena penulis berharap hasil dari kajian ini akan bisa di implementasikan di daerah lain yang memiliki permasalahan yang serupa dengan permasalahan yang dihadapi di Kecamatan Talegong Garut.
Selain itu yang lebih penting dari tindak lanjut dari makalah ini yaitu program-program praktis yang penulis siapkan dari beberapa solusi yang bisa dilaksanakan disana. Rencananya penulis akan mengadakan beberapa pelatihan kepada para pemuda baik yang lulusan SMA maupun yang lulusan SD dan SMP serta yang tidak berkesempatan untuk sekolah agar diberikan pemahaman tentang urgensi penyelamatan krisis pangan, kemudian pelatihan tentang inovasi teknologi tepat guna dalam bidang pertanian, peternakan dan perkebunan serta olahan hasilnya sampai pelatihan pemasaran produk yang akan lebih menguntungkan. Harapannya dengan begitu apa yang penulis rencanakan bisa memberikan kontribusi untuk kemandirian pangan di Kecamatan Talegong khususnya dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki tantangan tersendiri berkaitan dengan pembangunan yang direncanakannya, terkadang kebijakan pembangunan disektor A tidak seirama dengan tuntutan pembangunan disektor B, C, D dan sektor lainnya sehingga seolah-olah proses pembangunan saling sikut, tidak padu dan terkesan berbeda haluan. Contoh sederhana kebijakan perluasan lahan pertanian, terjegal dengan tuntutan perluasan lahan pemukinan dan kawasan industri, perluasan area persawahan tersandung tuntutan fasilitas umum seperti pasar, bangunan pendidikan dan lain-lain. Tentu jika semua orang tidak bijak dalam bersikap maka susah untuk bisa satu irama.
Begitu pula dalam bidang pertanian, sebagai negara agraris Indonesia mendapatkan tantangan yang sangat berat berkaitan dengan kebijakan bidang pertaniannya. Dalam konteks makro, kementerian pertanian mengklasifikasikan beberapa masalah serius yang dihadapi dalam rangka pembuatan rencana strategi pembangunan pertanian 2015-2019 diantaranya dari aspek lahan seperti konversi lahan yang tidak terkendali, keterbatasan dalam mencetak lahan baru, penurunan kualitas lahan, rata-rata kepemilikan lahan yang sempit, ketidakpastian status kepemilikan lahan. Dari aspek infrastruktur contohnya masalah kerusakan jaringan irigasi yang tinggi, pendangkalan waduk, kurang memadainya sarana pelabuhan dan transportasi ternak.
Selanjutnya dari aspek benih muncul masalah sistem pengadaan benih yang tidak sesuai musim tanam, belum terbangunnya pembibitan sapi nasional. Berikutnya dari aspek regulasi maupun kelembahaan diantaranya muncul masalah Perijinan investasi untuk pengembangan integrasi sawit sapi, perijinan HGU investasi tanaman pangan, yang belum diatur petunjuk pelaksanaannya kecuali tebu, kelembagaan petani yang belum memiliki posisi tawar yang kuat. Dari aspek SDM muncul masalah kemampuan petani, peternak dan pekebun dalam dalam memanfaatkan teknologi maju, menurunnya minat generasi muda untuk terjun dalam bidang pertanian, keterbatasan tenaga penyuluh, pengamat OMT, pengawas benih tanaman, serta tenaga kesehatan hewan. Terakhir dari aspek pemodalan muncul masalah sulitnya akses petani terhadap pemodalan, tunggakan kredit usaha tani yang belum terselesaikan, persyaratan angunan kredit KKPE berupa sertifikat, menghambat penyaluran.
penyelesaikan masalah di atas tidak bisa hanya menggunakan satu pendekatan misalnya top down semata melainkan mengharuskan adanya kebijakan yang multi dimensi, termasuk buttom up. Dengan begitu masalah-masalah serius di atas sedikit demiki sedikit bisa segera di atasi.
