• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resistensi Bangunan Karakter Manusia Ind

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Resistensi Bangunan Karakter Manusia Ind"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

RESISTENSI BANGUNAN KARAKTER MANUSIA

uang yang saling melekat. Di sekolah putra -putri bangsa ini dididik oleh gurunya untuk menjadi manusia yang berkarakter, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung ja wab. Namun seluruh usaha guru yang sangat melelahkan tersebut seakan menjadi sia -sia . Sebab sepulang sekolah, bangunan karakter yang belum kokoh tersebut dihancurkan oleh karakter negatif masyarakat yang terlahir dari rahim pendidikan di masa orde baru (orba) Soeharto dan juga media ma ssa yang setiap hari mewartakan tayangan-tayangan yang kurang mendidik. Kondisi tersebut diperpara h dengan masih lemahnya filterisasi internet yang menyebabkan begitu mudahnya akses terhadap konten-konten dewasa oleh anak dan remaja .

Dengan demikian, rusaklah bangunan karakter peserta didik yang sebelumnya dibangun oleh para guru di sekolah. Tujuan-tujuan pendidikan yang semula telah dirumuskan pemerintah pun mengalami deviasi. Seluruh mimpi bertemu ironi.

Pembangunan karakter peserta didik sangatlah penting sebagai upaya untuk melahirkan manusia Indonesia yang seutuhnya, sesuai amanah Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Manusia yang utuh yaitu manusia yang tidak sekedar cerdas secara logika, namun juga memiliki kecerdasan emosi dan spiritual yang memadai sehingga mampu menjadi manusia yang berdaya .

Dalam prosesnya, pembentukan bangunan karakter peserta didik bukan sekedar tanggung ja wab keluarga, kepala sekolah dan guru, dan warga masyarakat, namun juga tanggung jawab pemerintah yang berkewa jiban untuk menjaga proses tersebut agar tidak dicemari oleh nilai-nilai negatif yang tersimpan dalam karakter masyarakat dan muatan tayangan media ma ssa dan atau internet. Inilah yang dimaksud dengan melindungi seluruh tumpah darah Indonesia sebagaimana tersurat dalam pembukaan UUD 1945.

Jika pemerintah mampu membuat dan mengimplementasikan kebijakan pendidikan yang juga menjadi kebijakan publik yang dapat merekonstruksi karakter negatif masyarakat warisan orba dan semakin memperketat atura n tayangan media massa dan internet, maka bangunan karakter manusia Indonesia di era digital dapat terbentuk dengan sempurna sesuai harapan yang dicitakan.

(2)

A. Pendahuluan

Selama lima tahun terakhir, bangsa Indonesia telah disibukkan oleh

masalah-masalah yang seakan tidak kunjung selesai. Mulai dari persoalan politik yang

dijejali pemberitaan tentang para wakil rakyat dan aparatur pemerintahan yang

terjerat kasus korupsi dan atau asusila; persoalan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)

yang terhina dan bahkan kehilangan nyawa di negeri tetangga; kerusuhan antar

Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA) yang terjadi di Poso, Lampung

dan Madura; tawuran dan seks bebas di kalangan pelajar dan mahasiswa,

pertikaian antara polisi dan TNI; sampai polemik desentralisasi, resentralisasi dan

penggantian kurikulum pendidikan nasional yang dinilai sarat kepentingan dan

intervensi politik. Kerusakan moral bangsa sudah berada pada taraf yang sangat

mengkhawatirkan karena terjadi di semua lini, baik di birokrasi pemerintah,

penegak hukum, maupun masyarakat umum. Jika kondisi tersebut tidak segera

dibenahi, niscaya negara akan segera menemui kehancuran.

Salah satu penyebab terjadinya degradasi moral tersebut adalah lemahnya

pendidikan karakter, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat

sejak era orde baru hingga era pasca reformasi kini.

Menurut Simon Philips (dalam Mu’in, 2011), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju suatu sistem yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang

ditampilkan. Kemudian Hermawan Kartajaya (dalam Tafsir, 2012), berpendapat bahwa karakter adalah ―ciri khas‖ yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah ―asli‖ dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan ―mesin‖ pendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespons sesuatu. Selanjutnya menurut

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) (2010) karakter adalah

watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil

internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai

landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri

atas sejulmlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat

(3)

dapat disimpulkan sebagai seperangkat kepribadian seseorang yang memengaruhi

sikap, tindakan, dan reaksi orang tersebut terhadap situasi sosial dalam lingkungan

tempat hidupnya.

