• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENAKAR KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA DA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MENAKAR KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA DA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

MENAKAR KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA (DALAM USIA 71 TAHUN KEMERDEKAAN)

Oleh Baharuddin*

Indonesia kembali akan merayakan salah satu momentum sejarah bangsa yakni Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 71. Momentum ini merupakan titik klimaks perjuangan rakyat Indosesia selama berabad-abad untuk memerdekakan diri dan masyarakatnya. Pasca kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 silam, para founding father sadar bahwa kemerdekaan yang didapatkan Republik ini akan tidak berarti apa pun apabila anak bangsa tidak memiliki kecerdasan dalam menata masa depan bangsa dan negara ini. Itulah sebabnya, para founding father menyiapkan suatu konsep dasar sebagai pijakan dalam meningkatkan kecerdasan anak bangsa, yaitu di dalam preambule alinea ke empat mencerdaskan kehidupan sebagai salah tujuan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentunya untuk mencapai tujuan tersebut hanya bisa didapatkan dari adanya pendidikan yang memadai, baik dari segi fasilitas fsik maupun non-fsik.

Bicara kemedekaan berarti berbicara tentang pendidikan sebab pendidikan adalah proses untuk menciptakan manusia merdeka demikian menurut Ki Hadjar Dewantara. Indonesia ditinjau dari sisi usia yang sudah menjelang satu abad semestinya sudah menjadi negara yang berdaulat secara penuh dalam bidang pendidikan sebab jika berkaca pada negara-negara tetangga yang relatif lebih muda mereka sudah sangat jauh melakukan akselerasi dan inovasi dalam bidang pendidikan. Membaca tujuan pendidikan nasional yang secara apik sangat mempesona sampai hari ini masih menjadi naskah sakral yang belum tersentuh pada tahap internalisasi. Sesungguhnya berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, misalnya pemerataan pendidikan, pemantapan pelaksanaan kurikulum, peningkatan kuantitas dan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, sampai pada peningkatan mutu sarana dan prasarana pendidikan namun belum menunjukkan hasil yang maksimal. Bahkan pergantian menteri dan kurikulum telah berulang kali dilakukan semata-mata bertujuan percepatan peningkatan mutu pendidikan menjadi lebih signifkan namun harapan tersebut belum bisa terpenuhi.

(2)

memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Oleh karena itu, strategi pengembangan kualitas pendidikan harus diprioritaskan untuk dapat memperoleh pendidikan yang bermutu dan berdaya saing tinggi. Ditinjau dari sisi kelembagaan, pendidikan kita belum mampu menjamin keterbangunan nuansa pendidikan yang nyaman, aman, sehat dan mendidik. Aspek formalitas masih mendominasi aktivitas di lingkungan sekolah baik dalam kelas maupun diluar kelas.

Aktivitas dalam kelas misalanya guru masih terlalu mendominasi pembelajaran, terlalu banyak membuat pernyataan sementara peserta didik dibiarkan terpaku dan patuh mendengar namum tidak berupaya membangkitkan rasa ingin tahunya melalui pemberian kesempatan bertanya akhirnya lahirnya peserta didik pasifsme bermental pengikut (follower), demikian juga dengan jadwal pembelajaran yang dominal di laksanakan dalam kelas akibatnya dapat memasung pemikiran peserta didik. Selanjutnya di luar kelas penyimpangan-penyimpang seperti kekerasan (bullying), intimidasi antar sesama peserta didik kerap mewarnai dinamika lingkungan sekolah sehingga wadah yang sekolah tidak lagi menggairahkan bagi peserta didik. Lebih jauh melangkah ke luar lingkungan sekolah kita mendapati kenyataan akan perilaku peserta didik sebagai aktor tawuran antar pelajar, pelecehan seksual sampai pengancaman bahkan pemukulan. Inilah potret pendidikan kita saat ini di negara yang usianya sudah sangat dewasa.

(3)

Indonesia menjadi halaman belakang di Asia Timur bahkan Asia Tenggara.

Pendidikan karakter ini sejatinya mampu menjadi pondasi utama dalam meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia. Pembentukan karakter itu adalah ftrah yang diberikan Tuhan yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku manusia. Pembangunan pendidikan karakter di sekolah haruslah dilakukan secara holistik dengan melibatkan semua komponen pendidikan (stakeholders) yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Seseorang dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya (Prasetya & Rivashinta, 2011). Demikian juga seorang pendidik dikatakan berkarakter, jika memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Isu kedua adalah lemahnya kualitas pendidik. Permasalahan kualitas pendidik adalah masalah klasik dalam pendidikan nasional kita. Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Asman Abnur mengatakan bahwa hanya 60 persen Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia yang memiliki pengetahuan umum. Sedangkan Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian sesuai kebutuhan pemerintah hanya 40 persen (fajar.co.id, 12 Agustus 2016). Pegawai Negeri Sipil yang dimaksud diatas sudah termasuk diantaranya adalah pada Guru.

