BAB II LANDASAN TEORI. merasa dirugikan menyampaikan ketidakpuasan ini kepada pihak kedua. dilakukan oleh salah satu pihak dalam perjanjian.

30  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

25 A. Sengketa dalam Perbankan Syariah

1. Pengertian Sengketa

Sengketa menurut pendapat Suyud Margono adalah suatu situasi dimana ada pihak yang merasa dirugikan oleh pihak lain. Pihak yang merasa dirugikan menyampaikan ketidakpuasan ini kepada pihak kedua dan apabila pihak kedua tidak menanggapi dan memuaskan pihak pertama, serta menunjukkan perbedaan pendapat, maka terjadilah apa yang dinamakan dengan sengketa.32

Menurut Nurnaningsih sengketa adalah perselisihan yang terjadi antara pihak-pihak dalam perjanjian karena adanya wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam perjanjian.33 Wanprestasi dapat terjadi dalam hal debitur:

a. Sama sekali tidak memenuhi prestasi b. Tidak tunai memenuhi prestasi c. Terlambat memenuhi prestasi d. Keliru memenuhi prestasi

Dalam buku III B.W berjudul “Perihal Perikatan”, menyebutkan bahwa prestasi ialah barang yang dituntut. Prestasi ini dapat berupa menyerahkan suatu barang, melakukan suatu perbuatan atau tidak

32 Suyud Margono, Penyelesaian Sengketa Bisnis: Alternatif Dispute Resolution (ADR), Op.cit, hlm. 28

33 Nurnaningsih Amriani, Mediasi: Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di

(2)

melakukan suatu perbuatan.34 Hal tersebut dikaitkan dengan perjanjian/perikatan seperti dalam pasal 1234, yang menyebutkan perikatan ditujukan untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu.

Proses sengketa dimulai karena tidak adanya titik temu antara pihak-pihak yang bersangkutan. Secara potensial, dua pihak yang mempunyai pendirian/pendapat yang berbeda beranjak ke situasi sengketa. Dalam hal sengketa perbankan syariah, maka pihak yang bersengketa adalah nasabah baik nasabah funding maupun nasabah pembiayaan dengan pihak perbankan syariah.

2. Penyebab Terjadinya Sengketa Perbankan Syariah

Menurut Pasal 124435, 124536, dan 124637 KUH Perdata, apabila salah satu pihak melakukan ingkar janji (wanprestasi) atau perbuatan melanggar hukum, maka pihak yang dirugikan dapat menuntut ganti rugi yang berupa pemulihan prestasi, ganti rugi, biaya dan bunga. Namun, ketentuan tersebut tentunya tidak dapat diterapkan seluruhnya dalam hukum keperdataan Islam karena dalam perjanjian Islam tidak dikenal adanya bunga yang menjadi bagian dari tuntutan ganti rugi. Oleh karena

34 Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata. (Jakarta: PT Intermasa, 1996). Hlm. 123. 35 Pasal 1244 berbunyi “Debitur harus dihukum untuk mengganti biaya, kerugian dan bunga. Bila ia tak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan itu disebabkan oleh sesuatu hal yang tak terduga, yang tak dapat dipertanggungkan kepadanya, walaupun tidak ada itikad buruk kepadanya”.

36 Pasal 1245 berbunyi “Tidak ada penggantian biaya. kerugian dan bunga. bila karena keadaan memaksa atau karena hal yang terjadi secara kebetulan, debitur terhalang untuk memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan, atau melakukan suatu perbuatan yang terlarang baginya”.

37 Pasal 1246 berbunyi “Biaya, ganti rugi dan bunga, yang bo!eh dituntut kreditur, terdiri atas kerugian yang telah dideritanya dan keuntungan yang sedianya dapat diperolehnya, tanpa mengurangi pengecualian dan perubahan yang disebut di bawah ini”.

(3)

itu, ketentuan ganti rugi harus sesuai dengan prinsip syariat Islam. Jika salah satu pihak tidak melakukan prestasi dan itu dilakukan bukan karena terpaksa (overmach), maka ia dipandang ingkar janji (wanprestasi) yang dapat merugikan pihak lain. Penetapan wanprestasi ini bisa berbentuk putusan hakim atau atas dasar kesepakatan bersama atau berdasarkan ketentuan aturan hukum Islam yang berlaku.

Berkaitan dengan permasalahan tersebut, bagi pihak yang melakukan wanprestasi (cidera janji) dapat dikenakan ganti rugi atau denda dalam ukuran yang wajar dan seimbang dengan kerugian yang ditimbulkannya serta tidak mengandung unsur ribawi, jika debitur yang cidera janji (wanprestasi) disebabkan karena hal-hal berikut ini:38

a. Ketidakmampuan debitur yang bersifat relatif, maka kreditur harus memberikan alternatif berupa perpanjangan waktu pembayaran (rescheduling), memberi pengurangan (discount) keuntungan, diberikan kemudahan berupa seconditioning kontrak atau dilakukan likuidasi (penjualan barang-barang jaminan). Jika debitur masih juga tidak mampu membayar prestasinya, maka kreditor (bank) dapat memberikan kebijakan hapus buku (write of).

b. Ketidakmampuan debitur yang bersifat mutlak, kreditor (bank) harus membebaskan debitur dari kewajiban membayar prestasi atau memberikan kebijakan hapus tagih (hair cut).

