PERKEMBANGAN PERBANKAN
DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH
Kinerja perbankan Aceh pada triwulan III-2011 cukup baik. Trending indikator pokok masih menunjukkan pertumbuhan positif kendati mengalami perlambatan.
Kinerja perbankan syariah di Aceh menunjukkan pertumbuhan positif cenderung flat, baik secara tahunan (yoy) maupun triwulanan (qtq). Peningkatan asset semakin mempertinggi potensi bank syariah dalam melakukan ekspansi pembiayaan terutama sebagai stimulasi perekonomian masyarakat Aceh.
Refinancing risk lebih terekspos pada perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional terutama terkait dengan spread yang terbentuk dari penhimpunan DPK dan tingkat LDR.
Transaksi pembayaran non tunai hingga akhir triwulan III-2011 dengan menggunakan sistem BI-RTGS mengalami penurunan terbatas, sedangkan transaksi melalui kliring mengalami peningkatan signifikan, baik secara nominal maupun volume.
Triwulan III-2011, aliran uang kartal masih menunjukkan net outflow seiring dengan pola uptrend menuju penghujung tahun pada satu periode seiring dengan meningkatnya kebutuhan kartal masyarakat.
PERBANKAN PROVINSI ACEH
3.1. BANK UMUM
3.1.1. Kondisi Umum
Fungsi bank sebagai lembaga intermediary khususnya bank umum di Provinsi Aceh pada triwulan III-2011 masih menunjukkan perkembangan dalam zona positif. Kendati demikian, tingkat LDR (loan to deposit ratio) bank mengalami penurunan sebesar 175bps terhadap LDR triwulan sebelumnya. Trending menaik terjadi pada peningkatan penyaluran kredit kendati dalam kisaran terbatas serta uptrend yang mengalami perlambatan pada perkembangan asset dan perolehan DPK (Dana Pihak Ketiga). Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah (NPL) bank menunjukkan keasimetrisan dimana penurunan pada tingkat LDR tidak diiringi dengan penurunan pada rasio NPL. Secara historis dan proyeksi teknikal, tingkat NPL bank menunjukkan peningkatan dan akan terus meningkat apabila bank tidak dapat menahan maupun memindahkan risiko atas penyaluran kredit tersebut.
Tabel 3.1. Perkembangan Indikator Pokok Bank Umum di Provinsi Aceh
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, data diolah
Perkembangan indikator pengukuran pada triwulan III-2011 baik perkembangan secara tahunan (yoy) maupun triwulanan (qtq) mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan perkembangan triwulan sebelumnya.
Pengurangan risiko refinancing tampak pada peningkatan penghimpunan DPK dan penurunan tingkat LDR dalam hal adanya shortage likuiditas terkait pemenuhan kewajiban yang akan jatuh tempo.
3.1.2. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK)
Kendati mengalami penurunan secara triwulanan (qtq), perolehan DPK bank masih menunjukkan pertumbuhan positif di tengah suasana lebaran Idul Fitri – masyarakat lebih menyukai memegang dana dalam bentuk cash sebagai antisipasi keperluan sebelum dan sesudah lebaran. Selama 2011, pertumbuhan DPK menunjukkan positive growth dengan konsenterasi low cost fund pada komposisi DPK-nya. Tercatat bahwa komposisi giro, tabungan dan deposito = 38,82% : 42, 29% : 18,89% pada akhir September 2011. DPK pada triwulan III-2011 bertumbuh 6,89% (yoy) atau 3,98% (qtq).
Pemberian reward seperti pemberian beasiswa dalam program TabunganKu yang diselenggarakan LPS diharapkan mampu menjadi kontributor utama pendukung peningkatan kesadaran menabung masyarakat, terutama penduduk yang berada jauh dari jangkauan perbankan.
3 6 9 12 3 6 9 Total As et 27.399.707 29.198.507 30.818.780 30.844.487 29.016.934 32.305.411 33.045.075 yoy, % 8,61% 12,81% 11,81% 5,60% 5,90% 10,64% 7,22% qtq, % -6,19% 6,57% 5,55% 0,08% -5,93% 11,33% 2,29% DPK 16.873.435 17.399.494 18.769.579 18.726.358 17.921.291 19.294.953 20.062.497 yoy, % -6,88% -5,83% 0,90% -4,00% 6,21% 10,89% 6,89% qtq, % -13,50% 3,12% 7,87% -0,23% -4,30% 7,66% 3,98% Kredi t 13.224.200 14.304.209 14.729.167 15.758.145 16.875.251 17.881.346 18.241.220 yoy, % 37,24% 34,10% 26,88% 25,06% 27,61% 25,01% 23,84% qtq, % 4,95% 8,17% 2,97% 6,99% 7,09% 5,96% 2,01% LDR (%) 78,37% 82,21% 78,47% 84,15% 94,16% 92,67% 90,92% NPL - gros s (%) 3,36% 3,42% 4,44% 4,88% 5,61% 6,00% 6,28% 2011 Rp-Juta 2010
Gambar 3.1. Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum di Provinsi Aceh
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh
Masih seperti triwulan sebelumnya, pertumbuhan penghimpunan DPK di triwulan III-2011 disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan pada simpanan Giro dan simpanan Tabungan. Secara kuantifikasi, pertumbuhan pada triwulan III-2011 lebih rendah dari triwulan II-2011 baik secara tahunan (yoy) maupun triwulanan (qtq). Giro tumbuh 27,97% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 38,39% (yoy). Tabungan tumbuh 17,54% meningkat dari triwulan II-2011 yang tumbuh 14,27% (yoy). Sementara simpanan Deposito terkoreksi lebih dalam menjadi 30,66% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami penurunan sebesar 17,92%.
Tabel 3.2. Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum di Provinsi Aceh Menurut Jenis Simpanan
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, data diolah
Simpanan dalam bentuk Tabungan masih menjadi yang terbesar volumenya jika dibandingkan dengan komposisi DPK lainnya. Sebesar 42,29% merupakan simpanan Tabungan terhadap total keseluruhan DPK di Aceh kendati suku bunga yang diberikan relatif rendah, yakni 1,54% (turun 52bps dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,06%) . Keleluasaan nasabah dalam mentransaksikan dananya setiap waktu tanpa adanya ketentuan penalti maupun jangka waktu diperkirakan menjadi preferensi nasabah dalam menempatkan dananya. 7,23% 9,39% -2,61% -5,17% -6,88% -5,83% 0,90% -4,00% 6,21% 10,89% 6,89% -8% -6% -4% -2% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 15.000.000 16.000.000 17.000.000 18.000.000 19.000.000 20.000.000 21.000.000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 2009 2010 2011
Dana Pihak Ketiga Pertumbuhan tahunan (yoy)
3 6 9 12 3 6 9 Gi ro 4.551.271 4.872.265 6.086.154 4.368.784 5.560.366 6.742.877 7.788.654 yoy, % -27,61% -28,31% -11,53% -25,86% 22,17% 38,39% 27,97% qtq, % -22,77% 7,05% 24,91% -28,22% 27,27% 21,27% 15,51% Ta bunga n 7.246.875 7.051.326 7.218.619 8.707.850 8.018.956 8.057.538 8.484.515 yoy, % 6,03% 5,68% 6,78% 2,57% 10,65% 14,27% 17,54% qtq, % -14,64% -2,70% 2,37% 20,63% -7,91% 0,48% 5,30% Depos i to 5.075.289 5.475.903 5.464.806 5.649.724 4.341.969 4.494.538 3.789.328 yoy, % 1,52% 9,35% 10,11% 10,26% -14,45% -17,92% -30,66% qtq, % -0,95% 7,89% -0,20% 3,38% -23,15% 3,51% -15,69% 2010 2011 Rp-Juta
Gambar 3.2 Perkembangan Struktur Dana Pihak Ketiga Bank Umum di Provinsi Aceh (Rp-juta)
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, data diolah
Selain meningkatnya dana simpanan masyarakat dalam bentuk Tabungan, simpanan dalam bentuk Giro juga meningkat seiring dengan bertambahnya Giro milik Pemerintah Daerah (Pemda). Pada September 2011, porsi Giro berada pada level 38,82% - mengalami peningkatan dari triwulan sebelumnya sehingga menjadi Rp7.788.654 juta. 61% komposisi Giro pada DPK merupakan dana milik Pemda. DPK milik Pemda secara keseluruhan terkoreksi pertumbuhannya menjadi 7,90% (yoy) dengan kontributor penurunan tertinggi pada deposito Pemda yang menurun sebesar 83% (yoy) diikuti dengan Tabungan sebesar 23,3% (yoy) , sedangkan Giro mengalami pertumbuhan sebesar 44,90%(yoy). Meningkatnya Giro Pemda berasal dari dropping Dana Otonomi Khusus (Otsus) dari Pemerintah Pusat pada akhir September 2011.
