184
PERSEPSI DAN KESIAPAN MAHASISWA TAHAP AKADEMIK TERHADAP INTERPROFESSIONAL EDUCATION
DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GAJAH MADA Muhamad Zulfatul A'la* Mariyono Sedyowinarso**
Totok Harjanto** Martina Sinta Kristanti**
*Pengajar Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Jember ** Program Pendidikan Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada
ABSTRACT
The objective of study was getting a general overview on students' perception and readiness for IPE at the Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada
The methode of study was descriptive explorative with cross sectional design and quantitative as well as qualitative approaches. Samples consisted of 250 undergraduate students of medical education, nursing and health nutrition education at the Faculty of Medicine GMU taken with purposive sampling
method. Quantitative data were obtained through questionnaire of
interdisclipinary Education Perception Scale (IEPS) and Readiness
Interprofessional Learning Scale (RIPLS). Qualitative data gathered through focus group discussion.
Perception about IPE mainly belonged to good (86.8%). Readiness for IPE mainly belonged to good (92.8%). The result of Kruskal-Wallis test at significance 95% showed there was no difference in perception between students of medical education, nursing and health nutrition (p=0.628). There was difference in readiness for IPE between students of medical education, nursing and health nutrition (p=0.003). The result of Mann – Whitney test showed there was difference in readiness for IPE between students of medical education and nursing (p=0.006) between medical education and health nutrition (p=0.027), but no difference between students of nursing and health nutrition (p=0.309). Perception and readiness for IPE of undergraduate students at the Faculty of Medicine GMU mainly belonged to good category. There was no difference in perception about IPE and there was difference in readiness for IPE between undergraduate students of medical education, nursing and health nutrition at the Faculty of Medicine, GMU.
Keywords: perception, readiness, interprofessional education
185
PENDAHULUAN
Konsep kolaborasi sudah lama dicetuskan sebagai salah satu usaha untuk menyelesaikan masalah (Waldfogel J., 1997). Seperti halnya dalam penelitian Institute for
Healthcare Improvement (IHI)
Amerika Serikat melaporan hasil pelaksanaan kolaborasi antar profesional kesehatan di unit perawatan intensif neonatal dapat menurunkan kejadian infeksi dari 22% menjadi 5% dalam 2 tahun. Laporan pelaksanaan lain dari IHI adalah 20% rumah sakit di Amerika Serikat berhasil menerapkan kolaborasi tenaga kesehatan dalam program Adverse Drug Events
(ADEs). Selain itu dapat mengurangi kesalahan sebesar 50% dalam manajemen pengobatan (Øvretveit J, 2009)
Bentuk konsep kolaborasi antar professional kesehatan dapat dimulai dari pendidikan terintegrasi. Menurut Hind (2003), pendidikan terintegrasi merupakan solusi yang tepat dalam menyikapi masalah
pelayanan mutu kesehatan.
Pelayanan mutu kesehatan
seharusnya diimbangi dengan mutu pendidikan profesi kesehatan.
Interprofessional Education (IPE)
merupakan salah satu konsep pendidikan yang dicetuskan WHO sebagai pendidikan yang terintegrasi (WHO, 2006).
Kualitas IPE akan lebih terlihat jika dilakukan dalam masa studi akademik dari pada diterapkan dalam pendidikan tingkat lanjut (Hammick
et al, 2007). Berkaitan dengan
kelebihan penerapan IPE dalam masa studi akademik menurut Coster (2008) adalah untuk menghindari terjadinya sikap yang buruk mengenai konsep bekerja antar profesi dan akan susah merubah
konsep yang keliru tersebut saat terjun ke masyarakat. Masa studi akademik ini dapat dilakukan di instutusi pendidikan tinggi yang menghasilkan profesional kesehatan.
Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada (FK UGM) adalah suatu institusi pendidikan
tinggi di Indonesia yang
menghasilkan profesional di bidang
kesehatan. FK UGM
menyelenggarakan pendidikan formal untuk sarjana yang terdiri dari
program studi pendidikan
dokter,(PSPD) Ilmu Keperawatan (PSIK) dan Gizi Kesehatan (PSGK), dengan beberapa kurikulum yang terintegrasi (UGM, 2009). Dalam pelaksanaan kurikulum di FK UGM, terdapat salah satu program terintegrasi yang telah dilaksanaakan yaitu Kuliah kerja Kesehatan Masyarakat (K3M). K3M merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa tahap profesi di FK UGM . (Direktorat administrasi akademik,. 2009).