B. Bangunan Karakter Masyarakat Indonesia

Pendidikan adalah proses humanisasi (Tilaar, 2009), namun bukan berarti proses

tersebut hanya dapat berlangsung di sekolah formal, pendidikan memiliki konteks

yang luas, tidak terbatas oleh empat dinding. Ibnu Khaldun dalam bukunya,

Mukaddimah (2001), berpendapat bahwa, jika manusia tidak dididik oleh seorang

guru, ia akan tetap dididik oleh zamannya melalui peristiwa-peristiwa alam dan

gejala-gejala kehidupan yang ada. Akan tetapi, sekolah formal memiliki kelebihan dibandingkan dengan sekolah ―zaman‖, karena sekolah formal diorganisasi secara sistematis, terencana, terukur, dan menggunakan metode-metode ilmiah yang

sudah diakui oleh masyarakat. Dalam sekolah formal, anak dididik dengan

nilai-nilai yang luhur dan mulia.

Kemendikbud (dalam Yusuf, 2012) menyatakan bahwa nilai-nilai yang

dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari

empat sumber, yaitu:

1. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragama. Oleh karena

itu, kehidupan individu, masyarakat, dan dan bangsa selalu didasari pada

ajaran agama dan kepercayaannya.

2. Pancasila: negara kesatuan republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip

kehidupan Kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Artinya,

nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai-nilai-nilai yang mengatur

kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni.

3. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup

bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui

masyarakat itu. nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna

(4)

Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai suatu rumusan kualitas yang harus dimiliki

setiap warga negara Indonesia, dikembagkan oleh berbagai satuan pendidikan di

berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai

kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia.

Berdasarkan kepada empat sumber nilai tersebut, teridentifikasi sedikitnya 18

nilai/karakter untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa. Ke 18 nilai/karakter

tersebut adalah sebagai berikut.

1. Religius: sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama

yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup

rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur: Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang

yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi: Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,

pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin: Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai

ketentuan dan peraturan

5. Ker ja Keras: Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam

mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas

dengan sebaik-baiknya.

6. Kreatif: Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil

baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri: Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain

dalam menyelesaikan tugas-tugas

8. Demokratis: Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan

kewajiban dirinya dan orang lain

9. Rasa Ingin Tahu: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui

lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan

(5)

10.Semangat Kebangsaan: Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang

menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan

kelompoknya

11.Cinta Tanah Air: Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan

kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,

lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

12.Menghargai Prestasi: Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk

menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta

menghormati keberhasilan orang lain.

13.Bersahabat/Komunikatif: Tindakan yang memperlihatkan rasa senang

berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14.Cinta Damai: Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain

merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

15.Gemar Membaca: Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai

bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16.Peduli Lingkungan: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah

kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya

-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi

17.Peduli Sosial: Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada

orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18.Tanggungjawab: Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan

kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat,

lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam prakteknya, ke 18 nilai/karakter tersebut dibangun oleh guru di dalam diri

anak selama kegiatan belajar dan pembelajaran di sekolah, dan setelah itu, anak

akan bertemu dengan realitas sosial, baik di dalam keluarga maupun

masyarakatnya.

Dalam peranannya sebagai pembentuk karakter peserta didik, masyarakat adalah

bagian yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan, masyarakat memiliki andil yang

(6)

peserta didik dihabiskan dalam kehidupan sosial di masyarakat. Furqan (dalam

Majid & Andayani, 2012) mengungkapkan bahwa salah satu faktor penyebab

rendahnya pendidikan karakter adalah kondisi lingkungan yang kurang

mendukung pembangunan karakter yang baik.

Secara faktual, mayoritas masyarakat yang hidup pada masa sekarang adalah

masyarakat yang terlahir dari rahim pendidikan pada rezim orde baru Soeharto.

