Perdagangan Senjata Sebagai Alat Imperia

Teks penuh

(1)

Perdagangan Senjata Sebagai Alat Imperialisme dalam

Pandangan Poskolonialisme

TUGAS AKHIR MATA KULAIH ILMU PENGANTAR HUBUNGAN INTERNASIONAL I

Oleh

Wicaksana Yoga Pratama

Program Studi Ilmu Hubungan Internasional 170210120088

Abstract of Argument

Kebutuhan senjata bagi setiap negara untuk memperkuat pertahanannya, sekaligus fakta bahwa tidak setiap negara dapat memproduksi senjata sendiri, membuat perdagangan senjata menjadi sarana yang jitu bagi negara maju untuk menjalankan praktek imperialisme.

(2)

SUMMARY INTRODUCTION

Hampir setiap negara pasti membutuhkan aspek pertahanan yang kuat agar bisa menjaga kedaulatannya. Oleh karena itu, kebutuhan akan peralatan militer terutama persenjataan menjadi sangat fatal demi mendukung kekuatan militer agar bisa memperkuat pertahanan negara. Negara yang tidak kuat persenjataan militernya menjadi sangat riskan untuk mendapatkan serangan dan intervensi negara lain. Namun sayangnya, tidak semua negara dapat memenuhi kebutuhan persenjataan mereka sendiri. Beberapa negara tidak mempunyai sumber daya cukup, bahkan tidak mempunyai sumber daya yang mendukung untuk produksi peralatan persenjataan militer. Karenanya, mereka terpaksa harus mengimport persenjataan tersebut dari negara lain demi memperkuat pertahanan mereka.

Sayangnya, kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh negara-negara maju sebagai ladang imperialisme sekaligus meraup untung sebesar-besarnya. Dengan dalih berbagai macam program kerja sama untuk pengadaan perlengkapan militer, negara-negara maju kemudian memberikan pinjaman dana kepada negara-negara berkembang yang otomatis membuat mereka membeli senjata kepada negara tersebut. Praktek semacam ini, selain membuat negara-negara berkembang terlilit hutang juga memberi peluang kepada negara-negara maju untuk mengetahui, bahkan mengontrol kekuatan militer negara yang dibantu. Sekaligus, dengan adanya kerja sama dan pinjaman utang semakin menekan negara berkembang sehingga timbul ketergantungan dan membuat mereka tidak dapat mandiri. Kondisi seperti ini yang kemudian membuka lebar peluang bagi negara-negara maju untuk mengembangkan imperialisme.

(3)

PEMBAHASAN

َنأأ َىسأ عأ وأ ممكك لل رريمخأ وأهكوأ ااْئيمشأ اموهكرأكمتأ َنأأ َىسأ عأ وأ ممكك لل هررمكك وأهكوأ لكاتأققلما مكككيملأعأ بأ تقكك

:ةرقبلا) َنأ ومكلأعمتأ لأ ممتكَنأأوأ مكلأعميأ هكلللاوأ ممككلل ررشأ وأهكوأ ااْئيمشأ اموببحقتك 216

(

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang

kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,

dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;

Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)1

Perang memang kondisi yang tidak dapat dihilangkan dalam tatanan masyarakat sejak zaman dahulu hingga sekarang. Sebabnya, perang memang merupakan turunan sifat dasar manusia yang tetap sampai sekarang, guna memelihara dominasi dana memperkuat eksistensi diri dengan berbagai cara seperti menundukkan kehendak pihak yang dimusuhi. Ayat pada surat kedua Al-Quran

tersebut memberikan gambaran umum kondisi manusia bahwa bagaimanapun kita mencintai perdamaian tetap ada waktu ketika kita harus menghadapi perang. Pada faktanya, beberapa kondisi damai justru hanya dapat diciptakan lewat adanya peperangan.

Baik bagi pihak yang kalah maupun yang menang, perang dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar, bahkan kebangkrutan. Negara yang kalah dalam perang dapat menjadi negara yang miskin dikarenakan sangat

1 Dikutip dari Al-Qur’an pada surat kedua ayat 216. Tafsir mengenai ayat tersebut beserta ayat-ayat lain yang terkait dapat dilihat di tafsir Ibnu Katsir Juz 2 halaman 388-390

(4)

mungkinnya kelangkaan makanan, harga barang-barang kebutuhan yang sangat mahal, dan mungkin juga terjadinya kelainan genetik pada keturunannya seperti yang terjadi di Jepang akibat peristiwa bom Hiroshima dan Nagasaki. Perang dunia kedua setidaknya telah menyebabkan ekonomi Eropa collapse sekitar 70% dan menyebabkan rusaknya berbagai sarana infrastruktur.2 Kerusakan properti di

