Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | Muscarinic i Daftar Isi
Kuliah 1 - Dasar-Dasar Pengelolaan Penderita Gawat Darurat ... 1
Kuliah 2 - Gangguan Kesadaran dan Reflek Pupil ... 4
Kuliah 3 - Manakemen Jalan Napas ... 8
Kuliah 4 - Pengelolaan Gangguan Napas/Ventilasi ... 13
Kuliah 5 - Pengelolaan Sirkulasi ... 17
Kuliah 6 - Trauma Kepala ... 25
Kuliah 7 - Trauma Torak ... 31
Kuliah 8 - Trauma Abdominal ... 38
Kuliah 9 - Trauma Muskuloskeletal dan Burn Injury ...
45-67 Kuliah 10 - Kuliah Keracunan Makanan ... 72
Kuliah 11 - Kuliah Keracunan Organofosfat ... 79
Kuliah 12 - Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi ... 87
Kuliah 13 - Kegawatan pada Bayi dan Anak ... 95
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 1
Kuliah 1 – Dasar Penanggulangan Penderita Gawat Darurat dr. Sudira, Sp.AnKIC
Definisi
Penderita gawat darurat: Penderita yang oleh suatu penyebab (penyakit, trauma, kecelakaan, tindakan anestesi) jika tidak segera ditolong akan mengalami cacat, kehilangan organ tubuh atau meninggalanestesi) jika tidak segera ditolong akan mengalami cacat, kehilangan organ tubuh atau meninggal .
Triase
a. Cara pemilahan penderita
b. Terapi didasarkan kepada kebutuhan Labelisasi
Biru : gawat darurat sangat berat Merah : gawat darurat
Kuning : tidak gawat, tetapi darurat Hijau : tidak gawat darurat Hitam : meninggal
Penilaian Penderita Gawat Darurat 1. Airway
Penyebab obstukri jalan napas: lidah dan epiglottis; muntahan, darah, sekret dan benda asing; trauma maksilofasial.
a. Look : tanda obstruksi jalan napas Agitasi hipoksemia
Penurunan kesadaran hypercarbia
Pergerakan dada – perut saat bernapas (See saw – Rocking respiration) Triase Survei primer +
Resusitasi
Survei
sekunder Stabilisasi
Rujukan/Terapi definitif
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 2
Retraksi sela iga
Sianosis kuku, bibisr
b. Listen: tanda obstruksi jalan napas
Suara napas normal bicara normal; tidak ada sumbatan Suara napas tambahan obstruksi parsial, terdiri dari
Snoring :
Gurgling :
Crowing :
Suara parau (laring) :
Suara napas hilang obstruksi total, henti napas c. Feel
Meraba/merasakan hembusan hawa ekspirasi dari lubang hidung/mulut Ada/tidaknya getaran di leher saat bernapas – sumbatan parsial Pengelolaan obstruksi jalan napas
a) Maintenance Airway
Dengan alat : suction (cair), oral airway, nasal airway Tanpa alat : jaw thrust, oral airway, nasal airway b) Definitive Airway
Intubasi trakea : oral, nasal Crico thyroidectomy : needle, surgical Trackheostomy
2. Breathing
Penyebab gangguan bernapas:
a) Sentral : obat; radang otak; tumor otak; trauma kepala; stroke b) Perifer : airway, paru, rongga pleura, otot napas, saraf, jantung Cara menilai
a. Look : takhipnea, perubahan status mental, gerak napas, sianosis, distensi vena jugular, jejas di dada
b. Listen :
Keluhan : sesak (penderita sadar) Suara napas : normal / menurun / hilang Suara napas tambahan :
c. Feel : hawa ekspirasi; emphysema sub cutis – pneumothorax; krepitasi/nyeri tekan; deviasi trakhea
Pemeriksaan Tambahan : pulse oximeter; CO2 detector (capnograf); gas darah; foto thorax. Pengelolaan
1) Terapi suportif
a) Bantuan napas (ventilasi)
Tanpa alat : mouth to mouth; mouth to nose Dengan alat : bag-valve mask/tube
Teknik: napas buatan (Controlled respiration); napas bantuan (assisted resp) b) Oksigenasi
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 3
3. Circulation
Penyebab: syok, dengan tanda sbb... a) Perfusi : perfusi perifer
perfusi ke ginjal b) Nadi : rate
ritme pengisian c) Tekanan darah :
Jenis Syok Tanda Khas Terapi
Hipovolemik CVP rendah Cairan 2-4 x kehilangan volume Bila Hb < 8 transfusi Kardiogenik CVP tinggi Aritmia Diuretic Digitalis Beta mimetic Obat-obat aritmia
Obstruktif CVP tinggi Menghilangkan obstruksi
Distributif Hiperdinamik & hipodinamik stage
Febris
Suportif Antibiotika
Hilangkan fokus infeksi 4. Disability
a) Kesadaran penderita AVPU
Glasgow Coma Scale (EVM) Sadar, somnolent, stupor, coma b) Tanda-tanda neurologis lain
Mata : pupil, gerak, papil Anggota gerak : hemiplegia, paraplegia Sistem saraf, tanda vital
c) Penyebab ggn kesadaran:
Ggn pernapasan : hipoksemia, hipercarbia
Ggn sirkulasi : syok, cardiac arrest, CVA (perdarahan, thrombo emboli) Trauma
Metabolik Infeksi Obat-obatan Tumor
5. Exposure: harus buka pakaian; tidak boleh kedinginan; selimut, ruang yang cukup hangat; cairan infus yang sudah dihangtakan.
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 4
Kuliah 2 – Gangguan Kesadaran dan Reflek Pupil dr. I Made Sudira, SpAnKIC
Pendahuluan
Level kesadaran tergantung interaksi cerebral hemispire dengan Reticular Activating System di pons dan enchefalon
Brain injury koma
Persisten koma > 6 jam CA dan TIK↑ Penyebab
Coma with focal signs
Coma without focal sign, but with meningial iritation Coma without focal signs and no meningeal iritation Coma with focal sign
Trauma-extradural, subdural and parenhymal haemorrhage, concussions
History of trauma, findings of fracture at base of skull, scalp haematoma, other associated body injuries
Usually an abnormal CT
Vascular-intracerebral haemorrhage
Sudden onset, history of headches or hypertension, neck stiffness may be present
Abnormal CT scan
Vascular-thromboembolic
Sudden onset, AF, vascular bruits, endocarditis An abnormal CT scan after afew days
Brain abcess Subacute onset, look for ENT and dental sources of infection
Abnormal CT and CSF
Coma without focal signs, but with meningeal irritation Infection, meningitis,
encefalitis
Onset of illnes over a few hours to day, neck stiffness, rash of meningococcaemia
Abnormal CSF Subarachnoid haemorrhage Onset usually sudden, subhyaloid
haemorrhages on fundoscopy
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 5
Coma without focal signs and no meningeal irritation Metabolic causes Hyponatraemia Hypoglycaemia Hyperglicaemia Hypoxia Hypercapnea Hypo-and hyperthermia Hypo-and hyperosmolaritas
History might point to the cause of metabolic disturbance,
Abnormal blood results
Endocrine causes Myxoedema
Adrenal insuffiency Hypopituitarism
Pulfy facies, may be hypothermic Abnormal electrolyte profile, hypoglycaemia
Coma without focal signs and no meningeal irritation
Seizure disorders History typical Abnormal EEG, check
anticonvulsant levels Organ failure Hepatic Renal Toxic/drug Sedatives Narcotics Alcohol Psychotropic
History of jaundice, chronic alcohol ingestion, stigmata of liver ds History , may be hypotermic at presentation except in psychotropic drug overdose
Abnormal hepatic and renal functions
Metabolic screen is ussualy normal
PENILAIAN KESADARAN Sadar, Somnolen, Soporous, Koma
AVPU ( Alert, responds to Vocal stimuli, respons to Painful stimuli, Unresponsive) GCS
Glasgow Coma Scale (GCS) Eye Opening
Spontan Pada perintah Pada rangsang nyeri Nil 4 3 2 1 Verbal Respons Orientasi baik Orientasi buruk Bicara ngacau Tanpa arti Nil 5 4 3 2 1
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 6
Motor response
Menurut pada perintah Menurut pada rangsang nyeri Menurut pada fleksi menarik Menurut pada fleksi abnormal Maenurut pada extensi
