• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebaran Medan Massa Medan Tekanan dan Ar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sebaran Medan Massa Medan Tekanan dan Ar"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Sebaran Medan Massa, Medan Tekanan dan Arus Geostropik di Perairan Selatan Jawa pada Bulan Agustus Tahun 2009

Oleh:

Mario Putra Suhana*

*Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Email : [email protected]

ABSTRAK

Dinamika oseanografi perairan timur samudera Hindia dipengaruhi oleh keterkaitan yang kompleks antara gaya penggerak jauh (remote forcing) dari bagian ekuator samudera Hindia serta pengaruh lokal yang kuat. Dinamika perairan tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sistem muson, Indian Ocean Dipole (IOD), El Nino Southern Oscilliation (ENSO), gelombang Kelvin, Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) dan arus Khatulistiwa (AKS) serta arus pantai barat pulau Sumatera.

Perairan selatan Jawa merupakan bagian dari perairan samudera Hindia yang memiliki arus besar yang disebut Arus Khatulistiwa Selatan (AKS) yang sepanjang tahun menuju ke arah barat dan menyebar dari barat laut Australia menuju sisi lain dari samudera Hindia.

Sebaran menegak dan melintang suhu pada tiap stasiun pengambilan data berkisar antara 3,37-26,26°C. pada stasiun 1 memiliki suhu perairan maksimum 26,20°C dan suhu minimum 3,38°C dengan rataan suhu pada stasiun 1 adalah 13,80°C. Rataan suhu pada stasiun 2 adalah 13,62°C dengan suhu maksimum adalah 26,26°C dan suhu minimum 3,40°C. Suhu maksimum pada stasiun 3 adalah 26,20°C dengan suhu minimum adalah 3,40°C dengan rataan suhu pada stasiun 3 adalah 13,33°C. Sedangkan pada stasiun 4 memiliki rataan suhu sebesar 12,94°C dengan suhu maksimum adalah 26,05°C dan suhu minimum adalah 3,37°C. Dari data yang diperoleh terlihat bahwa perbedaan suhu maksimum dan minimum pada tiap stasiun pengambilan data tidak memiliki perbedaan suhu yang terlalu signifikan.

I. Pendahuluan

Dinamika oseanografi perairan timur samudera Hindia dipengaruhi oleh keterkaitan yang kompleks antara gaya penggerak jauh (remote forcing) dari bagian ekuator samudera Hindia serta pengaruh lokal yang kuat (Yoga, 2014). Dinamika perairan tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sistem muson, Indian Ocean Dipole (IOD), El Nino Southern Oscilliation (ENSO), gelombang Kelvin, Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) dan arus Khatulistiwa (AKS) serta arus pantai barat pulau Sumatera (Purba, 2007). Faktor lain yang mempengaruhi dinamika fisis perairan selatan Jawa adalah Arus Pantai Selatan Jawa (APJ) yang merupakan cabang arus pantai barat Sumatera (Harsono, 2005; Purba, 2007; Tubalawony, 2008 dalam Yoga, 2014).

Pola pergerakan massa air mempengaruhi fluktuasi variabel oseanografi permukaan seperti suhu permukaan laut dan klorofil-a (Kunarso, 2011). Suhu permukaan laut dan klorofil-a merupakan dua parameter oseanografi penting yang bermanfaat dalam meningkatkan sumberdaya perikanan. Suhu permukaan laut dapat digunakan sebagai indikator pendugaan lokasi upwelling, downwelling dan front yang terkait dengan

wilayah potensial seperti ikan tuna (Lehodey, et al., 2006). Sedangkan klorofil-a permukaan merupakan indikator tingkat kesuburan dan produktivitas perairan (Kunarso, 2011).

Kondisi perairan laut Jawa sangat dipengaruhi oleh perubahan parameter oseanografi permukaan dan atmosfer dimana arus permukaan yang berasal dari timur mengikuti arah angin yang bertiup secara bertahap sepanjang tahun. Perubahan arus oleh pengaruh angin menyebabkan proses pergerakan lapisan permukaan laut hingga membangkitkan percampuran horizontal (horizontal mixing) yang pada akhirnya arus tersebut akan mendorong terjadinya pergeseran massa air (Damanik, 2013).

(2)

Puncak musim barat berlangsung sekitar bulan Desember-Februari sedangkan puncak musim timur terjadi pada bulan Juni-Agustus. Keadaan laut Jawa akan berganti pada bulan April atau Mei yaitu angin muson peralihan I dan pada bulan September atau Oktober berganti dengan angin muson peralihan II (Damanik, 2013).

Pada saat angin muson tenggara bertiup pada bulan Juli, Agustus dan September, Arus Khatulistiwa Selatan (AKS) yang terbentuk di Samudera Hindia bagian timur mengalir ke arah barat yang kemudian posisinya bergeser melebihi 10°LS mencapai pantai selatan pulau Jawa (Soeriaatmadja, 1957 dalam Yoga, 2014). Adanya angin muson tersebut menyebabkan kecepatan AKS yang mengalir ke arah barat menjadi dipercepat. AKS merupakan arus yang berkembang dari samudera Hindia bagian timur yang naik ke utara melalui pantai barat Australia yang kemudian terus bergerak ke arah utara lalu berbelok ke barat laut dan ke arah barat sepanjang pantai selatan Jawa-Bali dan kemudian meliuk kembali ke barat daya (Wyrtki, 1961).

Adanya angin yang cukup kuat yang bertiup pada musim timur menyebabkan AKS menjadi lebih cepat. Tambahan pasokan massa air yang berasal dari arus Timor dan massa air yang mengalir dari utara ke selatan melalui selat-selat di antara pulau-pulau Sunda kecil (Bali, Lombok, Sumba dan lain-lain) menyebabkan terjadinya perpindahan massa air ke arah barat laut dan selatan di lapisan permukaan di perairan selatan Jawa (Wyrtki, 1961).

Tomczcak dan Godfrey (1994) dalam Damanik (2013) menyebutkan bahwa arus yang menetap di samudera Hindia adalah Arus Khatulistiwa Selatan yang terjadi sepanjang tahun di bawah pengaruh angin pasat. Samudera Hindia merupakan daerah sumber AKS. Di samudera Hindia terdapat aliran ke selatan dari monsoon trent yang mensuplai AKS. Dari bulan Juli-Oktober pada saat muson tenggara mencapai pantai selatan Jawa dengan kekuatan penuh dan AKS terdesak jauh ke utara axis arus mendekat ke pantai selatan Jawa hingga ke bagian barat kemudian dibelokkan ke barat daya bergabung dengan massa air monsoon current yang berbelok meluas ke selatan.

