• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

4.1 Kondisi Umum Provinsi Kepulauan Riau

Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang Undang Nomor 25 Tahun 2002 terdiri dari 2 Kota (Kota Batam dan Kota Tanjungpinang) dan 3 Kabupaten (Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Natuna). Pada tahun 2003 Kabupaten Kepulauan Riau dimekarkan menjadi Kabupaten Lingga dan Kabupaten Kepulauan Riau (yang berganti nama menjadi Kabupaten Bintan tahun 2006). Tahun 2008 Kabupaten Natuna mengalami pemekaran juga menjadi Kabupaten Natuna dan Kabupaten Kepulauan Anambas. Sehingga pada saat ini (2012) Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari 2 Kota dan 5 Kabupaten. Gambar 4 menampilkan kabupaten/kota yang termasuk dalam Wilayah Provinsi Kepulauan Riau, beserta letak geografisnya.

Gambar 4. Peta Administrasi Provinsi Kepulauan Riau

Provinsi Kepulauan Riau terletak pada lokasi yang sangat strategis yakni berada di wilayah perbatasan antar negara, bertetangga dengan salah satu pusat

(2)

36

bisnis dunia (Singapura). Secara geografis, Provinsi Kepulauan Riau terletak antara 0˚40’ LS dan 07˚19’ LU serta antara 103˚3’ - 110˚00’ BT, dengan batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Negara Vietnam dan Negara Kamboja

Sebelah Selatan : Provinsi Bangka Belitung dan Provinsi Jambi

Sebelah Barat : Negara Singapura, Negara Malaysia dan Provinsi Riau Sebelah Timur : Negara Malaysia dan Provinsi Kalimantan Barat

Dengan motto : “Berpancang Amanah, Bersauh Marwah” Provinsi Kepulauan Riau bertekad untuk membangun daerahnya menjadi salah satu pusat pertumbuhan perekonomian nasional dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Budaya Melayu yang didukung oleh masyarakat yang sejahtera, cerdas, dan berakhlak mulia.

Sesuai dengan Undang-undang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau luas wilayahnya adalah sebesar 425.124,67 Km2, dimana luas lautannya 417.005,06 Km2 (98,09%) dan sisanya seluas 10.595,41 Km2

Tabel 7. Wilayah administrasi Provinsi Kepulauan Riau

(1,91%) merupakan wilayah daratan, dimana terdapat 59 Kecamatan yang terdiri dari 353 Kelurahan/Desa seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 7 berikut ini.

No. Kabupaten/Kota Luas Daratan (km2 Luas Daratan (%) ) Kecamatan Kelurahan / Desa 1. Tanjungpinang 239,50 2,26 4 18 2. Batam 770,27 7,27 12 64 3. Bintan 1.946,13 18,36 10 51 4. Karimun 2.873,20 27,12 9 54 5. Natuna 2.058,45 19,43 12 73 6. Lingga 2.117,72 19,99 5 57 7. Kepulauan Anambas 590,14 5,57 7 36

Provinsi Kepulauan Riau 10.595,41 100 59 353

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011)

Wilayah Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari gugusan pulau-pulau besar dan kecil yang letak satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan perairan. Beberapa pulau yang relatif besar diantaranya adalah Pulau Bintan dimana lokasi

(3)

37 kedudukan Ibukota Provinsi (Tanjungpinang), Pulau Batam yang merupakan Pusat Pengembangan Industri dan Perdagangan, Pulau Rempang, dan Galang yang merupakan kawasan perluasan wilayah industri Batam, Pulau Karimun, Pulau Kundur, Pulau Lingga, Pulau Bunguran di Natuna, serta Gugusan Pulau Anambas. Tabel 8 menampilkan ibu kota masing-masing Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau beserta jaraknya ke ibu kota Provinsi.

Tabel 8. Nama ibukota Kabupaten/Kota dan jarak ke ibukota

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011)

4.2 Kondisi Fisik Wilayah

Berdasarkan kondisi geomorfologinya, Provinsi Kepulauan Riau merupakan bagian kontinental yang terkenal dengan nama ”paparan sunda” atau bagian dari kerak Benua Asia. Batuan yang terdapat di Kepulauan Riau diantaranya adalah batuan ubahan seperti mika genesis, meta batu lanau, batuan gunung api seperti tuf, tuf litik, batu pasir tufan yang tersebar di bagian timur Kepulauan Riau, batuan terobosan seperti granit muskovit dapat dijumpai di Pulau Kundur bagian timur, batuan sedimen seperti serpih batu pasir, metagabro, yang tersebar di Pulau Batam, Bintan dan Buru. Juga terdapat batuan aluvium tua terdiri dari lempung, pasir kerikil, dan batuan aluvium muda seperti lumpur, lanau, dan kerakal. Pulau-pulau di wilayah Provinsi Kepulauan Riau umumnya merupakan sisa-sisa erosi atau pencetusan dari daratan pratersier yang membentang dari Semenanjung Malaysia sampai Pulau Bangka dan Belitung. Gugusan beberapa pulau kondisi daratannya

