• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Etika Terhadap Pluralisme Agama Oleh: Moh. Kharis * Abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pendekatan Etika Terhadap Pluralisme Agama Oleh: Moh. Kharis * Abstrak"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Pendekatan Etika Terhadap Pluralisme Agama Oleh: Moh. Kharis *

Abstrak

Hubungan antar agama di Indonesia sering diwarnai oleh pertentangan dan konflik. Atas nama keyakinan agama, masing-masing pihak berambisi menakhlukkan yang lain. Kondisi semacam ini membutuhkan pemikiran serius untuk mengatasinya. Salah satu kata kunci penting yang diharapkan memiliki kontribusi konstruktif terhadap terciptanya kerukunan hidup antar umat beragama adalah pluralisme. Namun sayangnya, pluralisme sendiri sering dipersepsi secara tidak tepat, sehingga justru menimbulkan perdebatan kontraproduktif yang berkepanjangan. Dalam kondisi semacam ini, pendekatan etika memiliki peranan yang signifikan. Pendekatan etika terhadap pluralisme dapat digali dari khazanah kearifan ajaran masing-masing agama. Al-Qur’an sendiri kaya akan term-term etika pluralis. Oleh karena itu, pendekatan etika diharapkan mampu menjembatani beragam persoalan yang menjadi perdebatan terhadap pluralisme. Etika juga memiliki peluang lebih netral dan lebih operasional.

Kata kunci: pluralisme, dialog, etika A. Pendahuluan

Hubungan sosial membuka dua pilihan; harmoni atau konflik. Harmoni terbangun ketika masing-masing pihak berusaha untuk saling memahami dan mengedepankan toleransi, sehingga tercipta sebuah kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Sebaliknya, konflik terjadi ketika masing-masing pihak memegang dengan kukuh kebenaran yang diyakininya tanpa kompromi, melihat pihak lain sebagai lawan, atau yang harus dikuasai, dan harus ditundukkan. Jika masing-masing pihak memegang sikap semacam ini, maka konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Perbenturan kepentingan dan aroganisme menjadi sebab determinan lahir dan berkembangnya sebuah konflik.

Salah satu persoalan besar yang kini harus dihadapi, terutama oleh umat beragama di Indonesia, adalah konflik berlatar belakang agama. Cukup banyak daerah yang menjadi ajang pertarungan fisik dengan keteguhan dogmatis-doktriner ajaran agama. Atas nama keyakinan, atau bahkan atas nama Tuhan, umat beragama kemudian terjebak dalam perilaku agresif dan penuh dengan ambisi penaklukan.

* Kepala Program Studi S1 PGMI Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)

(2)

Fenomena konflik berlatar belakang agama sesungguhnya melahirkan paradoks dalam agama sendiri. Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan, penghancuran, dan kolonialisasi. Tetapi ketika teks dasar ajaran agama masuk dalam wilayah interpretasi, muncul beragam formula interpretasi, mulai dari yang sangat liberal, moderat, hingga yang fundamental, dengan beragam variannya. Dengan demikian, persoalan yang mendasar bukan pada ajaran agamanya, tetapi pada wilayah interpretasi terhadap ajaran agama. Apalagi wilayah interpretasi ini kemudian diturunkan dalam kerangka oprasional.

Dalam kondisi semacam ini, maka hal mendasar yang penting untuk dilakukan adalah membangun perspektif keberagamaan yang lebih mempertimbangkan eksistensi diri dalam konstelasi eksistensi bersama yang heterogen. Salah satu kata kunci yang banyak diusung untuk tujuan ini adalah pluralisme. Dengan demikian, konsep pluralisme memiliki makna yang penting. Kesadaran terhadap pluralitas merupakan salah satu faktor determinan yang akan mengantarkan ke arah kehidupan antar umat beragama yang damai dan saling menghargai.

Namun persoalannya, konsep pluralisme sendiri ternyata tidak bisa diterima oleh semua pihak. Pemaknaan dan pemahaman terhadap istilah tersebut berkembang secara sangat beragam. Pemahaman yang beragam ini menjadikan konsep pluralisme yang pada dasarnya bertujuan positif berubah menjadi konsep yang dicurigai dan dimusuhi.

Di antara persepsi yang berkembang adalah menyamakan pluralisme dengan relativisme, sehingga pluralisme dinilai sebagai hal yang membahayakan akidah. Padahal, pluralisme bukanlah relativisme yang meletakkan kebenaran atau suatu nilai pada pandangan hidup atau kerangka berfikir seseorang atau masyarakat. Demikian juga, ada yang menyamakan pluralisme dengan sinkretisme. Padahal, pluralisme bukanlah sinkretisme yang menciptakan agama baru dengan cara memadukan unsur tertentu atau sebagian unsur dari beberapa agama yang ada.1

Pluralisme juga bukan sekedar mengakui eksistensi dan kebenaran setiap agama. Lebih dari itu, pluralisme hendaknya diletakkan di atas landasan komitmen yang kukuh terhadap masing-masing agama yang dipeluk. Dalam paradigma pluralisme yang semacam ini, umat suatu agama dalam berinteraksi dengan umat yang beragam lain dituntut untuk membuka diri, belajar, dan menghormati mitra dialognya. Mereka juga dituntut untuk harus tetap memiliki komitmen terhadap agama yang

