Skripsi Oleh:
TONI SETIAWAN K 2506054
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2010
ii Oleh:
TONI SETIAWAN K 2506054
Skripsi
Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mendapat Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2010
iii
Kejuruan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Persetujuan Pembimbing Pembimbing I Drs. Suhardi HW, M.T NIP: 19460604 197501 1 001 Pembimbing II Drs. H. Wardoyo NIP: 19510517 197602 1 001
iv
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pada hari : Kamis
Tanggal : 28 Januari 2010
Tim Penguji Skripsi
Nama Terang Tanda Tangan
Ketua : Drs. Suwachid, M.Pd, M.T ( )
Sekretaris : Ir. Husin Bugis, M.Si ( )
Penguji I : Drs. Suhardi HW, M.T ( )
Penguji II : Drs. H. Wardoyo ( )
Disahkan oleh :
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Dekan
Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd. NIP. 19600727 198702 1 001
v
TEKNIK MEKANIK OTOMOTIF STUDI KASUS DI SMK N 2 SURAKARTA. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Januari 2010.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Kesiapan guru Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2 Surakarta dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK). 2) Kesiapan siswa Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2 Surakarta dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK).
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif dan menggunakan desain penelitian studi kasus yang dilakukan di SMK Negeri 2 Surakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: 1) Metode dokumenter atau pengumpulan dokemen RPP guru Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif, 2) Metode dokumenter atau pengumpulan dokemen catatan atau print out materi dari dari guru yang diberikan pada siswa, 3) Observasi mengajar guru Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif, 4) Tes soal yang diberikan kepada seluruh siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif, 5) Metode dokumenter atau pengumpulan dokemen catatan atau print out materi kelas X hingga kelas XII dari siswa Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif, 6) Wawancara kepada siswa XII Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif.
Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Kesiapan guru Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2
Surakarta dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK) termasuk kategori tinggi. Bedasarkan hasil penelitian sebagai berikut:
a. Berdasarkan analisis pengumpulan dokumen RPP mengajar dapat diketahui semua guru menyamapaikan materi sesuai dengan materi yang tercantum dalam RPP.
vi
menyampaiakan seluruh materi sesuai dengan materi yang tercantum dalam RPP dan guru mampu mengkondisikan lingkungan belajar yang positif, menampilkan inovasi-inovasi dalam pembelajaran, dan sebagian guru menggunakan media power point.
2. Kesiapan siswa Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2 Surakarta dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK) termasuk kategori tinggi. Bedasarkan hasil penelitian sebagai berikut:
a. Rata-rata kesiapan siswa dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan dilihat dari hasil soal tes berdsarkan 20 standar kompetensi lulusan yang diujikan dalam Ujian Teori Kejuruan adalah sebesar 85 %. Dari pengerjaan soal tes tersebut didapat hasil nilai semua peserta tes lulus ujian dengan rata-rata nilai yang didapat siswa dalam skala 100 adalah 7,57.
b. Berdasarkan pengumpulan dokumen berupa catatan siswa dari kelas X hingga kelas XII berdasarkan 20 Standar Kompetensi Lulusan yang diujikan dalam Ujian Ujian Teori Kejuruan dapat diketahui bahwa semua materi sudah didapat siswa.
c. Bedasarkan wawancara mendalam dengan 4 sampel siswa dapat diketahui sebagian besar guru telah memberikan materi kepada siswa dan sebagian besar siswa telah mendapatkan materi dari 20 Standar Kompetensi Lulusan yang diujikan dalam Ujian Teori Kejuruan dengan rata-rata materi yang didapat siswa sebesar 85%.
viii
Teriring rasa syukur kepada Allah SWT, dengan segala kerendahan hati, karya ini kupersembahkan kepada: Ibu dan Bapak tercinta Kakak-kakakku Diri saya sendiri PTM 2006
ix
yang berjudul “Kesiapan Guru dan Siswa Dalam Menghadapi Ujian Teori Kejuruan Progam Keahlian Teknik Mekanik Otomotif Studi Kasus di SMK N 2 Surakarta”.
Perjuangan dalam menyelesaikan skripsi dan mendapatkan gelar sarjana yang melelahkan, penuh dengan perasaan suka dan duka, kembang kempisnya semangat, diiringi dengan doa orang-orang terdekat dan disertai doa tulus orang tua tercinta menjadi bagian hidup penting dalam sejarah hidup penulis. Apalagi skripsi ini menjadi syarat akhir dari rangkaian yang panjang selama menempuh studi di Program Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulisan skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak baik yang berupa tenaga maupun pikiran. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Bapak Drs. Suwachid, M.Pd, M.T Ketua Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Bapak Drs. C. Sudibyo, M.T Ketua Program Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Bapak Drs. Suhardi HW, M.T Pembimbing I yang telah membantu pikiran serta membimbing dengan sabar sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.
x
memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengadakan penelitian disekolahnya.
7. Keluarga besar PTM 2006.
Tidak ada kebenaran yang mutlak dari manusia, kebenaran mutlak hanya datang dari Allah SWT, maka penulis menyadari banyak kekurangan baik secara kualitas ataupun aspek lainnya walaupun penulis telah berusaha secara optimal. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan. Semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan masyarakat umumnya.
Sukoharjo, Januari 2010
xi
HALAMAN PENGESAHAN... iv
HALAMAN ABSTRAK... v
HALAMAN MOTTO ... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI... x
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR TABEL... xiv
DAFTAR LAMPIRAN... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Perumusan Masalah... 4
C. Tujuan Penelitian... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka ... 6
1. Ujian Teori Kejuruan... 6
a. Pengertian Ujian ... 6
b. Pengertian Teori Kejuruan... 7
c. Ujian Teori Kejuruan... 7
d. Analisis Kajian Isi Soal Ujian Teori Kejuruan Tahun 2009... 8
2. Kesiapan Guru... 15
3. Kesiapan Siswa ... 16
B. Kerangka Berpikir... 17
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 21
xii
E. Teknik Pengumpulan Data... 24
1. Tes Soal... 24
2. Dokumenter... 28
3. Wawancara... 29
4. Observasi... 32
F. Teknik Analisis Data... 33
1. Teknik Analisis Data Hasil Tes Soal... 35
2. Teknik Analisis Data Hasil Pengumpulan Dokumen... 36
3. Teknik Analisis Data Hasil Wawancara... 37
4. Teknik Analisis Data Hasil Observasi ... 37
G. Validitas Data... 37
H. Prosedur Penelitian ... 38
BAB IV. HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 40
B. Deskripsi Permasalahan Penelitian ... 40
C. Temuan Studi yang Dihubungkan Dengan Kajian Teori... 43
1. Hasil Analisis Metode Dokumenter... 44
2. Hasil Analisis Hasil Observasi... 46
3. Hasil Analisis Tes Soal ... 54
4. Hasil Pengumpulan Dokumen Siswa... 73
5. Hasil Analisis Wawancara Siswa... 73
BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan ... 77
B. Implikasi... 77
C. Saran... 78 DAFTAR PUSTAKA
xiii Gambar 3. Grafik Histogram Pencapaian
xiv
Tabel 3. Hasil Tes Soal Ujian Teori Kejuruan... 70 Tabel 4. Hasil Wawancara Dengan Siswa... 73
xv
Lampiran 3. Hasil Output ITEMAN... 113
Lampiran 4. Instrumen Soal... 127
Lampiran 5. RPP Guru... 136
Lampiran 6. Materi guru... 139
Lampiran 7. Hasil Observasi guru... 148
Lampiran 8. Nilai Siswa Hasil Tes UTK... 149
Lampiran 9. Hasil Wawancara Siswa... 150
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Persaingan antar bangsa yang begitu ketat dalam era globalisasi ini menuntut kemajuan dalam berbagai bidang. Bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), ekonomi, pertahanan keamanan, pendidikan, dan lain sebagainya. Demikian juga dengan bangsa Indonesia harus mampu mengikuti dan memenuhi tuntutan zaman serta mengambil peran dalam percaturan dunia demi mempertahankan kelangsungan bangsa. Dipercepatnya Millenium Development Goals atau era pasar bebas yang semula dicanangkan tahun 2020 dipercepat menjadi 2015 juga semakin menuntut manusia Indonesia pada khususnya dalam menyongsong era tersebut. Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi yang diharapkan ikut andil dalam persaingan dan percaturan dunia ini. Upaya-upaya untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) sudah semestinya di usahakan setiap bangsa. Pendidikan merupakan pilar utama bangsa dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkualitas. Dengan pendidikan, diharapkan SDM yang tinggi yang mampu membawa perubahan yang lebih baik pada bangsa Indonesia ini.