Gambar 3.3 Perkembangan Suku Bunga Simpanan Bank Umum Konvensional di Aceh (%)
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh
0 5.000.000 10.000.000 15.000.000 20.000.000 3 6 9 12 3 6 9 2010 2011
Giro
Tabungan
Deposito
0 1 2 3 4 5 6 7 3 6 9 12 3 6 9 2010 2011 Giro Tabungan Deposito 1 bln Deposito 12 bln Deposito 3 bln
Tabel 3.3 Perkembangan Porsi Dana Pihak Ketiga Milik Pemda di Bank Umum Provinsi Aceh
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, diolah
3.1.3. Penyaluran Kredit
Penyaluran kredit perbankan menunjukkan arah linier yang positif kendati terdapat pergerakan yang beragam pada masing-masing jenis penyalurannya sejak 2010 sampai dengan triwulan III-2011. Hingga akhir September 2011, tercatat bahwa ke-3 jenis pembiayaan yang terbagi atas kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi menunjukkan pertumbuhan yang searah baik secara tahunan (yoy) maupun triwulanan (qtq). Pertumbuhan pada akhir September 2011 cenderung mengalami perlambatan, yakni sebesar 1,98% (qtq). Konsenterasi perbankan pada saat lebaran terhadap kesediaan uang kartal dan masih tingginya volume penyaluran kredit konsumsi turut menjadi faktor perlambatan pertumbuhan pemberian kredit, namun diyakini bahwa trending peningkatan pemberian kredit tetap akan berlangsung hingga akhir 2011.
3.1.3.1. Penyaluran Kredit Secara Sektoral
Tabel 3.4 Perkembangan Penyaluran Kredit Bank Umum di Provinsi Aceh Menurut Sektor Ekonomi (Rp-juta)
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, diolah
Secara sektoral, pertumbuhan tahunan positif terjadi di hampir seluruh sektor utama dalam kisaran beragam kecuali sektor industri pengolahan, sektor listrik gas dan air dan sektor jasa dunia usaha yang masih terkoreksi masing-masing sebesar 18,66% (yoy), 36,99% (yoy) dan 30,57% (yoy). Sementara sektor pengangkutan dan sektor jasa sosial masyarakat mencatat pertumbuhan tahunan yang signifikan mencapai 353,93% (yoy) dan 180,18% (yoy).
3 6 9 12 3 6 9 Mar-11 Jun-11 Sep-11 Mar-11 Jun-11 Sep-11
Total DPK milik Pemda 4.356.700 4.358.492 5.590.143 2.980.149 2.525.422 4.463.497 5.147.821 -42,0% 2,4% -7,9% -15,3% 76,7% 15,3% Giro milik Pemda 2.116.833 2.002.971 3.278.376 843.604 2.007.233 3.896.975 4.751.971 -5,2% 94,6% 44,9% 137,9% 94,1% 21,9% Tabungan Milik Pemda 10.178 9.300 3.396 3.174 2.185 2.176 2.605 -78,5% -76,6% -23,3% -31,2% -0,4% 19,7% Deposito milik Pemda 2.229.689 2.346.221 2.308.371 2.133.371 516.004 564.346 393.245 -76,9% -75,9% -83,0% -75,8% 9,4% -30,3% %DPK Pemda thd total DPK 25,82% 25,05% 29,78% 15,91% 14,09% 23,13% 25,66%
yoy qtq
2011
Rp-juta 2010
9 12 3 6 9 Ma r-11 Jun-11 Sep-11 Ma r-11 Jun-11 Sep-11
Tota l Kredi t 14.729.167 15.758.145 16.900.656 17.881.346 18.235.793 27,80% 25,01% 23,81% 7,25% 5,80% 1,98% Perta ni a n 146.801 145.163 137.189 136.913 150.363 -63,51% -8,90% 2,43% -5,49% -0,20% 9,82% Perta mba nga n 50.722 64.520 86.862 92.812 92.252 125,71% 104,27% 81,88% 34,63% 6,85% -0,60% Indus tri Pengol a ha n 1.282.285 1.271.817 1.091.337 1.102.160 1.043.007 -5,44% -7,81% -18,66% -14,19% 0,99% -5,37% Li s tri k Ga s da n Ai r 10.860 12.004 10.710 12.341 6.843 66,05% 27,60% -36,99% -10,78% 15,23% -44,55% Kons truks i 634.215 785.650 835.868 858.731 785.734 213,39% 36,41% 23,89% 6,39% 2,74% -8,50% Perda ga nga n 3.412.587 3.442.707 3.317.804 3.404.637 3.446.901 25,44% 17,08% 1,01% -3,63% 2,62% 1,24% Penga ngkuta n 37.658 35.317 34.154 32.543 170.941 17,57% 0,94% 353,93% -3,29% -4,72% 425,28% Ja s a Duni a Us a ha 291.184 362.909 379.684 395.845 202.165 62,96% 42,45% -30,57% 4,62% 4,26% -48,93% Ja s a Sos i a l Ma s ya ra ka t 194.436 238.756 284.490 315.601 544.768 89,36% 77,65% 180,18% 19,16% 10,94% 72,61% La i nnya 8.668.419 9.399.302 10.722.558 11.529.763 11.792.819 28,80% 29,87% 36,04% 14,08% 7,53% 2,28% Rp-Juta 2010 2011 yoy qtq
Gambar 3.4 Pangsa Penyaluran Kredit Bank Umum di Provinsi Aceh Menurut Sektor Ekonomi (%)
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, diolah
Sektor perdagangan masih mendominasi penyerapan pengucuran kredit perbankan. Ekspansi sektor perdagangan dan tingkat pengembalian yang cukup menjanjikan dari debitur ditengah karakteristik masyarakat yang konsumtif terutama pada saat Ramadhan dan lebaran menjadi appetite bagi perbankan yang bersifat risk averse. Giatnya Pemerintah Aceh dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di Aceh dalam rangka meningkatkan kegiatan perekenomian masyarakat semakin menjadikan sektor konstruksi terlihat terutama di penghujung tahun 2011. Selama bank meyakini prinsip kelayakan pemberian pembiayaan kepada kedua sektor ini dan minimnya moral dan physical hazard yang dapat timbul, maka risiko inherent yang dapat timbul menjadi minim.