38 Ahmad Mujahidin, Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Indonesia, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), hlm.44-45

(4)

c. Jika debitur wanprestasinya karena itikad tidak baik, maka dapat diumumkan kepada masyarakat luas sebagai debitur nakal dan dikenakan sanksi paksa badan atau hukuman lainnya.

B. Penyelesaian Sengketa

1. Tujuan Penyelesaian Sengketa

Tujuan diadakannya penyelesaian sengketa, yaitu agar setiap permasalahan yang ada dalam perbankan dapat terselesaikan sehingga tidak menimbulkan persengketaan yang berujung pada ketidakadilan.39 Dalam Islam juga tidak diperbolehkan berselisih yang berkepanjangan karena dapat menimbulkan persengketaan.

Penyelesaian sengketa memiliki prinsip tersendiri agar masalah-masalah yang ada dapat terselesaikan dengan benar. Prinsip tersebut diantaranya adalah:40

a. Adil dalam memutuskan perkara sengketa, tidak ada pihak yang merasa dirugikan dalam pengambilan keputusan

b. Kekeluargaan

c. Win-win solution, menjamin kerahasiaan sengketa para pihak d. Menyelesaikan masalah secara komprehensif dalam kebersamaan 2. Landasan Hukum Penyelesaian Sengketa

Dasar hukum yang mengatur tentang penyelesaian sengketa secara jelas yaitu sebagai berikut:41

39 Muhammad Asro’ dan Muhammad Kholid, Fiqih Perbankan, Op.cit, hlm.152 40 Op.cit., hlm. 153

41

(5)

a. Al Qur’an Surat Al Hujurat (49) ayat 9:                                   Artinya :

Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang,

maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”.

b. Hadist

Hadist riwayat At Tarmidzi, Ibnu Majah, Al Hakim, dan Ibnu Hibban bahwa Rasulullah saw bersabda, “ Perjanjian diantara orang-orang muslim itu boleh, kecuali perjanjian menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal”. At-Tirmidzi dalam hal ini menambahkan muamalah orang-orang muslim itu berdasarkan syarat-syarat mereka.

c. Pasal 1338 KUHP, Sistem Hukum Terbuka

Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHP) menyatakan, “Semua perjanjian yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang-undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain

(6)

alasan yang ditentukan oleh undang-undang. Perjanjian harus dilaksanakan dengan baik.

Dari ketentuan pasal tersebut, seluruh pakar hukum sepakat menyimpulkan bahwa dalam hal hukum perjanjian, hukum positif (hukum yang berlaku) di Indonesia menganut sistem “terbuka”. Atinya, setiap orang bebas untuk membuat perjanjian apa dan bagaimanapun juga, sepanjang pembuatannya dilakukan sesuai dengan undang-undang dan isinya tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan atau kesusilaan. Termasuk dalam pengertian bebas disini, tidak saja yang menyangkut isi (materinya), namun juga yang menyangkut bagaimana cara menyelesaikan perselisihan yang terjadi atau mungkin dapat terjadi.42

3. Proses Penyelesaian Sengketa

Penyelesaian sengketa tergantung bagaimana pengelolaan sengketa. Pengelolaan sengketa yang dimaksud disini adalah bagaimana cara pihak-pihak yang bersengketa menghadapi dan berusaha menyelesaikan sengketa yang dihadapinya. Banyak cara yang dapat ditempuh oleh pihak-pihak yang bersengketa dalam menyelesaikan sengketanya, tergantung pada situasi dan kondisi yang ada padanya.

Secara teoretis ada dua cara yang dapat ditempuh dalam menghadapi atau menyelesaikan sengketa, yaitu secara adversial atau litigasi (arbitrase atau pengadilan) dan secara kooperatif (negosiasi,

42 Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, (Jakarta : Gema Insani Press, 2001), hlm. 215.

(7)

mediasi, atau konsiliasi). Penyelesaian melalui litigasi adalah membawa sengketa ke pengadilan atau arbitrase, sedangkan penyelesaian kooperatif adalah usaha kerja sama dalam penyelesaian sengketa melalui negosiasi langsung, melalui bantuan mediator, atau melalui bantuan konsiliator.43

Sengketa yang terjadi antara pihak bank syariah dengan nasabah yang merupakan sengketa keperdataan masuk dalam ranah hukum perjanjian. Untuk itu, maka asas kebebasan berkontrak (freedom of contrack) yang merupakan asas utama dalam hukum perjanjian berlaku dalam hal ini. Kebebasan berkontrak mengandung arti bahwa para pihak bebas untuk menentukan isi perjanjian, bentuk perjanjian, dan mekanisme penyelesaian sengketa.44

Proses penyelesaian sengketa secara umum menurut Suyud Margono terdiri atas :45

1. Proses adjudikatif (adjudicative processes) meliputi litigasi dan arbitrase.

2. Proses konsensual (concensual processes) yakni ombudsman, pencari fakta bersifat netral (neutral fact-finding), negosiasi (negotiation), mediasi (mediation), dan konsiliasi (consoliation).

