IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan bagian dari unit Instalasi tambak Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau yang termasuk dalam wilayah Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan
pada posisi 050.33’.11.1’’ - 050.33’.12.7’’ Lintang Selatan dan 1190.25’.16.7’’
1190.25’.19.4’’ Bujur Timur. Lokasi tersebut berjarak ± 65 km kearah Selatan dari
kota Makassar yang dapat ditempuh dengan kendaraan selama 1,5 jam perjalanan. Wilayah pertambakan ini memiliki luas lahan ± 11,68 ha dan sekitar 70 % dari lahan tersebut digunakan untuk petak-petak tambak sedangkan sisanya digunakan untuk fasilitas penunjang. Jumlah seluruh tambak sebanyak 16 petak dengan luas
berkisar 2.500 – 5.000 m2, yang sebagian besar berbentuk empat persegi panjang
dan beberapa petak yang trapesium. Letak lokasi tambak penelitian berada disekitar areal persawahan, pemukiman penduduk dan berbatasan langsung dengan tepi pantai. Topografi atau tinggi rendahnya lokasi tambak melandai kearah laut sehingga memungkinkan terjadinya sirkulasi air terlaksana dengan baik dan lancar. Sumber air asin berasal dari Selat Makassar yang disedot menggunakan pompa dan pipa berukuran 10 inchi sejauh ± 70 meter dan dialirkan ke petak-petak tambak melalui saluran air dengan pompanisasi sedangkan sumber air tawar diperoleh hanya berasal dari air hujan saat pemeliharaan udang berlangsung. Sistem irigasi tambak pada lokasi penelitian telah memenuhi persyaratan teknis karena dilengkapi dengan saluran pemasukan yang berada diatas pematang tambak dan saluran pembuangan sehingga memudahkan di dalam pengelolaan air.
4.2. Parameter Utama 4.2.1. Tekstur Tanah
Tekstur adalah salah satu sifat fisik tanah yang memberikan gambaran tentang ukuran partikel penyusun tubuh tanah yang dominan yang dinyatakan dalam perbandingan relatif antara proporsi ukuran dari fraksi atau partikel penyusun fase padat tanah dengan berat tanah yang dinyatakan dalam kelas tekstur tanah (Subroto 2003). Tekstur tanah sangat penting untuk diketahui
karena dapat memberikan informasi yang berhubungan dengan tingkat stabilitas tanah, tingkat pergerakan air tanah, tingkat difusi gas ke udara atau sebaliknya, tingkat aktivitas mikroorganisme maupun flora fauna tanah dan jumlah bahan organik (Hanafiah 2005).
Hasil pengukuran tekstur tanah pada tambak penelitian (Gambar.3), menunjukkan bahwa kedua tambak tersebut bertekstur lempung berpasir dengan fraksi sebagai berikut: tambak A terdiri atas pasir 58 %, liat 18 % dan debu 24 %, sedangkan tambak B terdiri atas pasir 62 %, liat 16 % dan debu 22 %.
Pasir 62% Liat 16% Debu 22% Liat 18% Debu 24% Pasir 58% Tambak A Tambak B Gambar 3. Persentase fraksi tekstur tanah pada tambak penelitian
Berdasarkan tekstur tanah pada wilayah penelitian menunjukkan bahwa tekstur tanah tersebut layak untuk dijadikan tambak udang intensif. Hal ini sesuai dengan pendapat Poernomo (1996) bahwa persyaratan tanah khususnya tekstur tanah menentukan kalayakan tanah tersebut untuk dijadikan tambak udang intensif. Daya dukung lahan untuk pertambakan tinggi bila tekstur tanahnya terdiri dari liat berpasir, lempung berpasir, lempung berdebu dan lempung liat berpasir. Selanjutnya Poernomo(1989), diacu dalam Bitner (1989) mengemukakan bahwa untuk budidaya udang intensif tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir dengan kandungan liat 0 – 20 %, debu 10 – 50 % dan pasir 50 – 70 %.
4.2.2. Bahan Organik
Hasil pengukuran kandungan bahan organik total tanah tambak berkisar antara 0,9062 – 2,9578 % dengan rata-rata 1,8340 %. Rata-rata kandungan bahan organik tanah tambak tersebut tergolong rendah sesuai dengan kriteria Hanafi (1986), meskipun secara umum cenderung terjadi peningkatan kandungan bahan organik sejalan dengan umur pemeliharaan udang (Gambar 4). Menurut Boyd (1992) bahan organik yang terakumulasi berupa sedimen akan semakin meningkat dengan bertambahnya umur pemeliharaan.
0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 0 2 4 6 8 10 12 14
Lama Pemeliharaan (Minggu ke-)
B a ha n O rga ni k Tota l (%) Tambak A Tambak B
Gambar 4. Kandungan bahan organik total (%) sedimen tambak udang vaname selama penelitian
Rendahnya kandungan bahan organik total pada tambak penelitian berhubungan dengan jenis tekstur tanah tambak dilokasi tersebut yang cenderung berpasir. Dimana pada sedimen tambak yang bertekstur kasar atau berpasir kandungan bahan organiknya lebih rendah karena partikel yang lebih halus tidak dapat mengendap. Hal ini sesuai dengan pendapat Wood (1987) bahwa terdapat hubungan antara kandungan bahan organik dan ukuran partikel sedimen. Pada sedimen yang halus, persentase bahan organik lebih tinggi dari pada sedimen yang kasar, hal ini berhubungan dengan kondisi lingkungan yang tenang sehingga memungkinkan pengendapan sedimen lumpur yang diikuti oleh akumulasi bahan organik ke dasar perairan, selain itu pada sedimen yang halus terjadi gaya tarik menarik elektrokimia antara partikel sedimen dengan partikel mineral, pengikatan
oleh partikel organik dan pengikatan oleh sekresi lendir organisme. Sedangkan pada sedimen yang kasar, kandungan bahan organiknya lebih rendah, karena partikel yang lebih halus tidak mengendap. Sementara Foth (1984), diacu dalam Meagaung (2000) mengemukakan bahwa terdapat kecenderungan suatu korelasi antara kandungan liat dan kandungan bahan organik tanah. Makin tinggi jumlah liat maka makin tinggi pula bahan organik dan kandungan N tanah. Lebih lanjut Meagaung (2000) berpendapat bahwa pada sedimen yang sedikit mengandung bahan organik akan berpeluang lebih besar untuk menampung dan menguraikan yang terakumulasi selama masa pemeliharaan jika dibandingkan dengan sedimen yang mengandung bahan organik tinggi.
Peterson dan Daniels (1992) melaporkan bahwa pada tambak yang baru dibuka diperoleh kandungan bahan organik yang rendah yaitu 1,26 %. Sedang menurut Monoarfa dan Hanafi (1998) pada tambak budidaya udang intensif bukaan baru mengandung 0,49 – 1,10 % bahan organik dan meningkat menjadi 4,77 – 13,24 % setelah beberapa kali siklus pemeliharaan. Boyd (1992) melaporkan bahwa pada tambak semi intensif dan intensif di Ecuador, Colombia, Thailand dan Philipina mengandung bahan organik total berkisar antara 0,24 - 9,50 % dengan rata-rata 1,86 %. Budiardi (1998) memperoleh kandungan bahan organik tanah dari 6 petak tambak penelitian meningkat dari 1,306 % menjadi 1,685 % dengan laju akumulasi berkisar antara 0,024 – 0,964 % dengan rata-rata 0,379 % selama 3 bulan pemeliharaan. Perbedaan kandungan bahan organik tanah ini sangat ditentukan oleh keberhasilan pengelolaan pakan dan lingkungan tambak serta kecepatan degradasi bahan organik.
Bahan organik akan terakumulasi menurut waktu yang kerapatannya antara lain dipengaruhi oleh faktor lingkungan perairan, pengelolaan serta kecepatan degradasi bahan organik (Budiardi 1998). Usaha perbaikan mutu lingkungan habitat udang yang disebabkan oleh akumulasi bahan organik dapat dilakukan secara fisik, kimia dan biologi. Secara fisik antara lain mempertahankan limbah tetap berada dalam kondisi tersuspensi (tidak tersedimentasi) dengan menggunakan kincir dan membuang limbah tersuspensi ke luar tambak dengan pergantian air harian (Harris 1996). Dengan sistem sifon yang menggunakan pompa, lumpur dibuang keluar tambak, sistem pembuangan tengah (central
drainage), sistem tandon dan pengangkatan /pengerukan lumpur bagian atas.
Selain itu digunakan pula sistem biologi melalui pemanfaatan berbagai bakteri komersial pengurai bahan organik tanah dan perbaikan kimia melalui pengapuran (Boyd 1992).
4.2.3. Potensial Redoks
Potensial redoks merupakan suatu besaran potensial listrik yang dapat menunjukkan proses dekomposisi bahan organik dalam sedimen berlangsung dalam keadaan reduksi atau oksidasi. Potensial redoks tanah selama penelitian berkisar antara -157 sampai +146 mV. Selama budidaya udang vannamei terjadi penurunan potensial redoks sejalan dengan lama waktu pemeliharaan (Gambar 5). Makin lama umur pemeliharaan, potensial redoks juga semakin rendah. Penurunan potensial redoks ke arah negatif mulai terlihat pada bulan ketiga pemeliharaan atau sekitar hari ke 70 pemeliharaan udang. Hal yang sama diperoleh Budiardi (1998) dan Meagaung (2000), yakni potensial redoks tanah menurun mulai hari ke-40 dan ke-60 umur pemeliharaan udang. Hal ini disebabkan karena penguraian bahan organik setelah penggenangan memerlukan banyak oksigen. Penguraian bahan organik sampai batas tertentu yaitu pada saat pasokan oksigen lebih kecil dari pada yang diperlukan, akan menciptakan kondisi yang reduktif. -200 -150 -100 -50 0 50 100 150 200 0 2 4 6 8 10 12 14
Lama Pemeliharaaan (Minggu ke-)
P o ten s ia l R e d o ks (m V ) Tambak A Tambak B
Hasil pengukuran potensial redoks pada bulan pertama dan kedua pemeliharaan udang cenderung positif atau oksidasi. Keadaan oksidasi ini mencerminkan bahwa reaksi kimia yang terjadi pada tanah mengalami pengurangan elektron akibat penambahan oksigen atau proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme dilakukan pada suasana aerob. Setelah memasuki bulan ketiga hingga akhir pemeliharaan udang potensial redoks tanah terlihat cenderung negatif atau kondisi reduktif. Keadaan reduksi ini mencerminkan bahwa reaksi kimia yang terjadi pada tanah mengalami penambahan elektron akibat pengurangan atau tanpa oksigen (anaerob). Hal ini sesuai dengan pendapat Abdunnur et al. (2004) bahwa proses dekomposisi bahan organik dapat terjadi baik dalam kondisi reduksi maupun oksidasi. Lebih lanjut Golterman (1990) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk melihat proses dekomposisi bahan-bahan organik dalam sedimen adalah dengan melihat zona reduksi atau oksidasi. Oksidasi adalah proses kehilangan elektron dari suatu persenyawaan kimia, dari substansi atau dari atom dan radikalnya, sedangkan reduksi adalah penambahan elektron pada persenyawaan kimia. Pada perairan yang belum tercemar dan cukup bahan organik, zona oksidasi relatif lebih tebal. Sedangkan pada perairan yang kurang oksigen, zona oksidasi ini hanya beberapa sentimeter saja dari permukaan sedimen dan selanjutnya zona reduksi.
