PERJALANAN KE KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO (SITARO)
Oleh:
Pujo Ardianto Hidayat1
Namaku Ardi, lengkapnya Pujo Ardianto Hidayat, banyak teman-teman yang memanggilku Pujo karena mereka tahu namaku dari daftar presensi, aku sendiri lebih suka dipanggil Ardi. Aku pergi ke Sitaro karena ikut program SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal), bahasa mudahnya pengiriman guru ke daerah terpencil. Sarjana yang lolos program ini melalui LPTK (Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan) Universitas Negeri Malang (UM) sebenarnya ada 180, tapi yang datang pada saat prakondisi (semacam diklat) hanya 158 orang. 158 orang sarjana itu dipersiapkan untuk dikirim ke 5 kabupaten, Manggarai, Malinau, Nunukan, Talaud, dan Sitaro. Aku sebenarnya sangat ingin ditempatkan di Nunukan, pertama karena dekat dengan Malaysia (bisa sekalian jalan-jalan ke Malaysia, hehe...), kedua karena kota Nunukan cukup besar (meskipun belum tentu ditempatkan di kotanya ). Tapi Tuhan berkehendak lain, aku ditempatkan di kabupaten yang sama sekali belum ku ketahui, jangankan tahu, mendengar namanya saja belum pernah (hadeeech...).
Tanggal 10 Oktober 2012 jam 6 pagi, aku bersama 29 orang temanku (yang dikirim ke Sitaro ada 30 orang) beserta 3 orang pendamping (yang saya tahu namanya cuma Pak Eddy, maaf ya 2 bapak pendamping yang lain, hehe...) sudah ada di bandara Juanda. Kami akan berangkat ke Manado dengan
penerbangan jam 8 pagi. Pada jam 8 lebih 15 menit pesawat yang kami tumpangi sudah take off dari Juanda. Saat-saat mengudara dan mendaratnya pesawat
keluar... (terasa dech panasnya Kota Manado). Oleh Pak Eddy kami disuruh langsung mendekat ke bis berwarna putih yang ada di ujung timur tempat parkir bandara. Bis itulah yang akan membawa kami ke pelabuhan Manado untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Siau. Setelah kami mendekat ke bis putih tersebut, ternyata ada masalah, bis itu tidak mampu menampung kami beserta barang-barang kami. Akhirnya kami harus menunggu datangnya bis kedua selama kurang lebih 1 jam agar bisa melanjutkan perjalanan.
Bis kedua akhirnya datang, kami pun bisa melanjutkan perjalanan. Aku pikir kami akan langsung berangkat ke pelabuhan, tapi ternyata tidak. Bis membawa kami ke tempat yang seperti terminal tapi dikelilingi oleh pasar. Aku bingung, ini terminal atau pasar. Mungkin ini tempat transit angkutan umum, semacam terminal bayangan. Di situ kami shalat Dzuhur sekalian beristirahat. Masjid di terminal bayangan itu kondisinya tidak seperti masjid yang ada di Jawa. Di bagian samping, masjid sudah bersatu dengan pasar yang sangat kotor (ada ayam lagi disitu). Sementara bagian depan masjid diapit oleh kios2 milik para pedagang. Mungkin karena jumlah umat Islam yang minoritas di Manado menyebabkan masjid di situ jadi tidak terawat. Pukul 14.15 wita kami
dugaanku sekali lagi salah. Kami dibawa ke rumah makan Padang. Di situ kami makan siang, sekalian membeli nasi kotak untuk makan malam di kapal.
Selesai makan, kami sekali lagi dibawa oleh bis yang kami tumpangi mengelilingi Kota Manado. Ternyata Manado itu kota yang cukup besar (lebih besar dari Malang menurutku), sayangnya lalu lintas disini semrawood. Apalagi di sekitar pelabuhan Manado, macetnya minta ampun (untung masih terhibur dengan cewek2 Manado yang cantik2, hehe). Akhirnya, setelah melewati kemacetan yang parah di sekitar pelabuhan Manado, kami sampai di pelabuhan (nurunin barang2 lg dech...). Kami akan naik kapal malam menuju Pulau Siau. Baju sampai basah oleh keringat karena menurunkan barang-barang dari bis menuju ruang tunggu kapal. Ini masih ditambah dengan usaha menaikkan barang-barang ke kapal yang kami tumpangi (rasanya benar-benar minta ampun, angkat koper-koper berat ke kapal hanya dgn jembatan setapak, smpe hampir terjatuh, rasanya latihan di dodikjur gak ada apa-apanya dibandingkan ini). Bajuku benar-benar basah oleh keringat (bahasa belandanya “teles kebes” :D).
