• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KUNJUNGAN KERJA SPESIFIK KOMISI VI DPR RI KE PROVINSI JAWA TIMUR (SURABAYA) PADA MASA RESES PERSIDANGAN II TAHUN SIDANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KUNJUNGAN KERJA SPESIFIK KOMISI VI DPR RI KE PROVINSI JAWA TIMUR (SURABAYA) PADA MASA RESES PERSIDANGAN II TAHUN SIDANG"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KUNJUNGAN KERJA SPESIFIK KOMISI VI DPR RI

KE PROVINSI JAWA TIMUR (SURABAYA)

PADA MASA RESES PERSIDANGAN II

TAHUN SIDANG 2020 – 2021

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA

(2)

I. PENDAHULUAN A. Dasar Hukum

Pasal 67 dan 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (MD3), sebagaimana diubah terkahir kali dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2019 Tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang MD3, diatur bahwa DPR RI memilki 3 (tiga) fungsi, yakni Fungsi Legislasi, Fungsi Anggaran dan Fungsi Pengawasan. Untuk menjalankan ketiga fungsi tersebut, dapat dilaksanakan melalui pelaksanaan kunjungan kerja, baik di dalam maupun ke luar negeri, sebagaimana diatur dalam Pasal 98 UU MD3.

Pelaksanaan Kunjungan Kerja Spesifik Ke Provinsi Jawa Timur didasarkan pada aturan pada undang-undang tersebut. Selain itu, pelaksanaan kunjungan ini juga didasarkan pada Keputusan Pimpinan DPR RI tentang Penugasan Anggota Komisi I s.d. XI DPR RI untuk melakukan Kunjungan Kerja pada Masa Persidangan II Tahun Sidang 2020 – 2021, dan Keputusan Rapat Intern Komisi VI DPR RI mengenai Sasaran dan Objek Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI dalam Masa Persidangan II Tahun Sidang 2020–2021.

B. Susunan Anggota Tim Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI

NO. NO. ANGG. N A M A KETERANGAN

1. A-327 GDE SUMARJAYA LINGGIH, SE, MAP KETUA TIM/PIMP. F.PG 2. A-196 ADISATRIA SURYO SULISTO F.PDIP

3. A-181 DR. EVITA NURSANTY, M.Sc F.PDIP 4. A-170 RIEKE DIAH PITALOKA, M. HUM. F.PDIP

5. A-161 DARMADI DURIANTO F.PDIP

6. A-179 GILANG DHIELAFARAREZ, SH, LL.M F.PDIP

7. A-258 LAMHOT SINAGA F.PG

8. A-348 TRIFENA M. TINAL, B.Sc F.PG

9. A-268 KHILMI F.GERINDRA

10. A-131 Ir. H. LA TINRO LA TUNRUNG F.GERINDRA 11. A-94 MUHAMMAD HUSEIN FADLULLOH, B.BUS, MM, MBA F.GERINDRA

(3)

12. A-25 SITI MUKAROMAH, S.Ag, MAP F.PKB

13. A-19 MARWAN JAFAR F.PKB

14. A-544 DR. Ir. E. HERMAN KHAERON, M.Si F. PD 15. A-542 H. ANTON SUKARTONO SURATTO, M.Si. F. PD 16. A-554 EDHIE BASKORO YUDHOYONO, M.Sc F.PD

17. A-447 AMIN, AK, KK F.PKS

18. A-433 MAHFUDZ ABDURRAHMAN, S.Sos F.PKS

19. A-481 H. NASRIL BAHAR, SE F.PAN

20. A-493 EKO HENDRO PURNOMO, S.Sos F.PAN

21. A-498 PRIMUS YUSTISIO, SE F.PAN

22. A-463 ELLY RACHMAT YASIN F.PPP

23. -- ANITA HANDAYANI PUTRI, ST., MT. KASUBAG 24. -- JAINURI ACHMAD IMAM SUDARKO, S.A.P. SETKOM

25. -- HERU PRABOWO SETKOM

26. -- MUHAMMAD DARWINSYAH, SE, MM TENAGA AHLI

27. -- SITI NADIA PEMBERITAAN

28. -- DOMINGGUS TITIHERU TV PARLEMEN

II. INFORMASI DAN TEMUAN KUNJUNGAN KERJA 1. PT. Pelabuhan Indonesia III (Persero)

Menurut data Kementerian Perhubungan, Indonesia memiliki 3.089 Pelabuhan yang terdiri dari 2.052 Pelabuhan sebagai TUKS, 934 Pelabuhan dikelola Kementerian Perhubungan dan Badan Usaha Pelabuhan (BUP) Non Pelindo dan 103 Pelabuhan dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero) I s.d. IV. PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) merupakan operator pelabuhan yang mengelola 43 Pelabuhan di 7 Provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Sebagai Badan Usaha Pelabuhan (BUP), Pelindo 3 beroperasi sebagai penyedia fasilitas jasa kepelabuhanan yang memiliki peran kunci guna menjamin kelangsungan dan kelancaran angkutan laut untuk menggerakkan serta mendorong kegiatan ekonomi negara dan masyarakat.