Sehingga bentuk dan warna bangunan karakter masyarakat tersebut selaras dengan

niat, maksud, dan tujuan di balik kebijakan-kebijakan pendidikan pada masa orba

yang cenderung otoriter dan militeristik guna melanggengkan kekuasaan.

Fathul Mu’in (2011) menilai bahwa karakter masyarakat Indonesia yang terbentuk pada era orde baru adalah karakter penakut dan tertindas (irlander), karena selama

kurun waktu itu (32 tahun) masyarakat dikendalikan oleh kekuasaan otoriter yang

menindas, memaksa, dan tidak demokratis. Sehingga pada akhirnya terlahir

manusia-manusia yang tumpul daya kritisnya, pandir dan juga lemah. Lingkaran

kekuasaan otoriter tersebut tidak saja meliputi sektor birokrasi pemerintahan dan

ekonomi, melainkan juga ranah pendidikan.

Pada masa orba, pendidikan Indonesia tidak lebih sebagai sebuah ruangan yang

dibatasi oleh empat dinding, sedang manusia yang berada di dalamnya dijadikan

sebagai objek penjejalan nilai-nilai dan pengetahuan yang penuh rekayasa guna

melanggengkan rezim yang berkuasa. Lebih dari itu, gaya militer yang sarat

kekerasan pun digunakan dalam mendidik siswa-siswi di sekolah-sekolah milik

pemerintah. Bahkan sampai saat ini, gaya militer masih digunakan dalam

mendidik para calon birokrat, IPDN adalah salah satu contohnya.

Dalam bukunya yang berjudul ―Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoretik & Praktik,‖ Fatchul Mu’in memaparkan secara rinci tentang infiltrasi dan hegemoni

(7)

1. Hegemoni militer dalam P & K (Pendidikan & Kebudayaan)

Selama rezim orba berkuasa, pemerintah melalui Perusahaan Film Negara (PFN)

gencar memproduksi film-film bergenre sejarah yang muatannya tidak objektif

dan cenderung menghitamkan nama Soekarno sementara di sisi lain memutihkan nama Soeharto. Nurani Soyomukti, dalam esainya yang berjudul ―Menguak

Ideologi Militer dalam Film Indonesia‖ mengungkapkan bahwa, di masa

pemerintahan militeristik orba, film digunakan untuk mengonstruksikan

pandangan ideologis warga negara yang tujuannya adalah mengekang kehidupan

berdemokrasi. Paham nasionalisme semu ditebarkan melalui film-film perjuangan

merebut kemerdekaan, tetapi menyembunyikan fakta bahwa pemerintah

melakukan upaya yang sistematis untuk menciptakan ketundukan, menumpulkan

nalar kritis sebagai landasan kehidupan berdemokrasi. Film-film tersebut di

antaranya adalah Janur Kuning (1979), dan Serangan Fajar (1983) yang

menceritakan tentang serangan umum 1 Maret 1949 yang di dalamnya lebih

menonjolkan peran Soeharto dalam merebut Yogyakarta (Ibukota negara waktu

itu), sedangkan peran diplomatis yang sangat menentukan dari Sultan Hamengku

Buwono IX, dinegasikan.

2. Hegemoni Militer dalam historiografi dan pelajaran sejarah Indonesia

Dalam rentang waktu 32 tahun berkuasanya rezim orba yang dipimpin oleh

Soeharto, buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah didominasi oleh militer

baik dari segi isi maupun substansinya. Fatchul Mu’in (2011) mengutip hasil

penelitian yang dilakukan oleh Catherin Mcgregor yang kemudian dijadikan

sebuah buku berjudul Hostory in Uniform: Militar y Ideology and the Construction of Indonsia’s Past (2007) secara rinci menjelaskan adanya keseragaman dan ketunggalan historiografi Indonesia. Menurutnya, bangunan historiografi yang

menyeragamkan cara orang Indonesia memaknai dan merekonstruksi masa

lalunya merupakan buah dari keberhasilan militer dalam menempatkan

(8)

Buku-buku sejarah dimaksud antara lain adalah Dharma Pustaka 45, buku yang

dijadikan panduan bagi pewarisan nilai-nilai 1945 dan ABRI kepada generasi

muda ABRI (sekarang TNI); Pendidikan Sejarah dan Per juangan Bangsa

(PSPB); dan buku Sejarah Nasional Indonesia , terutama volume tiga yang sarat

akan kontroversi karena muatannya yang bias dan terlalu subyektif dalam menilai

pelaku-pelaku sejarah.

