• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ANTARA METODE DISCOVERY LEARNING DENGAN DRILL PADA POKOK BAHASAN LISTRIK DINAMIS DI SMA NEGERI 11 BEKASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERBANDINGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ANTARA METODE DISCOVERY LEARNING DENGAN DRILL PADA POKOK BAHASAN LISTRIK DINAMIS DI SMA NEGERI 11 BEKASI"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ANTARA METODE DISCOVERY LEARNING DENGAN DRILL PADA POKOK BAHASAN LISTRIK

DINAMIS DI SMA NEGERI 11 BEKASI Diah Fajaryanti

1. Sekolah Menengah Atas Negeri 11, Bekasi. 2. Program Studi Pendidikan Fisika

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tidak atau terdapat perbandingan hasil belajar fisika siswa antara metode Discovery Learning dengan Drill. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 11 Bekasi Kelas X pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Quasi eksperimen. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbandingan hasil belajar fisika siswa antara metode Discovery Learning dengan Drill.

Kata kunci :hasil belajar fisika, Discovery Learning, Drill.

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada dasarnya merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Banyak upaya dalam pendidikan telah dilakukan, diantaranya yaitu pengembangan maupun penyempurnaan kurikulum yang dilakukan secara bertahap, konsisten dan disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk menunjang pendidikan tersebut diperlukan pemilihan metode yang tepat dan sesuai dengan materi atau konsep yang akan diajarkan. Metode mengajar yang dipakai oleh guru akan banyak berpengaruh terhadap cara belajar siswa yang mana setiap siswa mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Semakin tepat metode yang digunakan maka semakin efektif dan efisien kegiatan pembelajaran yang dilakukan antara guru dan siswa yang pada akhirnya akan menunjang

keberhasilan belajar siswa dan keberhasilan mengajar yang dilakukan oleh guru. Guru harus dapat memilih dengan tepat metode belajar yang akan digunakan dalam mengajar dengan memperhatikan tujuan belajar yang akan dicapai, situasi dan kondisi serta tingkat perkembangan siswa.

Metode belajar dalam fisika memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Karena kesesuaian pemilihan metode belajar secara langsung berpengaruh terhadap perilaku dan aktivitas belajar siswa. Dalam pemilihan metode belajar untuk bidang studi fisika seharusnya dilakukan dengan

mempertimbangkan tingkat

perkembangan dan kondisi psikologis siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat berinteraksi dengan metode belajar yang ada serta mampu mengaplikasikan pengetahuan fisika sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa dan harus menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung kepada siswa.

(2)

Pada dasarnya setiap siswa mendapat informasi dan kegiatan belajar yang sama, tetapi setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda. Hasil perbedaan kemampuan siswa akan mengakibatkan adanya perbedaan penerimaan atau daya serap pelajaran yang diberikan, sehingga dengan mengetahui perbedaan tersebut guru dapat merencanakan dan memberikan metode mengajar yang tepat agar kebutuhan siswa-siswi terlayani sesuai dengan penyajian materi yang telah digariskan dalam kurikulum.

Dari uraian diatas menjadi pendorong bagi penulis untuk memilih metode mengajar yang efektif, metode yang dapat merangsang siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran sehingga pemahaman konsep siswa menjadi kuat. Dari sekian banyak metode pembelajaran, menurut penulis yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah metode penemuan (discovery learning) dan metode latihan (drill).

Metode Discovery Learning dalam proses pembelajarannya melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk menemukan konsep fisika yang akan dicapai. Pada metode discovery learning siswa mengalami sendiri proses belajar dalam memahami konsep fisika yang dipelajarinya serta siswa akan dituntut lebih aktif dan mandiri dalam pembelajaran. Sehingga kemampuan atau kreativitas siswa untuk berfikir dapat berkembang. Akan tetapi, dalam metode Discovery Learning pemahaman konsep lebih diutamakan dibandingkan dengan hasil belajar.