Uni Soviet yang ditimbulkan oleh invasi Axis diperkirakan nilai dari 679 miliar rubel. Kerusakan total terdiri dari kehancuran lengkap atau sebagian dari 1.710 kota dan kota-kota, 70.000 desa / dusun, 2.508 bangunan gereja, 31.850 perusahaan industri, 40.000 mil dari kereta api, stasiun kereta 4100, 40.000 rumah sakit, 84.000 sekolah, dan 43.000 perpustakaan umum.3

Sementara bagi negara yang menang memang sangat berpotensi mendapatkan begitu ragam keuntungan. Amerika dan Soviet contohnya, dua negara ini kini menjadi negara superpower yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia pasca perang dunia kedua. Dari bidang ekonomi, politik, hingga ke ranah mode fashion dapat mempengaruhi negara-negara lain dari yang miskin hingga yang maju. Mereka juga mempunyai kesempatan yang besar untuk menciptakan ketergantungan negara miskin dan negara berkembang sehingga menguntungkan ekonomi mereka. Yang lebih ekstrem, negara-negara yang menang perang dan rata-rata menjadi negara maju dapat membuat hingga memanipulasi perjanjian agar semakin menguntungkan negara-negara ini. Sebagai faktanya, negara yang menang tersebut kini memegang peranan penting dalam

2 Marc Pilisuk; Jennifer Achord Rountree (2008). Who Benefits from Global Violence and War: Uncovering a Destructive System. Greenwood Publishing Group. hal. 136–. ISBN 978-0-275-99435-8.

3 The New York Times, 9 February 1946, Volume 95, Nomor 32158.

(5)

percaturan politik internasional. Amerika, Soviet, dan tiga negara lainnya menjadi anggota Dewan Keamanan PBB dimana mereka mempunyai hak veto, sehingga keputusan-keputusan yang sekiranya tidak menguntungkan bagi-bagi negara-negara tersebut sangat mungkin untuk mendapatkan veto dari masing-masing negara. 4

Poskolonialisme sendiri memandang dengan prinsip The other (yang lain) dimana setiap aktor sesuatu kedalam dua oposisi biner, dalam pembahasan ini adalah negara yang menang perang yang biasanya menjadi negara maju (The have) dan negara kalah perang yang biasanya menjadi negara miskin atau negara berkembang (The have not).5 Negara-negara barat yang memenangkan perang

kemudian berusaha memaksakan sistem yang seperti berjalan sekarang ini agar dapat menekan negara-negara berkembang. Hal ini membuat mereka bisa mendapatkan sumberdaya serta tenaga kerja murah, serta membuat mereka dapat melakukan investasi besar-besaran di negara berkembang. Dalam menciptakan universalisasi dari sistem neoliberal dilakukan lewat berbagai macam cara seperti lewat jebakan hutang, sistem mandat lewat pemanfaatan (manipulasi) hukum internasional, melalui diskursus bahas dalam pendidikan untuk pemaksaan pencitraan terhadap ekonomi yang baik, dan juga berbagai operasi-operasi terselubung dalam hal ekonomi.6 Dengan berkembang luasnya sistem struktur ini

4 Anggota Dewan Keamanan PBB terdiri dari 15 negara dimana 5 diantaranya merupakan anggota tetap dan mempunyai hak istimewa yaitu hak veto. Negara yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB adalah Amerika Serikat, Uni Soviet (Sekarang Rusia), China, Inggris, dan Perancis.

5 Dikutip dari situs Portal Hubungan Internasional (http://portal-hi.net/en/hi-teori/non-grand-paradigma/59-poskolonialisme-internasional) diakses pada tanggal 10 Juni 2013

6 Dikutip dari situs Portal Hubungan Internasional (http://portal-hi.net/en/hi-teori/non-grand-paradigma/59-poskolonialisme-internasional) diakses pada tanggal 10 Juni 2013

(6)

maka negara-negara yang menang perang ini semakin leluasa dalam mengembangkan eksploitasi ekonomi terhadap segala sumber daya yang dimiliki oleh negara-negara berkembang. Maka melalui tinjauan tersebut dapat disimpulkan bahwa negara-negara yang menang perang pada masa sekarang ini telah menciptakan sistem penjajahan modern (poskolonialis) dengan membuat sistem yang membuat negara-negara yang menang perang semakin maju sementara negara-negara yang kalah perang ataupun negara-negara yang berada dibawah mereka semakin tertekan dan terpuruk ekonominya sehingga negara-negara yang menang perang semakin mengontrol hegemoni dunia.

