DAN SDIT IHSANUL FIKRI KOTA MAGELANG)
Oleh
oleh
MUFLIHATUTH THOHIROH
NIM. M1.11.014
Tesis diajukan sebagai pelengkap persyaratan
untuk gelar Magister Pendidikan Islam
PROGRAM PASCASARJANA
ii
LEMBAR PERSETUJUAN TESIS
Nama : MUFLIHATUTH THOHIROH
NIM : M1.11.014
Program Studi : Program Pascasarjana Konsentrasi : Pendidikan Agama Islam Tanggal Ujian : 30 September 2013
Judul : IMPLEMENTASI MULTIPLE INTELLIGENCES
DALAM PEMBELAJARAN PADA SD BERBASIS
ISLAM DI KOTA MAGELANG (STUDI KASUS DI SD
MUHAMMADIYAH 1 ALTERNATIF DAN SDIT
IHSANUL FIKRI KOTA MAGELANG)
iv
cerdas hanya terbatas pada IQ saja. Penggalian kecerdasan peserta didik masih sangat jarang dilakukan sebagai sandaran utama untuk mengawali setiap rancangan pembelajaran. Kecenderungan minat, bakat, talenta dan ketrampilan dasar belum menjadi bagian yang integral. Dalam teori Gardner (multiple intelligences) yang mengembangkan 9 kecerdasan, pendidik dapat menumbuh kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh. Konsep multiple intelligences yang menitik beratkan pada ranah keunikan selalu menemukan kelebihan setiap anak.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil lokasi SD Muhammadiyah 1 Alternatif dan SDIT Ihsanul Fikri kota Magelang. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Teknik sampling yang digunakan adalah sampel bertujuan (purposive sample). Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan langkah: reduksi data, display data dan pengambilan kesimpulan dengan metode induktif. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan cara mengadakan triangulasi metode yang dikumpulkan data-data dari hasil wawancara yang dibuktikan dengan observasi dan juga dokumentasi.
v
Excavation intelligence learners are still very rarely done as mainstays to start each lesson plan. Interest inventories, aptitude, talent and skills base has not become an integral part. In theory Gardner (multiple intelligences) that develops 9 intelligence, educators can cultivate student achievement overall. The concept of multiple intelligences which focuses on the areas of uniqueness always find an excess of each child.
This study is a qualitative research, by taking the location of SD Muhammadiyah 1 Alternative and SDIT Ihsanul Fikri Magelang. The data was collected by conducting in-depth interviews, observation, and documentation. The sampling technique used is intended sample (purposive sample). Data analysis was performed using qualitative descriptive analysis steps: data reduction, data and conclusions diplay the inductive method. Examination of the validity of the data is done by holding the triangulation method of data collected from interviews as evidenced by observation and documentation.
vi
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menuntaskan penulisan tesis yang berjudul: "IMPLEMENTASI MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM
PEMBELAJARAN PADA SD BERBASIS ISLAM DI KOTA MAGELANG (STUDI KASUS DI SD MUHAMMADIYAH 1 ALTERNATIF DAN SDIT IHSANUL FIKRI KOTA MAGELANG)."
Penulisan tesis ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan untuk gelar
Magister Pendidikan Islam pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga.
Terealisasinya penulisan tesis ini tidak terlepas dari bantuan serta dorongan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Iman Sutomo, M.Ag, selaku ketua STAIN Salatiga.
2. Bapak Dr. H. Sa’adi, M.Ag. selaku Direktur Program Pascasarjana STAIN
Salatiga.
3. Bapak Prof. Dr. H. Budihardjo, M.Ag. selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan motivasinya.
4. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan motivasinya.
vii
Magelang yang telah memberikan ijin penelitian.
8. Ayah Ibu tercinta yang telah memberikan doa dan restu.
9. Suamiku tercinta yang telah memberikan motivasi baik materiil maupun spirituil. 10.Rekan-rekan semua yang telah membantu dalam penulisan tesis ini.
11.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis berharap semoga tesis ini dapat memberikan tambahan informasi serta
masukan yang berharga baik bagi penulis maupun bagi semua pihak yang berkepentingan.
Salatiga, 14 September 2013
viii
C. Signifikansi Penelitian ……….………... 7
1. Tujuan Penelitian ……….. ……… 7
2. Manfaat Penelitian ……… ……….. ……. 8
D. Sistematika Penulisan ….……….. 9
BAB II LANDASAN TEORI ………..……… 10
A. Kajian Terdahulu ……… .………….………….…... 10
B. Konsep Multiple Intelligences .………….………….…... 13
1. Teori Multiple Intelligences ………..……… 13
2. Jenis-jenis Multiple Intelligences ……….. …… 20
C. Perkembangan Perilaku Anak Usia SD ………. 28
1. Perkembangan Fisik Usia SD…….……… 28
2. Perkembangan Motorik Usia SD……… 29
3. Perkembangan Kognitif Usia SD………..……. 30
4. Sikap dan Perilaku Moral Usia SD..………. …………. 32
5. Perkembangan Kreativitas Usia SD………. …………. 32
D. Multiple Intelligences pada sekolah berbasis Islam.…….. 33
1. Reorientasi Kerangka Dasar Filosofis dan Teoritis ….. 34
2. Misi dan Visi Pendidikan Islam .……. ………. 35
3. Tujuan Pendidikan Islam ………. …………. 37
4. Strategi Pendidikan Islam ………. …………. 37
5. Reorientasi Kurikulum Pendidikan Islam ………….…. 39
6. Reorientasi Metodologi Pendidikan Islam ………. 39
E. Implementasi Multiple Intelligences………..… 40
1. Strategi Pembelajaran ………..….. 42
2. Pembelajaran berbasis Multiple intelligences…………. 47
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ………...….. 72
A. Metode Penelitian……… 72
1. Jenis Penelitian……… ….. 72
2. Lokasi Penelitian……… .……. ………. 73
ix
A. Deskripsi Subyek Penelitian……… 95
1. SD Muhammadiyah 1 Alternatif Kota Magelang… ….. 95
2. SDIT Ihsanul Fikri Kota Magelang.…. ………. 108
B. Penyajian dan Analisis Data……… 116
1. Pemahaman Mengenai Multiple Intelligences oleh kepala sekolah dan guru……… ……….………. ……. 116
a. SD Muhammadiyah 1 Alternatif Kota Magelang… ….. 117
b. SDIT Ihsanul Fikri Kota Magelang.…. ………. 122
2. Kerangka Konseptual Implementasi Multiple Intelligences 127 a. SD Muhammadiyah 1 Alternatif Kota Magelang… ….. 128
b. SDIT Ihsanul Fikri Kota Magelang.…. ………. 133
3. Implementasi Multiple Intelligences dalam Pembelajaran 136 a. SD Muhammadiyah 1 Alternatif Kota Magelang… ….. 136
b. SDIT Ihsanul Fikri Kota Magelang.…. ………. 149
4. Respon Siswa dan Orang tua Siswa terhadap Implementasi Multiple Intelligences di Sekolah……….. 170
a. SD Muhammadiyah 1 Alternatif Kota Magelang… ….. 170
b. SDIT Ihsanul Fikri Kota Magelang.…. ………. 175
5. Dampak Implementasi Multiple Intelligences pada Pembelajaran terhadap Prestasi dan Kepribadian Siswa… 180 a. SD Muhammadiyah 1 Alternatif Kota Magelang… ….. 180
b. SDIT Ihsanul Fikri Kota Magelang.…. ………. 188
x
TABEL 3.1 Desain Penelitian ... 88
TABEL 3.2 Panduan Wawancara ... 90
TABEL 3.3 Panduan Observasi ... 91
TABEL 3.4 Panduan Dokumen ... 91
TABEL 4.1 Data Kepegawaian SD Muhammadiyah 1 Alternatif ... 98
TABEL 4.2 Daftar Guru SD Muhammadiyah 1 Alternatif ... 99
TABEL 4.3 Keadaan Siswa SD Muhammadiyah 1 Alternatif ... 101