Peneliti mendapatkan data studi pendahuluan dengan cara wawancara terhadap beberapa mahasiswa tahap sarjana FK UGM yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 11 Mei 2009, bahwa mahasiswa tahap
akademik juga membutuhkan
pembelajaran yang terintegrasi. Hal ini berkaitan dengan pandangan mahasiswa bahwa kolaborasi adalah hal yang penting dalam pelayanan kesehatan dan mempertajam teori
yang mendasari IPE untuk
dilaksanakan di tahap akademik. IPE dapat diartikan sebagai suatu pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh dua atau lebih profesi yang berbeda untuk meningkatkan kolaborasi dan
186
kualitas pelayanan dan
pelakasanaanya dapat dilakukan dalam semua pembelajaran, baik itu tahap sarjana maupun tahap pendidikan klinik untuk menciptakan tenaga kesehatan yang professional. Pengembangan kompetensi IPE
mengacu pada output yang
diharapkan dalam pembelajaran
dewasa, yang mengharapkan
kognitif, afektif dan psikomotor
berkembang bersama-sama.
Kompetensi IPE berdasarkan Lee dibagi menjadi empat bagian utama, yaitu pengetahuan, skill, sikap dan kemampuan tim (Lee, 2009)
Melihat uraian fakta dan fenomena di atas membuat peneliti merasa tertarik untuk mengetahui bagimana gambaran persepsi dan kesiapan mahasiswa tahap akademik tentang IPE di FK UGM pada tahap akademik. Persepsi yang positif dan kesiapan terhadap penerimaan IPE diharapkan akan menjadi bahan pertimbangan bagi institusi terhadap pengembangan konsep IPE di FK
UGM. Pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas lulusan profesi kesehatan.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah
deskriptif analitik dengan
menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dan menggunakan rancangan cross sectional.
Penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dengan responden mahasiswa tahap akademik yang terdiri dari program studi pendidikan dokter, ilmu keperawatan dan gizi kesehatan yang berjumlah 250 responden untuk pendekatan kuantitatif yang menggunakan menggunakan metode
purposive sampling. pendekatan
kualitatif responden berjumlah 17 mahasiswa tahap akademik.
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden
Karakteristik responden data kuantitatif terlihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel.1. Karakteristik Responden Data Kuantitatif Berdasarkan Jenis Kelamin, Program Studi dan Angkatan di Fakultas Kedokteran UGM Pada Bulan Desember 2009 No Karakteristik Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 71 179 28,4 71,6 2 Program studi Pendidikan dokter Ilmu keperawatan Gizi kesehatan 140 56 54 56,0 22,4 21,6
187 3 Angkatan 2007/2008 2008/2009 133 117 53,2 46,8 Sumber: data primer
Responden data kuantitatif menurut jenis kelamin paling banyak adalah perempuan dengan 71,6 %. Menurut program studi, paling banyak adalah pendidikan dokter dengan 56%. Berdasarkan angkatan, angkatan 2007/2008 adalah sampel terbanyak dengan 53,2%. Hal ini berkaitan, sesuai dengan data mahasiswa menurut Direktorat Administrasi Akademik UGM
8
dari ketiga program studi di
Fakultas Kedokteran UGM jumlah mahasiswa program studi pendidikan kedokteran terbanyak dengan 368 orang.
