• Tidak ada hasil yang ditemukan

Basa-basi dalam berbahasa antaranggota keluarga pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Basa-basi dalam berbahasa antaranggota keluarga pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta"

Copied!
232
0
0

Teks penuh

(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BASA-BASI DALAM BERBAHASA ANTARANGGOTA KELUARGA PENDIDIK DI DUSUN PRINGWULUNG, YOGYAKARTA. SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia. Oleh: Irene Desty Renaningtyas 111224012. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2015.

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BASA-BASI DALAM BERBAHASA ANTARANGGOTA KELUARGA PENDIDIK DI DUSUN PRINGWULUNG, YOGYAKARTA. SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia. Oleh: Irene Desty Renaningtyas 111224012. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2015 i.

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ii.

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. iii.

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. HALAMAN PERSEMBAHAN. Ungkapan penuh syukur kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang telah memberikan berkat serta kelancaran dalam setiap langkah saya. Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya terutama Bapak Eusebius Iskiyat Widiharto yang selalu membimbing, memotivasi, mendukung, membantu dalam penelitian, serta mendoakan dalam setiap langkah saya. Mas Derry, Mbak Denty, dan Mas Delis selaku kakakkakak saya yang selalu memberikan dukungan, semangat, motivasi, serta bimbingan yang tak berkesudahan. Cecilia Christa Pramadina, Angela Yohana Mentari Adistin, Bungsu Atmi Putranti dan Hendrika Yuli, selaku teman sepayung yang selalu memberikan semangat, motivasi, dukungan, doa, dan kasih sayang.. iv.

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. MOTTO. BERSIKAPLAH KUKUH SEPERTI BATU KARANG YANG TIDAK PUTUSPUTUSNYA DIPUKUL OMBAK. IA TIDAK SAJA TETAP BERDIRI KUKUH, BAHKAN IA MENEMTRAMKAN AMARAH OMBAK DAN GELOMBANG ITU. (MARCUS AURELIUS). KESULITAN DAN KEBINGUNGAN MEMBAWA KITA UNTUK BERDOA, DAN DOA MENGUSIR KEKALUTAN DAN KESULITAN. v.

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.. Yogyakarta, 27 Juli 2015 Penulis. Irene Desty Renaningtyas. vi.

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS. Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama. : Irene Desty Renaningtyas. Nomor Mahasiswa. : 111224012. Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: “BASA-BASI DALAM BERBAHASA ANTARANGGOTA KELUARGA PENDIDIK DI DUSUN PRINGWULUNG, YOGYAKARTA” Dengan demikian saya menyerahkan kepada Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelola dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas dan mempublikasi-kannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.. Dibuat di Yogyakarta, pada tanggal : 27 Juli 2015 Yang menyatakan,. Irene Desty Renaningtyas. vii.

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ABSTRAK. Renaningtyas, Irene Desty. 2015. Basa-basi dalam Berbahasa Antaranggota Keluarga Pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD. Penelitian ini membahas tentang wujud basa-basi berbahasa dan maksud basabasi berbahasa di ranah keluarga pendidik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan wujud basa-basi berbahasa dan mendeskripsikan maksud basa-basi berbahasa antaranggota keluarga pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta. Subjek dalam penelitian ini adalah keluarga pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta. Penelitian basa-basi berbahasa antaranggota keluarga pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif, karena penelitian ini berisi gambaran mengenai basa-basi antaranggota keluarga pendidik yang diperoleh langsung di Dusun Pringwulung, Yogyakarta. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara (konfirmasi kepada informan) yang berbekal pada teori basa-basi berbahasa. Metode pengumpulan data yaitu, pertama metode simak dengan teknik catat dan rekam, dan kedua metode cakap yang disejajarkan dengan metode wawancara yang dilaksanakan dengan teknik pancing. Dalam analisis data, penelitian ini menggunakan metode analisis kontekstual, yakni dengan menerapkan dimensi-dimensi konteks dalam menafsirkan data yang telah berhasil dikumpulkan, diidentifikasi, dan diklasifikasikan. Simpulan dari penelitian ini adalah peneliti menemukan delapan wujud basabasi antaranggota keluarga pendidik di dusun Pringwulung, Yogyakarta. Kedelapan wujud basa-basi tersebut yaitu basa-basi memberi salam, basa-basi berterimakasih, basa-basi meminta/mengundang, basa-basi menolak, basa-basi menerima, basa-basi meminta maaf, basa-basi simpati/empati dan basa-basi mengucapkan selamat. Maksud basa-basi berbahasa antaranggota keluarga pendidik adalah untuk memulai, menjalin relasi mempertahankan atau mengukuhkan pembicaraan antara penutur dan mitra tutur, serta menyampaikan berbagai maksud lain. Basa-basi juga digunakan untuk mengekspresikan perasaan yang sedang dialami oleh penutur melalui tuturan yang disampaikan mitra tutur. Kata kunci: basa-basi, basa-basi murni, basa-basi polar, acknowledgments, wujud basa-basi, maksud basa-basi. viii.

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ABSTRACT. Renaningtyas, Irene Desty. 2015. The Phatic Communication in Using Language between Educator’s Family Member in Pringwulung Hamlet, Yogyakarta. Thesis. Yogyakarta: PBSI JPBS Sanata Dharma University. This research discussed about the forms and intention of phatic communication in educators’ family field. It aimed to describe the forms and the intention of phatic communication in educators’ family in Pringwulung hamlet, Yogyakarta. The subjects of this research were the educators’ family in Pringwulung, Yogyakarta. The Phatic Communication between Educator’s Family in Pringwulung Hamlet, Yogyakarta was classified to descriptive-qualitative research because it contained description about conversation’s phatic communication between educators’ family obtained directly in Pringwulung, Yogyakarta. The instrument used in this research was interview (confirmation to informant) which referred to conversation’s phatic communication theories. The methods were (1) listening method by noting and recording technique and (2) speaking method which was arrayed by interview method which was generated by stimulation technique. In data analysis, this research used contextual analysis method that applied contexts dimensions in interpreting gathered, identified, and classified data. The conclusion of this research was that the researcher found eight forms of phatic communication between educator’s family in Pringwulung, Yogyakarta. They were greetings, gratitude expressions, asking and invitation, denial, acceptation, sympathy/empathy expressions, and salutations. The intentions were to start, weave to maintain or strengthen the conversation between speakers and their partner, and convey any other intentions. Phatic communication were also used to express the speaker feeling through the utterance from the partner. Keywords: phatic communication, pure phatic communication, polar phatic communication, acknowledgement, forms of phatic communication, the meaning of phatic communication.. ix.

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. KATA PENGANTAR. Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kasih, atas segala berkat dan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini dapat selesai dengan baik. Skripsi yang berjudul “Basa-basi dalam Berbahasa Antaranggota Keluarga Pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta” bertujuan untuk memenuhi persyaratan gelar kesarjanaan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. Selama penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu Dr. Yuliana Setiyaningsih, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia yang selalu memberikan dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 3. Bapak Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku dosen pembimbing I yang dengan sabar telah memberikan bimbingan, masukan, perhatian, dan dorongan semangat dalam penyelesaian skripsi ini. 4. Ibu Rishe Purnama D., S.Pd., M.Hum., selaku dosen pembimbing II yang dengan sabar telah memberikan bimbingan, masukan, perhatian, dan dorongan semangat dalam penyelesaian skripsi ini. 5. Para Dosen PBSI yang telah mendidik dan memberikan pengetahuan yang berguna bagi penulis.. x.