1 Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung:

(3)

dianutnya.2 Dalam kerangka semacam ini, aspek mendasar yang diperlukan dalam diskursus pluralisme adalah yaitu masing-masing pihak hendaknya memiliki informasi atau pemahaman yang baik mengenai eksistensi agama yang lain, dan juga agamanya sendiri.3 Penguasaan terhadap agama lain,

dan terutama juga terhadap agamanya sendiri, pada gilirannya akan mengantarkan penganut agama kepada keimanan yang kukuh dan sekaligus memiliki sikap toleransi yang signifikan terhadap antar atau intra penganut agama. Pemahaman yang memadai dalam hal tersebut dapat membuat umat beragama mampu mengangkat nilai-nilai holistik-transformatif yang terdapat pada ajaran dari masing-masing agama.4 Pemaknaan pluralisme semacam inilah yang dapat menjadi landasan dalam penciptaan relasi antar umat beragama secara harmonis.

Pemahaman secara utuh terhadap pluralisme merupakan hal yang sangat penting, karena kesalahan pemahaman dapat berakibat kontraproduktif. Pluralisme yang diidealkan sebagai salah satu kunci bagi terciptanya kerukunan hidup antar umat beragama, ketika dipahami tidak sebagaimana konsepsi awal, justru dapat terjatuh menjadi bahan perdebatan yang berkepanjangan. Dalam konteks ini, menarik merefleksikan pernyataan Abdulziz Sachedina yang menyatakan bahwa pluralisme keagamaan bagi syariat bukanlah sekedar masalah mengakomodasi berbagai klaim kebenaran agama dalam wilayah keimanan pribadi seseorang. Lebih dari itu, pluralisme religius secara inheren selalu merupakan masalah kebijakan publik di mana suatu pemerintahan Islam harus mengakui dan melindungi hak pemberian Tuhan kepada setiap pribadi untuk menentukan sendiri nasib spiritualnya tanpa paksaan. Pengakuan terhadap kebebasan hati nurani dalam hal keimanan ini adalah titik temu utama konsep al-Qur’an mengenai pluralisme religius, pluralisme antar agama maupun intra agama.5

Secara mendasar, pluralisme merujuk kepada kesadaran untuk hidup bersama secara legitimatif dalam keberagaman pemikiran, kehidupan, dan tingkah laku yang dalam sisi tertentu sebenarnya incompatible antara satu dengan yang lainnya.6 Pluralisme, sebagaimana

2 Ibid, p. 43.

3 Harold Coward, “Religious. Pluralism and the Future of Religions”, dalam

Thomas Dean (ed), Religious, Pluralism and the Thruth, Essays on Cross Cultural Philosophy of Religion, (Albany: State University of New York Press, 1995), p. 162.

4 Ibid, p. 166.

5 Abdulaziz Sachedina, Beda Tapi Setara, Pandangan Islam tentang Non-Islam, terj.

Satrio Wahono, Cet. 2, (Jakarta: Serambi, 2004), p. 53.

6 Raimundo Pannikar, “Philosophical Pluralism and the Future of Religions”,

(4)

ditegaskan Abdurrahman Wahid, bukan hanya sekedar hidup bersama yang tenteram, tetapi yang lebih substansial lagi adalah tumbuhnya kesadaran, pengakuan, dan penerimaan atas perbedaan dan keragaman yang ada.7 Dalam konteks agama, konsep ini menuntut kepada setiap

pemeluk agama bukan saja untuk mengakui keberadaan dan hak agama lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan dalam rangka pencapaian kerukunan dalam kebhinekaan.8 Namun

demikian, bukan berarti pluralisme terlalu toleran dan karenanya tidak memiliki pendirian sama sekali. Pluralisme meniscayakan keteguhan pendirian yang disertai dengan ilmu pengetahuan dan tanggung jawab.9

Deskripsi ini memberikan kejelasan tentang apa dan bagaimana esensi pluralisme. Realitas kehidupan yang semakin kompleks seperti sekarang ini memunculkan beragam persoalan yang silang sengkarut. Hal ini menuntut agar semua persoalan yang ada dipecahkan bersama, termasuk oleh agama-agama dan semua penganut agama.10 Pada titik

inilah, pemahaman keagamaan yang pluralis memiliki kontribusi konkret dalam menumbuhkan toleransi dan saling pemahaman sehingga dapat menciptakan kehidupan yang damai tanpa konflik dan kekerasan.

B. Pendekatan Etika

Aspek lain yang memerlukan pemikiran secara serius adalah bagaimana agar konsep pluralisme tidak sekedar sebagai sebuah konsep yang melangit, atau berhenti pada wilayah wacana semata, tetapi juga dapat diturunkan secara lebih membumi dalam tataran praktis. Ikhtiar untuk mengoperasionalkan konsep pluralisme ini ternyata tidaklah sederhana dan mudah. Ada berbagai prasyarat yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah kemauan untuk melakukan dialog. Pluralisme tidak akan ada artinya jika masing-masing pihak menutup diri dan merasa sebagai pihak yang paling benar.

