• Tidak ada hasil yang ditemukan

Titik Temu Islam dan Kristen William Mon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Titik Temu Islam dan Kristen William Mon"

Copied!
194
0
0

Teks penuh

(1)

Titik Temu Islam

dan Kristen:

Persepsi dan Salah Persepsi

William Montgomery Watt

1996

Titik Temu Islam

dan Kristen:

Persepsi dan Salah Persepsi

William Montgomery Watt

(2)
(3)

Titik Temu Islam

dan Kristen:

Persepsi dan Salah Persepsi

William Montgomery Watt

(4)

TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN Persepsi dan Salah Persepsi

William Montgomery Watt Penerjemah: Zaimudin

Hak Terjemahan pada Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Desain Sampul: Salimi Akhmad

Diterbitkan Oleh: Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta Dicetak Oleh: Percetakan Radar Jaya Jakarta

(5)

Daftar Isi

Pengantar Penerjemah

v

Kristen Dipertemukan Dengan Islam

1

Berbagai Perbedaan Kebudayaan 1 Ortodoksi 3

Golongan Monoisit 4 Golongan Nestorian 6

Pengetahuan Kristen di Mekah 7 Kelemahan Kristen 8

Persepsi Al-Qur'an Tentang Kristen

11

Persepsi Umum Kenabian 11 Persepsi Yahudi 15

Persepsi Tentang Kristen 18

Fungsi Persepsi yang Kurang Memadai 29

Elaborasi Persepsi Al Qur'an

37

Dugaan Ketidakmurnian Dalam Kitab Suci 37 Muhammad Telah Diramalkan Didalam Bibel 41 Persepsi Islam Tentang Sejarah 45

Kesempurnaan dan Kemandirian Islam 50 Persepsi Sejarah Selanjutnya 54

Titik Temu Dengan Filsafat Yunani

63

Sikap Islam Terhadap Filsafat Yunani 63 Sikap Kristen Terhadap Filsafat Yunani 67 Releksi Lebih Lanjut 68

Titik Temu Dalam Kekuasaan Islam

73

Kolonialisme Islam 73

Polemik dan Apologetika Al-Qur'an 78 Apologetika Kristen 86

Releksi 89

Titik Temu Dengan Eropa Zaman Pertengahan

91

Andalusia dan Spanyol Islam 91

Perubahan Persepsi dari Perang Salib 94 Persepsi Kristen Terhadap Islam 101

(6)

Kerajaan Ottoman 109 Penjajahan Eropa 111

Gerakan Intelektual Baru di Eropa 115

Pengaruh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Modern 118

Titik Temu Modern

123

Hasrat Umat Islam Terhadap Pendidikan dan Teknologi Barat 123 Golongan Misioner dan Persepsinya Terhadap Islam 127

Golongan Orentalis Eropa 131

Reaksi Islam Terhadap Orientalisme 141 Kebangkitan Islam 145

Awal Dialog 152

Menuju Hari Depan

159

Agama dan Kultur Keagamaan 159

Hidup Berdampingan dengan Agama Lain 168 Tuntutan Umat Kristen 177

Tuntutan Umat Islam 181

Menuju Sikap Hormat Kepada Agama-Agama 183

(7)

Pengantar Penerjemah

W

illiam Montgomery Watt adalah seorang penulis barat

tentang Islam. Ia pernah mendapatkan gelar "Emiritus Professor," gelar penghormatan tertinggi bagi seorang ilmuwan. Gelar ini diberikan kepadanya oleh Universitas Edinburgh. Penghormatan ini diberikan kepada Watt atas keahliannya di bidang bahasa Arab dan Kajian Islam (Islamic Studies). Tentu kajian Islam ini beliau tekuni selama bertahun-tahun sehingga sampai kepada keahlian yang dimilikinya. Hasilnya, berbagai buku telah dilahirkan dari hasil pikiran dan penelitiannya tentang Islam.

Di pihak lain, beliau juga banyak menulis tentang kajian non Islam, misalnya tentang Kristen, Hindu, Budha, dan agama-agama besar lainnya di dunia, termasuk di dalamnya adalah agama Yahudi. Kajian-kajian yang dilakukan meliputi berbagai aspek, baik aspek ajaran maupun aspek masyarakat beragama sesuai dengan landasan pemikiran fenomenal dalam kehidupan keagamaan yang dipeluknya.

Dengan demikian, tidak salah bila dikatakan bahwa William Montgomery Watt adalah sosok ilmuwan barat yang selalu mengkaji masalah-masalah yang berkembang pada kehidupan keberagamaan manusia di dunia. Perkembangan yang senantiasa diikutinya ini mempengaruhi sikap Watt dalam menatap zaman dan merangkumnya dalam sudut pandang yang lebih harmonis, namun tetap menghorrnati peran agama yang dipeluk oleh manusia di dunia.

(8)

Oleh karenanya, tentu hasilnya berbeda-beda antara satu pemeluk agama dengan pemeluk agama yang lain. Ini pun masih dalam kerangka memahami satu agama yang dipahami oleh pemeluk-pemeluknya. Bagaimana jika pemeluk satu agama tertentu mencoba memahami satu agama yang lain? Tentu hasilnya akan berbeda dengan apa yang biasa dipahami oleh pemeluk agamanya sendiri ketimbang oleh pemeluk agama yang lain. Belum lagi apabila dikaitkan dengan sikap dan watak manusia, apakah pengkaji suatu agama itu bisa jujur ataukah juga bisa tidak jujur.

Seluruh sejarah pertentangan Islam-Kristen yang telah berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar itu, menurut Watt, diliputi oleh mitos-mitos dan persepsi-persepsi yang salah. Namun sebagian persepsi dan mitos itu masih diabadikan sampai hari ini. Yang aneh bahwa mitos dan persepsi itu selalu bertumbuh dan berkembang sehingga merusak persepsi Islam dan Kristen satu sama lain.

Bagi Watt, memperdebatkan kedua agama -- Islam dan Kristen -- itu diperlukan pengetahuan yang lebih akurat. Juga diperlukan apresiasi yang lebih positif dan kreatif terhadap agama lain. Jalan yang hendak ditempuhnya adalah bagaimana pemeluk agama yang satu dapat menghormati pemeluk agama yang lain, bagaimana menghormati agama satu dengan agama yang lain, dan bagaimana antara berbagai pemeluk agama itu memampukan dirinya untuk dapat melihat agama lain sebagai partner bukan sebagai lawan yang harus dimusuhi dalam kehidupan semesta.

Akhirnya, kepada sidang pembaca buku ini dipersembahkan untuk sama,sama memahami isi dan maknanya dalam setiap kajian yang dilakukan oleh Watt. Ditangan pembacalah penilaian akan kebenaran dan manfaat yang terkandung dalam hasil pena seorang Barat yang mencoba memahami Islam Kristen dari sudut pandangnya sendiri. Sidang pembaca mempunyai hak sepenuhnya untuk merenungi maknanya dan untuk

menjadikannya sebagai titik tolak memahami Islam-Kristen dalam perspektif masa depan yang lebih luas.

Semoga Tuhan melindungi kita, dengan rahmat dan petunjukNya. Amin.

Jakarta, 20 Januari 1996 Penterjemah

(9)

B

ab: I

B

ab: I

Kristen Dipertemukan

Dengan Islam

K

etika kita mulai berikir tentang Kristen yang diketemukan

oleh Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin awal, dapat dikatakan bahwa Kristen pada masa itu memang sungguh amat berbeda dengan Kristen yang kita kenal hari ini. Sekitar tahun 600 Masehi, ada sekelompok khusus umat Kristen yang melembagakan Gereja Besar, yang belakangan terpisah dan kini terpecah menjadi Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks Timur, dan Gereja Protestan. Namun ada pula segolongan umat Kristen penting yang telah keluar dari Gereja Besar itu seperti golongan heretik (bid'ah). Yang disebut terakhir ini seringkali dikenal sebagai golongan Monoisit (golongan Yakobit dan Copt) dan golongan Nestorian. Sebagian terbesar umat Kristen Mesir, Palestina, Syria dan Iraq --wilayah-wilayah negeri yang dipimpin oleh umat Islam-- yang kemungkinan besar mempunyai golongan-golongan heretikal (bid'ah) itu. Golongan-golongan bid'ah ini sebagian besar terdiri dari umat Kristen yang berada di Arabia sendiri.

Berbagai Perbedaan Kebudayaan

(10)

tahun 600 Masehi mereka membangun pusat kegiatannya yang utama di Iraq pada Kekaisaran Sassanian (Persia). Gereja Besar ini juga meliputi umat Kristen Eropa Barat, yang secara mendasar memiliki kebudayaan Latin dan yang pada tahun 600 Masehi mereka terpecah belah menjadi berbagai macam ajaran Prankish dan kerajaan-kerajaan kecil yang lain. Namun semenjak awal abad ke tujuh bangsa Arab tidak mempunyai kontak lagi dengan mereka.

