Mengapa Kewajiban Suami Dan Istri

10 

Teks penuh

(1)

Modul 5

Untuk Meningkatkan

Ketahanan dan Kehati-hatian Keluarga

Untuk Para Calon Suami, Calon Istri, Suami atau Istri

di Perkotaan

Oleh

Khoiril Arief Saleh

(2)

Mengapa Kewajiban Suami Dan Istri Harus Berbeda ?

Oleh : Khoiril Arief Saleh

Jl. Bolavoli 18 Arcamanik, Bandung, Telp. (022)7102411

Mengapa kewajiban suami dan istri harus dibedakan ?. Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menganalisa kemampuan dasar manusia dan mencoba menguji kecocokan beberapa aturan suami atau istri yang berbeda. Hal itu dibahas dalam penjelasan-penjelasan berikut.

1. Memahami Tentang Kemampuan Manusia

Orang akan dapat berkarya secara optimal dengan menyesuaikan bakat, umur dan fitrahnya. Sebaliknya, tidak sesuaiya bakat, umur dan fitrah seseorang dengan bidang yang digelutinya, mengakibatkan prestasi tidak maksimal. Tiga unsur tersebut akan sangat menentukan kesuksesan seseorang.

Karya-karya seni besar biasanya diciptakan oleh orang-orang terlatih dan berbakat seni. Seorang dapat berpidato sangat menarik dihadapan beribu-ribu orang karena memang sudah terlatih dan mempunyai bakat berpidato. Seorang dapat menjadi panglima perang gagah berani karena memang sudah terlatih dan juga mempunyai jiwa pemberani. Seorang dapat menjadi olah ragawan berprestasi disebabkan oleh latihan dan bakat yang dimilikinya. Banyak contoh tentang suksesnya karir seseorang karena mereka bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Kemampuan kerja seseorang akan mencapai puncaknya rata-rata pada usia sekitar setengah umur, mungkin sekitar umur duapuluh hingga empat puluh tahun. Sebelum usia itu relatif kurang ilmu dan pengalamannya, setelah usia itu mulai berkurang daya tahan tubuhnya meskipun syarat dengan ilmu dan pengalaman. Rata-rata setelah umur lima puluh lima tahun akan sangat turun ketahanan fisiknya. Mungkin sudah mulai menurun daya ingatnya, sehingga peraturan pensiun di Indonesia berlaku mulai umur tersebut. Kondisi itu telah dipahami benar oleh para ahli sehingga penempatan bidang kerjanyapun sudah bisa disesuaikan.

Pada saat kemampuan kerja mencapai puncaknya harus ditempatkan pada bidang-bidang yang memerlukan kerja keras secara fisik maupun pikiran. Pada saat mulai berkurang daya tahannya tetapi syarat dengan ilmu dan pengalaman harus di tempatkan pada bidang untuk memimpin/mengkoordinir, membimbing, mengawasi, memberi konsultasi dan sebagainya. Pemilihan bidang kerja yang tidak sesuai dengan golongan umur tersebut dapat mengakibatkan prestasi yang tidak optimal.

Pemilihan kerja atau kegiatan berdasarkan fitrah sangat menentukan keberhasilan prestasi. Seorang perempuan yang mempunyai fitrah lain dengan laki-laki tentunya juga akan berlainan kecocokan bidang pekerjaannya. Merupakan suatu hal yang tidak cocok bila seorang laki-laki menjadi pengasuh anak (baby sister) dan perempuan menjadi petinju profesional. Ketidak cocokan itu menyebabkan kesulitan mewujudkan optimasi yang tinggi.

(3)

Ilmu atau pengetahuan tentang menyesuaikan bakat, umur dan fitrah ini banyak berkembang di dunia barat akhir-akhir ini. Penerapannya di Indonesia saat ini masih kurang. Hal itu terbukti dengan masih banyaknya orang tua memaksa anaknya untuk masuk jurusan sekolah tertentu yang tidak sesuai dengan bakatnya. Hal itu dilakukan atas dorongan keinginan untuk mencapai gemerlapnya dunia secara pintas. Misalnya seorang anak dipaksa masuk sekolah kedokteran, sekolah teknik, sekolah ekonomi meskipun anaknya tidak menyukainya. Orang-orang pinter mengatakan “hal itu salah”. Rata-rata orang perkotaan dengan tingkat ekonomi menengah keatas mengatakan juga “hal itu salah”. Nah, sekarang kita coba mengevaluasi apakah mereka terapkan juga pada sistem hubungan suami-istri mereka. Hal ini akan dibahas lebilh lanjut pada uraian-uraian selanjutnya.

