1 1 A.
A. Latar Belakang PenelitianLatar Belakang Penelitian
Dewasa ini perusahaan semakin dituntut untuk melakukan berbagai Dewasa ini perusahaan semakin dituntut untuk melakukan berbagai perubahan
perubahan agar agar dapat dapat bersaing. bersaing. Negara-negara Negara-negara dan dan badan badan internasionalinternasional mendukung kesepakatan global terhadap standar akuntansi sehingga mendukung kesepakatan global terhadap standar akuntansi sehingga menghasilkan
menghasilkan International International Financial Financial Reporting Reporting StandarsStandars (IFRS). Apabila (IFRS). Apabila International
International Financial Financial Reporting Reporting StandarsStandars (IFRS) dijadikan standar oleh (IFRS) dijadikan standar oleh negara-negara di seluruh dunia terhadap laporan keuangannya untuk negara-negara di seluruh dunia terhadap laporan keuangannya untuk menyampaikan informasi keuangan khususnya bagi pihak eksternal maka akan menyampaikan informasi keuangan khususnya bagi pihak eksternal maka akan menghasilkan laporan keuangan yang berada dalam satu standar yang sama. menghasilkan laporan keuangan yang berada dalam satu standar yang sama. Hal tersebut akan menghasilkan mutu laporan keuangan perusahaan Hal tersebut akan menghasilkan mutu laporan keuangan perusahaan mempunyai pengungkapan yang lebih luas, kredibilitas yang tinggi, serta mempunyai pengungkapan yang lebih luas, kredibilitas yang tinggi, serta informasi keuangan yang dihasilkan lebih relevan serta akurat yang pada informasi keuangan yang dihasilkan lebih relevan serta akurat yang pada akhirnya informasi dalam laporan keuangan tersebut dapat dibandingkan satu akhirnya informasi dalam laporan keuangan tersebut dapat dibandingkan satu sama lain sehingga akan memudahkan pemakai laporan keuangan untuk sama lain sehingga akan memudahkan pemakai laporan keuangan untuk memahami dan dapat diterima secara internasional (Immanuela, 2004).
memahami dan dapat diterima secara internasional (Immanuela, 2004).
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) menyusun peta arah program Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) menyusun peta arah program konvergensi IFRS terhadap PSAK dalam tiga tahap, yaitu tahap adopsi, tahap konvergensi IFRS terhadap PSAK dalam tiga tahap, yaitu tahap adopsi, tahap persiapan akhir, dan tahap i
persiapan akhir, dan tahap implementasi. Tahap adopsi diterapkan pada mplementasi. Tahap adopsi diterapkan pada tahuntahun 2008 hingga 2011 yang merupakan adopsi pada sel
2008 hingga 2011 yang merupakan adopsi pada seluruh IFRS ke dalam PSAK,uruh IFRS ke dalam PSAK, mempersiapkan infrastruktur, mengevaluasi dan mengelola terhadap dampak mempersiapkan infrastruktur, mengevaluasi dan mengelola terhadap dampak
adopsi pada penerapan PSAK. Tahap persiapan diterapkan pada akhir tahun adopsi pada penerapan PSAK. Tahap persiapan diterapkan pada akhir tahun 2011 dengan menyelesaikan infrastruktur yang dibutuhkan dan dilakukan 2011 dengan menyelesaikan infrastruktur yang dibutuhkan dan dilakukan penerapan secara
penerapan secara bertahap terhadap bertahap terhadap PSAK berbPSAK berbasis IFRS. asis IFRS. Tahap implementasiTahap implementasi diterapkan pada tahun 2012 yang merupakan penerapan PSAK yang sudah diterapkan pada tahun 2012 yang merupakan penerapan PSAK yang sudah diadopsi IFRS secara keseluruhan dan mengevaluasi terhadap dampak diadopsi IFRS secara keseluruhan dan mengevaluasi terhadap dampak penerapan PSAK secara komprehensif (Daniel, 2012).
penerapan PSAK secara komprehensif (Daniel, 2012).
Diadopsinya IFRS kedalam PSAK menyebabkan terjadinya Diadopsinya IFRS kedalam PSAK menyebabkan terjadinya perubahan- perubahan,
perubahan, salah salah satunya satunya yaitu yaitu pada pada PSAK PSAK No No 16 16 tentang tentang aset aset tetap. tetap. PSAKPSAK (1994) memiliki banyak perbedaan terhadap PSAK 16 (Revisi 2007) yang (1994) memiliki banyak perbedaan terhadap PSAK 16 (Revisi 2007) yang berupa
berupa penggantian penggantian istilah aktiva istilah aktiva menjadi aset menjadi aset terhadap terhadap keseluruhan keseluruhan PSAK PSAK dandan pengukuran
pengukuran setelah pengaksetelah pengakuan uan awal. awal. Pada PSAK Pada PSAK 16 16 (Revisi 20(Revisi 2007) 07) terdapat duaterdapat dua pilihan
pilihan model model mengenai mengenai pengukuran pengukuran setelah setelah pengakuan pengakuan awal awal yang yang dapatdapat dilakukan oleh entitas yaitu model biaya dan model revaluasi yang dapat dilakukan oleh entitas yaitu model biaya dan model revaluasi yang dapat diterapkan pada seluruh aset tetap perusahaan dalam kelompok yang sama. diterapkan pada seluruh aset tetap perusahaan dalam kelompok yang sama.
Setelah pengakuan awal pada model revaluasi, aset tetap dicatat sebesar Setelah pengakuan awal pada model revaluasi, aset tetap dicatat sebesar jumlah
jumlah revaluasinya, revaluasinya, yaitu yaitu nilai nilai wajar wajar aset aset pada pada tanggal tanggal revaluasi revaluasi dikurangidikurangi jumlah
jumlah rugi rugi penurunan penurunan nilai nilai setelah setelah tanggal tanggal revaluasi revaluasi dan dan akumulasiakumulasi penyusutan.
penyusutan. PSAK PSAK 16 16 (Revisi (Revisi 2007) 2007) tidak tidak mengharuskan mengharuskan perusahaan perusahaan yangyang melakukan revaluasi aset te
melakukan revaluasi aset tetap untuk mengikuti ketentuan perpajakan, kecualitap untuk mengikuti ketentuan perpajakan, kecuali untuk tujuan perpajakan. Penelitian yang dilakukan oleh Seng dan Su (2010) untuk tujuan perpajakan. Penelitian yang dilakukan oleh Seng dan Su (2010) terhadap perusahaan-perusahaan di New Zealand dan Brown, dkk (1992) terhadap perusahaan-perusahaan di New Zealand dan Brown, dkk (1992) terhadap perusahaan-perusahaan di Australia membuktikan bahwa keputusan terhadap perusahaan-perusahaan di Australia membuktikan bahwa keputusan
untuk melakukan revaluasi terhadap aset perusahaan oleh manajer dipengaruhi untuk melakukan revaluasi terhadap aset perusahaan oleh manajer dipengaruhi oleh faktor perkontrakan, faktor politis, dan faktor asimetri informasi.
oleh faktor perkontrakan, faktor politis, dan faktor asimetri informasi. Yulistia, dkk (2015) mengungkapkan bahwa
Yulistia, dkk (2015) mengungkapkan bahwa leverageleverage tidak memiliki tidak memiliki pengaruh terhadap
pengaruh terhadap revaluasi revaluasi aset tetaset tetap. Hal ap. Hal tersebut tersebut didukung oleh penelitididukung oleh penelitianan yang dilakukan Seng dan Su (2010), Firmansyah dan Sherllita (2012), dan yang dilakukan Seng dan Su (2010), Firmansyah dan Sherllita (2012), dan Nurjanah (201
Nurjanah (2013). Namun B3). Namun Brownrownet alet al (1992) menemukan bukti empiris bahwa(1992) menemukan bukti empiris bahwa leverage
leveragememiliki pengaruh positif terhadap revaluasi aset tetap. Hasil tersmemiliki pengaruh positif terhadap revaluasi aset tetap. Hasil ters ebutebut sejalan dengan penelitian Lin dan Peasnell (2000), Piera (2007),
sejalan dengan penelitian Lin dan Peasnell (2000), Piera (2007),
Barać dan
Barać dan
Šodan (2011)
Šodan (2011), serta Manihuruk dan Farahmita (2015) yang memberikan hasil
, serta Manihuruk dan Farahmita (2015) yang memberikan hasil bahwabahwaleverageleverage memiliki pengaruh positif pada revaluasi aset. memiliki pengaruh positif pada revaluasi aset. Ukuran perusahaan
Ukuran perusahaan (firm size)(firm size) telah digunakan oleh para peneliti sebagai telah digunakan oleh para peneliti sebagai proksi
proksi dari dari faktor faktor politis politis dan dan insentif insentif manajer manajer untuk untuk memilih memilih prosedurprosedur
pengurang
pengurangan
an laba.