II. Metodologi

Praktikum ini menggunakan data yang diperoleh dari World Ocean Atlas (WOA). Data yang diperoleh dari World Ocean Atlas (WOA) diperoleh dari situs http://www.nodc.noaa.gov/OC5/WOA09/wo a09data.html. WOA merupakan suatu set data oseanografi yang direanalisis (Grid 1°). Data profil oseanografi diinterpolasikan pada

kedalaman standar. Data yang digunakan untuk praktikum ini adalah data kedalaman, suhu dan salinitas pada bulan Agustus tahun 2009 dengan lokasi perairan selatan Jawa dimana titik koordinat stasiun pengambilan data dapat dilihat pada Tabel 1 dan peta lokasi pengambilan data dapat dilihat pada Gambar 1.

(3)

Gambar 1.Lokasi Stasiun Pengambilan Data

Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan bantuan software Ocean Data View (ODV) dan Matlab untuk mendapatkan sebaran melintang dan menegak dari suhu, salinitas, kedalaman dinamik, anomali densitas potensial dan kecepatan arus geostropik. Selanjutnya data yang telah didapatkan akan dibandingkan antara data hasil pengolahan

dengan menggunakan ODV dan hasil pengolahan dengan menggunakan Matlab serta data hasil interpolasi menggunakan tabel atau perhitungan manual.

Hasil pengolahan tersebut selanjutnya dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui fenomena-fenomena yang terjadi di perairan selatan Jawa selama bulan Agustus tahun 2009.

2.1 Perhitungan Data Secara Manual 2.1.1 Sigma-t

Perhitungan nilai sigma-t menggunakan persamaan yang telah dimodifikasi oleh Millero dan Poisson (1980)

dalam UNESCO (1983), dimana persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut:

= + = 0 + = 0 / +

Dimana:

b0 = +8.24493E-1 c0 = -5.72466E-3

b1 = -4.0899E-3 c1 = +1.0227E-4

b2 = +7.6438E-5 c2 = -1.6546E-6

b3 = -8.2467E-7 d0 = 4.8314E-4

b4 = 5.3875E-9

Sedangkan ρw merupakan nilai densitas air tawar (pure water), dimana untuk

mencari nilai ρw menggunakan persamaan oleh IUPAC (1986) dalam UNESCO (1983):

= = 0

Dimana:

a0 = 999.842594

a1 = 6.793952E-2

a2 = -9.095290E-3

a3 = 1.001685E-4

a4 = -1.120083E-6

(4)

2.1.2 Perhitungan Volume Anomali Spesifik

Volume anomali spesifik dihitung dengan menggunakan persamaan Sverdrup (1993) dalam Neuman dan Pierson (1966)

dengan menggunakan bantuan tabel 1,2 dan 3 dalam Neuman dan Pierson (1966), dimana persamaan yang digunakan adalah:

= ∆ , + , + ,

2.2 Perhitungan dengan Menggunakan Matlab

Perhitungan dengan menggunakan software Matlab menggunakan syntax yang telah dibuat untuk menghitung nilai-nilai

perbandingan yang dimodifikasi dari CSIRO (2010). Flow chart dalam menghitung arus geostropik adalah sebagai berikut:

sw_dist sw_gvel sw_gpan

sw_svan

sw_smow sw_dens0 sw_dens sw_seck

Dimana:

sw_dens : Densitas insitu sw_dens0 : Densitas potensial sw_dist : Jarak antar stasiun sw_gpan : Anomali geopotensial sw_gvel : Velositas geostropik sw_seck : Kompresibilitas sw_smow : Densitas air tawar sw_svan : Anomali volume spesifik

2.3 Perhitungan dengan Menggunakan Ocean Data View (ODV)

Software Ocean Data View (ODV) digunakan untuk menggambarkan sebaran menegak dan melintang dari suhu, salinitas, kedalaman dinamik, kecepatan arus geostropik dan anomali densitas potensial dari perairan selatan Jawa.

III. Hasil dan Pembahasan 3.1 Suhu

Suhu merupakan ukuran energi kinetik gerakan molekul yang terkandung dalam suatu benda (Nybakken, 1988). Daerah yang paling banyak menerima radiasi dari sinar matahari adalah daerah-daerah yang terletak pada lintang 10°LU-10°LS. Oleh karena itu, suhu air laut yang tertinggi akan ditemukan di daerah ekuator (Hatta, 2001).

Suhu pada permukaan laut mengikuti pola musiman. Suhu pada permukaan laut dipengaruhi oleh kondisi meteorologis dimana faktor-faktor seperti curah hujan, penguapan, kelembaban, suhu, kecepatan angin dan intensitas cahaya matahari merupakan faktor-faktor yang

berperan dalam mempengaruhi suhu pada permukaan laut (Nontji, 2005).

Dinamika oseanografi dapat berpengaruh terhadap perubahan suhu permukaan laut. Kondisi suhu permukaan laut juga sangat bergantung pada dinamika gerakan massa air laut yaitu pola arus permukaan, naiknya massa air (upwelling), divergensi dan konvergensi, turbulensi serta sirkulasi global dari daerah lintang tinggi ke daerah lintang rendah dan begitu pula sebaliknya (Sverdrup, 1942 dalam Damanik, 2013).

(5)

berkisar antara 3,37-26,26°C. pada stasiun 1 memiliki suhu perairan maksimum 26,20°C dan suhu minimum 3,38°C dengan rataan suhu pada stasiun 1 adalah 13,80°C. Rataan suhu pada stasiun 2 adalah 13,62°C dengan suhu maksimum adalah 26,26°C dan suhu minimum 3,40°C. Suhu maksimum pada stasiun 3 adalah 26,20°C dengan suhu minimum adalah 3,40°C dengan rataan suhu pada stasiun 3 adalah 13,33°C. Sedangkan

pada stasiun 4 memiliki rataan suhu sebesar 12,94°C dengan suhu maksimum adalah 26,05°C dan suhu minimum adalah 3,37°C. Dari data yang diperoleh terlihat bahwa perbedaan suhu maksimum dan minimum pada tiap stasiun pengambilan data tidak memiliki perbedaan suhu yang terlalu signifikan. Untuk sebaran menegak dan melintang suhu pada stasiun pengambilan data dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2.Sebaran Menegak Suhu (Kiri Atas) dan Sebaran Melintang Suhu (Kanan) Setiap Stasiun dari Kedalaman Minimum Hingga Kedalaman Maksimum

Variasi tahunan suhu rata-rata di perairan Indonesia kurang dari 2°C, kecuali di beberapa tempat seperti laut Arafuru, laut Timor dan selatan Jawa yang memiliki variasi suhu lebih tinggi yaitu 3-4°C (Wyrtki, 1961). Pada stasiun pengambilan data lapisan termoklin terdapat pada kisaran suhu 15,80-25,09°C yang berada pada kisaran kedalaman 75-200 m.