Sedangkan metode Drill proses pembelajarannya siswa dituntut untuk memiliki kecepatan berfikir dalam mengerjakan soal yang dilakukan secara berulang-ulang. Tapi Perlu disadari bahwasannya dalam metode drill, kemampuan atau inisiatif siswa untuk berpikir kurang berkembang karena metode drill mengharuskan siswa

menghafal. Dalam fisika, menghafal perlu dilakukan tetapi kurang tepat bila di lakukan berulang-ulang, karena dapat menjadikan siswa kurang aktif. Metode Drill juga lebih mengutamakan hasil belajar dibandingkan pemahaman konsep, sehingga siswa sulit untuk memahami konsep-konsep fisika yang telah di pelajari dan siswa tidak dapat mengembangkan kreativitas berfikir yang dimilikinya.

Dari uraian yang telah dijelaskan, pada pelaksanaan pengajaran dengan metode discovery learning dan metode drill masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Sehingga akan diketahui secara jelas apakah terdapat perbandingan hasil belajar fisika siswa dengan metode discovery learning dan metode drill. Maka judul dari penelitian ini adalah: “Perbandingan Hasil Belajar Fisika Siswa Antara Metode Discovery Learning Dengan Drill Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Di SMA Negeri 11 Bekasi”

1.2. Identifikasi Masalah

Berpedoman pada latar belakang, maka masalah-masalah yang dapat diidentifikasi adalah :

1. Apakah guru sudah menggunakan metode yang tepat untuk mengajar fisika?

2. Apakah metode discovery learning

dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika?

3. Apakah metode drill dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika?

4. Apakah dengan metode discovery

learning dapat mengembangkan

kreativitas siswa ?

5. Apakah dengan metode drill dapat mengembangkan kreativitas siswa ? 6. Apakah terdapat perbandingan hasil

belajar fisika siswa yang diajarkan dengan metode discovery learning

(3)

2. KAJIAN TEORI 2.1. Belajar

Belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Menurut wittig dalam buku Psikologi Belajar mendefinisikan “belajar sebagai perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan tingkah laku dalam suatu organisme sebagai hasil pengalaman.”

Belajar menurut pandangan Bruner dalam buku Trianto “bahwa belajar hendaknya melalui partisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar meraka dianjurkan memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka menemukan prinsip-prinsip itu sendiri. Belajar ini terkenal dengan sebutan belajar penemuan (Discovery Learning).”

2.2. Fisika

Druxes mendefinisikan fisika sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha menguraikan serta menjelaskan hukum-hukum alam dan kejadian alam dengan gambaran menurut pikiran manusia.

2.3. Hasil Belajar

Menurut Nana Sudjana, “hasil belajar adalah kemampuan kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.” Dan menurut Dimyati dan Mudjiono, hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.

2.4. Hakekat Hasil Belajar Fisika Hasil belajar fisika diartikan oleh Khadijah Tabrani sebagai “ukuran yang menunjukkan seberapa jauh tujuan pembelajaran fisika yang dicapai oleh

peserta didik melalui pengalaman belajar yang telah didapatkan. Khadijah Tabrani juga mengartikan Hasil belajar fisika sebagai tingkat penguasaan terhadap materi fisika pada ranah kognitif sebagai hasil dari pembelajaran fisika dalam kurung waktu tertentu berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

2.5. Metode Mengajar

Metode menurut suryosubroto adalah cara, yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Menurut Syaiful Bahri “Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2.6. Metode Discovery Learning Menurut Mulyasa metode

discovery learning (penemuan) adalah “suatu metode belajar yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan lebih mengutamakan proses daripada hasil belajar.

Dr. J. Richard dalam buku Dra. Roestiyah menjelaskan bahwa metode

discovery learning adalah suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, diskusi, membaca sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode discovery learning adalah suatu metode belajar aktif yang siswa dituntut untuk mencari sendiri konsep yang akan dipelajari, sehingga kreatifitas siswa dapat berkembang dan guru hanya bersifat sebagai fasilitator saja

2.7. Metode Drill

Menurut Syaiful Sagala metode

drill (latihan) merupakan suatu cara mengajar yang menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu seperti ketangkasan, ketepatan, dan ketrampilan.

Menurut Moh. Sholeh Hamid dalam buku metode edutainment

(4)

menjelaskan bahwa “Metode latihan juga biasa disebut juga metode training. Metode ini merupakan metode yang digunakan guru untuk mengajar dalam upaya menanamkan berbagai kebiasaan atau keterampilan tertentu kepada para siswa.

