• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK G (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK G (1)"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI RAUDLATUL ATHFAL AL-IKHLAS

SUKODADI LAMONGAN

SKRIPSI

Oleh:

INDAH ZAKIYAH ZAMANIA 05110161

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

(2)

UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI RAUDLATUL ATHFAL AL-IKHLAS

SUKODADI LAMONGAN

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam

Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd.I)

Oleh:

INDAH ZAKIYAH ZAMANIA 05110161

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN

UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI RAUDLATUL ATHFAL AL IKHLAS

SUKODADI LAMONGAN

SKRIPSI Oleh

Indah Zakiyah Zamania 05110161

Telah Disetujui oleh Dosen Pembimbing,

Drs. A. Fatah Yasin, M.Ag NIP. 150 287 892

Tanggal, 19 Juni 2009

Mengetahui,

Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI RAUDLATUL ATHFAL AL IKHLAS

SUKODADI LAMONGAN

SKRIPSI

Disusun Oleh

Indah Zakiyah Zamania (05110161)

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Pada Tanggal

08 Agustus 2009 Dan Telah Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I)

Pada Tanggal 13 Agustus 2009

Panitia Ujian

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang/ Pembimbing,

Mujtahid, M. Ag Drs. A. Fatah Yasin, M. Ag

NIP. 150368789 NIP. 150287892

Penguji Utama,

Dr. H. Muchlis Usman, MA NIP. 150019539

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

(5)

Drs. A. Fatah Yasin, M. Ag Dosen Fakultas Tarbiyah

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal : Skripsi Indah Zakiyah Zamania Malang, 19 Juni 2009 Lampiran : -

Kepada Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Di

Malang

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut dibawah ini:

Nama : Indah Zakiyah Zamania

NIM : 05110161

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Judul Skripsi : Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru

Dalam Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al Ikhlas Sukodadi Lamongan

Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan. Demikian, mohon dimaklumi adanya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Pembimbing,

(6)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan

tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis

diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.

Malang, 19 Juni 2009

(7)

MOTTO

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah

(8)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Teruntuk saudara-saudaraku:

Andi Zakki Zamani Fahmi Zakki Zamani

Hilmi Zakki Zamani

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang tiada lain hanya untuk Allah SWT yang telah memberikan

kesehatan dan kesempatan kepada kami, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi dengan judul “Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam

Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al Ikhlas Sukodadi Lamongan”

sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Strata Satu Sarjana

Pendidikan Islam.

Sholawat dan Salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi

besar Muhammad SAW yang telah menahkodai kita dari samudera yang penuh

badai kedholiman dan kebodohan menuju pantai yang penuh dengan kedamaian

dalam naungan Islam.

Dengan terselesaikannya skripsi ini, tak lupa penulis menyampaikan rasa

terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah memberikan arahan,

bimbingan dan petunjuk sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan

baik, khususnya kepada:

1. Abah dan Ibu, kalian sumber inspirasi dan kompas dalam perjalanan hidupku

2. Prof. DR. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri

Maulana Malik Ibrahim Malang

3. Bapak Dr. M. Zainuddin, MA selaku dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana

(10)

4. Bapak Drs. Moh. Padil, M. Pd. I selaku Ketua Jurusan Fakultas Tarbiyah UIN

Maulana Malik Ibrahim Malang

5. Bpk. Drs. A. Fatah Yasin, M. Ag. selaku dosen pembimbing yang dengan

sabar telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis, sehingga

penulisan skripsi ini bisa selesai

6. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang

telah membimbing dan mencurahkan ilmunya kepada penulis

7. Ibu Nurul Hidayati, S. Ag selaku Kepala Raudlatul Athfal Al Ikhlas Sukodadi

Lamongan.

8. Teman-teman angkatan ’05, teruskan perjuangan dan tetap semangat.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik konstruktif dari berbagai pihak

sangat penulis harapkan demi terwujudnya hasil skripsi yang lebih baik untuk

masa-masa yang akan datang. Akhirnya penulis berharap semoga hasil skripsi ini

dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya.

Amin.

Malang, 19 Juni 2009

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ……….... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

NOTA DINAS PEMBIMBING ... v

SURAT PERNYATAAN ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

ABSTRAK ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……….….. 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6

D. Ruang Lingkup Pembahasan ... 8

E. Definisi Operasional ... 8

(12)

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

A. Kompetensi Pedagogik Guru ………..……. 12

1. Pengertian Kompetensi ... 12

2. Pengertian Kompetensi Pedagogik ... 17

3. Indikator Kompetensi Pedagogik Guru ... 27

B. Proses Belajar Mengajar ... 30

1. Pengertian Proses Belajar Mengajar ………...…… 30

2. Tujuan Dalam Proses Belajar Mengajar ………….….….. 33

3. Metode Dalam Proses Belajar Mengajar …………....…… 35

C. Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar ... 42

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar ... 49

BAB III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ……….….. 53

B. Kehadiran Peneliti ………...…….… 54

C. Lokasi Penelitian ………....…….…. 54

D. Sumber Data ………....…….… 54

E. Teknik Pengumpulan Data ………...…….…. 56

F. Analisis Data ………..….……. 58

G. Pengecekan Keabsahan Data ……….……….….. 59

(13)

BAB IV. HASIL PENELITIAN

A. Latar Belakang Objek Penelitian ……….…….… 61

1. Sejarah Berdirinya Raudhatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan ………..….… 62

2. Sarana dan Prasarana ……….….… 63

3. Struktur Organisasi ………..…... 66

4. Keadaan Guru, Pegawai dan Siswa ………..…..… 67

B. Paparan Data Hasil Penelitian ... 68

1. Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan ………..…. 69

2. Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan ……….….. 77

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan ………..…. 84

(14)

B. Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam

Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas

Sukodadi Lamongan ………...….91

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Upaya Peningkatan

Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar

Di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan ……..….…94

BAB VI. PENUTUP

A. Kesimpulan ……….………….….95

B. Saran ………...…96

(15)

DAFTAR TABEL

TABEL I : KEADAAN SARANA DAN PRASARANA

RA AL IKHLAS SUKODADI...64

TABEL II : STRUKTUR ORGANISASI RA AL IKHLAS

SUKODADI ...66

TABEL III : DATA TENAGA PENDIDIK RA AL-IKHLAS

SUKODADI...68

TABEL IV : JUMLAH SISWA-SISWI RA AL IKHLAS

SUKODADI...68

TABEL V : JADWAL PEMBELAJARAN RA AL-IKHLAS

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN I : SURAT PENELITI

LAMPIRAN II :BUKTI KONSULTASI

LAMPIRAN III : INSTRUMEN PENELITIAN

LAMPIRAN IV : DENAH RA AL IKHLAS SUKODADI LAMONGAN

LAMPIRAN V : JUMLAH SISWA TAHUN AJARAN 2008/2009

LAMPIRAN VI : JADWAL PEMBELAJARAN RA AL-IKHLAS

SUKODADI LAMONGAN 2008/2009

LAMPIRAN VII : JADWAL KEGIATAN RA AL-IKHLAS SUKODADI

LAMONGAN 2008/2009

(17)

ABSTRAK

Zamania, Indah Zakiyah. 2009: ”Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Di RA Al Ikhlas Sukodadi Lamongan”. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang. Pembimbing: Drs. A. Fatah Yasin, M.Ag

Kata Kunci: kompetensi pedagogik, guru, proses belajar mengajar

Fokus Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan ”Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Proses Belajar Mengajar”. Guru Sebagai tenaga pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan, maka peningkatan kompetensi guru dalam proses belajar megajar, khususnya kompetensi pedagogik yang merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik merupakan salah satu alternatif yang diyakini dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang mendasar dari permasalahan pendidikan di tanah air.