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 6. Sekretariat PBSI yang telah membantu kelancaran perkuliahan penulis. 7. Ibuku Veronika Hartini (Alm) yang telah memberikan semangat dan pelajaran hidup yang berharga untuk selalu berjuang dan berusaha. 8. Bapak E. Iskiyat Widiharto, Ibu Clara Sumartini, Mas Derry, Mbak Denty, dan Mas Delis yang telah memberikan doa dan dukungan yang tiada habisnya. 9. Mbak Ning, Mbak Eny, Mbak Tatik, Wulan, Mbak Mega yang selalu mendukungku. 10. Sahabat-sahabat sepayung basa-basi Christa, Yonna, Bungsu, dan Yuli terima kasih untuk dukungan dan kerja sama dalam mengerjakan skripsi. 11. Teman-teman PBSI angkatan 2011 kelas A yang selalu memberikan semangat. 12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan untuk menyelesaikan skripsi ini.. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih belum sempurna, oleh karena itu, saran dan kritik sangat diharapkan bagi penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.. Penulis. Irene Desty Renaningtyas. xi.

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. i. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING. ii. HALAMAN PENGESAHAN. iii. HALAMAN PERSEMBAHAN. iv. HALAMAN MOTTO. v. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. vi. ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI. vii. ABSTRAK. viii. ABSTRACT. ix. KATA PENGANTAR. x. DAFTAR ISI. xii. DAFTAR BAGAN. xvi. BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….. 1. 1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1. 1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 4. 1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 4. 1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 5. 1.5 Batasan Istilah .......................................................................................... 6. BAB II KAJIAN PUSTAKA………………………………………………. 8. 2.1 Penelitian yang Relevan ........................................................................... 8. 2.2 Kajian Teori ............................................................................................. 14. 2.2.1 Pragmatik.......................................................................................... 14. 2.2.2 Konteks ............................................................................................. 16. 2.2.3 Teori Maksud ................................................................................... 20. xii.

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 2.2.4 Komunikasi Fatis …………………………………………………. 21. 2.2.5 Fenomena-fenomena Pragmatik ....................................................... 30. 2.2.5.1 Deiksis .................................................................................... 30. 2.2.5.2 Praanggapan ........................................................................... 31. 2.2.5.3 Implikatur................................................................................ 32. 2.2.5.4 Tindak Ujaran ......................................................................... 34. 2.2.6 Basa-basi sebagai Fenomena Pragmatik .......................................... 37. 2.3 Kerangka Berpikir .................................................................................... 43. BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………….. 49. 3.1 Jenis Penelitian ......................................................................................... 49. 3.2 Data dan Sumber Data .............................................................................. 51. 3.3 Metode Pengumpulan Data ...................................................................... 51. 3.4 Metode Analisis Data ............................................................................... 53. 3.5 Triangulasi Data ....................................................................................... 55. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN………………. 56. 4.1 Deskripsi Data .......................................................................................... 56. 4.1.1 Salam .................................................................................... 57. 4.1.2 Terima Kasih ......................................................................... 57. 4.1.3 Mengundang .......................................................................... 58. 4.1.4 Menolak ……......................................................................... 59. 4.1.5 Menerima ............................................................................... 59. 4.1.6 Meminta Maaf ....................................................................... 60. 4.1.7 Simpati/Empati ...................................................................... 60. 4.1.8 Mengucapkan Selamat ........................................................... 61. 4.2 Hasil dan Pembahasan .............................................................................. 62. 4.2.1 Wujud Basa-basi Berbahasa ................................................... 62. xiii.

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 4.2.1.1 Salam ............................................................................ 63. 4.2.1.2 Terima Kasih ................................................................. 68. 4.2.1.3 Mengundang .................................................................. 74. 4.2.1.4 Menolak ........................................................................ 80. 4.2.1.5 Menerima ...................................................................... 86. 4.2.1.6 Meminta Maaf .............................................................. 92. 4.2.1.7 Simpati/Empati ............................................................ 98. 4.2.1.4 Mengucapkan Selamat ................................................. 105. 4.2.2 Maksud Basa-basi Berbahasa ................................................. 109. 4.2.2.1 Salam ............................................................................ 109. 4.2.2.2 Terima Kasih ................................................................ 114. 4.2.2.3 Mengundang ................................................................ 117. 4.2.2.4 Menolak ....................................................................... 121. 4.2.2.5 Menerima ..................................................................... 125. 4.2.2.6 Meminta Maaf ............................................................. 129. 4.2.2.7 Simpati/Empati ............................................................ 132. 4.2.2.8 Mengucapkan Selamat ................................................ 137. BAB V PENUTUP…………………………………………………………. 140. 5.1 Simpulan .................................................................................... 140. 5.2 Saran ......................................................................................... 142. 5.2.1 Bagi Peneliti Lain ............................................................ 142. 5.2.2 Bagi Keluarga Pendidik .................................................. 143. DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 144. LAMPIRAN………………………………………………………………... 146. Lampiran 1. Tabulasi Data……… ................................................................. 146. Lampiran 2. Triangulasi Basa-basi ................................................................. 177. xiv.

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. Lampiran 3. Surat Ijin Penelitian dan Observasi ............................................ 213. DAFTAR RIWAYAT HIDUP……………………………………………... 214. xv.

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR BAGAN. Bagan 1 Kerangka Berpikir. 48. xvi.

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Menurut Widjono (2007:14), bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Sistem tersebut mencakup unsur-unsur berikut. Sistem lambang yang bermakna dan dapat dipahami oleh masyarakat pemakainya. Sistem lambang tersebut bersifat konvensional yang ditentukan oleh masyarakat pemakainya berdasarkan kesepakatan. Lambang-lambang tersebut bersifat arbitrer (kesepakatan) digunakan secara berulang dan tetap. Sistem lambang tersebut bersifat terbatas, tetapi produktif. Artinya, dengan sistem jumlah kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana yang tidak terbatas jumlahnya. Sistem lambang bersifat unik, khas, dan tidak sama dengan lambang bahasa lain. Sistem lambang dibangun berdasarkan kaidah yang bersifat universal. Hal ini memungkinkan bahwa suatu sistem bisa sama dengan sistem bahasa. Menurut KBBI edisi keempat (2008:721), komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak. Menurut Onong Uchjana (2007:9), istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin 1.

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 2. communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna. Jadi, kalau dua orang terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Menurut KBBI (Kemendikbud 2008:143), basa-basi adalah (1) adat sopan santun; tata krama pergaulan, (2) ungkapan yang digunakan hanya untuk sopan santun dan tidak untuk menyampaikan informasi, misalnya kalimat “apa kabar?” yang diucapkan apabila kita bertemu dengan kawan (3) perihal menggunakan ungkapan semacam itu. Di Indonesia masyarakat yang sedang berkomunikasi dengan orang yang dikenal pada awalnya akan saling menanyakan kabar, tujuan, dari mana, dan sebagainya. Hal tersebut bertujuan untuk memelihara hubungan sosial antara penutur dan lawan tuturnya. Contoh : Indi. : “Hai Sari, selamat pagi. “Mari mampir dulu ke rumah.”. Sari. : “Selamat pagi juga Indi.” “Iya ndi, terima kasih. Lain waktu saja.”.

