• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Pemerintah Daerah dalam Penegakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peran Pemerintah Daerah dalam Penegakan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Pemerintah Daerah dalam Penegakan Hukum Lingkungan Berbasis Keadilan Sosial

Disusun Oleh :

Dhanny Saraswati (8111416129)

Zaeda Zulfa (8111416243)

Rombel 05 Hukum Lingkungan

FAKULTAS HUKUM

(2)

Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr.Wb.

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat rahmat dan karunianya. Dalam rangka memenuhi tugas makalah hukum lingkungan oleh Bapak Ridwan Arifin, S.H., LL.M. program studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang, sehingga makalah yang berjudul “Peran Pemerintah Daerah dalam Penegakan Hukum Lingkungan Berbasis keadilan Soaial” ini dapat terselesaikan. Kami selaku tim penyusun makalah ingin menyajikan studi kasus, putusan dan peran pemerintah daerah dalam proses pengidentifikasian masalah atau potensi yang ada di masyarakat mengenai pelaksanaan penerbitan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) di Indonesia. Seperti yang telah diketahui, dewasa ini marak terjadi bangunan bangunan yang setelah diselidiki ternyata tidak memiliki Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) yang resmi dan sah sesuai dengan peraturan dan prosedur pembuatan IMB yang berlaku di Indonesia.

Makalah ini disajiakan mulai dari Bab I Pendahuluan yang meliputi: Latar Belakang, Rumusan Masalah, dan Metode Penulisan. Bab II menguraikan tentang Sub Pembahasan I, II dan III, Bab III mengememukakan tentang kesimpulan dan daftar isi.

Kami selaku tim penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, dengan kata lain masih banyak kekurangan data baik dari segi data yang diperoleh dari berbagai sumber yang sudah tidak relevan lagi maupun dari tata cara dan tata bahasa penyusunan buku ini. Untuk itu dengan segala kerendahan hati kami mengundang kepada para pembaca untuk menyampaikan kritik dan saran kepada kami agar kiranya makalah ini menjadi lebih baik dan berkualitas. Demikian harapan kami, semoga makalah ini dapat memberikan sumbanga pemkiran kepada para pemuda.

Walaikumsalam Wr.Wb.

(3)

Penulis

DAFTAR ISI

Kata

Pengantar... ...3

DAFTAR

ISI...4 Daftar

Tabel/Gambar... 14

Daftar

Putusan/Kasus... ...12

BAB I

Pendahuluan... 5

A. Latar

Belakang... .5

B. Rumusan

Masalah...6 C. Metode

Penulisan...7

BAB 11

Pembahasan... 8

A. Pembangunan Menurut AMDAL dan

(4)

B. Dampak dari pendirian Kawasan Industri di

Semarang... ...11

C. Peran Pemerintah Dalam Upaya Menegakkan Hukum Lingkungan Pada Pelaku

Industri... ...15

BAB III

KESIMPULAN...18 DAFTAR

PUSTAKA...19

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

(5)

kantor, pabrik, pertokoan, mall, tempat hiburan (hotel, diskotik dan sebagainnya), tempat pendidikan, dan bangunan lainnya semakin tinggi akibat pertambahan penduduk dan kebutuhannya. Fungsi bangunan sebagai tempat aktivitas perekonomian, kebudayaan, sosial dan pendidikan terkait dengan fungsi pemerintah daerah sebagai agent of development,agent of change dan

agent of regulation. Dalam fungsinya yang demikian, pemerintah daerah berkepentingan terhadap izin-izin bangunan. Perzinan bangunan diberlakukan agar tidak terjadi kekacau-balauan dalam penataan ruang kota, dan merupakan bentuk pengendalian penggunaan ruang kota.

Menyinggung soal dampak pembangunan di bidang real estate, industrial estate, shopping centre, dan sebagainnya, saat ini sangat diperlakukan pengaturan dalam rangka pengendalian dampak pembangunan, yang meliputi dampak lingkungan, impact fee, traffic impact Assesment. Impact Fee adalah biaya yang harus dibayar oleh pengembang oleh pemerintah kota akibat dari pembangunan yang mereka laksanakan. Pelaksanaan pembangunan oleh pengembang akan mengakibatkan biaya infrastruktur bagi pemerintah kota karena seluruh jaringan infrastruktur yang dibangun pengembang akan disambung dengan sistem jaringan kota, yang pada gilirannya menuntut peningkatan kapasitas. Adapun Traffic Impact Assesment, yaitu kewajiban yang harus dipenuhi oleh pengembang untuk melakukan kajian analisis tentang dampak lalu lintas. Kajian tersebut harus dapat menggambarkan kinerja jaringan jalan sebelum dan setelah ada pembangunan dan dampak yang diakibatkannya, kemudian bagaimana mencari solusi untuk mengatasinnya.

1Pencegahan berbagai dampak tersebut dalam pengelolaan perkotaan harus

dilakukan secara baik, terintegrasi dan holistik untuk mencegah berbagai dampak tersebut melalui pertimbangan berbagai aspek dalam prosedur perizinan.