Didukung sejumlah unit cabang dan lini usaha, Pelindo 3 melakukan pengelolaan atas jasa bongkar muat peti kemas dan nonpeti kemas yang meliputi PT

(4)

Terminal Petikemas Surabaya (TPS), PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI), PT Terminal Teluk Lamong (TTL), dan unit usaha Terminal Petikemas Semarang (TPKS).

Sementara unit usaha lainnya yaitu Pelindo Marine Service (PMS) memberikan jasa kepanduan, dan Pelindo Daya Sejahtera sebagai entitas alih daya kepegawaian. Selain itu, lini bisnis utama ditopang perusahaan yang meliputi Berlian Manyar Sejahtera (BMS), Berkah Multi Cargo (BMC) Logistik, dan Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS), yang mengelola Kawasan Java Integrated Industrial Port Estate (JIIPE) di Jawa Timur. Lesunya ekonomi global akibat pandemi Covid-19 berdampak langsung pada perekonomian Indonesia dan mengharuskan setiap pihak, tak terkecuali perusahaan milik negara (BUMN) memiliki inisiatif serta pola adaptasi dan kolaborasi dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Proyeksi Laba Usaha Tahun 2020 sebesar Rp 2,56 T atau 95% dari Laba Usaha Tahun 2019, hal ini dikarenakan :

1. Penurunan Kunjungan Kapal

2. Penurunan Trafik Petikemas baik Domestik maupun Internasional 3. Penurunan Trafik Barang dalam satuan Ton

4. Penurunan Trafik Penumpang, khususnya Penumpang Kapal Cruise 5. Untuk Biaya, Manajemen telah melakukan efisiensi biaya

REALISASI 2019 RKAP 2020 OKTOBER 2020 PROYEKSI 2020 % YoY (1) (2) (3) (4) (5 = 4 :1) Pendapatan Usaha 9.774 M 9.169 M 7.556 M 9.044 M 93 Biaya Usaha (7.073 M) (6.695 M) (5.329 M) (6.485 M) 92 Laba Usaha 2.701 M 2.474 M 2.227 M 2.559 M 95 Laba Bersih 2.079 M 377 M 679 M 1.237 M 59 EBITDA 3.971 M 3.677 M 3.306 M 3.844 M 97 Total Aset 30.756 M 31.589 M 32.575 M 32.649 M 106

(5)

Proyeksi Laba Bersih Tahun 2020 sebesar Rp 1,23 T atau 59% dari Laba Bersih Tahun 2019, hal ini dikarenakan Fluktuasi Nilai Tukar USD terhadap Rupiah, mengingat hutang Pelindo III saat ini seluruhnya dalam bentuk mata uang asing USD (Global Bond dan ECA).

Proyeksi EBITDA tahun 2020 sebesar Rp 3,84 T atau 97% dari EBITDA tahun 2019 dan Total Aset tahun 2020 tumbuh 6% sebesar Rp 32,65 T dibanding Total Aset 2019.

Dengan kolaborasi antara regulator, stakeholder dan para asosiasi yang terlibat dalam kegiatan logistik, Pelindo 3 menyiapkan kemudahan untuk memperkuat program pemerintah terkait pemulihan ekonomi nasional (PEN) untuk ekosistem bisnis kepelabuhanan dan kemaritiman.

Arus Petikemas tercapai sebesar 102% dalam satuan teus dibandingkan dengan RKAP 2020 dengan mulai tumbuhnya arus perdagangan baik import maupun ekspor dan arus perdagangan domestic. Sementara Arus Penumpang terealisasi sebesar 115% dari RKAP s.d Oktober 2020 karena tumbuhnya arus penumpang kapal dalam negeri sejak mulai berkurangnya PSBB di beberapa wilayah di Indonesia.