Kendati sektor pertanian mengalami penurunan rasio NPL pada bulan September 2011 terhadap Juni 2011, namun rasio pembiayaan bermasalah pada sektor ini masih menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan sektor lainnya. Terlepas dari sisi faktor risiko yang kadangkala tidak dapat diprediksi dan dikendalikan, pemahaman dan program pendampingan perbankan terhadap skema pencairan kredit dan karakteristik musim tanam merupakan hal penting terhadap pertimbangan kemajuan dan pengendalian atas potensi bermasalah kredit di sektor pertanian. Skema yang berlaku pada sektor pertanian hendaknya berbeda dengan skema sektor lainnya. Perlindungan nilai atas kredit dan penentuan batas risiko tidak selalu bertumpu pada rate yang dikenakan kepada debitur di sektor pertanian.
Tabel 3.5 NPL1 Bank Umum di Provinsi Aceh Menurut Sektor Ekonomi (%)
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, diolah
1 Non Performing Loan (NPL) adalah rasio kredit yang termasuk dalam kualitas Kurang Lancar, Diragukan
dan Macet.
Pertanian; 0,82% Pertambangan; 0,51% Industri Pengolahan;
5,72% Listrik Gas dan Air; 0,04% Konstruksi; 4,31% Perdagangan; 18,90%
Pengangkutan; 0,94% Jasa Dunia Usaha; 1,11% Jasa Sosial Masyarakat;
2,99%
Lainnya; 64,67%
9 12 3 6 9
Non Performi ng Loa n (NPL) 4,44% 4,88% 5,60% 6,00% 6,28%
Perta ni a n 21,10% 19,34% 23,29% 26,84% 23,98%
Perta mba nga n 5,11% 3,96% 5,37% 5,94% 7,98%
Indus tri Pengol a ha n 8,50% 13,03% 16,54% 16,39% 17,13% Li s tri k Ga s da n Ai r 6,37% 33,89% 4,95% 0,37% 0,29% Kons truks i 10,39% 11,59% 11,64% 11,34% 14,39% Perda ga nga n 7,40% 8,37% 11,15% 12,75% 13,62% Penga ngkuta n 19,00% 22,23% 24,64% 27,68% 7,40% Ja s a Duni a Us a ha 5,98% 4,39% 4,38% 4,84% 14,26% Ja s a Sos i a l Ma s ya ra ka t 10,12% 11,78% 12,43% 10,81% 5,62% La i nnya 1,72% 1,46% 1,87% 2,22% 2,28% Rp-Juta 2010 2011
BOX – 12
MEMANFAATKAN KKMB ACEH
DALAM MENINGKATKAN AKSES PEMBIAYAAN UMKM Latar Belakang Pembentukan KKMB
Pembentukan Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) merupakan tindak lanjut dari Inpres No. 6 Tahun 2007 tentang kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan UMKM. Bank Indonesia, sebagai salah satu lembaga yang ditetapkan dalam Inpres No. 6 Tahun 2007, diharapkan turut berperan serta di daerah dan membantu Pemerintah Daerah dalam mempercepat pengembangan sektor riil dan pemberdayaan UMKM melalui Peningkatan akses UMKM pada sumber pembiayaan, pengembangan kewirausahaan dan sumber daya manusia serta peningkatan peluang pasar produk UMKM.
Salah satu upaya Bank Indonesia dalam meningkatkan kapasitas kelembagaan dan akses UMKM pada sumber pembiayaan adalah dengan menginisiasi pembentukan Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB). KKMB diharapkan dapat menjadi jembatan antara UMKM dan Perbankan. Sesuai dengan fungsinya, dalam kesehariannya KKMB memberikan layanan jasa konsultasi tentang manajemen dan analisis keuangan kepada pelaku UMKM agar lebih feasible dan bankable sehingga pada akhirnya terjadi intermediasi perbankan.
KKMB Aceh dibentuk oleh Tim Satgas Pemberdayaan KKMB berdasarkan SK Gubernur No 580/503/2007. Tim Satgas terdiri dari 38 Instansi yang terdiri dari unsur pimpinan daerah, instansi terkait, Bank Indonesia Banda Aceh dan Bank Indonesia Lhokseumawe, serta Perbankan. Pada tanggal 7 Januari 2008, tim satgas telah menetapkan keputusan sebagai berikut:
1. Akan melakukan seleksi terhadap 60 (enam puluh) calon KKMB dipusatkan di Kantor Bank Indonesia Banda Aceh dengan mengikusertakan perbankan, biro ekonomi dan Dinas koperasi sebagai tim seleksi.
2. Pelatihan KKMB akan dilaksanakan di 4(empat) wilayah, yaitu:
a. Kota Banda Aceh, meliputi calon KKMB di wilayah:Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kota Sabang dan Kabupaten Pidie
b. Kota Langsa, meliputi calon KKMB wilayah: Kota Langsa, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Utara, Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Bireun.
c. Kota Meulaboh, meliputi calon KKMB di wilayah: Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Selatan, Kabuapten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Simeuleu, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Jaya.
d. Kota Takengon, maliputi calon KKMB di wilayah: Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. 3. Dalam pelaksanaannya, KKMB Aceh akan mendapatkan dukungan dana operasional yang
berasal dari anggaran APBA sebesar Rp.1.000.000 per bulan selama 3(tiga) bulan pertama.
4. Tim satgas bertugas untuk meningkatkan efektifitas fungsi dan peran KKMB melalui penyelenggaraan pelatihan.
2
Penguatan Fungsi KKMB melalui bantuan Teknis Bank Indonesia (2009-2011)
Pada masa awal pembentukan KKMB (2008), Bank Indonesia Banda Aceh bersama dengan tim satgas telah menginisiasi beberapa kegiatan. Kegiatan tersebut antara lain sbb:
1. Pembentukan KKMB di 4 Wilayah dilanjutkan dengan Pelatihan Manajemen Keuangan dasar dan Perkreditan
Sesuai dengan keputusan tim Satgas KKMB, seleksi 60 KKMB dilakukan di 4 wilayah. Penyebaran ini dilakukan untuk mengatasi wilayah Aceh yang cukup luas. Setelah tahap seleksi selesai, 60 KKMB yang ditetapkan langsung diberikan pelatihan. Pelatihan ini diselenggarakan sebagai tahap awal pengenalan KKMB terhadap dunia perbankan. Untuk mengakomodasi seluruh KKMB yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota, maka penyelenggaraan pelatihan pun berada di empat wilayah tersebut.
Adapun tujuan pelatihan adalah untuk memberikan pemahaman dan keterampilan dalam mengevaluasi dan menyiapkan rencana permohonan kebutuhan kredit bagi UMKM kepada perbankan. Untuk lebih mempererat hubungan antara KKMB dengan account officer, Bank Indonesia Banda Aceh juga menginkutsertakan sebagian AO sebagai peserta dari beberapa bank di Banda Aceh. Indikator keberhasilan peserta dalam menyerap materi pelatihan diukur dari pre-test dan post-test. KKMB yang lulus dari tahap post-test diikutsertakan pada program magang KKMB di beberapa bank.