Pembangunan Nasonal untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana dimuat dalam Undnag-Undang Dasar 1945 pada hakikatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia yang menekankan pada keseimbangan pembangunan, kemakmuran lahiriah dan kepuasan batiniah, dalam suatu masyarakat Indonesia yang maju dan berkeadilan sosial. Bangunan gedung sebagai tempat

1Ismail Zubir, Zoning Regulation : Instrumen yang Diperlukan dalam Rangka

(6)

manusia melakukan kegiatannya, mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan produktivitas, dan jati diri manusia. Oleh karana itu, penyelenggaraan bangunan gedung, pabrik dan lainnya perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan serta gedung yang fungsional, andal, berjati diri serta seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya.

Dalam mendirikan sebuah bangunan untuk suatu usaha perlu adanya kajian yang lebih dalam mengenai tempat yang akan ditempati agar tidak mencemari dan merusak lingkungan sekitar. 2Pada pasal 14 UUPPLH

menyebutkan instrumen– instrumen pencegahan pemcemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang pada dasarnya adalah juga ssebagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup karena pengelolaan lingkungan hidup dimaksudkan juga untuk mencegah dan mengatasi masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Semarang sebagai kota yang memiliki banyak pembangunan industri menimbulkan permasalahan mulai dari pencemaran lingkungan, kekeringan, suhu udara menjadi semakin panas dan masih banyak permasalahan lainnya yang bermunculan. Kota Semarang setiap tahun selalu dihadapi dengan pencemaran lingkungan yang semakin memprhatinkan. Sebagai Kota yang dihampiri oleh berbagai pendatang dari luar kota maupun luar provinsi dengan tujuan mencari lembaran uang sebagai kebutuhan hidup menambah masalah kepadatan penduduk dan kawasan perindustrian menjadi salah satu tujuan mendapatkan pekerjaan yang mudah dari pekerjaan lainnya. Kawasan industri yang memiliki sisi dampak positif dan dampak negatif sudah seharusnya menjadi perhatian bagi Pemerintah daerah.

Amdal sebagai salah satu instrumen pengelolaan lingkungan hidup memiliki peranan penting dalam memberikan kebijakan pemerintah terhadap dampak lingkungan yang akan ditimbulkan oleh bangunan perindustrian maupun bangunan lainnya. Ijin Mendirikan Bangunan pula menjadi peranan penting karena dengan izin ini bangunan–bangunan yang dijadikan usaha sudah sesuai dengan peraturan dan syarat yang dibuat Pemerintah.

B. Rumusan Masalah

Adapun beberapa rumusan masalah yang akan dibahas pada bab selanjutnya sebagai berikut:

2Prof. Dr. Takdir Rahmadi, S.H., LLM. Hukum Lingkungan di Indonesia. Ed.1.

(7)

1. Bagaimanakah pembangunan menurut AMDAL dan IMB?

2. Apa saja dampak dari pendirian Kawasan Industri di Semarang?

3. Bagaimana peran pemerintah dalam upaya menegakkan hukum lingkungan pada pelaku industri?

C. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan oleh penulis kali ini adalah metode penelitian kepustakaan (Library Research). Penelitian ini adalah Library Research (penelitian kepustakaan), baik berupa Buku, Jurnal Nasional, Jurnal Internasional dan artikel Jurnal yang bersumber dari Unnes Law Journal. Penelitian kepustakaan atau library research mungkin sudah sangat familiar bagi mahasiswa akhir yang menggunakan metode penelitian kualitatif. Bahkan ada yang beranggapan bahwa kualitatif tidak lepas dari kepustakaan yang hanya berhubungan dengan tumpukan refrensi buku saja. Padahal library research hanya salah satu jenis metode penelitian kualitatif. Dalam makalah kali ini kita akan membahas apa sebenarnya riset pustaka? Riset pustaka memanfaatkan sumber iperpustakaan untuk memperoleh data penelitiannya. Tegasnya riset pustaka membatasi kegiatannya hanya pada bahan – bahan koleksi perpustakaan saja tanpa melakukan riset lapangan. Riset pustaka tidak hanya sekadar urusan membaca dan mencatat literatur atau buku sebanyak– banyaknya sebagaimana yang sering dipahami banyak orang selama ini. Apa yang disebut riset pustaka atau sering juga disebut studi pustaka, ialah rangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.

Gambar 1. Gambaran Umum Metode Library Research

Ciri – ciri metode kepustakaan atau library research antara lain yang pertama adalah Peneliti berhadapan langsung dengan teks (nash) atau data angka

Teknik Pengumpulan Data Metode Library Research:

Berupa studi literatur dan studi dokumentasi.

(8)

bukan dengan pengetahuan langsung dari lapangan atau saksi mata (eyewitness) berupa kejadian, orang atau benda –benda lainnya. Yang kedua adalah data pustaka bersifat “siap pakai” (ready made) artinya peneliti tidak pergi ke mana-mana, kecuali hanya berhadapan langsung dengan bahan sumber yang sudah tersedia di perpustakaan.

