Oleh
LISMA (Magister Ilmu Hukum UNDIP)
Refleksi sosiologi hukum dalam upaya pembangunan hukum nasional
Menurut Soerjono Soekonto “sosiologi hukum dalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang secara analitis empiris menaganalisa atau mempelajari hubungan timbal balik antara hukum dengan gejala-gejala sosial”.
Menurut Satjipto Rahardjo “Sosiologi hukum adalah pengetahuan hukum terhadap pola prilaku masyrakat dalam konteks sosialnya”.
Sosiologi hukum merupakan sebuah ilmu yang tidak terpisah antara ilmu sosiologi dan hukum, objek dari sosiologi hukum adalah hukum dalam masyarakat sehingga kita dapat menganulir bahwa sosiologi hukum merupakan sebuah ilmu interdisipliner yang mencoba untuk mengetahui bagaimana berlakunya hukum dalam masayrakat atau bagaimana hubungan timbal balik antara masyarakat terhadap hukum atau bisa juga dikatakan bahwa sosiologi hukum merupakan sebuah pendekatan yang digunakan dalam upaya menerapkan hukum dalam masyrakat.
Pakar sosiologi hukum yang bermahzab sosiological jurisprudence yakni Roscoe Pound menegaskan bahwa kajian sosiologi hukum berupaya bagaimana agar hukum tersebut efektif berlaku dalam masayarakat. Tegas saja Pound selalu mendengungkan bahwa hukum adalah alat rekayasa sosial atau sarana rekayasa sosial menurut Muhctar kusumaatmadja. yang ingin ditekankan dalam hal ini hukum tidak hanya diterapkan berdasarkan norma melainkan penerapan hukum untuk menciptkan ketertiban masyrakat sehingga secara kedudukan sosiologi hukum ini berada posisi luar artinya penerapan hukum bergantung pada organ yang berada di luar hukum, yakni penegak hukum.
Kajian sosiologi hukum dapat dilihat sebagai law in action, artinya bagaiamana praktek-praktek dari hukum tersebut. berbeda dengan norma yang berada dalam hukum itu sendiri atau law in books, hukum dilihat sebagai suatu aturan-aturan yang terkodifikasi.
Sosiologi hukum mengintrodusir gejala-gejala sosial yang ada dalam masyrakat dengan optik hukum sehingga fenomena-fenomena sosial tersebut akan dijelaskan dengan pendekatan ilmu hukum dalam hal ini adalah norma-norma, dalam pengkajian akan diteliti mengapa masyrakat menaati hukum atau mengapa masyarakat melanggar hukum, . Perkembangan masyrakat akan berpengaruh besar terhadap kondisi hukum yang ada ,dalam pandangan sosiologi hukum, bahwa hukum adalah alat untuk mencapai kepentingan dalam masyarakat. Seperti yang kita ketahui bahwa kepentingan masyrakat tidak tetap dan selalu berubah-ubah maka hukum tidak dapat stagnan dan hanya akan berlaku pada kondisi serta situasi tertentu kerena jika hukum tersebut berlaku tetap maka kepentingan politik akan sanagat berpengaruh pada kondisi masyrakat tersebut.
Social enginering by law sebagai alat untuk merubah masyrakat bersifat sistematis,dimulai dari identifikasi problem sampai kepada jalan pemecahanya, yakni : 1.Mengenal problem yang dihadapi sebaik-baiknya, termasuk didalmnya mengenali dengan saksama masyrakat yang hendak menjadi sasaran dari penggarapan. 2.Memahami nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, hal ini penting dalam social engineering hendak diterapkan dalam kehidupan yang majemuk, seperti : tradisional, modern dan perencenaan. Pada tahap ini ditentukan nilai-nilai dari sektor mana yang dipilih. 3.Membuat hipotesa-hipotesa dan memilih mana yang paling layak untuk bisa dilaksanakan. 4. Mengikuti jalanya penerapan hukum dan mengukur efek-efeknya. Upaya sistematis ini dapat digunakan untuk melakukan perubahan dalam masyrakat dengan memperhatikan faktor-faktor lain sehingga perubahan itu dapat terjadi,misalnya faktor ekonomi dan penggunaan teknologi sehingga arah penyusunan dan penerapan hukum tersebut dapat mengantisipasi faktor-faktor tersebut.