laba. Barać
Barać dan
dan Šodan
Šodan (2011)
(2011) membuktikan
membuktikan bahwa
bahwa ukuran
ukuran
perusahaan (perusahaan ( firm size) firm size) memiliki kontribusi yang signifikan terhadap keputusan memiliki kontribusi yang signifikan terhadap keputusan revaluasi. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian oleh Tay (2009), Seng dan revaluasi. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian oleh Tay (2009), Seng dan Su (2010). Namun, penelitian yang dihasilkan oleh Firmansyah dan Sherlita Su (2010). Namun, penelitian yang dihasilkan oleh Firmansyah dan Sherlita (2012), Nurjanah (2013), Ramadhani (2016), dan Latifa dan Haridhi (2016) (2012), Nurjanah (2013), Ramadhani (2016), dan Latifa dan Haridhi (2016) memberikan hasil bahwa ukuran perusahaan (
memberikan hasil bahwa ukuran perusahaan ( firm firm size)size) tidak memiliki tidak memiliki pengaruh
pengaruh pada pada keputusan keputusan revaluasi. revaluasi. Sedangkan Sedangkan Yulistia, Yulistia, dkk dkk (2015) (2015) dandan Manihuruk dan Farahmita (2015) memperoleh hasil yaitu terdapat pengaruh Manihuruk dan Farahmita (2015) memperoleh hasil yaitu terdapat pengaruh negatif ukuran perusahaan
negatif ukuran perusahaan (firm size) terhadap revaluasi. Hal tersebut(firm size) terhadap revaluasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan kecil memiliki
menunjukkan bahwa perusahaan kecil memiliki kemungkinan untuk mencatatkemungkinan untuk mencatat aset tetapnya menggunakan model revaluasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani (2016) menjadikan intensitas aset tetap (fixed asset intensity) sebagai proksi dari faktor asimetri informasi. Penelitiannya menghasilkan bahwa intensitas aset tetap (fixed asset intensity) memiliki pengaruh secara positif terhadap keputusan revaluasi aset tetap. Hasil tersebut di dukung oleh penelitian yang dilakukan oleh nurjanah (2013), Manihuruk dan Farahmita (2015) dan Latifa dan Haridhi (2016). Namun, penelitian yang dilakukan oleh Yulistia, dkk (2015), dan
Barać dan Šodan
(2011) menemukan bahwa intensitas aset tetap (fixed asset intensity) tidak memiliki pengaruh terhadap revaluasi aset tetap. Seng dan Su (2010) menunjukkan bahwa intensitas aset tetap (fixed asset intensity) yang diuji melalui univariate adalah signifikan namun secara statistik melalui metode regresi logistik adalah tidak signifikan.
Seng dan Su (2010) menggunakan penurunan arus kas operasi (declining cash flow from operation), sebagai proksi dari faktor perkontrakan dan menemukan bahwa penurunan arus kas operasi, tidak memiliki pengaruh terhadap revaluasi aset keatas. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurjanah (2013), Firmansyah dan Sherllita (2012), Yulistia, dkk (2015), dan Ramadhani (2016) bahwa keputursan revaluasi aset tetap tidak dipengaruhi oleh penurunan arus kas operasi. Namun hasil penelitian tersebut tidak sesuai dengan Latifa dan Haridhi (2016) yang menemukan bahwa penurunan arus kas operasi, memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap
revaluasi aset tetap. Hasil lain ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan Cotter dan Zimmer (1995), dan
Barać dan Šodan (2011) yang memberikan
bukti bahwa penurunan arus kas operasi (declining cash flow from operation) berpengaruh positif terhadap keputusan revaluasi aset tetap.
Nurjanah (2013) melakukan penelitian pada perusahaan di Indonesia dan berhasil membuktikan bahwa ownership control (kontrol kepemilikan) memiliki hubungan negatif terhadap revaluasi. Namun hasil penelitian yang berbeda ditunjukkan oleh Wicaksana (2016) terhadap perusahaan di Indonesia, Lopes (2012) terhadap perusahaan di Brazil dan Piera (2007) terhadap perusahaan di Swiss yang memberikan bukti empiris bahwaownership control
(kontrol kepemilikan) tidak memiliki pengaruh terhadap keputusan revaluasi aset tetap.
Watts dan Zimmerman (1986) memperkenalkan teori yang dapat menjelaskan mengapa suatu pilihan metode akuntansi dilakukan oleh manajer, teori tersebut yaitu teori akuntansi positif. Manajer akan memilih suatu metode akuntansi yang dapat meningkatkan kompensasinya (hipotesis rencana bonus), mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran perjanjian utang (hipotesis perjanjian utang) dan menurunkan biaya politis. Oleh sebab itu, manajer mungkin saja memilih metode revaluasi untuk alasan tersebut. Untuk dapat mencapai tujuan hipotesis rencana bonus maka manajer akan meninjau kesehatan keuangan perusahaan. Penentuan metode akuntansi yang dilakukan oleh manajer juga mempertimbangkan perspektif informasi dan karakteristik aset.
Perusahaan di Indonesia tidak banyak yang memilih melakukan revaluasi untuk menentukan jumlah tercatat aset tetapnya, begitu juga dengan
perusahaan-perusahaan di ASEAN (Manihuruk dan Farahmita, 2015). Metode biaya merupakan metode yang banyak dipilih oleh perusahaan-perusahaan di ASEAN untuk menentukan jumlah tercatat asetnya. Padahal, apabila dibandingkan antara model biaya dengan model revaluasi, maka penerapan model revaluasi aset tetap akan menghasilkan nilai kekayaan yang wajar yang lebih relevan dalam pengambilan keputusan. Manihuruk dan Farahmita (2015) menunjukkan data bahwa pada tahun 2008 hingga tahun 2013 perusahaan- perusahaan di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura memilih menggunakan model biaya daripada model revaluasi dalam penentuan jumlah tercatat aset yang dimiliki perusahaan setelah pengakuan awal.
Tabel 1.1
Jumlah Perusahaan yang Menggunakan Model Revaluasi dan Model Biaya Model akuntansi Indonesia Malaysia Filipina Singapura
Model Revaluasi 39 817 129 249
Model Biaya 1.400 2.916 423 2.265
Jumlah 1.439 3.733 552 2.514
Sumber: Manihuruk dan Farahmita (2015)
Topik penelitian ini menjadi menarik diteliti kembali untuk menemukan faktor-faktor mengapa hanya sedikit perusahaan yang memilih metode revaluasi dibandingkan metode biaya. Peneliti memilih Malaysia untuk dijadikan sebagai pembanding terhadap Indonesia dalam keputusan perusahaan untuk menentukan metode biaya atau metode revaluasi terhadap penentuan jumlah tercatat asetnya. Negara Malaysia dipilih karena Malaysia memiliki kesamaan dengan Indonesia terhadap standar akuntansinya yaitu dalam pengadopsian IFRS. Kedua negara tersebut dalam mengadopsi IFRS
menggunakan gradual strategy yang dilakukan dengan mengadopsi 21 standar IFRS pada tanggal 1 Januari 2006 (Chintya, 2015).
Penelitian ini merupakan hasil kompilasi dari penelitian yang dikembangkan oleh Yulistia, dkk (2015) dan Nurjanah (2013). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan membandingkan perusahaan manufaktur di Indonesia dan perusahaan manufaktur di Malaysia, serta t ahun penelitian 2014-2016. Perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam BEI dan KLSE pada tahun 2014-2016 menjadi fokus utama dalam penelitiaan ini karena perusahaan manufaktur memiliki jumlah terbesar jika dibandingkan dengan sektor perusahaan lain sehingga sesuai untuk dilakukan penelitian. Menurut Cahyonowati dan Ratmono (2010), penelitian yang memfokuskan pada satu industri saja dalam pengujian sampelnya akan dapat mengontrol variabel pengganggu. Maka perusahaan sektor manufaktur digunakan dalam penelitian
ini sebagai sampel dan diharapkan dapat menjelaskan keseluruhan populasi. Tay (2009) menyebutkan bahwa revaluasi dapat menghasilkan nilai suatu aset menjadi lebih tinggi maupun lebih rendah dari aset yang tercatat. Oleh karena itu terdapat dua revaluasi yaitu revaluasi menaik dan revaluasi ke bawah. Sebagian besar penelitian mengenai revaluasi aset tidak menentukan revaluasi apa yang digunakan, apakah revaluasi menaik atau revaluasi ke bawah. Maka peneliti terdorong untuk menggunakan kekosongan pada area tersebut dengan menggunakan revaluasi menaik sebagai revaluasi dalam penelitian ini. Pemilihan revaluasi menaik dalam penelitian ini disebabkan
karena penelitian ini mensyaratkan adanya peningkatan pada nilai aset untuk mendukung hipotesis penelitian, serta bertujuan untuk mengurangi ketidaksetaraan dan menyetarakan perusahaan-perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel penelitian.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian kembali mengenai leverage, declining cash flow from operation, firm size, fixed assets intensity, dan ownership control terhadap kebijakan revaluasi aset tetap dengan rentang waktu 2014-2016. Berdasarkan tujuan tersebut peneliti menarik judul “Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kebijakan Revaluasi Aset Tetap (Studi Komparatif Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan di Bursa Efek Malaysia Tahun 2014-2016)”.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah dalam menjelaskan hubungan leverage, declining cash flow from operation, firm size, fixed assets intensity, dan ownership control terhadap revaluasi aset tetap antara lain:
1. Apakah leverage memiliki pengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia?
2. Apakah firm size memiliki pengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia?
3. Apakah fixed asset intensity memiliki pengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia?
4. Apakah declining cash flow from operation memiliki pengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia?
5. Apakah ownership control memiliki pengaruh negatif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia.
6. Apakah terdapat perbedaan penerapan kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk menguji dan memperoleh bukti empiris tentang:
1. Untuk menguji pengaruh positif leverage terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia.
2. Untuk menguji pengaruh positif firm size terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia.
3. Untuk menguji pengaruh positif fixed asset intensity terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia.
4. Untuk menguji pengaruh positif declining cash flow from operation terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia.
