• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. SIKAP 1. Definisi Sikap - Gambaran Sikap Mahasiswa Batak Toba terhadap Dalihan Na Tolu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. SIKAP 1. Definisi Sikap - Gambaran Sikap Mahasiswa Batak Toba terhadap Dalihan Na Tolu"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. SIKAP

1. Definisi Sikap

Sikap (attitude) adalah evaluasi terhadap objek psikologis terhadap

dimensi atribut seperti baik-buruk, berbahaya-menguntungkan

menyenangkan-tidak menyenangkan, dan disukai atau menyenangkan-tidak disukai (Ajzen & Fishbein 2000,

Eagly & Chaiken tahun 1993, Petty et al 1997). Sikap mengacu pada evaluasi

seseorang terhadap berbagai aspek dunia sosial (Olson& Maio, 2003; Petty,

Wheeler & Tormala, 2003 dalam Baron 2002). Seseorang bisa memiliki reaksi

yang mendukung atau tidak mendukung isu, ide, individu tertentu, kelompok

sosial dan objek tertentu.

Menurut Ajzen (2005), sikap adalah disposisi untuk berespon secara

favorable atau unfavorable terhadap benda, orang, institusi, atau kejadian.

Psikolog Sosial menyetujui bahwa sikap adalah evaluasi berupa pernyataan

setuju, tidak setuju, suka tidak suka (Edwards 1957; Osgood et al 1957; Bern

1970; Fishbein dan Ajzen 1975; Bukit 1981; Oskamp 1991; Eagly dan Chaiken

1993). Ajzen (1988) mendefinisikan sikap sebagai predisposisi yang dipelajari

individu untuk memberikan respon suka atau tidak suka secara konsisten terhadap

objek sikap. Respon suka atau tidak suka itu adalah hasil proses evaluasi terhadap

keyakinan-keyakinan (beliefs) individu terhadap objek sikap (Fishbein & Ajzen,

(2)

Allport (dalam Hogg, 2002) mendefinisikan sikap sebagai sebuah

kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu dalam situasi sosial.

Hogg (2002) mendefiniskan sikap sebagai suatu respon evaluatif individu

yang sebenarnya terhadap aspek dunia sosial. Individu akan menunjukkan respon

suka atau tidak suka terhadap suatu isu, ide, individu tertentu, kelompok sosial

maupun objek tertentu. Evaluasi yang dilakukan bisa positif dan negatif terhadap

seseorang, objek, ataupun isu tertentu. Sikap seseorang terhadap terhadap subatu

objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan

tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tertentu

(Berkowitz, 1972).

Sementara Second & Backman dalam Azwar (2010) mendefinisikan sikap

sebagai keteraturan dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi) dan

predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek lingkungan sekitar.

Robbins (2008) mendefinisikan sikap sebagai pernyataan evaluatif baik

yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek, orang, atau

peristiwa.

Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa sikap

adalah suatu bentuk evaluasi seseorang untuk bereaksi secara positif maupun

negatif seperti baik-buruk, berbahaya-menguntungkan menyenangkan-tidak

menyenangkan, dan disukai atau tidak disukai terhadap objek tertentu yang

(3)

2. Komponen sikap

Sikap dapat disimpulkan dari respon kognitif, afektif, dan konatif terhadap

objek sikap. Hal ini mengasumsikan bahwa setiap kategori respon mencerminkan

komponen teoritis dari sikap (Smith 1947; Katz dan Stotland 1959; McGuire

1985; Eagly dan Chaiken 1998). Dalam pandangan ini, sikap adalah multidimensi

yang terdiri dari kognisi, afeksi, dan konasi.

Respon Kognitif adalah tanggapan yang mencerminkan persepsi, dan

pikiran tentang objek sikap. Respon afektif adalah tanggapan dari yang sikap

dapat disimpulkan memiliki hubungan dengan evaluasi dan perasaan terhadap

objek sikap. Respon konatif adalah tanggapan yang bersifat konatif adalah

kecenderungan perilaku, niat, komitmen, dan tindakan sehubungan dengan objek

sikap atau menunjukkan bagaimana seseorang tidak atau akan bertindak

sehubungan dengan objek.