Untuk mendapatkan kepastian maka diambil rumusan masalah bagaimana kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar, bagaimana upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar, dan faktor-faktor apakah yang mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar, untuk menjelaskankan upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar, dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan.

Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif yaitu peneliti mengamati dan berinteraksi dengan guru, kepala sekolah, dan pengurus yayasan di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan dengan interview dan mencari data dengan mengkaji dokumentasinya.

Dari hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan, bahwa peningkatan kompetensi pedagogik guru dilakukan secara berkesinambungan oleh kepala sekolah/lembaga dan guru. Upaya peningkatan kompetensi yang dilakukan guru sendiri yaitu dengan mengikuti penataran dan mengikuti seminar/diskusi, memanfaatkan media cetak/media massa dan media elektronik, peningkatan profesi melalui belajar sendiri, mengikuti kursus, dan aktif dalam organisasi keguruan yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran.

(18)
(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam dunia kependidikan, persoalan yang berkenaan dengan guru dan

jabatan guru senantiasa menjadi salah satu pokok bahasan yang mendapat

tempat tersendiri di tengah-tengah ilmu kependidikan yang begitu luas dan

kompleks. Sehubungan dengan kemajuan pendidikan dan kebutuhan guru

yang semakin meningkat, baik dalam mutu maupun jumlahnya, maka program

pendidikan guru menjadi prioritas pertama dalam program pembangunan

pendidikan di negara kita.

Tidak semua orang dewasa dapat dikategorikan sebagai pendidik atau

guru, karena guru harus memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi

oleh setiap calon pendidik atau guru sebagaimana yang telah ditetapkan dalam

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa untuk dapat diangkat

sebagai tenaga pengajar, tenaga pendidik yang bersangkutan harus memiliki

kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan

mengajar sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk

mewujudkan tujuan pendidikan nasional.1

Belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung

serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang

berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam

(20)

proses belajar mengajar selalu ditekankan pada pengertian interaksi yaitu

hubungan timbal balik antara guru dengan murid, hubungan interaksi antara

guru dengan murid ini harus diikuti oleh tujuan pendidikan.

Dalam upaya membantu murid untuk mencapai tujuan, maka guru

harus memaksimalkan peran sebagai guru yang berkompeten, diantaranya

mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, meningkatkan kemampuan

siswa untuk menyimak pelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran

yang tepat.

Harus disadari bahwa mengajar dan belajar mempunyai fungsi yang

berbeda, proses yang tidak sama dan terpisah. Perbedaan antara mengajar dan

belajar bukan hanya disebabkan karena mengajar dilakukan oleh seorang guru

sedangkan proses belajar berlangsung di dalamnya. Bila proses belajar

mengajar berjalan secara efektif, itu berarti telah terbina suatu hubungan yang

unik antara guru dan murid, proses itu sendiri adalah mata rantai yang

menghubungkan antara guru dan murid.2

Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih

tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran

belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder, ataupun oleh

komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur

manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan

lain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat

2 Thomas Gordon, Guru Yang Efektif: Cara Untuk Mengatasi Kesulitan Dalam Kelas,

(21)

dicapai melalui alat-alat tersebut. Di sinilah kelebihan manusia dalam hal ini

guru, dari alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu

dan mempermudah kehidupannya.3

Adapun kompetensi guru merupakan kemampuan dan kewenangan

seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara

bertanggung jawab terkait dengan profesi keguruannya. Karena jabatan guru

merupakan pekerjaan profesi, maka kompetensi guru sangatlah dibutuhkan

dalam proses belajar mengajar.

Dalam kaitannya dengan pendidikan, kompetensi menunjukkan kepada

perbuatan yang bersifat rasional untuk mencapai suatu tujuan yang sesuai

dengan kondisi yang diharapkan. Kompetensi ini diperoleh melalui proses

pendidikan atau latihan. Salah satu faktor yang paling menentukan berhasilnya

proses belajar mengajar adalah guru, seorang guru perlu memiliki kompetensi

untuk mengorganisasi ide-ide yang dikembangkan di kalangan peserta

didiknya sehingga dapat menggerakkan minat dan semangat belajar mereka.

Evaluasi merupakan tahapan setelah proses belajar-mengajar

dilaksanakan, dengan demikian lengkaplah siklus belajar-mengajar sebagai

suatu proses yang interaktif edukatif, mulai dari perumusan tujuan sampai

kepada penyediaan sarana pedukung interaksi.

Dalam kegiatan belajar mengajar, interaksi antara guru dan anak didik

merupakan kegiatan yang dominan. Dalam kegiatan itu, guru tidak hanya

3 Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru

(22)

mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mentransfer nilai-nilai lepada anak

didik sebagai subyek yang belajar. Kegiatan itu melibatkan

komponen-komponen yang antara satu dengan yang lanilla saling menyesuaikan dan

menunjang dalam pencapaian tujuan belajar bagi anak didik. Dengan

demikian, dalam kegiatan interaksi belajar mengajar, metode bukanlah

satu-satunya, tetapi faktor anak didik, guru, alat, tujuan, dan lingkungan juga turut

menentukan interaksi tersebut.4

Dalam kaitannya dengan peserta didik pada usia dini, maka guru

hendaknya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik dan

kondisi peserta didik. Guru dituntut untuk memantau pertumbuhan fisik dan

mengeksplorasi potensi yang dimiliki anak, karena pada usia ini kecerdasan

mereka sedang berkembang dengan pesat.

Salah satu faktor rendahnya mutu pendidikan di negara kita adalah

disebabkan tenaga pendidik yang kurang berkompeten. Sehingga upaya untuk

mencerdaskan kehidupan bangsa sukar untuk di wujudkan dan pada akhirnya

kebodohan akan berdampak pada kemiskinan. Untuk itu, maka guru sebagai

komponen pendidikan harus menunjukkan kualitasnya sebagai tenaga

pendidik yang ahli dibidangnya.