PERDAGANGAN SENJATA SEBAGAI PASAR STRATEGIS NEGARA MAJU MENGEMBANGKAN POSKOLONIALISME

Senjata merupakan kebutuhan yang paling penting dalam kehidupan internasional baik dalam kondisi perang maupun dalam kondisi nonperang. Dalam kondisi perang senjata tentu saja sangat dibutuhkan sebagai kebutuhan utama untuk mengimbangi maupun mengungguli kekuatan musuh. Sementara dalam kondisi nonperang senjata juga dibutuhkan sebagai kebutuhan pertahanan yang secara umum digunakan oleh negara.7 Penggunaan dan penyediaan senjata dalam negara

biasanya dikelola oleh industri pertahanan yang mencakupi masalah pembuatan, pemeliharaan hingga perbaikan. Setiap negara biasanya memiliki industri pertahanan sendiri yang biasanya lebih dikenal sebagai industri militer sebagai bagian dari tatanan industri nasional yang secara khusus memiliki kemampuan ataupun potensi yang dapat maupun dikembangkan untuk menghasilkan produk

7 Dikutip dari wikipedia ensiklopedia bebas dengan tema “Industri Pertahanan” (http://id.wikipedia.org/wiki/Industri_pertahanan) diakses pada tanggal 10 Juni 2013

(7)

berupa sistem senjata, peralatan dan perlengkapan, dukungan administrasi logistik, ataupun jasa-jasa bagi kepentingan penyelenggaraan pertahanan negara.8

Namun yang menjadi fakta adalah bahwa tidak setiap negara memiliki industri pertahanan yang dapat memenuhi kebutuhan pertahanan dan kebutuhan senjata mereka sendiri. Maka kondisi ini dimanfaatkan oleh negara-negara maju untuk mengekspor sumber daya militer mereka kepada negara-negara yang kekurangan sumber daya militer sehingga semakin menciptakan ketergantungan serta ketidakmampuan dari negara-negara berkembang dalam pertahanan apalagi untuk memiliki kuasa dalam melawan negara-negara maju.

Dalam tahap ini poskolonialisme memandang bahwa liberalisasi ekonomi neoliberal berusaha menciptakan suatu upaya imperialisme yang menggunakan metode lama dalam pencapaiannya. Dalam cerita fiksi karangan Sir Arthur Conan Doyle yang kemudian diadaptasi oleh Hollywood menjadi sebuah film layar lebar Sherlock Holmes, kita mengenal tokoh Morriarty yang berusaha menguasai industri besar produksi senjata di berbagai wilayah di Eropa yang kemudian ia menciptakan kondisi perang yang membuat permintaan terhadap persenjataan di Eropa meningkat. Ini yang kemudian dimanfaatkan oleh Morriarty untuk semakin meningkatkan pendapatannya lewat penguasaan produksi senjata dan menciptakan permintaan kebutuhan militer sementara hanya dia yang memonopoli kebutuhan militer dari kedua belah pihak. Maka pada kondisi seperti ini membuat Morriarty dapat semakin mempunyai kontrol terhadap kedua pihak yang bertikai. Dalam tokoh nyata, kita mengenal aktor sepeti Viktor Bout meskipun aksinya tidak 8 Dikutip dari wikipedia ensiklopedia bebas dengan tema “Industri Pertahanan” (http://id.wikipedia.org/wiki/Industri_pertahanan) diakses pada tanggal 10 Juni 2013

(8)

sefrontal Morriarty. Orang Rusia yang terkenal sebagai “Pedagang Malaikat Maut” tersebut telah terbukti sebagai oknum militer yang melakukan perdagangan senjata ilegal kepada pihak Tentara Revolusioner Kolombia(FARC) dan juga kepada pihak pejuang muslim di Selatan Filipina.9 Ia juga terbukti memasok

helikopter-helikopter tempur ke Afrika, serta supplier bagi tentara Hizbullah di Lebanon Selatan.10 Viktor Bout memang terkenal sebagai pemasok senjata yang

yang merambah seluruh dunia konflik. Ia memiliki berpuluh perusahaan yang tersebar diberbagai dunia dan berpusat di Emirat Arab. Viktor Bout memiliki berbagai macam bisnis seperti perdagangan senjata, berlian, mineral, narkotika, hingga perusahaan pengangkutan udara yang turut membantu dalam bencana Tsunami yang terjadi di Aceh.11 PBB telah mengkategorikan perusahaan milik