Pada konsili ekumenikal Gereja (misalnya Konsili Nicaea pada tahun 325 Masehi dan Konsili Chalcedon pada tahun 451 Masehi) kultur uskup-uskup Gereja telah memainkan peranan yang dominan. Rumusan-rumusan Trinitas dan ajaran Kristologi secara resmi diterima oleh konsili tersebut, yang secara luas pada terma-terma khas ilsafat Yunani, yang lalu belakangan pada terma-terma khas Kekaisaran Byzantine. Kultur uskup-uskup Latin pada umumnya kurang berikir falsai ketimbang bangsa Yunani melainkan menyetujui rumusan-rumusan Yunani. Kendatipun demikian, barangkali ada catatan penting yang bermanfaat sehingga terma-terma Latin untuk ajaran trinitas (satu substantia, tiga personae) diakui sebagai equivalen dengan bahasa ilsafat Yunani (satu ousia, tiga hypostaseis), walaupun terma itu tidak identik benar, karena kata substantia secara etimologis berkorespondensi dengan kata hypostaseis. Uskup-uskup mewakili masyarakat Mesir serta masyarakat Syria Timur dan Syria Barat untuk menolak rumusan Yunani dan mengadopsi berbagai alternatif. Akibatnya mereka keluar dari Gereja Besar dan pada kasus golongan Nestorian, mereka keluar dari kekaisaran Kristen.

Sebagian bangsa manusia dewasa ini, ketika mereka memperhatikan diskusi-diskusi doktrinal secara terinci tentang Trinitas dan pribadi Kristus. Mereka mempunyai kesan berada pada labirin abstraksi-abstraksi, yang mempuyai relevansi dengan kehidupan aktual Kristen yang kelihatannya keras. Saya berpegang pada pendapat bahwa kita dapat mulai membuat sedikit

(11)

Ortodoksi

Memang benar, kebudayaan Yunani jauh dari realitas homogenus, karena di bawah payung kebudayaan Yunani ini bangsa manusia berasal dari berbagai macam latar belakang dimana bahasa ibu, seperti logat Lycaonia, tidak mencapai status bahasa kesusasteraan sebagaimana bahasa Koptik dan bahasa Syria. Satu gambaran kebudayaan Yunani adalah kepercayaannya kepada ortodoksi. Maka tak pelak lagi kalau kawasan timur Gereja Besar itu dikenal sebagai Gereja Ortodoks, yang karenanya dapat dikatakan di sini bahwa persetujuan-persetujuan paripurna kepada kepercayaan tersebut diyakini menjadi landasan bagi persatuan umat Kristen. Di pihak lain, kawasan barat lebih berpihak kepada Katolisitas gereja, yakni persatuan gereja sedunia, dan persatuan gereja sedunia ini dipertahankan oleh makna otoritas hirarki yang berasal dari Rasul-rasul yang asli. Visi ortodoks dari homoginitas komunitas pada iman dan persatuan dalam peribadatan adalah penting bagi gereja sebagai suatu keseluruhan. Namun pada prakteknya visi ini dapat diselewengkan kepada alat mayoritas yang dominan untuk berbuat tirani kepada minoritas. Ortodoksi menjadi berarti pengakuan rumusan-rumusan kredal, dan dari pengertian inilah subyek negosiasi antara berbagai macam golongan pada konsili-konsili ekumenikal yang terjadi. Dalam negosiasi ini, golongan minoritas seperti masyarakat Kristen di Mesir dan di Syria yang tidak mendapat tempat, lalu harus memilih antara meninggalkan sebagian kepercayaan mereka yang paling mendalam dan meninggalkan Gereja Besar.

(12)

unik itu dilihat sebagai membawa pengetahuan yang benar dan terbebasnya akal manusia dari batasan-batasan alam irrasional. Pengetahuan yang benar dipegangi membawa tindakan yang benar, dan kehidupan manusia yang ideal adalah satu hal dimana rasionalitas itu dikembangkan seluas-luasnya.

Tingkat berikutnya pada pemikiran Yunani dapat dilihat pada karya Gregory dari Nyssa (meninggal tahun 395 Masehi) , adalah salah seorang yang paling bertanggung jawab atas ajaran Trinitas dalam Konsili Konstantinopel (tahun 381 Masehi). Dalam Konsili Konstantinopel ini dinyatakan bahwa Kristus adalah manusia seperti kita (homousios) sebagai sang Bapa, tidak sama seperti manusia biasa (homogousios). Gregory menekankan bahwa dalam diri Kristus kita lihat watak operasional yang identik dengan diri Sang Bapa, yakni memberi kehidupan dan kesehatan, yang membersihkan dosa dan memberi petunjuk. Bagi Gregory, pribadi manusia yang secara hakikiah adalah ruh atau jiwanya, diciptakan pada waktu yang sama seperti tubuh atau badan. Tubuh atau badan jasmani itu dengan sendirinya tidak sehat, akan tetapi lewat hubungannya dengan ruh, ruh jadi diwarnai dengan pengaruh nafsu syahwat dan cinta, dan karya Kristus adalah untuk membersihkan jiwa atau ruh dari pengaruh-pengaruh nafsu tersebut. Pada kebangkitan ruh itu akan memberikan tubuh baru yang tidak dilalui dan kekal abadi.

Pernyataan ringkas ini barangkali cukup memberikan ide kebudayaan Yunani tentang rumusan suci (kredal) yang didasarkan pada Gereja Besar.

Golongan Monoisit

(13)

seperti binatang namun karena diberi akal oleh Tuhan (maka disini binatang tidak identik manusia yang diberi ruh sehingga manusia itu kekal abadi untuk selama-lamanya). Walaupun demikian, manusia itu kehilangan keabadiannya karena diperdaya oleh iblis atau setan dan bukan karena mempunyai tubuh yang dipandang sebagai sumber kejahatan. Karya Kristus menurut Athanasius itu ada dua hal. Di satu pihak, Kristus menerima hukuman mati atas nama dosa kemanusiaan. Kendatipun demikian, ada yang lebih penting dari ini adalah inkarnasi irman tuhan pada Yesus yang menjadikan hakekat kemanusiaannya tidak dapat dikorupsi dan akan dibangkitkan lagi nanti setelah manusia meninggal dunia. Yesus benar-benar mati karena demi mencapai penyelamatan bagi kemanusiaan, namun karena tubuhnya itu bersatu dengan irman Tuhan maka tidak lama lagi akan mendapatkan korupsi agar di hari ketiga akan dibangkitkan kembali. Melalui asosiasi dengan tubuh Kristus ini, umat Kristen memberi sumbangan kepada kebaikan dan keabadian. Athanasius mempunyai kalimat yang menjelaskan: "Kristus mengalami inkarnasi karena dia yang menjadikan sifat ketuhanan kita. Pada baris ini, tidak sulit untuk memahami pemikiran Kristiani Mesir kuno sebelum penaklukan dengan kematian dan membebaskannya.

Dari pertimbangan pemikiran ajaran Athanasius ini, kemungkinan besar dapat dipahami bagaimana hal itu tidak dapat dihindarkan bagi para pemikir Mesir atau para pemikir Koptik terkemudian untuk mengadopsi monoisitisme, ajaran akan adanya ketuhanan yang tunggal --hakekat manusia pada diri Kristus. Problema sentral kehidupan manusia, problema mortalitas, diatasi oleh penyatuan Firman Tuhan dengan hakekat manusia, bahwa hakekat manusia itu kekal abadi. Di pihak lain, apabila pada diri Kristus itu hakekat ketuhanan dan hakekat kemanusiaan yang kekal abadi dua-duanya. Sementara itu, hakekat manusia biasanya masih tetap menjadi subyek yang meninggal dunia, diyakini oleh umat Kristen. Berdasarkan pemikiran yang ada pada tradisi Mesir kuno ini, maka pemikiran tersebut sebetulnya mirip dengan penolakan tugas penyelamatan Kristus.

(14)

pandangan sebagian bangsa Semit, problema besar bagi makhluk yang bemama manusia itu adalah tercapainya keselamatan pada sisi kehidupan ekonomi dan material. Penderitaan dan kesengsaraan, secara umum dipandang sebagai hukuman karena dosa yang diperbuat manusia, sekalipun dalam beberapa kasus digunakan oleh Tuhan untuk menarik kembali hamba-hambaNya menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam pemikiran Severus, Tuhan adalah "penguasa tindakan" - enezgeia - yang paling utama bukannya akal budi. Inkarnasi Firman Tuhan dalam Yesus berarti bahwa pada diri Yesuslah kita melihat hakekat ketuhanan-manusia atau energeia teandrik. Dengan energeia teandrik ini manusia dibebaskan dari kekuatan-kekuatan jahat yang membujuk dan memperdaya manusia untuk berbuat dosa dan dari perbuatan dosa inilah yang mendatangkan hukuman bagi manusia. Umat Kristen hendaknya mendapatkan keuntungan-keuntungan dari pembebasan tersebut dengan berpartisipasi pada Eucharist. Pemikiran Severus yang paling mendasar adalah konsepsi kekuasaan Tuhan ini yang mengejawantahkan dirinya pada seluruh hidup manusia, dan membawa keselamatan bagi kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Kendatipun demikian, hasil ini tidak dapat diraih apabila hakekat ketuhanan dan hakekat kemanusiaan pada diri Yesus itu masih tetap terpisah tidak manunggal jadi satu pada satu orang. Lebih lanjut pandangannya bahwa Yesus itu sungguh-sungguh bersifat ketuhanan dan sekaligus bersifat kemanusiaan, akan tetapi hakekat kemanusiaan dan hakekat ketuhanan itu sesungguhnya berbeda satu dengan yang lain. Pandangan seperti ini pada pandangan resmi konsili-konsili eukumenikal dan sebagian besar umat Kristen dewasa ini, tak pelak lagi, meyakini pandangan yang dikenal sebagai Dyophysitisme.

