• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM BERBASIS PENGETAHUAN DALAM PROGRAM MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) UNTUK BAYI DIBAWAH 2 BULAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SISTEM BERBASIS PENGETAHUAN DALAM PROGRAM MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) UNTUK BAYI DIBAWAH 2 BULAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM BERBASIS PENGETAHUAN DALAM PROGRAM MANAJEMEN

TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) UNTUK BAYI DIBAWAH 2 BULAN

Hamzah

Teknik Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Respati Yogyakarta

Jl. Laksda Adisucipto Km 6.3 Depok Sleman Yogyakarta Email : [email protected]

Abstract

Integrated Management of Childhood Healthy is an approach that was initiated by WHO and UNICEF to prepare health workers conduct an assessment, classification and provide measures to children against diseases that can be life-threatening. Inadequate number of trained health personnel and lack of understanding of the parents to the disease of children under five become an obstacle in the program Integrated Management of Childhood Healthy resulting in the risk of death for children under five.

This research aims to develop software that can assist medical personnel in conducting the assessment, analysis, diagnosis and action to infants under the age of 2 (two) months of the disease experienced. This knowledge-based system developed with PHP and MySQL as DBMS.

Results of this study are expected to assist medical personnel in providing service to provide independent training for all medical personnel, medical personnel and community candidates in the management program of Integrated Management of Childhood Illness in young infants under the age of 2 months.

Keywords: Knowledge Base, Integrated Management of Childhood Illness, Medical

PENDAHULUAN

(2)

dapat dilatih MTBS, perpindahan (mutasi) tenaga kesehatan yang telah dilatih, kurang lengkapnya sarana dan prasarana pendukung, dsb. Sebagai gambaran, jumlah Puskesmas di seluruh Indonesia ada sekitar 7500 Puskesmas (data Depkes tahun 2006), untuk menerapkan MTBS perlu dilatih 2 orang tenaga kesehatan di setiap Puskesmas. Dalam 1 kali penyelenggaraan pelatihan MTBS kita dapat melatih 30-40 tenaga kesehatan yang dibagi dalam 3-4 kelas dengan lama pelatihan 6 hari. Apabila dalam 1 tahun Depkes (pusat) hanya menyelenggarakan pelatihan MTBS 10 kali saja (jumlah ini sudah termasuk banyak, mungkin kurang dari itu), maka berarti Depkes hanya dapat meng-cover sekitar 300-400 tenaga kesehatan/tahun atau sekitar 5 % saja yang dapat dilatih MTBS. Belum lagi bila dikurangi jumlah tenaga kesehatan yang pindah atau pensiun maka jumlah itu sangat tidak memadai Wijaya[9].

Hasil penelitian yang dilakukan Mardijanto, Hasanbasri (2005) menyimpulkan bahwa bahwa pelaksanaan MTBS telah berjalan bergantung pada petugas yang sudah pernah dilatih. Kinerja proses seperti kelengkapan pengisian formulir dan pembuatan klasifikas keluhan terjadi tidak bertambah baik selama periode tiga tahun. Meskipun mutu pelayanan dan pengelolaan pneumonia bertambah baik, angka rasio kotrimoksasol belum menggembirakan. Hasil seperti ini, menurut kami terkait dengan dukungan manajemen yang lemah di tingkat puskesmas maupun dinas kesehatan.

Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan oleh Hidayati, ,Wahyono [5] diperoleh simpulan bahwa ada hubungan antara tatalaksana pelayanan MTBS dengan kejadian pneumonia balita di wilayah kerja Puskesmas Bergas dengan nilai p ( 0,037) < α (0,05). Tidak ada hubungan antara perilaku petugas MTBS dengan kejadian pneumonia balita di wilayah kerja Puskesmas Bergas dengan nilai p ( 0,867) > α (0,05). Ada hubungan antara sarana pendukung MTBS dengan kejadian pneumonia balita di wilayah kerja Puskesmas Bergas dengan nilai p ( 0,018) < α (0,05).