Persepsi mahasiswa tahap akademik terhadap IPE di Fakultas Kedokteran UGM
Persepsi mahasiswa Fakultas kedokteran tahap akademik terhadap IPE secara kuantitatif dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel.2. Hasil Persepsi Mahasiswa Tahap Akademik Terhadap IPE di Fakultas Kedokteran UGM Pada Bulan Desember 2009
No Kategori Persepsi Jumlah
(orang) Presentase (%) 1 Baik 217,0 86,8 2 Sedang 33,0 13,2 3 Buruk 0,0 0,0 Total 250,0 100,0
Sumber : Pengolahan data primer Berdasarkan Tabel 2 sebagian besar mahasiswa tahap akademik terhadap IPE mempunyai persepsi yang baik sebesar 86,8 %. Hasil analisis kuantitatif ini diperkuat dengan data kualitatif yang diperlihatkan dari beberapa kutipan dari responden FGD sebagai berikut: “Dengan kita saling belajar IPE itu maka kita bisa tahu pembagian tugas , dengan tahu pembagian tugas itu kita jadi tahu bentuk kerja sama itu seperti apa..”(PD4) “Diantara profesi-profesi yang
bekerja sama dari
interprofessional itu tadi harus saling……bekerja dalam bidang masing-masing mereka saling mendukung dan ….. mendukung dan menyatukan pendapat biar
mampu memecahkan suatu
masalah atau kasus”( GK3 ) Kutipan responden FGD tersebut
mampu memandang komponen
persepsi IPE yaitu mengenai pemahaman terhadap profesi lain, kompetensi masing-masing dari profesi, otonomi masing-masing profesi dan kebutuhan akan bekerja sama. Dari karakteristik program studi pun dari ketiga program studi terlihat dalam tabel dibawah ini :
188 Tabel.3. Hasil Persepsi Mahasiswa Tahap Akademik di Fakultas Kedokteran
UGM Berdasarkan Program Studi pada Bulan Desember 2009
No Kategori
Pendidikan dokter Ilmu keperawatan Gizi kesehatan
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Baik 120 85,7 48 85,7 49 90.7
2 Cukup 20 14,3 8 14,3 5 9,3
3 Kurang 0 0,0 0 0,0 0 0,0
140 100,0 56 100,0 54 100,0
Sumber : data primer dari ketiga program studi di fakultas dokteran tingkat Persepsi terhadap IPE mempunyai
hasil yang relatif sama, dari Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) dan ilmu keperawatan (PSIK) persepsi baik sebanyak 85,7 % dan dari gizi kesehatan (PSGK) sebesar 90,7%. hal ini memperkuat bahwa distribusi persepsi dari ketiga prodi mempunyai persepsi yang sama. Sejalan dengan Lee (2009) dalam penelitian tentang skala EIPS menyebutkan bahwa komponen persepsi tentang IPE terdiri dari kompetensi dan otonomi, persepsi kebutuhan untuk bekerja sama,
kerjasama pada saat ini, dan
pemahaman terhadap profesi lain. Barr (2005) juga memaparkan bahwa IPE adalah kolaborasi, persamaan kompetensi, bekerja
dalam tim, pengalaman dan
memandang sebagai ilmu terapan. Gabungan kemampuan individu terkait kognitif, afektif dan psikomotor terkait kompetensi
masing-masing profesi dan
pandangan mengenai kerja tim sangat mempengaruhi pembentukan profesi.. Secara umum,salah satu hal yang menonjol dalam IPE adalah praktek kolaborasi (Baker et al,2008)
Terkait dengan tempat penelitian ini, yaitu Fakultas kedokteran merupakan fakultas dengan tiga program studi yang menghasilkan profesi kesehatan yakni pendidikan dokter, ilmu keperawatan dan gizi kesehatan, sehingga menjadi salah satu modal pembentuk persepsi
mahasiswa mengenai IPE.
Pendekatan multidisiplin yang terangkai dalam mata kuliah dari masing-masing Program Studi juga
mampu membentuk persepsi
terhadap IPE yang positif. Kegiatan mahasiswa di FK UGM menjadi salah satu pendukung pembetuk persepsi yang positif terhadap IPE. Kebiasaan dalam bekerja sama dan
bertukar pikiran membuat
kemampuan akan bekerja dalam tim yang melibatkan dua atau lebih profesi akan lebih terlihat.
Kesiapan Mahasiswa Tahap Akademik Terhadap IPE di Fakultas Kedokteran UGM
Hasil penelitian mengenai kesiapan mahasiswa tahap akademik secara kuantitatif yang diukur dengan RIPLS dapat dilihat pada tabel berikut :
189 Tabel 4. Hasil Kesiapan Mahasiswa Tahap Akademik Terhadap IPE di Fakultas
Kedokteran Bulan Desember 2009
No Kategori kesiapan Jumlah
(orang) Persentase (%) 1 Baik 232 92,8 2 Sedang 18 7,2 3 Rendah 0 0,0 Total 250 100,0
Sumber : data primer
Tabel. 4 menunjukkan bahwa kesiapan mahasiswa terhadap IPE baik dengan 92,8%. Hal ini diperkuat dari petikan responden FGD sebagai berikut:
“Kalo saya sebagai mahasiswa sih siap-siap aja soalya memang itu termasuk keterampilan dasar untuk menjadi manusia tidak hanya menjadi seorang dokter atau ners atau atau nutrition, tapi sebagai seorang manusia karena memang manusia makluk sosial, kita ga bisa apa-apa kalo cuma sendirian”( PD2 ) “Kalo menurut saya siap karena tergantung nanti mau penerapannya seperti apa gitu, tapi kalo mahasiswa
secara umum mereka pun
menginginkan adanya proses yang seperti itu”( PD4 )
“Siap banget….Apalagi mikirin juga apa tadi, kaya tadi pipit bialng besoknya kalau biar gak kaget kalau
mau bener-bener harus dari awal dan kontinyu”( GK6 )
Hasil penelitian secara kualitatif, sebagian besar responden FGD siap untuk penerapan IPE mahasiswa. hal ini sesuai dengan penelitian Coster
et. al (2008) tentang kesiapan
mahasiswa terhadap IPE
menunjukkan rata-rata skor yang
tinggi untuk mahasiswa
keperawatan, kebidanan, kedokteran gigi, kedokteran, fisioterapi, farmasi, gizi kesehatan dan terapi okupasi. Penelitian Dalton et. al (2007) tentang kesiapan di Universitas Tasmania, bahwa sebagian besar mahasiswa kesehatan mempunyai kesiapan yang bagus terhadap IPE.
