UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI RAUDLATUL ATHFAL AL-IKHLAS
SUKODADI LAMONGAN
SKRIPSI
Oleh:
INDAH ZAKIYAH ZAMANIA 05110161
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI RAUDLATUL ATHFAL AL-IKHLAS
SUKODADI LAMONGAN
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam
Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd.I)
Oleh:
INDAH ZAKIYAH ZAMANIA 05110161
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
HALAMAN PERSETUJUAN
UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI RAUDLATUL ATHFAL AL IKHLAS
SUKODADI LAMONGAN
SKRIPSI Oleh
Indah Zakiyah Zamania 05110161
Telah Disetujui oleh Dosen Pembimbing,
Drs. A. Fatah Yasin, M.Ag NIP. 150 287 892
Tanggal, 19 Juni 2009
Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
HALAMAN PENGESAHAN
UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI RAUDLATUL ATHFAL AL IKHLAS
SUKODADI LAMONGAN
SKRIPSI
Disusun Oleh
Indah Zakiyah Zamania (05110161)
Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Pada Tanggal
08 Agustus 2009 Dan Telah Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I)
Pada Tanggal 13 Agustus 2009
Panitia Ujian
Ketua Sidang, Sekretaris Sidang/ Pembimbing,
Mujtahid, M. Ag Drs. A. Fatah Yasin, M. Ag
NIP. 150368789 NIP. 150287892
Penguji Utama,
Dr. H. Muchlis Usman, MA NIP. 150019539
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Drs. A. Fatah Yasin, M. Ag Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal : Skripsi Indah Zakiyah Zamania Malang, 19 Juni 2009 Lampiran : -
Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Di
Malang
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut dibawah ini:
Nama : Indah Zakiyah Zamania
NIM : 05110161
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru
Dalam Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al Ikhlas Sukodadi Lamongan
Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan. Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Pembimbing,
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.
Malang, 19 Juni 2009
MOTTO
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah
HALAMAN PERSEMBAHAN
Teruntuk saudara-saudaraku:
Andi Zakki Zamani Fahmi Zakki Zamani
Hilmi Zakki Zamani
KATA PENGANTAR
Puji syukur yang tiada lain hanya untuk Allah SWT yang telah memberikan
kesehatan dan kesempatan kepada kami, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan judul “Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam
Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al Ikhlas Sukodadi Lamongan”
sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Strata Satu Sarjana
Pendidikan Islam.
Sholawat dan Salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi
besar Muhammad SAW yang telah menahkodai kita dari samudera yang penuh
badai kedholiman dan kebodohan menuju pantai yang penuh dengan kedamaian
dalam naungan Islam.
Dengan terselesaikannya skripsi ini, tak lupa penulis menyampaikan rasa
terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah memberikan arahan,
bimbingan dan petunjuk sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan
baik, khususnya kepada:
1. Abah dan Ibu, kalian sumber inspirasi dan kompas dalam perjalanan hidupku
2. Prof. DR. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang
3. Bapak Dr. M. Zainuddin, MA selaku dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana
4. Bapak Drs. Moh. Padil, M. Pd. I selaku Ketua Jurusan Fakultas Tarbiyah UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang
5. Bpk. Drs. A. Fatah Yasin, M. Ag. selaku dosen pembimbing yang dengan
sabar telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis, sehingga
penulisan skripsi ini bisa selesai
6. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang
telah membimbing dan mencurahkan ilmunya kepada penulis
7. Ibu Nurul Hidayati, S. Ag selaku Kepala Raudlatul Athfal Al Ikhlas Sukodadi
Lamongan.
8. Teman-teman angkatan ’05, teruskan perjuangan dan tetap semangat.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik konstruktif dari berbagai pihak
sangat penulis harapkan demi terwujudnya hasil skripsi yang lebih baik untuk
masa-masa yang akan datang. Akhirnya penulis berharap semoga hasil skripsi ini
dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya.
Amin.
Malang, 19 Juni 2009
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ……….... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
NOTA DINAS PEMBIMBING ... v
SURAT PERNYATAAN ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
ABSTRAK ... xvii
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……….….. 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6
D. Ruang Lingkup Pembahasan ... 8
E. Definisi Operasional ... 8
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Kompetensi Pedagogik Guru ………..……. 12
1. Pengertian Kompetensi ... 12
2. Pengertian Kompetensi Pedagogik ... 17
3. Indikator Kompetensi Pedagogik Guru ... 27
B. Proses Belajar Mengajar ... 30
1. Pengertian Proses Belajar Mengajar ………...…… 30
2. Tujuan Dalam Proses Belajar Mengajar ………….….….. 33
3. Metode Dalam Proses Belajar Mengajar …………....…… 35
C. Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar ... 42
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar ... 49
BAB III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ……….….. 53
B. Kehadiran Peneliti ………...…….… 54
C. Lokasi Penelitian ………....…….…. 54
D. Sumber Data ………....…….… 54
E. Teknik Pengumpulan Data ………...…….…. 56
F. Analisis Data ………..….……. 58
G. Pengecekan Keabsahan Data ……….……….….. 59
BAB IV. HASIL PENELITIAN
A. Latar Belakang Objek Penelitian ……….…….… 61
1. Sejarah Berdirinya Raudhatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan ………..….… 62
2. Sarana dan Prasarana ……….….… 63
3. Struktur Organisasi ………..…... 66
4. Keadaan Guru, Pegawai dan Siswa ………..…..… 67
B. Paparan Data Hasil Penelitian ... 68
1. Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan ………..…. 69
2. Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan ……….….. 77
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan ………..…. 84
B. Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam
Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas
Sukodadi Lamongan ………...….91
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Upaya Peningkatan
Kompetensi Pedagogik Guru dalam Proses Belajar Mengajar
Di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan ……..….…94
BAB VI. PENUTUP
A. Kesimpulan ……….………….….95
B. Saran ………...…96
DAFTAR TABEL
TABEL I : KEADAAN SARANA DAN PRASARANA
RA AL IKHLAS SUKODADI...64
TABEL II : STRUKTUR ORGANISASI RA AL IKHLAS
SUKODADI ...66
TABEL III : DATA TENAGA PENDIDIK RA AL-IKHLAS
SUKODADI...68
TABEL IV : JUMLAH SISWA-SISWI RA AL IKHLAS
SUKODADI...68
TABEL V : JADWAL PEMBELAJARAN RA AL-IKHLAS
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN I : SURAT PENELITI
LAMPIRAN II :BUKTI KONSULTASI
LAMPIRAN III : INSTRUMEN PENELITIAN
LAMPIRAN IV : DENAH RA AL IKHLAS SUKODADI LAMONGAN
LAMPIRAN V : JUMLAH SISWA TAHUN AJARAN 2008/2009
LAMPIRAN VI : JADWAL PEMBELAJARAN RA AL-IKHLAS
SUKODADI LAMONGAN 2008/2009
LAMPIRAN VII : JADWAL KEGIATAN RA AL-IKHLAS SUKODADI
LAMONGAN 2008/2009
ABSTRAK
Zamania, Indah Zakiyah. 2009: ”Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Di RA Al Ikhlas Sukodadi Lamongan”. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang. Pembimbing: Drs. A. Fatah Yasin, M.Ag
Kata Kunci: kompetensi pedagogik, guru, proses belajar mengajar
Fokus Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan ”Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Proses Belajar Mengajar”. Guru Sebagai tenaga pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan, maka peningkatan kompetensi guru dalam proses belajar megajar, khususnya kompetensi pedagogik yang merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik merupakan salah satu alternatif yang diyakini dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang mendasar dari permasalahan pendidikan di tanah air.