Setelah mengecek barang-barang dan orang yang ada di dalam kapal, para pendamping memberi tahu di kamar nomor berapa kami harus meletakkan
barang-barang kami (jangan dikira kyk d hotel, meskipun ada kamarnya, tp sempit bgt, namanya jg d kapal, syukuri aja lah...). Setelah meletakkan barang-barangku, aku mengobrol dengan beberapa penumpang, kebetulan mereka asli orang Siau.
Aku: Masnya (kok msh kyk d Jawa) orang asli Siau? Dia: iya
Aku: Mau ke Siau jg? Dia: ya...
Aku: Berapa lama mas perjalanan ke Siau?
Dia: kapal ini nanti sampe Siau jam 2 atau jam 3 pagi
Aku: ooo... (dalam hati aku berkata, “whattttttt..., jam 3 pagi, lama banget perjalanannya, padahal kapalnya berangkat jam 6 sore”)
(jelas aja, capek jadi kuli angkut barang2 milik teman). Aku mencoba menahan kantuk, tapi akhirnya gak kuat juga. Aku akhirnya pergi ke kamar untuk tidur. Sesampainya di kamar aku tidak jadi mengantuk (gmn bs ngantuk, pusing diombang-ambingkan sama kapal). Akhirnya aku mengobrol lagi dengan teman. Satu jam mengobrol, eh satu-persatu dari mereka pergi, tidak kuat menahan kantuk katanya (jadi sendirian dech). Sambil bersandar di pagar kapal, aku tertidur juga. Gak tahu berapa lama ku tertidur, mungkin 1 jam. Akhirnya ku bangun dan tidur di kamar (hadeeeh, bs tidur jg, mskipun sedikit pusing). Pukul 01.30 q dibangunkan sama bapak2 pendamping. Beliau mengatakan kalo kita sdh sampai. Meskipun masih dalam keadaan bingung, q bangun jg, mencoba melihat keadaan di luar kamar.
Ternyata memang sdh sampai, kapal sdh berhenti (wah, ngangkat barang2 lg nich...). Sikap gotong-royong pun ditunjukkan kembali. Kami menurunkan barang-barang tanpa peduli itu milik siapa, jika itu barang milik 30 orang ini, maka kami akan membantu menurunkannya. Beberapa barang bawaanku yang ringan seperti tas ransel dan tas laptop (isinya bukan laptop tapi) dibawakan oleh temanku. Kami para laki-laki kebagian membawa barang-barang berat seperti koper.
Di pelabuhan Pehe (q baru tahu klo nama pelabuhan itu Pehe...) kami sudah ditunggu oleh Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora), bapak Deny Kabuhung. Tepat jam 2 pagi kami brgkat dari pelabuhan Pehe menuju... (g th menuju kemana, pokoknya ikut aja dech, q udah ngantuk plus capek soalx). Pak Deny menyediakan 3 angkot dan 1 mobil (mobil miliknya) untuk mengangkut kami (duh, bahasane kok mengangkut, kyk barang aja...). Angkot (klo d Sitaro namax oto) yang kami tumpangi membawa kami melewati jalanan yang naik turun dan berputar-putar (aduh, bikin pusing aja...). Akhirnya angkot berhenti di depan bangunan yang masih direnovasi. Setelah menurunkan barang2 dr angkot q langsung duduk n berusaha tidur di kursi. Setelah 10 menit tertidur, aku dibangunkan oleh temanku yang bernama Edy (aku biasa
memanggilnya Mas Edy karena dia memang lebih tua dariku). Dia bilang “ayo Jo, turu ng kamar ae (ayo Jo, tidur di kamar saja)”
(aku sekamar dengan sampeyan?)
“iyo” jawab Mas Edy
Setelah ganti baju dan memakai celana pendek, berangkatlah aku ke dunia mimpi (meskipun pada saat itu q g bermimpi, saking capeknya).