Yang ketiga yaitu data pustaka umumnya, adalah sumber sekunder, dlam arti bahwa peneliti memperoleh bahan dari tangan kedua dan bukan data orisinil dari tangan pertama di lapangan. Dan yang keempat adalah kondisi data pustaka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Peneliti berhadapan dengan informasi statik, tetap. Dalam penulisan metode library research persoalan penelitian tersebut hanya bisa dijawab lewat penelitian pustaka dan sebaliknya tidak mungkin mengharapkan datanya dari riset lapangan. Studi sejarah umumnya menggunakan metode library research, selain itu penelitian studi agama dan sastra juga menggunakan metode ini. Studi pustaka diperlukan sebagai salah satu tahap tersendiri, yaitu studi pendahuluan (prelinmary research) untuk memahami lebih dalam gejala baru yang tengah berkembang di lapangan atau dalam masyarakat. Ahli kedokteran atau biologi, misalnya terpaksa melakukan riset pustaka untuk mengetahui sifat dan jenis – jenis virus atau bakteri penyakit yang belum dikenal. Data pustaka tetap andal untuk menjawab persoalan penelitiannya. Bukankah perpustakaan merupakan tambang emas yang sangat kaya untuk riset ilmiah. Informasi atau data empirik yang telah dikumpulkan orang lain berupa laporan hasil penelitian dan laporan–laporan resmi, buku – buku yang tersimpan dalam perpustakaan tetap dapat digunakan oleh periset kepustakaan. Hal tersebut merupakan gambaran umum library research.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pembangunan Menurut AMDAL dan IMB

(9)

banyaknya pencemaran yang dihasilkan oleh pelaku usaha dan penduduk yang ada di kota menjadi masalah besar yang harus diatasi. Untuk mengurangi dampak negatif yang ada di perkotaan, pembangunan haruslah berwawasan lingkungan. 3Pembangunan yang berwawasan lingkungan pada hakikatnya

merupakan pemasalahan ekologi, khususnya ekologi pembangunan yaitu interaksi antara pembangunan dan lingkungan. 4Di Indonesia masalah

lingkungan hidup mulai berkembang pada tahun 1976, melalui inventarisasi hukum lingkungan klasik Indonesia yang menghasilkan :

a. 22 UU dan Ordonansi b. 38 PP dan Verordening

c. 5 Kepress (keputusan Presiden) d. 2 Inpres (instruksi Presiden)

e. 45 Keputusan / peraturan menteri) f. 4 Keputusan Dirjen dan

g. Sejumlah peraturan daerah (tingkat I dan II)

5Secara umum, lingkungan hidup diartikan sebagai segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempati, dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia. Batas ruang lingkungan menurut pengertian ini bisa sangat luas, namun untuk praktisnya dibatasi ruang lingkungan dengan faktor-faktor yang dapat dijangkau oleh manusia seperti faktor alam, faktor politik, faktor ekonomi, faktor sosial dan lain-lain. Hakikat pencemaran atau perusakan lingkungan dsebabkan oleh keberadaan manusia atau oleh alam itu sendiri. Makhluk hidup tidak akan terlepas dari lingkungan untuk melangsungkan kehidupannya. Pada akhir – akhir ini keadaan alam sudah tidak ramah lagi, bencana banjir, hilangnya pulau – pulau kecil karena naiknya permukaan air laut, panasnya cuaca sekarang dan lain sebagainya, permasalahan yang terjadi sudah seharusnya menjadi perhatian masyarakat dunia. Manusia–manusia seharusnya sadar dengan lingkungannya yang mulai lelah sudah tidak sanggup menahan beban manusia

3Otto Soemarwoto, Analisis Dampak Lingkungan, Cet ke-4, Gajah Mada

University Press, Yogyakarta 1991, hlm. 16.

4 Munadjad Danusaputro, Hukum Lingkungan buku II Nasional, Bina Cipta

cetakan ke II, 1985:37.

5Leden Marpaung, Tindak Pidana Lingkungan Hidup dan Masalah Prevensinya,

(10)

di dunia juga buminya yang kurang sehat akibat minimnya kesadaran merawat dan mengembalikan alam seperti dulu.

Pembangunan selalu akan membawa perubahan untuk mengubah kondisi yang lebih baik. Pembangunan bertujuan untuk mengubah sedikit demi sedikit keseimbangan lingkungan ke arah kualitas yang lingkungan yang lebih tinggi. Pembangunan merupakan intervensi terhadap lingkungan yang “mengganggu” keseimbangan lingkungan dan membawanya ke kesimbangan baru yang kita anggap terletak pada tingkat kualitas yang lebih tinggi. Dengan demikian pembangunan membawa kualitas lingkungan kearah tingkat yang makin tinggi. Dalam usaha ini harus dijaga agar kemampuan lingkungan untuk mendukung tingkat hidup yang lebih tinggi tidak rusak sehingga tidak terjadi keambrukan. Menjaga kemampuan lingkungan untuk mendukung pembangunan jangka panjang yang mencakup jangka waktu antar-generasi yaitu pembangunan yang terlanjutkan.