Untuk mendapatkan kepastian maka diambil rumusan masalah bagaimana kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar, bagaimana upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar, dan faktor-faktor apakah yang mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar, untuk menjelaskankan upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar, dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan.
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif yaitu peneliti mengamati dan berinteraksi dengan guru, kepala sekolah, dan pengurus yayasan di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan dengan interview dan mencari data dengan mengkaji dokumentasinya.
Dari hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan, bahwa peningkatan kompetensi pedagogik guru dilakukan secara berkesinambungan oleh kepala sekolah/lembaga dan guru. Upaya peningkatan kompetensi yang dilakukan guru sendiri yaitu dengan mengikuti penataran dan mengikuti seminar/diskusi, memanfaatkan media cetak/media massa dan media elektronik, peningkatan profesi melalui belajar sendiri, mengikuti kursus, dan aktif dalam organisasi keguruan yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia kependidikan, persoalan yang berkenaan dengan guru dan
jabatan guru senantiasa menjadi salah satu pokok bahasan yang mendapat
tempat tersendiri di tengah-tengah ilmu kependidikan yang begitu luas dan
kompleks. Sehubungan dengan kemajuan pendidikan dan kebutuhan guru
yang semakin meningkat, baik dalam mutu maupun jumlahnya, maka program
pendidikan guru menjadi prioritas pertama dalam program pembangunan
pendidikan di negara kita.
Tidak semua orang dewasa dapat dikategorikan sebagai pendidik atau
guru, karena guru harus memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi
oleh setiap calon pendidik atau guru sebagaimana yang telah ditetapkan dalam
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa untuk dapat diangkat
sebagai tenaga pengajar, tenaga pendidik yang bersangkutan harus memiliki
kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan
mengajar sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional.1
Belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung
serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang
berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam
proses belajar mengajar selalu ditekankan pada pengertian interaksi yaitu
hubungan timbal balik antara guru dengan murid, hubungan interaksi antara
guru dengan murid ini harus diikuti oleh tujuan pendidikan.
Dalam upaya membantu murid untuk mencapai tujuan, maka guru
harus memaksimalkan peran sebagai guru yang berkompeten, diantaranya
mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, meningkatkan kemampuan
siswa untuk menyimak pelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran
yang tepat.
Harus disadari bahwa mengajar dan belajar mempunyai fungsi yang
berbeda, proses yang tidak sama dan terpisah. Perbedaan antara mengajar dan
belajar bukan hanya disebabkan karena mengajar dilakukan oleh seorang guru
sedangkan proses belajar berlangsung di dalamnya. Bila proses belajar
mengajar berjalan secara efektif, itu berarti telah terbina suatu hubungan yang
unik antara guru dan murid, proses itu sendiri adalah mata rantai yang
menghubungkan antara guru dan murid.2
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih
tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran
belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder, ataupun oleh
komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur
manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan
lain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat
2 Thomas Gordon, Guru Yang Efektif: Cara Untuk Mengatasi Kesulitan Dalam Kelas,
dicapai melalui alat-alat tersebut. Di sinilah kelebihan manusia dalam hal ini
guru, dari alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu
dan mempermudah kehidupannya.3
Adapun kompetensi guru merupakan kemampuan dan kewenangan
seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara
bertanggung jawab terkait dengan profesi keguruannya. Karena jabatan guru
merupakan pekerjaan profesi, maka kompetensi guru sangatlah dibutuhkan
dalam proses belajar mengajar.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, kompetensi menunjukkan kepada
perbuatan yang bersifat rasional untuk mencapai suatu tujuan yang sesuai
dengan kondisi yang diharapkan. Kompetensi ini diperoleh melalui proses
pendidikan atau latihan. Salah satu faktor yang paling menentukan berhasilnya
proses belajar mengajar adalah guru, seorang guru perlu memiliki kompetensi
untuk mengorganisasi ide-ide yang dikembangkan di kalangan peserta
didiknya sehingga dapat menggerakkan minat dan semangat belajar mereka.
Evaluasi merupakan tahapan setelah proses belajar-mengajar
dilaksanakan, dengan demikian lengkaplah siklus belajar-mengajar sebagai
suatu proses yang interaktif edukatif, mulai dari perumusan tujuan sampai
kepada penyediaan sarana pedukung interaksi.
Dalam kegiatan belajar mengajar, interaksi antara guru dan anak didik
merupakan kegiatan yang dominan. Dalam kegiatan itu, guru tidak hanya
3 Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mentransfer nilai-nilai lepada anak
didik sebagai subyek yang belajar. Kegiatan itu melibatkan
komponen-komponen yang antara satu dengan yang lanilla saling menyesuaikan dan
menunjang dalam pencapaian tujuan belajar bagi anak didik. Dengan
demikian, dalam kegiatan interaksi belajar mengajar, metode bukanlah
satu-satunya, tetapi faktor anak didik, guru, alat, tujuan, dan lingkungan juga turut
menentukan interaksi tersebut.4
Dalam kaitannya dengan peserta didik pada usia dini, maka guru
hendaknya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik dan
kondisi peserta didik. Guru dituntut untuk memantau pertumbuhan fisik dan
mengeksplorasi potensi yang dimiliki anak, karena pada usia ini kecerdasan
mereka sedang berkembang dengan pesat.
Salah satu faktor rendahnya mutu pendidikan di negara kita adalah
disebabkan tenaga pendidik yang kurang berkompeten. Sehingga upaya untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa sukar untuk di wujudkan dan pada akhirnya
kebodohan akan berdampak pada kemiskinan. Untuk itu, maka guru sebagai
komponen pendidikan harus menunjukkan kualitasnya sebagai tenaga
pendidik yang ahli dibidangnya.
