• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP PERILAKU DAN DAMPAK KEKERASAN TER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONSEP PERILAKU DAN DAMPAK KEKERASAN TER"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP PERILAKU DAN DAMPAK KEKERASAN TERHADAP MANUSIA DI INDONESIA

Josua Crystovel Pangihutan S

Mahasiswa Program Pascasarjana, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran 2017

Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Peningkatan jumlah penduduk tersebut dapat menimbulkan berbagai macam gejala sosial. Gejala sosial dapat berupa perilaku sosial dan tindakan yang ada pada masyarakat. Perilaku sosial merupakan suatu kondisi dimana seseorang menunjukkan keadaan jati diri seseorang. Perilaku sosial digunakan dalam masyarakat untuk menggambarkan perilaku yang biasanya dilakukan oleh individu. Masyarakat menunjukkan respon terhadap gejala yang dianggap dapat diterima atau tidak diterima oleh individu tersebut. Perilaku individu ditunjukkan oleh tindakan, sikap, perasaan, keyakinan, kenangan dan rasa hormat terhadap yang lain. Perilaku sosial juga dapat berupa hal psikis seseorang terhadap orang lain dan aktifitas fisik yang disesuaikan dengan tutuntan sosial.

(2)

Isi

Kekerasan (violence) merupakan salah satu gejala sosial yang menyimpang pada masyarakat di Indonesia. Gejala sosial yang menyimpang ini dapat menyakiti dan melukai individu lain. Gejala pada korban kekerasan di Indonesia dapat diketahui melalui wawancara dan observasi secara langsung. Hasil wawancara dari korban kekerasan dapat diketahui sesuatu hal seperti mengepalkan tangan, muka memerah, wajah tegang, pandangan tajam, suara tinggi dan jalan mondar-mandir. Hal tersebut dapat menyebabkan resiko terhadap orang lain yakni menciderai, melukai diri dan lingkungan.

Respon kemarahan dari korban perilaku kekerasan di Indonesia dapat berfluktuasi pada kondisi aditif hingga maladitif. Kondisi tersebut terdiri dari sikap yang ditunjukkan oleh seseorang diantaranya kondisi asertif, frustasi, pasif, agresif dan amuk secara langsung. Kondisi asertif dapat dilihat berupa ungkapan rasa tidak berkompromi tanpa menyakiti orang lain. Ungkapan tersebut juga dapat berupa perasaan dan perhatian terhadap orang lain. Frustasi merupakan respon dari seseorang yang gagal dalam mencapai tujuan. Sikap pasif seseorang dapat diketahui melalui tindakkan seseorang, tindakan tersebut tidak mampu diungkapkan perasaannya karena tidak menemukan alternatif lain dari masalah yang telah timbul. Sikap agresif adalah perilaku seseorang yang disertai amarah dan bertindak destruktif tetapi masih dapat dikontrol. Hal tersebut ditunjukkan melalui sikap kasar, muka masam, bicara kasar dan menuntut. Perilaku amuk merupakan tindakan maladatif. Tindakan tersebut dapat dilihat melalui sikap perilaku kekerasan secara langsung, kehilangan kontrol diri, perasaan marah dan merusak.

(3)

perilaku ini berdampak pada sesuatu pada korban seperti badan lebam, muka memerah, bilur pada sekujur tubuh, gigi patah, bekas luka dan lainnya.

Kekerasan secara ekonomi yang terjadi saat ini jarang terdengar tetapi cukup mengkahwatirkan pada masyarakat Indonesia. Kekerasan ini terjadi secara disengaja maupun tidak langsung oleh pelaku. Korban pelaku kekerasan ekonomi merasakan ditelantarkan dan kurang diperhatikan dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Contoh kasus lainnya dari tindakan kekerasan ekonomi seperti tidak memberi nafkah keluarga, anak dan istri.

