TEKNIK INTERVENS
2. Terapi Keluarga
Terapi Keluarga sering juga dikatakan sebagai Konseling Keluarga, merupakan bagian dari terapi kelompok yang betujuan untuk membantu keluarga dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah-masalah interaksi, perilaku dan emosional yang muncul dalam kehidupan sehari-hari keluarga. Teknik-teknik pada terapi kelompok keluarga hampir sama dengan terapi kelompok dan model keluarga diklasifikasikan dalam kelompok demokratis. Tiga macam aplikasi metode kelompok pada treatment keluarga adalah : Multiple Family Group Therapy, Multiple Impact Therapy dan Network Therapy. a. Multiple-Family Group Therapy
Terapi dengan teknik ini melibatkan empat sampai enam anggota keluarga bersama- sama dalam setiap minggunya dengan waktu sekitar sembilan puluh menit setiap sesinya. Bentuk terapi hampir sama dengan terapi kelompok tradisional hanya ditambah dengan kelompok encounter dan teknik psikodrama. Latihan terstruktur digunakan untuk meningkatkan derajat interaksi dan intensitas perasaan dan keluarga seolah-olah seperti ”coterapi” untuk membantu mengkonfrontasitkan anggota keluarga pada keluarga yang lain dari posisi personal yang biasanya diambil oleh terapis.
Anggota tim bertemu dengan berbagai kombinasi anggota kelompok dan bergabung dalam kelompok besar untuk membuat rekomendasi.
c. Network Therapy
Terapi jenis ini dikembangkan untuk membantu keluarga dalam situasi krisis melalui menggabungkan mereka dalam jaringankerja sosial, seperti keluarga, teman, tetangga kedalam situasi kebersamaan dengan jumlah kurang lebih lima puluh orang. Terapis terdiri dari tim dan penekanannya pada memecahkan pola-pola yang mengganggu relasi dan mobilisasi dukungan untuk beberapa pilihan yang baru. Tim terapis bertemu dengan kelompok sebanyak tiga sampai enam kali dan setiap kali bertemu memerlukan waktu sekitar dua sampai empat jam.
2. Copyng Strategies
Coping strategies merupakan upaya penanggulangan masalah yang dilakukan oleh perorangan, kelompok atau komunitas melalui mekanisme tertentu agar dapat mencapai keadaan menyenangkan atau lebih baik. Awalnya, konsep coping sering dipergunakan sebagai strategi bertahan hidup keluarga atau rumah tangga di pedesaan terutama menghadapi peristiwa darurat seperti bencana alam, kegagalan panen, banjir atau kekeringan dan berbagai bentuk peristiwa tak terduga lainnya. Namun dewasa ini, konsep coping juga banyak dipergunakan oleh keluarga di perkotaan yang mempunyai kompleksitas permasalahan (Sumarti, 2004). Lebih jauh Lazarus (1976) berpendapat bahwa coping merupakan kemampuan seseorang dalam mempersepsi situasi-situasi yang menimbulkan stres dengan memberikan reaksi atau tindakan. Sedangkan Levine mendefinisikan coping sebagai proses aktif yang terjadi karena usaha menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang banyak mengandung stres.
Coping yang dilakukan seseorang dalam mengatasi permasalahannya, dapat diwujudkan dalam berbagai cara tergantung kepada kemampuan, aksesibilitas terhadap sumber, dan dukungan lainnya. Folkman dan Lazarus, 1984 dalam Rahayuningsih (2005:23) memperkenalkan 2 tipe umum coping yaitu :
Seseorang cenderung mengatasi masalah dengan mempelajari cara-cara atau keterampilan-keterampilan yang baru. Individu akan cenderung menggunakan strategi bila dirinya yakin akan dapat mengubah situasi, biasanya dilakukan orang dewasa. Problem Fokused Coping (PFC) ditujukan untuk pemecahan masalah atau menentukan sumber tekanan. Cara ini cenderung lebih menonjol pada saat orang merasa bahwa harus ada sesuatu yang dibangun. Problem Fokused Coping (PFC) terbagi menjadi beberapa bentuk yaitu :
1) Active coping, merupakan proses pengambilan langkah-langkah aktif untuk mencoba memindahkan atau menghindari tekanan atau memperbaiki dampaknya. Cara ini melibatkan pengambilan tindakan langsung, peningkatan upaya seseorang dan mencoba untuk melaksanakan cara coping yang bijaksana.