Nil 6 5 4 3 2 1 KEPENTINGAN GCS • Koma GCS <8
• Penilaian Trauma Kapitis Mild : 13 – 15
Mild : 9 – 12 Severe : ≤ 8
• Candidat intubasi
• Predict recovery dari coma PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Computed Tomography (ST) Scan • Magnetic Resonance Imaging (MRI)
• PET ( Positron Emission Tomography) and SPECT SCANS ( Single-Photon Emission Tomography) • Electroencephalogram (EEG) • Evoked Potensials • Biochemical Abnormalities PENANGANAN • Airway
• Ventilation (PaO2 > 80 PCO2 35-40) • Circulation (MAP)
• Specific Treatment (Tergantung penyebab) Nursing Care
• Eye and mouth care
• Reguler change limb position • Limb physiotherapy
• Bronchial toilet • Psychological suport
Checklist for the Diagnosis of Brain Death
When steps 1, 2, and 3 are confirmed, the patient is declared brain death Step 1: Prerequisite to Exam
Establish that the following conditions are not present, and are not contributing to the loss of consciousness
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 7
1. Hypotension (MAP < 60 mmHg) 2. Hypothermia (core temperatur < 32⁰C) 3. Metabolic disturbances (e.g , hypoglycemia) 4. Contributory drugs or medications
5. Confounding conditions (e.g, hypothyroidism)
Establish that the cause of coma (know or suspected) is sufficient to account for brain death, or neuroimaging test are consistent with brain death
Step 2: Absence of Brain and Brainstem Function Involves 2 exam, ussualy performed 6 hour apart
Coma: no cerebral motor response in all etremites and face to noxious stimuli Absent Brainstem Refleks
Pupil: size midposition to dilated (4-9 mm) No respons to bright light
No corneal reflex
No gag reflex (stimulate faring)
No cough response to tracheal suctions Ocular reflex: Absent oculochepalic reflex Absent oculovestibular reflex Step 2a: consider confirmatory test
If steps 1 and 2 cannot be completed or adequately interpreted Step 3: Absence of Respiratory Effort
Positive apnea test: no breathing efforts when arterial PCO2 > 20 mmHg above baseline Step 3a: Consider Confirmatory Test
If step 3 cannot be completed or adequately interpreted Ocular Reflex
• Oculocephalic reflex Kepala diputar bola mata bergerak berlawanan brainstem intake • Kepala diputar bola mata tetap brainstem tidak intake
• Oculovestibular reflex : injeksi 50 ml salin lobang telinga bola mata bergerak kesisi tempat injeksi brainstem intake
• Bolamata tidak bergerak brainstem non intake Conditions that Affect the pupil
Size Reactive Nonractive
Dilated Amphetamines
Atropin Dopamin
Unilat herniasi, Post CPR, Brainstem injury, Ocular trauma, hypothermia, High-dose ampetamins, atropin, dopamin, penilephrine, TCA
Mild position Toxic/ metabolic encephalopathy Sedative overdose
Brain death Midbrain lesions Barbiturat (high dose) Contricted Toxic/metabolic encephalopathy
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 8
Opioids
Kuliah 3 – Manajemen Jalan Nafas dr. I Ketut Apang, SpAn
Pendahuluan
Merupakan prioritas utama (Basic Life Support) Pembunuh tercepat Hipoksia
Oksigenasi darurat
Perlu jalan nafas yang terlindungi Indikasi
Bila terjadi sumbatan jalan nafas Diagnosis : look, feel, listen Dapat parsial atau komplit Penyebab Sumbatan Jalan Nafas
Pada pasien tidak sadar : tersering adalah lidah yang jatuh ke hipofaring Benda asing
Jln nafas atas : laringospasme Jln nafas bawah : bronkospasme
Tanda Sumbatan Jalan Nafas
Komplit : tidak ada suara nafas yang dpt didengar Parsial : sangat gelisah, terdengar wheezing atau stridor
Tanda umum: takipneu, dyspneu,sianosis,agitasi,aktifitas otot bantu pernafasan Secara laboratorium :
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 9 SaO2 < 90% PaO2 < 60 mmHg pada O2 40% RR > 35x/menit PaCO2 > 55 mmHg Kapasitas vital < 15 ml/kgbb
A-a gradient > 350 mmHg pada O2 100% Penanganan
Tanpa alat :
a) Triple airway meneuver b) Percobaan inflasi paru
c) Pembersihan mulut dan tenggorokan secara manual Dengan alat:
a) Orofaringaeal tube (Guedel) b) Nasofaringeal tube
c) Suction faring
d) Intubasi laring (LMA) e) Intubasi oro/nasotrakeal f) Cricothyrotomy g) Tracheostomy Airway Definitif Indikasi Apnea
Ketidakmampuan mempertahankan airway yang bebas dengan cara lain Kebutuhan melindungi airway bagian bawah dari aspirasi
GCS ≤ 8
Ketidakmampuan mempertahankan oksigenasi yang adekuat dengan masker wajah Jenis Airway Definitif
Intubasi laring (LMA)
LMA-classic a usage unique | LMA-Flexible a usage unique Intubasi oro/nasotrakeal
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 10
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 11
Alat – alat Orofaringeal Tube
Jangan dipakai jika reflex muntah masih (+) (Derajat A dan V dari AVPU atau GCS > 10)
Nasofarigeal tube ... Laryngosocope
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 12
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 13
Kuliah 4 – Pengelolaan Gangguan Nafas / Ventilasi (Breathing Problem) dr. I Ketut Apang Nrartha, SpAn
Pendahuluan
• Kegawat daruratan dalam sistem respirasi merupakan kejadian yang sering terjadi • Kejadian ini terjadi sangat cepat
• Organ vital mati dalam hitungan menit
• Injuri/trauma yang mengganggu jalan nafas dan pernafasan merupakan keadaan yang harus segera ditangani
Organ yang berhubungan dengan sistem respirasi : 1. Pusat Nafas
2. Jalan nafas 3. Paru paru
4. Otot otot bantu nafas
Anatomi jalan nafas pada infant/anak anak
• Struktur jalan nafas lebih kecil dan lebih mudah mengalami obstruksi akibat adanya benda asing • Lidah lebih besar
• Trachea lebih flexible
– Jangan melakukan hyperextend pada leher Jalan nafas
• Merupakan penilaian yang paling pertama dilakukan bila mendapatkan pasien mengalami permasalahan respirasi
• Bila terjadi gangguan lakukan pembukaan jalan nafas dan pertahankan patensinya Obstruksi jalan nafas
• Lidah merupakan penyebab tersering obtruksi jalan nafas
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 14
• Pada pasien trauma gunakan tehnik jaw thrust Penilaian Nafas
Tanda nafas adekuat:
• Pasien tenang/tidak distress
• Dapat berbicara menyelesaikan kalimat tanpa berhenti hanya untuk menarik nafas • Warna kulit normal (tidak biru)
• Status mental dan orientasi (orang, tempat, waktu) normal • Rate:
Dewasa 12 - 20 per menit Anak anak 15 - 30 per menit Infant 25 - 50 per menit • Ritme:
Regular
Inspirasi dan expirasi biasanya memerlukan waktu hampir sama • Kualitas:
Ada suara nafas dan sama pada kedua dinding dada
Kedua sisi dinding dada akan terangkat dan turun sama tinggi Gejala nafas tidak adekuat:
• Rate kurang atau lebih dari normal • Ritme reguler atau irreguler • Kualitas :
Adanya suara nafas tambahan (snoring atau gurgling) atau tidak ada suara nafas • Kedalaman nafas (tidal volume) dangkal, inadequate
• Pengembangan dinding dada tidak sama, inadequate • Adanya peningkatan usaha otot otot bantu nafas • Adanya penggunaan otot otot pernafasan tambahan • Warna kulit sianosis
• Kulit dingin dan basah Ventilasi
Ventilasi adalah masuk dan keluarnya udara ke dan dari paru paru