Jam 07.00 wita aku bangun tidur, dimulailah hari-hariku di Pulau Siau, tepatnya di Desa Ulu, Kec. Siau Timur, Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro. Ketika aku melihat ke luar jendela, aku baru sadar, pemandangan di luar sangat indah. Laut sangat dekat dengan hotel yang kutempati, mungkin jaraknya cuma 100 m. Dari jendela hotel aku bisa melihat Laut Sulawesi dan pulau-pulau yang ada di atasnya, benar-benar pemandangan yang indah. Jam 8 pagi, aku diajak anak-anak (teman-temanku maksudnya) untuk mencari sarapan, tapi mereka malah menuju ke depan Gereja Katolik. Gereja itu cukup indah karena letaknya dekat sekali dengan laut. Antara halaman depan gereja dan laujt hanya dibatasi oleh pagar beton setinggi 1 meter. Pemandangan di depan gereja itu sangat indah. Kami naik ke atas pagar beton tersebut dan mulailah melakukan aksi yang biasa anak-anak muda lakukan, berfoto.
Puas berfoto di depan Gereja Katolik, kami melanjutkan petualangan kami untuk mencari sarapan. Selama kami berjalan kaki, terasa benar panasnya Pulau Siau, mungkin sama atau bahkan lebih panas Siau daripada Surabaya. Dalam perjalanan kami bertemu dengan gerombolan hewan berwarna hitam dengan hidung yang panjang dan menghadap ke depan, sudah jelas apa itu (babi).
Awalnya aku kaget juga melihat gerombolan hewan itu. Mereka bebas berkeliaran seperti tidak ada pemiliknya. Salah satu temanku malah ada yang berkomentar “kalau di Jawa ini sama dengan ayam, hahaha”
Peserta di dalam kapal menuju Pulau Siau
14 Oktober 2012
Hari ini hari keempat sekaligus hari terakhir aku berada di Pulau Siau. Besok kami akan dijemput oleh para kepala sekolah atau kepala dinas pendidikan kecamatan untuk dibawa menuju ke tempat tugas masing-masing. Tidak ada yang spesial di hari terakhir ini selain pemberian uang saku sebesar 430.000 rupiah dari panitia (hehe...). Selebihnya seminar, workshop, pemberian materi, dan hal-hal lain yang sudah kurasakan di hari-hari sebelumnya. Seperti biasa, selepas maghrib kami makan di Rumah Makan Ceria (karena rumah makan paling murah di Siau ya di sini). Perkiraanku bahwa tidak ada yang spesial pada hari ini ternyata salah. Di rumah makan itu kami bertemu dengan orang yang mengaku sebagai orang Jawa yang sedang menyanyi di dekat pemain keyboard. Dengan bahasa Jawa yang halus dia bertanya kepada kami (keliatannya dia tahu klo mayoritas dari kami orang Jawa), “badhene nyuwun lagu nopo mbak2 kalian mas2?”
perempuan itu bertanya kepada Ana (dia itu peserta SM-3T yang berasal dari Trenggalek):
“asalnya dari mana?” tanya mbak yang berkacamata (q menyebut dia mbak krn dia keliatanx lebih tua dariku).
“dari Trenggalek mbak” jawab Ana. “ada acara apa ke Siau?” tanyanya lagi. “kami peserta SM-3T” jawab Ana.
Lalu q langsung bertanya kepada mbak yang berkacamata
“mbak asalnya darimana? Setau saya g ada muslim yang makan di Rumah Makan Ceria selain kami”
“saya PNS di BPS (Badan Pusat Statistik)” “mbak asalnya darimana?” tanyaku. “saya dari Blitar”
(wah, kok ada orang yang satu kota denganku disini)
Akhirnya mulailah aku ngobrol dengan mbak berkacamata itu pake bhs Jawa “wez suwi mbak neng Siau?” (sudah lama mbak di Siau?)
“sejak bulan Desember” jawabnya pake bhs Indonesia.
“wow, wez suwi berarti, sampeyan diangkat dadi PNS langsung ditempatne neng kene?”
“o enggak, aku sebelumnya di Tahuna (Kab. Sangihe), Kab. Sitaro ini kan baru, jadi q baru bulan Desember di sini”
“dari Tahuna ditempatkan ke mana lagi mbak?” tanyaku.
“pernah juga di Talaud, tapi cuma beberapa bulan, karena memang aku
sebenarnya ditempatkan di sini, tapi karena di Sitaro kantornya belum ada, jadi q ditempatkan di Tahuna. Eh, kalian dalam rangka apa ke sini?” tanyanya.
“kami peserta program SM-3T, Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal. Terus sejak Desember mbak berkantor di mana?”
