• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. PENDAHULUAN. - BAHAN AJAR PEKSOS INDIVIDU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "A. PENDAHULUAN. - BAHAN AJAR PEKSOS INDIVIDU"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

BAHAN AJAR

PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU & KELUARGA(CASE WORK)

A. PENDAHULUAN.

Pekerjaan sosial merupakan profesi yang memberikan pertolongan kepada orang-orang yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Berkaitan dengan hal tersebut Walter A. Friedlander (Syarif Muhidin), mengartikan pekerjaan sosial sebagai “suatu pelayanan profesional yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam relasi kemanusiaan, yang bertujuan membantu baik perorangan, keluarga maupun kelompok untuk mencapai kepuasan dan ketidaktergantungan secara pribadi dan sosial”. Berdasarkan pengertian tersebut, bahwa pekerjaan sosial sebagai profesi yang memberikan pertolongan kepada klien baik individu, kelompok maupun masyarakat didasarkan pada ilmu pengetahuan dan keterampilan, dalam hal ini adalah menggunakan metode, keterampilan, dan teknik-teknik pekerjaan sosial.

Bekerja dengan individu dan keluarga dalam pekerjaan sosial dikenal dengan sebutan Social Casework, yang merupakan metode dalam pekerjaan sosial yang digunakan oleh pekerja sosial dalam berbagai pelayanan sosial dan institusi. Metode ini bertujuan untuk membantu individu-individu secara perorangan, untuk mengatasi masalah-masalah personal dan sosial. Metode ini dilakukan dengan didasari oleh suatu proses relasi yang bersifat individual, tatap muka. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari casework diterapkan secara luas dalam beberapa metode pekerjaan sosial. Di dalam masyarakat yang mengalami perubahan cepat, casework mengurangi pengaruh bagi individu yang merasakan penurunan kualitas dan atribut kemanusiaan.

(2)

memecahkan masalah dalam relasinya untuk meminimalisir dampaknya. Pekerjaan sosial memperkuat potensi individu, kelompok dan masyarakat secara maksimum.

Sosial casework ditujukan untuk menyelesaikan masalah yang yang menghalangi atau mengurangi efektivitas individu dalam berbagai peranan yang ditampilkannya. Masalah-masalah dalam keluarga yang berhubungan dengan kewajiban sosial dan ekonomi yang mengganggu komunikasi dan kebebasan berekspresi keluarga dapat ditangani oleh pekerja sosial. Pekerja sosial seringkali dihadapkan pada situasi dimana keluarga tidak dapat menerima dan menggunakan pelayanan sosial.

Pada umumnya, pekerja sosial lebih memusatkan perhatian untuk bekerja atau menangani permasalahan individu, baik penanganan di dalam lembaga/ badan-badan sosial, badan privat maupun praktek privat. Sosial casework bertujuan untuk membatu individu-individu berdasarkan pada orang per orang guna memenuhi kebutuhan dan memecahkan permasalahan yang mereka alami. Pelayanan sosial casework diberikan melalui lembaga-lembaga pelayanan kesejahteraan sosial, yaitu lembaga-lembaga yang memberikan pelayanan secara langsung kepada orang. Aktivitas pelayanan sosial casework cukup luas dan bervariasi, seperti memberikan konseling kepada para remaja yang tidak betah tinggal di rumah, membantu orang yang tidak punya pekerjaan/menggangur dengan cara memberikan latihan-latihan ketrampilan dan kemudian menyalurkannya kelapangan pekerjaan,memberiakn konseling kepada orang-orang yang ingin bunuh diri, membantu menempatkan bayi-bayi yang akan di adopsi dan memilih orang tua asuh yang baik, memberikan perlindungan kepada anak-anak terlantar, mencarikan pengasuh/perawat yang baik untuk melayani orang-orang yang menderita sakit, memberikan koseling kepada individu-individu yang mengalami disfungsi seksualitas, membantu para pecandu alcohol dalam mengatasi permasalahannya, memberikan konseling kepada orangyang menderita sakit parah, memberikan pelayanan sebagai seorang petugas serta memberikan pelayanan terhadap orang-orang tua yang sendirian (single parent).

(3)

permasalahan yang dialami di sekolah maupun di tempat kerja, serta mengurangi penderitaan-penderitaan yang berkaitan dengan kesehatan. Ketrampilan yang lengkap dapat membantu sosial casework melaksanakan semua tugasnya dengan baik.

B. KERANGKA KONSEPTUAL PEKERJAAN SOSIAL

Sebelum membahas secara lebih mendalam tentang pekerjaan sosial dengan individu dan keluarga, terlebih dahulu perlu diulas secara singkat tentang kerangka referensi pekerjaan sosial. Ulasan ini tidak dimaksudkan untuk menganalisis secara konseptual serta mendalam tentang pekerjaan sosial, akan tetapi dipandang perlu untuk membentuk pemahaman secara komprehensif dan dapat memerankan diri sebagai landasan pikir bagi pengembangan pemahaman lebih luas tentang pekerjaan sosial dengan individu.

Pekerjaan sosial dalam kajian ini ditelaah berdasarkan pemahaman yang dikembangkan oleh National Association of Sosial Workers /NASW tahun 1973 (Morales, 1983) yang mendefinisikan bahwa pekerjaan sosial merupakan aktivitas professional yang bertujuan dalam membantu individu, kelompok atau masyarakat untuk memperkuat kemampuannya sendiri dalam keberfungsian sosial serta menciptakan kondisi-kondisi kemasyarakatan yang menunjang tujuan tersebut.

Kalimat pertama dalam definisi tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan sosial merupakan suatu aktivitas professional. Sebagai aktivitas preofesional, maka pelayanan yang diberikan oleh seorang pekerja sosial dapat didefinisikan secara tegas melalui pengetahuan, nilai-nilai serta keterampilan secara spesifik. Kalimat pertama dari definisi tersebut juga menunjukkan bahwa pekerja sosial melakukan praktik pertolongannya pada berbagai tipe klien, baik individu, kelompok, maupun masyarakat. Definisi di atas juga menekankan bahwa fokus perhatian pekerja sosial adalah keberfungsian sosial yang meliputi interkasi antara manusia dengan lingkungan sosialnya.

(4)

 kemampuan menghadapi atau memecahkan masalah yang dihadapinya sesuai dengan situasi dan kondisi, serta lingkungannya.

 Kemampuan berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungan sosialnya, baik dalam pendidikannya, pekerjaan, keluarga, kelompok, masyarakat dan sebagainya secara konstuktir.

 Pelaksanaan tugas-tugas serta peran-peran dalam kehidupannya sesuai dengan usianya, status, serta tanggung jawab yang disandangnya.

 Berperilaku secara memadai dalam rangka memenuhi kebutuhannya.

 Keberfungsian sosial menunjukkan suatu kondisi pertukaran yang seimbang, dalam kebaikan, serta adaptasi timbale balik, antara manusia sebagai individu dengan lingkungannya.

 Dengan demikian, keberfungsia sosial merupakan hasil sistematik dari sebuah pertukaran yang saling mengisi antara kebutuhan, sumber daya yang tersedia, harapan/motivasi dengan kemampuan seseorang untuk memenuhinya, antara tuntutan, harapan serta kesempatan dengan kemampuan lingkungan untuk memenuhinya.

Selain definisi tersebut, pekerjaan sosial melaukan praktek pertolongannya secara langsung (direct services), yaitu meningkatkan serta memperbaiki kemampuan orang/kelompok sasaran dalam mencapai keberfungsian sosial, serta secara tidak langsung (indirect services) yang berupaya untuk mengubah, memperbaiki, serta membangun kondisi kemasyarakatan yang berkaitan erat dengan keberfungsian sosial orang.

Selanjutnya, Betty L. Baer dan Ronald Federico (Morales, 1983) mengidentifikasi 10 (sepuluh) kompetensi awal dari seorang pekerja sosial :

1. mengidentifikasi dan melakukan assessment terhadap situasi dimana hubungan antara orang dengan institusi sosial perlu dirintis, diperkuat, diperbaiki, atau perlu diakhiri.

2. mengembangkan serta mengimpelementasikan suatu rencana yang bertujuan untuk kesejahteraan individu yang berlandaskan pada assessment masalah, eksplorasi tujuan serta pengembangan alternative pemecahan.

(5)

4. menghubungkan orang dengan sistem yang dapat memberikan sumber pelayanan, maupun kesempatan.

5. memberikan intervensi secara efektif dengan mengutamakan populasi sasaran yang paling rentan, atau terkena diskriminasi.

6. mengembangkan efektivitas pelayanan serta meningkatkan kemanusiaan kinerja sistem yang memberikan pelayanan, sumber, maupun kesempatan.

7. secara aktif berperan serta dengan pihak lain untuk menciptakan, memodifikasi, serta meningkatkan sistem pelayanan yang ada agar lebih responsive terhadap kebutuhan klien.

8. melakukan evaluasi sample seberapa jauh tujuan yang telah direncanakan dapat tercapai.

9. secara terus menerus melakukan evalualsi atas pengembangan profesionalisme melalui assessment atas perilaku maupun keterampulan prakteknya.

