• Tidak ada hasil yang ditemukan

Angkatan Bersenjata Sebagai Instrumen Pe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Angkatan Bersenjata Sebagai Instrumen Pe"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

ANGKATAN BERSENJATA SEBAGAI INSTRUMEN PENYALUR

KEPENTINGAN KEKUASAAN OLEH PEMERINTAH DAN KELOMPOK

OPOSISI DALAM KONFLIK SURIAH

Disusun untuk memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Militer dan Politik

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. Yahya Muhaimin

Gita Kharisma, S.IP

Oleh:

Nadia Sarah Azani

0801511002

HI A 2011

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS AL-AZHAR INDONESIA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pergolakan yang terjadi di Suriah selama dua tahun terakhir ini menjadikannya sebagai perhatian dunia internasional. Awal mula pergolakan tersebut terjadi saat demonstrasi menentang pemerintahan Presiden Bashar al-Assad pada awal 2011. Salah satu yang menjadi pemicu pergolakan tersebut ialah, keberhasilan masyarakat Timur Tengah lainnya dalam menggulingkan pemerintahan setempat, seperti yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Libya, fenomena yang seringkali disebut sebagai Arab Spring atau upaya demokratisasi negara-negara di wilayah Timur Tengah.

Pada saat aksi protes rakyat sipil atas pemerintahan rezimnya tersebut, Bashar al-Assad menggerakkan pasukan militer untuk menumpas gerakan demonstrasi dan diperkirakan aksi militer tersebut telah menewaskan 8000 para demonstran (warga sipil).1 Peristiwa ini

kemudian membangkitkan perlawanan bersenjata pula dari pihak oposisi, yang tidak hanya berasal dari sipil, tetapi juga beberapa oknum militer yang menentang rezim Bashar al-Assad.

Pecahnya dua kubu antara pro-Assad yang diwakili oleh Tentara Suriah (Syrian Arab Army) dan oposisi yang diwakili oleh Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army) terus diwarnai dengan aksi perlawanan senjata.2 Meski telah terjadi perlawanan yang merugikan,

disebabkan sebagian besar korban merupakan warga sipil, akan tetapi tidak membuat Bashar al-Assad tergerak untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden. Tindakan tersebut seolah menyatakan bahwa Suriah tidak terpengaruh dengan gerakan revolusi yang berhasil dilakukan di beberapa negara Timur-Tengah. Fenomena Arab Spring nampaknya tidak berdampak bagi pemerintahan rezim Bashar al-Assad.

1 Prayitno Ramelan, Konflik Suriah, Sebuah Pelajaran dalam Berbangsa dan Bernegara, 9 Agustus 2012, dikutip dari

http://politik.kompasiana.com/2012/08/10/konflik-suriah-sebuah-pelajaran-dalam-berbangsa-dan-bernegara-484775.html, diakses 30 Maret 2013

(3)

Bashar al-Assad menjabat sebagai Presiden Suriah sejak tahun 2000, menggantikan ayahnya Hafez al-Assad yang menjadi Presiden setelah kudeta militer pada 16 November 1970.3 Hafez al-Assad dikenal sebagai seorang pemimpin diktator pada masanya. Peralihan

kekuasaan secara aklamasi tersebut menandakan bahwa rezim pemerintahan Suriah modern merupakan rezim al-Assad. Salah satu yang diterapkan oleh rezim tersebut ialah mengontrol penuh kekuatan militer dan intelijen. Rezim ini menerapkan sistem darurat militer yang bertujuan untuk menumpas gerakan perlawanan oposisi terhadap rezim dengan mengatasnamakan stabilitas politik dan keamanan nasional.4

1.2. Rumusan Masalah

Mengapa angkatan bersenjata dijadikan instrumen oleh kedua belah pihak, yakni pemerintah dan oposisi, sebagai jalur kepentingan kekuasaan, sehingga konflik Suriah tidak terhindarkan dari aksi perlawanan bersenjata?

1.3. Kerangka Teori

1.3.1. Profesionalisme Militer Baru

Dalam pandangan “new professionalism” (profesionalisme baru) yang telah dianalisa oleh Alfred Stepan dan O’Donnell, menyatakan bahwa militer sebagai alat pertahanan negara harus mampu mewaspadai bentuk-bentuk ancaman baik yang bersifat eksternal maupun internal. Pergeseran orientasi profesionalisme ini dilatarbelakangi oleh keterlibatan negara- negara non-komunis maupun negara komunis dalam “total war”. Dalam perang ini, ancaman yang dihadapi bukanlah berupa ancaman eksternal, melainkan ancaman perang melawan gerakan komunisme revolusioner yang berkembang karena keterpurukan sistem sosial, ekonomi, dan politik di negara-negara berkembang. Dalam paradigma new professionalism ini, strategi yang diperlukan untuk memenangkan

3 Zuhairi Misrawi, Drama Musim Semi di Suriah, 13 Januari 2013, dikutip dari

http://internasional.kompas.com/read/2013/01/13/0321582/Drama.Musim.Semi.di.Suriah, diakses 30 Maret 2013.

(4)

peperangan berkaitan erat dengan national security dan national development yang melahirkan “tentara profesional baru” yang dilatih dalam menjalankan “total war”.5

Profesionalisme konvensional merespon tantangan keamanan eksternal dan sangat terspesialisasi dengan batasan yang jelas, sosialisasi militer bersifat netral, dan bersikap apolitis. Alfred Stepan menyebut profesionalisme baru sebagai bentuk profesionalisme yang diarahkan menuju pertahanan eksternal dan penggunaan militer sebagai alat kebijakan luar negeri ditinggalkan demi membangun profesionalisme baru, yang berkaitan dengan keamanan dalam negeri maupun pembangunan nasional.6

Pada dasarnya, ancaman lingkungan yang dihadapi suatu negara sangat menentukan misi yang dijalankan militer, sebagai tugas utama yang diemban militer dalam pengertian: pertama, sifat dari ancaman (militer atau non- militer) yang harus ditangani, dan kedua, lokasi dari ancaman tersebut (internal atau eksternal). Orientasi militer pada ancaman eksternal akan mengurangi kecenderungan militer untuk mencampuri politik domestik. Hal ini didukung oleh pernyataan Harold Lasswell yang mengatakan bahwa pengaruh militer akan sangat kuat ketika ada ancaman dari lingkungan internasional dan sebaliknya, akan sangat lemah jika lingkungannya relatif aman. Michael C. Desch menambahkan bahwa cara terbaik untuk mengidentifikasi misi militer adalah melalui doktrin militer, yaitu sebagai software yang berperan untuk menjalankan hardware

militer.7

1.3.2. Level Intervensi S.E. Finer

Menurut Samuel E. Finer ada empat level intervensi golongan militer terhadap perpolitikan suatu negara, yakni influence, pressures atau blackmail, displacement, dan supplantment. Di budaya politik yang matang, hanya akan ditemui intervensi pada level

influence yang biasanya sangat terlihat respektasi militer terhadap hak-hak politik masyarakat sipil. Sementara, di sistem budaya politik yang rendah, dapat ditemui

5 A. Stepan, ‘The New Professionalism of International Warfare and Military Role Expansion,’ dalam Abraham F.

Lowenthal (ed.), Armies and Politics in Latin America, Holmes & Meier, New Yo rk, 1976, hal. 244-260; G. O’Donnell, ‘Modernization and Military Coups: Theory, Comparisons and the Argentine Case,’ dalam Abraham F. Lowenthal (ed.), Armies and Politics in Latin America, Holmes & Meier, New York, 1976, hal. 208-213

6Ibid.

