VARIASI KALSIUM KARBONAT SEBAGAI ABRASIVE PADA FORMULASI
PASTA GIGI DARI EKSTRAK ETANOL KULIT JERUK NIPIS
(
Citrus aurantifolia Swingle
) DAN UJI KESTABILAN FISIKNYA
Dewi Marlina
Dosen Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang
[email protected]
R I N G K A S A N
Latar belakang: Kulit Jeruk Nipis(Citrus aurantifolia swingle)mengandungasam sitrat, asam amino triptopan,lisin, dan minyak atsiri (Sitral, limonene, felandren, timol, kamfer), glukosida (Hisperidin, isohesperidin, auratiamarin), dan vitamin B. Kandungan kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia swingle ) yang berkhasiat sebagai anti bakteri penyebab plak adalah limonene yang kadarnya mencapai 53,92%.
Metode: Eksperimental yaitu membuat beberapa formula pasta gigi kulit jeruknipis dengan memvariasikan kalsium kabornat dan menguji kestabilan fisiknya.
Hasil: Berdasarkan Hasil yang didapat yang diperoleh dari 8000 gr jeruk nipis dan setelah diambil kulitnya diperoleh 3000 gr dan didapat ekstraknya 42,18 dengan randemen sebesar 6,25 % dan ditinjau dari viksositas yang memenuhi persyaratan Hanya formula Kontrol dan formula 1, ditinjau dari uji pH, tinggi busa, warna, bau dan rasa keempat formula menunjukan hasil yang memenuhi syarat dan satbil selama penyimpanan 28 hari.
Kesimpulan: Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia swingle) dapat diformulasikan sebagai sediaan pasta gigiyang stabil dengan abrasive Kalsium karbonat.
PENDAHULUAN
Karies gigi merupakan penyakit pada gigi yang banyak dijumpai di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas (2007) prevalensi, penduduk Indonesia yang mempunyai masalah gigi dan mulut adalah 23,4% dengan indeks DMF-T nasional sebesar 4,85 % dengan rata-rata kerusakan gigi pada penduduk Indonesia 5 buah gigi per orang. Kerusakan gigi berupa karies gigi, disebabkan karena adanya bakteri kariogenik, permukaan gigi yang rentan, dan tersediaanya bahan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan bakteri. Bakteri yang paling berperan dalam pembentukan karies adalah Streptococcus mutans, bakteri ini menempel pada email, hidup dilingkungan asam, berkembang pesat di lingkungan yang kaya sukrosa untuk membentuk plak, dan lama kelamaan menyebabkan demineralisasi jaringan keras gigi sehingga mengakibatkan kerusakan gigi.
Salah satu cara untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan gigi dan mulut adalah menyikat gigi. Pasta gigi pada umumnya mengandung fluoride. Fluoride yang terkandung dalam pasta gigi dapat mencegah pembentukan plak gigi, Tetapi beberapa penelitian mengatakan bahan fluoride dapat menimbulkan berbagai efek samping seperti tulang rapuh (Osteoporosis), gigi keropos, kerusakan sistem saraf, dan bersifat karsinogenik. Sebagai alternatif pengganti fluoride yaitu menggunakan pasta gigi yang mengandung bahan alami.. Karena bahan
alami relatif aman dan efek samping yang minimal.
Salah satu bahan alam yang dapat berperan sebagai anti plak adalah kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Secara empiris air perasan jeruk nipis digunakan masyarakat untuk menghilangkan bau mulut dengan cara mencampur 1 sendok teh air perasan dengan 1 sendok teh madu dan air dengan cara dikumur-kumur (Sarwono,2001 ). Sedangkan pembuktian oleh Purwanti (2013), ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) pada konsentrasi 10%
dapat menghambat aktivitas enzim
glukosiltranferase pada Streptococcus mutans, yaitu bakteri yang menyebabkan terbentuknya plak penyebab karies.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yaitu membuat beberapa formula pasta gigi kulit jeruk nipis dengan memvariasikan kalsium kabornat dan menguji kestabilan fisiknya.
1. Pembuatan Ekstrak Kulit Jeruk Nipis
Kulit jeruk nipis yang sudah diambil dan dibersihkan kemudian diiris kecil-kecil setelah itu dikering anginkan kemudian dimaserasi menggunakan cairan penyari etanol yang telah didestilasi. Hasil ranjangan kulit jeruk nipis sebanyak 3000 gr dimasukkan kedalam botol maserasi, kemudian siram dengan cairan penyari hingga terendam tutup dan simpan ditempat gelap dan terlindung dari cahaya sambil dikocok sepuluh kali dalam sehari selama enam hari. Setelah enam hari kemudian saring dan ulangi perendaman sampai diperoleh hasil ekstraksi yang sempurna, Maserasi yang didapat kemudian didestilasi vakum.