Selain masalah-masalah di atas pemerintah juga telah memiliki beberapa tantangan yang harus diperhatikan di atasnya terkait dengan perubahan iklim, kondisi perekonomian global, gejolak harga pangan global, bencana alam, jumlah penduduk yang terus meningkat, aspek distribusi yang belum efektif karena letak geografis yang sangat luas, dan laju urbanisasi masyarakat desa ke kota, sehingga indikasi masalah semakin berkurangnya minat masyarakat untuk bertani khususnya dikalangan pemuda semakin sulit untuk dipecahkan. Disamping itu sebentar lagi masuk pada era Asean Economic Community (AEC) tentu hal tersebut menuntut penyiapan jurus-jurus jitu dari semua bidang termasuk pertanian dan pangan.
Terkait dengan solusi atas permasalahan di atas, Kementerian Pertanian dalam rencana strategi pembangunannya memfokuskan rencana pembangunannya pada lima isu utama diantaranya 1) kecukupan produksi komoditas strategi (padi, jagung, kedelai, tebu, sapi, cabe dan bawang merah) serta pengurangan ketergantungan impor, 2) peningkatan daya saing produk di dalam negeri sebagai antisipasi diberlakukannya AEC, 3) pemantapan dan peningkatan daya saing produk pertanian di dunia internasional, 4) diversifikasi pangan untuk mengurangi konsumsi beras dan tepung terigu, 5) peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para petani.
Dari kelima fokus isu di atas, tentu semua kebijakannya sangat ideal, seandainya saja semuanya berjalan mulus dari hulu kehilir, hal itu tidak mungkin terwujud tanpa kerjasama dan kolaborasi semua pihak terkait untuk sama-sama komitmen membangun sektor pertanian Indonesia kedepan. Maka dari itu kajian, penelitian dan pengembangan yang berbasis riset dan berorientasi kepada inovasi dan pemanfaatan teknologi tepat guna menjadi salah satu hal penting yang bisa dilakukan oleh pada akademisi dan para praktisi peneliti dalam bidang pertanian.
Demikian pula dengan penulis yang ikut tersadarkan dengan kondisi dan masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa ini kedepan mulai tergerak untuk menggagas suatu bentuk gerakan yang dimulai dari gerakan pemikiran sampai kepada gerakan praktis yang terkait dengan upaya penyadaran dan revitalisasi rasa kepedulian masyarakat desa khususnya para pemuda untuk kembali menyatukan asa dan cita guna membangun kemandirian pangan kedepan.
Gagasan yang kami rencanakan yaitu berupa program penyadaran dan pembukaan kerangka berpikir melalui program kegiatan pelatihan, diskusi, dialog, dan tukar pikiran dari para ahli kepada para masyarakat. Berikutnya bersama-sama mencari solusi yang bisa dilakukan untuk memulai langkah membangun kekuatan pangan kedepan, melalui kegiatan berbagi pengalaman dari yang sudah berpengalaman kepada para pemula sengan kegiatan pengamatan lokasi pertanian, kemudian pelatihan inovasi-inovasi yang bisa dilakukan dalam bidang pertanian, sampai kepada pembangunan mekanisme dan sistem pasar dan pemodalan yang menganut prinsip mutualisme antara pihak pemodal, petani dan pemerintah yang turut mengawasi dan merancang regulasi yang baik.
Gambar 1 Peta Administrasti Kecamatan Talegong Garut (sumber : http://kecamatan.garutkab.go.id)
Secara geografis meyoritas di berupa hutan, perbukitan dan lahan pertanian, persawahan serta pemukiman warna.
Perkampungan; 8.18% Perkebunan; 5.45%
Pertanian ; 10.00%
Hutan; 32.73% Kebun Campuran; 22.73%
Persawahan; 10.00%
Tegalan/Kering Semusim; 9.09% Lain-lain; 1.82%
Bagan Proporsi Lahan di Kecamatan Talegong Garut
Bagan 1 Proporsi Penggunaan Lahan (Sumber : http://kecamatan.garutkab.go.id )
tidak bisa mengurusnya sepanjang tahun dikarenakan keringnya kolam ketika musim kemarau dan terbatasnya area sumber rumput untuk hewan peliharaan pemakan rumput.
Melihat potensi alam yang sangat baik tersebut, maka program-program yang mengarah kepada optimalisasi bidang pertanian merupakan sebuah keniscayaan untuk dikembangkan. Salah satunya adalah program yang kami gagas dalam makalah ini yakni program yang kami beri nama “Gerakan Revitalisasi Peduli Pangan untuk Kemandirian Masyarakt menuju Indonesia Sejahtera”.