3. Proses adjukasi semu (quasi adjudicatory processes), yakni mediasi arbitrase (mediation arbitration), persidangan mini (mini trial),

43

Nurnaningsih Amriani, Mediasi: Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di Pengadilan, Op.cit, hlm. 19.

44 Abdul Ghofur Ansori, Hukum Perbankan Syariah, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), hlm. 109.

45

(8)

pemeriksaan juri secara sumir (summary jury trial), dan evaluasi netral secara dini (early neutral evaluation).

Menurut pasal 20 PBI No.7/46/PBI/2005 tentang akad penghimpunan dana dan penyaluran dana bagi bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, menentukan sebagai berikut: a. Dalam hal salah satu pihak tidak memenuhi kewajiban sebagaimana

diperjanjikan dalam akad atau jika terjadi perselisihan antara bank dan nasabah maka upaya penyelesaian dilakukan melalui musyawarah. b. Dalam musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak

mencapai kesepakatan, maka penyelesaian lebih lanjut dapat dilakukan melalui alternatif penyelesaian sengketa atau badan arbitrase syariah.

Begitu pula menurut Peraturan OJK No. 1/POJK.07/2014 pasal 2 ayat (1) yang menyatakan bahwa pengaduan wajib diselesaikan terlebih dahulu oleh lembaga jasa keuangan. Hal ini berarti sebelum mencapai ke proses pengadilan, masalah sengketa tersebut harus diselesaikan oleh pihak bank dengan membuat kesepakatan dengan nasabah. Apabila dalam membuat kesepakatan tidak menemui titik temu, maka penyelesaian sengketa dapat dilakukan di luar pengadilan maupun melalui pengadilan seperti yang tertuang dalam ayat (2) pada pasal tersebut. Adapun proses penyelesaian sengketa diluar pengadilan dilakukan melalui Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa yang dimuat dalam daftar Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa yang ditetapkan oleh OJK.

(9)

Pada awalnya yang menjadi kendala hukum bagi penyelesaian sengketa perbankan syariah adalah hendak dibawa kemana penyelesaiannya. Hal itu karena Pengadilan Negeri tidak menggunakan syariah sebagai landasan hukum bagi penyelesaian perkara. Sedangkan wewenang Pengadilan Agama saat itu menurut UU No.7 tahun 1989 hanya terbatas mengadili perkara perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, dan sedekah sehingga untuk mengantisipasi kondisi darurat, maka didirikanlah Badan Arbitrase Muamalah Indonesia (BAMUI) yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung RI dan MUI.

C. Alternatif Dispute Resolution

1. Pengertian Alternatif Dispute Resolution

Alternatif Dispute Resolution (ADR) sering diartikan sebagai

alternative to litigation tetapi seringkali juga diartikan sebagai alternative to adjudication. Pemilihan terhadap salah satu dari dua pengertian tersebut menimbulkan implikasi yang berbeda. Apabila pengertian pertama yang menjadi acuan (alternative to litigation), maka seluruh mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan, termasuk arbitrase merupakan bagian dari ADR. Namun, jika pengertian yang kedua yaitu ADR sebagai

alternative to adjudication yang diambil, maka mekanisme penyelesaiaan sengketanya bersifat konsensual atau kooperatif seperti halnya negosiasi, mediasi, dan konsiliasi.46

46

(10)

ADR menurut Suyud margono merupakan alternatif penyelesaian sengketa yang dilakukan di luar pengadilan (ordinary court) dimana proses penyelesaiaan sengketanya adalah negosiasi, mediasi dan arbitrase. Negosiasi dan mediasi merupakan bagian dari proses penyelesaian sengketa secara kompromi (kooperatif antar para pihak) dengan tujuan pemecahan masalah bersama. Sedangkan arbitrase, proses sengketanya disebut metode kompromi negosiasi bersaing, dan tedapat istilah yang putusannya bersifat final.47

Istilah ADR ini dalam bahasa Indonesia disebut Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS). Dalam UU No. 30 Tahun 1999 pasal 1 angka 10 APS didefinisikan sebagai lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan penilaian ahli. 48

Frans Hendra Winata, mendefinisikan APS (Alternatif Penyelesaian Sengketa) sebagai pranata penyelesaian sengketa di luar pengadilan berdasarkan kesepakatan para pihak dengan mengesampingkan penyelesaian sengketa melalui proses litigasi di pengadilan. 49

Dalam pasal 4a ayat (1) Peraturan OJK No. 1/POJK.07/2014 menyebutkan bahwa lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang dimuat dalam daftar lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang

47 Op.cit., hlm. 36.

48 Frans Hendra Winata, Hukum Penyelesaian sengketa: Arbitrase Nasional Indonesia &

Internasional, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm.14. 49

(11)

ditetapkan oleh OJK adalah lembaga yang mempunyai layanan penyelesaian sengketa berupa mediasi, adjudikasi dan arbitrase.

2. Formalisasi ADR sebagai Mekanisme Penyelesaian Sengketa

Pembentukan ADR sebagai penyelesaian alternatif tidak cukup dengan budaya musyawarah/mufakat dari masyarakat, melainkan perlu pengembangan dan pelembagaan meliputi perundang-undangan untuk memberikan landasan hukum, pembentukan asosiasi profesi atau jasa profesional.