10. memberikan kontribuasi pada peningkatan mutu pelayanan dnegan cara mengembangkan landasan pengetahuan profesionalnya serta menjunjung tinggi standar atau etika profesi

Selanjutnya Louise C. Johnson (Johnson, 1989:47) menjelaskan bahwa pekerjaan sosial merupakan suatu kombinasi antara nilai, pengetahuan serta keterampilan atau teknik yang tersusun sedemikian rupa sehingga menjadu suatu kesatuan yang unik atau spesifik. Kombinasi ini kemudian dijelaskannya sebagai suatu kombinasi yang kreatif, yang berbeda atau lebih bermakna daripada sekedar penjumlahan antara komponen pengetahuan, nilain dan keterampilan. Perspektif ini terutama berkaitan dengan “bagaimana” pekerjaan sosial dilakkan sesuai dengan setting, tingkatan atau tipe kliennya, serta karakteristik situasi masalah yang dihadapi yang dipandu oleh serangkaian etika.

(6)

konsep-konsep tentang kepedulian dan kebutuhan, yang dengan demikian juga memberikan substansi pula terhadap pengembangan keberfungsian sosial yang dihadapinya.

Konstelasi ini menjadi suatu perpektif yang sangat penting dari hakikat praktek pekerjaan sosial. Pada tahap tertentu, pengetahuan, nilai, dan keterampilan ini erat kaitannya dengan cara berpikir dari suatu praktek. Nilai merupakan komponen abstrak yang berperan sebagai dasar untuk memilih, atau menentukan pilihan tentang manusia, tentang lingkungan, serta kondisi. Sedangkan keterampilan merupakan komponen aksi atau pelaksanaan suatu praktek pekerjaan sosial, dengan demikian keterampilan ini merupakan komponen perilaku.

Penting bagi pekerja sosial untuk memahami hakikat dan isi dari masing-masing komponen. Pemahaman ini penting dalam menganalisis bagaimana ketiga komponen ini digunakan bersama dalam praktek. Konstelasi inilah yang kemudian akan memunculkan isu apakah pekerjaan sosial merupakan suatu ilmu (science) atau seni (art). Pemahaman atas ketiga komponen ini juga melahirkan suatu anggapan bahwa pekerjaan sosial merupakan suatu profesi yang terbangun dari kombinasi atau percampuran ketiga komponen ini secara kreatif.

C. KOMPONEN PENGETAHUAN DALAM PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU DAN KELUARGA

Barlett (Johnson, 1989 :56) mengatakan bahwa pekerjaan sosial dibimbing dan berbasiskan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan ini merupakan konsep yang memiliki arti yang sangat luas dan bervariasi. Gordon mendefinisikan pengetahuan ini sebagai suatu gambaran yang dimiliki oleh manusia tentang dunianya atau tempat berada. Selanjutnya Siporin (1975:91) memiliki pandangan yang sejalan dengan pandangan Gordon ini. Siporin menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan konten kognitif mental (keyakinan-keyakinan dan ide-ide) yang berkenaan dengan realita yang diakui kebenarannya (diterima kebenarannya dan didasari oleh bukti-bukti yang kuat) atau memiliki probabilitas kebenaran yang tinggi.

(7)

ilmiah sebagai sesuai yang dirancang untuk menggambarkan sesuatu, atau untuk menggambarkan mengapa sesuai kejadian muncul. Dia mengatakan bahwa pengetahuan ini akan memberikan metode dalam mengorganisir atau mengkateorisasikan sesuatu, memprediksikan kejadian-kejadian yang akan mucul di masa yang akan dating, menjelaskan kejadian-kejadian di masa lalu, serta berguna untuk memahami apa yang menjadi penyebab munculnya suatu peristiwa.

Selanjutnya Reinolds menjelaskan bahwa suatu pengetahuan dianggap ilmiah jika memiliki atribut-atribut sebagai berikut :

1. Abstractness : independent terhadap ruang dan waktu 2. Intersubjectivity :

a. Explicitness : dideskripsikan secara detail menggunakan istilah-istilah berpikir yang memberikan jaminan bahwa audiens sependapat dengan arti dari konsep-konsepnya. b.Regorousness : menggunakan sistem-sistem yang logis yang diperoleh dan diterima

oleh ilmuwan-ilmuwan yang relevan dengan tujuan untuk menjamin kesepakatan dalam prediksi dan penjelasan suatu teori.

3. Empirical Relevance : Selalu terdapat kemungkinan-kemungkinan untuk dievaluasi ulang berdasarkan penelitian empiris.

Ahli-ahli sosiologi telah banyak menjelaskan tentang bagaimana masyarakat menentukan makna serta isi dari suatu ide, bagaimana nilai-nilai sosial menentukan fenomena yang dipelajari serta memberikan warna terhadap interpretasi atas fenomena tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa walaupun suatu pengetahuan dapat diuji, dikembangkan secara ilmiah, tetapi isi pengetahuan yang dikembangkan serti diuji tersebut sangat dipengaruhi oleh konteks dimana praktek pekerjaan sosial tersebut dilakukan. Misalnya nilai-nilai kemasyarakatakan tentang manusia yang telah dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan yang menekankan pada kebutuhan-kebutuhan manusia itu sendiri.

(8)

sosialnya. Pengetahuan ini digunakan untuk memperoleh pemahaman tentang manusia di dalam sistem sosialnya yang lebih besar yang berguna sebagai panduan bagi aktivitas pekerja sosial dalam meningkatkan keberfungsian sosial individu.

Pengetahuan pekerjaan sosial, terutama pengetahuan-pengetahuan dasar, digunakan untuk membangun pemahaman bagi pekerja sosial, dipinjam dari berbagai disiplin ilmu lainnya, terutama sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, serta berbagai ilmu sosial lainnya. Pengetahuan-pengetahaun yang digunakan oleh pekerjaan sosial dapat dikatakan bersifat eklektik (eclectic), interdisciplinary, tentatif, dan kompleks. Pekerjaan sosial secara terus menerus melakukan penelitian untuk menerima konsep-konsep umum, kerangka referensi umum, serta menguji hipotesis-hipotesis mengenai hakikat praktek pertolongan.

Dalam melaksanakan prakteknya, pekerja sosial harus mendasarinya dengan pengetahuan yang luas, dengan demikian dia harus memiliki kemampuan untuk mengevaluasi pengetahuan-pengetahuan yang ada, memiliki kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang akan diterapkan pada suatu situasi terntentu, serta mamiliki keterbukaan pemikiran mengenai tentativitas suatu pengetahuan. Jika disesuaikan dengan bidang praktek pekerjaan sosial dengan individu maka pekerja sosial haru memiliki kemampuan untuk menilai, mengevalualsi serta memilih berbagai pengetahuan yang relevan dengan perilaku manusia. Dengan kata lain, pekerja sosial harus memiliki pengetahuan untuk berpikir secara sistematis, teoritis, kritis, metodologis, serta kreatif.

Sumber pengetahuan yang dibutuhkan oleh pekerja sosial sangatlah luas dan bervariasi yang berasalah dari berbagai disiplin ilmu. Kondisi kehidupan manusia sangatlah kompleks, demikian pula kondisi kehidupan yang dihadapi oleh individu, yang begitu kompleks, berat, sulit dan sangat bervariasi. Dengan demikian, kondisi ini perlu dipahami dari berbagai macam sudut pandang. Secara umum, pengetahuan yang diperlukan oleh seorang pekerja sosial yang melakukan praktek pada setting individu dapat tergolong menjadi 4 (empat) golongan besar :

1. Landasan pengetahuan pekerjaan sosial secara umum

(9)

3. Landasan pengetahuan pekerjaan sosial tentang lembaga, organisasi pelayanan yang spesifik.

4. Landasan pengetahuan pekerjaan sosial tentang klien secara spesifik.

Berdasarkan kerangka konseptual tersebut, terlihat bahwa pekerja sosial yang satu akan memerlukan pengetahuan yang relatif berbeda dengan pekerja sosial lainnya, tergantung dari situasi dan kondisi yang dihadapi. Dari pengelompokkan tersebut dapat pula dirumuskan secara lebih rinci bagaimana isi dari masing-masing kelompok pengetahuan tersebut.

1. Landasan Pengetahuan Pekerjaan Sosial secara Umum

Pekerja sosial professional harus memiliki landasan pengetahuan yang diperlukan bagi pekerjaan sosial yang diperlukan dalam mengkaji berbagai situasi yang dihadapi. Pengetahuan yang tergolong sebagai landasan pengetahuan ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu :

a. Perilaku manusia dalam Lingkungan Sosial (Human Behaviour in the Sosial Environment/HBSE).

Pengetahuan ini meliputi pengetahuan-pengetahuan yang berkenan dengan perilaku manusia dengan berbagai komponen, proses, budaya, pengelompokan, masalah yang dihadapi, serta keberfungsian sosialnya, baik secara individual, kelompok, maupun masyarakat. Pengetahuan yang berada dalam gugus HBSE ini sangat luas dan mencakup kehidupan sosial manusia, kekuatan atau potensi yang dimiliki, situasi lingkungan sosial yang melingkupinya, serta masalah-masalah yang dihadapinya.

b. Kebijakan dan Pelayanan Kesejahteraan Sosial

(10)

c. Proses serta Metode dalam Praktek Pekerjaan Sosial

Pengetahuan ini berkenaan dengan pengetahuan yang tergolong dalam teori praktek (Practice theory) yang meliputi berbagai metode dan teknik yang dimaksud adalah metode-metode dan teknik yang diterima, diyakini serta dipahami oleh pekerja sosial serta proses-proses yang digunakan dalam upaya pemecahan masalah atau upaya perubahan berencana dalam pekerjaan sosial. Metode dan teknik ini juga mencakup metode dan teknik untuk melakukan penelitian serta evaluasi proses pelayanan. Yang dimaksud dengan proses tersebut meliputi suatu rangkaian tahapan kerja yang dimulai dari kontak awal, assessment masalah dan kebutuhan, peynusunan rencana atau rencana kerja, pelaksanaan rencana, evaluasi, serta pengakhiran hubungan kerja.