TABEL 4.4 Nilai Ujian Akhir Sekolah SD Muhammadiyah 1 Alternatif... 101
TABEL 4.5 Sarana Prasarana SD Muhammadiyah 1 Alternatif ... 103
TABEL 4.6 Inventaris Buku Perpustakaan SD Muhammadiyah 1 Alternatif ... 104 TABEL 4.7 Data Kepegawaian SDIT Ihsanul Fikri...……….. 108
TABEL 4.8 Daftar Guru SDIT Ihsanul Fikri...……….... 109
TABEL 4.9 Keadaan Siswa SDIT Ihsanul Fikri…..…………... 112
TABEL 4.10 Sarana Prasarana SDIT Ihsanul Fikri……… 112
TABEL 4.11 Prestasi Lomba SD Muhammadiyah 1 Alternatif………. 181
TABEL 4.12 Prestasi Lomba SDIT Ihsanul Fikri………... 186
TABEL 4.13 Pemahaman Mengenai Multiple Intelligences……… 188
xi
xii
1. Pihak Sekolah :
a. Salamun, S.Ag, M.Pd.I : W.M.1.a b. Mustaqim, M. Pd. : W.M.1.b c. Wati Prihayanti, M.Pd. : W.M.1.c d. Luqman Novianto, S.Pd.I : W.M.1.d
2. Pihak Orang Tua
a. Didik Kurniawan : W.M.2.a
b. Arba’in : W.M.2.b
c. Sri Hastuti Ekowati : W.M.2.c 3. Siswa
a. Alfiana Nur Fadhilah : W.M.3.a b. Fahriza Rifandi Medistra : W.M.3.b c. Raihan Musthafa Armayadi : W.M.3.c SDIT Ihsanul Fikri (T)
1. Pihak Sekolah :
a. Abdul Rozak Sidik, S. Pd.I : W.T.1.a b. Emma Rifa Rahayu, SE : W.T.1.b c. Rida Rahmawati Rahayu, S.Psi : W.T.1.c d. Budi Utami, S.TP : W.T.1.d
2. Pihak Orang Tua
a. Bu Dewi : W.T.2.a
b. Umar Singgih : W.T.2.b
xiii
d. Arda Setyo Wibowo : W.T.3.d
Observasi (O):
SD Muhammadiyah 1 Alternatif (M) 1. Pembelajaran Intrakurikuler :
a. Kegiatan harian : O.M.1.a b. Kelas 2 Nabi Ibrahim : O.M.1.b c. Kelas 2 Nabi Ismail : O.M.1.c d. Kelas 5 Nabi Daud : O.M.1.d
2. Pembelajaran Ekstrakurikuler
a. Marching Band : O.M.2.a
b. Sepak Bola : O.M.2.b
SDIT Ihsanul Fikri (T)
1. Pembelajaran Intrakurikuler :
a. Kegiatan harian : O.T.1.a
b. Kelas 5 D : O.T.1.b
c. Kelas 1 A : O.T.1.c
d. Kelas 3 A : O.T.1.d
2. Pembelajaran Ekstrakurikuler
a. Tartil : O.T.2.a
xiv
2. Sejarah Singkat dan Perkembangan SD Mutual : D.M.2 3. Visi, Misi dan Motto SD Mutual : D.M.3 4. Struktur Organisasi SD Mutual : D.M.4 5. Profil Guru Dan Karyawan SD Mutual : D.M.5 6. Keadaan siswa dan nilai ujian nasional SD Mutual : D.M.6 7. Keadaan Sarana Prasarana SD Mutual : D.M.7
8. Jadwal Harian : D.M.8
9. Jadwal Ekstrakurikuler : D.M.9
10.RPP : D.M.10
a. RPP 1 : D.M.10.a
b. RPP 2 : D.M.10.b
c. RPP 3 : D.M.10.c
11.Daftar Siswa : D.M.11
a. Kelas 2 Nabi Ibrahim : D.M.11.a
b. Kelas 2 Nabi Ismail : D.M.11.b
c. Kelas 5 Nabi Daud : D.M.11.c
12.Ekstrakurikuler : D.M.12
a. Marching Band : D.M.12.a
b. Sepak Bola : D.M.12.b
13.Nilai Raport : D.M.13
a. Alfiana Nur Fadhilah : D.M.13.a
b. Fahriza Rifandi Medistra : D.M.13.b c. Raihan Musthafa Armayadi : D.M.13.c
14.Daftar Kejuaraan : D.M.14
xv
3. Struktur Organisasi SDIT Ihsanul Fikri : D.T.3 4. Guru Dan Karyawan SDIT Ihsanul Fikri : D.T.4 5. Keadaan Siswa SDIT Ihsanul Fikri : D.T.5 6. Keadaan Sarana dan Prasarana SDIT Ihsanul Fikri : D.T.6
7. Jadwal Harian : D.T.7
8. Jadwal Ekstrakurikuler : D.T.8
9. RPP : D.T.9
a. RPP 1 : D.T.9.a
b. RPP 2 : D.T.9.b
c. RPP 3 : D.T.9.c
10.Daftar Siswa : D.T.10
a. Kelas 5 D : D. T.10.a
b. Kelas 3 A : D. T.10.b
c. Kelas 1 A : D. T.10.c
11.Ekstrakurikuler : D.T.11
a. Tartil : D.T.11.a
b. Story Telling : D.T.11.b
12.Nilai Raport : D.T.12
a. Maulana Aditya Wijaya : D.T.12.a
b. Kirana Dewi : D.T.12.b
c. Anissa Aristawati : D.T.12.c
d. Arda Setyo Wibowo : D.T.12.c
13.Daftar Kejuaraan : D.T.13
xvi LAMPIRAN 1 Catatan Wawancara W.M.1.a LAMPIRAN 2 Catatan Wawancara W.M.1.b LAMPIRAN 3 Catatan Wawancara W.M.1.c
LAMPIRAN 4 Catatan Wawancara W.M.1.d LAMPIRAN 5 Catatan Wawancara W.T.1.a LAMPIRAN 6 Catatan Wawancara W.T.1.b LAMPIRAN 7 Catatan Wawancara W.T.1.c
LAMPIRAN 8 Catatan Wawancara W.T.1.c LAMPIRAN 9 Catatan Wawancara W.M.3.a LAMPIRAN 10 Catatan Wawancara W.M.3.b
LAMPIRAN 11 Catatan Wawancara W.M.3.c LAMPIRAN 12 Catatan Wawancara W.T.3.a LAMPIRAN 13 Catatan Wawancara W.T.3.b
LAMPIRAN 14 Catatan Wawancara W.T.3.c LAMPIRAN 15 Catatan Wawancara W.T.3.d LAMPIRAN 16 Catatan Wawancara W.M.2.a LAMPIRAN 17 Catatan Wawancara W.M.2.b
xvii LAMPIRAN 23 Catatan Observasi O.M.1.b LAMPIRAN 24 Catatan Observasi O.M.1.c
LAMPIRAN 25 Catatan Observasi O.M.1.d LAMPIRAN 26 Catatan Observasi O.T.1.a LAMPIRAN 27 Catatan Observasi O.T.1.b LAMPIRAN 28 Catatan Observasi O.T.1.c
LAMPIRAN 29 Catatan Observasi O.T.1.d LAMPIRAN 30 Catatan Observasi O.M.2.a LAMPIRAN 31 Catatan Observasi O.M.2.b
LAMPIRAN 32 Catatan Observasi O.T.2.a LAMPIRAN 33 Catatan Observasi O.T.2.b
LAMPIRAN 34 Profil sekolah SD Muhammadiyah 1 Alternatif
LAMPIRAN 35 Sejarah Singkat dan Perkembangan SD Muhammadiyah 1
Alternatif
LAMPIRAN 36 Visi, Misi dan Motto SD Muhammadiyah 1 Alternatif LAMPIRAN 37 Struktur Organisasi SD Muhammdiyah 1 Alternatif
xviii
LAMPIRAN 42 Jadwal Ekstrakurikuler SD Muhammadiyah 1 Alternatif LAMPIRAN 43 RPP IPS SD Muhammadiyah 1 Alternatif (D.M.10.a)
LAMPIRAN 44 RPP Sains SD Muhammadiyah 1 Alternatif (D.M.10.b) LAMPIRAN 45 RPP PAI SD Muhammadiyah 1 Alternatif (D.M.10.c)
LAMPIRAN 46 Daftar Siswa Kelas 2 Nabi Ibrahim SD Muhammadiyah 1 Alternatif
LAMPIRAN 47 Daftar Siswa Kelas 2 Nabi Ismail SD Muhammadiyah 1 Alternatif
LAMPIRAN 48 Daftar Siswa Kelas 5 Nabi Daud SD Muhammadiyah 1 Alternatif
LAMPIRAN 49 Daftar Siswa Ekstrakurikuler Marching Band SD Muhammadiyah 1 Alternatif
LAMPIRAN 50 Daftar Siswa Ekstrakurikuler Sepak Bola SD Muhammadiyah 1 Alternatif
LAMPIRAN 51 Nilai Raport Alfiana Nur Fadhilah SD Muhammadiyah 1 Alternatif
LAMPIRAN 52 Nilai Raport Fahriza Rifandi Medistra SD Muhammadiyah 1 Alternatif
LAMPIRAN 53 Nilai Raport Raihan Musthafa Armayadi SD Muhammadiyah 1 Alternatif
LAMPIRAN 54 Daftar Kejuaraan SD Muhammadiyah 1 Alternatif
LAMPIRAN 55 Buku Komunikasi SD Muhammadiyah 1 Alternatif LAMPIRAN 56 Profil sekolah SDIT Ihsanul Fikri
LAMPIRAN 57 Visi, Misi dan Motto SDIT Ihsanul Fikri
xix
LAMPIRAN 63 Daftar Nilai Ekstrakurikuler SDIT Ihsanul Fikri LAMPIRAN 64 RPP Bahasa Arab SDIT Ihsanul Fikri
LAMPIRAN 65 RPP Sains SDIT Ihsanul Fikri
LAMPIRAN 66 Daftar Siswa Kelas 5 D SDIT Ihsanul Fikri LAMPIRAN 67 Daftar Siswa Kelas 3 A SDIT Ihsanul Fikri LAMPIRAN 68 Daftar Siswa Kelas 1 A SDIT Ihsanul Fikri
LAMPIRAN 69 Daftar Presensi Tartil Qur’an SDIT Ihsanul Fikri LAMPIRAN 70 Daftar Presensi Story Telling SDIT Ihsanul Fikri
LAMPIRAN 71 Nilai Raport Maulana Aditya Wijaya SDIT Ihsanul Fikri
LAMPIRAN 72 Nilai Raport Kirana Dewi SDIT Ihsanul Fikri LAMPIRAN 73 Nilai Raport Anissa Aristawati SDIT Ihsanul Fikri LAMPIRAN 74 Nilai Raport Arda Setyo Wibowo SDIT Ihsanul Fikri LAMPIRAN 75 Daftar Kejuaraan SDIT Ihsanul Fikri
LAMPIRAN 76 Buku Komunikasi SDIT Ihsanul Fikri LAMPIRAN 77 Lembar Persetujuan Pembimbing LAMPIRAN 78 Lembar Bimbingan Tesis
1
A. Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa terletak pada bidang pendidikan. Di Indonesia sekarang ini sedang berjuang keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan upaya antara lain: penambahan alokasi dana bagi pendidikan, program peningkatan profesionalisme guru melalui sertifikasi, pembangunan sarana dan prasarana sekolah.