Selama pemeliharaan udang bahan organik yang terakumulasi didasar tambak berupa sedimen akan semakin meningkat dengan bertambahnya umur pemeliharaan. Peristiwa tersebut diikuti dengan penurunan potensial redoks tanah dan penurunan oksigen terlarut. Penurunan oksigen ini disebabkan karena oksigen banyak dipakai untuk respirasi udang yang terus meningkat biomassanya, penguraian bahan organik serta untuk mengoksidasi bahan-bahan yang lain. Kandungan oksigen dalam sedimen berpengaruh besar terhadap nilai redoks potensial dan pH sedimen selain itu dapat pula dijadikan sebagai kontrol reaksi kimia ion-ion antar air dan sedimen. Banyaknya bahan organik, jumlah bakteri yang hidup dalam substrat dan kurangnya sirkulasi air menyebabkan kadar oksigen dalam substrat menurun. Keadaan ini dapat mengubah kondisi substrat kedalam lingkungan reduksi (Emiyarti 2004).
4.2.4. Nilai pH Tanah
Nilai pH dapat digunakan sebagai indikator kesuburan kimiawi tanah, karena dapat mencerminkan ketersediaan hara dalam tanah tersebut. Nilai pH tanah tambak penelitian berkisar antara 6,90 – 7,70. Menurut Boyd (1992), pH tanah mempengaruhi kecepatan penguraian bahan organik di dasar tambak. Potter (1976), diacu dalam Meagaung (2000) mengemukakan bahwa ditinjau dari ketersediaan hara, maka pH tanah dasar tambak yang baik adalah 6,5 – 8,0. Maswardi et al. (2003), nilai pH yang baik untuk budidaya di tambak berkisar antara 6 – 8. Budiardi (1998) memperoleh nilai pH tanah pada 8 petak tambak udang intensif di Karawang, Jawa Barat berkisar antara 5,2 – 7,0 dengan rata-rata 6,4. Sementara Meagaung (2000) memperoleh hasil pengukuran nilai pH tanah pada 50 petak tambak Intensif di Sulawesi Selatan berkisar antara 6,11 – 7,11 dengan rata-rata 6,68. Berdasarkan hal tersebut maka nilai pH tanah tambak penelitian cukup optimal dan layak untuk budidaya udang intensif.
Perubahan pH tanah dari awal sampai dengan akhir pemeliharaan udang relatif kecil dan cenderung menurun dengan bertambahnya umur pemeliharaan. (Gambar 6). Penurunan pH ini terjadi akibat adanya penguraian atau dekomposisi
bahan organik oleh mikroorganisme karena dalam prosesnya melepaskan CO2
yang dapat menurunkan konsentrasi oksigen dan pH tanah.
6,2 6,4 6,6 6,8 7 7,2 7,4 7,6 7,8 8 0 2 4 6 8 10 12 14
Lama Pemeliharaan (Minggu ke-)
N
ila
i pH
Tambak A Tambak B
Gambar 6. Perubahan Nilai pH sedimen tambak selama penelitian
Reaksi tanah merupakan faktor lingkungan yang sangat nyata berpengaruh terhadap peningkatan kandungan bahan organik total tanah dasar tambak udang intensif (Meagaung 2000). Reaksi tanah rendah akan meningkatkan kandungan
bahan organik total tanah. Hal ini disebabkan karena pH tanah berpengaruh secara langsung dengan aktivitas mikroorganisme tanah untuk melalkukan proses penguraian bahan organik tanah (Boyd 1992). Umumnya mikroorganisme tanah melakukan penguraian bahan organik secara optimal pada pH tanah 7,5 – 8,5. Bila pH tanah rendah maka aktivitas mikroorganisme tanah untuk melakukan penguraian bahan organik akan terhambat sehingga menyebabkan akumulasi bahan organik didasar tambak.
4.2.4. Total Bakteri Sedimen Tambak
Jumlah total populasi koloni bakteri yang didapatkan pada sedimen dasar
tambak dilokasi penelitian berkisar antara 2,02 x 105 hingga 2,37 x 109, dengan
rata-rata 5,68 x 107 koloni per gram tanah. Sementara jumlah total populasi koloni
bakteri yang didapatkan pada kolom air berkisar antara 1,0 x 105 hingga 7,06 x
107 koloni/mL, dengan rata-rata 4,99 x 106 koloni/mL. Menurut Pantjara et al.
(1997) mendapatkan populasi bakteri pada tanah gambut berkisar 4,7 x 102 - 2,0 x
108 CFU/g tanah kering. Mustafa (1997) menggunakan bakteri Pseudomonas
putida untuk menurunkan bahan organik dengan kepadatan 107 CFU/g tanah
untuk tanah mineral dan 106 CFU/g tanah untuk tanah gambut. Meagaung (2000)
mendapatkan jumlah total populasi koloni bakteri pada sedimen dasar di 50
tambak intensif di Sulawesi Selatan berkisar antara 2,3 x 105 hingga 1,5 x 108,
dengan rata-rata 2,6 x 107 CFU/ g tanah. Komposisi genus bakteri yang dominan
terdapat pada sedimen tambak udang intensif adalah Pseudomonas 33,1%,
Bacillus 29,69 %, Actynomyces 23,63 %, Enterobacteriaceae 12,44 % dan Vibrio
0,8 %. Moriaty (1986), diacu dalam Avnimelech dan Rivto (2003) mendapatkan jumlah bakteri pada sedimen tambak udang yang menggunakan pupuk kandang
(kotoran ayam) sebesar 4 x 1013 bakteri/m2, yang jumlahnya 2 – 3 kali jumlah
bakteri yang terdapat dalam kolom air. Bufford et al. (1998) melaporkan jumlah
bakteri sebanyak 15,5 x 109 sel/g tanah pada bagian tengah/pusat tambak udang
dimana kotoran/lumpur terakumulasi dan pada bagian tepi /periphery ditemukan
sebanyak 8,1 x 109 sel/g tanah. Dan dari penelitian ini ditemukan bahwa jumlah
bakteri meningkat dengan peningkatan konsentrasi nutrien dan dengan ukuran
0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 8,0 9,0 10,0 0 2 4 6 8 10 12 14
Lama Pemeliharaan (Minggu ke-)
Log Tot a l P opul a s i B a k te ri S e d im e n (c fu /g ) Tambak A Tambak B
Gambar 7. Total populasi bakteri (cfu/g) sedimen tambak udang vaname selama penelitian
Jumlah populasi bakteri lebih banyak ditemukan pada sedimen dasar tambak dibandingkan pada air tambak. Hal ini disebabkan karena terjadinya akumulasi bahan organik (sisa pakan, feses, organisme yang mati dan lain-lain) pada dasar tambak. Menurut Avnimelech dan Rivto (2003) bahwa Sedimen tambak kaya akan nutrien dan bahan organik. Konsentrasi nutrien disedimen tambak jauh lebih tinggi dari yang ada di badan air diperkirakan 1 cm ketebalan sedimen tambak umumnya terdapat 10 kali atau lebih jumlah nutrien yang ada pada 1 m kedalaman badan air. Bahan organik yang melimpah di sedimen tambak, menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme sangat pesat, sehingga konsumsi oksigen di sedimen tambak menjadi banyak dan dapat mengakibatkan daerah dasar tambak di bawah permukaan menjadi daerah anoksid (tidak beroksigen). Ram et al. (1982) mendapatkan kepadatan bakteri aerob dan anaerob pada sedimen dasar tambak 2 – 4 kali kepadatan bakteri dari kelompok yang sama dalam kolom air. Ginting (1995) mengemukakan bahwa jumlah bakteri Vibrio sp yang ditemukan pada sedimen tambak lebih besar dibandingkan yang terdapat pada kolom air.
4.2.5. Laju Sedimentasi
Pengukuran laju sedimentasi pada tambak intensif udang vaname bertujuan untuk mendapatkan data mengenai limbah sedimen yang berasal dari sisa pakan , hasil metabolisme udang vaname dan partikel lain yang mengendap di
dasar tambak menggunakan perangkap sedimen (sedimen trap). Hasil pengukuran laju sedimentasi pada tambak intesif udang vaname terlihat mengalami peningkatan seiring dengan waktu pemeliharaan udang (Gambar 8). Pada bulan pertama pemeliharaan laju sedimentasi rata-rata yang diperoleh sebesar 0,26
g/m2/hari, kemudian pada bulan kedua pemeliharaan meningkat menjadi 0,40
g/m2/hari, pada bulan ketiga pemeliharaan sebesar 1,86 g/m2/hari dan memasuki
bulan keempat atau periode akhir pemeliharaan mencapai 5,55 g/m2/hari.