(5)

intervensi pada level pressures atau blackmail, displacement, dan supplantment.

Influence adalah usaha utuk meyakinkan otoritas sipil dengan menunjukkan alasan atau emosinya. Sementara itu, pressures atau blackmail adalah usaha untuk meyakinkan otoritas sipil dengan menggunakan ancaman atau sebentuk sanksi. Cakupan dari

pressures sendiri cukup luas. Mulai dari petunjuk atau aksi yang konstitusional hingga intimidasi dan ancaman yang inkonstitusional. Level displacement adalah pergerseran/penghapusan satu kabinet atau penguasa untuk kabinet atau penguasa lain. Hal ini dicapai dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Tujuannya adalah untuk mengganti politisi sipil dengan yang lebih sesuai. Namun rezim sipil tersebut tidak digulingkan hanya oknum-oknum tertentu dari politisi sipil. Level terakhir, yaitu

supplantment, yaitu menghapuskan rezim sipil dan menetapkan militer di tempatnya dengan mendirikan rezim dari kalangan militer.8

8 S.E. Finer, The Man on Horseback, The Role of The Military in Politics, Frederick A. Praeger, Inc., Publisher, New

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Sekilas Mengenai Negara Suriah

Suriah terdahulu merupakan negara yang mempunyai banyak wilayah yang mencakup beberapa negara yang berada di Timur Mediterania antara lain: Yordania, Lebanon, Israel, dan Propinsi Turki Hatay, tetapi akibat imperialis Eropa menyebabkan Suriah kehilangan wilayahnya yaitu Yordania dan Israel dipisahkan dengan berada di bawah mandat Inggris. Lebanon diambil untuk melindungi minoritas Kristennya dan Hatay dikembalikan kepada Turki demi pertimbangan politik untuk Perancis.9 Perancis dengan politik devide et

impera-nya berhasil membagi suriah sendiri menjadi empat wilayah antara lain: Damaskus, Lebanon Raya, Allepo dan Lantakia. Pada tahun 1925 Damaskus dan Allepo dikembalikan kepada Suriah.10

Negara Suriah modern didirikan usai Perang Dunia Pertama, yaitu setelah mendapatkan kemerdekaannya dari Perancis pada tahun 1946. Pasca meraih kemerdekaannya, Suriah kerap diguncang oleh gejolak serta kudeta militer, yang sebagian besar terjadi antara periode 1949-1971. Kemudian antara periode 1958-1961, Suriah bergabung dengan Mesir membentuk perserikatan yang dikenal dengan RPA (Republik Persatuan Arab). Perserikatan itu berakhir karena terjadinya kudeta militer di Suriah.11 Suriah pun akhirnya memisahkan

diri dan bangkit kembali sebagai Negara Republik Suriah.

Dari tahun 1940 sampai awal 1960-an gambaran politik Suriah dibentuk oleh kekuatan politik yang saling bersaing. Tentara memainkan peran penting di negeri itu. Di mana perubahan kekuasaan yang ada selalu diwarnai campur tangan militer. Tidak ada perubahan di Suriah yang tanpa campur tangan militer. Hakikatnya perubahan politik di Suriah adalah

9 Harwanto Dahlan, Politik dan Pemerintahan Timur Tengah, Diklat Kuliah, UMY, 1995, hal 109

10 George Lenczowski, Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 1992, hal 199 11 Masykur A. Baddal, Miris, Mengapa Arab Ramai-ramai Memusuhi Suriah?, 12 Februari 2012, dikutip dari

(7)

perebutan kekuasaan antara elite militer di negeri itu. Setidaknya terjadi tiga kali kudeta militer yaitu pada tahun 1949, kemudian tahun 1954, serta kudeta yang dipimpin Partai Baath tahun 1963 dan 1966.12

Pada 8 Maret 1963, lewat sebuah kudeta militer, Partai Ba’ath berkuasa di Suriah. Kabinet baru pun dibentuk di bawah bayang-bayang Partai Ba’ath.13 Partai Ba’ath tersebut

merupakan partai sosialis campuran ideologi Nasionalisme-Arab, pan-Arabisme, Sosialisme Arab dan kepentingan-kepentingan anti-penjajahan Barat.14

Sejak tahun 1963 hingga 2011, Suriah terus memberlakukan UU Darurat Militer, sehingga dengan demikian sistem pemerintahannya pun dianggap oleh pihak barat tidak demokratis.15

2.2. Angkatan Bersenjata Suriah (Syrian Armed Force)

Angkatan Bersenjata Suriah (Syrian Armed Force) adalah pasukan militer Suriah yang terdiri dari Angkatan Darat (Syrian Arab Army), Angkatan Laut (Syrian Arab Navy), Angkatan Udara (Syrian Arab Air Force), Pertahanan Udara (Syrian Arab Air Defense Force), dan beberapa pasukan paramiliter. Menurut Konstitusi Suriah, Presiden Suriah adalah Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Suriah.16

Warga Laki-laki Suriah setelah mencapai usia 18 diwajibkan untuk mengabdi di kemiliteran, Sebelum awal perang sipil Suriah, masa dinas wajib militer menurun seiring

12 Mashadi, Sejarah Pembrontakan Terhadap Rezim Alawiyin Suriah, 19 April 2011, dikutip dari

http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/sejarah-pembrontakan-terhadap-rezim-alawiyin-suriah.htm diakses 2 Juli 2013

13 Khairisa Feirida, Sejarah Awal Suriah, 18 Agustus 2012 dikutip dari

http://international.okezone.com/read/2012/08/16/412/678735/sejarah-awal-suriah diakses 30 Juni 2013

14 Cholis Akbar, Lembar Putih Suriah: Lembar Fakta Krisis Kemanusiaan, 27 Februari 2013, dikutip dari

http://www.hidayatullah.com/read/27458/27/02/2013/lembar-putih-suriah:-lembar-fakta-krisis-kemanusiaan-suriah.html diakses 30 Juni 2013

15 Masykur A. Baddal, Op.Cit.

16 Hendrajit, Analis Senior Eksekutif Global Future Institute, Membaca Langkah Terbaru Amerika dan Inggris di

Suriah, 17 Juni 2013 dikutip dari:

(8)

waktu. Pada tahun 2005, berkurang dari dua setengah tahun sampai dua tahun, pada tahun 2008 menjadi 21 bulan dan pada tahun 2011 menjadi 18 bulan.17

Dengan berkantor pusat di Damaskus, militer Suriah terdiri dari Angakatan Darat, Laut, dan Udara. Personil aktif diperkirakan sebanyak 295.000 personil pada tahun 2011, dengan tambahan 314.000 personil cadangan. Pasukan paramiliter diperkirakan mencapai 108.000 personil pada tahun 2011.18

2.2.1. Angkatan Darat Suriah

Pada tahun 1987, Joshua Sinai dari Library of Congress menulis bahwa Tentara Arab Suriah adalah layanan militer yang dominan, mengendalikan pos-pos paling senior di angkatan bersenjata, dan memiliki paling banyak personil, sekitar 80 persen dari layanan gabungan. Pada tahun 1987, Sinai menulis bahwa perkembangan utama dalam kekuatan organisasi adalah pembentukan kerangka divisi tambahan berdasarkan pasukan khusus dan organisasi formasi darat menjadi dua kesatuan.19

Pada tahun 2010, Institut Internasional untuk Studi Strategis memperkirakan tentara regular berjumlah 220.000 personil, dengan tambahan 280.000 tentara cadangan. Angka itu tidak berubah dalam edisi Military Balance tahun 2011, tetapi dalam edisi 2013, di tengah-tengah perang, IISS memperkirakan bahwa kekuatan militer Suriah adalah 110.000. Tentara yang aktif bertugas di ketiga kesatuan tentara bersenjata, delapan divisi lapis baja dengan satu brigade lapis baja independen, tiga divisi mekanik, satu divisi pasukan lapis baja khusus, dan sepuluh brigade pasukan khusus udara independen.20

Tentara Suriah memiliki sebelas formasi divisi dilaporkan pada tahun 2011, dan turun dari 8 menjadi 7 divisi pada divisi lapis baja pada tahun 2010, brigade lapis baja independen telah digantikan oleh resimen tank independen. Mantan perusahaan Pertahanan digabungkan ke dalam Tentara Suriah sebagai Divisi Lapis Baja ke-4 dan

17Ibid.

(9)

Garda Republik. Di mana Divisi Lapis Baja ke-4 menjadi salah satu pasukan keamanan terbesar pemerintah Assad.21

2.2.2. Angkatan Laut Suriah

Pada tahun 1950, Angkatan Laut Suriah didirikan mengikuti beberapa pengadaan angkatan laut dari Perancis. Personil awal terdiri dari tentara yang telah dikirim ke akademi pelatihan angkatan laut Perancis. Pada tahun 1985, angkatan laut terdiri dari sekitar 4.000 petugas regular dan 2.500 dari cadangan. Angkatan laut berada di bawah komando tentara regional Latakia. Armada berbasis di pelabuhan Latakia, Baniyas, Minat al Bayda, dan Tartus. Terdapat 41 armada kapal di antaranya 2 frigat, 22 kerajinan serangan rudal (termasuk 10 kapal rudal Osa II yang canggih), 2 pemburu kapal selam, 4 kapal perang tambang, 8 kapal meriam, 6 kapal patroli, 4 rudal korvet, 3 kapal pendarat, 1 kapal pemulihan torpedo, dan sebagai bagian dari sistem pertahanan pesisir terdapat rudal Sepal dengan jangkauan 300 kilometer.22

2.2.3. Angkatan Udara Suriah

Angkatan Udara Suriah didirikan pada tahun 1948 dan melakukan pertempuran pada tahun 1948, 1967, 1973 dan tahun 1982 melawan Israel dan melawan kelompok militan di tanah Suriah pada tahun 2011-2012 selama perang sipil Suriah. Saat ini, setidaknya ada 15 pangkalan Angkatan Udara Suriah di seluruh negeri.23

Pada tahun 1987, menurut The Library of Congress Country Studies, Komando Pertahanan Udara termasuk Komando Angkatan Darat yang terdiri dari personil Angkatan Udara, berjumlah kurang lebih 60.000 Personil. Pada tahun 1987, terdapat dua puluh brigade pertahanan udara dengan sekitar sembilan puluh lima baterai SAM dan dua resimen pertahanan udara. Komando Pertahanan Udara memiliki akses perintah untuk interseptor pesawat dan fasilitas radar.24

21Ibid.

(10)

2.3. Rezim al-Assad: Rezim Pemerintahan Suriah

Sejak merdeka dari Prancis pada 1946, keadaan politik di Suriah terus bergejolak. Telah disebutkan di atas, serangkaian kudeta militer terjadi hingga awal 1970. Sejak berkuasanya Partai Ba’ath mendominasi pemerintahan di Suriah pasca kudeta 8 Maret 1963, rezim yang berkuasa di Suriah merupakan rezim militer yang berkiblat kepada Partai Ba’ath.25 Struktur

kekuasaan berubah dari kaum elite perkotaan Sunni yang menguasai kehidupan politik, ekonomi, dan sosial, berpindah ke tangan Partai Ba’ath.26

Sebuah kudeta tidak berdarah yang disebut “Gerakan Koreksionis” dilancarkan pada 1970 oleh Hafez al-Assad, yang merupakan perdana menteri sekaligus menteri pertahanan Suriah dan merupakan tokoh Partai Ba’ath. Hafez al-Assad memanfaatkan situasi yang tengah menegang antara Suriah dan Yordania dengan melancarkan kudeta tersebut.27 Lewat

referendum pada 12 Maret 1971, Hafez al-Assad terpilih menjadi Presiden Republik Arab Suriah. Terpilihnya Hafez al-Assad sebagai presiden disusul sidang pertama Komando Regional Partai Sosialis Arab Ba’ath. Dalam sidang itu, Presiden Hafez al-Assad dipilih menjadi Sekretaris Regional Partai. Hal itu membuka kesempatan baginya untuk memerintah dengan kendaraan Partai Ba’ath.28

2.3.1. Pemerintahan Hafez al-Assad

Kiprah Hafez al-Assad di dunia politik dibarengi dengan kiprahnya di bidang militer. Lahir pada 1930 dari sebuah keluarga miskin di Desa Qardaha, dekat Latakiya, dan menjadi orang pertama di desanya yang meninggalkan kampung halaman untuk mendapat pendidikan di Latakiya. Di Latakiya, ia bergabung dengan

25 Partai Ba’ath Sosialis Arab atau Partai Renaisans Sosialis Arab didirikan oleh Michel Aflak, Salah al-Din al-Bitar, dan

Zaki Arsuzi di Damaskus pada 1943, oleh Michel Aflak Partai Ba’ath dibawa pula ke Irak pada 1951. Prinsip dasar Partai Ba’ath adalah persatuan dan kebebasan yang bertujuan untuk mendirikan suatu bangsa Arab tunggal yang anti imperialisme dan Zionisme. Kaum Ba’athisme meyakini jika bangsa Arab dibebaskan dan bersatu, konflik-konflik sosial dalam negara-negara Arab atau di kawasan-kawasan Arab akan lenyap. Selebihnya lihat Trias Kuncahyono, Musim Semi di Suriah, Anak-Anak Sekolah Penyulut Revolusi, Penerbit Buku Kompas, 2012.