Terbangunnya dialog yang setara, produktif dan konstruktif, bukan dialog yang sepihak, pada ujungnya akan dapat melahirkan toleransi. Titik pijak dari toleransi dimulai ketika tidak ada lagi pandangan yang melihat satu kelompok sebagai yang lain, melainkan sebagai satu komunitas

7 Abdurrahman Wahid, “Dialog Agama dan Masalah Pendangkalan Agama”,

dalam Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF, Passing Over: Melintas Batas Agama, (Jakarta: Gramedia dan Paramadina, 1998), p. 59.

8 Alwi Shihab, Islam, pp. 340-341.

9 Muhammad Ali, Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan, Menjalin

Kebersamaan, (Jakarta: Kompas, 2003), p. 18.

10 Th. Sumarthana, “Kemanusiaan, Titik Temu Agama-Agama”, dalam Martin L.

(5)

manusia konkret yang memiliki nilai-nilai lama yang nyata. Lompatan kognitif semacam ini memang bukan hal yang mudah, terutama jika budaya lain (cultural other) yang diajak dialog ternyata juga merupakan pihak agama lain (religious other). 11 Sebab, pemahaman terhadap yang lain

membutuhkan proses dan dialektika yang panjang serta dilakukan secara terus menerus.

Satu kenyataan yang harus menjadi bahan refleksi bersama adalah bahwasanya kita sekarang ini hidup dalam sebuah masyarakat yang memiliki sedikit ketulusan dan toleransi. Kondisi ini diperparah oleh realitas bahwa sesungguhnya kita lahir sebagai makhluk yang tidak toleran. Pemahaman terhadap yang lain sebagai esensi toleransi membutuhkan proses dan dialektika yang panjang serta dilakukan secara terus menerus. Toleransi tidak akan datang begitu saja dalam pemikiran dan kesadaran seseorang atau masyarakat. Orang yang tidak toleran pada dasarnya memang tidak pernah berdialog, tidak pernah belajar, dan tidak pernah menggunakan penalarannya untuk memahami dan menerima yang lain.12

Dari sini terlihat bahwa sikap toleransi tidak terbangun dengan sendirinya. Bisa jadi kesadaran tersebut lahir karena dialektika yang berlangsung secara produktif dalam dinamika hidup yang panjang. Sebaliknya, sikap dasar manusia yang tidak toleran akan semakin kukuh dan, dalam kondisi tertentu, memformula menjadi fundamentalisme, ketika menemukan faktor-faktor pendukung. Pengalaman Ed Husain, sebagai seorang Imigran Muslim generasi kedua dari Bangladesh yang tinggal di Inggris, dapat dijadikan sebagai sebuah contoh. Pada awalnya, pola keberagamaan yang dianut Ed Husain bercorak moderat. Lingkungan keluarganya mengembangkan pola keberagamaan yang bernuansa tradisional, karena ayahnya adalah penganut sebuah aliran tarekat. Seiring dengan perkembangan usianya, Ed Husain akhirnya bersentuhan dengan bacaan-bacaan yang disebarkan oleh kaum fundamentalis. Bacaan, ternyata memiliki pengaruh sangat luar biasa, karena ia menemukan Islam yang berbeda dengan Islam yang dipahami dan diamalkan oleh dia dan keluarganya. “Injeksi” fundamentalisme lewat bahan bacaan ini semakin menemukan momentumnya ketika kelompok fundamentalis masuk lewat kegiatan-kegiatan keagamaan di sekolah. Inilah yang menjadi faktor pemicu bagi tumbuhnya jiwa fundamentalis dalam diri Husain. Apalagi, dalam perkembangan kariernya kemudian, Ed Husain menemukan bahwa kaum fundamentalis memberikan sokongan dana yang luar biasa. Ketika ia

11 Abdulaziz Sazhedina, Beda Tapi Setara..., pp. 32-33.

12 Haryatmoko, Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi,

(6)

tinggal di Saudi Arabia, gajinya yang dia terima sangat besar. Bahkan berlipat beberapa kali dari gaji yang dia terima saat masih di Inggris.13

Pengalaman hidup Ed Husain dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran yang penting. Pelajaran yang dapat kita petik dalam konteks pluralisme bahwa hal penting yang mendorong ke arah terbentuknya kesadaran pluralitas adalah dengan menciptakan ruang dialog dalam beragam manifestasinya secara terus menerus. Dengan cara semacam ini, diharapkan kesadaran terhadap pluralitas akan mengalami diseminasi secara luas. Jika kondisi ini dapat tercipta secara luas, harapan terbentuknya masyarakat yang lebih berkeadilan semakin terbuka. Sebab, salah satu karakteristik masyarakat yang berkeadilan adalah adanya kesadaran pluralitas dalam masyarakat.

Tanpa adanya ruang dialog untuk membangun persepsi dan pemahaman terhadap perbedaan yang ada, maka yang terbangun adalah sikap eksklusif, tidak toleran, dan watak “sangar” yang menunjukkan kekerasan tanpa kompromi. Kondisi tidak toleran akan semakin mengkristal manakala seseorang atau sekelompok tersingkir dalam dinamika sosial, politik, budaya, maupun kekuasaan.14 Dalam konteks inilah, maka kita dapat menemukan kelompok-kelompok keagamaan yang cenderung tidak toleran, seperti kaum fundamentalis, ekstrimis, bahkan teroris, yang mereka memang tersingkir dalam beragam konstelasi. Ketersingkiran inilah yang kemudian terekspresikan dalam cara pandang yang eksklusif dan tidak toleran.