Hal yang sama mengenai komponen sikap diungkaapkan oleh Mcquire

dalam Hogg (2002) yang didasarkan pada Three-component attitude model.yang

menyatakan bahwa sikap (attitude) terdiri dari komponen kognitif, afektif, dan

komponen perilaku. Hal ini sesuai dengan pendapat Travers (1977); Gagne (1977)

dan Cronbach (1977); Allport dalam Mar’at (2006); Ahmadi, (2009) yang

menyatakan bahwa sikap terdiri dari 3 komponen yang saling berhubungan yaitu:

a. Komponen kognitif yaitu berupa pengetahuan, kepercayaan atau pikiran

yang didasarkan pada informasi yang dimiliki yang berhubungan dengan

objek. Aspek kognitif adalah aspek yang berhubungan dengan gejala

(4)

harapan-harapan individu tentang objek atau kelompok obejk tertentu.

Pemikiran seseorang tentang objek tertentu seperti fakta, pengetahuan, dan

keyakinan (Ahmadi, 2009). Komponen kognitif merupakan komponen

yang berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa

yang benar bagi objek sikap

b. Komponen afektif yaitu perujuk pada dimensi emosional yaitu emosi yang

berhubungan dengan objek yaitu dapat berupa perasaan senang atau tidak

senang. Emosi dan perasaan seseorang terhadap stimulus, khusunya

evaluasi positif dan negatif (Ahmadi, 2009)

c. Komponen perilaku yaitu melibatkan salah satu predisposisi untuk

bertindak terhadap objek. Komponen ini berhubungan dengan

tendensi/kecenderungan untuk berbuat sesuatu terhadap objek atau disebut

dengan action tendency.

Menurut Ahmadi (2009), sikap dapat dibedakan menjadi 2 antara lain:

1. Sikap positif

Sikap positif adalah sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan,

menerima, mengakui, menyetujui serta melaksanakan norma-norma yang berlaku

dimana individu berada. Apabila individu memiliki sikap yang positif maka ia

akan siap membantu, memperhatikan, berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi objek

(5)

2. Sikap negatif

Sikap negatif adalah sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan

penolakan atau tidak menyetujui norma-norma yang berlaku dimana individu

berada. Apabila individu memiliki sikap yang negatif terhadap suatu objek, maka

ia akan mencela, menyerang bahkan menghilangkan objek tersebut.

Psikolog sosial memandang sikap sebagai hal yang penting bukan hanya

karena sikap itu sulit untuk diubah, tetapi karena sikap sangat mempengaruhi

pemikiran sosial individu meskipun sikap tidak selaludirefleksikan dalam tingkah

laku yang tampak dan juga karena sikapseringkali mempengaruhi tingkah laku

individu terutama terjadi saat sikapyang dimiliki kuat dan mantap (Baron, 2002).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan sikap,

antara lain:

1. Pengalaman pribadi.

Sikap seseorang adalah hasil dari pengalaman langsung dengan objek

sikap. Orang yang menemukan sebuah objek sikap dan memiliki pengalaman

positif atau negatif akan membentuk sikap mereka terhadap objek itu. Fishbein

dan Azjen (1975) mengatakan bahwa pengalaman langsung dapat mempengaruhi

sikap terhadap suatu objek dengan menyediakan informasi tentang atribut dari

objek sikap tertentu. Sikap juga akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman

pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.

(6)

Azwar (2012) mengatakan “bahwa tidak adanya pengalaman yang dimiliki oleh

seseorang dengan suatu objek psikologis, cenderung akan membentuk sikap

negatif terhadap objek tersebut.

2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Sikap seseorang dipengaruhi oleh pengaruh orang lain. Individu cenderung

untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang

dianggap penting. Seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang kita

harapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan pendapat kita, seseorang

yang tidak ingin kita kecewakan, atau seseorang yang berarti khusus bagi kita

(significant others), akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap

sesuatu.