Selanjutnya penulis hanya mengkhususkan pembahasan pada laki-laki dan perempuam dalam suatu hubungan keluarga sebagai suami-istri. Akan dibahas penerapan hal-hal tersebut diatas pada pelaksanaan kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami.

1.1. Perbedaan fitrah laki-laki dan perempuan

Laki-laki dan perempuan memang berbeda, baik secara fisik maupun perasaannya. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perbedaan itu telah ada sejak lahir dan sejak adanya manusia dimuka bumi ini. Perbedaan fitrah antara laki-laki dan perempuan tersebut antara lain dalam hal sebagai berikut :

Chromosum, sel pembentuk tubuh antara laki-laki dan perempuan berbeda, perbedaan hal ini

yang menyebabkan hal-hal lain berbeda.

Postur tubuh, laki-laki cenderung berpostur tegap, gagah dan kekar, sedang perempuan

cenderung lembut, indah dan menarik.

Hubungan sexual, alat kelamin laki-laki di luar dan cenderung mempunyai nafsu sexual

relatif besar serta hampir tidak menurun hingga usia relatif tua. Alat kelamin perempuan terletak di dalam dan perempuan cenderung tidak mempunyai nafsu sexual yang stabil hingga usia relatif tua.

Reproduksi, laki-laki memberikan sperma kepada perempuan sedang perempuan membawa

sel telur yang dapat dibuahi oleh sperma. Pembuahan tidak terjadi didalam tubuh laki-laki tetapi didalam tubuh perempuan hingga mengandung dan melahirkan anak.

Perawatan anak, laki-laki tidak dapat menyusui anaknya dan mengasuh anaknya dengan

sabar sedang perempuan dapat melakukannya.

Dominasi rasa dan logika, laki-laki didominasi oleh logika sedang perempuan didominasi

unsur rasa.

Kekuatan, laki-laki cenderung mempunyai kekuatan yang lebih besar dibanding perempuan.  Ketahanan, laki-laki cenderung kurang mampu bertahan dibanding perempuan. Misalnya

perempuan relatif mampu bekerja dengan jenis pekerjaan yang monotun, mampu menahan gangguan fisik, mampu menahan beberapa jenis penyakit dibanding laki-laki.

(4)

Antara laki-laki dan perempuan masing-masing mempunyai kelemahan dan kelebihan sendiri-sendiri. Dalam satu tim atau dalam suatu keluarga perbedaan tersebut dapat saling menutupi dengan mengoptimalkan kelebihan masing-masing.

Berdasarkan perbedaan-perbedaan tersebut maka layaklah bila terjadi perbedaan tanggung jawab atau kewajiban antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri). Penyeragaman tanggung jawab atau kewajiban pada laki-laki (suami) dan perempuan (istri) justru bertentangan dengan fitrahnya. Penyeragaman tersebut tidak hanya menurunkan optimasi bahkan dapat menimbulkan masalah baru.

1.2. Hal-hal yang cocok dilakukan oleh laki-laki atau perempuan dalam hidup berkeluarga

Sesuai dengan kondisi laki-laki yang tegap, gagah, kekar, didominasi logika, cenderung bernafsu sexual relatif besar yang hampir tidak menurun hingga usia relatif tua, bertindak sebagai pembuah seltelur, dan mempunyai kekuatan; maka untuk mengoptimalkan kualitas keluarga, laki-laki paling cocok melakukan pekerjaan-pekerjaan :

 Melindungi, membimbing dan memimpin perempuan (istri).

 Membuahi seltelur istri dengan melalui pergaulan sexual yang layak.  Menggauli dengan baik dengan tidak menyakiti perasaan istri.

 Melakukan pekerjaan-pekerjaan yang relatif tidak monotun dan memerlukan kekuatan.

Telah diketahui bahwa kondisi perempuan lembut, indah, menarik, didominasi rasa, cenderung tidak bernafsu sexual yang stabil hingga usia relatif tua, dapat menyusui dan merawat anak, serta mempunyai daya tahan yang relatif tinggi; maka untuk mengpotimalkan kualitas keluarga, perempuan sangat cocok untuk melakukan hal-hal sebagai berikut :

 Menerima perlindungan, bimbingan dan pengarahan laki-laki (suami).

 Melakukan usaha menstabilkan hubungan sexual dan melakukan reproduksi dengan

mengandung dan melahirkan anak.