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 3. Pada dialog di atas konteksnya ketika Sari sedang berjalan di depan rumah Indi. Indi sedang duduk-duduk di depan rumah. Tuturan tersebut termasuk basa-basi karena digunakan ketika Indi saat bertemu dengan Sari. Ungkapan “selamat pagi” dipakai sesuai dengan peristiwa tutur yang menandai realitas pagi hari. Kemudian pada tuturan “Mari mampir dulu ke rumah?” menunjukkan tuturan yang tidak sebenarnya karena Indi melihat Sari sedang berjalan di depan rumahnya. Tuturan “Iya ndi, terima kasih. Lain waktu saja” menunjukkan tuturan yang tidak sebenarnya, karena tuturan Sari bukan bersungguh-sungguh menyakinkan tuan rumah bahwa dia akan mampir, melainkan hanya untuk sopan santun menolak untuk mampir di rumah Indi. Penggunaan basa-basi tidak hanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, tetapi pada keluarga pendidik juga sering ditemukan adanya basa-basi. Basa-basi pada keluarga pendidik merupakan salah satu bentuk dari kesantunan berbahasa antar anggota keluarga pendidik dalam satu rumah. Dalam hal ini, peneliti akan melakukan suatu penelitian dengan judul “Basa-basi dalam Berbahasa Antaranggota Keluarga Pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta”. Peneliti memilih objek penelitian di Dusun Pringwulung, Yogyakarta karena dianggap dapat mewakili tuturan basa-basi antar keluarga pendidik. Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi yang menciptakan peranan-peranan sosial bagi suami dan istri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Dalam penelitian.

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 4. ini peneliti mengambil subjek keluarga pendidik yaitu keluarga guru maupun dosen yang ada di Dusun Pringwulung, Yogyakarta. Peneliti mengambil topik basa-basi berbahasa antaranggota keluarga pendidik karena penelitian yang berkaitan dengan basa-basi masih belum banyak diteliti dalam kajian pragmatik. Selain itu, basa-basi juga penting digunakan dan dikaitkan dengan budaya khususnya budaya jawa termasuk juga dalam keluarga pendidik karena basa-basi mempunyai tujuan untuk menjalin komunikasi.. I.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut: a.. Apa saja wujud basa-basi dalam berbahasa antaranggota keluarga pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta?. b.. Apa saja maksud basa-basi dalam. berbahasa antaranggota keluarga. pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta?. I.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut: a.. Mendeskripsikan wujud basa-basi dalam berbahasa antaranggota keluarga pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta..

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. b.. 5. Mendeskripsikan maksud basa-basi dalam berbahasa antaranggota keluarga pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta.. I.4 Manfaat Penelitian Penelitian basa-basi dalam berbahasa antaranggota keluarga pendidik ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pihak yang memerlukan. Terdapat dua manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan penelitian ini, yaitu: a.. Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat mendalami pengembangan pragmatik khususnya yang berkaitan dengan basa-basi berbahasa sebagai fenomena pragmatik. Penelitian ini dapat dikatakan memiliki manfaat teoritis karena dengan memahami teori yang telah dikemukakan oleh para ahli. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi atau acuan dalam melakukan kegiatan komunikasi untuk mempererat hubungan sosial penutur dan lawan tutur khususnya pada keluarga pendidik.. b. Manfaat Praktis Penelitian basa-basi berbahasa ini juga diharapkan dapat memberi masukan kepada para praktisi terutama bagi dosen, guru, anak, dan anggota keluarga yang lain untuk mengetahui pentingnya basa-basi berbahasa dalam keluarga pendidik..

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 6. I.5 Batasan Istilah Batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini tentu saja tidak lepas dari teori basa-basi dan teori-teori yang mendukung penelitian ini, maka peneliti memberikan batasan istilah sebagai berikut: 1.. Pragmatik Menurut Yule (2006:3), pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca). Sebagai akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksud orang dengan tuturantuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri. Pragmatik adalah studi tentang maksud penutur.. 2. Maksud Basa-basi Maksud adalah sesuatu yang ingin disampaikan oleh penutur bersumber dari penutur (Arimi, 1998). 3. Basa-basi Kata-kata dipakai untuk memecahkan kesunyian, untuk mempertahankan suasana baik, dan sebagainya. Penggunaan bahasa untuk keperluan seperti ini dapat disebut penggunaan basa basi (Arimi, 1998)..

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 7. 4. Basa-basi Murni Basa-basi murni adalah ungkapan-ungkapan yang dipakai secara otomatis sesuai dengan peristiwa tutur yang muncul, maksudnya apa yang diucapkan penutur selaras dengan kenyataan (Arimi, 1998). 5. Basa-basi Polar Basa-basi polar adalah tuturan yang berlawanan dengan realitasnya, dimana orang harus memilih tuturan yang tidak sebenarnya untuk menunjukkan hal yang lebih sopan (Arimi, 1998). 6. Konteks Menurut Rahardi (2003:20), konteks tuturan dapat diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur..