Golongan Nestorian

Ketika kita kembali ke golongan Nestorian atau bangsa Syria Timur, maka kita menemukan titik sentral pemikiran bahwa Tuhan itu kekal abadi dan tidak dapat dilampaui. Berdasarkan alasan ini maka golongan ini memberi obyek kepada terma theodokos atau "Tuhan-beranak", yang dikembalikan kepada Maria. Oleh karena Tuhan itu kekal abadi maka Tuhan tidak mungkin

(15)

makhluk manusia, dia digoda namun godaan-godaan yang diarahkan kepadanya itu selalu menemui kegagalan dan dalam perjuangan inilah dia tidak punya kemajuan yang tidak kita miliki juga. Rupanya Nestorius menyatakan bahwa bangsa manusia terdahulu itu tidak dapat mendeteksi tipu daya setan dan tidak percaya kalau hal itu mungkin terjadi bagi kemanusiaan untuk memenuhi perintah-perintah serta petunjuk-petunjuk secara sempurna, sehingga mereka yang tidak tunduk itu jatuh ke lembah kekufuran. Di balik itu, kini mereka mengetahui bahwa ketundukan itu adalah kemungkinan dapat terjadi bagi hakekat alam manusia dan lalu menjadi punya kemampuan untuk tunduk dan patuh. Kemanusiaan Kristus dan bagi kita membantu cinta kasih ketuhanan tanpa kecuali. Dalam kemanusiaannya itu, Kristus dapat menguasai setan, namun dalam kehampaan dirinya untuk mengambil bentuk seorang hamba yang terjadi bagi kemanusiaan Yesus adalah model kerendahan yang paling tinggi. Sungguhpun demikian, Nestorius mempunyai beberapa kesulitan dalam menjelaskan bagaimana keabadian Tuhan dan kemutlakannya dapat dipersatukan dengan kemanusiaan yang bersifat temporal (sementara), padahal Tuhan tidak mungkin dapat terkena sakit atau menderita. Nestorius meletakkan beberapa penekanan atas kesatuan kehendak, karena kehendak Tuhan tidak berlaku pada adat-kebiasaan yang temporal, melainkan kesatuan kehendak ini adalah suatu konsekuensi dari kesatuan kemanusiaan dan ketuhanan dan bukan dasarnya.

Pengetahuan Kristen di Mekah

(16)

mempengaruhi ide-ide tentang Kristianitas terakhir di Mekah Dalam beberapa cara pandang kultural umum masyarakat Arab Mekah kiranya paling dekat dengan golongan Nestorian. Lebih dari itu, disamping hadirnya sejumlah kelompok umat Kristen ditengah bangsa Arab yang nomadik dan bangsa Arab sebagai penduduk yang menetap, agaknya hanya sedikit orang yang mempunyai pengetahuan terpelajar tentang Kristen dan mereka hanya terdiri dari sebagian kecil biarawan dan anggota gereja (kleriks). Orang Kristen awam Arab ini diduga hanya mempunyai pengetahuan yang amat sedikit tentang agamanya sendiri.

Tidak ada terjemahan kitab Bibel atau bahkan kitab Perjanjian Baru kedalam bahasa Arab, walaupun hanya sebagian kecil ayat-ayat pendek di biara-biara dan tempat-tempat yang sejenis. Pernyataan Ibnu Ishaq bahwa Waraqah Ibnu Nawfal, saudara sepupu Khadijah yang isteri Nabi Muhammad itu, adalah seorang yang beragama Kristen dan mengetahui tentang kitab-kitab suci. Pernyataan ini dimaksudkan bahwa orang ini hanya membaca kitab Bibel dalam bahasa Syria atau apa yang dia pahami dengan bahasa mereka sendiri. Sejumlah saudagar Mekah, termasuk Muhammad yang tengah berjalan menuju ke Gaza dan Damascus di wilayah kekaisaran Byzantine dan sebagian ke Abyssinia Kristen. Akan tetapi tiap orang pada umumnya hanya belajar tentang gambaran-gammbaran keabadian Kristianitas mereka yang tertarik secara khusus. Ada pula sebagian umat Kristen Byzantine di Mekah dari waktu ke waktu, boleh jadi terutama para ahli pertukangan. Terkadang dikenal dengan bangsa Yahudi di Mekah karena adanya klen-klen Yahudi di Madinah dan di berbagai oasis Arabia. Jadi masyarakat di Mekah mengetahui adanya agama Yahudi dan Kristen (Nasrani), namun informasi yang akurat tentang kedua agama ini hanya sedikit sekali dan kurang memadai.

Kelemahan Kristen

Untuk mengapresiasi dengan benar titik temu pertama antara Islam dan Kristen yang diperlukan bagi umat yang beragama Kristen adalah agar mereka sadar akan kelemahan Kristiani di periode zaman itu. Maka ada tiga hal penting yang perlu diketahui tentang kelemahankelemahan mereka di zaman itu.

(17)

Byzantine. Walaupun demikian, demi interes mereka kepada perdagangan, maka penting bagi mereka untuk mempertahankan netralitas antara kekaisaran Byzantine dan kekaisaraan Sassanian. Sekitar tahun 590 Masehi atau agak terkemudian sedikit, seorang Mekah yang bernama Utsman Ibnu Al-Huwairits yang beragama Kristen itu, agaknya mencoba mengajak masyarakat Mekah untuk menerima agama Kristen sebagai sejenis pengertian dengan menyatakan dia telah dapat mengajak perkampungan-perkampungan khusus tertentu dari bangsa Byzantine; dan barangkali aspek keagamaan yang baik sebaik pretensi-pretensinya kepada keagungan yang menjadikan mereka itu menolak rencana ajakan Al-Huwairits ini.

Kedua, teologi Yunani resmi sebagai dideinisikan oleh konsili-konsili ekumenikal yang menjadi terlalu abstrak dan secara sempurna berada di luar genggaman pemahaman orang Kristen awam. Golongan Monoisit dan golongan Nestorian dalam mendeinisikan posisi mereka menentang rumusan-rumusan resmi Greja Besar, juga nyaris menjadi abstrak. Ini berarti bahwa sebagian umat Kristen yang berada di Mekah sekiranya diketemukan ketidakmampuan mereka menjelaskan seluk beluk ajaran Kristen. Tidak heran kalau ide-ide mereka itu tidak cukup dan malah salah tentang Kristiani yang belakangan ada di Mekah, namun inilah yang seharusnya menjadi tanggung jawab umat Kristen dengan sendirinya.

(18)
(19)

B

ab: II

B

ab: II

Persepsi Al-Qur'an Tentang

Kristen

Persepsi Umum Kenabian

S

ecara umum persepsi Al-Qur'an tentang agama-agama lain

di luar Islam, khususnya Yahudi dan Kristen, tak pelak lagi, tergantung atas tingkatan pemahaman historis mutakhir di Mekah dan letak Arabia sekitar tahun 600 Masehi. Tingkatan pemahaman ini jelas-jelas bersifat mendasar bagi persepsi tersebut. Bangsa Arab tidak mempunyai dokumen sejarah tertulis. Ada beberapa prasasti dari kerajaan-kerajaan terdahulu, namun apabila orang dapat membacanya masih diragukan karena masih tetap kurang mengapresiasikan signiikansinya. Jadi bagi bangsa Arab, sejarah itu tergantung kepada tradisi oral dari mulut ke mulut. Mereka mengetahui sesuatu dalam sejarah kesukuan dan klen-klen mereka berkenaan dengan sebagian kecil generasi sebelumnya. Akan tetapi kebanyakan sejarah suku-suku Arab ini berupa bagaimana suku-suku ini tumbuh-kembang pada kekuasaan lewat satu pemimpin terkemuka atau lebih, kemudian menjadi makin kuat selama satu atau dua generasi, lalu kembali lagi tidak menunjukkan peran signiikansinya. Arti kesementaraan komunitas-komunitas manusia kemungkinan dapat diperteguh oleh pengamatan tempat-tempat yang satu saat dapat ditempati dalam waktu sekejap dan tidak tetap. Di sejumlah ayat Al-Qur'an, umat Islam diberitahukan tentang perjalanan melewati negeri dan melihat bencana-bencana yang menimpa bangsa-bangsa terdahulu. Bencana yang menimpa ini disebabkan karena mereka tidak mau memperhatikan ucapan-ucapan Nabi mereka.

(20)

mengakui suatu komunitas; misalnya komunitas Yahudi dengan mata rantai kesinambungan sejarah yang berakhir lebih dari seribu tahun lamanya, tiga puluh generasi atau empat puluh generasi.