Secara alami suhu permukaan air laut merupakan lapisan hangat karena mendapatkan penyinaran matahari pada siang hari. Karena pengaruh angin mengakibatkan lapisan permukaan hingga lapisan pada kedalaman 50-70 m terjadi proses pengadukan sehingga pada lapisan teraduk tersebut dapat memiliki suhu hingga 28°C atau biasa disebut lapisan homogen (Nontji, 1987).

Yoga (2014) menjelaskan dalam penelitian yang dilakukan pada perairan selatan Jawa menggunakan data satelit multi-sensor berupa data suhu permukaan laut (SPL) tahun 2002-2012 diperoleh sebaran melintang suhu yang berbeda pada setiap

musimnya dengan kisaran suhu 24,5-27,5°C dengan kondisi wilayah timur lebih dingin dari wilayah barat. Lebih lanjut dijelaskan perairan selatan Jawa cenderung lebih hangat pada musim barat dengan kisaran suhu 28,2-30,2°C dan cenderung lebih homogen pada setiap bulan.

(6)

3.2 Salinitas

Menurut Ross (1970) dalam Rosmawati (2004) menjelaskan bahwa sebaran horizontal di laut semakin ke arah lintang tinggi maka salinitas akan semakin tinggi. Dalam pola distribusi secara horizontal, daerah yang memiliki salinitas tinggi berada pada daerah lintang 30°LU dan 30°LS dan selanjutnya turun menuju daerah khatulistiwa.

Hal ini disebabkan presipitasi di daerah tropis jauh lebih tinggi sehingga terjadi pengenceran oleh air hujan. Selain perbedaan lintang, salinitas suatu wilayah perairan bergantung pada topografi daerah tersebut. Hal tersebut terkait dengan ada tidaknya masukan air tawar yang berasal dari sungai yang menuju muara.

Dari hasil pengolahan data sebaran menegak dan melintang salinitas di perairan selatan Jawa pada bulan Agustus tahun 2009 diperoleh rataan salinitas pada keseluruhan stasiun adalah 34,47 psu dengan salinitas

maksimum adalah 34,67 psu dan salinitas minimum 34,03 psu. Pada stasiun 1 nilai maksimum salinitas adalah 34,67 psu, sedangkan salinitas minimum pada stasiun 1 adalah 34,07 psu dengan rata-rata salinitas perairan laut pada stasiun 1 adalah 34,47 psu. Pada stasiun 2 diperoleh nilai maksimum dan minimum salinitas sebesar 34,67 psu dan 34,07 psu dengan rata-rata salinitas adalah 34,47 psu. Salinitas pada stasiun 3 memiliki rata-rata sebesar 34,45 psu dengan nilai salinitas maksimum 34,67 psu dan salinitas minimum 34,05 psu. Nilai salinitas pada stasiun 4 berkisar antara 34,04-34,67 psu dengan rata-rata 34,45 psu. Dari data yang didapatkan menunjukan bahwa salinitas tertinggi berada pada stasiun 1, 2 dan 4 dengan salinitas tertinggi 34,67 psu. Untuk sebaran menegak dan melintang salinitas pada perairan selatan Jawa pada keseluruhan stasiun pengambilan data dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3.Sebaran Menegak Salinitas (Kiri Atas) dan Sebaran Melintang Salinitas (Kanan) Setiap Stasiun dari Kedalaman Minimum Hingga Kedalaman Maksimum

Daerah pada suatu perairan yang mengalami proses upwelling dapat dilihat dari nilai salinitas. Daerah yang mengalami proses upwelling memiliki nilai salinitas yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, hal ini dikarenakan proses upwelling mengangkat massa air dari lapisan bawah yang memiliki salinitas lebih tinggi ke lapisan permukaan (Nontji, 2005).

Sebaran salinitas di permukaan laut pada perairan Indonesia sangat befluktuasi bergantung dari struktur geografi, masukan

air tawar dari sungai, curah hujan, penguapan dan sirkulasi massa air. Perubahan musim juga memegang peranan penting dalam perubahan salinitas permukaan laut di perairan Indonesia (Wyrtki, 1961 dalam Damanik, 2013).

(7)

34,03-34,67 psu. Lapisan kedalaman tersebut merupakan lapisan dengan perubahan salinitas yang besar yang berbanding lurus dengan semakin bertambahnya tingkat kedalaman atau yang biasa dinamakan sebagai lapisan haloklin.

Keadaan sebaran salinitas permukaan memperlihatkan perbedaan-perbedaan musiman dengan variasi relatif lebih besar dibandingkan dengan suhu. Lapisan air permukaan umumnya menyebar

hingga kedalaman tertentu sebelum mencapai kedalaman dengan suhu yang lebih rendah. Pada permukaan air terjadi percampuran massa air yang diakibatkan oleh adanya angin, arus dan pasang surut, kemudian berbalik arah dari utara menuju barat selama musim barat pada bulan Desember-Februari dengan salinitas rendah dan suhu tinggi akibat pengaruh masukan massa air tawar yang berasal dari aliran sungai dan berlangsungnya musim hujan.

3.3 Densitas Potensial (Sigma-t)

Densitas potensial merupakan densitas pengukuran yang dihasilkan dari pengukuran yang mengabaikan pengaruh tekanan. Sedangkan densitas insitu adalah densitas pengukuran dengan mempertimbangkan pengaruh tekanan (σs,t,p).

Untuk menentukan nilai densitas air laut pada

beberapa kedalaman sesuai dengan sebaran salinitas dan suhu, densitas dibedakan atas densitas air laut pada suhu tetap (0°C) dan dalam satuan atm (σ0). Untuk menghitung nilai dari σ0 yang hanya dipengaruhi oleh salinitas menggunakan persamaan berikut:

0 = 0.093 + 0.8149 −0.000482 2 + 0.00000068 2

Densitas potensial (σt) adalah nilai densitas air laut pada tekanan atm namun memiliki salinitas dan suhu yang berlainan. σs,t,p merupakan nilai densitas air laut pada

berbagai keadaan salinitas, suhu dan tekanan. Untuk sebaran menegak dan melintang densitas potensial (σt) dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4.Sebaran Menegak dan Melintang Anomali Densitas Potensial

Sebaran menegak dan melintang dari densitas potensial (σt) pada stasiun 1 diperoleh nilai dengan kisaran 22,3-27,6 kg/m3, pada stasiun 2 memiliki nilai densitas

potensial (σt) dengan kisaran nilai 22,6-27,6 kg/m3, pada stasiun 3 kisaran nilai densitas

potensial (σt) berada pada 22,24-27,58 kg/m3

sedangkan pada stasiun 4 memiliki kisaran

nilai densitas potensial (σt) 22,29-27,61 kg/m3.