Kekerasan terhadap seksual merupakan tindakan pelecehan terhadap seksual seseorang. Tindakan pelecehan ini terjadi seperti memaksa hubungan seksual, memaksakan selera seksual sendiri, pengisolasian seksual, menjauhkan aktivitas seksual suami maupun istri, tidak memperhatikan kepuasan seksual dan lain sebagainya. Perilaku lainnya yang dapat terjadi yaitu secara verbal maupun fisik merusuk pada seks. Pelaku pelecehan seksual terjadi dari berbagai kalangan umur, latar belakang, pendidikan, status sosial dan jenis kelamin. Korban dari kekerasan seksual diharapkan mencatat atau merekam setiap kejadian dan melaporkan kepada pihak berwajib. Kejadian kekerasan seksual yang dilaporkan dapat berupa identitas pelaku, lokasi, waktu, tempat dan saksi. Saksi merupakan seseorang yang melihat maupun mendengar kejadian.

(4)

Kasus bullying merupakan salah satu kejadian sosial yang menyimpang di masyarakat dan memjadi perhatian khusus di Indonesia. Tindakan bullying dilakukan oleh seseorang terhadap orang lainnya. Hal ini terjadi dikarenakan seseorang tersebut memiliki perilaku dominan yang lebih kuat. Perilaku dominan kepada seseorang yang lebih lemah dengan cara menggertak, menyakiti dengan tindakan kekerasan, menciptakan ketidaknyamanan terhadap korban sehingga merasa kejiwaan terganggu dan paranoid. Tindakan bullying terhadap sesama yang terjadi belakangan ini menjadi kekhawatiran dari berbagai kalangan. Tindakan bullying terjadi tidak hanya pada lingkungan institusi pendidikan saja, tetapi juga terjadi di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari. Tindakan

bullying terjadi pada semua umur, dimulai dari usia anak-anak hingga orang dewasa. Belakangan ini, pemberitaan media sedang ramai tentang kasus bullying. Kasus bullying umumnya terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini sedang menjadi keprihatinan bagi masyarakat Indonesia terutama terhadap remaja dan anak-anak.

Isu perubahan sosial dalam kemajemukan budaya merupakan salah satu hal menjadi perhatian di Indonesia. Dalam hal ini, semua pihak diharapkan dapat mengembangkan sikap kesetaraan perbedaaan dalam kelompok sosial seperti seni moral, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, pengetahuan dan hukum. Sosial dalam masyarakat merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem hidup bersama dalam bermasyarakat. Hidup bersama tersebut mencakup nilai-nilai sosial, struktur dan organisasi masyarakat Indonesia. Sistem sosial terdiri dari aktivitas individu manusia yang saling mengadakan kontak, bergaul dan berinteraksi dengan individu lainnya. Manusia berinteraksi dengan lainnya berdasarkan tata kelakuan yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. Lembaga sosial memberikan peran yang banyak dalam hubungan antar masyarakat. Sistem sosial yang dibentuk akan menjadi konsep dan dasar yang berlaku. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia perlu mengembangkan sistem kepercayaan yang baik. Sistem kepercayaan dapat mempengaruhi kebiasaan dan cara pandang individu.

(5)

langsung menjadi pengaruh dalam pembentukan karakter diri bangsa. Pengaruh tersebut diperlukan dalam regenerasi penerus bangsa Indonesia. Peningkatan tindakan kekerasan yang terjadi sejalan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan masyarakat dan sifat individualis manusia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sesama manusia dan makhluk lainnya dalam keperluan hidupnya. Dalam keperluan hidupnya, manusia bekerja, makan, minum, menikah, berkunjung dan melakukan aktivitas sosial lainnya. Tetapi di sisi lain, manusia juga sebagai satu individu. Manusia memiliki sifat yang berbeda. Hal tersebut diakibatkan oleh karakter, tujuan dan pandangan hidup yang berbeda. Selain itu terdapat hal lain yang dapat mempengaruhi seperti suku, kebiasaan, agama, budaya dan asal daerah. Perbedaan tersebut sering mempengaruhi proses interaksi sosial dan perbedaan kepentingan (conflict of interest).