Konsep Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) secara formal berasal dari Undang _ Undang Nepal Tahun 1969 di Amerika Serikat. Konsep AMDAL mempelajari dampak pembangunan terhadap lingkungan dan dampak lingkungan terhadap pembangunan juga didasarkan pada konsep ekologi yang secara umum didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan oleh pembangunan selalu lebih luas daripada yang menjadi sasaran pembangunan yang direncanakan. Secara umum dalam AMDAL dampak pembangunan diartikan diartikan sebagai perubahan yang tidak direncanakan yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan.

AMDAL lahir dengan tujuan untuk menghindari terjadinya kerusakan lingkungan oleh kegiatan manusia. AMDAL diperuntukkan bagi perencanaan program dan proyek. Menurut Undang – Undnag dan berdasarkan pertimbangan teknis AMDAL bukanlah alat untuk mengkaji lingkungan setelah program atau proyek selesai dan operasional. Dalam AMDA arti dampak diberi batasan yaitu perbedaan antara kondisi lingkungan yang diperkirakan aka ada dengan adanya pembangunan. 6Dampak meliputi baik dampak biofisik maupun

(11)

dampak social-budaya dan kesehatan serta tidak dilakukan Analisis Dampak Sosial dan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan secara terpisah dari AMDAL.

AMDAL seyogyanya dilakukan seawall mu ngkin dalam daur proyek yaitu bersama-sama dengan eksplorasi telaah kekayaan rekayasa dan telaah berikut:“pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya kedalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu generasi masa kini dan generasi masa depan” Untuk menjamin agar kegiatan pembangunan berjalan efektif, efisien dan memiliki sasarna yang jelas dan dapat menjamin tercapainya tujuan yang telah ditetapkan maka diperlukan perencanaan pembangunan. SEtiap Kabupaten/Kota merupakan bagian integral dari pembangunan yang dilakukan secara terus menerus untuk menuju arah perubahan lebih baik maka perubahan paradigma dalam penyelenggaraan pemerintah menuntut pihak pemerintah daerah untuk lebih mengutamakan prinsip –prinsip penyelenggaraan otonmi daerah yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan pembangunan daerah.

7Aturan penyelenggaraan bangunan gedung telah diatur dalam peraturan

daerah nomor 1 tahun 2012. Bangunan gedung menurut pasal 1 peraturan daerah nomor 1 tahun 2012 adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada diatas dan /atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial,budaya, maupun kegiatan khusus. Dalam pasal 2 bahwa maksud dari perda pengaturan bangunan gedung adalah untuk mengendalikan bangunan gedung agar tertib

7 Dwi Iriani, KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA MALANG DALAM PEMBERIAN IZIN

(12)

administrasi dan teknis. Sehingga tujuan yang ingin diseragamkan oleh pemerintah kota disebutkan selanjutnya dalam pasal 3 yaitu serasi dan selaras dengan lingkungan, tertib penyelenggaraan bangunan gedunga dengan jaminan keandalan teknis bangunan, dan mewujudkan kepastian hukum.

8Aturan penyelenggaraan bangunan gedung melewati beberapa 3 proses.

Pertama, pemilik bangunan atau perencana arsitekur yang diberi kuasa bermaterai mengajukan permohonan IMB yang telah disediakan oleh pemerintah daerah dengan melampirkan dokumen administratif, dokumen teknis, serta surat-surat pendukung yang terkait. Kedua, setiap permohonan IMB yang diajukan oleh pemohon diproses dengan urutan meliputi pemeriksaan dan pengkajian. Ketiga, jika dokumen telah memenuhi persyaratan, untuk kemudian disetujui dan disahkan oleh walikota atau pejabat yang ditunjuk. Pengesahan dokumen rencana teknis inilah yang menjadi dasar penerbitan IMB.Izin Mendirikan Bangunan (IMB) adalah perizinan yang diberikan oleh Kepala Daerah kepada pemilik bangunan untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan sesuai dLngan persyaratan administratif dan persyaratan. Di dalam pasal 6 huruf a hingga i perda nomor 1 tahun 2012 juga diatur bahwa walikota berhak menghentikan, menutup, menolak, melakukan perbaikan bangunan gedung jika dinilai tidak sesuai dengan lingkungan kota dan demi kepentingan umum.

Pembuatan IMB tidak hanya diperlukan untuk mendirikan bangunan baru, tetapi juga dibutuhkan untuk membongkar sebuah bangunan, merenovasi, menambah, mengubah fungsi ruangan, atau memperbaiki yang mengubah bentuk atau struktur bangunan. Tujuan diperlukannya IMB adalah untuk menjaga ketertiban, keselarasan, kenyamanan, dan keamanan dari bangunan itu sendiri terhadap penghuninya maupun lingkunan sekitarnya.

B. Dampak dari pendirian Kawasan Industri di Semarang

9Kata kawasan adalah kata yang diadopsi dari bahasa lain, menurut

bahasa Inggris kata kawasan lebih tepat dipinjam dari kata “Area” yang berarti “Scope or range of activity” yang terjemahan bebasnya adalah “daerah yang

8Ibid. Hlm. 7.