(8)

bahwa semakin bertambahnya kedalaman maka nilai densitas potensial (σt) pada perairan semakin tinggi. Nilai densitas potensial (σt) pada setiap stasiun kurang dari 23 kg/m3 dengan nilai maksimum densitas

potensial (σt) kurang dari 28 kg/m3.

Densitas mengalami peningkatan bersamaan dengan bertambahnya kedalaman dan membentuk lereng yang menurun ke arah pantai. Hal ini mendukung pendugaan terjadinya penumpukan massa air pada sisi pantai yang disebabkan adanya angin muson barat laut-barat yang datang dari barat menyeret massa air permukaan ke timur, kemudian dibelokan ke kiri oleh gaya coriolis.

Dari bentuk sebarannya densitas potensial pada perairan selatan Jawa tersebut memiliki pola yang sama dengan sebaran salinitas dan berbanding terbalik dengan sebaran suhu. Sebaran densitas potensial pada perairan selatan Jawa pada tiap lapisan kedalaman semakin meningkat atau semakin tinggi nilai densitas potensialnya seiring dengan semakin dalamnya tingkat kedalaman. Hal ini sama dengan nilai sebaran salinitas yang semakin tinggi dengan semakin dalamnya kedalaman perairan tersebut. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa densitas potensial tertinggi berada pada stasiun 2 dengan nilai densitas potensial berada pada kisaran 22,6-27,6 kg/m3.

3.4 Kedalaman Dinamik

Dalam penentuan kedalaman dinamik harus ditentukan terlebih dahulu harus ditentukan reference level (acuan) yang akan menjadi level of no motion, dimana tidak terjadi pergerakan dari massa air relatif antara dua stasiun yang berada pada suatu kedalaman (Neumaan dan Pierson, 1966). Reference level diperoleh dengan cara memplotkan data dari selisih kedalaman dinamik dengan data kedalaman antara dua stasiun (stasiun 2-1, stasiun 3-2 dan stasiun 4-3). Sebaran menegak dan melintang, arah aliran serta anomali kedalaman dinamik pada setiap stasiun dapat dilihat pada Gambar 5, Gambar 6, Gambar 7 dan Gambar 8.

Bishop (1984) dalam Rahmawati (2001) menjelaskan apabila pada suatu perairan terjadi perbedaan densitas pada bidang datar, maka air dengan densitas yang lebih besar akan mengalir menuju ke wilayah yang memiliki densitas lebih kecil. Sehingga dengan adanya gaya coriolis yang bekerja maka arus yang mengalir mengalami pembelokan arah ke kiri untuk wilayah belahan bumi selatan dan ke arah kanan untuk wilayah belahan bumi utara.

Dari Gambar 5 dapat dilihat perbedaan selisih kedalaman dinamik antara dua stasiun yang berdekatan. Antara stasiun 2 dan stasiun 1 pada kedalaman antara 1300-1500 m dapat dilihat bahwa kurva sebaran menegak antara kedua stasiun tersebut mulai membentuk garis tegak lurus dimana pada rentang kedalaman tersebut dapat dijadikan sebagai reference level atau papar acuan dalam menentukan level of no motion antara kedua stasiun tersebut.

Antara stasiun 3 dan stasiun 2 kurva selisih kedalaman dinamik mulai membentuk garis tegak lurus pada kedalaman 700-1.100

m yang dapat digunakan sebagai papar acuan atau reference level dalam menentukan level of no motion antara kedua stasiun tersebut. Dari hasil pengolahan data kedalaman dinamik tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam penentuan reference level (papar acuan) dalam menentukan level of no motion pada stasiun tersebut tidak dapat ditentukan secara langsung. Hal ini dikarenakan reference level antara dua stasiun berbeda sehingga tidak dapat ditentukan 1 kedalaman yang sama untuk dijadikan sebagai reference level untuk setiap stasiun.

Dari hasil yang didapatkan rataan kedalaman dinamik di permukaan laut tiap stasiun berkisar pada 2,3 dyn m hingga nilai kedalaman dinamik mencapai nilai 0 dyn m pada kedalaman 1.500 m. Pada setiap stasiun dapat dilihat bahwa nilai kedalaman dinamik setiap stasiun semakin berkurang hingga menuju nilai 0 dyn m pada kedalaman 1.500 m. Nilai kedalaman dinamik terlihat jauh berkurang pada kedalaman 600-700 m hingga 0,02 dyn m.

Nilai kedalaman dinamik stasiun 1 merupakan nilai kedalaman tertinggi dibandingkan dengan 3 stasiun lainnya. Nilai kedalaman dinamik stasiun 1 lebih tinggi dibandingkan nilai pedalaman dinamik dibandingkan stasiun 2, begitu pula nilai kedalaman dinamik stasiun 2 lebih besar dari stasiun 3 dan stasiun 3 memiliki nilai kedalaman dinamik lebih tinggi dari stasiun 4. Oleh karena itu arah gradien tekanan menuju stasiun 4 kemudian dibelokkan ke kiri untuk wilayah belahan bumi selatan.

(9)

itu selisih nilai kedalaman dinamik antara bagian utara dan selatan dalam satu transek adalah positif. Sedangkan apabila selisih nilai kedalaman dinamik adalah negatif maka

massa air akan mengalir ke barat sementara jika bernilai nol maka massa air dikatakan tidak mengalir.

Gambar 5.Sebaran Menegak dan Melintang Kedalaman Dinamik Menggunakan ODV

(10)

Gambar 7. Selisih Kedalaman Dinamik Antara Dua Stasiun yang Berdekatan

Gambar 8.Arah Aliran Kedalaman Dinamik

Nilai anomali kedalaman dinamik di permukaan laut pada setiap stasiun merupakan nilai anomali maksimum dan nilai minimum berada pada kedalaman tertinggi atau di bawah permukaan dimana nilai

anomali kedalaman dinamik mendekati nol. Arieyanto (1994) dalam Rahmawati (2001) menjelaskan bahwa penurunan nilai anomali kedalaman dinamik disebabkan oleh peningkatan salinitas.

