• Tidak ada hasil yang ditemukan

PSIKOLOGI PENDIDIKAN 2 PENDIDIKAN LUAR S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PSIKOLOGI PENDIDIKAN 2 PENDIDIKAN LUAR S"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PSIKOLOGI PENDIDIKAN 2

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

DOSEN :

Solicha, M.Si

DISUSUN OLEH :

1. Mochamad Yoga Adiputra (11160700000041) 2. Firdha Amelia Widia Azzahra (11160700000043)

3. Arifa Nafisal Fida (11160700000051) 4. Rahajeng Vika Hapsari (11160700000061)

5. Ayu Fitriani (11160700000064) 6. Euit Umaya Jundiah (11160700000067) 7. Desy Ramadhani Harahap (11160700000072)

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia yang telah dilimpahkan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang merupakan tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan 2. Adapun judul makalah yang kami susun adalah “. Dengan berakhirnya sajian makalah yang kami susun, tak lupa kami sampaikan ucapan terima kasih kepada segenap pihak terkait yang telah berperan serta aktif secara pemikiran sehingga terselesaikannya makalah yang kami susun. Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.

Pada kesempatan yang baik ini tak lupa kami sampaikan pula semoga kiranya makalah yang kami susun, ada guna manfaatnya bagi kami khususnya serta pembaca lain pada umumnya.

Akhir kata, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, atas segala kekurangandan semoga makalah yang kami susun bermanfaat bagi semua pembaca.

(3)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Luar Sekolah) adalah konsep pendidikan yang tidak hanya di dunia persekolahan atau pendidikan formal saja. Pendidikan Luar Sekolah juga ditekankan kepada pemberian keahlian dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu. Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Luar Sekolah) memacu potensi yang dimiliki seseorang hingga dapat dikembangkan secara maksimal. Bentuk pelaksanaan Pendidikan Luar Sekolah pun berbeda dengan sistem pendidikan biasanya. Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Luar Sekolah) mencakup pendidikan informal, non formal dan berfungsi menjadi mitra pendidikan formal. Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Luar Sekolah) dapat menjadi substitusi, komplemen serta dapat menjembatani ke dunia luar.

Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Luar Sekolah) muncul karena adanya ketidak seimbangan antara Pendidikan di Sekolah dengan kenyataan daat ini. Pendidikan Luar Sekolah memberikan pelayanan kepada masyarakat, salah satu kegiatan Pendidikan Luar Sekolah yang banyak diminati masyarakat adalah kursus atau pelatihan. Lembaga kursus di Indonesia dalam beberapa tahun tumbuh sangat pesat namun masih banyak pula lembaga kursus yang terhambat. Hal ini dikarenakan lembaga kursus hanya bertahan beberapa tahun.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Pendidikan Luar Sekolah? 2. Apa tujuan Pendidikan Luar Sekolah?

3. Apa saja macam-macam Pendidikan Luar Sekolah?

4. Bagaimana cara mengembangkan Pendidikan Luar Sekolah?

1.3 Tujuan Pembahasan

1. Mampu menjelaskan pengertian tujuan, macam, dan pengembangan dalam pendidikan luar sekolah.

(4)

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Pengertian dan Karakteristik Pendidikan Luar Sekolah A. Pengertian Pendidikan Luar Sekolah

1. Menurut Undang Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Pendidikan Luar Sekolah yaitu merupakan jalur pendidikan yang diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan.

2. Phillip H. Columbus berpendapat bahwa Pendidikan Luar Sekolah adalah semua kegiatan pendidikan yang terorganisasi, sistematis, dan dilaksanakan diluar sistem pendidikan formal, yang menghasilkan tipe-tipe belajar yang dikehendaki oleh kelompok orang dewasa maupun anak-anak.

3. Russel Kleis dalam bukunya Non Formal Education mengemukakan bahwa Pendidikan Luar Sekolah adalah usaha pendidikan yag dilakukan secara sengaja dan sistematis. Biasanya pendidikan ini berbeda dengan pendidikan tradisional terutama yang menyangkut waktu, materi isi, dan media.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Luar Sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di luar sistem sekolah baik yang dilembagakan maupun yang tidak dengan tujuan memberikan layanan kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan belajar.