Sebagai akibat dari hegemoni militer dalam ranah pendidikan dan kebudayaan

yang berlangsung cukup lama, putra-putri bangsa yang mengenyam

pendidikannya di sekolah dalam rentang waktu itu, telah dibentuk untuk menjadi

manusia yang berkarakter feodal, tertekan, anti kritik, pragmatis dan over-apatis.

Dengan demikian, dunia pendidikan Indonesia belum mampu memanusiakan dan

memerdekakan peserta didiknya sendiri. Merdeka dalam pandangan Tilaar (2009)

adalah bahwa peserta didik tersebut diajari dengan ilmu pengetahuan dan dididik

dengan kearifan sehingga mampu meningkatkan potensi yang dimilikinya;

mampu menjadi manusia yang berdaya dan tidak bergantung kepada orang lain.

Memanusiakan dalam pandangan Freire (2009) adalah agar manusia tersebut

menjadi manusia yang utuh. Sedangkan definisi utuh itu sendiri bergantung

kepada pandangan filosofis bangsa yang melaksanakan pendidikan tersebut.

C. Media Massa dan Peranannya dalam Perusakan Karakter Bangsa

Pada era Presiden Soeharto, insan pers tidak sebebas sekarang. Mereka senantiasa

waswas. Salah memberitakan, media terancam diberedel atau dicabut izin

terbitnya oleh pemerintah.

Menjelang akhir 1970, sejumlah surat kabar nasional ditutup. Mereka

diperbolehkan beroperasi kembali setelah menyanggupi untuk tidak melancarkan

kritik keras kepada pemerintah. Pemberedelan terulang pada pertengahan

1990-an. Sejumlah media cetak terpaksa tutup.

Di era Presiden BJ Habibie, setelah Soeharto mundur pada 1998, kebebasan pers

(9)

bebas membuat perusahaan penerbitan. Maka, di tengah euforia reformasi yang

meledak-ledak, tabloid, koran, dan majalah pun bermunculan dengan berita-berita

politik yang begitu dominan.

Pers Indonesia semakin semarak mulai tahun 2000 karena bermunculan media

-media di internet. Situasi semakin meriah karena hadir pula stasiun televisi yang

fokus pada siaran berita. Kontras dengan di era Orde Baru yang minim sumber

informasi, sejak tahun 2000 masyarakat Indonesia seperti kebanjiran informasi.

(Kompas.com [11/02/12]).

Melalui Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Kebebasan Pers, Habibie

membuka rantai yang selama ini mengekang kebebasan pers Indonesia. Kebijakan

tersebut sangatlah baik mengingat salah satu konsep dari sistem negara yang yang

demokrasi adalah adanya peran media massa yang bebas (Huntington dalam Poti,

2011).

Sebagai wujud terima kasih pers kepadanya, BJ Habibie, menerima penghargaan

medali emas sebagai tokoh pencetus kebebasan pers pada masa jabatannya

dahulu. Apresiasi tersebut disematkan oleh Ketua Dewan Pers Nasioanl, Bagir

Manan, saat peringatan Hari Pers Nasional di Grand Kawala, Hotel Novotel,

Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (9/2/13).

Menurut Denis McQuail (1987) sebagaimana dikutip Poti (2011), Kebebasan

media massa atau pers harus diarahkan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi

masyarakat dan khalayaknya, bukan hanya sekadar untuk membebaskan media

massa dan pemiliknya dari kewajiban harapan dan tuntutan masyarakat.