(4)

40 negara. Kemudian menurut penelitian literasi sains internasional, Indonesia menempati peringkat 40 dari 42 negara.

Perolehan hasil yang demikian mencerminkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah meskipun tingkat melek huruf di Indonesia saat ini sudah cukup tinggi, yakni mencapai 94 persen dan angka buta huruf di Indonesia kini hanya 6 persen. Tingginya angka melek huruf tidaklah berpengaruh secara signifkan terhadap peningkatan kualitas pendidikan karena angkanya yang tinggi sedangkan kualitas penduduk Indonesia yang melek huruf tersebut tetaplah rendah. Lebih lanjut Anies Baswedan menambahkan rendahnya kualitas guru di Indonesia nampak dari hasil uji kompetensi guru secara nasional yang dilakukan tahun 2012. Berdasarkan hasil uji kompetensi guru tersebut, nilai rata-rata guru di seluruh Indonesia hanya 44,5 sedangkan nilai kompetensi guru minimal mencapai 70 dari skor maksimal 100. Jadi nilai kompetensi guru di Indonesia tidak mencapai 50 atau setengah dari skor maksimal kompetensi guru sebesar 100. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas guru di Indonesia masih rendah.

Menyadari keterbatasan kualitas guru maka pemerintah pun terus melakukan upaya-upaya konkrit untuk mendobrak kualitas pendidik salah satu adalah dengan mengeluarkan kebijakan untuk mengeluarkan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Tujuannya utama program PPG ini adalah untuk meningkatkan mutu guru agar lebih profesional dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebab guru adalah jabatan profesi. Seseorang dianggap profesional apabila mampu mengerjakan tugas dengan selalu berpegang teguh pada etika kerja, independen, produktif, efektif, efsien, dan inovatif serta didasarkan pada prinsip-prinsip pelayanan prima yang didasarkan pada unsur-unsur ilmu atau teori yang sistematis, kewenangan profesional, pengakuan masyarakat, dan kode etik yang regulatif (Sulipan, 2007).

(5)

Isu ketiga adalah inkonsistensi kebijakan pendidikan. Hal yang paling menonjol terkait dengan kebijakan pendidikan dapat disorot pada penerapan kurikulum. Sejak Indonesia merdeka hingga hari ini paling tidak telah mengalami perubahan kurikulum sebanyak sepulu kali, mulai kurikulum konvensional hingga kurikulum berbasis sainstifk mewarnai perjalanan pendidikan Indonesia. Semua dilakukan dalam rangka mencari formulasi yang tepat dalam pengelolaan pendidikan yang lebih baik. Perubahan kurikulum yang terus mengalami metamorfosis bukanlah berjalan mulus bebas hambatan namun menuai banyak permasalahan. Para pakar menilai bahwa perubahan kurikulum yang terus terjadi sebagai akibat dari ketidakmapanan arah dan tujuan pendidikan nasional.

(6)

Arkeologi proses pendidikan menunjukkan bahwa proses pendidikan terjadi dalam situasi dialogis. Dari situasi dialogis tersebut pribadi peserta didik semakin berdiri sendiri sehingga tugas pendidik adalah menuntunnya dari belakang (Tut Wuri Handayani). Kebijakan pendidikan haruslah memfasilitasi dialogis dan interaksi dari peserta didik dan pendidik, peserta didik dengan masyarakatnya, peserta didik dengan negaranya dan pada akhirnya peserta didik dengan kemanusiaan global.

Aspek berikutnya adalah; (4) kebijakan pendidikan berkaitan dengan penjabaran misi pendidikan dalam pencapaian tujuan-tujuan tertentu. Apabila visi pendidikan mencakup rumusan-rumusan yang umum dan abstrak, maka misi pendidikan lebih terarah pada pencapaian tujuan-tujuan pendidikan yang konkret (stretch goals). (5) kebijakan pendidikan harus berdasarkan efsiensi, (6) kebijakan pendidikan bukan berdasarkan intuisi atau kebijaksanaan yang irasioal. Kebijakan pendidikan merupakan hasil olahan rasional dari berbagai alternatif dengan mengambil keputusan yang dianggap paling efsien dan efektif dengan memperhitungkan berbagai jenis resiko serta jalan keluar bagi pemecahannya. Dan (7) kebijakan pendidikan diarahkan bagi pemenuhan kebutuhan peserta didik dan bukan kepuasan birokrat. Titik tolak dari segala kebijakan pendidikan adalah untuk kepentingan peserta didik atau pemerdekaan peserta didik.

