• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETERAMPILAN-KETERAMPILAN DALAM PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU DAN KELUARGA.

H. KONSELING DALAM PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU DAN KELUARGA

I. KETERAMPILAN-KETERAMPILAN DALAM PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL DENGAN INDIVIDU DAN KELUARGA.

Allen Pincus & Anne Minahan (1973) mengemukakan area keterampilan dalam praktek pekerjaan sosial termasuk dalam pekerjaan sosial dengan individu dan keluarga, yaitu sebagai berikut :

1. Keterampilan Melakukan Kontak Awal.

Keterampilan pekerja sosial dalam melakukan kontak awal dengan individu dan keluarga merupakan bagian sangat penting dalam proses pertolongan. Kontak awal dimulai ketika pekerja sosial untuk pertama kalinya bertemu dengan klien (individu atau keluarga). Dalam hal ini ada isyarat untuk membuka percakapan, biasanya melalui apa yang disebut dengan “small talk”. Penampilan yang rileks dari pekerja sosial, dapat mendorong individu dan keluarga mengemukakan apa yang mendorongnya datang kepada pekerja sosial. Bagi sebuah keluarga, seberapa jauh kesiapannya, apakah mereka datang sudah mempunyai pemahaman terhadap masalahnya atau belum ?

Pada fase ini kemungkinan terjadi apa yang disebut dengan Resistensi, yaitu berkaitan dengan penolakan keluarga untuk berubah ; apakah mereka sudah benar-benar siap atau masih ada perasaan menolak. Resistensi sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu keluarga.

Ada 2 alasan terjadinya resistensi, yaitu : (a) Jika seseorang minta bantuan pada pihak lain, oleh suatu kebudayaan dianggap menunjukkan/ membuktikan kelemahan, (b) Ada kecenderungan untuk menolak perubahan terhadap gaya hidup yang sudah melekat pada diri seseorang. Dalam hal ini diperlukan keterampilan pekerja sosial untuk membentuk

Rapport (skill form Rapport). Rapport digunakan untuk menunjukkan kadar relasi yang ditandai oleh adanya keakraban atau keharmonisan antara pekerja sosial dengan pemerlu pelayanan. Elemen-elemen di dalam rapport :

a. Pekerja sosial mampu bersikap bersahabat atau ‘hangat’ serta memberikan perhatian penuh terhadap individu keluarga.

b. Pekerja sosial dapat menerima semua gagasan dan sikap yang ditunjukkan oleh individu keluarga.

c. Pekerja sosial dapat menerima individu keluarga sebagai teman yang memiliki derajat yang sama selama wawancara berlangsung

2. Keterampilan Melakukan Pengumpulan Data.

Pengumpulan data tentang diri individu dalam keluarga dilakukan melalui : a. Wawancara.

Wawancara (interview) adalah suatu alat atau keterampilan untuk mengumpulkan data dan informasai tentang masalah, kebutuhan dan potensi masing-masing individu keluarga. Dalam konseling, keterampilan wawancara sangat penting untuk mengeksplorasi masalah yang dialami individu dan keluarga secara mendalam. Wawancara-konseling selain digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi, juga merupakan proses penyembuhan, paling tidak memperoleh katarsis mental.

Dalam melakukan wawancara diperlukan keterampilan mendengarkan (listening skills). Mendengarkan berbeda dengan mendengar. Mendengar (hearing) merupakan respon fisik terhadap masuknya stimulus ; proses masuknya suara ke telinga. Sedangkan mendengarkan (listening) merupakan proses memaknai, memahami dan merespon terhadap suara yang masuk (mendengar aktif). Guna mendengar secara aktif, maka pekerja sosial dianjurkan untuk : jangan menyela pembicaraan, memberikan empati terhadap pembicara, mempertahankan keterlibatan, menunda evaluasi, mengorganisasi pesan, menunjukkan perhatian, dan memberikan umpan balik.

Dalam melakukan wawancara, diperlukan pula keterampilan menggunakan pertanyaan. Pertanyaan bukan semata-mata bertujuan untuk memperoleh jawaban, tetapi pertanyaan merupakan prosedur teknis yang dipergunakan secara ajeg dalam berbagai bentuk. Pertanyaan yang hanya dapat menimbulkan jawaban “ya” atau “tidak” pada dasarnya menunjukkan adanya kekurang-terampilan dan teknik yang jelek. Bentuk pertanyaan “mengapa” merupakan usaha untuk membantu melalui pemahaman yang lebih mendalam terhadap motivasi pemerlu pelayanan, dan “Apa” merupakan bentuk pertanyaan yang dapat menimbulkan penjelasan dan gambaran atau deskripsi.

c. Observasi.