Arus kapal terealisasi dibawah RKAP s.d Oktober 2020 karena belum pulihnya arus kapal barang yang mengangkut batubara dan kapal curah cair di TUKS utamanya di wilayah Kalimantan. Dan pada Arus Barang Satuan ton menurun karena menurunnya arus barang di beberapa TUKS khususnya atas muatan batubara dan bahan baku gandum selain itu satuan M3 tercapai 130% dibandingkan RKAP sd Oktober 2020 karena tercapainya bongkar kayu log di Pelabuhan Tg.Emas. Satuan Unit tercapai seiring kenaikan arus truk yang menggunakan RORO khususnya melalui Pelabuhan Banyuwangi.

1 Tahun s.d Oktober [a] [b] [c] [d] Unit 63.990 73.576 60.182 58.297 97 91 GT 248.966.649 291.310.976 240.848.902 232.907.026 97 94 Ton 61.197.336 68.736.059 57.012.356 54.188.412 95 89 M3 2.731.543 2.371.812 1.788.402 2.316.997 130 85 MMBTU 9.640.133 11.348.885 9.483.486 9.760.000 103 101 Unit 373.037 351.618 294.443 334.150 113 90 Box 3.586.282 3.970.208 3.290.916 3.335.741 101 93 Teus 4.450.803 4.955.489 4.112.614 4.191.827 102 94 Penumpang Orang 2.983.159 1.274.035 1.137.650 1.303.186 115 44 [d:a] Satuan Arus Realisasi s.d Oktober 2019 Realisasi s.d Oktober 2020 Kecenderungan (%) RKAP 2020 [d:c] Barang Petikemas Kapal

(6)

Terkait Pandemi Covid-19, beberapa hal yang telah dilakukan oleh Pelindo III, antara lain :

1. Anggaran Bina Lingkungan focus pada penanganan Covid19. 2. Optimalisasi program kemitraan untuk UKM terdampak.

3. Implementasi E-Office untuk mendukung WFH, sehingga memitigasi penyebaran covid19 di Pelindo III Group.

2. PT. Angkasa Pura I

Akibat Pandemi Covid-19, trafik penerbangan global diprediksi akan mengalami penurunan drastis dan kembali pulih pada tahun 2022 – 2023. Hingga vaksin ditemukan, masih terdapat risiko pandemi Covid-19 gelombang berikutnya yang dapat menghambat kembalinya kepercayaan penumpang.

Pertumbuhan penerbanga internasional dinilai lambat karena perlu adanya standar prosedur keselamatan yang dapat diterima secara global. Trafik penumpang di negara seperti Cina dinilai dapat meningkat terlebih dahulu dibanding negara lain didorong oleh pertumbuhan penerbangan domestik. Dimungkinkan terjadi sama di Indonesia, karena faktor kuatnya domestik, maka diprediksi Indonesia akan pulih lebih cepat juga. Pertumbuhan trafik akan disertai dengan perubahan traveller behaviour seperti berkurangnya wisatawan dan perjalanan bisnis.

Angkasa Pura I mengalami tekanan sangat berat dengan penurunan drastis jumlah penumpang akibat pandemi COVID-19

(7)

Sementara itu, 4 (Empat) Strategic Initiatives AP I dalam menghadapi Pandemi COVID-19

1. Risk Assessment

Identifikasi risiko strategis, keuangan, dan operasional yang memiliki implikasi tehadap COVID-19 sebagai baseline untuk menyusun strategi dan langkah teknis. 2. Crisis Control Center

Membentuk tim crisis center yang membantu leadership AP I berkoordinasi dan melakukan monitoring terhadap SLA pemenuhan kewajiban PSO serta pencapaian target pada Survival Strategy.

3. Survival Strategy

Mempersiapkan kondisi keuangan perusahaan untuk bertahan di 2020 dengan melakukan beberapa program kerja seperti simulasi cash flow, cost leadership dan revenue enhancement.

4. Rebound Strategy

Menyiapkan lompatan pertumbuhan AP I di 2021 dengan program kerja Multi Dimension, Performance Improvement dan Rebound Strategy, yaitu :

 Melakukan inisiatif perbaikan :

Business process Improvement, Re-Strukturisasi organisasi, Enterprise Architecture, dan Strategic Procurement.

 Dan melakukan Inisiatif Baru yaitu :

Persiapan New Normal dan Penguatan Bisnis Baru.

Impact dari perbaikan ini dirasakan di 2021, dimana pada saat

market sudah normal kembali, AP I mampu membuat lompatan signifikan.