Munculnya cara pandang keagamaan yang cenderung eksklusif, berakar dari krisis dalam filsafat modern yang menghilangkan terhadap “Yang Suci” (The Sacred) dan “Yang Satu (The One). Implikasinya,

pandangan semacam ini menghadapkan agama pada “krisis

epistemologis”. Krisis ini berakar pada Religion’s Way of Knowing (RWK). Cara Pandang Agama mengklaim bahwa teks-teks keagamaan itu: pertama, bersifat konsisten dan penuh dengan klaim kebenaran, kedua, bersifat final dan lengkap, ketiga, teks-teks keagamaan itu dianggap sebagai satu-satunya

13 Kisah hidup Ed Husain ini menarik untuk dijadikan bahan renungan bersama.

Ternyata, sikap fundamentalis lahir karena adanya usaha-usaha sosialisasi dan gerakan secara sistematis lewat berbagai media. Oleh karena itu, jika ingin menyebarkan dan menyosialisasikan perspektif yang pluralis, maka langkah sejenis juga harus dilakukan. Sebab, dengan cara semacam inilah, konstruksi keberagamaan yang pluralis dapat terbangun secara produktif. Lihat Ed Husain, The Islamist, Why I Joined Radical Islam in Britain, What I Saw Inside and Why I Left, (London: Penguin Book, 2007), khususnya halaman 19-35.

14 Haryatmoko, “Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa”, Basis, Nomor 11-12,

(7)

jalan untuk keselamatan, pencerahan atau pembebasan, dan keempat, have an inspired or divine author (God who is their true Author).15

Cara mengetahui segala hal berdasarkan RWK, jika diekstrimkan, bisa menimbulkan masalah besar, khususnya jika agama berhadapan dengan agama lain. Masalah yang muncul adalah perang klaim kebenaran (truth claim), selanjutnya klaim penyelamatan (salvation claim), yang jika terus berkembang, akan memunculkan konflik dan kekerasan yang luas. Untuk meminimalisir konflik, salah satu cara yang penting untuk dilakukan adalah dengan memperluas pandangan dan visi religiositas dari diri orang yang beragama.

Mengembangkan dialog dapat juga dilakukan dalam empat tingkat bagi komunikasi manusia. Pertama, dialogue of hearts: rasa sebagai bersaudara, sesame makhluk Tuhan, sesama manusia. Kedua, dialogue of life menegakkan nilai-nilai kehidupan kemanusiaan. Ketiga, dialogue of peace, keberanian untuk memperbincangkan Tuhan dan manusia dalam kedamaian. Keempat, dialogue of silence, di mana Tuhan berbicara kepada manusia.

Sementara prinsip-prinsip dialog yang perlu dipegang adalah; pertama, frank witness, masing-masing tidak menyembunyikan keyakinan, untuk menghilangkan kecurigaan ataupun ketakutan yang tidak diungkapkan. Kedua, mutual respect, simpati terhadap kesulitan orang lain dan penghargaan terhadap prestasi orang lain. Ketiga, religious freedom, hak untuk memeluk agama tanpa paksaan.16

Upaya menemukan titik temu lewat perjumpaan dan dialog yang konstruktif berkesinambungan merupakan tugas kemanusiaan yang perennial, yang abadi, tanpa henti-hentinya. Pencarian titik temu antar umat beragama dapat dilakukan lewat berbagai cara. Secara lebih operatif, M. Amin Abdullah menawarkan etika sebagai pintu masuk, sebab etika manusia beragama secara universal menemui tantangan-tantangan kemanusiaan yang sama. Lewat pintu etika, seluruh penganut agama-agama dapat tersentuh “religiositas”-nya. Selain itu, dimensi spiritualitas keberagamaan lebih terasa promising and challenging dan bukannya hanya terfokus pada formalitas lahiriyyah kelembagaan agama.17 Muhammad ‘Ata

15 Budhy Munawar-Rachman, “Kata Pengantar”, dalam Komaruddin Hidayat dan

Muhammad Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perennial, (Jakarta: Paramadina, 1995), p. xxiv.

16 Muhammad Ali, Teologi Pluralis-Multikultural..., pp. 193-194.

17 M. Amin Abdullah, Study Agama, Normativitas atau Historisitas?, Cet.2

(8)

Al-Sid menambahkan dimensi estetika agar perspektif keberagamaan yang pluralis menjadi lebih indah, dan mengesankan.18

Senada dengan perspektif ini, Sachedina menyatakan bahwa teologi Qur’anik yang membiarkan kaum lain untuk menjadi dirinya sendiri (the other to be other) menjadi kenyataan dalam ranah etika, di mana pengetahuan alami mengenai kebaikan dan kejahatan membuat segala ketidakadilan itu tidak termaafkan. Betapapun agama bisa memisahkan manusia, wacana etis menyatukan manusia dalam membangun suatu tatanan publik ideal.19

Lebih jauh, refleksi etis dapat menggantikan teologi dan hukum dalam mencari bahasa universal mengenai martabat manusia yang secara memadai akan menjembatani pluralisme yang sesungguhnya.20

Etika sendiri memiliki beberapa makna. Pertama, nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Etika dalam arti ini merupakan “sistem nilai” yang bisa berfungsi dalam kehidupan seseorang maupun kelompok sosial. Kedua, kumpulan asas atau nilai moral, atau kode etik. Ketiga, ilmu tentang baik dan buruk.21 Dalam konteks tulisan ini, etika yang dimaksudkan adalah etika dalam pengertian pertama, yaitu etika yang berfungsi sebagai sistem nilai yang operatif.

