• Tidak ada hasil yang ditemukan

Integrasi Pendekatan SAVI Melalui Demons

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Integrasi Pendekatan SAVI Melalui Demons"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

INTEGRASI PENDEKATAN SAVI MELALUI METODE

DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATAN HASIL

PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Pengembangan Pembelajaran IPA

Dosen Pengampu : Dr. Budiyono Saputro, M.Pd

Disusun oleh :

Munari, S.Pd.I 12020160006

PROGRAM PASCASARJANA

ILMU PENDIDIKAN DASAR ISLAM

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kenyataan sehari hari sering kita jumpai sejumlah guru yang menggunakan metode tertentu yang kurang atau tidak cocok dengan isi dan tujuan pengajaran. Akibatnya, hasilnya tidak memadai, bahkan mungkin merugikan semua pihak terutama pihak siswa dan keluarganya, walaupun kebanyakan mereka tidakmenyadarihal itu.

Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan dapat mencapai tujuan pembelajaran, guru sebaiknya menentukan pendekatan dan metode yang akan digunakan sebelum melakukan proses belajar mengajar. Pemilihan suatu pendekatan dan metode tentu harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan sifat materi yang akan menjadi objek pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan banyak metode akan menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih bermakna. Fakta lapangan para guru hanya memberikan materi secara konvensional atau dengan metode ceramah saja sehingga pembelajaran sangat monoton.

Hal inilah yang membuat siswa sering merasa jenuh di kelas ketika belajar. Sehingga guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang aktif dengan menggunakan berbagai teknik yang didasari pengertian yang mendalam dari guru agar dapat memperbesar motivasi dan minat belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Usaha meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya IPA maka setiap guru harus berusaha menerapkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan pokok bahasan sehingga suasana belajar akan menyenangkan dan menarik minat siswa, sehingga informasi yang diberikan guru akan terekam dengan baik dalam memori setiap siswa.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang mencoba mengoptimalkan semua indera peserta didik berdasarkan aktivitas dan berpusat pada siswa adalah pendekatan SAVI. Meier menyatakan, pendekatan SAVI merupakan suatu pendekatan pembelajaran dengan cara menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan semua penggunaan alat indra. Unsur-unsur yang terdapat dalam SAVI adalah somatik, auditori, visual, dan intelektual. (Rika : 2013, hal. 3)

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakikat Belajar dan Mengajar IPA

1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu, yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku tersebut tidak dapat dijelaskan berdasarkan atas kecenderungan, tanggapan, bawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat.

Pendapat lain diungkapkan oleh Piaget yang dikutip Darmodjo (2008:14), piaget mengemukakan bahwa, tidak ada belajar tanpa perbuatan. Hal ini disebabkan perkembangan intelektual anak yang perkembangannya dipengaruhi langsung oleh keterlibatannya secara fisik dan mental dengan lingkungannya.

Hal ini sesuai dengan beberapa prinsip umum tentang belajar yang bertujuan agar siswa dapat belajar secara optimal dan tujuan pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik.

2. Pengertian mengajar

Engkoswara (1984:1) mengemukakan bahwa: (1) Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan atau ilmu pengetahuan dari seseorang guru kepada murid-muridnya. (2) Mengajar ialah menanamkan sikap dan nilai nilai, pengetahuan dan keterampilan dasar diri seseorang yang telah mengetahui dan menguasainya kepada seseorang. (3) Mengajar adalah membimbing seseorang atau kelompok orang supaya belajar berhasil.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, pada prinsipnya mengajar adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau usaha dalam proses kependidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta rancangan untuk mempermudah belajar.

Dalam proses kegiatan belajar mengajar, siswa membutuhkan kesempatan untuk berkomunikasi, baik dengan guru, teman, maupun dengan lingkungannya oleh karena itu seyogianya guru sebagai penyelenggara pembelajaran atau kegitan belajar mengajar dapat memikirkan dan mengupayakan terjadinya interaksi siswa dengan komponen-komponen lain yang terlibat dalam proses pembelajaran seperti tujuan, materi, metode alat/media pembelajaran, siswa dan guru, maupun dengan lingkungan sekitar secara optimal.

