MENTARI PAGI
MENTARI
PAGI
INDEKS
GLOBAL DAN
PROYEKSI IHSG
TOP TRADING
AND LOSS
TRADING
TODAY
HOT NEWS
REKOMENDASI
SAHAM
Mentari Pagi
Jumat, 29 Mei 2015
Kamis, 28 Mei 2015
HIGH :
5.278,417
LOW
:
5.232,934
CLOSE
: 5.237,401 -0,3%
Trading Value by
Investor Type
Data tidak bisa ditampil
kan karena dari sumber
belum terupdate
Index Global (Closing 28 Mei 2015) :
Market
Index
Change
Chg (%)
FTSE ST (Singapore)
3.417,77
-7,17
-0,21%
NIKKEI 225 (Jepang)
20.551,46
78,88
0,39%
HANG SENG (Hong Kong)
27.454,31
-626,90
-2,23%
SSE Comp (China)
4.620,27
4.476,62
-321,45
0,63%
DJIA (USA) (DOWI)
18.126,12
-36,87
-0,20%
S&P 500 (SPX)
2.120,79
-2,69
-0,13%
Rupiah (USD/IDR)
Rp
13.220
0,00
0,00%
US Dollar Index (DXY)
$
96,92
0,01
0,01%
Crude Oil (WTI) (CL1!)
$
58,10
0,42
0,35%
Gold (XAU/USD)
$
1.189,10
0,30
0,03%
Coal (QL1!)
$
44,80
-0,30
-0,67%
Crude Palm Oil (CU1!)
$
605,25
6,50
1,09%
EUR/USD
$
1,09605
0,00020
0,02%
USD/JPY
$
123,80
-0,130
-0,01%
Sumber: IDX, Bloomberg dan TradingView
A S IA M A R K E T
O
V
E
R
V
IE
W
Saham Dual Listing
Indonesia
NYSE
Rp2,855
$
43.16
(TLK)
25
-0.39
0.90%
-0.90%
IHSG BERPOTENSI MELANJUTKAN PELEMAHAN
Pada perdagangan Kamis (28/5/2015), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
ditutup
melemah
15,987
poin
(
0,30%
)
ke
posisi
5.237,401
.
Sepanjang perdagangan, indeks mencapai level tertingginya di
5.278,417
atau
menguat
25,029
poin dan mencapai level terendahnya
5.232,934
atau turun
20,454
poin. Nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp3,9 triliun dan di pasar negosiasi
mencapai Rp885,1 miliar.
Pada hari ini IHSG kami proyeksikan berpotensi melanjutkan pelemahan
dikarenakan beberapa hal. Beberapa bursa global yang ditutup melemah kemungkinan
akan diikuti oleh market Indonesia pada hari ini. Kemudian terjadinya aksi jual asing
(net foreign sell) sebesar Rp 497,3 Miliar yang menandakan adanya profit taking
setelah sebulan ini market mengalami kenaikan. Dari analisa teknikal, candle IHSG
membentuk red marubozu dengan sumbu kecil yang menandakan di awal
perdagngangan IHSG sempat bergerak di zona positif,namun memasuki sesi kedua
IHSG bergerak di zona merah hingga akhir penutupan. Indikator stochastic terlihat
sudah berbalik arah turun. Indikator MACD juga terlihat terjadi penurunan dari
histogram negatif yang muncul. Berdasarkan tools fibonacci internal retracement IHSG
kami proyeksikan akan menguji level 5.220, atau terendahnya di level 5.141 . Dari
semua paparan di atas kami simpulkan IHSG berpeluang terjadi koreksi lagi pada hari
Data tidak dapat ditampilkan karena dari sumber belum terupdate
HOT NEWS
Rendahnya Belanja Pemerintah Jadi Penyebab
Ekonomi Melambat
ipotnews - Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Leo Putra Rinaldy, menilai rendahnya
belanja pemerintah menjadi salah satu penyebab pertumbuhan produk domestik
bruto (PDB) Indonesia mengalami tren perlambatan.