(5)

B. Karakteristik Pendidikan Luar Sekolah

Callaway dalam La Belle (1973:18) mengemukakan sifat umum pendidikan nonformal dengan memberikan garis besar karakteristik pendidikan nonformal sebagai berikut:

1. Merupakan pelengkap pendidikan formal.

2. Beragam dalam hal organisasi, sponsor, dan metode-metode pembelajaran.

3. Suka rela dan mencakup rentangan usia, latar belakang, dan kepetingan kepentingan yang luas.

4. Tidak mengarah pada perolehan kredensial atau diploma.

5. Menyesuaikan tempat tinggal dan pekerjaan para peserta didik.

6. Lentur (fleksibel) dan dapat disesuaikan (adaptable) dalam hal waktu, lama, dan tujuan.

2.2 Tujuan Pendidikan Luar Sekolah

Menurut No.20 Tahun 2003 pasal 26, Pendidikan Luar Sekolah bertujuan sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

a. Pendidikan Nonformal sebagai Pelengkap Pendidikan Formal

Sebagaimana lazimnya terjadi di sekolah bahwa kurikulum yang harus diselesaikan oleh siswa sangat banyak, sehingga memerlukan waktu yang cukup banyak pula.Akibatnya yang terjadi adalah sekian banyak materi pelajaran yang harus diajarkan di sekolah, tetapi waktu yang tersedia sangat terbatas.Hal ini memungkinkan para siswa terhambat untuk menyerap materi pelajaran dalam waktu yang cepat itu. Akibatnya mereka akan ketinggalan dalam menguasai materi pelajaran. Jalan keluarnya antara lain bahwa mereka hendaknya mencari alternatif jalan keluar untuk bisa ketertinggalan pelajaran sekolah melalui jalur pendidikan di luar sekolah.

(6)

ketertinggalan itu untuk mengejar penguasaan materi di sekolah sehingga mereka bisa sukses dalam menempuh pedidikan di sekolah.Mereka mampu menjawab atau menyelesaikan tugas-tugas pelajaran di sekolah, termasuk dalam rangka menghadapi ujian-ujian yang dilaksanakan sekolah maupun ujian Negara.

b. Pendidikan Nonformal sebagai Pengganti Pendidikan Formal

Sebagai pengganti pendidikan formal, pendidikan nonformal memberikan layanan pendidikan yang dibutuhkan oleh warga masyarakat (calon peserta didik) yang karena beberapa hal sehingga mereka tidak mungkin memperoleh pendidikan yang dibutuhkan melalui jalur pendidikan formal. Warga masyarakat yang membutuhkan pendidikan tidak memandang usia karena sepanjang kehidupan manusia akan muncul kebutuhan-kebutuhan baru yang memerlukan kemampuan baru. Sementara dilihat dari segi usia atau kesempatan yang dimiliki mereka tidak mungkin memperoleh pendidikan tersebut lewat jalur sekolah. Bagi kaum ibu rumah tangga, misalnya, maka kebutuhan pendidikan mereka tidak mungkin lewat jalur sekolah, melainkan hanya bisa menempuh pendidikan yang dibutuhkan lewat jalur pendidikan nonformal atau formal.Termasuk juga anak-anak dari kalangan orangtua miskin yang cenderung terkendala untuk bersekolah, maka untuk memenuhi kebutuhan mereka adalah melalui jalur pendidikan nonformal.

Program pendidikan nonformal yang menjadi pengganti pendidikan formal adalah apa yang disebut dengan pendidikan kesetaraan. Pendidikan kesetaraan yang dikembangkan di Indonesia adalah Pendidikan Kelompok Belajar (Kejar) Paket A setara dengan Sekolah Dasar (SD), Kejar Paket B setara dengan SLTP, dan Kejar Paket C setara dengan SMA. Perlakukan pada pendidikan kesetaraan ini sama dengan pendidikan formal, di mana para lulusannya memeperoleh ijasah, dan ijasah tersebut dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan di jalur formal pada jenjang di atasnya.