3. Pengaruh kebudayaan

Kebudayaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

pembentukan pribadi seseorang. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota

masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman

individu-individu masyarakat asuhannya. Kebudayaan lah yang menanamkan garis

pengarah sikap individu terhadap berbagai masalah.

4. Media massa

Berbagai bentuk media massa seperti radio, televisi, surat kabar, majalah,

dan lain-lain mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan

kepercayaan orang. Media massa memberikan pesan-pesan yang sugestif yang

mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal

(7)

tersebut. Jika cukup kuat, pesan-pesan sugestif akan memberi dasar afektif dalam

menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.

5. Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai

pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar

pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan

buruk, antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari

pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.

6. Pengaruh faktor emosional

Suatu bentuk sikap terkadang didasari oleh emosi, yang berfungsi sebagai

semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu

frustasi telah hilang, akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten

dan bertahan lama.

B. DALIHAN NA TOLU

1. Definisi Dalihan na tolu

Orang Batak Toba salah satu sub suku Batak, memiliki perangkat

struktur dan sistem sosial yang merupakan warisan nenek moyang. Struktur dan

sistem sosial tersebut mengatur hubungan sesama anggota masyarakat, baik yang

merupakan kerabat dekat, kerabat luas, saudara semarga maupun beda marga serta

masyarakat umum. Struktur sosial yang dimiliki pada hakikatnya berdasarkan

(8)

patrilineal dalam kelompok kekerabatan. Kelompok kekerabatan yang besar pada

suku Batak Toba adalah marga. Dengan demikian struktur sosial orang Batak

yang didasarkan pada pada garis keturunan dan sistem perkawinan dikenal dengan

sebutan Dalihan na tolu (Simanjuntak,2002).

Secara harafiah, arti kata Dalihan na tolu “tungku nan tiga” yang

merupakan lambang yang diasosiasikan dengan sistem sosial Batak yang

mempunyai tiang penopang, yaitu hula-hula, dongan sabutuha, boru (Siahaan,

1982). Ketiga kata tersebut secara berturut memiliki arti yaitu pihak yang

semarga; pihak yang menerima isteri (wife receiving party); pihak yang memberi

isteri (wife giving party). Tungku itu diibaratkan sebagai orang Batak secara

keseluruhan, sedangkan tiga pilar itu adalah tiga golongan dari masyarakat Batak

yang sejajar dan menyokong berdirinya tungku (Simanjuntak, 2006).

Dalihan na tolu merupakan tiang utama penyangga kehidupan seluruh

tatanan kebudayaan Batak yang terdiri dari hula-hula, dongan sabutuha , dan

boru. Di atas ketiga kaki tungku inilah seluruh tatanan sosio kultural disandarkan

(Harahap, 1987). Dalihan na tolu dapat dianalogikan dengan tiga kaki

tungku-masak di dapur tempat menjajakan periuk yang terdiri dari unsur pihak semarga,

pihak yang menerima isteri dan pihak yang memberi isteri (Siahaan, 1982).

Dari pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Dalihan na

tolu adalah suatu bentuk kebudayaan berupa sistem kekerabatan yang mengatur

hubungan antar orang Batak yang merupakan nilai utama dari inti budaya Batak

(9)

Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara

pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut Dalihan na

tolu. Dalihan na tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga

posisi tersebut ada saatnya menjadi hula-hula, ada saatnya menempati

posisi dongan tubu dan ada saatnya menjadi boru.

Dengan dalihan natolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang

berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Sistem dalihan na tolu

mencegah pembentukan kelas-kelas sosial yang kaku. Selalu ada hula-hula yang

harus dipelihara dan dihormati. Oleh karena itu, masyarakat Toba memiliki ciri

egaliter yang kuat, dibandingkan misalnya dengan masyarakat jawa. Sehingga

Dalihan na tolu ini menjadi pedoman hidup orang Batak dalam kehidupan

bermasyarakat (Sinaga, 2013).