Gambaran lebih lanjut tentang pandangan historis Arab adalah percaya kepada keabadian kondisi kehidupan manusia dan masyarakat yang tidak pernah berubah, tetap, dan kebencian yang konsekuen kepada semua hal yang baru. Salah satu

tuduhan permusuhan Muhammad SAW yang dilancarkan oleh para penyembah berhala Mekah adalah karena kenabian ini sebelumnya tidak dikenal di Arabia, dan di dalam Al-Qur'an Nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah agar secara terang-terangan menyebarkan ajaran kenabian ini dengan mendesak bangsa Arab Mekah untuk meninggalkan kenabiannya yang sesungguhnya tidak baru itu (46: 9).

"Katakanlah: Aku bukanlah rasul yang pertama diantara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadapmu. Aku tidak lain kecuali hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan."

Kisah-kisah yang menceritakan nabi-nabi terdahulu dijelaskan di dalam Al- Qur'an sekitar seperempat Al-Qur'an jumlahnya, bukan hanya memberikan penguatan bagi Nabi Muhammad SAW dan para pengikut beliau semata, melainkan juga tuntutan tegas agar beliau mempunyai rentetan asal-usul keturunan spiritual yang panjang dan bahwa nabi-nabi yang sebelum beliau itu mempunyai pengalaman-pengalaman yang mirip sama dengan pengalaman-pengalaman beliau sendiri. Bentuk umum kisah itu memberitahukan bagaimana setelah nabi mengajak bangsanya untuk beriman kepada Allah dan beribadah kepadaNya serta siap sedia berkurban menghambakkan diri kepada Allah satu-satunya yang tunggal dan Maha Esa. Namun mereka itu mengingkari pesan risalah nabinya dan lalu mereka ditimpa oleh bencana yang menghancurkan suatu bangsa tertentu itu. Pada surat 7, 11, dan 25, ada hitungan paralel Nabi Luth, Nabi Nuh dan tiga nabi dari bangsa Arab: Hud, Salih dan Syu'aib; dan ada acuan-acuan lebih ringkas terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi tersebut dimanapun berada; terkadang Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain, dan seterusnya. Pada QS. 7: 59-64, menceritakan kisah Nabi Nuh AS., dari awal sampai akhir sebagaimana di bawah ini:

(21)

Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kamu berada dalam kesesatan yang nyata."

Nuh menjawab: "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun, tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam."

"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui melalui wahyu dari Allah."

"Dan apakah kamu tidak percaya dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertaqwa dan supaya kamu mendapat rahmat."

"Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."

Nabi-nabi bangsa Arab di atas, sama-sama menyeru bangsanya masing-masing untuk beriman kepada Allah dan hanya

menyembah Allah, akan tetapi hukuman bencana yang dijatuhkan kepada kaum nabi-nabi itu berbeda-beda. Nabi Luth menyalahkan kaumnya melakukan hubungan seksual yang immoral. Lagi-lagi mesti ditetapkan bahwa hukuman bencana yang dijatuhkan kepada kaum Nabi Luth ini tetap diberikan oleh Allah meskipun Nabi Luth berusaha menyelamatkan mereka dan hanya Nabi Luth sajalah yang selamat dan orang-orang yang besertanya.

Pada konteks kekinian ada hal penting yang perlu dicatat bahwa biasanya seorang Nabi atau Rasul itu dikirim oleh Allah untuk membawakan ajaran monoteisme kepada bangsanya. Sementara mereka ini diyakini menjadi kaum atau bangsa yang menyembah banyak tuhan atau bahkan ateis yang tidak menyembah tuhan sama sekali. Ayat Al-Qur'an berikut ini (23: 44) akan dapat mengindikasikan bagaimana kaum muslimin merasakan kenabian sungguhpun mereka ini masih tetap lebih sadar akan oposisinya kepada Muhammad ketimbang kesuksesan beliau.

(22)

tutur manusia, maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman.

Kebanyakan seorang nabi agaknya berkumpul menjadi satu komunitas bersama orang-orang beriman yang mengelilinginya pada generasi pertama. Maka tidak ada bukti yang menyatakan bahwa seorang nabi atau seorang rasul itu datang ke suatu masyarakat orang beriman kepada Tuhan (Allah) dalam rangka mengajak kaumnya agar memperoleh pengetahuan tentangNya lebih jauh. Orang-orang seperti para nabi pembawa kitab yang berisi ajaran-ajaran. Kitab Perjanjian Lama (Ahl al-Kitab) yang tidak dapat dipikirkan dan hal ini barangkali yang paling signiikan adalah bahwa tak seorangpun dari mereka itu disebutkan di dalam Al-Qur'an tanpa kecuali, selain Jonah. Maka sekarang diyakini oleh para ilmuwan Kristen bahwa kitab dengan nama tersebut, selain profunditas spirittualnya, tidak ditulis oleh pribadi aktual yang disebut Jonah itu secara langsung.

Al-Qur'an secara implisit menyatakan bahwa pada hakekatnya semua nabi/rasul itu mengajarkan pesan risalah yang secara esensial adalah sama, utamanya percaya bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa nanti di hari kiamat tiap-tiap manusia akan dihadapkan kepada Allah secara langsung untuk menerima pembalasan (diadili) atas perbuatan-perbuatan yang dilakukannya di muka bumi ketika masih hidup. Ayat berikut ini (3: 81, 85) menjelaskan perjanjian yang kemungkinan dapat diduga telah terjadi sebelum masa penciptaan:

Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: "Sungguh apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui ..." Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya.

(23)

yang menyampaikan suatu pesan (risalah) dari Tuhan kepada umatnya. Sebutan paling umum bagi Muhammad dalam bahasa Arab adalah Rasul Allah, dan oleh karena kata ini cenderung mengandung arti pengembangan konsepsi kenabian atau risalah, seperti yang terjadi di tahun-tahun terakhir Muhammad ketika beliau sudah menjadi seorang pemimpin dan pimpinan komunitas masyarakat atau bangsa. Akan tetapi konotasi ini tidak akan diperoleh pada bacaan dalam pemakaian kata-kata Al-Qur'an yang turun sebelumnya.

Perjanjian nabi-nabi (rasul-rasul) ini rupanya terus berlangsung semenjak masa perjanjian primordial antara Allah dan bangsa manusia sebagai suatu keseluruhan (7: 172-173):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian dari jiwa mereka seraya berirman: "Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: "Betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kelak kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan), atau agar kamu tidak akan mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan semenjak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?

Barangkali terlalu jauh untuk bersikukuh dengan pendapat bahwa ayat di atas secara implisit menyatakan bahwa semua manusia anak Adam itu mempunyai pengetahuan bawaan semenjak lahir tentang Tuhan. Namun hal ini juga sekaligus mengatakan bahwa semua manusia anak Adam itu mempunyai kapasitas untuk menanggapi atau memberi jawaban kepada seorang nabi atau rasul. Pernyataan ini dijelaskan karena perjanjian dan kesaksian di sini merupakan bagian dari latar belakang sejarah keagamaan bangsa manusia sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an.

Persepsi Yahudi

(24)

kerangka pikir dengan rincian-rincian pas yang diberikan, tentu saja berbeda dengan yang dijelaskan di dalam Al- Qur'an. Didalamnya ada kisah-kisah tentang Nabi Nuh, Ibrahim dan Musa (yang semuanya dianggap sebagai nabi) dan karakter-karakter lain di dalam Perjanjian Lama. Sebaliknya sama sekali tidak memuat indikasi yang diberikan tentang bagaimana nabi-nabi itu saling berkaitan satu sama lain dalam zaman. Demikian pula ada berbagai kisah tentang nabi Musa yang terinci semenjak masa infasinya, dan seterusnya, akan tetapi tentang kisah-kisah kejadian ini disuguhkan secara terpisah-pisah dan tidak disuguhkan secara kronologis dalam satu sajian yang berurutan.

Ada ide yang terdapat pada serentetan nabi-nabi pada bangsa Israel. Bangsa ini disebut sebagai Banu Israel (anak-anak keturunan Israel) di banyak cara yang sama sebagai suku-suku Arab yang acapkali dipanggil sebagai Banu N (anak- anak keturunan N). Namun hal itu asal-usulnya diduga didasarkan pada kitab suci yang diberikan kepada Musa, kepada Nabi. Ayat Al-Qur'an berikut ini mengatakan:

Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menyusulinya berturut-turut sesudah itu dengan rasul-rasul.

Kontinuitas Bani Israel sebagai sebuah suku bangsa boleh jadi ditandai oleh pernyataan di bawah ini:

Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya'kub, dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya.

Di pihak lain, ketika Muhammad SAW sendiri menghadapi penolakan dan penentangan oleh orang-orang Yahudi Madinah sebagai nabi, Al-Qur'an mengatakan (2: 130) bahwa setelah Ibrahim dipilih putra-putranya dan Ya'kub untuk tunduk menyerah (sebagai muslim) kepada Tuhan semesta alam, dan Ya'kub

demikian pula Allah telah memilih anak-anaknya dan mereka telah memilih agama (Islam) ini, yaitu suatu komunitas yang telah lalu.