Data kesiapan mahasiswa tahap akademik yang dilihat dari program studi pun menggambarkan hal yang memperkuat hasil kesiapan mahasiswa tahap akademik secara total, seperti dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 5. Hasil Kesiapan Mahasiswa Tahap Akademik di Fakultas Kedokteran UGM Berdasarkan Program Studi Pada Bulan Desember 2009
No Kategori Pendidikan dokter Ilmu keperawatan Gizi kesehatan
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Baik 123 87,9 56 100,0 53 98,1
2 Cukup 17 12,1 0 0,0 1 1,9
3 Kurang 0 0,0 0 0,0 0 0,0
Total 140 100,0 56 100,0 54 100,0
Sumber : data primer
190 Dari ketiga program studi terlihat
bahwa semua program studi
mempunyai kesiapan yang baik dengan program studi ilmu
keperawatan yang memiliki
presentase tertinggi sebesar 100%.
Sesuai dengan konsep
kesiapan Parsell and Bligh (1999) yang dirangkum dalam RIPLS, komponen kesiapan terhadap IPE ada tiga hal penting, yaitu identitas masing-masing profesi, Teamwork, dan peran dan tanggung jawab. Tiga hal ini terlihat dari beberapa kutipan beberapa responden FGD sebagai berikut:
“ketika mereka belajar bersama sampai lulus saat mereka bekerja pun nanti mereka tidak
merasa mereka bisa memerintah tapi memang sudah terjadi hubungan intersosial bahwa saya sudah tau kemampuan mereka itu apa saja dan tugasnya itu apa saja. Selain itu saya juga tau tugas dan kemampuan saya. Sehingga terjadi kerja sama yang baik, ya jadi IPE itu memang pentingnya disitu.” ( PD2)
“Mungkin Karena disini untuk mengingatkan kita agar tidak terjadi overlapping antara independent, dependent dan interdependent. Jadi disini kita juga bisa menunjukkan ini lho tugas perawat, tidak sebagai pembantu dokter namun ada kewenangan khusus” ( IK3)
“Saya rasakan sudah jelas perlu adanya kolaborasi ya dalam melaksanakan itu ya, ya tidak bisa melakukanya secara sendiri. Bahwa setiap melakukan keputusan, yang penting disitu, dan perbaikan yang penting adalah hal komunikasi, Jadi komunikasi antara dokter, antara perawat, perawat dengan dokter dan
antar profesi,” ( IK1)
“Contohnya itu kan nanti kerjanya di lingkup yang sama dengan kita dengan kerja sama pasti juga kita bisa mendapatkan hasil yang memuaskan yang lebih baik baik gitu” ( GK2)
Responden PD2 mampu
memandang pentingnya teamwork dalam pelayanan kesehatan ke depan dan khususnya untuk penerapan IPE di Fakultas kedokteran UGM. Peran dan tanggung jawab profesi terlihat dalam kutipan responden IK3 sebagai mahasiswa ilmu keperawatan bahwa perawat bukan sebagai pembantu dokter saat kerja di lapangan. Komponen peran dan tanggung jawab profesi di dalam kesiapan IPE terdapat sub komponen yang menjelaskan bahwa salah satu penunjang dati peran dan tanggung jawab profesi adalah tidak adanya strata dalam pelayanan kesehatan yang kolaboratif antara dokter dan tenaga kesehatan lain (Parsell and Bligh, 1999). Pola komunikasi yang di jelaskan Barr (2005) sebagai pembangun konsep teamwork dalam IPE mampu dijelaskan oleh responden IK1. Responden GK2 menambahkan bahwa kerja sama sangat dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan.