5. Untuk menguji pengaruh negatif ownership control terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia.
6. Untuk menguji perbedaan penerapan kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan memberikan hasil berupa masukan yang berarti dalam pengembangan ilmu ekonomi, khusunya di bidang ilmu akuntansi. Serta penelitian ini memberikan pemahaman keterkaitan secara teori dengan penerapan praktik secara nyata mengenai pengaruh leverage, firm size, fixed asset intensity, declining cash flow from operation, dan
ownership control terhadap revaluasi aset tetap.
b. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi alternatif rujukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang akan meneliti revaluasi aset tetap. 2. Manfaat Praktis
a. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan memberikan hasil yang dapat digunakan sebagai referensi bagi manajemen dalam pengambilan keputusan terhadap penerapan kebijakan akuntansi aset tetap dimasa mendatang apabila perusahaan hendak menggunakan metode revaluasi aset.
b. Bagi Pengguna Laporan Keuangan Lainnya
Penelitian ini diharapkan memberikan hasil yang dapat memberikan gambaran maupun informasi dalam pengambilan keputusan bagi para pengguna laporan keuangan lainnya mengenai faktor-faktor
11 A. Rerangka Teori
1. Teori Akuntansi Positif
Teori akuntansi positif adalah proses yang menggunakan kemampuan, pemahaman, serta pengetahuan ilmu akuntansi dalam pemilihan kebijakan akuntansi yang sesuai dengan tujuan tertentu dalam menghadapi suatu keadaan dimasa depan (Watts dan Zimmerman, 1986). Teori akuntansi positif menjelaskan bahwa setiap perusahaan memiliki kebijakan akuntansi yang berbeda satu sama lain, dan perusahaan bebas untuk menentukan salah satu alternatif kebijakan akuntansi yang tersedia yang dapat meminimalisir biaya kontrak dan memaksimalkan nilai perusahaan. Kebebasan yang diberikan kepada manajer perusahaan untuk menentukan kebijakan akuntansi akan menyebabkan manajer melakukan kecenderungan untuk melakukan tindakan oportunitis (Scott, 2009). Tindakan oportunitis dalam menentukan kebijakan akuntansi bertujuan untuk menguntungkan manajer yang akhirnya tingkat kepuasan manajer akan meningkat.
Terdapat tiga hipotesis yang dihubungkan dengan perilaku oportunistik manajemen oleh Watts dan Zimmerman (1986) yaitu bonus plan hypothesis, debt covenant hypothesis, dan political cost hypothesis. Hipotesis tersebut digunakan untuk menjawab dan menjelaskan alasan suatu praktik akuntansi dipilih oleh suatu perusahaan serta memperkirakan peran
akuntansi dan informasi terhadap kebijakan ekonomi yang diambil oleh perusahaan, individu, dan pihak lainnya.
Penelitian oleh Watts dan Zimmerman (1986) menemukan bahwa hipotesis rencana bonus (bonus plan hypothesis) ditunjukkan melalui sikap manajer terhadap pemilihan suatu metode akuntansi yang dapat meningkatkan kompensasi yang didapatkannya. Hipotesis kontrak hutang (debt covenant hypothesis) ditunjukkan dengan mengurangi kemungkinan terlanggarnya perjanjian obligasi (bond covenant). Sedangkan pada hipotesis biaya politik (political cost hypothesis) ditunjukkan dengan pemilihan prosedur akuntansi, yaitu perusahaan besar memiliki kecenderungan menggunakan prosedur akuntansi yang dapat mengurangi labanya dalam laporan keuangan.
2. Aset dan Karakteristik Aset
PSAK No 16 (Revisi 2011) menyebutkan aset yaitu semua kekayaan yang dimiliki oleh seseorang ataupun perusahaan, baik yang berwujud maupun tidak berwujud serta memiliki nilai sehingga dapat mendatangkan manfaat bagi pemiliknya. Manfaat ekonomi masa depan aset yang dimiliki harus dapat memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung bagi arus kas dan setara kas. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) di Indonesia menyebutkan bahwa sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan diharapkan akan menghasilkan manfaat ekonomis di masa depan bagi
perusahaan disebut dengan aset. Menurut International Financial Reporting Standards (IFRS) tahun 2008 menyebutkan
“an asset is a resource controlled by the ent erprise as a result of past events and form which future economic benefits are expected to flow to the enterprise.”
Suwardjono (2013) menyebutkan di dalam bukunya bahwa agar suatu objek dapat disebut sebagai aset, maka tiga karakteristik utama aset harus dipenuhi oleh objek tersebut, yaitu:
1. Objek tersebut harus memiliki manfaat ekonomik masa depan yang cukup pasti.
2. Objek tersebut dikuasai atau dapat dikendalikan oleh perusahaan dan tidak harus dimiliki oleh perusahaan.
3. Objek tersebut timbul akibat transaksi yang dilakukan pada masa lalu. Aset pada neraca secara umum dibagi menjadi dua kelompok, yaitu aset lancar dan aset tidak lancar. PSAK No 1 (Revisi 2009) menyebutkan bahwa aset lancar dan aset tidak lancar perusahaan disajikan secara terpisah,
dan aset lancar disajikan berdasarkan ukuran likuiditasnya. 3. Aset Tetap
SAK No 16 menyebutkan aset tetap yaitu perolehan aset berwujud yang siap untuk dipakai maupun dengan dibangun terlebih dahulu yang akan digunakan untuk kegiatan operasi perusahaan, tidak bermaksud untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun kecuali dalam keadaan tertentu, seperti aset tersebut rusak dan dapat dijual. Kieso et al (2010) menjelaskan bahwa aset tetap yaitu aset
berwujud yang dimilki perushaan untuk digunakan dalam memproduksi barang maupun jasa sehingga dapat disewakan kepada pihak lain, untuk
tujuan administrasi serta memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun. Contoh dari aset tetap yaitu tanah, gedung, kendaraan, mesin, dan sebagainya. Berdasarkan tujuan akuntansi maka aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan dapat digolongkan dalam aset tetap yang pada umumnya tidak terbatas, seperti tanah, lahan perkebunan, lahan pertanian, lahan peternakan, dan sebagainya. Aset tetap tersebut dapat digunakan secara terus menerus tanpa harus diperbaiki maupun digantikan apabila perusahaan mengehendakinya. Sedangkan aset tetap yang terbatas yaitu aset tetap yang memiliki umur ekonomis terbatas dan dapat diganti oleh aset tetap lainnya yang sejenis apabila masa ekonomis aset tersebut telah habis, seperti mesin, kendaraan, mebel, dan sebagainya.
PSAK No 16 (Revisi 2011) menyebutkan biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika memiliki kemungkinan yang besar bahwa perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan dari aset tersebut dan pengukuran secara andal dapat dilakukan terhadap biaya perolehan aset tersebut. Berdasarkan penyusutannya maka aset tetap
dapat dikelompokkan kedalam dua jenis, yaitu:
a. Depreciable assets, yaitu aset tetap yang dapat dilakukan penyusustan. Contohnya bangunan, kendaraan, mesin, dan peralatan.
b. Nondepreciable assets, yaitu aset tetap yang tidak dapat dilakukan penyusutan. Contohnya tanah.
Berdasarkan kondisi tersebut maka diperlukan pertimbangan dalam penerapan kriteria dalam pengakuan aset tetap. Prinsip pengakuan aset tetap terhadap semua biaya perolehanan yang terjadi harus dapat dievaluasi oleh entitas, termasuk biaya perolehan awal atau biaya untuk mengkonstruksi aset tetap serta biaya yang dibutuhkan untuk menambah, mengganti, maupun memperbaiki (PSAK No 16 Revisi 2011).
Metode penilaian dan penyajian aset tetap memiliki pengaruh pada laporan keuangan perusahaan, hal tersebut diakibatkan oleh nilai aset tetap perusahaan cukup material dibandingkan dengan total asetnya. Aset tetap yang diakui sebagai aset harus diukur pada biaya perolehan awalnya. IAS 16 mendefinisikan biaya peroleh sebagai:
“cost is the amount of cash or cash equivalents paid or the fair value of the other consideration given to acquire an asset at the time of its acquisition or construction or, where applicable, the amount attributed to that assets when initially recognized in accordance with the specific requirements of other IFRSs, eq IFRS 2 Share-based Payment.”