2.3 Jenis-Jenis Pendidikan Luar Sekolah

(7)

satuan-satuan: kelompok belajar keaksaraan, kelompok belajar kesetaraan (paket A, B, dan C), kursus (kerumahtanggaan, bahasa, kesehatan dsb), bimbingan belajar, dsb.

b. Pendidikan Keagamaan, merupakan pendidikan yang mempersiapkan warga belajar untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan. Jenis pendidikan ini dapat diselenggarakan dalam satuan-satuan: pendidikan keluarga, kelompok belajar, kursus-kursus, kelompok bermain, pondok pesantren. majlis ta'lim, dsb.

c. Pendidikan dan Pelatihan Kerja merupakan pendidikan untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan dan sikap warga belajar untuk memenuhi peryaratan pekerjaan tertentu atau meningkatkan kemampuan kerja pada satuan kerja yang bersangkutan. Jenis pendidikan ini pada umumnya dilakukan oleh lembaga atau perusahaan melalui satuan-satuan: pelatihan, pelatihan kerja, magang, dsb.

d. Pendidikan Kedinasan, merupakan pendidikan untuk mempersiapkan dan meningkatkan pelaksanaan tugas kedinasan calon pegawai dan pegawai di lingkungan instansi pemerintahan, baik departeman maupun non departemen. Jenis ini pada umumnya dilakukan pada satuan pelatihan yaitu pelatihan pra¬jabatan (pre-service training), pelatihan alam jabatan (in-service training), pelatihan pelayanan kepada masyarakat (social-service training), pelatihan diluar lingkungan kerja (outbond training), dsb.

e. Pendidikan Keterampilan Fungsional, merupakan pendidikan yang mem-persiaplcan warga belajar untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Jenis pendidikan ini dapat dilakukan dalam satuan-satuan: kursus-kursus, pelatihan, magang, kelompok belajar usaha, dsb.

2.4 Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah

(8)

pendidik dengan masukan mentah, kelima; keluaran (output), keenam; masukan lain, ketujuh; pengaruh (Impact) yang menyangkut hasil yang telah dicapai oleh peserta didik dan lulusan. Pendapat Sudjana ini sangat sistematik dan bergerak untuk dilaksanakan secara teratur serta berurutan secara terus menerus.

Sudjana lebih lanjut mengatakan, yang dimaksud komponen pertama dalam tulisan ini atau masukan sarana (Instrumental input) adalah keseluruhan sumber dan fasilitas yang memungkinkan bagi kelompok masyarakat dapat metakukan kegiatan belajar, dalam masukan ini termasuk tujuan program, kurikulum, pendidik (tutor, pelatih, fasilitator), tenaga kependidikan lainnya, tenaga pengelola program, sumber belajar, media, fasilitas, biaya, dan pengelolaan program.

Kemudian ia mengatakan lagi dengan komponen kedua, yang dimaksud dengan masukan mentah (raw Input) adalah peserta didik (warga belajar) dengan berbagai karakteristik yang dimilikinya, termasuk ciri-ciri yang berhubungan dengan faktor internal yang meliputi struktur kognitif, pengalaman, sikap, minat, ketrampilan, kebutuhan belajar, aspirasi, dan lain sebagainya serta ciri-ciri yang berhubungan dengan faktor internal seperti keadaan keluarga dalam segi ekonomi, pendidikan, status sosial, biaya dan sarana belajar, serta cara dan kebiasaan belajar.

Dalam komponen ketiga ia mengatakan, yang dimaksud dengan masukan lingkungan (instrumental input) adalah faktor lingkungan yang menunjang atau mendorong berjalannya program pendidikan yang meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sosial seperti teman bergaul atau teman bekerja, lapangan kerja,

kelompok sosial dan sebagainya, serta lingkungan alam seperti Iklim, lokasi, tempat tinggal. Masukan ini meliputi pula lingkungan wilayah atau daerah, lingkungan nasional, dan bahkan lingkungan internasional.

Untuk komponen keempat, proses yang menyangkut Interaksi antara masukan sarana, terutarna pendidik dengan masukan mentah atau peserta didik. Proses Ini terdiri dari kegiatan belajar-membelajarkan, bimbingan dan penyuluhan serta evaluasi. Kegiatan belajar-membelajarkan lebih mengutamakan pendidik untuk membantu agar peserta melakukan kegiatan belajar, dan bukan menekankan pada peranan mengajar.