No. Kabupaten / Kota Nama Ibu Kota Jarak ke Ibu Kota Provinsi (Mil)

1. Tanjungpinang Tanjungpinang 0

2. Batam Batam 44

3. Bintan Bintan Buyu 20

4. Karimun Tanjung Balai 75.5

5. Natuna Ranai 440

6. Lingga Daik 60

(4)

38

berbukit-bukit dan landai di bagian pantainya, dengan ketinggian rata-rata 2 - 5 meter dari permukaan laut.

Tekstur tanah di Provinsi Kepulauan Riau dibedakan menjadi tekstur halus (liat), tekstur sedang (lempung), dan tekstur kasar. Sedangkan jenis tanahnya, sedikitnya memiliki 5 macam jenis tanah yang terdiri dari organosol, glei humus,

podsolik merah kuning, latosol, dan aluvial.Jenis tanah Organosol dan glei humus

merupakan segolongan tanah yang tersusun dari bahan organik, atau campuran bahan mineral dan bahan organik dengan ketebalan minimum 50 cm, dan mengandung paling sedikit 30% bahan organik bila liat atau 20% bila berpasir. Kepadatan atau

bulk, density kurang dari 0,6 dan selalu jenuh. Lapisan tanah Organosol tersebar di

beberapa pulau Kecamatan Moro (Kabupaten Karimun), Kabupaten Natuna, Pulau Rempang, dan Pulau Galang.

Jenis lainnya adalah tanah Latosol, dijumpai di Kabupaten Natuna, Pulau Karimun, Pulau Kundur, dan beberapa pulau di Kecamatan Moro. Sementara tanah

Aluvial yang belum mempunyai perkembangan, dangkal sampai yang berlapis dalam,

berwarna kelabu, kekuningan, kecoklatan, sering ber-gley dan bertotol kuning, merah, dan coklat. Tekstur bervariasi dari lempung hingga tanah tambahan yang banyak mengandung bahan-bahan organik. Tanah ini terdapat di Pulau Karimun, Pulau Kundur, dan pulau-pulau lainnya di wilayah Provinsi Kepulauan Riau lainnya.

Kondisi hidrologi di Provinsi Kepulauan Riau dapat dilihat dari 2 (dua) jenis, yaitu air permukaan dan air bawah tanah (hidrogeologi). Untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, dapat diperoleh dari air permukaan berupa air sungai, mata air/air terjun, waduk, dan kolong, sedangkan air bawah tanah (hidrogeologi) didapat dengan menggali sumur dangkal. Kolong merupakan kolam bekas tambang bauksit, timah, dan pasir yang terbentuk akibat eksploitasi yang digunakan sebagai sumber air bersih, juga dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata.

4.3 Kondisi Demografi

Sebagai subyek maupun obyek dalam pergerakan roda pembangunan suatu wilayah, penduduk merupakan asset yang utama. Begitu pula dengan Provinsi Kepulauan Riau yang membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas

(5)

39 dan berdaya saing agar dapat berperan aktif dalam pembangunan. Menurut hasil Sensus Penduduk 2010 (SP 2010) yang dilakukan Badan Pusat Statistik jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Riau mencapai jumlah 1.679.163 jiwa yang terdiri dari laki-laki 862.144 jiwa dan perempuan 817.019 jiwa seperti yang ditampilkan dalam Tabel 9.

Bila jumlah penduduk dibandingkan dengan luas wilayah maka didapat suatu indikator yang menggambarkan tingkat kepadatan penduduk (population

density). Untuk wilayah Kepulauan Riau yang didominasi oleh perairan laut, luas

wilayah yang dibandingkan hanya luas daratannya saja yaitu seluas 10.595,41 km2. Secara umum tingkat kepadatan penduduk di Provinsi Kepulauan Riau masih tergolong jarang, yaitu 158 jiwa/km2

Tabel 9. Jumlah penduduk Kepulauan Riau menurut Kabupaten/Kota tahun 2010 .