3.5 Arus Geostropik

Arus geostropik adalah arus yang terjadi di permukaan laut akibat pengaruh gaya gradien tekanan mendatar dan diseimbangkan oleh gaya coriolis (Brown, et al., 1989 dalam Marpaung, 2014). Gaya tekanan mendatar menggerakkan arus dalam arah horizontal dan dalam pergerakannya akan dipengaruhi oleh gaya coriolis yang timbul akibat rotasi bumi. Arus geostropik tidak dipengaruhi oleh gesekan antara angin

dan udara, sehingga arus geostropik digolongkan ke dalam arus tanpa gesekan (Pond dan Pickard, 1983 dalam Marpaung, 2014).

(11)

permukaan yang memiliki berat massa yang lebih berat (Rahmawati, 2004). Pond dan Pickard (1983) dalam Rahmawati (2004) menjelaskan bahwa struktur dan pola pemisahan lapisan tersebut bergantung pada perbedaan densitas masing-masing lapisan atau bentuk piknoklinnya.

Nilai arus geostropik diperoleh dari beda tinggi muka laut (pasang surut dan non-pasang surut) (Oktavia, 2011). Nilai dari beda tinggi muka laut tersebut adalah selisih antara data tinggi muka laut pada dua stasiun yang terpisah dengan jarak sekitar 1° dengan asumsi perbedaan tinggi muka laut setiap stasiun sekitar 111,12 km. Untuk sebaran vertikal arus geostropik dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.

Pada Gambar 9 dan Gambar 10 terlihat arus geostropik yang melintasi keempat stasiun memiliki perbedaan kecepatan. Stasiun 1 dan 2 merupakan daerah yang dilewati oleh arus geostropik dengan kecepatan paling rendah yaitu ±6,5 cm/s yang merupakan daerah yang dilewati oleh arus geostropik dengan kecepatan paling rendah. Arus geostropik yang melewati stasiun 2 dan 3 memiliki kecepatan ±15,56 cm/s, sedangkan arus geostropik yang melewati stasiun 3 dan 4 merupakan daerah yang dilewati oleh arus geostropik dengan kecepatan yang paling tinggi dibandingkan dengan arus geostropik yang melewati stasiun 1 dan 2 dan stasiun 2 dan 3 yaitu ±22,90 cm/s.

Pada Gambar 9 dan Gambar 10 hasil pengolahan data arus geostropik menggunakan Ocean Data View (ODV) dan Matlab dapat dilihat pergerakan dan kecepatan arus geostropik pada setiap stasiun sudah mulai stabil pada kedalaman ±750 m. Hal ini disimpulkan bahwa pada kedalaman ±750 m pengaruh angin yang berasal dari daratan pada pada lapisan permukaan sudah mulai tidak mempengaruhi pergerakan pada kedalaman ±750 m.

Dalam sebuah penelitian yang sama yang dilakukan di perairan selatan Jawa dengan menggunakan data World Ocean Atlas (WOA) bulan September tahun 2009 diperoleh hasil bahwa arus geostropik pada bulan September tahun 2009 mencapai tingkat kestabilan pada kedalaman ±1.000 m (Damanik, 2013). Dari perbandingan data tersebut ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan kedalaman yang cukup jauh ±250 m antara bulan Agustus dan September untuk arus geostropik mencapai tingkat kestabilan (level of no motion). Hal ini juga disebabkan pada bulan Agustus di perairan selatan Jawa merupakan periode puncak terjadinya proses upwelling.

Upwelling yang terjadi pada perairan selatan Jawa diakibatkan oleh wind induced upwelling (gesekan angin). Angin muson tenggara yang bertiup di perairan selatan Jawa pada bulan Juli-September mempengaruhi kecepatan gerak Arus Khatulistiwa Selatan (AKS) ke arah barat perairan selatan Jawa pada musim timur. Angin muson tenggara tersebut menyebabkan gerak AKS ke arah barat menjadi lebih cepat.

(12)

Gambar 9.Kecepatan dan Arah Arus Geostropik Hasil Pengolahan dengan Menggunakan ODV

Gambar 10.Kecepatan dan Arah Arus Geostropik Hasil Pengolahan dengan Menggunakan Matlab

Kesimpulan

Perairan selatan Jawa merupakan bagian dari perairan samudera Hindia yang memiliki arus besar yang disebut Arus Khatulistiwa Selatan (AKS) yang sepanjang tahun menuju ke arah barat dan menyebar dari barat laut Australia menuju sisi lain dari samudera Hindia. Apabila aliran AKS bergerak semakin cepat sepanjang pantai selatan Jawa-Sumbawa, maka akan mengakibatkan massa air akan menumpuk di belahan bumi selatan yang merupakan bagian sisi lepas pantai.

Sebaran menegak dan melintang suhu pada tiap stasiun pengambilan data

(13)

perbedaan suhu maksimum dan minimum pada tiap stasiun pengambilan data tidak memiliki perbedaan suhu yang terlalu signifikan.

Berdasarkan kedalaman, salinitas pada stasiun pengambilan data semakin dalam tingkat kedalaman di permukaan nilai salinitas pada stasiun pengambilan data semakin tinggi dimana nilai salinitas pada stasiun pengambilan data berkisar antara 34,03-34,67 psu.

Dari hasil yang didapatkan rataan kedalaman dinamik di permukaan laut tiap stasiun berkisar pada 2,3 dyn m hingga nilai kedalaman dinamik mencapai nilai 0 dyn m pada kedalaman 1.500 m. Pada setiap stasiun dapat dilihat bahwa nilai kedalaman dinamik setiap stasiun semakin berkurang hingga menuju nilai 0 dyn m pada kedalaman 1.500 m. Nilai kedalaman dinamik terlihat jauh berkurang pada kedalaman 600-700 m hingga 0,02 dyn m.

Pada Gambar 9 dan Gambar 10 hasil pengolahan data arus geostropik menggunakan Ocean Data View (ODV) dan

Matlab dapat dilihat pergerakan dan kecepatan arus geostropik pada setiap stasiun sudah mulai stabil pada kedalaman ±750 m. Hal ini disimpulkan bahwa pada kedalaman ±750 m pengaruh angin yang berasal dari daratan pada pada lapisan permukaan sudah mulai tidak mempengaruhi pergerakan pada kedalaman ±750 m.

Dari bentuk sebarannya densitas potensial pada perairan selatan Jawa tersebut memiliki pola yang sama dengan sebaran salinitas dan berbanding terbalik dengan sebaran suhu. Sebaran densitas potensial pada perairan selatan Jawa pada tiap lapisan kedalaman semakin meningkat atau semakin tinggi nilai densitas potensialnya seiring dengan semakin dalamnya tingkat kedalaman. Hal ini sama dengan nilai sebaran salinitas yang semakin tinggi dengan semakin dalamnya kedalaman perairan tersebut. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa densitas potensial tertinggi berada pada stasiun 2 dengan nilai densitas potensial berada pada kisaran 22,6-27,6 kg/m3.