9 AS Hornby, oxford advance dictionary of current english, Twenty-fifth

(13)

dipakai untuk suatu kegiatan”. 10Sedangkan kawasan menurut kamus bahasa

Indonesia adalah “Daerah” sedangkan daerah berarti wilayah.

Semarang sebagai kota yang memiliki industri dihadapi berbagai permasalahan mengenai pencemaran lingkungan. Bahkan pencemaran lingkungan akibat industri di Semarang cenderung naik setiap tahunnya. Sebagai pusat pemerintahan, Semarang merupakan tujuan utama kaum urban untuk mengais rejeki. Dalam hal ini keberadaan kaum urban semakin menambah kepadatan penduduk di Kota Semarang. Dampak positif dari adanya perindustrian di Kota Semarang adalah mengurangi jumlah pengangguran di Kota Semarang, tapi dalam hal ini adanya industri juga berdampak negatif berupa pencemaran dan perusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh limbah industri yang pembuangannya dilakukan begitu saja di sembarangan tempat, tanpa adanya ketersediaan tempat khusus untuk pembuangan limbah tersebut.

Pembangunan Kawasan Industri Candi di Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang yang dimulai pada tahun 1995 hingga 1996. Setelah mendapatkan izin dari Pemerintah dalam perjalanannya telah melakukan penyimpangan–penyimpangan perjanjiannya, penyimpangan–penyimpangan penguasaan lahan, penyimpangan golongan galian, penyimpangan tata guna lahan. Penyimpangan yang telah diketahui sejak tahun 2003 kemudian Pemerintah melalui Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Semarang memberitahukan kepada Pemrakarsa bahwa dengan pelanggaran – pelanggaran tersebut mewajibkan kepada PT IPU selaku Pemrakarsa Kawasan ini, untuk membuat kajian ulang sebelum melakukan pembangunan Kawasan selanjutnya. Pembangunan Kawasan industri yang diprakarsai oleh PT IPU telah menimbulkan dampak luas bukan hanya kepada masyarakat umum kota Semarang namun masyarakat petani tambak di kawasan Pantai Utara Kota Semarang, masyarakat perumahan yang berdekatan ndengan aliran sungai Silandak, masyarakat umum pengguna jasa transportasi udara dan transportasi darat (kereta api, bus) khususnya pada musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau dampak yang dirasakan masyarakat sekitar kawasan adalah adanya penurunan debit air bawah tana yang terus merosot akibat

10 Amran YS Chaniago, kamus bahasa Indonesia, Pustaka setia, cetakan ke V,

(14)

pembangunan pembuatan sumur air bawah tanah di Kawasan Indudtri yang tidak terkendali, debu yang mengguyur sekitar kawasan industri Candi ini, merosotnya kwalitas kesehatan masyarakat sekitar, merosotnya kesuburan tanah yang menyebabkan menurunnya kemampuan resapan air atau kemampuan konservasi kawasan sekitar. Pembangunan Kawasan Industri Candi di Kawasan Jalan Gatot Subroto , Ngaliyan, Semarang dari sisi perizinannya telah terjadi pelanggaran, karena pembangunan yang sampai sekarang masih berjalan tidak mempunyai dasar perizinan resmi dari institusi teknis Pemerintah Kota Semarang, perlu adanya langkah –langkah hukum yang jelas berupa peninjauan kembali perizinannya. Pemberian sanksi secara hukum yang jelas dan transparan kepada publik. 11Industri candi yang meliputi : Tiga

wilayah Kelurahan di Kecamatan Ngaliyan yaitu Kelurahan Purwoyoso, Kelurahan Ngaliyan, dan Kelurahan Babankerep luas wilayah yang diijinkan adalah sekitar 300 ha.

12Untuk menjaga ekosistem di wilayah Ngaliyan, khususnya di kawasan

Industri Candi Gatot Subroto pada saat sekarang ini, adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin yang disebabkan sejak tahun 1996, kawasan yang berada di tiga kelurahan ini, meliputi kawasan kelurahan Purwoyoso, kawasan kelurahan Babankerep, kawasan kelurahan Ngaliyan telah dilakukan perombakan oleh PT IPU atas nama sebuah kepentingan peningkatan ekonomi, dengan cara merusak atau setidak-tidaknya merubah lingkungan yang ijinnya “belum ada”. Ancaman yang sangat mungkin terjadi untuk kawasan ini dan sekitarnya adalah :

 Risiko keseimbangan ekosistem terancam

 Kemungkinan hilangnya cadangan sumber air bawah tanah

 Rusaknya lingkungan alam sekitar akibat tidak adanya Zat Pengurai yang sangat dibutuhkan.

 Terjadinya ancaman banjir akibat resapan daerah ini sudah rusak atau tidak berfungsi.

11Daftar dokumen rencana pengelolaan lingkungan (RKL) PT.IPU 2006:I:1.