Perubahan kebijakan pendidikan bukanlah sesuatu yang haram dilakukan bahkan menjadi wajib dengan catatan mengedepankan asas kemanfaatan dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan bukan pada selera penguasa apalagi hasrat individu dari seorang Menteri Pendidikan. Mencerati peristiwa Reshuffle Kabinet Jilid II yang dilakukan Presiden pada tanggal 27 Juli 2016 yang melakukan penyegaran kabinet dengan mengganti beberapa menterinya termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang sebelumnya dijabat oleh Anies Baswedan digantikan oleh Muhadjir Efendy. Salah satu wacana dari Muhadjir Efendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru yang sedang diuji publik adalah wacana “Full Day School”. Menurutnya ide ini diterapkan dengan tujuan agar siswa mendapat pendidikan karakter dan pengetahuan umum di sekolah. Sesuai dengan pesan dari Presiden Jokowi bahwa kondisi ideal pendidikan di Indonesia adalah ketika dua aspek pendidikan bagi siswa terpenuhi yakni pendidikan karakter dan pendidikan umum. Adapun klasifkasi prioritas yakni untuk jenjang SD, 80 persen pendidikan karakter dan 20 persen untuk pengetahuan umum. Sedangkan SMP, bobot pendidikan karakter adalah 60 persen dan 40 persen untuk pengetahuan umum.

(7)

wacana full day school menilai bahwa masing-masing ada sisi positif negatinya. Pihak yang pro mengatakan bahwa dengan adanya full day school dapat membantu orang tua yang bekerja. Mereka dapat fokus bekerja, sementara kegiatan anak dapat terkontrol oleh sekolah. Saat ini memang banyak sekolah yang menawarkan kurikulum full day school, bahkan dalam bentuk sekolah berasrama (boarding school). Kegiatan peserta didik selama 24 jam dipantau oleh pihak sekolah. Dan realitanya, banyak orang tua yang berminat untuk menyekolahkan anaknya ke boarding school walau harus membayar mahal.

Adapun pihak yang kontra berpandangan bahwa kegiatan full day school akan menambah beban guru dan peserta didik. Guru bukan hanya mengurus peserta didiknya di sekolah, tapi juga memiliki suami, istri, atau anak yang harus diurus alias perlu diperhatikan. Kalau guru harus stand by di sekolah sampai sore, tentunya suami, istri, anak mereka akan protes. Dengan kegiatan belajar yang tidak sampai sore saja, guru banyak yang pulang sore karena harus melaksanakan tugas lain, seperti menjadi wakil kepala sekolah, pembina ekstrakurikuler, wali kelas, atau menyusun administrasi pembelajaran. Selain guru, peserta didik juga berpotensi mengalami kebosanan atau stres karena dikurung sepanjang hari di sekolah, apalagi kalau program yang dilaksanakan sekolah kurang menarik atau kurang variatif. Untuk mengisi kegiatan belajar pasca belajar sekolah, anak juga belajar atau mengaji pada sore hari di TKA/TPA/ Madrasah Diniyah.

Ditinjau dari konteks sosiologis, full day school dinilai menjauhkan siswa dari lingkungan bermainnya atau bersosialisasi dengan tetangganya. Hal ini dapat menimbulkan siswa merasa asing dengan lingkungan tempat tinggalnya, merasa minder, tidak mau bergaul, dan tertutup terhadap tetangganya walau di sekolah anak tersebut mungkin memiliki banyak teman. Bagi sekolah yang memberlakukan sistem dua shift (belajar pagi dan siang), penerapan full day school tentunya akan menjadi kendala karena mereka mengalami keterbatasan tempat dan guru. Siswa yang jarak dari rumah ke sekolahnya jauh tentunya juga akan mengalami kendala karena dia sampai rumah bisa waktu maghrib. Hal ini tentunya menyebabkan kelelahan bagi anak. Sebagian pakar pendidikan menilai bahwa rencana Mendikbud menerapkan full day school sebagai bentuk kekeliruan dalam menyikapi pendidikan dan persekolahan. Seolah-olah pendidikan identik dengan persekolahan, padahal pendidikan jauh lebih luas dari persekolahan. Pendidikan dapat dilakukan di rumah, sekolah, dan di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, sekolah hanya menjadi salah satu unsur dalam pendidikan.