Fungsi dan tujuan pendidikan nasional di Indonesia yang tercantum dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 yang menyatakan: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Ada beberapa macam jenis pendidikan di Indonesia, seperti tercantum dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 15 menyatakan: “Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus”. Jenis pendidikan kejuruan di
Indonesia adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK merupakan wahana pendidikan di Indonesia yang yang mencetak lulusan tenaga siap pakai serta memiliki keahlian dan keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyiapkan siswanya menjadi tenaga kerja yang memiliki pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude) pada jenis pekerjaan tertentu. Sebagai landasannya adalah PP 29 tahun 1990 tentang pendidikan menengah Bab I Pasal 1 poin 3 yang menyatakan “Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu”.
Sampai saat ini pemerintah telah melaksanakan berbagai macam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Berbagai upaya tersebut antara lain, pengembangan kurikulum, perbaikan kompetensi guru, sertifikasi guru dan dosen, peningkatan kualitas lulusan dengan menaikkan standar kelulusan dan lain sebagainya. Pada jenis pendidikan kejuruan atau SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas lulusan selain dengan menaikkan nilai standar kelulusan juga menambah jumlah mata pelajaran dalam Ujian Nasional (UN). Pada tahun 2008, ada 4 mata pelajaran yang diujikan secara nasioanal, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan ujian praktek kejuruan atau Uji Kompetensi Keahlian (UKK). Akan tetapi, pada tahun 2009 ada tambahan mata pelajaran,yakni Ujian Teori Kejuruan (UTK).
Ujian Teori Kejuruan (UTK) merupakan upaya pemerintah dalam menaikkan kompetensi lulusan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) agar lebih siap pakai dalam dunia kerja. Untuk melaksanakan praktek siswa juga harus menguasai teori. Furqon, anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), menjelaskan adanya tambahan ujian dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) SMK, yakni Teori Kejuruan sudah merupakan keputusan BSNP dan Direktorat SMK Depdiknas. Pasalnya, dalam standar kelulusan yang ada, penguasaan teori kejuruan harus dipahami betul oleh siswa, bukan sekadar praktik sebagaimana dikutip dari www.kompas.com. Dalam penilaian, Ujian Teori Kejuruan (UTK) terpisah dengan nilai ujian praktek kejuruan, tidak ada penggabungan nilai teori
dan praktik kejuruan. Karena itu, penguasaan kompetensi keahlian baik secara teori dan praktik bagi siswa SMK sama pentingnya.
Ujian Teori Kejuruan dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas lulusan siswa SMK. Tanpa adanya ujian kejuruan tidak akan mengena tujuan pembelajaran, jika hanya 3 mata pelajaran yang diujikan untuk siswa SMK dalam Ujian Nasional (UN) yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matenatika maka output SMK tidak akan diketahui kemampuan tekniknya berdasarkan kejuruan masing-masing. Ketiga mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN) tersebut hanya mengukur kemampuan output SMK dalam bidang umum.
PP 29 tahun 1990 tentang pendidikan menengah Bab I Pasal 1 poin 3 menyatakan “Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu”, oleh karena itu perlu adanya suatu evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa dalam melaksanakan jenis pekerjaan tertentu dalam bidangnya masin-masing sesuai kejuruan, sehingga adanya Ujian Teori Kejuruan merupakan langkah pemerintah yang tepat untuk meningkatkan kualitas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan, dengan adanya Ujian Kompetensi Keahlian khususnya Ujian Teori Kejuruan maka dapat dilihat seberapa tinggi kualitas lulusan SMK dalam bidang teknik sesuai kejuruan masing-masing dan menambah mutu lulusan Sekolah Menengah Kejuruan.
Dalam menyiapkan siswa untuk menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK), guru harus mampu memberikan materi dan wawasan yang luas mengenai teori dari mata pelajran produktif dan menyampaikan semua materi berdasarkan standar kompetensi lulusan yang ada serta memberikan referensi-referensi yang akurat dan terbaru. Penguasan materi oleh siswa sebagian besar ditentukan oleh andil guru. Disisi lain, dari faktor siswa juga harus siap. Penguasaan materi sangat penting bagi siswa dalam praktek maupun dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK). Seiring bertambahnya tugas guru tersebut dan bertambahnya beban siswa maka praktis guru dan siswa harus memiliki kesiapan yang tinggi dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK).
Kualitas guru di Indonesia belum merata pada masing-masing daerah. Apalagi Ujian Teori Kejuruan (UTK) baru menjadi ujian nasional pada tahun 2009. Intinya sekolah swasta di kabupaten atau daerah-daerah terpencil tentunya akan tertinggal dari segi kualitas guru, alat praktek, dan sarana prasarana yang mendukung pembelajaran khususnya pembelajaran otomotif, sehingga pemberian materi otomotifnya kurang yang berkenaan dengan Ujian Teori Kejuruan. Berbeda dengan kabupaten atau daerah maju, dalam hal ini sebagai misal adalah karesidenan Surakarta, yaitu SMK Negeri 2 Surakarta dimana kualitas, alat praktek, dan sarana prasarananya sangat lengkap dan mendukung pembelajaran otomotif khususnya, sehingga pemberian materi otomotif yang berkenaan dengan Ujian Teori Kejuruan akan dapat memadai dan lebih dapat mempersiapkan siswanya dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan.
Memang dapat diakui bahwa Ujian Teori Kejuruan (UTK) memiliki maksud dan tujuan yang baik demi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, tetapi perlu juga diperhatikan bagaimanakah kesiapan guru dan siswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana kesiapan guru dan siswa dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan.