Kesiapan AP 1 pasca Pandemi Covid-19 dan menghadapi lonjakan mobilisasi masyarakat yang akan menggunakan moda transporasi udara, adalah dengan memastikan seluruh bandara yang di kelola AP 1 SIAP, baik dari sisi mandatory yaitu Keamanan dan Keselamatan serta Pelayanan, juga dari sisi dalam penanganan penyebaran Covid-19 di bandara, antara lain :

1. Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19 di seluruh bandara. Memastikan kesiapan area bandara termasuk seluruh petugas bandara dan mitra kerja, baik area operasional (Penerapan Airport Personal Protection) dan area komersial (Penerapan Service Adaptation)

2. “TERBANG LAGI” CAMPAIGN, memastikan masyarakat terinformasi dengan baik terkait kesiapan bandara untuk menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat dapat terbang aman dan nyaman dari bandara

(8)

3. Melakukan upaya-upaya untuk mendukung pengguna jasa bandara dan mitra kerja di bandara.

Terdapat 5 isu utama di AP1, dan untuk mengatasinya (terutama pandemi COVID-19) AP 1 perlu menyesuaikan strategi perusahaan di berbagai aspek : 1. Prepare for COVID-19 Recovery

Meningkatkan performa perusahaan (operasional dan keuangan) untuk menghadapi perubahan perilaku penumpang akibat pandemi COVID -19, termasuk pemanfaatan unsur teknologi, penggunaan stimulus pemerintah tepat sasaran, dan kerjasama program Safe Corridor Initiative (bubble tourism).

2. Distinctive Strategy to Maximise Revenue (Core and Non-Core)

Meningkatkan aero revenue dan non-aero revenue melalui optimalisasi asset, pengembangan bisnis kargo, dan monetisasi teknologi.

3. Strategy to Drive Efficiency

Melakukan rasionalisasi biaya melalui peningkatan kapabilitas SDM, inisiatif data sharing, efisiensi energi dengan menggunakan energi alternatif di seluruh bandara, dll.

4. Strategy to Leverage Cashflow

Melakukan eksplorasi terhadap opsi pendanaan alternatif, mis. melalui skema Build Own Transfer (BOT) bandara Lombok dan Build Own Operate Transfer (BOOT) untuk Airport City, menjajaki pembiayaan Project Finance, dll.

5. Parenting Strategy

Melakukan koordinasi dengan anak perusahaan untuk mengembangkan bisnis existing dan baru (pengembangan bisnis duty free dan duty paid, retail dan F&B operator, airport city, dll.)

3. PTPN Group (X, XI dan XII)

PT Perkebunan Nusantara X (Persero)

PT Perkebunan Nusantara X (Persero) yang selanjutnya disingkat PTPN X dengan wilayah operasional Provinsi Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah (untuk tembakau) dengan dua bidang usaha utama antara lain :

1. Produsen Gula dengan 9 Unit Pabrik Gula (PG) yang tersebar di wilayah Jawa Timur antara lain PG Kremboong, PG Gempolkrep, PG Djombang Baru, PG Tjoekir, PG Lestari, PG Meritjan, PG Pesantren Baru, PG Ngadirejo dan PG Modjopanggoong.

(9)

2. Unit usaha tembakau kegiatan usahanya dilakukan di wilayah kabupaten Jember, meliputi Kebun Ajong Gayasan dan Kebun Kertosari serta wilayah kabupaten Klaten meliputi Kebun Kebonarum, Gayamprit dan Wedibirit.

PT Perkebunan Nusantara XI

PT Perkebunan Nusantara XI yang selanjutnya disingkat PTPN XI dengan wilayah operasi di Provinsi Jawa Timur, bidang usaha produksi gula. Bidang usaha yang lain meliputi produksi / pembuatan alkohol serta spiritus dari tetes tebu dan produksi karung goni dari serat kenaff dan karung plastik. Perusahaan juga menyediakan jasa pelayanan medis dari Rumah Sakit Umum yang dimilikinya.