Semakin lama waktu pemeliharaan, maka laju sedimentasi semakin cepat demikian pula jumlah sedimen yang terakumulasi di dasar tambak juga semakin besar. Menurut Boyd (1992), bahan organik yang terakumulasi berupa sedimen akan semakin meningkat dengan bertambahnya umur pemeliharaan. Pada akhir pemeliharaan diperoleh ketebalan bahan organik 6,4 – 8,5 cm. Cholik dan Poernomo (1988) mengemukakan bahwa seiring dengan pertumbuhan udang, maka jumlah pakan akan semakin bertambah sehingga sisa pakan hasil metabolisme udang juga akan bertambah. Beban bahan organik buangan yang harus dipikul oleh kolam budidaya udang semakin meningkat sehingga berimplikasi pada semakin tingginya tingkat penurunan kualitas media budidaya (Rosenbery 2006). Tanpa adanya penanganan khusus tentang hal ini akan berdampak pada penurunan hasil produksi akibat pertumbuhan yang lambat, peningkatan kerentanan terhadap penyakit dan menurunnya efisiensi konversi pakan (Brune et al. 2003).
0,26 0,40 1,86 5,55 0 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4
Lama Pemeliharaan (Bulan Ke-)
La ju s e di m e nt a s i ( g/ m 2/h a ri )
Rerata Tambak A Tambak B
Gambar 8. Laju sedimentasi (g/m2/hari) pada tambak udang vaname selama
Laju sedimentasi yag diperoleh pada penelitian ini lebih rendah dibanding dengan hasil yang dilaporkan oleh Fahrur dan Yulianingsih (2006) yang mendapatkan laju sedimentasi dalam tambak intensif udang vaname pada
kepadatan udang 54 ekor/m2 berkisar antara 117,26 – 299,24 g/m2/hari, kepadatan
58 ekor/m2 sebesar 115,74 – 358,63 g/m2/hari, dan pada kepadatan104 ekor/m2
didapatkan laju sedimentasi berkisar 130,20 – 452,29 g/m2/hari. Pada penelitian
ini, jumlah sedimen yang diperoleh hingga akhir pemeliharaan sekitar 245,53
g/m2/hari atau sebanyak 982,12 kg/petak /siklus pemeliharaan lebih rendah dari
beberapa penelitian sebelumnya. Clifford (1998) mengemukakan bahwa pada
tambak intensif dihasilkan sedimen organik sebesar 0,8 kg bahan kering/m2/hari.
Menurut Huisman (1987), dalam Harris (1993) menyatakan bahwa bila konversi pakan 1 : 1,5 ; maka setiap 1 kg pakan akan menghasilkan 514 gram padatan tersuspensi. Jika produksi udang tambak intensif sebesar 5 ton, maka pakan yang digunakan sebesar 7.500 kg, sehingga akan menghasilkan limbah organik dalam bentuk padatan tersuspensi sebesar 3.855 kg, yang selanjutnya akan terbuang ke perairan sekitarnya.
Hasil penelitian Bachtiar (1994) di TIR Karawang menunjukkan bahwa
pada tambak intensif, setiap siklus per hektar dari 4.188 kg pakan akan terbagi menjadi produksi udang 2.327 kg, dan 1.861 kg pakan yang tidak termanfaatkan dan sisa metabolisme. Selanjutnya pakan yang tidak dimanfaatkan dan sisa metabolisme tersebut akan mengendap di dasar tambak sebesar 18 % (1.327,61 kg) berbentuk padatan tersuspensi, serta sisanya sebesar 533,39 kg terbuang ke perairan sebagai beban limbah BOD dalam bentuk padatan terlarut. Lebih lanjut
Soewardi (2002), mengemukakan bahwa pada luasan tambak udang 5000 m2
dengan teknologi budidaya intensif (kepadatan udang 210.000 ekor/ha), total pakan 3,6 ton menghasilkan limbah TSS sebesar 1.230 kg selama pemeliharaan 120 hari.
Akumulasi sedimen ditambak udang telah dilaporkan dari beberapa penelitian sebelumnya. Lemonnier dan Brizard (2001) melaporkan adanya korelasi antara tingkat akumulasi sedimen dengan kepadatan akhir udang pada 13 petak tambak di New Caledonia. Rata-rata laju sedimentasi musiman sekitar 200 ton/ha dengan ketebalan lapisan atas/permukaan sedimen berkisar 0,25–0,3 g/mL,
dengan bagian dasar tambak yang tertutupi oleh sedimen yang baru terdeposit berkisar 5 – 36 % dari bagian tambak. Avnimelech dan Rivto (2001), melaporkan bahwa sekitar 40 % dari luasan tambak 1,2 ha di Thailand dan 30 % dari luasan 0,2 ha tambak di Carolina Selatan tertutupi oleh sedimen. Boyd (1995) menemukan bahwa sedimen yang terakumulasi dalam tambak udang di Thailand sebagian besar terdiri atas mineral tanah yang berasal dari longsoran dinding pematang. Sementara Smith (1996) menemukan 70 – 80 % dari sedimen yang terakumulasi didasar tambak merupakan campuran dari kuarsa, kaolinit dan mineral mika, 5-10 % besi, aluminium dan mineral silikon oksida, 5- 10 % bahan organik dan bahan –bahan yang mudah menguap serta mineral lainnya.
Akumulasi karbon (C), Nitrogen (N) dan Phosfor (P) yang merupakan bagian nutrien (nutrient budget) di dasar tambak ikan/udang telah dilaporkan oleh beberap peneliti sebelumnya. Kebanyakan bahan yang terakumulasi di dasar tambak /kolam ikan yang telah dipanen mengandung 75 % nitrogen, 80 phosfor dan 25 % karbon organik. (Avnimelech dan Rivto 2001). Lin dan Nash (1996) melakukan penelitian yang serupa , mengestimasi sekitar 26 % nitrogen dan 24 % phosfor dari pakan yang diberikan selama budidaya terakumulasi disedimen tambak udang intensif. Sementara Funge-Smith dan Briggs (1998) mendapatkan sedimen yang terakumulasi didasar mengandung 24 % nitrogen dari pakan dan 84 % phosfor. Paez-Osuna et al. (1999) memperkirakan sekitar 47,2 % input phosfor diakumulasi sedimen tambak udang. Martin et al. (1998) menemukan bahwa lebih dari 38 % dari total input nitrogen terakumulasi disedimen dasar tambak. Lebih lanjut Hopkins et al. (1994) melaporkan bahwa sumber akumulasi sedimen di dalam tambak udang berasal dari pakan yang tidak termakan, feses, plankton/diatom yang mati dan membusuk, erosi tanah tambak dan jasad renik merupakan bagian dari sedimen. Meagaung (2000) mengemukakan bahwa pakan buatan merupakan faktor pengelolaan yang sangat berpengaruh nyata terhadap peningkatan ketebalan lumpur pada dasar tambak tambak udang intensif. Lebih lanjut dikatakan bahwa pakan buatan sangat potensial menyebabkan akumulasi bahan organik pada tanah dasar tambak udang intensif, terlihat dari jenis rantai
karbon yang dimiliki pakan buatan (C9 - C29) mendekati jenis rantai karbon
Menurut Avnimelech (1995), selama pemeliharaan udang, nutrien dan residu bahan organik cenderung terakumulasi di dasar kolam/tambak dan akumulasi yang berlebihan ini akan mengakibatkan pembusukan didalam tambak. Luas area yang tertutupi oleh lumpur/sedimen yang merupakan ciri/tipe dari tambak di Thailand mencapai hampir sekitar 50 % dari luasan kolam yang berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan, aktivitas dan kesehatan udang. Dalam sistem budidaya Intensif, Delgado et al. (2001) melaporkan bahwa kelimpahan udang secara nyata menurun pada bagian tengah tambak yang banyak terakumulasi sedimen berpengaruh kurang baik terhadap petumbuhan dan kesehatan udang. Avnimelech dan Rivto (2003), melaporkan bahwa akumulasi sedimen di dalam tambak udang harus dikurangi karena dapat meningkatkan /memperkaya kandungan bahan organik, nitrogen dan fosfor. Bahan-bahan tersebut merupakan awal produk anaerobik yang beracun yang diduga berasal dari sedimen yang dapat menyebabkan stress pada udang, mengurangi vitalitas, resistensi dan kepekaan terhadap penyakit, penurunan nafsu makan, pertumbuhan lambat dan rendahnya sintasan udang (Lemonnier dan Brizard 2001).
4.2.6. Konsumsi Oksigen Sedimen
Kebutuhan oksigen terlarut merupakan faktor utama yang mempengaruhi proses dan kondisi di perbatasan antara air dan sedimen tambak. Kebutuhan oksigen pada sedimen merupakan indikator tingkat intensitas proses mineralisasi dan metabolisme komunitas bentik. Hasil pengukuran konsumsi oksigen sedimen
selama penelitian berkisar antara 1,15-19,35 mg O2/g B.Org/jam dengan rata-rata
7,17± 4,32 mg O2/g B.Org/jam yang setara dengan 3,4–48 mg O2/m2/jam dengan
rata-rata 23,5 ± 12,8 mg O2/m2/jam. Pengukuran konsumsi oksigen sedimen pada
tambak tersebut terlihat kecenderungan mengalami peningkatan seiring dengan waktu pemeliharaan udang (Gambar 9).
Pada bulan pertama konsumsi oksigen sedimen rata-rata yang diperoleh
sebesar 5,31 mg O2/g B.Org/jam, kemudian pada bulan kedua pemeliharaan
meningkat menjadi 5,69 mg O2/m2/jam, pada bulan ketiga pemeliharaan sebesar
5,96 mg O2/g B.Org/jam dan memasuki bulan keempat atau periode akhir
0 5 10 15 20 25 0 2 4 6 8 10 12 14
Lama Pemeliharaan (Minggu ke-)
K o ns um s i O k s ig e n S e d im e n (m g O 2/g B .O rg /ja m )
Rerata Tambak A Tambak B
Gambar 9. Konsumsi oksigen sedimen (mg O2/g B.Org/jam ) tambak udang
vaname selama penelitian
Menurut Madenjian (1990) bahwa penggunaan total oksigen dalam tambak udang windu didominasi oleh sedimen , air tambak dan udang masing-masing 51, 45 dan 4 %. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebutuhan oksigen
sedimen tambak udang yang diperoleh sebesar 298 mg O2 m-2. h-1. Suplee dan
Cotner (1996) mendapatkan bahwa peningkatan kebutuhan oksigen pada
sedimen tambak cukup tinggi dari 0,06 g O2/m2/jam pada minggu ke tiga
menjadi 0,24 g O2/m2/jam pada akhir pemeliharaan dengan kebutuhan oksigen
maksimum 0,33 g O2/m2/jam. Bufford dan Longmore (2001) mendapatkan
konsumsi oksigen sedimen di tambak udang berkisar antara 30 – 350 mg O2 m-2.
h-1. Menurut Ellis (1992) bahwa kebanyakan data kebutuhan oksigen pada
sedimen tambak yang telah dilaporkan berkisar antara 0,1 – 0,3 g O2/m2/jam
atau 2,4 – 4,8 g O2/m2/hari, yakni dengan membandingan kandungan oksigen
yang tersimpan dalam kolom air dengan kebutuhan oksigen oleh udang secara terus menerus. Kebutuhan oksigen sedimen terdiri atas lebih 50 % dari total kebutuhan oksigen tambak udang sampai akhir masa pemeliharaan. Almadi (2006) memperoleh konsumsi oksigen tanah dasar tambak tradiosional berkisar
antara 0,007 – 0,093 mg O2/cm2/jam pada bagian pelataran dan 0,003 – 0,115
mg O2/cm2/jam pada bagian caren. Adapun variabel yang mempengaruhi
konsumsi oksigen sedimen tersebut yakni kandungan pirit, bahan organik, potensial redoks, umur tambak dan nilai pH tanah.