Pembangunan manusia bersumber pada pendidikan baik dari kehidupan keluarga di rumah, maupun pengalaman belajarnya di sekolah dapat memupuk bakat dan kreatifitas para peserta didik dalam mengembangkan sumber daya manusia1. Hal ini merupakan tantangan yang berat bagi pendidik karena pendidikan yang berkualitas akan mencetak generasi masa depan yang juga berkualitas.
Tren dunia pendidikan abad ke-21 kelihatannya lebih berorientasi kepada pengembangan potensi manusia, bukannya memusatkan kepada kemampuan teknikal dalam melakukan eksploitasi alam. Hasil penelitian neuropsikologi menunjukkan bahwa potensi manusia yang sudah teraktualisasikan masih sangat sedikit, baru sekitar 10%. Salah satu intinya adalah bagaimana kita bisa mengoptimalkan potensi mind and brain untuk
1 Conny Semiawan, A.S. Munandar, S.C.U. Munandar, Memupuk Bakat Dan
meraih prestasi peradaban secara cepat dan efisien.2 Dalam dunia pendidikan dengan menggunakan metode yang tepat seseorang bisa memaksimalkan potensi yang ada didalam dirinya sehingga dapat meraih prestasi belajar yang berlipat ganda.
Ranah pendidikan yang notabene merupakan tempat untuk mengetahui, membaca, mengenal kepribadian dan kemampuan diri serta sampai di mana kompetensi dirinya dalam hidup ini sebenarnya adalah ranah ideal dan signifikan. Tapi masalahnya ada pada gerak dan proses ranah itu sendiri yang belum efektif dan efisien bagi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Pendidikan yang ada hanyalah proses transfer pengetahuan saja dan belum menyentuh akar yang lebih mendasar lagi seperti penggalian kepribadian, potensi dan mental yang sanggup menghadapi derasnya perputaran roda jaman.3
Guru perlu memiliki pengetahuan mengenai siapa siswa tersebut dan bagaimana karakteristiknya ketika memasuki suatu proses belajar dan mengajar di sekolah. Siswa mempunyai latar belakang tertentu, yang menentukan keberhasilannya dalam mengikuti proses belajar. Tugas guru adalah mengakomodasi keragaman antar siswa tersebut sehingga semua siswa dapat mencapai tujuan pengajaran.4 Agar pelayanan pendidikan yang selama ini diberikan peserta didik mencapai sasaran optimal, maka pembelajaran
2 Mel Silberman, Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta:
Pustaka Insan Madani, 2009, xiv.
3 Sutrisno, Revolusi Pendidikan di Indonesia, Yogyakarta, Ar-ruzz, 2005, 1.
4 Dedi Supriadi, Membangun Bangsa Melalui Pendidikan, Bandung: Remaja
harus diselaraskan dengan potensi peserta didik.5 Karena itu guru perlu melakukan pelacakan potensi peserta didik.
Pembelajaran akan efektif ketika memperhatikan perbedaan-perbedaan individual. Setiap anak dilahirkan dengan kondisi yang terbaik (cerdas) dan membawa potensi serta keunikan masing-masing yang memungkinkan untuk menjadi yang terbaik (cerdas). Hal ini telah difirmankan oleh Allah SWT dalam surat At-Tiin: 4.
) ٍﱘِﻮْﻘَـﺗ ِﻦَﺴْﺣَأ ِﰲ َنﺎَﺴْﻧِْﻹا ﺎَﻨْﻘَﻠَﺧ ْﺪَﻘَﻟ
٤
(
Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”6
Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk sebaik-baiknya. Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. Tidak seorangpun manusia di dunia ini yang diciptakan sama. Hal inilah yang sejak lama dalam ilmu pendidikan dikenal dengan konsep perbedaan individual.
Pola pendidikan yang terjadi saat ini masih banyak yang mengedepankan keseragaman dan pengukuran siswa yang cerdas hanya terbatas pada IQ saja. Penggalian kecerdasan peserta didik masih sangat jarang dilakukan sebagai sandaran utama untuk mengawali setiap rancangan pembelajaran, strategi dan pendekatan yang digunakan, serta evaluasi yang ditetapkan. Kecenderungan minat, bakat, talenta dan ketrampilan dasar belum menjadi bagian yang integral.
5
H. Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat, Mengelola Kecerdasan Dalam
Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2009, 3.
6 Tim Syamil, Al-Qur’anulkarim, Miracle The Reference, Bandung: Sygma
Dalam teori Gardner (multiple intelligences) mengembangkan 9 kecerdasan antara lain: Verbal linguistik, Kecerdasan logis matematis, Kecerdasan visual spasial, Kecerdasan musika ritmis, Kecerdasan interpersonal, Kecerdasan intrapersonal, Kecerdasan jasmaniah kinestetik,
Kecerdasan naturalis, Inteligensi eksistensial spiritual.7
Berdasarkan teori multiple intelligences pendidik dapat menumbuh kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh. Berarti bukan hanya beberapa kecerdasan saja melainkan seluruh potensi kecerdasan dari masing-masing siswa.
Konsep multiple intelligences yang menitik beratkan pada ranah keunikan selalu menemukan kelebihan setiap anak, lebih jauh lagi konsep ini percaya bahwa tidak ada yang bodoh sebab setiap anak pasti memiliki minimal satu kelebihan. Apabila kelebihan tersebut dapat terdeteksi sejak awal, otomatis kelebihan itu adalah potensi kepandaian sang anak yang dapat dijadikan dasar untuk melejitkan kecerdasan yang ada pada anak tersebut.
Pengembangan multiple intelligences siswa hendaknya dilakukan sejak dini, minimal sejak usia Sekolah Dasar. Hal ini dapat dipahami bahwa usia Sekolah Dasar (usia 6-12 tahun) merupakan masa yang paling penting bagi anak karena hal-hal yang dipelajari pada usia tersebut akan menjadi pijakan bagi anak untuk perkembangan selanjutnya.8 Oleh karena itu,
7
Muhammad Yaumi, Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences, Jakarta: Dian Rakyat, 2012, 24.
8 Ariyani Syurfah, Multiple Intelligences for Islamic Teaching: Panduan Melejitkan
pengembangan multiple intelligences harus tetap memperhatikan tingkat perkembangan mereka.