“di Bahu, dekat kok dari sini, dari Pasar Ulu ke arah Biau aja, kantornya memang belum 100%, belum selesai soalnya. Bagus kamu ikut program seperti ini, jangan hanya di Jawa aja, perhatikan juga orang-orang di luar Jawa.”
“Blitar ngendi mbak?” tanyaku. “aku Garum”
“berarti SMAne SMAGA (SMA Negeri 1 Garum)?” “enggak, SMA 1 yo...”
“weee..., iyo2 SMA 1”
(bangganya sekolah di SMA 1, memang di Blitar itu SMA yang paling favorit dan paling ingin dimasuki siswa2 pintar di Blitar itu SMAN 1 Blitar, memang mereka pintar (jelas aja pintar, pagi sekolah, malam les, gmn g pintar), tapi setelah mereka diterima di SMAN 1 Blitar, mereka sama aja dengan siswa2 yg lain, pny
kenakalan2, suka nyontek, hehe...)
“lho, kok ngerti SMA Garum barang, omahe sampeyan ngendi?” tanya mbak itu. “aku dari Blitar mbak”
“ooo... pantes”
“mbak namanya siapa?” “aku Lutvi”
“aku Ardi”
“mbak bisa jadi PNS di BPS berarti mbak dulu sekolah di STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik)?”
“o enggak, q dr Brawijaya (Universitas Brawijaya Malang)” “jurusan statistik berarti?”
“iya”
“angkatan tahun berapa mbak?”
“berapa yo... (sambil ketawa dia, ooo dia sudah tua berarti :-D) menurutmu berapa kira2?”
Q asal tebak aja “angkatan 2003?”
“ha... 2003? (ketawa lagi dia, berarti tebakanku benar, hehe...)” “berarti mbak jd PNS di BPS itu ikut tes CPNS?”
“iya”
“ikut tes CPNS yang tahun berapa mbak?” “2009”
“terus mbak yang itu dari Blitar juga?”
“o bukan, itu namanya mbak Dina, ayo kenalan aja!”
Akhirnya q bersalaman dengan mbak itu “Dina” katanya, q jawab “Ardi” “asalnya dari mana mbak?”
“Temanggung”
Senin, 24 Desember 2012
Ini adalah hari keempat aku di Manado. Sejak shubuh sampai jam 12 siang hujan terus turun. Sejak jam 11 waktu kuhabiskan di kamar sambil nonton film. Tiba-tiba Mas Edy datang mengajak mencari sarapan pagi (meskipun sudah jam 12 tetap aja namanya sarapan, wong kita belum makan sejak bangun tidur),
“gak golek sarapan jo?” tanya Mas Edy.
Langsung laptop q matikan dan berkata “ayo mas, q yo wez luwe iki”
Akhirnya kita semua berangkat ke warung bakso dekat kontrakan, dan ternyata... tutup. Anak2 sudah mau balik semua ke kontrakan, tapi aku memutuskan untuk cari sarapan ke tempat yang lebih jauh lagi n ketemu dgn teman-teman yang bertugas di Pulau Makalehi.
Malam ini lagi2 menjadi malam yang penuh hikmah bagiku. Untuk kesekian kalinya aku bertemu dengan orang yang karakternya mirip dengan ayahku. Pak Wawan, suami dari Bu Wiwin, orang yang mjd guru di Kampung Lamanggo, Kec. Biaro, menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya yang menurutku cukup mengesankan. Mulai dari lari dari rumah setelah lulus SMA, karena tidak mau dinikahkan, kerja di Mitsubishi, lalu jadi distributor pakaian dari Bandung ke Manado, sampai akhirnya usahanya bangkrut karena krisis ekonomi tahun 1998. Dari cerita-ceritanya terlihat jelas watak keras khas seorang laki-laki (tapi keras yang baik). Bagaimana dia bisa bertahan dengan kondisi yang susah ketika bangkrut, atau bagaimana dia menceritakan pengalaman-pengalaman dia yang karena kerja di Mitsubishi, sudah bertugas dari Jawa-Ambon,
menggambarkan dengan jelas karakternya yang kuat. Beliau berkata:
punya uang. Kita selalu ada yang namanya uang ilang, saya anggap begitu, jadi klo sewaktu-waktu kita perlu itu uang, uang itu muncul sendiri.”