26 Trias Kuncahyono, Musim Semi di Suriah, Anak-Anak Sekolah Penyulut Revolusi, Penerbit Buku Kompas, 2012, hal.

43

(11)

kelompok perdebatan yang berisi orang-orang komunis, kaum nasionalis Arab, dan fundamentalis. Pada 1946, ia bergabung dengan Partai Ba’ath.29

Tahun 1952, Hafez al-Assad masuk Akademi Militer Angkatan Udara di Kolase Angkatan Udara di Aleppo dan di akhir 1950-an, ia dikirim ke Uni Soviet untuk belajar menerbangkan pesawat MiG-15 dan MiG-17. Pada 1963, ia menjadi salah satu pemimpin Revolusi 8 Maret yang menjadikannya dipercaya menduduki pos utama baik di Komando Partai Ba’ath Nasional maupun Regional.30 Ia turut berperan

besar dalam Gerakan 23 Februari 1966, yakni suatu gerakan dalam tubuh Partai Ba’ath untuk mengakhiri konflik di dalam tubuh partai. Hafez al-Assad menjabat sebagai menteri pertahanan sekaligus perdana menteri sewaktu kekalahan Suriah dalam Perang Arab-Israel 1967, dan konflik antara Suriah dan Yordania pada 1970. Dari situasi tersebut ia mengambil celah untuk melakukan kudeta militer tak berdarah dan menjabat sebagai Presiden Republik Arab Suriah.31

Di masa pemerintahannya, Hafez al-Assad menggunakan Partai Ba’ath sebagai mesin politik dan menempatkan orang-orang dari kelompok alirannya yaitu sekte Alawite32 untuk menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan terutama dalam

militer. Hafez al-Assad membangun sebuah sistem politik yang menempatkan tentara sebagai simbol kekuasaan maupun alat untuk mengontrol negara. Dalam beberapa kesempatan, tentara digunakan untuk menekan atau menghadapi rakyat dengan kekerasan demi mempertahankan dan menjaga kekuasaannya. Di masanya juga terdapat sekitar 15 dinas intelijen dengan ribuan anggota yang terselubung dan berbaur di masyarakat, guna mengamankan dan keefektifan stabilitas politik.33

Tahun 1973, Hafez al-Assad mengubah Konstitusi Suriah di antaranya membolehkan non-Muslim menjadi Presiden. Sesuatu yang kemudian memulai perlawanan resmi kelompok oposisi Ikhwanul Muslimin terhadap rezim Hafez

al-29Ibid. hal. 42 30Ibid. hal. 42-43 31Ibid. hal. 43-44

32 Sekte Alawite/Alawiyah adalah sekte minoritas di Suriah yaitu sekitar 12 persen dari 26 juta penduduknya.

Alawiyah atau juga bisa disebut Nussairiyah merupakan pecahan Syiah-Ismailiyah. Islam Alawiyah tidak memiliki masjid, tidak shalat lima waktu, dan tidak menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Keluarga al-Assad ini berasal dari Islam Alawiyah.

(12)

Assad pada 1976. Klimaksnya adalah penumpasan Ikhwanul Muslimin yang diselesaikan dengan operasi militer dan intelijen besar-besaran atas kota Hama pada tahun 1982 yang memakan korban antara 10 ribu sampai 25 ribu Muslimin Sunni.34

Dari peristiwa ini, dikeluarkan Undang-Undang Pidana Nomor 49 yang melarang keanggotaan Ikhwanul Muslimin dengan ancaman hukuman mati.35

Selama berkuasa, Hafez al-Assad terus berusaha melawan dominasi Israel dan menghukum negara-negara Arab moderat karena pro-Barat. Ketika Perang Irak-Iran pada 1980-1988, tak seperti negara-negara Arab lainnya yang mendukung Irak, ia berbalik mendukung Iran sehingga hubungan keduanya semakin erat.36 Pun ketika

Perang Dingin, ia melawan arus dengan mendukung Uni Soviet karena anti-imperialis Barat. Tindakan ini membuahkan banyak bantuan persenjataan dari Uni Soviet ke Suriah, serta didatangkannya para profesional dalam bidang militer ke Suriah untuk melatih angkatan bersenjata Suriah. Tidak hanya itu, Uni Soviet pun membangun satu-satunya pangkalan militer di Laut Tengah yaitu di Pelabuhan Tartus, Suriah.37

Rezim Hafez al-Assad dibangun di atas empat pilar: pertama, kekuasaan di tangan klan al-Assad; kedua, mempersatukan kaum minoritas Alawite; ketiga, mengontrol seluruh aparatur militer-intelijen; dan keempat, monopoli Partai Ba’ath atas sistem politik. Empat pilar itu diperkokoh dengan diberlakukannya undang-undang darurat yang ditujukan untuk meredam dan menekan kekuatan-kekuatan lain terutama kekuatan politik yang akan muncul.38

Kepemimpinan Hafez al-Assad yang cenderung otoriter membuat beberapa kelompok oposisi yang menentang rezimnya bermunculan. Terdapat pula usaha perlawanan terhadap rezimnya dari kalangan keluarga sendiri. Perlawanan tersebut dilancarkan pada 1983, oleh saudara laki-laki Hafez al-Assad, yaitu Rifaat al-Assad, ketika Hafez al-Assad menderita serangan jantung. Situasi itu dimanfaatkan oleh

34 Cholis Akbar, Op.Cit. 35 Trias Kuncahyono, Log.Cit. 36Ibid. hal. 188

(13)

Rifaat untuk melakukan kudeta dengan dukungan militer. Akan tetapi aksi perebutan kekuasaan tersebut berhasil digagalkan dan Rifaat diasingkan ke Prancis.39

Hafez al-Assad menjabat sebagai Presiden Suriah selama 29 tahun. Pada 10 Juni 2000, ia meninggal karena penyakit jantung yang telah lama diderita, serta penyakit limfoma dan ginjal.40