(25)

menyebut dirinya sebagai nabi yang menerima kitab suci yang disebut dengan nama Zabur yang diambil menjadi kitab Mazmur (Amsal Sulaiman) (4: 163; 17: 55). Gunung-gunung dan burung-burung dikatakan telah bersama-sama dengan Dawud dalam memuji Allah. Ini dapat menjadi petunjuk ke ayat-ayat (surat-surat) dalam kitab Mazmur yang mengatakan tentang makhluk-makhluk untuk memuji Tuhan. Baik Nabi Dawud maupun Nabi Sulaiman, keduanya telah diberikan (batas) kekuasaan (21: 78-80) yang menyebutkan bahwa raja Dawud adalah raja yang kuat (38: 20) . Demikian juga dikatakan bagaimana Nabi Dawud membuat baju besi (34: 10 dan seterusnya; 38: 17-20). Walaupun demikian, semuanya ini gagal membuat ide tentang signiikansi Dawud di dalam sejarah bangsa Israel.

Musa dikatakan sebagai nabi atau rasul yang menerima sebuah kitab suci yang diturunkan oleh Allah yang diberi nama kitab Taurat (6: 154; bandingkan dengan 5: 44). Sementara kata Taurat ini dapat diidentikkan dengan nama Torah, yang di dalam Al-Qur'an dinyatakan bahwa umat Islam tidak boleh memberi ide tentang karakter Pentateuch, kitab Perjanjian Lama masih tetap kurang sebagai suatu keseluruhan, karena kitab Taurat ini secara luas berisikan tentang undang-undang hukum. Dimanapun juga tidak dikatakan bahwa materi historis tentang Nabi Nuh, kepala keluarga, awal kehidupan Nabi Musa dan Exodus yang berasal dari Taurat. Memang benar, di dalam Al-Qur'an ada materi historis tentang berbagai peristiwa yang terjadi pada sejarah terdahulu, namun, lebih dari memberi informasi segar tentang hal-hal yang gaib. Hal ini rupanya malah menggambarkan pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang terjadi yang segera akan mereka ketahui. Berdasarkan tujuan ini, penjelasan ringkas atau petunjuk yang cukup, seperti yang dapat dilihat oleh pembandingan ayat tentang Nabi Nuh yang telah dikutip di dalam pernyataan Biblikal.

Keterangan di atas tidak menjelaskan mengapa perlu adanya nabi-nabi. Barangkali karena bangsa Israel jatuh lagi ke dalam kekufuran yang hampir menuju paganisme (menyembah berhala):

(26)

janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. (5: 12, dan seterusnya)

Pernyataan yang lebih positif adalah ayat di bawah ini:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya, (ada) petunjuk dan cahaya yang menerangi. Yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya (5: 44).

Juga ada petunjuk-petunjuk yang kurang jelas tentang pelanggaran-pelanggaran bangsa Yahudi di dalam 7: 167-169.

Setelah hadir di Madinah, Nabi Muhamad SAW segera mengadakan kontak dengan kelompok-kelompok masyarakat Yahudi yang ada di sana, dan Al-Qur'an tidak memberikan argumen-argumen yang mengejutkan yang dapat digunakan untuk menyerang mereka, terutama menyerang pernyataan mereka yang tentu dengan sendirinya mereka telah mempunyai pengetahuan yang benar tentang Allah. Argumen apologetik utama yang dihadirkan bahwa Al-Qur'an mendatangkan agama Ibrahim yang benar, yang menjadi orang hanif atau orang muslim (dalam artian yang umum), dan bukan menjadi orang Yahudi atau orang Nasrani. Pernyataan terakhir ini dengan tegas-tegas menyatakan kebenaran, walaupun fakta menunjukkan bahwa umat Yahudi dan umat Nasrani merujuk Ibrahim sebagai asal-usul (bapak) agama mereka, dan ini membuktikan bahwa ada pengetahuan tentang Allah yang benar yang berasal dari agama Yahudi atau agama Nasrani. Walaupun demikian, semua argumen ini tidak membantu umat Islam untuk membentuk ide yang jelas tentang Judaisme atau agama Yahudi.

Persepsi Tentang Kristen

Pasal terdahulu mencoba menunjukkan bagaimana Muhammad dan penduduk Mekah yang lain berkesempatan untuk belajar tentang Kristiani yang terbatas. Berbagai

(27)

demikian, dalam ayat-ayat Al-Qur'an terdahulu ada beberapa petunjuk yang amat bersahabat tentang umat Kristen (Nasrani).

Sesungguhnya orang mukmin, orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang-orang-orang Shabi'in, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal salih, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati (2: 62).

Pengakuan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai golongan orang-orang yang beriman kepada Allah adalah sesuai dengan jaminan yang diberikan oleh Waraqah, saudara sepupu Khadijah isteri nabi Muhammad SAW itu, bahwa wahyu-wahyu yang akan beliau terima itu dapat diperbandingkan dengan wahyu-wahyu yang diterima oleh Nabi Musa.

Segera setelah Hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu berkenaan dengan kesulitan yang dialami beliau terhadap orang-orang Yahudi di Madinah yang tengah bermusuhan dengan orang-orang Nasrani:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras

permusuhannya terhadap orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka (orang-orang Nasrani itu) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, juga karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (5: 82).

Penghargaan dan pujian yang diberikan kepada orang-orang Nasrani ini dapat mencerminkan kebaikan hati yang dahulu ditunjukkan kepada segolongan umat Islam di kekaisaran Nasrani Abyssinia (atau sekarang Ethiopia), ketika umat Islam melepaskan diri dari penyiksaan dan penganiayaan masyarakat Quraish di Mekah.

Ayat di bawah ini lebih lanjut dapat menunjukkan kemurahan hati orang-orang Nasrani, namun demikian ayat ini juga tetap mengkritik tradisi monastik mereka:

(28)

mereka tetapi mereka sendirilah yang mengada-adakan untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik (5:27).

Ayat berikut ini rupanya menunjukkan kesadaran antara perpecahan dan perselisihan di antara orang-orang Nasrani, meskipun menurut pemikiran dapat menunjukkan perselisihan antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Perjanjian itu dapat menjadi perjanjian atau statemen baru sebagaimana dipahami oleh orang-orang Nasrani pertama:

Dan di antara orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberikan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan (5: 14).

Argumen-argumen yang ditunjukkan pada ayat di bawah ini di antara orang-orang Yahudi dan Nasrani:

Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka sama-sama membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka perselisihkan itu (2: 113).

Ayat di atas menyebutkan bahwa tuduhan-tuduhan satu sama lain antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, menyebabkan mereka saling menghapuskan pihak lain.

Kecaman orang-orang Yahudi dan Nasrani satu sama lain di atas benar-benar membuktikan bahwa mereka sama-sama tidak mengakui kenabian Muhammad SAW, meskipun masing-masing tetap mempertahankan kebenaran mereka secara eksklusif, sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini:

Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk." Katakanlah: "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Ibrahim itu dari golongan orang musyrik (2: 135).

(29)

Nabi Ibrahim AS dan lain-lainnya adalah "petunjuk" dan tidak mungkin mengakui petunjuk ini sebagai orang Yahudi atau orang Nasrani; tentu saja ini secara implisit harus ada sumber petunjuk yang lain. (Ibrahim dalam pandangan Islam adalah seorang nabi/rasul, yang dengan sendirinya menerima dan mengakui petunjuk). Kata hanif yang dipergunakan di dalam Al-Qur'an menunjukkan seorang monoteis yang bukan Yahudi atau bukan Nasrani, dan kata ini hanya digunakan untuk agama Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW beserta pengikut-pengikut beliau. Sebagian apologetika Al-Qur'an, ada yang menentang agama-agama yang terlebih tua dan terlebih dahulu hadirnya di muka bumi ini. Para ulama muslim terdahulu menyebutkan sebagian kecil manusia yang menganggap rendah Muhammad, mereka katakan menjadi orang-orang yang hanif terhadap para pengikut Ibrahim dan Muhammad ini. Namun demikian, tidak ada bukti yang menunjukkan sebutan orang-orang hanif itu adalah kata itu sendiri, sungguhpun penjelasan demikian diberlakukan. Dalam syair Jahili dan dalam bahasa Nasrani, kata hanif ini berarti kair atau penyembah berhala dikarenakan tidak mengikuti agama Nasrani itu.

Apa yang barangkali dapat dipandang sebagai awal mula kisah Nasrani (Kristen) di dalam Al-Qur'an adalah materi legenda yang tidak diketemukan pada Perjanjian Baru:

(30)

Imran dalam bahasa Arab dengan membentuk kata amran, ayah Musa, Aaron dan Miriam di dalam Bibel. Sebagian masyarakat Mekah seolah dibingungkan antara kata Mary dengan Miriam, karena nama tersebut menjadi sama dalam bahasa Arabnya dan bahkan Mary dialamatkan sebagai anak putri Aaron pada (19: 28).

Ayat tersebut dilanjutkan dengan pertimbangan kelahiran John sang pembaptis (Yahya) yang kira-kira secara kasar sesuai dengan Lukas dalam 1: 5 25, 57-64:

Disanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do'a. Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang orang salih." Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku sudah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul? Berirman Allah: "Demikianlah Allah berbuat apa yang dikehendakiNya." Berkata Zakaria: "Berilah aku suatu tanda-tanda (bahwa istriku telah mengandung)." Allah berirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari." (3:38-41).