Berdasarkan dari uraian diatas, maka diangkat judul penelitian sebagai berikut: ”Kesiapan Guru dan Siswa Dalam Menghadapi Ujian Teori Kejuruan Progam Keahlian Teknik Mekanik Otomotif Studi Kasus di SMK N 2 Surakarta”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan hal-hal yang diuraikan dalam latar belakang masalah tersebut maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kesiapan guru Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2 Surakarta dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK)? 2. Bagaimanakah kesiapan siswa Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif
C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Kesiapan guru Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2 Surakarta dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK).
2. Kesiapan siswa Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2 Surakarta dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK).
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Praktis:
a. Bagi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Surakarta, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tentang kesiapan guru dan siswa progam keahlian teknik mekanik otomotif SMK Negeri 2 Surakarta dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK).
b. Bagi guru Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2 Surakarta, penelitian ini diharapkan mampu memberikan evaluasi terhadap hal-hal yang telah diusahakan oleh guru dalam mempersiapkan siswanya dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK).
c. Bagi siswa Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2 Surakarta, penelitian ini diharapkan mampu memberikan evaluasi terhadap hal-hal yang telah diusahakan oleh siswa dalam mempersiapkan dirinya dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK).
2. Manfaat Teoretis:
a. Sebagai masukan untuk mendukung dasar teori bagi penelitian yang sejenis dan relevan.
b. Sebagai bahan pustaka bagi mahasiswa Progam Pendidikan Teknik Mesin, Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
6 BAB II
LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka
1. Ujian Teori Kejuruan a. Pengertian Ujian
Ujian merupakan salah satu komponen penting dalam pendidikan. Istilah lain dari ujian dalam dunia pendidikan adalah evaluasi. Evaluasi dijadikan dasar penilaian dalam mengukur suatu keberhasilan suatu pembelajaran.
Terdapat beberapa tafsiran evaluasi menurut Roestiyah sebagaimana dikutip dari Slameto (1988:6) berikut:
1. Evaluasi adalah proses memahami atau memberi arti, mendapatkan dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi petunjuk pihak-pihak pengambil keputusan.
2. Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa, guna mengetahui sebab-akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.
3. Dalam rangka pengembangan sistem instruksional, evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk menilai seberapa jauh program telah berjalan seperti yang telah direncanakan.
4. Evaluasi adalah suatu alat untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan apakah proses dalam pengembangan ilmu telah berada di jalan yang diharapkan.
Di dalam evaluasi terdapat beberapa ciri-ciri seperti yang diungkapkan Slameto (1988:5) berikut:
1. Mengukur perubahan.
2. Adanya bukti yang dikumpulkan sebagai dasar penilaian dan evaluasinya. 3. Pengukuran terhadap bukti-bukti yang dideskripsikan itu. Pengukuran ini
bersifat kauntitatif. Hasil pengukuran ini disebut skor (score).
untuk mengetahui kualitas sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia,1989). Dalam KBBI ujian mempunyai arti sesuatu yang dipakai untuk menguji mutu sesuatu (kepandaian, kecakapan, hasil belajar, dsb).
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa ujian adalah evaluasi akhir untuk memperoleh hasil dari proses pembelajaran sebagai pengukuran berhasil dan tidaknya proses pembelajaran, serta untuk menentukan apakah tujuan pendidikan telah tercapai seperti apa yang diharapkan.
b. Pengertian Teori Kejuruan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teori mempunyai arti pendapat, cara, dan aturan untuk melakukan sesuatu. Kejuruan mempunyai arti kepandaian khusus atau keterampilan.
Dalam dunia pendidikan khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pengertian dari Teori Kejuruan ialah teori atau mata pelajaran teori yang bersifat kejuruan atau mata pelajaran produktif.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa teori kejuruan adalah mata pelajaran teori yang bersifat kejuruan dimana pelajaran ini mendukung praktek keahlian kejuruan.
c. Ujian Teori Kejuruan
Dalam dunia pendidikan SMK terdapat Uji Kompetensi Keahlian (UKK). Dalam UKK tersebut terdapat dua ujian,yakni Ujian Praktik Kejuruan dan Ujian Teori Kejuruan. Ujian Teori Kejuruan (UTK) merupakan ujian baru bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). UTK ini diberlakukan secara nasional mulai tahun ajaran 2009. Palaksanaan UTK beriringan dengan Ujian Praktik Kejuruan karena keduanya masih dalam bingkai Uji Kompetensi Kejuruan (UKK).
Ujian Teori Kejuruan (UTK) dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Ujian ini sudah menjadi keputusan BSNP dan direktorat SMK Depdiknas.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Ujian Teori Kejuruan adalah Ujian Nasional yang di khususkan untuk SMK, ujian ini menjadi salah satu penentu kelulusan dalam Ujian Nasional.
d. Analisis Kajian Isi Soal Ujian Teori Kejuruan Tahun 2009
Untuk mengetahui kompetensi yang diujikan dalam Ujian Teori Kejuruan tahun 2009 maka dilakukan analisis terhadap butir soal dari soal ujian tersebut berdasarkan kisi-kisi UTK tahun 2009. Untuk kisi-kisi dan soal UTK tahun 2009 terlampir dalam lampiran 1. Berikut adalah hasil kajian dari 40 butir soal tersebut: Butir soal nomor 1 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem suspensi. Materi pokok dalam soal ini adalah fungsi pegas suspensi. Kemampuan yang diujikan pada soal ini ialah menjelaskan fungsi pegas suspensi, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi pegas suspensi.
Butir soal nomor 2 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem suspensi. Materi pokok dalam soal ini adalah menyebutkan nama-nama komponen suspensi depan. Kemampuan yang diujikan adalah menjelaskan komponen-komponen suspensi depan, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan nama-nama komponen suspensi depan.
Butir soal nomor 3 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem pendingin. Materi pokok dalam soal ini adalah alat pengukur tegangan tali kipas radiator. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan alat pemeriksa tegangan tali kipas radiator, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan alat pemeriksa tegangan tali kipas radiator.
Butir soal nomor 4 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem bahan bakar motor bensin. Materi pokok dalam soal ini adalah saluran bahan bakar kecepatan menengah/tinggi pada karburator. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan saluran bahan bakar kecepatan menengah/tinggi pada karburator, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan saluran bahan bakar kecepatan menengah/tinggi pada karburator.
Butir soal nomor 5 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis geometri roda. Materi pokok dalam soal ini adalah pembacaan kode ban. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan pembacaan kode ban, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan pembacaan kode ban.
Butir soal nomor 6 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis geometri roda. Materi pokok dalam soal ini adalah sudut camber pada Front Wheel Alignment (FWA). Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan sudut camber pada Front Wheel Alignment (FWA), indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan sudut camber pada Front Wheel Alignment (FWA).
Butir soal nomor 7 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem pendingin. Materi pokok dalam soal ini adalah fungsi vacum valve pada tutup radiator. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan fungsi vacuum valve pada tutup radiator, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi vacum valve pada radiator.
Butir soal nomor 8 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis poros penggerak roda. Materi pokok dalam soal ini adalah poros penggerak roda belakang tipe semi floating. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan jenis poros penggerak roda belakang tipe semi floating, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan poros penggerak roda belakang tipe semi floating.