Tingkat konsumsi oksigen sedimen tersebut merupakan petunjuk adanya kegiatan mikroorganisme di dalam substrat dan merupakan gambaran kebutuhan oksigen yang dapat diketahui melalui konsumsi atau proses menghabiskan oksigen terlarut didalam tambak atau badan air. Perbedaan konsumsi oksigen sedimen yang diperoleh dari beberapa penelitian diatas disebabkan karena perbedaan metode yang digunakan untuk pengkuran konsumsi oksigen sedimen dan kondisi lingkungan tempat pengukuran juga berbeda (kandungan bahan organik). Menurut Meijer dan Avnimelech (1999) bahwa kebutuhan oksigen pada sedimen dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa metode antara lain pipa sedimen (sediment cores), tabung-tabung insitu (in situ tubes), jar/bilik dasar (benthic chamber), perhitungan anggaran dalam tambak secara utuh (whole pond budget calculation) dan perhitungan berdasarkan profil oksigen pada lapisan perbatasan antara air dan sedimen (calculation based upon oxygen profile in the water sedimen interface).
4.3. Parameter Penunjang 4.3.1. Kualitas Air
Salah satu faktor yang berperan menentukan keberhasilah produksi udang budidaya adalah pengelolaan kualitas air. Pengukuran kualitas air selama pemeliharaan udang penting dilakukan untuk mengetahui gejala-gejala yang terjadi sebagai akibat perubahan salah satu parameter kualitas air. Dengan mengetahui gejala-gejala tersebut maka dapat diambil suatu tindakan untuk mengatasi perubahan-perubahan yang kurang baik terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang yang dipelihara. Hasil pengamatan terhadap beberapa peubah kualitas air yang meliputi suhu, kecerahan, kedalaman, padatan
tersuspensi, salinitas, pH, oksigen terlarut, amoniak, nitrit, nitrat, BOD5 dan Bahan
organik total selama penelitian di sajikan pada Tabel 4. Kisaran nilai fisika kimia media pemeliharaan yang diperoleh selama penelitian masih berada dalam kisaran yang dapat ditolerir oleh udang vaname untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhannya.
Tabel 4. Kisaran nilai fisika kimia media pemeliharaan selama penelitian
Nilai Fisika Kimia Air Parameter
Minimum Maksium Rerata (n=8)
Suhu (oC) Salinitas (ppt) pH Oksigen Terlarut (mg/L) Kecerahan (cm) Kedalaman air (cm) Amonia (mg/L) Nitrit (mg/L) Nitrat (mg/L) TSS (mg/L) BOT (mg/L) BOD5 (mg/L) 22,0 30 7,0 2,6 20 104 0,0098 0,0008 0,0065 24 4,93 2,25 29,6 42 8,8 6,9 100 170 0,9675 0,0456 0,6409 120 39,90 7,32 25,06 38,17 7,8 4,14 44,69 135,19 0,3214 0,0134 0,1425 73,833 27,215 4,6746
Hasil pengukuran suhu pada petak tambak penelitian berkisar antara 22,0 –
29,6 0C, dengan suhu rata-rata 25,06 0C, kisaran suhu tersebut masih berada
dalam batas yang layak bagi kehidupan udang vaname. Udang vaname hidup
pada toleransi suhu 16 – 36 0C dan optimal pada suhu 28–31 0C(Anonim 2003).
Menurut Suprapto (2005) bahwa temperatur optimal untuk budidaya udang
vaname berkisar 27–32 0C. Haliman dan Adijaya (2005) menambahkan bahwa
suhu optimal pertumbuhan udang vaname antara 26-32 0C. Jika suhu lebih dari
angka optimum maka metabolisme dalam tubuh udang akan berlangsung cepat sehingga kebutuhan oksigen terlarut meningkat. Temperatur optimal untuk udang
vaname berkisar antara 28–30 0C (Zweig et al. 1999). Menurut Boyd (1990)
bahwa temperatur yang umum untuk spesies daerah tropik yang memberikan
pertumbuhan optimal berkisar 29–30 0C, sedangkan suhu yang dapat
menyebabkan pertumbuhan rendah < 26–28 0C dan batas tingkat lethal < 10–15
0C. Temperatur juga sangat mempengaruhi pertumbuhan. Udang akan mati jika
berada pada suhu dibawah 15 0C atau diatas 330C dalam waktu 24 jam atau lebih.
Sub lethal stress terjadi pada 15–22 0C dan 30–33 0C. Temperatur optimum untuk
udang vaname adalah antara 23 – 30 0C (Wyban dan Sweeny 1991).
Hasil pengamatan salinitas air tambak udang vaname selama pemeliharaan (Tabel 4.) berkisaran antara 30- 42 ppt dengan rata-rata 38,17 ppt, kisaran salinitas yang diperoleh pada awal pemeliharaan berkisar 30–35 ppt dan terus meningkat
hingga akhir pemeliharaan berkisar 37– 42 ppt. Hal ini selain disebabkan karena lokasi penelitian berdekatan dengan pantai/laut sebagai sumber air asin dan tidak ada percampuran air dari sumber air tawar , juga karena masa pemeliharaan dilakukan pada saat peralihan dari musim hujan ke musim kemarau sehingga meningkatkan penguapan. Walaupun demikian kadar salinitas tersbut masih dapat ditoleransi oleh udang vaname karena bersifat euryhaline (Haliman dan Adijaya 2005), sehingga dapat dipelihara didaerah pantai dengan kisaran salinitas 1–40 ppt (Bray et al. 1994). Menurut Mc Grow dan Scarpa (2002) bahwa udang vaname dapat hidup pada kisaran yang lebar dari 0,5–45 ppt. Soemardjati dan Suriawan (2007), mengemukakan bahwa udang vaname dapat tumbuh baik/optimal pada kisaran kadar garam 15–25 ppt, bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada salinitas 5 ppt masih layak untuk pertumbuhannya.
Kisaran nilai pH air yang diperoleh selama penelitian berkisar 7,0–8,8. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa pH air media budidaya udang tersebut cukup optimal. Dimana standar pH untuk budidaya vaname yaitu 7,5–8,5 (Anonim 2003). Menurut Suprapto (2005) bahwa kondisi pH air yang optimal untuk budidaya vannamei berkisar 7,3–8,5 dengan torelansi 6,5–9. Wyban dan Sweeny (1991) mengemukakan bahwa kisaran pH air yang cocok untuk budidaya udang vaname secara intesif sebesar 7,4–8,9 dengan nilai optimum 8,0. Nilai pH air tambak bagi pertumbuhan udang berkisar antara 7,5–8,7 dengan batas optimum antara 8,0– 8,5 (Poernomo 1989).
Kandungan oksigen terlarut yang diamati selama penelitian berkisar 2,6 – 6,9 mg/L dengan rata-rata 4,14 mg/L. Kadar oksigen terlarut (DO) dalam air merupakan faktor kritis bagi kesehatan ikan/udang. Clifford (1998) melaporkan bahwa level DO minimum untuk kesehatan udang 3,0 mg/L dan DO yang potensial menyebabkan kematian adalah < 2,0 mg/L Sedangkan Suprapto (2005) berpendapat bahwa nilai DO optimal untuk budidaya vannamei > 3 mg/L dengan tolerasi 2 mg/L. Dari data yang diperoleh selama pemeliharaan menunjukkan konsentrasi oksigen terlarut yang semakin menurun pada akhir penelitian. Hal ini diduga disebabkan karena biomassa udang vaname semakin tinggi sehingga lebih banyak membutuhkan oksigen. Selain itu salinitas yang semakin tinggi akan memacu laju metabolisme di dalam tubuh udang untuk proses osmoregulasi
sehingga disatu sisi udang lebih banyak membutuhkan oksigen, disisi lain konsentrasi oksigen di dalam air semakin menurun karena difusi oksigen dari udara terhambat hingga menyebabkan kelarutan oksigen semakin berkurang.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 0 2 4 6 8 10 12 14
Lama Pemeliharaan (Minggu ke-)
Ok s ig e n Te rl a rut ( m g/ L) Tambak A Tambak B
Gambar 10. Pola dinamika oksigen terlarut (mg/L) pada media budidaya udang vaname selama penelitian.
Hasil pengamatan kecerahan air selama pemeliharaan berkisar 20-100 cm dengan rata-rata 44,69 cm. Pada awal pemeliharaan kecerahan air tambak cukup tinggi dan semakin menurun hingga akhir pemeliharaan. Tingginya nilai kecerahan pada awal pemeliharaan diduga disebabkan oleh intensitas cahaya matahari yang cukup baik masuk kedalam air, kurangnya padatan tersuspensi, dan warna air yang terlihat agak jernih, kemudian nilai kecerahan mulai turun hingga 20 cm pada pertengahan bulan 3 sampai panen disebabkan karena makin meningkatnya suspensi organik dari kotoran udang dan sisa makanan, menumpuknya sel plankton yang sudah tua dan mati ditambah lagi gerakan udang yang makin aktif karena semakin besar dengan padat tebar yang tinggi. Menurut Adiwijaya et al. (2003) bahwa kecerahan air yang baik pada petak pembesaran udang vannamei berkisar antara 40–60 cm, sedangkan Anonim (2003) mengemukakan bahwa kecerahan/ transparansi untuk budidaya udang vannamei berkisar 30–60 cm. Kecerahan optimal untuk budidaya udang vannamei berkisar 30–40 cm (Suprapto 2005). Nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan, padatan tersuspensi serta ketelitian dalam melakukan pengukuran (Effendi 2000).