Kutipan FGD menggambarkan secara kualitatif bahwa mahasiswa tahap akademik Fakultas kedokteran sebagian besar mampu memahami komponen kesiapan terhadap IPE. Terkait dengan identitas masing-masing profesi, Teamwork, dan peran dan tanggung jawab.
Namun hal ini bertolak belakang dengan pernyataan yang disampaikan responden PD5, seperti dalam kutipan berikut:
191 “Kalo saya pribadi sih belum siap
karena untuk bekerja suatu tim dalam pembelajaran harus punya modal paling tidak satu orang harus tau kompetensi orang lain sebagai partnernya. Sekarang ini saya tidak tau sistim pembelajaran di IK, di GK. Apa yang sudah mereka peroleh, apa yang menjadi kompetensi mereka saya sama sekali ga tau” (PD5)
Dari kutipan diatas
menyebutkan bahwa responden PD5 belum siap dengan penerapan IPE di FK UGM, hal ini dikarenakan responden belum tahu akan sistem pembelajaran untuk ketiga program studi, dan kompetensi masing-masing profesi pun responden belum mengetahuinya. IPE seharusnya dilakukan di FK UGM untuk
meningkatkan kemampuan
kolaborasi yang akan membawa
pelayanan kesehatan yang
profesional, sesuai dengan pendapat Baker (2008) yang menyebutkan IPE merupakan metode yang menawarkan model kolaborasi antar professional kesehatan yang menjanjikan.
Perbedaan Persepsi Mahasiswa Tahap Akademik PSPD, PSIK, Dan PSGK Terhadap IPE
Perbedaan persepsi mahasiswa tahap akademik PSPD, PSIK dan PSGK terhadap IPE dihitung secara statistik dengan studi komparasi. melihat perbedaan persepsi mahasiswa pendidikan dokter , ilmu keperawatan dan gizi kesehatan. Adapun hasil nya terlihat dalam tabel berikut :
Tabel 6. Uji Perbedaan Persepsi Antara Program Studi Pendidikan Dokter, Ilmu Keperawatan Dan Gizi Kesehatan Menggunakan Kruskal-Wallis Pada Bulan Desember 2009
No Kategori % % % P value Interpretasi Data
1 Baik 85,7 85,7 90,7
0,628 Tidak ada perbedaan
2 Cukup 14,3 14,3 9,3
3 Kurang 0,0 0,0 0,0
Total 100,0 100,0 100,0 Sumber : Pengolahan data primer
Tabel 6 menggambarkan p = 0,628. Oleh karena p > 0,05, maka dapat diambil kesimpulan tidak ada perbedaan persepsi secara statistik antara mahasiswa PSPD, PSIK dan PSGK. Hal ini sejalan dengan penelitian Heriadi (2001) yang menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan secara statistik antara program studi ilmu keperawatan dengan pendidikan dokter mengenai persepsi hubungan kemitraan di Fakultas Kedokteran UGM.
Gizi kesehatan adalah program yang menghasilkan profesi ahli gizi sebagai salah satu tenaga kesehatan. Salah satu komponen persepsi terhadap IPE adalah pemahaman terhadap profesi lain, menurut Tsani (2007) menyebutkan bahwa profesi ahli gizi sudah diakui oleh sebagian
besar mahasiswa Fakultas
kedokteran UGM. Pengakuan
profesi ahli gizi memperkuat hasil komparasi antara PSPD, PSIK dan PSGK, bahwa tidak ada perbedaan
192 persepsi mengenai IPE. Karena
pemahaman terhadap profesi gizi kesehatan sudah diakui oleh mahasiswa fakultas Kedokteran UGM.
Berdasarkan pendapat Heriadi (2001) dan Tsani (2007) tidak adanya perbedaan persepsi terjadi akibat pemahaman antar profesi di FK UGM sudah cukup baik. Sesuai dengan pendapat Lee (2009) yang menyebutkan bahwa persepsi IPE akan baik jika mampu memahami profesi lain.
Perbedaan Kesiapan Mahasiswa Tahap Akademik PSPD, PSIK Dan PSGK Terhadap IPE
Perbedaan kesiapan mahasiswa tahap akademik PSPD, PSIK dan PSGK dihitung secara statistik dengan studi komparasi. Sebelum melakukan uji beda, data persepsi secara total dilakukan uji normalitas
dengan menggunakan rumus
kolomogorov-smirnov (2006).