2. Formulasi Pasta Gigi Ekstrak Kulit Jeruk Nipis
Dalam penelitian ini digunakan formula pasta gigi. Formula pasta gigi yang digunakan diambil berdasarkan penelitian sebelumnya yang belum pernah dilakukan uji stabilitas terhadap formula dengan kadar ekstrak kulit jeruk nipis yang memiliki daya antiplak dalam pasta gigi. Dari formula ini dibuat tiga formula dengan membedakan konsentrasi penggosok yaitu kalsium karbonat. Zat aktif berupa kulit jeruk nipis dengan konsentrasi 6,25 %dan abrasif kalsium karbonat 57, 52 dan 47 dalam formula pasta gigi. Konsentrasikan tersebut didapat berdasarkan kadar yang memiliki daya antiplak dalam pasta gigi kulit jeruk nipis yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni, Ratnaningsih, Subiyandono (2013).
Tabel 1.Formula pasta gigi yang mengandung kulit jeruk nipis (Citrus aurantifiloa swingle)
Bahan
( Berdasarkan formula pasta gigi Harry,(1962) hal 265
Cara Pengolahan dan Analisa Data
Pengumpulan Data dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dan pengukuran secara langsung terhadap pH, viksositas, tinggi busa, homogenitas dan hasil penyimpanan pasta gigi selama 28 hari, sedaangkan untuk pengamatan terhadap warna, bau dan Rasa pasta gigi dilakukan dengan menggunakan 30 0rang responden. Analisis data dilakukan dengan cara analisa analitik di laboratorium Farmastika dan Laboratorium Fisika Farmasi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palembang, Data yang diperoleh dibuat dalam bentuk tabel.
HASIL
Pembuatan Ekstak kulit jeruk nipis dilakukan dengan cara kulit jeruk nipis dibersihkan lalu ditiriskan. Kemudian dipotong-potong menjadi bagian kecil, lalu dikering anginkan, setelah kering kulit jeruk nipis siap di maserasi dan dibuat ekstrak.
Ekstrak kulit jeruk nipis diperoleh sebanyak 42,18 gr dari kulit jeruk nipis 3000 gr dan didapat randemen 6,25% dibuat menjadi sediaan pasta gigi dengan variasi kalsium karbonat 57%, 52% dan 47% sedangkan untuk kontrol tidak ditambahkan ekstrak kulit jeruk nipis. Selanjutnya dilakukan uji stabilitas terhadap sediaan pasta gigi tersebut selama penyimpanan yaitu selama 28 hari. Hasil pengamatan dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 2. Viksositas sediaan pasta gigi (Toothpaste) yang mengandung ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia swingle)
Formulasi
Viksositas
Memenuhi syarat menurut FMC Biopolymer (2009) yaitu
viksositas pasta gigi 450000-499000 cps. Ket Hari Ke Formulasi III 248180 256180 276817 300168 304742 TMS Ket. Tabel:
MS: Memenuhi Syarat TMS: Tidak memenuhi Syarat
Tabel 3. pH pasta gigi yang mengandung ekstrak kulit jeruk nipis
Formulasi
pH
Memenuhi syarat Menurut SNI
12-3524-1995 sediaan pasta gigi 6-8 Ket
Tabel 4. Tinggi busa sediaan pasta gigi yang mengandung ekstrak kulit jeruk nipis(Citrus Aurantifolia Swingle)
Formulasi
Tinggi Busa (mm) Memenuhi Syarat menurut Ahmad yani (1996) tinggi busa
maksimal pasta gigi 55 mm Ket
Tabel 5. Tabel hasil perhitungan kuesioner mengenai rasa dan bau ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia swingle) menggunakan kuesioner kepada 30 orang responden,
hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 6: Hasil pengamatan Perubahan warna pasta gigi ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia swingle) selama penyimpanan 28 hari.
Kestabilan Fisik Perubahan bau diuji dengan ujin fisher.