Hasil pengamatan tinggi air tambak udang vaname selama pemeliharaan berkisaran antara 104-170 cm dengan rata-rata 135,19 cm, kisaran tinggi air yang diperoleh pada awal pemeliharaan berkisar 104–115 cm dan terus meningkat hingga akhir pemeliharaan. Hal ini selain disebabkan karena adanya penambahan air pada awal pemeliharaan dan pergantian air pada akhir – akhir pemeliharaan udang. Menurut Suprapto (2005), Bila kondisi tambak sudah siap, segera tambak diisi air sampai penuh (120 cm), jangan dilakukan secara bertahap untuk mencegah tumbuhnya klekap. Lebih lanjut dikatakan bahwa selama 2 bulan pertama tidak dilakukan pergantian air, tetapi penambahan air untuk menjaga kedalaman air dalam tambak tetap dilakukan. Setelah udang mencapai umur lebih dari 2 bulan maka pergantian air dilakukan sedikit demi sedikit.
Hasil pengukuran kadar amonia diperoleh selama pemeliharaan udang vaname berkisar antara 0,0098–0,9675 mg/L dengan rata-rata 0,3214,69 mg/L. Kisaran nilai amonia tersebut cukup tinggi namun masih berada dalam batas toleransi bagi kehidupan udang vaname di tambak karena ditunjang oleh nilai pH dan oksigen yang berada pada batas optimal. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Buwono (1993) yang menyatakan bahwa kadar amonia yang tinggi akan bersifat racun apabila pH air tinggi. Total amonia yang baik bagi kehidupan udang dewasa adalah kurang dari 3 mg/L dan bagi kehidupan benur kurang dari 1 mg/L Bila proses pembusukan tidak berlangsung lancar, maka terjadi penumpukan sampai konsentrasi yang membahayakan udang.
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 0 2 4 6 8 10 12 14
Lam a Pem eliharaan (Minggu ke-)
A m on ia k ( m g/ L) Tambak A Tambak B
Gambar 11. Pola dinamika amoniak (mg/L) pada media budidaya udang vaname selama penelitian.
Daya racun amonia akan meningkat bila konsentrasi oksigen terlalu rendah, sebaliknya bila kandungan oksigen tinggi akan menyebabkan kandungan
amonia menjadi rendah karena dioksidasi menjadi NH4yang dapat dimanfaatkan
oleh fitoplankton dalam proses fotosintesis (Widigdo dan Soewardi 1999). Soetomo (2002), menyatakan bahwa jumlah amonia ditambak akan bertambah sejalan dengan aktifitas proses perombakan dan meningkatnya suhu air. Menurut Samocha dan Lawrence (1993) bahwa kandungan amonia untuk juvenil udang vaname berkisar antara 0,4–2,31 mg/L. Lin dan Chen (2001) melaporkan bahwa
nilai LC50 amonia untuk juvenil udang vaname pada perendaman 24, 48, 72 dan
96 jam , salinitas 35 ppt yakni 2,78; 2,18; 1,82 dan 1,60 mg/L. Suprapto (2005) mengemukakan bahwa kadar amonia yang masih dapat ditoleransi oleh udang vaname berkisar 0,1 – 0,5 mg/L.
Hasil pengukuran kandungan nitrit yang diperoleh selama penelitian berkisar 0,0008-0,0456 mg/L, dengan rata-rata 0,0134 mg/L. Kadar nitrit yang diperoleh ini masih dalam batas toleransi untuk kehidupan dan pertumbuhan udang. Nitrit biasanya ditemukan dalam jumlah yang sedikit pada perairan alami. Konsentrasi lebih kecil daripada nitrat karena nitrit bersifat stabil jika terdapat oksigen. Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat melalui proses nitrifikasi, serta antara nitrat dan gas hidrogen melalui proses dinitrifikasi.
0,000 0,005 0,010 0,015 0,020 0,025 0,030 0,035 0,040 0,045 0,050 0 2 4 6 8 10 12 14
Lam a Pem eliharaan (Minggu ke-)
N itr it (m g /L ) Tambak A Tambak B
Gambar 12. Pola dinamika nitrit (mg/L) pada media budidaya udang vaname selama penelitian.
Kisaran optimal nitrit untuk budidaya vaname yakni 0,01–0,05 mg/L (Adiwijaya et al. (2003) ; Soemardjati dan Suriawan (2007). Menurut Suprapto (2005), kandungan nitrit yang dapat di toleransi oleh udang vaname berkisar 0,1–1 mg/L. Haliman dan Adijaya (2005), kandungan nitrit yang baik untuk kehidupan udang vaname adalah ≤ 0,1 mg/L. Clifford (1994) mengemukakan bahwa kandungan nitrit yang optimal untuk budidaya udang vaname < 1,0 mg/L.
Kandungan nitrat yang diperoleh selama penelitian berkisar 0,0065- 0,6409 mg/L, dengan rata-rata 0,1425 mg/L. Kadar nitrat yang diperoleh cukup layak dan sangat diperlukan karena merupakan bentuk nitrogen yang dapat dimanfaatkan oleh plankton dalam pertumbuhannya. Menurut Effendi, (2000), Nitrat adalah bentuk nitrogen utama diperairan alami dan sangat diperlukan oleh pertumbuhan akuatik (algae), sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Kandungan nitrat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan algae di perairan adalah 0,2–0,9 mg/L dan optimal pada kisaran 0,1–4,5 mg/L. Sementara Clifford (1994) mengemukakan bahwa konsentrasi nitrat yang optimal untuk udang vaname berkisar 0,4–0,8 mg/L.
Hasil pengamatan kandungan padatan tersuspensi total (Total Suspended
Solid/ TSS) yang didapatkan berkisar 24-120 mg/L, dengan rata-rata 73,833
mg/L. Nilai TSS yang diperoleh ini pengaruhnya masih sedikit terhadap kepentingan perikanan (Effendie 2000). Lebih lanjut dikatakan bahwa bahan-bahan yang tersuspensi dalam perairan terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik. Penyebab nilai TSS yang utama adalah kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. Bahan tersuspensi tidak beracun tetapi dapat meningkatkan nilai kekeruhan yang selanjutnya menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolom air dan akhirnya berpengaruh pada proses fotosintesis dalam perairan. Nilai TSS yang diperoleh dalam penelitian ini masih lebih rendah dari hasil penelitian Rachmansyah et al. (2006) yang mendapatkan kadar TSS air tambak udang vaname berkisar 249,28±137,47 – 254,89±143,55 mg/L dan saluran pemasukan 128,11 ± 24,82. Hal ini menunjukkan bahwa selama proses budidaya dihasilkan material organik yang terakumulasi di dalam tambak dan menciri pada meningkatnya nilai TSS air tambak. Peningkatan nilai TSS dalam tambak dapat disebabkan oleh operasional kincir yang berlebih dan hembusan angin yang
kencang dapat mempengaruhi pengikisan dan pelarutan tanah pematang tambak serta pengadukan dan pelarutan bahan organik dari dasar tambak sehingga dapat meningkatkan kekeruhan dan siltasi. Menurut Soemardjati dan Suriawan (2007) bahwa nilai TSS air sumber untuk budidaya udang vaname berkisar 25–500 mg/L.
0 25 50 75 100 125 150 175 200 0 2 4 6 8 10 12 14
Lama Pemeliharaan (Minggu ke-)
P a da ta n T e rs us pe ns i T ot a l ( m g/ L) Tambak A Tambak B
Gambar 13. Pola dinamika padatan tersuspensi total (mg/L) pada media budidaya udang vaname selama penelitian.
Menurut Abel (1989), nilai BOD merupakan ukuran yang digunakan sebagai kandungan bahan organik diperairan dengan asumsi bahwa oksigen dikonsumsi oleh mikroorganisme selama masa penguraian bahan organik. Keberadaan BOD akan mempengaruhi ketersediaan oksigen terlarut dalam perairan karena proses oksidasi limbah organik, oksigen terlarut yang tersedia
akan cepat dikonsumsi untuk proses metabolisme bakteri. Nilai BOD5 perairan
tambak yang diperoleh selama penelitian berkisar 2,25–7,32 mg/L, dengan nilai
rata-rata 4,6746 mg/L. Nilai BOD5 yang diperoleh ini masih dalam batas toleransi
kehidupan udang vaname. Ginting (1995) mendapatkan nilai BOD5 selama
pemeliharaan udang windu berkisar 1,4–6,8 mg/L dengan rata-rata 4,25 mg/L.
Lebih lanjut dikatakan bahwa batas kisaran nilai BOD5 bagi kehidupan udang
adalah sekitar 12,5 mg/L. Lee et al. (1978), diacu dalam Sudibyaningsih (1983)
menggolongkan tingkat kualitas air berdasarkan nilai BOD5 yakni kisaran
konsentrasi BOD5 < 2,9 mg/L tergolong kriteria kualitas air tidak tercemar,
kisaran 3,0 – 4,9 mg/L tergolong tercemar ringan, kisaran 5,0–14,9 mg/L tergolong tercemar sedang dan konsentrasi > 15,0 mg/L tergolong tercemar berat.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 0 2 4 6 8 10 12 14
Lama Pemeliharaan (Minggu ke- )
BO D5 ( m g/ L) Tambak A Tambak B
Gambar 14. Pola dinamika BOD5 (mg/L) pada media budidaya udang vaname
selama penelitian.