Viktor Bout sebagai perusahaan yang turut aktif membantu Al-Qaeda di berbagai wilayah.12

Diatas Viktor Bout, kita juga mengenal perusahaan produksi senjata swasta di Inggris BAE System yang beberapa waktu lalu terkena kasus penyuapan terhadap raja Saudi senilai kurang lebih 70 juta Euro agar dapat mempengaruhi kontrak transaksi senjata.13 Perusahaan yang menjadi produsen senjata terbesar di

dunia itu terbukti telah melakukan perdagangan senjata secara ilegal kepada Arab Saudi. Perjanjian Pembelian Senjata Al-Yamamah menjadi salah satu yang (http://www.islamtimes.org/vdcezo8n.jh8opiarbj.html) diakses pada tanggal 10 Juni 2013

(9)

menjadi faktor terkuaknya perjanjian jual beli ilegal ini.14 Perjanjian tersebut

adalah mengenai penjualan 72 buah pesawat Eurofighter Typhoon yang dibayar dengan minyak yang jumlahnya kurang lebih sekitar 95000 meter kubik.15

CEO(Ketua Pegawai Eksekutif) dari BAE System Mike Turner mengatakan bahwa pada tahun 2005 BAE beserta jajaran petinggi-petingginya telah menerima kurang lebih 43 milyar Euro yang didapat dari kontrak kerja sama selama 20 tahun, dan masih berkemungkinan untuk mendapatkan tambahan dana hingga 40 milyar Euro lagi yang menjadikannya perjanjian ekspor terbesar yang pernah dibuat oleh Inggris hingga melibatkan 5000 pekerja Saudi kala itu.16 Selain

pembelian 72 buah pesawat Eurofighter Typhoon tersebut, Perjanjian Pembelian Senjata Al-Yamamah tersebut juga menyepakati pembelian lain seperti 48 buah pesawat Panavia Tornado (IDS), 24 buah Panavia Tornado ADV, peluru berpandu anti kapal Sea Eagle, dan beberapa perlengkapan militer lainnya.17

Di dalam negeri kita sendiri rupanya juga tak lepas dari bantuan penyedian perlengkapan militer oleh negara asing. Melalui kerja sama dengan Amerika, Indonesia kemudian difasilitasi dengan badan khusus yang mempunyai program utama untuk membantu pengembangan militer di Indonesia. FMF (Foreign Military Financing) misalnya, merupakan program dibawah kontrol Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang bertujuan untuk menyediakan

14 sumber dari teks percakapan dokumenter "Arms sales fuel BAe's profits". oleh BBC News. 1999-02-25.

15 ibid

16 O’Connell, Dominic (2006-08-20)."BAE cashes in on £40bn Arab jet deal". The Sunday Times (London: News International).

17 Donne, Michael. "BAe Hands Over First Part Of Saudi Aircraft Order", Financial Times, The Financial Times

(10)

dana dan pinjaman bagi pemerintah asing untuk pembelian perlengkapan militer dan jasa terkait.18 Pada tahun 2008, Indonesia menerima kucuran dana sekitar

US$15.700.000 yang menurut State Department ditujukan “bagi Indonesia untuk mewujudkan reformasi militer dan untuk meningkatkan keamanan laut, kontra-terorisme, mobilitas, dan kemampuan untuk mengatasi keadaan bahaya.”19

Selain bantuan dalam bentuk peminjaman utang untuk pembelian senjata, bentuk program lain Amerika Serikat dalam membangun kerja sama dengan Indonesia adalah dengan program FMS (Foreign Military Services) yang tidak seperti FMF, FMS ini melakukan penjualan senjata langsung kepada pemerintahan negara asing.20 Lewat program FMS ini, Indonesia setidaknya telah

mengeluarkan dana sebesar lebih dari 1.000 juta Dollar Amerika dalam kurun waktu pembelian 20 tahun.21 Penjualan senjata Amerika Serikat ke Indonesia

lewat FMS ini sempat dihentikan dikarenakan adanya isu pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi di Indonesia. Namun dengan alasan “keamanan nasional” kemudian pembatasan terhadap pembelian senjata ke Indonesia kemudian dihapuskan. Selain program FMF dan juga FMS, juga masih ada program bantuan militer lain dari Amerika seperti DCS (Direct Commercial Sales) yang hampir sama dengan FMS, ada EDA (Excess Defence Articles) yang memberikan potongan harga terhadap pernjualan peralatan militer yang surplus di Amerika,