"Realisasi penerimaan pajak dan belanja pemerintah yang rendah menjadi faktor
yang menurunkan pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal pertama 2011, PDB
Indonesia berada di level 6,5 persen, secara tahunan pada tahun yang sama
sebesar 6,17 persen. Sementara PDB Indonesia pada kuartal pertama tahun ini
4,71 persen," kata Leo, dalam Paparan Outlook Economic 2015 di Jakarta,
kemarin.
Dia menambahkan, perlambatan ekonomi domestik itu berimbas pada hampir
semua sektor, hanya empat sektor yang mengalami peningkatan. Sementara
sektor pertambangan tercatat yang mengalami pelemahan paling dalam karena
harga komoditas terus menurun.
Dipaparkan Leo, kinerja sektor pertambangan pada 2014 sebesar 0,6 persen
ketika PDB Indonesia berada di level 5,02 persen. Sementara pada kuartal
pertama tahun ini, kinerja sektor pertambangan minus 2,3 persen dan PDB
Indonesia 4,71 persen.
Kenaikan PTKP Bisa Dorong Laju Pertumbuhan
Ekonomi: Legislator
Ipotnews - Anggota Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, mendukung rencana Menteri
Keuangan (Menkeu) untuk menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) karena dapat membantu masyarakat berpenghasilan rendah.
"Dengan makin banyak melakukan belanja atau konsumsi, diharapkan mendorong laju pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi rumah tangga," ujar Misbakhun, di Jakarta, kemarin. Menurut dia, konsumsi rumah tangga juga menimbulkan multiplier effect karena pajak atas konsumsi juga akan ikut naik. "Dan dari sisi produksi juga akan mengalami pertumbuhan," tutur dia.
Misbakhun mengatakan surat dari Menkeu mengenai kenaikan PTKP dari dua juta menjadi tiga juta per bulan sudah masuk ke pimpinan DPR, dan akan dibahas lebih lanjut. "Bahwa perubahan atas PTKP harus disampaikan oleh pemerintah kepada DPR," katanya.
Sebelumnya, pemerintah mengusulkan kenaikan batas PTKP dari sebelumnya Rp24,3 juta per tahun menjadi Rp36 juta per tahun untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
"Kami sudah mengajukan surat ke pimpinan DPR untuk membahas kenaikan batasan PTKP ini," jelas Menkeu Bambang Brodjonegoro dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu.
Bambang menjelaskan salah satu alasan kenaikan batasan PTKP ini karena Upah Minimum Provinsi di Indonesia sudah mengalami kenaikan dan di antaranya ada yang telah mendekati Rp3 juta per bulan atau Rp36 juta per tahun.
"Sekarang UMP sudah naik lebih tinggi, jadi memang harus dinaikkan PTKP, karena ini akan memperbesar daya beli masyarakat," ujarnya.
Total Emisi Obligasi BEI Capai Rp24,11 Triliun
Jakarta — Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Kamis (28/5) membukukan total emisi obligasi dan sukuk sebanyak 22 emisi dari 20 emiten senilai Rp24,11 triliun.
Dalam keterbukaan informasi BEI di Jakarta, disebutkan dengan pencatatan ini maka total total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 268 emisi dengan nilai nominal
outstanding sebesar Rp232,13 triliun dan US$100 juta, yang diterbitkan oleh 104 emiten.
Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 94 seri dengan nilai nominal Rp1.332,93 triliun dan lima EBA tercatat senilai Rp2,70 triliun.
Jumlah ini bertambah seiring dicatatkannya Sukuk Mudharabah Bank BNI Syariah I-2015 yang diterbitkan oleh PT Bank BNI Syariah di BEI.
Sukuk Mudharabah Bank BNI Syariah I-2015 ini dicatatkan dengan nilai nominal sebesar Rp500 miliar.
Adapun hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) untuk Sukuk tersebut adalah idAA+sy (Double A Plus Syariah).
Bertindak sebagai Wali Amanat dalam emisi ini adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
[11,825 -125 (-1,0%)].