Kisaran nilai Bahan Organik Total (BOT) yang diperoleh selama penelitian berkisar 4,93 – 39,90 mg/L, dengan rata-rata 27,215 mg/L. Nilai BOT yang diperoleh ini lebih tinggi dari penelitian Ginting (1995) yang mendapatkan kadar BOT air tambak udang windu berkisar 3,16 – 13,26 mg/L dengan rata-rata
5,68 mg/L pada kepadatan udang 15 ekor/m2. sementara nilai BOT air tambak
udang windu yang didapatkan oleh Budiardi (1998) di tambak Karawang berkisar 6,52 – 29,9 mg/L dengan rata-rata 22,47 mg/L dengan padat tebar benur 34 – 35
ekor/m2. Selanjutnya Budiardi (2007) mendapatkan kadar BOT rata-rata air
tambak udang vaname untuk masa awal pemeliharaan, masa transisi dan masa akhir pemeliharaan masing-masing sebesar 50,97 mg/L; 104,58 mg/L dan 198,67
mg/L dengan padat tebar benur 85 ± 15 ekor/m2. Hal ini mengindikasikan bahwa
semakin tinggi padat penebaran benur, maka sejumlah input produksi yang dimasukkan ke tambak juga semakin tinggi yang berdampak pada akumulasi bahan organik dalam tambak yang seiring dengan semakin lamanya pemeliharaan. Menurut Boyd (1990), kandungan bahan organik terlarut suatu perairan normal adalah maksimum 15 mg/L, apabila kandungan bahan organik terlarut tinggi maka dapat menurunkan kandungan oksigen terlarut dalam air sehingga menurunkan daya tahan udang. Sedangkan menurut Adiwijaya et al. (2003) bahwa kisaran optimal bahan organik pada budidaya udang vaname < 55 mg/L. Meagaung (2000) menyatakan bahwa proses penguraian bahan organik yang terlarut dalam air dapat menghabiskan oksigen dalam air. Kondisi ini akan
menghasilkan senyawa tereduksi seperti CH4, H2S, NH3 dan senyawa tereduksi
lainnya. Proses penguraian ini akan berjalan lancar dengan ketersediaan oksigen terlarut yang cukup.
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 0 2 4 6 8 10 12 14
Lama Pemeliharaan (Minggu ke-)
B a h a n O rga n ik Tot a l (m g/ L) Tambak A Tambak B
Gambar 15. Pola dinamika bahan organik total (mg/L) pada media budidaya udang vaname selama penelitian.
4.3.2. Produksi
Produksi udang merupakan biomassa udang pada saat panen. Beberapa parameter yang mendukung produksi adalah ukuran atau bobot rata-rata, laju pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup serta rasio konversi pakan.
Hasil pengamatan pertumbuhan udang vaname selama 100 hari pemeliharaan (Gambar 16.), tampak bahwa pertumbuhan berat rata-rata udang vaname pada kedua petak tambak selama penelitian semakin meningkat seiring dengan lama waktu pemeliharaan. Pada 2 minggu pertama hingga minggu ke 8 pemeliharaan, laju pertumbuhan udang relatif cepat. namun setelah mencapai minggu ke 10 (70 hari) laju pertumbuhannya mulai melambat hingga akhir penelitian (100 hari). Pertumbuhan udang vaname yang diperoleh diperoleh pada penelitian ini berkisar 14,21–14,29 g/ekor dengan rata-rata 14,25 ± 0,056 g/ekor. lebih tinggi dari hasil penelitian Suwoyo et al. (2005) yang mendapatkan pertumbuhan berat udang vaname selama 100 hari pemeliharaan dengan
penelitian Adiwijaya et al. (2003) memperoleh berat rata-rata udang vannamei sebesar 16,67 (size 60) yang dipelihara selama 120 hari dengan padat tebar benih
50 ekor/m2. 0 2 4 6 8 10 12 14 16 B e ra t U d a n g (g ) 0 14 28 42 56 70 84 98
Umur Udang (hari)
Gambar 16. Pertumbuhan udang vaname (L vannamei) selama penelitian Pertumbuhan udang vanme pada penelitian ini hasilnya masih lebih rendah bila dibandingkan dengan beberapa hasil kajian budidaya udang vannamei sebelumnya. Anonim (2003) mendapatkan berat rata-rata udang vannamei sebesar 20 g/ekor dengan laju pertumbuhan 0,18 g/hari yang dipelihara dengan padat tebar
90 ekor/m2 dan lama pemeliharaan 110-130 hari. Poernomo (2004) melaporkan
bahwa dengan teknologi probiotik pada budidaya udang vannamei dengan padat
penebaran 216; 212 dan 244 ekor/m2 yang dipelihara selama 150 hari , diperoleh
berat rata-rata udang saat panen dapat mencapai 18,18 ; 18,55 dan 19,61 g/ekor. Suprapto (2005) melaporkan bahwa udang vaname yang dipelihara dengan padat
tebar 125–150 ekor/m2 pada umur 100 hari beratnya sebesar 14,8 g/ekor dan
masih dapat bertumbuh hingga mencapai 20 g/ekor pada umur 130 hari. Haliman dan Adijaya (2005) menambahkan bahwa udang vannamei dapat dipanen setelah berumur sekitar 120 hari (DOC 120, DOC = day of culture) dengan berat tubuh berkisar 16–20 g/ekor.
Laju pertumbuhan berat harian spesifik yang diperoleh pada penelitian ini (Tabel 5). berada pada kisaran 7,95-7,96 %. Laju pertumbuhan berat harian spesifik udang vaname yang diperoleh dalam penelitian ini lebih tinggi dari
penelitian Suwoyo dan Hendrajat (2006), yang memperoleh laju pertumbuhan harian udang vaname yang dipelihara pada substrat berbeda yakni pasir pantai, tanah sawah dan tanah tambak masing-masing 4,76 ; 3,84 dan 5,35 %/ hari. Tahe (2008) memperoleh laju pertumbuhan berat spesifik udang vaname dengan perlakuan pengurangan ransum pakan sebesar 5,17-5,26 %. Namun hasil penelitian ini lebih rendah dari penelitian Hendrajat dan Mangampa (2007) yang mendapatkan laju pertumbuhan harian udang vaname pola tradisional plus dengan kepadatan 4 , 6 dan 8 masing-masing 9,23; 9,19 dan 9,05 %/hari. Rachmansyah
et al. (2006) memperoleh laju pertumbuhan harian udang vaname berkisar 9,48 –
9,52 %/hari selama 100 hari pemeliharaan. Arifin et al. (2007) memperoleh laju pertumbuhan harian udang vaname pola sederhana selama 60 hari pemeliharaan sebesar 14,01%. Perbedaan laju pertumbuhan yang diperoleh ini disebabkan perbedaan ukuran awal dan kepadatan udang yang tebar, lama pemeliharaan serta wadah budidaya yang digunakan.
Tabel 5. Pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, produksi dan rasio konversi pakan udang vaname selama 100 hari pemeliharaan.
Variabel Nilai parameter produksi
Kepadatan (ekor/m2)
Lama pemeliharaan (hari) Berat awal (g/ekor) Berat akhir (g/ekor)
Laju pertumbuhan spesifik (%) Tingkat kelangsungan hidup(%) Produksi (kg/petak)
Produktivitas (kg/ha) Rasio konversi pakan
50 100 0,005 14,21 – 14,29 7,95 - 7,96 83,6 – 89,5 2.308 – 2.319 5.890 – 5.979 1,35 – 1,44
Data berat rata-rata yang diperoleh terhadap waktu pemeliharan (hari ke-1 sampai dengan ke-98) (Gambar 17.), memperlihatkan adanya kecenderungan membentuk persamaan linear (Lampiran 9). Hubungan linear yang ditunjukkan oleh berat ratarata (Y, gram) terhadap waktu ( X, hari ; 1 < X < 98) adalah Y =
-1,67 + 0,157 X dengan nilai R2 = 0,972 ; adjusted R2 = 0,970, P < 0.01) yang berarti bahwa variasi yang terjadi terhadap besar kecilnya berat udang, 97,20 % dapat diterangkan oleh karena adanya pertambahan/perubahan umur dan sisanya
sebesar 2,80,4 % diterangkan oleh faktor lain. Sedangkan nilai R2 adjusted =
0,970 , berarti bahwa nilai R2 yang disesuaikan sehingga gambarannya mendekati
mutu penjenjangan model dalam populasi bernilai 0,970. Persamaan tersebut dibentuk dengan tingkat kepercayaan yang tinggi (P < 0,01) sehingga dapat digunakan untuk memprediksi berat rata-rata dari hari ke-1 sampai dengan hari ke-98 pemeliharaan udang vaname.
Umur (ha ri)
Be ra t u d a n g ( g ) 100 80 60 40 20 0 15,0 12,5 10,0 7,5 5,0 2,5 0,0 S 0,906887 R-S q 97,2% R-S q (ad j) 97,0%
Fitted L ine P lot
Berat udang (g) = - 1,673 + 0,1568 Um ur (hari)
Gambar 17. Hubungan antara berat rata-rata udang vaname (g) dengan umur/waktu pengamatan (hari).
Sintasan dan produktivitas udang vaname yang diperoleh dalam penelitian ini (Tabel 5.) berkisar 83,6–89,5 % dan 5.890–5.979 kg/ha tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilaporkan Sugama (2002) bahwa beberapa petambak sangat berhasil membudidayakan udang vannamei dengan produksi berkisar antara 6–12 ton/ha, kelangsungan hidup 65–85 %, konversi pakan 1,0–1,2 dengan lama pemeliharaan 100–110 hari, serta ukuran panen udang antara 12,5–17,0 g/ekor (size 60–80). Bratvold dan Browdy (2001) dengan perlakuan substrat yang berbeda yakni tanpa sedimen, pasir dan aqua mats selama 104 hari pemeliharaan
dengan padat tebar 130 ekor/ m2 memperoleh sintasan udang vannamei dengan
kisaran 65,4–80,8 %. Salame dan Salame (2002), diacu dalam Sugama (2002) melaporkan hasil budidaya udang vannamei pada salinitas rendah di Ecuador
dengan padat tebar 75–120 ekor/m2, lama pemeliharaan 100 hari diperoleh hasil
vaname di Texas dengan kepadatan 50–75 ekor/m2, lama pemeliharan 100 hari mendapatkan produktivitas sebesar 3,36–5,04 ton/ha. Widiasa (2005) melaporkan hasil budidaya udang vannamei di Kabupaten Barru dengan padat tebar 57
ekor/m2 , lama pemeliharaan 100–105 hari , diperoleh ukuran panen udang 17,5–
19,2 g/ekor dengan sintasan 81–87 % dan produksi mencapai 2,9–3,2 ton/3.500
m2. Suwoyo et al. (2005) memperoleh sintasan sebesar 67,42–81,38 % dan
produktivitas tambak udang vaname 4.594,4 - 5.550,4 kg/ha, pada kepadatan 50
ekor/m2 selama 100 hari pemeliharaan.