No. Kabupaten

/Kota Laki-laki Perempuan Jumlah (Orang)

1. Tanjungpinang 95.285 92.074 187.359 2. Batam 484.867 459.418 944.285 3. Bintan 73.665 68.635 142.300 4. Karimun 108.923 103.638 212.561 5. Natuna 35.741 33.262 69.003 6. Lingga 44.234 42.010 86.244 7. Kepulauan Anambas 19.429 17.982 37.411

Provinsi Kepulauan Riau 862.144 817.019 1.679.163

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011)

Dilihat dari sebarannya, jumlah dan kepadatan penduduk di Provinsi Kepulauan Riau tidak merata dan sangat bervariasi antar kabupaten/kota. Kepadatan penduduk yang tinggi tersebar di kota Batam dan Tanjungpinang. Kota Batam merupakan wilayah di Provinsi Kepulauan Riau dengan jumlah penduduk terbesar yaitu 944.285 jiwa atau sebesar 51,50 % dari total penduduk Provinsi Kepulauan Riau. Kepadatan penduduk Kota Batam mencapai 1.226 jiwa/km2. Kota Tanjungpinang dengan penduduk sebesar 187.359 jiwa memiliki kepadatan penduduk 782 jiwa/km2. Kabupaten Karimun yang memiliki luas daratan terbesar di Provinsi Kepulauan Riau (27,12 %) hanya memiliki penduduk sebesar 212.1561 jiwa sehingga kepadatan penduduknya sebesar 74 jiwa/km2. Kabupaten dengan penduduk paling sedikit ialah Kabupaten Kepulauan Anambas yang

(6)

40

merupakan pemekaran dari Kabupaten Natuna dengan jumlah penduduk 62.418 jiwa tetapi kepadatan penduduknya mencapai 106 jiwa/km2 karena wilayah daratannya yaitu seluas 590,14 km2

Perbedaan kepadatan penduduk ini berpotensi menimbulkan terjadinya disparitas dalam percepatan pembangunan antar wilayah. Wilayah dengan kepadatan tinggi (diatas 500 jiwa/km

lebih kecil dari kabupaten lain.

2

) didominasi oleh wilayah yang berlokasi di perkotaan, sedangkan wilayah-wilayah dengan kepadatan rendah didominasi oleh wilayah yang berlokasi jauh dari pusat provinsi dan wilayah yang berbatasan dengan wilayah atau negara lain. Tabel 10 berikut ini menunjukkan Kepadatan Penduduk Provinsi Kepulauan Riau.

Tabel 10. Luas daratan, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk Provinsi Kepri menurut Kabupaten/Kota tahun 2010

No. Kabupaten/Kota Luas Daratan (Km2 Jumlah Penduduk ) (Orang) Kepadatan per Km2 1. Tanjungpinang 239,50 187.359 782 2. Batam 770,27 944.285 1.226 3. Bintan 1.946,13 142.300 73 4. Karimun 2.873,20 212.561 74 5. Natuna 2.058,45 69.003 34 6. Lingga 2.117,72 86.244 41 7. Kepulauan Anambas 590,14 37.411 63

Provinsi Kepulauan Riau 10.595,41 1.679.163 158

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011)

4.4 Kondisi Sarana dan Prasarana Wilayah

4.4.1 Prasarana Transportasi

Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Dengan semakin meningkatnya pembangunan semakin menuntut peningkatan pembangunan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu wilayah ke wilayah lain. Berdasarkan data BPS Provinsi Kepulauan Riau tahun 2011 panjang jalan kabupaten di wilayah Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2010 mencapai 1.126,3 kilometer. Dari panjang jalan tersebut ditinjau dari

(7)

41 kondisinya 61,61 persen jalan di Provinsi Kepulauan Riau kondisinya sudah baik; 32,38 persen kondisi sedang; dan 6 persen kondisi rusak. Sedangkan panjang jalan menurut status pengawasan dan jenis permukaan terdiri dari jalan negara 334 km dan jalan provinsi 792,32 km (Tabel 11).

Tabel 11. Panjang jaringan jalan Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan kondisi menurut Kabupaten/Kota tahun 2010

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011)

Sebagai wilayah yang didominasi oleh perairan terutama laut, keberadaan jembatan memiliki arti strategis untuk menghubungkan daerah-daerah yang terpisah oleh sungai bahkan laut. Sebagai contoh Jembatan Barelang di wilayah Kota Batam menghubungkan pulau-pulau yang terpisah oleh selat sempit, dimana jembatan yang menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Rempang memiliki bentang mencapai 1 km dan merupakan jembatan terpanjang di Provinsi Kepulauan Riau. Jembatan ini sangat strategis dalam upaya memperluas wilayah industri yang menjadi andalan Kota Batam. Jumlah jembatan di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010 mencapai 99 buah dengan panjang 6.991,4 kilometer. Sedangkan panjang jembatan menurut status pengawasan terdiri dari jembatan nasional sepanjang 4.793,9 km dan jembatan provinsi sepanjang 2.197,5 km (Tabel 12).