Ada pula penjelasan yang sama namun dalam surat dan ayat yang lebih panjang pada 19: 1-15. Selanjutnya diikuti oleh kisah yang tersebar luas tentang Maryam dan kelahiran Isa:

(31)

ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang sudah masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara kepada seorang manusia pun pada hari ini." Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina," maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan." Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan sejahtera semoga dilimpahan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dunia dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." Itulah Isa putra Maryam yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya (19: 16-34).

(32)

yang menjelaskan persoalan pokok konsepsi secara tepat yang sebenamya. Pengakuan konsepsi kesucian Yesus (Isa) oleh umat Islam bersamaan dengan penolakan mereka atas ketuhanannya, agaknya menunjukkan bahwa tidak ada hubungan penting antara konsepsi keperawanan, kesucian dan ketuhanan, dan releksi yang cenderung mendukung hal ini. Namun yang dapat dikatakan bahwa bagi orang-orang yang beriman kepada hakekat ketuhanan Yesus atas dasar yang lain adalah menguntungkan pada konsepsi kesucian dan keperawanan.

Pernyataan paling penuh tentang hakekat kenabian Yesus (Isa) diberikan pada kisah periwayatan yang lain:

(33)

berserah diri (muslimin). Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam gologan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)" (3: 45-53).

Nama orang- orang yang menolong (ansar) yang diberikan kepada para pendukung Nabi Muhammad SAW di Madinah, dan juga penyatuannya dengan nasara (umat Kristen). Kata hawariyun yang dipakai didalam Al-Qur'an hanya dimaksudkan bagi murid- murid (sahabat-sahabat setia) Yesus (Isa).

Mu'jizat yang dijelaskan pada ayat terdahulu juga terdapat pada ayat lain, walaupun tanpa adanya preskripsi-preskripsi legal, lalu ditambahkan:

Dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kair di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata" (5: 110).

Pada ayat-ayat di atas dijelaskan bahwa Isa dikirim oleh Tuhan kepada Bani Israel, dan dengan demikian mejadi salah satu keturunan Ibrahim. Walaupun demikian, dia ini dipandang sebagai seorang hakim, "memperkuat" Torah (Taurat), sekalipun dengan berbagai variasi yang berbeda-beda satu sama lain. Mu'jizat burung dari tanah yang kemudian dapat hidup, yang tidak terdapat pada Perjanjian Baru, begitu dikenal sampai ke para ilmuwan dari berbagai macam ajaran heretikal.

Ada dua hal yang tampil di dalam Al-Qur'an untuk menolak kepercayaan bahwa Isa itu mati di tiang salib. Hal yang kedua ialah menolak hakekat ketuhanan Yesus (Isa). Mengenai penolakannya terhadap kematian Yesus di tiang salib adalah ayat Al-Qur'an yang menyebutkan:

(34)

Sementara ada ayat lain yang kurang jelas:

(Ingatlah) ketika Allah berirman: "Wahai Isa, sesungguhnnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kair, dan menjadikan orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kair sampai hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya" (3: 55).

Pada ayat yang kedua ini terma yang samar-samar

diterjemahkan dengan "menyampaikan kamu ke akhir ajalmu" (mutawaika) yang biasanya digunakan untuk pengertian "menyebabkan engkau mati" (selain arti mati di tiang salib). Orang-orang kair yang mengikuti Isa yang disebutkan itu bisa jadi orang-orang Yahudilah yang tidak mengakui Yesus dan yang sekarang dalam posisi yang lebih rendah di Kekaisaran Byzantine.

Ayat pertama menunjukkan serangan orang-orang Yahudi dan menegaskan bahwa mereka tidak membunuh Yesus. Dalam pengertian ini, sebenarnya karena penyaliban adalah perbuatan serdadu-serdadu Romawi; dan benar juga dalam artiannya yang lebih mendalam, karena penyaliban itu bukan merupakan kemenangan bagi orang-orang Yahudi dalam pandangan mereka tentang kebangkitan kembali Yesus setelah mati. Kalimat shubbiha lahun itu diterjemahkan "seolah olah menjadi seperti mereka" adalah samar-samar dan dapat diterjemahkan dengan cara-cara yang sangat berbeda. Penafsiran umum di tengah kaum muslimin adalah bahwa ada orang lain, kemungkinan sekali Yudas yang diserupakan dan menggantikan Yesus. Sekte heretik modern dari Ahmadiyah berpegang pada pendapat yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah pingsan di atas tiang salib, masih tetap hidup dan pulih kembali menjadi sehat seperti sedia kala. Lalu pergi ke arah timur untuk menjalankan da'wah; dan golongan Ahmadiyah mengklaim telah menemukan kuburannya di Kashmir. Selama berabad-abad sebelum lahimya Nabi Muhammad

(35)

Penolakan hakekat ketuhanan Yesus (Isa) dikemukakan dalam banyak ayat Al-Qur'an dan dengan demikian juga berarti penolakan secara langsung terhadap ajaran Trinitas. Sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat berikut ini:

Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, putra Maryam, itu adalah Rasulullah dan yang diciptakan dengan kalimat-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan jangan kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga." Berhentilah dari ucapan itu, itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai pemelihara (4: 171).

Sesungguhnya telah kairlah orang-orang yang berkata:

"Sesungguhnya Allah adalah Masih putra Maryam," padahal Al-Masih sendiri berkata: "Wahai Bani Israel, sembahlah Allah, Tuhanmu dan Tuhanku." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kairlah orang-orang yang mengatakan, "bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa (5: 72-73).

Dan (ingatlah) ketika Allah berirman: "Wahai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia. Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakkan apa yang bukan hakku dan mengatakannya. Jika aku pernah mengatakannya niscaya Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib ... Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku mengatakannya, yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu." (5: 116-117).

(36)

Nestorian. Ide bahwa Maryam adalah salah satu dari Trinitas barangkali berasal dari ketentuan kelompok Coliridian yang tidak jelas, di Arabia kedengarannya lebih dari dua abad sebelum Muhammad lahir. Juga mungkin adanya kebimbangan terhadap kenyataan bahwa dalam bahasa Semit, kata yang menunjukkan Ruh itu adalah feminim (mu'annats). Al-Qur'an juga agaknya berasumsi bahwa umat Kristen memahami "anak" dalam arti isikal sebenarnya, sementara ketika bangsa Arab pagan mengatakan beriman kepada "anak perempuan Tuhan" ini tidak memungkinkan diartikannya secara isik.

Dalam kasus Kristen sebagaimana yang terjadi di dalam Yahudi, yang penting adalah untuk mencatat seberapa banyak yang tidak dikatakan. Tidak disebutkan kalau Yesus itu tidak ada kaitannya dengan orang-orang bidaah yang sebenarnya, melainkan berkenaan dengan orang-orang yang beriman kepada Tuhan tetapi memberikan penekanan-penekanan yang salah kedalam praktek-praktek keagamaan. Misalnya, menuntut dipenuhinya secara seksama kewajiban-kewajiban ritual namun lalai terhadap keadilan dan memelihara hal-hal yang lain; dan mereka juga tidak mau memperlakukan orang-orang yang mereka anggap berdosa secara benar. Untuk menemukan kerusakan yang terakhir inilah Yesus menegaskan bahwa dalam kasus penyesalan diri atau taubat bagi pelaku perbuatan dosa, Tuhan bukan hanya mengampuni hukuman melainkan malah memperbaiki orang-orang yang berbuat dosa agar bahagia dan terlepas dari dosa. Lagi-lagi di dalam Al-Qur'an tidak ada yang membicarakan tugas utama Yesus (Isa), baik yang disebutkan sebagai pengabsahan kerajaan Tuhan maupun penyelamatan dunia atau dengan beberapa nama yang lain. Sementara itu dikatakan bahwa Yesus menerima kitab suci dari Tuhan yang diberi nama Injil (Gospel atau Evangel). Maka tidak ada yang mengatakan bahwa ini sepertinya merupakan ajaran yang lebih aktual di dalam Perjanjian Baru ketimbang kitab Taurat yang diterima oleh Musa yang dianggap sama aktualnya dengan kitab Pentateuch. Selanjutnya umat Islam biasanya menolak ajaran-ajaran aktual kita, yaitu kitab yang diterima oleh Yesus, karena terdiri dari seluruh wahyu yang berasal dari Tuhan dan bukan merupakan pemyataan-pernyataan historis tentang Yesus.

Ada ayat yang dapat dinyatakan dalam mana umat Kristen dapat melihat petunjuk Eucharist:

(37)

bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Isa putra Maryam berdo'a: "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rizkilah kami, dan Engkaulah Pemberi rizki Yang Paling Utama." Allah berirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu."

Dari ayat ini tidak mungkin memberikan ide yang signiikan tentang Eucharist bagi umat Kristen.

Fungsi Persepsi yang Kurang

Memadai

Dari berbagai ayat yang dikutip dan komentar-komentar yang dilakukan atas ayat-ayat tersebut, jelas bahwa bagi seorang modern persepsi Al-Qur'an terhadap Kristen itu secara serius kurang cukup kuat dan dalam beberapa hal malah boleh jadi salah atau keliru. Namun begitu, ada hal yang penting bahwa Kristen hari ini tidak perlu mengambil ini sebagai alasan untuk mengingkari bahwa Muhammad itu diberi petunjuk oleh Allah. Apa yang menjadi penting adalah pertimbangan ulang tentang hakekat kenabian. Hal ini penting terutama sekali bagi umat Islam, karena menurut pandangan Islam tradisional Al-Qur'an adalah benar-benar irman Allah dan sulit untuk melihat betapa kesalahan-kesalahan yang terjadi itu dapat dikembalikan kepada Allah. Solusi terbaik dengan adanya problem ini bagi umat Islam yang berikir dengan gaya tradisional itu kemungkinan hendak mengatakan bahwa Allah berirman dalam terma-terma yang dipercayai di Madinah.