Data hasil uji fisher dilihat pada tabel berikut :
Tabel 7: Pengaruh ekstrak terhadap warna formula I
Pasta gigi warna Total P OR(CI 95%)
Tabel 8: Pengaruh ekstrak terhadap warna formula II
Pasta gigi warna Total P OR(CI 95%)
Tabel 9: Pengaruh ekstrak terhadap warna formula 3
Pasta gigi warna Total P OR(CI 95%) swingle) selama penyimpanan 28 hari.
Pasta gigi uji fisher dilihat pada tabel berikut :
Tabel 11 : Pengaruh ekstrak terhadap bau formula 1
Tabel 12 : Pengaruh ekstrak terhadap bau formulaII
Tabel 13 : Pengaruh ekstrak terhadap bau formula III
Pasta gigi swingle) selama penyimpanan 28 hari.
Kestabilan Fisik uji fisher dilihat pada tabel berikut :
Tabel 15: Pengaruh ekstrak terhadap Rasa formula I
Pasta gigi Rasa
Tabel 16: Pengaruh ekstrak terhadap Rasa formula II
Tabel 17 : Pengaruh ekstrak terhadap Rasa formula III
Tabel 18. Rekapitulasi Hasil Uji Kestabilan Pasta gigi yang mengandung Ekstrak Kulit Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) Selama penyimpanan 28 hari
Formula
Kestabilan Fisik Jumlah
Viksositas pH Tinggi
Busa Warna Bau Rasa MS TMS
Dari
Hasil pengamatan terhadap ujikestabilan fisik pasta gigi ektrak kulit jeruk Nipis (Citrus aurantifolia Swingle) yang meliputi Viskositas, pH, tinggi busa, warna, Bau dan Rasa selama penyimpanan 28 hari terdapat hasil yang berbeda-beda dengan pembahasan sebagai berikut :
1. Viskositas Sediaan
Pada tabel 2 dapat dilihat hasil pengamatan viskositas 4 formula pasta gigi Ekstrak kulit jeruk Nipis (Citrus AUrantifolia Swingle) dengan Variasi Kalsium Karbonat yaitu 57%, 52 % dan 47 % viskositas yang diperoleh antara 451230 – 304742 cps. Viskositas terendah dimiliki oleh formula III pada hari ke 0 dan Viskositas tertinggi ada formula I hari ke 28. Dari data tersebut data viskositas pada setiap formula cenderung naik pada saat penyimpanan.
nya namun tidak begitu jauh dan memenuhi syarat viskoositas yaitu berkisar 472170 – 497587.
Dari Hasil pengujian viskositas diatas membuktikan bahwa variasi atau peningkatan konsentrasi Kalsium karbonat memberikan pengaruh pada viskositas pasta gigi ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus Aurantifolia Swingle).
2. pH
Derajat keasaman atau pH (Power of hydrogen) digunakan untuk menyatakan angka keasaman atau kebasaan suatu zat atau larutan. pH sediaan pasta gigi seharusnya sama dengan pH fidiologis mulut dan apabila terdapat perbedaan, pH harus aman bila digunakan. Semakin jauh beda antara pH pasta gigi dengan pH fisiologis mulut maka sediaan dapat menumbulkan efek samping yang merugikan. Pengukuran derajat keasaman (pH) dilakukan dengan mencelupkan pH meter kedalam sediaan pasta gigi. Dari hasil pengamatan kestabilan pH pada Tabel 4 menunjukan bahwa pH pasta gigi yang mengandung ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) relatif stabil pada setiap minggunya yaitu berkisar antara lain 7,36– 7,41 dan memenuhi syarat pH pasta gigi menurut SNI 16-4767-1998 yaitu 6-8. Adapun kemungkinan perubahan pH ini terjadi disebabkan oleh suhu pada saat pengukuran pH kerena standar pengukuran pH pasta gigi menurut SNI adalah pada suhu 25 C
3. Tinggi busa
Pengamatan tinggi busa dilakukan pada sediaan pasta gigi ektrak kulit jeruk nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) yang disimpan dalam Selama 28 hari. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tinggi busa hampir rata-rata sama yaitu berada pada ketinggian berkisar 53-504 mm dengan perubahan yang realtif stabil dan memenuhi syarat tinggi busa maksimal yaitu 55 mm (Ahmad yani, 1996). Parameter pada pengukuran tinggi busa sangat bergantung pada konsentrasi pembentuk busa yang dalam formula ini digunakan Natrium lauril sulfat, selain itu juga dipengaruhi oleh jumlah air, suhu ruang saat pengukuran, dan waktu pendiaman.
