• Tidak ada hasil yang ditemukan

ManajeMen transportasi dalaM kajian dan teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ManajeMen transportasi dalaM kajian dan teori"

Copied!
172
0
0

Teks penuh

(1)

Riwayat Penulis

Dr. Andriansyah., M.Si.

O

bsesi Dr. Andriansyah., M.Si., pada dunia pendidikan tampaknya me-mang tidak main-main. Sebelum benar-benar terjun sebagai pen-didik, pria kelahiran Jakarta, 01 Oktober 1971 ini bahkan sempat aktif di beberapa organisasi, di antaranya, menjadi Sekretaris Umum Senat Ma-hasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo (Be-ragama) Tahun 1992-1993, sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Tahun

1993-1994, Ketua Bidang I SMPT Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) tahun 1994-1995, dan menjadi Sekretaris Kompartemen Hubungan Luar Asosoasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (AP-TISI) Wilayah III DKI Jakarta 2007-2011. Hingga akhirnya, Andriansyah pun berhasil duduk sebagai Wakil Rektor III di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Suami dari seorang dokter bernama Eva Mardhiati dan ayah dua putri, Ghifari Azhar Fadiyah dan Ghifari Zahra Mutmainnah ini bahkan juga sempat aktif di berbagai organisasi seperti Komite Inde-penden Pemantau Pemilu (KIPP) Provinsi Banten 2000-2004, Sekjen Gabungan Pengusaha Muda Is-lam Tahun 2003 – sekarang, menjadi Sekretaris Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Wilayah DKI Jakarta – sekarang, hingga menjadi Ketua Bidang Litbang ASPA DKI Jakarta tahun 2010- sekarang. Selain itu, Andriansyah juga aktif di organisasi kepemudaan dan masyarakat di Banten. Hingga kini, Andriansyah tetap menerima kepercayaan dari masyarakat Pandeglang dengan bergabung di MPK Karang Taruna Kabupaten Pandeglang Provonsi Banten periode 2012-2016, menjadi Ketua Dewan Pembina Pemuda Pelopor Banten periode 2012-2016, dan Sekretaris Jenderal Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Nasional periode 2013-2017.

Andriansyah yang berhasil meraih S-1 Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu So-sial dan Ilmu Politik Universitas Prof Dr. Moestopo (Beragama) lulus Tahun 1995 dan S-2 Magister Ilmu Administrasi Program Pascasarjana Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Lulus Tahun 2002 ini pernah menjadi Tenaga Ahli Lembaga Studi Pembangunan (LSP) Tahun 1997-2005, Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat (LPSEM) Tahun 1998-2005, Tim Pengkaji HAKI kementrian Polhukam RI Tahun 2007, Tenaga Ahli Program Keluarga Harapan (PKH) Pada Kemente-rian Sosial RI tahun 2009-2013, Tim Penilai Pusat Citra Pelayanan Publik pada KementeKemente-rian Pendaya-gunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI, tahun 2010, Praktisi Program Keluarga Harapan (PKH) pada kementerian sosial RI tahun 2014-sekarang, dan menjadi Tim penilai pekerja sosial (PSM) berpretasi tingkat nasional pada kementerian sosial RI tahun 2012- sekarang.

Pria yang sudah menulis tiga buku, berjudul Administrasi Pemerintahan Daerah dalam Analisa, Kepemimpinan Visioner Kepala Daerah, dan Manajemen Transportasi dalam Kajian dan Teori ini seka-rang adalah Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) tahun 1998 sampai sekarang, pernah menjabat Kasubag Kemahasiswaan FISIP UPDM (B) tahun 2004-2005, sebagai Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di universitas yang sama tahun 2005 -2006, memangku jabatan sebagai Wakil Dekan Bidang Administra-si dan keuangan Fakultas Ilmu soAdministra-sial dan Ilmu politik UniverAdministra-sitas Prof. Dr. Meostopo (Beragama) tahun 2006 – sekarang, hingga akhirnya menjadi Wakil Rektor Bidang

(2)

Cetakan Pertama 2015

Diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama Alamat : Jln. Hang Lekir I, No. 8,

Senayan, Jakarta Pusat, 10270 Telepon : (021) 7220269, 7252682 Fax : (021) 7252682

Editor : Dr. Eva Mardhiati Design Sampul : Resta. J

Layout : Resta. J

No. ISBN : 978-602-9006-12-4

(3)
(4)

kata pengantar

Pentingnya peran transportasi dalam pembangunan negara, tampaknya masih diwarnai dengan karakteristik transportasi Indonesia yang dihadapkan pada kuali-tas pelayanan yang rendah, dan kuantikuali-tas atau cakupan pelayanan yang terbakuali-tas. Laporan World Economic Forum 2008-2009 menunjukkan bahwa kurangnya ket-ersediaan infrastruktur merupakan permasalahan kedua terbesar setelah inefisiensi birokrasi pemerintah bagi pelaku bisnis dalam melakukan usaha di Indonesia.

Diukur dari sisi kualitas infrastruktur secara keseluruhan, Indonesia hanya men-empati peringkat ke-86 dari 134 negara yang diteliti. Peringkat tersebut jauh tert-inggal dari Singapura yang menempati peringkat ke-4, Malaysia di peringkat ke-23, dan Thailand di peringkat ke-29. Begitu pula, berdasarkan Laporan World Economic Forum terkini (2011-2012), perkembangan infrastruktur Indonesia walaupun su-dah menunjukkan kemajuan berada pada peringkat ke-76, masih tetap tertinggal dibandingkan Singapura yang menempati peringkat 2, Malaysia di peringkat ke-26 dan Thailand di peringkat ke-42.

Hal ini sungguh sangat memprihatinkan, mengingat kemajuan pelaksanaan pembangunan suatu negara sangat dipengaruhi oleh kondisi infrastruktur penun-jangnya, terutama infrastruktur transportasi, yang mencakup jalan raya, sungai, laut, udara dan jalan KA. Pada awalnya, peran transportasi lebih pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat untuk mengakomodasi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Lebih lanjut, sistem transportasi berperan sebagai fasilitas bagi sistem produksi dan investasi yang memberikan dampak positif bagi kondisi ekonomi. Leb-ih jauh dari sisi makro ekonomi, transportasi memegang peranan strategis dalam meningkatkan PDB nasional, karena sifatnya sebagai derived demand, yang artinya apabila penyediaan transportasi meningkat akan memicu kenaikan angka PDB.

Tidak bisa dipungkiri, pembangunan transportasi merupakan bagian penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Namun pentingnya peran transportasi masih diwarnai dengan karakteristik transportasi Indonesia yang dihadapkan pada kualitas pelayanan yang rendah, dan kuantitas atau cakupan pelayanan yang terba-tas. Laporan World Economic Forum 2008-2009 menunjukkan bahwa kurangnya ket-ersediaan infrastruktur merupakan permasalahan kedua terbesar setelah inefisiensi birokrasi pemerintah bagi pelaku bisnis dalam melakukan usaha di Indonesia.

(5)

pembebasan lahan, yang diharapkan dengan disahkannya UU pengadaaan lahan publik dapat membantu menjembatani kebutuhan akan pembangunan infrastruk-tur dengan kepentingan masyarakat luas. Selain itu dari aspek pembiayaan, skema pembiayaan pembangunan infrastruktur oleh swasta belum ada yang terealisasi (masih dalam tahap perencanaan). Selain permasalahan tersebut, pembangunan transportasi juga terkendala dalam hal pengukuran kinerja pembangunan trans-portasi dimana belum ada suatu indikator kinerja yang disepakati bersama untuk mengukur kinerja transportasi.

Oleh sebab itu kajian dan teori tentang transportasi di Indonesia menjadi sangat penting untuk kemudian dimanifestasikan pada praktik pembangunan selanjutnya. Berdasarkan hal tersebut di ataslah maka, buku berjudul Manajemen Transportasi dalam Kajian dan Teori ini ada di tangan Anda. Masukan, saran, dan kritik sangat kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan buku ini. Akhirnya, kami men-gucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusu-nan kajian ini.

Penulis

(6)

daftar isi

BAB I

STUDI TENTANG TRANSPORTASI

Pengertian Transportasi Peranan Transportasi

PRASARANA DAN SARANA TRANSPORTASI Prasarana Transportasi

Sarana Transportasi

PERMINTAAN DAN PENAWARAN TRANSPORTASI

Permintaan (Demand) Transportasi Penawaran (Supply) Transportasi

KONSEP PERENCANAAN TRANSPORTASI

Aksesbilitas

Bangkitan dan Tarikan Pergerakan Sebaran Pergerakan

Pemilihan Moda Pemilihan Rute

ANGKUTAN UMUM PENUMPANG (AUP)

Perencanaan Transportasi Klasifikasi Jasa Transportasi

MANAJEMEN TRANSPORTASI

Sistem Manajemen Transportasi Fungsi Manajemen Transportasi

Fungsi Dasar Manajemen Distribusi dan Transportasi Mode Transportasi Serta Keunggulan dan Kelemahannya Penentuan Rute Dan Jadwal Pengiriman

BAB II

TRANSPORTASI BAGIAN INTEGRAL PEREKONOMIAN

TRANSPORTASI DAN DISTRIBUSI FISIK

Transportasi Tulang Punggung Perekonomian Hinterland dan Intermoda Transportasi

(7)

LOKASI DAN TRANSPORTASI

MANAJEMEN ANGKUTAN/LALU LINTAS (TRAFFIC MANAGEMENT)

Analisis Traffic

MATERIAL HANDLING DAN TRANSPORTASI

DOKUMEN ANGKUTAN

Transportasi barang dalam SCM Manfaat Transportasi Barang

Pengaruh Transportasi Terhadap Keputusan Pemasaran Pengaruh Transportasi dalam Pertukaran Barang Faktor yang Mempengaruhi Permintaan

MANAJEMEN JASA TRANSPORTASI

PERENCANAAN (PLANNING)

Area dan Gedung Pengoperasian Kapasitas

Penentuan Jumlah Kendaraan dan Waktu Perjalanan Koneksi dan Sosialisasi

Perekrutan Karyawan

PENGORGANISASIAN (ORGANIZING)