Gambar 1.Peta Penyebaran KKMB Aceh
2. BI Banda Aceh memfasilitasi program magang KKMB di beberapa bank.
Program magang diselenggarakan selama 10 (sepuluh) hari setelah kegiatan pelatihan. Tujuan dari program ini selain untuk mempererat hubungan antara AO dan KKMB juga untuk menghilangkan gap informasi antara KKMB dengan Bank.
3. Menginisiasi Pendirian KKMB center
Selanjutnya, agar hubungan antar KKMB yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota tetap solid, Bank Indonesia Banda Aceh juga menginisiasi pembentukan KKMB center dan menyediakan tempat di KBI Banda Aceh. KKMB center menjadi wadah bagi KKMB untuk mengadakan pertemuan dengan pelaku UMKM , diskusi antara KKMB maupun rapat koordinasi.
4. Pelatihan lanjutan studi kelayakan bisnis dan analisa kredit.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh BI Banda Aceh bekerjasama dengan Biro Ekonomi Provinsi Aceh dan KBI Lhokseumawe pada tahun 2009. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk me-refresh kembali tata cara menganalisa kelayakan bisnis dan analisa kredit.
Pelatihan diperuntukkan bagi KKMB aktif. Kategori KKMB aktif adalah KKMB yang rutin mengirimkan laporan realisasi triwulanan.
5. Pelatihan KKMB Sektor Kelautan dan Perikanan Aceh
Sejak tahun 2008 hingga saat ini, KBI banda Aceh dan Pemerintah Aceh melalui Dinas DKP Provinsi Aceh melaksanakan pelatihan KKMB sektor kelautan. KKMB sektor kelautan yang telah dilatih sebanyak 50 orang dan yang aktif hingga tahun 2011 sebanyak 23 KKMB yang tersebar di sentra-sentra perikanan dan kelautan di porvinsi Aceh. Kerjasama ini tertuang dalam MoU antara Bank Indonesia Banda Aceh dan Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh No. 523.3/4706/6/X/2009 dan No. 11/38/DKBU/BNA tentang dukungan BI Banda Aceh terhadap pengembangan KKMB Sektor Kelautan di Aceh.
6. Pelatihan Motivasi dan Product Knowledge KUR
Tahun 2011, BI Banda Aceh akan menyelenggarakan pelatihan motivasi dan analisa kredit bagi KKMB. Rencananya, BI Banda Aceh akan mendatangkan motivator dari luar daerah untuk berbagi pengalaman dengan KKMB. Selain peningkatan kapasitas teknis, motivasi KKMB juga perlu di recharge kembali agar semangat dan komitmen KKMB dalam memajukan sektor UMKM tetap terjaga. Sementara peningkatan kapasitas teknis akan difokuskan pada peningkatan product knowledge Kredit Usaha Rakyat. Ke depan, KKMB diharapkan dapat membantu perbankan dan pemerintah daerah dalam mendorong realisasi KUR.
Pencapaian KKMB
Kinerja KKMB Aceh dalam mendorong intermediasi perbankan terbilang cukup berhasil. Salah satu tolak ukur keberhasilannya dilihat dari pencapaian realisasi kredit sejak 2008 hingga sekarang. Pada tahun 2008 KKMB Aceh berhasil memfasilitasi pencairan kredit sebesar Rp.8,290 miliar. Kemudian meningkat menjadi Rp.17miliar dan Rp20miliar di tahun 2009 dan 2010. Kesuksesan KKMB ini tak lepas dari komitmen keras mereka dalam memajukan sektor UMKM. Jika dilihat dari banyaknya pelaku UMKM yang telah akses ke perbankan sejak tahun 2008, jumlahnya juga menunjukkan adanya peningkatan, tahun 2008 tercatat yang telah akses ke perbankan sebanyak 58 UMKM, meningkat menjadi 966 UMKM di tahun 2009 dan 1,014 UMKM di tahun 2010. Jika dirata-ratakan kredit tersalur sejak tahun 2008 hingga 2010 nilainya berfluktuasi, tahun 2010 tercatat rata-rata kredit tersalur senilai Rp.20,4 juta per debitur, kredit ini termasuk kategori kredit skala mikro.
Gambar 2. Perkembangan Realisasi Kredit KKMB Aceh
Gambar 3. Rata-rata Kredit Tersalur
Strategi Pengembangan KKMB Aceh
1. Sinergi program KKMB dengan program pemberdayaan ekonomi rakyat.
Agar peran KKMB dapat dirasakan oleh banyak pihak, bermanfaat dan berkelanjutan, maka tugas KKMB ke depan dapat dimanfaatkan dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat, seperti program Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Pemberdayaan Pengusaha (KPP) dan kredit program lainnya. Sinergi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi beberapa bank pelaksana yang memiliki kesulitan dalam mencari debitur baru.
2. KKMB magang di 6(enam) Bank Pelaksana KUR
Untuk menunjang program diatas, diharapka setelah program pelatihan, KKMB akan dimagangkan kembali selama 2 minggu di 6 Bank Pelaksana KUR. Selain mengatasi hambatan informasi antara Bank, KKMB, dan UMKM, hal ini juga diharapkan dapat menambah wawasan yang lebih real bagi KKMB.
3.1.3.2. Penyaluran Kredit Menurut Penggunaan
Tabel 3.6 Perkembangan Penyaluran Kredit Bank Umum di Provinsi Aceh Menurut Penggunaan (Rp-juta)
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, diolah
Sebesar 58,65% porsi penyaluran kredit didominasi oleh kredit Konsumsi, diikuti oleh kredit Modal Kerja dan kredit Investasi, masing-masing sebesar 35,25% dan 6,10%. Rendahnya porsi penyaluran kredit Investasi ditengarai oleh meningkatnya tingkat risiko kredit bermasalah (NPL) pada kredit ini yang mencapai 14,95% pada akhir September 2011. Sikap wait and see para investor atas kepastian situasi politik dan keamanan terkait dengan Pemilukada Aceh menjadikan iklim investasi Aceh saat ini ‘berawan’.
Tabel 3.7 NPL Bank Umum di Provinsi Aceh Menurut Penggunaan (%)
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, diolah
3.1.4. Penyaluran Kredit UMKM
Sebagaimana triwulan II-2011, penyaluran kredit untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pada triwulan III-2011 juga mengalami perlambatan dengan pertumbuhan sebesar 27,41% (yoy) dibandingkan dengan triwulan I-2011. Pada September 2011, porsi penyaluran kredit UMKM tercatat mencapai 69,17% dari seluruh kredit yang disalurkan oleh bank umum di Aceh. Kredit kecil atau kredit dengan plafon maksimal Rp500 juta masih mendominasi dengan persentase sebesar 60,34% dari outstanding kredit UMKM, diikuti oleh kredit Menengah dan kredit Mikro, masing-masing sebesar 28,31% dan 11,34%.