Dapatkah sekolah dan gurunya memenuhi semua fasilitas untuk kepentingan mengasah multiple intelligences dan sesuai dengan gaya belajar secara proporsional. Sekolah yang besar dapat menyediakan segala macam fasilitas pendidikan yang diperlukan oleh peserta didik. Fasilitas olahraga yang diperlukan oleh sekian cabang olahraga, seperti senam, sudah tentu bulutangkis, atletik, permainan kecil, permainan besar, sampai dengan kolam renang dengan standar internasional. Juga segala macam fasilitas kesenian, baik seni lukis, seni tari, sampai dengan seni kontemporer. Demikian juga dengan fasilitas perpustakaan dengan koleksi yang lengkap untuk semua cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Belum lagi dengan guru-guru yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang kecerdasannya masing-masing. Inilah masalah terbesar untuk menerapkan konsep multiple intelligences dari segi proses belajar mengajar. Pemenuhan fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan potensi kecerdasan itu sudah tentu akan memerlukan anggaran yang sangat besar bagi pemerintah, khususnya juga bagi sekolah.
hanya mementingkan satu atau dua kecerdasan. Padahal, kecerdasan yang tidak diberikan layanan itu ternyata justru merupakan kecerdasan yang sangat diperlukan untuk bekal hidup kelak. Potensi kecerdasan itulah yang harus memperoleh perhatian dari sekolah dan para pendidik, sehingga penyelenggaraan pendidikan benar-benar mampu mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan tipe kecerdasan yang dimilikinya. Bukan mengabaikan, atau bahkan mematikannya.
SD Muhammadiyah 1 Alternatif dan SDIT Ihsanul Fikri kota Magelang memasukkan multiple intelligences sebagai salah satu strategi pembelajaran bagi siswa sekolah yang terintegrasi dengan kurikulum yang sudah ada. SD Islam ini membuktikan bahwa strategi multiple intelligences dapat diberikan dan diterima oleh siswanya. Penyampaian multiple intelligences berbeda dengan strategi-strategi yang lain, apalagi bila diterapkan pada usia Sekolah Dasar, tentunya memerlukan strategi khusus sehingga maksud dan tujuan dari proses pembelajaran ini dapat tercapai. Strategi multiple intelligences dalam pembelajaran harus menyesuaikan dengan keadaan jiwa anak dalam masa bermain, bebas berekspresi, dan mencoba-coba sesuatu yang baru sesuai dengan tingkat kecerdasan yang dimilikinya.
(Studi Kasus di SD Muhammadiyah 1 Alternatif dan SDIT Ihsanul Fikri kota Magelang).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemahaman mengenai multiple intelligences oleh Kepala Sekolah dan Guru-guru di SD Muhammadiyah 1 Alternatif dan SDIT Ihsanul Fikri kota Magelang?
2. Bagaimana kerangka konseptual implementasi multiple intelligences di SD Muhammadiyah 1 Alternatif dan SDIT Ihsanul Fikri kota Magelang? 3. Bagaimana implementasi multiple intelligences di dalam pembelajaran di
SD Muhammadiyah 1 Alternatif dan SDIT Ihsanul Fikri kota Magelang? 4. Bagaimana respon siswa dan orang tua siswa terhadap implementasi
multiple intelligences?
5. Bagaimana dampak implementasi multiple intelligences pada pembelajaran terhadap kepribadian dan prestasi siswa?
C. Signifikansi Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui pemahaman mengenai multiple intelligences oleh Kepala Sekolah dan Guru-guru di SD Muhammadiyah 1 Alternatif dan SDIT Ihsanul Fikri kota Magelang.
c. Untuk mengetahui implementasi multiple intelligences di dalam pembelajaran di SD Muhammadiyah 1 Alternatif dan SDIT Ihsanul Fikri kota Magelang.
d. Untuk mengetahui respon siswa dan orang tua siswa terhadap implementasi multiple intelligences.
e. Untuk mengetahui dampak implementasi multiple intelligences pada pembelajaran terhadap kepribadian dan prestasi siswa.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi lembaga : secara kelembagaan, peneliti ingin mengungkapkan tentang konsep multiple intelligences yang diterapkan di sekolah sehingga siapapun yang berkepentingan bisa mengambil manfaatnya dengan mengacu pada hasil penelitian ini, dan pada penelitian ini diharapkan bisa memberi kontribusi pada penambahan kekayaan literatur tentang konsep multiple intelligences yang saat ini sedang diterapkan di SD Islam Kota Magelang pada khususnya dan sekolah lain yang menerapkan konsep serupa pada umumnya.
b. Bagi pengembang keilmuan: Sebagai wahana untuk memperkaya khazanah pengetahuan kita terutama dalam bidang multiple intelligences.
D. Sistematika penulisan
BAB I merupakan bab pendahuluan yang berisi tentang: latar belakang masalah, rumusan masalah, signifikansi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II landasan teori yang meliputi: kajian terdahulu, konsep multiple intelligences yang terdiri dari : teori multiple intelligences, jenis-jenis multiple intelligences. Perkembangan perilaku anak usia SD, multiple
intelligences pada sekolah berbasis Islam, Implementasi multiple intelligences.
BAB III metodologi penelitian yang meliputi: jenis penelitian, lokasi penelitian, waktu penelitian, sumber data penelitian, instrument pengumpulan data, teknik pengumpulan data, sampling, keabsahan data, analisis data. Tahap-tahap penelitian, desain penelitian, pedoman penelitian.
BAB IV merupakan pengolahan data hasil penelitian tentang pemahaman mengenai multiple intelligences, kerangka konseptual multiple intelligences di sekolah, implementasi multiple intelligences dalam pembelajaran, respon siswa dan orang tua siswa terhadap implementasi multiple intelligences, dan dampak implementasi multiple intelligences di SD Muhammadiyah 1 Alternatif dan SDIT Ihsanul Fikri kota Magelang.
10
A. Kajian Terdahulu
Pendekatan multiple intelligences menekankan pada proses pembelajaran yang memperhatikan berbagai aspek kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik. Pendekatan ini dapat diterapkan dalam setiap jenis mata pelajaran termasuk dalam PAI. Hasil yang dicapai dari pelaksanaan multiple intelligences dalam PAI yaitu Multiple intelligences mampu menjembatani proses pengajaran yang membosankan menjadi suatu pengalaman belajar yang menyenangkan dan siswa tidak hanya dijejali oleh teori semata, melainkan pemahaman berdasarkan kecerdasan yang mereka miliki, selain itu semakin bertambahnya pengetahuan agama siswa terutama dalam PAI baik ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik berdasarkan kecerdasan yang ada pada siswa.1
Selain pencapaian keberhasilan dalam pembelajaran, modul yang menggunakan konsep multiple intelligences dapat menumbuhkan minat siswa mencapai 83,3 % terhadap pembelajaran IPA dan kenaikan rata-rata analisis pre-test 13,67 % menjadi 23,73 % setelah melakukan post-test.2
1 Imamul Muttaqin, Analisis Multiple Intelligences dalam Pendidikan Agama
Islam di SD Islam Sabilillah Sidoarjo Jawa Timur, Skripsi Fakultas Tarbiyah Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009.
2 Adriana Gandasari, Pengembangan Modul Pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam Sekolah Dasar dengan Pendekatan Teori Multiple Intelligences, Tesis Program Pasca
Metode multiple intelligences juga lebih efektif dilaksanakan daripada metode tradisional. Efektifitas penggunaan multiple intelligences menunjukkan terdapat perbedaan motivasi belajar, sikap terhadap pembelajaran, dan hasil belajar fisika secara bersama-sama antara siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran menggunakan metode intelegensi ganda dengan metode tradisional. Secara individual, masing-masing variable terikat, juga menunjukkan perbedaan yang signifikan antara siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran menggunakan metode intelegensi ganda dengan metode tradisional. Metode intelegensi ganda lebih efektif daripada metode tradisional dalam meningkatkan motivasi belajar, sikap siswa terhadap pelajaran, dan hasil belajar fisika.3
Aspek kecerdasan majemuk atau multiple intelligences pada peserta didik akan mengalami peningkatan dalam model pembelajaran tematik.4 Selain itu aspek-aspek multiple intelligences terdapat korelasi dengan gender. Analisis multiple intelligences profiling questinnaire III diperoleh adanya korelasi yang positif antara intelegensi matematik logis dan spasial, adanya korelasi positif antara intelegensi linguistic dan intrapersonal, dan juga ada korelasi positif antara linguistic dan intrapersonal dengan spiritual dan lingkungan. Antara gender, umur dan multiple intelligences menunjukkan bahwa pria memiliki intelegensi matematis logis lebih tinggi dibandingkan
3 Nurdin A. R dan Suyata, Efektifitas Pengguna Metode Intelegensi Ganda dalam
Proses Pembelajaran Fisika di SMU, 2004.