2. Unsur-unsur Dalihan Na Tolu

Unsur-unsur dalihan na tolu dapat dijelaskan sebagai berikut (Vergouwen

1986; Sinaga 2013; Siahaan 1982)

a. Dongan tubu atau dongan sabutuha

Secara harafiah teman yang berasal dari kandungan yang sama (sabutuha

atai sekandungan) atau dalam arti luas disebut sebagai teman semarga. Dongan

tubu adalah sebutan pada yang semarga dan masih dekat pertalian darah (Siahaan,

1982). Dongan sabutuha juga merupakan satuan kelompok yang berasal dari jalur

keturunan yang sama yang berasal dari keturunan pihak ayah, hal tersebut

(10)

membentuk kelompok kekerabatan dan perempuan menciptakan hubungan besan

dengan pihak yang lain (Vergouwen, 1986).

Ungkapan budaya yang mengukuhkan hubungan bersaudara semarga

berbunyi manat mardongan tubu. Artinya hati-hati dan bijaksana terhadap saudara

semarga, teliti, hati-hati, bertenggang rasa dan sabar. Sikap dan perilaku ini

mutlak di perlukan dalam pergaulan sehari-hari. Ungkapan ini menekankan pada

garis kebijaksanaan dalam hubungan sosial dengan semarga.

Karakter dongan tubu selalu menunjukkan diri sebagai penanggungjawab

atas terlaksananya suatu kegiatan adat. Dalam pelaksanaan adat dan relasi kultural

sehari-hari ia selalu bersikap akomodatif karena sebagai subjek dalam

hubungannya dengan sesama dongan tubu. Selain itu dongan tubu sebagai

pemberi nasihat, nasihat atau saran dan pendamping dalam pelaksanaan adat.

b. Hula-hula

Secara harafiah adalah pihak pemberi isteri. Hula-hula yaitu kelompok

orang-orang yang posisinya "di atas". Hula-hula merupakan sapaan terhadap

saudara laki-laki istri kita, saudara laki-laki ibu yang melahirkan kita, saudara

laki-laki ibu yang melahirkan ayah kita, saudara laki-laki ibu yang melahirkan

kakek kita. Selain itu saudara laki-laki ibu yang melahirkan istri kita, orangtua

dari istri anak kita juga sebagai hula-hula.

Prinsip yang dipegang teguh masyarakat Batak ialah keluarga pria yang

menerima seorang wanita menjadi anggotanya karena menikah dengan putera dari

(11)

memberikan wanita tersebut. Sang wanita dan klen suaminya harus tetap hormat

menyembah hula-hula seolah-olah sebagai sumber berkat.

Salah satu ungkapan budaya yang melegalisasi sikap sosial kepada

hula-hula berbunyi somba marhula-hula, artinya sembah sujud kepada hula-hula.

Sembah sujud disini berada dalam konteks tingkah laku, sikap pandang,

pemberian pelayanan sosial, dan adat. Somba marhula-hula artinya seorang pria

harus menghormati keluarga pihak istrinya. Hal ini dikarenakan pihak keluarga

istri telah memberikan anak perempuannya dan memberikan restu atas hubungan

kekeluargaan kedua keluarga.

Karakter hula-hula adalah orang yang harus dihormati, yang selalu

ditempatkan dalam posisi yang diutamakan, baik melalui ucapan, sapaan maupun

melalui perbuatan. Oleh karena itu sebutan lain untuk hula-hula adalah raja. Posisi

hula-hula sebagai raja adalah sebagai pengayom, penasehat bahkan pemberi

perintah. Namun harus pula dicatat, bahwa pemahaman raja dalam relasi kultural

Batak tidak sama dengan pemahaman raja yang berkonotasi kepada kekuasaan,

hierarkhi jabatan dan wilayah kedudukan.

Kedudukan sosial hula-hula lebih tinggi dan istimewa oleh karena sistem

sosial yang dianut dikukuhkan oleh budayanya. Wujud lebih tingginya kedudukan

sosial hula-hula dibuktikan bahwa kelompok ini diapandang sebagai sumber restu

yang bernilai kepercayaan. Restu yang diberikan dapat berupa jasmani, rohani dan

materi. Restu akan berdampak pada masa kini maupun masa depan. Hula-hula

(12)

c. Boru

Boru adalah kelompok orang orang yang posisinya "di bawah", yaitu

saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak

ayah. Ungkapan budaya terhadap boru adalah elek marboru, artinya harus dapat

merangkul boru, pandai mengambil hati, agar yang diambil hatinya senantiasa

baik. Hal ini penting karena anak boru adalah tulang punggung bagi segala

kegiatan /prosesi adat.