(15)

Pembukaan Kawasan Industri Candi yang diikuti dengan pemotongan bukit, penebangan pohon, pembangunan pergudangan, yang dilengkapi dengan pemasangan atap-atap yang terbuat dari steanless, pemasangan instalasi, hingga berproduksinya industri tertentu yang tentu saja diikuti pula pembuatan sumur air bawah tanah atau sumur artetis bagi kepentinganya. 13

Pembangunan dan pembukaan Kawasan Industri yang saat ini telah sebagian beroperasi yang berupa pengubahan barang jasa yang dimanfaatkan oleh umat manusia, tentu saja dapat menimbulkan persoalan tersendiri yaitu persoalan polusi udara, polusi air, dan polusi tanah. Hal demikian perlu ada pengaturan tersendiri yang kemudian disebut sebagai Hukum Tata Lingkungan 4. 14Instruksi Menteri Negara Agraria Kepala Badan Pertanahan Nasional No.5

tahun 1998 tentang pemberian izin lokasi dalam rangka penataan penguasaan tanah skala besar pertama. Dalam memberikan izin lokasi untuk satu badan hukum atau kelompok badan hukum yang saham mayoriotasnya dikuasai oleh seseorang tertentu luasnya tidak boleh melebihi batas maksimum yang ditetapkan. Ancaman yang serius bagi masyarakat sekitar Kawasan Industri Candi Gatot Subroto Ngaliyan kota Semarang, yang berujud hujan zat azam, pemadatan tanah akibat zat azam, gangguan kesehatan lainnya yang perlu mendapat penjelasan dari pemrakasa Kawasan Industri Candi di wilayah Kecamatan Ngaliyan.

Berikut adalah keadaan demografis kecamatan Ngaliyan menurut Kelompok Umur berdasarkan data tahun 2004, adalah sebagai berikut :

13 Koesnadi Hardjosoemantri, Hukum tata lingkungan , edisi kedelapan,

cetakan ke delapan belas, Gajah Mada University Press, 2005:45

14 Budi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Penerbit Jambatan, cetakan

(16)

Data kependudukan menurut kelompok jenjang pendidikan berdasarkan data tahun 2004 di Kecamatan Ngaliyan adalah sebagai berikut:

C. P

e r a n

(17)

Hukum lingkungan atau juga dengan hukum tata lingkungan, adalah hukum yang mengatur tentang tata ruang dan peruntukan ruang bagi ekosistem yang diharapkan mampu mendukung berkesinambunganya ekosistem yang saling membutuhkan dalam rangka menjaga keajegan keseimbangan antar ekosistem, menjaga keserasian kehidupan, tata lingkungan didalamnya juga mengatur tentang tata guna ruang yang bertujuan untuk tetap mengendalikan kerusakan lingkungan yang tidak diharapkan.

15Tata ruang yang berkaitan dengan penyelamatan lingkungan pertama kali

mulai dibahas melalui badan ekonomi dan badan sosial Perserikatan Bangsa-bangsa ketiqa diadakan peninjauan terhadap hasil gerakan dasawarsa pembangunan dunia ke I negara-negara yang pertama kali sebagai pengusung ide berasal dari wakil Swedia pembicaraan masalah lingkungan hidup ini diajukan oleh wakil Swedia pada tanggal 28 Mei 1968, disertai saran untuk dijajagi kemungkinan guna menyelenggarakan suatu konferensi Internasioanl mengenai lingkungan hidup manusia.

Pasal 3 Undang-undang nomor 23 tahun 1997 undang-undang pengelolaan lingkungan hidup yang berbunyi sebagai berikut: Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan azas tanggung jawab negara, azas berkelanjutan dan azas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa.

Penataan ruang yang bertujuan untuk mengendalikan pemanfaatan tata ruang yang berimbang, dengan memperhatikan keselamatan ekosistem perlu mendapat pengaturan dan pengawasan dari institusi negara. Penataan ruang juga dibuat sedemikian rupa agar perlindungan keselamatan lingkungan benar-benar terjaga. Pasal 2 undang-undang nomor 13 tahun 1992 tentang Tata Ruang yang berbunyi sebagai berikut:

Penataan ruang berazaskan :

a) Pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan.

b) Keterbukaan, persamaan, keadilan dan perlindungan hukum.

15 Koesnadi Hardjosoemantri, Hukum tata lingkungan, Gajah Mada University,

(18)

Rencana pembangunan kawasan Industri Candi di Jalan Gatot Subroto Ngaliyan Semarang yang diprakarsai oleh PT.IPU, telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Semarang. Sosialisasi dilaksanakan pada saat awal pembangunan kawasan ini. pembangunan kawasan Industri dalam perkembangannya mengalami perubahan, semua pembangunan kawasan Industri di dasarkan atas ijin yang dimuat dalam gambar yang disahkan oleh atasnama Pemerintah Kota Semarang, Kepala Dinas Perencanaan dan perijinan Nomor : AGD 5911/1585/UPT/05,TGL 14 April 2005, luas kawasan yang diijinkan seluas 300 ha, namun dalam perkembangannya PT IPU secara sepihak telah mempromosikan dan merencanakan perluasan kawasan Industri ini dengan nama Candi Industrial Estate menjadi seluas 600 ha, perluasan ini telah dipromosikan kepada Publik, perencanaan yang tidak disertai dengan sosialisasi dan ijin kajian analisis dampak lingkungan ini, tentu telah melanggar ketentun hukum yang berlaku.