Berkantor di jalan merak No.1, Surabaya, mengoperasikan 16 pabrik gula, 4 rumah sakit, 1 pabrik karung plastik dan 1 pabrik penyulingan Alkohol & Spiritus (Ethanol Distillery)

Pabrik Gula :

1. Kabupaten Ngawi – PG. Soedhono

2. Kabupaten Magetan – PG. Poerwodadie dan PG. Redjosarie 3. Kabupaten Madiun – PG. Pagottan dan PG. Kanigoro (Alih fungsi) 4. Kabupaten Pasuruan – PG. Kedawoeng

5. Kabupaten Probolinggo – PG. Wonolangan, PG. Gending, PG. Padjarakan 6. Kabupaten Lumajang – PG. Djatiroto

7. Kabupaten Jember – PG. Semboro

8. Kabupaten Situbondo – PG. Olean, PG. Wringin Anom, PG. Pandjie, PG. Assembagoes

(10)

9. Kabupaten Bondowoso – PG. Pradjekan Pabrik Alkohol dan Spiritus

Kabupaten Lumajang – PASA Hilirisasi Usaha Pabrik Karung

Kabupaten Mojokerto – Pabrik Karung Plastik Rosella Baru Daerah Pengembangan Lahan Tebu :

1. Kabupaten Bojonegoro – Padangan, PG Poewodadie 2. Kabupaten Banyuwangi – Benculuk, PG Asembagoes

Isu permasalahan yang saat ini tengah dihadapi oleh PTPN XI, antara lain persaingan bahan baku dengan PG swasta, pergeseran ke arah lahan marginal karena di daerah historis kalah bersaing dengan komoditas lain, serta efisiensi pabrik dan energi.

Berikut strategi pencapaian yang dilakukan oleh PTPN XI :

1. Pengadaan saluran pipanisasi serta perbaikan saluran irigasi di HGU 2. Aplikasi herbisida dengan menggunakan drone semprot

3. Pendataan tebu sesuai e-farming agar tidak ada overlapping penguasaan lahan TR

4. Pengamanan tebu dalam wilayah dengan pemberian kredit selektif dan pelaksanaan TMA oleh PG

5. Menjamin kesiapan dan kelancaran mesin pabrik dengan optimalisasi maintenance.

PT Perkebunan Nusantara XII

PT Perkebunan Nusantara XII yang selanjutnya disingkat PTPN XII didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 1996 tentang Peleburan PT Perkebunan Nusantara XXIII (Persero), PT Perkebunan Nusantara XXVI (Persero), dan PT Perkebunan Nusantara XXIX (Persero) yang dituangkan dalam Akta Pendirian No. 45 tanggal 11 Maret 1996, dibuat di hadapan Harun Kamil, S.H., Notaris di Jakarta dan telah disahkan Menteri Kehakiman Republik Indonesia sesuai Keputusan Nomor C2.8340 HT.01.01.Th 96 tanggal 8 Agustus 1996.

PTPN XII mengusahakan berbagai jenis aneka tanaman dengan Total area konsesi mencapai 80.123,50 Ha di Jawa Timur - Indonesia

(11)

Secara umum kinerja operasional komoditi utama belum sesuai dengan yang dianggarkan dalam RKAPP sd Triwulan III 2020. Meskipun terdapat penurunan harga jual ekspor pada hampir semua komoditi (tabel dibawah) akibat penurunan permintaan ekspor, namun PTPN XII tetap melakukan penjualan eskpor, kepada pelanggan-pelanggannya. Komoditi ekspor PT Perkebunan Nusantara XII s.d bulan Oktober 2020 mengalami penurunan permintaan dibandingkan periode yang sama tahun 2019, untuk komoditi kakao. Sampai akhir Triwulan IV tahun 2020 pandemi Covid 19 akan sangat berdampak pada aktivitas ekspor serta proses pengapalan produk ke luar negeri.

Karet

13.961,16 ha

Aneka Kayu

11.988,88 ha 14,96 %

Kopi

11.325,57 ha

Kakao

4.922,79 ha

Teh

1.733,75 ha

2,16 %

Tebu

9.706,31 ha 12,11 %

Tansem & lainnya

5.643,63 ha

7,04%

Areal Pendukung

20.841,41 ha 26,01%

(12)

Core business PT Perkebunan Nusantara XII yang bergerak di bidang agro industri perkebunan, memiliki komoditas utama yaitu Karet, Kopi, Kakao, The dan Tebu. Komoditi PT Perkebunan Nusantara XII yang Sebagian besar diorientasikan untuk pasar ekspor telah memberikan kontribusi hasil ekspor kepada Jawa Timur yang cukup significan dari tahun ke tahun sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian di jawa timur.