 Menyusui anak dan mengasuh anak

 Melakukan pekerjaan-pekerjaan relatif monotun

Sebagai konsekuensi dari penerimaan perlindungan, bimbingan dan pengarahan laki-laki maka perempuan harus taat pada pemberi perlindungan, bimbingan dan pengarahan.

Diluar perbedaan antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri) yang telah diterangkan diatas, kondisi laki-laki dan perempuan relatif sama sehingga pekerjaan-pekerjaan lain yang cocok dikerjakan oleh laki-laki atau perempuan juga sama. Misalnya saling berdiskusi, saling terbuka, saling membantu dan lain sebagainya.

1.3. Hal-hal yang biasa dilalaikan orang

(5)

tersebut, maka istilah “cocok” sudah tidak tepat lagi. Istilah “cocok” harus diganti dengan

kewajiban, maka perbedaan pekerjaan diatas berubah menjadi kewajiban suami terhadap istri atau kewajiban istri terhadap suami.

Dengan demikian maka kewajiban suami terhadap istri adalah: melindungi, membimbing dan memimpin istri; membuahi sel telur istri dengan melalui pergaulan sexual yang layak; menggauli dengan baik dengan tidak menyakiti perasaan istri; dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang relatif tidak monotun yang memerlukan kekuatan. Kewajiban istri terhadap suami adalah: menerima perlindungan, bimbingan atau pengarahan suami; melakukan usaha menstabilkan hubungan sexual, melakukan reproduksi dengan mengandung/melahirkan anak; menyusui/mengasuh anak; dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang relatif monotun.

Kewajiban-kewajiban ini bersifat silang dan mutlak harus dilakukan untuk menutupi kekurangan suami atau istri. Bila lebih dipertegas lagi, maka pelaksanaan kewajiban suami benar-benar diperlukan istri bahkan menjadi hak dari istri sebaliknya kewajiban istri benar-benar diperlukan suami bahkan menjadi hak dari suami.

Selain kewajiban yang timbul karena kebutuhan silang, ada pula yang timbul karena kebutuhan bersama yaitu kewajiban saling berdiskusi, saling menolong, saling terbuka dan lain sebagainya. Kewajiban ini dinamakan kewajiban bersama suami-istri. Kewajiban ini timbul karena suami dan istri sama-sama saling membutuhkan dan sama-sama saling bisa mengerjakannya. Meskipun kewajiban bersama suami-istri ini penting tetapi kewajiban silang harus relatif lebih diperhatikan karena pada kewajiban yang bersifat silang kebutuhan sendiri tidak bisa dipenuhi oleh dirinya sendiri.

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa ada dua macam kewajiban yang berbeda tingkat perhatiannya, yaitu :

 Kewajiban silang; kewajiban suami terhadap istri atau kewajiban istri terhadap suami.

Kewajiban ini menjadi prioritas utama untuk diperhatikan pelaksanaannya.

 Kewajiban bersama suami-istri; kewajiban yang sama-sama dilakukan baik oleh suami

maupun istri.

Demikianlah menurut analisa yang benar.

Perkembangan budaya berbicara lain, budaya barat saat ini tidak terlalu peduli dengan kewajiban silang, mereka lebih mengutamakan kewajiban bersama suami-istri. Kewajiban bersama lebih diutamakan karena dalam kewajiban tersebut benar-benar menyamakan hak dan kewajiban suami dan istri. Budaya barat lebih mengutamakan nilai-nilai demokrasi. Kewajiban silang terhapus karena dianggap membeda-bedakan hak dan kewajiban suami dan istri, seakan-akan kewajiban tersebut menindas para istri, tidak adil………..kata mereka.

(6)

Kelalaian tersebut menyebabkan hilangnya nilai kewajiban silang. Sebagai akibat atas hilangnya tatanilai kewajiban silang, harus ditebus dengan harga yang sangat mahal, yaitu menurunnya tingkat kerukunan keluarga. Pada kondisi yang sangat buruk terjadilah perceraian.

2. Menguji Kebenaran Adanya Perbedaan Kewajiban Suami Terhadap

Istri Dan Kewajiban Istri Terhadap Suami.

Kewajiban suami terhadap istri memang berbeda dengan kewajiban istri terhadap suami. Secara fisik, emosional serta fungsional suami maupun istri sangat berbeda. Suami atau laki-laki bertubuh kekar sedang istri atau perempuan bertubuh lembut. Laki-laki biasa bertindak dengan rasio sedang perempuan dengan perasaannya. Secara biologis laki-laki tidak dapat melahirkan sedang perempuan dapat melahirkan anak. Kondisi-kondisi yang berbeda tersebut mengharuskan adanya aturan yang berbeda pula. Penyamarataan kewajiban akan menyebabkan benturan-benturan dalam kehidupan berkeluarga karena fitrah mereka memang berbeda.

