PERANCANGAN
Perancangan campuran beton (Mix desain) bermaksud
untuk memenuhi komposisi dan proporsi bahan bahan
penyusun beton. Hal ini dilakukan agar proporsi
campuran dapat memenuhi syarat teknis dan
ekonomis.
Kriteria dasar perancangan beton adalah kekuatan
tekan dan hubungannya dengan factor air semen
yang digunakan.
Pada dasarnya perancangan campuran dimaksudkan
untuk
mendapatkan
proporsi
campuran
yang
optimum dengan kekuatan yang maksimum.
Macam-macam perancangan
campuran :
ACI (American Concrete Institute, USA)
DOE (Departement of Environment, Inggris) PCA (Portland Cement Association)
Road Note N.04 Dreux (Prancis) SNI 03-2834-2000
Mix Design Beton American Association (ACI) Metode
Absolute Volume
Cara ACI melihat bahwa dengan ukuran agregat tertentu, jumlah air perkubik akan menentukan tingkat konsistensi dari campuran beton yang pada akhirnya akan mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan (workability).
Pada metode ini, input data perancangan meliputi data standar deviasi hasil pengujian yang berlaku untuk pekrjaan yang sejenis dengan karakteristik yang sama. Selanjutnya data tentang kuat tekan rencana, data butir nominal agregat yang digunakan, data slump, (jika diinginkan dengan nilai tertentu), berat jenis agregat, serta karakteristik lingkungan yang diinginkan.
Sebelum melakukan perancangan, data-data yang dibutuhkan harus dicari. Jika data-data yang dibutuhkan tidak ada, dapat diambil data dari tabel-tabel yang telah dibuat untuk membantu penyelesaian perancangan cara ACI ini. Bagian alir perancangan dengan metode ACI dapat dilihat sebagai berikut:
Langkah Perancangan ACI
Hitung kuat tekan rata-rata beton, berdasarkan kuat tekan
rencana dan margin, f’cr = m + f’c
1. m = 1.64*Sd, standar deviasi diambil berdasarkan data yang lalu, jika tidak ada diambil dari Tabel 8.1 berdasarkan mutu pelaksanaan yang diinginkan.
2. Kuat tekan rencana (f’c) ditentukan berdasarkan rencana atau dari hasil uji yang lalu.
Volume Pekerjaan Mutu Pelaksanaan (Mpa)
Baik Sekali Baik Cukup
Kecil (< 1000 m3) Sedang (1000 - 3000 m3) Besar ( > 3000 m3) 4.5 < sd <5.5 3.5 < sd <4.5 2.5 < sd <3.5 5.5 < sd <6.5 4.5 < sd <5.5 3.5 < sd <4.5 6.5 < sd <8.5 5.5 < sd <7.5 4.5 < sd <6.5
Tetapkan nilai slump, dan butir maksimum agregat
1.
Slump ditentukan. Jika tidak dapat, data diambil dari Tabel
berikut:
2. Ukuran maksimum agregat dihitung dari 1/3 tebal plate dan atau 3/4 jarak bersih antar baja tulangan, tendon, bundle bar, atau ducting dan atau 1/5 jarak terkecil bidang bekisting ambil yang terkecil, jika tidak diambil dari Tabel 8.3.
Jenis Konstruksi MaksimumSlump (mm)Minimum - Dinding Penahan dan Pondasi
- Pondasi sederhana, sumuran, dan dinding sub
struktur
- Balok dan dinding beton
- Kolom struktural
- Perkerasan dan slab
- Beton masal 76.2 76.2 101.6 101.6 76.2 50.8 25.4 25.4 25.4 25.4 25.4 25.4
Tabel 8.2 Slump yang disyaratkan untuk berbagai konsentrasi kenurut ACI.
Dimensi Minimim, mm Balok / kolom Plat
62.5 150 300 750 12.5 mm 40 mm 40 mm 80 mm 20 mm 40 mm 80 mm 80 mm Tabel 8.3 Ukuran Maksimum Agregat
Tetapkan jumlah air yang dibuhkan berdasarkan ukuran maksimum agregat dan nilai slump dari Tabel 8.4
Slump (mm) Air (lt/m 3) 9.5 mm 12.7 mm 19.1 mm 25.4 mm 38.1 mm 50.8 mm 76.2 mm 152.4 mm 25.4 s/d 50.8 76.2 s/d 127 152.4 s/d 177.8
Mendekati jumlah kandungan udara dalam beton air entrained (%) 210 231 246 3.0 201 219 231 2.5 189 204 216 2.0 180 195 204 1.5 165 180 189 1.0 156 171 180 0.5 132 147 162 0.3 114 126 -0.2 25.4 s/d 50.8 76.2 s/d 127 152.4 s/d 177.8
Kandungan udara total rata-rata yang disetujui (%) 183 204 219 177 195 207 168 183 195 162 177 186 150 165 174 144 159 168 123 135 156 108 120 -Diekspose sedikit Diekspose menengah Sangat ekspose 4.5 6.0 7.5 4.0 5.5 7.0 3.5 5.0 6.0 3.0 4.5 6.0 2.5 4.5 5.5 2.0 4.0 5.0 1.5 3.5 4.5 1.0 3.0 4.0
Perkiraan Air Campuran dan Persyaratan Kandungan Udara untuk Berbagai Slump dan Ukuran Nominal Agregat Masimum
Tetapkan nilai Faktor Air Semen dari 8.5. Untuk nilai kuat tekan dalam Mpa yang berada di antara nilai yang diberikan dilakukan interpolasi.