Referensi

Damanik, F. S. 2013. Karakteristik Massa Air di Perairan Selatan Jawa. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hatta, M. 2001. Sebaran Klorofil-a dan Ikan Pelagis: Hubungannya dengan Kondisi Oseanografi di Perairan Utara Irian Jaya. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kunarso, S. H., Hadi, N. S., Ningsih, M. S. Baskoro. 2011. Variabilitas Suhu dan Klorofil-a di Daerah Upwelling pada Variasi Kejadian ENSO dan IOD di Perairan Selatan Jawa sampai Timor. Jurnal Ilmu Kelautan, 16(3):71-180.

Lehodey, P., et al. 2006. Climate Variability, Fish and Fisheries. American Meteorological Society.

Marpaung, S., Teguh, P. 2014. Analisis Arus Geostropik Permukaan Laut Berdasarkan Data Satelit Altimetri. Deteksi Parameter Geobiofisik dan Diseminasi Penginderaan Jauh. Seminar Nasional Penginderaan Jauh. 2014.

Nontji, A. 2005. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.

Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. Diterjemahkan oleh M. Eidman, Koesbiono dan D. G. Bengen. Gramedia. Jakarta.

Oktavia, R., John, I. P., Parhulutan, M. 2001. Variasi Muka Laut dan Arus Geostropik Permukaan Perairan Selat Sunda Berdasarkan Data Pasut dan Angin Tahun 2008. Purba, M. 2007. Dinamika Perairan Selatan

Pulau Jawa-Pulau Sumbawa Saat Muson Tenggara. Torani, 17(2):140-150.

Rahmawati, H. 2004. Studi Karakteristik Massa Air dan Arus Geostropik di Perairan Selatan Jawa Barat pada Bulan Desember 2001. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rosmawati. 2004. Kondisi Oseanografi Perairan Selat Tiworo pada Bulan Juli-Agustus 2002. Skripsi. Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Wyrtki, K. 1961. Physical Oceanography of

(14)

Investigations of South China Sea and Gulf Thailand 1959-1960. Naga Report 2. The University of California, La Jolla, California. 195p.

Yoga, R. B., Heryoso, S., Gentio, H. 2014. Dinamika Upwelling dan

(15)

Lampiran

Tabel Perbandingan Data Hasil dari Perhitungan Densitas Potensial, Anomali Volume Spesifik dan Anomali Geopotensial pada Stasiun 1

Stasiun Longitude Latitude Kedalaman (m) Suhu (°C) Salin itas (psu) Manual ODV Matlab Manual ODV Matlab Manual ODV Matlab

1 117.5 -13.5 0 26.2002 34.1064 22.30 22.30 22.28 5.54 5.53 5.53 20.91 20.96 22.15

1 117.5 -13.5 10 26.1185 34.117001 22.33 22.33 22.31 5.51 5.50 5.50 20.35 20.41 21.60

1 117.5 -13.5 20 26.069 34.122398 22.35 22.35 22.33 5.49 5.48 5.48 19.80 19.86 21.05

1 117.5 -13.5 30 26.0202 34.1367 22.38 22.38 22.36 5.48 5.46 5.46 19.25 19.31 20.51

1 117.5 -13.5 50 25.8501 34.205002 22.48 22.49 22.46 5.38 5.37 5.37 18.17 18.23 19.42

1 117.5 -13.5 75 25.3613 34.287498 22.69 22.70 22.68 5.18 5.18 5.18 16.85 16.92 18.10

1 117.5 -13.5 100 24.2179 34.376999 23.11 23.12 23.09 4.81 4.79 4.79 15.61 15.68 16.86

1 117.5 -13.5 125 22.3611 34.466702 23.71 23.72 23.70 4.23 4.22 4.22 14.49 14.56 15.73

1 117.5 -13.5 150 20.1598 34.583698 24.40 24.42 24.39 3.58 3.56 3.57 13.53 13.59 14.76

1 117.5 -13.5 200 16.4903 34.663601 25.38 25.39 25.37 2.66 2.65 2.65 12.00 12.06 13.20

1 117.5 -13.5 250 13.6443 34.666401 26.00 26.02 26.00 2.09 2.06 2.06 10.85 10.90 12.03

1 117.5 -13.5 300 11.7924 34.669399 26.37 26.38 26.37 1.74 1.71 1.72 9.93 9.98 11.08

1 117.5 -13.5 400 9.5853 34.6656 26.76 26.77 26.76 1.37 1.35 1.36 8.47 8.51 9.55

1 117.5 -13.5 500 8.2963 34.630299 26.94 26.95 26.94 1.21 1.19 1.20 7.27 7.31 8.27

1 117.5 -13.5 600 7.0525 34.6068 27.10 27.12 27.10 1.06 1.04 1.04 6.23 6.27 7.15

1 117.5 -13.5 700 6.3478 34.597198 27.19 27.20 27.19 0.99 0.96 0.97 5.31 5.34 6.15

1 117.5 -13.5 800 5.782 34.600399 27.26 27.28 27.26 0.92 0.89 0.90 4.47 4.50 5.21

1 117.5 -13.5 900 5.2876 34.603199 27.33 27.34 27.33 0.85 0.84 0.84 3.69 3.73 4.34

1 117.5 -13.5 1000 4.8528 34.605999 27.38 27.40 27.38 0.83 0.79 0.80 2.98 3.00 3.52

1 117.5 -13.5 1100 4.5417 34.608501 27.42 27.43 27.42 0.77 0.76 0.76 2.30 2.32 2.74

1 117.5 -13.5 1200 4.2112 34.6194 27.46 27.48 27.46 0.74 0.71 0.72 1.66 1.68 1.99

1 117.5 -13.5 1300 3.9087 34.634602 27.50 27.52 27.50 0.72 0.67 0.68 1.07 1.08 1.29

1 117.5 -13.5 1400 3.6404 34.6558 27.55 27.57 27.55 0.66 0.63 0.64 0.52 0.52 0.63

1 117.5 -13.5 1500 3.3819 34.6656 27.58 27.60 27.58 0.62 0.60 0.61 0.00 0.00 0.00

(16)

Tabel Perbandingan Data Hasil dari Perhitungan Densitas Potensial, Anomali Volume Spesifik dan Anomali Geopotensial pada Stasiun 2

Stasiun Longitude Latitude Kedalaman (m) Suhu (°C) Salin itas (psu) Manual ODV Matlab Manual ODV Matlab Manual ODV Matlab