Pembuatan Struktur Organisasi Penempatan Staff

PENGAWASAN (CONTROLLING)

EVALUASI (EVALUATION)

MANAJEMEN TRANSPORTASI – MONITORING, KONTROL, DAN EVALUASI

MANAJEMEN TRANSPORTASI MASSAL, KUNCI PEMECAHAN MASALAH

31

31

33

36

37

40

42

43

44

45

32

33

35

39 38 39 39 38

(8)

BAB III

PENGARUH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI

Sejarah Pertumbuhan Transportasi

Transportasi, Tolok Ukur Interaksi Antar-Wilayah Aksesibilitas

PERAN TRANSPORTASI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH

Angkutan Sebagai Penunjang Pembangunan Ekonomi Angkutan Sebagai Prasarana Ekonomi

Perkeretaapian

Sungai, Danau, dan Penyeberangan Transportasi Laut

Transportasi Udara

Transportasi Antarmoda/Multimoda

Permasalahan Riptek dan Manajemen Transportasi Masalah Regulasi

Masalah Pemanfaatan dan Pengembangan Teknologi Masalah Manajemen Transportasi

KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PENGEMBANGAN

IPTEK DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI

Visi dan Misi Riptek

Kebijakan Pengembangan Iptek dan Manajemen Transportasi Program Pengembangan Riptek dan Manajemen Transportasi

BAB IV

TRANSPORTASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH

Sebagai Sarana Aktivitas Ekonomi Kondisi Transportasi Publik Indonesia Kebutuhan Energi di Sektor Transportasi Penggunaan Teknologi Pengurangan Emisi

(9)

MANAJEMEN TRANSPORTASI DALAM EKONOMI BERKELANJUTAN

Pengertian Transportasi Berkelanjutan Visi Misi Transportasi Berkelanjutan Prinsip Sistem Transportasi Berkelanjutan Isu-isu penting dalam Transportasi Berkelanjutan Upaya Mewujudkan Transportasi Berkelanjutan Jenis Sarana Transportasi Berkelanjutan Strategi Penerapan Transportasi Berkelanjutan Kebijakan Transportasi Kota Yogyakarta Sistem Transportasi di Curitiba, Brazil

Perbandingan Jumlah Pencemar yang Dihasilkan Kendaraan

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR MENUNJANG

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Perkembangan Wilayah dan Transportasi Pembangunan Berkelanjutan

Upaya Global Merumuskan Strategi Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Tantangan Global

Tantangan dan Masalah Transportasi di Indonesia Peta Jalan Menuju Sistem Transportasi Berkelanjutan

BAB V

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI

DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI

Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek dan Manajemen Transportasi Kebijakan Pembangunan Transportasi Nasional

MODAL TRANSPORTASI

Transportasi Jalan Transportasi Perkeretaapian

Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan Transportasi Laut

Transportasi Udara

TRANSPORTASI ANTARMODAL/MULTIMODAL

PERMASALAHAN RIPTEK DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI

(10)

Masalah Pemanfaatan dan Pengembangan Teknologi Masalah Manajemen Transportasi

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN IPTEK DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI

Visi dan Misi Riptek

Kebijakan Pengembangan Manajamen Transportasi Sub Sektor Transportasi Jalan

Sub Sektor Tranportasi Darat Sub Sektor Transportasi Laut Sub Sektor Transportasi Udara Sub Sektor Meteorologi dan Geofisika

BAB VI

KEBIJAKAN NASIONAL DALAM MASALAH TRANSPORTASI

Arah Pengembangan Perhubungan Darat Kebijakan Umum Transportasi Darat Bidang Transportasi Jalan

Bidang Transportasi Sungai dan Danau Bidang Penyeberangan

Transportasi Udara Transportasi Laut

Strategi Nasional Bidang Angkutan Laut Strategi Nasional Bidang Kepelabuhanan Strategi Nasional Bidang Keselamatan Pelayaran

Strategi Nasional Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia

133

145

133 131

138 141

147

149 148

151 134 132

139 141 141

148

150 148

152 148

(11)
(12)
(13)

Pengertian Transportasi

Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dengan menggunakan wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Banyak ahli telah mer-umuskan dan mengemukakan pengertian transportasi. Para ahli memiliki pandan-gannya masing-masing yang mempunyai perbedaan dan persamaan antara yang satu dengan lainnya.

Kata transportasi berasal dari bahasa latin yaitu transportare yang mana trans berarti mengangkat atau membawa. Jadi transortasi adalah membawa sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain. Menurut Salim (2000) transportasi adalah kegiatan pemindahan barang (muatan) dan penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam transportasi ada dua unsur yang terpenting yaitu pemindahan/pergerakan (movement) dan secara fisik mengubah tempat dari barang (comoditi) dan pen-umpang ke tempat lain.

Menurut Miro (2005) transportasi dapat diartikan usaha memindahkan, menger-akkan, mengangkut, atau mengalihkan suatu objek dari suatu tempat ke tempat lain, di mana di tempat lain ini objek tersebut lebih bermanfaat atau dapat berguna untuk tujuan-tujuan tertentu. Sedangkan menurut Nasution (2008) adalah sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Jadi penger-tian tranportasi berarti sebuah proses, yakni proses pemindahan, proses pergera-kan, proses mengangkut, dan mengalihkan di mana proses ini tidak bisa dilepaskan dari keperluan akan alat pendukung untuk menjamin lancarnya proses perpindahan sesuai dengan waktu yang diinginkan.

Menurut Nasution (2008) terdapat unsur-unsur pengangkutan/transportasi me-liputi atas:

1. Ada muatan yang diangkut

2. Tersedia kenderaan sebagai alat angkutannya 3. Jalanan/jalur yang dapat dilalui

4. Ada terminal asal dan terminal tujuan

5. Tersedianya sumber daya manusia dan organisasi atau manajemen yang menggerakkan kegiatan transportasi tersebut

BaB i

(14)

Masing-masing unsur tersebut tidak bisa hadir dan beroperasi sendiri-sendiri, kesemuanya harus terintegrasi secara serentak. Seandainya ada salah satu saja kom-ponen tidak hadir, maka alat pendukung proses perpindahan (system transportasi) tidak dapat bekerja atau berfungsi. Transportasi bukan hanya usaha berupa gerakan manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan gerakan secara statis akan tetapi transportasi akan mengalami perkembangan dan kemajuan dari waktu ke waktu baik sarana dan prasaranannya sesuai dengan perkembangan ilmu penge-tahuan dan teknologi.

Transportasi merupakan salah satu fasilitas bagi suatu daerah untuk maju dan berkembang serta transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas atau hubungan suatu daerah karena aksesibilitas sering dikaitkan dengan daerah. Untuk memban-gun suatu pedesaan keberadaan prasarana dan sarana transportasi tidak dapat ter-pisahkan dalam suatu program pembangunan. Kelangsungan proses produksi yang efesien, investasi dan perkembangan teknologi serta terciptanya pasar dan nilai selalu didukung oleh system transportasi yang baik. Transportasi faktor yang san-gat penting dan strategis untuk dikembangkan, diantaranya adalah untuk melayani angkutan barang dan manusia dari satu daerah ke daerah lainnya dan menunjang pengembangan kegiatan-kegiatan sektor lain untuk meningkatkan pembangunan nasional di Indonesia.

Peranan Transportasi

Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia harus menggunakan sumber daya alam yang menyediakan makanan dan minuman, pakaian, dan perumahan sebagai tempat tinggal dengan harapan untuk mendapatkan penghidupan yang layak dan nyaman serta tenteram. Akan tetapi, keberadaan sumber daya alam di permukaan bumi tidak merata karena keadaan alam itu sendiri. Tidak ada satu wilayah di dunia ini yang dalam memenuhi kebutuhan akan sumber daya alam di wilayahnya berasal hanya dari wilayah itu sendiri, dengan demikian manusia harus melakukan transpor-tasi dengan melintranspor-tasi berbagai kondisi alam.

(15)

Menurut Kadir (2006) pada jurnal perencanaan dan pengembangan wilayah wa-hana hijau, peran dan pentingnya transportasi dalam pembangunan ekonomi yang utama adalah tersedianya barang, stabilisasi dan penyamaan harga, penurunan har-ga, meningkatnya nilai tanah, terjadinya spesialisasi antar wilayah, berkembangnya usaha skala kecil, terjadinya urbanisasi dan konsentrasi penduduk. Dampak negatif perkembangan transportasi antara lain : bahaya atas kehancuran umat manusia, hi-langnya sifat-sifat individual dan kelompok, tingginya frekuensi dan intensitas ke-celakaan, makin meningkatnya urbanisasi, kepadatan dan konsentrasi penduduk dan tersingkirnya industri kerajinan rumah tangga.

Tujuan transportasi dalam mendukung perkembangan ekonomi nasional antara lain :

1. Meningkatkan pendapatan nasional disertai dengan distribusi yang merata antara penduduk.

2. Meningkatkan jenis dan jumlah barang jadi dan jasa yang dapat dihasilkan pada konsumen, industri, dan pemerintah.

3. Mengembangkan industri nasional yang dapat menghasilkan devisa serta mensuplai pasaran dalam negeri.

4. Menciptakan dan memelihara tingkatan kesempatan kerja bagi masyarakat.

Menurut Salim (2000) transportasi bermanfaat bagi masyarakat, dalam arti hasil-hasil produksi dan bahan-bahan baku suatu daerah dapat dipasarkan kepada pe-rusahaan industri. Selain itu transportasi melaksanakan penyebaran penduduk dan pemerataan pembangunan. Penyebaran penduduk ke seluruh pelosok tanah air di Indonesia menggunakan berbagai jenis moda transportasi. Sementara menurut Daljoeni (2003) tentang peran transportasi dalam menghubungkan bahan baku ke konsumen : ‘Pengangkutan berperan penting untuk saling menghubungkan daerah sumber bahan baku, daerah produksi, daerah pemasaran dan daerah pemukiman sebagai tempat tinggal konsumen’.