4 Lely Halimah, Menumbuhkan Kecerdasan Majemuk Siswa SD melalui
wanita, dan wanita memiliki intelegensi linguistic lebih tinggi dibandingkan pria.5
Dalam pengembangan pembelajaran multiple intelligences dan aplikasinya diperlukan pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan multiple intelligences itu sendiri termasuk dalam usia prasekolah. Pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan kecerdasan jamak di TK perlu memahami konsep-konsep yang mencakup perkembangan fisik, kognitif, psikososial, bahasa dan komunikasi. Disamping itu, konsep-konsep yang berkaitan dengan kecerdasan jamak dan indikatornya serta pembelajaran terpadu perlu dipahami karena berkaitan dengan penyusunan prosedur dan langkah-langkahnya agar dapat dilaksanakan dalam pembelajaran TK.6
Dari kajian pustaka berupa hasil penelitian-penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan multiple intelligences dapat menumbuhkembangkan potensi pada siswa yang
berdampak pada prestasi siswa semakin meningkat dan menjembatani kebosanan pada saat proses pembelajaran. Pada penelitian terdahulu banyak menitikberatkan pada proses pembelajaran dalam intrakurikuler.
Penelitian sebelumnya yang banyak menekankan pada implementasi multiple intelligences dalam pembelajaran di intrakurikuler. Namun pada penelitian ini menitikberatkan pada implementasi multiple intelligences dalam strategi pembelajaran baik dalam kegiatan
5 Kirsi Tirri dan Petri Nokelainen, Identification of MI with The Multiple
Intelligences Profiling Questinnaire III, 2008.
6 Martini Jamaris, Pengembangan MI dan Aplikasinya melalui pembelajaran
intrakurikuler maupun ekstrakurikuler yang membedakan posisi penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu berupa penelitian dalam bentuk tesis “Implementasi Multiple intelligences dalam Pembelajaran pada SD Berbasis Islam di Kota Magelang”. (Studi Kasus
di SD Muhammadiyah 1 Alternatif dan SDIT Ihsanul Fikri kota Magelang).
B. Konsep Multiple Intelligences
1. Teori Multiple Intelligences
Multiple intelligences adalah sebuah teori kecerdasan yang dimunculkan oleh Howard Gardner, adalah seorang pakar psikologi perkembangan dan professor pada Universitas Harvard dari project Zero (kelompok riset) pada tahun 1983. Hal yang menarik dari teori kecerdasan ini adalah terdapat usaha untuk melakukan redefinisi kecerdasan. Sebelum muncul teori multiple intelligences, teori kecerdasan lebih cenderung diartikan secara sempit. Kecerdasan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuannya menyelesaikan serangkaian tes IQ, kemudian tes itu diubah menjadi angka standar kecerdasan. Gardner berhasil mendobrak dominasi teori dan tes IQ yang sejak 1905 banyak digunakan oleh para pakar psikolog di seluruh dunia.7
Sangat berbeda definisi kecerdasan yang dibuat Gardner dengan definisi kecerdasan yang telah berlaku sebelumnya. Gardner mengatakan
7 Munif Chatib, Sekolahnya Manusia, Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di
bahwa “Intelligence is the ability to solve problems, or to create products, that are valued within one or more cultural”.8 Menurut Gardner kecerdasan seseorang tidak diukur dari hasil tes psikologi standar, namun dapat dilihat dari kebiasaan seseorang menyelesaikan masalahnya sendiri (problem solving) dan kebiasaan seseorang menciptakan produk-produk baru yang punya nilai budaya (creativity).
Stenberg mengatakan, sangat terbatas apabila kecerdasan seseorang harus ditentukan dengan angka-angka IQ. Hal ini merupakan reduksi dan penyederhanaan makna yang sangat sempit untuk sebuah esensi luas yang bernama kecerdasan. Bagaimana dengan kemampuan untuk menganalisis, kreativitas, dan kemampuan praktis seseorang? Angka-angka IQ tidak mampu menjawab hal itu. Gardner dengan cerdas memberi label “multiple” (jamak atau majemuk) pada luasnya makna kecerdasan. Gardner menggunakan istilah “multiple” sehingga memungkinkan ranah kecerdasan terus berkembang. Dan ini terbukti: ranah-ranah kecerdasan yang ditemukan terus berkembang, mulai dari 6 kecerdasan (ketika pertama kali konsep itu dimunculkan) hingga 9 kecerdasan. Kecerdasan itu berkembang dan masih banyak lagi kecerdasan yang belum ditemukan Gardner atau ahli lain. Kecerdasan lebih dititikberatkan pada proses untuk mencapai akhir terbaik. Multiple intelligences punya metode discovering ability, artinya proses menemukan kemampuan seseorang. Metode ini meyakini bahwa setiap
8 Howard Gardner, Frames Of Mind (The Theory of Multiple Intelligences),
orang pasti memiliki kecenderungan jenis kecerdasan tertentu. Kecenderungan tersebut harus ditemukan melalui pencarian kecerdasan. Dalam teori multiple intelligences menyarankan kepada kita untuk mempromosikan kemampuan atau kelebihan dan mengubur kelemahan kita. Proses menemukan inilah yang menjadi sumber kecerdasan seorang anak. Dalam menemukan kecerdasan, seorang anak harus dibantu oleh lingkungan, orang tua, guru, sekolah, maupun sistem pendidikan yang diimplementasikan di suatu negara.9
Thomas Armstrong menjelaskan bahwa teori multiple intelligences memperluas lingkup potensi dalam diri manusia di luar batas-batas nilai IQ. Dalam mengembangkan teori multiple intelligences harus berhati-hati untuk tidak menggunakan istilah kecerdasan diukur menggunakan IQ. Dalam menggambarkan perbedaan individual semua orang memiliki kecerdasan. Kemungkinan seseorang yang dianggap memiliki kecerdasan yang lemah dapat berubah menjadi kuat setelah diberi kesempatan untuk berkembang. Titik kunci multiple intelligences adalah kebanyakan orang dapat mengembangkan kecerdasan ke tingkat yang relatif dapat dikuasainya.10
Muhammad Yaumi menjelaskan dalam teori multiple intelligences dibagi dalam roda domain kecerdasan jamak untuk memvisualisasikan hubungan tidak tetap antara berbagai kecerdasan yang dikelompokkan
9 Munif Chatib, Sekolahnya Manusia, Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di
Indonesia, Bandung: Kaifa, 2013, 74-78.
10 Thomas Armstrong, Multiple Intelligences In The Classroom, Virginia: ASCD,
dalam tiga wilayah atau domain yakni: interaktif, analitik, dan introspektif. Ketiga domain ini dimaksudkan untuk menyelaraskan kecerdasan dengan siswa yang ada kemudian diamati oleh guru secara rutin di dalam ruang kelas.11
Teori multiple intelligences adalah validasi tertinggi, gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Pemakaiannya dalam pendidikan sangat tergantung dalam pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap atau berbagai cara siswa (pelajar) belajar, di samping pengenalan, pengakuan dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing-masing pembelajar. Teori multiple intelligences bukan hanya mengakui perbedaan individual ini untuk tujuan-tujuan praktis, seperti pengajaran dan penilaian tetapi juga menganggap serta menerimanya sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan menarik dan sangat berharga. Teori ini merupakan langkah raksasa menuju suatu titik dimana individu dihargai dan keragaman dibudidayakan.12
Teori multiple intelligences adalah gagasan bahwa perbedaan individu sangat penting. Pemakaian dalam pendidikan sangat tergantung pada pengenalan, pengakuan dan penghargaan terhadap setiap atau berbagai cara siswa belajar, disamping pengenalan, pengakuan dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing-masing pembelajar.
11 Muhammad Yaumi, Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences, Jakarta:
Dian Rakyat, 2012, 12-14.
12 Julia Jasmine, Metode Mengajar Multiple Intelligences, Bandung: Nuansa
Dalam Islam sebenarnya sudah dikemukakan berbagai pengembangan tentang kecerdasan manusia, yaitu terdapat di dalam ayat- ayat Al-Qur’an. Kecerdasan eksistensial spiritual merupakan kemampuan untuk menempatkan diri dalam hubungannya dengan suatu kosmos yang tak terbatas dengan kondisi manusia seperti makna penciptaan dirinya, kehidupan, kematian dan perjalanan akhir dari dunia. Hal ini sesuai dengan ayat :
)
َﻢﻴِﻘَﺘْﺴُﻤْﻟا َطاَﺮﺼﻟا ﺎَﻧِﺪْﻫا
٦
(
Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS. Al Fatihah: 6)
{Ihdina (tunjukilah kami), diambil dari kata hidaayah: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik}.13
Dari ayat tersebut dapat diambil hubungan antara kecerdasan eksistensial spiritual dengan hidayah (petunjuk) yang Allah berikan kepada manusia melalui naluri, pancaindera, akal, maupun benih agama dan akidah tauhid pada jiwa manusia. Manusia memahami dengan akalnya bahwa Zat Yang Gaib itulah yang menciptakannya, yang menganugerahkan kepadanya dan kepada jenis manusia seluruhnya, segala sesuatu yang dibutuhkannya yang ada di alam ini, untuk memelihara diri dan mempertahankan hidupnya. Karena merasa berhutang budi pada Zat Yang Gaib, maka dia berfikir bagaimana cara berterima kasih dan membalas budi serta bagaimana cara menyembah Zat Yang Gaib itu. Bila manusia mau memikirkan dari mana datangnya alam
13 Tim Syamil, Al-Qur’anulkarim, Miracle The Reference, Bandung: Sygma
ini, akan sampai pada keyakinan tentang adanya Tuhan, bahkan akan sampai kepada keyakinan tentang keesaan Tuhan (tauhid) karena akidah (keyakinan) tentang keesaan Tuhan ini lebih mudah dan lebih cepat dipahami oleh akal manusia. Karena itu dapat kita tegaskan bahwa manusia itu menurut nalurinya adalah beragama tauhid.14
Kecerdasan linguistik yang merupakan kemampuan berbahasa yang terkandung dalam diri Adam, manusia berakal pertama. Menurut Al-Qur’an, Adam dilebihkan atas makhluk Tuhan yang lain, sehingga iblis harus tunduk padanya karena Adam memiliki kemampuan untuk menyebut nama-nama, suatu keahlian menciptakan, dan memahami simbol-simbol.