16Pembangunan Kawasan Industri Candi di Jalan Gatot Subroto Ngaliyan Semarang, bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di kota Semarang. Menurut KA-Kadal (kerangka Acuan Kajian Analisis Dampak Lingkungan) yang telah dibuat bertujuan sebagai berikut : “dengan beroprasinya Kawasan Industri Candi PT IPU yang berlokasi di Kecamatan Ngaliyan, diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan kegiatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat melalu peningkatan kesempatan kesejahteraan kerja dan peluang berusaha disektor formal dan informal. Selain itu dengan adanya kawasan industri, diharapkan juga akan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) kota Semarang dan peningkatan Devisa Negara melalui penerimaan Eksport.

Berdasarkan surat Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Semarang nomor: 660.1/512, tanggal 2 Oktober 2003, PT IPU selaku pemrakarsa kawasan ini, telah dinyatakan bahwa ijinnya telah dinyatakan dicabut atas kekuatan Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Dampak Lingkungan pasal 26 ayat (1) dan diperintahkan kepada PT IPU untuk merevisi dokumen Amdalnya, namun sampai dengan selesainya penulisan tesis ini, ijin kajian Amdalnya PT IPU belum selesai dibuat, yang disebabkan oleh adanya Eksclusivisme PT IPU sebagai pemrakarsa kawasan ini.

(19)

Pada tahun 2003, oleh Bapedalda Kota Semarang, telah dinyatakan secara terbuka bahwa ijin kawasan ini telah dinyatakan dibatalkan, karena site plan kawasan ini telah berubah atau tidak dilaksanakan secara konsekuen, namun kenyataanya semenjak dicabutnya ijin itu, yang dinyatakan sejak tahun 2003 hingga saat ditulisnya Tesis ini, aktifitas di kawasan ini masih berjalan seperti biasa, seolah tidak ada pencabutan ijinya dari Pemerintah Kota Semarang. Keadaan ini telah memaksa anggota Dewan Kota Semarang, telah melakukan peninjauan lapangan, namun ekses dari peninjauan tersebut, tidak ada respon apapun dari PTIPU selaku pemrakarsa kawasan ini.

Pembangunan Kawasan Industri Candi oleh PT IPU yang melakukan dengan cara pemotongan bukit-bikit dengan kelerengan antara 15%sampai dengan 40%,walaupun dalam perda 15 tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Bagian Wilayah Kota X (BWK X), bahwa daerah dngan kelerengan itu harus dipertahankan sebagai daerah sabuk hijau. Penghijauan untuk kepentingan konservasi dipertahankan, kemudian dalam BWK X ini juga menyatakan bahwa di wilayah BWK X tidak lagi diperpanjang areal galian C nya yang dinyatakan sejak tahun 2004, namun hal itu tidak diindahkan oleh PT IPUBahwa sampai dengan tahun 2007, penelitian dalam rangka mendapatkan kajian Analisis dampak lingkungan yang menjadi prasyarat keluarnya ijin pembangunan kawasan ini belum juga turun atau di sahkan oleh Pemerintah Daerah Kota Semarang, yang berarti kegiatan dikawasan ini, serta bangunan-bangunan perusahaan yang ada setelah tahun 2004, harus dinyatakan melanggar hukum. Dengan pelanggaran-pelanggaran ini pemerintah harus mencabut ijinnya dan harus menutup kawasan ini, selama kawasan ini telah dibangun dengan melanggar hukum. Menutup kawasan Industri Candi yang telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketntuan yang telah diijinkan, namun kemudian telah dinyatakan batal berdasarkan pasal 26 Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tetang Analisi Mengenai Dampak lingkungan. Pembangunan Kawasan Industri Candi ini telah menimbulkan dampak, antara lain :

a. kebisingan selama pelaksanaan proyek, dan selama proses produksinya perusahaan terutama yang berdekatan dengan kawasan pemukiman.

(20)

c. Pencemaran udara yang berpengaruh terhadap kadar kesehatan masyarakat sekitar (berproduksinya pabrik batubara yang tidak berijin), bau tidak sedap akibat sampah terutama pada musim penghujan, dan musim pancaroba, bau menyengat (aroma terbakar) yang terjadi hampir setiap jam 17.00 sampai dengan jam 21.00 wib. d. Kerusakan ekosistem yang serius, dan tidak ada pengendali dari pihak

yang berwenang.

e. Pemanfataan sumber air bawah tanah (ABT) yang tidak terkendali (tidak berijin) oleh Kawasan Industri Candi, sehingga mengancam keberadaan Sumur Artetis penduduk sekitar yang dijadikan satu-satunya sumber air bersih bagi warga sekitar.

f. Penambangan liar galian C, oleh Pemrakarsa (PT.IPU) yang tidak terkendali.