Hal ini melambangkan kedudukan seorang wanita didalam lingkungan

marganya. Karakter boru adalah pelaksana dan pemberi tenaga agar pelaksanaan

adat dari pihak hula-hula berjalan dengan lancar dan baik. Apabila dongan tubu

adalah pelaksana prinsip, hula-hula sebagai penasehat, maka boru adalah

pelaksana teknis.

Namun hal itu tidak pernah dipahami sebagai perendahan status sosial atau

harkat dan martabat kemanusiaan, tetapi justru suatu kelayakan sesuai dengan

posisinya sebagai boru. Ketiga unsur dalam Dalihan Na Tolu tersebut saling

berhubungan satu dengan yang lain dan tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut

karena setiap orang dapat menjadi hula-hula, boru dan dongan sabutuha maupun

bagi individu yang lainnya. Dalam konsep Dalihan na tolu hubungan antar unsur

berlangsung atas dasar keseimbangan dan keserasian terutama menyangkut hak

dan kewajiban.

Dengan sistem demikian, maka setiap orang Batak yang sudah menikah

akan dengan sendirinya memiliki peran sebagai hula-hula, dongan tubu dan boru

(13)

budaya Batak atau di tengah keluarganya. Artinya, apabila yang melaksanakan

adat itu adalah semarganya, maka psosisi dan peranannya adalah sebagai dongan

tubu. Apabila yang melaksanakan adat itu adalah dari pihak marga isterinya, maka

posisi dan peranannya adalah sebagai boru. Apabila yang melaksanakan adat itu

adalah keluarga yang mengambil istri dari marganya maka posisi dan peranannya

adalah sebagai hula-hula.

Dengan demikian peranan setiap orang Batak dapat sebagai hula-hula,

dongan tubu, dan boru, sesuai dengan posisinya dalam keluarga dan adat. Situasi

demikian masih ditemukan terutama didaerah pedesaan tanah Batak hingga kini.

Diperkotaan juga demikian, akan tetapi polanya sudah agak lain dan tidak

seintensif di pedesaan.

Prinsip Dalihan na tolu dijadikan konsep dasar kebudayaan Batak baik di

kampung halaman atau desa maupun tanah perantauan (Harahap, 1987). Selain itu

prinsip tersebut digunakan dalam setiap upacara adat yang mencakup upacara adat

perkawinan, kematian, dan lain-lain. Apabila tidak berdasarkan pada adat Dalihan

Na Tolu maka tidak dapat dikatakan sebagai upacara adat Batak (Siahaan, 1982).

Upacara adat dikatakan berdasarkan adat Dalihan Na Tolu apabila ia mengundang

dongan sabutuha, hula-hula, dan boru serta melakukan berbagai prosesi

berdasarkan ketentuan adat.

3. Masyarakat dan budaya Batak Toba

Suku Batak Toba merupakan sebuah suku yang menempati suatu wilayah

(14)

adalah suku Batak yang terbagi-bagi dalam berbagai subsuku. Subsuku tersebut

antara lain Batak Karo, di bagian utara Danau Toba; Pakpak dibagian Barat

Tapanuli; Simalungun di bagian Timur Danau Toba; Angkola di Angkola,

Sipirok; Mandailing di Mandailing.

a. Nilai budaya Batak

Menurut Harahap dan Siahaan (1987), suku Batak memiliki 9 nilai

budaya antara lain nilai kekerabatan, religi, hagabeon, hasangapon, hamoraon,

hamajuon, hukum, pengayoman dan konflik. Kekerabatan mencakup hubungan

primordial suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah, kerukunan unsur-unsur

Dalihan na tolu (hula-hula, dongan tubu, dan boru), serta segala yang ada

kaitannya dengan hubungan kekerabatan karena pernikahan, solidaritas margadan

lain-lain.