2 117.5 -12.5 0 26.2588 34.0728 22.25 22.26 22.24 5.58 5.57 5.57 20.68 20.72 22.02

2 117.5 -12.5 10 26.1779 34.079899 22.28 22.29 22.27 5.56 5.54 5.54 20.12 20.16 21.47

2 117.5 -12.5 20 26.1222 34.0807 22.30 22.31 22.28 5.54 5.53 5.53 19.57 19.61 20.92

2 117.5 -12.5 30 26.0454 34.0882 22.33 22.34 22.31 5.52 5.50 5.51 19.01 19.06 20.37

2 117.5 -12.5 50 25.7679 34.143002 22.46 22.46 22.44 5.41 5.39 5.39 17.92 17.97 19.28

2 117.5 -12.5 75 25.092 34.2202 22.72 22.73 22.71 5.16 5.14 5.15 16.61 16.66 17.96

2 117.5 -12.5 100 23.636 34.324001 23.24 23.25 23.22 4.69 4.66 4.67 15.39 15.43 16.72

2 117.5 -12.5 125 21.5943 34.415699 23.89 23.90 23.87 4.07 4.05 4.05 14.30 14.35 15.61

2 117.5 -12.5 150 19.38 34.534801 24.57 24.58 24.56 3.42 3.40 3.41 13.38 13.43 14.65

2 117.5 -12.5 200 15.8117 34.605099 25.49 25.50 25.48 2.55 2.54 2.54 11.91 11.96 13.14

2 117.5 -12.5 250 13.1591 34.6077 26.06 26.07 26.05 2.02 2.00 2.01 10.80 10.85 11.99

2 117.5 -12.5 300 11.4283 34.616699 26.40 26.41 26.39 1.70 1.68 1.69 9.91 9.95 11.06

2 117.5 -12.5 400 9.3915 34.635399 26.77 26.78 26.77 1.36 1.34 1.35 8.46 8.50 9.54

2 117.5 -12.5 500 8.2601 34.624298 26.94 26.95 26.94 1.21 1.19 1.19 7.26 7.30 8.27

2 117.5 -12.5 600 7.0233 34.604801 27.10 27.12 27.10 1.06 1.04 1.04 6.22 6.26 7.15

2 117.5 -12.5 700 6.3539 34.596802 27.19 27.20 27.19 0.98 0.96 0.97 5.31 5.34 6.14

2 117.5 -12.5 800 5.779 34.597198 27.26 27.28 27.26 0.92 0.89 0.90 4.46 4.49 5.21

2 117.5 -12.5 900 5.2704 34.5998 27.33 27.34 27.32 0.85 0.84 0.84 3.69 3.71 4.34

2 117.5 -12.5 1000 4.8357 34.603298 27.38 27.40 27.38 0.83 0.79 0.80 2.97 2.98 3.51

2 117.5 -12.5 1100 4.5191 34.606701 27.42 27.44 27.42 0.77 0.75 0.76 2.29 2.31 2.73

2 117.5 -12.5 1200 4.1865 34.618301 27.46 27.48 27.46 0.73 0.71 0.72 1.66 1.67 1.99

2 117.5 -12.5 1300 3.8816 34.633301 27.51 27.53 27.51 0.72 0.67 0.68 1.07 1.08 1.29

2 117.5 -12.5 1400 3.624 34.6562 27.55 27.57 27.55 0.66 0.63 0.64 0.51 0.52 0.63

2 117.5 -12.5 1500 3.3825 34.666199 27.58 27.60 27.58 0.62 0.60 0.61 0.00 0.00 0.00

(17)

Tabel Perbandingan Data Hasil dari Perhitungan Densitas Potensial, Anomali Volume Spesifik dan Anomali Geopotensial pada Stasiun 3

Stasiun Longitude Latitude Kedalaman (m) Suhu (°C) Salin itas (psu) Manual ODV Matlab Manual ODV Matlab Manual ODV Matlab

3 117.5 -11.5 0 26.2016 34.054298 22.26 22.26 22.24 5.58 5.56 5.57 20.17 20.23 21.39

3 117.5 -11.5 10 26.1094 34.0606 22.29 22.29 22.27 5.55 5.54 5.54 19.61 19.68 20.84

3 117.5 -11.5 20 26.0261 34.060299 22.32 22.32 22.30 5.52 5.51 5.52 19.05 19.12 20.28

3 117.5 -11.5 30 25.8934 34.0648 22.36 22.37 22.34 5.49 5.48 5.48 18.50 18.57 19.73

3 117.5 -11.5 50 25.4277 34.111401 22.54 22.55 22.52 5.33 5.31 5.31 17.42 17.49 18.66

3 117.5 -11.5 75 24.4273 34.198399 22.91 22.92 22.89 4.99 4.97 4.97 16.14 16.21 17.37

3 117.5 -11.5 100 22.5774 34.316898 23.54 23.55 23.52 4.40 4.38 4.38 14.98 15.05 16.20

3 117.5 -11.5 125 20.3533 34.398201 24.21 24.22 24.20 3.76 3.74 3.74 13.97 14.04 15.19

3 117.5 -11.5 150 18.1905 34.504902 24.85 24.86 24.84 3.16 3.14 3.14 13.12 13.19 14.33

3 117.5 -11.5 200 14.9104 34.568501 25.66 25.67 25.65 2.39 2.37 2.38 11.76 11.82 12.95

3 117.5 -11.5 250 12.5689 34.5718 26.15 26.16 26.14 1.94 1.91 1.92 10.71 10.77 11.87

3 117.5 -11.5 300 11.0335 34.582199 26.44 26.46 26.44 1.65 1.64 1.64 9.84 9.91 10.98

3 117.5 -11.5 400 9.2005 34.614601 26.78 26.80 26.78 1.35 1.33 1.33 8.42 8.48 9.49

3 117.5 -11.5 500 8.2062 34.6259 26.95 26.96 26.95 1.20 1.18 1.18 7.24 7.29 8.24

3 117.5 -11.5 600 6.986 34.606998 27.11 27.13 27.11 1.06 1.03 1.03 6.21 6.25 7.13

3 117.5 -11.5 700 6.3547 34.599098 27.19 27.20 27.19 0.99 0.96 0.97 5.30 5.34 6.13

3 117.5 -11.5 800 5.7768 34.5956 27.26 27.28 27.26 0.92 0.90 0.90 4.45 4.49 5.19

3 117.5 -11.5 900 5.2578 34.5979 27.33 27.34 27.32 0.85 0.84 0.84 3.68 3.71 4.32

3 117.5 -11.5 1000 4.8233 34.602001 27.38 27.40 27.38 0.83 0.79 0.80 2.96 2.98 3.50