Fenomena yang sering terjadi, tenaga pendidik khususnya di tingkat

TK/RA (Raudlatul Athfal) belum memenuhi kualifikasi sebagai guru yang

berkompeten, khususnya kompetensi pedagogik yang berkaitan dengan

4

(23)

pengelolaan pembelajaran. Misalnya guru belum mampu memanfaatkan

teknologi pembelajaran atau belum mampu menyusun rancangan

pembelajaran dengan baik. Padahal guru tidak lagi bertindak sebagai penyaji

informasi tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator,

maupun pembimbing yang senantiasa berupaya memaksimalkan

perkembangan potensi yang dimiliki peserta didik.

Dengan demikian seorang guru dituntut untuk memiliki kompetensi

yang unggul dibidangnya, baik itu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial

maupun kompetensi profesional harus dimiliki oleh seorang guru selaku

tenaga pendidik. Masalah kompetensi pedagogik guru merupakan salah satu

dari kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang

pendidikan apapun.

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis berupaya

untuk mengkaji lebih dalam terhadap permasalahan tersebut dan dituangkan

dalam bentuk skripsi yang berjudul “ Upaya Peningkatan Kompetensi

Pedagogik Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal

Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan”.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di

Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan

2. Bagaimana upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses

(24)

3. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi

pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di Raudlatul Athfal

Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak

dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mendeskripsikan kompetensi pedagogik guru dalam proses

belajar mengajar di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan

2. Untuk mendeskripsikan upaya peningkatan kompetensi pedagogik

guru dalam proses belajar mengajar di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas

Sukodadi Lamongan

3. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi upaya

peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar

mengajar di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan

2. Kegunaan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah

disebutkan, maka dalam penelitian ini diharapkan berguna bagi lembaga,

(25)

1. Bagi Ilmu Pengetahuan

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan untuk meningkatkan

mutu pendidikan, serta mampu mendiagnosa problem yang terjadi

dalam dunia pendidikan, sehingga pada pelaksanaannya tidak bersifat

teoritis saja melainkan bagaimana pelaksanaan di lapangan.

2. Bagi Lembaga

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai ikhtisar pengetahuan

bagi semua pihak yang berkorelasi dengan dunia pendidikan

khususnya dan dapat dijadikan masukan bagi sekolah pada umumnya

serta bagi para guru agar dapat dijadikan acuan dalam upaya

meningkatkan kompetensi pedagogik guru, sehingga proses belajar

mengajar berlangsung dengan efektif dan efisien dan dapat mencapai

tujuan yang diharapkan.

3. Bagi Peneliti

Untuk memperkaya khasanah pemikiran dan memperluas wawasan

dalam bidang pendidikan, khususnya dalam meningkatkan kompetensi

guru, serta dapat dijadikan pijakan sebagai calon sarjana yang dituntut

siap terjun dalam dunia pendidikan.

D. Ruang Lingkup Pembahasan

Agar mempermudah dalam penelitian ini, maka yang akan dijadikan

(26)

1. Kompetensi pedagogik yang dimiliki guru dalam proses belajar mengajar

di RA Al Ikhlas Sukodadi Lamongan, meliputi: pemahaman terhadap

peserta didik, kemampuan dalam membuat perancangan pembelajaran,

kemampuan melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengevaluasi hasil

belajar, dan mengembangkan peserta didik.

2. Upaya yang dilakukan oleh yayasan/lembaga, kepala sekolah, maupun

guru itu sendiri untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru dalam

proses belajar mengajar di RA Al Ikhlas Sukodadi Lamongan agar sesuai

dengan tujuan yang diharapkan.

E. Definisi Operasional

1. Upaya merupakan usaha, akal, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud,

memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya).5

Sedangkan peningkatan adalah proses, perbuatan, cara meningkatkan

(usaha, kegiatan, dan sebagainya).6

2. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran

peserta didik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan

dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan

peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

3. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,

mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi

(27)

peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,

pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

4. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung

serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik

yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai suatu tujuan

tertentu.

5. Raudlatul Athfal (RA) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak

para sekolah pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan

program pendidikan umum dan pendidikan keagamaan Islam bagi anak

berusia 4 sampai 6 tahun.7

F. Sistematika Pembahasan

Pembuatan skripsi ini dikemukakan dengan sistem pembahasan. Hal

ini dimaksudkan untuk mempermudah pembaca dalam memahami gambaran

secara global dari seluruh skripsi ini. Adapun sistematika pembahasan ini ada

enam bab dan tiap bab terdiri dari beberapa sub yang satu dengan yang lainnya

saling berkaitan.

BAB I. PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan sekitar masalah yang dibahas dalam penulisan ini

yang bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap masalah-masalah yang

dibahas dan fungsi sebagai landasan dalam melaksanakan penelitian lapangan.

Permasalahan meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian dan

7 Depag, Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal, (Jakarta: Direktorat

(28)

manfaat penelitian, ruang lingkup pembahasan, definisi operasional, dan

sistematika pembahasan.

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

Bab ini menjelaskan secara rinci tentang kompetensi pedagogik guru,

yang meliputi: Pertama, pengertian kompetensi, kompetensi pedagogik,

indikator kompetensi pedagogik guru. Kedua, tentang proses belajar mengajar,

yang meliputi: pengertian proses belajar mengajar, tujuan dalam proses

belajar mengajar, metode dalam proses belajar mengajar. Ketiga, upaya

peningkatan kompetensi pedagogik guru. Dan keempat, faktor-faktor yang

mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses

belajar mengajar.

BAB III. METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang bagaimana cara peneliti memperoleh hasil

penelitian yang bertujuan mempermudah dalam penelitian di lapangan. Bab ini

meliputi pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian,

sumber data, prosedur pengumpulan data, teknik analisa data, pengecekan

keabsahan data dan tahap-tahap penelitian.

BAB IV. HASIL PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang hasil penelitian yang didapatkan oleh

peneliti di lapangan, bab ini meliputi latar belakang obyek penelitian yang

terdiri dari: sejarah singkat berdirinya RA Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan, visi

dan misi, struktur organisasi, keadaan guru, keadaan siswa, sarana dan

(29)

guru dalam proses belajar mengajar di RA Al Ikhlas Sukodadi Lamongan,

upaya meningkatkan kompetensi pedagogik guru, dan faktor-faktor yang

mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses

belajar mengajar di RA Al Ikhlas Sukodadi Lamongan .

BAB V. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang pembahasan hasil penelitian yang

didapatkan oleh peneliti di lapangan. Pada bab ini akan membahas

temuan-temuan penelitian yang telah dikemukakan dalam sebelumnya yang

mempunyai arti penting bagi keseluruhan penelitian, untuk menjawab

permasalahan yang ada dalam penelitian ini.

BAB VI. PENUTUP

Bab ini menjelaskan secara global dari semua pembahasan skripsi

dengan menyimpulkan semua pembahasan dan memberi beberapa saran dalam

meningkatkan kualitas pembelajaran selanjutnya. Tujuannya mempermudah

(30)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kompetensi Pedagogik Guru 1. Pengertian Kompetensi

Kompetensi berarti kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau

memutuskan sesuatu hal.8 Sedangkan dalam Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa:

“Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan prilaku yang

harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam

melaksanakan tugas keprofesionalan.”