(8)

Penelitian yang dilakukan oleh Harvard University di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa kesuksesan seseorang hanya 20% ditentukan oleh hard skill dan 80% oleh soft skill. Pemberlakuan full day school hanya akan menempatkan sekolah sebagai penjara bagi siswa dan membatasi mereka dalam melatih keterampilan hidup. Kebijakan penerapan full day school juga berpotensi tidak sinkron dengan kebijakan pemerintah daerah tertentu, misalnya di Kabupaten Purwakarta Jawa Barat, dimana kegiatan belajar siswa dimulai dari jam 06.00 sampai dengan 12.00. Setelah itu, siswa pulang ke rumah membantu orang tua, memberikan makan binatang ternak, atau melakukan aktivitas lainnya. Berdasarkan hal tersebut, penerapan full day school tentunya harus mempertimbangkan berbagai hal, seperti kondisi sekolah yang beragam, kondisi guru, kondisi siswa, dan kebijakan daerah setempat.

Akhirnya pendidikan di Republik ini harus melakukan restorasi agar masa depan pendidikan menjadi jelas tujuan dan arahnya. Tujuan pendidikan masa depan yang diharapkan adalah mampu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur sebagaimana flsafat pendidikan mengatakan bahwa “the end of education is character” (Ghoeskoka, 20101). Keberhasilan pendidikan diukur dari terbentuknya karakter murid sesuai dengan tingkat pendidikannya. Indikator karakter terpelajar berupa terbangunnya kebiasaan belajar dalam diri peserta didik. Karakter ini memberi gambaran sosok pribadi dengan kebiasaan tiada hari tanpa belajar. Indikator selanjutnya yakni karakter terdidik, pribadi yang memiliki sifat-sifat baik, sebagai warga negara, ataupun anggota masyarakat. Tidak ada salahnya menjadikan pilar-pilar pendidikan UNESCO sebagai tonggak pendidikan Indonesia untuk dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu 1) learning to know (belajar untuk mengetahui), 2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu), 3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan 4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).

Referensi:

edukasi.kompas.com/read/2012/03/07/08304834/ Kualitas Guru Masih Rendah %20Rabu%207%20Maret%202012

Fajar.co.id. Kualitas ASN dan PNS di Indonesia. Akses 12 Agustus 2016 Ghoeskoka & Saputra. 2012. Bunga Rampai: Isu Pendidikan Aktual.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sekretariat Jenderal Pusat Data dan Statistik Pendidikan. Jakarta.

(9)

Saputra. 2012. Bunga Rampai: Isu Pendidikan Aktual. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sekretariat Jenderal Pusat Data dan Statistik Pendidikan. Jakarta.

Prasetya, Agus, & Rivashinta, Emusti. 2011. Konsep Urgensi dan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Dalam Kompasiana, (http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/27).

sp.beritasatu.com/home/kualitas-guru-rendah-pendidikan-tertinggal/ 82441. Akses Kamis, 26 Maret 2015 | 15:02

Sulipan. 2007. Kegiatan Pengembangan Profesi Guru. Dalam http://www.ktiguru.org/index.php/ profesiguru.

Tilaar & Nugroho Riant. 2012. Kebijakan Pendidikan: Pengantar untuk Memahami Kebijakan Pendidikan dan Kebijakan Pendidikan Sebagai Kebijakan Publik. Yogyakarya. Pustaka Pelajar.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang tersebut maka akan dilakukan penelitian untuk mengetahui efek infusa bunga rosella terhadap penurunan kadar Serum Glutamate Piruvat

Guru, yaitu mengetahui potensi lingkungan sekitar khususnya kawasan Kebun Raya Baturaden sebagai sumber belajar biologi bagi siswa SMA Negeri Sumpiuh dan

Mahasiswa sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan dan pembiasaan berpikir kritis dalam memecahkan masalah di setiap pembelajaran, sehingga

perlengkapan dalam beladiri silat dan sumberdaya alam yang digunakan tentang sikap tokoh dalam kehidupan sehari hari • Mendiskus ikan kegiatan ekonomi dan berbagai

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh variabel kepercayaan, peran karyawan, kualitas pelayanan

(1) Jika seseorang melakukan tindak pidana yang hanya diancam dengan pidana penjara yang ancaman pidananya paling lama 5 (lima) tahun, sedangkan hakim berpendapat tidak

Obat yang mengalami, atau yang di duga mengalami metabolisme di dinding usus termasuk aspirin, asetaminofen, salisilamid, asam p-aminobenzoat, morfin, pentazokin, isoproterenol,

Maka tidaklah mungkin orang tua Nabi Ibrahim adalah seorang Azar yang kufur kepada Allah dan Rasulnya karena dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim tidak mendoakan Azar