Tabel 3.8 Perkembangan Penyaluran Kredit UMKM Bank Umum di Provinsi Aceh (Rp-juta)
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, diolah
9 12 3 6 9 Mar-11 Jun-11 Sep-11 Mar-11 Jun-11 Sep-11
Total Kredit 14.729.167 15.758.145 16.900.656 17.881.346 18.235.793 27,80% 25,01% 23,81% 7,25% 5,80% 1,98% Modal Kerja 5.698.172 6.091.199 6.021.874 6.350.576 6.428.709 33,60% 23,92% 12,82% -1,14% 5,46% 1,23% Investasi 982.553 998.142 1.012.834 1.059.680 1.111.561 -21,93% -14,55% 13,13% 1,47% 4,63% 4,90% Konsumsi 8.048.442 8.668.804 9.865.948 10.471.090 10.695.523 32,97% 31,89% 32,89% 13,81% 6,13% 2,14% 2011 Rp-Juta 2010 yoy qtq 9 12 3 6 9
Non Performing Loan (NPL) 4,44% 4,88% 5,60% 6,00% 6,28%
Modal Kerja 7,89% 8,34% 10,26% 10,91% 11,66%
Inves tas i 10,61% 13,77% 17,80% 20,19% 14,95%
Kons ums i 1,26% 1,42% 1,50% 1,58% 2,15%
% 2010 2011
9 12 3 6 9 Mar-11 Jun-11 Sep-11 Mar-11 Jun-11 Sep-11 Penyaluran Kr. UMKM 9.900.855 10.662.102 11.927.775 11.818.712 12.614.534 42,43% 28,40% 27,41% 11,87% -0,91% 6,73% Kredit Mikro 1.119.608 1.190.959 1.374.667 1.315.023 1.431.013 41,53% 26,99% 27,81% 15,43% -4,34% 8,82% Kredit Kecil 5.560.139 6.074.253 7.015.856 7.154.414 7.611.962 48,59% 38,40% 36,90% 15,50% 1,97% 6,40% Kredit Menengah 3.221.108 3.396.890 3.537.252 3.349.275 3.571.559 31,92% 11,65% 10,88% 4,13% -5,31% 6,64% % Kr.UMKM thd Total Kredit 67,22% 67,66% 70,68% 66,10% 69,17%
yoy
Pertumbuhan tahunan penyaluran kredit UMKM tumbuh sebesar 27,41% pada triwulan III-2011, melambat bila dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 28,40% (yoy). Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kredit Kecil sebesar 36,90% diikuti oleh kredit Mikro dan kredit Menengah berturut-turut sebesar 27,81% dan 10,88% (yoy).
Gambar 3.5 Porsi Penyaluran Kredit UMKM Menurut Penggunaan (%)
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, diolah
Menurut penggunaan, porsi pengucuran kredit UMKM untuk usaha produktif (modal kerja dan investasi) tidak sebesar kredit UMKM untuk konsumsi dengan porsi di atas 50%. Bahkan dari sisi pertumbuhan, kredit UMKM untuk konsumsi juga tercatat hingga 44,41% (yoy), jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit UMKM untuk investasi modal kerja yang hanya sebesar 17,77% (yoy) dan 11,22% (yoy). Sementara dari sektor ekonomi, penyaluran kredit UMKM juga didominasi oleh sektor perdagangan dengan porsi 25,59% (yoy), diikuti oleh sektor konstruksi dengan porsi 4,92%.
Gambar 3.6. Porsi Penyaluran Kredit UMKM Menurut Sektor Ekonomi (%)
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, diolah
Modal Kerja 40,58% Investasi 5,09% Konsumsi 54,34% Pertanian
0,85% Pertambangan0,50% PengolahanIndustri 2,48% Listrik Gas dan
Air 0,05% Konstruksi 4,92% Perdagangan 25,59% Pengangkutan 1,22% Jasa Dunia Usaha
1,43% Jasa Sosial Masyarakat 3,85% Lainnya 59,10%
3.2. BANK UMUM SYARIAH (BUS)3
3.2.1. Kondisi Umum
Tabel 3.7 Perkembangan Porsi Aset Bank Umum Syariah Terhadap Total Aset Bank Umum di Provinsi Aceh
Sumber: Laporan Bank Umum BI Banda Aceh, diolah
Sebagaimana perbankan konvensional yang mengalami uptrend, perbankan syariah di Aceh juga mengalami trending serupa dengan arah pergerakan yang juga menunjukkan perlambatan pada akhir triwulan III-2011. Ramadhan dan lebaran kali ini tidak berimplikasi terhadap penurunan perolehan DPK karena situasi musiman tersebut nyatanya memberikan kontribusi tertinggi terhadap pertumbuhan agregat perbankan syariah, sementara perkembangan pembiayaan memberikan efek perlambatan pertumbuhan keseluruhan kendati masih berada dalam zona positif.
Tabel 3.9. Perkembangan Indikator Pokok Bank Umum Syariah Aceh
Sumber: Laporan Bank Umum Syariah BI Banda Aceh, data diolah
Secara umum, indikator perbankan syariah menunjukkan pertumbuhan positif cenderung flat, baik secara tahunan (yoy) maupun triwulanan (qtq). Total asset bank umum syariah di Aceh pada posisi September 2011 adalah sebesar Rp2,97 triliun. Peningkatan asset semakin mempertinggi potensi bank syariah dalam
6,21% 6,45% 6,24% 6,99% 7,57% 7,73% 7,71% 9,03% 9,62% 8,86% 9,00% 0% 1% 2% 3% 4% 5% 6% 7% 8% 9% 10% 0 5.000.000 10.000.000 15.000.000 20.000.000 25.000.000 30.000.000 35.000.000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 2009 2010 2011
Total Aset Aset BUS % Aset BUS (ka)
9 12 9 12 3 6 9 Total As et Rp-Juta 1.720.194 2.041.074 2.377.230 2.784.183 2.791.473 2.861.103 2.973.833 (yoy, %) 46,81% 17,00% 38,20% 36,41% 34,61% 26,71% 25,10% (qtq, %) 3,05% 18,65% 5,28% 17,12% 0,26% 2,49% 3,94% DPK Rp-Juta 901.069 1.224.734 1.105.089 1.381.511 1.312.235 1.353.381 1.450.370 (yoy, %) 37,78% 31,25% 22,64% 12,80% 18,71% 19,76% 31,24% (qtq, %) 2,04% 35,92% -2,21% 25,01% -5,01% 3,14% 7,17% Pembi a ya a n Rp-Juta 755.599 847.503 1.367.267 1.616.405 1.936.461 2.099.648 2.270.980 (yoy, %) 74,56% 57,55% 80,95% 90,73% 91,79% 74,86% 66,10% (qtq, %) 12,17% 12,16% 13,87% 18,22% 19,80% 8,43% 8,16% FDR % 83,86% 69,20% 123,72% 117,00% 147,57% 155,14% 156,58% NPF-gros s % 3,31% 1,85% 3,25% 1,95% 1,81% 3,08% 3,82% 2009 2010 Pertumbuha n Pertumbuha n Pertumbuha n
melakukan ekspansi pembiayaan terutama sebagai stimulasi perekonomian masyarakat Aceh. Meningkatnya tingkat pembiayaan yang ditunjukkan oleh nilai Financing to Deposit Ratio (FDR)4 perbankan syariah di Aceh yang mencapai 156,58% searah dengan peningkatan pada tingkat risiko pembiayaan bermasalah (NPL) menjadi 3,82% pada September 2011.
Tingkat FDR diharapkan menjadi maksimal 100% untuk menghindari adanya penggerusan modal perbankan, memotivasi bank untuk meningkatkan asset dan memberikan kepastian buffer terkait risiko yang dapat timbul akibat adanya shortage maupun default pengelolaan kekayaan bank. Kendati rasio NPL perbankan syariah masih berada di bawah ceiling rate yang ditetapkan Bank Indonesia, bank tetap harus memperhatikan tingkat risiko terutama strategi likuiditas dalam menghindari refinancing risk.