Kata-kata beliau membuatku sangat bersemangat. Aku berkata kepada diriku sendiri “aku tidak boleh menyerah dalam menjalankan tugas ini, aku masih muda, tenaga dan pikiran yang kumiliki masih bisa kugunakan dengan lebih maksimal lagi”
Rabu, 20 Februari 2013
Sudah lebih dari 5 bulan aku bertugas di Pulau Ruang, bahasa Sangir Tagulandang 50 % sudah kuketahui, tapi tetap saja aku hanya mengerti sedikit dengan apa yg diucapkan orang-orang sini karena mereka berbicara dengan sangat cepat. Semakin lama aku disini aku sadar, hambatan paling besar yang kuhadapi ada di sekolah. Siswa-siswa disini begitu... (terlalu kasar untuk dikatakan). Pengetahuan mereka sangat minim. Jangankan pengetahuan tentang pelajaran, OVJ aja mereka tidak tahu. Berkali-berkali sudah kukatakan kepada setiap orang yang bertanya tentang tempat tugasku:
“anak-anak di Pulau Ruang prestasinya akan langsung meningkat kalau listrik sudah 24 jam, kalau listrik sudah 24 jam TV masuk (memberi pengetahuan maksudnya), komputer masuk, internet masuk, dan hal-hal itu akan dapat
meningkatkan pengetahuan para siswa.”
Dengan kondisi siswa yang minim pengetahuan seperti ini, ditambah dengan minimnya fasilitas (sebenarnya g minim, SMPN 4 Tagulandang
fasilitasnya cukup lengkap, tapi masalahnya di Pulau Ruang listrik cm ada pukul 18.00-22.00), dan siswa SMP yang sangat suka hura-hura (wajar aja namax jg anak SMP), membuatku kesulitan mencerdaskan mereka. Aku hampir putus asa untuk mendidik mereka di dalam kondisi seperti ini. Aku hanya bisa berdoa “Ya Allah, berilah aku kekuatan, kesabaran, dan juga rizki dalam menghadapi hidup disini”
Kamis, 21 Februari 2013
Pagi ini aku bangun lebih cepat dari biasanya, karena aku ingin melihat siswa-siswa yang akan mengikuti lomba cerdas cermat di SMPN 2 Tagulandang. SMPN 2 Tagulandang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Kec. Tagulandang, tapi karena jalan yang berkelok-kelok dan naik turun, perjalanan dengan menggunakan motor memakan waktu setengah jam.
keluar dari peringkat 5 besar. Tapi dia punya sesuatu yang sangat aku benci, dia sombong dan cuek. Kadang-kadang aku mengolok-olok atau mengatakan kata-kata yang pedas ke dia waktu mengajar untuk memberi pelajaran ke dia bahwa kecantikan & kepintaran yang dia miliki itu merupakan anugerah dari Tuhan yang harus dia syukuri, bukan dia gunakan untuk menyombongkan diri atau meremehkan orang lain). Dia sudah bersiap-siap untuk naik perahu taxi menuju ke pasar di Buhias (Buhias merupakan ibukota Kec. Tagulandang). Novra dan Mando juga sudah datang. Bapak kepsek lalu menemui mereka dan mengajak mereka naik perahu taxi. Sebenarnya q g ingin ikut karena q merasa q bukanlah guru yang layak untuk mendampingi para siswa. Q hanya guru IPS, sedangkan yang dilombakan di cerdas cermat kan pelajaran ujian nasional (UN). Tapi kemudian, ibu Atimang (wakil kepala sekolah yang rumahnya menjadi tempat tinggalku selama di Pulau Ruang) menawariku “Mas Pujo mau ikut?”
Q bingung mau jawab apa, sebenarnya q pgn ikut, tapi q g enak
meninggalkan tempat tugas, karena seperti yang sudah q katakan di atas, q merasa tidak layak untuk mendampingi para siswa. Aku merasa itu bukan tugasku, tapi tugasku guru-guru mata pelajaran UN. Lantas q jawab pertanyaan wakasek dengan jawaban “memang boleh bu saya ikut?”