Dari beberapa pendapat di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa Metode drill adalah suatu metode yang diajarkan oleh guru dengan pemberian latihan soal yang terus-menerus dan siswa hanya dituntut untuk menghafal dan mengingat dengan cepat materi yang telah diajarkan kemudian menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk menjawab dan mengerjakan soal.

2.8. Listrik Dinamis

Listrik Dinamis terbagi menjadi dua macam, yaitu: Listrik Arus Searah (Direct Current/DC) dan Listrik Arus Bolak-Balik (Alternating Current/AC). a. Arus Listrik

Arus listrik didefinisikan sebagai laju aliran muatan listrik yang melalui suatu luasan penampang lintang.

Pada Rangkaian tunggal, seperti pada Gambar 1, arus pada setiap saat sama pada satu titik (katakanlah titik A) seperti pada titik yang lain (misalnya B). Hal ini sesuai dengan kekekalan muatan listrik (muatan tidak hilang).

(a)

(b)

Gambar 1

(a). Rangkaian listrik sederhana. (b) Gambar skematis dari rangkaian

b. Hukum Ohm

Untuk menghasilkan arus listrik pada rangkaian, dibutuhkan beda potensial. Satu cara untuk menghasilkan beda potensial ialah baterai. George Simon Ohm menentukan dengan eksperimen bahwa arus pada kawat logam sebanding dengan beda potensial V yang diberikan ke ujung-ujungnya :

(1) Jika kita menggabungkan dengan hambatan, maka kita dapatkan:

(2) Definisi hambatan dapat dilihat pada Gambar 2 grafik tegangan (V) terhadap arus (I) dan nilai hambatan listrik sama dengan kemiringan dari gravik V terhadap I.

Gambar 2

c. Hambatan Listrik pada Kawat Besar kecilnya hambatan listrik pada sebuah kawat penghantar (bahan) dipengaruh oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Jenis bahan

2. Panjang (l)

3. Luas penampang (A) 4. Suhu (T)

Gambar 3

Dari faktor-faktor diatas di dapatkan Persamaan hambatan listrik, hambatan R kawat logam berbanding lurus dengan panjang L dan berbanding terbalik dengan luas penampang lintang A, yaitu:

V

I (Ampere)

A

(5)

R =

A l

(3) d. Susunan Rangkaian Listrik.

Dalam rangkaian listrik terdapat dua rangkaian yaitu, rangkaian secara seri dan rangkaian secara paralel.

1. Susunan Seri

Hambatan pengganti seri sama dengan jumlah hambatan tiap-tiap komponen :

(4)

Gambar 4 Rangkaian listrik seri 2. Susunan Paralel

Hambatan pengganti paralel sama dengan jumlah hambatan tiap-tiap komponen : R 1 .... R 1 R 1 1 n 2 1     p R (5) Gambar 5

Rangkaian listrik paralel e. Hukum Kirchhoff

Hukum kirchhoff ada dua, yaitu: Hukum I Kirchhoff (hukum titik cabang) dan Hukum II Kirchhoff (hukum loop). 1. Hukum 1 Kirchhoff

Hukum I Kirchhoff adalah tentang percabangan rangkaian listrik, yang menyatakan : “Jumlah kuat arus yang masuk pada suatu titik cabang sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik cabang itu”.

Gambar 6 Rangkaian bercabang

Sehingga Hukum I Kirchoff dapat di rumuskan menjadi:

(6) 2. Hukum II Kirchoff

Hukum II Kirchhoff berbunyi : “ hasil penjumlahan dari jumlah ggl dalam sumber tegangan dan penurunan tegangan sepanjang rangkaian tertutup (loop) sama dengan nol.”

(7) 3. Kerangka Berfikir

Hasil belajar yang akan dicapai siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang ada dalam proses pembelajaran, salah satunya adalah penggunaan metode dalam proses pembelajaran fisika. Penggunaan metode yang tidak tepat dapat menyebabkan hasil belajar yang rendah, ini dikarenakan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.