No. Kabupaten / Kota

Kondisi Baik Kondisi Sedang Kondisi Rusak Panjang Jalan Total Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Negara Jalan Provinsi 1. Tanjungpinang 23.764 39.70 5.16 9.80 0.80 2.20 81.424 2. Batam 110.03 37.40 33.68 14.20 4.50 4.20 204.009 3. Bintan 5.562 156.87 4.45 49.60 0.70 8.50 225.682 4. Karimun 19.741 70.35 4.50 63.50 2.40 7.45 167.941 5. Natuna (Termasuk Kab. Anambas ) 64.824 64.824 12.50 94.356 5.52 12.62 254.644 6. Lingga 20.875 80.03 7.99 65.00 7.00 11.72 192.615

(8)

42

Tabel 12. Jumlah dan panjang jembatan menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011)

Transportasi laut merupakan transportasi utama antar pulau di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai salah satu wilayah terdepan Republik Indonesia, beberapa pelabuhan di kabupaten dan kota Provinsi Kepulaun Riau memiliki akses langsung ke negara tetangga khususnya Singapura dan Malaysia. Pelabuhan dengan status pelabuhan internasional ini terdapat di Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Karimun, dan Kabupaten Bintan. Secara keseluruhan terdapat 7 pelabuhan internasional, 4 pelabuhan barang internasional dan 11 pelabuhan domestik (Tabel 13). Pelabuhan-pelabuhan ini memegang peranan sangat penting dalam arus transportasi massa dan barang di Provinsi Kepulauan Riau.

Tabel 13. Sarana perhubungan laut (pelabuhan) menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010

No. Kabupaten/Kota Internasional Barang

Internasional Domestik 1 Tanjungpinang 1 - 1 2 Batam 4 3 2 3 Bintan 1 1 2 4 Karimun 1 - 3 5 Natuna - - 1 6 Lingga - - 1 7 Kepulauan Anambas - - 1

Provinsi Kepulauan Riau 7 4 11

Sumber: BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011) No. Kabupaten / Kota

Jumlah (buah) Panjang (meter) Nasional Provinsi Nasional Provinsi

1. Tanjungpinang 5 9 1.291,3 591,3 2. Batam 9 - 2.550,3 - 3. Bintan 5 11 320,0 274,9 4. Karimun 1 8 14,0 65,3 5. Natuna 11 14 275,5 1.236,0 6. Lingga 24 2 342,8 30,0 7. Kepulauan Anambas - - - -

(9)

43 4.4.2. Prasarana Pendidikan

Pendidikan merupakan faktor penting dalam pembangunan dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Keberhasilan proses pendidikan sangat tergantung oleh tersedianya sarana dan prasarana serta tenaga pengajar yang memadai. Pada tahun 2010 jumlah taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di Provinsi Kepulauan Riau berturut-turut sebanyak 607; 819; dan 304 buah dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 2.434 orang guru TK, 11.382 orang guru SD dan 4.050 orang guru SLTP. Sedangkan jumlah sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) yang terdiri dari sekolah menengah atas (SMA) dan kejuruan (SMK) serta perguruan tinggi/akademi sebanyak 200 dan 39 buah, dengan jumlah tenaga pengajar SLTA sebanyak 3121 orang. Secara rinci, jumlah dan sebaran prasarana dan sarana pendidikan di Provinsi Kepulauan Riau dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 juga menunjukkan adanya kesenjangan dalam jumlah dan sebaran prasarana dan sarana pendidikan di Provinsi Kepulauan Riau. Sebagian besar prasarana dan sarana pendidikan tersebut terkonsentrasi di wilayah Kota Batam, Kabupaten Karimun dan Kota Tanjungpinang. Hal ini akibat dari ketidakmerataan jumlah dan sebaran penduduk, wilayah yang memiliki jumlah penduduk lebih besar akan memerlukan prasarana dan sarana yang lebih banyak.