3.2.2. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK)
Gambar 3.8. Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Syariah Aceh
Sumber: Laporan Bank Umum Syariah BI Banda Aceh, diolah
Pertumbuhan DPK perbankan syariah di Aceh pada triwulan ini tumbuh 31,24% (yoy). Pertumbuhan ini terjadi pada seluruh komposisi DPK dengan pertumbuhan tertinggi pada simpanan Deposito sebesar 39,90% (yoy) diikuti oleh pertumbuhan pada Giro dan Tabungan, masing-masing sebesar 38,82% (yoy) dan 24,61% (yoy).
Tabel 3.10. Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Syariah Aceh Menurut Jenis Simpanan
Sumber: Laporan Bank Umum Syariah BI Banda Aceh, data diolah
37,95% 45,04% 37,78% 31,25% 28,89% 27,97% 22,64% 12,80% 18,71% 19,76% 31,24% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 45% 50% 0 200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 1.200.000 1.400.000 1.600.000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 2009 2010 2011 DPK Pertumbuhan_yoy 9 12 3 6 9 12 3 6 9 Gi ro Rp-Juta 173.922 326.717 168.732 191.091 184.493 310.955 207.366 227.753 256.105 (yoy, %) -5,34% 7,06% 5,23% 20,62% 6,08% -4,82% 22,90% 19,19% 38,82% (qtq, %) 9,78% 87,85% -48,36% 13,25% -3,45% 68,55% -33,31% 9,83% 12,45% Ta bunga n Rp-Juta 465.006 576.588 583.529 564.510 612.493 748.025 722.924 723.178 763.232 (yoy, %) 42,40% 28,25% 25,74% 21,46% 31,72% 29,73% 23,89% 28,11% 24,61% (qtq, %) 0,05% 24,00% 1,20% -3,26% 8,50% 22,13% -3,36% 0,04% 5,54% Depos i to Rp-Juta 262.141 321.429 353.186 374.453 308.103 322.531 381.945 402.450 431.033 (yoy, %) 82,44% 80,19% 51,44% 44,11% 17,53% 0,34% 8,14% 7,48% 39,90% (qtq, %) 0,88% 22,62% 9,88% 6,02% -17,72% 4,68% 18,42% 5,37% 7,10% 2011 2009 2010 Pertumbuha n Pertumbuha n Pertumbuha n
Deposito merupakan salah satu komponen DPK yang mengalami pertumbuhan signifikan. Pertumbuhannya melampaui kedua komponen lainnya. Preferensi masyarakat dalam menempatkan kelebihan dananya di bank dalam periode tertentu dengan imbal hasil diatas suku bunga Tabungan dan Giro merupakan katalis penting pemicu pertumbuhan disamping minimnya kebutuhan masyarakat terhadap dana segar. Di sisi lain, meningkatnya porsi Deposito mencerminkan peningkatan biaya operasional bank yang tercermin dari peningkatan kewajiban yang harus dibayar dalam tenor yang lebih pendek dari pembiayaan.
Gambar 3.9 Perkembangan Struktur Dana Pihak Ketiga Bank Umum Syariah Aceh (Rp-juta)
Sumber: Laporan Bank Umum Syariah BI Banda Aceh, data diolah
Dari sisi kepemilikan, total DPK milik Pemerintah Daerah yang disimpan di bank umum syariah tergolong rendah yaitu sebesar 6,29% pada September 2011. Angka ini meningkat tipis dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 6,09%.
Tabel 3.11 Perkembangan Porsi Dana Pihak Ketiga Milik Pemda di Bank Umum Syariah Aceh
Sumber: Laporan Bank Umum Syariah BI Banda Aceh
3.2.3. Penyaluran Pembiayaan Secara Sektoral
Tabel 3.12 Perkembangan Penyaluran Pembiayaan Bank Umum Syariah Menurut Sektor Ekonomi (Rp-Juta)
Sumber: Laporan Bank Umum Syariah BI Banda Aceh, diolah
0 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 2009 2010 2011
Modal Kerja Investasi Konsumsi
9 12 3 6 9 12 3 6 9 120.623 110.860 93.980 99.079 98.559 92.247 105.614 82.399 91.226 39.985 40.829 28.980 33.964 34.394 37.087 32.545 27.239 36.066 138 31 - 5 5 - - - 0 80.500 70.000 65.000 65.110 64.160 55.160 73.069 55.160 55.160 13,39% 9,05% 8,50% 8,77% 8,92% 6,68% 8,05% 6,09% 6,29% - Deposito %DPK Pemda thd Tota l DPK Rp-Juta Tota l DPK Pemda - Giro - Tabungan 2010 2009 2011
9 12 3 6 9 Ma r-11 Jun-11 Sep-11 Ma r-11 Jun-11 Sep-11
Total Pembi a ya a n 1.367.267 1.616.405 1.936.461 2.099.648 2.265.553 91,79% 74,86% 65,70% 19,8% 8,4% 7,90%
Pertanian 8.122 7.465 9.145 10.817 12.836 -2,65% 20,97% 58,04% 22,5% 18,3% 18,67%
Pertambangan 0 0 0 0 0 -100,00% -100,00% n/a n/a n/a n/a
Industri Pengolahan 7.969 6.656 7.235 6.906 6.961 -20,05% -14,52% -12,65% 8,7% -4,5% 0,80%
Listrik Gas dan Air 0 1.400 0 0 900 n/a n/a n/a -100,0% n/a n/a
Konstruksi 87.354 85.675 86.577 88.983 91.417 0,99% -5,84% 4,65% 1,1% 2,8% 2,74%
Perdagangan 194.760 213.021 234.534 252.214 263.007 82,65% 58,55% 35,04% 10,1% 7,5% 4,28%
Pengangkutan 6.395 6.217 6.148 5.422 4.263 106,38% -4,19% -33,34% -1,1% -11,8% -21,38%
Jasa Dunia Usaha 256.412 323.352 340.576 349.730 364.595 121,85% 77,99% 42,19% 5,3% 2,7% 4,25%
Jasa Sosial Masy. 38.581 36.947 36.531 37.734 48.788 19,27% 26,56% 26,46% -1,1% 3,3% 29,29%
Lainnya 767.674 935.672 1.215.715 1.347.842 1.472.786 106,07% 93,05% 91,85% 29,9% 10,9% 9,27%
Berbeda dengan perbankan konvensional, perbankan syariah di Aceh memiliki preferensi berbeda dalam penyaluran pembiayaannya dengan mengenyampingkan segmentasi pasar yang berlaku pada kedua jenis usaha perbankan ini. Apabila penyaluran kredit bank umum lebih didominasi kepada sektor perdagangan, pada bank syariah penyaluran pembiayaannya lebih banyak disalurkan kepada sektor jasa dunia usaha. Adapun pertumbuhan tertinggi pada September 2011 secara tahunan pada sektor pertanian dengan catatan pertumbuhan sebesar 58,04% (yoy), sedangkan penurunan pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor pengangkutan sebesar -33,34% (yoy).