(16)

Sumber daya yang merata dan saling melengkapi memerlukan adanya transpor-tasi yang baik sebagai alat angkut dan penggerak kehidupan manusia. Hal ini dapat kita lihat dari pendapat Warpani (1990) pengangkutan diperlukan karena sumber-sumber kebutuhan manusia disuatu daerah tidak terdapat di setiap tempat. Dis-amping itu sumber daya yang dibutuhkan harus melalui tahapan produksi, di mana lokasinya tidak selalu terdapat ditempat manusia sebagai konsumen.

Menurut Nasution (2008) peranan pengangkutan mencakup bidang yang luas di dalam kehidupan manusia yang meliputi atas berbagai aspek, seperti aspek sosial dan budaya, aspek politis dan pertahanan, aspek hukum, aspek teknik, dan aspek ekonomi.

Kegiatan transportasi tidak terlepas dari biaya pengangkutan, yang dalam pen-gangkutan barang dan manusia atau penumpang sering disebut ongkos. Kegiatan transportasi merupakan bergerak dibidang jasa dengan menggunakan supir dan peralatan lainnya serta bahan bakar minyak sebagai bahan bakar untuk mengger-akkan alat transportasi, sehingga biaya transportasi sangat tergantung pada harga bahan bakar minyak, apalagi pada saat ini harga bahan bakar minyak terus menga-lami kenaikan. Untuk menghemat biaya transportasi, khususnya transportasi darat dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi jalan dan ketersediaan berbagai jenis dan jumlah angkutan umum yang disesuaikan dengan jarak tempuh sehingga dapat mempermudah penduduk dalam melakukan segala aktivitas.

prasarana dan sarana transportasi

Prasarana Transportasi

Prasarana adalah barang atau benda tidak bergerak yang dapat menunjang atau mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja. Jalan dan jembatan adalah prasaranan transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangu-nan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. Jalan merupakan prasarana yang sangat penting sebagai penunjang transportasi, dimana jalan merupakan wahana tempat terjadinya gerakan transportasi sehingga terjalin hubungan antara satu daerah dengan daerah lain, hal ini dikatakan oleh Morlok (1998) yang menyatakan bahwa pengertian jalan adalah salah satu ruang dimana gerakan transportasi dapat terjadi.

(17)

diklasifikasi-kan menurut jalan alam (natural) dan jalan buatan (artificial). Jalan alam merupadiklasifikasi-kan pemberian alam dan karenanya tersedia bagi setiap orang tanpa (atau hampir tidak) adanya suatu beban ongkos bagi pemakainya. Seperti jalan setapak, sungai, danau, dan jalan udara. Sedangkan jalan buatan adalah jalan yang di bangun melalui usaha manusia secara sadar dengan sejumlah dana investasi bagi pembiayaan tertentu untuk membuat konstruksinya dan pemeliharaannya.

Ketentuan lebih jauh seperti diamanatkan oleh landasan hukum, seperti tercan-tum pada Peraturan Pemerintah, No. 34, Tahun 2006, tentang jalan dimana pasal 102 menyatakan bahwa jalan umum bisa dioperasikan manakala setelah ditetapkan memenuhi persyaratan layak fungsi secara teknis dan administrative sesuai den-gan pedoman teknis yang ditetapkan oleh menteri terkait (Kusnandar, 2009). Jalan memiliki faktor pendorong atau pendukung dengan standar atau kemampuan jalan menahan angkutan, kontruksi dan jenis jalan sehingga dapat diketahui jenis ang-kuatan yang dapat dan tidak dapat melewati jalan tersebut agar tidak terjadi kerusa-kan atau kecelakaan sehingga gerakerusa-kan transportasi dapat berjalan dengan lancar.

Nasution (2008) mengatakan, salah satu faktor pendorong dan pendukung den-gan standar atau kemampuan jalan dalam menahan angkutan yang melintasnya. Menurut UU No. 1980 standar jalan baik tersebut didasarkan pada kelas dan permu-kaannya. Berdasarkan kelas jalan dibedakan atas :

1. Jalan kelas satu dengan daya dukung maksimal sepuluh ton dan lebar rata-rata tujuh meter.

2. Jalan kelas dua dengan daya dukung atau kapasitas maksimal tujuh ton dan lebar rata-rata lima meter.

3. Jalan kelas tiga dengan daya dukung maksimal lima ton dan lebar rata-rata empat meter.

4. Jalan kelas empat dengan daya dukung maksimal tiga ton dan lebar rata-rata tiga meter.

Menurut Soemargono (1992), jalan menurut permukaannya ditentukan oleh ba-han-bahan yang dipergunakan serta teknik-teknik yang digunakan atau ditetapkan dalam pekerjaannya sehingga dibedakan atas:

1. Jalan berkonstruksi aspal yaitu jalan yang lapisan bawahnya diperkeras atau dipadatkan dengan beberapa lapisan batu, kerikil, dan tanah pasir sebagai lapisan penutup permukaan jalan dipergunakan aspal beton yang diproses melalui ketel dan tungku pemasak aspal.

(18)

dengan batu kerikil.

3. Jalan tanah yaitu jalan yang belum pernah di tingkatkan dan hanya terdiri ta-nah saja.

Menurut Nasution (2008), berdasarkan peranannya klasifikasi jalan dikelompok-kan atas 5 golongan, sesuai dengan karakteristik masing-masing.

1. Jalan arteri yaitu jalan yang melayani angkutan umum utama dengan ciri per-jalanan jarak jauh, kecepatan tinggi dan jumlah jalan masuk yang membatasi se-cara efesien.

2. Jalan kolektor yaitu jalan yang melayani angkutan menuju /keluar ke suatu tempat dengan ciri perjalanan jarak sedang dengan kecepatan yang sedang dan jumlah jalan masuk yang dibatasi.

3. Jalan lokal yaitu jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri perjalan-an jarak dekat dengperjalan-an kecepatperjalan-an rata-rata rendah atau lambat dperjalan-an jumlah jalperjalan-an masuk tidak dibatasi.

4. Jalan akses yaitu melayani angkutan pedesaan, dengan ciri-ciri: perjalanan ja-rak sangat dekat, kecepatan sangat lamban, dan banyak jalan masuk persimpan-gan.

5. Jalan Setapak yaitu melayani perjalanan kaki, sepeda dan sepeda motor, serta umumnya belum beraspal.

Menurut Lemhmnas (1997), tersedianya prasarana jalan yang semakin baik dan luas akan memperlancar arus pengangkutan manusia dan barang serta memberikan manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan penduduk. Maka dengan demikian prasarana jalan yang baik dan lancar akan menunjang kelancaran arus pengangku-tan manusia, barang dan jasa serta melancarakan hubungan antar kota dengan desa dan sebaliknya, dalam beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang nantinya akan lebih mensejahterakan kehidupan penduduk.

(19)

berperan dalam meningkatkan frekuensi hubungan desa antar kota. Secara umum kelancaran transportasi sangat dibutuhkan untuk :

1. Memajukan daerah terpencil

2. Melancarkan pemasaran hasil pertanian, perkebunan, pertambangan industri dan sumber daya alam lainnya.

3. Mendukung jalannya pemerintahan di daerah

4. Mendukung perkembangan pendidikan, pariwisata dan kebudayaan 5. Perbaikan tingkat kesehatan masyarakat

6. Menjaga kesatuan dan kedaulatan bangsa 7. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat 8. Membuka daerah-daerah yang baru

Dengan begitu pentingnya manfaat transportasi bagi kehidupan manusia, me-merlukan perhatian yang serius secara kontiniu dari pemerintah dengan melaku-kan pembangunan transporatsi antar wilayah yang nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan terutama yang berada di daerah-daerah.

Sarana Transportasi

Sarana adalah barang atau benda bergerak yang dapat dipakai sebagai alat dalam pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja. Menurut Miro (2008) masyarakat pelaku perjalanan (konsumen jasa transportasi) dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu :

1. Golongan Paksawan (Captive) merupakan jumlah terbesar di Negara berkem-bang, yaitu golongan masyarakat yang terpaksa menggunakan angkutan umum kar-ena ketiadaan mobil pribadi. Mereka secara ekonomi adalah golongan masyarakat lapisan menengah ke bawah (miskin atau ekonomi lemah).

2. Golongan Pilihwan (Choice), merupakan jumlah terbanyak di Negara-negara maju, yaitu golongan masyarakat yang mempunyai kemudahan (akses) ke kender-aan pribadi dan dapat memilih untuk menggunakan angkutan umum atau angku-tan pribadi. Mereka secara ekonomi adalah golongan masyarakat lapisan menengah ke atas (kaya atau ekonomi kuat)

Menurut Miro 2008 secara umum, ada dua kelompok besar moda transportasi yaitu :

(20)

me-makainya sama sekali (mobilnya disimpan di garasi).

2. Kenderaan Umum (Public Transportation), yaitu : Moda transportasi yang diperuntukkan buat bersama (orang banyak), kepentingan bersama, menerima pe-layanan bersama, mempunyai arah dan titik tujuan yang sama, serta terikat dengan peraturan trayek yang sudah ditentukan dan jadwal yang sudah ditetapkan dan para pelaku perjalanan harus wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan-ketentuan tersebut apabila angkutan umum ini sudah mereka pilih.

Angkutan umum merupakan sarana angkutan untuk masyarakat kecil dan me-nengah supaya dapat melaksanakan kegiatannya sesuai dengan tugas dan fungsin-ya dalam masfungsin-yarakat.\ Warpani (1990), menfungsin-yatakan bahwa angkutan umum pen-umpang adalah angkutan penpen-umpang yang dilakukan dengan system sewa atau membayar. Menurut Bangun (1998), pengertian angkutan umum (public transport) adalah semua jenis model transportasi yang supply untuk kebutuhan mobilitas pergerakan barang dan orang, demi kepentingan masyarakat atau umum dalam memenuhi kebutuhannya, jenis angkutan berdasarkan peruntukannya terdiri dari angkutan umum dan angkutan penumpang, masing-masing dengan jenis kender-aan dan fasilitas yang berbeda.