(4)

teknik penyajian materi pelajaran supaya dapat diserap dan terima secara optimal yaitu dengan cara pemilihan metode yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi serta materi yang disampaikan dalam kegiatan belajar mengajar.

3. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD

Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu dasar yang sudah berkembang pesat, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang mendasari untuk mencari tau tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep, prinsip-prinsip, dan memiliki sifat ilmiah. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah dasar bermanfaat bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, oleh karena itu tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dapat berhasil dengan optimal apabila nilai profesionalisme guru dalam pembelajaran dianggap cukup memadai. Didalam prakteknya pembelajaran di sekolah dasar setiap guru seyogianya menguasai berbagai bahan ajar, mengetahui secara utuh kurikulum mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah dasar dan menggunakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, oleh karena itu seyogianya seorang guru dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa yang mampu memanfaatkan lingkungan terutama yang ada di kelas yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar.

B. Pengertian Metode dan Pendekatan

Metode dibedakan dari pendekatan. Pendekatan lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan, sedangkan metode lebih menekankan pada teknik pelaksanaannya. Satu pendekatan yang direncanakan untuk satu pembelajaran mungkin dalam pelaksanaan proses tersebut digunakan beberapa metode. Sebagai contoh dalam pembelajaran pencemaran lingkungan. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran tersebut dapat dipilih dari beberapa pendekatan yang sesuai, antara lain pendekatan lingkungan.

(5)

mengakhiri pembelajaran tadi dengan memberi informasi yang berkaitan dengan hasil diskusi. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa metode dan pendekatan dirancang untuk mencapai keberhasilan suatu tujuan pembelajaran.

C. Pendekatan SAVI

1. Pengertian Pendekatan SAVI

Pendekatan SAVI adalah pendekatan berbasis kontruktivis yang menekankan bahwa belajar harus memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa. Dikatakan berbasis konstruktivis karena bersifat membangun. Tujuan dari pembelajaran konstruktivis ini ditentukan pada bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif produk dalam konteks nyata yang mendorong siswa untuk berpikir dan berpikir ulang lalu mendemonstrasikan (Riyanto; 2010). Sehingga tidak berlebihan kalau logo dari pendekatan SAVI tampak seperti di bawah ini.

Istilah SAVI adalah kependekan dari,Somatic artinya gerakan tubuh (aktivitas fisik) dimana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory bermakna belajar melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi; Visualization berarti belajar menggunakan indra mata melalui mengamati, membaca, menggambarkan, mendemonstrasikan, menggunakan media dan alat peraga; dan

(6)

Untuk memperjelas dapat melihat bagan di bawah ini;

Sedangkan menurut Suyatno, pendekatan pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar harus memanfaatkan semua alat indera yang dimiliki peserta didik. Dalam pendekatan pembelajaran SAVI terdapat 4 komponen sebagai ciri khas dari pendekatan pembelajaran ini yaitu Somatic, Auditory, Visual dan Intelektual.

Somatic adalah gerakan tubuh, yang berarti bahwa belajar harus dengan mengalami dan melakukan. Auditory adalah pendengaran, yang berarti bahwa indra telinga digunakan dalam proses pembelajaran dengan cara mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi.

Visual adalah penglihatan, yang berarti bahwa belajar harus menggunakan mata melalui mengamati, menggambar, melukis, mendemonstrasikan media pembelajaran dan alat peraga.