Dalam pembelajaran fisika khususnya pada pembelajaran listrik dinamis, metode drill sering digunakan dalam proses pengajaran karena dianggap metode yang paling mudah dilakukan, karena sebagian besar guru masih beranggapan bahwa banyaknya latihan soal yang berulang-ulang akan mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Tetapi metode drill tidak dapat mengarahkan siswa untuk berpikir secara sistematis, yakni siswa tidak akan mendapatkan gambaran mengenai fisika apabila secara terus-menerus diminta untuk mengulang keterampilan yang

(6)

bersifat menghafal rumus. Dalam metode drill siswa tidak akan mampu memahami konsep dalam belajar fisika, selain itu siswa juga tidak berkembang dalam pembelajaran fisika selanjutnya yang dilakukan hanya latihan terus-menerus, dan dalam metode ini siswa hanya difokuskan pada apa yang telah diketahui.

Pelaksanaan pembelajaran melalui metode belajar yang lebih tepat diharapkan peran siswa menjadi lebih aktif, interaksi siswa dengan meteri dapat berjalan dengan optimal. Langkah itu dapat dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Metode belajar yang dimaksud adalah metode belajar discovery learning, peran guru hanya berfungsi sebagai fasilitator dengan penerapan metode belajar tersebut diharapkan proses belajar menjadi lebih menarik dan hasil belajar siswa dapat lebih ditingkatkan. Sesuai dengan karaktersitiknya, metode belajar discovery learning adalah metode belajar individu. Metode discovery learning merupakan metode penemuan, dalam metode ini panjelasan materi listrik dinamis tidak seluruhnya dijelaskan oleh guru tetapi siswa diberikan kesempatan untuk memahami dan menyimpulkan sendiri apa yang telah dipelajari. Sedangkan metode belajar drill adalah metode belajar dengan pemberian soal secara terus-menerus sehingga siswa hanya menghafal dan belum dapat menemukan konsep yang akan dicapai.

Metode belajar discovery learning sebagai metode belajar yang menuntut peran aktif siswa, memberi peluang besar bagi siswa untuk berinteraksi dengan materi pelajaran, dalam hal ini dibutuhkan partisipasi aktif siswa dalam belajar, kesadaran akan manfaat pengetahuan akan mendorong siswa untuk lebih giat dalam belajar.

Metode belajar drill adalah metode belajar yang menekankan proses

pemberian soal latihan yang terus-menerus dan siswa hanya berlatih dengan hafalan dan ingatan dalam pembelajaran fisika. Dengan mengetahui kelebihan yang ada pada metode pembelajaran discovery learning dengan metode drill maka diduga terdapat perbedaan metode discovery learning dengan metode drill dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

4. HIPOTESIS

4.1. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan Kerangka teori, Kesimpulan teori dan Kerangka Berfikir maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian :

H0 : Tidak terdapat perbandingan hasil belajar fisika siswa antara metode

discovery learning dengan metode

drill.

H1 : Terdapat perbandingan hasil belajar fisika siswa antara metode discovery learningdengan metode drill.

5. METODOLOGI PENELITIAN 5.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMAN 11 Bekasi kelas X semester genap tahun 2011/2012.

5.2. Teknik Pengambilan Sample Teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah teknik random sampling dengan:

1. Populasi target

Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 11 Bekasi yang terdaftar pada semester genap tahun ajaran 2011/2012.

2. Populasi Terjangkau

Populasi terjangkau adalah siswa kelas X SMA Negeri 11 Bekasi yang terdaftar pada semester genap tahun ajaran 2011/2012

(7)

5.3. Pengukuran 5.3.1. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Validitas instrumen penelitian untuk variabel hasil belajar siswa dihitung melalui rumus point biserial, hal ini sesuai dengan skor yang diperoleh untuk tes hasil belajar siswa, adapun rumus tersebut adalah: q p S Mt Mp r t pbis         (1) Keterangan : pbis r

: koefisien korelasi biserial

p M

: rata-rata skor dari subjek yang menjawab benar bagi item yang dicari validitasnya.