Ada beberapa aspek yang penting dipertimbangkan berkenaan dengan pemilihan perspektif etika dalam konteks pluralisme atau hubungan sosial antar umat beragama. Pertama, karena masalah hubungan sosial antar umat beragama termasuk dalam wilayah kajian etika, yaitu bagaimana sikap suatu umat beragama berhadapan dengan atau memperlakukan umat lain yang berbeda agama. Kedua, dari segi studi etika sendiri, perspektif etika ini sangat penting karena akan dapat mengatasi berbagai pertimbangan, keputusan, dan kepastian moral secara rasional dan obyektif tentang hal-hal yang harus dilakukan dalam berhubungan dengan orang-lain-agama sebagai sebuah paradigma dasar dalam hubungan sosial antar umat beragama. Dari sudut ini, etika menjadi semacam paradigma atau pola pikir yang melandasi dan mengkerangkai setiap umat beragama dalam melakukan hubungan sosial dengan umat lain yang berbeda agama. Ketiga, meskipun al-Qur’an banyak memuat konsep-konsep dan wawasan tentang teologi, hukum, filsafat dan tasawuf, tetapi ide sentral atau fokusnya selalu bermuara pada pemunculan bentuk-bentuk sikap etis (seruan moral) sesuai dengan fungsi eksistensialnya

18 Muhammad ‘Ata Al-Sid, Sejarah Kalam Tuhan, Kaum Beriman Menalar al-Quran

Masa Nabi, Klasik & Modern, terj. Ilham B. Saenong, Jakarta: Teraju, 2004, p. 185.

19 Abdulaziz Sazhedina, Beda Tapi Setara..., p. 84. 20 Ibid., p. 36.

(9)

sebagai sistem petunjuk bagi manusia. Keempat, dan ini yang terpenting, yaitu al-Qur’an sendiri lebih merupakan kitab moral (pedoman etika) daripada kitab hukum.22

Bahasa etika, berbeda dengan bahasa kalam dan fiqh. Bahasa kalam lebih lekat dengan nuansa seperti kafir, musyrik, munafik, atau murtad. Bahasa fiqh cenderung “hitam putih”, seperti haram, sunnah, mu’akkad, wajib, mubah subhat. Sementara bahasa etika lebih lembut, seperti ihsan, al-‘adl yang melahirkan prinsip “reprocity”, fakhsa’, munkar, baghy, dan human dignity.

Titik perhatian umat Islam memang lebih banyak pada aspek fiqh dan kalam dari pada aspek etika. Padahal, perspektif etika diyakini lebih mampu menjawab tantangan relasi sosial antar umat beragama. Setidaknya ada tiga alasan mengapa perspektif etika penting dalam memandang pluralisme agama. Pertama, kebenaran wahyu dalam agama-agama Ibrahimi (Islam, Kristen, Yahudi) tidak hanya terletak dalam wahyu itu sendiri, tetapi juga terletak dalam kemampuan orang-orang yang mengimaninya untuk menggunakan wahyu tersebut guna memberikan respon yang memuaskan, manusiawi, dan meyakinkan terhadap masalah yang dihadapi. Pada dasarnya, semua masalah kontemporer adalah masalah etika; mulai dari pluralisme, kemiskinan, redistribusi kekayaan, hingga senjata nuklir, redefinisi kehidupan biomedikal, penyalahgunaan sains, alienasi akibat teknologi, perkembangan dan, teori-teori ekonomi yang tidak manusiawi; semua ini hanya dapat diselesaikan dengan solusi etika. Seperti yang dikatakan Hebbletwaite, jika “ada perbedaan antara Tuhan yang objektif dengan ‘Tuhan’ sebagai simbol proyeksi ideal kita yang sangat tinggi dan jika ada perbedaan antara percaya dengan tidak percaya pada kehidupan setelah mati”, maka kita harus dapat membuktikan perbedaan tersebut. Kebajikan dan etika yang dikembangkan dengan menghindari dunia yang tidak sempurna, tidak adil, namun dengan mengambil kehidupan orang-orang tertentu yang telah diseleksi dan kemudian mereka memberikan kesaksian tentang kemungkinan alternatif bagi kehidupan manusia, maka etika yang semacam itu bukanlah untuk makhluk hidup yang biasa. “Eksperimen kontrol” semacam itu akan kehilangan poin bahwa mode yang dominan dalam realitas kontemporer adalah interkoneksitas, ketergantungan, dan kompleksitas. Karya yang isolatif-simplistik hanya dapat berlaku dalam isolasi. Orang-orang beriman harus berada di mana terjadi perbuatan, di

22 Hendar Riyadi, Melampaui Pluralisme, Etika al-Qur’an tentang Keragaman Agama,

(10)

semua tempat di mana interkoneksi dan kompleksitas dapat memunculkan solusi pluralitas agama yang otentik terhadap persoalan yang kompleks.