Tabel 14. Jumlah dan sebaran prasarana pendidikan menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010

No. Kabupaten / Kota Tingkat Pendidikan TK Guru TK SD Guru SD SLTP Guru SLTP SLTA Guru SLTA PT 1 Batam 364 1.415 247 3.817 103 1.415 87 1022 24 2 Natuna 54 193 80 1.010 32 376 23 346 1 3 Tanjungpinang 56 322 65 1.331 25 633 21 625 13 4 Karimun 70 242 145 1.991 58 719 29 557 1 5 Bintan 32 153 95 1.332 33 543 15 357 - 6 Lingga 16 52 127 1.355 35 234 15 141 - 7 Kep. Anambas 15 57 60 546 18 130 10 73 - Provinsi Kepulauan Riau 607 2.434 819 11.382 304 4.050 200 3121 39

(10)

44

4.4.3 Prasarana Kesehatan

Faktor penting lainnya dalam pembangunan mutu sumberdaya manusia adalah kesehatan. dimana indikator pembangunan dalam bidang kesehatan adalah tingkat kemudahan pelayanan kesehatan yang dapat dilihat dari banyaknya jumlah fasilitas dan tenaga kesehatan pada suatu wilayah. Tabel 15. menunjukkan jumlah sarana kesehatan di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2010.

Tabel 15. Jumlah sarana kesehatan menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010

No. Kabupaten / Kota

Sarana Kesehatan RS Puskes mas Puskesmas Keliling Darat Puskesmas Keliling Laut Puskesmas Pembantu Pos yan du 1 Tanjungpinang 2 6 10 - 12 119 2 Batam 14 14 19 14 50 319 3 Bintan 1 12 5 3 29 140 4 Karimun 2 9 24 2 37 202 5 Natuna 2 12 9 5 30 102 6 Lingga 2 6 2 4 36 147 7 Kepulauan Anambas 1 7 2 8 21 56

Provinsi Kepulauan Riau 24 66 71 36 215 1085

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011)

Rumah Sakit adalah suatu organisasi tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kesehatan, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. Rumah Sakit merupakan salah satu prasarana yang paling vital di Provinsi Kepulauan Riau. Berdasarkan data BPS Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010, jumlah rumah sakit di Provinsi Kepulauan Riau mencapai 24 buah. Prasarana kesehatan lain yang tidak kalah pentingnya adalah Puskesmas dan Posyandu. Pada tahun 2010 tercatat sebanyak 66 unit Puskesmas, 71 unit Puskesmas Keliling Darat, 36 unit Puskesmas Keliling Laut, 215 Unit Puskesmas Pembantu dan 1.085 Unit Posyandu tersebar di 7 Kabupaten dan Kota Provinsi Kepulauan Riau. Kota Batam menjadi peringkat pertama ketersediaan prasarana kesehatan dengan 14 buah rumah sakit, 14 unit Puskesmas, 19 unit Puskesmas Keliling Darat, 14 unit Puskesmas Keliling Laut,

(11)

45 50 Unit Puskesmas Pembantu dan 319 Posyandu. Selain sarana prasarana kesehatan, ketersediaan tenaga kesehatan tentu juga memegang peranan penting dalam pembangunan kesehatan. Banyaknya tenaga kesehatan di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Banyaknya tenaga kesehatan menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010

No. Kabupaten / Kota

Tenaga Kesehatan Dokter Dokter

Gigi Farmasi Perawat Bidan

1 Tanjungpinang 33 41 57 542 181 2 Batam 512 78 146 1.481 456 3 Bintan 73 21 33 281 155 4 Karimun 87 16 18 227 100 5 Natuna 51 13 30 240 89 6 Lingga 22 10 18 230 133 7 Kepulauan Anambas 27 7 13 118 57

Provinsi Kepulauan Riau 805 186 315 3.119 1.171

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011)

4.4.4 Prasarana Ekonomi

Pembangunan fasilitas ekonomi suatu wilayah sangat penting dalam meningkatkan efisiensi aliran sumberdaya baik berupa barang maupun jasa, serta meningkatkan produktivitas dan interaksi spasial antar wilayah yang saling memperkuat. Fasilitas ekonomi tersebut diantaranya meliputi fasilitas pasar, toko/warung, dan lembaga keuangan. Sebaran jumlah dan jenis fasilitas ekonomi pada tiap kecamatandi Provinsi Kepulauan Riau seperti terlihat pada Tabel 17. Suatu fasilitas wilayah atau infrastruktur menunjang daya saing daerah dalam hubungannya dengan ketersediaannya (availability) dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah di berbagai sektor di daerah dan antar-wilayah.