Dengan dimasukkannya konsepsi ADR dalam bentuk undang-undang, seharusnya tidak bertentangan dengan konsep dasar atau filosofis ADR itu sendiri, yaitu memberikan otonomi atau kebebasan para pihak untuk menyelesaikan sengketa atau dispute secara sukarela di luar lembaga arbitrase atau pengadilan (out of court).50

Dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, pengertian arbitrase dibedakan dengan alternatif penyelesaian sengketa (APS). Pengertian alternatif penyelesaian sengketa atau arbitrase telah diperkenalkan sebagai institusi/lembaga yang dipilih para pihak yang mengikat, apabila timbul beda pendapat atau sengketa. Dengan demikian, alternatif penyelesaian sengketa berdasarkan undang-undang bertindak sebagai lembaga independen di luar arbitrase dan arbitrase oleh undang-undang mempunyai ketentuan, cara, dan syarat-syarat tersendiri untuk

50

(12)

pemberlakuan formalitasnya, tetapi keduanya terdapat persamaan mengenai bentuk sengketa yang dapat diselesaikan.51

3. Pengembangan ADR sebagai Penyelesaian Sengketa

Konsep penyelesaian sengketa dengan lembaga ADR pada dasarnya bersumber pada upaya untuk mengaktualisasikan ketentuan kebebasan berkontrak dalam berjalannya kontrak itu. Dengan demikian, hasil akhir penyelesaian sengketa tersebut berupa perdamaian, baik melalui upaya pihak-pihak itu sendiri atau menggunakan pihak ketiga untuk mencapai penyelesaian.

ADR dikembangkan karena adanya kritik terhadap lembaga Pengadilan antara lain:52

a. Waktu

Proses persidangan yang berlarut-larut atau terlalu lama (karena hak para pihak untuk mengajukan banding, kasasi, peninjauan kembali, bantahan, dan lainnya) dan kesulitan mendapatkan suatu putusan yang benar-benar final dan mengikat.

b. Adversary

Proses beracara dalam pengadilan memaksa para pihak untuk saling menyerang.

c. Biaya Mahal

Biaya pengadilan di beberapa negara dianggap mahal (khususnya bagi masyarakat pedalaman karena akan ditambah dengan

51 Suyud Margono, Op.cit, hlm. 109.

52 Nurnaningsih Amriani, Mediasi: Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di

(13)

biaya transportasi). Mahalnya biaya tersebut ditambah pula dengan biaya pengacara, belum lagi biaya-biaya informal dalam sistem peradilan. Selain itu, semakin lama penyelesaian perkara, maka akan semakin besar biaya yang akan dikeluarkan.

d. Prosedur yang Ketat

Dengan adanya prosedur beracara yang rigid/ketat, kadangkala menghilangkan keleluasaan para pihak (prinsipal) untuk mencari inovasi alternatif-alternatif penyelesaian. Seringkali kepentingan sebenarnya dari pihak yang bersengketa tidak tercermin dalam gugatan/tuntutan yang diajukan.

e. Lawyer Oriented

Karena sistem prosedur yang kompleks dalam peradilan, maka hanya pihak yang mempunyai keahlian saja yang dapat beracara di pengadilan. Oleh karena itu, pihak sengketa banyak mendelegasikan semuanya kepada pengacaranya, dimana acapkali pengacara tidak mengerti benar kepentingan dari si klien.

f. Ungkapan Mengenai Citra Pengadilan

Berbagai ungkapan yang ditujukan ke arah proses penyelesaian sengketa melalui litigasi semakin menyudutkan opularitas badan peradilan. Salah satunya ialah pepatah Cina yang menyatakan “ A lawsuit breeds ten years of hatred” maksudnya berperkara di pengadilan akan menimbulkan kebencian berpuluh-puluh tahun.

(14)

Dengan demikian, akan menghancurkan hubungan keluarga dan persaudaraan.

g. Win Lose Situation

Sistem peradilan didasarkan pada nilai benar atau salah, yang pada akhirnya akan menghasilkan situasi yang kalah atau menang. h. Kurangnya Kemampuan Hakim

Hakim dianggap sebagai seseorang yang mempunyai sumber daya dan kemampuan pengetahuan yang lebih dari yang lainnya. Namun pada kenyataanya, Hakim hanya mengetahui suatu hal secara tebatas dan tidak didukung oleh keahlian yang profesional sehingga sulit untuk mengharapkan suatu penyelesaian sengketa yang kompleks, secara baik dan objektif. Hal ini menyebabkan putusan Hakim sering menyimpang dari permasalahan pokoknya.

i. Hubungan Putus

Dengan adanya sistem win-lose, maka untuk kasus perdata atau bisnis hubungan para pihak menjadi putus atau tidak harmonis lagi. j. Memicu Konflik Baru

Karena untuk menyelamatkan muka dan telah terputusnya hubungan, maka hal tersebut dapat memicu konflik baru lagi.

Dengan demikian, pengadilan yang awalnya dipertahankan sebagai

the first resort dan the last resort, kini mulai digeser oleh alternatif-alternatif lain yang dianggap lebih sederhana, cepat, dan biaya murah oleh lembaga yang disepakati dan diterima masyarakat. Akan tetapi, lembaga

(15)

peradilan tetap harus dipertahankan sebagai katup penekan (pressure valve) dalam negara hukum dan demokrasi. Namun kedudukannya perlu digeser sebagai the last resort dan lembaga alternatif lain ditempatkan sebagai the first resort.