PSAK No 16 (Revisi 2011) menjelaskan bahwa entitas harus memilih metode penilaian awal aset tetap setelah pengakuan awalnya sebagai kebijakan akuntansi yaitu antara model biaya atau dengan model revaluasi dan menerapkannya pada keseluruhan kelompok yang sama dalam aset tetap. Pada model biaya, suatu objek yang telah diakui sebagai aset tetap maka akan dicatat sesuai biaya perolehannya kemudian dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset (PSAK No 16 Revisi 2011). Sedangkan model revaluasi yaitu pengukuran aset tetap
yang nilai wajarnya dicatat dengan jumlah revaluasian yang berupa nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset yang terjadi setelah tanggal revaluasi. 4. Revaluasi Aset Tetap
Peninjauan kembali terhadap nilai dari aset tetap disebut dengan revaluasi aset tetap. IAS 16 mendefinisikan bahwa nilai wajar yaitu jumlah aktiva yang dapat saling ditukarkan antara pihak yang memahami dan memiliki keinginan dalam transaksi yang wajar. Tay (2009) menyebutkan bahwa revaluasi lebih sering dimaknai terhadap penilaian ulang yang menghasilkan nilai suatu aset menjadi lebih tinggi, padahal revaluasi aset tidak selalu menghasilkan nilai aset yang lebih tinggi, tetapi juga lebih rendah dari aset yang tercatat. Apabila suatu aset tetap direvaluasi maka jumlah tercatat aset tetap tersebut harus disesuaikan terhadap jumlah
revaluasinya (PSAK No 16 Penyesuaian 2015).
Dalam setiap periode, tidak harus dilakukan revaluasi. Tetapi apabila terdapat perubahan pada nilai wajar dari aset yang direvaluasi maka perlu dilakukan revaluasi. Apabila terdapat perbedaan yang material dari nilai wajar pada aset yang direvaluasi dengan jumlah tercatatnya maka perlu dilakukan revaluasi lanjutan. Apabila setelah dilakukan revaluasi jumlah aset tercatat mengalami peningkatan, maka peningkatan tersebut langsung dikreditkan pada bagian surplus revaluasi di ekuitas dan pada laporan laba rugi harus diakui pada jumlah penurunan nilai aset revaluasinya yang sebelumnya sudah diakui. Hal tersebut juga berlaku pada penurunan nilai
aset akibat revaluasi aset, tetapi penurunan nilai tersebut langsungg didebit pada bagian surplus revaluasi di ekuitas selama penurunan tersebut melebihi
saldo kredit surplus revaluasi aset tersebut. 5.
Leverage
Perusahaan memiliki sumber pendanaan yang terbagi dalam dua j enis yaitu pendanaan internal dan pendanaan eksternal. Modal saham yang dimiliki oleh perusahaan merupakan pendanaan internal, sedangkan pinjaman dari kreditur yang diperoleh perusahaan merupakan pendanaan eksternal. Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya dapat diukur dengan rasio leverage. Rasio leverage juga berfungsi untuk mengukur proporsi aset yang didanai dari hutang dengan
yang didanai dari ekuitas (Harahap, 2007).
Jika perusahaan memiliki tingkat leverage yang semakin meningkat maka akan menyebabkan biaya agensi yang semakin tinggi terkait dengan biaya yang dikeluarkan oleh kreditur sebagai pengawas pada perushaan
dengan tingkat hutang yang tinggi, apakah perusahaan dapat melunasi hutangnya sehingga akan mendorong kreditur meningkatnya biaya agensinya. Army (2013) menjelaskan apabila suatu perusahaan dalam membiayai investasinya menggunakan struktur hutang yang tinggi maka perushaan tersebut dinilai memiliki risiko. Terdapat dua rasioleverage yang
digunakan oleh para peneliti yaitu debt to total aset dandebt to equity ratio. Namun hanya debt to total asset ratio yang digunakan dalam penelitian ini.
Debt to total asset ratio berfungsi untuk menghitung persentase dana dari kreditur yang dihitung melalui total hutang dibagi total aset.
6.
F ir m Size
Biaya politik yang semakin besar yang dimiliki oleh perusahaan akan menyebabkan perusahaan cenderung menggunakan kebijakan akuntansi yang dapat menangguhkan pendapatan periode masa kini ke periode masa depan. Penjelasan tersebut didasarkan atas asumsi jika perusahaan yang memiliki biaya politik yang besar maka akan lebih sensitif terhadap mentransferkan kemakmurannya yang lebih besar jika dibandingkan perusahaan yang memiliki biaya politik yang lebih kecil. Sehingga menurut Watts dan Zimmerman (1986) apabila perusahaan besar dibandingkan pada perusahaan kecil maka perusahaan besar akan cenderung menurunkan maupun mengurangi laba yang dilaporakan. Biaya politis yaitu fungsi pada tingkat pengawasan politik dan pentingnya perusahaan dalam men yalurakan kekayaannya terhadap dampak dari kegiatan politik masyarakat pada perusahaan (Mills dkk, 210).
Ukuran perusahaan dijadikan sebagai salah satu proksi dari biaya politis oleh Seng dan Su (2010) dalam penelitiannya. Basis pemegang kepentingan akan menjadi lebih luas apabila ukuran suatu perusahaan semakin besar sehingga akan menyebabkan kebijakan yang diambil oleh perusahaan besar akan berdampak lebih besar terhadap kepentingan publik jika dibandingkan perusahaan kecil. Dari sudut pandang investor maka kebijakan yang diambil oleh suatu perusahaan akan memiliki dampak pada
arus kas dimasa depan. Sedangkan dari sudut pandang pemerintah sebagai regulator maka akan memiliki dampak pada besarnya pajak yang diterimanya dan efektifitas dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat secara umum.
Total aset, penjualan dan kapitalisasi pasar dapat digunakan untuk menyatakan ukuran suatu perusahaan. Apabila suatu perusahaan memiliki total aset, penjualan dan kapitalisasi pasar yang besar, maka ukuran perusahaan tersebut semakin besar. Total aset, penjualan dan kapitalisasi pasar dapat mewakili seberapa besar ukuran perusahaan, maka variabel tersebut dapat menentukan ukuran perusahaan. Namun menurut Sudarmadji dan Sulartono (2007), total aset memiliki nilai yang relatif lebih stabil dari ketiga variabel tersebut, oleh sebab itu total aset digunakan untuk menentukan ukuran suatu perusahaan.
7.
F ixed Asset I ntensity
Seng dan Su (2010) menggunakan intensitas aset tetap ( fixed asset intensity) sebagai salah satu faktor dari infromasi asimetri. Infromasi asimetri menurut Scott (2009) terjadi apabila informasi lebih dimiliki oleh salah satu pihak dibandingkan pihak lainnya dari suatu transaksi. Untuk mengukur informasi asimetri maka dapat menggunakan intensitas aset tetap ( fixed asset intensity). Tay (2009) menyebutkan bawa intensitas aset tetap ( fixed asset intensity) merupakan proporsi aset perusahaan yang terdiri atas aset tetap. Intensitas aset tetap ( fixed asset intensity) dapat
mempresentasikan proporsi aset tetap perusahaan dibandingkan dengan total asetnya.
Intensitas aset tetap ( fixed asset intensity)dihitung dengan nilai buku dari total aset tetap dibagi dengan total aset (
Barać dan Šodan, 2011)
. Keputusan revaluasi perusahaan dapat dipengaruhi oleh intensitas aset tetap ( fixed asset intensity) melalui dua cara. Aset tetap merupakan jaminan perusahaan, sehingga rasio intensitas aset tetap ( fixed asset intensity) yang rendah akan memotivasi manajer dalam mengungkapkan aset tetapnya pada nilai pasar dan yang dapat meningkatkan kapasitas pinjaman. Berdasarkan hal tersebut diharapkan hubungan antara intensitas aset tetap ( fixed asset intensity) terhadap revaluasi adalah negatif. Di sisi lain, semakin banyak aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan maka akan semakin tinggi nilai rasio intensitas aset tetapnya ( fixed asset intensity) dan efek revaluasi yang dihasilkan semakin besar. Berdasarkan hal tersebut diharapkan hubungan antara intensitas aset tetap ( fixed asset intensity) terhadap revaluasi adalah positif (Barlev et al , 2007).8.
Declini ng Cash F low from Operation
Terdapat tiga aktivitas yang terbagi di dalam laporan arus kas, yaitu aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan. Aktivitas operasi merupakan aktivitas utama perusahaan yang menjadi pusat untuk memperoleh pendapatan bagi perusahaan. Aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan bukan merupakan aktivitas utama perusahaan dalam memperoleh pendapatan. Arus kas dari aktivitas operasi menggambarkan
besarnya arus kas yang dihasilkan oleh aktivitas operasi. Jumlah tersebut adalah indikator utama yang digunakan untuk menentukan apakah aktivitas operasi yang dilakukan perusahaan menghasilkan arus kas yang dapat digunakan untuk membayar deviden, membayar pinjaman dan menjaga kemampuan operasi perusahaan.