Fenomena yang sering terjadi, tenaga pendidik khususnya di tingkat
TK/RA (Raudlatul Athfal) belum memenuhi kualifikasi sebagai guru yang
berkompeten, khususnya kompetensi pedagogik yang berkaitan dengan
4
pengelolaan pembelajaran. Misalnya guru belum mampu memanfaatkan
teknologi pembelajaran atau belum mampu menyusun rancangan
pembelajaran dengan baik. Padahal guru tidak lagi bertindak sebagai penyaji
informasi tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator,
maupun pembimbing yang senantiasa berupaya memaksimalkan
perkembangan potensi yang dimiliki peserta didik.
Dengan demikian seorang guru dituntut untuk memiliki kompetensi
yang unggul dibidangnya, baik itu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial
maupun kompetensi profesional harus dimiliki oleh seorang guru selaku
tenaga pendidik. Masalah kompetensi pedagogik guru merupakan salah satu
dari kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang
pendidikan apapun.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis berupaya
untuk mengkaji lebih dalam terhadap permasalahan tersebut dan dituangkan
dalam bentuk skripsi yang berjudul “ Upaya Peningkatan Kompetensi
Pedagogik Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Di Raudlatul Athfal
Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di
Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan
2. Bagaimana upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses
3. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi
pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di Raudlatul Athfal
Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak
dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan kompetensi pedagogik guru dalam proses
belajar mengajar di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan
2. Untuk mendeskripsikan upaya peningkatan kompetensi pedagogik
guru dalam proses belajar mengajar di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas
Sukodadi Lamongan
3. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi upaya
peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar
mengajar di Raudlatul Athfal Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan
2. Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah
disebutkan, maka dalam penelitian ini diharapkan berguna bagi lembaga,
1. Bagi Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan untuk meningkatkan
mutu pendidikan, serta mampu mendiagnosa problem yang terjadi
dalam dunia pendidikan, sehingga pada pelaksanaannya tidak bersifat
teoritis saja melainkan bagaimana pelaksanaan di lapangan.
2. Bagi Lembaga
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai ikhtisar pengetahuan
bagi semua pihak yang berkorelasi dengan dunia pendidikan
khususnya dan dapat dijadikan masukan bagi sekolah pada umumnya
serta bagi para guru agar dapat dijadikan acuan dalam upaya
meningkatkan kompetensi pedagogik guru, sehingga proses belajar
mengajar berlangsung dengan efektif dan efisien dan dapat mencapai
tujuan yang diharapkan.
3. Bagi Peneliti
Untuk memperkaya khasanah pemikiran dan memperluas wawasan
dalam bidang pendidikan, khususnya dalam meningkatkan kompetensi
guru, serta dapat dijadikan pijakan sebagai calon sarjana yang dituntut
siap terjun dalam dunia pendidikan.
D. Ruang Lingkup Pembahasan
Agar mempermudah dalam penelitian ini, maka yang akan dijadikan
1. Kompetensi pedagogik yang dimiliki guru dalam proses belajar mengajar
di RA Al Ikhlas Sukodadi Lamongan, meliputi: pemahaman terhadap
peserta didik, kemampuan dalam membuat perancangan pembelajaran,
kemampuan melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengevaluasi hasil
belajar, dan mengembangkan peserta didik.
2. Upaya yang dilakukan oleh yayasan/lembaga, kepala sekolah, maupun
guru itu sendiri untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru dalam
proses belajar mengajar di RA Al Ikhlas Sukodadi Lamongan agar sesuai
dengan tujuan yang diharapkan.
E. Definisi Operasional
1. Upaya merupakan usaha, akal, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud,
memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya).5
Sedangkan peningkatan adalah proses, perbuatan, cara meningkatkan
(usaha, kegiatan, dan sebagainya).6
2. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran
peserta didik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan
dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan
peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
3. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
4. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung
serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik
yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai suatu tujuan
tertentu.
5. Raudlatul Athfal (RA) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak
para sekolah pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan
program pendidikan umum dan pendidikan keagamaan Islam bagi anak
berusia 4 sampai 6 tahun.7
F. Sistematika Pembahasan
Pembuatan skripsi ini dikemukakan dengan sistem pembahasan. Hal
ini dimaksudkan untuk mempermudah pembaca dalam memahami gambaran
secara global dari seluruh skripsi ini. Adapun sistematika pembahasan ini ada
enam bab dan tiap bab terdiri dari beberapa sub yang satu dengan yang lainnya
saling berkaitan.
BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan sekitar masalah yang dibahas dalam penulisan ini
yang bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap masalah-masalah yang
dibahas dan fungsi sebagai landasan dalam melaksanakan penelitian lapangan.
Permasalahan meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian dan
7 Depag, Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal, (Jakarta: Direktorat
manfaat penelitian, ruang lingkup pembahasan, definisi operasional, dan
sistematika pembahasan.
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan secara rinci tentang kompetensi pedagogik guru,
yang meliputi: Pertama, pengertian kompetensi, kompetensi pedagogik,
indikator kompetensi pedagogik guru. Kedua, tentang proses belajar mengajar,
yang meliputi: pengertian proses belajar mengajar, tujuan dalam proses
belajar mengajar, metode dalam proses belajar mengajar. Ketiga, upaya
peningkatan kompetensi pedagogik guru. Dan keempat, faktor-faktor yang
mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses
belajar mengajar.
BAB III. METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang bagaimana cara peneliti memperoleh hasil
penelitian yang bertujuan mempermudah dalam penelitian di lapangan. Bab ini
meliputi pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian,
sumber data, prosedur pengumpulan data, teknik analisa data, pengecekan
keabsahan data dan tahap-tahap penelitian.
BAB IV. HASIL PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang hasil penelitian yang didapatkan oleh
peneliti di lapangan, bab ini meliputi latar belakang obyek penelitian yang
terdiri dari: sejarah singkat berdirinya RA Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan, visi
dan misi, struktur organisasi, keadaan guru, keadaan siswa, sarana dan
guru dalam proses belajar mengajar di RA Al Ikhlas Sukodadi Lamongan,
upaya meningkatkan kompetensi pedagogik guru, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses
belajar mengajar di RA Al Ikhlas Sukodadi Lamongan .
BAB V. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang pembahasan hasil penelitian yang
didapatkan oleh peneliti di lapangan. Pada bab ini akan membahas
temuan-temuan penelitian yang telah dikemukakan dalam sebelumnya yang
mempunyai arti penting bagi keseluruhan penelitian, untuk menjawab
permasalahan yang ada dalam penelitian ini.