Intelectual adalah berpikir, yang berarti bahwa kemampuan berpikir harus dilatih melalui bernalar, mencipta, memecahkan masalah, mengkontruksi, dan menerapkan. (Suyatno: 2010, hal.65)

2. Kerangka Pembelajaran SAVI

Berbeda dengan model pembelajaran konvensional, pembelajaran model SAVI sangat mengutamakan aktivitas dan peran siswa dalam belajar. Dalam pembelajaran SAVI dinyatakan belajar yang paling baik adalah melibatkan emosi, seluruh tubuh, semua indera, dan segenap kedalaman serta keluasan pribadi. (Hardian: 2009)

Tahapan dalam pendektan SAVI dibagi menjadi 4 tahap, yaitu; 1) Tahap persiapan (kegiatan pendahuluan)

(7)

a) memberikan sugesi positif g) menciptakan lingkungan sosial yang positif

b)memberikan pernyataan yang memberi

manfaat kepada siswa h) menenangkan rasa takut

c) memberikan tujuan yang jelas dan bermakna i) menyingkirkan hambatan-hambatan belajar

d) membangkitkan rasa ingin tahu k) merangsang rasa ingin tahu siswa

e) menciptakan lingkungan fisik yang positif j) banyak bertanya dan mengemukakan berbagai masalah

f) menciptakan lingkungan emosional yang

positif l) mengajak pembelajar terlibat penuh sejakawal.

2) Tahap Penyampaian (kegiatan inti)

Pada tahap ini guru hendaknya membantu siswa menemukan materi belajar yang baru dengan cara menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan pancaindera, dan cocok untuk semua gaya belajar.

Hal- hal yang dapat dilakukan guru:

a) uji coba kolaboratif dan berbagi

pengetahuan f) aneka macam cara untuk disesuaikandengan seluruh gaya belajar b) pengamatan fenomena dunia nyata g) proyek belajar berdasar kemitraan dan

berdasar tim

c) pelibatan seluruh otak, seluruh tubuh h) latihan menemukan (sendiri, berpasangan, berkelompok)

d) presentasi interaktif i) pengalaman belajar di dunia nyata yang kontekstual

e) grafik dan sarana yang presentasi

berwarna-warni j) pelatihan memecahkan masalah

3) Tahap Pelatihan (kegiatan inti)

Pada tahap ini guru hendaknya membantu siswa mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara.

Secara spesifik, yang dilakukan guru yaitu:

a) aktivitas pemrosesan siswa g) refleksi dan artikulasi individu b) usaha aktif atau umpan balik atau renungan

atau usaha kembali

h) dialog berpasangan atau berkelompok

c) simulasi dunia-nyata i) pengajaran dan tinjauan kolaboratif d) permainan dalam belajar j) aktivitas praktis membangun keterampilan e) pelatihan aksi pembelajaran k) mengajar balik

(8)

4) Tahap penampilan hasil (kegiatan penutup)

Pada tahap ini guru hendaknya membantu siswa menerapkan dan memperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan penampilan hasil akan terus meningkat.

Hal hal yang dapat dilakukan adalah:

a) penerapan dunia nyata dalam waktu yang segera

e) pelatihan terus menerus

b) penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi f) umpan balik dan evaluasi kinerja c) aktivitas penguatan penerapan g) aktivitas dukungan kawan

d) materi penguatan prsesi h) perubahan organisasi dan lingkungan yang mendukung

D. Metode Demonstrasi

1. Pengertian Metode Demonstrasi

Winarno (1980: 87) mengemukakan bahwa, metode demonstrasi adalah adanya seorang guru, orang luar yang diminta, atau siswa memperhatikan suatu proses kepada seluruh kelas. Moedjiono dan Mohamad (1992: 72) mengemukakan bahwa, demonstrasi adalah suatu penyajian yang dipersiapkan secara teliti untuk mempertontonkan sebuah tindakan atau prosedur yang digunakan. Selanjutnya Canei, (1986: 38) mengungkapkan bahwa, metode demonstrasi ditandai dengan penjelasan, ilustrasi dan pernyataan lisan (oral), atau peragaan(visual) secara tepat. Dari batasan ini nampak bahwa metode ini ditandai adanya kesengajaan untuk mempertunjukan tindakan atau penggunaan prosedur yang ditandai penjelasan, ilustrasi, atau pernyataan secara lisan maupun visual. Syaiful dan Aswan (2006:90) memberikan definisi tentang metode demonstrasi yaitu, Cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan, yang disertai dengan penjelasan lisan.