Angkutan jalan adalah kenderaan yang diperbolehkan untuk menggunakan jalan. Angkutan jalan ini di antaranya adalah :

1. Truk adalah kenderaan bermotor yang beroda empat atau lebih yang mengangkut barang dengan kapasitas lebih dari satu ton.

2. Pickup adalah kenderaan bermotor yang berdoa empat yang mengankut barang dengan kapasitas muatan kurang dari satu ton.

3. Bus merupakan setiap kenderaan bermotor yang dilengkapi lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk pengemudi, baik dengan maupun tanpa bagasi.

4. Mobil penumpang adalah setiap kenderaan bermotor yang dilengkapi sebanyak-banyaknya delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan atau tanpa bagasi.

5. Becak merupakan kenderaan bermotor beroda tiga dengan tempat duduk penumpang di samping pengemudi.

6. Ojek adalah kenderaan bermotor beroda dua.

(21)

kenderaan sebagai alat angkut. Harga barang dan jasa pada hakekatnya dipengar-uhi oleh permintaan akan barang dan jumlah barang tersedia (demand and supply). Biaya angkutan merupakan unsur penting dalam produksi barang yang merupakan faktor pendorong bagi produksi barang.

Jumlah kapasitas tersedia dibandingkan dengan kebutuhan terbatas, di samping itu permintaan terhadap jasa transportasi. Permintaan akan jasa transportasi ditu-runkan dari keinginan untuk mengikuti kegiatan yang berada diluar tempat tinggal mereka, dan dalam kasus untuk mengikuti kegiatan yang berada diluar tempat ting-gal mereka, dan dalam kasus untuk gerakan barang dari tempat dimana barang itu diambil, atau dibuat ketempat dimana dikonsumsi (Morlok, 1998).

Menurut Nasution (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan jasa angkutan adalah sebagai berikut :

1. Harga jasa angkutan - Harga jasa transportasi melingkupi banyak macam bi-aya, dan bukan sekedar biaya jasa angkutan saja. Namun demikian sekadar untuk menyederhanakan pemikiran dan analisis, anggap saja bahwa tarif jasa angkutan hanya mencerminkan imbalan balas jasa terhadap pengangkutan agar dapat meli-hat kepekaan permintaan jasa angkutan terhadap perubahan harga/tariff

2. Tingkat pendapatan - Apabila tingkat pendapatan pemakai jasa transportasi makin meningkat, maka permintaan jasa transportasi makin meningkat pula karena kebutuhan melakukan perjalanan makin meningkat.

3. Citra atau image terhadap perusahaan atau moda transportasi tertentu - Apa-bila suatu perusahaan angkutan atau moda angkutan tertentu senantiasa memberi-kan kualitas pelayanan yang dapat memberi kepuasan kepada pemakai jasa trans-portasi, maka konsumen tersebut menjadi pelanggan yang setia. Dengan kualitas pelayanan yang prima, akan dapat meningkat citra perusahaan kepada para pelang-gannya.

Sedangkan menurut Salim (2000), untuk mengetahui jumlah permintaan akan jasa angkutan transportasi, perlu diketahui jumlah permintaan akan jasa-jasa trans-portasi yaitu sebagai berikut:

1. Pertumbuhan jumlah penduduk di suatu daerah, propinsi dan Negara akan menimbulkan pengaruh terhadap jumlah penggunaan jasa angkutan transportasi yang dibutuhkan (pertanian, perdagangan, perindustrian dan sebagainya).

(22)

penduduk di daerah, transportasi merupakan penunjang dalam hal tersebut. 3. Pemasaran Hasil Pertanian, hasil-hasil pertanian yang akan dipasarkan harus didukung oleh transportasi yang memadai, untuk melancarkan pemasaran hasil-hasil pertanian.

4. Industrialisasi, pembangunan industri akan membawa pengaruh terhadap penggunaan dan jenis jasa-jasa transportasi.

5. Transmigrasi dan Penyebaran Penduduk, penyebaran penduduk di Indonesia merupakan salah satu faktor yang menentukan banyaknya jumlah jasa angkutan yang dibutuhkan disetiap daerah di Indonesia yang harus dipenuhi oleh perusa-haan pengangkutan.

6. Analisa dan proyeksi akan permintaan jasa transportasi adalah untuk me-menuhi permintaan akan jasa-jasa transportasi yang baik dan terarah, agar dapat memenuhi kebutuhan akan jasa angkutan yang diperlukan oleh masyarakat yang menggunakan jasa angkutan.

Mobilitas penduduk yang terjadi di suatu wilayah secara langsung maupun tidak langsung membutuhkan jaringan transportasi sebagai pengangkutan, dan untuk kelancaran arus pengangkutan tidak lepas dari prasarana dan sarana transportasi yang memadai. Untuk mendukung semua hal tersebut memerlukan pembangunan yang terpadu dan terarah.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu melakukan berbagai aktivitas, baik fisik maupun psikhis guna memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya secara maksimal, yang kita ketahui berupa produksi, distribusi dan konsumsi yang merupa-kan kegiatan inti makhluk sosial. Salah satu rangkaian aktivitas itu berupa kegiatan menggunakan moda transportasi sebagai salah satu kebutuhan yang cukup pent-ing untuk menunjang kelancaran dalam bertansaksi ekonomi. Jika dilihat dari segi sosial dan budaya, transportasi berguna sebagai sarana untuk berhubungan dan saling mengunjungi sesama makhluk sosial yang saling membutuhkan. Sementara, bila dilihat dari sudut pandang politik dan pertahanan, alat transportasi dapat mem-perkokoh persatuan dan kesatuan, keandalan sistem dan sarana berhubungan ikut memperkokoh stabilitas politik suatu negara melalu aparat keamanan dan memberi rasa aman dan tentram.

(23)

man-faat dari moda transportasi tersebut bisa tetap dipertahankan dan berfungsi sesuai dengan kebutuhan pengguna, maka dari itu perlu adanya manajemen transportasi di suatu wilayah yang pasti memiliki mobilitas ekonomi yang beragam. Kegiatan transportasi bukan, suatu tujuan melainkan mekanisme untuk mencapai tujuan.

Menurut Setijowarno dan Frazila (2001), pergerakan orang dan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya mengikuti 3 (tiga) kondisi yaitu :

1. Pelengkap, relatif menarik antara dua atau lebih tujuan

2. Keinginan untuk mengatasi jarak, dimana sebagai perpindahan yang diu-kur dalam kerangka waktu dan uang yang dibutuhkan untuk mengatasi jarak dan teknologi terbaik untuk mencapainya

3. Kesempatan intervensi berkompetisi di antara beberapa lokasi untuk me-menuhi kebutuhan dan penyediaan. Untuk mencapai pergerakan yang cepat, aman, nyaman dan sesuai dengan kebutuhan akan kapasitas angkut maka diper-lukan suatu fasilitas atau prasarana yang mendukung pergerakan tersebut. Penye-diaan fasilitas untuk mendukung dari pergerakan tersebut menyesuaikan dengan jenis moda yang digunakan.

Pemilihan moda transportasi tergantung dan ditentukan dari beberapa faktor yang ada antara lain:

1. Segi pelayanan 2. Keandalan

3. Keandalan dalam bergerak 4. Keperluan

5. Keselamatan dalam perjalanan 6. Fleksibilitas

7. Biaya

8. Tingkat Polusi 9. Jarak Tempuh

10. Penggunaan bahan bakar 11. Kecepatan gerak

Masing-masing moda transportasi menurut Setijowarno dan Frazila (2001), memiliki ciri-ciri operasional yang berlainan yaitu dalam hal :

1. Kecepatan, menunjukkan beberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bergerak antara dua lokasi

(24)

untuk menyelenggarakan hubungan antara dua lokasi

3. Pengoperasian yang diandalkan (dependability of operations), menunjukkan perbedaan-perbedaan yang terjadi antara kenyataan dan jadwal yang ditentukan

4. Kemampuan (capability), merupakan kemampuan untuk dapat menangani segala bentuk dan keperluan akan angkutan

5. Frekuensi adalah banyaknya gerakan atau hubungan yang dijadwalkan

perMintaan dan penaWaran transportasi

Permintaan (Demand) Transportasi

Permintaan akan perjalanan mempunyai kemiripan dengan permintaan ekono-mi. Oleh karena itu permintaan atas jasa transportasi disebut sebagai permintaan turunan (derived demand) yang timbul akibat adanya permintaan akan komoditi atau jasa lain. Menurut Setijowarno dan Frazila (2001), pada dasarnya permintaan atas jasa transportasi diturunkan dari :

1. Kebutuhan seseorang untuk berjalan dari suatu lokasi ke lokasi lainnya un-tuk melakukan suatu kegiatan

2. Permintaan akan angkutan barang tertentu agar tersedia di tempat yang diinginkan. Dalam hal angkutan penumpang, karakter turunan dari kebutuhan dicerminkan pada perjalanan yang diadakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, seperti pergi bekerja, berenang ke pantai, dan sebagainya. Jadi faktor yang mem-pengaruhi jumlah perjalanan ke tempat tertentu adalah jenis kegiatan yang dapat dilakukan atau tingkat pencapaian tujuan perjalanan, dan biaya untuk mencapai tempat tujuan tersebut. Dengan kata lain bahwa perjalanan timbul karena aktifi-tas yang ada dalam masyarakat. Semakin banyak dan pentingnya aktifiaktifi-tas yang ada maka tingkat perjalanan pun meningkat.