Selain itu, penyelesaian sengketa melalui ADR memiliki keuntungan substansial dan psikologis, diantaranya adalah sebagai berikut:53

a. Penyelesaiannya bersifat informal, yakni penyelesaian melalui pendekatan nurani bukan berdasarkan hukum

b. Yang menyelesaikan sengketa ialah para pihak itu sendiri c. Jangka waktu penyelesaian pendek

d. Biaya ringan

e. Aturan pembuktian tidak diperlukan

f. Proses penyelesaiannya bersifat konfidensial (rahasia) g. Hubungan para pihak bersifat kooperatif

h. Komunikasi dan fokus penyelesaian i. Hasil yang dituju sama menang j. Bebas emosi dan dendam

53

(16)

D. Mekanisme Alternatif Penyelesaian Sengketa 1. Musyawarah

a. Pengertian

Musyawarah adalah tindakan dalam bentuk perundingan secara damai antara kedua belah pihak yang bersengketa untuk mencapai kesepakatan dan mendapatkan penyelesaian terhadap sengketa yang dihadapi.54 Dalam syariat Islam tindakan seperti ini biasa dinamakan perdamaian atau shulhu yaitu suatu jenis akad untuk mengakhiri perlawanan antara dua orang yang saling berlawanan atau untuk mengakhiri sengketa.

b. Tata cara pelaksanaan

Musyawarah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) Dengan cara ibra’ artinya membebaskan debitur dari sebagian

kewajibannya

2) Dengan cara mufaadhah artinya penggantian dengan yang lain, misalnya:

a) Shulhu hibah, yaitu penggugat menghibahkan sebagian barang yang dituntut kepada tergugat dan tergugat melepas barang sengketa selain dari yang dihibahkan oleh penggugat kepadanya

b) Shulhu baiy’, yaitu penggugat menjual barang yang dituntut kepada tergugat

54 Ahmad Mujahidin, Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Indonesia, Op.cit, hlm. 137.

(17)

c) Shulhu ijarah, penggugat mempersewakan barang yang dituntut kepada tergugat dan tergugat membayar sewa.55

Tipe Shulhu’ (perdamaian) ini masing-masing pihak yang bersengketa dituntut untuk mau berkorban demi terlaksananya tujuan musyawarah untuk perdamaian demi tercapainya kesepakatan dalam penyelesaian sengketa antara keduanya, sehingga tidak ada pihak yang kalah maupun menang, keduanya saling menguntungkan.

2. Negosiasi

Negosiasi merupakan komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai kesepakatan pada saat kedua belah pihak memiliki berbagai kepentingan yang sama maupun berbeda. Negosiasi merupakan sarana bagi pihak-pihak yang mengalami sengketa untuk mendiskusikan penyelesaiaannya tanpa keterlibatan pihak ketiga penengah, yang tidak berwenang mengambil keputusan (mediasi), maupun pihak ketiga pengambil keputusan (arbitrase dan litigasi).56

Secara umum terdapat beberapa teknik negosiasi yaitu: 1) Teknik negosiasi kompetitif

Teknik negosiasi kompetitif diistilahkan sebagai negosiasi bersifat alot, dimana unsur-unsur menjadi ciri negosiator kompetitif adalah sebagai berikut:

a) Mengajukan permintaan awal yang tinggi di awal negosiasi

55 Ahmad Mujahidin., Ibid, hlm.138. 56

(18)

b) Menjaga tuntutan agar tetap tinggi sepanjang proses negosiasi dilangsungkan (maitaining high level of demands)

c) Konsesi diberikan sangat langka/jarang atau terbatas

d) Secara psikologis, perunding menggunakan teknik ini menganggap perunding lain sebagai musuh atau lawan

e) Menggunakan cara yang berlebihan dan melemparkan tuduhan-tuduhan dengan tujuan menciptakan ketegangan dan tekanan terhadap pihak lawan

2) Teknik negosiasi kooperatif

Teknik negosiasi kooperatif sebagai kebalikan dari teknik kompetitif, yang menganggap pihak negosiator lawan (opposing party) bukan sebagai musuh tetapi sebagai mitra kerja mencari commond ground. Para pihak berkomunikasi satu sama lain untuk menjajaki kepentingan, nilai-nilai bersama, kerja sama. Hal yang dituju oleh seorang negosiator penyelesaian yang adil berdasarkan analisis yang objektif, dan atas fakta hukum yang jelas.

3) Teknik negosiasi lunak dan keras

Teknik negosiasi lunak menempatkan hubungan baik antar paa pihak. Teknik ini menekankan pada corak negosiasi mengandung risiko lahirnya kesepakatan yang bersifat semu serta menghasilkan pola “menang-kalah”. Penggunaan teknik ini mengandung risiko manakala perunding lunak menghadapi seseorang yang menggunakan teknik keras (hard). Perunding keras dalam menghadapi

(19)

perunding-perunding lunak sangat dominan. Perunding keras di satu pihak akan berusaha memberikan konsesi dan menggunakan ancaman. Di pihak lain, perunding lunak akan memberikan konsesi untuk sekedar mencegah konfrontasi, dan bersikeras untk mencapai kesepakatan. Apabila keadaan demikian, proses negosiasi akan menguntungkan pihak perunding yang bersifat keras serta menghasilkan kesepakatan yang berpola menang-kalah.