t M

: rata-rata skor total seluruh siswa

p: proporsi siswa yang menjawab benar q: proporsi siswa yang menjawab salah

t S

: standar deviasi dari skor total

5.3.2. Reliabilitas

Reliabilitas tes berhubungan dengan masalah kepercayaan. Maka suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Perhitungan selanjutnya adalah uji reliabilitas instrumen, yang dilakukan dengan rumusKR - 20yaitu:

                

t t V pq V k k r 1 11 (2) Keterangan : 11

r : Reliabilitas instrumen (rhitung)

K :Banyaknya butir pertanyaan t

V : Varians total

p: Proporsi siswa yang menjawab benar

q: Proporsi siswa yang menjawab salah

5.3.3. Taraf Kesukaran

Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut taraf

kesukaran (difficultry index). Rumus mencari P adalah.

Keterangan:

Indeks kesukaran

Jumlah siswa yang menjawab soal Jumlah total peserta

5.3.4. Daya Pembeda

Daya pembeda soal, adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai. Rumus untuk menentukan daya pembeda adalah:

Dimana:

Daya pembeda Jumlah peserta tes

Banyaknya peserta kelompok atas

Banyaknya peserta kelompok bawah

Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal benar

Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal benar

Proporsi pesert kelompok atas yang menjawab benar

Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

5.4. Teknik Analisa Data 5.4.1. Hipotesis Statistik

H0: µ1=µ2 H1: µ1≠µ2 Keterangan :

µ1 : nilai rata-rata hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan metode discovery learning ( kelas eksperimen )

µ2 : nilai rata-rata hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan metode drill ( kelas kontrol ) H0: hipotesis nol, tidak terdapat

perbandingan hasil belajar fisika antara kelas eksperimen dan kelas kontrol

(4) (3)

(8)

H1:hipotesis kerja,terdapat perbandingan hasil belajar fisika antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

5.4.2. Uji Prasyarat Analisa Data 5.4.2.1. Uji Normalitas Data

Menurut Sudjana uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui distribusi sampel yang normal, perhitungan uji normalitas dilakukan melalui uji Lilliefors dengan taraf signifikan

5.4.2.2. Uji Homogenitas

Untuk pengujian homogenitas dalam hal ini dapat diuji menggunakan rumus Fisher atau disebut juga perhitungan dengan uji fisher (F).

(5) Keterangan :

: Variansi terbesar dari kedua kelompok data

: Variansi terkecil dari kedua kelompok data

5.4.3. Pegujian Hipotesis

Data yang didapat dalam penelitian ini selanjutnya dianalisis dengan menggunakanuji-t.Rumus yang digunakan yaitu:                   2 1 2 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 2 1 1 n n n n S n S n X X t (6) Keterangan : 1

x : rata-rata hasil belajar fisika kelompok eksperimen

2

x : rata-rata hasil belajar fisika kelompok kontrol

t : hasil hitung distribusi t

1

n : banyaknya data kelompok eksperimen

2

n : banyaknya data kelompok kontrol

2 1

S : varians hasil belajar fisika kelompok eksperimen

2 2

S : varians hasil belajar fisika kelompok kontrol

Untuk menguji Hipotesis digunakan derajat kebebasan pada taraf signifikansi  = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = (nxny 2) dimana

didapat .

6. Hasil Penelitian

6.1. Analisis Instrumen Penelitian Sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu instrument diuji validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.

6.1.1. Validitas

Perhitungan data uji validitas butir soal tes hasil beljar fisika berjumlah 50 soal. Menggunakan rumus Point Biserial didapat 35 soal yang valid dan 15 soal invalid.

6.1.2. Reliabilitas

Dari data hasil uji coba tes hasil belajar fisika diperoleh varians dengan rumus:

Menghitung reliabilitas instrumen uji coba dengan menggunakan rumus (Kuder Richardson) sebagai berikut:

(9)

rhitung > rtabel atau 0,855 > 0,297maka instrumen reliabel.

6.1.3. Taraf Kesukaran

Setelah diadakan validitas dan reliabilitas untuk memperoleh soal kualitas soal yang baik maka diadakan pengujian taraf kesukaran. Dari data yang didapat, maka taraf kesukarannya terbagi atas 8 soal mudah, 23 soal sedang, dan 4 soal sukar.