Secara umum dapat diartikan bahwa guru adalah orang yang

bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi anak didik, baik

potensi kognitif, potensi afektif, maupun potensi psikomotor. Tugas dan

tanggung jawab guru sebenarnya bukan hanya disekolah, tetapi bisa dimana

saja mereka berada. Dirumah, guru berperan sebagai orang tua sekaligus

pendidik bagi anak-anak mereka. Didalam masyarakat desa tempat tinggalnya,

guru sering dipandang sebagai tokoh teladan bagi orang- orang disekitarnya.

Pandangan, pendapat, atau buah fikirannya sering menjadi tolak ukur atau

pedoman kebenaran bagi orang-orang disekitarnya karena guru dianggap

memiliki pengetahuan yang lebih luas dan lebih mendalam dalam berbagai

hal.

(31)

Demikian nampak betapa pentingnya peranan guru dan betapa

beratnya tugas serta tanggung jawabnya, terutama tanggung jawab moral

digugu dan ditiru, yaitu digugu kata- katanya dan ditiru perbuatannya atau

kelakuannya. Di sekolah mereka menjadi tumpuan atau pedoman tata tertib

kehidupan sekolah yaitu pendidikan atau pengajaran bagi murud-muridnya,

dan di masyarakat mereka sebagai panutan tingkah laku bagi setiap warga

masyarakat.

Seorang guru harus mengetahui bagaimana proses perkembangan jiwa

anak, kerena sebagai pendidik anak terutama bertugas untuk membina mental

mereka, membentuk moral mereka, dan membangun kepribadian yang baik

dan integral, sehingga mereka kelak berguna bagi nusa dan bangsa.

Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa: ”Guru adalah pendidik

profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,

mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada

pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan

pendidikan menengah.”

Dari sini dapat diketahui bahwa perbedaan pokok antara profesi guru

dengan profesi lainnya terletak dalam tugas dan tanggung jawabnya. Tugas

dan tanggung jawab tersebut erat kaitannya dengan kemampuan yang

disyaratkan untuk mengemban profesi tersebut. Kemampuan dasar itu tidak

(32)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007 tentang

Guru, dinyatakan bahwasanya kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru

meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,

dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Kompetensi Guru tersebut bersifat menyeluruh dan merupakan satu kesatuan

yang satu sama lain saling berhubungan dan saling mendukung.

Menurut Gordon sebagaimana yang dikutip oleh E. Mulyasa, bahwa

ada enam aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi, yaitu

sebagai berikut :

a. Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif,

misalnya seorang guru mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan

belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap peserta didik

sesuai dengan kebutuhannya.

b. Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang

dimiliki oleh individu, misalnya seorang guru yang akan melaksanakan

pembelajaran harus memiliki pemahaman yang baik tentang karakteristik

dan kondisi peserta didik, agar melaksanakan pembelajaran berjalan secara

efektif dan efesien.

c. Kemampuan (skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk

melakuakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, misalnya

kemampuan guru dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana

(33)

d. Nilai (value), adalah suatu atandar perilaku yang telah diyakini dan secara

psikologis telah menyatu dalam diri seseorang, misalnya standar perilaku

guru dalam pembelajaran (kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan

lain-lain)

e. Sikap (attitude) yaitu perasaan (senang, tak senang, suka-tidak suka) atau

reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar, reaksi terhadap

krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji, dan lain-lain.

f. Minat (interest), adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan

sesuatu perbuatan, misalnya minat untuk melakukan sesuatu atau untuk

mempelajari sesuatu.9

Dari keenam aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi diatas,

jika ditelaah secara mendalam mencakup empat bidang kompetensi yang

pokok bagi seorang guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi

kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional, dari keempat

jenis kompetensi tersebut harus sepenuhnya dikuasai oleh guru. Guru yang

memiliki kompetensi pedagogik akan dapat mengelola pembelajaran dengan

lebih baik, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif

dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Firman Allah dalam surat An Nahl

(34)

Artinya: “ Serulah (manusia) kejalan (agama) Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan pengajaran yang baik, dan bebantahlah (berdebatlah) dengan mereka dengan jalan yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang "Sampaikanlah ajaranku kepada orang lain walaupun hanya satu ayat”. (HR. Bukhari).

Sesuai dengan ayat dan hadits di atas, maka dapat kita ketahui bahwa

Nabi SAW memerintahkan kepada manusia untuk menyampaikan ajaran

beliau. Dengan demikian, setiap orang yang berilmu hendaknya mengamalkan

ilmunya dan menyampaikan atau mengajarkannya kepada orang lain yang

belum mengetahui.

Dalam mengajarkan atau menyampaikan ilmu (materi) kepada orang

lain, tentu saja membutuhkan metode yang tepat dan proses pembelajaran

yang efektif agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik

sehingga tujuan yang di cita-citakan dalam pembelajaran tersebut dapat

tercapai. Untuk itu, kompetensi guru khususnya dalam pengelolaan

pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting.

Guru adalah orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar

mengajar. Oleh karena itu, guru harus betul-betul membawa siswanya kepada

(35)

harus berpandangan luas dan kriteria bagi seorang guru ialah harus memiliki

kewibawaan.10

Kesadaran akan kompetensi juga menuntut tanggungjawab yang berat

bagi para guru itu sendiri. Dia harus berani menghadapi tantangan dalam tugas

maupun lingkungannya, yang akan mempengaruhi perkembangan pribadinya.

Berarti dia juga harus berani merubah dan menyempurnakan diri sesuai

dengan tuntutan zaman.

2. Pengertian Kompetensi Pedagogik

Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3) butir

a dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah

kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik meliputi pemahaman

terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi

hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan

berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi pedagogik yang merupakan kemampuan guru dalam

pengelolaan pembelajaran peserta didik, menurut E. Mulyasa

sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Pemahaman wawasan dan landasan kependidikan

Guru sebagai tenaga pendidik yang sekaligus memiliki berperan

penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di negara ini, terlebih

dahulu harus mengetahui dan memahami wawasan dan landasan

10 Cece Wijaya, dkk. Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan Dan Pengajaran. (Bandung:

(36)

kependidikan sebagai pengetahuan dasar. Pengetahuan awal tentang

wawasan dan landasan kependidikan ini dapat diperoleh ketika guru

mengambil pendidikan keguruan di perguruan tinggi.

b. Pemahaman terhadap peserta didik

Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari

seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.

Tujuan guru mengenal murid-muridnya adalah agar guru dapat membantu

pertumbuhan dan perkembangannya secara efektif, selain itu guru dapat

menentukan dengan seksama bahan-bahan yang akan diberikan,

menggunakan prosedur mengajar yang serasi, mengadakan diagnosis atas

kesulitan belajar yang dialami oleh murid, membantu murid-murid

mengatasi maslah-maslah pribadi dan social, mengatur disiplin kelas

dengan baik, melayani perbedaan-perbedaan individual murid, dan

kegiatan-kegiatan guru lainnya yang bertalian dengan individu murid.