BAB VI. PENUTUP
Bab ini menjelaskan secara global dari semua pembahasan skripsi
dengan menyimpulkan semua pembahasan dan memberi beberapa saran dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran selanjutnya. Tujuannya mempermudah
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kompetensi Pedagogik Guru 1. Pengertian Kompetensi
Kompetensi berarti kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau
memutuskan sesuatu hal.8 Sedangkan dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa:
“Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan prilaku yang
harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan.”
Secara umum dapat diartikan bahwa guru adalah orang yang
bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi anak didik, baik
potensi kognitif, potensi afektif, maupun potensi psikomotor. Tugas dan
tanggung jawab guru sebenarnya bukan hanya disekolah, tetapi bisa dimana
saja mereka berada. Dirumah, guru berperan sebagai orang tua sekaligus
pendidik bagi anak-anak mereka. Didalam masyarakat desa tempat tinggalnya,
guru sering dipandang sebagai tokoh teladan bagi orang- orang disekitarnya.
Pandangan, pendapat, atau buah fikirannya sering menjadi tolak ukur atau
pedoman kebenaran bagi orang-orang disekitarnya karena guru dianggap
memiliki pengetahuan yang lebih luas dan lebih mendalam dalam berbagai
hal.
Demikian nampak betapa pentingnya peranan guru dan betapa
beratnya tugas serta tanggung jawabnya, terutama tanggung jawab moral
digugu dan ditiru, yaitu digugu kata- katanya dan ditiru perbuatannya atau
kelakuannya. Di sekolah mereka menjadi tumpuan atau pedoman tata tertib
kehidupan sekolah yaitu pendidikan atau pengajaran bagi murud-muridnya,
dan di masyarakat mereka sebagai panutan tingkah laku bagi setiap warga
masyarakat.
Seorang guru harus mengetahui bagaimana proses perkembangan jiwa
anak, kerena sebagai pendidik anak terutama bertugas untuk membina mental
mereka, membentuk moral mereka, dan membangun kepribadian yang baik
dan integral, sehingga mereka kelak berguna bagi nusa dan bangsa.
Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa: ”Guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah.”
Dari sini dapat diketahui bahwa perbedaan pokok antara profesi guru
dengan profesi lainnya terletak dalam tugas dan tanggung jawabnya. Tugas
dan tanggung jawab tersebut erat kaitannya dengan kemampuan yang
disyaratkan untuk mengemban profesi tersebut. Kemampuan dasar itu tidak
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007 tentang
Guru, dinyatakan bahwasanya kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru
meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,
dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Kompetensi Guru tersebut bersifat menyeluruh dan merupakan satu kesatuan
yang satu sama lain saling berhubungan dan saling mendukung.
Menurut Gordon sebagaimana yang dikutip oleh E. Mulyasa, bahwa
ada enam aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi, yaitu
sebagai berikut :
a. Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif,
misalnya seorang guru mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan
belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap peserta didik
sesuai dengan kebutuhannya.
b. Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang
dimiliki oleh individu, misalnya seorang guru yang akan melaksanakan
pembelajaran harus memiliki pemahaman yang baik tentang karakteristik
dan kondisi peserta didik, agar melaksanakan pembelajaran berjalan secara
efektif dan efesien.
c. Kemampuan (skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk
melakuakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, misalnya
kemampuan guru dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana
d. Nilai (value), adalah suatu atandar perilaku yang telah diyakini dan secara
psikologis telah menyatu dalam diri seseorang, misalnya standar perilaku
guru dalam pembelajaran (kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan
lain-lain)
e. Sikap (attitude) yaitu perasaan (senang, tak senang, suka-tidak suka) atau
reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar, reaksi terhadap
krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji, dan lain-lain.
f. Minat (interest), adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan
sesuatu perbuatan, misalnya minat untuk melakukan sesuatu atau untuk
mempelajari sesuatu.9
Dari keenam aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi diatas,
jika ditelaah secara mendalam mencakup empat bidang kompetensi yang
pokok bagi seorang guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional, dari keempat
jenis kompetensi tersebut harus sepenuhnya dikuasai oleh guru. Guru yang
memiliki kompetensi pedagogik akan dapat mengelola pembelajaran dengan
lebih baik, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif
dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Firman Allah dalam surat An Nahl
Artinya: “ Serulah (manusia) kejalan (agama) Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan pengajaran yang baik, dan bebantahlah (berdebatlah) dengan mereka dengan jalan yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang "Sampaikanlah ajaranku kepada orang lain walaupun hanya satu ayat”. (HR. Bukhari).
Sesuai dengan ayat dan hadits di atas, maka dapat kita ketahui bahwa
Nabi SAW memerintahkan kepada manusia untuk menyampaikan ajaran
beliau. Dengan demikian, setiap orang yang berilmu hendaknya mengamalkan
ilmunya dan menyampaikan atau mengajarkannya kepada orang lain yang
belum mengetahui.
Dalam mengajarkan atau menyampaikan ilmu (materi) kepada orang
lain, tentu saja membutuhkan metode yang tepat dan proses pembelajaran
yang efektif agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik
sehingga tujuan yang di cita-citakan dalam pembelajaran tersebut dapat
tercapai. Untuk itu, kompetensi guru khususnya dalam pengelolaan
pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting.
Guru adalah orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar
mengajar. Oleh karena itu, guru harus betul-betul membawa siswanya kepada
harus berpandangan luas dan kriteria bagi seorang guru ialah harus memiliki
kewibawaan.10
Kesadaran akan kompetensi juga menuntut tanggungjawab yang berat
bagi para guru itu sendiri. Dia harus berani menghadapi tantangan dalam tugas
maupun lingkungannya, yang akan mempengaruhi perkembangan pribadinya.
Berarti dia juga harus berani merubah dan menyempurnakan diri sesuai
dengan tuntutan zaman.
2. Pengertian Kompetensi Pedagogik
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3) butir
a dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah
kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik meliputi pemahaman
terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi
hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi pedagogik yang merupakan kemampuan guru dalam
pengelolaan pembelajaran peserta didik, menurut E. Mulyasa
sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Pemahaman wawasan dan landasan kependidikan
Guru sebagai tenaga pendidik yang sekaligus memiliki berperan
penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di negara ini, terlebih
dahulu harus mengetahui dan memahami wawasan dan landasan
10 Cece Wijaya, dkk. Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan Dan Pengajaran. (Bandung:
kependidikan sebagai pengetahuan dasar. Pengetahuan awal tentang
wawasan dan landasan kependidikan ini dapat diperoleh ketika guru
mengambil pendidikan keguruan di perguruan tinggi.
b. Pemahaman terhadap peserta didik
Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari
seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.