Allah berfirman:
ُﻢَﻠْﻋَأ ﱐِإ ْﻢُﻜَﻟ ْﻞُﻗَأ َْﱂَأ َلﺎَﻗ ْﻢِﻬِﺋﺎَْﲰَﺄِﺑ ْﻢُﻫَﺄَﺒْـﻧَأ ﺎﻤَﻠَـﻓ ْﻢِﻬِﺋﺎَْﲰَﺄِﺑ ْﻢُﻬْـﺌِﺒْﻧَأ ُمَدآ ﺎَﻳ َلﺎَﻗ
) َنﻮُﻤُﺘْﻜَﺗ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ﺎَﻣَو َنوُﺪْﺒُـﺗ ﺎَﻣ ُﻢَﻠْﻋَأَو ِضْرَْﻷاَو ِتاَوﺎَﻤﺴﻟا َﺐْﻴَﻏ
٣٣
(
Artinya: Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS. Al Baqarah: 33).15
14 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jakarta: Departemen Agama
RI, 2009, 21-24.
15 Tim Syamil, Al-Qur’anulkarim, Miracle The Reference, Bandung: Sygma
Selain itu kecerdasan linguistik verbal juga terdapat dalam QS. Ar Qur'an, Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.16
Ayat di atas merupakan bukti bahwa Allah telah mengajarkan kepada manusia Al Qur’an dan mengajarkannya (Nabi Muhammad SAW) pandai berbicara sehingga dapat menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an kepada umatnya. Dari ayat ini dapat dijadikan dasar pengajaran linguistik verbal kepada manusia.
Anak yang memiliki kecerdasan logis matematis atau cerdas angka akan berfikir secara numerik atau dalam konteks pola serta urutan logis, atau dalam bentuk-bentuk cara berfikir logis yang lain.
Allah berfirman:
) َنﻮُﻤِﻟﺎَﻌْﻟا ﻻِإ ﺎَﻬُﻠِﻘْﻌَـﻳ ﺎَﻣَو ِسﺎﻨﻠِﻟ ﺎَﻬُـﺑِﺮْﻀَﻧ ُلﺎَﺜْﻣَْﻷا َﻚْﻠِﺗَو
٤٣
(
Artinya: Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (QS Al-Ankabut: 43)17
Dari ayat di atas kita akan memahami ayat-ayat Allah dengan berfikir logis. Didalam Al Qur’an banyak perumpamaan-perumpamaan
16 Tim Syamil, Al-Qur’anulkarim, Miracle The Reference, Bandung: Sygma
Publishing, 2010, 1059.
17 Tim Syamil, Al-Qur’anulkarim, Miracle The Reference, Bandung: Sygma
yang hanya orang-orang berilmu saja yang akan memahaminya. Untuk memahami perumpamaan tersebut harus dengan berfikir logis.
Selain kecerdasan logis matematis, terdapat juga kecerdasan interpersonal yang tertera dalam ayat berikut:
) ِﻦﻳﺪﻟﺎِﺑ ُبﺬَﻜُﻳ يِﺬﻟا َﺖْﻳَأَرَأ
١
) َﻢﻴِﺘَﻴْﻟا عُﺪَﻳ يِﺬﻟا َﻚِﻟَﺬَﻓ (
٢
ﻰَﻠَﻋ ﺾَُﳛ َﻻَو (
) ِﲔِﻜْﺴِﻤْﻟا ِمﺎَﻌَﻃ
٣
(
Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin (QS Al Maa’uun: 1-3)18
Dalam QS. Al Maa’uun: 1-3 dijelaskan bahwa orang yang termasuk mendustakan agama adalah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Dari ayat ini dapat dipetik pelajaran bahwa kasih sayang dan saling tolong menolong dalam agama Islam sangat dianjurkan sesuai dengan karakteristik kecerdasan interpersonal.
2. Jenis-Jenis Multiple Intelligences
a. Kecerdasan Verbal Linguistik
Kecerdasan linguistik sering disebut sebagai kecerdasan
verbal. Kecerdasan linguistik mewujudkan dirinya dalam kata-kata, baik dalam tulisan maupun lisan. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini juga memiliki keterampilan auditori yang sangat tinggi, dan mereka belajar melalui mendengar. Mereka gemar
18 Tim Syamil, Al-Qur’anulkarim, Miracle The Reference, Bandung: Sygma
membaca, menulis dan berbicara, dan suka bercengkerama dengan kata-kata. Mereka memakai kata-kata bukan hanya untuk makna tersurat dan juga tersiratnya semata, namun juga dengan bentuk dan bunyinya, serta untuk citra yang tercipta ketika kata-kata dirancang reka dalam cara yang lain dan berbeda dari yang biasa.19
Penyair sebagai contoh pemilik jenis kecerdasan ini, walaupun juga pada orang yang berada di masing-masing pihak dalam satu perdebatan politik yang sengit dan pada orang yang gemar menciptakan permainan kata atau senang menceritakan lelucon yang lazimnya merupakan permainan kata. Mereka sangat mahir dan terampil dalam mengolah kata-kata yang berbeda dari yang biasanya.
b. Kecerdasan Logis Matematis
Kecerdasan logis matematis adalah kecerdasan tentang angka-angka dan penalaran. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mempergunakan penalaran induktif dan deduktif, memecahkan masalah-masalah abstrak, dan memahami hubungan-hubungan kompleks antara analisis matematis dan proses ilmiah.20
Siswa yang menonjol memiliki kecerdasan ini senang dengan proses pembelajaran yang dirancang dalam bentuk analisis masalah, pertanyaan, eksperimen, dan analisis untuk mencari solusi.21
19 Muhammad Yaumi, Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences, Jakarta: Dian
Rakyat, 2012, 14 .
20 Muhammad Yaumi, Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences, Jakarta:
Dian Rakyat, 2012, 15 .
21 Radno Harsanto, Pengelolaan Kelas Yang Dinamis, Yogyakarta: Kanisius,
Orang yang kuat dalam hal kecerdasan logis matematis mempunyai keterampilan berfikir kritis untuk merangkai, menghubungkan, menganalisa suatu data. Mereka sering unggul dalam penggunaan matematika, sains, dan komputer. Mereka mempunyai suatu logika untuk berfikir pada level-level yang kompleks, menganalisis data, menafsirkan informasi dan memecahkan jenis-jenis masalah yang beraneka ragam.
c. Kecerdasan Visual Spasial
Kecerdasan visual spasial adalah kemampuan untuk membentuk dan menggunakan model mental. Orang yang memiliki kecerdasan jenis ini cenderung berfikir dalam atau dengan gambar dan cenderung mudah belajar melalui sajian-sajian visual seperti film, gambar, video, dan peragaan yang menggunakan model dan slaid. Mereka gemar menggambar, melukis, atau mengukir gagasan-gagasan yang ada dikepala dan sering menyajikan suasana serta perasaan hatinya melalui seni. Mereka sering mengalami dan mengungkapkan dengan berangan-angan, berimajinasi dan berperan.22
Meningkatkan kecerdasan ini dengan sering berlatih permainan gambar tiga dimensi, puzzle, kubus, teka-teki visual lain, dekorasi interior dan taman rumah, dan membuat logo.23
22 Julia Jasmine, Metode Mengajar Multiple Intelligences, Bandung: Nuansa
Cendekia, 2012, 17-18.