Penelitian yang dilakukan Pratono, dkk[7] membuktikan bahwa puskesmas memiliki semangat untuk mengimplementasi program inovasi. Yang baru mereka bisa kerjakan adalah membuat contoh case management dari sisi ruangan, alur pelayanan, serta pencatatan dan laporan. Dinas Kesehatan baru mampu mengembangkan program MTBS sebatas penyelenggaraan pelatihan dan mendorong puskesmas untuk memulai. Ini pun dilakukan sebatas meneruskan program dari pusat dan WHO. Fungsi case manager ini didukung oleh manajemen uskesmas. Pengembangan program ini di tingkat puskesmas menuntut adanya otonomi puskesmas menuntut adanya otonomi puskesmas yang lebih luas sehingga mereka dapat mencari strategi dari lapangan yang bisa cocok dengan kebutuhan pemecahan masalah dalam implementasinya.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence merupakan bagian dari ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan oleh manusia. Sistem cerdas (intelligent system) adalah sistem yang dibangun dengan menggunakan teknik-teknik artificial intelligence. Kusumadewi[6].

Sistem Pakar (Expert System) adalah program berbasis pengetahuan yang menyediakan solusi-solusi dengan kualitas pakar untuk problema-problema dalam suatu domain yang spesifik. Sistem pakar merupakan program komputer yang meniru proses pemikiran dan pengetahuan pakar dalam menyelesaikan suatu masalah tertentu Kusumadewi[6].

Implementasi sistem pakar / program berbasis pengetahuan banyak digunakan pada berbagai bidang karena sistem pakar dipandang sebagai cara penyimpanan pengetahuan pakar pada bidang tertentu dalam program komputer sehingga keputusan dapat diberikan dalam melakukan penalaran secara cerdas.

(3)

Rohman, Fauzijah [10] dalam penelitiannya melakukan rancang bangun dengan implementasi yang diterapkan sistem pakar dalam bidang psikologi, yaitu untuk sistem pakar / Sistem Berbasis Pengetahuan untuk menentukan jenis gangguan perkembangan pada anak. Anak-anak merupakan fase yang paling rentan dan sangat perlu diperhatikan satu demi satu tahapan perkembangannya. Contoh satu bentuk gangguan perkembangan adalah conduct disorder. Conduct disorder adalah satu kelainan perilaku dimana anak sulit membedakan benar salah atau baik dan buruk, sehingga anak merasa tidak bersalah walaupun sudah berbuat kesalahan. Dampaknya akan sangat buruk bagi perkembangan sosial anak tersebut. Oleh karena itu dibangun suatu sistem pakar yang dapat membantu para pakar/ psikolog anak untuk menentukan jenis gangguan perkembangan pada anak dengan menggunakan metode Certainty Factor (CF).

Hartati [8] dalam penelitiannya mengembangkan sebuah aplikasi sistem pakar/ Sistem Berbasis Pengetahuan yang mampu menjadi media konsultasi penyakit kelamin pria. Sistem ini melakukan diagnosa penyakit berdasarkan dari gejala-gejala yang diinputkan ke sistem. Gejala-gejala ini sering mengandung ketidakpastian yang bisa terjadi karena informasi atau fakta yang tidak lengkap. Untuk mengatasi masalah ketidakpastian ini, system mengadopsi metode certainty factor

berdasarkan probabilitas Bayesian.

Dari berbagai permasalahan terkait tatalaksana MTBS, hasil-hasil penelitian yang menyangkut MTBS dan penelitian perangkat lunak yang sudah dikembangkan terkait rancang bangun sistem pakar seperti yang sudah diuraikan diatas, maka peneliti berkinginan untuk mengembang aplikasi sistem pakar untuk manajemen terpadu balita sakit untuk bayi usia muda dibawah 2 (dua) bulan yang nantinya diharapkan dapat membantu departemen kesehatan dalam hal ini bagi seluruh petugas kesehatan yang jumlahnya terbatas dan juga masyarakat yang secara mandiri dapat belajar untuk dapat serta berpatisipasi dalam program manajemen terpadu balita sakit agar dapat berkelanjutan.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah pengembangan sistem pakar dalam manajemen terpadu balita sakit pada bayi muda umur kurang dari 2 bulan. Pengembangan aplikasi pakar nantinya berbasis web dengan perangkat lunak pengembang dengan bahasa pemrograman PHP dan basisdata menggunakan MySQL.

METODE PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Desain penelitian yaitu tahapan yang akan dilakukan dalam melakukan penelitian untuk mempermudah dalam melakukan penelitian. Desain Penelitian digambarkan seperti gambar 1.