Model revaluasi aset tetap dapat menyebabkan nilai yang lebih tinggi terhadap aset jaminan perusahaan sehingga akan meyakinkan debt holders terhadap kemampuan perusahaan dalam membayarkan hutangnya melalui aset perusahaan yang lebih tinggi sesuai nilai pasar yang dapat mengembalikan kapasitas pinjaman perusahaan. Sehingga penurunan arus kas yang terjadi pada perusahaan akan menyebabkan perusahaan cenderung lebih memilih model revaluasi.
9.
Ownership Control
Struktur kepemilikan dapat digolongkan dalam dua blok, yaitu blok kepemilikan eksternal dan blok kepemilikan internal. Struktur kepemilikan menunjukkan adanya sumber daya yang dikorbankan secara efisien untuk menghasilkan laba yang maksimal dimana insentif manajer dalam memaksimalkan laba dapat berkurang karena kepemilikan yang tersebar. Menurut Wicaksono (2000) dalam struktur kepemilikan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. Porsi kepemilikan perusahaan yang sedikit oleh manajemen akan menyebabkan perusahaan cenderung memaksimalkan nilai pemegang saham dibandingkan mencapai tujuan perusahaan.
b. Pemegang saham mayoritas diberikan insentif apabila kepemilikannya terdifusi sehingga mengakibatkan mereka secara aktif dapat terlibat di perusahaan.
c. Prioritas perusahaan pada tujuan sosial dan pemaksimalan nilai pemegang saham ditentukan oleh identitas pemilik perusahaan.
Pihak-pihak yang memiliki saham perusahaan dijabarkan dalam struktur kepemilikan saham. Struktur kepemilikan saham menggambarkan pemegang kekuasaan perusahaan melalui jumlah saham yang dimiliki oleh setiap pihak. Blockholder didefinisikan oleh Thomsen (2006) sebagai kepemilikan paling sedikitnya 5% oleh para pemegang saham. Konflik keagenan antara manajer dengan para pemegang saham dapat dikurangi melalui blockholder ownership. Hal tersebut disebabkan karena kepemilikan saham yang terkonsentrasi dapat menyebabkan para pemegang saham menggunakan kekuasaan dalam pengambilan keputusan dan pengawasan manajemen (Putri, 2014).
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Seng dan Su (2010) meneliti alasan yang mendasari manajer memilih melakukan revaluasi menaik atas aset tetap pada perusahaan di New Zealand. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contracting factors yang diproksikan oleh firm size memiliki pengaruh signifikan terhadap revaluasi menaik. Sedangkan variabel leverage level , declining cash flow from operation, prior revaluation, growth options, takeover offer , dan bonus issue tidak memiliki pengaruh terhadap revaluasi aset tetap menaik. Variabel fixed asset intensity
dalam pengujian univariate menghasilkan nilai yang signifikan namun dalam pengujian model regresi logistik menghasilkan nilai yang tidak signifikan.
Barać dan Šoda
n (2011) meneliti motif manajer terhadap pemilihan kebijakan revaluasi menaik untuk aset non keuangan jangka panjang pada perusahaan di Kroasia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabelliquidity, debt growth, firm size dan ROE memiliki arah koefisien yang sesuai dengan hipotesis dan memiliki nilai yang signifikan secara statistik pada tingkat 5%. Sedangkan variabel operating income to incomet cost, level of indebtedness, fixed asset intensity dan cash return on equity memiliki nilai yang tidak signifikan di tingkat 5%.Cash flow ratiosmemiliki nilai yang signifikan secara statistik namun arah koefisien yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang dihipotesiskan.Nurjanah (2013) meneliti faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keputusan revaluasi aset tetap pada perusahaan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan variabel leverage, ukuran perusahaan, struktur aset, pertumbuhan perusahaan, investemnt opportunity set (IOS), penurunan kas dari aktivitas operasi, ownership control, merger dan akuisisi memiliki pengaruh terhadap keputusan revaluasi aset. Namun secara parsial hanya struktur aset, investemnt opportunity set (IOS), dan ownership control
yang memiliki pengaruh secara signifikan.
Manihuruk dan Farahmita (2015) meneliti faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan metode revaluasi aset tetap pada perusahaan di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa variabel intensitas aset tetap dan leverage memiliki pengaruh terhadap revaluasi aset tetap. Sedangkan variabel ukuran perusahaan dan likuiditas tidak memiliki pengaruh terhadap revaluasi aset tetap.Yulistia, dkk (2015) meneliti pengaruh leverage, arus kas operasi, ukuran perusahaan dan fixed asset intensity terhadap revaluasi menaik aset tetap pada perusahaan di Indonesia. Penelitian ini tidak berhasil membuktikan bahwa variabel leverage, arus kas operasi, ukuran perusahaan dan fixed asset intensity memiliki pengaruh terhadap revaluasi menaik aset tetap.
Ramadhani (2016) meneliti faktor-faktor yang memengaruhi keputusan revaluasi aset tetap pada perusahaan manufaktur yang terdapat di Indonesia dan Singapura. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel fixed asset intensity berpengaruh terhadap keputusan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Singapura. Namun variabel liquidity hanya berpengaruh di Indonesia sedangkan di Singapuraliquiditytidak berpengaruh. Variabel firm size, level of indebtedness, dan declining cash flow from operation tidak berpengaruh di Indonesia dan Singapura.
Wicaksana (2016) meneliti faktor-faktor yang memengaruhi keputusan revaluasi aset tetap pada perusahaan di Indonesia. Penelitian ini memberikan hasil bahwa variabel kesehatan keuangan dan karakteristik aset berpengaruh terhadap revaluasi aset tetap. Sedangkan variabel struktur kepemilikan dan umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap revaluasi aset tetap.
C. Logika Hipotesis
1. Pengaruh
Leverage
Terhadap Kebijakan Revaluasi Aset TetapRasio leverage yaitu rasio yang berfungsi untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayarkan kewajiban jangka pendek dan jangka panjangnya, serta untuk mengukur proporsi aset perusahaan yang dibiayai dari utang tersebut. Watts dan Zimmerman (1986) dalam teori akuntansi positifnya menjelaskan bahwa perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi terutama yang dekat terhadap pelanggaran perjanjian utang akan menyebabkan kecenderungan manajer untuk memilih metode dan prosedur akuntansi yang dapat menghindarkan perusahaan dari pelanggaran perjanjian utang.
Semakin tinggi tingkat rasio leverage perusahaan, maka semakin tinggi kecenderungan manajer untuk melakukan revaluasi. Hal tersebut disebabkan karena rasio leverage yang tinggi akan menyebabkan risiko kerugian yang tinggi terhadap perusahaan sehingga dari sudut pandang kreditor hal tersebut akan berdampak pada menurunnya tingkat kelayakan perusahaan. Tingkat rasio leverage yang tinggi akan mendorong manajer perusahaan untuk memilih metode revaluasi aset tetap karena metode tersebut dapat menghasilkan nilai aset perusahaan yang meningkat dan dapat meningkatkan nilai ekuitas karena metode revaluasi aset tetap mengakui keuntungan hasil revaluasinya.
Meningkatnya nilai aset perusahaan setelah revaluasi akan menyebabkan menurunnya rasioleverage sehingga dapat meyakinkan pihak
kreditor bahwa perusahaan memiliki aset bersih yang tinggi yang hal tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan mampu membayar kredit yang diberikan bahkan jika terjadi likuidasi pada perusahaan. Sedangkan meningkatnya nilai ekuitas perusahaan, dapat meningkatkan kelayakan penerimaan kredit dari sudut pandang pihak kreditor. Menurut Seng dan Su (2010), negosiasi kontrak utang dengan pihak kreditor dapat diperkuat apabila perusahaan melakukan revaluasi aset tetap.
Nurjanah (2013) dan Yulistia, dkk (2015) meneliti perusahaan di Indonesia dan tidak berhasil memberikan bukti bahwa leverage berpengaruh terhadap revaluasi aset tetap. Namun bukti empiris berhasil ditunjukkan oleh Piera (2007) terhadap perusahaan di Swiss yaitu apabila tingkat leverage suatu perusahaan tinggi, maka akan semakin mendorong perusahaan dalam menerapkan metode revaluasi untuk asetnya. Hal tersebut disebabkan karena revaluasi merupakan metode yang dapat memberikan signal pada peningkatan kapasistas pinjaman, meningkatkan credit rating , dan mengurangi kemungkinan dilanggarnya debt convenant . Brown et al (1992) mendukung hasil penelitian tersebut dengan melakukan penelitian mengenai revaluasi aset tetap dan insentif manajerial terhadap perusahaan di Australia. Penelitian oleh Brown et al (1992) berhasil menemukan bukti empiris yaitu semakin tinggi tingkat leverage maka kemungkinan manajer memilih menggunakan metode revaluasi akan semakin tinggi.