4) Teknik negosiasi interest based

Sebagai tanggapan atas kategori keras lunak, Harvard Project mengembangkan teknik yang disebut interest based negotiation atau

principled negotiation. Teknik ini merupakan jalan tengah yang ditawarkan atas pertentangan teknik keras-lunak. Teknik ini dipilih karena pemilihan salah satu dari teknik keras berpotensi menemui kebuntuan (dead lock) dalam negosiasi, terlebih apabila perunding keras bertemu dengan sesama perunding yang juga bersifat keras sedangkan perunding lunak berpotensi sebagai pecundang (loser). Potensi risiko lain adalah kesepakatan yang dicapai (bila ada) bersifat semu, sehingga sangat mungkin salah satu pihak dikemudian hari menyadari akan ketidakwajaran dalam proses negosiasi dan tidak mau melaksanakan perjanjian yang telah disepakati.

Agar lebih jelas perbandingan dari teknik negosiasi lunak-keras dan teknik negosiasi interest based, bisa dilihat pada tabel dibawah ini:

(20)

Tabel 2.1

Tabel perbandingan teknik negosiasi lunak-keras dan teknik negosiasi interest based

Soft (lunak) Hard (keras) Interest Based Perunding adalah teman Perunding dipandang sebagai musuh Perunding adalah pemecah masalah Tujuan kesepakatan Tujuan semata untuk

mencapai kemenangan Tujuan untuk mencapai hasil bijaksana Memberi konsesi untuk membna hubungan Menuntut konsesi sebagai prasyarat

Pisahkan orang dan masalah

Lunak terhadap orang dan masalah

Keras terhadap orang dan masalah

Lunak terhadap orang dan keras terhadap masalah Percaya pada

perunding lawan

Tidak percaya pada perunding lawan Kepercayaan dibangun berdasarkan situasi dan kondisi Mudah mengubah posisi

Memperkuat posisi Fokus pada kepentingan Mengemukakan

tawaran

Membuat ancaman Menelusuri kepentingan Mengungkap bottom

line

Menciptakan win-lose Mencegah win-lose

Mengalah untuk kesepakatan Perolehan sepihak sebagai harga kesepakatan Hasil sedapat mungkin diterima para pihak

(21)

Soft (lunak) Hard (keras) Interest Based jawaban yang

menyenangkan lawan

yang harus diterima perunding lawan pilihan terlebih dahulu sebelum memutuskan Bersikeras atas perlunya kesepakatan

Bersikeras atas posisi Bersikukuh pada kriteria objektif Mencegah contest of will Memenangkan perlombaan Mencapai kesepakatan atas keinginan bersama Menerima untuk ditekan

Menerapkan tekanan Argumentasi dan alasan terhadap lawan

Tahapan dalam proses negosiasi meliputi: 1) Tahap Persiapan57

a) Know yourself (Apa yang kita butuhkan/inginkan).

Dalam tahapan ini, kita perlu mengenali dulu kepentingan kita sebelum mengenali kepentingan orang lain. b) Know your adversaries

Kita perlu memperkirakan tentang kepentingan dan kebutuhan alternatif orang lain.

c) Negotiating conventions

Yaitu merencanakan hal yang berkaitan dengan

negotiating conventions seperti halnya strategi tentang seberapa terbukanya informasi yang harus atau dapat kita

57

(22)

berikan, seberapa jauh kita harus mempercayai perunding lawan.

d) Menentukan hal-hal yang bersifat logistics

Misalnya, menentukan siapa yang harus bertindak sebagai perunding, perlukah menyewa perunding yang memiliki keterampilan khusus dan dimana saja perundingan harus dilakukan.

2) Tahap tawaran awal (opening gambit)

Dalam tahap ini, biasanya seorang perunding mempersiapkan strategi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pertanyaan siapakah yang harus terlebih dahulu menyampaikan tawaran. Apabila pada saat perunding menyampaikan tawaran awal, dan perunding lawan tidak siap (ill prepared), terdapat kemungkinan tawaran pembuka tersebut dapat mempengaruhi persepsi tentang reservation price dari perunding lawan.

Apabila mendapat tawaran dari perunding lawan yang besifat ekstrem, maka solusi terbaiknya adalah menghentikan negosiasi sampai perunding lawan memodifikasi tawaran atau segera melakukan kontra tawaran (counter offer) dengan mengajukan tawaran perunding. Apabila dua tawaran dimajukan, biasanya midpoint (titik tengah diantara dua tawaran) merupakan solusi atau kesepakatan perundingan.

(23)

3) Tahap pemberian konsesi

Dalam tahap ini, perunding harus tepat melakukan kalkulasi tentang agresivitas serta bersifat manipulatif. agresivitas bergantung pada seberapa jauh perunding menjaga hubungan baik, dan fairness. Yang terpenting adalah bagaimana negosiator memainkan peran dalam konsesi dan menjaga agar penawaran sampai pada tingkat yang diinginkan.