NAMANYA NOVRA TILOVA LINOGHI
Oleh:
Pujo Ardianto Hidayat
Sabtu, 2 Maret 2013
Hari ini ada kata-kata yang akan selalu kuingat dalam hidupku. Kata-kata yang diucapkan oleh siswi cerdas bernama Novra Tilova Linoghi. Awalnya aku tidak percaya ketika setiap siswa SMPN 4 Tagulandang yang kutanya “siapa siswa paling pintar disini?” selalu menjawab “Novra”. Kulihat dia biasa-biasa saja. Kemampuan berbicaranya di depan publik juga biasa-biasa saja, cenderung pemalu malah. Tapi setelah beberapa lama aku mengajar di kelas IX aku sadar, Novra memang memiliki sesuatu yang bisa membuat dia selalu berada di peringkat 1 sejak kelas VII sampai kelas IX. Dia tidak pernah terbebani dengan yang namanya target atau terbebani dengan pernyataan “aku harus bla bla bla agar aku bisa bla bla bla”. Dia tidak pernah punya pikiran “aku harus selalu berada di peringkat 1 supaya aku dihormati oleh temanku” atau “aku harus menjadi yang terbaik di SMP supaya orang-orang tidak meremehkanku”. Dia hanya punya semangat. Semangatnya untuk mencari ilmu, semangatnya untuk belajar besar sekali.
Hari Sabtu, seperti biasa aku mengajar IPS di kelas IX. Aku masuk,
mengucapkan salam, dan mulai mengajar. Tapi kusadari ada yang berbeda di kelas itu, siswa yang paling pandai di kelas itu, Novra Tilova Linoghi tidak ada. Akupun bertanya ke teman-temannya,
“dimana Novra?”
“ada beli telur” jawab teman-temannya. “beli telur, untuk apa?” pikirku
Tapi hal itu segera kulupakan dan ku segera melanjutkan pelajaran. Setelah 1 jam aku mengajar, baru Novra datang ke kelas.
“yaaah, jadi nda’ bisa ikut pelajaran bapak” kata Novra.
siswa disini akan senang kalau bisa meninggalkan pelajaran dan keluar dari kelas atau sekolah (namanya juga anak SMP), tapi dia malah menyesal meninggalkan pelajaranku)
“kamu darimana?” tanyaku.
“ibu Atimang ada suruh” jawab Novra.
(ibu Atimang adalah nama wakil kepala sekolah di SMPN 4 Tagulandang, dia adalah guru tergalak di sekolah itu)
“suruh apa?” tanyaku lagi.
“suruh buat mie” jawab Novra lagi.
“jadi telur yang dibeli Novra tadi untuk campuran mie yang dia buat. Guru-guru ini bagaimana sih, siswa malah dibuat meninggalkan pelajaran dengan menyuruh-nyuruh mereka” pikirku.
PASUKANKU
Oleh:
Pujo Ardianto Hidayat
Jum’at, 23 Agustus 2013
Hari ini hari Jum’at, 23 Agustus 2013. Aku merasa waktuku semakin dekat untuk pulang ke Jawa. Tapi sebelum itu, aku harus mengikuti monev (monitoring dan evaluasi) terakhir yang dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 2013. Siang ini, aku bersama teman-teman dari PMI akan pergi ke Pulau Tagulandang. Masing-masing dari kami punya urusan sendiri-sendiri di pulau tersebut. Aku bersiap-siap untuk berangkat ke Siau, sementara anak-anak PMI ke Tagulandang karena barang bawaan mereka ada di sana. Aku bisa sama-sama balek ke Tagulandang dengan anak-anak PMI karena kebetulan mereka ada tugas untuk melakukan penyuluhan tentang Tanggap Darurat Bencana di Pulau Ruang, ketika mereka sudah selesai dan kembali ke Tagulandang, aku bisa sekalian menumpang perahu mereka.
Ternyata acara menumpang perahu tertunda, Om Medot (sebenarnya namanya Medi Kasehung, tapi biasanya orang-orang memanggilnya Om Medot) yang rencananya mengantar anak-anak PMI ke Pulau Tagulandang ternyata sedang pergi ke Pulau Pasige untuk mencari rumput laut. Rumput laut tersebut menjadi makanan ikan yang dipelihara Om Medot di keramba. Terpaksa kami menunggu dia dari jam 3 sampai jam 5 sore. Selama itu aku mengangkat koperku sendirian (ya jelas aja diangkat sendiri, emang siapa yang mau ngangkatin) sampai akhirnya ketemu dengan siswa-siswaku yang berasal dari Kampung Pumpente. Mereka semua pada bermain di atas pohon pada saat aku lewat. “Bapak Pujo, Bapak Pujo.” panggil mereka.
“hei, siapa itu?” jawabku.