Sosiologi hukum merupakan ilmu yang baru berkembang di perguruan tinggi hukum di indonesia setalah sebelumnya berlaku di berbagai negara-negara seperti Amerika yang pada saat itu digagas oleh Roscoe Pound yang menjadi hakim pada pengadilan Amerika namun istilah sosiologi hukum pertama kali diperkenalkan oleh Anzilotti pada tahun 1882 yang banyak terpengaruh oleh filsafat hukum dan ilmu hukum,
Ilmu ini dapat diketahui berlaku dalam masyrakat ketika terjadi konflik, dengan ini dapat dipahami karakteristik dari sosiologi hukum sebagai upaya mewujudkan fenomena hukum yang terjadi dalam masyrakat, yaitu :
1. deskripsi terhadap praktek-praktek hukum yang bergantung pada pola penerapan hukumnya yang ada di luar hukum tersebut.
2. menjelaskan faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi praktek-praktek hukum tersebut diterapkan.dalam hal ini objek sosiologi hukum adalah seluruh tingkah laku baik yang sesuai dengan hukum atau tingkah laku yang menyimpang dari hukum.
3. sosiologi hukum juga dapat menguji dengan persefekti empiris dan memprediksikan apakah hukum/norma bersesuaian dengan prakteknya artinya dapat diidentifikasi apakah penerapan hukum hanya berdasarkan dengan norma yang terulis atau melakuakan upaya timbal balik antara norma dengan fakta empiris di lapangan.
4. sosiologi hukum tidak melakuakan judgment terhadap hukum atau tingkah laku menaati atau melanggar hukum akan tetapi menerapkan hukum dengan optik sosiologi dengan tujuan menjelaskan fenomena hukum dalam masyrakat.
Namun dalam mempelajari sosiologi hukum sering muncul berbagai persoalan-persoalan seperti yang dikatakan oleh Prof Dr Soerjono Soekonto sebagai berikut :
2) persamaan dan perbedaan sistem hukum : upaya untuk membandingkan dan menyesuaikan antara sistem hukum yang general yang tidak mengalami penyimpangan di daerah masing” dengan sistem hukum yang berlaku di daerah tersebut.
3) Sifat sistem hukum yang Dualitas : dalam proses berhukum masyrakat terkadang menemukan keajegan karena adanya dualitas antara hukum dalam norma dan hukum yang sebagai produk penguasa.
4) hukum dan kekuasaan : sebagai salah satu produk politik sering terjadi konflik antara hukum yang dibuat oleh penguasa sehingga penerapan hukum harus disesuaikan pada fakta empiris di masyrakat karena jika hukum sebagai norma hanya diterapkan tanpa upaya ilmiah maka berpotensi menciptakan ceos dalam tatanan masyarakat.
5) hukum dan nila-nilai sosial budaya : hukum yang telah diciptakan atau ditemukan harus sesuai dengan nilai-nilai sosial budaya pancasila, misalanya sumber dari segala sumber hukum adalah pancasila sehingga hukum-hukum yang ada tidak boleh bertentangan dengan Guardnorm (pancasila) sebagai jati diri hukum indonesia.
6) Kepastian hukum dan kesebandingan : ini yang sering menjadi persoalan ketika membahas kepastian hukum, harus dipahami berbeda antara kepastian undang-undang dengan kepastian hukum. Indonesia sering disebut memiliki hukumcampuran hal ini didasarkan bahwa terdapat 5 hukum yang diberlakukan yakni hukum yang tertulis, putusan hakim, living law, Behaviour (prilaku), simbol-simbol secara umum hukum tersebut diitilah sebagai hukum yang terkodifikasi, tidak tertulis (hukum adat), hukum kebiasaan (praktek-praktek hukum antar bangsa) dan hukum agama. Hal yang selalu diperdebatkan antara kepastian hukum, apabila suat perbuatan tidak ada dasar hukum tertulisnya namun bertentangan dengan hukum lainya maka tetap dapat dijadikan sebagai dasar hukum, inilah yang dimaksudkan dalam UU kekuasaan Kehakiman (UU NO 48 Tahun 2009) bahwa Hakim dianggap tahu hukum dan tidak boleh menolak suatu perkara dengan dalih tidak ada hukumnya. Sedangkan kepastiaan undang-undang lebih mengacu kepada adanya aturan tertulis dalam suat undang-undang.
7) Peranan hukum sebagai alat untuk mengubah masyrakat : salah satu fungsi hukum adalah untuk mengubah masyarakat, arah perubahan yang dikehendaki oleh masyrakat dari segi hukum adalah ketertiban. Aturan yang telah dibuat tersebut diterapkan oleh penegak hukum agar dapat mencapai tujuan tersebut, hukum direkayasa untuk disesuaikan dengan kondisi sosial untuk mencapai kehendaknya.
itu penegak hukum mampu menguasai pengetahuan bidang hukum dan ilmu-ilmu yang ada di dalamnya.