18 “Bantuan Amerika kepada Militer Indonesia : FMF,IMET,E-IMET, FMS” dikutip dari (http://webcache.googleusercontent.com/search?

q=cache:http://etan.org/news/2007/milglossarybh.htm) diakses pada tanggal 11 Juni 2013

19 ibid

20 ibid

21 “Report: U.S. Arms Transfers to Indonesia 1975-1997 - World Policy Institute - Research Project” dikutip dari situs Worldpolicy.org

(http://www.worldpolicy.org/projects/arms/reports/indoarms.html) diakses 11 Juni 2013

(11)

serta ada juga Section 1206 tentang Undang-Undang Otorisasi Pertahanan dan Keamanan Nasional (National Defense Authorization Act) yang diperluas untuk kepentingan membantu militer negara asing.22

Yang menarik dari bantuan-bantuan yang diberikan Amerika Serikat tersebut adalah ditujukan bagi Indonesia dan juga Timor Leste justru saat dikondisi dimana Indonesia dan Timor Leste sedang berkonflik kala itu.

KESIMPULAN

senjata memang merupakan alat yang sangat penting di era sekarang ini. Efisiensinya terhadap peningkatan perlindungan diri membuatnya menjadi alat yang sangat strategis bagi tolak ukur kekuatan satu aktor utamanya negara. Senjata dapat menjadi alat untuk mendukung strategi serta mandapatkan keuntungan atas mental musuh. Oleh karena itu, perdagangan senjata menjadi bisnis yang sangat menguntungkan ditinjau dari segi ekonomi, mengingat setiap negara pasti membutuhkan senjata untuk menjamin pertahanan dan keamanan wilayahnya sendiri. Selain keuntungannya yang dapat begitu besar dari segi ekonomi, perjanjian perdagangan senjata juga dapat menguntungkan bagi pihak-pihak yang memberikan bantuan penyediaan senjata. Memberikan bantuan penyediaan senjata membuat pihak yang menyediakan bantuan senjata mengetahui sejauh mana kekuatan militer pihak yang dibantunya. Juga, pemberian bantuan militer mempunyai potensi untuk menciptakan kondisi politik dimana negara-negara yang memberikan bantuan militer akan dipandang mempunyai kekuatan militer yang superpower.

22 Op. Cit. eTan.org

(12)

Dalam kondisi ini, maka dapat kita lihat melalui kacamata poskolonial sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Frantz Fanon dalam bukunya The Wretched of the Earth (1961) bahwa kolonialisme membuat negara-negara dunia ketiga mempunyai ketergantungan dan menciptakan kondisi dimana negara-negara tersebut tidak dapat mandiri dalam mengurusi sebagaian besar masalah-masalahnya sendiri.23 Maka dapat kita tinjau bahwa lewat perdagangan senjata ini

dapat digunakan oleh negara-negara maju untuk menciptakan ketergantungan negara-negara berkembang sehingga mereka jauh dari kemandirian mereka untuk bisa menciptakan kekuatan pertahanan mereka sendiri. Di sisi lain, praktek perdagangan senjata ini juga sangat dalam bidang ekonomi terutama dengan cara peminjaman utang dari negara-negara maju tersebut. Dengan memberikan pinjaman dana untuk alokasi peralatan militer senjata berkembang maka secara otomatis negara-negara yang menerima bantuan pinjaman dana itu akan membeli persenjataan dari pihak yang memberikan pinjaman dana. Pemberian pinjaman dana untuk alokasi dana penyediaan militer sama saja memaksakan sebuah negara untuk membeli persenjataan sementara mereka sebenarnya tidak mempunyai dana dan anggaran untuk pembelian senjata tersebut. Maka pada kondisi ini membuat negara yang memberikan pinjaman dana alokasi militer secara tidak langsung bahkan secara langsung dapat mengontrol kekuatan militer negara-negara yang menerima pinjaman dana.

Dalam kondisi ekstrem dimana sedang terdapat pemberontakan di satu negara bahkan dapat dimanfaatkan oleh negara-negara maju untuk ikut andil

23 Fanon, Frantz (1963). The Wretched of the Earth. New York: Grove Press. ISBN 0-8021- 5083-7.

(13)

dalam peperangan sehingga mereka dapat menyuplai senjata kepada pihak yang berkonflik untuk meningkatkan penjualan senjata mereka. Bahkan sangat mungkin terjadi apabila negara maju tersebut menyuplai senjata kepada kedua belah pihak yang bertikai sehingga ia bisa mendapatkan keuntungan besar-besaran. Kasus seperti ini nampak dan paling mungkin terjadi di negara-negara Timur-Tengah.