Butir soal nomor 9 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem bahan bakar motor diesel. Materi pokok dalam soal ini adalah fungsi plunger pada pompa injeksi. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan fungsi plunger pada pompa injeksi, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi plunger pada pompa injeksi.
Butir soal nomor 10 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis unit kopling dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah nama komponen-komponen rumah kopling. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan nama komponen-komponen rumah kopling, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan nama komponen-komponen rumah kopling.
Butir soal nomor 11 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan menguji, memelihara/menservis baterai. Materi pokok dalam soal ini adalah penghitungan kapasitas baterai. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah
menjelaskan penghitungan kapasitas baterai, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan penghitungan kapasitas baterai.
Butir soal nomor 12 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara sistem pengapian konvensional. Materi pokok dalam soal ini adalah rangkaian sistem pengapian konvensional Kompetensi yang diujikan adalah menjelaskan rangkaian sistem pengapian konvensional, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan rangkaian sistem pengapian konvensional.
Butir soal nomor 13 merupakan soal dengan kompetensi lulusan memelihara sistem pengapiam konvensional. Materi pokok dalam soal ini adalah cara mengatasi pengapian lebih lambat dari spesifikasi. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan cara mengatasi pengapian lambat, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan cara mengatasi pengapian lambat.
Butir soal nomor 14 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara rangkaian sistem kelistrikan bodi. Materi pokok dalam soal ini adalah cara menghitung kuat arus pada rangkaian kelistrikan. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan cara menghitung kuat arus pada rangkaian kelistrikan, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan cara menghitung kuat arus pada rangkaian kelistrikan.
Butir soal nomor 15 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem starter. Materi pokok dalam soal ini adalah fungsi komponen pada motor starter. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan fungsi komponen pada motor starter, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi komponen pada motor starter.
Butir soal nomor 16 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memperbaiki rangkaian sistem kelistrikan body. Materi pokok dalam soal ini adalah rangkaian lampu kepala. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan rangkaian lampu kepala, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan cara merangkai lampu kepala yang benar.
Butir soal nomor 17 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem starter. Materi pokok dalam soal ini adalah cara pemerikasaan komponen motor starter. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini
adalah menjelaskan cara pemerikasaan komponen motor starter, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan cara pemerikasaan komponen motor starter.
Butir soal nomor 18 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem Air Condition (AC) mobil. Materi pokoknya adalah fungsi kerja komponen sistem AC. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan fungsi kerja komponen sistem AC, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi kerja komponen sistem AC.
Butir soal nomor 19 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem Air Condition (AC) mobil. Materi pokok dalam soal ini adalah fungsi kerja komponen sistem AC. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan fungsi kerja komponen sistem AC, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi kerja komponen sistem AC.
Butir soal nomor 20 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis engine dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah mendiagnosa mesin lambat mencapai suhu normal. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah mendiagnosa mesin lambat mencapai suhu normal, indikatornya adalah siswa dapat mendiagnosa mesin lambat mencapai suhu normal.
Butir soal nomor 21 merupakan soal dengan satandar kompetensi lulusan memelihara/menservis engine dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah proses kerja langkah torak pada pada motor 4 tak. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan proses kerja langkah torak pada pada motor 4 tak, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan proses kerja langkah torak pada pada motor 4 tak.
Butir soal nomor 22 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem pengisian. Materi pokok dalam soal ini adalah fungsi komponen altenator. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan fungsi komponen altenator, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi komponen altenator.
Butir soal nomor 23 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem bahan bakar motor bensin. Materi pokok dalam soal
ini adalah sistem tenaga (power circuit) pada karburator. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan sistem tenaga (power circuit) pada karburator, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan sistem tenaga (power circuit) pada karburator.
Butir soal nomor 24 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis engine dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah alat pengukur kerataan kepala silinder. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan alat pengukur kerataan kepala silinder, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan alat pengukur kerataan kepala silinder.
Butir soal nomor 25 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis engine dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah cara mengukur keovalan poros engkol. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan cara mengukur keovalan poros engkol, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan cara mengukur keovalan poros engkol.
Butir soal nomor 26 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem injeksi bahan bakar elektronik (EFI). Materi pokok dalam soal ini adalah fungsi oxygen sensor. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan fungsi oxygen sensor, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi oxygen sensor.
Butir soal nomor 27 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem injeksi bahan bakar elektronik (EFI). Materi pokok dalam soal ini adalah komponen pendeteksi jumlah udara masuk pada EFI tipe D. Kemampuan yang diuji dalam soal ini adalah menjelaskan komponen pendeteksi jumlah udara masuk pada EFI tipe D, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan komponen pendeteksi jumlah udara masuk pada EFI tipe D.
Butir soal nomor 28 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis unit kopling dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah penyetelan tuas pembebas (release lever). Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan penyetelan tuas pembebas
(release lever), indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan penyetelan tuas pembebas (release lever).
Butir soal nomor 29 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis unit kopling dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah prinsip kerja kopling hidrolik. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan prinsip kerja kopling hidrolik, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan prinsip kerja kopling hidrolik.
Butir soal nomor 30 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem bahan bakar motor diesel. Materi pokok dalam soal ini adalah komponen pengatur pemajuan waktu injeksi. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan komponen pengatur pemajuan waktu injeksi, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan komponen pengatur pemajuan waktu injeksi.
Butir soal nomor 31 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem bahan bakar motor diesel. Materi pokok dalam soal ini adalah alur kerja aliran bahan bakar pada motor diesel. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan alur kerja aliran bahan bakar pada motor diesel, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan alur kerja aliran bahan bakar pada motor diesel.
Butir soal nomor 32 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis transmisi manual. Materi pokok dalam soal ini adalah komponen-komponen roda gigi syncronmess. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan komponen-komponen roda gigi syncronmess, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan komponen-komponen roda gigi syncronmess.
Butir soal nomor 33 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis transmisi manual. Materi pokok dalam soal ini adalah perbandingan putaran roda gigi transmisi. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan perbandingan putaran roda gigi transmisi, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan perbandingan putaran roda gigi transmisi.
Butir soal nomor 34 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis unit final drive/differential (garden). Materi pokok dalam soal ini adalah fungsi komponen pada differential. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan fungsi komponen pada differential, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi komponen pada differential.
Butir soal nomor 35 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis unit final drive/differential (gardan). Materi pokok dalam soal ini adalah pemeriksaan roda gigi differential. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan pemeriksaan roda gigi differential, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan pemeriksaan roda gigi differential.
Butir soal nomor 36 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem rem dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah fungsi komponen sistem rem cakram. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan fungsi komponen sistem rem cakram, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi komponen sistem rem cakram.
Butir soal nomor 37 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem rem dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah fungsi sistem rem. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan fungsi sistem rem, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan fungsi sistem rem.
Butir soal nomor 38 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem kemudi dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah prinsip kerja sistem hidrolik pada power steering. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan prinsip kerja sistem hidrolik pada power steering, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan prinsip kerja sistem hidrolik pada power steering.
