• Tidak ada hasil yang ditemukan

JAMU OBAT BAHAN ALAM INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "JAMU OBAT BAHAN ALAM INDONESIA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

JAMU

: Obat Asli Indonesia

Oleh:

Oktafian VF. Kawulusan (APOTEKER)

Penggunaan Jamu dimulai sejak zaman pra-sejarah, bukti sejarah yang mendukung asal-usul Jamu di Indonesia dapat ditelusuri melalui penemuan peralatan batu dari zaman Mesolithikum dan Neolithikum berupa lumping yang telah digunakan oleh nenek moyang untuk memperoses makanan dan Jamu. Data artefaktual di bidang pengobatan ditemukan pada relief Karmawipangga pada candi Borobudur, relief candi Brambang komplek candi Prambanan yang dibangun sekitar abad 8-9 Masehi, juga candi Panataran, Sukuh dan Tekalwangi. Relief pada candi Borobudur menggambarkan pembuatan jamu menggunakan pipisan untuk perawatan kesehatan dengan pemijatan dan penggunaan ramuan Jamu atau Saden Saliro. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa sejarah Jamu muncul untuk pertama-kalinya sejak jaman kerajaan Mataram atau sekitar 1300 tahun yang lalu. Jamu sendiri mengambil kiblat Ayeverda dari India. Meskipun begitu, jamu di Indonesia secara siknifikan berbeda karena beberapa bahan herbal yang hanya bisa ditemukan di Indonesia.

(2)

Tidak banyak yang mengetahui bahwa asal-muasal istilah Jamu berasal dari istilah “Jampi-jampi”. Jampi-jampi berarti formula yang berbau magis. Dulu dukun atau balian memberikan ramuan-ramuan dengan mengucapkan jampi-jampi yang dimohonkan kepada Tuhan untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Menurut pakar bahasa Jawa Kuno, Jamu berasal dari singkatan dua kata, Djampi dan Oesodo. Djampi adalah bahasa Jawa Kuno yang berarti penyembuhan yang menggunakan ramuan obat-obatan atau doa doa dan ajian-ajian dan Oesodo berarti kesehatan. Kata “Djampi” kenal sebagai Bahasa Jawa Kromo Inggil yang digunakan oleh Priyayi Jawa. Sedangkan istilah yang digunakan oleh masyarakat umum (Bahasa Jawa Madyo) untuk pengobatan adalah “Jamu” yang diperkenalkan oleh dukun atau tabib, ahli pengobatan tradisional pada masa itu. Oleh karena asal muasal istilahnya yang dinilai berbau magis inilah, pengembangan produk Jamu berbasis warisan leluhur mendapatkan respons negatif sejak tahun 1970. Pengertian jamu di masa kini tidak lagi terpaku pada pengertian di zaman dulu. Formula jamu di masa sekarang pun semata-mata hanya diberikan untuk bahan atau ramuan tradisional yang berasal dari tumbuhan, hewan atau mineral untuk pengobatan. Untuk meninggalkan kesan lama pun, dalam beberapa forum, istilah jamu sering diganti dengan Traditional Indonesian Medicine (TIM).

Berdasarkan Keputusan Kepala BPOM RI No. HK.00.05.4.2411 tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan & Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, Jamu atau dikenal pula dengan istilah “Obat Tradisional” merupakan salah satu kelompok obat bahan alam Indonesia. Sedangkan, Undang-Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, mendefinisikan Jamu atau Obat Tradisional sebagai bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Bahan baku Jamu/Obat Tradisional bisa didapatkan dari tumbuhan, hewan maupun mineral. Namun, sumber Obat Tradisional yang banyak dikembangkan berasal dari tumbuhan. Sebab, tumbuhan mudah dibudidayakan, ramah lingkungan, dan hamper seluruh bagian yang terdapat pada tumbuhan (mulai dari akar, umbi, batang, kulit, daun, biji dan bunga) berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Jamu atau Obat Tradisional disebut juga obat asli Indonesia, sebab bahan bakunya memang berasal dari Indonesia tapi juga diperkaya dengan bahan baku seperti tumbuhan obat dari luar. Hal ini juga, terjadi karena pengetahuan tumbuhan obat Indonesia juga merupakan pengetahuan herbal asli Indonesia tetapi diperkaya dengan pengetahuan dari luar.