Barać dan Šodan (2011) meneliti mengenai motif pemilihan kebijakan
revaluasi pada perusahaan di Kroasia dan berhasil menemukan buktiempiris bahwa perusahaan dengan growing debt akan melakukan revaluasi aset. Bukti empiris lainnya juga berhasil dibuktikan oleh Lin dan Peasnell (2000) yang meneliti mengenai revaluasi aset tetap dan penurunan ekuitas pada perusahaan di United Kingdom bahwa leverage memiliki hubungan terhadap tindakan revaluasi aset. Manihuruk dan Farahmita (2015) melakukan penelitian terhadap perusahaan di ASEAN berhasil membuktikan bahwaleveragememiliki hubungan positif terhadap revaluasi aset.
Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis menarik hipotesis sebagai berikut:
H1a : Leverage berpengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia.
H1b : Leverage berpengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Malaysia.
2. Pengaruh F ir m SizeTerhadap Kebijakan Revaluasi Aset Tetap
Pilitical factor yang sering dijadikan proksi dalam penelitian adalah firm size (ukuran perusahaan). Firm size (ukuran perusahaan) menjadi suatu faktor yang sangat penting terhadap keputusan revaluasi aset tetap. Perusahaan besar cenderung lebih sensitif secara politis dan dikenakan transfer kekayaan yang lebih besar daripada perusahaan kecil dan hal tersebut dapat menyebabkan perusahaan besar akan menurunkan laba yang dilaporkannya (Watts dan Zimmerman, 1986).
Semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka semakin tinggi kecenderungan manajer untuk melakukan revaluasi, karena semakin besarnya ukuran suatu perusahaan maka akan semakin menarik perhatian dan pengawasan oleh pemerintah dan publik. Berdasarkan biaya politik, semakin besar perusahaan maka perusahaan tersebut akan semakin cenderung mengurangi labanya dengan tujuan untuk mengurangi biaya politik sehingga tekanan politik dari pemerintah maupun dari serikat buruh yang dihadapi perusahaan dapat berkurang. Melalui metode revaluasi yang dilakukan atas aset tetapnya maka laba periode sekarang perusahaan dapat berkurang. Karena metode revaluasi aset tetap dapat meningkatkan nilai aset yang dapat menyebabkan biaya penyusutan meningkat serta dibutuhkannya biaya tambahan bagi perusahaan yaitu biaya untuk penilaian aset.
Nurjanah (2013) dan Yulistia, dkk (2015) tidak berhasil membuktikan bahwa size berpengaruh terhadap revaluasi aset tetap. Namun penelitian mengenai revaluasi aset tetap dan penurunan ekuitas oleh Lin dan Peasnell (2000) berhasil membuktikan pada perusahaan di United Kingdom bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan positif terhadap revaluasi. Hasil tersebut didukung oleh Seng dan Su (2010) yang melakukan penelitian mengenai insentif manajerial dibalik revaluasi aset tetap terhadap perusahaan di New Zealand. Seng dan Su (2010) membuktikan bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan positif dan signifikan pada revaluasi menaik karena revaluasi digunakan untuk mengurangi biaya politik.
Barać
dan Šodan (2011) meneliti mengenai motif pemilihan kebijakan revaluasi
pada perusahaan di Kroasia dan membuktikan bahwa perusahaan besar dengan ROE yang besar akan cenderung merevaluasi asetnya untuk mengurangi pelaporan laba dan mengurangi perhatian pemerintah.
Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis menarik hipotesis sebagai berikut:
H2a : Firm Size berpengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia.
H2b: Firm Size berpengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Malaysia.
3. Pengaruh F ixed Asset I ntensity Terhadap Kebijakan Revaluasi Aset Tetap
Informasi asimetri terjadi apabila dalam transaksi salah satu pihak memiliki informasi yang lebih dibandingkan pihak lainnya (Scott, 2009). Seng dan Su (2010) menggunakan fixed asset intensity(intensitas aset tetap) sebagai salah satu dari faktor yang diuji terkait dengan informasi asimetri. Bagian terbesar dalam total aset yaitu aset tetap. Aset tetap dapat menyebabkan nilai perusahaan meningkatkan dan oleh sebab itu potensi yang dimiilikinya besar terhadap peningkatkan basis aset dengan meningkatkan kapasitas pinjaman perusahaan sehingga pemilihan model revaluasi sesuai untuk diterapkan (Tay, 2009).
Semakin tinggi proporsi aset tetap perusahaan, maka semakin tinggi kecenderungan manajer untuk melakukan revaluasi. Modal operasi jangka panjang perusahaan ditunjukkan melalui aset tetapnya, sehingga intensitas
aset tetap yang tinggi akan berdampak signifikan terhadap laporan keuangan perusahaan yang disebabkan oleh perubahan penilaian aset tetapnya. Fixed asset intensity (intensitas aset tetap) dapat menggambarkan kemungkinan kas yang diperoleh apabila aset tetap tersebut dijual. Menurut Manihuruk dan Farahmita (2015), perusahaan yang memiliki intensitas aset tetap yang lebih besar cenderung untuk memilih model revaluasi terhadap pencatatan aset tetapnya. Dimana model revaluasi dapat lebih mencerminkan nilai aset sesungguhnya.
Tay (2009) berhasil memberikan bukti empiris pada perusahaan di New Zealand bahwa perusahaan dengan fixed asset intensity(intensitas aset tetap) yang tinggi akan cenderung memilih metode revaluasi. Hasil tersebut didukung oleh Seng dan Su (2010) yang melakukan penelitian mengenai insentif manajerial dibalik revaluasi aset tetap terhadap perusahaan di New Zealand pada tahun 1999 hingga 2003. Serta Manihuruk dan Farahmita (2015) yang melakukan penelitian pada beberapa perusahaan di negara anggota ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada tahun 2008 hingga 2013, mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode revaluasi aset tetap berhasil menemukan bahwa semakin besar fixed asset intensity (intensitas aset tetap) perusahaan maka akan semakin besar perusahaan memilih menggunakan metode revaluasi untuk mencatat aset tetapnya.
Yulistia, dkk (2015) meneliti perusahaan di Indonesia dan tidak berhasil membuktikan bahwa fixed asset intensity berpengaruh terhadap
revaluasi aset tetap. Namun, penelitian mengenai revaluasi aset tetap dan penurunan ekuitas oleh Lin dan Peasnell (2000) berhasil memberikan bukti empiris terhadap perusahaan di United Kingdom pada tahun 1989 dan 1991 bahwa semakin tinggi intensitas aset tetap maka kecenderungan manajer
untuk melakukan revaluasi akan semakin besar. Nurjanah (2013), Wicaksana (2016), dan Latifa dan Haridi (2016) melakukan penelitian pada perusahaan di Indonesia dan memberikan hasil bahwa struktur aset berpengaruh terhadap keputusan revaluasi aset tetap. Serta penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani (2016) terhadap perusahaan manufaktur di Indonesia dan Singapura berhasil memberikan bukti empiris bahwa te rdapat hubungan positif dan signifikan antara fixed asset intensity (intensitas aset tetap) terhadap pemilihan metode revaluasi aset tetap perusahaan.
Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis menarik hipotesis sebagai berikut:
H3a : Fixed Asset Intensity berpengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia.
H3b: Fixed Asset Intensity berpengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Malaysia.
4. Pengaruh Declining Cash F low fr om Operation Terhadap Kebijakan Revaluasi Aset Tetap
Semakin tinggi penurunan arus kas dari kegiatan operasi perusahaan, maka semakin tinggi kecenderungan manajer untuk melakukan revaluasi. Jika perusahaan mengalami penurunan arus kas operasi dibandingkan tahun
sebelumnya maka akan menyebabkan kreditur mengalami kekhawatiran yang cukup besar. Hal tersebut terjadi karena arus kas operasi yang semakin kecil akan menyebabkan kemungkinan pengembalian hutang yang diberikan oleh kreditur akan semakin kecil. Revaluasi aset tetap dilakukan oleh perusahaan dengan harapan agar aset yang dimilikinya akan meningkat sehingga kepercayaan perusahaan oleh kreditur akan meningkat.
Cotter dan Zimmer (1995) menjelaskan bahwa penilaian kembali aset tetap dapat menyebabkan nilai aset jaminan perusahaan yang lebih tinggi yang akan meyakinkan debtholders mengenai kemampuan perusahaan dalam membayarkan hutangnya melalui potensi perusahaan dalam mewujudkan aset yang nilainya lebih tinggi sesuai dengan nilai pasar. Hal tersebut dapat mengembalikan kapasitas pinjaman yang dilakukan oleh perusahaan sehingga penurunan arus kas operasi akan berpotensi terhadap
keputusan perusahaan untuk melakukan revaluasi aset yang dimilikinya. Nurjanah (2013) dan Yulistia, dkk (2015) meneliti perusahan di Indonesia dan tidak berhasil membuktikan bahwa declining cash flow from operation berpengaruh terhadap revaluasi aset tetap.Hasil penelitian tersebut didukung oleh
Barać dan Šodan (2011)
yang meneliti mengenai motif pemilihan kebijakan revaluasi pada perusahaan di Kroasia dan menghasilkan bukti empiris yaitu penurunan arus kas operasi (declining cash flow from operation) berpengaruh positif terhadap keputusan revaluasi aset tetap.Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis menarik hipotesis sebagai berikut:
H4a : Declining Cash Flow from Operation berpengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia.