Gejala kekerasan sebagai akibat adanya reaksi interaksi antar manusia. Reaksi tersebut dapat secara halus seperti konflik ide maupun secara berupa kekerasan. Tindakan kekerasan terhadap orang lain aktifitas manusia yang menyimpang. Aktifitas manusia yang menyimpang memiliki indikasi bertentang dengan undang-undang yang berlaku dan melawan hukum. Kegiatan melawan hukum dapat berupa ucapan dan perbuatan fisik. Perbuatan fisik dalam hal ini seperti memukul, melukai, membunuh dan kerusakan terhadap harta benda. Perbuatan dalam bentuk kekerasan biasanya disertai motif dari pelaku. Contohnya, dendam dapat bermotif cemburu, pembunuhan bermotifkan harta benda, penganiayaan bermotifkan persaingan usaha dan sebagainya.

(6)

seseorang yang ditiru. Hal tersebut bergantung pada pengertian dan tingkat pengetahuan dari pelaku. Beberapa kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia oleh pelaku dipengaruhi dan didapatkan melalui media sosial seperti telivisi, surat kabar, jejaring sosial internet (cyber) dan lainnya.

Pada sudut pandang aspek sosiologi, bahwa perilaku kekerasaan dipengaruhi oleh keadaan masyarakat. Keadaan masyarakat Indonesia akan selalu mengalami perkembangan seiring dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan tersebut akan membentuk perubahan masyarakat. Perubahan yang terjadi seperti sistem nilai moral dan etika yang telah ada pada masyarakat. Perkembangan kekerasan kriminal (crime violence) yang terjadi belakangan ini mengalami peningkatan. Peningkatan tindakan kriminal dalam bentuk kekerasan dapat menuju wabah epidemik kejahatan. Kekerasan yang terjadi pada berbagai strata golongan dalam masyarakat seperti dari golongan bawah, menegah, dan atas (high class). Kejahatan dalam bentuk kekerasan juga dipengaruhi oleh opini pendapat masyarakat (public opinion) sebagai contoh seperti pencurian barang harta benda dalam rumah akan sering terjadi frekuensinya jika masyarakat tidak menganggap tidak serius, kasus mutilasi akan lebih jarang terjadi frekuensinya jika masyarakat menganggap serius kejadian tesebut. Bahkan hal terburuk dalam sudut pandang sosiologi jika suatu masyarakat berpandangan bahwa kekerasan sering terjadi karena dianggap sebagai budaya (culture of violence).

Dilihat dari sisi aspek yuridis di Indonesia, bahwa pendekatan hukum dilaksanakan dalam rangka untuk ketertiban masyarakat. Selain itu, bertujuan kepada keadilan dan kepastian hukum. Hukum merupakan norma yang mengarah dan mengendalikan masyarakat dalam mencapai cita-cita suatu keadaan yang tertib, aman dan nyaman. Penindakan kasus kekerasan kriminal merupakan otoritas penegakan hukum dari negara. Tetapi, pada kenyataannya, banyak kasus kekerasan kriminal terjadi akibat campur tangan masyarakat dengan mengabaikan aspek hukum yang berlaku. Kondisi tersebut membahayan bagi keberlangsungan proses penegakan hukum di Indonesia.

(7)

penduduk yang besar. Keadaan budaya di Indonesia didominasi oleh bahasa, watak, nilai-nilai, agama dan pemahaman yang berbeda. Kecemburuan sosial juga mempengaruhi tindakan kekerasaan di Indonesia. Motif kecemburuan sosial dipengaruhi oleh kedudukan sosial dan ekonomi seseorang sehingga menjadi kebiasaan budaya (culture) dalam melakukan tindakan kekerasan. Dalam menganalisis tindakan kekerasan dapan digunakan konsepsi budaya premanisme. Budaya premanisme seringkali dalam bentuk perbuatan mengancam, menekan orang lain baik secara fisik maupun psikis.

Manusia adalah makhluk sosial. Makhluk sosial tersebut sejak lahir hingga hayatnya akan selalu membutuhkan individu lainnya seperti melakukan relasi interpersonal. Relasi interpersonal dapat dilihat dari berbagai aktivitas. Aktivitas itu berdasarkan naluri dan proses pengalaman individu tersebut. Naluri dan pengalaman seseorang berkaitan pada hubungan relasi interpersonal disebut perilaku sosial. Setiap individu akan selalu berusaha memenuhi tuntutan sosial. Oleh karena itu, individu tersebut membutuhkan naluri dan pengalaman sosial untuk menjadi landasan hubungan masyarakat.