Data didapatkan tidak
berdistribusi normal, sehingga uji beda menggunakan kruskal-wallis dengan melihat perbedaan kesiapan mahasiswa PSPD, PSIK dan PSGK seperti dalam tabel berikut:
Tabel 7. Uji Perbedaan Persepsi Antara PSPD, PSIK Dan PSGK Menggunakan
Kruskal-Wallis Pada Bulan Desember 2009
No Kategori % % % p value Interpretasi data
1 Baik 87,9 100,0 98.1
0,003 Tidak ada perbedaan 2 Cukup 12,1 0,0 1,9
3 Kurang 0,0 0,0 0,0
Total 100,0 100,0 100,0
Sumber : Pengolahan data primer Tabel 7 menggambarkan bahwa hasil uji krusskal-wallis terhadap kesiapan mahasiswa dari ketiga program studi dengan p = 0,003 oleh karena p < 0,005 sehingga dapat diinterprestasikan paling tidak terdapat perbedaan kesiapan secara statistik antara mahasiswa tahap akademik PSPD, PSIK dan PSGK.
Perbedaan kesiapan sangat banyak faktor yang mempengaruhi, ketiga program studi mempunyai sistem pembelajaran yang berbeda dan SDM manusia terutama dosen yang berbeda, hal ini terkait dengan kesiapan akan IPE, berbeda dengan persepsi, komponen kesiapan, tergantung fasilitas dan role model dalam pembelajaran IPE. Fakultas kedokteran UGM berdiri pada tahun
1949, namun hanya sebatas
Pendidikan Dokter, sedangkan PSIK berdiri tahun 1998 dan PSGK berdiri pada tahun 2003. Penerapan untuk IPE sangat membutuhkan role model yang berdedikasi terhadap IPE dan lingkungan pembelajaran yang mendukung terciptanya teamwork dan yang mampu menggambungkan teori dan praktek (Gaudet et al, 2009).
Secara rinci perbedaan dari ketiga program studi ini menggunakan
mann-withney untuk mengetahui
perbedaan dari dua program studi,yakni perbedaan mahasiswa tahap akademik PSPD dan PSIK, PSPD dengan PSGK, serta PSIK dan PSGK
193 Adapun perbedaan kesiapan
mahasiswa terlihat PSPD dan PSIK
dalam tabel berikut:
Tabel 8. Uji Perbedaan Persepsi Antara PSPD Dan PSIK Menggunakan
Mann-Withney Test Pada Bulan Desember 2009
No Kategori kesiapan
Persentase (%) Nilai kepercayaan
(p) Interpretasi PSPD PSIK 1 Baik 87,9 100 0,0006 Ada perbedaan 2 Cukup 12,1 0 3 Kurang 0 0
Sumber : Data Primer
Uji beda Mann-Withney didalam tabel 8 didapatkan hasil p = 0,006, oleh karena p < 0,05 sehingga terdapat perbedaan kesiapan antara
mahasiswa PSPD dan PSIK.
Penelitian Morrison (2004)
memperkuat hasil penelitian ini yang menyebutkan bahwa ada perbedaan dalam komponen identitas profesi antara mahasiswa Kedokteran dan mahasiswa Keperawatan.
Dimana identitas profesi adalah
salah satu komponen dalam kesiapan terhadap IPE (Barr, 2005). Hal ini menurut temuan Morrison (2004), perbedaan tersebut dikarenakan mahasiswa kedokteran memandang mereka mempunyai pengetahuan dan skill yang lebih dari pada profesi kesehatan yang lain.
Perbedaan kesiapan mahasiswa PSPD dan PSGK terlihat dalam tabel berikut:
Tabel 9. Uji Perbedaan Persepsi Antara PSPD Dan PSGK Menggunakan
Mann-Withney Test Pada Bulan Desember 2009
No Kategori kesiapan Persentase (%) Nilai kepercayaan (p) Interpretasi PSPD PSGK 1 2 3 Baik Cukup Kurang 87,9 12,1 0,0 98,1 1,9 0,0 0,027 ada perbedaan
Sumber : Pengolahan data primer Tabel 9 menggunakan uji beda
mann withney, didapatkan hasil p =
0,027, oleh karena p < 0,05 sehingga terdapat perbedaan kesiapan antara
mahasiswa program studi pendidikan dokter dan gizi kesehatan.