Gambar 3.10 Porsi Penyaluran Pembiayaan Bank Umum Syariah Menurut Sektor Ekonomi Triwulan II-2011
Sumber: Laporan Bank Umum Syariah BI Banda Aceh, diolah
Angka kredit bermasalah pada perbankan syariah pada akhir triwulan III-2011 tercatat mengalami peningkatan 74bps sehingga menjadi 3,82% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Penyumbang rasio NPL terbesar adalah dari sektor konstruksi dengan tingkat rasio NPL mencapai 21,08% diikuti oleh industri pengolahan dengan persentase sebesar 10,63%. Diperkirakan hingga akhir 2011, rasio NPL berada pada tingkatan 3% + 1%.
Tabel 3.13 Non Performing Financing (NPF)5 Bank Umum Syariah Menurut Sektor Ekonomi (%)
Sumber: Laporan Bank Umum Syariah BI Banda Aceh, diolah
5 Non Performing Financing (NPF) adalah pembiayaan yang termasuk dalam kualitas Kurang Lancar,
Diragukan dan Macet. Konsep ini sama dengan konsep NPL pada bank konvensional. Pertanian 0,57% Industri Pengolahan 0,31% Konstruksi 0,84% Perdagangan 8,59% Pengangkutan 6,33% Jasa Dunia Usaha
6,87% Jasa Sosial Masyarakat 11,35% Lainnya 65,13% Other 89,69% 9 12 3 6 9 Tota l Pembi a ya a n 3,25% 1,95% 1,81% 3,08% 3,82% Perta ni a n 22,46% 13,60% 10,09% 8,23% 6,44%
Perta mba nga n n/a n/a n/a n/a n/a
Indus tri Pengol a ha n 9,99% 2,84% 7,48% 7,70% 10,63%
Li s tri k Ga s da n Ai r n/a n/a n/a n/a n/a
Kons truks i 8,80% 4,12% 3,56% 4,72% 21,08% Perda ga nga n 4,92% 3,28% 4,19% 9,50% 9,15% Penga ngkuta n 0,03% 1,72% 1,98% 2,21% 0,73% Ja s a Duni a Us a ha 6,19% 4,26% 3,92% 4,26% 6,26% Ja s a Sos i a l Ma s ya ra ka t 7,94% 1,98% 3,15% 4,40% 3,79% La i nnya 0,73% 0,55% 0,51% 1,36% 1,15% 2010 2011
Non Performi ng Fi na nci ng (NPF)
3.2.4. Penyaluran Pembiayaan Menurut Penggunaan
Tabel 3.14 Pertumbuhan Penyaluran Pembiayaan Bank Umum Syariah Menurut Penggunaan (Rp-Juta)
Sumber: Laporan Bank Umum Syariah BI Banda Aceh, diolah
Meningkatnya permintaan kendaraan bermotor dan kepemilikan rumah oleh masyarakat mendorong peningkatan pada pembiayaan yang bersifat konsumtif. Pertumbuhan pada pembiayaan konsumtif pada triwulan ini mencapai 91,95% (yoy) atau 9,27% (qtq). Penyaluran kredit konsumsi diperkirakan akan mengalami peningkatan sampai akhir 2011 mengingat demand dan rasio NPL yang dihasilkan adalah yang terendah, yakni sebesar 1,15%.
Gambar 3.15 NPF Bank Umum Syariah Menurut Penggunaan (%)
Sumber: Laporan Bank Umum Syariah BI Banda Aceh, diolah
9 12 3 6 9 Mar-11 Jun-11 Sep-11 Mar-11 Jun-11 Sep-11
Total Pembi ayaan 1.367.267 1.616.405 1.936.461 2.099.648 2.265.553 91,79% 74,86% 65,70% 19,80% 8,43% 7,90% Modal Kerja 505.203 576.033 613.527 651.141 649.634 86,65% 57,62% 28,59% 6,51% 6,13% -0,23% Inves tas i 94.390 104.700 107.219 100.665 143.133 17,81% 12,52% 51,64% 2,41% -6,11% 42,19% Kons ums i 767.674 935.672 1.215.715 1.347.842 1.472.786 106,07% 93,05% 91,85% 29,93% 10,87% 9,27% qtq yoy 2010 Rp-Juta 2011 9 12 3 6 9
Total Pembi ayaan 3,25% 1,95% 1,81% 3,08% 3,82%
Modal Kerja 6,88% 3,74% 3,94% 6,17% 8,58%
Inves tas i 4,33% 4,58% 4,50% 6,06% 9,70%
Kons ums i 0,73% 0,55% 0,51% 1,36% 1,15%
2011 2010
Non Performi ng Fi nanci ng (NPF)
SISTEM PEMBAYARAN
3.3. TRANSAKSI NON TUNAI
3.3.1. BI-RTGS (Bank Indonesia Real Time Gross Settlement)
Sistem layanan BI-RTGS6 yang menyediakan layanan pemindahan dana secara cepat dan minimnya risiko terkait transaksi RTGS menjadikannya sebagai primadona dalam sistem pembayaran non tunai pada hampir di seluruh wilayah Indonesia. Komposisi layanan sistem pembayaran non-tunai di Aceh adalah 98,41% : 1,59% untuk transaksi RTGS.
Gambar 3.16 Porsi Transaksi Non Tunai Provinsi Aceh (%)
Triwulan II-2011 Triwulan III-2011
Sumber : www.bi.go.id, diolah
Sampai dengan medio semester II-2011, pertumbuhan sistem pembayaran non tunai dengan menggunakan sistem BI-RTGS maupun kliring tercatat masih menunjukkan pertumbuhan negatif dalam kisaran tipis. Pola ini merupakan pola tahunan dan akan bertumbuh positif pada akhir 2011. Penyelesaian transaksi melalui BI-RTGS selama triwulan III-2011 di Aceh mengalami penurunan tipis dari sisi nominal, namun mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Tabel 3.17 Perkembangan Transaksi RTGS Provinsi Aceh
Sumber : www.bi.go.id, diolah
Secara nominal, pertumbuhan pemindahan dana mengalami penurunan sebesar 2,3% (qtq) atau menurun tipis dari akhir semester I-2011 sehingga menjadi Rp62,40 triliun terutama dari sisi incoming fund. Hal sebaliknya terjadi pada volume transaksi RTGS yang mengalami kenaikan secara agregat signifikan hingga 12,40% (qtq) dan menunjukkan positive trending pada incoming, outgoing dan netting transaction.
6 BI-RTGS adalah sistem transfer dana elektronik yang penyelesaian transaksinya dilakukan dalam waktu
seketika. BI-RTGS memiliki peranan dalam memproses transaksi pembayaran yang termasuk High Value Payment System atau transaksi bernilai besar (Rp100 juta ke atas dan bersifat urgent). Metode penyelesaian secara gross to gross settlement, final, real time dan irrevocable.