Kekuatan Tekan 28 hari (Mpa)
FAS
Beton
Air-entrained Non Air-entrainedBeton
41.4 34.5 27.6 20.7 13.8 0.41 0.48 0.57 0.68 0.62 -0.4 0.48 0.59 0.74
Hitung semen yang diperlukan, yaitu jumlah air dibagi dengan
factor air semen.
Tetapkan volume agregat kasar berdasarkan agregat maksimum
dan Modulus Halus Butir (MHB) agregat halusnya sehingga
didapat persen agregat kasar (Tabel 8.6). Jika nilai Modulus Halus
Butirnya berada di antaranya, maka dilakukan interpolasi.
Volume agregat kasar=persen agregat dikalikan dengan berat
kering agregat kasar.
Estimasikan berat beton segar berdasarkan Tabel 8.7, kemudian
hitung agregat halus, yaitu berat beton segar – (berat air + berat
semen + berat agregat kasar).
Hitung proporsi bahan, semen, air, agregat kasar dan agregat
halus, kemudian koreksi berdasarkan nilai daya serap air pada
agregat.
Ukuran Agregat Maks (mm)
Volume Agregat kasar kering * persatuan volume untuk berbagai modulus halus butir
2.40 2.60 2.80 3.00 9.5 12.7 19.1 25.4 38.1 50.8 76.2 152.4 0.50 0.59 0.66 0.71 0.75 0.78 0.82 0.87 0.48 0.57 0.64 0.69 0.73 0.76 0.80 0.85 0.46 0.55 0.62 0.67 0.71 0.74 0.78 0.83 0.44 0.53 0.60 0.65 0.69 0.72 0.76 0.81 Tabel 8.6 Volume Agregat Kasar Per satuan Volume Beton
Ukuran Agregat Max (mm)
Beton Air Entrained (kg/m3) Beton Non-Air Entrained (Kg/m3) 9.5 2304 2214 12.7 2334 2256 19.1 2376 2304 25.4 2406 2340 38.1 2442 2376 50.8 2472 2400 76.2 2492 2424 152.4 2538 2472
Kekurangan dan Kelebihan Metode ACI
Cara ini merupakan cara coba-coba untuk
memperoleh proporsi bahan yang menghasilkan
konsistensi. Jika dipakai agregat yang berbeda
akan menyebabkan konsistensi yang berbeda
juga.
Nilai Modulus Halus Butir (MHB) sebenarnya
kurang menggambarkan gradasi agregat yang
tepat. Untuk agregat dengan berat jenis yang
berbeda, perlu dilakukan koreksi lagi.
Mix Design Metode Portland
Cement Association (PCA)
Metode desain campuran Portland Cement Association
(PCA) pada dasarnya serupa dengan metode ACI
sehingga secara umum hasilnya akan saling
mendekati. Penjelasan lebih detail dapat dilihat dalam
Publikasi PCA, Portland Cement Association, Design
and Control of Concrete Mixtures. 12
thedition, Skokie,
Illinois, USA: PCA, 1979, 140 pp.
Mix Design Metode DEO
(Department of Environment)
Department of Environment (DeO), Building
Research Establishment Britain. Metode ini
diadopsi oleh Indonesia pada SK.SNI
T-15-1990-03 Tata Cara Pembuatan Rencana
Campuran Beton Normal.
Adapun langkah-langkahnya secara garis besarnya adalah sebagai berikut:
1. Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f'c) pada umur tertentu.
2. Penetapan nilai standar deviasi (Sd). Standar deviasi ditetapkan berdasarkan
tingkat mutu pengendalian pelaksanaan campuran beton-nya. Makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilai standar deviasinya.
3. Perhitungan nilai tambah ('Margin/M')
4. Jika nilai tambah sudah ditetapkan sebesar 12 MPa, maka langsung ke
langkah
5. Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai standar deviasi Sd, maka margin
dihitung dengan rumus:
M = k. Sd
dimana:
M : Nilai tambah (MPa) K : 1.64
6. Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan, dihitung dengan rumus:
f'cr = f'c + M
dimana:
f'cr : Kuat tekan rata-rata (MPa)
f'c : Kuat tekan yang disyaratkan (MPa) M : Nilai tambah (MPa)
7. Penetapan jenis semen Portland.
8. Penetapan jenis agregat, memakai jenis pasir atau kerikil yang alami atau agregat jenis batu pecah.
9. Menetapkan faktor air semen.
10.Penetapan faktor air semen maksimum, dari fas maksimum yang
11.
Penetapan nilai slump, ditetapkan berdasar-kan pelaksanaan
pembuatan, pengangkutan, penuangan, pemadatan maupun
jenis strukturnya.
12.
Penetapan ukuran maksimum agregat kasar.
13.