4) Tahap akhir permainan (end play)

Tahap akhir permainan ini meliputi pembuatan komitmen atau membatalkan komitmen yang telah dinyatakan sebelumnya.

Negosiasi dapat berlangsung secara efektif dan mencapai kesepakatan yang bersifat stabil apabila terdapat kondisi yang mempengaruhi seperti:58

1) Pihak-pihak bersedia secara sukarela bernegosiasi berdasarkan kesadaran penuh (willingness)

2) Pihak-pihak siap melakukan negosiasi (preparedness)

3) Mempunyai wewenang mengambil keputusan (authoritative) 4) Memiliki kekuatan yang relatif seimbang sehinggaa dapat

menciptakan saling ketergantungan (relative bargaining power) 5) Mempunyai kemauan menyelesaikan masalah

58

(24)

3. Mediasi a. pengertian

Secara etimologi, istilah mediasi berasal dari bahasa Latin,

mediare yang berarti berada di tengah. Makna ini menunjuk pada peran yang ditampilkan pihak ketiga sebagai mediator dalam menjalankan tugasnya menengahi dan menyelesaikan sengketa antara para pihak.59

Dalam pasal 1 angka 5 Peraturan Bank Indonesia No. 8/5/PBI/2006 tentang mediasi perbankan menyebutkan bahwa mediasi adalah proses penyelesaian sengketa yang melibatkan mediator untuk membantu para pihak yang bersengketa guna mencapai penyelesaian dalam bentuk kesepakatan sukarela terhadap sebagian atau seluruh masalah yang dipersengketakan.

Menurut Rachmadi Usman, mediasi adalah proses negosiasi penyelesaian masalah (sengketa) dimana suatu pihak luar, tidak memihak, netral, tidak bekerja dengan para pihak yang bersengketa membantu mereka (yang bersengketa) mencapai suatu kesepakatan hasil negosiasi yang memuaskan.60

Mediasi pada dasarnya adalah negosiasi yang melibatkan pihak ketiga yang memiliki keahlian mengenai prosedur mediasi yang efektif, dapat membantu dalam situasi konflik untuk

59 Syahrizal Abbas, Mediasi : dalam Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 2.

60 Rachmadi Usman, Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 79

(25)

mengkoordinasikan aktifitas pihak yang bersengketa sehingga lebih efektif dalam proses tawar menawar.

Dalam membantu pihak yang bersengketa, mediator bersifat imparsial atau tidak memihak. Kedudukan meditor seperti ini amat penting, karena akan menumbuhkan kepercayaan yang memudahkan mediator melakukan kegiatan mediasi. Kedudukan mediator yang tidak netral, tidak hanya menyulitkan kegiatan mediasi tetapi dapat membawa kegagalan.61

b. Model-model mediasi

Lawrence Boulle, profesor dalam ilmu hukum dan direktur

Dispute Resolution Centre Bond University membagi mediasi dalam empat model yaitu: 62

1) Settlement mediation (mediasi kompromi) merupakan mediasi yang tujuan utamanya adalah mendorong terwjudnya kompromi dari tuntutan kedua belah pihak yang bertikai.

2) Facilitative mediation (mediasi berbasis kepentingan/ interest-based dan problem solving) bertujuan untuk menghindarkan para pihak yang bersengketa dari posisi mereka dan menegosiasikan kebutuhan dan kepentingan para pihak dari hak-hak legal mereka yang kaku.

3) Transformative mediation (mediasi terapi dan rekonsiliasi), mediasi model ini menekankan untuk mencari penyebab yang

61 Syahrizal Abbas, Mediasi : dalam Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional, Op.cit, hlm. 6.

62

(26)

mendasari munculnya permasalahan diantara para pihak yang bersengketa, dengan pertimbangan melalui pengakuan dan pemberdayaan sebagai dasar resolusi konflik dari pertikaian yang ada.

4) Evaluative mediation (mediasi normatif) merupakan model mediasi yang bertujuan untuk mencari kesepakatan berdasarkan hak-hak legal dari para pihak yang bersengketa dalam wilayah yang diantisipasi oleh pengadilan.

c. Peran dan Fungsi Mediator

Menurut Howard Raiffa, peran mediator dapat dilihat dari peran yang terlemah dan terkuat.63 Peran mediator dari sisi terlemah adalah:

1) Penyelenggara pertemuan 2) Pemimpin perundingan

3) Pemelihara dan penjaga aturan perundingan 4) Pengendali emosi para pihak

5) Pendorong para pihak kurang mampu atau kurang bisa dalam menyampaikan pendapatnya.

Sedangkan peran mediator dari sisi terkuat adalah: 1) Mempersiapkan dan membuat notulen perundingan 2) Merumuskan titik temu atau kesepakatan para pihak

63 Muhammad Asro’ dan Muhammad Kholid, Fiqih Perbankan, Op.cit, hlm.180. Dikutip dari Howard Raiffa, The Art and Science of Negotiation, (Massachusetts: Harvard University, 1982), hlm. 119-130.