(9)

belajar-membelajarkan. Perubahan tingkah taku ini mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang sesuai dengan kebutuhan belajar yang mereka perlukan.

Yang dimaksud dengan komponen pengaruh (impact) adalah menyangkut hasil yang telah dicapai oteh peserta didik dan lulusan. Pengaruh lni meliputi antara lain, (a) perubahan taraf hidup yang dltandai dengan perolehan pekerjaan, atau

berwirausaha, perolehan atau peningkatan pendapatan, kesehatan, dan penampilan diri, (b) kegiatan membelajarkan orang lain atau mengikutsertakan orang lain dalam memanfaatkan hasil yang telah ia miliki, (c) peningkatan partisipasinya dalam kegiatan sosial dan pembangunan masyarakat, baik partisipasi buah pikiran, tenaga, harta benda dan dana.

2.5 Sistem Belajar 1) Gaya Belajar

Teori Gaya Belajar :

Menurut Flemming & Mills, gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapakan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar dikelas atau sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran.

Menurut buku Brain Management Series karya sutanto windura (2008), ada tiga gaya belajar, yaitu:

Tipe Belajar Visual

 Suka membaca apa saja

 Mampu membaca dengan cepat

 Lebih suka membaca daripada dibacakan

 Suka membuat coretan – coretan saat berpikir, mencatat, dan menelepon.

 Cenderung menyukai lukisan daripada musik

 Tulisan tangan biasanya cukup bagus

(10)

 Konsentrasi tidak terganggu oleh suara

Tipe Belajar Auditorial

 Suka mendengar musik

 Lebih menyukai musik ( seni suara ) daripada lukisan

 Suka menggumam saat membaca

 Sering berbicara sendiri saat berpikir

 Menyukai diskusi dnegan lawan bicara

 Pandai bicara dan mungkin fasih sebagai pembicara

Tipe Belajar Kinestetik

 Berbicara perlahan

 Penampilan rapih

 Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

 Belajar melalui memanipulasi dan praktik

 Menghafal dengan cara menghafal dan melihat

(11)

BAB III

STUDI LAPANGAN

SISTEM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH GO DAN PENGARUHNYA

TERHADAP AKADEMIK PESERTA DIDIK

3.1 Metode Penelitian

A. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik Ganesha Operation Cinere, sedangkan sampel penelitian ini adalah peserta didik Ganesha Operation Cinere tingkat SMA dan berjurusan IPS berjumlah 19 orang dan satu Kepala Unit dari Ganesha Operation Cinere.

B. Teknik dan Cara Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik wawancara dan pengambilan data perubahan nilai peserta didik.

C. Prosedur Penelitian a) Wawancara

Wawancara dilakukan pada tanggal 8 Oktober 2017 dengan narasumber Bapak Teuku Tiar Hardiansyah selaku Kepala Unit Ganesha Operation Cinere dan 19 peserta didik Ganesha Operation Cinere.

b) Data Perubahan Nilai Peserta Didik

(12)

3.2 Hasil penelitian a) Wawancara

Dari Bapak Teuku Tiar Hardiansyah

 Kualifikasi yang dibutuhkan sebagai pengajar di Ganesha Operation :

Dari lulusan PTN

 Visi Ganesha Operation:

Jadi bimbel terbaik dan terbesar di Indonesia.

 Fasilitas yang disediakan pihak Ganesha Operation sebagai sarana pembelajaran:

a. papan tulis

b. ruang kelas yg nyaman

c. buku fasilitas yang tinggi 9 smp sampe 12 sma itu paling lengkap d. kumpulan soal

e. kumpulan rumus dan kuncinya f. acara seminar motivasi

 Proses penyaringan peserta sehingga menjadi siswa didikan Ganesha Operation:

Tidak menggunakan sistem seleksi, tetapi terdapat Tes Modalitas untuk menentukan gaya belajar calon peserta didik.