Kedua, sektor etika bersama diperlukan, terutama bagi kaum Muslim-Kristen jika kedua keyakinan ingin tetap hidup tidak hanya sekedar sebagai syahadat keyakinan dan keselamatan pribadi. Api sekularisme telah membakar semuanya; dan pascamodernisme telah siap menyapu bersih semua abu pandangan dunia teistik. Seperti diperingatkan oleh Hebbletwaite, “pertimbangan yang rasional telah didorong hingga ke titik ekstrem irrasional, sedang faktor-faktor non-rasional berkonspirasi untuk menciptakan pandangan dunia yang tidak memberikan tempat pada Tuhan yang objektif”. Jika kita hendak percaya pada Francis Fukuyama bahwa pandangan dunia sekularisme liberal telah menang dan sejarah telah mencapai puncaknya, maka kaum beriman betul-betul merupakan spesies yang terancam. Agama Kristen hampir telah diringkas semuanya; dan pemikiran Muslim kontemporer tidak mampu meski sekedar untuk mengenal masalah, apalagi menanganinya dengan cara yang positif. Landasan yang hilang hanya dapat dicari kembali melalui usaha etika, melalui usaha bersama dengan cara meletakkan etika yang berpusat pada Tuhan ke jantung dunia modern.

Ketiga, usaha etika bersama diperlukan untuk menata rumah kita. Dominasi sekuler selama lebih dari tiga abad telah menyebabkan kaum beriman sangat bingung. Nasib buruk kita adalah sama dengan tokoh penulis yang tekun dan tanpa nama dalam novel Peter Handke, The Afternoon of a Writer. Ketekunannya pada seni membuatnya menyendiri, tetapi ia tidak dapat terus berinteraksi. Ia berkeliaran di sekitar rumah yang memberinya rasa aman palsu; ia berjalan di sekitar kota yang dilaluinya. Akhirnya, ia tak melakukan apa-apa kecuali tetap berbaring di ranjangnya. Seperti pahlawan Handke, kita mencari arena keamanan palsu; kita berkeliaran ke sana ke mari, tak dapat apa-apa; akhirnya, kita menarik diri ke dalam sel teologis. Padahal, dengan cara semacam itu, tidak dapat mengatasi realitas kontemporer.23

Dalam konteks pencarian formula etika dalam memecahkan persoalan kontemporer, seperti pluralisme agama, Sardar menyatakan bahwa dibutuhkan etika yang pragmatis, tepat dan otentik. Etika semacam ini, kata Sardar, harus berakar pada sumber fundamental dari keyakinan Islam-Kristen dan juga bersumber dari tradisi kedua agama. Etika semacam ini harus dikaitkan dengan pengalaman manusia secara umum

23 Ziauddin Sardar, “Era Paskamodern”, dalam Munawar Ahmad Anees, et. al,

Dialog Muslim-Kristen Dulu, Sekarang, Esok, terj. Ali Noer Zaman, (Yogyakarta: Qalam, 2000), pp. 103-105.

(11)

dan harus dapat menangani perubahan sosial yang cepat. Secara metodologis, hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan identifikasi kebaikan yang secara jelas merupakan khas Islam dan Kristen. Bibel mengandung ajaran-ajaran kebaikan teologis seperti keyakinan, kasih sayang, harapan, keadilan, keberanian, kesederhanaan, dan kebijaksanaan. Kaum Muslim mungkin tidak akan keberatan untuk menerima kebaikan-kebaikan ini sebagai petunjuk tingkah laku manusia. Pandangan dunia Islam memberi kita sejumlah konsep nilai yang saling terkait dan memiliki hubungan langsung dengan tingkah laku kegiatan manusia; tauhid, khilafah, ibadah, ilmu, adl, ijma’, dan ishtishlah. Sebagian orang Kristen mungkin kesulitan untuk menerima konsep nilai-nilai ini sebagai kredo kehidupan. Maka, hal mendasar yang dapat dilakukan adalah menggabungkan kedua kelompok kebaikan tersebut, dan kita memiliki etika yang ruwet, namun ia dapat membentuk kebajikan, dan memberikan alternatif yang berbeda dari opsi yang ditawarkan oleh etika sekularis.24

Konstruksi etika bersama ini akan memberikan kontribusi positif dengan membentuk dunia atas dasar etika yang berpusat pada Tuhan. Pengembangan etika Kristen-Islam, dan merealisasikannya dalam semua bidang tingkah laku manusia, merupakan usaha pertama orang-orang beriman untuk setia kepada Tuhan dalam al-Qur’an dan Bibel, Tuhan yang bertindak dalam sejarah.25

C. Etika Pluralisme dalam al-Qur’an

Dalam kaitannya dengan al-Qur’an sebagai pedoman etika hubungan sosial antar umat beragama, al-Qur’an banyak memuat wawasan dan pokok-pokok ajaran etik, karena sejak awal al-Qur’an telah terlibat dialog dengan berbagai fundamental values yang dianut oleh berbagai komunitas agama dan non-agama. Bahkan George F. Hourani, seorang pengamat etika Islam, mengklasifikasikan etika Islam pada kategori “theistic subyectivism”—dan bukannya “rationalistic obyectivism”—yaitu dalam pengertian bahwa konsep baik dan buruk, termasuk di dalamnya bagaimana membina hubungan yang harmonis antara saudara-sudara antar iman serta dialog yang konstruktif dengan penganut agama-agama lain adalah ditentukan lewat pemahaman ayat-ayat al-Qur’an secara komprehensif.26