Menurut Marvin (1979), bentuk tujuan perjalanan yang biasanya dipergunakan oleh perencana transportasi adalah :

a. Perjalanan Pekerjaan (work trip) b. Perjalanan Sekolah (school trip) c. Perjalanan Belanja (shooping trip)

d. Perjalanan Bisnis Pekerjaan (employer’s business trip) e. Perjalanan Sosial (social trip)

(25)

Besarnya permintaan transportasi berkaitan dengan aktivitas sosial ekonomi masyarakat, yakni sistem kegiatan yang biasanya dapat diukur melalui intensitas guna lahan. Hubungan yang terdapat pada sistem transportasi dan sistem tata guna lahan menurut Setijowarno dan Frazila (2001) yaitu:

a. Perubahan/peningkatan guna lahan akan membangkitkan perjalanan b. Meningkatnya bangkitan akan menaikkan tingkat permintaan pergerakan yang akhirnya memerlukan penyediaan prasarana transportasi

c. Pengadaan prasarana akan meningkatkan daya hubung parsial d. Naiknya daya hubung akan meningkatan harga/nilai lahan

e. Penentuan pemilihan lokasi yang akhirnya menghasilkan perubahan dalam sistem guna lahan

Masyarakat sebagai faktor utama dalam melakukan kegiatan perjalanan selalu ingin agar permintaannya terpenuhi. Menurut White (1976), permintaaan yang ada dari masyarakat akan pemenuhan kebutuhan transportasi dipengaruhi oleh :

a. Pendapatan masing-masing orang b. Kesehatan

c. Tujuan dari perjalanan d. Jenis perjalanan

e. Banyaknya penumpang (group/individual) f. Perjalanan yang mendesak.

Terpenuhinya permintaan akan kebutuhan transportasi ditimbulkan oleh ciri-ciri perjalanan yang mempengaruhi pemilihan moda, di mana masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi dapat menggunakan moda yang ada. Faktor yang terda-pat dalam ciri perjalanan yang dimaksud yaitu :

1. Jarak perjalanan - Jarak perjalanan mempengaruhi orang dalam menentukan pemilihan moda. Makin dekat jarak tempuh, pada umumnya orang makin memilih moda yang paling praktis

2. Tujuan perjalanan - Tujuan perjalanan mempunyai keterkaitan antara keinginan-keinginan masing-masing orang dalam memilih moda yang diinginkan.

(26)

terendah pada hari-hari tertentu dalam satu tahun. Kebutuhan dan perilaku yang tetap ini yang menjadi dasar munculnya permintaan transportasi.

Penawaran (Supply) Transportasi

Dalam pendekatan mikro ekonomi standar, supply dan demand dikatakan be-rada pada kompetisi sempurna bila terdiri dari sejumlah besar pembeli dan penjual di mana tidak ada satupun penjual ataupun pembeli dapat mempengaruhi secara disporposional harga dari barang. Demikian juga dalam hal transportasi, dikatakan mencapai kompetisi sempurna bila biaya/tarif transportasi tidak terpengaruh oleh pihak penumpang maupun penyedia sarana transportasi. Dalam hal ini dapat dikat-akan bahwa supply dirasa cukup bila permintaan terpenuhi tanpa adanya pengaruh dalam tarif perjalanan baik dari penyedia transportasi maupun penumpang.

Permintaan adalah suatu fungsi positif dari biaya. Realita yang banyak terjadi transportasi ditawarkan pada tingkat harga tertentu, sehingga bagaimanapun penawaran akan transportasi ini sangat dipengaruhi oleh hargaharga yang terlibat. Harga terlibat misalnya biaya terminal (terminal cost) dan biaya pergerakan (move-ment cost). Penawaran jasa transportasi meliputi tingkat pelayanan dan harga yang bertitik tolak pada pemikiran bahwa kenaikan harga mengakibatkan meningkatnya jumlah yang dihasilkan dan ditawarkan untuk dijual. Tingkat pelayanan transportasi berhubungan erat dengan volume, seperti halnya dengan penetapan harga. Banyak sedikitnya penumpang yang ada tidak terlepas dari peranan pelayanan yang diberi-kan oleh pihak pemberi jasa transportasi kepada pemakainya yaitu penumpang.

Berkaitan dengan pelayanan angkutan orang menurut Marvin (1979), maka be-berapa faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut di atas yaitu :

a. Kecepatan b. Kelengkapan c. Keselamatan

d. Harga yang terjangkau e. Frekuensi

f. Pertanggungjawaban g. Keteraturan

h. Kenyamanan i. Kapasitas

konsep perenCanaan transportasi

(27)

gabun-gan dari beberapa komponen yang masing-masing harus dilakukan secara terpisah dan beruntun yaitu :

1. Aksesbilitas - Aksesbilitas digunakan untuk mengidentifikasi masalah dan menolong mengevaluasi alternatif perencanaan transportasi yang diusulkan, meru-pakan konsep yang menggabungkan sistem pengaturan tata guna lahan dengan sistem jaringan yang menghubungkannya. Menurut Black (1981) aksesbilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan dalam berinteraksi satu sama lain dan “mudah” atau “susah” nya lokasi tersebut dica-pai melalui sistem transportasi yang ada.

2. Bangkitan dan Tarikan Pergerakan - Bangkitan pergerakan adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zone atau tata guna lahan, sedangkan tarikan pergerakan merupakan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zone.

3. Sebaran Pergerakan - Merupakan prakiraan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zone atau tata guna lahan yang lain. Tahap ini menghubungkan interaksi antara tata guna lahan, jaringan transportasi dan arus lalu lintas.

4. Pemilihan Moda - Jika interaksi yang terjadi antar tata guna lahan mengharus-kan terjadinya pergeramengharus-kan, maka harus ditentumengharus-kan dalam hal pemilihan alat angkut (moda transportasi) yang akan digunakan.

5. Pemilihan Rute - Pemilihan rute tergantung juga dari moda transportasi yang digunakan. Pemilihan moda dan pemilihan rute dilakukan bersama dengan alter-natif terpendek, tercepat dan termurah.

anGkUtan UMUM penUMpanG (aUp)

(28)

angkutan penumpang yang dilakukan dengan sistem sewa atau bayar. Termasuk dalam pengertian angkutan penumpang adalah angkutan kota (minibus, bus, dan-lain-lain), kereta api, angkutan air, dan angkutan udara.

Tujuan utama angkutan umum penumpang adalah :

1. Menyelenggarakan pelayanan angkutan yang baik dan layak bagi masyarakat yaitu aman, cepat, murah, dan nyaman

2. Membuka lapangan kerja

3. Pengurangan volume lalu-lintas kendaraan pribadi

Bagi perusahaan-perusahaan transportasi (operator) yang menghasilkan jasa pelayanan transportasi kepada masyarakat pemakai jasa angkutan (users), maka pada prinsipnya terdapat empat fungsi produk jasa transportasi yang aman (safety), tertib dan teratur (regularity), nyaman (comfort), dan ekonomis. Untuk mewujudkan keempat fungsi produk jasa tersebut, fungsi manajemen transportasi bagi perusa-haan transportasi pada umumnya adalah :

1. Merencanakan kapasitas dan jumlah armada

2. Merencanakan jaringan trayek/lintas/rute serta menentukan jadwal keberangkatan

3. Mengatur pelaksanaan operasi armada dan awal kendaraan 4. Memelihara dan memperbaiki armada

5. Memberi pelayanan kepada penumpang dan barang 6. Melaksanakan promosi dan penjualan tiket

7. Merencanakan dan mengendalikan keuangan 8. Mengatur pembelian suku cadang dan logistik

9. Merencanakan sistem dan prosedur untuk meningkatkan efisiensi perusahaan

10. Melaksanakan penelitian dan pengembangan perusahaan

11. Menjalin hubungan yang erat dengan instansi-instansi pemerintah maupun instansi lainnya

Perencanaan Transportasi

Secara umum dapat dikatakan bahwa peranan perencanaan transportasi sebe-narnya adalah untuk dapat memastikan bahwa kebutuhan akan pergerakan dalam bentuk pergerakan manusia, barang, atau kendaraan dapat ditunjang oleh sistem prasarana transportasi yang harus beroperasi di bawah kapasitasnya. Sistem prasa-rana transportasi terbentuk dari:

1. Sistem prasarana penunjang (jaringan jalan raya atau jalan rel).

(29)

3. Beberapa jenis moda transportasi dengan berbagai macam operatornya.

Sedangkan tujuan dari perencanaan transportasi adalah meramalkan dan men-gelola evolusi titik keseimbangan sejalan dengan waktu sehingga kesejahteraan so-sial dapat dimaksimumkan.Kajian perencanaan transportasi mempunyai ciri yang berbeda dengan kajian yang lain hal ini dikarenakan karena objek penelitian suatu kajian perencanaan transportasi cukup luas dan beragam. (Tamin, 1997) ciri kajian perencanaan transportasi ditandai dengan:

1. Multimoda, adalah kajian perencanaan transportasi yang selalu melibatkan lebih dari satu moda sebagai bahan kajian/ pergerakan manusia dan / barang yang melibatkan banyak moda.

2. Multidisiplin, adalah kajian perencanaan transportasi yang melibatkan banyak disiplin keilmuan karena aspek kajiannya sangat beragam, mulai dari ciri pergera-kan, penggunaan jasa, sampai dengan prasarana ataupun sarana transportasi send-iri. Biasanya melibatkan bidang keilmuan: rekayasa, ekonomi, geografi, penelitian operasional, sosial politik, matematika, informatika, dan psikologi.

3. Multisektoral, adalah kajian perecanaan transportasi yang melibatkan banyak lembaga atau pihak yang terkait yang berkepentingan dengan kajian perencanaan transportasi.

4. Multimasalah, adalah kajian perencanaan yang tentu saja menimbulkan multi permasalahan yang dihadapi mempunyai dimensi yang cukup beragam dan luas, mulai dari yang berkaitan dengan aspek pengguna jasa, rekayasa, operasional, ekonomi, sampai dengan aspek sosial.