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB II KAJIAN PUSTAKA. Bab ini akan menguraikan penelitian yang relevan, landasan teori, dan kerangka berpikir. Penelitian yang relevan berisi tentang tinjauan terhadap topiktopik sejenis yang dilakukan oleh peneliti-peneliti yang lain. Landasan teori berisi tentang teori-teori yang digunakan sebagai landasan analisis dari penelitian ini yang terdiri atas teori pragmatik, fenomena-fenomena pragmatik, basa-basi, basa-basi sebagai fenomena pragmatik, teori maksud, dan uraian tentang konteks. Kerangka berpikir berisi tentang acuan teori yang berdasarkan pada penelitian yang relevan dan landasan teori untuk menjawab rumusan masalah.. 2.1 Penelitian Relevan Basa-basi dalam kajian ilmu pragmatik saat ini memang belum banyak dikaji oleh peneliti. Penelitian tentang basa-basi dalam ranah keluarga pendidik sejauh yang diketahui oleh peneliti belum pernah dilakukan. Namun, terdapat penelitian yang relevan dengan penelitian yang berkaitan dengan basa-basi berbahasa dalam ranah bangsawan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Fitri Apri Susilo (2014), Sailal Arimi (1998), Maria Ulfa T.R. (2012), dan Rawinda Fitrotul Mualafina (2013).. 8.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 9. Penelitian Fitri Apri Susilo (2014) berjudul “Basa-basi dalam Berbahasa antar Guru Di SMP N 12 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014”. Dalam penelitian tersebut terdapat dua rumusan masalah yang ingin dikaji oleh peneliti, yaitu apa sajakah wujud Basa-basi dalam Berbahasa antar Guru di SMP N 12 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014, apa sajakah maksud Basa-basi dalam Berbahasa antar Guru Di SMP N 12 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014. Berdasarkan tiap pemaparan hasil analisis terhadap kedua permasalahan dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa: peneliti menemukan delapan wujud Basa-basi Berbahasa antar Guru Di SMP N 12 Yogyakarta yang ditinjau dari kategori Acknowledgment-nya terdiri dari delapan subkategori. Kedelapan subkategori tuturan basa-basi tersebut adalah (1) Apologize (meminta maaf), (2) Condole (belasungkawa), (3) Congratulate (mengucapkan salam), (4) greet (memberi salam), (5) thanks (berterimakasih), (6) bid (meminta/mengundang), (7) accept (menerima), (8) reject (menolak). Apologize (meminta maaf) yaitu fungsi tuturan untuk mengekspresikan penyesalan. Condole (bela sungkawa) yaitu fungsi tuturan untuk mengekspresikan rasa simpati karena musibah yang dialami oleh mitra tutur. Congatulate (mengucapkan selamat) yaitu fungsi tuturan mengekspresikan kegembiraan karena ada kabar baik. Greet (memberi salam) yaitu fungsi tuturan untuk menyatakan rasa senang karena bertemu seseorang. Thanks (berterima kasih) yaitu fungsi tuturan untuk menyatakan terima kasih karena mendapat bantuan. Bid (meminta) yaitu fungsi tuturan untuk mengekspresikan harapan baik ketika sesuatu yang berhubungan.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 10. dengan masa depan seseorang akan terjadi. Accept (menerima) yaitu fungsi tuturan untuk menerima (menghargai) basa-basi dari mitra tutur. Reject (menolak) yaitu fungsi tuturan untuk menolak (melanggar) basa-basi dari mitra tutur. Penelitian Sailal Arimi (1998) berjudul “Basa-Basi Dalam Masyarakat Bahasa Indonesia”. Penelitian ini bertujuan: (1) mendapatkan gambaran tentang etnografi berbasa-basi bagi penutur bahasa Indonesia, dan memperoleh pengetahuan yang memadai tentang aturan, atau kaidah penyampaian basa-basi dalam bahasa Indonesia, (2) mendapatkan kejelasan kembali atas fungsi basa-basi, (3) menemukan jenis-jenis basa-basi, distribusinya dalam wacana interaktif, beserta hubungannya dengan strategi berbasa-basi yang tepat, dan (4) menemukan kekhasannya dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan oleh Sailal Arimi, terdapat beberapa kesimpulan. Basa-basi sebagai tuturan rutin yang tidak mementingkan informasi merupakan simbol tindakan sosial secara verbal untuk bertegur sapa, bersopan-santun, dan beramah tamah guna menciptakan hubungan solidaritas dan harmonisasi antar penutur. Masyarakat penutur membutuhkan basa-basi dikaitkan dengan hakikat fungsi interaksional baik untuk membina dan/atau mempertahankan hubungan sosial antarpenutur. Dari sudut relasi sosial antarpenutur yang dihasilkan (outcome), bagi penutur basa-basi merupakan upaya untuk memperoleh rasa solidaritas dan harmonisasi dengan mitra tutur. Dari sudut fungsi hakiki bahasa, basabasi merupakan sejemput fenomena bahasa yang berfungsi sebagai pemelihara kerja.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 11. sama dan sangat reflektif. Basa-basi dalam masyarakat bahasa Indonesia berdasarkan daya tuturannya digolongkan atas dua jenis, yaitu basa-basi murni dan basa-basi polar. Basa-basi murni adalah ungkapan-ungkapan yang dipakai secara otomatis sesuai dengan peristiwa tutur yang muncul, maksudnya apa yang diucapkan oleh penutur selaras dengan kenyataan. Basa-basi murni digolongkan menjadi tiga subjenis, yaitu basa-basi murni keniscayaan, basa-basi keteralamian, dan basa-basi keakraban. Basa-basi polar adalah tuturan yang berlawanan dengan realitasnya, dimana orang harus memilih tuturan yang tidak sebenarnya untuk menunjukkan hal yang lebih sopan. Basa-basi polar dibagi menjadi dua, yaitu basa-basi polar sosial dan basa-basi polar personal. Basa-basi bersifat universal sehingga menghasilkan kekhasan-kekhasan yang bersumber dari kebiasaan berbahasa dan sistem bahasa. Pengalihan pragmatis berdasarkan kekhasan-kekhasan tersebut dari satu bahasa ke bahasa lain (dalam hal ini bahasa Indonesia ke bahasa inggris atau sebaliknya) dapat menimbulkan kegagalan atau konflik komunikasi. Penelitian Maria Ulfa T.R. (2012) berjudul “Tipe Basa-Basi Dalam Dialog Sinetron Si Doel Anak Sekolahan”. Dalam penelitian tersebut terdapat beberapa masalah yaitu (1) dialog mana saja yang tergolong basa-basi, (2) apa saja topik basabasi yang dipergunakan pada dialog sinetron “SDAS”, (3) bagaimanakah tipe penggunaan basa-basi dalam sinetron “SDAS” berdasarkan suasana, dan (4) bagaimana efek basa-basi terhadap interaksi sosial dalam sinteron “SDAS”. Dari beberapa rumusan masalah tersebut, maka peneliti ingin mengetahui dialog mana saja.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 12. yang tergolong basa-basi, mendapatkan kejelasan tentang topik basa-basi yang dipergunakan pada sinetron “SDAS”, menemukan tipe penggunaan basa-basi dalam sinetron “SDAS” berdasarkan suasana, dan menemukan efek basa-basi terhadap interaksi sosial dalam sinetron “SDAS”. Dari penelitian tersebut tuturan basa-basi pada sinetron “SDAS” memiliki topik yang khas, seperti topik keadaan, topik aktifitas, topik julukan, topik keselamatan, topik tujuan, topik kehadiran, topik jasa, topik perilaku, topik perpisahan, topik kesepakatan, topik waktu, dan topik identitas. Selain itu, basa-basi dalam sinetron “SDAS” juga memiliki tipe yang juga memiliki karakteristik yang khas. Tipe basa-basi yang berhasil dianalisis yaitu (1) basa-basi apologi, (2) basa-basi salam untuk suasana santai, (3) basa-basi perhatian untuk suasana sibuk, (4) basa-basi persilahan untuk suasana sepi, dan (5) basa-basi pujian untuk suasana gembira. Peneliti juga menemukan empat efek basa-basi terhadap interaksi sosial dalam sinetron “SDAS”, yaitu (1) efek eksistensi, (2) efek akrab, (3) efek nyaman, dan (4) efek dihargai. Penelitian Rawinda Fitrotul Mualafina (2013) berjudul “Basa-Basi Dalam Interaksi Jual Beli Di Pasar Tradisional Kertek Wonosobo”. Dalam penelitian tersebut terdapat tiga rumusan masalah yang ingin dikaji oleh peneliti, yaitu bagaimana bentuk, jenis, dan distribusi basa-basi yang digunakan dalam percakapan jual beli di pasar tradisional Kertek, apa saja faktor-faktor yang melatarbelakangi penggunaan bentuk, jenis, dan distribusi dalam percakapan jual beli di pasar.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 13. tradisional Kertek, dan bagaimana fungsi dari penggunaan basa-basi dalam percakapan jual beli di pasar tradisional Kertek. Berdasarkan tiap pemaparan hasil analisis terhadap ketiga permasalahan dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa: (1) basa-basi yang digunakan dalam komunikasi di Pasar Kertek Wonosobo ini berbeda dengan basa-basi yang digunakan di tempat lain, (2) melalui pembahasan mengenai bentuk dan jenis, diperoleh fakta bahwa suatu kalimat mampu menyampaikan maksud yang berbeda dengan bentuk fisik kalimat tersebut, (3) ujaran basa-basi yang digunakan di Pasar Kertek ini hadir pada tiga posisi dalam struktur percakapan jual beli terjadi, yaitu rangkaian pembukaan atau opening sequences, rangkaian sisipan atau insertion sequences, dan rangkaian penutup atau closing sequences, (4) sebagai salah satu bentuk bahasa dalam masyarakat, penggunaan basa-basi tidak dapat terlepas dari sejumlah faktor sosial tertentu yang berpengaruh terhadap bentuk, jenis, dan distribusi basa-basi yang digunakan dalam sebuah percakapan jual-beli, (5) melalui enam fungsi yang ditemui dalam penggunaan basa-basi diketahui bahwa meskipun kehadirannya manasuka dan tidak mengandung informasi yang baru, kedudukan penggunaan basa-basi dalam percakapan tetaplah penting dalam kaitannya dengan funsi secara sosial. Dari keempat penelitian yang relevan tersebut memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Kesamaaan dengan penelitian-penelitian yang relevan sebelumnya terletak pada objek yang sama yaitu basa-basi berbahasa. Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Fiti Apri Susilo terdapat.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 14. rumusan masalah yang hampir sama dengan peneliti yaitu mengkaji tentang bentuk basa-basi berbahasa. Akan tetapi, tentu terdapat perbedaan dengan penelitianpenelitian yang sudah ada sebelumnya. Perbedaan ini yakni terletak pada subjek penelitian. Penelitian yang berudul “Basa-basi dalam Berbahasa Antaranggota Keluarga Pendidik di Dusun Pringwulung, Yogyakarta” menggunakan subjek keluarga pendidik yang tinggal di Dusun Pringwulung, dalam penelitiannya. Hal inilah yang membedakan dengan dengan peneliti-peneliti sebelumnya, dimana penelitian yang terdahulu belum ada yang menggunakan subjek yang sama dengan peneliti.. 2.2 Kajian Teori 2.2.1 Pragmatik Rahardi (2003:10), mengatakan bahwa pragmatik merupakan cabang dari linguistik yang mempelajari dan mendalami apa saja yang termasuk di dalam struktur bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara si penutur dengan sang mitra tutur, serta sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa yang sifatnya ekstralinguistik atau luar bahasa. Dari definisi beberapa ahli tersebut, dapatlah dikatakan bahwa pragmatik merupaka ilmu kebahasaan yang mengkaji maksud sebuah tuturan dengan mengacu dari unsur luar bahasa, dalam hal ini adalah konteks situasi dan lingkungan di mana tuturan itu terjadi. Kajian ilmu pragmatik sangat dipengaruhi oleh konteksnya..