• Pasien yang tidak bernafas atau bernafas tapi tidak adekuat memerlukan bantuan ventilasi • Bila jantung berdenyut, ventilasi menyediakan oksigen untuk jaringan melalui sirkulasi darah • Bila tidak ada pulse, ventilasi dikombinasi dengan chest compressions pada saat dilakukan CPR
untuk memenuhi kebutuhan oksigen jaringan
• Bila tidak ada alat bantu khusus, bantuan ventilasi dilakukan dengan udara ekspirasi
Tehnik memberikan bantuan pernafasan buatan : 1. Tanpa menggunakan alat bantu nafas
1. Ventilasi mulut ke mulut langsung
Udara yang kita hirup mengandung oksigen 21% 5% digunakan oleh badan
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 15
16% diekspirasi
2. Ventilasi mulut ke hidung langsung 3. Ventilasi mulut ke stoma
4. Ventilasi mulut ke mulut dan hidung 2. Menggunakan alat bantu nafas
1. Ventilasi mulut ke masker 2. BVM (bag Valve Mask)
Yang perlu diperhatikan bila menggunakan alat bantuan nafas • Pastikan masker dalam kondisi baik
• Alat mampu memberikan volume udara yang cukup ke dalam paru paru • Tersedia suplemen oksigen
Bila tidak tersedia alat bantuan nafas
• Berikan ventilasi secara langsung dari mulut Anda ke mulut korban, hidung, stoma atau hidung dan mulut
• Resiko penyebaran penyakit kecil Tehnik memberikan ventilasi
• Pasien posisi terlentang, buka jalan nafasnya dengan tehnik head tilt chin lift atau Jaw thrust • berikan nafas buatan sambil melihat pengembangan dada untuk meyakinkan bahwa udara masuk
ke dalam paru paru
• Dalam memberikan bantuan nafas jangan meniup terlalu keras • Berikan bantuan nafas dengan volume nafas normal
• Bila bantuan nafas yang diberikan tidak masuk ke paru paru, coba membuka jalan nafas
• Bila bantuan nafas yang diberikan tidak masuk ke paru paru, yakinkan tidak ada sumbatan jalan nafas
• Bila bantuan nafas yang diberikan masuk ke paru paru, diulang 1 detik berikutnya • Bila bantuan nafas yang diberikan masuk ke paru paru, periksa nadi
• Bila denyut jantung ada namun pasien tidak bernafas, lanjutkan pemberian bantuan nafas tiap 5-6 detik pada orang dewasa atau 3-5 detik pada anak anak
• Tehnik sama pada pemberian bantuan nafas mulut ke mulut, mulut ke hidung, mulut ke stoma ataupun mulut ke mulut dan hidung
Teknik ventilasi mulut ke mulut
• Tutup hidung pasien dengan tangan
• Rapatkan mulut Anda melingkari mulut korban • Berikan nafas buatan ke dalam mulut korban
• Lihat pengembangan dada untuk meyakinkan bahwa udara masuk ke dalam paru paru Ventilasi mulut ke hidung
• Teknik ini digunakan bila :
– Mulut korban tidak bisa dibuka – Mulut mengalami trauma Teknik ventilasi mulut ke hidung
• Pertahankan mulut korban tertutup
• Rapatkan mulut Anda melingkari hidung korban
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 16
Ventilasi mulut ke stoma
• Beberapa orang bernafas melalui lubang pada leher yang disebut stoma • Tutup mulut dan hidung pasien dengan tangan
• Rapatkan mulut Anda melingkari stoma
• Berikan bantuan nafas, biarkan ekspirasi secara pasif Ventilasi dari mulut ke mulut dan hidung
• Infan dan anak yang sangat kecil dapat diberikan ventilasi mulut ke mulut dan hidung – Rapatkan mulut Anda melingkari mulut dan hidung
– Berikan bantuan nafas secara lembut
– Lihat naik dan turunnya dinding dada setiap memberi nafas buatan Ventilasi mulut ke masker
• Pemakian masker direkomendasikan saat memberikan nafas bantuan dengan mulut
• Pemakaian alat ini mencegah kontak langsung antara penolong dengan cairan tubuh pasien • Walaupun dengan penggunaan alat ini, posisi kepala dipertahankan agar jalan nafas lapang Face Masks
• Masker harus menutup mulut dan hidung pasien ketika diberikan bantuan ventilasi • Cara memegang masker tergantung dari
• Posisi kita terhadap pasien Posisi di samping pasien
Dengan ibu jari dan jari telunjuk pertahankan bagian atas masker ke kepala pasien Letakkan ibu jari tangan satunya pada masker bagian bawah
Letakkan jari lainnya dari tangan kedua di bawah rahang untuk mengangkat dagu Dorong masker ke bawah untuk mencegah kebocoran
Posisi di atas kepala pasien, dengan Tehnik head tilt- Chin lift Letakkan kedua ibu jari pada kedua sisi masker
Letakkan jari jari yang lainnya di bawah sudut rahang
Dorong kepala ke belakang, sambil angkat dagu untuk mencegah kebocoran dan membuka airway
Posisi di atas kepala pasien, dengan Tehnik Jaw thrust
Tanpa mendorong kepala ke belakang, posisi ibu jari di atas masker dan jari lainnya di sudut rahang
Angkat rahang bersamaan dengan itu dilakukan penekanan ibu jari • Tehnik yang digunakan untuk membuka jalan nafas
• Menggunakan satu atau dua tangan untuk memegang masker
Tanda bahwa bantuan nafas yang diberikan adekuat
• Dada mengembang dan mengempis setiap diberikan bantuan nafas • Rate ventilasi yang diberikan cukup
• Heart rate kembali normal • Warna kulit membaik
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 17
Tanda bahwa bantuan nafas yang diberikan tidak adekuat • Dinding dada tidak mengembang
• Ventilasi Rate kurang atau lebih dari normal • Heart rate tidak kembali normal
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 18
Kuliah 5 – Pengelolaan Sirkulasi
Tujuan : Mengembalikan fungsi sirkulasi darah
Diagnosa : 1. Henti Jantung->denyut nadi karotis (-)(5-10 dtk) 2. Diagnosa syok :
- nadi radialis : lemah; tidak teraba; cepat - pucat
- kulit dingin – basah - capillary refill > 2 detik Henti Jantung
Penyebab : 1. Primer 2. Sekunder Henti jantung primer :
• Fibrilasi ventrikel dan Asistol - Iskemik miokard - Heart block - Obat-obatan - Electric shock Henti jantung sekunder :
• Rapid secondary cardiac arrest
– Asphyxia o/k airway obstruksi, apneu – Kehilangan darah cepat
– Alveolar anoksia o/k : edema paru akut, menghirup gas yang tidak mengandung oksigen • Slow secondary cardiac arrest
– Severe hipoksemia o/k : edema paru,konsolidasi paru, obstruktif dan cardiogenic shock,acute brain insult
Identifikasi Henti Jantung • Klinis
– Gambaran henti sirkulasi • Hilang kesadaran • Apnea atau gasping • Sianosis atau pucat
• Tidak ada pulse (karotis atau femoralis) • Bila menemukan kondisi spt tersebut :
– Lakukan tindakan A-B-C Kompresi Jantung Luar
Tujuan :
• Mengadakan sirkulasi jantung dan paru
• “Sirkulasi artifisial” dapat dihasilkan dengan teknik intermitten chest compression Teknik
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 19
• Menekan jantung antara sternum dan tulang belakang menimbulkan : “heart pump mechanism” • Hal ini menimbulkan perubahan tekanan intratorakal sehingga darah dipompa keluar jantung • Saat tekanan dilepaskan jantung dan paru melebar sehingga darah masuk ke pembuluh darah
intratorakal
• Kompresi dada 30 kali disusul 2 ventilasi • Kedalaman kompresi 5 cm
• Evaluasi setelah 5 siklus / 2 menit
• Dapat menghasilkan tekanan sistolik 100 mmHg dan diastolik 10 mmHg (tanpa epinefrin) Berkualitas bila :
• Kecepatan 100 x/menit • Teratur
• Kedalaman 5 cm atau 1/3 diameter ant-post dada korban, chest recoil • Minimal interupsi
Syok Definisi
• Suatu kondisi dimana jaringan dalam tubuh tidak menerima cukup oksigen dan nutrisi untuk fungsi atau metabolismenya.