Butir soal nomor 39 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis sistem kemudi dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah komponen-komponen steering linkage. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan komponen-komponen steering
linkage, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan komponen-komponen steering linkage.
Butir soal nomor 40 merupakan soal dengan standar kompetensi lulusan memelihara/menservis engine dan komponen-komponennya. Materi pokok dalam soal ini adalah cara overhaul batang torak. Kemampuan yang diujikan dalam soal ini adalah menjelaskan cara overhaul batang torak, indikatornya adalah siswa dapat menjelaskan cara overhaul batang torak.
2. Kesiapan Guru
Guru merupakan faktor penting yang memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pembelajaran dan hasil ujian. Apabila guru tidak melaksanakan tugasnya dengan baik maka tidak akan diperoleh hasil yang memuaskan.
Oemar Hamalik (2003: 43) berpendapat bahwa ”Para siswa tidak mungkin belajar sendiri tanpa bimbingan guru yang mampu mengemban tugasnya dengan baik. Kendatipun dewasa ini konsep CBSA telah banyak dikumandangkan dan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar di sekolah, namun guru tetap menempati kedudukan tersendiri. Pada hakikatnya para siswa hanya mungkin belajar dengan baik jika guru telah mempersiapkan lingkungan positif bagi mereka untuk belajar”.
Khusus untuk guru pada sekolah kejuruan, yakni otomotif harus memiliki kemampuan atau kompeten dalam bidang praktek, bagaimanapun juga teori tidak akan lepas dari praktek. Jika guru menguasai praktek tentunya akan lebih mudah menyampaikan materi pada peserta didiknya, akan lebih mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang berkenaan dengan teori kejuruan dan akan lebih mudah memberikan pemahaman kepada siswa termasuk mengulas materi-materi dasar sebagai bahan dasar teori kejuruan agar siswanya lebih siap dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan.
Menurut Mulyasa (2004: 138) ”Kesiapan (readness) yaitu suatu kemampuan untuk berformasi dalam melaksanakan tugas tertentu sesuai dengan tuntutan situasi yang dihadapi”. Slameto (2003: 113) juga menerangkan ”Kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuat siap untuk memberikan respon/jawaban didalam cara-cara tertentu terhadap suatu situasi”. Seseorang akan mampu untuk menjawab dan memberikan respon dalam kondisi
tertentu jika ia dalam keadaan siap. Dengan demikian, agar Ujian Teori Kejuruan dapat berhasil dengan baik maka diperlukan peran dan andil besar dari guru selaku tokoh yang langsung berhubungan dengan siswa.
Agar siap dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan guru SMK khususnya guru otomotif harus menyampaikan semua materi yang berkenaan dengan Ujian Teori Kejuruan. Disamping itu guru otomotif harus pandai-pandai mengkondisikan proses belajar mengajar agar siswa juga dapat menerima pelajaran dengan baik, memberi semangat dan membangkitkan motivasi siswa untuk belajar materi yang berkanaan dengan Ujian Nasional khususnya Ujian Teori Kejuruan. Guru yang siap adalah guru yang sudah menyampaikan semua Standar Kompetensi Lulusan yang diujikan dalam Ujian Teori Kejuruan kepada siswa.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kesiapan guru adalah kesiapan dalam menyampaikan seluruh materi dalam standar kompetensi lulusan yang diujikan dalam Ujian Teori Kejuruan dan mampu menciptakan kondisi proses belajar mengajar yang positif.
3. Kesiapan Siswa
Siswa merupakan subyek pelaksana dari Ujian Teori Kejuruan (UTK). Penentu keberhasilan UTK adalah siswa itu sendiri. Oleh karena itu, siwa harus memiliki kesiapan yang tinggi baik sebelum pelaksanaan UTK maupun pada saat ujian berlangsung. Kesiapan siswa dipengaruhi kesiapan guru yang berperan sebagai fasilitator dalam belajar. Keduanya saling berkaitan dalam keberhasilan UTK.
Untuk dapat mengerjakan soal-soal Ujian Teori Kejuruan siswa harus mempunyai kesiapan dari segi materi. Materi yang dimaksud adalah materi mata pelajaran produktif Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif berdasarkan standar kompetensi lulusan yang diujikan dalam Ujain Teori Kejuruan. Berikut adalah 20 standar kompetensi lulusan tersebut:
1. Menggunakan alat-alat ukur (measuring tools).
3. Memelihara/servis sistem bahan bakar bensin. 4. Memperbaiki sistem injeksi bahan bakar diesel.
5. Memelihara/servis engine dan komponen-komponennya.
6. Memperbaiki unit kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasian. 7. Memelihara transmisi.
8. Memelihara unit final drive/gardan. 9. Memperbaiki poros penggerak roda. 10. Memperbaiki roda dan ban.
11. Memperbaiki sistem rem. 12. Memperbaiki sistem kemudi. 13. Memperbaiki sistem suspensi. 14. Memelihara baterai.
15. Memperbaiki kerusakan ringan pada rangkaian/ sistem kelistrikan, pengaman dan kelengkapan tambahan.
16. Memperbaiki sistem pengapian. 17. Memperbaiki sistem starter. 18. Memperbaiki sistem pengisian.
19. Memelihara/servis sistem AC (Air Conditioner). 20. Merawat/servis ringan mesin EFI.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kesiapan siswa adalah kesiapan dari segi materi berdasarkan standar kompetensi lulusan yang diujikan dalam Ujian Teori Kejuruan.
B. Kerangka Berpikir
Ujian terbaru yang dikeluarkan pemerintah untuk siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah Ujian Teori Kejuruan (UTK). UTK sebagai bagian dari UKK (Uji Kompetensi Kejuruan) menjadi Ujian Nasional mulai tahun ajaran 2009.
Dalam proses belajar mengajar terutama dalam menyiapkan siswa untuk menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK) diperlukan kesinergisan antar berbagai komponen antara lain, guru, proses pembelajaran, dan siswa.
Kompone-komponen tersebut harus saling mendukung demi tercapainya hasil yang memuaskan dalam UTK.
Dalam kurikulum terbaru yakni KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) pembelajaran dipusatkan kepada siswa dan guru lebih bertindak sebagai fasilitator pembelajaran yang memberi kemudahan bagi siswa dalam belajar. Pembelajaran yang dilakukan harus melibatkan peserta didik dengan intensitas yang lebih tinggi demi tercapainya kompetensi bagi masing-masing peserta didik.
Guru merupakan perangkat yang dijadikan fasilitator dalam proses pembelajaran dan merupakan tokoh utama yang berhubungan langsung dengan siswa. Siswa merupakan subyek pelaksana dalam Ujian Teori Kejuruan. Berhasil dan tidaknya UTK tersebut berpangkal pada siswa kerena sesungguhnya guru hanya menyiapkan siswa agar mampu menghadapi UTK, disamping siswa sendiri harus siap menghadapi UTK tersebut.