2.3.2. Pemerintahan Bashar al-Assad

Jauh sebelum Hafez al-Assad meninggal dunia, yaitu ketika kondisi kesehatannya mulai merosot, Hafez al-Assad telah mempersiapkan Basil al-Assad, anak laki-laki tertuanya sebagai calon penggantinya. Akan tetapi, Basil al-Assad meninggal dalam kecelakaan mobil pada tahun 1994.41 Kematian Basil Assad membuat Bashar

al-Assad, dokter ahli opthalmologi yang tengah mengambil studi postgraduate di

Western Eye Hospital, London, Inggris dipanggil pulang.42 Bashar al-Assad kemudian

ditunjuk untuk menggantikan posisi Basil al-Assad. Ia kemudian dilibatkan dalam kepengurusan Partai Ba’ath dan diberi kekuasaan. Selain itu, ia diangkat menjadi Komandan Divisi Kendaraan Lapis Baja Angkatan Darat Suriah.43 Kariernya di

militer melaju cepat, masuk akademi militer di Homs pada 1994, dan pada tahun 1999 sudah berpangkat kolonel. Dan dalam waktu singkat pangkatnya naik menjadi setara dengan brigadier jenderal pada 2000.44

Pada 1998, ia telah dipercaya menduduki jabatan penting dalam menangani semua masalah Lebanon, negara tetangga yang telah lama diintervensi oleh Suriah. Dengan jabatan itu, Bashar al-Assad mulai membangun basis kekuatan baik di pemerintah, Partai Ba’ath, maupun di militer.45 Penunjukan Bashar al-Assad sebagai

calon pengganti Hafez al-Assad menuai banyak kritikan oleh sejumlah tokoh senior di pemerintahan yang memiliki kapabilitas sebagai pengganti Hafez al-Assad. Selain itu juga bertentangan dengan sistem Suriah yang berupa negara republik, dan bukan

(14)

negara monarki. Sejumlah tokoh yang loyal terhadap Hafez al-Assad dan sebetulnya cukup pantas menggantikannya sebagai presiden terbentur oleh suatu hal, yaitu mereka beraliran Sunni dan bukan Alawite.46

Sehari setelah meninggalnya Hafez al-Assad, Partai Ba’ath yang berkuasa mengunggulkan Bashar al-Assad sebagai satu-satunya calon presiden, karena tidak ada kandidat lain. Majelis Nasional pun telah mengamandemen Pasal 83 dalam Konstitusi Suriah untuk memberikan jalan bagi Bashar al-Assad menjadi presiden. Konstitusi menetapkan bahwa usia minimum seseorang yang dicalonkan untuk menjadi presiden adalah 40 tahun. Usia Bashar al-Assad yang saat itu baru berumur 34 tahun bertentangan dengan konstitusi. Karenanya, para anggota parlemen mengamandemen konstitusi tersebut dengan mengubah batas minimum usia kandidat presiden menjadi 34 tahun.47

Pada 24 Juni 2000, Partai Ba’ath mengadakan Kongres Nasional Kesembilan yang beragendakan pemilihan Sekretaris Jenderal Partai Ba’ath yang baru. Kandidatnya hanya satu yaitu Bashar al-Assad dan ia pun terpilih sebagai Sekretaris Jenderal. Dengan demikian, langkah untuk menuju kursi tertinggi dan terkuasa di Suriah tercapai.48

Tampilnya Bashar al-Assad sebagai pemimpin baru Suriah, yang semula diragukan kemampuannya terlebih karena kurang memiliki pengalaman politik, justru kemudian diharapkan membawa perubahan besar bagi kehidupan di Suriah. Hal ini disebabkan oleh latar belakang pendidikan Barat serta pandangan-pandangan independen yang dimiliki oleh Bashar. Ia melancarkan pembaharuan dalam wajib militer, melancarkan reformasi politik dengan membebaskan para tahanan politik dan para pemimpin Ikhwanul Muslimin, serta secara bertahap memulihkan kebebasan berbicara.49

Gagasan mengenai kebebasan berbicara kemudian mendorong munculnya kelompok-kelompok intelektual yang mendesak perlunya reformasi demokratik.

46Ibid. hal. 57 47Ibid. hal. 59 48Ibid.

(15)

Forum-forum sosial, politik, dan budaya mulai menjamur dan mengusung agenda perubahan demokratik dan liberal. Gerakan ini kemudian disebut dengan “Damascus Spring”.50

Akan tetapi, semangat Damascus Spring ini terputus pada 2001, dengan ditutupnya kembali kebebasan berbicara tersebut oleh Bashar al-Assad dengan alasan yang tidak jelas. Salah satu kemungkinan alasan diakhirinya Damascus Spring

dengan singkat, karena pada saat bersamaan, pecah gerakan Intifadha di Palestina. Usulan yang diusung oleh para intelektual dalam Damascus Spring adalah gagasan-gagasan Barat, suatu hal yang bertentangan dengan rezim al-Assad yang anti-Barat dan anti-Israel.51

Tahun 2005, Bashar memperkenalkan reformasi ekonomi yang disebut “ekonomi pasar sosial” yang mengalihkan perekonomian yang dikelola oleh pemerintah menjadi perekonomian yang liberal. Hal ini disebabkan oleh kondisi ekonomi yang sejak 1980-an mengalami penurunan dan stagnasi pada 1990-an. Liberalisasi ekonomi memang memberikan perubahan, akan tetapi kemakmuran hanya dirasakan oleh sejumlah kota besar seperti Damaskus dan Aleppo, tidak merata ke kota-kota lain.52

Citra Bashar al-Assad yang semula diyakini akan membawa perubahan bergeser menjadi sosok kepanjangan tangan ayahnya yang otoriter. Empat pilar yang menopang kekuasaan Hafez al-Assad pada masa pemerintahannya tetap menetap pada pemerintahan Bashar al-Assad. Seperti ayahnya, Bashar al-Assad tetap memberlakukan undang-undang darurat, meskipun menjanjikan pembaharuan dalam politik maupun ekonomi.53 Bashar al-Assad pun turut menekan dan menindas

kelompok-kelompok yang berseberangan dengannya. Setelah ditutupnya semangat

Damascus Spring, rezim memerintahkan agar forum-forum di seluruh Suriah ditutup. Bahkan sejumlah aktivis dari kubu reformis yang bersuara lantang mengkritik

(16)

pemerintah dipenjara.54 Pada 2004, Bashar al-Assad mengerahkan kekuatan militer

untuk menumpas protes kelompok oposisi dari etnis Kurdi.55

2.4. Gejolak di Suriah

Kejadian bakar diri yang dilakukan oleh Hasan Ali Akhleh, seorang penduduk al-Hasaka, Suriah timur-laut pada 26 Januari 2011, yang disebabkan oleh keputusasaan akan tekanan hidup, belum bisa menyalakan api revolusi seperti yang dilakukan oleh Mohammed Bouazizi, seorang pedagang buah dan sayur di Tunisia, yang tindakan bakar dirinya mampu memicu lahirnya perlawanan rakyat yang berakhir dengan tumbangnya pemerintahan Ben Ali di Tunisia.56