Adapun beberapa prinsip etika dalam al-Qur’an dalam hubungan sosial antar umat beragama adalah: Pertama, egalitarianisme (al-musawat),

24 Ibid., pp. 105-106. 25 Ibid., p. 107.

(12)

yang memandang manusia ditakdirkan sama derajatnya. Ayat yang dirujuk untuk prinsip ini adalah QS 49: 13. Berdasarkan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa harkat dan martabat manusia ditentukan oleh kualitas ke-taqwa-annya.27

Kedua, prinsip keadilan (al-adalat). Prinsip ini pada dasarnya merupakan implikasi dari ber-taqwa. Ide tentang keadilan merupakan prinsip dasar untuk memperlakukan orang lain agama secara sama, adil dan tidak diskriminatif, baik dalam pengelolaan sumber daya ekonomi, politik, sosial-budaya dan pendidikan, maupun dalam penerapan hukum.28

Ketiga, prinsip toleransi (tasamuh) dan kompetisi dalam kebaikan (fastabiq al-khairat). Toleransi adalah sikap menenggang (menghargai,

membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan,

kepercayaan, kebiasaan dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Akar-akar toleransi yang dirujuk dari teks kitab suci al-Qur’an memiliki beberapa prinsip; (a) perbedaan (keragaman) keyakinan adalah kehendak Allah yang bersifat perennial, (b) bahwa pengadilan dan hukuman bagi keyakinan yang salah harus diserahkan kepada Allah sendiri. Tuhan lebih tahu siapa yang menyimpang dari jalan-Nya dan siapa yang mendapatkan petunjuk, (c) keyakinan kepada sebuah agama fitrah. Agama fitrah tidak hanya bermakna agama Islam, tetapi juga bermakna agama asal-usul umat manusia, yang melekat, dan dicapkan secara tak terhapuskan pada jiwa manusia. Ini berarti bahwa setiap manusia terikat dalam suatu persaudaraan keagamaan universal, karena masing-masing agama Allah yang tertanam dalam diri manusia berupa din fitrat (agama asal manusia). Dengan demikian, sebagaimana dikatakan al-Faruqi, keyakinan kepada agama fitrah ini merupakan suatu terobosan paling penting ke arah pembinaan hubungan antar umat beragama.29

Keempat, prinsip saling menghormati, kerjasama, dan pertemanan. Prinsip ini merupakan implikasi sosiologis ketiga prinsip sebelumnya. Prinsip ini sangat ditekankan dalam al-Qur’an karena dipandang sama dengan menghormati agama sendiri. Sebaliknya, mencaci agama lain sama dengan mencaci agama seniri.30

Kelima, prinsip ko-eksistensi damai (al-ta’ayusy al-silmi). Prinsip ini merupakan dasar hubungan antar manusia sesuai dengan arti generik Islam itu sendiri, yaitu damai. Oleh karena itu, menerima Islam sebagai

27 Hendar Riyadi, Melampaui Pluralisme..., p. 173. 28 Ibid., pp. 177, 179.

29 Ibid., pp. 180-186. 30 Ibid., p. 189.

(13)

agama, konsekuensinya menerim ko-eksistensi damai sebagai pokok ajarannya.31

Keenam, dialog yang arif-konstruktif-transformatif (mujadalat bi al-hasan). Ini merupakan konsekwensi dari prinsip kelima. Dalam implementasinya, sepuluh pedoman dasar dialog antaragama dari Leonard Swidler dapat dijadikan penafsiran yang baik berkenaan dengan dialog bi al-lati hiya ahsan. Kesepuluh dasar dialog tersebut adalah; (1) bahwa tujuan awal proses dialog adalah untuk berubah, dan tumbuh dalam persepsi yang benar tentang kenyataan dan selanjutnya bertindak secara tepat, (2) dialog harus merupakan proyek dua sisi: pertama, dialog dalam komunitasnya sendiri, dan selanjutnya dialog dengan komunitas lain, (3) setiap partisipan yang memasuki proses dialog ini harus mempercayai ketulusan dan kejujuran rekan dialognya, (4) dalam dialog tidak boleh melakukan perbandingan atas ideal-ideal agama kita dengan praktek/kenyataan agama dari partner dialog kita, dan praktek/kenyataan agama kita dengan praktek/kenyataan agama partner dialog kita, (5) setiap partisipan dialog harus bisa mendefinisikan dirinya sendiri—sebab dalam kenyataannya suatu agama hanya bisa didefinisikan oleh agama itu sendiri— sebaliknya setiap definisi diri yang ditafsirkan oleh partner dialog kita harus diterima dengan lapang dada, sebagai upaya untuk mengenal diri lebih baik, (6) masing-masing partisipan dialog harus bisa menahan diri justru untuk mencari pokok-pokok perbedaan yang ada, (7) dialog hanya bisa terjadi parcum pari, yaitu antara pihak-pihak yang selevel, (8) proses dialog ini hanya bisa berlangsung melalui basis saling percaya, (9) setiap pribadi yang terlibat dalam dialog harus bisa mengambil sikap kritis, minimal atas dirinya sendiri (gagasan-gagasannya) dan tradisi religius yang diyakininya, dan (10) setiap partisipan harus berusaha memahami agama dari partner dialognya “dari dalam”.32

D. Penutup

Kesadaran terhadap pluralitas akan dapat melahirkan sikap yang toleran. Toleransi inilah menjadi modal penting bagi terciptanya kehidupan damai tanpa konflik. Banyaknya konflik, terutama yang berlatar belakang agama, yang terjadi di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, merupakan tantangan besar bagi agama-agama. Dalam kondisi semacam ini, dibutuhkan kesadaran dan kemauan bersama untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang harmonis dalam iklim yang pluralitis dan heterogen.