2. Landasan Pengetahuan Pekerjaan Sosial tentang Bidang Praktek Secara Spesifik Pengetahuan dalam kelompok ini sudah lebih mengarah pada bidang praktek tertentu, dalam hal ini adalah bidang pelayanan sosial terhadap individu. Sesuai dengan bidang praktek individu secara khusus, pekerja sosial harus memahami bagaimana situasi dan kondisi yang dihadapi oleh individu. Untuk mencapai tujuan tersbut, pekerja sosial perlu memiliki pengetahuan tentang teori-teori yang berkenaan dengan :

a. Teori konstitusional maupun biologis dari konflik, kecemasan, frustasi, serta ancaman. b. Teori psikogenik tentang konflik, kecemasan, frustasi, ancaman yang berpengaruh

terhadap kepribadian, serta relasi seseorang dengan kelompoknya, keluarganya, maupun masyarakat sehubungan dengan situasi dan kondisi individu.

c. Teori-teori sosiologi yang berkenaan dengan factor-faktor yang mendorong maupun yang mempengaruhi orang atau kelompok sehubungan dengan konflik, kecemasan, frustasi pada individu.

d. Pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan dengan pelayanan sosial yang sesuai dengan situasi dan kondisi individu. Pengetahuan tentang pelayanan sosial ini mencakup filosofis, prosedur, serta proses-proses yang mencakup dalam pelayanan sosial ini.

(11)

Pengetahuan ini sangat dibutuhkan oleh seorang pekerja sosial karena sangat terkait dengan kemampuannya dengan menggunakan lembaga-lembaga tersebut dalam menghadapi permasalah pada individu. Pengetahuan ini antara lain :

a. Pengetahuan tentang proses pemanfaatan pelayanan lembaga yang terkait. b. Model pelayanan yang diterapkan oleh lembaga-lembaga yang terkait c. Pelayanan khusus yang diberikan oleh lembaga-lemabga yang tekait, dsb.

4. Landasan Pengetahuan Pekerjaan Sosial tentang Klien secara Spesifik

Pengetahuan serta pemahaman ini sangat penting dimiliki oleh pekerja sosial, karena dengan pemahaman inilah pekerja sosial atau pemberi pelayanan mampu mengetahui apa yang dibutuhkan oleh individu atau masalah apa yang dihadapi oleh individu. Secara lebih spesifik, pengetahuan ini terutama berkisar pada :

a. Pengetahuan tentang masalah yang dialami oleh individu b. Pengetahuan tentan latar belakang kehidupan seseorang c. Pengetahuan tentang kebutuhan-kebutuhan spesifiknya

d. Pengetahuan tentang persepsi serta sikap yang dimiliki individu dan keluarga terhadap masalah yang dihadapi

e. Pengetahuan tentang kekuatan-kekuatan yang dimiliki, dsb.

Selain perincian pengetahuan menjadi empat kategori seperti yang telah kita bahas tadi, pekerja sosial juga harus memiliki berbagai pengetahuan, yaitu :

a. Pengetahuan tentang proses-proses perkembangan manusia dengan kebutuhannya. b. Pengetahuan tentang proses-proses sosial maupun institusional yang terjadi dalam

kehidupan sosial

c. Pengetahuan tentang dinamika kehidupan interaksional (personal, kelompok, maupun organisasi).

d. Pengetahuan tentang berbagai paradigm teoritik yang erat kaitannya dengan praktek pekerjaan sosial, seperti psikodinamika, sosiologi dan psikologi humanistic, teori-teori perilaku, teori sistem, dsb.

(12)

f. Pengetahuan tentang nilai dan etika pekerjaan sosial g. Pengetahuan tentang proses-proses kemasyarakatan.

D. PEMAHAMAN TENTANG PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU DAN KELUARGA

1. Sejarah Perkembangan Social Casework

Konsep : AICP (Asosiasi untuk COS (1877) memberikan

Workhouse memperbaiki orang miskin) dorongan terhadap Th.1843, melalui : individu utk perbaikan

- mengunjungi orang miskin fungsi : - memberikan konseling, - intelektual, - membantu memperoleh - fisik,

kesempatan pekerjaan - moral

Casework :

- penyelidikan calon klien - pendaftaran,

- pemberian bantuan

Berkembang sekolah Peksos

Dekade Casework sbg metode penyembuhan : Abad peralihan : Keluarga mendapat - penanganan kecemasan latihan dari Peksos ;

- membantu klien menolong dirinya - metode - menggunakan bantuan sebagai alat - diagnosis

penyembuhan, melalui : - penyembuhan 1) penekanan ; perasaan, konflik, dan emosi

yang merupakan bagian integral dari metode dan pemahaman casework 2) perhatian kepada keluarga sebagai penyembuhan individu

(13)

Perubahan dalam kajian penekanan masalah : Perkembangan awal abad 20 dari masalah sosiologis kepada sikap-sikap Penempatan anggota keluarga individu, pada tingkatan kesadaran melalui : yang mengalami masalah : psikologi dinamika (dorongan biopsikologis) - menempatkan anak ke sekolah yang diperankan oleh represi dan - anak terlantar

ketidaksadaran - dll

2. Beberapa Definisi Social Casework a. Mary Richmond :

“Social Casework terdiri dari proses-proses untuk mengembangkan kepribadian melalui penyesuaian yang dipengaruhi secara sadar, individu per individu, antara manusia dan lingkungan sosial mereka”

b. Jeanette Regensburg :

“Social Casework merupakan suatu metode untuk mengukur terhadap realita kapasitas klien untuk menghadapi masalahnya, sedangkan pekerja sosial membantu klien untuk menjelaskan apa masalahnya dan memungkinkan klien memikirkan cara-cara yang berbeda untuk mengatasinya”.

c. Swithun Bowers :

“Social Casework adalah suatu seni dimana pengetahuan tentang ilmu hubungan manusia dan keterampilan-keterampilan yang digunakan untuk memobilisasi kapasitas-kapasitas dalam diri individu dan sumber-sumber dalam masyarakat yang merupakan bagian dari lingkungan secara keseluruhan”.

d. Gordon Hamilton :

“Social Casework ditandai oleh tujuan untuk melaksanakan pelayanan-pelayanan praktis dan memberikan konseling sebagai suatu cara untuk menumbuhkan dan memelihara enerji psikologis klien secara aktif untuk melibatkannya dalam penggunaan pelayanan ke arah pemecahan masalahnya”.

(14)

“Social Casework” adalah suatu metode di dalam Pekerjaan Sosial untuk melibatkan individu melalui proses relasi. Pada dasarnya orang per orang dalam menggunakan pelayanan sosial ke arah kesejahteraan sosial dirinya dan secara umum”.

f. Helen Harris Perlman :

“Social Casework adalah suatu metode dalam pekerjaan sosial melalui mana bantuan diberikan terhadap individu dan keluarga, kasus per kasus untuk mengurangi, memecahkan, dan mencegah masalah-masalah yang mengganggu klien serta keberfungsian hidup mereka sehari-hari”.

Beberapa unsur dari definisi Social Casework :

• Sosial Casework merupakan metode untuk menolong orang berdasarkan pada pengetahuan, pemahaman, dan penggunaan teknik-teknik secara terampil yang diterapkan untuk menolong orang mengatasi masalahnya.

• Sosial Casework ditujukan untuk membantu individu dan keluarga yang mengalami masalah eksternal dan lingkungan, selain masalah di dalam diri individu itu sendiri.

• Sosial Casework menggabungkan unsur-unsur psikologis dan sosial.

• Dalam pelaksanaan praktek pekerjaan sosial dengan individu dan keluarga (Sosial Casework), terdapat 2 (dua) keterampilan utama yang diperlukan, yaitu wawancara (interview) dan konseling (counseling)

3. Beberapa Pengertian tentang Keluarga dan Rumah Tangga a. Pengertian Keluarga

• Murdock dalam Hutter (1981) :

(15)

• Mattessich & Hill (1995) :

Keluarga merupakan kelompok-kelompok yang dihubungkan oleh pertalian keakraban, tempat tinggal, atau hubungan-hubungan emosional yang dekat dan mereka memperlihatkan empat sistemik yang berorientasi ke masa depan, yakni interdependensi/ saling ketergantungan yang intim, memelihara batas-batas selektif, kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan dan memelihara identitas sepanjang waktu, serta melaksanakan tugas-tugas keluarga.