Klasifikasi Jasa Transportasi

Transportasi menurut Kamaludin (1987) dalam Romli (2008) dapat ditinjau dari :

Dari segi barang yang diangkut, sehingga transportasi dapat diklasifikasikan menjadi:

1. Angkutan penumpang (Passanger), yaitu angkutan yang akan mengangkut setiap penumpang di antara lokasi-lokasi pada rute dengan ongkos yang sama tan-pa diskriminasi (Groosman 1959, dalam Morlok 1984)

(30)

3. Angkutan Pos (Mail), Angkutan muatan tidak langsung yang bertanggung-jawab atas transport muatan, menarik ongkosnya dan sebagainya, tetapi pada ke-nyataannya tidak mengangkut sendiri muatan tadi dari asal ke tujuannnya melaink-an kereta api atau perusahamelaink-an penerbmelaink-angmelaink-an ymelaink-ang mengmelaink-angkut muatmelaink-an tersebut.

Dari segi Geografis, Transportasi dapat diklasifikasikan: a. Angkutan antar-benua, misal Asia ke Amerika.

b. Angkutan Kotinental (antar-negara), misal dari Perancis ke Swiss c. Angkutan antar-daerah; misal dari Sulawesi ke Papua

d. Angkutan antar-kota; misal Mandonga ke Landono.

e. Angkutan dalam kota; misal angkutan kota, becak, bus kota, dan-lain.

Dari sudut teknis dan alat pengangkutnya, Transportasi dapat diklasifikasikan; a. Pengangkutan jalan raya. Contoh: Truk, Bus, Mobil, dan lain-lain

b. Pengangkutan jalan rel. Contoh: Kereta api.

c. Pengangkutan melalui air. Contoh: Kapal laut, Tongkang, Perahu, dan lain-lain. d. Pengangkutan pipa. Contoh: pipa minyak tanah, bensin, dan air minum. e. Pengangkutan udara. Contoh Pesawat terbang, Helikopter

Unsur-unsur transportasi meliputi: a. Ada muatan yang diangkut

b. Tersedia kendaraan sebagai pengangkutnya c. Ada jalanan yang dapat dilalui

d. Ada terminal asal dan terminal tujuan

e. Sumber daya manusia dan organisasi atau manajemen yang menggerakkan kegiatan transportasi tersebut.

(31)

ManajeMen transportasi

Sistem Manajemen Transportasi

Sistem manajemen transportasi (transportation management system) adalah rangkaian sistem atau pengelolaan terhadap moda transportasi oleh suatu kelom-pok atau golongan. Jasa transportasi merupakan salah satu faktor pemasukan (in-put) dari kegiatan produksi, perdagangan, pertanian, dan kegiatan ekonomi lainnya. Manusia sangat membutuhkan transportasi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sangat beraneka ragam yang umumnya berkaitan dengan produksi barang dan jasa. Kemudahan yang diperoleh karena transportasi bagi manusia adalah mu-dahnya mengatasi jarak antara sumber daya manusia dengan sumber daya alam atau barang produksi yang dibutuhkan manusia yang terletak pada masing-masing geografi.

Karena begitu pentingnya transportasi bagi kehidupan manusia, maka perlu di-lakukan pengelolaan atau manajemen transportasi yang baik. Pada umunya, mana-jemen transportasi menghadapi tiga tugas utama:

1. Menyusun rencana dan program untuk mencapai tujuan dan misi organisasi secara keseluruhan.

2. Meningkatkan produktivitas dan kinerja perusahaan. 3. Mengoperasikan angkutan secara garis besar.

Manajemen transportasi dapat ditinjau dari dua sisi yaitu: 1. Manajemen transportasi dalam industri atau perusahaan. 2. Manajemen transportasi dalam masyarakat (public transport).

Mengapa Perlu Manajemen Transportasi

1. Transportasi merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia sebagaimana makan pakaian dan tempat tinggal

2. Kebutuhan manusia dan barang terhadap transportasi berbeda beda . 3. Ketersediaan alat angkut sangat variatif dari yang berkapasitas kecil-besar, lambar-cepat , murah-mahal, dan sebagainya.

4. Transportasi sebagai mata rantai ekonomi 5. Teknologi

Tugas Utama Manajemen Transportasi

1. Menyusun rencana dan program untuk mencapai tujuan dan misi organisasi secara keseluruhan,

(32)

3. Mengoperasikan angkutan secara garis besar

Sedangkan jenis alat transportasi yang sudah umum dikenal yaitu meliputi: 1. Angkutan jalan raya.

2. Angkutan kereta api. 3. Angkutan laut. 4. Angkutan udara. 5. Angkutan pipa.

6. Angkutan gabungan (kontainerisasi).

Moda Transportasi Serta Keunggulan dan Kelemahanya

Tiap moda transportasi memiliki keunggulan dan kelemahan ditinjau dari ber-bagai pertimbangan, contohnya transportasi laut memiliki keunggulan biaya yang lebih rendah, namun lambat dibandingkan dengan transportasi udara yang cepat namun dengan biaya yang lebih tinggi. Transportasi manajemen harus bisa menen-tukan moda transportasi yang akan digunakan sesuai dengan situasi. Pertimbangan dalam memilih transportasi bisa dilihat dari beberapa hal:

1. Tarif 2. Kehandalan

3. Perlu atau tidaknya moda tambahan 4. Kerugian, kerusakan dan proses complain 5. Kondisi internal perusahaan angkut

Keputusan distribusi oleh transportasi sebagai berikutt: 1. Produk

2. Harga

3. Pasar yang dituju 4. Pembelian 5. Fasilitas lokasi

Transportasi adalah salah satu kegiatan yang menyangkut peningkatan kebutu-han manusia, yakni dengan mengalokasikan barang dari satu tempat ke tempat lain yang berbeda, maka sangat perlu adanya perusahaan yang mampu memfasilitasi keperluan transportasi ini. Menurut ahli manajemen, manajemen memiliki bebera-pa fungsi yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan evaluasi.

(33)

ang-kutan bermotor dalam menyediakan jasa angang-kutan kepada masyarakat. Proses per-necanaan ini akan dimulai dengan merencanakan kapasitas bus, penentuan jumlah kendaraan dan pendapatan, penjadwalan bus, kinerja dan standar pelayanan.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi, maka perlu adan-ya perencanaan adan-yang meliputi hal sebagai berikut:

1. Area dan gedung pengoprasian. Yakni merencanakan tempat yang strategis sebagai pusat pengaturan kendaraan, meliputi kantor sekretariatnya, lokasi parkir resmi seluruh armada, dan tempat reparasi dan alat-alat pendukung lainnya.

2. Kapasitas. Yakni dengan mengetahui terlebih dahulu kuantitas trayek atau rute yang biasa jadi tujuan masyarakat. Dengan mengetahui kuantitas rute, maka dapat diperkirakan berapa jumlah armada bus yang akan dioperasikan dan jadwal perjalanan.

3. Penentuan jumlah kendaraan dan waktu perjalanan. Yakni menentukan jum-lah kendaraan yang dioperasikan dalam satu hari. Karena membutuhkan modal be-sar, pihak bus harus berusaha memperkecil kuantitas bus yang diperlukan agar lebih efisien. Dan pengaturan waktu perjalanan yang tepat adalah hal yang bisa mem-perkecil kuantitas bus yang akan dioperasikan agar tidak terjadi kelebihan armada.

4. Koneksi dan sosialisasi. Koneksi adalah orang atau lebaga yang diharapkan dapat berpartisipasidalam perusahaan jasa transportasi, dan sosialisasi sangat dibu-tuhkan agar saat perusahaan beroperasi, masyarakat sudah mengetahui maksuda dan tujuan didirikannya perusahaan jasa transportasi tersebut.

5. Perekrutan karyawan. Setelah segala persiapan sudah selesai, selanjutnya ada-lah mempersiapkan karyawan yang akan bekerja dalam perusahaan, berupa: mana-jer/ direktur, staff administrasi dan sekretaris, staff emasaran, staff operasi, security dan staff umum.

Pengorganisasian (organizing) - Sebenarnya sistem pengorganisasian sudah di-lakukan dari awal, tapi pemakalah disini menitik beratkan khusus pada pengorgan-isasian dalam pengelolaan fasilitas dan pelayananan dengan mengesampingkan hal-hal lain yang juga dibilang sistem organzing.

(34)

tujuan yang hendak dicapai dalam rangka kerjasama, yang diawali dengan pembua-tan struktur organisasi, lalu dilanjutkan dengan prosesi penempapembua-tan staff.

Pengawasan (controlling) - Pengawasan merupakan kegiatan pokok dari mana-jemen agar segala pekerjaaan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana dan ke-tentuan yang telah digariskan. Pengawasan harus dilakukan secara sitematis dan terus-menerus demi terhindarnya penyimpangan dan masalah-masalah lain yang akan timbul. Dan yang terpenting adalah pengawasan bukan hanya sekadar den-gan kekuatan saja, tapi harus sesuai denden-gan fungsi dan sistemnya agar tidak sia-sia. Pengawasan bisa dilakukan di bagan-bagan, formulir-formulir, nota-nota, laporan-laporan, kunjungan-kunjungan, dan apakah smua itu sesuai dengan peraturan dan norma yang berlaku. Dan hasil dari pengawasan itu akan dapat diambil suatu pe-nilaian atau evaluasi.

Evaluasi (evaluation) - Evaluasi bertujuan untuk mengetahui sampai dimana tu-juan yang telah ditetapkan dapat dicapai, kegiatan mana yang beum diselesaikan datau yang sedang dalam proses penyelesaian dan kendala-kendala apa yang dia-hadapi serta merumuskan strategi untuk mengantisipasi kesalahan-kesalahan yang terjadi. Kegiatan evaluasi meliputi:

a. Mempelajari perkembangan usaha atau kegiatan secara terus-menerus dengan cara-cara pemantauan.

b. Mengadakan pengukuran tingkat keberhasilan sesuai dengan program tertentu.

c. Mengadakan berbagai usaha untuk memecahkan hambatan-hambatan yang timbul demi kelancaran kegiatan yang dijalani.

Organisasi di bidang jasa sekalipun harus mengetahui permasalahan yang ada baru bisa mencarikan solusi yang akan diambil guna menyelesaikan maslaha terse-but. Sifat perbaikan bisa berupa pengarahan, bimbingan dan petunjuk. Begitu juga evaluasi, ia bersifat dimensional, artinya bukan hanya melihat ke belakang dengan menegevaluasi apa yang terjadi, tapi juga perkiraan yang akan terjadi di masa de-pan.