Fakta di Fakultas kedokteran menyebutkan bahwa pembelajaran
194 konvensional gizi kesehatan terutama
mata kuliah ilmu penyakit, biokimia, anatomi dan fisiologi diberikan oleh dosen dengan berlatar belakang dokter. Berbeda dengan pendidikan dokter yang hanya dalam elective
block yang diampu oleh dosen dari
gizi kesehatan. Sehingga penanaman pemahaman tentang profesi dan peran masing-masing profesi berbeda antara pendidikan dokter dan gizi kesehatan.
Namun secara teori dan hasil penelitian di beberapa Negara menyebutkan hal yang berbeda.
Menurut Coster (2008) ada
hubungan antara identitas profesi dan kesiapan terhadap penerapan IPE. Dalam membangun identitas profesi menurut Barr (2005) salah satu faktor yang mempengaruhi adalah lingkungan pemebelajaran yang
mendukung. Metode PBL
merupakan salah satu metode pembelajaran dalam menciptakan
lingkungan yang mendukung
pembelajaran teamwork (Reynolds , 2002). Pendidikan dokter telah menggunakan pembelajaran dengan metode pembelajaran dengan metode PBL, sementara gizi kesehatan masih menggunakan sistem konvensional dalam perkuliahannya. Dengan beberapa teori yang telah dijelaskan seharusnya kesiapan mahasiswa program studi pendidikan dokter harus lebih tinggi dari pada program studi gizi kesehatan, namun hal ini terkait dengan tempat dan populasi penelitian yang berbeda dengan penelitian sebelumnya mengenai kesiapan terhadap IPE.
Perbedaan kesiapan maha-siswa PSIK dan PSGK terlihat dalam tabel berikut :
Tabel 10. Uji Perbedaan Kesiapan Antara PSIK Dan PSGK Menggunakan
Mann-Withney Test Pada Bulan Desember 2009
No Kategori kesiapan Persentase (%) Nilai kepercayaan (p) Interpretasi PSIK PSGK 1 2 3 Baik Cukup Kurang 100,0 0,0 0,0 98,1 1,9 0,0 0,309 Tidak ada perbedaan
195 Perbedaan Kesiapan antara PSIK
dan PSGK secara statistik
menggunakan uji beda mann withney, didapatkan hasil p = 0,309, oleh karena p > 0,05 sehingga tidak terdapat perbedaan kesiapan antara mahasiswa program studi pendidikan dokter dan gizi kesehatan.
Menurut Lee (2009) dosen maupun staff mengajar menjadi salah satu faktor pembentuk kesiapan mahasiswa dalam penerapan IPE. Menurut Barr (2003), dorongan positif dari institusi penyelenggara sangat berperan dalam pendukung pelaksanaan IPE. Program studi ilmu keperawatan dan gizi kesehatan mempunyai dasar ilmu pembentuk yang sama, dan dosen yang mengampu dasar ilmu adalah sama, yaitu dari latar belakang dokter, sehingga penanaman pemahaman terhadap profesi lain akan lebih sering terpapar dan terbentuk dari pada program studi pendidikan dokter.
Kesamaan yang mendasar adalah role model pendidikan antara PSIK dan PSGK yang selaras, ditambah
penunjang kurikulum yang
mendukung peningkatan identitas profesi. Sejalan dengan Coster (2008) yang menjelaskan identitas profesi akan selaras dalam kesiapan terhadap IPE.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1 Persepsi mahasiswa tahap akademik di Fakultas Kedoteran UGM terhadap IPE sebagian besar dalam kategori baik.
2 Kesiapan mahasiswa tahap akademik di Fakultas Kedoteran UGM terhadap IPE sebagian besar dalam kategori baik.
3 Tidak terdapat perbedaan persepsi secara statistik terhadap IPE antara
mahasiswa tahap akademik
program studi pendidikan dokter, ilmu keperawatan dan gizi kesehatan Fakultas Kedokteran UGM.
4 Terdapat perbedaan kesiapan secara statistik terhadap IPE antara
mahasiswa tahap akademik
program studi pendidikan dokter, ilmu keperawatan dan gizi kesehatan Fakultas kedokteran UGM
Saran-saran
1 Bagi institusi pendidikan, agar mampu membuat suatu kurikulum dalam tahap akademik yang berorientasi terhadap kolaborasi maupun IPE dalam menunjang mutu pendidikan tahap akademik dalam professional kesehatan dengan landasan bahwa persepsi dan kesiapan sudah baik dari mahasiswa tahap akademik FK UGM.
2 Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggali lebih dalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan kesiapan mahasiswa terhadap IPE serta hubungan antara persepsi dan kesiapan terhadap IPE pada mahasiswa tahap akademik yang mampu digeneralisasikan.