Setelah kuamati barulah terlihat jelas wajah-wajah mereka, ada Lertje, Friske, dan Carmenita (yang lain aku belum tahu namanya...).
“Terus bapak sudah nda’ kembali lagi ke Ruang?” tanyanya lagi. “Enggak, masih balik kok, akhir September baru pulang.”
(aku berpikir, minta tolong mereka (siswa-siswaku) aja untuk bawain koperku, mereka kan banyak, sedangkan aku cuma sendirian, maaf ya anak-anak ) “Tolong ini Lertje!” pintaku ke Lertje.
Meskipun yang kumintai tolong cuma Lertje, anak-anak yang lain pada ikut semua. Mereka semua bersama-sama mendorong koperku.
Kubilang ke mereka, “ini jalannya naik turun lho, kalian nda’ keberatan bawa koper itu?”
“gak papa pak, kami sudah biasa.” jawab mereka.
Mereka terus saja mengangkat koperku. Akhirnya mereka kecapekan, tapi mereka melihat koperku memiliki roda. Mereka bertanya, “nda’ bisa ditarik ini pak?” “bisa, tapi pegangan untuk menariknya sudah rusak, sudah patah” jawabku.
Akhirnya mereka berinisiatif untuk mencari tali. Ada yang mencari tali ke pantai, ada yang ke kebun. Melihat perilaku mereka, aku berpikir, kenapa aku baru bisa merasakan kebaikan dan keceriaan mereka di akhir masa penugasanku. Betapa baiknya mereka kepadaku, rela bersusah payah melewati jalan naik turun untuk membawakan koperku, rela mencari tali dengan mengais sampah di sana-sini supaya mereka bisa menarik koperku. Salah seorang teman dari PMI ada yang berkata, “Wah, enak nih Mas Pujo, kopernya dibawakan sama muridnya.”
Lalu dijawab sama anggota PMI yang lain, “Soalnya dia punya pasukan di sini, cuma sayangnya pasukannya kecil-kecil .”
“kalian tidak dicari orang tua kalian, sekarang sudah sore, waktunya mandi?” “tidak bapak, sudah biasa, kami juga mau mandi di sini (berenang di laut, di Lewa).”
Ternyata ada maksud tersembunyi juga mereka, membantuku sekalian muneno su sasi (mandi di laut). Namanya juga anak-anak
MUTIARA DI ANTARA PASIR Oleh: Pujo Ardianto Hidayat2
Ternyata banyak mutiara di dunia ini. Tidak selalu mutiara yang ada di dalam kerang atau di dalam laut, tapi mutiara yang ada di dalam kehidupan. Jika kita mau menyempatkan diri untuk melihat, mendengarkan, dan merenungkan, niscaya kita akan menemukan banyak mutiara di sekitar kita. Hal itulah yang aku rasakan selama bertugas di Pulau Ruang. Di tengah banyaknya keterbatasan yang ada di pulau ini, aku harus banyak bersyukur karena Tuhan memperlihatkan kepadaku bahwa semua yang diciptakanNya bukanlah sesuatu yang sia-sia belaka. Tidak pernah sesuatu itu diciptakan tanpa ada pasangannya. Tidak mungkin sesuatu itu hanya berisi kesempurnaan tanpa ada kelemahan. Tidak mungkin sesuatu itu hanya berisi kekurangan tanpa ada kelebihan.
Di Pulau Ruang aku menemukan hal-hal yang kelihatannya begitu sepele, ternyata bisa membuatku sangat bahagia, dan kebahagiaan itu harganya murah, bahkan gratis. Tidak seperti ketika aku bisa beli laptop. Tidak seperti ketika aku bisa menginap di hotel mewah. Ah, semua itu harus dibeli dengan uang, dengan harga yang mahal. Sementara kebahagiaan ini, cukup dibeli dengan mengasah kepekaan. Jika kita bisa menghargai hal-hal kecil di sekitar kita, kebahagiaan pasti sering menghampiri. Belakangan ini aku menulis sebuah daftar. Daftar hal-hal yang membuatku bahagia dan bersyukur. Hal-hal inilah yang membahagiakanku selama menjadi penduduk Pulau Ruang.
1. Melihat Anak Didik Tertawa
Melihat mereka tersenyum atau tertawa setelah aku melempar lelucon atau karena ada hal lain, membuatku mampu melupakan segala kekurangan yang ada di pulau ini. Kalau sudah begitu, kami pasti mengobrol panjang lebar. Bisa jadi dari jam 4 sore sampai jam 7 malam kami hanya duduk di satu tempat, dan aku membuat mereka dimarahi oleh orang tua mereka karena membuat mereka tidak segera pulang dan cepat-cepat mandi (waduh!).