Pada suku Batak Toba kedudukan nilai yang paling tinggi adalah nilai

kekerabatan. Nilai lain yaitu religi mencakup kehidupan keagamaan, baik agama

tradisional maupun agama yang datang kemudian yang mengatur hubungannya

dengan Maha Pencipta serta hubungannya dengan manusia dan lingkungan

hidupnya. Hagabeon mencakup banyak keturunan dan panjang umur.

Hasangapon mencakup kemuliaan, kewibawaan, dan kharisma yang merupakan

suatu nilai utama yang memberi dorongan kuat untuk meraih kejayaan. Hamoraon

(kaya raya) merupakan salah satu nilai budaya yang mendasari dan mendorong

orang Batak, khususnya orang Toba, untuk mencari harta benda yang banyak.

(15)

Nilai budaya hamajuon ini sangat mendorong orang Batak bermigrasi keseluruh

pelosok tanah air.

Hukum mencakup patik dohot uhum (aturan dan hukum). Nilai patik dohot

uhum merupakan nilai yang kuat disosialisasikan oleh orang Batak. Nilai ini

mungkin lahir dari tingginya frekuensi pelanggaran hak asasi dalam perjalanan

hidup orang Batak sejak jaman purba, sehingga mereka mahir dalam berbicara

dan berjuang memperjuangkan hak-hak asasi.

Pengayoman yaitu kehidupan sosio-kultural orang Batak kurang kuat

dibandingkan dengan nilai-nilai yang disebutkan terdahulu. Hal ini mungkin

disebabkan kemandirian yang berkadar tinggi. Kehadiran pengayom, pelindung,

pemberi kesejahteraan, hanya diperlukan dalam keadaan yang sangat mendesak.

Sumber konflik pada orang Batak Toba tidak hanya kehidupan kekerabatan

melainkan lebih luas lagi karena menyangkut perjuangan meraih hasil nilai

budaya lainnya, antara lain hamoraon yang mau tidak mau merupakan sumber

konflik yang abadi bagi orang Toba.

4. Partuturan

Kata partuturan dalam bahasa Batak tidaklah sama dengan kekerabatan

dalam bahasa Indonesia. Sebab partuturan adalah juga kekerabatan, namun

karena ada kaitannya dengan marga, maka partuturan lebih khas. Partuturan erat

kaitannya dengan marga sekaligus dengan tarombo (silsilah), sebab melalui marga

(16)

Dasar fundamental hubungan sosial orang Batak Toba adalah marga.

Didalam hubungan sosial, marga adalah unsur dasar yang menentukan hubungan

sosial partuturan. Setelah saling memberitahukan marga, masing-masing

mengingat latarbelakang silsilah. Latarbelakang silsilah antara lain tingkatan

kedudukan dalam silsilah. Dengan cara ini dapat ditentukan referensi panggilan.

Dengan mengetahui silsilah dari marga maka mudah untuk menyatakan bentuk

hubungan dan terminologi panggilan satu sama lain. Demikian seterusnya sampai

dapat menempatkan diri pada struktur Dalihan na tolu, sebagai hula-hula, boru,

dongan tubu (Sinaga, 2013).

Partuturan dalam adat Batak dapat dibagi tiga. Pertama adalah mardongan

tubu yaitu hubungan antara sesama marga. Kedua disebut marboru yaitu

hubungan kekerabatan terhadap marga yang mengawini wanita yang semarga

dengan kita atau marga yang lahir dari wanita yang semarga degan kita. Ketiga

adalah marhula-hula yaitu hubungan kekerabatan terhadap marga ibu kita, istri

kita, marga ibu yang melahirkan ayah kita, dan marga ibu yang melahirkan kakek

kita.

5. Martarombo

Martarombo adalah mencari atau menentukan titik pertalian darah yang

terdekat dalam rangka menentukan hubungan kekerabatan. Martarombo adalah

salah satu komunikasi yang efisien dalam menjalin kekerabatan pada orang Batak.