Tanda :
• Pernafasan cepat dan dangkal • Nadi cepat dan lemah
• Kulit pucat, dingin, lembab
• Wajah pucat, sianosis pada bibir dan lidah • Mata pandangan hampa, pupil melebar Gejala :
• Mual dan mungkin muntah • Haus
• Lemah • Pusing
• Gelisah sampai penurunan kesadaran Jenis – jenis syok :
• Hipovolemik • Kardiogenik • Obstruktif • Distributif Hipovolemik Kardiogenik
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 20
hypotension despite elevated filling pressures • Etiologi
– Acute myocardial infarction/ischemia – LV failure
– Papillary muscle/chordal rupture- severe MR
– Ventricular free wall rupture with subacute tamponade
• Tanda dan gejala
– Physical Exam: elevated JVP, +S3, rales, oliguria, acute pulmonary edema – Hemodynamics: dec CO, inc SVR, dec SvO2
– Initial evaluation: hemodynamics (PA catheter), echocardiography, angiography Obstruktif
• Impaired diastolic filling – Cardiac tamponade – Tension pneumothorax – Constrictive pericarditis
– Compression of great vessels by mediastinal masses • Increase the R or L ventricular after load
– PE
– Acute pulmonary hypertension – Aortic dissection – Systemic embolization Distributif • SIRS – Sepsis – Pancreatitis
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 21 – Multitrauma – Burns • Neurogenic • Anaphylaxis Gejala • Hyperdynamic pattern
• Primary defect is a decrease in SVR secondary to NO production
Fluid Resuscitation of Shock • Crystalloid Solutions
– Normal saline
– Ringers Lactate solution – Plasmalyte
– Require 3:1 replacement of volume loss
– e.g. estimate 1 L blood loss, require 3 L of crystalloid to replace volume • Colloid Solutions
– Pentastarch
– Blood products (albumin, RBC, plasma) – Albumin 5%
– Red Blood Cells – Fresh Frozen Plasma
– Replacement of lost volume in 1:1 ratio • RBC Transfusion
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 22
– BC Red Cell Transfusion Guidelines recommend transfusion only to keep Hgb >70 g/dL unless
– Comorbid disease necessitating higher transfusion trigger (CAD, pulmonary disease, sepsis)
– Hemodynamic instability despite adequate fluid resuscitation Goals of Fluid Resuscitation
• Easily measured – Mentation – Blood Pressure – Heart Rate
– Jugular Venous Pressure – Urine Output
• A little less easily measured
– Central Venous Pressure (CVP) – Left Atrial Pressure
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 23
Obat Pengeloaan Sirkulasi • Atropine Sulfat – Anticholinergic – Indications • Symptomatic bradycardia • Asystole • PEA • ACE inhibitor OD
• Exercise induced bronchospastic disorders • CI
– Tachycardia
– Obstructive disease of GI tract
– Unstable cardiovascular status in the context of cardiac ischemia & hemorrhage – Narrow angle glaucoma
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 24 • Dose – Bradydysrhymia‟s • 0.5-1.0mg q 5 min to a max of 0.03-0.04 mg/kg – Asystole • 1.0 mg IV or ETT(dilute to 10 ml) – Dobutamine • Sympathomimetic • Indications
• Inotropic support for patients with LV dysfunction • Contraindications
• AF/flutter
• Severe hypotension Dose
– 2.5-10 mcg/kg/min IV based on inotropic effect. MAX RATE is 40mcg/kg/min Practice Peals
– Need accurate admin method (pump) – Closely monitor BP
– Increase of HR of 10% may increase cardiac ischemia • Dopamine
– Sympathomimetic – Indications
• Hemodynamically significant hypotension in the absence of hypovolemia – Contraindications • Tachydysrhythmias • VF • pheochromocytoma Dose – “renal”dose 1-5mcg/kg/min – “cardiac” dose 5-15 mgc/kg/min – “vasopressor” dose 15mcg/kg/min
• Furosemide
– Loop Diuretic – Indications
• PE associated with CHF, hepatic or renal disease – Contraindications • Anuria • Hypovolemia/dehydration Contraindications – Electrolyte depletion Dose – 20-40 mg slow IV (1-2min)
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 25
– Double the daily dose • Lidocaine
– Antidysrhythmic (Class 1-B) – Indications
• VT/VF
• Wide complex tachycardia of uncertain origin • Significant ventricular ectopy in the setting of MI Contraindications
– 2nd
or 3rd degree HB in the absence of a pacemaker Dose
– 1.0-1.5 mg/kg consider repeat in 3 min – Total IV dose is 3 mg/kg
– ETT is 2.5 times IV dose
– Main infusion is 2G in 500 (4mg/ml) • Run @ 2-4 mg/min • Norepinephrine – Sympathomimetic – Indications • Cardiogenic shock • Neurogenic shock • Inotropic support
• Hemodynamically significant hypotension refractory to other sympaths • Contraindications
– Hypotensive pts with hypovolemia • Dose – 0,05 – 1 mcg/kg/mnt – Dilute • Epinephrine – Sympathomimetic – Indications • Bronchial asthma • Acute allergic reaction • Cardiac arrest
• Profound symptomatic bradycardia – Contraindications
• Hypovolemia shock- correct volume deficit • Use with caution in coronary insufficiency Dose
– Cardiac arrest
• 1 mg IVP q 3-5 min
• 2.5 times the normal dose if via ETT – Drips
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 26
desired response – Anaphylactic reaction
• Mild- 0.3-0.5 mg (1:1000) SQ • Severe- 1-2 ml (1:10000) slow IV Kuliah 6 – Trauma Kepala
dr. Sang Nyoman Sp.B
Definisi
trauma mekanik terhadap kepala baik secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi neurologi yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial baik temporer maupun permanen.