Nilai rasio konversi pakan yang diperoleh pada penelitian ini (1,35-1,44) tidak jauh berbeda dengan beberapa kajian budidaya udang vaname sebelumnya. Anonim (2003) mendapatkan FCR 1,3 untuk budidaya udang vaname dengan
kepadatan 90 ekor/m2, sintasan 70 - 90 %, dan berat udang rata-rata saat panen 20
g/ekor dengan lama pemeliharaan 110 hari. Trenggono (2003) mendapatkan FCR udang vannamei sebesar 1,4 yang dipelihara di tambak dengan kepadatan 90 eko/
m2 dengan lama pemeliharaan 110 hari Haliman dan Adijaya (2005) melaporkan
budidaya udang vaname di Sitobondo, Jawa Timur dengan padat tebar 150
ekor/m2, sintasan 85 %, berat akhir 14,28 g/ekor, menghasilkan udang sebanyak
5.465 kg/3000m2 dengan FCR 1,5. Suwoyo et al. (2005) mendapatkan FCR
udang vaname dengan perlakuan jumlah kincir berbeda sebesar 1,80–2,17 yang
dipelihara di tambak dengan kepadatan 50 eko/m2 dengan lama pemeliharaan 100
hari Menurut Sutanto (2005) bahwa untuk meningkatkan efisiensi dalam budidaya udang vaname salah satu hal yang perlu dilakukan yakni menggunakan pakan yang berkualitas baik dan berprotein rendah (30 % protein) sehingga bisa mengurangi pencemaran/lebih ramah lingkungan, pengelolaan air lebih mudah, pertumbuhan lebih baik, FCR lebih rendah sehingga biaya pakan menjadi lebih rendah. Huet (1971) menyatakan bahwa konversi makanan dipengaruhi oleh sintasan, kepadatan, bobot individu, perbedaan persentase makanan harian, waktu dan lokasi penelitian serta pertumbuhan biomassa udang. Semakin rendah nilai konversi makanan semakin baik karena sedikit jumlah makanan yang dimanfaatkan untuk meningkatkan bobot udang.
4.4. Analisis Regresi dan Korelasi
Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan korelasi antara variabel (intercorellation) yakni variabel-variabel yang dikorelasikan lebih dari 2 variabel sehingga terdapat beberapa pasang korelasi. Namun demikian variabel-variabel yang dikorelasikan yakni antara variabel dependen (terikat) dengan beberapa variabel independen (bebas) dan antar variabel independen itu sendiri harus secara teoritis mempunyai hubungan sehingga ada hipotesis yang dibangun dan kemudian ingin dibuktikan kebenarannya (Sulaiman 2004).
4.4.1. Hubungan konsumsi oksigen sedimen dengan beberapa parameter kualitas sedimen.
Faktor-faktor yang terpilih masuk dalam model konsumsi oksigen sedimen sebanyak 5 variabel (Lampiran 2). Terdapat 4 pasang variabel yang memiliki hubungan erat dengan konsumsi oksigen sedimen yang dapat dilihat pada matriks korelasi (Lampiran 7.) yakni antara konsumsi oksigen sedimen dengan potensial redoks (- 0,917), antara konsumsi oksigen sedimen dengan umur atau masa pemeliharaan ( 0,832), antara konsumsi oksigen sedimen dengan pH (- 0,744) dan antara konsumsi oksigen sedimen dengan total bakteri (0,632). Sementara korelasi antara variabel bebas terdapat 7 pasang peubah yang memiliki hubungan erat yakni nampak antara bahan organik tanah dengan potensial redoks (-0,585), antara total bakteri dengan potensial redoks (-0,541), antara total bakteri dengan pH (0,525), antara total bakteri dengan umur pemeliharaan (0,575), antara potensial redoks dengan pH (0,827), antara potensial redoks dengan umur (-0,932) dan antara pH dan umur (0,883).
Hubungan antara konsumsi oksigen sedimen dengan masing-masing variabel disajikan dalam Gambar 18. Jika dibandingkan antara semua variabel dengan konsumsi oksigen sedimen dari persamaan hubungan yang terbentuk dengan nilai koefisien regresinya, hubungan konsumsi oksigen sedimen dengan variabel potensial redoks menunjukkan nilai korelasi dan koefisien regresi yang
lebih tinggi dibanding dengan variabel lainnya, dengan nilai r = - 0,914 dan R2 =
0,836. Nilai r = - 0,914 tersebut berarti bahwa adanya tingkat hubungan yang tinggi (91,40 %) antara konsumsi oksigen sedimen dengan potensial redoks. Nilai
oksigen sedimen 83,60 % dapat diterangkan oleh karena adanya perubahan besar kecilnya nilai potensial redoks dan sisanya sebesar 16,4 % diterangkan oleh faktor
lain. Sedangkan nilai R2 adjusted = 0,824, berarti bahwa nilai R2 yang
disesuaikan sehingga gambarannya mendekati mutu penjenjangan model dalam populasi bernilai 0,824.
Tabel 6. Persamaan regresi hubungan konsumsi oksigen sedimen dengan variabel bahan organik, total bakteri, potensial redok, pH dan umur pemeliharaan.
Hubungan Persamaan Regresi
SOD Vs Bahan Organik Y = 15,65 + 4,33 X1
SOD Vs Total Bakteri Y = -60,31 + 10,81 X2
SOD Vs Potensial Redoks Y = 24,72 – 10,27 X3
SOD Vs pH Y = 286,9 – 36,13 X4
SOD Vs Umur Y = 7,954 + 31,69 X5
Keterangan :
SOD = Konsumsi oksigen sedimen (sedimen oxygen demand) X1 = Bahan organik total
X2 = Total bakteri sedimen
X3 = Potensial redoks
X4 = pH
B.Organik Total (%) SO D ( m g O 2 / m 2/ ja m ) 3,0 2,5 2,0 1,5 1,0 50 40 30 20 10 0 S 12,7834 R-Sq 5,3% R-Sq(adj) 0,0%
Fitted Line Plot
SOD (mg O2/m2/jam) = 15,65 + 4,325 B.Organik Total (%)
Log Tot. Bakteri sed (cfu/g)
SO D ( m g O 2 / m 2 / ja m ) 9,0 8,5 8,0 7,5 7,0 6,5 6,0 50 40 30 20 10 0 S 10,1805 R-Sq 39,9% R-Sq(adj) 35,6%
Fitted Line Plot
SOD (mg O2/m2/jam) = - 60,31 + 10,81 Log Tot. Bakteri sed (cfu/g)
Potensial Redoks (mV) SO D ( m g O 2 / m 2 / ja m ) 150 100 50 0 -50 -100 -150 50 40 30 20 10 0 S 5,32451 R-Sq 83,6% R-Sq(adj) 82,4%
Fitted Line Plot
SOD (mg O2/m2/jam) = 24,72 - 0,1027 Potensial Redoks (mV)
pH SO D ( m g O 2 / m 2 / ja m ) 7,7 7,6 7,5 7,4 7,3 7,2 7,1 7,0 6,9 6,8 50 40 30 20 10 0 S 8,77755 R-Sq 55,3% R-Sq(adj) 52,1%
Fitted Line Plot
SOD (mg O2/m2/jam) = 286,9 - 36,13 pH Umur (hari) SO D ( m g O 2 / m 2/ ja m ) 100 80 60 40 20 0 50 40 30 20 10 0 S 7,46822 R-Sq 67,7% R-Sq(adj) 65,4%
Fitted Line Plot
SOD (mg O2/m2/jam) = 7,954 + 0,3169 Umur (hari)
Gambar 18. Hubungan konsumsi oksigen sedimen dengan variabel bahan organik, total bakteri sedimen, potensial redok, pH dan umur pemeliharaan.
Dalam memilih persamaan regresi berganda terbaik digunakan prosedur eliminasi langkah mundur (the backward elimination prosedure) yakni menganalisis variabel dari belakang, artinya semua variabel dianalisis kemudian dilanjutkan menganalisis pengaruh variabel-variabel bebasnya kemudian variabel yang tidak kurang berpengaruh dihilangkan. (Sulaiman 2004; Pratista 2005).
Berdasarkan hasil analisa statistik yang dilakukan , dengan mengajukan semua variabel yang dianggap berhubungan dengan konsumsi oksigen sedimen, maka diperoleh 5 model persamaan regresi (Lampiran 3.). Dari kelima persamaan
tersebut dipilih model persamaan terbaik dengan melihat nilai R2 yang
disesuaikan (adjusted R2 ) terbesar, nilai standar galat estimasi terendah dan uji
signifikansi persamaan regresi dan koefisien regresi menggunakan uji F dan uji t.
Dari hasil pengujian pada Lampiran 3 terlihat bahwa nilai R2 yang disesuaikan
tertinggi (0,847) didapatkan pada persamaan yang ke-3, berarti akan semakin baik bagi persamaan regresi, karena variabel bebas dapat menjelaskan variabel tergantung lebih besar. Dalam hal ini 84,7 % konsumsi oksigen sedimen dalam tambak udang vaname dapat dijelaskan oleh variabel potensial redoks, total bakteri dan bahan organik, sedangkan sisanya (15,3 %) dijelaskan oleh faktor lain. Dari Lampiran 3, terlihat bahwa standar galat estimasi (standar error of estimate)
terendah (4,95 mg O2/m2/jam) dijumpai pada persamaan 3, dimana standar galat
estimasi lebih kecil dari standar deviasi konsumsi oksigen sedimen yang besarnya
12,8 mg O2/m2/jam (Lampiran 6.), maka model regresi lebih baik dalam bertindak
sebagi prediktor konsumsi oksigen sedimen. Selanjutnya dari hasil uji ragam atau uji F (Lampiran 4.), menunjukkan persamaan 3 memiliki F hitung sebesar 28,724 dan nilai P sebesar 0,001, maka persamaan regresi tersebut dapat digunakan untuk memprediksi konsumsi oksigen sedimen dalam tambak udang vaname. Variabel yang dominan berperan dalam menentukan konsumsi oksigen sedimen tambak digambarkan dalam persamaan regresi sebagai berikut :
Y = 0,496 + 2,56 X1 + 3,71 X2 - 0,0949 X3
Keterangan :
Y = Konsumsi oksigen sedimen
Konstanta sebesar 0,496 yang berati konsumsi oksigen sedimen tambak
dapat diprediksi mencapai 0,496 mg O2/m2/jam walaupun tidak ada kontribusi
dari ketiga variabel tersebut. Dari 5 variabel yang dikaji dalam studi ini, ternyata potensial redoks merupakan variabel yang paling berpengaruh dalam menentukan konsumsi oksigen sedimen tambak udang vaname. Koefisien regresi dari variabel potensial redoks sebesar - 0,0949 yang berarti bahwa setiap peningkatan nilai potensial redoks dapat menurunkan konsumsi oksigen sedimen sebesar 0,0949
mg O2/m2/jam. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kondisi potensial redoks yang
bernilai negatif berarti bahwa kondisi sedimen tambak berada pada kondisi yang reduktif dimana kandungan oksigen kurang sehingga proses penguraian bahan organik selama proses budidaya akan terhambat sehingga menyebabkan akumulasi bahan organik pada dasar tambak, namun jika potensial redoks meningkat ke arah positif maka kondisi sedimen berada pada kondisi yang oksidasi dimana kandungan oksigen cukup untuk merombak bahan organik, sehingga jumlah kebutuhan oksigen di substrat/sedimen menjadi lebih sedikit.