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 15. Sebagai cabang ilmu linguistik, pragmatik sangatlah penting dalam kajian ilmu kebahasaan. George (1964) dalam Rahardi (2003:12), telah menunjukkan bahwa ilmu bahasa ilmu bahasa pragmatik sesungguhnya adalah ilmu tentang makna bahasa, dalam kaitan dengan keseluruhan perilaku umat manusia dan tanda-tanda atau lambang-lambang bahasa yang ada di sekelilingnya. Terhadap tanda atau lambang bahasa yang mencuat di sekelilingnya itu, manusia akan selalu akan bereaksi dengan aneka kemungkinan sikap dan variasi tindakan atau perilakunya. Kemudian Yule (2006:3-4), mengatakan bahwa pragmatik merupakan studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh pendengar. Sebagai akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri. Pragmatik melibatkan penafsiran tentang apa yang dimaksudkan orang di dalam suatu konteks dan bagaimana konteks itu berpengaruh terhadap apa yang dikatakan. Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu. Cruse (2000:16) dalam Cummings (2007:2), memaparkan bahwa pragmatik dapat dianggap berurusan dengan aspek-aspek informasi yang disampaikan melalui bahasa yang tidak dikodekan oleh konvensi yang diterima secara umum dalam bentuk-bentuk linguistik yang digunakan, tetapi yang juga muncul secara alamiah.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 16. dari dan tergantung pada makna-makna yang dikodekan secara konvesional dengan konteks tempat penggunaan bentuk-bentuk tersebut. Levinson (1977) dalam Sudaryanto (2010:118), memaparkan beberapa definisi pragmatik antara lain: Pragmatics is the study of those relations between language and context that are gramaticalized, or encoded in the structure of language (Pragmatik adalah kajian ihwal hubungan antara bahasa dan konteks yang digramatikalisasikan atau dikodekan di dalam struktur bahasa). Pragmatics is the study of relations between language and context that a basic to an account of language understanding (Pragmatik adalah kajian ihwal hubungan antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi penjelasan tentang pemahaman bahasa). Pragmatics is study of the ability of language users to pair sentences with thw context in which they whould be appropriate (Pragmatik adalah kajian ihwal kemampuan pengguna bahwa bahasa untuk menyesuaikan kalimat dengan konteks sehingga kalimat itu patut atau tepat diujarkan.. 2.2.2 Konteks Anwar (1984: 44-45), mengatakan bahwa istilah konteks sering digunakan untuk menerangkan peristiwa bahasa sebagai salah satu petunjuk untuk lebih memahami masalah arti bahasa. Situasi itu dapat formal dan informal. Kata konteks lebih luas jangkauannya. Konteks itu mencakup pengertian situasi tetapi ditambah dengan pengertian lain. Konteks dari sebuah kata atau bicara dapat meliputi seluruh.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 17. latar belakang sosial dari masyarakat bahasa itu. Bila kita membaca kata-kata tertentu dalam sebuah buku, kadang-kadang kita kurang kurang memahami kata itu tanpa memahami isi buku itu secara keseluruhan. Dapat dikatakan bahwa konteks daripada kata-kata itu tadi adalah semua kata-kata yang digunakan dalam buku itu. Konteks itu bisa berupa bahasa dan bukan bahasa, kedua-duanya dapat mempengaruhi arti bahasa. Cumming (2005:5), mengatakan bahwa kita tidak dapat mendapatkan definisi pragmatik yang lengkap bila konteksnya tidak disebutkan. Gagasan tentang konteks berada di luar pengejawantahannya yang jelas seperti latar fisik tempat dihasilkannya suatu ujaran yang mencakup faktor-faktor linguistik, sosial dan epistemis. Meskipun peran konteks dalam bahasa sudah lama diketahui, akan tetapi baru sekaranglah kontribusi faktor-faktor konteks terhadap proses argumentasi diselidiki secara serius oleh para ahli pragmatik. Rahardi (2003:20), mengemukakan bahwa konteks tuturan dapat diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur. Konteks sangat penting dalam memahami suatu tuturan, ia tidak menelaah struktur bahasa secara internal melainkan secara eksternal. Konteks itu bisa berupa bahasa dan bukan bahasa, kedua-duanya dapat mempengaruhi arti bahasa itu.Istilah.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 18. konteks sering digunakan untuk menerangkan peristiwa bahasa sebagai salah satu petunjuk untuk lebih memahami masalah arti bahasa (Anwar, 1984: 44). Gumperz dan Hymes (dalam FX Nadar, 2009:7) menyatakan bahwa aspek tutur ada delapan yang dapat dibuat akronim menjadi SPEAKING yaitu settings, participants, ends, act of sequence, keys, instrumentalities, norms, dan genres (tempat, peserta tutur, tujuan tuturan, urutan tuturan, cara, media, norma yang berlaku, dan genre). x. Settings adalah tempat dan waktu terjadinya pertuturan, termasuk di dalamnya kondisi psikologis dan cultural yang menyangkut pertuturan tersebut.. x. Participant menyangkut peserta tutur.. x. Ends menunjuk pada tujuan yang ingin dicapai dalam suatu situasi tutur.. x. Acts of sequence menunujuk pada saluran tutur yang dapat merupakan lisan maupun tertulis.. x. Key menunujukkan cara dari pertuturan yang dilangsungkan.. x. Instrumentalities. menunjukkan. penggunaan. kaidah. berbahasa. dalam. pertuturan. x. Norms adalah norma atau tuturan dalam berinteraksi.. x. Genre adalah kategori tuturan yang dapat merupakan puisi, surat, artikel, dan sebagainya. Leech (1983) dalam Sudaryanto (2010:119), memerikan konteks sebagai salah. satu komponen dalam situasi tutur. Menurut Leech, konteks didefinisikan sebagai aspek-aspek yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan social sebuah tuturan. Leech.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 19. menambahkan dalam definisinya tentang konteks yaitu sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang secara bersama dimiliki oleh penutur dan petutur, dan konteks ini membantu petutur manfsirkan atau menginterpretasikan maksud tuturan penutur. Yule (1996) dalam Sudaryanto (2010:120), membahas konteks dalam kaitannya dengaan kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi referen-referen yang bergantung pada satu atau lebih pemahaman orang itu terhadap ekspresi yang diacu. Berkaitan dengan penjelasan tersebut. Yule membedakan konteks dengan koteks. Konteks ia definisikan sebagai lingkungan fisik dimana sebuah kata dipergunakan. Cutting (2008) dalam Sudaryanto (2010:122), menjelaskan konteks adalah pengetahuan ihwal dunia fisik dan social serta faktor-faktor sosio-psikologis yang memengaruhi komunikasi sebagaimana pengetahuan waktu dan tempat di dalam katakata yang dituturkan atau dituliskan. Konteks merupakan pengetahuan yang dimiliki bersama penutur dan petutur. Cutting membagi konteks menjadi tiga macam, yaitu konteks situasional, konteks pengetahuan latar, dan koteks. Konteks situasional berkaitan dengan situasi tempat interaksi tuturan, apakah penutur mengetahui ihwal apa yang dapat mereka lihat di sekelilingnya. Konteks pengetahuan latar berkaitan dengan apakah penutur dan petutur saling mengetahui ihwal budaya dan interpersonal..