Suatu sikap perilaku dari seseorang akan dianggap menyimpang ketika perbuatan tingkah laku individu tersebut tidak sesuai dengan norma sosial. Tingkah laku yang tidak sesuai norma sosial adalah bentuk pelanggaran terhadap norma. Bentuk pelanggaran terhadap norma merupakan gejala dari wujud kemerosotan nilai moral sosial. Norma dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan sesuatu yang dianggap menimpang atau sikap tidak menyimpang. Pada dasarnya, perilaku sosial seseorang dapat dikatakan karakter kepribadian yang dapat diamati ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain. Seseorang yang memiliki sikap pemberani umumnya suka mempertahankan haknya. Sikap pemberani tersebut dengan cara tidak memiliki rasa malu (segan) dalam melakukan sesuatu perbuatan serta lebih mementingkan tujuan diri atau kelompoknya.

(8)

masukkan terhadap orang lain. Selain itu sifat inisiatif dapat dilihat melalui dari tidak begitu mempersoalkan lalar belakangnya seseorang, mengajukan diri dan suka mengorganisasi orang lain.

Sifat suatu individu dapat diterima oleh yang lainnya bila tidak memiliki perasaan buruk terhadap orang lain, dapat dipercaya, memiliki sikap loyal, menghargai orang lain dan pemaaf. Di dalam pergaulan sering kali seseorang yang memiliki sifat mudah bergaul lebih mudah menjaga hubungan sosial dengan baik, senang dan bersama terhadap lainnya. Seseorang yang ramah umumnya memiliki sikap hangat, periang, terbuka, bersosialisasi dan mudah menerima orang lain. Dalam sosial, perilaku ekspresif dapat ditunjukkan melalui sifat suka bersaing. Sifat suka bersaing umumnya melihat segala suatu sebagai perlombaan dan mengutamakan diri sendiri. Sifat agresif dapat dilihat melalui seseorang yang suka menyerang individu lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung, menentang, tidak patuh dan tidak kooperatif. Orang yang tenang (calm) umunya merasa tidak nyaman bila memiliki pendapat yang berbeda dengan orang lain dan tidak suka memamerkan apa yang dimilikinya. Sifat suka pamer umumnya selalu menonjolkan diri, berperilaku berlebihan, mencari perhatian dan pengakuan terhadap orang lainya.

Perilaku terdiri dari dua faktor yang mempengaruhi yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Faktor internal merupakan faktor yang dipengaruhi keputusan dari dalam diri individu. Faktor tersebut dapat berupa nafsu, motif dan sikap sendiri. Faktor internal juga dapat dipengaruhi oleh faktor biologis dan sosio-psikologis. Faktor biologis yaitu faktor bawaan (genetic), kebutuhan makan dan minum, kebutuhan akan seksual, melindungi diri sendiri. Sedangkan faktor sosio-psikologis dapat dilihat dari kemampuan kognitif dan emosional dalam diri orang tersebut. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu. Faktor yang terjadi akibat pengaruh individu lain seperti lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

(9)

merupakan faktor kondisi yang berkaitan dengan keuangan seseorang. Keadaan tersebut mempengaruhi perilaku dari dalam diri sendiri. Keadaan ekonomi yang sulit akan membuat seseorang lebih nekat dan tidak mempertimbangkan hubungan dengan orang lain. Seseorang akan melakukan tindakan apapun dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup yang terpenuhi tetapi melanggar norma, tidak mempedulikan keadaan, dan aturan sekitarnya. Seseorang tidak memiliki rasa malu melakukan kegiatan itu. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang semakin mendesak.