Dewasa ini, media massa seperti Televisi (TV), begitu leluasa menayangkan

pemberitaan seputar kriminalitas, sinetron, film, infotainment, dan acara musik

baik dari dalam maupun luar negeri yang dikonsumsi oleh masyarakat dari

berbagai tingkat usia dan strata sosial. Conny R. Semiawan (dalam Yusuf, 2011) mengemukakan bahwa, ―sayangnya tidak semua tontonan itu cocok ditonton oleh anak. Beberapa di antaranya bahkan ada yang bisa berpengaruh negatif terhadap

(10)

berkurang, tetapi lebih parah lagi dapat merangsang berkembangnya perilaku-perilaku negatif pada anak.‖

Kemudian ditambah dengan adanya internet yang melahirkan tren Jurnalisme

Warga (Citizen Journalism) sebagai konsekuensi dari lahirnya web 2.0 yang

memungkinkan masyarakat pengguna internet menempatkan dan menayangkan

konten dalam bentuk teks, foto dan video di dunia maya. Akibatnya, penyebaran

nilai-nilai (posotif/negatif) terjadi secara masif. Demokrasi memang identik

dengan kebebasan, namun harus dapat dipertanggungjawabkan. Karena demokrasi

yang kebablasan akan menimbulkan potensi permasalahan sosial yang tinggi.

Tayangan-tayangan media massa yang setiap hari disuguhkan kepada masyarakat

memiliki potensi untuk mereduksi nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom)

masyarakat dan secara perlahan menggantikan nilai tersebut dengan

nilai-nilai asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa. Hal tersebut dapat kita lihat

dari realitas sosial saat ini, di mana sebagian warga masyarakat, remaja khususnya

lebih senang mengikuti budaya-budaya non-Indonesia dalam kehidupannya

sehari-hari.

Berlatar belakang kondisi tersebut, pada tahun 2002 pemerintah membentuk

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang merupakan sebuah lembaga independen

di Indonesia yang kedudukannya setingkat dengan lembaga negara lainnya yang

berfungsi sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran di Indonesia. Komisi ini

berdiri berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002

Tentang Penyiaran. Wewenang dan lingkup tugas KPI meliputi pengaturan

penyiaran yang diselenggarakan oleh Lembaga Penyiaran Publik, Lembaga

Penyiaran Swasta, dan Lembaga Penyiaran Komunitas.

Semangatnya adalah pengelolaan sistem penyiaran yang merupakan ranah publik

harus dikelola oleh sebuah badan independen yang bebas dari campur tangan

pemodal maupun kepentingan kekuasaan.

Telah banyak jasa KPI bagi masyarakat Indonesia, di antaranya adalah dengan

(11)

tidak bersesuaian dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Penutupan

acara Empat Mata di Trans 7, Skorsing Acar Pesbukers di AnTV, dan Dahsyat

RCTI adalah tiga di antaranya.

Namun dalam perjalanannya, KPI belum dapat melaksanakan tugas dan fungsinya

dengan sempurna, mengingat keterbatasan KPI itu sendiri dalam menilai dampak

yang dapat ditimbulkan dari tayangan-tayangan media massa yang beredar luas di

masyarakat.

Tayangan sinetron, misalnya. Sering kali masyarakat disuguhi dengan tontonan

yang kurang mendidik: bercerita tentang seorang ibu yang tega menganiaya

anaknya sendiri, anak yang melawan kepada orang tuanya, anak-anak sekolah

berambut gondrong, guru yang tidak berwibawa, percintaan anak -anak SMA,

SMP dan bahkan SD. Kemudian ditambah dengan tayangan infotainment yang

menyuguhkan gosip (ghibah) dari pagi sampai petang; dari Senin sampai Minggu.

Semua itu lambat-laun akan meruntuhkan bangunan karakter masyarakat,

terutama anak-anak. Selanjutnya diperparah dengan tayangan iklan-iklan rokok

yang bertebaran baik di TV, reklame, baliho, dan layar-layar LED di jalan-jalan

protokol kota-kota besar di Indonesia. tayangan rokok yang menggambarkan

sebuah petualangan, kejantanan lelaki dan kebanggaan, telah menjadikan bangsa

ini bangsa tembakau.

Menurut Hadi Supeno (2013), banyak yang tidak menyadari bahwa Indonesia

sekarang menempati posisi kelima tertinggi dalam konsumsi tembakau sejak

tahun 2004, dan persentase perokok dewasanya paling tinggi di Asia Tenggara.

Menurut Dr. TB Rachmat Sentika, SP. A., Prevalensi perokok dewasa mencapai

34,40 % pada tahun 2007, sedangkan perokok usia 13-15 tahun mencapai 24,5 %.