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 20. 2.2.3 Teori Maksud Rahardi (2003:16−17), dalam bukunya telah berbicara perihal maksud dan makna. Rahardi memaparkan bahwa makna yang dikaji dalam pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent), sedangkan makna yang dikaji di dalam semantik berciri bebas konteks (context independent). Makna yang dikaji di dalam semantik bersifat diadik (diadic meaning), sedangkan dalam pragmatik makna itu bersifat triadik (triadic meaning). Pragmatik mengkaji bahasa untuk memahami maksud penutur, semantik mempelajarinya untuk memahami makna sebuah satuan linguan an sich, yang notabene tidak perlu disangkutpautkan dengan konteks situasi masyarakat dan kebudayaan tertentu yang menjadi wadahya. Menurut Chaer (2009:35), bahwa informasi dan maksud sama-sama sesuatu yang luar-ujaran. Hanya bedanya kalau informasi itu merupakan sesuatu yang luarujaran dilihat dari segi objeknya atau yang dibicarakan; sedangkan maksud dilihat dari segi pengujarnya, orang yang berbicara itu mengujarkan suatu ujaran entah berupa kalimat maupun frasa, tetapi yang dimaksudkannya tidak sama dengan makna lahiriah ujaran itu sendiri. Di simpang-simpang jalan di Jakarta banyak pedagang asongan menawarkan barang dagangannya kepada para pengemudi atau penumpang kendaraan (yang kebetulan kendaraannya tertahan arus lalu lintas) dengan kalimat tanya “Koran, Koran?”. Padahal mereka tidak bermaksud bertanya melainkan bermaksud menawarkan. Contoh lain, seorang ayah setelah memeriksa buku rapor anaknya, dan melihat bahwa angka-angka dalam buku rapor itu banyak yang merah,.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 21. berkata kepada dengan nada memuji walaupun nadanya memuji. Dengan kalimat itu dia sebenarnya bermaksud menegur atau mungkin juga mengejek anaknya. Maksud banyak digunakan dalam bentuk-bentuk ujaran yang disebut metafora, ironi, litotes, dan bentuk-bentuk gaya bahasa lain. Selama masih menyangkut segi bahasa maka maksud itu masih dapat disebut sebagai bahasa maka maksud itu masih dapat disebut persoalan bahasa. Tetapi kalau sudah terlalu jauh dan tidak berkaitan lagi dengan dengan bahasa maka sudah tidak dapat lagi disebut sebagai persoalan bahasa. Mungkin termasuk persoalan bidang studi lain; entah filsafat, antropologi, atau juga psikologi. Maksud yang menyangkut pihak pengujar masih memiliki persoalan semantik, asal saja lambang-lambang paragraf masih berbentuk lingual.. 2.2.4 Komunikasi Fatis Basa-basi. menurut. Anwar. (1984:46),. menjelaskan. bahwa. basa-basi. merupakan sejemput kata-kata yang dipakai untuk sekedar memecah kesunyian, untuk mempertahankan suasana baik dan sebagainya, sehingga bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan perasaan atau pikiran, untuk membahas sesuatu masalah, untuk membujuk, merayu dan sebagainya. Terlepas dari berbagai pengertian tersebut sebenarnya basa-basi memiliki fungsi untuk menyampaikan berbagai maksud..

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 22. Jakobson (1980) dalam tesis Waridin (2008:15), mendefinisikan bahwa basabasi adalah tuturan yang dipergunakan untuk memulai, mempertahankan, atau memutuskan komunikasi untuk memastikan berfungsinya saluran komunikasi dan untuk menarik perhatian lawan bicara atau menjaga agar kawan bicara tetap memperhatikan. Jakobson (1980:81) dalam tesis Waridin (2008:16), menjelaskan bahwa terdapat enam faktor yang berkaitan dengan fungsi dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi verbal. Keenam faktor tersebut adalah addresser (pengirim pesan), message (pesan), addressee (penerima pesan), context (konteks), contact (kontak), dan code (kode). Arimi (1998: 95) menegaskan secara praktis basa-basi didefinisikan sebagai fenomena bahasa yang secara sadar dipakai oleh penutur, akan tetapi secara sadar pula tidak diakuinya ketika ditanyakan kebasa-basian itu. Dengan kata lain, basa-basi adalah fenomena lingual yang alamiah, tetapi penggunaannya mental atau menolak jika ditanyakan apakah penutur berbasa-basi. Selain itu, Arimi (1998: 96) juga menjelaskan bahasa secara metodologis penolakan tersebut akan lebih jelas jika dibandingkan dengan aktivitas verbal non basa-basi, seperti aktivitas marah atau serius. Bagi aktivitas marah atau serius, penutur dapat mengakui kepada mitra tuturnya bahwa ia marah atau serius. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa basabasi berkaitan. dengan. ihwal. maknawi. kebertegursapaan,. kesopansantunan,. dan. keramahtamahan. Tegur sapa, sopan santun dan ramah tamah menyangkut perangkat etika, tata susila, dan tata krama pergaulan yang melokal jika ditanyakan. Basa-basi.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 23. juga bermakna penolakan dari yang sebenarnya. Basa-basi dipahami sebagai ungkapan yang tidak sungguh-sungguh, pura-pura, dan kebohongan. Dengan demikian basa-basi dapat dikatakan sebagai tuturan untuk menjalin solidaritas dan harmonisasi. Menurut Sudaryanto (1991:26), basa-basi berkaitan dengan ihwal maknawi kebertegursapaan, kesopansantunan, dan keramahtamahan. Tegur sapa, sopan santun dan ramah tamah menyangkut perangkat etika, tata susila, dan tata krama pergaulan yang melokal jika ditanyakan. Basa-basi juga bermakna penolakan dari yang sebenarnya. Istilah basa-basi memiliki padanan kata ulas-ulas ‘pemoles’ atau abangabang lambe ‘pemerah bibir’ dalam bahasa Jawa. Makna kedua istilah tersebut kurang lebih adalah ‘tata krama pergaulan atau tindak tutur dengan tata krama yang disertai kesantunan dan tenggang rasa. Harimurti Kridalaksana (1986:111), menjelaskan bahwa basa-basi merupakan tuturan yang dipergunakan untuk memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan pembicaraan antara pembicara dan kawan bicara. Sebagai salah satu ahli bahasa Indonesia Kridalaksana (1986:111), menyampaikan gagasannya tentang kategori fatis. Kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan pembicaraan antara pembicara dan kawan bicara. Kelas kata ini biasanya terdapat dalam konteks dialog atau wawancara bersambutan, yaitu kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pembicara dan kawan bicara..