23 H. Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat, Mengelola Kecerdasan Dalam
Orang yang memiliki Kecerdasan visual spasial memiliki kemampuan untuk melihat dan mengamati dunia gambar dan ruang secara akurat (cermat). Kecerdasan ini melibatkan kesadaran akan warana, garis, bentuk, ruang, ukuran dan juga hubungan diantara elemen-elemen tersebut. Kecerdasan ini juga melibatkan kemampuan untuk melihat obyek dari berbagai sudut pandang.
d. Kecerdasan Jasmaniah Kinestetik
Orang yang memiliki kecerdasan ini memproses informasi melalui informasi melalui sensasi yang dirasakan pada badan mereka. Mereka sangat baik dalam keterampilan jasmaninya baik dengan menggunakan otot kecil maupun otot besar, dan menyukai aktivitas fisik dan berbagai jenis olahraga. Mereka lebih nyaman mengkomunikasikan informasi dengan peragaan (demonstrasi) atau pemodelan. Mereka dapat mengungkapkan emosi dan suasana hatinya melalui tarian.24
Cara meningkatkan kecerdasan ini dengan bergabung dengan klub olah raga, kegiatan dansa, mengumpulkan macam benda dengan bermacam tekstur.25
Orang yang memiliki kecerdasan kinestetik, mereka mahir dalam menggunakan tubuh secara terampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran dan perasaan. Kecerdasan ini juga meliputi
24 Julia Jasmine, Metode Mengajar Multiple Intelligences, Bandung: Nuansa
Cendekia, 2012, 25.
25 H. Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat, Mengelola Kecerdasan Dalam
keterampilan fisik dalam bidang koordinasi, keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan. Orang yang memiliki kecerdasan kinestetik menyukai olahraga dan hal-hal yang berhubungan dengan olah tubuh.
e. Kecerdasan Musikal
Orang yang mempunyai kecerdasan ini sangat peka terhadap suara atau bunyi, lingkungan dan juga musik. Mereka sering bernyanyi, bersiul atau bersenandung ketika melakukan aktivitas lain. Mereka gemar mendengarkan musik, serta mampu memainkan musik di atas rata-rata. Mereka bernyanyi dengan menggunakan kunci nada yang tepat dan mampu mengingat serta, secara vokal dapat mereproduksi melodi. Mereka bisa bergerak secara ritmis atau membuat ritme-ritme serta lagu-lagu untuk membantunya mengingat fakta dan informasi lain.26
Orang yang memiliki kecerdasan ini terampil dalam bernyanyi, memainkan instrumen musik, melakukan improvisasi, mengubah lagu, membedakan nada, membuat aransemen, melakukan orkestrasi, dan mengkritik gaya musik. Mereka juga suka menyanyi dan dengan gubahan lagu mereka mampu mengingat informasi lain.
f. Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan untuk membentuk sebuah model diri seseorang yang akurat dan
26 H. Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat, Mengelola Kecerdasan Dalam
menggunakan model itu untuk dilaksanakan secara efektif dalam kehidupan. Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan mengetahui diri sendiri dan mengambil tanggung jawab atas kehidupan dan proses belajar seseorang.27
Siswa yang memiliki kecerdasan intrapersonal yang kuat mengenali berbagai kekuatan dan keterbatasan mereka dan menantang diri mereka sendiri supaya bisa menjadi jauh lebih baik. Siswa jenis ini berorientasi pada tujuan, reflektif, dan melihat kesuksesannya sebagai hasil langsung dari perencanaan, usaha, dan ketekunannya sendiri. Mereka cepat bangkit kembali ketika mengalami suatu kegagalan karena motivasi dalam diri mereka sangat kuat.
g. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan memahami dan berinteraksi dengan baik dengan orang lain. Kecerdasan ini ditampakkan pada kegembiraan berteman dan kesenangan dalam berbagai macam aktivitas sosial serta keengganan dalam kesendirian dan menyendiri. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini menyukai dan menikmati bekerja secara berkelompok, belajar sambil berinteraksi dan bekerjasama juga senang bertindak sebagai mediator perselisihan baik di sekolah maupun di rumah dan lingkungannya.28
27 Evelyn Wiliams English, Mengajar dengan Empati, Bandung: Nuansa
Cendekia, 2012, 142.
28 Julia Jasmine, Metode Mengajar Multiple Intelligences, Bandung: Nuansa
Orang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang kuat lebih suka bekerja dalam berbagai situasi dimana mereka dapat menjadi sosial, merencanakan secara bersama, dan bekerja dengan orang lain demi keuntungan timbal-balik. Mereka lebih suka bekerja sama ketimbang bekerja sendirian dan menunjukkan ciri keterampilan empati dan komunikasi yang baik.
h. Kecerdasan Naturalistik
Kecerdasan naturalis adalah kemampuan menggunakan input sensorik dari alam untuk menafsirkan lingkungan seseorang. Kecerdasan ini memungkinkan orang-orang berkembang dengan pesat dalam lingkungan-lingkungan yang berbeda dan mengkategorisasi, mengamati, beradaptasi, dan menggunakan fenomena alam.29
Orang yang memiliki kecerdasan naturalis mereka mampu untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai di alam maupun lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta. Mereka menyukai memelihara hewan peliharaan ataupun menanam tanaman dengan penuh kecintaan.
29 Evelyn Wiliams English, Mengajar dengan Empati, Bandung: Nuansa
i. Kecerdasan Eksistensial Spiritual
Kecerdasan eksistensial adalah kemampuan untuk menempatkan diri dalam hubungannya dengan suatu kosmos yang tak terbatas dan sangat kecil serta kapasitas untuk menempatkan diri dalam hubungannya dengan kondisi manusia seperti makna kehidupan, kematian, perjalanan akhir dari dunia, psikologi. Sedangkan kecerdasan spiritual adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa spiritual berkorelasi dengan IQ, EQ, dan SQ. Menurut Rossiter dalam buku Yaumi bahwa spiritual intelligence is an organic wisdom, an innate quality of knowing, the “Wise Self” that resides within us all and connects us with the enigma of our existence (kecerdasan spiritual adalah suatu kearifan organik, kualitas
pengetahuan bawaan, diri yang bijaksana yang berada dalam diri kita semua dan menghubungkan kita dengan pertanyaan tentang keberadaan kita). Spirit memiliki akar kata spirit yang berarti roh. Roh bisa diartikan sebagai tenaga yang menjadi energi kehidupan. Hal inilah yang dimaksud Dewantoro dalam buku Yaumi sebagai budi pekerti.30
“Budi pekerti, watak atau karakter, itulah bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan, yang lalu menimbulkan tenaga. Ketahuilah bahwa budi itu pikiran, perasaan, kemauan dan pekerti artinya tenaga. Jadi, budi pekerti itu sifatnya jiwa manusia, mulai angan-angan hingga terjelma sebagai tenaga.”
30 Muhammad Yaumi, Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences, Jakarta:
Dengan demikian, karakteristik orang yang memiliki kecerdasan eksistensial spiritual menjadi analitis sekaligus kreatif, logis dan imaginatif, senang pada hal-hal yang bersifat detail dan pada saat yang sama juga senang pada hal-hal yang bersifat umum. Namun, pada kecerdasan ini menyimpan karakteristik yang masih bersifat abstrak atau belum terurai dalam wujud aktivitas yang dapat diukur dan dibuktikan. Mereka menjadi orang yang arif dan bijaksana karena dalam diri mereka sudah tertanam budi pekerti yang telah menyatu dalam kehidupan mereka.
C. Perkembangan Perilaku Anak Usia SD
Periode ini berlangsung dari usia 6 tahun hingga tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Permulaan masa pertengahan dan akhir anak-anak ini ditandai dengan masuknya anak-anak ke kelas satu SD. Bagi sebagian besar anak, hal ini merupakan perubahan besar dalam pola kehidupannya. Sebab, masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi anak yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku.
1. Perkembangan Fisik Usia SD
akhir anak-anak, tinggi bertumbuh sekitar 5-6% dan berat bertambah sekitar 10% setiap tahun. Pada usia 6 tahun tinggi rata-rata anak adalah 46 inci dengan berat 22,5 kg. kemudian pada usia 12 tahun tinggi anak mencapai 60 inci dan berat hingga 42,5 kg.31
Untuk pertumbuhan fisik pada usia SD ini tidak secepat pertumbuhan ketika pada bayi. Dalam pembelajaran di kelas kita juga harus menyesuaikan perkembangan fisik siswa kita, misalnya letak papan tulis jangan terlalu tinggi disesuaikan dengan tinggi rata-rata siswa dalam kelas. Untuk meja dan kursipun diusahakan menyesuaikan juga dengan kondisi fisik jangan terlalu besar dan jangan terlalu kecil.