6.1.4. Daya Pembeda Soal

Hasil pengujian daya pembeda soal terdapat 9 soal Baik dan 26 soal cukup.

6.2. Pengujian Prasyarat Analisis Sebelum melakukan pengujian hipotesa, terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas dan homogenitas data sebagai berikut :

6.2.1. Uji Normalitas a. Kelas Eksperimen

Dari data yang diperoleh Harga Lhitung = 0,083 < 0,140 = Ltabel dengan n = 40 dan taraf signifikansi α = 0,05. Karena LHitung < Ltabel atau 0,083 <

0,140, maka dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen berdistribusinormal. b. Kelas Kontrol

Dari data yang diperoleh Harga

LHitung= 0,111 < 0,140 = Ltabel dengan n

= 40 dan taraf signifikansi α = 0,05. Karena Lhitung< Ltabel atau 0,111 < 0,140 maka dapat disimpulkan bahwa kelas kontrol berdistribusinormal.

6.2.2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas kedua kelas dilakukan dengan menggunakan uji

Fisher. Dari hasil perhitungan maka didapat dengan derajat kebebasan pembilang 39 dan derajat kebebasan penyebut 39 maka FHitung = 1,113 dan

Ftabel (0,05:39:39) adalah 1,746 maka dapat disimpulkan pada kedua kelas tersebut

FHitung = 1,113 < 1,746 = Ftabel maka dengan α = 0,05. Dengan demikian H0 diterima dan kedua kelas yaitu kelas

eksperimen dan kelas kontrol dalam keadaan yang homogen.

6.3. Pengujian Hipotesis

Hipotesis yang telah dirumuskan menyatakan bahwa terdapat perbandingan hasil belajar fisika siswa yang menggunakan metode Discovery Learning dan metode Drill. Dari perhitungan maka diperoleh hasil perhitungan thitung > ttabel atau 2,895 > 1,994 dengan taraf signifikansi α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 78 yang menyebabkan H0tidak ada perbandingan hasil belajar fisika siswa dengan metode metode Discovery Learning dan metode Drill pada pokok bahasan listrik dinamis ditolak dan menerima H1. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terhadap perbandingan hasil belajar fisika siswa dengan metode Discovery Learning dan metode Drill.

7. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 7.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :

1. Perhitungan hasil belajar fisika kelas X.1 SMA Negeri 11 Bekasi sebagai kelas eksperimen pada pokok bahasan Listrik Dinamis memiliki nilai rata-rata 71,2 dan kelas X.3 sebagai kelas Kontrol memiliki nilai rata-rata 65,25.

2. Rata–rata hasil belajar fisika siswa setelah menggunakan metode Discovery Learning (Penemuan) lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar fisika siswa yang menggunakan metode Drill (Latihan). Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran fisika dengan menggunakan Discovery Learning (Penemuan) lebih efektif dibandingkan menggunakan Drill (Latihan) terhadap peningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 11 Bekasi pada pokok bahasan Listrik Dinamis.

(10)

3. Perhitungan uji normalitas hasil belajar fisika siswa pada materi listrik dinamis yang diterapkan dengan metode Discovery Learning, diperoleh LHitung< Ltabelatau 0,083 <

0,140. Hal ini menujukan bahwa

kelas eksperimen berdistribusi normal.

4. Perhitungan uji normalitas hasil belajar fisika siswa pada materi listrik dinamis yang diterapkan dengan metode Discovery Learning, diperoleh LHitung< Ltabelatau 0,111 <

0,140. Hal ini menujukan bahwa

kelas kontrol berdistribusi normal. 5. Perhitungan uji homogenitas hasil

belajar fisika siswa pada materi listrik dinamis yang diterapkan dengan metode Discovery Learning dan Drill, diperoleh FHitung = 1,113 dan Ftabeldengan (0,05:39:39) adalah 1,746 karena FHitung < Ftabel atau 1,113 < 1,746. Dengan demikian H0 diterima dan kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam keadaan yang homogen.

6. Perhitungan uji statistik hipotesis denganuji-t, didapat perhitungan uji hipotesis thitung > ttabel atau 2,895 > 1,994, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian(H1)

diterima dan tolak hipotesis (H0). Dengan demikin dapat dinyatakan bahwa terdapat perbandingan hasil belajar fisika siswa yang diterapkan metode Discovery Learning dengan metode Drill.