Metode demonstrasi merupakan metode yang paling sederhana dibandingkan dengan metode-metode mengajar lainnya. Metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh siswa secara nyata atau tiruan.

(9)

Dengan metode demonstrasi siswa berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan. Dalam demonstrasi diharapkan setiap langkah pembelajaran dari hal hal yang didemonstrasikan itu dapat dilihat dengan mudah dan melalui prosdur yang benar dan dapat pula dimengerti materi yang diajarkan.

2. Alasan Penggunaan Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi merupakan metode yang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, untuk ikut mempraktikan atau memperagakan materi yang sedang dibahas. Dengan penerapan metode demonstrasi diharapkan siswa lebih memahami konsep pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan melekat dalam daya pikir dan daya nalar mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat rusffendi (1993:304 ) yang mengungkapkan bahwa, orang dapat menerima materi hanya 20 % dari apa yang yang didengar, 50 % dari apa yang dilihat, dan 75 % dari apa yang dilakukan atau diperbuat. Selain itu juga dikuatkan oleh bagan di bawah ini.

Dari pernyataan tersebut diatas belajar dari berbuat dan melakukan akan lebih berhasil dibandingkan dengan hanya melihat atau mendengarkan saja, hal ini yang menjadi sebab dan alasan penerapan metode demonstrasi dipergunakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Dasar. alasan lain penerapan metode demonstrasi diterapkan di sekolah dasar adalah sebagai berikut:

a) Tingkat perkembangan berpikir anak berbeda

(10)

mendengar penjelasan saja. Karena dengan penerapan metode demonstrasi dapat memberikan gambaran konkret yang memperjelas perolehan belajar siswa dari hasil pengamatannya.

b) Materi yang dipelajari tidak semua sama

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tidak lepas dari kegiatan praktikum, sehingga siswa seyogianya mampu mempraktikan atau memperagakan materi yang dipelajari untuk lebih memperjelas, berbeda dengan materi pelajaran lainnya, yang tidak tergantung dalam kegiatan parktikum. Oleh kerena itu penerapan metode demonstrasi sangat di butuhkan untuk menunjang keberhasilan belajar siswa.

c) Tipe belajar individu yang berbeda-beda

Tipe visual: orang yang bertipe ini lebih mudah belajar dengan melihat dan menyaksikan, baik secara langsung maupun melalui alat, dalam hal ini penerapan metode demonstrasi sebaiknya dapat digunakan.

Tipe motorik: orang yang bertipe ini lebih mudah belajar dengan melakukan langsung. Dalam hal ini penerapan metode demonstrasi, latihan atau praktikum sebaiknya banyak digunakan

Tipe Auditif: orang yang bertipe ini lebih mudah belajar dengan mendengarkan, dalam hal ini siswa yang bertipe auditif tidak perlu terlalu banyak menggunakan metode demonstrasi, akan tetapi siswa akan lebih memahami lagi dan lebih melekat kedalam daya pikir anak ketika menggunakan penerapan metode demonstrasi.

Tipe campuran: tipe ini belajar memerlukan kombinasi atau campuran dan tipe-tipe belajar tersebut di atas.

Hal ini sangat sejalan dengan konsep pendekatan pembelajaran SAVI sehingga keduanya saling menguatkan dan sinergitas.

3. Kelebihan Metode Demonstrasi

Dengan penerapan metode demonstrasi siswa akan terhindar dari kesalah pahaman konsep dari hasil membaca atau mendengarkan saja, adapun kelebihan metode demonstarasi antara lain; a. Melibatkan siswa dalam kegiatan demonstrasi, sehingga memberikan kemungkinan yang besar bagi para siswa memperoleh pengalaman-pengalaman langsung.