(38)

yang baik bagi orang-orang yang bukan Yahudi (kair), begitu pula merupakan pekabaran yang baik bagi orang-orang Yahudi. Meramalkan masa depan acapkali dipandang sebagai aspek ramalan, akan tetapi kebanyakan ramalan-ramalan kenabian itu terutama agaknya berada pada titik konsekuensi-konsekuensi sikap kekinian dengan jalan hukuman atau pahala. Masalah ini agaknya akan dibicarakan lebih lengkap lagi pada bab yang akan datang.

Agaknya Al Qur'an menyatakan relevansinya yang paling utama kepada bangsa Arab di masa Nabi Muhammad ketika menegaskan keberadaan Al Qur'an yang berbahasa Arab itu, dan bahwa nabi nabi/rasul rasul membawa wahyu dengan bahasa yang dimiliki bangsanya di mana nabi/rasul itu hidup. Bahasa suatu bangsa atau suatu kaum ini memasukkan keseluruhan cara berikir (pandangan hidupnya) tentang dunia dan tentang makhluk yang bernama manusia itu. Jadi kata Arab -ijara dapat diterjemahkan dengan pengertian "pemberian perlindungan dengan baik hati", akan tetapi dalam frase bahasa Inggris sebenarnya tidak ada yang membawa kepada orang-orang yang tidak akrab dengan pandangan pandangan dan kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab. Ayat "Allah melindungi (yujiru)", namun tidak ada yang dapat dilindungi dari azabNya la-yujaru 'alayh (23: 88), agaknya tidak dapat dipahami oleh orang barat tanpa keterangan lebih lanjut. Maksudnya, wahyu Allah kepada seorang nabi/rasul itu biasanya dikondisi oleh bahasa dan cara berikir nabi/rasul dan bangsanya kepada siapa wahyu itu ditujukan di tempat yang pertama.

(39)

menghadapi umat Kristen Mekah dengan kelompok-kelompok Kristen yang lain yang ada di Arabia yang ditemui pada dua tahun terakhir di masa hayat Nabi Muhammad SAW.

Ini bukan tempat untuk menguraikan secara terinci perlakuan Nabi Muhammad SAW terhadap orang-orang Yahudi Madinah dan tempat-tempat lain di Arabia. Masalah lain yang timbul dari sini adalah karena Muhammad menyandarkan pernyataan kenabian beliau berdasarkan atas kesamaan pengalaman kenabian beliau dengan pengalaman Musa dan Isa (Yesus). Maka beliau tidak dapat mengingkari kalau orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen itu adalah ahli kitab, walaupun mereka nyaris hampir menyimpang dari keaslian wahyu yang diberikan kepada Isa dan Musa, sebagaimana yang diduga. Al-Qur'an memberikan argumen-argumen yang menyerang orang-orang Nasrani (Kristen). Sebagian terbesar umat mengatakan bahwa perubahan serta ketidak murnian kitab suci Kristen dan Yahudi itu, secara eksplisit disebutkan di dalam Al-Qur'an. Padahal dalam bab ini akan dibicarakan kebenaran pernyataan tersebut, malahan ajaran tersebut merupakan penafsiran yang meragukan terhadap beberapa surat (dan ayat Al-Qur'an) dan hanya dikeluarkan oleh ulama-ulama Islam setelah nabi Muhammad SAW wafat. Persepsi pokok Al-Qur'an terhadap Yahudi dan Kristen dapat dikatakan kalau mereka adalah ahli kiab, yang menerima kitab suci, pada hakekatnya mengajarkan ajaran-ajaran yang sama seperti yang ada pada Al-Qur'an. Sekalipun demikian, orang Yahudi dan Kristen (ahli kitab) ini nyaris hampir menyimpang dari kebenaran kitab suci yang asli, sekurang-kurangnya, mereka makin memperluas ketidak mengertian dan ketidak menerimaannya kepada Nabi Muhammad SAW.

(40)

dan Yahudi dapat menjadi bangsa minoritas yang dilindungi. Maka dengan cara inilah persepsi Al-Qur'an terhadap Kristen, walaupun hanya sebagian kecil saja yang benar dari umat Kristen di masa nabi Muhammad SAW, memberikan landasan-landasan bagi solusi pragmatis problema umat Kristen ke dalam negara Islam. Dalam hal ini, Al-Qur'an menambahkan sesuatu yang berguna bagi persepsi Kristiani terdahulu di Mekah.

Setelah mengamati bagaimana persepsi Al-Qur'an terhadap Kristen, sungguhpun dalam berbagai cara yang tidak memadai, namun nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin awal mampu membuat kerangka kebijakan yang memuaskan terhadap umat Kristen, maka masalah kenabian Muhammad kembali dapat diperhatikan lagi. Ini adalah penting karena umat Kristen dewasa ini seharusnya mempunyai pandangan positif yang jelas. Sekalipun demikian, agaknya tidak mudah untuk menyusun rumusan pandangan, sebab memang ada perbedaan antara konsepsi Islam tentang nabi dan konsepsi Kristen kontemporer tentang nabi. Sementara bagi kristen, nabi itu mempunyai pesan risalah dari Tuhan untuk tempat dan zaman di mana nabi itu hidup. Dalam pada itu, dalam tradisi Islam nabi menerima wahyu yang aktual tanpa adanya campur tangan manusia selain bahasa dan sebagian pesan-pesan yang diwahyukan itu mempunyai validitas yang universal. Maka tidak dapat dipertahankan kalau segala hal yang ada di dalam Al-Qur'an itu universal, karena meliputi penegasan tentang kebijakan-kebijakan kontemporer, misalnya, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Perang Badar dan Uhud. Di abad ke delapan, seorang golongan Nestorian yang bernama Catholicos Timothy menyatakan bahwa Muhammad masuk ke jalan seorang "nabi", walaupun kenyataannya beliau bukanlah seorang nabi, dan hal ini mungkin saja terjadi karena Timothy ini sadar akan konsepsi kenabian Islam.

(41)

disebutkan itu. Ada landasan-landasan untuk berpegang kepada pendapat bahwa Allah di samping menunjukkan Islam untuk memberi petunjuk yang lebih baik kepada umat manusia yang sedang dirundung keruwetan. Dengan kata lain, Islam hadir di muka bumi ini bukan disebabkan oleh usaha dan rencana manusia melainkan oleh karena inisiatif ilahiah.

Apabila inisiatif ilahiah ini diakui, maka dipertanyakan bagaimana Tuhan telah bertitah melalui Muhammad. Dalam semua tulisan saya tentang Muhammad yang dimulai hampir selama empat puluh tahun yang lalu, saya senantiasa berpendapat bahwa Muhammad itu tulus murni dalam berikir karena Al- Qur'an itu bukan ciptaannya sendiri, melainkan datang kepada beliau dari luar dirinya. Oleh karena itu saya tidak pernah menggunakan kata "Muhammad berkata" tentang pernyataan-pernyataan Al-Qur'an sungguhpun saya sendiri menyalahkan ini, namun saya selalu menggunakan frase yang netral "Al-Qur'an berkata" atau "Al-Qur'an mengatakan." Pada tahun 1953 yang lalu saya pernah berpandangan bahwa Al-Qur'an adalah ciptaan Ilahi, namun diciptakan lewat kepribadian Muhammad SAW, maka dalam cara yang sama bahwa gambaran-gambaran tertentu Al-Qur'an terutama dianggap berasal dari kemanusiaan Muhammad." Namun belakangan ini saya menyatakan bahwa pesan-pesan risalah yang diwahyukan dapat dianggap sebagai diperantarai oleh ketidaksadaran Nabi SAW, sekalipun langsung berasal dari Tuhan. Pandangan tersebut akan mampu menjelaskan gambaran persepsi-persepsi Al-Qur'an tentang Kristen, namun saya tidak akan mempertahankan pandangan tersebut. Berdasarkan pandangan Islam yang baku bahwa Al-Qur'an itu seluruhnya berasal dari Allah dan bahwa kepribadian Muhammad SAW itu sama sekali tidak memberi kontribusi terhadap Al-Qur'an. Barangkali sulit untuk menjelaskan kekurangan dan kekeliruan pernyataan-pernyataan tentang masalah-masalah yang dikandung oleh Bibel. Walaupun demikian, apa yang penting di sini bukannya memberikan penjelasan yang tepat tentang "cara" wahyu turun dalam terma-terma modern, baik pemyataan ketidaksadaran maupun yang lain. Sebaliknya, yang penting di sini adalah untuk menegaskan tentang bagaimana kepribadian atau bagaimana kepribadian yang lain dan pandangan dunia Muhammad masuk ke dalam pesan-pesan wahyu yang diturunkan oleh Tuhan. Petunjuk yang dapat dilacak berkenaan dengan kasus Hosea di dalam Perjanjian Lama, karena Tuhan memperlihatkan kepada Hosea dengan pengalaman isterinya sendiri yang tidak beriman, maka ada suatu pengalaman yang paralel tentang pengalaman ketidak berimanan (kekufuran) bangsa Israel kepada Tuhan.