2. Perkembangan Motorik Usia SD
Sejak usia 6 tahun, koordinasi antara mata dan tangan (motorik) yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar dan menangkap juga berkembang. Pada usia 7 tahun, tangan anak semakin kuat dan ia lebih menyukai pensil daripada krayon untuk melukis. Dari usia 8-10 tahun, tangan dapat digunakan secara bebas, mudah dan tepat. Koordinasi motorik halus berkembang, dimana anak sudah dapat menulis dengan baik. Pada usia 10-12 tahun anak-anak mulai memperlihatkan keterampilan-keterampilan orang dewasa. Mereka mulai memperlihatkan gerakan-gerakan yang komplek, rumit, dan cepat, yang diperlukan untuk
31 Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
menghasilkan karya kerajinan yang bermutu bagus atau memainkan instrumen musik tertentu.32
Keterampilan motorik halus mulai berkembang pada usia awal SD, sebagai pendidik kita jangan mengabaikan hal ini, karena ketika perkembangan motorik halus sudah tampak terus dilatih dan diberi stimulus supaya berkembang dengan maksimal, misalnya dalam keterampilan menuliskan huruf-huruf dibimbing dengan cara yang benar dan diberikan latihan secara intensif, sedangkan untuk keterampilan motorik pada kelas atas melatihnya misalnya dengan mengaktifkan anak dengan melibatkan gerakan-gerakan tubuh yang komplek dan terbimbing ketika pembelajaran.
3. Perkembangan Kognitif Usia SD
Pada usia 7-12 tahun anak-anak mengalami masa perkembangan concrete operational yang ditandai dengan tiga kemampuan yaitu:
mengklasifikasikan angka-angka atau bilangan. Dalam periode ini anak mulai pula mengkonservasi pengetahuan tertentu. Perilaku kognitif yang tampak pada periode ini ialah kemampuannya dalam proses berfikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika meskipun masih terkait dengan objek-objek yang bersifat konkret.33
Pada taraf perkembangan kecerdasan dan pikirannya yang tertuju pada kenyataan maka pelajaran harus diberikan dengan alat peraga,
32 Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2005, 155.
33 Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, Bandung: PT. Remaja
penjelasan tidak perlu diberikan panjang lebar tetapi yang terpenting adalah memberikan contoh-contoh yang kongkrit.34
Pada masa transisi ke masa operasional konkret terjadilah perubahan yang amat signifikan dalam perkembangan anak yaitu ia peka untuk pembelajaran berdasarkan: a. Pengembangan kemampuan membedakan berbagai aspek lingkungan yang penting, yang dapat dilakukan melalui berbagai permainan mencari persamaan kelompok benda yang disembunyikan untuk dilombakan yang paling cepat memperolehnya. b. Koordinasi bentuk yang terpisah dalam suatu keseluruhan yang lebih besar dan struktur kognitif menyatu serta dalam suatu operasi konkret. c. Kemampuan berpikir berkenaan dengan sebab akibat maupun sebaliknya dilakukan melalui berbagai permainan yang dikombinasikan dengan ilmu lainnya.35
Untuk menyesuaikan perkembangan kognitif pada usia SD pembelajaran dengan menggunakan alat peraga karena pada perkembangan ini siswa baru pada tahap konkrit. Penggunaan alat peraga ataupun cantoh benda nyata akan sangat membantu dalam keberhasilan pembelajaran. Selain menggunakan alat peraga yang tepat juga penggunaan metode yang melibatkan koordinasi kemampuan berfikir konkrit.
34 Mustaqim dan Abdul Wahid, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 1991, 48.
35 Conny Semiawan, Belajar Dan Pembelajaran Prasekolah Dan Sekolah
4. Sikap dan Perilaku Moral Usia SD
Perkembangan moral anak pada usia sekolah lambat laun memperluas konsep sosial sehingga mencakup situasi apa saja. Pada usia ini anak mulai menemukan bahwa kelompok sosial terlibat dalam berbagai macam perbuatan. Antara usia 5-12 tahun konsep keadilan anak sudah berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan-keadaan khusus. Relativisme moral menggantikan konsep moral yang kaku.36
Perkembangan moral pada usia SD bisa kita latih dan pantau dalam keseharian. Para pendidik memberi contoh sikap-sikap telada bagaimana kita berempati kepada sesama, bekarjasama dan saling menghargai. Sikap tersebut dapat kita terapkan melalui pembelajaran dengan berkelompok.
5. Perkembangan Kreativitas Usia SD
Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Melalui proses kreatif tercipta produk yang beragam, solusi baru atau pernyataan baru. Beberapa falsafah mengajar yang perlu dikembangkan guru dalam mendorong kreativitas peserta didik antara lain: belajar yang menyenangkan, dihargai dan disayangi, didorong menjadi pelajar yang aktif, merasa nyaman tanpa ketegangan ataupun
36 Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
ancaman, mempunyai rasa memiliki dan kebangsaan, lebih banyak bekerja sama, lebih dekat dengan pengalaman dunia nyata.37
Anak harus berkembang sebebas mungkin sesuai dengan minat dan bakat alami, biarkan ia mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Dengan demikian, kemampuan yang masih terpendam dapat berkembang, aktif, kreatif dan merasa bahagia, sehingga berkembang sehat dan terhindar dari cemas dan rasa benci.38
Untuk meningkatkan kreativitas anak pada usia SD dapat dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan siswa. Kreativitas guru dalam mengelola kelas juga berpengaruh pada perkembangan kreativitas anak. Selain itu menghindari pemberian hukuman yang tidak mendidik karena hal tersebut hanya akan menambah ketakutan anak sehingga tidak akan memunculkan kreativitas dalam diri anak tersebut.
D. Multiple Intelligences pada Sekolah Berbasis Islam
Konsep dasar pendidikan Islam, sebenarnya dapat dianalisa dari proses Allah mendidik manusia (dalam arti menumbuhkan dan mengembangkannya secara bertahap) sepanjang sejarah kehidupan manusia untuk mengembangkan potensi fitrahnya sekaligus menjalankan tugas
37 Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005,
175-178.
38 Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Dan Mengajar, Bandung: Sinar Baru, 1992,
kekhalifahan.39 Pendidikan Islam merupakan salah satu kekuatan pendidikan nasional. Pendidikan Islam sebagai kelanjutan dari sistem pendidikan tradisional diapresiasi gagasan tentang sistem pendidikan nasional terpadu yang bervisi memperdayakan seluruh lapisan masyarakat.40
Strategi dan langkah yang perlu diperhatikan dalam usaha perubahan pendidikan Islam antara lain:
1. Reorientasi Kerangka Dasar Filosofis dan Teoritis
Unsur-unsur esensial dalam sistem pendidikan Islam didasarkan atas beberapa konsep pokok tertentu, yaitu konsep agama, konsep manusia, konsep ilmu, konsep kebijakan, konsep keadilan, konsep universitas, dan konsep demokrasi. Kerangka dasar pertama pembaruan pendidikan yang didasarkan pada asumsi-asumsi dasar tentang manusia dan hubungannya dengan masyarakat, lingkungannya menurut ajaran Islam. Proses pendidikan Islam dan pandangan Islam terhadap manusia sebagai makhluk yang dididik dan mendidik, sebagai berikut: a. sesuai dengan maksud pendidikan Islam adalah kegiatan untuk mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sejalan dengan nilai-nilai Islam, b. pembahasan tentang hakekat manusia dalam Al Qur’an kata kuncinya Khalaqa artinya menciptakan atau membentuk.41
39 Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, Pondok Pesantren
di Tengah Arus Perubahan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, 39.
40 Muhammad Abdurrahman, Pendidikan di Alaf Baru, Yogyakarta: Prismasophie,
2003, 36-37.
41 Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam, Membangun Masyarakat
Pendidikan Islam didasarkan pada asumsi bahwa manusia itu dijadikan khalifah di bumi, yang dilengkapi dengan fitrah yaitu potensi bawaan berupa: potensi keimanan, memikul amanah dan tanggung jawab, kecerdasan, komunikasi dan bahasa dan potensi fisik. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berwawasan tentang Tuhan, manusia dan alam secara integratif. Pendidikan sebagai proses belajar, harus mampu menghasilkan individu dan masyarakat religius yang secara personal memiliki integritas dan kecerdasan. Implementasi multiple intelligences pada sekolah Islam berorientasi pada ajaran Islam sesuai dengan Al Qur’an dan Hadis. Misalnya dalam pengembangan kecerdasan musikal diusahakan musik-musik yang bernuansa Islami dan menyesuaikan karakter-karakter Islam.
2. Misi dan Visi Pendidikan Islam
Lembaga-lembaga pendidikan Islam mau tidak mau dituntut untuk menyusun misi dan visi, baik tingkat makro maupun mikro. Apabila mencoba merumuskan misi pendidikan Islam bagaimana pendidikan Islam dapat:42
a. Mengembangkan potensi peserta didik secara optimal melalui pendidikan dan pengajaran bermutu berdasarkan nilai-nilai Islam. b. Mendorong pembaruan pemikiran Islam menuju masyarakat madani. c. Mengintegrasikan ilmu agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum.
42 Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam, Membangun Masyarakat