3 117.5 -11.5 1100 4.5002 34.606098 27.42 27.44 27.42 0.77 0.75 0.76 2.28 2.30 2.72

3 117.5 -11.5 1200 4.168 34.618099 27.46 27.48 27.46 0.73 0.71 0.72 1.65 1.67 1.98

3 117.5 -11.5 1300 3.8526 34.633701 27.51 27.53 27.51 0.72 0.67 0.68 1.06 1.07 1.28

3 117.5 -11.5 1400 3.6052 34.657902 27.55 27.57 27.55 0.65 0.62 0.64 0.51 0.52 0.62

3 117.5 -11.5 1500 3.381 34.667702 27.58 27.60 27.58 0.62 0.60 0.61 0.00 0.00 0.00

(18)

Tabel Perbandingan Data Hasil dari Perhitungan Densitas Potensial, Anomali Volume Spesifik dan Anomali Geopotensial pada Stasiun 4

Stasiun Longitude Latitude Kedalaman (m) Suhu (°C) Salin itas (psu) Manual ODV Matlab Manual ODV Matlab Manual ODV Matlab

4 117.5 -10.5 0 26.0527 34.035198 22.29 22.29 22.27 5.54 5.53 5.53 19.47 19.54 20.69

4 117.5 -10.5 10 25.9434 34.0429 22.33 22.33 22.31 5.51 5.50 5.50 18.92 18.99 20.13

4 117.5 -10.5 20 25.8137 34.044201 22.37 22.37 22.35 5.49 5.46 5.46 18.37 18.44 19.59

4 117.5 -10.5 30 25.6037 34.048302 22.44 22.44 22.42 5.41 5.40 5.40 17.82 17.90 19.04

4 117.5 -10.5 50 24.8777 34.0952 22.69 22.70 22.68 5.19 5.16 5.17 16.77 16.84 17.99

4 117.5 -10.5 75 23.417 34.210899 23.21 23.22 23.20 4.70 4.67 4.68 15.54 15.61 16.76

4 117.5 -10.5 100 21.1411 34.343399 23.96 23.97 23.94 3.99 3.97 3.98 14.46 14.53 15.67

4 117.5 -10.5 125 18.7806 34.405201 24.62 24.63 24.61 3.37 3.34 3.35 13.55 13.62 14.76

4 117.5 -10.5 150 16.7175 34.488499 25.19 25.20 25.18 2.83 2.81 2.81 12.79 12.86 13.99

4 117.5 -10.5 200 13.8565 34.541801 25.86 25.88 25.86 2.20 2.18 2.18 11.56 11.63 12.74

4 117.5 -10.5 250 11.885 34.547001 26.26 26.27 26.25 1.84 1.81 1.81 10.58 10.65 11.74

4 117.5 -10.5 300 10.5981 34.556702 26.50 26.51 26.50 1.61 1.58 1.59 9.76 9.83 10.89

4 117.5 -10.5 400 9.0242 34.6026 26.80 26.82 26.80 1.33 1.31 1.31 8.37 8.44 9.44

4 117.5 -10.5 500 8.1593 34.637001 26.96 26.98 26.96 1.19 1.16 1.17 7.21 7.26 8.20

4 117.5 -10.5 600 6.9565 34.614201 27.12 27.13 27.12 1.05 1.02 1.02 6.19 6.24 7.11

4 117.5 -10.5 700 6.357 34.603901 27.19 27.21 27.19 0.99 0.96 0.96 5.28 5.33 6.11

4 117.5 -10.5 800 5.7766 34.595901 27.26 27.28 27.26 0.93 0.90 0.90 4.44 4.48 5.18

4 117.5 -10.5 900 5.2584 34.597301 27.33 27.34 27.32 0.85 0.84 0.84 3.67 3.70 4.31

4 117.5 -10.5 1000 4.8205 34.601799 27.38 27.40 27.38 0.83 0.79 0.80 2.95 2.98 3.49

4 117.5 -10.5 1100 4.4934 34.606098 27.42 27.44 27.42 0.77 0.75 0.76 2.27 2.29 2.71

4 117.5 -10.5 1200 4.1612 34.618301 27.47 27.48 27.46 0.73 0.71 0.72 1.64 1.66 1.97

4 117.5 -10.5 1300 3.8232 34.635201 27.51 27.53 27.51 0.71 0.66 0.67 1.05 1.06 1.27

4 117.5 -10.5 1400 3.5854 34.660198 27.56 27.58 27.56 0.65 0.62 0.63 0.51 0.52 0.62

4 117.5 -10.5 1500 3.3738 34.6698 27.59 27.61 27.59 0.62 0.59 0.61 0.00 0.00 0.00

Gambar

Gambar 1.Lokasi Stasiun Pengambilan Data
Gambar 2.Sebaran Menegak Suhu (Kiri Atas) dan Sebaran Melintang Suhu (Kanan) Setiap  Stasiun dari Kedalaman Minimum Hingga Kedalaman Maksimum
Gambar 3.Sebaran Menegak Salinitas (Kiri Atas) dan Sebaran Melintang Salinitas (Kanan)  Setiap Stasiun dari Kedalaman Minimum Hingga Kedalaman Maksimum
Gambar 4.Sebaran Menegak dan Melintang Anomali Densitas Potensial
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pemberian jenis susu berkalsium tinggi dan susu segar pada kadar kalsium darah dan kepadatan tulang

Dan semakin menunjukkan bahwa dalam hal penangguhan upah, DiJjen Binawas KetenagakeJjaan lebih memihak kepada pengusaha, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya

Baja amutit ukuran penampang 17 mm x 17 mm dengan panjang ± 120 mm dibentuk menggunakan mesin potong, mesin milling dan mesin surface grinding menjadi menjadi balok

Maka dari itu, penulis mengadakan suatu penelitian untuk dapat memahami lebih lanjut tentang Evaluasi Kinerja BPBD Kabupaten Badung dan faktor pendukung serta penghambat

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Optimasi

Pengantar Pengolahan Tepung Serealia dan Biji-bijian Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta IPB, Bogor.. Biskuit, Crackers, dan Cookies Pengenalan Tentang; Aspek Bahan Baku, Teknologi,

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) peran BKK SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta masuk dalam kategori cukup dengan persentase sebesar 55,64% yang

c. Mahasiswa dan Lulusan: 1) Secara kuantitatif, jumlah mahasiswa baru yang diterima Prodi PAI relatif stabil dan di atas rata-rata dibandingkan dengan jumlah