Adapun bentuk programnya adalah berupa kegiatan penyuluhan, pelatihan dan sharing multi arah dalam sebuah wadah komunitas, artinya tidak hanya sebatas transfer pemahaman dari ahli semata melainkan dengan program sharing pengalaman dari anggota komunitas yang sudah berpengalaman walaupun boleh jadi tidak semuanya berhasil, justru ilmu tentang kegagalan dan ketidaksuksesan juga penting untuk diketahui anggota yang lain agar tidak mengalami hal yang sama. Disamping itu ada program kunjungan ahli, dimana beberapa anggota komunitas yang ingin mendalami satu bidang yang ia minati, bisa melakukan kunjungan kepada orang diluar anggota komunitas yang sudah berhasil. Selain itu ada program penelitian pertanian yakni program yang menjadi bagian dari kegiatan pertanian sehingga proses dan produk pertaniannya itu tidak berjalan begitu saja melainkan ada catatan dan jurnalnya tersendiri.
Berikut ini bagan yang berisi langkah-langkah praktis realiasasi program gerakan revitaliasi pangan yang penulis gagas untuk masyarakat khususnya pemuda di Kecamatan Talegong Garut.
Bagan 2 Langkah-langkah praktis gerakan revitaliasi peduli pangan
Empat langkah tersebut merupakan langkah-langkah yang masih umum, berikut penjelasan secara detailnya:
1. Pembentukan komunitas
Pada tahap ini kami akan melakukan komunikasi secara masif dengan pemerintah setempat melalui dinas terkait, kemudian berkoordinasi dengan beberapa pemuda yang memiliki perhatian tinggi dari perwakilan desa masing-masing kemudian rapat unntuk membicarakan pembentukan komunitas dan pengumpulan masa, selanjutnya pembuatan draf yang terkait dengan hal-ihwal pendirian sebuah komunitas, mulai dari draf nama, alamat kantor, visi, misi, strategi dan program baik jangka pendek maupun jangka panjan. Semuanya masih berupa draf yang akan didiskusikan dengan anggota komunitas lain dalam rapat pembentukan komunitas. Selanjutnya rapat pembentukan komunitas berbekal bahan yang sudan dirancang tim inti komunitas, sampai pengesahan kelengkapan komunitas.
2. Penyusunan program yang relevan
3. Pelaksanaan program
Setelah program direncanakan secara terukur, langkah berikutnya adalah take action dari semua program yang sudah disusun. Dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan dan di kelola dengan manajemen yang baik, rapi dan sistematis.
4. Monitoring dan evaluasi program
Semua proses akan berjalan dengan baik dan mengikuti prinsip perbaikan berkelanjutan manakala ada proses monitoring dan evaluasi di semua prosesnya. Maka dari itu perlu dibuat lembar penilaian proses monitoring dan evaluasi yang efektif.
Target inti dari program gerakan revitaliasi peduli pangan ini diantaranya 1) terbukanya wawasan masyarakat desa khususnya dikalangan pemuda tentang permasalahan dan kondisi terkini masalah pangan yang dihadapi Indonesia dan dunia, 2) terbentuknya wadah komunitas para pemuda yang memiliki kenginan untuk berkontribusi dalam gerakan revitaliasi pangan, 3) tersusunnya program-program praktis yang bisa mendorong upaya kemandirian pangan khususnya di Kecamatan Talegong Garut, 4) terbangunnya irama pergerakan yang diawali dari persamaan persepsi tentang gerakan revitalisasi peduli pangan di kalangan pemuda, 5) tumbuh kembangnya rasa peduli pangan di kalangan pemuda sehingga tidak perlu khawatir lagi dengan masalah turunnya minat bertani dikalangan para pemuda, 6) terbangunnya pola marketing dan optimaliasi pengolahan produk pangan yang bernilai jual tinggi, 7) meningkatnya produk pertanian, perikanan, dan peternakan minimal untuk kebutuhan masyarakat maksimalnya bisa mensuplai ke daerah ibu kota dengan peningkatan yang signifikan 8) karena produk pertanian yang berkali lipat diharapkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakatnya pun ikut