2. Metode Pengumpulan Data a. Studi Literatur

Tahap ini merupakan tahapan pengumpulan pengetahuan dari sumber buku, hasil penelitian yang mendukung penelitian.

b. Wawancara

Melakukan wawancara langsung kepada orang-orang yang terlibat langsung dalam proses asuhan keperawatan dan beberapa kasus yang ditangani

3. Metode Pengembangan Perangkat Lunak

(4)

Gambar 1. Desain Penelitian

Gambar 2. Tahapan pengembangan perangkat lunak

- Menentukan kebutuhan

data yang akan digunakan

- Menentukan alat dan

Bahan Penelitian

Metode Pengumpulan

data:

1. Studi Literatur 2. Wawancara 3. Observasi

Data Penelitian

Pengembangan Perangkat Lunak

Dokumentasi/Publikasi

Metode Pengembangan Perangkat Lunak:

1. Analisa 2. Desain 3. Kode 4. Test

Analisa

Desain

Code

(5)

a. Analisa

Identifikasi Awal, melakukan pengumpulan data terkait proses bisnis yang saat ini berjalan, data dan informasi yang dibutuhkan, yaitu: merumuskan Kelayakan Sistem, berdasarkan identifikasi awal yang sudah dilakukan berdasarkan infrastruktur, perangkat keras, perangkat lunak dan sumber daya manusia. Merumuskan Kebutuhan Sistem, berdasarkan identifikasi awal, berdasarkan data dan informasi yang dibutuhkan.

b. Rancangan/Desain

Merupakan tahapan setelah dilakukan tahap analisa. Adapun rancangan sistem yang akan dikembangkan adalah sebagai berikut:

1) Basis Pengetahuan.

2) Model Proses, memberikan gambaran proses aliran data dan informasi

3) Model Data, memberikan gambaran rancangan data secara logic dan fisik pada media penyimpan.

c. Coding

Merupakan proses pembuatan aplikasi berdasarkan hasil analisa dan rancangan.

4. Alat Penelitian

a. Hardware yang digunakan pada penelitian ini adalah : 1) PC

2) Printer

3) Koneksi Internet

b. Software yang digunakan pada penelitian ini adalah: 1) Webserver : XAMPP

2) Browser

3) PHP Programming 4) PHP Designer

5. Bahan Penelitian

Bahan penelitian dalam objek penelitian ini adalah berbagai entitas menyangkut basis pengetahuan terkait program Manajemen Terpadu Balita Sakit yang meliputi :

a. Pedoman MTBS

b. Aturan-aturan terkait Diagnosa Medis c. Dokumen diagnosa keperawatan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Basis Pengetahuan

a. Manajemen Terpadu Balita Sakit

(6)

b. Data jenis penyakit pada bayi muda.

Data jenis penyakit pada anak merupakan daftar dari jenis penyakit yang dialami oleh bayi muda dibawah 2 (dua) bulan. Seperti pada tabel 1.

Tabel 1. Jenis Penyakit

KODE NAMA JENIS PENYAKIT

P1 Infeksi Bakteri P2 Diare

P3 Ikterus

P3 Berat badan Menurun/masalah Pemberian ASI

c. Data klasifikasi penyakit pada bayi muda.

Merupakan penggolongan beberapa klasifikasi dari jenis penyakit pada bayi muda dibawah 2(dua) bulan berdasarkan Manajemen Terpadu Balita Sakit. Seperti pada tabel 2.

Tabel 2. Klasifikasi penyakit

KODE KLASIFIKASI PENYAKIT

K1 Infeksi Bakteri Berat K2 Infeksi Bakteri Lokal K3 Mungkin bukan Infeksi K4 Dehidrasi Berat

K5 Dehidrasi Ringan/Sedang K6 Diare Tanpa Dehidrasi K7 Ikterus Berat

K8 Ikterus

K9 Tidak Ada Ikterus

K10 Berat Badan Rendah Menurut Umur Atau Maslah Pemberian ASI K11 Berat Badan Tidak Rendah Menurut Umur Atau Tidak Ada Masalah

Pemberian ASI

d. Data gejala penyakit pada bayi muda

Merupakan daftar gejala/masalah yang dialami bayi muda dan sebagai kajian oleh tenaga medis untuk menentukan analisa, diagnosa dan rencana tindakan. Seperti pada tabel 3.