Awal Februari 2011, situs-situs sosial media baik di dalam maupun di luar Suriah menyerukan dilakukannya “Day of Rage”, demonstrasi besar-besaran di seluruh Suriah untuk menuntut pemerintah melakukan reformasi. Mereka berharap bahwa seruan Day of Rage akan berdampak seperti di Tunisia dan Mesir. Akan tetapi upaya ini diredam oleh aparat keamanan yang mengancam untuk tidak melakukan tindakan demonstrasi.57

Maret 2011 menjadi titik awal merebaknya musim semi yang tengah melanda Timur Tengah dan merembet ke Suriah. Musim semi itu dimulai di awal bulan Maret, ketika lima belas anak sekolah di Dara’a berusia remaja melakukan aksi membuat graffiti di dinding sekolah. Mereka menuliskan slogan revolusi yang diteriakkan oleh rakyat di Tunisia, Mesir, dan Libya, yaitu “Ashaab yoreed eskaat el nizam!”.58 Aksi anak-anak itu membuat

mukhabarat59 naik darah. Anak-anak tersebut kemudian dijebloskan ke dalam penjara dan

mendapat perlakuan yang tidak manusiawi.60

54Ibid. hal. 72 55Ibid. hal. 81 56Ibid. hal. 96 57Ibid. hal. 97

58 “Rakyat ingin menumbangkan rezim!”

59Mukhabarat adalah salah satu dinas intelijen dan keamanan Suriah yang bertugas untuk mengontrol, mengawasi

penduduk, dan mempertahankan rezim dari ancaman-ancaman yang muncul baik dari internal maupun eksternal Suriah.

(17)

Masyarakat Dara’a merespon kejadian penangkapan anak-anak itu dengan mendatangi rumah Gubernur Dara’a, Faisal Khaltoum, yang kemudian disambut dengan aparat keamanan yang menembakkan gas air mata. Sejumlah aparat keamanan juga menembaki para pemrotes.61 Akibat dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan,

jumlah massa yang memprotes semakin meluas dan berasal dari seluruh pelosok Dara’a.62

Aksi demonstrasi massa tersebut semakin berlanjut, dan tuntutan bukan hanya sebatas pembebasan anak-anak tersebut saja, tetapi juga tuntutan untuk menindak korupsi serta tuntutan untuk kebebasan berpolitik. Demonstrasi tersebut terjadi pada 18 Maret 2011 di Dara’a yang seperti demonstrasi pertama, disambut dengan tembakan oleh aparat keamanan. Dari demonstrasi tersebut, tiga korban jatuh dan berdampak kepada semakin membesarnya volume demonstrasi massa.63

Demonstrasi tersebut kemudian mendapat respon dari pemerintah dan berujung kepada pembebasan lima belas anak tersebut. Akan tetapi, setelah anak-anak tersebut dipulangkan, para keluarga dan pimpinan suku kecewa dengan kondisi anak-anak dengan tubuh penuh bekas luka-luka. Kemarahan keluarga dan pemimpin suku mengobarkan demonstrasi yang lebih besar.64

Demonstrasi kemudian semakin meluas tidak hanya di Dara’a, tetapi juga di Homs, Banias, Damaskus, Douma, Mouddamiyeh, Nawa, Al-Tall, Hama, Aleppo, Idlib, Latakiya, Deir er-Zor, dan Qamishly.65 Masyarakat mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan

oleh aparat keamanan terhadap para demonstran, mereka juga menuntut pencabutan undang-undang darurat. Pemerintah Suriah akhirnya menyetujui untuk mencabut Undang-Undang Keadaan Darurat pada April 2011. Pemerintah juga menghapuskan Mahkamah Keamanan Negara. Selama ini, mahkamah tersebut bekerja dalam menangani tahanan politik. Tak hanya itu, pemerintah juga menyetujui undang-undang baru yang memungkinkan hak untuk menggelar aksi protes damai. Namun, pihak Kementerian Dalam Negeri juga mengesahkan

61Ibid. hal. 117 62Ibid.

(18)

undang-undang yang berisi tentang warga negara harus memperoleh izin pihak berwenang untuk menggelar demonstrasi.66

Meski undang-undang darurat telah dicabut, akan tetapi tindakan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan, baik polisi maupun militer, tetap saja terjadi. Ratusan korban dari para demonstran telah jatuh. Mereka menuntut Presiden Bashar al-Assad untuk turun dari jabatannya.67

2.5. Antara Syrian Arab Army (SAA) dan Kelompok Oposisi

Telah dikemukakan di atas bahwasanya rezim al-Assad menempatkan orang-orang dari sekte Alawite___yang merupakan sekte yang diikuti oleh keluarga al-Assad___untuk

memegang posisi dan jabatan-jabatan penting baik di pemerintahan maupun militer. Kaum Alawite menguasai militer di Suriah secara menyeluruh. Dari 200.000 tentara karier di militer Suriah, sekitar 70 persen adalah Alawite. Sekitar 80 persen perwira dalam tubuh militer adalah Alawite.68

Divisi paling elit di militer Suriah, yaitu Garda Republik, dipimpin oleh adik laki-laki Bashar al-Assad, yakni Maher al-Assad. Semua anggota di Garda Republik merupakan Alawite.69 Meski sebagian besar tentara merupakan orang-orang Sunni, tetapi kaum Alawite

yang berkuasa memegang komando. Sehingga militer Suriah berada dalam hegemoni kaum minoritas Alawite.

Syrian Arab Army (SAA) merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata Suriah, yang merupakan kubu militer pro-rezim, yang ketika aksi demonstrasi marak terjadi di Suriah,

66 Jaenal Abidin, Suriah Umumkan Pencabutan UU Keadaan Darurat, 20 April 2011, dikutip dari

http://news.liputan6.com/read/330612/suriah-umumkan-pencabutan-uu-keadaan-darurat diakses 2 Juli 2013

67Jumat, 6 Mei 2011, pecah demonstrasi di seluruh Suriah yang disebut sebagai “Friday of Defiance”. Sekitar 30.000

orang mengikuti demonstrasi di Damaskus, 3.000 orang di Qamishly, 5000 orang di Deir Ez-Zor, 10.000 orang di Homs. Mereka menolak intervensi pasukan keamanan (polisi dan militer) serta menginginkan intervensi dari komunitas internasional untuk menghentikan pertumpahan darah. Organisasi Nasional Urusan Hak-Hak Asasi Manusia di Suriah pada 23 Mei 2011 mencatat korban demonstrasi diperkirakan 1.100 orang tewas dan hampir 4000 orang cacat permanen. Selebihnya lihat Trias Kuncahyono, Op.Cit. hal. 124-130

68Ibid. hal. 85

(19)

bertugas untuk meredam perlawanan kelompok oposisi dari pihak masyarakat maupun organisasi-organisai pro-reformasi.