(27)

3) Membantu para pihak agar sadar bahwa perselisihan bukan pertarungan untuk dimangkan melainkan diselesaikan

4) Menyusun dan mengusulkan alternatif pemecahan masalah 5) Membantu para pihak menganalisis alternatif pemecahan masalah

Tujuh fungsi mediator menurut Leonard L. Riskin dan James E. Westbook:64

1) Sebagai katalisator, dalam proses perundingan

2) Sebagai pendidik, berusaha memahami aspirasi, prosedur kerja, keterbatasan politik dan kendala usaha dari para pihak

3) Sebagai penerjemah para pihak dalam menyampaikan dan merumuskan usulan alternatif penyelesaian perselisihan dengan bahasa yang baik

4) Sebagai narasumber dengan mendayagunakan sumber-sumber informasi yang tersedia

5) Sebagai penyandang berita jelek

6) Sebagai agen realitas dengan berusaha memberi pengertian kepada pihak tentang tujuan perundingan

7) Sebagai kambing hitam, mediator harus siap disalahkan apabila isi kesepakatan merugikan salah satu pihak saat dijalankan

d. Proses Mediasi

Proses mediasi dibagi menjadi tiga tahapan yaitu:65

64 Muhammad Asro’ dan Muhammad Kholid, Fiqih Perbankan, Op.cit, hlm.180-181. 65 Syahrizal Abbas, Mediasi: dalam Hukum Syariah, Hukum Adat dan Hukum Nasional, Op.cit, hlm. 36.

(28)

1) Tahap Pramediasi

Tahap pramediasi adalah tahap awal dimana mediator menyusun sejumlah langkah dan persiapan sebelum mediasi benar-benar dimulai.

2) Tahap Pelaksanaan Mediasi

Tahap ini merupakan tahap dimana pihak-pihak yang bertikai sudah berhadapan satu sama lain, dan memulai proses mediasi. Dalam tahap ini terdapat beberapa langkah penting antara lain sambutan pendahuluan mediator, presentasi dan pemaparan kisah para pihak, mengurutkan dan menjernihkan permasalahan, berdiskusi dan negosiasi masalah yang telah disepakati, menciptakan opsi-opsi, menemukan butir kesepakatan dan merumuskan kesepakatan, mencatat dan menuturkan kembali keputusan, dan penutupan mediasi.

3) Tahap Akhir Implementasi Hasil Mediasi

Tahap ini merupakan tahap dimana para pihak hanyalah menjalankan hasil-hasil kesepakatan yang telah mereka tuangkan bersama dalam suatu perjanjian tertulis.

Berakhirnya mediasi akan membawa konsekuensi bagi para pihak seperti:

a) Masing-masing pihak memiliki kebebasan setiap saat untuk menarik diri dari proses mediasi.

(29)

b) Jika mediasi berjalan dengan sukses, maka para pihak harus menandatangani suatu dokumen yang menguraikan beberapa persyaratan penyelesaian sengketa.

c) Jika mediasi tidak berhasil pada tahap pertama, para pihak mungkin setuju untuk menunda mediasi sementara waktu. Selanjutnya, jika ingin diteruskan sebaiknya dilakukan pada titik dimana pembicaraan sebelumnya ditunda.

e. Lembaga Mediasi pada Pengadilan

Pelembagaan ADR yang secara riil diintegritaskan dalam prosedur mediasi di pengadilan sudah merupakan keharusan. Untuk itu, Perma No.1 Tahun 2008 telah diintegrasikan pula ADR dalam mediasi di pengadilan dengan ketentuan berbunyi: “ Para pihak dengan bantuan mediator bersertifikat yang berhasil menyelesaikan sengketa di luar pengadilan dengan kesepakatan perdamaian daat mengajukan kesepakatan perdamaian tersebut ke pengadilan yang berwenang untuk memperoleh akta perdamaian dengan cara mengajukan gugatan.

Upaya perdamaian dilaksanakan di pengadilan yang mengadili perkara tersebut di tingkat pertama atau di tempat lain atas persetujuan para pihak. Jika para pihak menghendaki mediator, maka ketua pengadilan tingkat pertama yang bersangkutan menunjuk seorang hakim atau lebih untuk menjadi mediator. Mediator hakim, tidak boleh berasal dari majelis hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan

(30)

pada pengadilan tingkat pertama kecuali tidak ada hakim lain pada pengadilan tingkat pertama.

E. Otoritas Jasa Keuangan

OJK adalah lembaga baru yang didirikan berdasarkan Undang-Undang No. 21 Tahun 2011. Lembaga ini didirikan untuk melakukan pengawasan atas industri jasa keuangan secara terpadu.

Menurut ketentuan Pasal 2 ayat (2) UU OJK dikatakan bahwa OJK adalah lembaga yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan pihak lain kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini.

Pada dasarnya peraturan yang dituangkan dalam peraturan OJK hampir sama dengan peraturan yang ada dalam peraturan perbankan. Hanya saja OJK disini berperan sebagai lembaga yang mempunyai tugas dan wewenang dalam melakukan pengawasan terhadap industri jasa keuangan.

Figur

Tabel perbandingan teknik negosiasi lunak-keras   dan teknik negosiasi interest based

Tabel perbandingan

teknik negosiasi lunak-keras dan teknik negosiasi interest based p.20

Referensi

Memperbarui...