2. Mendengar Anak-Anak Kecil Menyanyi
Menyanyi dengan suara yang fales (tulisan fales bener begitu ga’ ya, q blm tau tulisannya yg bener) pasti jelek dan ga’ enak didengar. Tapi terasa lain kalau anak kecil yang menyanyikan. Suara fales jadi terdengar indah karena ada kepolosan anak kecil itu, jadi lucu. Apalagi jika diiringi dengan
pengucapan lirik yang salah. Orang yang sayang dengan anak kecil pasti bahagia mendengarnya.
3. Listrik Menyala
Kalau sudah jam 6 sore, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat lampu di rumah-rumah penduduk menyala. Maklumlah, listrik di Pulau Ruang hanya 4 jam, antara jam 6 sore sampai jam 10 malam. Kalau sudah begitu pikiran pasti melayang-layang memikirkan untuk mengecas hp dan laptop. Lalu tambah melayang-layang lagi memikirkan apa yang bisa dilakukan dengan laptop yang sedang dicas itu. Nonton film dan mengerjakan tugas menjadi sesuatu yang pasti dilakukan di tengah kondisi itu. Apalagi nonton film sambil makan sambil ditemani anak-anak (para siswa), mantap! 4. Baterei Laptop Penuh
Senangnya bukan main waktu lihat baterei laptop penuh. Kalau sudah begini, listrik mati pun tidak masalah (asalkan hidup lagi waktu baterei laptop habis
) hehehe!
5. Tidak ada baju kotor
Lega kalau tidak ada baju kotor dan kamar jadi nggak sumpek karena tidak ada baju kotor yang teronggok di dalam kamar.
6. Telur, Tahu, dan Tempe
Inilah makanan favoritku di tempat tugas. Tidak seperti di Jawa, di Sitaro Tahu dan Tempe jarang, cuma telur yang banyak. Mayoritas orang di Sitaro makan ikan karena ini daerah kepulauan. Bahkan di Pulau Ruang lebih gila lagi, kalau orang Ruang sehari saja tidak makan ikan, badan mereka jadi terasa ga’ enak (katanya). Tapi aku tidak suka ikan laut dan daging. Jadi 3 makanan inilah favoritku selama bertugas.
7. Mampu memberikan hadiah bagi para siswa
hanya kuberikan kepada siswa yang meraih peringkat 1, 2, dan 3. Tapi terkadang ku juga memberikan hadiah kepada siswa yang telah membantuku atau menemaniku. Melihat senyum dan tawa mereka, apalagi ketika mereka mengucapkan terima kasih dan mengajakku bersalaman setelah kuberi hadiah adalah suatu kenikmatan tersendiri bagiku.
8. Ada sms masuk ketika lewat daerah bersinyal
Tidak ada yang spesial ketika kita hidup di kota besar dan hp kita berbunyi. Tapi saat kita tinggal di daerah yang tidak terjangkau sinyal, bunyi hp ketika ada sms masuk seperti sebuah hadiah yang luar biasa. Rasanya sama seperti kita baru memenangkan hadiah senilai 1 miliar. Sang hp seperti berkata, “denger nich, aku bunyi ini lho, kangen kan sama bunyiku”. Apalagi kalau sms yang masuk berasal dari cewek. Jadi tambah semangat!!! :-D
9. Ketika sendirian, siswa mendatangi kita
Salah satu masalah yang sering mendatangi di Pulau Ruang adalah tidak tahu mau melakukan apa. Mau mengerjakan laporan, listrik belum menyala. Mau nonton film, listrik juga belum menyala. Mau diam di rumah, panas. Mau tidur siang di rumah, panas. Akhirnya satu-satunya cara adalah duduk diam atau jalan-jalan gak jelas di pantai. Pada saat-saat seperti itu biasanya siswa-siswaku datang dan bertanya, “nukura (ngapain) bapak?”
10. RPP Selesai!
Bagi seorang guru, selesai membuat RPP itu rasanya lega luar biasa. Mau diketik atau ditulis tangan terserah (aku lebih suka diketik). Kalau RPP sudah selesai, hari-hari di tempat tugas bisa dilewati tanpa beban.
11. Laporan Selesai!!!