Tujuan guru mengenal murid-muridnya adalah agar guru dapat membantu
pertumbuhan dan perkembangannya secara efektif, selain itu guru dapat
menentukan dengan seksama bahan-bahan yang akan diberikan,
menggunakan prosedur mengajar yang serasi, mengadakan diagnosis atas
kesulitan belajar yang dialami oleh murid, membantu murid-murid
mengatasi maslah-maslah pribadi dan social, mengatur disiplin kelas
dengan baik, melayani perbedaan-perbedaan individual murid, dan
kegiatan-kegiatan guru lainnya yang bertalian dengan individu murid.
Dalam memahami peserta didik, guru perlu memberikan perhatian khusus
pada perbedaan individual anak didik, antara lain:
i. Perbedaan Biologis, yang meliputi: jenis kelamin, bentuk tubuh, warna
rambut, warna kulit, mata, dan sebagainya. Semua itu adalah ciri-ciri
individu anak didik yang dibawa sejak lahir. Aspek biologis lainnya
adalah hal-hal yang menyangkut kesehatan anak didik baik penyakit
yang diderita maupun cacat yang dapat berpengaruh terhadap
ii. Perbedaan Intelektual, setiap anak memiliki intelegensi yang berlainan,
perbedaan individual dalam bidang intelektual ini perlu diketahui dan
pahami guru terutama dalam hubungannya dengan pengelompokan
anak didik di kelas. Intelegensi adalah kemampuan untuk memahami
dan beradaptasi dengan situasi yang baru dengan cepat dan efektif,
kemampuan untuk menggunakan konsep nyang abstrak secara efektif,
dan kemampuan untuk memahami hubungan dan mempelajarinya
dengan cepat.11
iii. Perbedaan Psikologis, perbedaan aspek psikologis tidak dapat
dihindari disebabkan pembawaan dan lingkungan anak didik yang
berlainan yang memunculkan karakter berbeda antara yang satu
dengan yang lainnya. Untuk memahami jiwa anak didik, guru dapat
melakukan pendekatan kepada anak didik secara individual untuk
menciptakan keakraban. Anak didik merasa diperhatikan dan guru
dapat mengenal anak didik sebagai individu.
c. Pengembangan kurikulum/silabus
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai
pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu.12 Sedangkan silabus adalah seperangkat rencana dan pengaturan
untuk membantu mengembangkan seluruh potensi yang meliputi
11 Saiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interakdi Edukatif, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2005), hlm. 57
12 Depag, Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal, (Jakarta: Direktorat Jenderal
kemampuan fisik, intelektual, emosional, moral agama serta optimal dalam
lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis, dan kooperatif.13
Dalam proses belajar mengajar, kemampuan guru dalam mengembangkan
kurikulum/silabus sesuai dengan kebutuhan peserta didik sangat penting,
agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan menyenangkan.
d. Perancangan pembelajaran
Perancangan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi
pedagogis yang harus dimiliki guru, yang akan bermuara pada pelaksanaan
pembelajaran. Perancangan pembelajaran sedikitnya mencakup tiga
kegiatan, yaitu:
i. Identifikasi kebutuhan
Kebutuhan merupakan kesenjangan antara apa yang seharusnya
dengan kondisi yang sebenarnya, atau sesuatu yang harus dipenuhi
untuk mencapai tujuan. Identifikasi kebutuhan bertujuan antara lain
untuk melibatkan dan memotivasi peserta didik agar kegiatan belajar
dirasakan sebagai bagian dari kehidupan dan mereka merasa
memilikinya.
ii. Identifikasi Kompetensi
Kompetensi merupakan sesuatu yang ingin dimiliki oleh peserta didik,
dan merupakan komponen utama yang harus dirumuskan dalam
pembelajaran, yang memiliki peran penting dan menentukan arah
pembelajaran. Penilaian pencapaian kompetensi perlu dilakukan secara
objektif, berdasarkan kinerja peserta didik, dengan bukti penguasaan
mereka terhadap suatu kompetensi sebagai hasil belajar.
iii. Penyusunan Program Pembelajaran
Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebagai produk program
pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program
kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program. Komponen program
mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode dan teknik, media
dan sumber belajar, waktu belajar dan daya dukung lainnya. Dengan
demikian, rencana pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya
merupakan suatu sistem, yang terdiri atas komponen-komponen yang
saling berhubungan serta berinteraksi satu sama lain, dan memuat
langkah-langkah pelaksanaannya, untuk mencapai tujuan atau
membentuk kompetensi.
e. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
Pelaksaanaan pembelajaran sebagian besar dianggap gagal
disebabkan oleh penerapan metode pendidikan konvensional, anti dialog.
Oleh karena itu, salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru
seperti dirumuskan dalam SNP berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran. Hal tersebut ditegaskan kembali dalam Rencana Peraturan
Pemerintah tentang Guru, bahwa guru harus memiliki kompetensi untuk
melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Hal ini berarti,
antar sesama subjek pembelajaran, sehingga melahirkan pemikiran kritis
dan komunikasi. Tanpa komunikasi tidak akan ada pendidikan sejati.14
Secara umum, pelaksanaan pembelajaran, meliputi:
i. Pre Tes (tes awal)
Fungsi pre tes, adalah:
a. Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena
dengan pre tes maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal
yang harus mereka jawab/kerjakan.
b. Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan
dengan proses pembelajaran yang dilakukan, dengan cara
membandingkan hasil pre tes dengan post tes.
c. Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta
didik mengenai kompetensi dasar yang akan dijadikan topik dalam
proses pembelajaran
d. Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran
dimulai, kompetensi dasar mana yang telah dimiliki peserta didik,
dan tujuan-tujuan mana yang perlu mendapat penekanan dan
perhatian khusus.
ii. Proses
Kualitas pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik
dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran
dan pembentukan kompetensi dikatakan berhasil dan berkualitas
apabila seluruhnya atau sebagian besar (75%) peserta didik terlibat
secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosial, di samping
menunjukkan gairah belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar,
dan tumbuhnya rasa percaya diri. Sedangkan dari segi hasil, proses
pembelajaran dan pembentukan kompetensi dikatakan berhasil apabila
terjadi perubahan kompetensi dan prilaku yang positif pada diri peserta
didik seluruhnya atau sebagian besar (75%). Lebih lanjut proses
pembelajaran dan pembenetukan kompetensi dikatakan berhasil dan
berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak
dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan
masyarakat dan pembangunan.