Cidera kepala meliputi ◦ Cidera kulit kepala ◦ Cidera tulang kepala ◦ Cidera otak
Cidera otak
◦ Cidera otak primer ◦ Cidera otak sekunder Cidera otak primer
Difinisi :
kelainan otak yang timbul segera akibat langsung dari trauma Terdiri dari :
1. Comotio cerebri
Terjadi gunjangan otak tetapi tidak menimbulkan perdarahan otak : ◦ Pinsan kurang dari 10 menit
◦ Pusing , sakit kepala, muntah,amnesia ◦ Tidak terdapat defisit neurologis
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 27
2. Contusi cerebri
Terjadi gunjangan otak tetapi tidak menimbulkan perdarahan otak : ◦ Pinsan kurang dari 10 menit
◦ Pusing , sakit kepala, muntah,amnesia ◦ Tidak terdapat defisit neurologis
Terdapat bercak perdarahan kecil kecil pada otak ◦ pingsan lebih dari 10 mnt
◦ nyeri kepala
◦ gangguan kesadaran, disorientasi ◦ defisit neurologi
3. Epidural hematome
Perdarahan antara tabula interna cranii dengan duramater - pecahnya a. meningika media
atau perdarahan sinus venosus - lucid interval
- kesadaran menurun - pupil anisokor,kejang, bradikardi
- hemiparese kontra lateral
4. subdural hematome
P erdarahan antara duramater dan arakhnoid - robeknya bridging vena
- disertai contusio cerebri - pupil anisokor, hemiplegi kontalateral
- prognose fatal
5. Intra cerebral hematome
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 28
6. Fraktur basis cranii
Fr. Basis cranii Media
◦ keluar darah dari telinga dan likuorrhoe ◦ Pada os petrosum
◦ Sering parese N. VIIdan VIII ◦ Hematome retroaurkuler Fr. basis cranii anterior
◦ Orbita hematome ( brill‟ s hematome ) ◦ Gangguan N. II
◦ Perdarahan dari hidung dan likuorrhoe Cidera otak sekunder
Kelainan patologi otak disebabkan kelainan biokimia, metabolisma, fisiologi yang timbul setelah trauma
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 29
Glascow coma scale (GCS)
Sekala penentuan tingkat kesadaran seseorang 3 macam yang dipakai
- Reaksi membuka mata ( E: eyes ) - Reaksi bicara ( V: vocal )
- Reaksi gerakan lengan (M: motor )
Reaksi membuka mata (E) 4 : Buka mata spontan
3 : buka mata bila ada rangsangan suara dipanggil 2 : buka mata bila dirangsang nyeri
1 : tidak buka mata walau dirangsang apapun Reaksi bicara (V)
5 : Jawaban tepat
4 : disorientasi waktu, tempat, orang
3 : dengan rangsangan, hanya ada kata tapi tidak terbentuk kalimat 2 : dengan rangsangan hanya ada suara tapi tak terbentuk kata 1 : tidak ada
Reaksi gerakan lengan/tungkai (M) 6 : Mengikuti perintah
5 : mengetahui tempat rangsang nyeri dengan menolak rangsangan 4 : dirangsang nyeri menarik bagian tubuh
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 30
2 : dirangsang nyeri, ekstensi abnormal
1 : tidak ada gerakan dengan rangsangan apapun Klasifikasi cidera otak:
Cidera kepala ringan : GCS 13 – 15 Cidera kepala sedang :
GCS 9 – 12 Cidera kepala berat :
GCS 3 – 8 Pemeriksaan penunjang
Foto polos kepala 1. Jejas > 5 cm 2. Luka tusuk 3. Fraktur terbuka 4. Nyeri kepala menetap 5. Gejala fokal neurologis 6. GCS < 15
CT. Scan kepala
1. Nyeri kepala/ muntah menetap 2. Kejang
3. Luka tusuk / tembak
4. Penurunan GCS ( > I poin ) 5. Lateralisasi
6. Bradikardi menyertai gejala diatas 7. GCS < 15 selama terapi tdk membaik Penatalaksanaan
Ditempat kejadian :
1. Posisi saluran nafas bebas 2. Pernafasan buatan
3. Cegah aspirasi 4. Hentikan perdarahan Transportasi :
1. Pertimbangkan adanya fr. Cervikal 2. Oksigen optimal
3. Posisi dimiringkan mencegah aspirasi Observasi
1. GCS 2. Pupil
3. Tensi, nadi, respirasi, temperatur 4. Balance cairan
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 31
Perawatan
1. Keseimbangan cairan 2. Nutrisi dan cairan
3. Atasi anemia,hipertensi, kejang 4. Cegah ulkus peptikum, dekubitus
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 32
Kuliah 7 - Trauma Torak dr. Wawan
Initial Assessment / Management Primary Survey
Identifies most life-threatening injuries Resuscitation
Airway control
Ensure oxygenation / ventilation Needle / tube thoracostomy Secondary Survey
Identifies most
potentially lethal injuries Physical exam / diagnostic tests Definitive Care
Airway control
Ensure oxygenation / ventilation Tube thoracostomy
Hemodynamic support
Operation
Life threatening Chest Trauma Primary Survey Airway obstruction Tension pneumothorax Open pneumothorax Flail chest Massive hemothorax Cardiac tamponade Airway Obstruction Laryngeal injury Rare occurrence Hoarseness Subcutaneous emphysema Treatment • Intubation (caution)
• Tracheostomy (by surgeon) Breathing
Tension pneumothorax : Etiology
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 33
Air enters pleural space with no exit Positive pressure ventilation
• Collapse of affected lung • ↓ Venous return
• ↓ Ventilation of opposite lung Tension Pneumothorax : Signs / Symptoms
• Respiratory distress • Distended neck veins • Unilateral ↓in breath sounds • Hyperresonance
• Cyanosis, late
Tension Pneumothorax : Management Immediate decompression Clinical diagnosis, not by x-ray Open Pneumothorax
• Cover defect • Chest tube
• Definitive operation
Flail Chest / pulmonary Contusion Reexpand lung
Oxygen
Judicious fluid management Intubation as indicated Analgesia
Circulation
Massive Hemothorax ≥ 1500 ml blood loss
Systemic / pulmonary vessel disruption Flat vs distended neck veins
Shock with no breath sounds and /or percussion dullness Rapid volume restoration
Chest decompression and x-ray Autotransfusion
Operative intervention Cardiac Tamponade
• ↓Arterial pressure • Distended neck veins • Muffled heart sounds • Patent airway
• IV therapy
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 34
• Pericardiotomy Resuscitative Thoracotomy
Qualified surgeon present on patient’s arrival Indications
• Penetrating thoracic injury • Pulseless with electrical activity Contraindications
• Blunt injury
• Pulseless, without electrical activity Potentially- Lethal Chest Trauma
Identified by :
In –depth examination
Upright chest x-ray, if possible ABGs Pulse oximetry ECG Simple pneumothorax Hemothorax Pulmonary contusion Tracheobronchial tree injury Blunt cardiac injury
Traumatic aortic disruption Traumatic diaphragmatic injury Mediastinal traversing wounds Secondary Survey
Pneumothorax
Penetrating / blunt trauma V / Q defect
Hyperresonance ↓ Breath sounds Tube thoracostomy Hemothorax
Chest – wall injury Lung / vessel laceration Tube thoracostomy Pulmonary Contusion Most common Oxygenate, ventilate Selective intubation Tracheobronchial injury
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 35
Blunt / penetrating trauma Partial vs complete
Diagnostic aid : Endoscopy
Treatment: Airway ventilation; Operation Blunt Cardiac Injury
Injury spectrum
Abnormal ECG : Monitor changes Echocardiography
Treat : Dysrhythmias, Q, complications Traumatic Aortic Rupture
Rapid acceleration/deceleration Ligamentum arteriosum
Salvage : identify early Surgical consult
Diaphragmatic Rupture Most diagnosed on left Blunt → large tears
Penetrating → small perforations Misinterpreted x –ray
Contrast radiography Operation
Mediastinal Traversing wounds Hemodynamically Abnormal
Exsanguinating thoracic hemorrhage Tension pneumothorax
Pericardial tamponade
Esophageal / tracheobronchial injury Spinal cord injury
Treatment
Bilateral tube thoracostomies Emergent surgical consultation Hemodynamically Normal
Vascular : Angiography
Tracheobronchial : Bronchoscopy
Esophageal Esophagography, esophagoscopy Treatment
Mandatory surgical consultation Repair identified injuries
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 36 Subcutaneous Emphysema Airway injury Pneumothorax Blast injury Traumatic Asphyxia Petechiae Swelling Plethora Cerebral edema
Sternal, Scapular, and Rib Fractures : Pathophysiology Pain Splinting Associated injuries Impaired ventilation Pulmonary contusion Hemopneumothorax Retained secretion Atelectasis pneumonia Fractures – Sign Ribs 1- 3 • Severe force