Variabel kedua dan ketiga yang berpengaruh terhadap kebutuhan oksigen pada sedimen dasar tambak udang vaname adalah total bakteri sedimen dan kandungan bahan organik total. Hal ini jelas terlihat pada koefisien regresi dari variabel total bakteri yang bernilai (+ 2,56) dan bahan organik total yang bernilai (+ 3,71), yang berarti bahwa setiap peningkatan jumlah koloni bakteri /gram tanah akan meningkatkan kebutuhan oksigen pada sedimen dasar tambak sebesar 2,56
mgO2/m2/jam. Demikian halnya dengan bahan organik, setiap
penambahan/peningkatan jumlah bahan organik dalam tambak, maka akan meningkatkan kebutuhan oksigen pada sedimen dasar tambak sebesar 3,71 mg
O2/m2/jam Hal ini dapat dijelaskan bahwa selama masa budidaya udang, bahan
organik yang terakumulasi berupa sedimen semakin meningkat dengan bertambahnya umur pemeliharaan karena seiring dengan pertumbuhan udang, maka jumlah pakan akan semakin bertambah sehingga sisa pakan hasil metabolisme udang juga akan bertambah. Beban bahan organik buangan yang harus dipikul oleh tambak budidaya udang semakin meningkat. Peningkatan bahan organik dalam tambak dapat menyebabkan peningkatan jumlah populasi bakteri sebagai dekomposer dalam proses perombakan bahan organik yang
membutuhkan sejumlah oksigen. Oksigen secara umum sangat diperlukan dalam proses dekomposisi terutama bagi dekomposer yang bersifat aerobik. Sebenarnya baik bakteri aerob maupun anaerob sama membutuhkan oksigen dan sama-sama melakukan proses dekomposisi. Bakteri aerob dapat memanfaatkan oksigen bebas yang terlarut dalam perairan sementara bakteri anaerob tidak dapat memanfaatkan oksigen bebas dan hanya menggunakan oksigen yang terkandung dalam senyawa-senyawa yang ada dalam perairan. Hal inilah menyebabkan laju penurunan oksigen dalam air dan peningkatan kebutuhan oksigen disedimen dasar
Bakteri memegang peranan penting dalam dekomposisi nutrien organik di dalam kegiatan produksi akuakultur dan sedimen tambak (Hargreaves 1988). Di dalam kolam atau tambak, bakteri sering ditemukan di sedimen dasar, yang biasanya mengandung banyak bahan organik dan aerasi kurang bahkan anaerob (Moriaty 1999 ; Burford et al. 2003). Lebih lanjut Ginting (1995) mengemukakan bahwa peningkatan bahan organik dalam tambak dapat menyebabkan meningkatnya populasi bakteri. Bahan organik yang ada akan digunakan bakteri sebagai sumber pakan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Populasi bakteri yang ditemukan lebih banyak terdapat dalam tanah/sedimen dibandingkan dalam air. Hal ini menunjukkan tingginya penimbunan bahan organik pada tanah akibat sisa pakan dan kotoran udang.
Menurut Foth (1984), diacu dalam Meagaung (2000) bahwa tingginya populasi bakteri pada lapisan permukaan tanah karena pada lapisan tersebut banyak mengandung sisa-sisa bahan organik yang menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme. Sunarto (2003) berpendapat bahwa dekomposisi merupakan proses yang dinamis dan sangat dipengaruhi oleh keberadaan dekomposer baik jumlah maupun diversitasnya. Sedangkan keberadaan dekomposer sendiri sangat ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan baik kondisi kimia, fisika maupun biologi. Faktor-faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap dekomposisi antara lain oksigen, bahan organik dan bakteri sebagai agen utama dekomposisi. Tersedianya nutrien (bahan organik) dan keberadaan oksigen diperairan menjadi faktor utama yang menentukan keberadaan bakteri sebagai pelaku dekomposisi, meskipun hal ini bergantung pada jenis dekomposernya.
4.4.2. Hubungan konsumsi oksigen sedimen dengan beberapa parameter kualitas air.
Hubungan antara konsumsi oksigen sedimen dengan masing-masing parameter kualitas air disajikan pada Gambar 19 dan Lampiran 10. Hubungan antara konsumsi oksigen dengan laju sedimentasi disajikan pada Gambar 20 dan Lampiran 11.
Parameter kualitas air yang berhubungan dengan konsumsi oksigen
sedimen antara lain oksigen terlarut, BOD5, padatan tersuspensi, amonia. Jika
dibandingkan antara semua variabel dengan konsumsi oksigen sedimen dari model hubungan yang terbentuk dengan nilai koefisien regresinya, hubungan konsumsi oksigen sedimen dengan parameter oksigen terlarut menunjukkan nilai korelasi dan koefisien regresi yang lebih tinggi dibanding dengan variabel lainnya, dengan nilai r = - 0,788. Nilai r (koefisien korelasi) tersebut berarti bahwa adanya tingkat hubungan yang tinggi (78,80 %) antara konsumsi oksigen sedimen dengan oksigen terlarut. Peningkatan konsumsi oksigen sedimen satu satuan akan menurunkan konsentrasi oksigen terlarut diperairan demikian pula sebaliknya. Hubungan linear yang ditunjukkan oleh konsumsi oksigen sedimen (SOD) (Y, mg
O2/m2/jam) terhadap oksigen terlarut ( X,mg/L) adalah Y = 74,87–12,33 X1
dengan nilai R2 = 0,621; Nilai R2 (koefisien determinasi) tersebut berarti bahwa
variasi yang terjadi terhadap besar kecilnya konsumsi oksigen sedimen 62,1 % dapat diterangkan oleh karena adanya perubahan besar kecilnya nilai oksigen terlarut dan sisanya sebesar 37,9 % diterangkan oleh faktor lain. Persamaan tersebut dibentuk dengan tingkat kepercayaan yang tinggi (P < 0,01).
Peningkatan konsumsi oksigen sedimen oleh mikroorganisme dan reaksi kimia dalam sedimen akan menurunkan konsentrasi oksigen terlarut diperairan karena oksigen digunakan untuk proses penguraian bahan organik yang terakumulasi selama masa pemeliharaan dalam jumlah yang besar dan tidak sesuai dengan daya dukung lahan sehingga berdampak negatif yakni penurunan konsentrasi oksigen terlarut dalam air , kondisi dasar tambak menjadi anaerob atau tereduksi dan meningkatkan kebutuhan oksigen di sedimen dasar. Hal ini akan menyebabkan penurunan kualitas air terutama oksigen yang akan membahayakan organisme budidaya karena dapat menyebabkan stres, mudah
terkena penyakit dan bahkan kematian. Menurut Boyd (1989) yang diacu dalam Ginting (1995) bahwa efek merugikan dari penurunan oksigen terlarut dalam air yang merupakan akibat banyaknya bahan organik lebih sering ditunjukkan oleh penurunan pertumbuhan dan kerentanan yang besar terhadap penyakit. Dalam tambak dengan konsentrasi oksigen terlarut rendah, udang akan kurang makan dan makanan yang dirubah menjadi daging tidak seefisien dalam tambak yang konsentrasi oksigen terlarutnya normal.
Parameter kualitas air kedua yang berhubungan dengan konsumsi oksigen
sedimen adalah BOD5 . Nilai korelasi dan koefisien regresi dari model hubungan
yang terbentuk dari konsumsi oksigen sedimen dengan parameter BOD5 yakni
nilai r = 0,738 dan R2 = 0,545. Nilai r = 0,738 tersebut berarti bahwa adanya
tingkat hubungan yang positif (73,80 %) antara konsumsi oksigen sedimen
dengan BOD5. Nilai R2 = 0,545 berarti bahwa variasi yang terjadi terhadap besar
kecilnya nilai konsumsi oksigen sedimen 54,50 % dapat diterangkan oleh karena
adanya perubahan besar kecilnya nilai BOD5 dan sisanya sebesar 45,5 %
diterangkan oleh faktor lain. Persamaan regresi yang terbentuk antara konsumsi
oksigen sedimen (SOD) (Y, mg O2/m2/jam) dengan BOD5 ( X, mg/L) adalah Y =
-3,86 + 5,86X2. Persamaan tersebut dibentuk dengan tingkat kepercayaan yang
tinggi (P < 0,01).
Konsumsi oksigen sedimen tambak merupakan petunjuk adanya kegiatan mikroorganisme didalam substrat dan merupakan gambaran kebutuhan oksigen yang dapat diketahui melalui konsumsi atau proses penggunaan oksigen terlarut di dalam tambak atau badan air untuk proses perombakan bahan organik.
Semakin besar nilai BOD5, maka akan berpengaruh terhadap nilai konsumsi
oksigen sedimen dasar karena nilai BOD yang merupakan ukuran yang digunakan sebagai kandungan bahan organik diperairan dengan asumsi bahwa oksigen dikonsumsi oleh mikroorganisme selama masa penguraian bahan organik dan mempengaruhi ketersediaan oksigen terlarut diperairan. Menurut Hariyadi et al. (1992) bahwa BOD merupakan banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi sehingga BOD menggambarkan suatu proses oksidasi bahan organik oleh mikroorganisme yang terjadi di perairan. Lebih lanjut Abel (1989) mengemukakan bahwa keberadaan BOD akan