iii. Post Test
Fungsi post tes antara lain adalah:
a. Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap
kompetensi yang telah ditentukan, baik secara individu maupun
kelompok. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan hasil
pre tes dan post tes.
b. Untuk mengetahui kompetensi dasar dan tujuan-tujuan yang dapat
dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dasar dan
tujuan-tujuan yang belum dikuasai.
c. Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan
remedial, dan yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta
d. Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap proses
pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik yang
telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan
maupun evaluasi.
f. Pemanfaatan teknologi pembelajaran
Fasilitas pendidikan pada umumnya mencakup sumber belajar,
sarana dan prasarana penunjang lainnya, sehingga peningkatan fasilitas
pendidikan harus ditekankan pada peningkatan sumber-sumber belajar,
baik kualitas maupun kuantitasnya, sejalan dengan perkembangan
teknologi pendidikan dewasa ini. Perkembangan sumber-sumber belajar
ini memungkinkan peserta didik belajar tanpa batas, tidak hanya di ruang
kelas, tetapi bisa di laboratorium, perpustakaan, di rumah dan di
tempat-tempat lain.
Meskipun demikian, kecanggihan teknologi pembelajaran bukan
satu-satunya syarat untuk meningkatkan kualitas pendidikan disekolah,
karena bagaimanapun canggihnya teknologi, tetap saja tidak bisa
diteladani, sehingga hanya efektif dan efisien untuk menyajikan materi
yang bersifat pengetahuan. Jika dihadapkan pada aspek kemanusiaan,
maka kecanggihan teknologi pembelajaran akan nampak kekurangannya.
Bagaimanapun mendidik peserta didik adalah mengembangkan potensi
kemanusiaannya, seperti nilai-nilai keagamaan, keindahan, ekonomi,
pengetahuan, teknologi, sosial dan kecerdasan. Teknologi pembelajaran
tujuan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, memudahkan
penyajian data, informasi, materi pembelajaran, dan variasi budaya.15
g. Evaluasi hasil belajar (EHB)
i. Penilaian Kelas
Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan
umum dan ujian akhir. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses
pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu. Ulangan
harian ini terdiri dari seperangkat soal yang harus dijawab para peserta
didik, dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan dengan konsep yang
sedang dibahas. Ulangan harian ini terutama ditujukan untuk
memperbaiki program pembelajaran, tetapi tidak menutup
kemungkinan digunakan untuk tujuan-tujuan lain, misalnya sebagai
bahan pertimbangan dalam memberikan nilai bagi para peserta didik.
ii. Tes Kemampuan Dasar
Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui
kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang diperlukan dalam
rangka memperbaiki program pembelajaran (program remedial).
iii. Penilaian Akhir Satuan Pendidikan dan Sertifikasi
Pada setiap akhir semester dan tahun pelajaran diselenggarakan
kegiatan penilaian guna mendapatkan gambaran secara utuh dan
menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan
waktu tertentu. Untuk keperluan sertifikasi, kinerja dan hasil belajar
yang dicantumkan dalam Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) tidak
semata-mata didasarkan atas hasil penilaian pada akhir jenjang
sekolah.
iv. Benchmarking
Benchmarking merupakan suatu standar untuk mengukur
kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu
keunggulan yang memuaskan. Ukuran keunggulan dapat ditentukan di
tingkat sekolah, daerah, atau nasional. Penilaian dilaksanakan secara
berkesinambungan sehingga peserta didik dapat mencapai satuan tahap
keunggulan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan usaha dan
keuletannya.
v. Penilaian Program
Penilaian program dilakukan oleh Departemen Pendidikan
Nasional dan Dinas Pendidikan secara kontinyu dan
berkesinambungan. Penilaian program dilakukan untuk mengetahui
kesesuaian kurikulum dengan dasar, fungsi dan tujuan pendidikan
nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan
masyarakat, dan kemajuan zaman.
h. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang telah demikian
pesat, guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi tetapi juga
yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada pesera didik untuk
mencari dan mengolah sendiri informasi. Dengan demikian keahlian guru
harus terus dikembangkan dan tidak hanya terbatas pada penguasaan
prinsip mengajar.16
Guru yang baik adalah guru yang selalu bersikap obyektif, terbuka
untuk menerima kritik terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada
dirinya, misalnya dalam hal caranya mengajar, serta terus
mengembangkan pengetahuannya terkait dengan profesinya sebagai
pendidik. Hal ini diperlukan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan demi
kepentingan anak didik sehingga benar-benar tujuan pendidikan dapat
tercapai dengan baik.
3. Indikator Kompetensi Pedagogik Guru
Seorang guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan
dan keahlian dalam bidang keguruan atau dengan kata lain ia telah terdidik
dan terlatih dengan baik. Terdidik dan terlatih bukan hanya memperoleh
pendidikan formal saja akan tetapi juga harus menguasai berbagai strategi
atau teknik didalam kegiatan belajar mengajar serta menguasai
landasan-landasan kependidikan seperti yang tercantum dalam kompetensi guru. 17
Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yaitu:
kompetensi profesional, kepribadian, pedagogik, dan sosial. Menurut A.
16
Hamzah. Profesi Kependidikan, Problema, Solusi dan Reformasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 16-17
Fatah Yasin, Kompetensi pedagogik adalah kemampuan seorang pendidik
dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi:
a. Kemampuan dalam memahami peserta didik, dengan indikator antara
lain: (1) Memahami karakteristik perkembangan peserta didik, seperti
memahami tingkat kognisi peserta didik sesuai dengan usianya; (2)
Memahami prinsip-prinsip perkembangan kepribadian peserta didik,
seperti mengenali tipe-tipe kepribadian peserta didik, mengenali
tahapan-tahapan perkembangan kepribadian peserta didik, dan lainnya;
(3) Mampu mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik, mengenali
perbedaan potensi yang dimiliki peserta didik, dan lain sebagainya.
b. Kemampuan dalam membuat perancangan pembelajaran, dengan
indikator antara lain: (1) Mampu merencanakan pengorganisasian
bahan pembelajaran, seperti mampu menelaah dan menjabarkan materi
yang tercantum dalam kurikulum, mampu memilih bahan ajar yang
sesuai dengan materi, mampu menggunakan sumber belajar yang
memadai, dan lainnya; (2) Mampu merencanakan pengelolaan
pembelajaran, seperti merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai, memilih jenis
strategi/metode pembelajaran yang cocok, menentukan
langkah-langkah pembelajaran, menentukan cara yang dapat digunakan untuk
memotivasi peserta didik, menentukan bentuk-bentuk pertanyaan yang
akan diajukan kepada pesera didik, dan lainnya; (3) Mampu
duduk peserta didik, mengalokasi waktu, dan lainnya; (4) Mampu
merencanakan penggunakan media dan sarana yang bisa digunakan
untuk mempermudah pencapaian kompetensi, dan lainnya; (5) Mampu
merencanakan model penilaian proses pembelajaran, seperti
menentukan bentuk, prosedur, dan alat penilaian.