• Zastrow (1982) :

Keluarga secara lebih ringkas, yaitu suatu kelompok sosial yang memiliki karakteristik hubungan kekeluargaan (darah dan perkawinan) di antara anggota-anggotanya

• Zastrow (2000) :

Merumuskan pengertian keluarga secara lebih sederhana, yaitu sekelompok orang yang memiliki hubungan perkawinan, keturunan, atau adopsi, dan tinggal bersama-sama dalam rumah tangga yang sama. Definisi keluarga tersebut mengabaikan tempat tinggal bersama dan pengaturan ekonomi bersama. Hal ini cukup beralasan karena dalam beberapa kasus ada keluarga-keluarga yang tidak tinggal bersama untuk beberapa waktu dan mengatur ekonomi sendiri-sendiri.

• UU no 10 tahun 1992 :

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, istri atau suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya.

b. Rumahtangga (household):

Rumahtangga biasanya terdiri dari anggota keluarga yang memiliki ikatan darah atau perkawinan, tetapi adakalanya dibesarkan oleh mereka yang tidak punya hubungan (Zeitlin et al, 1995:38).

(16)

• Merupakan unit yang memiliki sumber-daya yang akan digunakan untuk mencapai kesejahteraan, sumberdaya ini harus dibagikan ke semua anggota,

• Harus memiliki alternatif cara memperbaiki atau meningkatkan kesejahteraan, ini yang disebut pilihan.

c. Keberfungsian Keluarga (Hodges dalam Dubowitz dan DePanfilis, 2000) : CARE 1) Connections

• Koneksi adalah akses keluarga terhadap sumberdaya-sumberdaya dan dukungan-dukungan dari luar rumahtangga.

• Semua keluarga membutuhkan sumberdaya di luar unit keluarga agar berfungsi optimal.

• Sumberdaya di luar rumahtangga mencakup anggota-anggota extended family, tetangga dan kawan-kawan, sekolah, tempat bekerja, pelayanan kesehatan dan kesehatan mental, institusi-institusi religius, kegiatan-kegiatan rekreasi dan kelompok-kelompok serta organisasi-organisasi kemasyarakatan lainnya.

2) Assets

Unsur ini fokus pada keterampilan-keterampilan dan kemampuan-kemampuan yang memungkinkan keluarga-keluarga dapat berfungsi dengan sehat, misalnya keterampilan mengasuh (parenting skills), pengetahuan tentang perkembangan anak, dan harapan-harapan anak yang sesuai dengan usianya, serta kemampuan-kemampuan memecahkan masalah.

3) Relationships

Unsur ini menilai hubungan-hubungan dengan anggota-anggota rumahtangga lainnya, pola-pola komunikasi dan peran-peran, serta efeknya terhadap hubungan-hubungan di antara anggota-anggota keluarga. Hakekat dan kualitas hubungan-hubungan dengan anggota keluarga merupakan faktor kunci dalam menilai keberfungsian keluarga.

(17)

Unsur ini mencakup kecukupan sumberdaya-sumberdaya lingkungan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari anggota keluarga. Misalnya sumberdaya ekonomi, seperti sumber penghasilan, stabilitas penghasilan, dan memadainya penghasilan.

Sumberdaya lingkungan juga terdiri dari keamanan rumah, pengaturan hidup yang memadai, ruangan yang memadai, perlengkapan dasar rumah (perabotan, toilet, kamar mandi, alat memasak, dan perlengkapan tidur), pengelolaan tugas-tugas rumahtangga serta makanan yang teratur dan memadai.

d. Fungsi-fungsi Keluarga (Zastrow: 2006)

Keluarga dalam masyarakat industri memiliki fungsi-fungsi penting yang akan membantu memelihara keberlangsungan dan stabilitas masyarakat. Fungsi-fungsi tersebut adalah :

1) Replacement of the population. Setiap masyarakat memiliki beberapa sistem untuk pergantian anggotanya. Didalam prakteknya, semua masyarakat menganggap bahwa keluarga sebagai suatu unit untuk memproduksi anak-anak. Masyarakat memberikan hak dan kewajiban kepada pasangan-pasangan untuk melakukan reproduksi didalam unit keluarga. Hak dan kewajiban ini membantu memelihara stabilitas masyarakat walaupun mereka mendefinisikannya dalam bentuk yang berbeda.

2) Care of the young. Anak-anak memerlukan perawatan dan perlindungan setidaknya sampai usia pubertas. Keluarga merupakan institusi utama untuk pengasuhan anak-anaknya. Masyarakat modern telah mengembangkan institusi pendukung untuk membantu dalam merawat anak-anak, seperti pelayanan medis, daycare centers, program pelatihan bagi orang tua dan residential treatment centers.

(18)

media, peer groups, polisi, bioskop dan buku serta materi tertulis lainnya yang berpengaruh sangat penting.

4)Regulation of sexual behavior. Kegagalan dalam mengatur perilaku seksual akan menghasilkan pertentangan di antara individu-individu yang disebabkan oleh kecemburuan dan eksploitasi. Setiap masyarakat memiliki peraturan yang mengatur perilaku seksual didalam unit keluarga, misalnya tabu untuk melakukan incest dan hubungan seksual diluar pernikahan.

5) Source of affection. Kebutuhan akan rasa sayang, dukungan emosional dan penghargaan yang positif dari orang lain, seperti senyuman, penguatan dan dorongan untuk mencapai prestasi. Keluarga merupakan sumber penting untuk mendapatkan rasa sayang dan pengakuan karena anggota keluarga akan saling menghargai satu sama lainnya dan memperoleh kepuasan emosional dan sosial dari hubungan yang terjalin diantara keluarga.

e. Masalah-masalah yang Dialami Keluarga (konflik dalam keluarga).

Konflik adalah sebuah keadaan atau tindakan bertentangan yang meliputi ide-ide atau minat-minat yang berlainan. Hal ini mengindikasikan bahwa konflik tidak dapat terelakkan dalam setiap kelompok dan dalam beberapa waktu tertentu konflik adalah hal yang positif dan diinginkan. Keluarga terdiri dari individu yang unik dimana masing-masing memiliki opini dan ide yang berbeda. Konflik dapat mencerminkan keterbukaan dalam berbagi ide dan dapat menjadi mekanisme untuk meningkatkan komunikasi, hubungan yang lebih erat, dan bekerja untuk menanggulangi ketidakpuasan.

Walaupun masing-masing keluarga memiliki keunikan, namun konflik dan masalah dalam keluarga cenderung diklasifikasikan dalam empat kategori utama, yaitu :

1) masalah perkawinan diantara suami dan isteri, 2) kesulitan hidup antara orang tua dan anak, 3) masalah personal individu anggota keluarga, dan

4) tekanan keluarga yang disebabkan oleh lingkungan eksternal.

(19)

Kesulitan dalam berkomunikasi merupakan penyebab utama konflik dalam hubungan perkawinan. Sumber utama konflik lainnya adalah ketidaksepahaman apa yang akan dilakukan pada anak, masalah-masalah seksual, konflik akan waktu dan biaya rekreasi, serta perselingkuhan. Studi tentang hal ini memberikan isyarat bagi praktisi dalam melakukan asesmen tentang hubungan pasangan perkawinan dalam keluarga.

ad. 2) Kesulitan hubungan diantara orang tua – anak

Masalah yang muncul dalam hal hubungan diantara orang tua dan anak, termasuk didalamnya kesulitan orang tua dalam mengawasi anak-anaknya, terutama anak yang beranjak remaja adalah masalah komunikasi.

ad.3) Masalah Personal Individu Anggota Keluarga

Seringkali keluarga datang kepada pekerja sosial untuk meminta bantuan dan mengidentifikasi seorang anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah. Prinsip dasar terapi keluarga adalah bahwa keluarga secara keseluruhan memiliki masalah yang dialami keluarga. Seringkali seorang anggota keluarga menjadi kambing hitam bagi kesalahan fungsi sistem keluarga secara keseluruhan. Kambinghitam merupakan seseorang yang dipersalahkan untuk beberapa masalah yang terjadi dalam keluarga. Pekerja sosial bertanggungjawab untuk membantu keluarga menemukan masalah sebagai masalah kelompok ketimbang menyalahkan individu dan tujuan intervensi lebih diarahkan pada menstruktur ulang berbagai hubungan keluarga.

ad.4) Tekanan dari lingkungan eksternal

(20)

Lebih rinci lagi, beberapa masalah yang seringkali dialami oleh individu anggota keluarga maupun keluarga sebagai suatu sistem interaksi, adalah :

• Perceraian

• Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan • Kehamilan yang tidak dikehendaki • Kemiskinan

• Penyakit kronis • Kematian

• Masalah-masalah emosional yang dialami anggota keluarga X • Masalah-masalah perilaku yang dialami anggota keluarga • Penelantaran anak

• Kekerasan terhadap anak • Kekerasan terhadap pasangan

• Penelantaran orang tua X • Pengangguran pencari nafkah • Kesulitan mengelola keuanganX • Luka akibat kecelakaan kendaraan X • Ketidakmampuan kognitif anak

• Keterlibatan anak dalam kenakalan dan tindak kejahatan • Anak remaja yang lari dari rumah

• Disfungsi seksual anggota keluarga

I. Anak remaja lari dari rumah (v)

II. Keterlibatan anak dalam kenakalan dan tindak kejahatan (v) III. Masalah-masalah emosional yang dialami anggota keluarga IV. Kematian anggota keluarga

(21)

VI. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan VII. Perceraian

VIII. Ketidakmampuan kognitif anak IX. Kekerasan terhadap anak (v) X. Disfungsi seksual anggota keluarga XI. Kehamilan yang tidak dikehendaki XII. Kemiskinan

XIII. Kekerasan terhadap pasangan XIV. Penelantaran anak (v)

4. Bidang Cakupan Casework.

Sosial casework bertujuan untuk membantu individu-individu berdasarkan pada orang per orang guna memenuhi kebutuhan dan memecahkan permasalahan yang mereka alami. Pelayanan sosial casework dilakukan melalui lembaga-lembaga pelayanan kesejahteraan sosial, yaitu lembaga yang memberikan pelayanan secara langsung kepada individu dan keluarga. Pelayanan casework juga dapat dilakukan secara privat oleh pekerja sosial.