(11)

4. Tujuan Penerapan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran IPA SD

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) melalui peningkatan metode demonstrasi membantu siswa untuk aktif dan kreatif sejalan dengan pendekatan SAVI. Oleh karena itu penerapan metode demonstrasi lebih sesuai untuk mengajarakan keterampilan tangan dimana gerakan-gerakan dalam memegang sesuatu benda akan dipelajari ataupun untuk mengajarkan hal-hal yang bersifat runut kepada siswa sekolah dasar, dengan kata lain metode demonstrasi bertujuan unuk mengajarkan keterampilan-fisik yang sesuai dengan perkembangan berpikir siswa sekolah dasar.

Berangkat dari pemikiran di atas dapat didefinisikan tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) melalui penerapan metode demonstrasi bagi siswa sekolah dasar adalah untuk mengaktifkan semua indera peserta didik (SAVI), antara lain:

a) Untuk membangkitkan kreativitas anak, seorang guru perlu memberikan kebebasan dan pengawasan dengan penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) guru dapat mengajar siswa sekolah dasar tentang suatu tindakan, proses atau prosdur keterampilan-keterampilan fisik atau motorik (somatik).

b) Mengembangkan kemampuan pengamatan (visual) pendengaran dan penglihatan (auditory) para siswa secara bersama-sama.

c) Mengkonkretkan informasi yang disajikan kepada para siswa (intelectual).

5. Langkah-langkah penerapan metode demonstrasi

Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam memakai metode demonstrasi adalah sebagai berikut :

a. Persiapan penerapan metode demonstrasi, meliputi : 1) Mengkaji kesesuaian metode terhadap

tujuan yang akan dicapai 2) Mencoba peralatan dankebutuhan waktu analisis 3) Menganalisis kebutuhan peralatan untuk

demonstrasi 4) Merancang garis-garis besar demonstrasi

b. Pelaksanaan penerapan metode demonstrasi meliputi :

1) Mempersiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk demonstrasi

2) Memberikan pengantar demonstrasi untuk mempersiapkan para siswa mengikuti demostrasi, berisikan penjelasan tentang prosedur dan intruksi keamanan demonstrasi 3) Memeragakan tindakan, proses, atau prosedur yang disertai penjelasan, Ilustrasi, dan

(12)

c. Tindak lanjut penerapan metode demonstrasi meliputi :

1) Diskusi tentang tindakan, proses, atau prosedur yang baru saja didemonstrasikan

2) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba melakukan segala hal yang telah didemonstrasikan

Dalam proses pembelajaran dengan penggunaan metode demonstrasi, siswa perlu mendapat waktu yang cukup lama untuk memperhatikan suatu yang didemonstrasikan itu. Dalam demonstrasi, terutama dalam rangka mengebangkan sikap, guru perlu merencanakan pendekatan secara lebih berhati-hati dan ia memerlukan kecakapan untuk mengarahkan motivasi dan berpikir siswa.

(13)

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Penggunaan metode yang tepat dalam proses pembelajaran memegang peranan penting dalam keberhasilan pembelajaran. Tidak semestinya siswa selalu menjadi objek kambing hitam ketika terjadi kegagalan pembelajaran, karena bisa jadi guru memegang peranan dalam kegagalan tersebut.Kegagalan pembelajaran selama ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktorinternaldan

eksternal. Faktor internal berasal dari diri siswa itu sendiri, sedangkan faktor eksternal dapat disebabkan karena penggunaan metode yang tidak tepat oleh guru.

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang cenderung konvensional dan verbalism

membuat siswa kurang maksimal dalam memahami materi bahkan tidak jarang terjadi miss understandingsehingga berbuah kesalah pahaman konsep keilmuan. Salah satu pendekatan dan metode yang sepatutnya dipahami dan diketahui seorang pendidik untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa adalah pendekatan SAVI melalui metode demonstrasi, karena selain sesuai dengan tahap perkembangan siswa, pendekatan SAVI sangat cocok dengan model pembelajar para siswa yang multivariat. Masa usia sekolah dasar adalah masaaktif dan siswa belum matang konsep bahasa-nya, sehingga pembelajaran yang cenderung verbalism dan pasif akan memungkinkan munculnya kebosanan dan miss conception selama pembelajaran. Yang pada akhirnya tujuan pembelajaran tidak dapat dicapai. Maka pendekatan SAVI melalui metode demonstrasi memberikan jalan pilihan sebagai solusi agar tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisen.