Martarombo dan martutur adalah sebagai dasar penentu posisi pada marga lain

(17)

Dalihan na tolu, karena martarombo adalah saling menanyai marga, Bila orang

Batak berkenalan sesama orang Batak pertama kali, biasanya mereka saling tanya

marga dan martarombo. Dengan Tarombo atau martutur suatu nilai budaya yang

sangat mendasar dalam melestarikan tradisi, adat dan kekarabatan, berbicara

dengan tarombo maka berbicara tentang Marga (Sinaga, 2013).

Dengan mengetahui hubungan kekerabatan, maka dengan sendirinya dapat

ditentukan kata sapaan yang akan digunakan. Sapaan yang digunakan bukan

sapaan sehari-hari, melainkan berdasarkan dalam suasana ke-Batakan. Tarombo

Batak adalah silsilah garis keturunan secara patrilineal dalam suku Batak. Sudah

menjadi kewajiban bagi masyarakat suku bangsa Batak untuk mengetahui

silsilahnya agar mengetahui letak hubungan kekerabatan terkhusus dalam falsafah

Dalihan na tolu.

Kata sapaan atau panggilan kekerabatan berperan dalam menunjukkan

hubungan kekerabatan. Salah atau sembarangan menggunakan sapaan dapat

digolongkan sebagai orang yang tidak beradat dan dapat menimbulkan rasa

antipasti terhadap dirinya. Sapaan sementara sebelum mengetahui hubungan

kekerabatan antara dua orang adalah amang, inang, lae, eda, ito, dan ampara.

1. Sapaan terhadap sesama dongan tubu

a. Amang adalah ayah kita, disapa dengan amang

Inang adalah ibu kita, disapa dengan inang

b. Amangtua adalah abang ayah kita, disapa amangtua

Inangtua adalah istri abang ayah kita, disapa inangtua

(18)

Inanguda adalah istri adik ayah kita, disapa inanguda

d. Ampara adalah seseorang yang semarga dengan kita yang belum jelas

hubungan sebagai abang, adik atau anak, maka disapa dengan sebutan

ampara.

2. Sapaan terhadap kelompok boru

a. Ito adalah saudara kita perempuan, anak perempuan dari namboru kita,

ibu dari amangboru

b. Namboru adalah saudara perempuan ayah kita, disapa namboru

c. Amangboru adalah suami dari saudara perempuan ayah

d. Bere adalah anak laki-laki dari saudara perempuan kita

e. Ibebere adalah anak perempuan dan suami dari saudara kita

perempuan.

3. Sapaan terhadap kelompok hula-hula

a. Tulang adalah saudara laki-laki ibu kita

Nantulang merupakan sebutan untuk istri tulang

b. Eda adalah sapaan sesama perempuan, yaitu sapaan saudara

perempuan kita terhadap isteri, dan sebaliknya.

(19)

C. MAHASISWA

1. Definisi Mahasiswa

Secara harfiah, mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi,

baik di universitas, institut, maupun akademi. Definisi mahasiswa menurut Kamus

Lengkap Bahasa Indonesia bahwa mahasiswa merupakan individu yang belajar di

perguruan tinggi.

Mahasiswa dalam perkembangannya berada pada kategori remaja akhir

yang berada dalam rentang usia 18-21 tahun (Monks dkk, 2001).

2. Definisi mahasiswa Batak toba

Mahasiswa batak toba adalah individu yang belajar di Perguruan tinggi

baik di Universitas, Institut, maupun Akademi yang berada pada rentang usia

(20)

D. GAMBARAN SIKAP MAHASISWA BATAK TOBA TERHADAP DALIHAN NA TOLU

Perkembangan globalisasi menyebabkan perubahan baik segi

perekonomian, sosial dan juga budaya. Salah satu perubahan tersebut adalah pada

kebudayaan. Ketidakmampuan mempertahankan budaya dasar membuat kaum

muda mengadopsi kebudayaan lain (Novianto, 2008). Hal ini yang mungkin

terjadi pada kaum muda Batak, karena perubahan tersebut bisa menyebabkan

kaum muda tidak mengetahui konsep budaya asalnya. Konsep budaya asal dapat

berupa sistem kekerabatan. Sistem kekerabatan berfungsi untuk membangun

ikatan antar individu.