Aktivitas pelayanan sosial casework cukup luas dan bervariasi, seperti :

a. Memberikan konseling kepada individu remaja yang tidak betah tinggal di rumah,

b. Membantu orang yang tidak mempunyai pekerjaan dengan cara memberikan berbagai pelatihan keterampilan, dan kemudian membantu menyalurkannya ke lapangan pekerjaan.

c.Memberikan konseling kepada orang yang stress dan berniat bunuh diri

d. Membantu menempatkan bayi-bayi yang akan diadopsi dan memilih orang tua asuh yang tepat

(22)

f. Mencarikan pengasuh/perawat yang baik untuk melayani orang-orang yang menderita sakit

g. Memberikan konseling kepada individu dalam keluarga yang mengalami disfungsi seksual

h. Membantu para pecandu alkohol dalam mengatasi masalahnya

i. Memberikan konseling kepada orang yang menderita sakit parah

j. Memberikan pelayanan terhadap orang tua yang sendirian (single parent)

k. Memberikan bantuan pelayanan terhadap keluarga-keluarga yang mengalami masalah.

5. Peranan Caseworker.

Peran caseworker dalam memberikan pelayanan kepada individu dan keluarga kadang-kadang berbeda. Pada suatu saat mereka berperan sebagai broker (perantara), yaitu caseworker dapat mengkaitkan seseorang (klien) dengan lembaga-lembaga kesejahteraan sosial, sehingga kebutuhan klien dapat terpenuhi. Pada kesempatan lain seorang caseworker dapat menampilkan peranan sebagai public education (pendidik masyarakat), yakni caseworker berusaha memberikan informasi-informasi kepada individu, keluarga dan kelompok-kelompok masyarakat tentang permasalahan yang sedang terjadi dewasa ini, dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mengatasinya, serta dimana mereka dapat memperoleh pelayanan-pelayanan tersebut.

(23)

memberikan konseling, karena konseling merupakan inti dari praktek pekerjaan sosial dengan individu dan keluarga.

E. BEBERAPA MODEL DALAM PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU DAN KELUARGA

Menurut Skidmore at al. (1991), dalam bekerja dengan individu dan keluarga menggunakan beberapa model, yaitu : psychososial, functional, problem-solving, behavior modification, family group treatment, crisis-oriented brief treatment, adult sosialization dan task-oriented casework. Pekerja sosial dalam melakukan prakteknya didasarkan pada teori tentang model, cara yang mengkombinasikan prinsip-prinsip dari beberapa teori dan gaya masing-masing. Teori-teori dan model-model baru dalam praktek berkembang dalam merespon pengalaman dari para praktisi pada berbagai situasi.

1. Psychososial Model

Merupakan model yang pertama dikembangkan dan diterapkan pada praktek sosial casework. Konsep model psikososial didasarkan pada kerja awal yang dilakukan oleh Gordon Hamilton yang dikenal dengan pendekatan organismik. Penyebab dan dampak relasi diidentifikasi diantara individu dan lingkungannya. Psikologi ego dan ilmu perilaku merupakan dasar penting bagi praktek. Model ini didasarkan pada teori Freud dan diadaptasi untuk digunakan dalam praktek.

2. Functional Model

Model ini dikembangkan pada tahun 1930 di Sekolah Pekerjaan Sosial Pennsylvania. Penekanannya pada relasi, dinamika penggunaan waktu, dan penggunaan fungsi lembaga. Hal yang menjadi perhatian model ini adalah bagaimana konsep individualitas dan keunikannya diletakkan pada berbagai klasifikasi.

3. Problem Solving Model

(24)

masalahnya, pencarian solusi masalah, pembuatan keputusan dan tindakan. Tujuan dari proses ini adalah membebaskan klien untuk menyimpan tugas yang berhubungan dengan solusi masalah, melibatkan ego klien dalam bekerja untuk menghadapi masalah dan memobilisasi kekuatan dalam dan luar pelayanan untuk kepuasan penampilan peranan. c

4. Behavior Modification Model

Model ini dikembangkan pada tahun 1960an yang didasarkan pada teori Pavlov dan Skinner. Penerapan praktek model ini didasarkan penelitian tentang pengubahan perilaku yang dapat diamati. Para Behaviorist sepakat bahwa perilaku manusia dapat berupa perilaku respondent dan perilaku operant. Perilaku dapat dipelajari melalui proses kondisioning dan muncul dalam cara yang sama sebagai perilaku yang “normal”. Perilaku tersebut dapat diubah melalui penerapan apa yang telah diketahui tentang belajar dan modifikasi.

5. Task-Centered Casework

Model ini dikenal dengan “general service model” yang dikembangkan tahun 1970an di University of Chicago. Dirancang untuk memecahkan masalah psikososial khusus yang dialami individu atau keluarga dan memiliki waktu yang singkat untuk praktek. Secara bersama-sama, pekerja sosial dan klien mencapai kesepakatan tentang masalah utama yang akan ditangani dan juga kemungkinan durasi treatment. Pengorganisasian tindakan pemecahan masalah dikembangkan secara kolaboratif oleh pekerja sosial dan klien, dan tugas-tugas diarahkan untuk tindakan klien. Melalui pemusatan pekerja sosial pada upaya membantu klien mengikuti kegiatan, pekerja sosial menggunakan berbagai intervensi.

6. Crisis Intervention

(25)

misalnya mulai sekolah, bolos sekolah, remaja, pernikahan, menjadi orang tua, berpindah pekerjaan, promosi, menopause, menjadi kakek atau nenek, pensiun dsb. Didalam pekerjaan sosial, terdapat beberapa keadaan yang dapat digunakan untuk membantu individu dan keluarga yang mengalami krisis, misalnya rumah sakit, panti untuk lansia; tempat yang menyediakan situasi keluarga dan pernikahan; bekerja dengan orang-orang di daerah kumuh atau penyedia rumah baru; bekerja dengan orang tua yang melahirkan anak cacat atau premature; bekerja dengan remaja; dalam bidang adopsi dsb. Tujuan intervensi krisis ini adalah untuk melepaskan kecemasan yang dihadapi klien, untuk memobilisasi sumber-sumber internal dan eksternal, dan untuk penyembuhan kearah yang lebih sehat.

7. Family Therapy

Terapi keluarga merupakan cara kerja dengan orang-orang yang memandang bahwa interaksi diantara anggota keluarga sebagai kontribusi kepada dan mengatur disfungsi individu dan keluarga. Perlakuan salah terhadap anak merupakan salah satu tanda disfungsi pada keluarga. Perlakuan salah terjadi karena anggota keluarga tidak memiliki kemampuan untuk mengatur lingkungan diantara dirinya, negosiasi dalam menangani tahap perkembangan baru atau mengatasi tuntutan dari luar (kehilangan pekerjaan, kondisi perumahan yang padat, dsb). Terapi keluarga yang didasarkan atas pendekatan sistem mempertimbangkan anak dan anggota keluarga lainnya yang terkait, dengan perilaku setiap anggota keluarga yang mempengaruhi setiap orang dalam keluarga. Dalam konteks ini, maka assessment terhadap keluarga secara keseluruhan merupakan hal penting dalam memahami pengalaman anak. Yang juga penting adalah bahwa intervensi harus dirancang dengan melibatkan seluruh anggota keluarga.

Menurut Greif (dalam Dubowitz dan DePanfilis, 2000:479), pendekatan yang dapat dilakukan sehubungan dengan terapi keluarga adalah :

a. Positive reinforcement. Terapis secara aktif memperkuat perilaku yang ada untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam proses ini Pekerja Sosial membangun self-esteem keluarga.

(26)

c. Parent education. Keluarga belajar metode alternatif mengenai interaksi dan harapan akan perkembangan anak.

d. Appropriate boundaries. Penekanan Terapis pada saat orang tua dan anak memiliki hubungan yang terlalu dekat atau terlalu jauh.

e. Reframe. Keluarga memikirkan cara baru untuk memikirkan situasi mereka yang akan menuntun pada pilihan lain untuk berperilaku. Keluarga seringkali memulai treatment dengan pandangan yang tetap tentang dirinya dan keuntungannya manakala pandangan ini dirubah.

f. The therapeutic relationship. Terapis berhubungan dengan keluarga. Tidak ada intervensi yang berhasil kecuali ditangani secara professional yang dilakukan melalui hubungan kerja dengan anggota keluarga.