Saran

Berdasarkan uraian pembahasan diatas maka seyogianya ;

1) Guru memahami dan menguasai metode pembelajaran yang tepat

2) Guru menggunakan pendekatan dan metode yang tepat menyesuaikan karakter mata pelajaran & siswa

3) Guru menggunakan pendekatan dan metode dengan tetap memperhatikan kemampuannya

4) Penggunaan pendekatan SAVI dan metode demonstrasi melalui persiapan dan tahapan yang matang

(14)

6) Guru senantiasa melakukan pengembangan dan modifikasi terhadap metode pembelajaran sehingga tercipta metode pembelajaran yang efektif dan efisien.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Henny, S. Pendekatan Somatic, Auditory, Visually, Intelectually (SAVI) Terhadap Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Anak Tunarungu Di SDLB Bina Bangsa Sidoarjo ,Jurnal Pendidikan Khusus.2014

Kurnia, Ingridwati.Perkembangan Belajar Peserta Didik.Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Lapono, Nabisi.Belajar dan Pembelajaran SD.Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Meier, Dave. The Accelerated Learning Handbooks: Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan Pelatihan.Diterjemahkan oleh Rahmani Astuti. Bandung: Kaifa. 2005.

Munawaroh, Isniatun & Sungkono. Pengembangan Bahan Pembelajaran SD . Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Natih, Nena dkk. Pendekatan Pembelajaran Somatic Auditory Visual And Intellectual (SAVI) Berpengaruh Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SD No.1 Kuta . Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja: tth.

Nova, Kusmayuda dkk. Pengaruh Model Pembelajaran Savi Berorientasi Keterampilan Proses Sains Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Gugus V Kecamatan Tejakula . Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja: tth.

Nur Azizah, dkk. Penerapan Pendekatan Somatis Auditori Visual Intelektual Pada Materi Sumber Energi Bunyi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa ,Jurnal Pena Ilmiah:Vol. 1, No. 1,2016.

Rika, M.K. Penerapan Pendekatan Savi (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual) Pada Materi Pencemaran Lingkungan Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII di SMP Wahidin Kota Cirebon . IAIN Syekh Nurjati Cirebon: 2013.

Riyanto. Peningkatan Prestasi Belajar IPA Materi Gaya Melalui Metode Demonstrasi Pada Siswa Kelas V di MI Al-Hidayah Ngadirojo Kec. Ampel, Kab. Boyolali Tahun Pelajaran 2014/2015 . STAIN Salatiga: 2014.

(16)

Sugiyanto.Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13. 2008.

Sutrisno, Leo & Kartono.Pengembangan Pembelajaran IPA SD.Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji syukur bagi Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan anugrah kehidupan yang diberikan kepada penulis. Oleh karena kasih, hikmat serta pertolonganNya, penulis

Keterpaduan dan singkroniasi antara nilai-nilai karakter yang diterima siswa melalui proses pembelajaran dengan didorong pengamalan/ pembiasaan dalam bentuk tindakkan

Hasil analisa data menunjukkan bahwa organ tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun sebesar 50%, rimpang sebesar 31% buah sebesar 11%, getah 4% dan

Penelitian deskriptif dengan rancangan Cross Sectional mengambil subyek Pegawai Universitas X bulan Juli-Oktober 2018 dengan metode random sampling sebanyak 63

Peneliti berusaha membahas hasil penelitian berdasarkan teknik pengamatan atau observasi, wawancara maupun studi pustaka yang telah dilakukan. Subjek dalam penelitian ini

Petani meman- dang dukungan pemerintah dalam penerapan sistem pertanian berkelanjutan sebagai suatu kebutuhan yang sangat penting, terutama dalam hal ketersediaan modal