Dalam memahami peserta didik, guru perlu memberikan perhatian khusus

pada perbedaan individual anak didik, antara lain:

i. Perbedaan Biologis, yang meliputi: jenis kelamin, bentuk tubuh, warna

rambut, warna kulit, mata, dan sebagainya. Semua itu adalah ciri-ciri

individu anak didik yang dibawa sejak lahir. Aspek biologis lainnya

adalah hal-hal yang menyangkut kesehatan anak didik baik penyakit

yang diderita maupun cacat yang dapat berpengaruh terhadap

(37)

ii. Perbedaan Intelektual, setiap anak memiliki intelegensi yang berlainan,

perbedaan individual dalam bidang intelektual ini perlu diketahui dan

pahami guru terutama dalam hubungannya dengan pengelompokan

anak didik di kelas. Intelegensi adalah kemampuan untuk memahami

dan beradaptasi dengan situasi yang baru dengan cepat dan efektif,

kemampuan untuk menggunakan konsep nyang abstrak secara efektif,

dan kemampuan untuk memahami hubungan dan mempelajarinya

dengan cepat.11

iii. Perbedaan Psikologis, perbedaan aspek psikologis tidak dapat

dihindari disebabkan pembawaan dan lingkungan anak didik yang

berlainan yang memunculkan karakter berbeda antara yang satu

dengan yang lainnya. Untuk memahami jiwa anak didik, guru dapat

melakukan pendekatan kepada anak didik secara individual untuk

menciptakan keakraban. Anak didik merasa diperhatikan dan guru

dapat mengenal anak didik sebagai individu.

c. Pengembangan kurikulum/silabus

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai

tujuan, isi, dan bahan pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai

pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan

tertentu.12 Sedangkan silabus adalah seperangkat rencana dan pengaturan

untuk membantu mengembangkan seluruh potensi yang meliputi

11 Saiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interakdi Edukatif, (Jakarta: Rineka

Cipta, 2005), hlm. 57

12 Depag, Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal, (Jakarta: Direktorat Jenderal

(38)

kemampuan fisik, intelektual, emosional, moral agama serta optimal dalam

lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis, dan kooperatif.13

Dalam proses belajar mengajar, kemampuan guru dalam mengembangkan

kurikulum/silabus sesuai dengan kebutuhan peserta didik sangat penting,

agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan menyenangkan.

d. Perancangan pembelajaran

Perancangan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi

pedagogis yang harus dimiliki guru, yang akan bermuara pada pelaksanaan

pembelajaran. Perancangan pembelajaran sedikitnya mencakup tiga

kegiatan, yaitu:

i. Identifikasi kebutuhan

Kebutuhan merupakan kesenjangan antara apa yang seharusnya

dengan kondisi yang sebenarnya, atau sesuatu yang harus dipenuhi

untuk mencapai tujuan. Identifikasi kebutuhan bertujuan antara lain

untuk melibatkan dan memotivasi peserta didik agar kegiatan belajar

dirasakan sebagai bagian dari kehidupan dan mereka merasa

memilikinya.

ii. Identifikasi Kompetensi

Kompetensi merupakan sesuatu yang ingin dimiliki oleh peserta didik,

dan merupakan komponen utama yang harus dirumuskan dalam

pembelajaran, yang memiliki peran penting dan menentukan arah

pembelajaran. Penilaian pencapaian kompetensi perlu dilakukan secara

(39)

objektif, berdasarkan kinerja peserta didik, dengan bukti penguasaan

mereka terhadap suatu kompetensi sebagai hasil belajar.

iii. Penyusunan Program Pembelajaran

Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebagai produk program

pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program

kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program. Komponen program

mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode dan teknik, media

dan sumber belajar, waktu belajar dan daya dukung lainnya. Dengan

demikian, rencana pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya

merupakan suatu sistem, yang terdiri atas komponen-komponen yang

saling berhubungan serta berinteraksi satu sama lain, dan memuat

langkah-langkah pelaksanaannya, untuk mencapai tujuan atau

membentuk kompetensi.

e. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis

Pelaksaanaan pembelajaran sebagian besar dianggap gagal

disebabkan oleh penerapan metode pendidikan konvensional, anti dialog.

Oleh karena itu, salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru

seperti dirumuskan dalam SNP berkaitan dengan pelaksanaan

pembelajaran. Hal tersebut ditegaskan kembali dalam Rencana Peraturan

Pemerintah tentang Guru, bahwa guru harus memiliki kompetensi untuk

melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Hal ini berarti,

(40)

antar sesama subjek pembelajaran, sehingga melahirkan pemikiran kritis

dan komunikasi. Tanpa komunikasi tidak akan ada pendidikan sejati.14

Secara umum, pelaksanaan pembelajaran, meliputi:

i. Pre Tes (tes awal)

Fungsi pre tes, adalah:

a. Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena

dengan pre tes maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal

yang harus mereka jawab/kerjakan.

b. Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan

dengan proses pembelajaran yang dilakukan, dengan cara

membandingkan hasil pre tes dengan post tes.

c. Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta

didik mengenai kompetensi dasar yang akan dijadikan topik dalam

proses pembelajaran

d. Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran

dimulai, kompetensi dasar mana yang telah dimiliki peserta didik,

dan tujuan-tujuan mana yang perlu mendapat penekanan dan

perhatian khusus.

ii. Proses

Kualitas pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik

dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran

dan pembentukan kompetensi dikatakan berhasil dan berkualitas

(41)

apabila seluruhnya atau sebagian besar (75%) peserta didik terlibat

secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosial, di samping

menunjukkan gairah belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar,

dan tumbuhnya rasa percaya diri. Sedangkan dari segi hasil, proses

pembelajaran dan pembentukan kompetensi dikatakan berhasil apabila

terjadi perubahan kompetensi dan prilaku yang positif pada diri peserta

didik seluruhnya atau sebagian besar (75%). Lebih lanjut proses

pembelajaran dan pembenetukan kompetensi dikatakan berhasil dan

berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak

dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan

masyarakat dan pembangunan.

iii. Post Test

Fungsi post tes antara lain adalah:

a. Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap

kompetensi yang telah ditentukan, baik secara individu maupun

kelompok. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan hasil

pre tes dan post tes.

b. Untuk mengetahui kompetensi dasar dan tujuan-tujuan yang dapat

dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dasar dan

tujuan-tujuan yang belum dikuasai.

c. Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan

remedial, dan yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta

(42)

d. Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap proses

pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik yang

telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan

maupun evaluasi.

f. Pemanfaatan teknologi pembelajaran

Fasilitas pendidikan pada umumnya mencakup sumber belajar,

sarana dan prasarana penunjang lainnya, sehingga peningkatan fasilitas

pendidikan harus ditekankan pada peningkatan sumber-sumber belajar,

baik kualitas maupun kuantitasnya, sejalan dengan perkembangan

teknologi pendidikan dewasa ini. Perkembangan sumber-sumber belajar

ini memungkinkan peserta didik belajar tanpa batas, tidak hanya di ruang

kelas, tetapi bisa di laboratorium, perpustakaan, di rumah dan di

tempat-tempat lain.