7. Dalam pembelajaran dengan metode drill siswa hanya diberikan latihan yang berulang-ulang. Karena didalam pembelajarannya siswa dituntut berfikir cepat sehingga siswa hanya menghapal pelajaran yang telah diberikan guru. Sehingga siswa tidak mempunyai pemahaman konsep.

8. Penggunaan metode discovery learning sebagai metode belajar dapat menarik minat dan perhatian

siswa karena dalam metode ini siswa akan lebih kreatif dalam berfikir dan menemukan konsep yang akan dicapai dibandingkan dengan penggunaan metode drill yang cenderung mengharuskan siswa untuk menghafal rumus.

7.2. IMPLIKASI

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka metode Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terutama pada pembelajaran fisika di tingkat SMA. Siswa menjadi aktif dan termotivasi dalam belajar fisika karena dalam metode ini siswa belajar menemukan sendiri konsep atau materi yang dicapai. Untuk itu para guru perlu meningkatkan kemampuannya dalam menerapkan pembelajaran. Sehingga inovasi dalam pembelajaran yang ada dapat diaplikasikan sebaik mungkin untuk mencapai tujuan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi.Jakarta: Rineka Cipta

[2] . 2010. Prosedur

Penelitian Suatu Pendekatan

Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

[3] Astra, I Made dan Hilman Setiyawan. 2007. Fisika Untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Piranti.

[4] Dimiyati dan Mujiono.2006.Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

[5] Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar

Mengajar. Jakarta: P.T. Rineka

(11)

[6] Druxes, Herbert dkk. 1986.

Kompedium Didaktik Fisika.

Bandung: Remaja Karya.

[7] Giancoli. 2001. Fisika Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

[8] Hamalik, Oemar. 2004. Proses

Belajar dan Mengajar. Jakarta:

Bumi Aksara.

[9] Hamid, Moh. Sholeh. 2011. Metode

Edutaiment. Yogyakarta: Diva

Press.

[10] Kanginan, Marthen. 2007. Fisika 1

Untuk SMA Kelas X. Jakarta:

Erlangga.

[11] Khadijah Tabrani. (17 april 2012).

Hasil Belajar Fisika. Diambil 8

September 2012.dari

http://khadijahtabrani.blogspot.com/ 2012/04/hasil-belajar-fisika. html

[12] Mulyasa. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosdakarya.

[13] Purwanto, Ngalim. 2010.Psikologi

Pendidikan. Bandung: Remaja

Rosdakarya

[14] Roestiyah. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

[15] Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan

Makna Pembelajaran. Jakarta:

Alfabeta

[16] Slameto. 2010.Belajar dan

Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya.

Jakarta: Rineka cipta

[17] Sudjana. 2005. Metode Statistik. Bandung: Trasito

[18] Sudjana, Nana. 2010. Penilaian

Hasil Proses Belajar Mengajar.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

[19] Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Kuntitatif,kualitatifdan R&D cet. Ke-10. Bandung: Alfabeta

[20] . 2010.Statistika untuk

Penelitian. Revisi Terbaru.

Bandung: Alfabeta

[21] Suryosubroto. 2009.Proses Belajar

Mengajar Di Sekolah. Jakarta:

Rineka Cipta.

[22] Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

[23] .2010. Psikologi

Pendidikan dengan Pendekatan

Baru. Bandung: PT . Remaja Rosda Karya.

[24] Tipler, Paul. 2001. Fisika Untuk Sains dan Teknik Jilid 2 Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.

[25] TIM FKIP UHAMKA. ( Februari 2007 ). Pedoman Penulisan Skripsi. Jakarta: Uhamka Press.

[26] Trianto.2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif:

Konsep, Landasan, dan

Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Jakarta: Kencana Prenada Media Group

[27] Unggul Prasetya. (14 Agustus 2009). Belajar Fisika SMA ONLINE. Alat Ukur Listrik.Diambil

12 Juli 2012. Dari

http://fisika2000.blogspot.com/2009 /08/ alat-ukur-listrik.html?m=1

Referensi

Dokumen terkait