Sementara kelompok oposisi terdiri dari berbagai macam kalangan, antara lain kalangan massa yang secara spontanitas melakukan demonstrasi, para aktivis bibit-bibit dari

Damascus Spring yang ditutup pada 2001, kelompok-kelompok pro-demokrasi, pro-hak asasi manusia, dan kelompok-kelompok media, serta kalangan oposisi tradisional, yaitu dari kalangan etnis Kurdi, para pemimpin suku, para politisi yang membelot, dan Ikhwanul Muslimin___meski tidak secara langsung turun ke lapangan karena merupakan kelompok

atau partai yang terlarang di Suriah.70

Terdapat pula kelompok-kelompok dan individu-individu sekular yang terasing yaitu Dewan Nasional Suriah (Syrian National Council) dan berubah namanya pada tahun 2012 menjadi Koalisi Nasional Suriah (Syrian National Coalition), yang didukung oleh Barat. Koalisi ini diakui sebagai perwakilan resmi oposisi Suriah.71

Selain itu, banyak pula para tentara yang membelot dari Syrian Arab Army dan berbalik menyerang rezim al-Assad. Mereka ini kemudian membentuk Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army). Pemimpin entitas ini adalah pembelot pertama dari tentara Suriah, yakni Kolonel Riad Assad.72 Antara Free Syrian Army dan Syrian National Coalition telah

ada kesepakatan dalam koordinasi gerakan. FSA telah setuju untuk mengikuti jalur perjuangan politik yang ditentukan SNC, serta sepakat menjalankan fungsi pertahanan dan perlindungan warga sipil. Tugas FSA adalah melindungi rakyat dan mencegah kemungkinan terjadinya konflik di antara faksi dengan mengirimkan tentara ke wilayah konflik.73

70 James L Gevlin, The Arab Uprisings, What Everyone Needs to Know, Oxford University Press, 2012, dalam Trias

Kuncahyono, Ibid. hal. 158-160

71 NN, Siapakah Oposisi Suriah?, 6 April 2013, dikutip dari

http://detikislam.com/tsaqofah/analisis/siapakah-oposisi-suriah/ diakses 2 Juli 2013

72Ibid.

73 NN, Oposisi dan Tentara Pembelot Bersatu, 2 Desember 2011, dikutip dari

(20)

BAB III ANALISA

Terdapat beberapa hal menarik yang perlu dikaji dari keadaan politik di Suriah, antara lain peran suatu partai yang sangat dominan dan menjadi suatu kekuasaan tertinggi di Suriah. Partai tersebut adalah Partai Ba’ath, yang mendominasi kekuasaan di Suriah sejak kudeta tahun 1963. Dari partai tersebut, barulah dapat dirunut posisi-posisi penting lain dalam pemerintahan Suriah.

Dalam paparan di atas, telah pula dijelaskan bahwa tentara memiliki peranan penting dalam pemerintahan, maupun dalam setiap perubahan pemerintahan. Hal ini dapat dimaknai bahwasanya ada intervensi militer yang sangat jelas dalam pemerintahan Suriah. Rezim Hafez al-Assad sejak kudeta 1970, merupakan sebuah rezim yang dibayang-bayangi oleh hegemoni Partai Ba’ath dan juga militer. Latar belakang Hafez al-Assad sebagai seorang militer tulen yang terjun ke dunia politik melalui Partai Ba’ath, dengan demikian ia adalah orang partai sekaligus militer.

Sebuah hal yang patut diperhitungkan dari Hafez al-Assad dalam menjalankan pemerintahnnya, tak hanya melalui Partai Ba’ath, ia menjadikan militer sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Lebih dari pada itu, keselamatan rezimnya juga dibantu oleh peran-peran kaum Alawite, yang ditunjuk sebagai pemegang roda-roda pemerintahan. Fenomena ini sama dengan pemerintahan Irak era Saddam Hussein, yang menempatkan orang-orang sekte Sunni___yaitu sekte alirannya___di tempat-tempat strategis kekuasaan. Hal ini menjadi suatu upaya

yang cukup cerdik untuk meminimalisir oknum-oknum yang akan membelot dari rezimnya. Lebih dari pada itu, pengangkatan Bashar Assad secara aklamasi sebagai pengganti Hafez al-Assad juga sebuah upaya agar rezim militer, dengan ditopang oleh Partai Ba’ath dan juga sekte Alawite, tidak tergoyahkan. Rezim militer yang berjalan di Suriah merupakan cerminan dari level intervensi militer supplantment, salah satu level intervensi militer yang dikemukakan oleh S.E. Finer.

(21)

Suriah. Apa yang tengah terjadi di Tunisia, Mesir, dan Libya perlahan-lahan memunculkan keberanian dalam rakyat Suriah untuk berusaha keluar dari kekangan rezim yang telah beberapa dekade berkuasa serta memberlakukan undang-undang darurat yang mempersempit ruang demokrasi rakyat. Apa yang terjadi di Suriah bukan sebatas dampak dari efek domino musim semi yang melanda Timur Tengah, tetapi lebih kepada faktor sempitnya kebebasan politik dan sosial yang menekan rakyat Suriah selama puluhan tahun. Tindakan penumpasan Ikhwanul Muslimin pada 1982 tidak memberangus upaya rakyat untuk menuntut perubahan dalam tubuh rezim, tetapi menjadi sebuah bom waktu yang suatu saat akan meledak. Dan ledakan tersebut telah dimulai sejak 2011 lalu.

Sebagai sebuah negara dengan rezim pemerintahan militer, angkatan bersenjata Suriah dikenal sebagai salah satu angkatan bersenjata yang patut diperhitungkan. Militer Suriah pun memenuhi karakteristik sebagai militer modern yang dikemukakan S.E. Finer. Posisi tentara Suriah jelas berada di bawah komando Bashar al-Assad, sebagai Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Suriah dan ada di bawah hegemoni kaum Alawite. Kedisiplinan militer Suriah tercermin oleh kesetiaan Syrian Arab Army sebagai angkatan bersenjata pro-rezim. Selain itu, ikatan kuat yang yang terjalin disebabkan oleh kesamaan ideologi Alawite bagi para penguasa militer, meski tidak menampik ada pula sejumlah tentara yang membelot dari rezim dan berafiliasi membentuk tentara perlawanan yang dinamakan Free Syrian Army.

Militer di Suriah juga menerapkan profesionalisme militer baru, yang tidak lagi bersifat konvensional yang dibuktikan dengan kurangnya supremasi sipil di Suriah, oleh karena rezim militer yang dijalankan selama beberapa dekade. Militer sebagai alat pertahanan negara yang mewaspadai bentuk-bentuk ancaman baik yang bersifat eksternal maupun internal. Hal ini juga dibuktikan dengan respon yang diberikan oleh militer atas gerakan demonstrasi menentang pemerintah. Suatu hal yang menarik bahwasanya tingkat kesetiaan kepada rezim dengan hegemoni Alawite ini yang menjadi pembeda antara Suriah dengan Tunisia, Mesir, dan Libya.