Meskipun demikian, kecanggihan teknologi pembelajaran bukan

satu-satunya syarat untuk meningkatkan kualitas pendidikan disekolah,

karena bagaimanapun canggihnya teknologi, tetap saja tidak bisa

diteladani, sehingga hanya efektif dan efisien untuk menyajikan materi

yang bersifat pengetahuan. Jika dihadapkan pada aspek kemanusiaan,

maka kecanggihan teknologi pembelajaran akan nampak kekurangannya.

Bagaimanapun mendidik peserta didik adalah mengembangkan potensi

kemanusiaannya, seperti nilai-nilai keagamaan, keindahan, ekonomi,

pengetahuan, teknologi, sosial dan kecerdasan. Teknologi pembelajaran

(43)

tujuan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, memudahkan

penyajian data, informasi, materi pembelajaran, dan variasi budaya.15

g. Evaluasi hasil belajar (EHB)

i. Penilaian Kelas

Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan

umum dan ujian akhir. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses

pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu. Ulangan

harian ini terdiri dari seperangkat soal yang harus dijawab para peserta

didik, dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan dengan konsep yang

sedang dibahas. Ulangan harian ini terutama ditujukan untuk

memperbaiki program pembelajaran, tetapi tidak menutup

kemungkinan digunakan untuk tujuan-tujuan lain, misalnya sebagai

bahan pertimbangan dalam memberikan nilai bagi para peserta didik.

ii. Tes Kemampuan Dasar

Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui

kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang diperlukan dalam

rangka memperbaiki program pembelajaran (program remedial).

iii. Penilaian Akhir Satuan Pendidikan dan Sertifikasi

Pada setiap akhir semester dan tahun pelajaran diselenggarakan

kegiatan penilaian guna mendapatkan gambaran secara utuh dan

menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan

waktu tertentu. Untuk keperluan sertifikasi, kinerja dan hasil belajar

(44)

yang dicantumkan dalam Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) tidak

semata-mata didasarkan atas hasil penilaian pada akhir jenjang

sekolah.

iv. Benchmarking

Benchmarking merupakan suatu standar untuk mengukur

kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu

keunggulan yang memuaskan. Ukuran keunggulan dapat ditentukan di

tingkat sekolah, daerah, atau nasional. Penilaian dilaksanakan secara

berkesinambungan sehingga peserta didik dapat mencapai satuan tahap

keunggulan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan usaha dan

keuletannya.

v. Penilaian Program

Penilaian program dilakukan oleh Departemen Pendidikan

Nasional dan Dinas Pendidikan secara kontinyu dan

berkesinambungan. Penilaian program dilakukan untuk mengetahui

kesesuaian kurikulum dengan dasar, fungsi dan tujuan pendidikan

nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan

masyarakat, dan kemajuan zaman.

h. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang telah demikian

pesat, guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi tetapi juga

(45)

yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada pesera didik untuk

mencari dan mengolah sendiri informasi. Dengan demikian keahlian guru

harus terus dikembangkan dan tidak hanya terbatas pada penguasaan

prinsip mengajar.16

Guru yang baik adalah guru yang selalu bersikap obyektif, terbuka

untuk menerima kritik terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada

dirinya, misalnya dalam hal caranya mengajar, serta terus

mengembangkan pengetahuannya terkait dengan profesinya sebagai

pendidik. Hal ini diperlukan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan demi

kepentingan anak didik sehingga benar-benar tujuan pendidikan dapat

tercapai dengan baik.

3. Indikator Kompetensi Pedagogik Guru

Seorang guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan

dan keahlian dalam bidang keguruan atau dengan kata lain ia telah terdidik

dan terlatih dengan baik. Terdidik dan terlatih bukan hanya memperoleh

pendidikan formal saja akan tetapi juga harus menguasai berbagai strategi

atau teknik didalam kegiatan belajar mengajar serta menguasai

landasan-landasan kependidikan seperti yang tercantum dalam kompetensi guru. 17

Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yaitu:

kompetensi profesional, kepribadian, pedagogik, dan sosial. Menurut A.

16

Hamzah. Profesi Kependidikan, Problema, Solusi dan Reformasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 16-17

(46)

Fatah Yasin, Kompetensi pedagogik adalah kemampuan seorang pendidik

dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi:

a. Kemampuan dalam memahami peserta didik, dengan indikator antara

lain: (1) Memahami karakteristik perkembangan peserta didik, seperti

memahami tingkat kognisi peserta didik sesuai dengan usianya; (2)

Memahami prinsip-prinsip perkembangan kepribadian peserta didik,

seperti mengenali tipe-tipe kepribadian peserta didik, mengenali

tahapan-tahapan perkembangan kepribadian peserta didik, dan lainnya;

(3) Mampu mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik, mengenali

perbedaan potensi yang dimiliki peserta didik, dan lain sebagainya.

b. Kemampuan dalam membuat perancangan pembelajaran, dengan

indikator antara lain: (1) Mampu merencanakan pengorganisasian

bahan pembelajaran, seperti mampu menelaah dan menjabarkan materi

yang tercantum dalam kurikulum, mampu memilih bahan ajar yang

sesuai dengan materi, mampu menggunakan sumber belajar yang

memadai, dan lainnya; (2) Mampu merencanakan pengelolaan

pembelajaran, seperti merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin

dicapai sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai, memilih jenis

strategi/metode pembelajaran yang cocok, menentukan

langkah-langkah pembelajaran, menentukan cara yang dapat digunakan untuk

memotivasi peserta didik, menentukan bentuk-bentuk pertanyaan yang

akan diajukan kepada pesera didik, dan lainnya; (3) Mampu

(47)

duduk peserta didik, mengalokasi waktu, dan lainnya; (4) Mampu

merencanakan penggunakan media dan sarana yang bisa digunakan

untuk mempermudah pencapaian kompetensi, dan lainnya; (5) Mampu

merencanakan model penilaian proses pembelajaran, seperti

menentukan bentuk, prosedur, dan alat penilaian.