(12)

46

Tabel 17. Sarana perdagangan menurut jenis pasar dan Kabupaten/Kota di Kepulauan Riau tahun 2008 – 2009

No. Kabupaten/Kota Pasar Tradisional (buah) Pasar Swalayan (buah)

2008 2009 2008 2009 1 Tanjungpinang 4 4 9 9 2 Batam 14 14 19 19 3 Bintan 7 7 12 12 4 Karimun 8 8 20 20 5 Natuna 3 3 4 4 6 Lingga 3 3 2 2 7 Kepulauan Anambas 4 4 - -

Provinsi Kepulauan Riau 43 43 66 66

Sumber: Bappeda Provinsi Kepulauan Riau (2010)

Terjadi peningkatan jumlah sarana perdagangan menurut jenis pasar di kabupaten/kota di Kepulauan Riau khususnya Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun karena kebutuhan masyarakat semakin meningkat dan daya beli masyarakat yang juga meningkat serta bertambahnya jumlah penduduk didaerah-daerah tersebut.

Keberadaan lembaga keuangan amatlah penting dalam menjaga kelangsungan ketersediaan dana. Sebagai sarana penyaluran dana, perbankan salah satunya, tentu menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi bangsa. Jumlah kantor bank umum menurut status kepemilikan semakin meningkat sampai tahun 2009 hal ini mengindikasikan semakin bergairahnya kegiatan perekonomian dan keuangan di Kepulauan Riau sehingga merangsang bank-bank untuk menbuka cabang di provinsi ini, seperti yang dapat kita lihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Jumlah kantor bank umum di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2009

No. Jenis Bank Kantor Cabang Kantor Cabang Pembantu Kantor Kas Jumlah 1 Pemerintah 8 28 38 74

2 Bank Pemerintah Daerah 7 7 6 20

3 Bank Swasta Nasional 36 53 12 101

4 Bank Asing dan Campuran 2 - - 2

Jumlah 53 88 56 197

(13)

47 4.5. Kondisi Ekonomi Wilayah

Salah satu indikator ekonomi yang umum digunakan untuk menggambarkan perkembangan ekonomi wilayah adalah produk domestik regional bruto (PDRB). Secara konsepsi, PDRB menggambarkan seberapa besar proses kegiatan ekonomi (tingkat produktivitas ekonomi di suatu wilayah, yang dihitung sebagai akumulasi dari pencapaian nilai transaksi dari berbagai sektor ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, PDRB merupakan gambaran nyata hasil aktivitas pelaku ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa. Indikator ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi perkembangan ekonomi dan sebagai landasan penyusunan perencanaan pembangunan ekonomi.

Tabel 19. Kontribusi Kabupaten Kota berdasarkan PDRB ADHB (Milyaran Rupiah) Provinsi Kepulauan Riau tahun 2006 – 2010

Pada tahun 2010, PDRB Provinsi Kepulauan Riau atas dasar harga berlaku sebesar 65.991,03 miliar Rupiah. Dari jumlah tersebut ternyata kontribusi tiap wilayah, tidak memberikan kontribusi yang sama dalam PDRB Provinsi Kepulauan Riau. Kota Batam memberikan kontribusi yang paling tinggi yaitu sebesar 71,67 persen dari seluruh perekonomian Provinsi Kepulauan Riau seperti ditunjukkan pada Tabel 19. Sedangkan kabupaten/kota lainnya hanya memberikan kontribusi dibawah 10 persen. Hal ini menunjukkan disparitas pembangunan wilayah yang sangat besar di Provinsi Kepulauan Riau. Secara spasial besarnya PDRB yang disumbangkan masing-masing kabupaten dan kota terhadap PDRB total di Provinsi Kepulauan Riau dapat dilihat pada Gambar 5.

Kabupaten Kota 2006 % 2007 % 2008 % 2009 % 2010 % Batam 29.229,33 72,65 33.022,50 72,92 38.264,22 71,08 40.969,26 70,84 47.297,03 71,67 Bintan 3.219,29 8,00 3.503,25 7,74 3.792,97 7,05 4.049,97 7,00 4.424,89 6,71 Tanjungpinang 3.006,78 7,47 3.475,63 7,67 4.147,82 7,70 4.561,33 7,89 5.177,16 7,85 Karimun 2.737,14 6,80 3.048,52 6,73 3.446,62 6,40 3.818,99 6,60 4.287,74 6,50 Natuna 1.360,23 3,38 1.493,61 3,30 894,73 1,66 977,82 1,69 1.077,39 1,63 Lingga 678,00 1,69 741,69 1,64 838,37 1,56 921,50 1,59 1.022,16 1,55 Kepulauan Anambas - 0,00 - 0,00 2.448,56 4,55 2.534,47 4,38 2.704,66 4,10 Provinsi Kepulauan Riau 40.230,74 100 45.285,20 100 53.833,29 100 57.833,32 100 65.991,03 100 Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011)

(14)

48

Gambar 5. Peta besaran PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau

Gambar 5. Peta besaran PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau

Dilihat dari struktur perekonomiannya, sektor industri pengolahan merupakan sektor yang paling dominan di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2010 dengan kontribusi sebesar 47,56 persen terhadap keseluruhan perekonomian. Sektor lainnya yang penting adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yang memberikan kontribusi sebesar 25,22 persen (Tabel 20). Ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau masih berbasis industri, perdagangan dan pariwisata.