4. Warna
Berdasarkan Hasil pengamatan warna dari sediaan pasta gigi yang mengandung ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia swingle) selama penyimpanan 28 hari secara kuesioner terhadap 30 0rang responden. Dari hasil kuesioner didapatkan bahwa sebagian besar responden menyatakan tidak terjadi perubahan warna. Pada formula 1 terdapat 6 responden yang menyatakan terjadi perubahan warna dan 24 responden menyatakan tidak terjadi perubahan warna. Berdasarkan nilai OR (odd Ratio) > 1,250 berarti ekstrak berpotensi tidak menyebabkan perubahan warna sebesar 1,250 kali lebih besar dibandingkan dengan formula kontrol. Secara statistik p value > 0,05(1,000) yaitu menunjukan Ho diterima yaitu tidak adanya hubungan terjadinya perubahan warna pada sediaan. sedangkan pada formula 2 responden menyatakan 5
terjadi perubahan warna dan 25 responden menyatakan tidak terjadi perubahan warna. Berdasarkan nilai OR (odd Ratio) > 1,250 berarti ekstrak berpotensi tidak menyebabkan perubahan warna sebesar 1,250 kali lebih besar dibandingkan dengan formula kontrol. Secara statistik p value > 0,05(1,000) yaitu menunjukan Ho diterima yaitu tidak adanya hubungan terjadinya perubahan warna pada sediaan. dan Pada formula 3 terdapat 5 responden yang menyatakan terjadi perubahan warna dan 25 responden menyatakan tidak terjadin perubahan warna. Berdasarkan nilai OR (odd Ratio) > 1,250 berarti ekstrak berpotensi tidak menyebabkan perubahan warna sebesar 1,250 kali lebih besar dibandingkan dengan formula kontrol. Secara statistik p value > 0,05(1,000) yaitu menunjukan Ho diterima yaitu tidak adanya hubungan terjadinya perubahan warna pada sediaan. Yang rata-rata berumur 20 tahun. Setelah dilakukan kuesioner terhadap 30 orang responden. Data formula I, II dan III Responden lebih menyukai formula ini dan tidak ada perubahan warna.
5. Bau
Berdasarkan Hasil pengamatan bau dari sediaan pasta gigi yang mengandung ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) selama 28 hari penyimpanan secara kuesioner terhadap 30 orang responden yang rata-rata berumur 20 tahun. Data hasil kuesioner tersebut menunjukan data formula I menyatakan 4 responden terjadi perubahan dan 26 responden menyatakan tidak terjadi perubahan bau. Berdasarkan nilai OR (odd ratio) > 2,364 berarti ekstrak berpotensi tidak mengalami perubahan bau sebesar 2,364 kali lebih besar dibandingkan dengan formula kontrol. Secara statistik p value > 0,05 (0,333) yaitu menunjukan Ho diterima yaitu tidak adanya hubungan terjadinya perubahan bau pada sediaan selama penyimpanan. Pada formula 2 menyatakan 6 responden terjadi perubahan bau dan 24 menyatakan tidak terjadi perubahan bau. Berdasarkan nilai OR (odd ratio) > 1,455 berarti ekstrak berpotensi tidak mengalami perubahan bau sebesar 1,455 kali lebih besar dibandingkan dengan formula kontrol. Secara statistik p value > 0,05 (0,761) yaitu menunjukan Ho diterima yaitu tidak adanya hubungan terjadinya perubahan bau pada sediaan selama penyimpanan. sedangkan pada formula 3 yang menyatakan 6 responden terjadi perubahan bau dan 24 responden. Berdasarkan nilai OR (odd ratio) > 1,455 berarti ekstrak berpotensi tidak
peppermint sehingga mennghasilkan bau yang sama pada setiap sediaan.