c. Kemampuan melaksanakan pembelajaran, dengan indikator antara
lain: (1) Mampu menerapkan ketrampilan dasar mengajar, seperti
membuka pelajaran, menjelaskan, pola variasi, bertanya, memberi
penguatan, dan menutup pelajaran; (2) Mampu menerapkan berbagai
jenis model pendekatan, strategi/ metode pembelajaran, seperti aktif
learning, pembelajaran portofolio, pembelajaran kontekstual dan
lainnya; (3) Mampu menguasai kelas, seperti mengaktifkan peserta
didik dalam bertanya, mampu menjawab dan mengarahkan pertanyaan
siswa, kerja kelompok, kerja mandiri, dan lainnya; (4) Mampu
mengukur tingkat ketercapaian kompetensi peserta didik selama proses
pembelajaran berlangsung
d. Kemampuan dalam mengevaluasi hasil belajar, dengan indikator
antara lain: (1) Mampu merancang dan melaksanakan asesment, seperti
memahami prinsip-prinsip asesment, mampu menyusun
macam-macam instrumen evaluasi pembelajaran, mampu melaksanakan
evaluasi, dan lainnya; (2) mampu menganalisis hasil assesment, seperti
mampu mengolah hasil evaluasi pembelajaran, mampu mengenali
asesment untuk perbaikan kualitas pembelajaran selanjutnya, seperti
memanfaatkan hasil analisisn instrumen evaluasi dalam proses
perbaikan instrumen evaluasi, dan mampu memberikan umpan balik
terhadap perbaikan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
pembelajaran.
e. Kemampuan dalam mengembangkan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya, dengan
indikator antara lain: (1) Memfasilitasi peserta didik untuk
mengembangkan potensi akademik, seperti menyalurkan potensi
akademik peserta didik sesuai dengan kemampuannya, mampu
mengarahkan dan mengembangkan potensi akademik peserta didik; (2)
Mampu memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan potensi
non-akademik, seperti menyalurkan potensi non-akademik peserta
didik sesuai dengan kemampuannya, mampu mengarahkan dan
mengembangkan potensi non-akademik peserta didik.18
B. Proses Belajar Mengajar
1. Pengertian Proses Belajar Mengajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologi belajar
memiliki arti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Ahli psikologi
memandang belajar sebagai perubahan yang dapat dilihat dan tidak peduli
18 A. Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008),
apakah hasil belajar tersebut menghambat atau tidak menghambat proses
adaptasi seseorang terhadap kebutuhan-kebutuhan dengan masyarakat dan
lingkungannya. Sedangkan para ahli pendidikan memandang bahwa belajar
adalah proses perubahan manusia ke arah tujuan yang lebih baik dan
bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.19
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui
pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of
behavior through experiencing) menurut pengertian ini, belajar merupakan
suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan
hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil
belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lama tentang belajar yang
menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, bahwa belajar
adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis dan
seterusnya.20
Pengalaman diperoleh berkat interaksi antara individu dengan
lingkungan. Pengalaman adalah sebagai sumber pengetahuan dan
keterampilan, bersifat pendidikan, yang merupakan satu kesatuan di sekitar
tujuan murid, pengalaman pendidikan bersifat kontinyu dan interaktif.
Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah
laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak
mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku mempunyai unsur subjektif dan
19
Baharuddin dan Esa Nur W, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 14-15
unsur motoris. Unsur subjektif adalah unsur rohaniah sedangkan unsur motoris
adalah unsur jasmaniah. Bahwa seseorang sedang berpikir dapat dilihat dari
raut mukanya, sikapnya dalam rohaniahnya tidak bisa kita lihat. Tingkah laku
manusia terdiri dari sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap
perubahan pada aspek-aspek tersebut, yaitu: (1) Pengetahuan, (2) Pengertian,
(3) Kebiasaan, (4) Keterampilan, (5) Apresiasi, (6) Emosional, (7) Hubungan
sosial, (8) Jasmani, (9) Etis atau budi pekerti, dan (10) Sikap.21
Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi
kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan
yang telah dirumuskan.22 Dalam proses belajar mengajar, guru harus
memberikan kesempatan pada peserta didik untuk aktif. Keaktifan siswa bisa
berbentuk aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Aktivitas belajar
murid dapat di golongkan ke dalam beberapa hal, yaitu:
a. Aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan
eksperiman, dan demonstrasi.
b. Aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita, membaca sajak, tanya
jawab, diskusi, menyanyi.
c. Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan
penjelasan guru, ceramah, pengarahan.
d. Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, atletik, menari, melukis.
21
Ibid., hlm. 30
22 M. Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996),
e. Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat
makalah, membuat surat.23
Dari pengertian belajar dan mengajar tersebut, dapat disimpulkan
bahwa belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung
serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang
berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Tujuan Dalam Proses Belajar Mengajar
Belajar mengajar sebagai suatu proses terdiri dari empat komponen
utama, yaitu: tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian. Keempat
komponen tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan
saling mempengaruhi satu sama lain (interelasi).
Tujuan yang dalam proses belajar mengajar merupakan komponen
pertama yang harus ditetapkan dalam proses pengajaran berfungsi sebagai
indikator keberhasilan pengajaran. Tujuan ini pada dasarnya merupakan
rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki
siswa setelah ia menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam
proses pengajaran. Isi tujuan pengajaran pada hakikatnya adalah hasil
belajar yang diharapkan.
Tujuan yang jelas dan operasional dapat ditetapkan bahan pelajaran
yang harus menjadi isi kegiatan belajar mengajar. Bahan pelajaran inilah
yang diharapkan dapat mewarnai tujuan, mendukung tercapainya tujuan
atau tingkah laku yang diharapkan untuk dimiliki siswa.