2. Representasi Pengetahuan

Merupakan cara untuk menyajikan pengetahuan yang diperoleh ke dalam suatu skema/diagram tertentu sehingga dapat diketahui relasi antara suatu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain dan dapat dipakai untuk menguji kebenaran penalarannya. Pada Tabel 4 disajikan representasi pengetahuan logika dari hubungan antara gejala dengan klasifikasi penyakit.

3. Model Proses

(7)

Tabel 3. Gejala penyakit apda bayi muda

KODE NAMA GEJALA

G1 Bayi Kejang

G2 Tidak Mau Minum Atau Memuntahkan Semuanya G3 Bergerak Hanya Jika Dirangsang

G4 Nafas Cepat >=60 Kali/Menit G5 Nafas Lambat <30 Kali Menit

G6 Tarikan Dada Kedalam yang Sangat Kuat G7 Merintih

G8 Demam >=37.5'C

G9 Nanah yang Banyak Dimata

G10 Pusar kemerahan dan Meluas ke Dinding Perut G11 Adakah Pustul Kulit

G12 Letargis atau tidak sadar G13 Mata Cekung

G14 Apabila Cubit Kulit Perut Kembalinya Sangat Lambat G15 Gelisah/Rewel

G16 Apabila Cubit Kulit Perut Kembalinya Lambat

G17 Timbul Kuning pada Hari Pertama (<24 Jam) Setelah lahir G18 Kuning ditemukan lebih dari 14 hari

G19 Kuning sampai Telapak Tangan atau Kaki G20 Tinja Berwarna Pucat

G21 Timbul Kuning >=24 jam sd <=14 hari

G22 Tidak ada Kuning pada Telapak Tangan atau Kaki G23 Tidak Kuning

G24 Berat Badan Menurut Umur Rendah G25 Ada Kesulitan dalam Pemberian ASI G26 ASI Kurang dari 8 Kali/Hari

G27 Mendapat Makanan dan Minuman Selain ASI G28 Posisi Bayi Tidak Benar

G29 Tidak Melekat Dengan Baik G30 Tidak Menghisap Dengan Efektif

G31 Terdapat Bercak Putih atau Luka Dimulut G32 Ada Celah Bibir/Langit-langit

Tabel 4. representasi pengetahuan logika dari hubungan antara gejala dengan klasifikasi penyakit

No Aturan

1

IF Bayi Kejang AND Tidak Mau Minum Atau Memuntahkan Semuanya AND Bergerak Hanya Jika Dirangsang AND Nafas Cepat >=60 Kali/Menit AND Tarikan Dada Kedalam yang Sangat Kuat AND Merintih AND Demam >=37.5'C AND Nanah yang Banyak Dimata AND Pusar kemerahan dan Meluas ke Dinding Perut AND Adakah Pustul Kulit

(8)

2 IFAdakah Pustul Kulit Nanah yang Banyak Dimata THEN Infeksi Bakteri Lokal AND Pusar kemerahan dan Meluas ke Dinding Perut ELSE Bukan Infeksi AND

3 IFKembalinya Sangat Lambat Letargis atau tidak sadar AND ANDGelisah/RewelMata Cekung THEN AND dehidrasi berat Apabila Cubit Kulit Perut

4 IFGelisah/Rewel Mata Cekung THEN AND dehidrasi sedang/ringan Apabila Cubit Kulit Perut Kembalinya Sangat LambatELSE Tidak dehidrasi AND

5

IF Timbul Kuning pada Hari Pertama (<24 Jam) Setelah lahir AND Kuning ditemukan lebih dari 14 hari AND Kuning sampai Telapak Tangan atau Kaki AND Tinja Berwarna Pucat

AND Timbul Kuning >=24 jam sd <=14 hari THEN ikaterus berat

6

IF Timbul Kuning pada Hari Pertama (<24 Jam) Setelah lahir AND Kuning ditemukan lebih dari 14 hari AND Tinja Berwarna Pucat AND Timbul Kuning >=24 jam sd <=14 hari