Survei Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terjadinya

peningkatan jumlah perokok yang mulai merokok pada usia di bawah usia 19

tahun, dari 69 % pada tahun 2001 menjadi 78 % pada tahun 2004. Survei ini juga

menunjukkan tren usia inisiasi merokok menjadi semakin dini, yakni usia 5-9

(12)

yang paling signifikan, dari 0,4 % pada tahun 2001 menjadi 1,8 % pada tahun

2004.

Hal itu sejalan dengan pemantauan KPAI, akhir-akhir ini kebiasaan merokok

aktif pada anak cenderung meningkat dan dimulai pada usia semakin muda, yaitu

pada masa akhir usia sekolah atau masa remaja. Penelitian Universitas Andalas

dengan responden di kecamatan Padang Barat tahun 2004 menunjukkan bahwa,

sebesar 97,7 % anak memulai merokok pada usia di bawah 16 tahun. Begitu pula

dengan penelitian di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2004 menunjukkan

data-data sebagai berikut :

- Remaja mulai merokok umur 7 – 12 tahun sebanyak 20,84 % untuk laki-laki

dan 4, 17 % untuk perempuan.

- Umur 13-15 tahun laki-laki sebanyak 12,50 % dan bagi perempuan sebanyak

8,33 %.

- Umur 16 – 18 tahun laki-laki sebanyak 47,92 % dan bagi anak perempuan

sebanyak 6,25 %.

Semua ahli kesehatan termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama

menyimpulkan, bahwa secara kesehatan, rokok banyak menimbulkan dampak

negatif, lebih-lebih bagi anak dan masa depannya. Rokok mengandung 4000 zat

kimia dengan 200 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan

kanker), di mana bahan racun ini didapatkan pada asap utama maupun asap

samping, misalnya karbon monoksida, benzopiren, dan amoniak.

Sayangnya menyerukan ajakan berhenti merokok di negeri ini ibarat berteriak di

padang pasir yang luas. Sekeras apapun, sampai suara serak dan urat leher

meregang sekeras baja, tidak ada orang yang mengindahkannya. Sebabnya jelas,

banyak pihak sangat berkepentingan dengan rokok; lapangan kerja, pertumbuhan

ekonomi, penyangga APBN, sampai penjamin keberlangsungan kompetisi olah

(13)

Keuntungan di atas Kematian

Departemen Perindustrian dalam road map industri rokok 2007-2020

menyebutkan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan produksi rokok dari

220 miliar batang pada tahun 2007, menjadi 240 miliar batang pada tahun

2010-2015, dan terus meningkat menjadi 260 miliar batang pada tahun 2015-2020

(Suara Pembaruan, 7 Januari 2008).

Pemerintah begitu bangganya menyusun target-target pertumbuhan industri rokok

karena pada kondisi seperti sekarang saja dari cukai rokok memberikan 57 trilyun

rupiah setahun. Bandingkan dengan kontribusi Freport yang sering diributkan itu

hanya memberi kontribusi Rp 1 trilyun rupiah setahun. Tak pelak bila sampai

sekarang pemerintah RI satu-satunya negara di Asia yang tidak mau meratifikasi

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), walaupun Indonesia adalah

1 dari 192 negara anggota WHO, dan 137 di antaranya telah meratifikasi FCTC

tersebut.

Demi 57 triliun rupiah per tahun, rakyat dikorbankan, rakyat didorong untuk

membeli rokok, rakyat dirayu untuk menghisap racun yang mematikan secara

perlahan. Inilah yang disebut sebagai politik ekonomi profiting from

death (menuai keuntungan dari kematian). Lagi-lagi korbannya dari penduduk

miskin, karena konsumsi terbesar rokok dilakukan oleh kelompok miskin.

Yang mengerikan, ―penanggukkan keuntungan dari kematian‖ itu bukan hanya dari orang dewasa yang dalam setiap hisapan asap rokok menyadari bahaya yang

ditimbulkannya, tetapi juga dari anak-anak yang semestinya diberikan hak

lingkungan sehat dan dilindungi dari racun pembunuh nikotin dan zat adiktif

sejenisnya.