Menentukan jumlah air per meter kubik beton berdasarkan
ukuran maksimum agregat, jenis agregat dan nilai slump.
14.
Hitung berat semen yang dibutuhkan. Berat semen per kubik
dihitung dengan membagi jumlah air (langkah 12) dengan faktor
air semen (langkah 8)
15.
Kebutuhan semen minimum.
16.
Penyesuaian kebutuhan semen. Apabila kebutuhan semen pada
langkah 13 lebih kecil dari kebutuhan semen minimum (langkah
14), maka kebutuhan semen harus dipakai yang minimum.
18.Penentuan daerah gradasi agregat halus. Gradasi agregat halus dibagi menjadi 4 daerah : daerah I, II, III dan IV.
19.Perbandingan agregat halus dan agregat kasar. Dicari berdasarkan
besar butir maksimum, nilai slump, faktor air semen dan daerah gradasi agregat halus, berdasarkan data tersebut dapat dicari perbandingan
agregat halus dan agregat kasar.
20.Berat jenis agregat campuran, dihitung dengan: Bj agr.ksrs 100 K x Bj agr.hls 100 = P Bj camp dimana:
Bj camp : Berat jenis agregat campuran Bj agr.hls : Berat jenis agregat halus
Bj agr.ksr : Berat jenis agregat kasar
P : Persentase agregat halus terhadap agregat campuran K : Persentase agregat kasar terhadap agregat campuran
21.
Penentuan berat jenis beton. Dengam data berat jenis agregat
campuran (langkah 18) dan kebutuhan air tiap meter kubik
beton, maka dapat diperkirakan berat jenis betonnya.
22.
Kebutuhan agregat campuran. Diperoleh dengan mengurangi
berat beton per meter kubikdengan kebutuhan air dan semen.
23.
Hitung berat agregat halus, dengan cara mengalikan kebutuhan
agregat campuran (langkah 20)dengan prosentase berat agregat
halusnya (langkah 17)
24.
Hitung berat agregat kasar, dengan cara mengurangi kebutuhan
agregat campuran (langkah 20) dengan kebutuhan agregat halus
(langkah 21).
Mix Design Metode ROAD NOTE
NO. 4
Cara perancangan ini disimpulkan dari hasil penelitian Glanville.,et.al, yang ditekankan pada pengaruh gradasi agregat terhadap kemudahan pengerjaan.
Secara umum langkah perancangan dengan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut:
Hitung kuat tekan rata-rata rencana, berdasarkan kekuatan tekan rencana dan nilai margin.
1. Nilai margin (m)=1.64*Standar Deviasi
2. Nilai standar deviasi ditentukan dari data yang lalu atau diambil dari Tabel 8.10 berdasarkan tingkat pengendalian mutu pekerjaan.
Tingkat pengendalian mutu
pekerjaan S (Mpa) Memuaskan Sangat Baik Baik Cukup Jelek Tanpa Kendali 2.8 3.5 4.2 5.6 7.0 8.4
Tentukan FAS dari Grafik dan berdasarkan keawetan Tabel 8.8.
Pilih nilai yang terkecil
Buat proporsi agregat dari masing-masing fraksi (perbandingan
antara agregat halus dengan agregat kasar), sehingga masuk dalam salah satu kurfa dalan grafik 8.3.1 sampai 8.3.4 ASTM C-33.
Jenis Beton Kondisi Lingkungan FAS Maks Beton Bertulang Biasa RinganSedang
Berat
0.65 0.55 0.45
Pra-Tegang RinganSedang Berat
0.65 0.55 0.45
Beton Tak Bertulang RinganSedang Berat
0.70 0.60 0.50 Tabel 8.8 Persyaratan FAS
Tetapkan proporsi antara agregat dengan semen berdasarkan tingkat kemudahan pengerjaan, diameter maksimum agregat, bentuk dan FAS ( Tabel 8.9).
Hitung proporsi antara semen, air, dan agregat dengan dasar FAS dan proporsi antara agregat semen.
JenisAgregat
Kasar MaksimumUkuran FAS Agrefat/Cement (A/C)
Alami 40 mm 0.35 0.40 0.45 0.50 0.55 2.9 4.3 5.7 7.1 8.1 Di Pecah 40 mm 0.40 0.45 0.50 0.55 0.60 0.65 3.2 3.9 4.7 5.4 6.1 6.8 Alami 20 mm 0.35 0.40 0.45 0.50 0.55 0.60 2.8 3.9 5.0 5.9 7.4 8.0 Di Pecah 20 mm 0.35 0.40 0.45 0.50 0.55 0.60 0.65 0.70 2.3 2.9 3.4 3.9 4.5 4.9 5.4 5.8
Kebutuhan dasar dari beton dihitung dari volume absolute, prinsip hitungan ialah volume beton padat sama dengan jumlah absolute kbahan-bahan dasarnya. Proporsi campuran dapat dihitung jika diketahui:
s = Berat jenis semen
ag.h = Berat jenis agregat halus
ag.k = Berat jenis agregat kasar
air = Berat jenis air
v = Prosentase udara dalam beton
S = Berat semen yang diperlukan dalam I m3.