6. Rasa
Berdasarkan Hasil pengamatan rasa dari sediaan pasta gigi ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia swingle) selama 28 hari penyimpanan secara kuesioner terhadap 30 orang responden yang rata-rata berumur 20 tahun. Dari hasil data kuesioner didapatkan sebagian besar responden menyatakan tidak terjadi perubahan rasa. Pada Formula I terdapat 29 responden yang menyatakan Rasa pasta gigi yang enak dan 1 responden menyatakan rasa pasta gigi yang tidak enak. Berdasarkan nilai OR (odd Ratio) > 0,483 berarti ekstrak berpotensi tidak menyebabkan perubahan rasa sebesar 0,483 kali lebih besar dibandingkan dengan formula kontrol. Secara statistik p value > 0,05(1,000) yaitu menunjukan Ho diterima yaitu tidak adanya hubungan terjadinya sediaan rasa pada sediaan. Pada formula 2 terdapat 28 responden yang menyatakan rasa enak pada pasta gigi dan 2 responden menyatakan rasa tidak enak pada pasta gigi. Berdasarkan nilai OR (oded ratio) >1,000 berarti ekstrak berpotensi tidak menyebabkan perubahan rasa sebesar 1,000 kali lebih besar dibandingkan dengan formula kontrol. Secara statistik p Value > 0,05 (1,000) yaitu menunjukan Ho direrima yaitu tidak adanya hubungan terjadinya sediaan rasa pada sediaan. Pada formula 3 terdapat 27 responden yang menyatakan rasa enak pada pasta gigi dan 3 responden menyatakan rasa tidak enak pada pasta gigi. Berdasarkan nilai OR(odd ratio) > 1,556 berarti ekstrak berpotensi tidak menyebabkan perubahan rasa sebesar 1,556 kali lebih besar dibandingkan dengan formula kontrol. Secara statistik p value > 0,05(1,000) yaitu menunjukan Ho diterima yaitu tidak adanya hubungan terjadinya sediaan rasa pada sediaan.. Dalam formula ini sediaan pasta gigi yang diberikan penambahan rasa yaitu minyak peppermint yang disukai oleh sebagian besar responden.
Berdasarkan rekapitulasi hasil uji kestabilan fisik ekstrak kulit jeruk nipis ( Citrus aurantifolia swingle) pada formula Kontrol dan formula I dengan kadar kalsium karbonat 57% memberikan hasil stabil dan memenuhi syarat di tinjau dari viskositas, pH, tinggi busa, warna, bau dan Rasa sehingga pasta gigi dari ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia swingle) dengan formula Kontrol dan formula I dapat dibuat sediaan pasta gigi karena kestabilan fisiknya memenuhi persyaratan sedangkan Formula II dan III tidak memenuhi persyaratan ditinjau Viskositas.
KESIMPULAN
Berdasarkan Dari hasil penelitian formulasi pasta gigi dengan ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) yang telah dilakukuan selama masa penyimpanan 28 hari, maka dapat disimpulan sebagai berikut :
1. Ekstrak kulit jeruk nipis dapat diformulasikan menjadi sediaan pasta gigi yang stabil secara fisik.
2. Vikositas sediaan pasta gigi ekstrak kulit jeruk nipis selama pengamatan 28 hari menunjukkan bahwa pasta gigi memberikan hasil formula yang baik dan stabil.
3. pH sediaan pasta gigi ekstrak kulit jeruk nipis selama pengamatan 28 hari menunjukkan bahwa pasta gigi dapat menghasilkan empat formula yang stabil dan masih berada dalam rentang pH yang sesuai persyaratan.
4. Rata-rata tinggi busa sediaan pasta gigi ekstrak kulit jeruk nipis menunjukkan bahwa pasta gigi menghasilkan empat formula yang baik dan stabil.
5. Warna seluruh formula pasta gigi dalam penelitian ini stabil
6. Bau seluruh formula pasta gigi dalam penelitian ini stabil
7. Rasa seluruh formula pasta gigi dalam penelitian ini stabil
SARAN
Dari hasil penelitiaan ini tentang pemanfaatan pasta gigi dari ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia swingle) sebagai sediaan pasta gigi, dapat disarankan:
1. Dilakukan pembuatan pasta gigi dari ekstrak kulit jeruk nipis dalam skala industri
2. Diadakan pengujian lanjutan yaitu sensitifitas penggunaan pasta gigi ekstrak kulit jeruk nipis terhadap manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadyani, A. 1996. Pengaruh penambahan Gliserin Terhadap Parameter Fisik Pasta gigi. Jurnal Penelitian dan pengembangan Kesehatan. Hal 24
Collect, D. M dan M. E. Aulton. 1990. Pharmaceutical Practice. Churchill, Lipingstone, London, Melborne and New York
Riskesdas.2007.Prevalensi Kerusakan Gigi.Hal 131-147.Indonesia
Sarwono.B : Buku Khasiat dan Manfaat jeruk Nipis (Jakarta: Penebar Swadaya, 1993)
SNI 16-4767-1998. Pasta Gigi. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta. Hal 1-16
Wahyuni, Ratnaningsih, Subiyandono. 2013. Daya Repelan Sediaan Lotion yang mengandung ekstrak kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia swingle) dan ekstrak bunga
Kenanga Terhadap Nyamuk