Jamu harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan; b. Klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris; c. Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.

Secara umum, Jamu dapat dikategorikan sebagai berikut:

(3)

b. Jamu kemasan yaitu jamu/otra yang diolah dengan menggunakan teknologi, dibuat dalam bentuk sediaan farmasi standar (seperti tablet atau kapsul atau sirup) dan dikemas secara modern).

Walaupun demikian, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 006 tahun 2012 tentang Industri & Usaha Obat Tradisional, Jamu atau Obat Tradisional dibedakan menjadi:

a. Jamu atau Obat Tradisional yang diproduksi oleh industri, terdiri atas: 1. Jamu/Otra dari Industri Obat Tradisional;

2. Jamu/Otra dari Indistri Ekstrak Bahan Alam.

b. Jamu atau Obat Tradisional yang diproduksi oleh usaha di bidang Jamu atau Obat Tradisional, terdiri atas:

1. Jamu/Otra dari Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT); 2. Jamu/Otra dari Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT); 3. Jamu/Otra dari Usaha Jamu Racikan;

4. Jamu/Otra dari Usaha Jamu Gendong.

Kemudian berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 007 tahun 2012 tentang Registrasi Obat Tradisional, Jamu/Obat Tradisional dibagi menjadi:

a. Jamu/Otra produksi dalam negeri; b. Jamu/Otra kontrak;

c. Jamu/Otra lisensi; d. Jamu/Otra impor.

Produksi Jamu (Jamu Gendon) diawali pada abad 16 Masehi dan berkembang menjadi industri jamu skala rumah tangga yang dirintis oleh Ny. Item dan Ny. Kembar di Ambarawa, Jawa Tengah pada tahun 1825 Masehi. Di awal tahun 1900an, industri jamu semakin berkembang seiring dengan trend “Back To Nature” yang melanda pasar di dunia. Berkat industri-industri ini, Jamu yang dulunya hanya digunakan oleh kalangan terbatas, kini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Jamu menjadi mudah diperoleh di seluruh pelosok negeri, bahkan sampai di ekspor ke mancanegara. Produk Jamu juga kini telah diproses secara modern dengan menggunakan teknologi terbaru, baik dalam pengolahan, pengemasan dan pengujian secara klinis yang lebih terjamin. Standardisasi bahan baku, pengujian keamanan dan khasiat telah banyak dilakukan dan sistem produksi telah mengacu kepada cara pembuatan obat yang baik.

Penggunaan Jamu menjadi sangat khas, yaitu sebagai pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, pemulihan kesehatan, kebugaran, relaksasi dan kecantikan. Saat ini diperkirakan 80% penduduk Indonesia menggunakan Jamu.

(4)

Jenderal WHO berpendapat bahwa bila negara-negara sedang berkembang tetap bertahan hanya dengan menggantungkan diri pada system pengobatan berdasarkan ilmu kedokteran yang secara resmi dianut, pemerataan pelayanan kesehatan belum dapat terpenuhi.

Alternatif pemecahan masalah ini adalah dengan memanfaatkan obat tradisional atau jamu yang bahannya bersumber dari tumbuhan, hewan, atau mineral yang ada disekitar tempat tinggal penduduk. Dalam usaha untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dalam bidang obat dan pengobatan, pemerintah Indonesia juga berusaha untuk membudayakan penggunaan obat tradisional/jamu.

Seperti halnya dengan obat modern, agar dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dari segi keamanan dan pemakaiannya pada manusia, pengembangan obat tradisional atau jamu akan mencakup berbagai tahap pengujian, penelitian, dan pengembangan secara sistematik.

Agar jamu/otra yang dikonsumsi bermanfaat bagi tubuh dan tidak menganggu kesehatan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

Memilih jamu/otra yang sudah teregistrasi

Membiasakan diri untuk bersikap teliti dan hati-hati (cermati kemasannya, perhatikan bentuknya, waspada rayuan iklan dan jangan terlena).

a. Waspada produsen jamu/otra yang nakal b. Jangan terlalu sering mengonsumsinya c. Perhatikan reaksi tubuh kita

d. Waspada jamu/otra yang terlalu manjur e. Waspada jamu/otra dewa

f. Jangan mencampur jamu/otra dengan obat atau jamu/otra lain g. Tanda awas bagi wanita hamil

h. Waspada efek samping jamu/otra i. Hati-hati bila meramu sendiri j. Waspada promosi yang tidak wajar

k. Patuhi anjuran memantang makanan tertentu l. Jangan langsung meninggalkan obat apotek m. Tanda awas bagi penderita penyakit tertentu n. Jangan tinggalkan gaya hidup sehat.

Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, jamu/otra dilarang menggunakan bahan kimia hasil isolasi atau sintetik berkhasiat obat yang sering disebut dengan Bahan Kimia Obat (BKO), narkotika atau psikotropika, serta hewan atau tumbuhan yang dilindungi.

(5)

yang benar dan tepat agar manfaat Jamu/Otra bisa dirasakan dengan optimal dan tidak membahayakan jiwa dan tubuh manusia, meliputi:

a. Dosis yang tepat; b. Cara penggunaan tepat c. Waktu konsumsi tepat;

d. Pemilihan bahan baku tepat sesuai dengan penyakit yang diderita; e. Bahan baku obat benar dan tepat.

Jamu/Otra, di masyarakat beredar dan digunakan dalam berbagai bentuk, yaitu:

a. Dalam bentuk organ tumbuhan atau hewan segar yang langsung digunakan dengan cara diminum dan diseduh.

b. Dalam bentuk rajangan atau potongan organ tumbuhan atau hewan yang telah dikeringkan. c. Dalam bentuk serbuk kering yang telah dihaluskan.

d. Dalam bentuk jamu gendong. e. Dalam bentuk sediaan galenik.

f. Dalam bentuk berbagai obat jadi yang telah mengalami proses pabrikasi. Kelebihan Jamu/Otra, yaitu:

a. Memiliki efek samping yang saling mendukung jika berada dalam satu ramuan dengan komponen yang berbeda.

b. Memiliki efek samping yang relative rendah.

c. Pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi untuk penyakit-penyakit yang diakibatkan pertukaran zat di dalam tubuh dan keturunan.

Sedangkan kekurangan dalam penggunaan Jamu/Otra, yaitu:

a. Takaran harus tepat, jika tidak tepat, jamu/otra bisa tidak aman bagi tubuh dan kesehatan manusia.

b. Harus memiliki jenis obat sesuai dengan riwayat kesehatan masing-masing, sehingga tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan jiwa.

Perbedaan antara Jamu/Otra dan obat modern secara umum ialah Jamu/Otra dalam pembuatannya tidak memerlukan bahan kimia, paling-paling hanya menggunakan air dingin atau air panas sebagai penyeduhnya. Jadi zat berkhasiatnya tidak perlu dipisahkan lebih dahulu, bahkan zat apa yang berkhasiat kemungkinan belum diketahui dengan pasti. Lagi pula Jamu/Otra mempunyai susunan yang jauh lebih kompleks dari obat modern, sehingga untuk mempelajari susunan kimianya sudah rumit.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola jajan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi terhadap kejadian karies gigi molar pertama permanen pada anak

Pembahasan dalam penelitian ini Dibatasi hanya pada perkembangan bentuk dan tata ruang rumah Kampung Margasari dari sudut pandang pengembangan bentuk pada lingkungan sekitar

atau sebelum tindakan pada rawat jalan di rumah sakit, jika masih dalam jangka waktu 30 hari, riwayat medis dapat dipergunakan dan apabila telah lebih dari 30 hari harus

(c) dalam menjalankan rencana, subjek yang satu tidak menggunakan metode pembuktian yang telah direncanakan pada langkah merencanakan pemecahan masalah sedangkan

Tujuan penelitian : (1) Untuk memperoleh lokasi-lokasi yang layak dan sesuai untuk dibudidayakan tanaman jarak pagar menggunakan system informasi geografis,(2) Untuk

Kurang lebih, demikian proses mengurus surat nikah secara umum. Di beberapa tempat mungkin ada beberapa aturan yang berbeda sedikit. Setelah proses mengurus

The robust hydro-thermal power system controller design with the ECS is proposed in order to improve system stability under wind power disturbance with 5% variation of

Secara operasional peneliti ini mene liti “Pengaruh Terapi Musik Islami untuk Menurunkan Kecenderungan Burnout pada Pekerja Praktik Dokter di Sobontoro-