Adalah sangat tepat bila manual manusia (Al-Quran dan hadis) berisi aturan aturan yang berbeda antara kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami. Aturan-aturan tersebut telah banyak dijelaskan oleh para ahli agama. Untuk membuktikan kebenaran perbedaan kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami, penulis sengaja membahas salah satu segi penting dari kehidupan suami-istri yang jarang diperbincangkan orang. Segi penting tersebut adalah hubungan sexual antara suami dan istri. Dari sebuah contoh ini diharapkan dapat dimengerti mengapa kewajiban suami terhadap istri harus berbeda dengan kewajiban istri terhadap suami.

Sengaja diambil contoh tentang hubungan sexual suami-istri karena pada saat ini telah terjadi

pergeseran persepsi tatanilai tentang hubungan sexual suami-istri. Seperti halnya pada budaya barat, kebanyakan keluarga modern saat ini berpersepsi bahwa hubungan sexual antara suami dan istri mempunyai kewajiban yang benar-benar sama. Hal ini berbeda dengan aturan manual manusia (Al-Quran dan hadis).

Ada hal-hal dalam manual manusia yang harus dilakukan dengan beban kewajiban yang sama, tetapi ada pula yang benar-benar berbeda antara kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami. Dalam hubungan sexual, kewajiban tersebut benar-benar berbeda.

Dalam pembahasan contoh ini dijelaskan beberapa hal pokok sebagai landasan pembahasan yaitu :

 Hubungan sexual suami-istri tidak ditinjau dalam arti yang sempit tetapi dalam arti yang

luas, mulai dari kasih sayang, nafsu, teknik pelaksanaan hingga dampak-dampak yang ditimbulkannya.

 Hubungan sexual suami-istri ditinjau dalam selang waktu yang sangat panjang, yaitu mulai

dilangsungkannya perkawinan hingga menjadi kakek-nenek.

 Aturan aturan yang ada dalam hubungan sexual suami-istri dikorelasikan dengan

kemampuan masing-masing peran, baik peran laki-laki menjadi suami maupun peran perempuan menjadi istri.

(7)

 Sabda Rasullulah "sebaik-baik istri ialah jika kamu memandangnya, maka kamu akan

terhibur, jika kamu suruh ia akan menurut dangan patuh, jika kamu bersumpah agar ia melakukan sesuatu maka dipenuhinya dengan baik dan jika kamu bepergian dijaganya dirinya dan harta bendamu". (hadis riwayat Nasa'i dan lain-lain)

 Sabda Rasullulah "Apabila seorang (suami) memanggil istrinya ketempat tidurnya, tetapi ia

enggan datang, lalu ia bermalam dengan marah, niscaya ia dilaknat oleh malaikat sampai pagi".(Mutafaq 'alaihi)

 Dari Ibnu Umar, katanya : Rasulullah saw. bersabda: “Allah melaknat wanita yang

menunda-nunda, yaitu seorang istri yang ketika diajak suaminya ketempat tidurnya menjawab nanti dulu hingga suaminya tertidur sendirian” (hadis riwayat Khatib).

 Sabda Rasulullah: "Tidak boleh perempuan menolak (permintaan) suami untuk bercampur

walaupun dia berada di atas pelana unta. Dan tidak boleh perempuan berpuasa seharipun kecuali dengan izin suaminya. Apabila dia tetap menjalankan, berdosa dia & tidak diterima puasanya-". (hadis riwayat Baihaqi & Ibnu Umar r.a.).

Beberapa kewajiban suami terhadap istri dinyatakan dalam Al-Quran dan hadis berikut :

"Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan

paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak" (QS. 4:19).

"Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:"Haidh itu adalah suatu kotoran".

Oleh sebagian itu hendaklah ]kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri" (QS. 2:222) dan disambung dengan "Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman" (QS. 2:223).

 Sabda Rasulullah :"Dilaknat orang yang mencampuri istrinya diduburnya".(hadis riwayat Abu

Daud dan Nasa'i)

 Sabda Rasulullah :"Apabila salah seorang di antara kamu akan menggauli istrinya janganlah

dia melakukannya seperti seekor burung yang hanya untuk sekedar diam pada suatu tempat".