Observasi atau pengamatan adalah salah satu keterampilan dalam proses pengumpulan data dan informasi dengan menggunakan panca indra. Data dan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah-masalah yang dialami individu dan keluarga diperoleh melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, rasa, dan lain sebagainya, sesuai dengan kemampuan panca indra.

d. Pencatatan (Recording).

Recording adalah keterampilan dalam melakukan pencatatan dan pelaporan kasus yang ditangani oleh pekerja sosial. Recording mendeskripsikan tentang apa, mengapa, untuk siapa, kapan, dimana, dan bagaimana caranya suatu pelayanan diberikan. Recording berfungsi sebagai dokumen, untuk kontinuitas pelayanan, untuk komunikasi antar pekerja sosial dan antar disiplin ilmu

3. Keterampilan Melakukan Asesmen.

Asesmen adalah suatu upaya pengungkapan dan pemahaman masalah. Asesmen juga merupakan proses dan produk pemahaman terhadap dasar-dasar tindakan pertolongan. Asesmen merupakan keterampilan analitik dan interaksional. Dalam pekerjaan sosial, asesmen disebut juga sebagai studi sosial, yaitu mengidentifikasi, menguji, dan mengindividualisasikan pemahaman tentang masalah-masalah psikososial individu keluarga, lingkungan ekologinya, formulasi analitik terpadu, dan rencana intervensi.

Negosiasi kontrak antara pekerja sosial dengan individu dan keluarga harus dibicarakan sebelum proses pertolongan berlangsung. Penyusunan struktur pertolongan pada dasarnya adalah menetapkan hakikat, batas-batas, dan tujuan-tujuan pertolongan. Tanggung jawab dan komitmen yang mungkin terjadi antara pekerja sosial dengan individu dan keluarga dirumuskan, baik mengenai struktur waktu (harus dinyatakan secara jelas) maupun struktur proses (individu/keluarga dan pekerja sosial terlibat secara aktif dalam proses mencapai tujuan yang mereka tetapkan. Selanjutnya dibuat “kontrak formal” (individu/keluarga dan pekerja sosial bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu yang mereka sepakati). 5. Keterampilan Membentuk Sistem Kegiatan.

Pembentukan sistem kegiatan merupakan pelaksanaan kegiatan untuk membantu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh individu dan keluarga atau melakukan upaya perubahan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik. Dalam hal ini pekerja sosial bersama-sama dengan individu keluarga menetapkan alternatif kegiatan. Prosedur operasional dalam menentukan sistem kegiatan tersebut didasarkan pada : (a) Penggunaan waktu pelaksanaan kegiatan, (b) setting tempat untuk berinteraksi antara individu keluarga dengan pekerja sosial, (c) norma-norma dalam berinteraksi dan pengambilan keputusan. 6. Keterampilan Memelihara dan Mengkoordinasikan Sistem Kegiatan.

Pekerja sosial berusaha untuk menjaga agar relasi dengan individu dan keluarga selama kegiatan pertolongan tetap berlangsung dengan baik, serta meningkatkan keterampilan individu keluarga dalam mengatasi masalahnya.

7. Keterampilan Memberikan Pengaruh/Mempengaruhi.

Selama kegiatan pertolongan berlangsung, pekerja sosial harus senantiasa dapat memberikan pengaruh yang kuat atau positif agar individu dan keluarga memiliki motivasi yang tinggi untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.

Dalam tahap terminasi (pengakhiran) semua langkah dan tujuan yang telah dicapai hendaknya dilakukan evaluasi dan disimpulkan. Jika ada tujuan-tujuan yang belum tercapai, hendaknya dicari sebab-sebabnya.

9. Keterampilan Melakukan Bimbingan Lanjut

Bimbingan lanjut perlu dilakukan antara lain untuk mengetahui sejauh mana individu dan keluarga mencapai kemajuan, dan untuk mendiskusikan masalah-masalah baru yang muncul dan berkembang dalam kehidupan individu keluarga. Pekerja sosial berusaha untuk lebih memantapkan kemandirian individu keluarga, terutama terhadap mereka yang karena berbagai sebab masih memerlukan bimbingan dan mencegah mereka agar tidak kembali menjadi klien.

Dokumen terkait