Berdasarkan kontribusi wilayah dan sektor yang berpengaruh terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2010, Kota Batam memberikan kontribusi terbesar pada sektor Industri (88,62%), Listrik dan Gas (83,22%), Bangunan (42,67%), Perdagangan (75,41%), Pengangkutan (41,94%), Keuangan (79,70%) dan Jasa (41,68%). Wilayah lain yang lebih besar kontribusinya dari pada Kota Batam hanya pada sektor pertambangan yaitu Kabupaten Kepulauan Anambas (70,07%), Kabupaten Bintan (16,7%) dan Kabupaten Karimun (10,41%) seperti yang ditunjukan pada Tabel 21.

Tanjungpinang Kab. Bintan Kab. Karimun Kab. Anambas Kab. Natuna Kota Batam Kab. Lingga Sumber : BPS Provinsi Kepri Tahun 2010

Ilmu Perencanaan Wilayah Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

(15)

49 Tabel 20. Kontribusi sektoral berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku

(Milyaran Rupiah) Provinsi Kepulauan Riau tahun 2006 – 2010

Sektor-sektor Perekonomian 2006 % 2007 % 2008 % 2009 % 2010 % Pertanian 2.624,41 6,52 2.822,38 6,23 2.944,22 5,47 3.157,73 5,46 3.455,12 5,24 Pertambangan dan Penggalian 717,81 1,78 762,53 1,68 2.651,90 4,93 2.736,54 4,73 2.920,42 4,43 Industri Pengolahan 20.842,34 51,81 23.456,50 51,80 26.171,49 48,62 27.518,51 47,58 31.384,82 47,56 Listrik, Gas dan

Air Bersih 160,83 0,40 180,17 0,40 348,54 0,65 383,10 0,66 437,32 0,66 Bangunan 1.279,95 3,18 1.482,03 3,27 2.097,99 3,90 2.469,75 4,27 3.015,98 4,57 Perdagangan, Hotel dan Restoran 9.226,43 22,93 10.595,61 23,40 12.832,81 23,84 14.237,70 24,62 16.644,59 25,22 Pengangkutan dan Komunikasi 1.976,76 4,91 2.257,01 4,98 2.582,69 4,80 2.750,52 4,76 3.058,93 4,64 Keuangan dan Persewaan 2.337,69 5,81 2.540,07 5,61 2.845,33 5,29 3.065,21 5,30 3.404,89 5,16 Jasa-jasa 1.064,52 2,65 1.188,91 2,63 1.358,33 2,52 1.514,26 2,62 1.668,97 2,53 Jumlah Total 40.230,74 100 45.285,20 100 53.833,29 100 57.833,32 100 65.991,03 100

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011)

Tabel 21. Kontribusi sektor-sektor PDRB atas dasar harga berlaku per Kabupaten/ Kota di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010

NO Kabupaten/Kota Kontribusi Sektor (%)

Tani Tmb Ind Ligas Bang Dag Akt Keu Jasa

1 Batam 15,47 1,89 88,62 83,22 42,67 75,41 41,94 79,70 41,68 2 Bintan 7,40 16,70 7,19 3,22 5,47 5,37 5,43 1,90 7,32 3 Tanjungpinang 2,74 0,10 2,58 9,37 32,60 9,09 28,25 11,75 28,04 4 Karimun 33,12 10,41 1,19 3,34 13,11 6,82 18,47 3,94 13,27 5 Natuna 18,93 0,16 0,07 0,24 2,06 1,09 1,52 0,92 4,34 6 Lingga 10,60 0,66 0,32 0,51 3,29 1,40 3,40 1,28 3,18 7 Kepulauan Anambas 11,74 70,07 0,03 0,10 0,80 0,82 0,99 0,51 2,17 TOTAL 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (2011) Keterangan:

Tani : Pertanian Dag : Perdagangan, Hotel dan Restoran

Tmb : Pertambangan dan Penggalian Akt : Pengangkutan dan Komunikasi

Ind : Industri Pengolahan Keu : Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Ligas : Listrik, Gas dan Air Bersih Jasa : Jasa-Jasa

(16)

50

4.6. Arah Kebijakan Umum Pembangunan Daerah

Tujuan utama pembangunan daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telah merumuskan visi dan misi kebijakan pembangunan daerah , dimana visi yang hendak dicapai adalah : “Terwujudnya Kepulauan Riau Sebagai Bunda

Tanah Melayu Yang Sejahtera, Berakhlak Mulia dan Ramah Lingkungan”.