F. TAHAP-TAHAP/PROSES PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU DAN KELUARGA

Praktek pekerjaan sosial merupakan proses yang terdiri dari tahap-tahap intake, asesmen, penyusunan rencana intervensi, pelaksanaan intervensi, evaluasi dan supervisi.

1. Engagement, Intake, dan Contract ; suatu tahap awal dalam praktek pertolongan, yaitu kontak pendahuluan antara pekerja sosial dengan pemerlu pelayanan sosial, yang berakhir pada kesepakatan untuk terlibat dalam keseluruhan proses.

2. Pengungkapan dan pemahaman masalah (Assessment) ; adalah proses mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang dialami oleh para pemerlu pelayanan sosial.

3. Rencana Intervensi adalah penyusunan rencana pemecahan masalah yang sudah dianalisis.

4. Pelaksanaan intervensi didasarkan pada rencana yang telah disusun, merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan perubahan berencana dalam diri pemerlu pelayanan dan situasinya.

(27)

6. Terminasi ; tahap ini dilakukan bila tujuan-tujuan yang telah disepakati dalam kontrak telah dicapai, dan mungkin sudah tidak dicapai kemajuan-kemajuan yang berarti dalam pemecahan masalah.

Sementara itu Tilbury (1977) mengidentifikasi empat fase, yaitu Intake and Orientation, Exploration and Testing, Problem Solving dan Termination. Keberlangsungan setiap fase dalam proses ini tergantung pada masalah, klien, lembaga dan pekerja sosial.

1. Intake and Orientation

Merupakan fase permulaan dimana akan tercapai melalui beberapa kali interview dengan klien dan dapat berlanjut dengan kontrak. Permulaan fase ini tidak hanya tergantung kepada pekerja sosial (melalui simpati, reassurance, ventilation, penyediaan bantuan, pembatasan masalah dan penyediaan solusi), akan tetapi juga keterlibatan klien. Kontrak terjadi melalui relasi yang terjalin, penggalian bersama akan apa yang menjadi masalah, indikasi bagaimana lembaga akan membantu, kompetensi pekerja sosial dan melibatkan pikiran dan tindakan klien.

Fase permulaan ini terdiri dari isi dan cara. Isi dalam fase pertama ini terdiri dari : a. hakekat masalah yang dirasakan saat ini; b. keberartian masalah;

c. penyebab masalah;

d. upaya pemecahan masalah yang dilakukan klien; dan e. apa yang klien cari dalam upaya solusi dan hubungannya dengan bantuan yang disediakan lembaga dan pekerja sosial.

Sementara cara yang dilakukan dalam fase permulaan ini adalah :

a. hal-hal yang berhubungan dengan pemahaman klien (perhatian, rasa hormat, penerimaan, sensitivitas) dan kompetensi (kesiapan, tujuan, pengetahuan, keterampilan);

b. membantu klien mengutarakan masalahnya; c. memfokuskan pada masalah; dan

(28)

2. Exploration and Testing

Pada fase ini pekerja sosial menggali batasan-batasan situasi yang dihadapi oleh klien. Hal-hal yang menjadi perhatian pekerja sosial adalah perasaan-perasaan, perilaku dan tindakan-tindakan yang buruk dari klien yang muncul dalam relasinya dengan lingkungan. Testing dilakukan oleh pekerja sosial terhadap penerimaan, berbagai aspek yang berhubungan dengan otoritas, kerahasiaan dan kepeduliaan.

3. Problem Solving

Beberapa masalah sosial dapat dipecahkan sebelum sampai pada fase ini, dimana melibatkan dinamika dari situasi dan kedalaman pada diskusi yang dilakukan. Pemecahan masalah berhubungan erta dengan mekanisme pertahanan diri klien. Beberapa mekanisme pertahanan diri yang dapat muncul adalah :

a. projection; b. sublimation; c. reaction formation; d. repression;

e. inhibition; f. compensation; g. regression; h. manic defence; i. avoidance; j. denial;

k. displacement; l. rationalitation; m. fixation.

4. Termination

(29)

G. TEKNIK-TEKNIK DALAM PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVDU DAN KELUARGA.

Naomi Brill menyatakan bahwa terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan oleh pekerja sosial dalam menangani klien individu dan keluarga. Teknik-teknik tersebut adalah :

1. Small Talk

Teknik ini digunakan oleh pekerja sosial pada saat kontak permulaan dengan klien. Tujuan utama small talk adalah terciptanya suatu suasana yang dapat memberikan kemudahan bagi keduanya untuk melakukan pembicaraan sehingga hubungan selanjutnya dalam proses intervensi akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Biasanya small talk dimulai oleh pekerja sosial untuk membuka agar klien dapat berbicara.

2. Ventilation

Teknik ini digunakan oleh pekerja sosial untuk membawa ke permukaan perasaan-perasaan dan sikap-sikap yang diperlukan, sehingga perasaan-perasaan-perasaan-perasaan dan sikap-sikap tersebut dapat mengurangi masalah yang dihadapi klien. Pekerja sosial dituntut untuk dapat menyediakan kemudahan bagi klien dalam mengungkapkan emosinya secara terbuka. Tujuan ventilation adalah untuk menjernihkan emosi yang tertekan karena dapat menjadi penghalang bagi gerakan positif klien. Dengan membantu klien menyatakan perasaan-perasaannya, maka pekerja sosial akan lebih siap melaksanakan tindakan pemecahan masalah serta dapat memusatkan perhatiannya pada perubahan pada diri klien.

3. Support

(30)

dahulu aspek-aspek yang positif sebelum menyatakan aspek-aspek negatif dari situasi yang dialami klien.

4. Reassurance

Teknik ini digunakan untuk memberikan jaminan kepada klien bahwa situasi yang diperjuangkannya dapat dicapai pemecahannya dan klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalahnya. Reassurance harus dibuat realistic dan tidak dapat dilakukan terhadap kenyataan yang tidak benar. Pekerja sosial harus memberikan reassurance dalam waktu yang tepat dan memberikan kesempatan kepada klien untuk menyatakan perhatian dan kegagalannya secara wajar, oleh karena itu reassurance dilaksanakan dengan kesadaran bahwa penyesuaian dapat dilakukan dalam setiap situasi. Reassurance digunakan dengan menghargai kemampuan-kemampuan, perasaan-perasaan dan pencapaian-pencapaian klien.

5. Confrontation

Teknik ini digunakan pada saat klien menghadapi situasi sulit yang bertentangan dengan kenyataan. Pekerja sosial harus mengetahui bagaimana keadaan klien, mendinginkan perasaan-perasaan sakit sehingga klien dapat keluar dari situasi yang menyakitkan. Confrontation sering digunakan dalam kegiatan terapi dengan tujuan agar klien dapat menerima perilaku dan dapat menyadari sikap-sikap dan perasaan-perasaannya. Pekerja sosial dapat mengembangkan beberapa pandangannya yang dapat memberikan motivasi kepada klien untuk mengubah perilakunya.

6. Conflict

(31)

perasaan yang cenderung meningkat. Pekerja sosial harus menyadari faktor-faktor emosi dan memberikan tempat untuk diungkapkan dan mempergunakan kekuatan-kekuatan untuk kompromi dan menerima pemecahan masalah untuk mencapai perubahan yang lebih baik.

7. Manipulation

Teknik ini merupakan keterampilan pekerja sosial dalam mengelola kegiatan, orang-orang dan sumber-sumber yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah klien. Pekerja sosial harus memperhatikan : kebutuhan dan hak-hak klien untuk terikat dalam tindakan dan pengambilan keputusan; kemampuan klien untuk berpartisipasi; dan membedakan antara kegiatan-kegiatan untuk kepentingan pekerja sosial dengan kegiatan-kegiatan untuk kepentingan klien.

8. Universalization

Teknik ini digunakan melalui penerapan pengalaman-pengalaman dan kekuatan-kekuatan manusia dengan situasi yang dihadapi oleh klien. Tujuan teknik ini adalah : memberikan pengaruh kepada klien yang mengalami situasi emosional yang berlebihan agar menyadari bahwa situasi yang sama juga dihadapi orang lain; menyumbang dan membandingkan pengetahuan tentang cara-cara pemecahannya kepada klien; dan memperkuat hal-hal lainnya yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi klien.

9. Advice Giving and Counseling

(32)

10. Activities and Programs

Teknik ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan mengatasi kesulitan yang dihadapi klien melalui suatu sarana tertentu. Klien diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan tentang kesulitannya dan membawa keluar atau mengatasi secara langsung kebutuhan dan masalah tersebut pada tingkat non verbal atau situasi permainan. Musik, tarian, permainan, drama, kerajinan tangan, merupakan media untuk menggambarkan kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi klien. Pekerja sosial harus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat membantu memilih media terbaik untuk menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan dan situasi-situasi klien.

11. Logical Discussion

Teknik ini digunakan untuk memberikan kemampuan berpikir dan bernalar, untuk memahami dan menilai fakta dari suatu masalah, untuk melihat kemungkinan alternative pemecahannya dan untuk mengantisipasi serta melihat konsekuensi-konsekuensi dalam mengevaluasi hasilnya.

12. Reward and Punishment

Reward diberikan untuk perilaku yang baik dan punishment (hukuman) diberikan untuk perilaku yang buruk. Teknik ini digunakan dengan tujuan mengubah perilaku klien dan pekerja sosial harus memiliki keterampilan khusus untuk mengetahui motif-motif perilaku dan metode penguatan (enforcement).