Materi yang diujikan dalam Ujian Teori Kejuruan cukup banyak yakni dari kelas X sampai dengan kelas XII maka guru perlu mengungkap atau mengulas kembali serta melakukan pendalaman materi-materi yang terdahulu maupun materi yang sedang diajarkan sekarang untuk menyiapkan siswanya dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan dan menyampakan setidaknya semua materi berdasarkan standar kompetensi lulusan yang diujikan dalam Ujian Teori Kejuruan kepada siswa baik materi praktek maupun materi teori kejuruan. Disamping itu siswa juga harus mempelajari materi yang telah diajarkan maupun materi yang sedang diajarkan, melengkapi materi yang diberikan oleh guru, dan belajar lebih dini bahan materi pelajaran yang digunakan dalam Ujian Teori Kejuruan.
Mengingat tugas dan beban guru tersebut maka guru progam keahlian teknik mekanik otomotif dituntut untuk menyampaikan seluruh materi setidaknya materi dalam standar kompetensi lulusan yang diujikan dalam Ujian Teori Kejuruan. Guru dituntut untuk dapat berpikir kreatif, berinovasi, dan berkreasi untuk menciptakan hal baru dalam mendukung siswa belajar aktif. Siswa juga dituntut untuk lebih kreatif dan mandiri dalam belajar. Oleh karena itu, penulis
merasa perlu untuk mengetahui bagaimanakah kesiapan guru dan siswa progam keahlian teknik mekanik otomotif dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan (UTK).
Keberhasilan Ujian Teori Kejuruan terletak pada guru dan siswa, guru dilihat dari kesiapannya yakni sejauh mana materi kompetensi kejuruan disampaiakan dan siswa dilihat dari sampai mana materi kompetensi kejuruan di dperoleh. Hasil dari Ujian Teori Kejuruan ini dikatakan berhasil jika hasilnya memenuhi target, yakni semua siswa lulus Ujian Nasioanal khususnya Ujian Teori Kejuruan. Jika hasil dari Ujian Teori Kejuruan ialah non-target maka hasil ini dapat dikatakan tidak berhasil, untuk itu dapat ditinjau kembali dimana kekurangan atau letak kesalahannya, dapat ditinjau dari kesiapan guru atau kesiapan siswa, dapat ditinjau dari faktor guru atau siswa sendiri, dan dapat juga ditinjau dari Ujian Teori Kejuruan itu sendiri.
Untuk keperluan penelitian, perlu digambarkan skema / kerangka berpikir sebagai berikut:
20 UJIAN TEORI KEJURUAN (UTK) SISWA HASIL KESIAPAN SISWA KESIAPAN GURU GURU TARGET NON TARGET
21 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakaukan di SMK Negeri 2 Surakarta yang berdomisili di Jalan L.U. Adi Sucipto Nomor 33 Surakarta. Adapun subjek penelitiannya adalah guru produktif program keahlian teknik mekanik otomotif dan siswa kelas XII program keahlian teknik mekanik otomotif dari sekolah tersebut.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan bulan Agustus 2009 sampai dengan Januari 2010. Rincian alokasi waktu kegiatan penelitian adalah sebagai berikut:
Seminar proposal : 21 Agustus 2009
Perijinan : 9 September – 3 Oktober 2009 Penelitian : 3 Oktober 2009 – 3 Januari 2010
B. Bentuk Dan Strategi Penelitian
Penelitian ini digolongkan dalam jenis penelitian kualitatif, sedangkan metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus.
Nana Syaodih Sukmadinata (2006 : 95) mengemukakan bahwa “penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau persepektif partisipan. Partisipan adalah orang-orang yang diajak wawancara, di observasi, dimintai memberikan data, pendapat, pemikiran, persepsinya. Pemahaman diperoleh melalui analisis berbagai keterkaitan dari partisipan, dan melalui penguraian ’pemaknaan partisipan’ tentang situasi-situasi dan peristiwa. Pemaknaan partisipan meliputi perasaan, keyakinan, ide-ide, pemkiran dan kegiatan dari partisipan.”
Nana Syaodih Sukmadinata (2006 : 72) menyatakan bahwa ”Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang paling dasar. Ditujukan untuk mendekripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenonema yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia”. Fenomena dalam hal ini adalah adanya Ujian Teori Kejuruan, karena Ujian Teori Kejuruan menjadi
Ujian Nasional mulai tahun 2009. Sesuai dalam penelitian ini partisipannya adalah guru dan siswa, karena guru dan siswa merupakan subyek yang berhubungan langsung dengan Ujian Teori Kejuruan, guru mempersiapkan siswanya dan siswa mempersiapkan dirinya dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan tersebut. Penelitian ini mengungkap sampai manakah kesiapan guru dan kesiapan siswa dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan dilihat dari persepektif guru dan siswa yang dalam hal ini sebagai partisipan.
Nana Syaodih Sukmadinata (2006 : 61) mengemukakan bahwa ”Penelitin kualitatif mempunyai dua tujuan utama, yaitu pertama, menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore) dan kedua menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain). Penelitian ini bermaksud untuk melakukan penyelidikan dengan menggambarkan dan memaparkan keadaan subjek peneliti pada saat sekarang.
Penelitian ini akan menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore) kesiapan guru dan siswa dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan pada saat sekarang berdasarkan fakta yang ditemukan serta mengungkap dan menjelaskan (to describe and explain) apa saja temuan lain dalam penelitian ini hubungannya dengan Ujian Teori Kejuruan berdasarkan fakta yang tampak atau sebagaimana mestinya yang akan di deskripsikan dalam bentuk kata-kata sebagaimana. Lexy J. Moleong (2007 : 4) ”...Bogdan dan Taylor (1975: 5) mendefinisikan metodologi kualitataif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati”
Nana Syaodih Sukmadinata (2006 : 77) mendefinisikan bahwa ”Studi kasus (case study) merupakan metode untuk menghimpun dan menganalisis data berkenaan dengan sesuatu kasus. Sesuatu dijadikan kasus biasanya karena ada masalah, kesulitan, hambatan, penyimpangan, tetapi bisa juga sesuatu dijadikan kasus meskipun tidak ada masalah, malahan dijadikan karena keunggulan atau keberhasilannya.
Nana Syaodih Sukmadinata (2006 : 99) juga mengemukakan bahwa ”Penelitian kulitatif menggunakan desain penelitian studi kasus dalam arti penelitian difokuskan pada satu fenomena saja yang dipilih dan ingin dipahami secara mendalam, dengan mengabaikan fenomena-fenomena lainnya”. Strategi atau desain dalam penelitian ini menggunakan desain studi kasus, studi kasus di
SMK Negeri 2 Surakarta. Penelitian ini difokuskan pada kesiapan guru dan siswa dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan dilihat dari sisi materi yang ingin dipahami secara mendalam.
C. Sumber Data
Sumber data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
1. Informan atau narasumber yaitu guru produktif Progam Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2 Surakarta. Data yang diambil dari guru adalah:
a. RPP mengajar guru.
b. Catatan atau materi print out dari guru untuk siswa. c. Observasi mengajar guru.
2. Informan atau narasumber yaitu siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SMK Negeri 2 Surakarta. Data yang diambil dari siswa adalah:
a. Kemampuan mengerjakan soal tes Ujian Teori Kejuruan. b. Catatan atau materi print out dari guru.
c. Wawancara.