Dari persfektif lain kajian Sosiologi hukum menjelaskan bagaiamana pengorganisasian sosial hukum, objek-obejanya adalah aparat penegak hukum seperti advokat,hakim, polisi dan legislator. Struktur yang kita sosroti dalam pengorganisasian sosial hukum adalah penegak hukum (legal strcture: Friedman), bagaimana para aparat penegak hukum dapat menerapkan hukum sebagai upaya kontrol sosial (socaial engineering) dengan tujuan ketertiban masyrakat dapat berjalan dengan efektif selain itu apa yang dikehendakai masyarakat dari hukum tersebut dapat terwujud seperti tujaun keadilan subtantif yang selalu didengungkan oleh Prof Satjipto Rahardjo.
Upaya pembaharuan hukum tentu meliputi pembaharuan pada 3 sistem hukum tersebut, yakni (materi, penegak hukum dan budaya hukum). Dalam pembaharuan hukum ini mengacu kepada hukum yang dicita-citakan (Ius constuendum), hal ini berkaitan dengan upaya legislator dalam merumuskan suatu aturan yang mana aturan tersebut harus memenuhi unsur filosofis, sosiologis dan yuridis-ilmiah. 3 komponen dari struktur hukum tersebut harus saling terkait satu sama lain, namun sebenarnya terdapat 1 unsur lain dari struktur hukum tersebut yakni pendidikan hukum ( khusunya pendidikan tinggi hukum ) namun unsur ini merupakan sebuah upaya personal dalam pengembangan dalam disiplin keilmuaan, hal ini perlu diperhatikan oleh perguruan tinggi hukum di indonesia sebagai upaya nasional untuk memperbaharui hukum nasional, misalnya menjadikan kurikulum bersama untuk semua perguruan tinggi yang disusun secara terstruktur dan sistematis. Sebagai progresifitas pembaharuan hukum, pembuat atau penemu hukum yakni legislator dan penegak hukum harus terhadap salah satu pasal dalam KUHP yang lama tentang perzinahan yang di atur dalam pasal 284 KUHP:
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:
1. a. Seorang pria yang telah kawin yang melakukan mukah (overspel) padahal diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya;
b. Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan mukah.
2. a.Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin.
3. b.Seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya.
lihat pada pasal tersebut di atas sangat bertentangan dengan cita negara indonesia sebagai Negara yang menjunjung tinggi spiritualitas yang tertera pada sila 1 pancasila “KeTuhanan yang Maha Esa” dan pancasila sebagai sumber segala hukum tidak boleh bertentangan dengan Guardnorm tersebut. Sebagai Negara hukum yang berlandaskan pada nilai spiritual tentu tidak mengehendaki nilai-nilai indvidualistik dan liberalistik yang mengutamakan paham kebebasan dformulasikan dalam suatu aturan dan penerapan hukum. Sehingga upaya pengembangan hukum nasional seharusnya mengakomdir aturan-turan normatif mengenai perzinahan. Adanya gejala-gejala sosial tersebut maka penegak hukum maupun legislator harus melakukan upaya responsif dengan merumuskan aturan normatif dalam KUHP sosial baru untuk menciptakan tatanan sosial yang stabil. karena dampak yang dapat ditimbulkan oleh aktifitas tersebut tentu akan meningkatkan penyakit HIV/AIDS (Secara kumulatif kasus HIV & AIDS 1 Januari 1987-30 September 2014, terdiri dari, HIV: 150296 dan AIDS: 55799) dan juga aktifitas tersebut menganggu masyarakat terlebih paham kebebasan-indvidualistik bertentangan dengan hukum lokalitas masyrakat indonesia.
Referensi
Ilmu Hukum,Prof Dr Satjipto Rahardjo, S.H M.H, PT Citra Aditya Bakti, Bandung 2006, Bab XI
Penegakan Hukum, Prof Dr Satjipto Rahardjo,Genta Publishing, Yogyakarta 2009 Hal ix
Kegunaan Sosiologi Hukum bagi Kalangan Hukum,Prof Dr Soerjono Soekonto,SH, M.A,PT. Citra Aditya Bakti Bandung 1989, Bab 1
Beberapa Aspek Pengembangan Hukum Pidana, Prof Dr Barda Nawawi Arief, SH, MH, Pustaka Magister Semarang 2011, Hal 1
Pokok-pokok Sosilogi hukum, Prof Dr Soerjono Soekanto SH MA,Rajawali press Bab 1 hal 13