Fungsi Manajemen Transportasi

Transportasi memiliki fungsi untuk menunjang perkembangan perekonomian dengan membuat keseimbangan antara penyedia dan permintaan transportasi. Adapun manfaat transportasi yang meliputi kehidupan masyarakat, yaitu :

(35)

berguna.

Manfaat Sosial - Manusia pada umumnya bermasyarakat dan berusaha hidup se-laras atau dengan yang lain dengan menggunakan kemudahan :

a. Pelayanan untuk perorangan maupun kelompok, b. Pertukaran informasi,

c. Perjalanan untuk rekreasi,

d. Perluasan jangkauan perjalanan sosial, dan e. Pemendekan jarak rumah dengan tempat kerja.

Manfaat Politis - Pengangkutan menjadi syarat mutlak atau pokok dalam segi politik yang meliputi:

a. Menciptakan persatuan dan keadilan,

b. Pelayanan kepada masyarakat dikembangkan dengan lebih merata c. Keamanan negara terhadap serangan dari luar yang tidak di kehendaki Manfaat Wilayah - Perkembangan suatu wilayah, karena adanya sifat kebutuhan manusia atas permintaan dan pemenuhan ada segi ekonomi.

Fungsi Dasar Manajemen Distribusi dan Transportasi

Fungsi distribusi dan transportasi pada dasarnya adalah menghantarkan produk dari lokasi di mana produk tersebut diproduksi sampai di mana mereka akan digu-nakan. Manajemen transportasi dan distribusi mencakup baik aktivitas fisik yang secara kasat mata bisa kita saksikan, seperti menyimpan dan mengirim produk, maupun fungsi non fisik yang berupa aktivitas pengolahan informasi dan pelayanan kepada pelanggan. Pada prinsipnya, fungsi ini bertujuan untuk menciptakan pe-layanan yang tinggi ke pelanggan yang bisa dilihat dari tingkat service level yang dicapai, kecepatan pengiriman, kesempurnaan barang sampai ke tangan pelang-gan, serta pelayanan purna jual yang memuasakan.

Manajemen distribusi dan transportasi pada umumnya melakukan sejumlah fungsi dasar yang terdiri dari: Melakukan segmentasi dan menentukan target ser-vice level. Segmentasi pelanggan perlu dilakukan karena kontribusi mereka pada revenue perusahaan bisa sangat bervariasi dan karekteristik tiap pelanggan bisa sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Dengan memahami perbedaan karak-teristik dan kontribusi tiap pelanggan atau area distribusi, perusahaan bisa mengop-timalkan alokasi persediaan maupun kecepatan pelayanan.

(36)

lebih rendah, namun lebih lambat dibandingkan dengan transportasi udara. Mana-jemen tranportasi harus bisa menentukan mode apa yang akan digunakan dalam mengirimkan/ mendistribusikan produk-produk mereka ke pelanggan. Kombinasi dua atau lebih mode transportasi tentu bisa atau bahkan harus dilakukan tergan-tung pada situasi yang dihadapi.

Melakukan konsolidasi informasi dan pengiriman - Konsolidasi merupakan kata kunci yang sangat penting dewasa ini. Tekanan untuk melakukan pengiriman cepat namun murah menjadi pendorong utama perlunya melakukan konsolidasi informa-si maupun pengiriman. Salah satu contoh konsolidainforma-si informainforma-si adalah konsolidainforma-si data permintaan dari berbagai regional distribution center oleh central warehouse untuk keperluan pembuatan jadwal pengiriman. Sedangkan konsolidasi pengiri-man dilakukan misalnya dengan menyatukan permintaan beberapa toko atau ritel yang berbeda dalam sebuah truk. Dengan cara ini, truk bisa berjalan lebih sering tanpa harus membebankan biaya lebih pada pelanggan/klien yang mengirimkan produk tersebut.

Melakukan penjadwalan dan penentuan rute pengiriman - Salah satu kegiatan operasional yang dilakukan oleh gudang atau distributor adalah menentukan ka-pan sebuah truk harus berangkat dan rute mana yang harus dilalui untuk memenuhi permintaan dari sejumlah pelanggan.

Memberikan pelayanan nilai tambah - Beberapa proses nilai tambah yang bisa dikerjakan oleh distributor adalah pengepakan (packaging), pelabelan harga, dan sebagainya.

Menyimpan persediaan - Jaringan distribusi selalu melibatkan proses penyim-panan produk baik di suatu gudang pusat atau gudang regional, maupun di toko di mana produk tersebut dipajang untuk dijual.

Menangani pengembalian (return) - Manajemen distribusi juga punya tang-gungjawab untuk melaksanakan kegiatan pengembalian produk dari hilir ke hulu dalam supply chain. Pengembalian ini bisa karena produk rusak atau tidak terjual sampai batas waktu penjualannva habis, seperti produk-produk makanan, sayur, buah, dan sebagainya.

(37)

transpor-tasi apa yang akan digunakan, namun pada situasi lain ada kemungkinan beberapa alternatif yang dipertimbangkan. Dalam manajemen transportasi/pengiriman, dibe-dakan antara pihak yang memiliki barang dan pihak yang melakukan pengiriman. Pemilik barang yang berkepentingan barangnya untuk dikirim biasanya disebuat sebagai shipper, sedangkan pihak yang bertugas melakukan pengiriman (misalnya perusahaan jasa pengiriman) dinamakan carrier.

MODE TRANSPORTASI SERTA KEUNGGULAN DAN KELEMAHANNYA

Beberapa hal yang biasanya dipakai sebagai dasar pertimbangan dalam men-gevaluasi mode transportasi, adalah:

1. Dilihat dari sudut pengirim atau carrier, hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah biaya-biaya yang terlibat, mulai dari biaya alat transportasinya sendiri (bisa berupa biaya beli atau sewa alat transportasi), biaya operasional tetap (biaya termi-nal atau bandara yang besarnya tidak tergantung pada volume barang yang dikirim), dan biaya operasional variabel (seperti biaya bahan bakar) dimana besarnya biaya tergantung pada volume angkut atau jarak yang ditempuh dalam pengiriman.

2. Dari sisi shipper, pertimbangannya bisa didasarkan pada berbagai ongkos yang timbul pada supply chain, termasuk ongkos selain yang terkait langsung dengan transportasi, namun sebagai konsekuensi dari pemilihan mode transportasi terse-but. Di samping biaya transportasi yang harus ditanggung, perusahaan juga harus memperhitungkan biaya persediaan, biaya loading-unloading, dan biaya fasilitas (seperti gudang, dan-lain-lain). Konsekuensi lain seperti tingkat service level yang diperoleh dan ketidakpastian waktu pengiriman penting untuk dipertimbangkan oleh shipper. Tradeoff antar berbagai ongkos tersebut harus dicari dalam menen-tukan mode transportasi yang akan dipilih. Misalnya, ada mode transportasi yang mahal, namun cepat dan mengakibatkan penurunan inventory secara signifikan.

Secara umum, tiap mode transportasi memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri ditinjau dari berbagai pertimbangan tersebut. Sebagai contoh, volume yang bisa diangkut kereta jauh lebih besar dibandingkan truk, namun fleksibilitas truk jauh lebih tingi, baik fleksibilitas rote maupun feksibilitas waktu pengiriman.

Penentuan Rute Dan Jadwal Pengiriman

(38)

mana permasalahan ini terjadi. Setiap pagi koran harus didistribusikan dari tempat di mana mereka dicetak ke tempat-tempat penjualan untuk seterusnya diedarkan juga ke pelanggan individu. Keputusan jadwal pengiriman serta rute yang akan ditempuh oleh tiap kendaraan akan sangat berpengaruh terhadap biaya-biaya pen-giriman. Selain itu, jadwal dan rute sering kali juga harus mempertimbangkan ken-dala lain seperti kapasitas kendaraan atau armada pengangkutan.

Secara umum permasalahan penjadwalan dan penentuan rute pengiriman bisa memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai seperti tujuan untuk meminimumkan biaya pengiriman, meminimumkan waktu, atau memininumkan jarak tempuh. Da-lam bahasa program matematis, salah satu dari tujuan tersebut bisa menjadi fungsi tujuan (objective function) dan yang lainnya menjadi kendala (constraint). Misalnya, fungsi tujuannya adalah meminimumkan biaya pengiriman, namun ada kendala time window dan kendala maksimum jarak tempuh tiap kendaraan, di samping ken-dala lain seperti kapasitas kendaraan atau kenken-dala lainnya.

Untuk memberikan ilustrasi bagaimana proses penjadwalan dan penentuan rute pengiriman suatu produk, ikutilan contoh berikut. Sebuah perusahaan akan men-girimkan produk dari gudang pusat yang diasumsikan berposisi di koordinat (0,0) ke 8 lokasi toko yang koordinatnya ditampilkan pada Tabel 8.2. Hanya saja, karena posisinya yang beragam, perusahaan ingin menentukan berapa truk yang dibutuh-kan serta ke mana masingmasing truk adibutuh-kan mengangkut barang. Perusahaan bisa menyewa maksimum 3 buah truk dengan kapasitas masing-masing 700 unit namun karena biaya sewa cukup besar, diharapkan dua truk bisa mencukupi. Diperkirakan semua lokasi bisa terkunjungi dalam jangka waktu 1 hari, walau hanya dua truk yang dioperasikan.

Pekerjaan pertama yang harus dilakukan adalah menetukan alokasi truk. Artinya, perlu diketahui truk mana akan mengunjungi toko yang mana. Tahap kedua nantin-ya adalah menentukan rute perjalanan masing-masing truk menggunakan metode savings matrix. Metode savings matrix adalah metode untuk meminimumkan jarak atau waktu atau ongkos dengan mempertimbangkan kendala-kendala yang ada. Karena di sini kita berbicara koordinat tujuan pengiriman maka meminimumkan ja-rak yang ditempuh oleh semua kendaraan.