meningkat, 9) ketika penghasilan dan kesejahteraan meningkat maka tarap hidup meningkat, daya deli meningkat, dan dorongan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan program lanjut pendidikan tinggi bisa meningkat pula, 10) ketika SDMnya sudah berkualias maka diharapkan Kecamatan Talegong akan menjadi kecamatan pelopor dan percontohan dalam rangka membangun dari desa dengan begitu Kecamatan Talegong akan dikenal oleh dunia luar, 11) dengan dikenalnya Talegong karena kreativitas dan kolektivitas masyarakat dalam membangun kemandiriannya, maka diharapkan potensi wisatanya bisa terangkat, 12) ketika potensi wisata sudah terekspos, masyarakat bisa membangun sentra hasil bumi dan hasil kreativitas warga untuk didual kepada para pendatang, dengan begitu maka kesejahteraan masyarakat dari potensi wisatanya dan hasil pangan bisa meningkat dan terus berkontribusi terhadap pembangunan nasional.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis potensi pertanian di Kecamatan Talegong yang sangat potensial ternyata masalah utamanya mengapa produk pertaniannya belum optimal, hal itu dikarenakan minimnya wawasan para petani tentang ilmu pertanian, peternakan dan perikanan. Hal itu terjadi karena tidak adanya penyuluhan dari pemerintah terkait, semua hanya belajar secara otodidak, tidak adanya program pemerataan kalender penanaman, tidak adanya bibit, pupuk dan modal bagi petani awal, masalah teknis sehingga mengakibatkan gagal panen, dan juga masalah pemasaran produk yang masih konvensional, sehinngga harga jual produk pertanian yang rendah mengakibatkan petani tidak untung bahkan sering rugi dan dengan begitu para pemuda enggan untuk ikut jejak orang tuanya ke sawah, kebun dan ladang.
Disamping itu rencana strategi pemerintah dalam bidang pertanian yang sangat menjanjikan perlu mendapatkan respon yang baik, khususnya dari pihak pemerintah dan masyarakat yang mengetahui informasinya, maka pembentukan wadah berupa komunitas dan kelompok tani kreatif bisa menjadi salah satu solusi dari ancaman krisis pangan di Kecamatan Talegong Garut. Dengan bekerja sama diharapkan bisa saling mendukung, mendorong dan saling memotivasi serta membangun kesadaran antara anggota yang satu dengan yang lainnya.
lapangan pekerjaan baru dan membantu krisis pangan di daerah perkotaan, sehinnga membangun kesadaran pangan dari desa akan mampu meningkatkan kesejarahteraan masyarakat dan menyiapkan mental menuju era persangan global dan membangun kemandirian pangan yang akan sejalan dengan program pembangunan nasional.
REFERENSI
Badan Perencanaan Nasional. tt . Bab 19 Revitalisasi Pertanian. Tersedia di
http://www.bappenas.go.id/files/7813/5230/0986/bab-19-revitalisasi-pertanian.pdf. di akses tanggal 8 November 2014.
Badan Perencanaan Nasional. 2013. Evaluasi Paruh Waktu RPJMN 2010-2014. Tersedia di
http://www.bappenas.go.id/files/1613/7890/3140/Buku-Evaluasi-Paruh-Waktu-RPJMN-_Bappenas.pdf diakses tanggal 08 November 2014.
Bratakusumah, D. Supriady. 2004. Perencanaan Pembangunan Daerah, Strategi Menggali Potensi dalam Mewujudkan Otonomi Daerah. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian. 2010. Revisi II Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perkebunan 2010-2014. Tidak diterbitkan.
Kecamatan Talegong Garut. 2011. Profil Kecamatan Telegong. Tersedia di
http://kecamatan.Garutkab.go.id/USerFiles/File/talegong2011.pdf. Diakses tanggal 05 November 2014
Kementerian Pertanian. 2014. Kebijakan Pembangunan Pertanian 2015-2019. Tersedia di
http://www.pertanian.go.id/eplanning/tinymcpuk/gambar/file/PaparanKaroPerencanaan.pdf. diakses tanggal 06 November 2014
Satriawan, B., Oktavianti, H. 2012. Upaya Pengentasan Kemiskinan Pada Petani Menggunakan Model Tindakan Kolektif Kelembagaan Pertanian. Jurnal