2) Planning, memikirkan bagaimana mengatasi tekanan. Planning melibatkan berbagai strategi tindakan, memikirkan tindakan yang akan dilakukan dan bagaimana penanganan terbaik untuk memecahkan masalah.
3) Suppression of coping, penyempitan dalam wilayah bidang fenomena seseorang. Seseorang bisa menahan diri untuk tidak terlibat dalam aktivitas-aktivitas kompetitif atau menahan alur informasi yang bersifat kompetitif agar bisa berkonsentrasi penuh pada tantangan atau ancaman yang dihadapi.
4) Restraint coping, merupakan latihan pengekangan diri, merupakan suatu respons yang dianggap bermanfaat dan diperlukan untuk mengatasi tekanan.
5) Seeking Sosial Support for Instrumental Reasons, upaya menari dukungan sosial, seperti minta nasihat, informasi dan bimbingan.
6) Seeking Sosial Support for Emotional Reasons, upaya mencari dukungan emosional, seperti simpati, dukungan moral, atau sepemahaman.
b. Emotional Fokused Coping (EFC)
Model ini digunakan untuk mengatur respons emosional terhadap stres melalui perilaku individu seperti penggunaan alkohol, bagaimana menghilangkan fakta-fakta tidak menyenangkan melalui strategi kognitif. Jika individu tidak mampu mengubah kondisi
yang stressful, ia akan cenderung mengatur emosinya. Model ini ditujukan untuk mengurangi atau mengatasi tekanan emosional yang berkaitan dengan situasi yang terjadi. Cara ini lebih sering muncul pada saat orang merasa bahwa tekanan dipandang sesbagai sesuatu yang harus dijalani.
Tindakan yang dapat dikategorikan pada model EFC ini adalah :
1) Positif reinterpretation and growth, berpikir positif dan pertumbuhan. Merupakan penanggulangan masalah yang ditujukan untuk mengatasi tekanan emosi daripada tekanan itu sendiri.
2) Acceptance (penerimaan). Merupakan sebuah respons coping secara fungsional, dengan dugaan bahwa orang menerima kenyataan yang penuh tekanan dipandang sebagai orang yang berusaha menghadapi situasi yang terjadi. Acceptance menggambarkan sikap menerima suatu tekanan sebagai suatu kenyataan dan sikap menerima karena belum ada strategi aktif yang dapat dilakukan.
3) Denial (penolakan), merupakan respons coping dengan menolak atau mengkal suatu realita.
4) Behavoiral disengagement (penyimpangan perilaku), adalah kecenderungan untuk menurunkan upaya mengatasi tekanan, bahkan menyerah atau menghentikan upaya mencapai tujuan. Paling banyak terjadi pada saat pesimistis atau orang tidak mengharapkan hasil yang tidak terlalu baik.
5) Mental disengagement (penyimpangan mental). Terjadi melalui variasi aktivitas yang luas yang memungkinkan terhambatnya seseorang untuk berpikir tentang dimensi perilaku dan tujuan. Menggunakan aktivitas alternatif untuk melupakan permasalahan, seperti melamun, tidur atau menonton televisi.
6) Turning the religion (kembali pada agama). Upaya yang dilakukan seseorang untuk lebih mendekatkan diri pada agama (Tuhan) ketika berada pada tekanan. Agama dapat berperan sebagai sumber dukungan moral, sarana berpikir positif.
7) Fokus on and venting emotion, upaya seseorang dengan cara mengekspresikan perasaannya.
8) Alcohol drug disengagement (penyimpangan penggunaan alkohol), upaya seseorang untuk menghilangkan tekanan dengan cara pemakaian alkohol (minuman keras) dan obat-obatan.