Langkah-langkah yang harus dikerjakan adalah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasikan matrik jarak

2. Mengidentifikasikan matrik penghematan (savings matrix) 3. Mengalokasikan toko ke kendaraan atau rute

(39)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiki lebih dari 17.000 pulau dengan total wilayah 735.355 mil persegi. Indonesia menempati peringkat keempat dari 10 negara berpopulasi terbesar di dunia (sekitar 220 juta jiwa). Bisa dibayangkan, tanpa sarana transportasi yang memadai maka akan sulit untuk menghubungkan seluruh daerah di kepulauan ini. Kebutuhan transportasi merupakan kebutuhan tu-runan (derived demand) akibat aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Dalam kerangka makro-ekonomi, transportasi merupakan tulang punggung perekonomian nasional, regional, dan lokal, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Harus diingat bahwa sistem transportasi memiliki sifat sistem jaringan di mana ki-nerja pelayanan transportasi sangat dipengaruhi oleh integrasi dan keterpaduan jaringan. Sarana transportasi yang ada di darat, laut, maupun udara memegang per-anan vital dalam aspek sosial ekonomi melalui fungsi distribusi antara daerah satu dengan daerah lain. Distribusi barang, manusia, dan lain-lain akan menjadi lebih mudah dan cepat bila sarana transportasi yang ada berfungsi sebagaimana mesti-nya sehingga transportasi dapat menjadi salah satu sarana untuk mengintegrasikan berbagai wilayah di Indonesia.

Melalui transportasi penduduk antara wilayah satu dengan wilayah lainya dapat ikut merasakan hasil produksi yang rata maupun hasil pembangunan yang ada. Skala ekonomi (economy of scale), lingkup ekonomi (economy of scope), dan keterkaitan (interconnectedness) harus tetap menjadi pertimbangan dalam pengembangan transportasi dalam kerangka desentralisasi dan otonomi daerah yang kerap diden-gungkan akhir-akhir ini. Ada satu kata kunci ini di sini, yaitu integrasi, di mana berba-gai pelayanan transportasi harus ditata sedemikian rupa sehingga saling terintegrasi, misalnya truk pengangkut kontainer, kereta api pengangkut barang, pelabuhan peti kemas, dan angkutan laut peti kemas, semuanya harus terintegrasi dan memung-kinkan sistem transfer yang terus menerus (seamless).

Kebutuhan angkutan bahan-bahan pokok dan komoditas harus dapat dipenuhi oleh sistem transportasi yang berupa jaringan jalan, kereta api, serta pelayanan pelabuhan dan bandara yang efisien. angkutan udara, darat, dan laut harus saling terintegrasi dalam satu sistem logistik dan manajemen yang mampu menunjang pembangunan nasional. Transportasi jika ditilik dari sisi sosial lebih merupakan

BaB ii

(40)

proses afiliasi budaya di mana ketika seseorang melakukan transportasi dan ber-pindah menuju daerah lain maka orang tersebut akan menemui perbedaan budaya dalam bingkai kemajemukan Indonesia.

Di samping itu sudut pandang sosial juga mendeskripsikan bahwa transportasi dan pola-pola transportasi yang terbentuk juga merupakan perwujudan dari sifat manusia. Contohnya, pola pergerakan transportasi penduduk akan terjadi secara massal dan masif ketika mendekati hari raya. Hal ini menunjukkan perwujudan sifat manusia yang memiliki tendesi untuk kembali ke kampung halaman setelah lama tinggal di perantauan. Pada umumnya perkembangan sarana transportasi di Indo-nesia berjalan sedikit lebih lambat dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia dan Singapura. Hal ini disebabkan oleh perbedaan regulasi pemerintah masing-masing negara dalam menangani kinerja sistem transportasi yang ada.

Kebanyakan dari Negara maju menganggap pembangunan transportasi meru-pakan bagian yang integral dari pembangunan perekonomian. Pembangunan ber-bagai sarana dan prasarana transportasi seperti halnya dermaga, pelabuhan, ban-dara, dan jalan rel dapat menimbulkan efek ekonomi berganda (multiplier effect) yang cukup besar, baik dalam hal penyediaan lapangan kerja, maupun dalam me-mutar konsumsi dan investasi dalam perekonomian lokal dan regional.

Sektor transportasi dikenal sebagai salah satu mata rantai jaringan distribusi barang dan penumpang telah berkembang sangat dinamis serta berperan dalam menunjang pembangunan politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun pertahanan keamanan. Pertumbuhan sektor ini akan mencerminkan pertumbuhan ekonomi secara langsung sehingga transportasi mempunyai peranan yang penting dan strategis. Keberhasilan sektor transportasi dapat dilihat dari kemampuannya dalam menunjang serta mendorong peningkatan ekonomi nasional, regional dan lokal, stabilitas politik termasuk mewujudkan nilai-nilai sosial dan budaya yang diindikasi-kan melalui berbagai indikator transportasi antara lain: kapasitas, kualitas pelayan-an, aksesibilitas keterjangkaupelayan-an, beban publik dan utilisasi.

Secara umum, transportasi dibedakan dalam beberapa jenis yaitu: 1. Transportasi udara

2. Transportasi laut 3. Transportasi darat

(41)

1. Nilai guna tempat (Place Utility) - Yaitu kenaikan atau tambahan nilai ekonomi atau nilai guna dari suatu barang atau komoditi yang diciptakan dan mengangkut-nya dari suatu tempat ke tempat lainmengangkut-nya yang mempumengangkut-nyai nilai kegunaan yang leb-ih kecil, ke tempat atau daerah dimana barang tersebut mempunyai nilai kegunaan yang lebih besara yang biasanya diukur dengan uang (interens of money)

2. Nilai guna waktu (Time Utility) - Yaitu kesanggupan dari barang untuk me-menuhi kebutuhan manusia dengan menyediakan barang-barang, tidak hanya di-mana mereka membutuhkan, tetapi didi-mana mereka perlukan.

transportasi dan distriBUsi Fisik

Transportasi Tulang Punggung Perekonomian

Pengertian Transportasi secara umum adalah rangkaian kegiatan memindahkan/ mengangkut barang dari produsen sampai kepada konsumen dengan mengguna-kan salah satu moda transportasi, yang dapat meliputi moda transportasi darat, laut/ sungai maupun udara. Rangkaian kegiatan yang dimulai dari produsen sampai kepada konsumen lazim disebut rantai transportasi (chain of transportation).

Tiap sektor disebut mata rantai (link) yang saling berkaitan dan saling mempen-garuhi. Kelancaran dan kecepatan arus transportasi ditentukan oleh mata rantai yang terlemah dari rangkaian kegiatan transportasi tersebut, sampai pada mata rantai yang terkuat. Transportasi mempunyai peranan penting bagi industri karena produsen mempunyai kepentingan agar barangnya diangkut sampai kepada kon-sumen tepat waktu, tepat pada tempat yang ditentukan, dan barang dalam kondisi baik.

(42)

Transaksi perdagangan adalah proses pemindahan barang dari penjual kepada pembeli dengan pembayaran yang dilakukan pembeli kepada penjual. Beralih atau perpindahan barang dagangan tersebut dapat terjadi melalui :

1. Dari gudang (stock) yang dimiliki penjual, menuju gudang/tempat yang ditunjukan oleh pembeli

2. Dari pabrik di mana barang tersebut diproduksi menuju gudang/tempat yang ditunjuk oleh pembeli

3. Dari gudang/daerah pertanian atau perkebunan dimana barang (hasil pertanian) tersebut dihasilkan

4. Dari lokasi pertambangan (barang tambang) menuju gudang/tempat pabrik di mana hasil tambang tersebut dibutuhkan jadi bahan baku

Hinterland dan Intermoda Transportasi

Hinterland adalah daerah belakang suatu pelabuhan. Luas suatu hinterland relatif dan tidak mengenal batas administratif suatu daerah, provinsi atau batas suatu negara tergantung kepada ada atau tidaknya pelabuhan yang berdekatan dengan daerah tersebut. Intermoda Transportasi adalah Pengangkutan barang atau penumpang dari tempat asal sampai ketempat tujuan dengan menggunakan lebih dari satu moda transport tanpa terputus dalam arti biaya, pengurusan adminisratif, dokumentasi dan adanya satu pihak yang bertanggung jawab sebagai pengang-kut.

Pelayanan intermoda transportasi disebut pula pelayanan dari pintu ke pintu (door to door service). Ada 3 aspek yang perlu diperha

Gambar

Tabel : Komponen Transportasi Berkelanjutan

Referensi

Dokumen terkait

Ketersediaan transportasi umum yang baik akan meningkatkan mobilitas dan aksesibilitas wisatawan untuk menuju destinasi wisata, yang pada akhirnya akan meningkatkan ekonomi

Permasalahan kebutuhan dana investasi yang sangat besar bagi pengembangan sektor transportasi dapat diatasi bila dana pembangunan tersebut diserahkan kepada swasta sebagai

Pembangunan jaringan transportasi darat yang memadai di Kota Depok telah.. mampu meningkatkan pertumbuhan sektor ekonomi masyarakat,

Solusi Peningkatan Emisi Karbondioksida Peningkatan emisi karbondioksida di Jawa Timur yang sejalan dengan aktivitas sektor pertanian, industri, dan transportasi yang terus tumbuh

Pengaruh Tax Planing dan Ukuran Perusahaan Terhadap Transfer Pricing, pada peruhahaan Sektor Infrastruktur dan Transportasi-Sub Sektor Transportasi yang terdaftar di Bursa Efek

Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan, pada penelitian ini dilakukan Pengenalan Keselamatan Transportasi Anak Usia Dini MI Muhammadiyah Sudung Melalui DALAN SLAMET dengan

4.1.5.1Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan sub Sektor Transportasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2021 ....

ABSTRAK Judul Skripsi : Manajemen HUMAS Dewan Transportasi Kota Jakarta dalam mengelola aspirasi masyarakat ramah disabilitas pada sarana dan prasarana transportasi Nama : Regina