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 24. Sebagian besar kategori fatis merpakan ciri ragam lisan. Oleh karena itu, ragam lisan pada umumnya merupakan ragam non-standar. Maka, kebanyakan kategori fatis terdapat dalam kalimat-kalimat non-standar yang banyak mengandung unsur-unsur daerah atau dialek regional. Ada bentuk fatis yang terdapat di awal kalimat, misalnya “kok kamu pergi juga?”, ada yang di tengah kalimat, misalnya “Bukan dia, kok, yang mengambil uang itu!”, dan ada pula yang di akhir kalimat, misalnya “Saya hanya lihat saja, kok!”. Kategori fatis mempunyai wujud bentuk bebeas, misalnya kok. Deh, atau selamat, dan wujud bentuk terikat misalnya –lah atau pun. Kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan pembicaraan antara pembicara dan lawan bicara. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam lisan karena ragam lisan pada umumnya merupakan ragam non-standar, maka kebanyakan kategori fatis terdapat dalam kalimat-kalimat non-standar yang banyak mengandung unsur-unsur daerah atau dialek regional Bentuk dan jenis kategori fatis terbagi atas: (1). Partikel dan kata fatis. (a). ah menekankan rasa penolakan atau acuh tak acuh, misalnya: “Ayo ah kita pergi!”. (b). ayo menekankan ajakan, misalnya: “Ayo kita pergi!”.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 25. Ayo mempunyai variasi ayo bila diletakkan di akhir kalimat. Ayo juga bervariasi dengan “ayuk” dan “ayuh”. (c). deh digunakan untuk menekankan: (1). pemaksaan dengan membujuk, misalnya: “Makan deh, jangan malu-malu.”. Dalam hal ini deh berdekatan tugasnya dengan partikel –lah. (2). pemberian persetujuan, misalnya: “Boleh deh.”. (3). pemberian garansi, misalnya: “Makanan dia enak deh!”. (4). sekedar penekanan, misalnya “Saya benci deh sama dia.”. (d). dong digunakan untuk (1). menghaluskan perintah, misalnya: “Bagi dong kuenya.”. (2). menekankan kesalahan kawan bicara, misalnya: “Ya jelas dong.”. (e). ding menekankan pengakuan kesalahan pembicara, misalnya: “Bohong ding!”. (f). halo digunakan untuk (1). memulai dan mengukuhkan pembicaraan di telepon, misalnya:.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 26. “Halo, 345627!” (g). kan apabila terletak pada akhir kalimat atau awal kalimat, maka kan merupakan kependekan dari kata bukan atau bukankah, dan tugasnya ialah menekankan pembuktian, misalnya: “Kan dia sudah tahu?” Apabila kan terletak di tengah kalimat, maka kan juga bersifat menekankan pembuktian atau bantahan, misalnya: “Tadi kan sudah dikasih tahu!”. (h). kek mempunyai tugas (1). menekankan pemerincian, misalnya: “Elu kek, gue kek, sama saja.”. (2). menekankan perintah, misalnya: “Cepetan kek, kenapa sih?”. (3). menggantikan kata saja, misalnya: “Elu kek yang pergi!”. (i). kok menekankan alasan dan pengingkaran, misalnya: “Saya cuma melihat saja kok!” Kok dapat juga bertugas sebagai pengganti kata tanya mengapa atau kenapa bila diletakkan di awal kalimat, misalnya: “Kok sakit-sakit pergi juga?”.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. (j). 27. –lah menekankan kalimat imperati, dan penguat sebutan dalam kalimat, misalnya: “Tutuplah pintu itu!”. (k). lho bila terletak di awal kalimat, bersifat seperti interjeksi yang menyatakan kekagetan, misalnya: “Lho, kok jadi gini sih?” Bila terletak di tengah atau di akhir kalimat, maka lho bertugas menekankan kepastian, misalnya: “Saya juga mau lho.”. (l). mari menekankan ajakan, misalnya: “Mari makan.”. (m). nah selalu terletak pada awal kalimat dan bertugas untuk minta supaya kawan bicara mengalihkan perhatian ke hal lain, misalnya: “Nah, bawalah uang ini dan belikan aku nasi sebungkus.”. (n). pun selalu terletak pada ujung konstituen pertama kalimat dan bertugas menonjolkan bagian tersebut, misalnya: “Membaca pun ia tidak bisa.”. (o). selamat diucapkan kepada kawan bicara yang mendapatkan atau mengalami sesuatu yang baik, misalnya: “Selamat ya.”. (p). sih memiliki tugas:.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. (1). 28. menggantikan tugas –tah, dan –kah, misalnya: “Apa sih maunya tuh orang?”. (2). sebagai makna ‘memang’ atau ‘sebenarnya’, misalnya: “Bagus sih bagus, Cuma mahal amat.”. (3). menekankan alasan, misalnya: “Abis Gatot dipukul sih!”. (q). toh bertugas menguatkan maksud; ada kalanya memiliki arti yang sama dengan tetapi, misalnya: “Saya toh tidak merasa bersalah.”. (r). ya bertugas:. (1). mengukuhkan atau membenarkan apa yang ditanyakan kawan bicara, bila dipakai pada awal ujaran, misalnya: (Apakah rencana ini jadi dilaksanakan?) “Ya tentu saja.”. (2). minta persetujuan atau pendapat kawan bicara, bila dipakai pada akhir ujaran, misalnya: “Jangan pergi, ya!”. (s). yah digunakan pada awal atau di tengah-tengah ujaran, tetapi tidak pernah pada akhir ujaran, untuk mengungkapkan keragu-raguan atau ketidakpastian terhadap apa yang diungkapkan oleh kawan bicara atau yang tersebut dalam kalimat sebelumnya, bila dipakai pada awal.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 29. ujaran; atau keragu-raguan atau ketidakpastian atau isi konstituen ujaran yang mendahuluinya, bila dipakai di tengah ujaran, misalnya: “Yah, apa aku bisa melakukannya?” (2). Frase fatis (a). frase dengan selamat dipergunakan untuk memulai dan mengakhiri interaksi antara pembicara dan kawan bicara, sesuai dengan keperluan dan situasinya, misalnya: selamat pagi. selamat siang. selamat sore. selamat malam. selamat jumpa. selamat jalan. selamat belajar. selamat tidur. selamat makan. selamat hari jadi. selamat ulang tahun. (Kata selamat dapat berdiri sendiri). (b). terima kasih digunakan setelah pembicara merasa mendapatkan sesuatu dari kawan bicara.. (c). turut berduka cita digunakan sewaktu pembicara menyampaikan bela sungkawa.. (d). assalamu’alaikum digunakan pada waktu pembicara meulai interaksi.. (e). ewa’alaikumsalam digunakan untuk membalas kawan bicara yang mengucapkan assalamu’alaikum.. (f). Insya Allah diucapkan oleh pembicara ketika menerima tawaran mengenai sesuatu dari kawan bicara..