H4b : Declining Cash Flow from Operation berpengaruh positif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Malaysia.
5. Pengaruh
Ownership control
Terhadap Kebijakan Revaluasi Aset TetapSemakin tinggi jumlah sebaran suatu kepemilikan, maka semakin rendah kecenderungan manajer untuk melakukan revaluasi. Menurut Alemehmeti dan Paletta (2009) derajat pengawasan dan kontrol terhadap manajer akan berkurang apabila jumlah pemegang saham semakin besar dalam hubungan antara agent dengan principal. Pemegang saham akan terlibat dalam pengambilan keputusan akuntansi dan ekonomik oleh manajer apabila dalam perusahaan tersebut terdapat pemegang saham major ( significant blockholders). Revaluasi memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan di masa depan dengan menggunakan harga saham dan laba operasi sebagai indikatornya (Aboody et al , 1998).
Adanya hubungan positif antara revaluasi dengan kinerja keuangan masa depan perusahaan akan mendorong pemegang saham untuk memilih metode revaluasi dimana hal tersebut dapat meningkatkan kemakmuran mereka melaluireturn yang tinggi. Sedangkan bagi manajer, revaluasi akan berdampak terhadap penuruanan profitabilitas perusahaan dalam jangka
pendek dimana hal tersebut dapat berdampak terhadap menurunnya bonus yang diterima manajer. Namun manajer adalah agent perusahaan dalam melaksanakan keputusan revaluasi sehingga hal tersebut akan berdampak pada perbedaan kepentingan pemilihan metode revaluasi antara manajer
dengan pemegang saham.
Wicaksana (2016) meneliti perusahaan di Indonesia dan tidak berhasil membuktikah bahwaownership control berpengaruh terhadap revaluasi aset tetap. Namun bukti empiris berhasil ditunjukkan oleh Nurjanah (2013) yang melakukan penelitian pada perusahaan di Indonesia. Nurjanah (2013) menemukan bahwa terdapat hubungan negatif antara ownership control terhadap revaluasi pada manajemen perusahaan dengan saham yang terkonsentrasi oleh pemilik.
Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis menarik hipotesis sebagai berikut:
H5a : Ownership control berpengaruh negatif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia.
H5b : Ownership control berpengaruh negatif terhadap kebijakan revaluasi aset tetap di Malaysia.
6. Kebijakan Revaluasi Aset Tetap di Indonesia dan Malaysia
Manihuruk dan Farahmita (2015) melakukan penelitian terhadap anggota ASEAN yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Filiphina pada rentang waktu tahun 2008 hingga 2013. Dari hasil penelitian tersebut terdapat 817 perusahaan yang melakukan revaluasi aset tetap dari total 3.733
perusahaan Hal tersebut menunjukkan bahwa sekitar 21,87% perusahaan memilih melakukan revaluasi aset tetap. Sedangkan di Indonesia dari 1.439 perusahaan hanya 39 perusahaan yang memilih melakukan revaluasi aset tetap atau sekitar 2,7% perusahaan yang memilih melakukan revaluasi aset tetap. Metode revaluasi aset tetap memiliki kecenderungan dilakukan oleh negara yang menganut sistem hukum common law yang disebabkan karena kependingan investor lebih terlindungi dengan sistem hukum tersebut (Manihuruk dan Farahmita, 2015).
Malaysia merupakan negara yang menganut sistem hukum common law sedangkan Indonesia menganut sistem hukum civil law (Umar, 2013) Oleh sebab itu lebih banyak perusahaan Malaysia yang lebih memilih melakukan revalusi aset tetap dibandingkan dengan perusahaan Indonesia.
Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis menarik hipotesis sebagai berikut:
H6 : Terdapat perbedaan kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia.
D. Model Penelitian
Berdasarkan tinjauan pustaka dan tinjauan penelitian terdahulu maka kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1adan H1b (+) H2adan H2b (+) H3adan H3b (+) H4adan H4b(+) H5adan H5b(-) Gambar 2.1 Model Penelitian
Penelitian ini akan membandingkan variabel dependen kebijakan revaluasi aset tetap dengan membuktikan bahwa terdapat per bedaan penerapan kebijakan revaluasi aset tetap di Indonesia dan Malaysia.
H6
Gambar 2.1
Model Penelitian
Leverage (LEV)
Firm Size (SIZE)
Fixed Asset Intensity (FAI)
Kebijakan Revaluasi Aset Tetap (KEB_REV)
Ownership control (OC) Declining Cash Flow
From Operation (DCFFO)
Kebijakan Revaluasi Aset Tetap di Indonesia
Kebijakan Revaluasi Aset Tetap di Malaysia
37 A. Subjek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Perusahaan Manufaktur yang terdapat pada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bursa Malaysia. Sedangkan subyeknya adalah Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan Manufaktur yang dipulihkan oleh Bursa Efek Indonesia dan Bursa Malaysia. Data yang digunakan adalah data tahun 2014-2016.
B. Jenis Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder yang digunakan yaitu data dalam laporan keuangan perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar dan aktif pada Bursa Efek Indonesia dan Bursa Malaysia. Data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain. Penelitian ini menggunakan data yang berupa dokumentasi dari sumber data melalui website resmi Indonesia Stock Exchange yaitu www.idx.co.id dan Kuala Lumpur Stock Exchangewww.klse.com.my.
C. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu non-probability samplingdan purposive sampling. Sugiyono (2010) menjelaskan bahwa teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang yang sama kepada setiap unsur atau anggota populasi yang dipilih menjadi sampel disebut dengan non- probability sampling . Sedangkan purposive sampling yaitu teknik penentuan
sampel yang ditentukan dengan kiteria tertentu. Kriteria dalam pemilihan sampel yang digunakan di penelitian ini yaitu:
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Kuala Lumpur Stock Exchange selama tahun 2014-2016.
2. Memiliki aset tetap berupa tanah selama tahun 2014-2016.
3. Memiliki informasi mengenai revaluasi aset menaik untuk perusahaan yang melakukan revaluasi aset tetap.
4. Mengalami penurunan arus kas operasi. 5. Laporan keuangan yang telah di audit.
6. Perusahaan yang menyajikan laporan keuangan dalam mata uang rupiah untuk Indonesia dan ringgit untuk Malaysia.
7. Perusahaan sektor manufaktur tersebut memiliki data lengkap yang dibutuhkan dalam penelitian selama tiga tahun yaitu periode 2014-2016. D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui metode dokumentasi. Metode dokumentasi yaitu proses mengumpulkan data yang diperoleh dari media internet dan beberapa data yang telah dipublikasikan dalam www.idx.co.id dan www.klse.com.my.
E. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Variabel Dependen (Variabel Terikat)
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen. Penelitian ini menggunakan kebijakan revaluasi aset tetap sebagai variabel dependen. Metode dummy digunakan untuk
mengukur revaluasi aset tetap. Agar variabel yang bukan merupakan variabel kuantitatif dapat menjadi variabel kuantitatif, maka metode yang digunakan yaitu metode dummy. Revaluasi aset tetap dalam metode dummy dapat dikategorikan berdasarkan perusahaan yang melakukan revaluasi aset tetap dan perusahaan yang tidak melakukan revaluasi aset tetap. Perusahaan yang melakukan revaluasi aset tetap dilambangkan dengan notasi 1, sedangkan perusahaan yang tidak melakukan revaluasi aset tetap dilambangkan dengan notasi 0.
2. Variabel Independen (Variabel Bebas)
Variabel independen yaitu variabel yang mempengaruhi variabel dependen. Ada lima variabel independen dalam penelitian ini, yaitu:
a. Leverage(LEV)
Leverage (rasio utang) menunjukkan sejauh mana utang perusahaan dapat ditutup oleh aset perusahaan (Sofyan, 2008).
Leveragedapat diukur dengan:
b. Firm Size (SIZE)
Firm Size (ukuran perusahaan) merepresentasikan besar kecilnya suatu perusahaan melalui total aset perusahaan yang diukur melalui logaritma natural total aset (Seng dan Su, 2010). Firm Sizedapat diukur dengan:
Ln Total Nilai Aset Perusahaan LEV = Total Utang
c. Fixed Asset Intensity(FAI)
Fixed Asset Intensity (intensitas aset tetap) berfungsi untuk mengukur informasi asimetri (Barać dan Šodan, 2011). Fixed Asset Intensitydapat diukur dengan:
d. Declining Cash Flow from Operation (DCFFO)
Declining cash flow from operation(penurunan kas dari aktivitas operasi) menurut Seng dan Su (2010) yaitu penurunan kas dan setara kas perusahaan dari kegiatan sehari-hari perusahaan. Declining cash flow from operation dapat diukur dengan:
e. Ownership control (OS)
Blockholder ownership yaitu pemegang saham yang memiliki kepemilikan paling sedikit 5% atas seluruh saham perusahaan (Thomsen dkk, 2006). Blockholder ownership menunjukkan rasio saham yang dimiliki blockholder (Wiliandri, 2011). Blockholder ownership dapat diukur dengan:
FAI = Nilai Buku dari Total Aset Tetap Total Aset
DCFFO = ℎ 2 ℎ Total Aset Tetap
OC = ℎ ℎ ℎ ℎ
F.