c. Kemampuan melaksanakan pembelajaran, dengan indikator antara

lain: (1) Mampu menerapkan ketrampilan dasar mengajar, seperti

membuka pelajaran, menjelaskan, pola variasi, bertanya, memberi

penguatan, dan menutup pelajaran; (2) Mampu menerapkan berbagai

jenis model pendekatan, strategi/ metode pembelajaran, seperti aktif

learning, pembelajaran portofolio, pembelajaran kontekstual dan

lainnya; (3) Mampu menguasai kelas, seperti mengaktifkan peserta

didik dalam bertanya, mampu menjawab dan mengarahkan pertanyaan

siswa, kerja kelompok, kerja mandiri, dan lainnya; (4) Mampu

mengukur tingkat ketercapaian kompetensi peserta didik selama proses

pembelajaran berlangsung

d. Kemampuan dalam mengevaluasi hasil belajar, dengan indikator

antara lain: (1) Mampu merancang dan melaksanakan asesment, seperti

memahami prinsip-prinsip asesment, mampu menyusun

macam-macam instrumen evaluasi pembelajaran, mampu melaksanakan

evaluasi, dan lainnya; (2) mampu menganalisis hasil assesment, seperti

mampu mengolah hasil evaluasi pembelajaran, mampu mengenali

(48)

asesment untuk perbaikan kualitas pembelajaran selanjutnya, seperti

memanfaatkan hasil analisisn instrumen evaluasi dalam proses

perbaikan instrumen evaluasi, dan mampu memberikan umpan balik

terhadap perbaikan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi

pembelajaran.

e. Kemampuan dalam mengembangkan peserta didik untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya, dengan

indikator antara lain: (1) Memfasilitasi peserta didik untuk

mengembangkan potensi akademik, seperti menyalurkan potensi

akademik peserta didik sesuai dengan kemampuannya, mampu

mengarahkan dan mengembangkan potensi akademik peserta didik; (2)

Mampu memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan potensi

non-akademik, seperti menyalurkan potensi non-akademik peserta

didik sesuai dengan kemampuannya, mampu mengarahkan dan

mengembangkan potensi non-akademik peserta didik.18

B. Proses Belajar Mengajar

1. Pengertian Proses Belajar Mengajar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologi belajar

memiliki arti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Ahli psikologi

memandang belajar sebagai perubahan yang dapat dilihat dan tidak peduli

18 A. Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008),

(49)

apakah hasil belajar tersebut menghambat atau tidak menghambat proses

adaptasi seseorang terhadap kebutuhan-kebutuhan dengan masyarakat dan

lingkungannya. Sedangkan para ahli pendidikan memandang bahwa belajar

adalah proses perubahan manusia ke arah tujuan yang lebih baik dan

bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.19

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui

pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of

behavior through experiencing) menurut pengertian ini, belajar merupakan

suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan

hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil

belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.

Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lama tentang belajar yang

menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, bahwa belajar

adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis dan

seterusnya.20

Pengalaman diperoleh berkat interaksi antara individu dengan

lingkungan. Pengalaman adalah sebagai sumber pengetahuan dan

keterampilan, bersifat pendidikan, yang merupakan satu kesatuan di sekitar

tujuan murid, pengalaman pendidikan bersifat kontinyu dan interaktif.

Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah

laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak

mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku mempunyai unsur subjektif dan

19

Baharuddin dan Esa Nur W, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 14-15

(50)

unsur motoris. Unsur subjektif adalah unsur rohaniah sedangkan unsur motoris

adalah unsur jasmaniah. Bahwa seseorang sedang berpikir dapat dilihat dari

raut mukanya, sikapnya dalam rohaniahnya tidak bisa kita lihat. Tingkah laku

manusia terdiri dari sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap

perubahan pada aspek-aspek tersebut, yaitu: (1) Pengetahuan, (2) Pengertian,

(3) Kebiasaan, (4) Keterampilan, (5) Apresiasi, (6) Emosional, (7) Hubungan

sosial, (8) Jasmani, (9) Etis atau budi pekerti, dan (10) Sikap.21

Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi

kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan

yang telah dirumuskan.22 Dalam proses belajar mengajar, guru harus

memberikan kesempatan pada peserta didik untuk aktif. Keaktifan siswa bisa

berbentuk aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Aktivitas belajar

murid dapat di golongkan ke dalam beberapa hal, yaitu:

a. Aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan

eksperiman, dan demonstrasi.

b. Aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita, membaca sajak, tanya

jawab, diskusi, menyanyi.

c. Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan

penjelasan guru, ceramah, pengarahan.

d. Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, atletik, menari, melukis.

21

Ibid., hlm. 30

22 M. Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996),

(51)

e. Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat

makalah, membuat surat.23

Dari pengertian belajar dan mengajar tersebut, dapat disimpulkan

bahwa belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung

serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang

berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Tujuan Dalam Proses Belajar Mengajar

Belajar mengajar sebagai suatu proses terdiri dari empat komponen

utama, yaitu: tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian. Keempat

komponen tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan

saling mempengaruhi satu sama lain (interelasi).

Tujuan yang dalam proses belajar mengajar merupakan komponen

pertama yang harus ditetapkan dalam proses pengajaran berfungsi sebagai

indikator keberhasilan pengajaran. Tujuan ini pada dasarnya merupakan

rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki

siswa setelah ia menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam

proses pengajaran. Isi tujuan pengajaran pada hakikatnya adalah hasil

belajar yang diharapkan.

Tujuan yang jelas dan operasional dapat ditetapkan bahan pelajaran

yang harus menjadi isi kegiatan belajar mengajar. Bahan pelajaran inilah

(52)

yang diharapkan dapat mewarnai tujuan, mendukung tercapainya tujuan

atau tingkah laku yang diharapkan untuk dimiliki siswa.

Metode dan alat yang digunakan dalam pengajaran dipilih atas

dasar tujuan dan bahan yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode dan alat

berfungsi sebagai jembatan atau media transformasi pelajaran terhadap

tujuan yang ingin dicapai. Metode dan alat pengajaran yang digunakan

harus betul-betul efektif dan efisien.24

Untuk menetapkan apakah tujuan telah dicapai atau tidak maka

penilaian yang harus memainkan fungsi dan peranannya. Penilaian

berperan sebagai barometer untuk mengukur tercapai tidaknya tujuan. Jika

dianalisis lebih lanjut maka dapat dikatakan bahwa proses belajar

mengajar (pengajaran) pada dasarnya tidak lain ialah proses

mengkoordinasi empat komponen (tujuan, bahan, metode dan alat, serta

penilaian), agar satu sama lain saling berhubungan dan saling berpengaruh,

sehingga menumbuhkan kegiatan belajar pada siswa seoptimal mungkin

menuju terjadinya perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan

yang telah ditetapkan.

Dalam rangka interaksi edukatif, tujuan mempunyai arti penting,

sebab tanpa tujuan, kegiatan yang telah dilakukan akan kurang bermakna.