• Associated injuries → High mortality risk Ribs 4 – 9
• Pulmonary contusion • Pneumohemothorax
Ribs 10 – 12 : Suspect abdominal injury Management
Chest x – ray
Chest tube as necessary Selective ventilation Adequate pain relief Treat associated injuries No constrictive devices Esophageal Trauma
Blunt vs penetrating Severe epigastric blow Pain, shock > injury
Pneumohemothorax without fracture Chest tube : Particulate matter
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 37
Contrast swallow, esophagoscopy Operation
Other indication for Tube Thoracostomy Suspected, severe lung injury
• Air or ground transfer • General anesthesia
• Positive pressure ventilation Pitfalls
Simple pneumothorax → tension pneumothorax Retained hemothorax
Diaphragmatic injury
Delayed diagnosis of aortic injury
Severity of rib fractures pulmonary contusion Elderly
Managing Life-Thereatening Thoracic Injuries
Injury Diagnosis Therapy
Ventilator Compromises
1. Tracheobronchial disruption Hypoxia + inability to move air
Chest does not move with ventilation
Hemoptysis, subcutaneous emphysema / keduanya
Intube over a flexible bronchoscope
Perform tracheostomy
2. Open pneumothorax (sucking chest wound)
Hypoxia + chest wound Sound of air passing in-out
though wound
Apply occlusive dressing (vaseline gauze + sponge) Insert chest tube at site remote
from wound* 3. Flail chest Hypoxia and impaired
ventilation
Paradoxical chest movement Multiple rib fractures
(confirmed on roentgenogram)
Is respiration compromises Yes: perform endotracheal intubation
No: Observe patient and control pain
Circulatory and Ventilatory Compromise
4. Tension pneumothorax Respiratory distress (cyanosis is a later finding)
Unilateral absence of breathing sounds Distended neck veins
common*
Tracheal deviation to opposite side
Hypotension ay be present
Insert 18-gauge needle into second interspace at
midclavicular line
Insert chest tube into fifth interspace if air escapes or if patient improves with needle insertion
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 38
5. Massive hemothorax Respiratory distress and hypotension
Dec. breath sounds + dullness to percussion
Diagnosis confirmed on roentgenogram
Replace volume Insert chest tube*
Circulatory Compromise
6. Cardiac tamponade Shock + cyanosis Distended neck veins*
Bilateral breath sounds present
Perform percardiocentesis for temporary therapy
Perform thoracotomy for definitive therapy
7. Aortic disruption History of blunt trauma Suspicious chest
roentgenogram
Aortography is diagnostic (computed axial tomographic scan less sensitive)
Repair during operation
8. Myocardial contusion Hypotension, dysrhythmia, or both are most common Echocardiogram,
electrocardiograms, cardiac enzymes
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 39
Kuliah 8 – Abdominal Trauma & Shock dr. Yoga Bharata
Objectives
Describe external and internal anatomy
Recognize blunt vs penetrating injury patterns Identify signs of different types of injuries Apply diagnostic and therapeutic procedures Demonstrate and discuss DPL (for surgeon student) Abdominal Trauma
Unrecognized injury : Cause of preventable death Exam compromised by
o Alcohol, illicit drugs o Injury to brain, spinal cord o Injury to ribs, spine, pelvis Mechanism of injury
Blunt
Spleen, liver, and hollow viscus Compression
Crushing Shearing
Deceleration (fixed organs) Penetrating
Liver , small bowel, and colon Laceration / low energy Kinetic energy / high energy Assessment : History Blunt Speed Point of impact Intrusion Safety devices Position Ejection Penetrating Weapon Distance
Assessment : Physical Exam Inspection
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 40
Palpation Auscultation
Local wound exploration by surgeon Pain over bony pelvis
Genitourinary, perineal, rectal, vaginal and gluteal Adjuncts : Intubation
Gastric Tube
Relieves dilatation
Decompresses stomach before DPL Basilar skull / facial fractures May induce vomiting / aspiration Urinary Catheter
Monitors urinary output
Decompresses bladder before DPL Diagnostic
Perhatikan!! Urethral injury Adjuncts : x – ray Studies Routine
Blunt : AP chest, pelvis
Penetrating : AP chest, abdomen with markers (if hemodynamically normal) Contrast
Urethrogram Cystogram GI
IVP
Special Studies in Blunt Trauma
DPL USG* CT
Time Rapid Rapid Delayed
Transport No No Required
Sensitivity High High? High
Specificity Low Intermediate High
Eligibility All patients All patients Hemodynami-cally normal
Indications for Celiotomy Blunt
+ DPL or ultrasound
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 41
Peritonitis Penetrating
+ DPL or ultrasound
Peritoneal /retroperitoneal injury Peritonitis Hypotension Evisceration Plain X – ray Free air Retroperitoneal air Ruptured diaphragm Special Studies
CT scan : Free air, visceral injury ? Fluid?
Cystogram : Bladder rupture, intraperitoneal injury Arteriogram: Renal pedicle occlusion
Upper GI : Duodenal rupture
Special Problems : Blunt Trauma Diaphragram : abnormal chest X-ray Duodenum : retroperitoneal air, contrast
Small bwel : seat belt sign, chance fracture, free air Pancreas : amylase? CT?
GU : extravasation of contrast nonfunctioning renal Pelvic Fractures
Significant force applied Associated injuries Pelvic bleeding o Ends of bones o Pelvic muscles o Veins / arteries Mechanism AP compression Lateral compression Vertical shear Classification Open Closed Assessment Inspection
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 42
Palpate prostate Pelvic ring
o Leg-length discrepancy , external rotation o Pain on palpation of bony pelvic ring o AP x-ray
Pelvic Fractures : Management
Shock Objectives
Define Shock.
Recognize the shock state. Determine the cause. Apply treatment principles.
Apply principles of fluid management. Monitor patient‟s response.
Employ options for vascular access.
Recognize complications of vascular access. Key Questions
Is the patient in shock?
What is the cause of the shock state? What can I do about it?
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 43
What is the patient‟s response? What are the pitfalls?
Shock
Inadequate organ perfusion
Inadequate substrate delivery Anaerobic metabolism Celular dysfunction Cell death
How do you recognize it?
Scene information/mechanism of injury Physical examination
o Tachycardia
o Alteration in Conciousness o Cold, diaphoretic skin o Urinary output o Hypotension o Tachypnea
Recognition of Shock State 1. Tachycardia
2. Vasoconstriction 2. Cardiac output Narrow pulse pressure 3. Map
3. Blood Flow
Caution : Compensatory mechanisms
Class I Hemorrhage 750 mL BVL (<15%) crystaloid Slighly anxious
Heart rate < 100/min Resporation 14-20/min Urine 30 ml/hr
BP [normal]
Class II Hemorrhage 750 – 1500 mL BVL (15-30%) crystaloid , blood? Mildly anxious
Heart rate > 100/min Respiration 20-30/min Urine 20-30 mL/hr
BP [normal] ↓ pulse pressure
Class III Hemorrhage 1500 – 2000 mL BVL (30-40%) crystalloids, blood Inadequate perfusion
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 44
Confused, anxious Heart rate > 120/min Respiration 30-40/min Urine 5-15 mL/hr
BP ↓↓ ; Pulse pressure ↓↓
Class IV Hemorrhage ≥ 2000 mL BVL (>40%) rapid fluids, blood, operation Confused, letahrgic
Heart rate > 140/min Respiration
BP ↓↓↓ ; Pulse pressure ↓↓↓ Persiapan
Trauma team activation? Summon the trauma personel Organize the equipment Standard precautions Warm room and fluids Penyebab Shock
Hemorhagic VS Nonhemorrhagic
Blood loss Spinal cord
Lung Heart Brain Septic Diagnosis Physical examination
Diagnostic adjuncts to primary survey o Chest x-ray
o DPL / Ultrasound o AP pelvis x-ray Penanganan
Stop the bleeding! o Direct pressure o Operation
o Reduce pelvic volume o Splint fractures Restore volume!
o Vascular access o Warmed fluids Prevent hypothermia!