(ath-Thurmudi)

 Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang diantara kamu janganlah sekali-kali menyenggamai

istri seperti seekor hewan bersenggama, tetapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan”. Lalu ada yang bertanya: “Apakah perentaraan itu ?”. Sabdanya: “Yaitu ciuman dan ucapan (romantis)”(hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

 "Dari Annas bahwasanya kaum Yahudi apabila seorang perempuan di antara mereka

berhaidh, mereka tidak makan bersama istrinya. Maka sabda Nabi saw: "Lakukanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh". (hadis riwayat Muslim)

 Sabda Rasulullah :"Allah tidak mau melihat (murka) kepada laki yang menyetubuhi

(8)

Dari aturan-aturan tersebut diatas, baik aturan pada suami maupun aturan pada istri ada suatu yang sangat menarik untuk dikaji.

Pertama.

Mengapa suami diperingatkan dan diberi larangan keras melakukan hubungan sex di luar kemampuan istri ?. Mengapa larangan tersebut ditujukan kepada suami, bukan kepada istri atau kepada mereka bersama (suami-istri) ?.

Kedua.

Mengapa istri benar-benar diwajibkan melayani permintaan hubungan sex dari suami, bahkan pada kondisi diatas pelana untapun masih wajib melayani suami ?. Mengapa perintah tersebut ditujukan kepada istri, bukan kepada suami atau kepada mereka bersama (suami-istri) ?.

Ketiga.

Mengapa suami dilarang menggauli istrinya “seperti seekor burung yang hanya untuk sekedar diam pada suatu tempat”, artinya tidak memberi rayuan dan tidak berusaha memuaskan istrinya?. Mengapa larangan tersebut ditujukan kepada suami, bukan kepada istri atau kepada mereka bersama (suami-istri) ?.

Kasus pertama dengan mudah dapat diterima akal manusia karena perlakuan kasar, mungkin dapat dilakukan oleh suami kepada istrinya. Untuk menjaga keserasian hubungan sexual suami-istri, maka manual manusia membuat aturan berupa larangan khusus ditujukan kepada suami. Pada kasus kedua dan ketiga relatif sulit dinyatakan dengan mudah kebenarannya, bahkan ada sebagian orang yang beranggapan aturan tersebut menyudutkan kaum istri. Sehubungan dengan hal tersebut penulis melakukan studi literatur dan mewawancarai beberapa orang yang dianggap mengerti. Hasil studi tersebut dijelaskan dalam uraian berikut.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut terlebih dalulu dilihat fitrah sexual masing-masing jenis kelamin. Laki-laki atau suami mempunyai fitrah antara lain sebagai berikut :

 Relatif mudah bangkit gairah sexnya dibandingkan dengan wanita atau istri, dengan

rangsangan sedikit saja telah dapat membangkitkan gairah sexnya. Sebagai konsekuensi dari fitrah tersebut, suami relatif mudah terjerumus pada perbuatan yang tidak dibenarkan dalam aturan manual manusia.

 Penurunan gairah sexnya relatif kecil terhadap usia relatif tua.

 Fungsi reproduksinya relatif lama, hingga kakek-kakek masih dapat membuahi anak. Hal

tersebut disebabkan karena laki-laki tidak mengalami masa menopouse.

 Dalam waktu satu bulan relatif kecil perubahan gairah sexnya Hal tersebut disebabkan karena

laki-laki tidak mengalami siklus menstruasi.

 Hubungan sexual hanya dapat dilakukan bila alat kelaminnya mengalami ereksi atau adanya

gairah sexnya

Perempuan atau istri mempunyai fitrah yang hampir berlawanan dengan laki-laki atau suami antara lain :

 Relatif tidak mudah bangkit gairah sexnya dibandingkan dengan laki-laki atau suami, gairah

sex istri akan meningkat dengan rangsangan yang cukup. Sebagai konsekuensi dari fitrah tersebut, istri relatif tahan terhadap godaan-godaan yang menjerumuskannya pada perbuatan yang tidak dibenarkan oleh manual manusia.

 Penurunan gairah sexnya relatif tajam pada usia relatif tua, terutama pada masa mendekati

(9)

 Fungsi reproduksinya sebagai perempuan atau istri berhenti pada usia tertentu, yaitu setelah

masa menopouse.

 Dalam siklus waktu satu bulan, relatif besar perubahan gairah sexnya. Hal ini disebabkan

karena ada siklus menstruasi.

 Hubungan sexual masih dapat dilakukan meskipun alat kelaminnya tidak mengalami ereksi

atau tidak adanya gairah sex sama sekali.