13. Role Rehearsal and Demonstration

Teknik ini digunakan apabila cara-cara belajar perilaku baru diperlukan. Pekerja sosial dapat meningkatkan fungsi sosial klien melalui latihan penampilan peranan baik melalui diskusi atau permainan peranan atau kedua-duanya. Sebagai pengganti permaianan peranan, pekerja sosial dapat juga mendemonstrasikan bagaimana tindakan-tindakan tertentu dilakukan.

(33)

Teknik-teknik ini berupa latihan dinamika kelompok, permainan-permainan kelompok, kepustakaan sederhana dan penggunaan alat-alat audio visual. Penggunaan teknik ini dapat meningkatkan partisipasi klien dalam berbagai kegiatan dalam upaya pemecahan masalah. Pekerja sosial harus mengetahui kapan dan bagaimana menggunakan teknik-teknik ini.

15. Andragogy

Teknik ini dilukiskan sebagai seni dan ilmu pengetahuan untuk membantu klien dewasa belajar. Melalui andragogy, pekerja sosial dapat meningkatkan keberfungsian sosial klien melalui pengungkapan kebutuhan, merumuskan tujuan dan merumuskan pengalaman belajar serta mengevaluasi program klien.

16. Counciousness Raising

Teknik ini berhubungan dengan tugas membangunkan secara positif konsep diri klien yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakatnya. Pekerja sosial dapat menggunakan teknik ini dalam bekerja dengan kelompok klien yang mengalami depresi.

17. Konseling

Konseling adalah inti dari praktek sosial casework. Pelayanan konseling diberikan untuk terapi masalah-masalah emosional dan interpersonal individu dan keluarga. Terdapat tiga tahap dalam konseling, yaitu: (a) tahap membangun relasi, (b) tahap mengeksplorasi masalah secara mendalam; dan (c) tahap mengeksplorasi alternatif-alternatif solusinya. Konseling bagi individu dan keluarga tepat diberikan untuk mengatasi masalah-masalah sosial-emosional, seperti masalah posttraumatic stress disorder.

18. Intervensi krisis

(34)

a. fokus pada penyembuhan spesifik dan dibatasi waktu, dan perhatian pada mereduksi ketegangan dan memecahkan masalah adaptasi;

b. klarifikasi dan asesmen akurat terhadap sumber stress dan makna stress bagi individu, dan diikuti dengan restrukturisasi kognitif secara langsung;

c. membantu individu dan keluarga mengembangkan mekanisme pemecahan masalah adaptif;

d. berorientasi realitas, mengklarifikasi persepsi kognitif, mengkonfrontasi penolakan dan distorsi, serta memberikan dukungan emosional.

19. Terapi Kelompok.

Terapi kelompok bertujuan untuk memudahkan penyesuaian diri secara sosial dan emosional (sosial-emotional adjustment) bagi individu-individu melalui proses kelompok. Partisipan biasanya memiliki kesulitan-kesulitan dalam menyesuaikan diri. Terapi ini dioperasikan dengan membentuk tipe-tipe kelompok sesuai kebutuhan atau permasalahan yang dihadapi. Beberapa tipe kelompok yang kemungkinan relevan untuk masalah-masalah yang dialami oleh individu dan keluarga adalah : (a) kelompok rekreasi yang bertujuan untuk memberikan kesenangan, (b) kelompok rekreasi-keterampilan, yaitu tipe kelompok yang bertujuan selain memberikan kesenangan juga mengembangkan keterampilan-keterampilan; (c) kelompok penyembuhan, yaitu kelompok yang dibentuk untuk menyembuhkan masalah-masalah sosial-emosional; (d) kelompok sosialisasi, yaitu tipe kelompok yang bertujuan untuk mengajarkan bagaimana seharusnya berperilaku sehingga tercapai penyesuaian diri; (e) kelompok pelatihan kepekaan, yaitu tipe kelompok yang bertujuan untuk melatih orang-orang yang tidak peka menjadi peka.

20. Penyuluhan

(35)

21. Mediasi

Mediasi adalah suatu teknik untuk menghubungkan individu dan keluarga dengan sistem sumber. Setiap pemecahan masalah memerlukan sistem sumber. Sistem sumber kadang-kadang tidak responsif terhadap masalah dan kebutuhan pemerlu pelayanan. Oleh karena itu, mediasi diperlukan untuk menghubungkan individu dan keluarga dengan sumberdaya-sumberdaya yang terdapat di lingkungan.

H. KONSELING DALAM PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU DAN KELUARGA

1. Proses Konseling

Konseling merupakan inti dari praktek casework. Proses konseling pada prinsipnya dapat dikonseptualisasikan ke dalam tiga tahap, yaitu :

a. Building a relationship (menciptakan suatu hubungan)

b. Exploring problems in depth (mengeksplorasi permasalahan secara lebih mendalam). c. Exploring alternative solultion (mengeksplorasi

alternatif-alternatif pemecahan masalah).

Proses konseling dapat juga dikonseptualisasikan dari persepsi klien. Hal ini perlu dilakukan agar konseling dapat berjalan dengan baik. Untuk itu, klien harus mau menceritakan permasalahan yang dialaminya dengan cara menyatakan sendiri. Pernyataan pribadi (menyatakan sendiri) merupakan langkah yang baik dalam proses konseling. Pembagian tahap-tahap proses konseling berdasarkan persepsi klien adalah sebagai berikut :

(36)

Pada awal tahap ini, klien harus menyatakan tentang diri mereka sendiri, seperti :”saya mempunyai suatu masalah, saya perlu mengatasi atau melaksanakan sesuatu untuk mengatai permasalahan tersebut”. Jika orang yang punya masalah tersebut menolak untuk mengakui bawa mereka mempunyai masalah, maka mereka nantinya akan sulit untuk dimotivasi agar mau melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diperlukan bagi terciptanya perubahan. Hal itu dapat dicontohkan dengan penanganan pekerja social kepada para pemabuk. Pekerja social kadang-kadang mengalami kesulitan dalam menangani permasalahan yang dialami oleh orang-orang yang tidak atau belum menyadari kalau dirinya bermasalah, maka perubahan-perubahan yang konstruktif bagi dirinya tidak akan pernah terjadi, kecuali jika konselor menemukan suatu cara untuk meyakinkan mereka (klien). Bilamana klien tidak menyadari atau mengingkari dirinya sedang mempunyai masalah, maka konseling harus difokuskan kepada masalah ketidaksadaran atau pengingkaran tersebut dengan cara mengeksplorasi apa sebabnya klien percaya bahwa dirinya tidak bermasalah dan dengan cara mengumpulkan bahan-bahan atau dokumen-dokumen tentang permasalahan yang ada untuk kemudian diperlihatkan/ditunjukkan kepada klien agara mereka percaya bahwa dirinya memang bermasalah.

b. Relationship to Counselor (Menjalin hubungan baik dengan konselor) Tahap selanjutnya dari proses konseling adalah ingin mengetahui sampai dimana klien menyadari bahwa dirinya bermasalah, dan kesadaran tersebut ditanyakan kepada dirinya sendiri, seperti :”saya berpendapat bahwa konselor akan membantu”. Namun sebaliknya jika klien berpendapat “konselor tidak akan dapat membantu, saya tidak memerlukannya, saya tidak percaya terhadap konselot,” maka konseling akan mengalami kegagalan.

c. Motivation (motivasi)

(37)

d. Conceptualizing the problem (mengkonseptualisasikan masasalah)

Agar konseling dapat efektif, makaklien perlu mengakui sebagai berikut “Masalah yang saya alami tidak terlalu parah dan ada komponen-komponen atau bagian-bagian yang dapat diperbaiki”. Beberapa klien cenderung memandang situasi mereka sebagai situasi yang kompleks, sehingga mereka mempunyai atau mengalami kecemasan dan emosional yang tinggi serta kurang mampu melihat bahwa masalah yang mereka alami dapat diubah/dipecahkan secara bertahap. Contohnya pada tiga tahun yang lalu, penulis memberikan konsultasi kepada seorang gadis yang terlambat menstruasi selama tiga bulan. Gadis itu mempunyai perasaan yang sangat takut kalau dirinya hamil, sehingga ia tidak mampu mencari jalan keluar/pemecahanya sendiri sebagai langkah pertamanya, yaitu melaukan pengetesan kehamilan. Untuk membantu klien mengkonseptualisasi masalahnya, maka konselor perlu bekerja sama dengan klien mengeksplorasi permasalahan yang ada secara lebih mendalam.

e. Exploration of relation strategies (mengeksplorasi strategi-strategi pemecahan masalah).