98,90% 1,10% RTGS Kliring 98,41% 1,59% RTGS Kliring
I II III IV I II III IV I II III IV-10 I-11 II-11 III-11
60,90 59,30 64,53 70,73 65,94 93,27 97,27 125,49 67,77 63,85 62,40 29,0% -46,0% -5,8% -2,3% Da ri Aceh 11,59 12,25 16,88 17,97 14,78 15,95 24,09 36,41 21,17 17,67 18,30 51,1% -41,8% -16,5% 3,5% Ke Aceh 46,48 44,34 44,03 46,71 48,42 72,81 59,94 64,54 35,99 36,08 35,25 7,7% -44,2% 0,2% -2,3% Da ri -Ke Aceh 2,83 2,72 3,62 6,04 2,74 4,52 13,24 24,55 10,61 10,10 8,85 85% -56,8% -4,8% -12,4% 41,00 38,04 58,68 71,41 50,69 53,59 60,24 72,35 50,83 45,66 51,33 20,1% -29,7% -10,2% 12,4% Da ri Aceh 22,12 19,66 29,74 34,26 23,01 25,04 28,95 34,07 28,87 25,14 28,60 17,7% -15,3% -12,9% 13,8% Ke Aceh 15,47 15,20 25,17 30,10 22,74 24,28 25,99 31,79 16,99 16,18 17,69 22,3% -46,6% -4,8% 9,4% Da ri -Ke Aceh 3,41 3,18 3,76 7,05 4,93 4,28 5,30 6,50 4,98 4,34 5,05 22,6% -23,4% -12,8% 16,2% Total Nominal Nominal (Rp-triliun) Total Volume Volume (Transaksi-ribu) 2009 2010 2011 Growth (qtq)
Berdasarkan porsi komposisi transaksi melalui sistem RTGS, sebesar 56,49% transaksi melalui sistem BI-RTGS didominasi oleh incoming fund dari luar Aceh.
Gambar 3.18 Porsi Transaksi Melalui RTGS
Sumber : www.bi.go.id, diolah
3.3.2. KLIRING
Berbeda dengan transaksi melalui sistem BI-RTGS, perputaran kliring7 selama triwulan III-2011 mengalami kenaikan dalam kisaran signifikan baik secara nominal maupun volume. Secara triwulanan, jumlah transfer dana dan volume (warkat) melalui kliring berturut-turut mengalami peningkatan sebesar 41,90%(qtq) menjadi Rp1.011,12 miliar dan 37,80%(qtq) menjadi 37.579 lembar.
Tabel 3.19 Perkembangan Transaksi Kliring di Provinsi Aceh
Sumber : www.bi.go.id, diolah
Seiring dengan peningkatan transaksi transfer dengan menggunakan sistem kliring, penarikan cek/BG kosong juga mengalami kenaikan kendati dalam kisaran tipis secara volume, yakni 1,6% (qtq). Tercatat sampai dengan akhir September 2011, terjadi penarikan cek/BG kosong sebesar Rp20,6 miliar dengan jumlah warkat sebanyak 798 lembar (jumlah warkat mengalami penurunan sebesar 24,5% (qtq) terhadap triwulan sebelumnya).
0% 20% 40% 60% 80% 100% I II III IV I II III IV I II III 2009 2010 2011
Dari Aceh Ke Aceh Dari-Ke Aceh
IV I II III IV I II III IV-10 I-11 II-11 III-11
Nominal (Rp-miliar) 1.187,2 723,0 643,4 913,6 1.231,6 756,1 712,6 1.011,12 34,8% -38,6% -5,8% 41,9% Volume (warkat) 37.057 20.412 25.892 32.786 46.374 27.719 27.277 37.579 41,4% -40,2% -1,6% 37,8% - Nominal (Rp-miliar) 31,5 19,9 22,8 17,1 17,4 13,3 20,3 20,6 1,7% -23,5% 52,2% 1,6% - Volume (warkat) 799 803 906 886 661 833 1.057 798,0 -25,4% 26,0% 26,9% -24,5% - % Nominal 2,65% 2,75% 3,55% 1,87% 1,41% 1,76% 2,84% 2,04% - % Volume 2,16% 3,93% 3,50% 2,70% 1,43% 3,01% 3,88% 2,12% 2009 2010 2011 Growth (qtq)
3.4. TRANSAKSI TUNAI
Aliran uang kartal8 di KBI Banda Aceh sampai dengan akhir September 2011 masih mencatat net-outflow9
sebesar Rp655,60 miliar atau mengalami peningkatan secara triwulan sebesar 21,40%. Peningkatan secara triwulan tertinggi terjadi pada aliran uang kartal masuk yang mencapai Rp497,6 miliar atau 78,5% (qtq). Menjelang akhir tahun pada satu periode, aliran uang kartal terpola net outflow dengan trending peningkatan pada sisi volume mengingat semakin meningkatnya aktivitas masyarakat dan pelaku dunia usaha terkait penyelesaian transaksi keuangan. Khususnya pada triwulan III-2011, outflow menjadi lebih tinggi mengingat 2(dua) musim besar seperti Ramadhan dan lebaran yang berimplikasi kepada peningkatan kebutuhan cash masyarakat.
Tabel 3.20 Perkembangan Aliran Uang Kartal di KBI Banda Aceh
Sumber : BI Banda Aceh, diolah
3.5. PEREDARAN UANG PALSU
Peredaran uang palsu di wilayah kerja BI Banda Aceh tercatat mengalami peningkatan sebesar 190,24% (qtq) pada TW III-2011. Uang palsu dengan nilai nominal tertera sebesar Rp14,82 juta dengan dominansi pecahan 50.000. Dalam menghindari merebaknya uang palsu di kalangan masyarakat, BI Banda Aceh akan mengintensifkan kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat mengenai ciri-ciri keaslian uang Rupiah dan bekerja sama dengan instansi yang berwenang dalam menindak para pelaku pembuat uang palsu.
Tabel 3.21 Perkembangan Temuan Uang Palsu di KBI Banda Aceh
Sumber : BI Banda Aceh
I II III IV I II III IV I II III IV-10 I-11 II-11 III-11
Infl ow (Rp-mi l i a r) 66,3 58,4 123,3 150,7 198,1 143,8 252,3 143,4 280,4 278,74 497,6 -43,2% 95,5% -0,6% 78,5% Outfl ow (Rp-mi l i a r) 240,7 413,7 683,4 671,8 275,6 591,6 830,0 583,6 455,7 818,88 1.153,2 -29,7% -21,9% 79,7% 40,8% Net-Outfl ow (Rp-mi l i a r) 174,4 355,3 560,1 521,1 77,5 447,8 577,7 440,2 175,4 540,13 655,6 -23,8% -60,2% 208,0% 21,4%
Aliran Uang Kartal di BI Banda Aceh
2009 2010 2011 Growth (qtq)
Periode
I-08 II-08 III-08 IV-08 I II III IV I II III IV I II III
Nominal 1.445.000 2.285.000 0 19.080.000 5.180.000 14.220.000 5.820.000 4.300.000 50.000 0 0 0 250.000 7.790.000 14.820.000 100.000 500.000 1.400.000 0 700.000 3.000.000 13.900.000 4.200.000 1.800.000 0 0 0 0 200.000 6.300.000 1.100.000 50.000 800.000 700.000 0 12.650.000 2.000.000 300.000 1.550.000 2.500.000 50.000 0 0 0 50.000 1.450.000 13.700.000 20.000 140.000 160.000 0 5.620.000 160.000 20.000 40.000 0 0 0 0 0 0 0 0 10.000 0 20.000 0 110.000 10.000 0 30.000 0 0 0 0 0 0 40.000 20.000 5.000 5.000 5.000 0 0 10.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah (lembar) 24 39 0 554 81 146 78 68 1 0 0 0 3 96 287 100.000 5 14 0 7 30 139 42 18 0 0 0 0 2 63 11 50.000 16 14 0 253 40 6 31 50 1 0 0 0 1 29 274 20.000 7 8 0 283 8 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 10.000 0 2 0 11 1 0 3 0 0 0 0 0 0 4 2 5.000 1 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Temuan uang palsu di BI Banda Aceh