D. Teknik Sampling
Populasi dalam penelitian ini adalah guru-guru produktif progam keahlian teknik mekanik otomotif SMK Negeri 2 Surakarta dan siswa kelas XII progam keahlian teknik mekanik otomotif dari sekolah tersebut. Dalam penelitian ini peneliti meneliti beberapa guru dan siswa dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling.
Purposive sampling (sampel bertujuan), yaitu sampel diambil tidak ditekankan pada jumlah, melainkan ditekankan pada kekayaan informasi yang dimiliki anggota sampel sebagai sumber data. Cara pengambilan sampel didasarkan pada karakteristik-karakteristik tertentu yang dimiliki sampel sesuai dengan tujuan penelitian.
Nana Syaodih Sukmadinata (2006 : 101) mengemukakan bahwa ”Sampel ini memfokuskan pada informan-informan terpilih yang kaya dengan kasus untuk studi yang bersifat mendalam. Dengan perkataan lain sampel tersebut dipilih karena memang menjadi sumber dan kaya dengan informasi tentang fenomena yang ingin diteliti”.
Dalam penelitian ini untuk guru diambil 6 sampel dan siswa diambil 4 sampel, akan tetapi untuk pengerjaan soal yang serupa dengan Ujian Nasional Teori Kejuruan dikenakan pada seluruh populasi siswa.
E. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah suatu cara yang dilakukan untuk memperoleh data dalam penelitian. Menurut Goetz & LeCompte (1984) sebagaimana dikutip dari H.B Sutopo (2002 : 58) teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif secara umum dapat dikelompokkan dalam dua jenis cara, yaitu teknik pengumpulan data yang bersifat interaktif dan non interaktif. Metode interaktif meliputi wawancara mendalam dan observasi berperan serta, karena dalam kedua metode ini mungkin terjadi saling mempengaruhi antara peneliti dengan sumber datanya. Metode non interaktif meliputi kuesioner, mencatat dokumen atau arsip, serta observasi tak berperan serta, karena dalam ketiga metode ini sama sekali tidak ada pengaruh antara peneliti dengan sumber datanya. Sesuai dengan pendekatan penelitian kualitatif dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini maka maka pengambilan data disesuaikan dengan tempat, kondisi, dan waktu maka metode pengumpulan data yang digunakan antara lain:
1. Tes Soal
Soal adalah suatu pertanyaan yang harus dijawab, soal biasa disebut dengan tes. “Tes berasal dari kata testum suatu pengertian dalam bahasa Prancis kuno yang berarti untuk menyisihkan logam-logam mulia” (Suharsimi Arikunto, 2002: 52). Selanjutnya Suharsimi Arikunto mengungkapkan arti tes sendiri adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara atau aturan-aturan yang ditentukan (2002: 53). Penggunaan soal ini dilandasi karena peneliti ingin mendapatkan data yang banyak dalam waktu yang singkat sehingga dapat diperoleh data garis besar
sebagai gambaran umum. Metode soal dalam penelitian ini tidak dimaksudkan untuk membuat sistem penilaian dengan kelompok angka melainkan akan dideskripsikan hasilnya dalam bentuk kalimat.
Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam segi materi peneliti menggunakan instrumen soal yang serupa dengan Ujian Nasional Teori Kejuruan. Soal tersebut terlebih dahulu di uji cobakan pada 25 sampel siswa kelas XII Progam Keahlian Teknik Mekanik Otomotif di SMK Negeri 2 Surakarta untuk mengetahui kevalidan instrumen, instrumen soal uji coba tersebut sebanyak 75 butir soal pilihan ganda dengan 20 standar kompetensi lulusan sesuai dengan kisi-kisi UTK 2010, untuk kisi-kisi-kisi-kisi dan instrumen soal uji coba terlampir dalam lampiran 2. Dari hasil uji coba tersebut di analisis menggunakan software ITEMAN dan didapat 43 soal yang valid kemudian dipilih 40 soal yang kemudian dijadikan instrumen untuk pengambilan data. Untuk output data dari software ITEMAN terlampir dalam lampiran 3 dan instrumen soal untuk pengambilan data terlampir dalam lampiran 4.
Butir soal dalam instrumen tersebut diliihat 2 faktor yaitu tingkat kesukaran dan daya beda. “Tingkat kesukaran adalah proporsi peserta tes yang menjawab benar terhadap butir soal tersebut.tingkat kesukaran butir soal biasanya dilambangkan dengan ‘P’ “ (Prasetya Irawan, 2001:175). Prasetya Irawan (2001:180) mengemukakan, daya beda yang dianggap masih memadai untuk sebutir soal ialah apabila sama atau lebih besar dari + 0,25. Berikut adalah tabel tingkat kesukaran tersebut:
Table 1. Tingkat Kesukaran Butir Soal Tingkat Kesukaran Nilai P
Sukar Sedang Mudah 0,00 – 0,25 0,26 – 0,75 0,76 – 1,00
Berikut adalah rincian butir soal yang valid yang digunakan dalam instrumen pengumpulan data dari hasil uji validitas instrumen soal dengan menggunakan softwere ITEMAN:
Tabel 2. Hasil Uji Validitas Butir Soal Instrumen Nomor Tingkat Kesukaran Daya Beda No.
Butir Soal Butir Soal Butir Soal
1. 1 1,000 -9,000 2. 2 1,000 -9,000 3. 3 1,000 -9,000 4. 4 1,000 -9,000 5. 5 1,000 -9,000 6. 6 1,000 -9,000 7. 7 1,000 -9,000 8. 8 1,000 -9,000 9. 9 0,960 0,422 10. 10 0,840 0,548 11. 11 0,720 0,283 12. 12 0,440 0,353 13. 13 1,000 -9,000 14. 14 0,320 0,374 15. 15 0,600 0,328 16. 16 0,800 0,455 17. 17 0,240 0,161 18. 18 0,720 0,409 19. 19 0,600 0,466 20. 20 0,280 0,309 21. 21 0,880 0,260 22. 22 0,960 0,105 23. 23 0,440 0,364 24. 24 0,840 0,425 25. 25 0,400 0,365 26. 26 0,600 0,455 27. 27 1,000 -9,000 28. 28 1,000 -9,000 29. 29 0,120 -0,520 30. 30 0,360 0,450 31. 31 0,920 0,027 32. 32 0,560 0,262 33. 33 1,000 -9,000 34. 34 0,120 0,749 35. 35 1,000 -9,000 36. 36 1,000 -9,000 37. 37 0,680 0,377 38. 38 1,000 -9,000
39. 39 0,680 0,304 40. 40 0,480 0,230 41. 41 0,480 0,445 42. 42 1,000 -9,000 43. 43 0,920 0,298 44. 44 0,800 0,483 45. 45 0,440 0,353 46. 46 0,960 0,523 47. 47 1,000 -9,000 48. 48 0,579 0,434 49. 49 0,880 0,520 50. 50 0,400 0,284 51. 51 0,360 0,533 52. 52 0,960 0,307 53. 53 0,640 0,339 54. 54 1,000 -9,000 55. 55 1,000 -9,000 56. 56 0,680 0,329 57. 57 0,960 0,307 58. 58 0,840 0,363 59. 59 0,960 0,307 60. 60 1,000 -9,000 61. 61 1,000 -9,000 62. 62 1,000 -9,000 63. 63 0,600 0,328 64. 64 1,000 -9,000 65. 65 1,000 -9,000 66. 66 0,840 0,255 67. 67 1,000 -9,000 68. 68 1,000 -9,000 69. 69 0,400 0,457 70. 70 0,960 0,307 71. 71 0,720 0,434 72. 72 0,480 0,558 73. 73 0,720 0,422 74. 74 1,000 -9,000 75. 75 0,560 0,353
Berdasarkan data hasil output uji validitas butir soal dengan menggunakan instrumen diatas diketahui terdapat 43 butir soal yang valid, akan tetapi hanya diambil 40 butir soal yang digunakan dalam instrumen pengambilan data pengambilan data. Butir-butir soal yang digunakan adalah butir soal nomor 9 – 12, 14 – 15, 18 – 19, 21, 23 – 26, 30, 32, 34, 37, 39, 41, 43 – 46, 48 – 53, 56 – 59, 63, 66, 69 – 71, 73, dan butir soal nomor 75.