PT Perkebunan Nusantara XII dan anak perusahaan yang dimiliki dapat menciptakan lapangan pekerjaan kepada masyarakat yang berada di wilayah Jawa Timur serta menimbulkan multiflier effect. Total penyerapan tenaga kerja sebesar 26 ribu tenaga kerja, yang tersebar di beberapa daerah di Jawa Timur. Di sisi penerimaan negara, kontribusi PT Perkebunan Nusantara XII s.d Bulan Oktober 2020 memberi kontribusi sebesar Rp 78,2 miliar yang terdiri dari pajak pusat sebesar Rp 77 Miliar dan pajak daerah sebesar Rp 1,2 Miliar.

PT Perkebunan Nusantara XII juga berperan sebagai off taker hasil produksi kopi petani rakyat yang ada di Jawa Timur, dengan total serapan 1.500 Ton per tahunnya. Hal tersebut membantu kesejahteraan petani kopi di Jawa Timur. Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, dan sebagai bentuk kepedulian sosial perusahaan, PT Perkebunan Nusantara XII telah menyalurkan dana CSR dan PKBL ditahun 2020 senilai Rp 393 Juta. Rencana Penyaluran Kemitraan di Bulan Desember 2020 sebesar Rp. 9,2 M. Dalam pemanfaatan industry 4.0 PT Perkebunan Nusantara XII telah mengimplementasikan beberapa system informasi digital, diantaranya:

1. Penerapan ERP SAP sebagai backbone system yang ada di PTPN XII. Penerapan SAP ini dilakukan secara menyeluruh di semua Unit dan terintegrasi dengan SAP Holding Perkebunan. Modul yang sudah diimplementasikan antara lain modul Project System, Plant Maintenance, Human Capital Magement, Finance and Controlling, Sub Modul COPRO, Sales & Distribution, Material Management,

2. SIM TAGAR (Sistem Informasi Manajemen Tata Guna Areal). SIM TAGAR digunakan sebagai database foto udara dan peta yang dapat dilihat secara online.

(13)

3. E-Farming merupakan program kerja dari Holding yang digunakan untuk mendaftarkan areal tebang. Sejak tahun 2018, kebun secara rutin melaporkan areal tebang kepada Holding melalui aplikasi ini.

4. Pemetaan GIS Kebun cukup memaksimalkan penggunaan GIS seperti pada persiapan tebang, konversi areal, dan perencanaan water management.

5. SIMON-TL (Sistem Informasi Monitoring Tindak Lanjut) digunakan untuk tindak lanjut audit internal.

6. INO (In N Out) aplikasi presensi karyawan kantor direksi.

7. SPOP sub bagian Pajak yang digunakan untuk menilai areal produktif dan tidak produktif.

8. E-Office Sitadok (Sistem Informasi Tata Kelola Dokumen) digunakan untuk surat menyurat dan pengendalian arsip

9. Berbagai Sistem Informasi untuk dukungan back office seperti Dashboard Manajemen, Website reservasi hotel wisata agro, Website e-commerce produk hilir, E-Library, Disaster Recovery Center (DRC) dan lainnya

III. CATATAN DAN REKOMENDASI

Dari pertemuan yang dilakukan kepada seluruh mitra pada saat pelaksanaan kunjungan kerja spesifik ini, ada beberapa catatan yang perlu menjadi perhatian mitra atau BUMN yang diundang dalam pertemuan. Catatan tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

a. PT. Pelabuhan Indonesia III (Persero)

 Sebagian besar anggota Komisi VI DPR RI mengapresiasi kinerja para direksi Pelindo III atas keberhasilannya bertahan di masa Pandemi Covid-19, serta upaya penambahan aset yang dilakukan pada masa sulit ini

 Apa sebenarnya yang menjadi business hub dari Pelindo III, apakah Properti, Pariwisata atau Logistik. Begitu pula dengan tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh Pelindo III terhadap kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur

(14)

 Belum lama ini Pelindo III melakukan MOU dengan PT KAI. Diharapkan MOU ini dapat membangun kerjasama yang positif dan produktif kepapa kedua belah pihak.Begitu juga dengan komitmen terhadap para pelaku dan produk UMKM

 Digitalisasi yang dilakukan oleh Pelindo III merupakan modernisasi pelayanan, dengan harapan hal ini dapat mendatangkan investasi pada sektor-sektor yang membutuhkan

 Sebagai catatan untuk pertemuan selanjutnya setiap kunjungan kerja ke daerah yang dituju diharapkan mitra dapat melampirkan neraca perusahaan supaya bisa diketahui kondisi perusahaannya apalagi di kondisi masa Pandemi ini, khususnya Pelindo III