Metode dan alat yang digunakan dalam pengajaran dipilih atas
dasar tujuan dan bahan yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode dan alat
berfungsi sebagai jembatan atau media transformasi pelajaran terhadap
tujuan yang ingin dicapai. Metode dan alat pengajaran yang digunakan
harus betul-betul efektif dan efisien.24
Untuk menetapkan apakah tujuan telah dicapai atau tidak maka
penilaian yang harus memainkan fungsi dan peranannya. Penilaian
berperan sebagai barometer untuk mengukur tercapai tidaknya tujuan. Jika
dianalisis lebih lanjut maka dapat dikatakan bahwa proses belajar
mengajar (pengajaran) pada dasarnya tidak lain ialah proses
mengkoordinasi empat komponen (tujuan, bahan, metode dan alat, serta
penilaian), agar satu sama lain saling berhubungan dan saling berpengaruh,
sehingga menumbuhkan kegiatan belajar pada siswa seoptimal mungkin
menuju terjadinya perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan.
Dalam rangka interaksi edukatif, tujuan mempunyai arti penting,
sebab tanpa tujuan, kegiatan yang telah dilakukan akan kurang bermakna.
Bahkan akan membuang-buang waktu dan tenaga dengan sia-sia. Karena
itu, tujuan menempati posisi yang penting dalam semua aktifitas, apalagi
24 Nana Sudjana. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
dalam interaksi edukatif, tujuan dapat memberikan arah kegiatan yang
jelas. Guru sebaiknya merumuskan tujuan pembelajarannya sebelum
melaksanakan tugas mengajar di kelas. Dengan cara itu guru akan mudah
menyeleksi.25
3. Metode Dalam Proses Belajar Mengajar
Metode merupakan cara yang dalam fungsinya merupakan alat
untuk mencapai tujuan kegiatan. Dalam proses belajar mengajar metode
yang digunakan disesuaikan dengan kekhususan-kekhususan yang ada
pada masing-masing bahan/materi pelajaran, baik sifat maupun tujuan,
maka diperlukan metode-metode yang berlainan antara satu mata pelajaran
dengan mata pelajaran lainnya. Apabila dijabarkan secara terperinci,
faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memilih metode mengajar,
antara lain:
a. Tujuan yang hendak dicapai
Setiap orang yang mengerjakan sesuatu haruslah mengetahui dengan
jelas tentang tujuan yang hendak dicapainya. Demikian juga setiap
pendidik atau setiap guru yang pekerjaan pokoknya mendidik dan
mengajar haruslah mengerti dengan jelas tentang tujuan pendidikan.
Pengertian akan tujuan pendidikan itu mutlak perlu sebab tujuan itulah
yang akan menjadi sasaran dan menjadi pengarah
tindakan-tindakannya dengan menjalankan fungsinya sebagai guru. Di samping
menjadi sasaran dan menjadi pengarah, tujuan pendidikan dan
pengajaran juga berfungsi sebagai kriteria bagi pemilihan dan
penentuan alat-alat (termasuk metode) yang akan digunakan dalam
mengajar.
b. Peserta didik
Peserta didik yang akan menerima dan mempelajari bahan pelajaran
yang disajikan guru, harus pula memperhatikan pemilihan metode
mengajar. Ini perlu sebab metode mengajar itu ada yang menuntut
pengetahuan dan kecekatan tertentu.
c. Bahan atau materi yang akan diajarkan
Jenis bahan atau materi yang akan diajarkan merupakan salah satu
faktor yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan metode
mengajar sebab pada hakikatnya metode mengajar disamping sebagai
alat untuk mencapai tujuan pendidikan, juga merupakan media untuk
menyampaikan bahan atau materi yang pada akhirnya untuk mencapai
tujuan yang ditetapkan sifat, isi, dan bobot materi palajaran yang akan
diajarkan harus disesuaikan dengan tingkat kematangan anak dan
kemampuannya untuk menerima bahan atau materi tersebut.
d. Fasilitas
Yang termasuk dalam faktor fasilitas antara lain alat peraga, ruang,
waktu, kesempatan, tempat, dan alat-alat praktikum, buku-buku,
perpustakaan dan sebagainya. Fasilitas itu turut menentukan metode
pemilihan dan penentuan metode tersebut ternyata dalam situasi
dimana metode Demonstrasi dan Eksperimen tidak dapat dipakai
karena tidak tersedianya alat-alat dan bahan untuk mengadakan
demonstrasi dan eksperimen/percobaan. Demikian pula metode
Perkunjungan Studi tidak dapat dipakai dan dilaksanakan jika tidak ada
biaya serta sempitnya waktu dan kesempatan.
e. Guru
Metode mengajar menuntut syarat-syarat yang harus dipenuhi,
misalnya setiap guru yang akan menggunakan sebuah metode harus
mengetahui kelebihan dan kelemahan metode tersebut, mengetahui
situasi-situasi yang tepat dimana metode itu dapat berjalan efektif dan
terampil dalam menggunakan metode itu.
f. Situasi
Yang termasuk dalam situasi adalah keadaan para pelajar (yang
menyangkut kelelahan dan semangat mereka), keadaan suasana,
keadaan guru (kelelahan guru), keadaan kelas lain yang berdekatan
dengan kelas yang akan diberi pelajaran dengan metode tertentu.
Apabila para pelajar telah lelah (yang diajar dengan metode Ceramah),
guru sebaiknya mengganti metode mengajarnya misalnya dengan
metode Sosiodrama. Demikian pula apabila guru melihat bahwa
pelajar sedang bersemangat (dalam membicarakan peristiwa dalam
masyarakat) maka guru menggunakan metode Diskusi. Apabila kelas
menggunakan metode Pemberian Tugas atau Metode Tanya Jawab
(sebab metode tersebut menuntut konsentrasi pelajar).
g. Partisipasi
Partisipasi adalah turut aktif dalam sesuatu kegiatan. Apabila guru
ingin agar para pelajar turut aktif secara merata dalam suatu kegiatan,
guru tersebut tentunya akan menggunakan metode Kerja Kelompok.
h. Kebaikan dan kelemahan metode tertentu
Tidak ada satu metode yang baik untuk setiap tujuan dalam setiap
situasi. Setiap metode mempunyai kelebihan dan kelemahan. Dengan
sifatnya polivalen dan polipraemasi, guru perlu mengetahui kapan
sesuatu metode tepat digunakan dan kapan dia mengguankan
kombinasi dari metode-metode tersebut. Guru hendaknya memilih
metode yang paling banyak mendatangkan hasil.26
Ruang lingkup program kegiatan belajar meliputi, pembentukan
prilaku melalui pembiasaan dalam pengembangan moral pancasila, agama,
disiplin, perasaan/emosi, dan kemampuan bermasyarakat, serta
pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh
guru yaitu: pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta,
keterampilan dan jasmani. Jadi, metode pembelajaran yang digunakan di
tingkat Raudlatul Athfal adalah metode yang dapat memacu semua
kegiatan motorik yang perlu dikembangkan anak, misalnya:
26 Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,