Dalam budaya Batak sistem kekerabatan ini dinamakan Dalihan na tolu.

Dalihan na tolu merupakan sistem kekerabatan yang menggambarkan konsep

kebudayaan Batak Toba yang terdiri dari 3 unsur yaitu hula-hula, boru dan dongan

tubu (Siahaan, 1982). Dalihan na tolu yang merupakan salah satu contoh kearifan

lokal yang memiliki sifat relatif dan bisa berubah, maka hal ini menyebabkan

diperlukannya informasi untuk mengetahui penilaian, pemaknaan mengenai

Dalihan na tolu oleh kaum muda Batak Toba agar perubahan tersebut tidak

diarahkan pada perubahan negatif dan tetap dijadikan pegangan dalam mengatur

kehidupan masyarakat Batak (Damanik, 2006).

Perilaku mahasiswa yang tidak menggunakan bahasa Batak, martutur,

martarombo dipengaruhi oleh berbagai hal. Psikolog sosial menyatakan bahwa

perilaku seseorang dipengaruhi oleh sikap. Dari segi psikologis dikatakan bahwa

(21)

dengan mengetahui gambaran sikap dapat diketahui bagaimana seseorang

memandang Dalihan na tolu. Dengan mengetahui bagaimana seseorang

memandang Dalihan na tolu, maka diketahui mengapa dia berperilaku demikian.

Sikap (attitude) adalah suatu bentuk evaluasi seseorang untuk bereaksi

secara positif maupun negatif terhadap objek tertentu yang dibentuk dari interaksi

antara komponen kognitif, afektif, dan konatif / perilaku. sikap terdiri dari 3

komponen yaitu komponen kognitif, afektif dan juga konatif. Komponen kognitif

didasarkan pada pengalaman sebelumnya mengenai Dalihan na tolu, sedangkan

afektif lebih kepada ekspresi emosi/perasaan terhadap Dalihan na tolu kompoen

konatif yaitu kecenderungan untuk bertindak. Ketika individu memiliki evaluasi

negatif yang ditunjukkan dengan penilaian yang negatif yang ditunjukkan dengan

ketidaktahuan dan tidak ada pengalaman terhadap Dalihan na tolu dan sebaliknya,

sedangkan individu dikatakan memiliki persepsi positif ketika adanya evaluasi

yang positif berdasarkan pengetahuan individu, serta adanya pengalaman individu

(22)

Kerangka Berpikir

Globalisasi

Budaya

Dalihan Na Tolu

Local Wisdom

Mahasiswa tidak mengetahui

partuturan

MEMUDAR/BAHKAN HILANG

Mahasiswa tidak mengetahui silsilah/tarombo

Sikap terhadap

Dalihan na tolu

Mahasiswa tidak bisa berbahasa

Referensi

Dokumen terkait

The objectives of the study are: (1) to find out the idiomatic phrases in Michelle Obama’s final speech as the first lady.. (2) to find out the patterns of the

Diharapkan dengan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi pada masyarakat mengenai manfaat ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) sebagai pengedalian

[r]

“Juara Bersama Sepatu Roda” dan “Fun Skate on Car Free Day merupakan rangkaian acara yang dikemas Porserosi kota Semarang dengan tujuan meningkatkan pengetahuan

Pembelajaran dikatakan efektif jika setelah mengalami proses pembelajaran dengan perangkat yang dikembangkan menggunakan model Group Investigation berbasis RME jika (1)

Pertumbuhan jamur kemudian meluas keseluruh permukaan tubuh larva (Gambar 1). Pengamatan makroskopis dan mikroskopis jamur B.. Editor: Siti Herlinda et. Pertumbuhan

Motor servo adalah sebuah motor dengan sistem closed feedback di mana posisi dari motor akan diinformasikan kembali ke rangkaian kontrol yang ada di dalam

Guru Dapat melakukan input pelanggaran,edit profil,melihat laporan pelanggaran persiswa,perkelas,rekap pelanggaran,melihat jadwal bimbingan kasus, melihat hasil