Selain perbedaan fitrah yang telah diuraikan diatas, ada beberapa kesamaan fitrahnya antara lain:

 Laki-laki atau suami maupun perempuan atau istri masing-masing diciptakan untuk saling

berkasih kasihan.

 Baik suami maupun istri saling ingin menikmati hubungan sexual.

 Baik suami maupun istri kedua-duanya akan mempunyai girah sexual bila ada rangsangan

sexual, walaupun mempunyai kepekaan yang berbeda.

Dari perbedaan fitrah tersebut dapat dibuat suatu model tentang gairah sex antara laki-laki atau suami dan perempuan atau istri terhadap usia masing-masing. Model gairah sex tersebut dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :

 Pasangan suami-istri pada masa muda.  Pasangan suami-istri pada masa relatif tua.  Pasangan suami-istri pada masa lanjut usia.

Masa muda merupakan masa gairah sexual yang sangat tinggi. Meskipun tinggi tetapi antara suami dan istri tidak terjadi perbedaan gairah sexual yang menyolok sehingga pasangan suami-istri tersebut tidak mengalami masalah sexual. Perbedaan gairah sexual suami dan istri menyolok terjadi pada masa relatif tua. Secara umum suami masih memiliki gairah sex relatif tinggi, sedang gairah istri sudah relatif menurun. Periode tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Pada masa tersebut kadang-kadang terjadi masalah sexual dalam keluarga sehingga tidak sedikit para suami yang melanggar aturan manual manusia karena tidak dapat menahan gairah sexualnya. Masa tersebut oleh beberapa orang disebut sebagai puber kedua. Disinilah banyak terjadi perselingkuhan suami. Pada masa lanjut usia tidak terjadi masalah sexual dalam keluarga karena suami dan istri sama-sama tidak mempunyai gairah lagi.

Masalah sexual pada masa relatif tua sudah benar-benar diketahui oleh Yang Maha Menciptakan Manusia sehingga untuk menyeimbangkan gairah para suami, dalam manual manusia sudah dibuat peringatan pada para istri. Peringatan agar dapat melayani suami sebaik-baiknya. Bahkan Rasulullah mengibaratkan walaupun berada di atas pelana unta istri tidak boleh menolak (permintaan) suaminya untuk bercampur. Mungkinkah hal tersebut dilakukan oleh para istri? ……….Jawabannya mungkin sekali,... karena secara fisik perempuan masih dapat melakukan kegiatan sex dengan suaminya meskipun alat kelaminnya tidak mengalami ereksi atau sangat kurang gairah sexnya. Hal tersebut hanya mungkin dilakukan oleh kaum perempuan atau istri. Maka tepatlah jika aturan tersebut khusus ditujukan pada kaum perempuan atau istri.

(10)

Dilaksanakannya aturan kewajiban suami terhadap istri dan aturan kewajiban istri terhadap suami sesuai dengan fitrahnya masing-masing akan memperoleh kehidupan keluarga yang serasi. Kepincangan akibat adanya perbedaan fitrah suami maupun istri serta adanya kesamaan fitrah suami maupun istri seperti yang telah diuraikan terdahulu, akan dapat terpenuhi secara adil. Pergeseran persepsi tata-nilai kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami menjadi sama, merupakan kesalahan yang sangat besar. Bisa dibanyangkan bila aturan-aturan manual manusia diubah oleh manusia sendiri hingga tidak cocok lagi dengan fitrah suami dan fitrah istri. Secara tidak sengaja suami-istri memasukkan budaya yang tidak sesuai dengan fitrahnya dan dalam waktu yang panjang keserasian keluarga akan berkurang, bahkan dapat menurunkan kerukunan keluarga.

Dari sebuah contoh pembahasan masalah tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami harus ada. Analisa dari sebuah contoh diatas benar-benar dapat diterima logika dan ilmu pengetahuan modern. Dengan demikian hal sebaliknya menjadi suatu yang salah, kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami tidak boleh disama ratakan. Dalam khasus diatas, penyeragaman kewajiban akan menyebabkan suami mencari wanita lain untuk memenuhi hasrat sexualnya pada usia relatif tua. Dengan sendirinya hal tersebut akan menimbulkan masalah dalam keluarga sehingga menurunkan kerukunan keluarga.

Masih banyak contoh-contoh lainnya yang dapat membuktikan bahwa kewajiban suami terhadap istri harus berbeda dengan kewajiban istri terhadap suami.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...