 Pelindo III perlu melakukan terobosan agar biaya logistik ini menjadi lebih murah, mengingat biaya logistik peti kemas saat ini terkenal sangat mahal

 Sisa kasus PHK sepihak oleh direksi yang lalu, kebetulan belum selesai hingga hari ini, agar segera diselesaikan. Sebisa mungkin para pekerja tersebut dipekerjakan kembali

 Terkait Undang Undang Cipta Kerja, Pelindo III wajib mengalokasikan 30 persen slotnya untuk para pelaku UMKM kita. Jangan lagi diisi oleh perusahaan-perusahaan asal luar negeri seperti yang terjadi hari ini.

b. PT. Angkasa Pura I

 PT Angkasa Pura I harus optimis seluruh bandara akan mendapatkan keutungan pada tahun 2021. Hal ini tentunya akan memberi kontribusi positif kepada pendapatan negara. Oleh karena itu pembangunan bandara baru menjadi catatan dan perhatian, karena akan membuat kondisi semakin tidak efisien dan tidak kompetitif. Rasio jumlah bandara dengan kebutuhannya di wilayah operasional Angkasa Pura I juga menjadi catatan

 Melalui PT Angkasa Pura I, pariwisata kita harus maju. Selama ini sepertinya tidak terkelola dengan baik. PT Angkasa Pura I sebaiknya berkontribusi untuk memajukan pariwisata kita

(15)

 Terkait layanan penumpang, PT Angkasa Pura I diharapkan dapat meningkatkan kualitas layannya

 Masalah kebijakan stimulus penghapusan messenger service atau airport tax juga menjadi catatan bagi PT Angkasa Pura I. Apakah hal tersebut akan menimbulkan terjadinya lonjakan penumpang, sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan harga tiket pesawat

 Sama seperti pada Pelindo III yang dijelaskan di atas terkait Undang-Undang Cipta Kerja, PT Angkasa Pura I harus mengalokasikan sebesar 30 persen slotnya untuk pelaku dan produk UMKM kita. Jangan lagi diisi oleh perusahaan-perusahaan asal luar negeri.

c. PTPN Group (X, XI dan XII)

 Hasil temuan BPK, holding PTPN III itu tidak efektif. Terjadi penurunan ekuitas, serta kecilnya modal dan profit perusahaan Produksi juga semakin menurun. Begitu juga dengan aset yang terus menerus semakin menurun juga. Catatan buat holding PTPNV ada temuan BPK ini menjadi perhatian. Segera lakukan efisiensi dan efektifitas kerja untuk meningkatkan produktivitas

 Di masa Pandemi Covid-19 ini PTPN harus bisa survive agar tidak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan. Seperti pada industri perkebunan di Gresik dan Lamongan

 Ditemukan harga karet yang berbeda antara holding PTPN dan perusahaan. Hal ini menjadi perhatian serius. Agar komunikasi dan koordinasi serta konsolidasi harus lebih dirapikan kembali

 Persoalan lahan adalah persoalan yang sulit untuk dimekarkan menjadi besar. Ke depannya, PTPN Grup agar kembali menyusun roadmap kembali. Setidaknya Business Plan. Jika dianggap tidak ekonomis, tidak ada salahnya untuk bersama-sama memikirkan bagaimana jika PTPN X, XI dan XII agar digabung menjadi satu, atau dibuat menjadi satu klaster.

 Petani kerap kali mengeluhkan transparansi harga dari pihak industri perkebunan, dalam hal ini milik BUMN. Oleh karena itu, titik temu antara

(16)

petani dan indsutri juga menjadi perhatian. Bagaimana mengakomodir hal tersebut

 PTPN tidak punya sejarah mengelola kebun kopi. Apalagi untuk wilayah Jawa Timur. Belum ada komoditas kopi terkenal dari Provinsi Jawa Timur. Karet fluktuasi. Tebu akan mati suri. Untuk itu, harapan masih ada di tebu. Dengan catatan kalau pemerintah lebih serius. Petani akan lesu, petani tidak akan menanam tebu. Ini harus menjadi catatan serius  PTPN X, terkait gula. Jika telah diidentifikasi permasalahannya, segera cari solusinya, dan bangun kerjasama yang baik dan konsisten dengan para petani

 PTPN XI memiliki nilai kreativitas jika dibanding dengan PTPN lainnya. Ekspor tebu kering ke Jepang adalah salah satu contoh kreativitas yang dilakukan oleh PTPN XI. Hal ini dapat menjadi pemicu semangat untuk PTPN lainnya.