Internet

Era global dapat dimaknai sebagai era dunia terbuka. Thomas Friedmen (dalam

Tilaar, 2009) mengidentifikasikan tiga fase perkembangan dunia terbuka. Fase

(14)

perdagangan internasional yang lebih luas; fase kedua adalah perkembangan ilmu

pengetahuan yang melahirkan industrialisasi, terutama di negara-negara barat; dan

fase ketiga adalah dunia yang rata, ditandai dengan hilangnya batas-batas negara

(transnasional) dan perdagangan bebas. Dalam fase ketiga inilah dunia

benar-benar menjadi sebuah desa yang sangat besar berkat adanya kemajuan teknologi

informasi dan internet yang telah mengubah cara pergaulan dan gaya hidup

masyarakat dunia.

Dalam pemanfaatannya, internet dapat membuat seseorang, termasuk anak-anak

memperoleh segala macam informasi dengan lebih mudah. Namun keamanan

internet yang lemah bisa membuat anak mendapatkan informasi yang salah;

informasi yang tidak seharusnya diketahui.

Sebagian besar masalah keamanan internet untuk anak-anak tersebut adalah

seputar informasi tentang seks termasuk pornografi dan juga kekerasan. Jika

Informasi yang diterima anak-anak tersebut berlangsung secara intens dalam

kurun waktu yang relatif lama, hal ini bisa mempengaruhi perilakunya; merusak

bangunan karakter anak.

Dilatarbelakangi—salah satunya—oleh kondisi tersebut, pada tahun 2008 pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 11 tentang

Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Sedangkan pengaturan mengenai

perbuatan yang dilarang (cybercrimes) mengacu pada ketentuan dalam EU

Convention on Cybercrimes, 2001. Beberapa materi perbuatan yang dilarang

(cybercrimes) yang diatur dalam UU ITE, antara lain: konten ilegal, yang terdiri

dari, antara lain: kesusilaan, perjudian, penghinaan/pencemaran nama baik,

pengancaman dan pemerasan (Pasal 27, Pasal 28, dan Pasal 29 UU ITE).

D. Kebijakan Pendidikan sebagai Kebijakan Publik

Berasumsi kepada pemaparan di atas, diperlukan adanya sinergitas, upaya yang

serius, sistematis, dan berkelanjutan dari seluruh pihak terkait yang meliputi

keluarga, masyarakat, dan pemerintah guna menuntaskan persoalan-persoalan

(15)

berlangsung dengan baik jika terdapat kebijakan-kebijakan pemerintah yang

menjadi pandangan hidup bersama.

Kebijakan di sini berada dalam konteks yang lebih spesifik dan inhern antara

kebijakan pendidikan dan kebijakan publik, karena secara substantif,

kebijakan-kebijakan pemerintah dalam ranah pendidikan dan ranah publik yang selama ini

ada cenderung berjalan masing-masing; tidak menyatu satu dengan lainnya.

Contohnya riilnya adalah kebijakan pemerintah dalam mendirikan KPI dan

lahirnya UU ITE. Meskipun keduanya bertujuan untuk mereduksi hal-hal negatif

yang dapat ditimbulkan dari tayangan-tayangan media massa dan internet, namun

itu masih bersifat umum, belum menyentuh harapan pendidikan. Sinetron-sinetron

yang menampilkan anak-anak usia SD dan menengah yang berpacaran,

berpenampilan menor di sekolah, memakai barang-barang mewah, berbahasa

tidak santun, melawan kepada orang tua dan guru, dan sosok guru yang tidak

berwibawa adalah konten-konten yang seharusnya mendapat penekanan secara

khusus dalam kebijakan-kebijakan tersebut. Karena sejatinya hal-hal tersebutlah

yang menjadi penyebab utama rusaknya bangunan karakter manusia Indonesia di

era digital saat ini.

Tilaar (2009) berpendapat bahwa, infiltrasi paham neoliberalisme dalam ranah

pendidikan telah mengakibatkan terjadinya benturan antara idealisme pendidikan

dengan tuntutan-tuntutan pragmatis dari era globalisasi yang didominasi

paradigma ekonomi. Sehingga kebijakan-kebijakan pendidikan yang lahir pun

lebih bersifat materialistis; Money oriented.

E. Kesimpulan

Permasalahan pendidikan akan selalu ada dalam setiap ruang dan waktu manapun

di dunia ini. Oleh karena hal tersebut merupakan sunatullah; suatu fitrah yang

keberadaannya seiring dengan keberadaan manusia itu sendiri.