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 45
Evaluasi
Identify Improved Organ Perfusion CNS: Improved conciousness Renal: Urinary output Skin: Warm, capillary refill
Repirations: Improved rate and depth Vital signs: Return to normal
Patient’s response Rapid Responder Transient Responder Nonresponder Pitfalls BP = Cardiac output Age extremes Hypothermia Athletes Pregnancy Medications Pacemaker
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 46
Kuliah 9 – Trauma Muskuloskelteral dan Burn Injury dr. Made Gunawan, Sp.B
Pendahuluan
Trauma Muskuloskeletal berdasarkan regio: Trauma Ekstremitas Atas
Trauma Spinal
Trauma ekstremitas Bawah Berdasarkan Jaringan yang terkena:
Trauma Tulang & tulang rawan (fraktur, dislokasi) Trauma Jaringan lunak (tendon,otot,saraf, p. darah) FRAKTUR & DISLOKASI
EKSTREMITAS ATAS & SPINAL
Fraktur: hilangnya kontinuitas korteks tulang, medulla atau rawan sendi Dislokasi: terlepasnya kepala sendi dari mangkok sendi
Terminologi Fraktur Lokasi o Diaphyse o Metaphyse o Epiphyse o Intra artikuler o Fraktur-dislokasi Ekstensi o Komplit o Inkomplit o Buckle o Greenstick Konfigurasi o Transverse o Oblique o Spiral o Comminuted Hubungan fragmen fraktur
o Undisplaced
o Displaced: sideway, angulated, rotated, distracted, overridding, impacted Hubungan fraktur dengan lingkungan
o Terbuka o Tertutup Komplikasi
o Tanpa komplikasi
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 47
Diagnosa Fraktur History
o Riwayat trauma + tidak bisa menggerakkan tungkai/lengan o Umur dan mekanisme trauma penting
Keluhan
o Nyeri diperberat dg. pergerakan
o Menurunnya fungsi bagian tubuh yg terkena Fisik
o Look:
Pembengkakan
Deformitas: angulasi, rotasi, pemendekan Perlukaan kulit
o Feel:
Nyeri lokal
Penting! Periksa distal: pulsasi?, sensibilitas? Move
o Jangan nafsu !! o Krepitasi
o Pergerakan palsu Radiologi
o Foto polos: rule of two 2(posisi,sendi,tungkai,trauma,kesempatan) o Tomografi
o CT o MRI
Prinsip Terapi Fraktur Prinsip Umum
o Firstly do no harm
Cedera bisa karena trauma, atau karena „prilaku‟ penolong Cedera karena cast, traksi
Membuka jalan infeksi dg. operasi o Base Treatment on an accurate Diagnosis & Prognosis o Select treatment with spesific aims
o Cooperate with the Law of Nature
o Be realistic and practical in your treatment o Select treatment for your patient as an individual Prinsip Khusus:
o REPOSISI
Alignment fragmen lebih penting dp aposisi, kecuali Fr. Intra artikuler Tertutup: pergeseran minimal; pada anak; fr. stabil
Terbuka : bila tertutup gagal; fraktur Intra artikuler; fr.traksi o IMOBILISASI
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 48 Sling Traksi kontinyu Cast/gip Functional brace Fiksasi interna Fiksasi eksterna o REHABILITASI Terapi Fraktur Terbuka 4 ?
o APA PENYEBAB PERLUKAAN ?
o BAGAIMANA KEADAAN KULIT SEKITAR LUKA ? o BAGAIMANA KEADAAN SIRKULASI (VASKULER) ? o BAGAIMANA KEADAAN SARAF ?
Klasifikasi Fr.Terbuka (Gustilo dkk,1990) o Grade I
Luka kecil, bersih
Kerusakan jar. Lunak minimal Fraktur simple
o Grade II
Luka > 1 cm.
Kerusakan jaringan sedang Fraktur simple
o Grade III
Krusakan jaringan luas(kulit otot,neurovaskuler) Luka tembak,lewat golden period
IIIA: fragmen tl. dapat ditutup jar lunak IIIB: periosteum terkelupas, fr. Kominuted
IIIC: kerusakan jar. Lunak luas, kerusakan p.darah besar Prinsip terapi:
o Tutup luka segera dengan kain terbersih o Antibiotika propilaksis & anti tetanus o Debridement segera
o Stabilisasi fraktur Antibiotika
o Jenis cephalosporin a‟ 6 jam (48 jam)
o Bila kontaminasi berat/grade III + aminoglycoside/metronidazole o Anti tetanus: toxoid/serum
Debridement
o Tujuan: merubah luka kontaminasiluka bersih,dg. membuang benda asing, jar. mati, irigasi luka
Penutupan kulit ??
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 49
o Dalam golden period o Tanpa tension Stabilisasi fraktur
o Penting untuk mengurangi infeksi o Paling aman: eksternal fiksasi
o Cast/gip: perlu split/jendelagrade I, II simple Rehabilitasi
o Tidak terbatas pada bag yang cedera, juga terhadap penderita keseluruhan o Tujuan: mencegah edema dg. elevasi & latihan
o Latihan aktifmemompa cairan edema, merangsang sirkulasi, mencegah adhesi, merangsang penyembuhan frakture
Variasi:
o Imobilisasi tanpa Reposisi
o Imobilisasi dg. Eksternal splinting o Reposisi tertutup & Imobilisasi
o Reposisi tertutup dg. Traksi kontinyu & Imobilisasi o Reposisi tertutup & Functional Brace
o Reposisi tertutup & Eksternal Skeletal Fiksasi o Reposisi Tertutup & Internal Skeletal Fiksasi o Reposisi Terbuka & Internal Skeletal Fiksasi o Eksisi fragmen - endoprosthesis
Penanganan Awal Penderita Fraktur DILUAR RUMAH SAKIT
o Airway
Tengkurapkan
Tarik dagu&lidah kedepan o Perdarahan eksterna
Tekan dg. kain terbersih o Shock
Cegah dg. Kontrol perdarahan dan nyeri Jangan memberi makanan/minum lewat mulut Fraktur-dislokasi
o Sebelum transportasi: splint, sensibilitas(cedera spinal) TRANSPORTASI
o Jangan ditekuk
o Bila dg s.c.i. stretcher,daun pintu
o Pengawasan yg. baik&nyaman jauh lbh baik dibanding kecepatan tinggi/zigzag o Sebaiknya dg ambulan dan dg suction & O2
EMERGENCY DI RUMAH SAKIT
o Airway: intubasi endotracheal, tracheostomy o Perdarahan eksterna: klem p.d.