2. Dokumenter
Dalam penelitian ini menggunakan metode dokumenter dalam pengumpulan data. Lexy J. Moleong (2007 : 217) mengemukakan dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. Dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film sedangkan record adalah setiap pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa. Dokumen dan record digunakan untuk keperluan penelitian, menurut Guba dan Lincoln (1981: 235) sebagaimana dikutip dari Lexy J. Moleong (2007 : 217) karena alasan-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan seperti berikut ini:
1. Dokumen dan record digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong.
2. Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian.
3. Keduanya berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.
4. Record relatif murah dan tidak sukar diperoleh, tetapi dokumen harus dicari dan ditemukan
Record dalam penelitian ini adalah catatan dan materi print out siswa yang dianalisis untuk mengetahui seberapa jauh materi yang telah disampikan oleh guru dan untuk mengetahui kesiapan siswa dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan dilihat dari materi yang didapat siswa, sedangkan dokumen dalam penelitian ini adalah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) guru yang digunakan sebagai dasar untuk melihat seberapa jauh materi yang telah disampaikan untuk mengetahui kesiapan guru dalam menghadapi Ujian Teori Kejuruan.
3. Wawancara
HB. Sutopo (2002: 58) menyatakan bahwa sumber data yang sangat penting dalam penelitian kualitatif adalah manusia yang dalam posisi sebagai informan. Informasi-informasi dari informan tersebut dapat digali melalui teknik wawancara yang dalam penelitian kualitatif biasa dilakukan dalam bentuk wawancara mendalam.
Lexy J. Moleong (2007 : 186) menyatakan bahwa wawancara percakapan antara dua pihak dengan maksud dan tujuan tertentu, dua pihak tersebut adalah wawancara dan pewawancara. Wawancara tersebut dilakukan untuk memperoleh kedalaman informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian.
Pada umumnya wawancara dalam penelitian kualitatif tidak dilakukan secara terstruktur dan ketat dengan pertanyaan tertutup, tetapi dilakukan secara tidak terstruktur sebagai teknik wawancara mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan pertanyaan yang bersifat terbuka dan mengarah kepada kedalaman informasi.
Dalam penelitian ini metode wawancara dilakukan untuk pengambilan data pada siswa. Bahan wawancara dengan siswa adalah seberapa jauh atau sampai mana materi yang didapat siswa dari setiap standar kompetensi lulusan yang diujikan dalam Ujian Teori Kejuruan. Berikut adalah pedoman dan materi waancara dalam kegiatan wawancara dengan siswa berdasarkan 20 standar kompetensi lulusan:
1. Menggunakan alat-alat ukur (measuring tools).
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan menggunakan alat-alat ukur (measuring tools)?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap?
2. Melakukan overhaul sistem pendingin dan komponen– komponennya.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan melakukan overhaul sistem pendingin dan komponen– komponennya? b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap?
3. Memelihara/servis sistem bahan bakar bensin.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memelihara/servis sistem bahan bakar bensin?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 4. Memperbaiki sistem injeksi bahan bakar diesel.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memperbaiki sistem injeksi bahan bakar diesel?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 5. Memelihara/servis engine dan komponen-komponen-nya.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memelihara/servis engine dan komponen-komponen-nya?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap?
6. Memperbaiki unit kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasian. a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan
memperbaiki unit kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasian?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 7. Memelihara transmisi.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memelihara transmisi?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 8. Memelihara unit final drive/gardan.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memelihara unit final drive/gardan?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 9. Memperbaiki poros penggerak roda.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memperbaiki poros penggerak roda?
10. Memperbaiki roda dan ban.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memperbaiki roda dan ban?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 11. Memperbaiki sistem rem.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memperbaiki sistem rem?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 12. Memperbaiki sistem kemudi.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memperbaiki sistem kemudi?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 13. Memperbaiki sistem suspensi.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memperbaiki sistem suspensi?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 14. Memelihara baterai.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memelihara baterai?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap?
15. Memperbaiki kerusakan ringan pada rangkaian/ sistem kelistrikan,pengaman dan kelengkapan tambahan.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memperbaiki kerusakan ringan pada rangkaian/ sistem
kelistrikan,pengaman dan kelengkapan tambahan? b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 16. Memperbaiki sistem pengapian.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memperbaiki sistem pengapian?
17. Memperbaiki sistem starter.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memperbaiki sistem starter?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 18. Memperbaiki sistem pengisian.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memperbaiki sistem pengisian?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 19. Memelihara/servis sistem AC (Air Conditioner).
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan memelihara/servis sistem AC (Air Conditioner)?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 20. Merawat/servis ringan mesin EFI.
a. Sampai manakah materi yang Anda dapat dari standar kompetensi lulusan merawat/servis ringan mesin EFI?
b. Apakah materi yang anda dapat sudah lengkap? 4. Observasi
Teknik observasi atau pengamatan digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, aktifitas, perilaku, tempat, benda, serta rekaman gambar. Menurut Spradley (1980) seperti dikutip dari H.B Sutopo (2002: 65) pelaksanaan teknik observasi dapat dibagi menjadi: observasi tak berperan sama sekali dan observasi berperan, dimana observasi berperan ini terdiri dari berperan pasif, berperan aktif, dan berperan penuh.
Observasi berperan pasif yaitu peneliti hanya mendatangi lokasi, tetapi sama sekali tidak berperan sebagai apapun selain sebagai pengamat pasif, namun hadir dalam konteksnya. Observasi berperan aktif yaitu tidak sebagaimana halnya dengan observasi berperan pasif, obseravasi berperan aktif ini merupakan cara khusus dan peneliti tidak bersikap pasif sebagai pengamat, tetapi memainkan berbagai peran yang dimungkinkan dalam situasi yang berkaitan dengan penelitiannya, dengan mempertimbangkan akses yang bisa diperolehnya yang bisa dimanfaatkan bagi pengumpulan data. Observasi berperan penuh yakni jenis