(22)

bukan hanya sebagai alat penopang kelanggengan dan kepentingan rezim, tetapi sudah menyatu dengan rezim itu sendiri. Hafez al-Assad adalah seorang militer tulen yang kemudian larut dalam masalah politik. Dan meski Bashar al-Assad bukan seorang militer tulen, tetapi terdapat di Garda Republik, sebuah divisi elite di militer, adik laki-lakinya memegang kekuasaan di sana. Dengan demikian, bukan tidak mungkin militer dijadikan sebagai instrumen kelanggengan rezim penguasa, yaitu rezim al-Assad dan rezim Alawite.

Ideologi Pan-Arabisme yang tercermin dari Partai Ba’ath sebagai suatu bentuk nasionalisme Arab juga amat dijaga oleh rezim al-Assad. Tekad al-Assad maupun Partai Ba’ath menjadikan Suriah sebagai kiblat nasionalisme Arab yang tidak tunduk kepada imperialisme Barat maupun Zionisme Israel kemudian menjadi alasan lain dibutuhkannya peran militer dalam upaya realisasi tekad tersebut. Untuk itulah, militer dijadikan sebagai gerbang utama penjaga rezim___dan juga partai___agar keduanya tidak mudah digulingkan.

(23)

BAB IV KESIMPULAN

Rezim al-Assad yang telah berlangsung sejak 1970 hingga sekarang, ditopang oleh tiga kekuatan besar: Partai Ba’ath, militer, dan sekte Alawite (meski berjumlah minoritas tetapi menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan maupun militer). Kepemimpinan tangan besi oleh rezim al-Assad telah lama menimbulkan pertentangan. Hambatan pertama terjadi pada 1976, di mana perlawanan Ikhwanul Muslimin akan rezim hingga akhirnya dapat dilumpuhkan pada 1982. Sementara hambatan kali ini, bukan saja merupakan efek domino atas musim semi yang melanda Tunisia, Mesir, dan Libya, tetapi juga bom waktu yang telah sekian lama tersimpan akibat sempitnya kebebasan berbicara dan politik rakyat Suriah.

Militer dijadikan sebuah alat untuk menopang kelanggengan rezim, bukan hanya karena rezim militer yang dijalankan al-Assad, tetapi juga untuk penjaga ideologi nasionalisme Arab agar tidak goyah oleh Barat. Selain itu, keberhasilan hegemoni Alawite dalam komando militer menjadikan Syrian Arab Army sebagai suatu angkatan bersenjata yang loyal terhadap rezim.

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Literatur:

Abraham F. Lowenthal (ed.), Armies and Politics in Latin America, Holmes & Meier, New York, 1976,

George Lenczowski, Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 1992

Harwanto Dahlan, Politik dan Pemerintahan Timur Tengah, Diklat Kuliah, UMY, 1995, hal 109

James L Gevlin, The Arab Uprisings, What Everyone Needs to Know, Oxford University Press, 2012

S.E. Finer, The Man on Horseback, The Role of The Military in Politics, Frederick A. Praeger, Inc., Publisher, New York, 1962

Trias Kuncahyono, Musim Semi di Suriah, Anak-Anak Sekolah Penyulut Revolusi, Penerbit Buku Kompas, 2012

Internet:

Cholis Akbar, Lembar Putih Suriah: Lembar Fakta Krisis Kemanusiaan, 27 Februari 2013, dikutip dari http://www.hidayatullah.com/read/27458/27/02/2013/lembar-putih-suriah:-lembar-fakta-krisis-kemanusiaan-suriah.html diakses 30 Juni 2013

Hendrajit, Analis Senior Eksekutif Global Future Institute, Membaca Langkah Terbaru Amerika dan Inggris di Suriah, 17 Juni 2013 dikutip dari:http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=12339&type=101 diakses 30 Juni 2013

(25)

Khairisa Feirida, Sejarah Awal Suriah, 18 Agustus 2012 dikutip dari http://international.okezone.com/read/2012/08/16/412/678735/sejarah-awal-suriah diakses 30 Juni 2013

Mashadi, Sejarah Pembrontakan Terhadap Rezim Alawiyin Suriah, 19 April 2011, dikutip dari http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/sejarah-pembrontakan-terhadap-rezim-alawiyin-suriah.htm diakses 2 Juli 2013

Masykur A. Baddal, Miris, Mengapa Arab Ramai-ramai Memusuhi Suriah?, 12 Februari 2012, dikutip dari http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/02/11/miris-mengapa-arab-ramai-ramai-memusuhi-suriah-438416.html diakses 30 Juni 2013

NN, Oposisi dan Tentara Pembelot Bersatu, 2 Desember 2011, dikutip dari http://tekno.kompas.com/read/2011/12/02/03071783/.oposisi.dan.tentara.pembelot.bersatu

diakses 2 Juli 2013

NN, Siapakah Oposisi Suriah?, 6 April 2013, dikutip dari http://detikislam.com/tsaqofah/analisis/siapakah-oposisi-suriah/ diakses 2 Juli 2013

Prayitno Ramelan, Konflik Suriah, Sebuah Pelajaran dalam Berbangsa dan Bernegara, 9 Agustus 2012, dikutip dari http://politik.kompasiana.com/2012/08/10/konflik-suriah-sebuah-pelajaran-dalam-berbangsa-dan-bernegara-484775.html, diakses 30 Maret 2013

Zuhairi Misrawi, Drama Musim Semi di Suriah, 13 Januari 2013, dikutip dari http://internasional.kompas.com/read/2013/01/13/0321582/Drama.Musim.Semi.di.Suriah,

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan seluruh pengertian di atas diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud disiplin belajar adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses usaha yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intellectual capital disclosure dan elemen intellectual capital (human capital, structural capital, dan relational

CONCLUSION Compare to the classical Clarke-Wright Saving Algorithm, the proposed algorithm Adjusted Clustering – CWSA (scheme three) is well performed in term of computational

Kapasitas tukar kation terhadap unsur logam di dalam tanah berhubungan dengan kandungan asam humat dan fulvat yang merupakan polimer dari asam- asam lemah dimana satu

Beberapa saran yang dapat peneliti sam- paikan untuk peningkatan kualitas pembelajaran Matematika adalah: (1) bagi siswa; aplikasi GeoGebra pada materi Teorema

Pada tahap observasi, secara garis besar keadaan kelas pada siklus II adalah: (1) pada fase 1 peneliti dapat menguasai kelas sehingga siswa tidak ramai sendiri

Pada siklus II, siswa sudah mulai aktif bekerja kelompok, hal ini dapat dilihat dari keseriusan siswa saat diskusi baik di kelompok ahli maupun di kelompok asal ,

Bentuk akar atau umbi untuk pengamatan tiap varietas dibedakan menjadi empat skor yaitu skor 1 berbentuk Conical, Skor 2 berbentuk Conical- Cylindrical, Skor 3