THEN ikaterus ringan ELSE Tidak ikaterus

7

IF Berat Badan Menurut Umur RendahAND Ada Kesulitan dalam Pemberian ASI AND ASI Kurang dari 8 Kali/Hari AND Mendapat Makanan dan Minuman Selain ASI AND Posisi Bayi Tidak Benar AND Tidak Melekat Dengan Baik AND Tidak Melekat Dengan Baik AND Tidak Menghisap Dengan Efektif AND Terdapat Bercak Putih atau Luka Dimulut AND Ada Celah Bibir/Langit-langit THEN Berat badan Menurun/masalah Pemberian ASI ELSE tidak ada masalah Pemberian ASI

Gambar 3. Diagram konteks

4. Model Data

(9)

Gambar 4. Relasi Tabel

Adapun rincian atribut dari relasi dari setiap tabel pada gambar 4 dijabarkan dalam tabel 5.

Tabel 5. Rincian atribut setiap tabel Attributes:

Entity: gejala

Primary key constraint

name PK_gejala

Comment Table options

Attributes:

Column name Primary key Data type Not NULL

kode_gejala Yes VARCHAR(2) Yes

Nama_gejala No VARCHAR(40) No

Entity: jenis_penyakit

Primary key constraint

name PK_jenis_penyakit

Comment Table options

Attributes:

Column name Primary key Data type Not NULL

kode_penyakit Yes VARCHAR(2) Yes

Nama_penyakit No VARCHAR(40) No

Entity: klasifikasi_penyakit

Primary key constraint

name PK_klasifikasi_penyakit

(10)

Attributes:

Column name Primary key Data type Not NULL

kode_klasifikasi Yes VARCHAR(2) Yes

Klasifikasi_penyakit No VARCHAR(40) No

kode_penyakit Yes VARCHAR(2) Yes

Entity: pasien

Primary key constraint

name PK_pasien

Comment Table options

Attributes:

Column name Primary key Data type Not NULL

No_rekmed Yes VARCHAR(4) Yes

Nama No VARCHAR(40) No

Jenis_Kelamin No VARCHAR(1) No

Nama_orangtua No VARCHAR(40) No

Alamat No TEXT No

Entity: periksa

Primary key constraint

name PK_periksa

Comment Table options

Attributes:

Column name Primary key Data type Not NULL

id Yes VARCHAR(4) Yes

tanggal_periksa No DATE No

jenis_periksa No VARCHAR(40) No

Diagnosa_medis No VARCHAR(40) No

No_rekmed Yes VARCHAR(4) Yes

kode_gejala Yes VARCHAR(2) Yes

Entity: Rencana_Tindakan

Primary key constraint

name PK_Rencana_Tindakan

(11)

Attributes:

Column name Primary key Data type Not NULL

kode_tindakan Yes VARCHAR(2) Yes

tindakan No TEXT No

kode_klasifikasi Yes VARCHAR(2) Yes

kode_penyakit Yes VARCHAR(2) Yes

Entity: rule

Primary key constraint

name PK_rule

Comment Table options

Attributes:

Column name Primary key Data type Not NULL

id No VARCHAR(40) No

kode_klasifikasi Yes VARCHAR(2) Yes

kode_penyakit Yes VARCHAR(2) Yes

kode_gejala Yes VARCHAR(2) Yes

Entity: user

Primary key constraint

name PK_user

Comment Table options

Attributes:

Column name Primary key Data type Not NULL

id_user Yes VARCHAR(3) Yes

user_name No VARCHAR(40) No

password No VARCHAR(5) No

5. Implementasi

(12)

Gambar 5. Tampilan proses input data jenis penyakit

Gambar 6. Tampilan Proses input Klasifikasi Penyakit

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Telah dikembangkan sistem berbasis pengetahuan untuk Manajemen Balita Terpadu Sakit yang dapat digunakan oleh tenaga medis dalam layanan kesehatan.

2. Dari hasil penelitian rancangan model yang terdiri dari beberapa proses, yaitu : Konteks Diagram, Proses Tabel Referensi Diagram, Proses Konsultasi Diagram, Proses Registrasi Pasien dan Proses Pengelolaan User.