Salah satu langkah proses konseling adalah kerjasama antara konselor dengan klien dalam mengeksplorasi strategi-strategi pemecahan masalah. Setiap klien adalah unik. Demikian juga dengan masalah yang mereka alami. Apa yang baik atau berhasil dilaksanakan untuk membantu seorang klien belum tentu akan berhasil jika diterapkan kepada klien yang lain. Suatu contoh adalah pengguguran kandungan. Pengguguran kandungan dapat sesuai dengan nilai-nilai dan keadaan seorang klien, namun mungkin kurang diinginkan oleh wanita-wanita hamil di luar nikah yang lainnya, karena diantara mereka mempunyai perbedaan-perbedaan nilai dan tujuan hidup. Konseling akan efektif jika klien berkata di dalam hatinya :”saya melihat ada beberapa kegiatan yang dapat saya coba untuk mengatasi situasi yang saya alami”. Tanpa adanya realisasi dari beberapa strategi pemecahan masalah tersebut, maka konseling akan mengalami kegagalan.

f. Selection of a strategy (penyeleksian suatu strategi)

(38)

menginginkan konseling berjalan dengan baik/sukses, maka klien harus mempunyai keyakinan bahwa “saya yakin pendekatan tersebut akan membantu, dan oleh sebab itu saya akan mencoba/memprakteknya”. Jika klien tidak dapat mengambil keputusan dan bingung dalam membuat suatu komitmen untuk melakukan kegiatan, maka perubahan yang konstruktif bagi dirinya tidak akan pernah terjadi. Contohnya adalah jika klien mengatakan minuman-minuman keras/mabuk-mabukan, tetapi saya tidak dapat melakukan suatu kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut”. Hal ini akan menyebabkan konsultasi tidak akan berhasil dengan baik.

g. Implementation of the strategy (implementasi strategi pemecahan masalah)

Konseling hanya akan sukses jika klien mengikuti/melaksanakan komitmen dan berkeyakinan bahwa “pendekatan itu merupakan langkah awal yang dapat menggolongkan saya”. Jika klien melaksanakan komitmen, tetapi tidak mempunyai keyakinan,: saya tidak percaya bahwa pendekatan tersebut akan dapat menolong,” maka konseling akan mengalami kegagalan. Bilamana hal ini terjadi, maka penyebab-penyebab kegagalan perlu diteliti, dan barangkali ada strategi pemecahan masalah lain yang perlu dicoba.

2. Konseling Keluarga

Untuk melakukan konseling keluarga diperlukan adanya pemahaman tentang dinamika keluarga, sehingga seorang pekerja social mempunyai pengertian mengenai hubungan proses yang saling berhubungan (a group of interactive processes) yang ada kaitannya dengan keluhan klien. Oleh karena itu, seorang pekerja social yang melakukan kegiatan konseling keluarga harus pandai-pandai memperluas definisi permasalahan. Caranya, yaitu dengan melakukan pertanyaan sirkular kepada setiap anggota keluarga, sehingga konselor mempunyai perspektif permasalahan dari setiap anggota keluarga.

Untuk melaksanakan tugasnya seorang konselor keluarga harus menguasai beberapa keterampilan, sebagai berikut :

(39)

Joining merupakan suatu proses interpersonal antara konselor dan setiap anggota keluarga sehingga masing-masing anggota keluarga merasa diterima, didengarkan, dan dihargai.

Hal-hal yang penting diperhatikan dalam joining adalah :

1) Pembentukan RapportI : klien merasa diterima dan bukan dibenarkan atau disalahkan saja. Perasaan diterima akan menentukan apakah pendekatan selanjutnya cukup efektif.

2) Paraphrasing : menjadi pendengar yang baik untuk menyukseskan joining.

3) Memperhatikan Family Rules : yang berlaku dalam setian anggota keluarga.

b. Structuring; adalah pengaturan hubungan. Ada beberapa tindakan dalam structuring :

1) Time Limits, antara lain : hari ini kita akan bertemu selama satu jam kita usahakan dalam waktu satu jam kita memperoleh hasil yang sebanyak-banyaknya.

2) Role Limits , antara lain : klien diikutsertakan dalam melihat dan menelaah persolaan serta keprihatinan keluarga sehingga dapat ditemukan penyelesaian yang memuaskan.

3) Proses Limits, antara lain : saya akan menunjukkan dan membantu anda melihat permasalahan yang menurut pandangan saya menghambat dalam proses penyelesaian masalah.

4) Action Limits, antara lain : melakukan tugas-tugas tertentu dah hasilnya harus dilaporkan kepada pekerja social.

c. Mengumpulkan Informasi

Informasi akan lebih kita peroleh jika pertanyaan-pertanyaan bersifat terbuka. Contoh : “coba ceritakan lebih lanjut…….”, “saya kurang jelas……Maksud Bapak/Ibu……….”

(40)

Artinya keterampilan untuk mem-blok/menghalangi informasi yang belum kita butuhkan. Contoh : jika seorang konselor keluarga sedang menanyakan sesuatu kepada anggota keluarga dan dipotong oleh anggota keluarga yang lain, maka konselor keluarga harus dapat blocking, sehingga arus informasi dari anggota keluarga tersebut tidak terhenti.

e. Reframing

Yaitu usaha konselor untuk membantu klien agar dapat melihat permasalahan dari sudut yang lain/sudut pandang yang baru. Sudut pandang yang baru terhadap permasalahan dapat melepaskan keluarga tersebut dari belenggu persepsi mereka yang lama mengenai masalah yang tidak membuahkan penyelesaian.

f. Melakukan Refleksi

Refleksi dilakukan agar :

- Klien merasa bahwa konselor memahami mereka

- Sebagai sarana bagi konselor untuk mengecek apakan persepsinya mengenai masalah klien benar.

Ada tiga tahapan dalam melakukan refleksi isi :

- Elistasi : dengan berbagai pertanyaan terbuka, “Joko, mengapa setiap kali anda berbicara dengan ayah anda, Joko selalu menatap lantai?”

- Identifikasi :melalui suatu komentar yang menunjukkan pada relasi. Misalnya :”setiap kali kita menyinggung masalah ini…..saya lihat/saya perhatikan tidak ada seorangpun yang membicarakannya. Bahkan ibu selalu menyela dan mencoba dan mengganti topic pembicaraan”.

- Refleksi : merupakan inti pembicaraan dan sekaligus sebagarai sarana untuk menguji kebenaran persepsi konselor. “saya menangkap bahwa anda mempunyai masalah dalam hal bagaimana mengasuh Budi yang baik. Ini diakui oleh Budi dan nampaknya dia juga kebingunan”.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh konselor dalam melakukan refleksi afeksi :

 Ekspresi klien : konselor harus

(41)

Contoh : tangan/bibir gemetar, gemeretak gigi, posisi badan yang tertutup, merupakan ekspresi bermuatan afeksi, yang sangat penting.

 Timing, kapan konselor harus melakukan

refleksi jangan sampai menggangu afeksi.

 Refleksi, ungkapan-ungkapan

menggunakakan bahasa afeksi untuk menyatakan kembali perasaan klien. Contoh :

Klien : “saya tidak dapat berbicara secara terbuka seperti ini dengan ayah”.

Konselor dapat melakukan refleksi dengan mengatakan : “Anda selalu merasa takut berbicara mengenai persoalan ini dengan ayah anda”.

g. Konfrontasi

Jika konselor melihat/mendengar hal-hal yang saling bertentangan. Missal : Ayah mengatakan bahwa dia menyayangi anaknya tetapi kenyataannya berbeda. Tugas konselor dalam hal ini adalah membantu klien untuk melihat hal seperti itu.

h. Membuka Diri (Self Disclousure)

Jika konselor mencerikan dirinya sendiri dalam teori konseling, dipandang controversial.

- tidak berlebihan

- sesuai dengan kultur setempat

i. Perubahan Perilaku

Dalam konseling keluarga, perubahan perilaku dicapai dengan mengubah pola hubungan antar anggota suatu system. Contoh :

- Seorang ayah yang peranannya hilang, diberikan hirarki lagi. - Sebagai anak dikembalikan lagi kebutuhan semosionalnya, sebagai

anak terpenuhi,

(42)

- Kriteria keberhasilan harus sama-sama dimengerti oleh klien dan konselor

j. Penutup

“Apakah kita sudah melakukan semua yang dapat kita lakukan?”

“Apakah ada perubahan-perubabahan yang terjadi yang bisa dikembangkan sendiri oleh keluarga tersebut

I. KETERAMPILAN-KETERAMPILAN DALAM PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU DAN KELUARGA.

Allen Pincus & Anne Minahan (1973) mengemukakan area keterampilan dalam praktek pekerjaan sosial termasuk dalam pekerjaan sosial dengan individu dan keluarga, yaitu sebagai berikut :

1. Keterampilan Melakukan Kontak Awal.

Keterampilan pekerja sosial dalam melakukan kontak awal dengan individu dan keluarga merupakan bagian sangat penting dalam proses pertolongan. Kontak awal dimulai ketika pekerja sosial untuk pertama kalinya bertemu dengan klien (individu atau keluarga). Dalam hal ini ada isyarat untuk membuka percakapan, biasanya melalui apa yang disebut dengan “small talk”. Penampilan yang rileks dari pekerja sosial, dapat mendorong individu dan keluarga mengemukakan apa yang mendorongnya datang kepada pekerja sosial. Bagi sebuah keluarga, seberapa jauh kesiapannya, apakah mereka datang sudah mempunyai pemahaman terhadap masalahnya atau belum ?

Pada fase ini kemungkinan terjadi apa yang disebut dengan Resistensi, yaitu berkaitan dengan penolakan keluarga untuk berubah ; apakah mereka sudah benar-benar siap atau masih ada perasaan menolak. Resistensi sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu keluarga.

Referensi

Dokumen terkait