Dalam Visi tersebut terdapat 4 (empat) kata kunci yaitu bunda tanah Melayu, sejahtera, berakhlak mulia dan ramah lingkungan. Adapun empat kata kunci tersebut terkandung pengertian dan pemahaman sebagai berikut:

a. Kepulauan Riau sebagai bunda tanah Melayu menunjukkan bahwa Kepulauan Riau sebagai sebuah wilayah geografis, dulunya merupakan wilayah bekas kejayaan kerajaan Melayu Riau, yang baru berakhir pada awal abd ke 20. Dengan misi ini diharapkan pada tahun 2015, Kepulauan Riau akan menjadi Provinsi yang kembali akan akan mentabalkan tamaddun/kejayaan Melayu dalam masa kekinian dan beroriantasi masa depan.

b. Kepulauan Riau yang sejahtera adalah kondisi dimana masyarakat Kepulauan Riau dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasarnya secara layak, meningkat pendapatannya dan standar pembangunan manusia.

c. Kepulauan Riau yang berakhlak mulia adalah kondisi dimana Kepulauan Riau sebagai negeri berbudaya Melayu memiliki sifat dan perangai, yang dapat menjadi panutan bagi masyarakat lainnya, terutama ketaatan dalam menjalankan ajaran agama, menjaga adat istiadat, memiliki semangat untuk maju dan patuh kepada hukum dan perundang-undangan.

d. Kepulauan Riau yang ramah lingkungan adalah wilayah Kepulauan Riau yang memiliki sumber daya alam dan geografis yang terdiri dominan lautan perlu menjaga agar lingkungannya aman, nyaman dan lestari bagi tempat hidup dan mencari penghidupan masyarakat dan dapat menjamin kelangsungan pembangunan. Ramah lingkungan juga cerminan masyarakat Kepulauan Riau yang bermartabat dalam pergaulan, ramah kepada semua golongan dengan tidak membedakan suku bangsa.

(17)

51 sejahtera, berakhlak mulia dan ramah lingkungan sebagaimana diatas, ditetapkan misi sebagai berikut :

1. Mengembangkan Budaya Melayu sebagai payung bagi budaya lainnya dalam kehidupan masyarakat.

2. Meningkatkan pendayagunaan sumber daya kelautan dan pulau-pulau kecil.

3. Mengembangkan wisata yang berbasis kelautan dan budaya setempat.

4. Mengembangkan potensi ekonomi local dengan keberpihakan kepada rakyat kecil (wong cilik).

5. Meningkatkan investasi dengan pembangunan infrastruktur yang berkualitas.

6. Memberdayakan masyarakat melalui pendidikan dan kesehatan yang berkualitas.

7. Mengembangkan tatakelola pemerintahan yang baik, etos kerja, disiplin, budi pekerti dan supremasi hukum.

8. Mengembangkan kehidupan yang demokratis, keadilan serta berkesetaraan gender.

Gambar

Gambar 4. Peta Administrasi  Provinsi Kepulauan Riau
Tabel 7. Wilayah administrasi Provinsi Kepulauan Riau
Tabel 8.  Nama ibukota Kabupaten/Kota dan jarak ke ibukota
Tabel 9. Jumlah penduduk Kepulauan Riau menurut Kabupaten/Kota tahun 2010 .
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Gedung Graha laga Satria Sporthall Arcamanik sebagai objek yang dijadikan perancangan, diperuntukan sebagai arena pertandingan untuk kegiatan olahraga bela diri

Kesimpulan : Terdapat pengaruh yang signifikan pendidikan kesehatan tentang metode kontrasepsi pria terhadap pengetahuan dan sikap keikutsertaan suami menjadi

Materi yang diajarkan adalah: (a) siklus, (b) tekanan dan kevakuman, (c) syarat-syarat pembakaranan. Guru menggunakan media pembelajaran laptop, LCD, dan simulator

Hasil dari penelitian ini terdapat pengaruh negatif tidak signifikan pada personal financial need terhadap financial statement fraud dan mendukung penelitian yang

(2) Asisten, Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, diangkat dan diberhentikan oleh Bupati dan/atau Penjabat Bupati dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi

Penggunaan peningkat penetrasi kimia dapat diterapkan dalam sistem penghantaran obat transdermal untuk memperbaiki ketersediaan hayati obat dalam sirkulasi darah

mendefinisikan PPOK adalah penyakit paru yang dapat dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel, bersifat progresif