(13)

SARAN

Hasil pengembangan perangkat lunak tidak terlepas dari permasalahan-permasalahan yang perlu dikembangkan pada penelitian lanjutan. Adapun saran dari hasil penelitian adalah :

1. Penelitian pengambangan sistem berbasis pengetahuan masih sebatas pada penganan tenaga medias untuk bayi muda dibawah 2(dua) bulan. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat dikembangkan pada penelitian untuk bbalita 2 bulan sampai dengan 5 tahun yang memilki klasifikasi penyakit dan gejala yang berbeda.

2. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat dikembanglan aplikasi yang dapat berjalan pada perangkat mobile sehingga memudahlan tenaga medias dalam melakukan tindakan kepada pasien di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] ________. 2011. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2011.

[2] Desiani. A., Arhami.M. 2006. Konsep Kecerdasan Buatan. Yogyakarta : Penerbit Andi, 2006.

[3] EVALUASI MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT DI KABUPATEN PEKALONGAN. Mardijanto, D., Mubasysyir Hasanbasri,M. 2005. s.l. : JMPK, 2005, Vol. Vol. 08/No.01.

[4] Fadli, A.i. 2003. Sistem Pakar Dasar. IlmuKomputer.com. [Online] 2003. [Cited: 3 15, 2010.] http://IlmuKomputer.com.

[5] HUBUNGAN PELAYANAN PUSKESMAS BERBASIS MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA BALITA. Hidayati, A.,N.,Wahyono,B. 2011. Semarang : Jurnal Kesehatan MAsyarakat, 2011, Vol. Vol 7 No 1.

[6] Kusumadewi, S. 2003. Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya). Yogyakarta : Graha Ilmu, 2003.

[7] Manajemen Terpadu Balita Sakit - Evaluasi Pelaksanaan MTBS di Puskesmas Tanah Laut. Pratono, H. Lazuardi,L., Hasanbasri,M. Januari 2008. Yogyakarta : KMPK, Januari 2008, Vol. Working Paper Series No.3.

[8] MEDIA KONSULTASI PENYAKIT KELAMIN PRIA DENGAN PENANGANAN KETIDAKPASTIAN MENGGUNAKAN CERTAINTY FACTOR BAYESIAN . Hartati, S. 2005. Yogyakarta : Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2005 (SNATI 2005) , 2005.

[9] Penggunaan Sistem Pakar dalam Pengembangan Portal Informasi Untuk Spesifikasi Jenis Penyakit Infeksi.

Wijaya, R. 2007. s.l. : Jurnal Informatika, 2007, Vol. Vol 3 No 1.

[10] Rancang Bangun Sistem Pakar Untuk Menentukan Jenis Gangguan Perkembangan Anak. Rohman, F.,F., Fauzijah,A.,2008. 2008. s.l. : Media Informatika, 2008, Vol. Vol 6 No 1.

Gambar

Gambar 2. Tahapan pengembangan perangkat lunak
Tabel 1. Jenis Penyakit
Tabel 3. Gejala penyakit apda bayi muda
Gambar 3. Diagram konteks
+3

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi revolving screen ini sama dengan alat ayakan yang lainnya yaitu untuk menghasilkan produk dengan beberapa ukuran dan dapat menangani material dengan ukuran 55 mm -6 mm,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa construct yang dibuat dari TPB, berupa Konsekuensi, Norma Subyektif, Faktor Situasional dan Kontrol Perilaku bisa efektif untuk

Karang Waru merupakan salah satu desa di Kabupaten Musi Banyuasin yang tepatnya terletak di Kecamatan Lawang Wetan adalah salah satu wilayah yang memiliki penduduk

Oleh karena itu dibuat penulisan ilmiah mengenai pembuatan aplikasi multimedia pariwisata Pulau Bali, dimana akan ditampilkan sajian informasi yang menarik dan interaktif, yang

a hallgatóknak könnyíteni kell. Az itt nyert idő minden bizonnyal bősége- sen kamatozik az elmélet és gyakorlat számára egyaránt, ha a hallgató a mélyebb

Dicho de otro modo, el hilo conductor de la historia de Mesoamérica son los símbolos y emblemas del poder, cristalizados en las imágenes del dios tutelar (Ehécatl),

Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan,

Pada rumah sakit X setiap lantai memiliki sekat kaca yang tertutup dengan warna putih dengan ukuran yang berbeda dengan kaca jendela yang ada pada setiap lantai tetapi Hal ini dapat