Sebabnya, negara-negara Timur-Tengah menderita masalah mendasar atas identitas nasional mereka.24 Lebih dari tiga perempat abad setelah disintegrasi

Kekaisaran Ottoman, negara-negara baru yang muncul tidak mampu mendefinisikan dan mempertahankan identitas nasional yang bersifat inklusif dan representatif.25

Oleh karena itu, integrasi dari negara sangatlah penting untuk mencegah imperialisasi negara-negara maju. Kesadaran untuk berusaha membuat negara mandiri sangat penting agar negara-negara yang sedang berkembang tidak terjebak ke dalam berbagai macam kerja sama maupun bantuan yang ditawarkan oleh negara maju sehingga ujung-ujungnya membuat mereka tidak lagi dapat berkembang. Maka seperti apa yang dikatakan oleh Siba N. Grovogui bahwa setiap negara dituntut untuk melakukan self-determination, yaitu dengan hibridisasi atau asimilasi budaya.26 Grovogui juga menfokuskan kepada kebebasan

dan politik sehingga dengan kedua aspek negara yang merdeka dapat mandiri

24 Kumaraswamy, P. R. (March 2006). "Who am I?: The Identity Crisis in the Middle East". The Middle East Review of International Affairs. Volume 10, No. 1, Article 5

25 ibid

26 Grovogui, Siba N., 2007. Postcolonialism, in; Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relations Theories, Oxford University Press, pp. 229-246.

(14)

tanpa adanya gangguan dan gugatan dari pihak manapun. Setiap negara yang sedang berkembang sudah selayaknya waspada terhadap bahaya imperialisme barat yang salah satunya dilakukan lewat modus-modus bantuan militer.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, M. W., 2010. Viktor Bout, Pedagang Senjata Internasional [Serial Spionase – 09]. [Online]

Available at: http://hankam.kompasiana.com/2010/11/17/viktor-bout- pedagang-senjata-internasional-serial-spionase-%E2%80%93-09-319408.html

[Accessed 11 Juni 2013].

(15)

Black Money: Arms sales fuel BAe's profits. 1999. [Film] Directed by Lowell Bergman, Oriana Zill de Granados. London: BBC news.

Donne, M., 1987. BAe Hands Over First Part Of Saudi Aircraft Order, London: The Financial Times.

ETAN, 2013. Daftar Bantuan Militer Amerika Serikat kepada Indonesia dan Timor Timur. [Online]

Available at: http://webcache.googleusercontent.com/search? q=cache:http://etan.org/news/2007/milglossarybh.htm

[Accessed 11 Juni 2013].

Fanon, F., 1963. The Wretched of the Earth. New York: Grove Press.

Grovogui, S. N., 2007. Postcolonialism. In: International Relations Theories.

Oxford: Oxford University Press, pp. 229-246.

Hartung, W. D., n.d. Report: U.S. Arms Transfers to Indonesia 1975-1997 - World Policy Institute - Research Project. [Online]

Available at:

http://www.worldpolicy.org/projects/arms/reports/indoarms.html [Accessed 11 Juni 2013].

Islamtimes, 2011. Kasus Suap Inggris BAE-Saudi Muncul Lagi. [Online] Available at: http://www.islamtimes.org/vdcezo8n.jh8opiarbj.html [Accessed 11 Juni 2013].

Jackson, R. & Soronsen, G., 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional. 2 penyunt. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

Kumaraswamy, P. R., 2006. Who am I?: The Identity Crisis in the Middle East.

The Middle East Review of International Affairs, 10(1), p. Artikel 5.

O’Connell, D., 2006. BAE cashes in on £40bn Arab jet deal, London: The Sunday Times.

Pilisuk, M. & Rountree, J. A., 2008. Who Benefits from Global Violence and War: Uncovering a Destructive System. Connecticut: Greenwood Publishing Group.

Roger, V., 2011. Poskolonialisme Internasional. [Online]

Available at: http://portal-hi.net/en/hi-teori/non-grand-paradigma/59-poskolonialisme-internasional

[Accessed 11 Juni 2013].

Wikipedia, 2013. Industri pertahanan. [Online]

Available at: http://id.wikipedia.org/wiki/Industri_pertahanan [Accessed 11 Juni 2013].

(16)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...