 Jumlah pendidik dan peserta yang saat ini ada di Ganesha Operation:

a. 4 orang pengajar b. 243 peserta didik

 Jadwal belajar yang diterapkan pihak Ganesha Operation:

a. Daerah Jakarta kota mulai jam 16:45 (SMP jam 15:00 dan SD jam 15:30). b. Ada yang disesuaikan oleh jadwal pulang sekolah jadi jam belajar dimulai

(13)

Saingan-saingan yang terletak disekitar Ganesha Operation, seperti MPI, Sinotip, NF, Primagama, Smartplus, dan Zenius unit

 Hambatan murid: a. Siswanya malas

b. Bimbel karna niat orang tua bukan karena diri sendiri c. Hujan

d. Komplen orang tua mengenai fasilitas yang kurang  Pembagian kelas:

a. Reguler (kapasitas murid max 30) b. Silver (kapasitas murid max 20) c. Gold (kapasitas murid max 15) d. Platinum (kapasitas murid max 10)

 Pencapaian pembelajaran yang telah di raih oleh Ganesha Operation dan tujuan pencapaian kedepannya:

Tujuan yang sudah tercapai dari mulai SMP dan SMA menjuarai lomba tingkat nasional dengan mendapatkan ASMOC ASIAN dari bidang Matematika. Sedangkan tujuan selanjutnya akan menjadikan generasi selanjutnya menjadi lebih baik sesuai dengan visi yaitu menjadikan Ganesha Operation menjadi terbesar dan terbaik

 Kurikulum yang diterapkan di Ganesha Operation : a. KTSP

b. Kurikulum 2013

(menyesuaikan dengan anak didik disekolahnya menggunakan yang mana)  Strategi pembelajaran yang digunakan Ganesha Operation:

Dalam sistem pembelajarannya Ganesha Operation mengaplikasikan 3 dari model belajar Sutanto Widura, yaitu vidual, auditory, dan kinestetik dengan penerapan sebagai berikut:

(14)

B. Auditory: pengajar menggunakan suara yang lantang dan jelas, dan radio yang memainkan musik klasik selama waktu belajar untuk menyeimbangkan kerja otak kiri dan otak kanan.

C. Kinestetik: Memberi jarak ditengah kelas untuk murid berjalan-jalan.

Selain 3 model belajar tersebut, strategi pembelajaran Ganesha Operation juga memberikan solusi tercepat dalam menyelesaikan masalah (soal), berkonsultasi dengan pengajar diluar waktu belajar, dan mengadakan break ditengah-tengah pelajaran.

 Sistem evaluasi pembelajaran yang ditetapkan Ganesha Operation:

a. Menggunakan try out perbulan.

b. Kelas 7,8,10,11 try out hanya diadakan ketika ingin UTS dan UAS. c. Pemberian soal ujian tes dan hasilnya diberikan kepada pihak sekolah.  Kerja sama pihak Ganesha Operation dengan lembaga lain :

Dengan lembaga Psikotes yang berpusat di Bandung.

 Kegiatan lain yang diadakan di Ganesha Operation yaitu :

Tes TPA dan seminar motivasi.

 Aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif, manakah yang paling di tonjolkan dalam proses pembelajaran adalah :

a. Kognitif menggunakan KTSP seperti banyak memberikan soal-soal ujian tes.

b. Psikomotorik dan afektif seperti diadakannya seminar motivasi setahun tiga kali.

 Perbedaan pendidikan formal dengan bimbingan belajar di Ganesha Operation:

a. Memberikan yang belum diberikan dari sekolah.

b. Membuat murid lebih naik peringkat nilainya dengan cara memberikan latar belakang nilai kemampuan.

Wawancara dari peserta didik

 Peningkatan yang diraih setelah belajar di Ganesha Operation :

a. Yang belum dipelajari disekolah telah dipelajari di Ganesha Operation b. Mempengaruhi nilai Raport yaitu mendapatkan peningkatan dari

(15)

c. Lebih membantu dalam pengerjaan tugas sekolah  Yang memutuskan memilih belajar di Ganesha Operation:

a. Belajar lebih lama b. Wawasan menjadi luas c. Tempatnya strategis

d. Banyak mendapat ‘rumus cepat’

(16)
(17)

Individu 13 (edito)

Mata pelajaran Naik/Turun sesudah GO

Biologi Naik

Kimia Naik

Fisika Naik

(18)