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 50
o Fraktur-dislokasi:
Periksa kelainan vaskuler, saraf sebelum Tx. Periksa kelainan lain: organ viscera
Ro. :pertahankan splint, pindahkan seminimal mungkin Goal Terapi Fraktur
Mengatasi nyeri
Memberikan & mempertahankan kedudukan fragmen tulang yg. baik Memberikan & mendorong terjadinya bony union
Mempertahankan fungsi optimum tidak terbatas pada ekstremitas, tapi terhadap penderita secara keseluruhan
Komplikasi Fraktur Segera
o Kulit: laserasi, aberasi, penetrasi o vaskuler: kontusio, laserasi, spasme o Saraf: perifir, spinal cord
Dini o Venous thrombosis o Septic arthritis o Osteomyelitis o Compartment syndrome o Fat emboli o Pneumonia o Tetanus Lanjut o Sendi: kekakuan,degenerative
o Tulang: malunion,delayed union, nonunion, o Otot/tendon: myositis ossifican,ruptur tendon o Saraf: tardy nerve palsy
FRAKTUR KLAVIKULA PERGESERAN FRAGMEN FRAKTUR OLEH KERJA OTOT TERNOCLEIDOMASTOIDEUS DAN PECTORALIS MAJOR
Mekanisme Trauma
o Trauma langsung pada bahu (91-94%)
o Trauma tidak langsung,lengan menyangga tubuh Klinis
o Tangan nempel dada untuk mencegah pergerakan fraktur o Deformitas jelas
Radiologis
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 51
Terapi
o Reposisi tidak perlu dan tidak mungkin o Sling 2-3 minggu atau figure of eight o Operasi bila:
Konservatif gagal Interposisi jar. Lunak Fraktur terbuka
Trauma neurovaskuler Komplikasi
o Kerusakan saraf/vaskuler (jarang) o Nonunion, malunion, stiffness FRAKTUR SCAPULA
Mekanisme Trauma
o Trauma langsung / tidak langsung, jatuh dg. lengan menumpu badan Klinis
o Nyeri saat gerakan aktif/pasif bahu o Memar pada dinding skapula atau dada o Sering disertai trauma thoraks berat Radiologis
o Fraktur pada body atau collum,fragmen luar tertarik kebawah oleh berat lengan o Ro. thoraks
Terapi
o Reposisi biasanya tidak mungkin dan tidak perlu o Sling
o Latihan bahu, siku, jari-jari sejak awal Komplikasi
o Trauma dinding dada atau peparu o Lesi pleksus brachialis
DISLOKASI ACROMIO-CLAVICULAR Mekanisme Trauma
o Jatuh dg. bahu menumpu badan
o Terjadi robekan a.c. ligament subluksasi klavikula lateral kearah atas Klinis
o Deformitas +/- seperti „tangga‟ o Derajat (grade): I – III
o Grade I-II: subluksasi; grade III: dislokasi o Nyeri hebat
o Gerak bahu terbatas Radiologis
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 52
o Elevasi klavikula
o stress views foto tegak, bahu kiri-kanan, jinjing beban masing-masing 5 kg. Terapi
o Grade I-II : sling (1 minggu)
o Grade III : operasi: TBW, screwing or.tu. : sling
DISLOKASI GLENO HUMERI (DISLOKASI BAHU)
Dibedakan:
o Dislokasi Anterior >> o Dislokasi Posterior
Tersering mengalami dislokasi, karena o Glenoid socket dangkal
o Ruang gerak sendi (ROM) luas
o Keadaan lain: lig. Lemah, displasia glenoid o Gampang mengalami cedera saat aktifitas Dislokasi Anterior Bahu
Mekanisme trauma
o Jatuh dg. lengan menyangga badan, posisi lengan abduksi-rotasi eksternal, humerus terdorong kedepan, terjadi robekan kapsul atau avulsi glenoid labrum
o Kecelakaan lalu lintas
o Cedera olah raga (contact sports) Klinis
o Nyeri hebat
o Penderita menopang lengan dengan tangan lainnya, posisi eksorotasi & abduksi o Hilangnya contour normal deltoid
o Processus acromion teraba menonjol di lateral Radiologis
o Axial : terpenting untuk melihat adanya dan arah dislokasi o AP view : bayangan overlap head-fossa glenoid
o Lat view:head diluar socket
o Jika pernah dislokasi permukaan posterolat head datar/cekung ( Hill-Sachs sign) Terapi
o Reposisi tertutup dengan GA
Hanging arm technique: tengkurap, lengan menggantung ditepi tempat tidur Hypocratic Method: berbaring terlentang di lantai,tarik lengan kedepan,dorong
caput humeri kabelakang dg. telapak kaki Kocher’s method: siku fleksikan 90o
, eksorotasikan 75o,siku tarik kedepan dan endorotasi
o Imobilisasi dg collar and cuff 3 minggu
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 53
setelah reposisi
o Operasi: open atau arthroscopy, bila terjadi instability/dislokasi berulang o Komplikasi
Cedera saraf: n axillaris test abduksi, anestesia pada deltoid Cedera vaskuler: a axillaris
Fraktur- dislokasi: tub. mayor, shaft Kekakuan sendi bahu
Dislokasi Posterior Bahu Jarang, < 20% Mekanisme Trauma
o Gaya tidak langsung endorotasi & adduksi o Sering karena konvulsi, sengatan listrik Klinis
o Lengan „terkunci‟ dalam endorotasi&aduksi o Ekso terkunci, abduksi terbatas
o Tonjolan keposterior oleh caput o Coracoid prominent
Radiologis
o AP: light bulb appearance Terapi
o Reposisi tertutup dg. GA; tarik lengan kedepan, eksternal rotasi, abduksi o Imobilisasi sling
Dislokasi Erecta
Merupakan dislokasi Inferior, dimana gaya abduksi menyebabkan terperangkapnya colum dibawah proc acromion.
Klinis
o Caput humeri terperangkap dibawah fossa glenoid, lengan menunjuk keatas (ereksi) o Nyeri sangat hebat
o Selalu terjadi penekanan neurovaskuler Terapi
o Reposisi sulit (buttonhole), perlu reposisi terbuka (operasi) FRAKTUR HUMERUS PROKSIMAL
Mekanisme Cedera
o Jatuh dengan lengan lurus menyangga badan
o Klasifikasi: NEER (1970) didasarkan atas jumlah segmen yang terpisah: kaput, tub. minor, tub.mayor, shaft humerus 1 – 4 part fracture penting dalam menetukan tindakan Klinis
o Tua: fraktur impacted, nyeri tidak berat Terapi
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 54
o Fraktur 2 bagian: reposisi tertutup, imobilisasi velpeau 4 mg. Bila tidak stabil, operasi (ORIF) o Fraktur 3 bagian: operasi (ORIF)
o Fraktur 4 bagian: prostesis Komplikasi
o Dislokasi bahu
o Cedera vaskuler dan saraf o Kekakuan sendi
o Malunion Fraktur Pada Anak
o Hampir selalu konservatif dg./tanpa reposisi, imobilisasi dg. Velpeau bandage FRAKTUR SHAFT HUMERUS
Mekanisme Trauma
o Jatuh bertumpu pada tanganfraktur spiral
o Bila tumpuan pada sikufraktur oblique/transverse
o Trauma langsung pada lengan fraktur transverse/comminuted o Fraktur pada shaft pd. orang tua bisa karena metastase .
o Fraktur diatas insertio m deltoidfrgmen proksimal aduksi, dibawah insertio abduksi Klinis
o Nyeri pada lengan
o Tanda fraktur jelas:deformitas, false movement o Ingat !! Periksa n. radialisekstensi tangan-jari Radiologis
o Arah pergeseran fragmen tergantung lokasi fraktur
Proksimal (rot cuff-pect mayor): abd-rotasi frag.proksimal Tengah (pect mayor-deltoid) : adduksi -- ,, -- Distal (distal deltoid) : abduksi -- ,, -- Terapi
o Sembuh baik, tidak diperlukan reposisi dan imobilisasi yg baik sekali
o Reposisi dg.berat lengan, collar & cuff, U-slab, hangingcast selama 6 - 12 mg. o Fraktur yg sangat tidak stabil: operasi (ORIF = open reduction internal fixation) Indikasi operasi fraktur shaft humerus:
o Fraktur segmental o Multiple trauma o Fraktur terbuka o Trauma vaskuler
o Fraktur humerus bilateral
o Fraktur humerus & antebrachii (floating elbow) o Fraktur dengan lesi n.radialis
o Fraktur patologis Komplikasi
Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa 2009 | IB Suryadi Putra Dwipayana [0970121023] 55
o Cedera vaskuler o Delayed union o Non union o Kekakuan sendi Fraktur Pada Anak
o Jarang
o < 3 th child abusebebat lengan pada badan (2-3 mg) o Anak lebih tua gip spalk pendek
FRAKTUR SUPRACONDYLER HUMERI Umumnya terjadi pada anak-anak
Tipe:
o Fleksi : distal ke anterior o Ekstensi: distal ke posterior >> Grade
o I : fr. incomplete
o II : fr. complete, displace minimal o III: fr.complete, displace total Mekanisme Trauma
o Tipe ekstensi: jatuh lengan menumpu badan, siku ekstensi o Tipe fleksi : siku fleksi
Klinis o Nyeri
o Bengkak hebat pada siku o Deformitas jelas
o Periksa!! Pulsasi & fungsi saraf Radiologis
o Terbaik dilihat pada posisi lateral pergeseran distal ke anterior/posterior Terapi
o Grade I : sling 2 – 3mg.
o Grade II: reposisi tertutup dg GA imobilisasi collar & cuff (3 mg) sling (3mg) o Grade III: ORIF
o Skeletal traksi overhead dikerjakan pada: Gagal reposisi tertutup
Dengan fleksi siku 90o
pulsasi (-) Trauma multiple, berat
Komplikasi
o Vaskuler : a. brachialis o Saraf : n. medianus o Myositis ossifican o Kekakuan sendi