 PTPN XII yang mengelola kebun teh sejauh mana perkembangannya, dan bagaimana IGG dari segi hasil dan dampak yang ditimbulkan?  PTPN itu core bisnisnya adalah perkebunan. Namun ada yang memiliki

aset di properti. Bahkan ada yang memiliki aset di perhotelan. Terkait hal ini perlu dilakukan penataan ulang terkait aset-aset yang dimiliki leh PTPN

 Khusus terkait prduksi gula. PTPN harus memastikan ketersediaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Timur. Jika sudah memenuhi, agar dapat mempertahankan strateginya. Sebaliknya, jika belum agar segera melakukan mapping atas kendala yang dihadapi.

Dari berbagai data dan informasi, serta catatan yang diperoleh pada saat pelaksanaan kunjungan, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Komisi VI DPR RI, antara lain:

1. Komisi VI DPR RI perlu menyampaikan berbagai catatan yang telah diperoleh selama kunjungan untuk disampaikan kepada Kementerian BUMN dan Perusahaan BUMN terkait agar dilaksanakan sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangannya menurut aturan perundang-undangan yang berlaku.

(17)

2. Komisi VI DPR RI agar aktif dalam mensosialisasikan UU Cipta Kerja untuk diimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan BUMN agar mendatangkan benefit kedepannya.

3. Komisi VI DPR RI perlu menyampaikan dan meminta kepada Kementerian BUMN dan Pemerintah agar BUMN yang mendapat penugasan PSO (subsidi) dan Kementerian/Lembaga terkait untuk:

a. Melakukan penguatan sosialisasi dalam rangka mengurangi persepsi yang salah di masyarakat terkait berbagai aturan atau regulasi terkait pelaksanaan subisidi.

b. Melakukan perbaikan kebijakan subsidi baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan, monitoring maupun evaluasi (termasuk jenis subsidi dan sistem distribusi) agar mampu memberikan dampak yang optimal bagi kesejahteraan masyarakat dengan tetap memperhatikan kesehatan dan kinerja operasional BUMN yang ditugaskan oleh Pemerintah.

(18)
(19)
(20)

V. PENUTUP

Demikian laporan kunjungan kerja Komisi VI DPR RI ke Jawa Timur, tepatnya ke Kota Surabaya pada masa Persidangan II Tahun Sidang 2020-2021. Kami mengharapkan berbagai data dan informasi yang diperoleh dalam laporan ini dapat menjadi bahan pertimbangan serta ditindaklanjuti dalam rapat-rapat Komisi VI DPR RI.

Jakarta, 25 November 2020 Ketua Tim Kunker Komisi VI DPR RI

Ke Provinsi Jawa Timur

Gde Sumarjaya Linggih, S.E., M.AP. A – 327

Referensi

Dokumen terkait

dipertimbangkan konsumen dalam membeli susu formula balita pada pasar swalayan di Kota Yogyakarta untuk faktor iklan adalah variabel gambar kemasan (factor loading

Objek kunjungan kerja Komisi VI DPR RI adalah Kementerian Koperasi dan UKM RI, serta Kementerian BUMN dalam hal ini PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), PT Adhi Karya

Dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi DPR RI, sesuai ketentuan Peraturan Tata Tertib DPR RI, maka Komisi VIII DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik,

Dapat disimpulkan bahwa Motion blur dapat diperbaiki dengan matrik dari Gaussian blur, namun kurang cocok karena akan menyebabkan penurunan kualitas citra hasil pengurangan

Objek kunjungan Kerja Reses Komisi VI DPR RI adalah Kementerian Investasi/Kepala BKPM, Badan Standarisasi Nasional (BSN), PT Telkom Indonesia (Persero), Tbk, PT Bank

BAB II PELAKSANAAN KUNJUNGAN KERJA Pelaksanaan kunjungan kerja reses Komisi VIII DPR RI ke Provinsi Kalimantan Timur Masa Persidangan II Tahun Sidang 2021 – 2022 dilaksanakan

Evaluasi terhadap pelaksanaan PIP, BOS, Kurikulum 2013, PJJ dan vaksinasi oleh Dinas Pendidikan Kota Malang menyimpulkan antara lain bahwa: (1) PIP Sudah tepat

c) Menyerap aspirasi dari stakeholder dalam rangka penguatan sistem pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di Provinsi Kalimantan Timur. 2) Aktivitas illegal