Matematika Naik

B. indonesia Naik

BAB IV

ANALISIS DATA 4.1 Perubahan Nilai Peserta Didik

Dari data perubahan nilai akademik disekolah peserta didik Ganesha Operation Cinere sebelum dan sesudah memasuki Ganesha Operation didapat analisis sebagai berikut:

Mata Pelajaran Jumlah Peserta Didik yang Nilainya Naik

Jumlah Peserta Didik yang Nilainya Turun

(19)

Geografi 15 1 3

Ekonomi 16 1 2

Sosiologi 17 0 2

B. inggris 13 0 6

Matematika 12 1 6

B. indonesia 17 0 2

Naik; 78.95% Turun; 2.63%

seimbang; 18.42%

Perubahan Nilai Peserta Didik Ganesha Operation Cinere

Naik Turun seimbang

Peserta didik secara umum menunjukan perubahan yang positif pada akademiknya di sekolah setelah mengikuti bimbingan belajar Ganesha Operation.

4.2 Sistem Pendidikan Ganesha Operation

Ganesha Operation sebagai lembaga bimbingan belajar memiliki beberapa kelebihan dibanding pendidikan formal pada umumnya; hal ini dapat dilihat dari penyediaan fasilitas yang memadai, penerapan 3 gaya belajar yang mengoptimalkan pemrosesan belajar peserta didik, juga dengan pengaadannya seminar tiga kali setahun untuk meningkatkan motivasi peserta didik.

(20)

BAB V

PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Ganesha Operation memiliki keunggulan dalam seleksi tes yaitu Tes Modalitas. Ganesha Operation memiliki pemetaan dalam tempat duduk untuk mempermudah siswa dalam proses pembelajaran yang terbagi dalam Visual, Kinestetik dan Auditori. Ganesha Operation juga memiliki strategi untuk mengatasi siswa yang susah diatur yaitu pembinaan atau memanggil orang tua siswa. Catatan perbedaan kurikulum 2006 dan 2013 yaitu materi, urutan pembelajaran serta cara mebelajarkannya. Di Kurikulum 2013 siswa lebih aktif dan mencari materi sendiri. Ganesha Operation juga membagi kelas sesuai kurikulum 2013 dan KTSP 2006.

(21)

mempengaruhi nilai rapot sebelumnya dan mendapatkan pengetahuan yg belum didapatkan disekolahnya.

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

La Belle, Thomas J. 1976. Nonformal Education and Social Change in Latin America. Los Angeles:UCLA Latin American Center Publications & University of

California.

Sudjana, H. D. 2004. Pendidikan Nonformal. Wawasan, Sejarah Perkembangan, Filsafat, Teori Pendukung, Asas. Bandung: Falah Production.

Susetyo, Beni. 2005. Politik Pendidikan Penguasa. Yogyakarta: LKiS.

(22)

Referensi

Dokumen terkait

Sistem pendaftaran siswa baru ini digunakan untuk mempermudah sekolah dalam menerima calon siswa yang akan mendaftar kesekolah tersebut.siswa dan orang tua lebih mudah dalam

Pada hari ini Rabu tanggal Delapan bulan Oktober tahun Dua Ribu Empat Belas, kami Pokja Pengadaan Barang, Jasa Konsultansi dan Jasa Lainnya pada Unit Layanan

Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi gaya dengan diterapkannya model

A population-based survey of ≈ 4,000 people in 2 cities on the island of Java (Surabaya and Semarang) was initiated in 2000 by the Antimicrobial Resistance in Indonesia, Prevalence

Adapun permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah pertama : Bagaimana kekuatan sertipikat sebagai alat pembuktian hak atas tanah yang terdaftar atas nama seorang ahli

Penelitian ini mengkaji mengenai potensi energi listrik yang akan di hasilkan dari PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikrohidro) di DAS Cikurai dan memperhitungkan

Pendidikan MIPA menghendaki pendekatan – pendekatan tertentu dan metode – metode tertentu yang sesuai, serta sarana yang mendukung untuk memantapkan berbagai konsep

fenomena serupa yang terjadi pada tahun 1997, hanya saja karena faktor pengendali cuaca lain yaitu Indian Ocean Dipole (IOD) masih dalam kondisi netral, maka dampaknya bagi