Bahkan akan membuang-buang waktu dan tenaga dengan sia-sia. Karena

itu, tujuan menempati posisi yang penting dalam semua aktifitas, apalagi

24 Nana Sudjana. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru

(53)

dalam interaksi edukatif, tujuan dapat memberikan arah kegiatan yang

jelas. Guru sebaiknya merumuskan tujuan pembelajarannya sebelum

melaksanakan tugas mengajar di kelas. Dengan cara itu guru akan mudah

menyeleksi.25

3. Metode Dalam Proses Belajar Mengajar

Metode merupakan cara yang dalam fungsinya merupakan alat

untuk mencapai tujuan kegiatan. Dalam proses belajar mengajar metode

yang digunakan disesuaikan dengan kekhususan-kekhususan yang ada

pada masing-masing bahan/materi pelajaran, baik sifat maupun tujuan,

maka diperlukan metode-metode yang berlainan antara satu mata pelajaran

dengan mata pelajaran lainnya. Apabila dijabarkan secara terperinci,

faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memilih metode mengajar,

antara lain:

a. Tujuan yang hendak dicapai

Setiap orang yang mengerjakan sesuatu haruslah mengetahui dengan

jelas tentang tujuan yang hendak dicapainya. Demikian juga setiap

pendidik atau setiap guru yang pekerjaan pokoknya mendidik dan

mengajar haruslah mengerti dengan jelas tentang tujuan pendidikan.

Pengertian akan tujuan pendidikan itu mutlak perlu sebab tujuan itulah

yang akan menjadi sasaran dan menjadi pengarah

tindakan-tindakannya dengan menjalankan fungsinya sebagai guru. Di samping

(54)

menjadi sasaran dan menjadi pengarah, tujuan pendidikan dan

pengajaran juga berfungsi sebagai kriteria bagi pemilihan dan

penentuan alat-alat (termasuk metode) yang akan digunakan dalam

mengajar.

b. Peserta didik

Peserta didik yang akan menerima dan mempelajari bahan pelajaran

yang disajikan guru, harus pula memperhatikan pemilihan metode

mengajar. Ini perlu sebab metode mengajar itu ada yang menuntut

pengetahuan dan kecekatan tertentu.

c. Bahan atau materi yang akan diajarkan

Jenis bahan atau materi yang akan diajarkan merupakan salah satu

faktor yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan metode

mengajar sebab pada hakikatnya metode mengajar disamping sebagai

alat untuk mencapai tujuan pendidikan, juga merupakan media untuk

menyampaikan bahan atau materi yang pada akhirnya untuk mencapai

tujuan yang ditetapkan sifat, isi, dan bobot materi palajaran yang akan

diajarkan harus disesuaikan dengan tingkat kematangan anak dan

kemampuannya untuk menerima bahan atau materi tersebut.

d. Fasilitas

Yang termasuk dalam faktor fasilitas antara lain alat peraga, ruang,

waktu, kesempatan, tempat, dan alat-alat praktikum, buku-buku,

perpustakaan dan sebagainya. Fasilitas itu turut menentukan metode

(55)

pemilihan dan penentuan metode tersebut ternyata dalam situasi

dimana metode Demonstrasi dan Eksperimen tidak dapat dipakai

karena tidak tersedianya alat-alat dan bahan untuk mengadakan

demonstrasi dan eksperimen/percobaan. Demikian pula metode

Perkunjungan Studi tidak dapat dipakai dan dilaksanakan jika tidak ada

biaya serta sempitnya waktu dan kesempatan.

e. Guru

Metode mengajar menuntut syarat-syarat yang harus dipenuhi,

misalnya setiap guru yang akan menggunakan sebuah metode harus

mengetahui kelebihan dan kelemahan metode tersebut, mengetahui

situasi-situasi yang tepat dimana metode itu dapat berjalan efektif dan

terampil dalam menggunakan metode itu.

f. Situasi

Yang termasuk dalam situasi adalah keadaan para pelajar (yang

menyangkut kelelahan dan semangat mereka), keadaan suasana,

keadaan guru (kelelahan guru), keadaan kelas lain yang berdekatan

dengan kelas yang akan diberi pelajaran dengan metode tertentu.

Apabila para pelajar telah lelah (yang diajar dengan metode Ceramah),

guru sebaiknya mengganti metode mengajarnya misalnya dengan

metode Sosiodrama. Demikian pula apabila guru melihat bahwa

pelajar sedang bersemangat (dalam membicarakan peristiwa dalam

masyarakat) maka guru menggunakan metode Diskusi. Apabila kelas

(56)

menggunakan metode Pemberian Tugas atau Metode Tanya Jawab

(sebab metode tersebut menuntut konsentrasi pelajar).

g. Partisipasi

Partisipasi adalah turut aktif dalam sesuatu kegiatan. Apabila guru

ingin agar para pelajar turut aktif secara merata dalam suatu kegiatan,

guru tersebut tentunya akan menggunakan metode Kerja Kelompok.

h. Kebaikan dan kelemahan metode tertentu

Tidak ada satu metode yang baik untuk setiap tujuan dalam setiap

situasi. Setiap metode mempunyai kelebihan dan kelemahan. Dengan

sifatnya polivalen dan polipraemasi, guru perlu mengetahui kapan

sesuatu metode tepat digunakan dan kapan dia mengguankan

kombinasi dari metode-metode tersebut. Guru hendaknya memilih

metode yang paling banyak mendatangkan hasil.26

Ruang lingkup program kegiatan belajar meliputi, pembentukan

prilaku melalui pembiasaan dalam pengembangan moral pancasila, agama,

disiplin, perasaan/emosi, dan kemampuan bermasyarakat, serta

pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh

guru yaitu: pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta,

keterampilan dan jasmani. Jadi, metode pembelajaran yang digunakan di

tingkat Raudlatul Athfal adalah metode yang dapat memacu semua

kegiatan motorik yang perlu dikembangkan anak, misalnya:

26 Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,

Gambar

TABEL I
TABEL II  STRUKTUR ORGANISASI RA AL IKHLAS SUKODADI  LAMONGAN
TABEL IV JUMLAH SISWA-SISWI RA AL IKHLAS SUKODADI

Referensi

Dokumen terkait

H asil penelitian yang berjudul “Upaya Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru di MTsN1. Aryojeding Rejotangan Tulungagung” telah dijelaskan hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru SMP Negeri 1 Lendah sebagai berikut : (1) kompetensi pedagogik dilakukan dengan

Menurut Peraturan Pemerintah tentang Guru, bahwasanya kompetensi pedagogik Guru merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya

Menurut Peraturan Pemerintah tentang Guru, bahwasanya kompetensi pedagogik Guru merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya

Dengan instrumen kuesioner, diperoleh informasi upaya yang dilakukan oleh MGMP Bahasa Inggris SMA Sumatera Barat untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional dan

meningkatkankompetensi pedagogik mulai dari pengertian, aspek, prinsip dan cara meningkatkan kompetensi pedagogikyang baik. Kemudian, peneliti meminta guru untuk

Dari sini lah dapat disimpulkan bahwa peran guru yang berkompeten, atau guru yang menguasai kompetensi pedagogik, memiliki peran yang penting dalam rangka meningkatkan

Kompetensi pedagogik guru akidah akhlak Kelas XI IPS 2 dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri 2 Malang sudah memiliki kompetensi pedagogik yaitu