31 Ibid., p. 196. 32 Ibid., pp. 199-200.

(14)

Upaya ini dapat dilakukan dengan beragam cara. Salah satunya adalah dengan pendekatan etika. Pendekatan etika merupakan sebuah pendekatan yang lebih selaras dengan spirit beragama secara universal. Lewat pendekatan etika, seluruh penganut agama-agama dapat tersentuh “religiositas”-nya. Selain itu, dimensi spiritualitas keberagamaan lebih terasa promising and challenging dan bukannya hanya terfokus pada formalitas lahiriyyah kelembagaan agama. Nilai-nilai etika dapat digali dari sumber ajaran masing-masing agama. Dalam Islam, al-Qur’an memberikan berbagai ajaran etika yang seharusnya dipertimbangkan dan direkonstruksi. Dengan demikian, maka konsepsi pluralitas tidak hanya berhenti pada wilayah teoetis, tetapi dapat diterapkan secara praktis-operasional.

(15)

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin, Study Agama, Normativitas atau Historisitas?, Cet.2, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Ali, Muhammad, Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan, Menjalin Kebersamaan, Jakarta: Kompas, 2003.

Sid, Muhammad ‘Ata, Sejarah Kalam Tuhan, Kaum Beriman Menalar Al-Quran Masa Nabi, Klasik & Modern, terj. Ilham B. Saenong, Jakarta: Teraju, 2004.

Bertens, K, Etika, Cet. 9, Jakarta: Gramedia, 2005.

Coward, Harold, “Religious. Pluralism and the Future of Religions”, dalam Thomas Dean (ed), Religious, Pluralism and the Thruth, Essays on Cross Cultural Philosophy of Religion, Albany: State University of New York Press, 1995.

Haryatmoko, “Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa”, Basis, Nomor 11-12, Tahun ke-52, Nopember-Desember 2003.

_______, Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi, Yogyakarta: Kanisius, 2007.

Husain, Ed, The Islamist, Why I Joined Radical Islam in Britain, What I Saw Inside and Why I Left, London: Penguin Book, 2007.

Munawar-Rachman, Budhy, “Kata Pengantar”, dalam Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perennial, Jakarta: Paramadina, 1995.

Pannikar, Raimundo, “Philosophical Pluralism and the Future of Religions”, dalam Thomas Dean (ed), Religious, Pluralism and the Thruth, Essays on Cross Cultural Philosophy of Religion, Albany: State University of New York Press, 1995.

Riyadi, Hendar, Melampaui Pluralisme, Etika al-Qur’an tentang Keragaman Agama, Jakarta: RM Books dan PSAP, 2007.

Sardar, Ziauddin, “Era Paskamodern”, dalam Munawar Ahmad Anees, et. al, Dialog Muslim-Kristen Dulu, Sekarang, Esok, terj. Ali Noer Zaman, Yogyakarta: Qalam, 2000.

Shihab, Alwi, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, Bandung: Mizan, 1995.

(16)

Sumarthana, Th, “Kemanusiaan, Titik Temu Agama-Agama”, dalam Martin L. Sinaga (ed), Agama-Agama Memasuki Milenium Ketiga, Jakarta: Grasindo, 2000.

Wahid, Abdurrahman, “Dialog Agama dan Masalah Pendangkalan Agama”, dalam Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF, Passing Over: Melintas Batas Agama, Jakarta: Gramedia dan Paramadina, 1998.

Referensi

Dokumen terkait

Hanya saja, menggunakan sosial media tidak hanya berupa mengisi akun dengan data dan gambar kemudian diunggah begitu saja, didalamnya ada sebuah permainan

Dalam pencucian luka akan lebih baik jika cairan diberikan dalam bentuk penyemprotan dan di saat bersamaan dari daerah yang dicuci segera dihisap keluar (dengan

Berdasarkan penelusuran mandat dan misi serta analisis SWOT yang dilakukan, terdapat beberapa isu strategis, yaitu , (1) Pengembangan perencanaan pembangunan secara

Mengkaji beberapa permasalahan yang telah dikemukakan dalam latar belakang diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu

Alhamdulillah segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Uji Efek

titipan oleh Baitul Mal. Hingga saat ini Baitul Mal selain bersikap pasif guna menunggu ahli waris yang sah datang untuk mengambil dana titipan, Baitul Mal juga tidak dapat

Gambar 2(b) menunjukkan bahwa material silika hasil sintesis memiliki distribusi ukuran pori yang dominan pada 4,3 nm yang merupakan kategori material mesopori.. Data

a. Untuk mendapatakan informasi tentang Tradisi Lombe dan konservasi kerbau dari buku, jurnal, paper, artikel dan sumber lain guna mendapatkan gambaran menyeluruh tentang apa yang