KESIMPULAN

Fungsi bangunan sebagai tempat aktivitas perekonomian, kebudayaan, sosial dan pendidikan terkait dengan fungsi pemerintah daerah sebagai agent of development,agent of change dan agent of regulation. Dalam fungsinya yang demikian, pemerintah daerah berkepentingan terhadap izin-izin bangunan. Perzinan bangunan diberlakukan agar tidak terjadi kekacau-balauan dalam penataan ruang kota, dan merupakan bentuk pengendalian penggunaan ruang kota.Bangunan gedung sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan produktivitas, dan jati diri manusia. Oleh karana itu, penyelenggaraan bangunan gedung, pabrik dan lainnya perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan serta gedung yang fungsional, andal, berjati diri serta seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya.

AMDAL mempelajari dampak pembangunan terhadap lingkungan dan dampak lingkungan terhadap pembangunan juga didasarkan pada konsep ekologi yang secara umum didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya.Dalam mendirikan sebuah bangunan untuk suatu usaha perlu adanya kajian yang lebih dalam mengenai tempat yang akan ditempati agar tidak mencemari dan merusak lingkungan sekitar. 17Pada pasal 14 menyebutkan instrumen– instrumen

17Prof. Dr. Takdir Rahmadi, S.H., LLM. Hukum Lingkungan di Indonesia. Ed.1.

(21)

pencegahan pemcemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang pada dasarnya adalah juga ssebagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup karena pengelolaan lingkungan hidup dimaksudkan juga untuk mencegah dan mengatasi masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Aturan penyelenggaraan bangunan gedung melewati beberapa 3 proses. Pertama, pemilik bangunan atau perencana arsitekur yang diberi kuasa bermaterai mengajukan permohonan IMB yang telah disediakan oleh pemerintah daerah dengan melampirkan dokumen administratif, dokumen teknis, serta surat-surat pendukung yang terkait.

DAFTAR PUSTAKA

Soemarwoto, Otto. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada Press, 2014.

Daftar dokumen rencana pengelolaan lingkungan (RKL) PT.IPU 2006:I:1.

M, Sastra Suparno dan Endy Marlina. Perencanaan Dan Pengembangan Perumahan.Yogyakarta: C.V Andi Offset, 2007.

Sutedi, Adrian. Hukum Perizinan: Dalam Sektor Pelayanan Publik. Jakarta: Sinar Grafika, 2010.

Ismail Zubir, Zoning Regulation : Instrumen yang Diperlukan dalam Rangka Reformasi Penataan Ruang, REGOM, Edisi ke-XI, Desember 2000.

Otto Soemarwoto, Analisis Dampak Lingkungan, Cet ke-4, Gajah Mada University Press, Yogyakarta 1991.

Munadjad Danusaputro, Hukum Lingkungan buku II Nasional, Bina Cipta cetakan ke II, 1985.

Ka-Kadal, Kawasan Industri Candi oleh PT.IPU Smg, 2006.

Koesnadi Hardjosoemantri, Hukum tata lingkungan, Gajah Mada University, edisi kedelapan, cetakan kedelapan belas, 2005.

Leden Marpaung, Tindak Pidana Lingkungan Hidup dan Masalah Prevensinya, Sinar Grafika, Jakarta 1997.

Prof. Dr. Takdir Rahmadi, S.H., LLM. Hukum Lingkungan di Indonesia. Ed.1. Maret 2014. hlm.85

(22)

Aruminingtyas, Dyah. “Model Partisipasi Masyarakat Dalam Implementasi Penerbitan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) Berdasarkan Perspektif Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik Di Kota Semarang”. UNNES LAW JOURNAL, Semarang, 2014.

Hartono.“PEMBANGUNAN KAWASAN INDUSTRI MENURUT KAJIAN HUKUM LINGKUNGAN”. Tesis Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum Fakultas hukum UNDIP, Semarang, 2007.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mencapai tujuan tersebut maka dikeluarkannya Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah yang mengatur

Untuk mencapai tujuan tersebut maka dikeluarkannya Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah yang mengatur

Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara

Secara geografis, wilayah Indonesia memiliki kondisi yang unik dan variatif, yang kemudian berpengaruh pada pelaksanaan Pemilu serta Pemilihan Serentak Tahun 2024. Begitu pula

Atribusi kewenagan lewat Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia, mengenai adat istiadat sudah seharusnya dijadikan dasar oleh Pemerintah daerah di wilayah

dah-mudahan tahun berikutnya kami masih diberi bantuan lagi karena baru kali ini saya mendapat bantuan walaupun hanya cukup untuk membeli sarana alat tangkap dan kami

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Mahan Pengasih lagi Maha Penyayang, penulis panjatkan segala puji syukur ke hedirat-Nya karena atas izin Allah SWT, penulis dapat

Peran pemerintah daerah dalam pemanfaatan ruang wilayah permukiman di Kecamatan Barombong Kabupaten Gowa Pengaturan yang di lakukan pemerintah Daerah khususnya Dinas pekerjaan umum