(42)

ketidak sempurnaan persepsi Al-Qur'an terhadap Kristen itu tidak perlu membatasi nilai-nilai positif kebesaran ajaran Al-Qur'an, yang menambahkan bukti kebenaran-kebenaran sentral tradisi agama Ibrahim. Tuhan adalah Sang Pencipta sekalian manusia, yang telah menciptakan dunia sebagai tempat yang sesuai bagi makna kehidupan manusia. Tuhan menghendaki seluruh umat manusia itu beriman kepadaNya. Tuhan menghendaki keseimbangan kualitas moral kehidupan manusia di Hari Kemudian. Tuhan memanggil kepada semua manusia yang beriman untuk hanya menyembah kepada satu-satunya Allah bukan menyembah kepada yang lain selain Allah; agar berterima kasih kepadaNya dan mengikuti jalan hidup yang lurus, terutama dengan bersedekah dan bermurah hati mendermakan rejeki yang diberikan kepada mereka. Al-Qur'an juga menghadirkan Muhammad sebagai pribadi yang dipilih oleh Allah untuk membawa pesan risalah kenabian kepada penduduk Mekah, kepada bangsa Arab dan bahkan kepada publik manusia yang lebih luas. Dalam cahaya nilai-nilai positif yang agung tentang ajaran Al-Qur'an dan kesuksesan-kesuksesan praktis yang dihasilkan dari kenabian ini, persepsi-persepsi yang tak memadai terhadap Yahudi dan Kristen tidak dapat dinilai menjadi kelemahan yang serius, misalnya, untuk meniadakan semua hal yang disuarakan dan benar. Ada prinsip Kristiani yakni, "dari buah-buah mereka yang hendaknya engkau ketahui", dan secara pasti Islam membawa berjuta-juta kehidupan yang lebih baik ketimbang sisi lain yang sudah mereka miliki. Bahkan harus dikatakan agar dapat menolong menjadikan sebagian orang suci Kristen.

Massignon dan Foucauld masuk Kristen dengan menyaksikan Islam kepada kebenaran hidup Tuhan. Seseorang menulis tentang Foucauld dan ketaatannya kepada kematian dalam Islam. Bagi seorang mistik, jiwa-jiwa yang mati itu dinilai sebanyak jiwa-jiwa yang hidup dan pekerjaan pokoknya yang khusus adalah untuk mensucikan keabadian Islam -- yang telah dan akan menjadi atas nama keabadian -- dalam menolong untuk memberikan seorang suci kepada Kristen.

Lebih dari itu, ada banyak contoh dalam Bibel dan sejarah Kristiani, bagaimana Tuhan dapat mencapai tujuan-Nya lewat alat-alat apapun yang ada di tangan (kekuasaan)-Nya, bahkan ketika mereka memiliki kelemahan.

(43)
(44)
(45)

B

ab: III

B

ab: III

Elaborasi Persepsi

Al Qur'an

D

i masa Khalifah Umar bin Khatthab (634-644 Masehi),

pasukan kaum muslimin menaklukkan Syria, Iraq dan Mesir. Umat Kristen di negeri-negeri yang ditaklukkan oleh kaum muslimin ini mengakui status minoritas yang dilindungi dan tidak mendapat tekanan apa pun dari kaum muslimin. Ini berarti bahwa umat Islam yang hidup di wilayah-wilayah negeri tersebut memperoleh kesempatan pindah agama Kristen. Sementara sebagian umat Kristen dapat menghasilkan argumen-argumen yang kuat untuk menentang Islam dengan menunjukkan ketidak sesuaian antara Al-Qur'an dan Bibel. Persepsi Al-Qur'an tentang Kristen ketika dipublikasikan ke dalam situasi semacam ini benar-benar tidak berdaya. Namun demikian, tak dapat disangkal bahwa tanpa penolakan AI-Qur'an dan demikian pula tanpa penolakan ulama Islam yang mulai mengelaborasi beberapa aspek persepsi dengan masing-masing caranya untuk melemahkan argumen-argumen yang anti Islam.

Dugaan Ketidakmurnian Dalam

Kitab Suci

(46)

bahwa keempat ayat itu tidak mengandung pengertian sebagai perubahan ajaran yang universal. Dalam terjemahan "mengubah" atau "mengganti" digunakan untuk mengalih bahasakan kata yuharrifuna itu.

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar irman Allah, lalu mereka mengubah-nya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui (2: 75).

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah (arti kata untuk menambah dan mengurangi) perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: "Kami mendengar tetapi kami tidak mau menurutinya." Dan (mereka mengatakan pula): "Dengarlah", sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa." Dan (mereka mengatakan): "Ra'ina" (sudilah kamu memperhatikan kami) dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka karena kekairan mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis (4: 46).

Tetapi karena mereka melanggar janjinya, kami kutuki mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dan tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan mereka kecuali sedikit yang tidak berkhianat, maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (5: 13).

Wahai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekufurannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan juga di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi) itu amat suka mendengarkan berita bohong dan amat suka mendengarkan perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah diubah-ubah oleh mereka) kepadamu, maka terimalah dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah (5: 41).

(47)

literer "mengubah kata-kata dari tempat-tempatnya", dan ini dapat berarti "ke tempat-tempatnya (tujuan-tujuannya) pada keadaan-keadaannya." Akhir dari ayat-ayat di atas juga nyaris bermakna misterius dan tidak meyakini ketentuan "kesimpulan-kesimpulannya" yang diberikan pada komentar-komentar tersebut, namun arti ini tidak relevan digunakan di sini. Penting untuk dicatat bahwa perubahan ini adalah hal yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi Madinah yang sezaman dengan Nabi Muhammad dan kesan ini diberikan hingga apa yang mereka rubah itu hanyalah ayat-ayat (surat-surat) tertentu dan bukan Taurat yang sesungguhnya. Manuskrip-manuskrip Bibel masih tetap ada sebelum Muhammad, namun secara absolut tidak dikatakan di dalam Al-Qur'an hingga di satu waktu seluruh kitab Bibel itu telah dirubah di masa lampau sebelumnya. Maka tidak ada kolusi yang dilakukan antara orang Kristen dan orang-orang Yahudi yang terpenting dalam rangka mengubah kitab Perjanjian Lama.

Perlu juga dicatat bahwa contoh-contoh yang diberikan pada Al-Qur'an 4: 46, bukan kutipan dari Bibel melainkan trik-trik verbal yang dimainkan oleh orang-orang Yahudi Madinah atas kaum muslimin. Contoh pertama di atas itu adalah memperbaiki umat Islam dengan mempergunakan kesamaan pendengaran antara orang Yahudi "kami mendengar dan menuruti" (sami'u wa 'ashinu) dan bahasa Arab menyebutkan sami'na wa ashayna. Contoh kedua adalah tidak jelas dan cenderung menyimpang. Contoh ketiga, Al-Qur'an rupanya hendak menyetop orang-orang Yahudi yang mengatakan: "perhatikanlah kami" (ra'ina), sebab menyerupai perjalanan orang Yahudi kepada "kejahatan" (ra'). Maka di sini jelas tidak ada yang menjelaskan perubahan terhadap kitab suci atau ajaran kitab suci.

Tuduhan lain dilakukan Al-Qur'an untuk menyerang orang-orang Yahudi Madinah karena mereka ini telah merubah teks Taurat pada saat mereka menceritakan ayat-ayat tersebut kepada umat Islam dengan "memutar-mutar lidah mereka."

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, padahal dia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui (3: 78).

Mereka berkata telah menyalin ayat itu secara benar ketika menyebutkan salinan-salinan itu ternyata untuk menyalahkan:

Referensi

Dokumen terkait

Puji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus PuteraNya yang Tunggal Tuhan kita, yang selalu menyertai jalanku dan senantiasa memberikan berkat kasih karunia yang melimpah, hingga saat

Melalui pemberitaan Firman Tuhan hari ini, diharapkan kita semua dapat memahami dan mengamalkan Damai sejahtera yang diberikan Tuhan Yesus dalam hidup kita sehari-hari!. Ada

“Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.” “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan Tuhan Yesus Kristus ada

(Ketika kita berbicara tentang agama sebagai sumber integrasi atau perpecahan, perlu diingat bahwa setiap tradisi agama memiliki pengalaman sejarah yang unik. Sejarah

Pada kesempatan ini juga penulis berterima kasih kepada semua pihak yang membantu baik itu melalui doa, kritik, hiburan dan dukungan-dukungan yang diberikan

 Saya berterima kasih dan sangat bersyukur pada Tuhan Yesus Kristus atas segala Kasih dan Hikmat-NYA yang telah memberikan kuasa dan kekuatan bagi saya untuk

Segala puji syukur dan terima kasih saya ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena kasih, anugerah dan kekuatan yang diberikan kepada penulis sehingga Tugas Akhir dengan Judul “

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, karena rahmat dan kasih-Nya penulis dapat melewati setiap proses demi proses dalam mengerjakan hingga menyelesaikan