Faktor hadiah dan hukuman merupakan faktor yang menjadi pendorong semangat seseorang dalam perubahan perilaku seseorang. Seorang individu akan melakukan perilaku yang baik dengan harapan mendapatkan sesuatu seperti hadiah. Hadiah tersebut dapat berupa pujian, ucapan selamat, uang, barang dan sebagainya. Faktor hukuman adalah dimana seseorang akan menerima resiko jika melakukan sesuatu tindakan yang menyimpang dari perilaku sosial. Resiko tersebut akan menjadi kendali dan kontrol pada seseorang. Dengan adanya sistem hadiah dan hukuman maka seorang individu akan selalu berhati-hati dalam berperilaku dan bertindak di masyarakat.

Pengalaman sosial merupakan peristiwa atau kejadian yang telah dialami seorang individu. Persitiwa tersebut dapat berupa pengalaman menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Pengalaman yang menyenangkan akan membuat seseorang untuk mengulangi kejadian tersebut, sedangkan pengalaman yang tidak menyenangkan dapat membuat seseorang untuk tidak menyukai sosial (anti sosial). Proses terjadinya perilaku kekerasan dapat dilihat dari gejala cemas, stres, marah. Gejala tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Stress dapat menyebabkan kecemasan seseorang lebih tinggi. Keadaan tersebut berdampak perasaan tidak menyenangkan. Gejala marah dapat dilihat melalui ungkapan secara verbal, menantang dan menekan.

Lingkungan merupakan salah satu agen perubahan (agent of change) dari perilaku manusia.

(10)

yang kuat. Self defence tersebut merupakan pertahanan dari nilai sikap diri seseorang. Sikap diri seseorang berupa respon yaitu bagaimana cara menerima atau menolak pengaruh dari luar.

Penutup

(11)

Referensi

Herman, J.L. 2015. Trauma and recovery: The aftermath of violence--from domestic abuse to political terror. Basic Books Press: US

Krug, E.G., J.A. Mercy, L.L. Dahlberg, and A.B. Zwi. 2002. The world report on violence and health. Journal of The Lancet, 360(9339): 1083-1088

Meron, T. 1989. Human rights and humanitarian norms as customary law (p. 82). Clarendon Press: Oxford

Pogge, T.W. 2008. World poverty and human rights. Polity Press: UK

Risse-Kappen, T., S.C. Ropp, and K. Sikkink. 1999. The power of human rights: International norms and domestic change (Vol. 66). Cambridge University Press: UK

Turnley, W.H., and D.C. Feldman. 1999. The impact of psychological contract violations on exit, voice, loyalty, and neglect. Journal of Human relations, 52(7): 895-922

Waluya, B. 2007. Sosiologi: menyelami fenomena sosial di masyarakat. PT Grafindo Media Pratama: Bandung

Wolfgang, M.E., F. Ferracuti, and H. Mannheim. 1967. The subculture of violence: Towards an integrated theory in criminology (Vol. 16). Tavistock Publications Press: London

Referensi

Dokumen terkait

Tempat : Kantor Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Papua Barat, Kompleks Perkantoran Arfai Gunung Manokwari. Demikian undangan ini disampaikan, atas perhatian dan kehadiran

 They do not understand the central, purpose and basic context of extended spoken texts when it is necessary to connect information across the text or when

(2) the average o f the test between experiment group and control group were 7.5 and 5.3, and (3) the result of matched t-test formula was 5.09, this score is higher than 2.00 as

Varietas Kancil, Domba, Bison, Tuban, Mahesa dan galur ICGV 87055 mampu berproduksi lebih dari 2 t polong kering/ha, 18% hingga 55% lebih tinggi dibanding varietas lokal (Tabel

Bahwa Pimpinan STIESIA dalam Rapat Pleno tanggal 14 September 2012 telah menerima konsep Rencana Strategis (Renstra) Prodi S3 Ilmu Manajemen Tahun 2012-2016, dan sesuai

Kegiatan pengumpulan informasi merupakan tahap yang sangat penting dalam pengelolaan informasi dan dokumentasi. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh setiap SKPD

Tulisan ini hendak memberikan legal problem solving terhadap permasalahan penumpukan perkara pidana di Indonesia yang hingga saat ini belum mampu terpecahkan,

Als vissen onder deze maat toch al niet aangeland worden, zoals voor de Poolse situatie wordt aangegeven, zal het invoeren van een MLS op deze lengtes geen directe gevolgen hebben.