F. Metode Analisis DataMetode Analisis Data 1.
1. Uji Statistik DeskriptifUji Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif merupakan teknik analisis data yang Analisis statistik deskriptif merupakan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini. Statistik yang digunakan dalam digunakan dalam penelitian ini. Statistik yang digunakan dalam menganalisa data dengan mendeskripsikan data yang dikumpulkan menganalisa data dengan mendeskripsikan data yang dikumpulkan sebagaimana adanya tanpa ada tujuan untuk membuat kesimpulan yang sebagaimana adanya tanpa ada tujuan untuk membuat kesimpulan yang berlaku untuk
berlaku untuk umum disebut umum disebut dengan statidengan statistik stik deskriptif deskriptif (Sugiyono, 2010).(Sugiyono, 2010). Analisis deskriptif mencakup nilai rata-rata, nilai minimum, nilai Analisis deskriptif mencakup nilai rata-rata, nilai minimum, nilai maksimum, dan standar deviasi dari data penelitian.
maksimum, dan standar deviasi dari data penelitian. 2.
2. Pengujian Model Fit (Pengujian Model Fit (Ove
Overra
all M
ll M o
od
de
el F
l F iit
t
))Langkah awal yang dilakukan yaitu analisis keseluruhan
Langkah awal yang dilakukan yaitu analisis keseluruhan overalloverall model fit
model fit terhadap data. Hal ini berfungsi untuk menilai model yang telah terhadap data. Hal ini berfungsi untuk menilai model yang telah dihipotesiskan fit dengan data. Untuk menilai model fit hipotesis yang dihipotesiskan fit dengan data. Untuk menilai model fit hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
digunakan adalah sebagai berikut:
H0 : Model yang dihipotesiskan fit dengan data. H0 : Model yang dihipotesiskan fit dengan data. Ha : Model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data. Ha : Model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data.
Fungsi
Fungsi likelihoodlikelihood pada pada statistik statistik digunakan digunakan untuk untuk menilai menilai model model fitfit dalam regresi logistik. Keseluruhan model yang dinilia dalam regresi dalam regresi logistik. Keseluruhan model yang dinilia dalam regresi logistik (-2
logistik (-2log log likelihood likelihood ) adalah penilaian terhadap -2) adalah penilaian terhadap -2log likelihood.log likelihood. LihatLihat pada
pada angka angka -2-2 log log likelihoodlikelihood di awal blok number = 0, dan angka -2di awal blok number = 0, dan angka -2 log log likelihood
likelihood pada pada blok blok number number = = 1. 1. Model Model dapat dapat diterima diterima apabila apabila sesuaisesuai dengan data dan regresi yang baik dapat diidentifikasikan melalui hal dengan data dan regresi yang baik dapat diidentifikasikan melalui hal
tersebut, yaitu apabila penurunan terjadi dalam nilai -2
tersebut, yaitu apabila penurunan terjadi dalam nilai -2 log log likelihood (bloklikelihood (blok number
number = 0= 0
–
–
blok numberblok number = 1= 1 ) )..3.
3. Uji Kelayakan ModelUji Kelayakan Model
Uji Homser dan Leweshow
Uji Homser dan Leweshow Goodness of Fit Test Goodness of Fit Test yang dihasilkan yang dihasilkan digunakan untuk menguji kelayakan model regresi. Nilai
digunakan untuk menguji kelayakan model regresi. Nilai goodness of goodness of fit testfit test
digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang diukur dengan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang diukur dengan menggunakan nilia
menggunakan nilia Chi-SquareChi-Square. Menurut Ghozali (2016) jika uji Homser. Menurut Ghozali (2016) jika uji Homser dan Leweshow menunjukkan
p-dan Leweshow menunjukkan p-valuevalue > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara model dengan data (model dapat memprediksi nilia data), yang nyata antara model dengan data (model dapat memprediksi nilia data), untuk
p-untuk p- value value < 0,05, maka terdapat perbedaan yang nyata antara model < 0,05, maka terdapat perbedaan yang nyata antara model dengan data (model tidak dapat memprediksi nilia data).
dengan data (model tidak dapat memprediksi nilia data).
4.
4. Uji Koefisien DeterminasiUji Koefisien Determinasi
Uji Koefisien Determinasi (R
Uji Koefisien Determinasi (R 22) berfungsi untuk mengukur seberapa) berfungsi untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menjelaskan variasi dari variabel dependen. jauh kemampuan model dalam menjelaskan variasi dari variabel dependen.
Cox
Cox dandan Snell’s R squareSnell’s R square adalah ukuran yang meniru ukuran adalah ukuran yang meniru ukuran R R22 pada pada
multiple regression
multiple regression yang didasarkan pada teknik estimasiyang didasarkan pada teknik estimasi likelihoodlikelihood yangyang nilai maksimumnya kurang dari 1 (satu) sehingga tidak mudah untuk nilai maksimumnya kurang dari 1 (satu) sehingga tidak mudah untuk dijelaskan.
dijelaskan. Negelkerke’s R square Negelkerke’s R squareadalah modifikasi dari koefisienadalah modifikasi dari koefisienCoxCoxdandan
Snell’s
Snell’s yang berfungsi untuk memastikan bahwa nilainya bervariasi dari 0yang berfungsi untuk memastikan bahwa nilainya bervariasi dari 0 (nol) hingga 1 (satu). Nilai
(nol) hingga 1 (satu). Nilai Negelkerke’s R2 Negelkerke’s R2dapat dijelaskan seperti nilaidapat dijelaskan seperti nilai R R22
pada
5.
5. Uji BedaUji Beda
t-test
t-test
Uji beda
Uji bedat-testt-test berfungsi untuk menentukan apakah dua sampel yang berfungsi untuk menentukan apakah dua sampel yang tidak memiliki hubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda (Ghozali, tidak memiliki hubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda (Ghozali, 2016). Rumus uji beda
2016). Rumus uji beda t-testt-test adalah sebagai berikut:adalah sebagai berikut:
Uji beda
Uji beda t-testt-test ini digunakan untuk menguji perbedaan ketentuanini digunakan untuk menguji perbedaan ketentuan revaluasi aset tetap pada perusahaan manufaktur di Indonesia dan Malaysia. revaluasi aset tetap pada perusahaan manufaktur di Indonesia dan Malaysia. Jika nilai probabilitas signifikansi
Jika nilai probabilitas signifikansi (2-tailed)(2-tailed) > 0,05 maka> 0,05 maka variancevariance sama.sama. Jika nilai probabilitas signifikansi
Jika nilai probabilitas signifikansi (2-tailed)(2-tailed)< 0,05 maka< 0,05 maka variancevariance berbeda. berbeda.
6.
6. Uji HipotesisUji Hipotesis
Dummy
Dummy digunakan untuk mengukur variabel dependen dalamdigunakan untuk mengukur variabel dependen dalam penelitian
penelitian ini, ini, oleh oleh karena karena itu itu metode metode regresi regresi logistik logistik ((logistic regressionlogistic regression)) digunakan untuk menguji hipotesis H
digunakan untuk menguji hipotesis H1a1a sampai dengan H sampai dengan H5b5b. Ghozali (2016). Ghozali (2016) menjelaskan bahwa uji normalitas pada variabel bebas tidak diperlukan menjelaskan bahwa uji normalitas pada variabel bebas tidak diperlukan dalam regresi logistik, oleh sebab itu uji normalitas tidak dilakukan di dalam regresi logistik, oleh sebab itu uji normalitas tidak dilakukan di penelitian
penelitian ini. ini. Penelitian Penelitian ini ini menggunakan menggunakan kebijakan kebijakan revaluasi revaluasi aset aset tetaptetap sebagai variabel dependen. Sedangkan variabel independen dalam sebagai variabel dependen. Sedangkan variabel independen dalam penelitian ini yaitu
penelitian ini yaitu leverage, firm size, fixed assets intensity, declining cashleverage, firm size, fixed assets intensity, declining cash flow from operation
flow from operation, dan o, dan ownership control.wnership control. Dengan demikian, persamaanDengan demikian, persamaan regresi logistik penelitian ini yaitu:
regresi logistik penelitian ini yaitu:
Ln Ln
1−
1−
= α + β1LEV + β2SIZE + β3FAI + β4
= α + β1LEV + β2SIZE + β3FAI + β4
DDCFFO + β5OC + eCFFO + β5OC + e
t =
t = − − − −
− −