DAFTAR PUSTAKA
Waldfogel J. 1997. The new wave of
service integration. Social
service review 1997;(37): 463-484
Øvretveit J. 2009. Evaluation Of
Quality Improvement Programmes. 2002.[Serial
online] [cited 2009 March 14] ; 11:270-275. Available from: URL :HTTP://www.
196
qshc.bmj.com/content/11/3/27 0.abstract
Hind M., Norman I., Cooper S., Gill E. 2003. Interprofessional
Perception of Health Service student. Journal
Interprofessional care [serial online]. [cited 2009 may 15]: 17 (1); 21-34 available from HTTP://www.ncbi.nlm.gov/pu bmed/12772467
World Health Organization(WHO). 2006. World Health Report
2006: Working Together for Health. [cited 2009 April 22].
1988. Available from URL: HTTP//www.who.int/hrh/profe ssionals/announcement.pdf Hammick M, Freeth D, Koppel I,
Reeves S & Barr H. 2007. A
Best Evidence Systematic Review of Interprofessional Education Medical Teacher (in press)[cited 2009 may 15].
Available from: http://www.bemecollaboration. org/beme/pages/reviews/hamm ick.html Coster, S. 2008. Interprofessional Attitudes Amongst Undergraduate Students In The Health Professions: A Longitudinal Questionnaire Survey. International Journal
of Nursing Studies[serial online] [cited 2009 may 14] :45 (2008); 1667–1681.
Available from: URL :HTTP:// www.elsevier.com/ijns
Universitas gadjah mada. 2009. Buku
Panduan Akademik 2009.
Yogyakarta: Gadjah Mada University press.
Direktorat administrasi akademik. 2009. Data mahasiswa UGM.
2009. [cited 2009 dec 30].
Available from:
URL:HTTP//www.daa.ugm.ac .id
Lee, R. 2009. Interprofessional
Education: Principles and Application. Pharmacotherapy
[Serial online] [cited 2009 June 29] : 29 (3); 145e–164e. Available from: URL
:HTTP://www.accp.com Barr, H. 2005. Effective
Interprofessional Education: Argument, Assumption and Evidence.1
st
ed. Oxford:
Blackwell Publishing. Baker, C., Pulling, C., McGraw, R.,
Dagnone, J. D., Hopkins-Rosseel, D., &Medves, J. 2008. . Simulation in
Interprofessional Education for Patient-Centred
Collaborative Care. Journal of
Advanced Nursing : 64(4); 372–379
Dalton, L., Spencer, D., Howarth, H. 2007. Report of The
Investigation of
Undergraduate Health Science Student Attitudes Toward Interprofessional Education.
Tasmania: University
Department of Rural Health. [cited 8 th of February 2010]. . Available from: http://www.ruralhealth.utas.ed u.au
Parsell G, Bligh J. 1999. The
development of a
questionnaire to assess the readiness of health care students for interprofessional learning (RIPLS). Med Educ,
1999 ;33:95–100
Dahlan S. 2006. Statistika untuk
197 Jakarta: PT ARKANS.
Heriadi. 2001. Persepsi mahasiswa
Fakultas Kedokteran UGM tentang hubungan kemitraan dokter-perawat. tidak
diterbitkan: Skripsi S1 Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM.
Tsani A Fahmi Arif. 2007. Persepsi
mahasiswa Fakultas kedokteran terhadap Kompetensi Ahli gizi. tidak
diterbitkan: Skripsi S1 Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM.
Gaudet J, Wolfson L Shekter, Seaberg R, Stulla D, Cohoon C,
Kapelus G, Goldman J, et. Al 2009. Implementing and
evaluating interprofessional education for health sciences students: Early experiences from a Canadian College.
Journal of interprofessional care [cited 2009 may 15]. Available from:
http://informahealthcare.com Morison, S. 2004. Developing
pre-qualification inter-professional education for nursing and medical students:
sampling student attitudes to guide development. Nurse Education in Practice [Serial online] [cited 2009 june 26] ; (4): 20–29. Available from: URL
:HTTP://www.elsevier.com/jo urnal/nepr
Reynolds F.,Crookenden R. 2002.
Collaborative teamwork skills: how are they developed
through interprofessional education and are they applicable in the practice setting?[cited 2010 feb 28]. Available URL: http://www.health.heacademy. ac.uk/projects/miniprojects/rey nolds.pdf Barr, H., 2003. Undergraduate Interprofessional Education. Education Committee Discussion Document. Available URL: www.caipe.org.uk