Dengan banyaknya permasalahan-permasalahan pendidikan yang mengemuka,

seolah menjadi preseden buruk bagi masa depan bangsa Indonesia;

(16)

menyapu bersih seluruh karat yang melekat di tubuh bangsa itu, tidak hanya

dibutuhkan usaha-usaha kuratif, namun juga usaha-usaha preventif untuk

mengantisipasi terulangnya masalah-masalah tersebut di masa depan. Secara

mendasar, ketegasan dan kepastian hukum adalah syarat utama yang harus

melandasi dan melindungi implementasi solusi yang ada. Karena seberapa baik

dan sempurnanya suatu konsep solusi, tidak akan bisa menyelesaikan

permasalahan sampai tuntas tanpa adanya ketegasan dan kepastian hukum bagi

seluruh warga negara. Menyoal konsep negara yang ideal—termasuk di dalamnya pendidikan—Segalanya telah sangat jelas dan gamblang tertera dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila yang menjiwai setiap pasal yang termuat dalam

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), namun konsep-konsep itu hancur

lebur bak perahu menabrak karang, karena tidak dijalankan dengan semestinya

oleh para petugas yang berwenang sehingga mewujudlah kenyataan hari ini

bersama segala problema di dalamnya. Untuk itu, pendidikan karakter memiliki

urgensi yang sangat penting guna mendidik dan membina manusia Indonesia agar

tidak sekedar cakap membuat konsep-konsep kebaikan, namun lebih dari itu

adalah mampu mengimplementasikan konsep-konsep tersebut secara benar dan

(17)

Daftar Pustaka

Budiningsih, C. A (2004). Pembela jaran Moral Berpijak pada Karakteristik Siswa dan Budayanya. Jakarta: Rineka Cipta.

Darmadi, H. (2009). Dasar Konsep Pendidikan Moral: Landasan Konsep dan Implementasi. Bandung: Alfabeta.

Freire, Illich, & Fromm. (2009). Menggugat Pendidikan: Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis (Omi Intan Naomi,Trans.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Khaldun, I. (2001). Mukaddimah. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Komarudin, U & Sukardjo, M. (2012). Landasan Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Majid, A & Andayani, D. (2012). Pendidika n Karakter Perspektif Islam. Bandung: Rosda.

Mu’in, F. (2011). Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoretik dan Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Poti, J. (2011). Demokratisasi Media Massa dalam Prinsip Kebebasan. Jurnal Ilmu Politik Dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1, 2011.

Supeno, H. (2013). Menyelamatkan Anak dari Bahaya Rokok. Diakses pada 14 Maret, 2013, dari http://www.kpai.go.id/index.php/tinjauan-anak-3/114-menyelamatkan-anak-dari-bahaya-rokok

Tilaar, H. A. R. & Nugroho, R. (2009). Kebijakan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tirtarahardja, U & Sulo, L (2005). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya formula dari logika Fuzzy yang dibuat pada penelitian ini, maka informasi dalam menentukan layak atau tidaknya penggantian ban dapat diputuskan

Secara legal perawat dapat melakukan aktivitas keperawatan mandiri berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang di miliki. Perawat dapat mengevaluasi

Kepala divisi dalam proses dapat login, data user kepala divisi, report hasil produksi, informasi notifikasi, validasi data dan konfirmasi data, serta kepala bagian dapat

Disamping itu Pemerintah Pusat menyediakan dana dekonsentrasi untuk mendukung provinsi dalam melaksanakan pelatihan bagi 600 tenaga entomolog pada tahun 2017 dari

Hacking Aplikasi dan Sistem Linux 1 Iwan Setiawan <[email protected]> Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) Jogjakarta http://jogja.linux.or.id

Selain membandingkan nilai F hitung n F tabel, dengan membandingkan nilai Sig dengan nilai α yaitu Sig < α 5% (0,001 < 0,05) maka Ho ditolak dan Ha

Nuoret toivovat tilaa, jossa oleskelu olisi mahdollis- ta sekä yksin että yhdessä: yhdessä oleskelun tarve koettiin kaikkein tärkeimmäksi, mut- ta suurin osa oli sitä mieltä,