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 30. Selain frase fatis yang digunakan dalam ragam lisan, ada pula frase fatis yang digunakan dalam ragam tulis, misalnya: (g). Dengan hormat digunakan olehe penulit pada awal surat.. (h). Hormat saya, salam takzim, wassalam digunakan oleh penulis pada akhir surat.. 2.2.5 Fenomena-fenomena Pragmatik Dalam ilmu pragmatik terdapat empat fenomena pragmatik yang telah disepakati, yaitu (1) deiksis, (2) praanggapan (presupposition), (3) implikatur percakapan (conversational implicature), dan (4) tindak ujaran (speech acts) dalam Purwo (1990:17).. 2.2.5.1 Deiksis Menurut Yule (2006: 13), deiksis adalah istilah teknis (dari bahasa Yunani) untuk salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Deiksis berarti ‘penunjukkan’ melalui bahasa. Bentuk linguistik yang dipakai untuk menyelesaikan ‘penunjukkan’ disebut ungkapan deiksis. Yule (2006:13-15), membagi deiksis menjadi tiga, yaitu deiksis persona (kata ganti orang pertama ‘saya’, orang kedua ‘kamu’, dan orang ketiga ‘dia laki-laki’, ‘dia perempuan’, atau ‘dia barang/ sesuatu’), deiksis tempat (‘di sini’ dan ‘di sana’), dan.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 31. deiksis waktu (‘pekan depan, ‘pekan yang lalu’, ‘pekan ini’, ‘kemarin’, ‘hari ini’, ‘nanti malam’, ‘sekarang’, dan ‘kemudian’). Purwo (1990:17), menjelaskan bahwa kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata yang deiktis. Kata-kata tersebut tidak memiliki referen yang tetap. Berbeda halnya dengan kata rumah, kertas, kursi, di tempat manapun, pada waktu kapan pun, referen yang diacu tetaplah sama. Akan tetapi, referen dari kata saya, sini, sekarang barukah dapat diketahui pula siapa, di tempat mana, dan pada waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Kushartanti (2005:111), menjelaskan bahwa deiksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang berkaitan dengan erat dengan konteks penutur. Dengan demikian, ada rujukan yang berasal dari penutur, dekat dengan penutur, dan jauh dari penutur. Ada tiga jenis deiksis, yaitu deiksis ruang, deiksis persona, dan deiksis waktu.. 2.2.5.2 Praangaapan Rahardi (2005: 42) periksa di dalam Wijana (1996) dan Kaswanti Purwo (1990), menyatakan bahwa sebuah tuturan dapat dikatakan praanggapan tuturan yang lain apabila ketidakbenaran tuturan yang dipresuposisikan mengakibatkan kebenaran atau ketidakbenaran tuturan yang mempresuposisikan tidak dapat dikatakan. Tuturan yang berbunyi Mahasiswa tercantik di kelas itu pandai sekali. Mempraanggapkan adanya seseorang mahasiswa yang berparas sangat cantik. Apabila pada kenyataannya memang ada seorang mahasiswa yang berparas sangat cantik di kelas.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 32. itu, tuturan di atas dapat dinilai benar atau salahnya. Sebaliknya, apabila di dalam kelas itu tidak ada seorang mahasiswa yang berparas cantik, tuturan tersebut tidak dapat ditentukan benar atau salahnya. Preposisi merupakan kajian dalam lingkup semantik, namun dalam perkembangannya para linguis cenderung berpendapat bahwa kajian preposisi dalam lingkup semantik saja tidak dapat memuaskan mereka, sehingga kajian presuposisi bergeser ke wilayah pragmatik (Nadar, 2009:63). Levinson dalam Nadar (2006:6465), menyatakan bahwa preposisi pragmatik merupakan inferensi pragmatik yang sangat sensitif terhadap faktor-faktor konteks, dan membedakan terminologi preposisi menjadi dua macam. Pertama, kata “presuposisi” sebagai terminologi umum dalam penggunaan bahasa inggris sehari-hari, serta kata “presuposisi” sebagai terminologi teknis dalam kajian pragmatik. Di bandingkan dengan luasnya makna preposisi secara umum dalam penggunaan sehari-hari, makna preposisi dalam pragmatik relatif lebih sempit. Preposisi dapat dijelaskan sebagai berbagai inferensi atau asumsi pragmatik yang nampaknya dibangun menjadi ungkapan linguistik.. 2.2.5.3 Implikatur Di dalam pertuturan yang sesungguhnya, penutur dan mitra tutur dapat secara lancar berkomunikasi karena mereka berdua memiliki semacam kesamaan latar belakang pengetahuan tentang sesuatu yang dipertuturkan itu. Di antara penutur dan mitra tutur terdapat semacam kontrak percakapan tidak tertulis bahwa apa yang.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 33. sedang dipertuturkan itu saling dimengerti. Grice (1975), di dalam artikelnya yang berjudul “Logic and Conversation” menyatakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut. Proposisi yang diimplikasikan itu dapat disebut dengan implikatur percakapan. Tuturan yang berbunyi Bapak datang, jangan menangis! Tidak semata-mata dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa sang ayah sudah datang dari tempat tertentu. Si penutur bermaksud memperingatkan mitra tutur bahwa sang ayah yang bersikap keras dan sangat kejam itu akan melakukan sesutau terhadapnya apabila ia masih terus menangis. Dengan perkataan lain, tuturan itu mengimplikasikan bahwa sang ayah adalah orang yang keras dan sangat kejam dan sering marah-marah pada anaknya yang sedang menangis. Di dalam implikatur, hubungan antara tuturan yang sesungguhnya dengan maksud yang tidak dituturkan itu bersifat tidak mutlak. Inferensi maksud tuturan itu harus didasarkan pada konteks situasi tutur yang mewadahi munculnya tuturan tersebut. (Rahardi, 2005: 42-43), periksa Bambang Kaswanti (1990) dan Wijana (1996). Menurut Levinson (183) dalam Hamid Hasan (2011:73), ada empat faedah konsep implikatur, yaitu: a) Dapat memberikan penjelasan makna atau fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistic; b) Dapat memberikan penjelasan yang tegas tentang perbedaan lahiriah dari yang dimaksud si pemakai bahasa;.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 34. c) Dapat memberikan pemerian semantic yang sederhana tentang hubungan klausa yang dihubungkan dengan kata penghubung yang sama; d) Dapat memerikan bebagai fakta yang secara lahiiah kelihatan tidak berkaitan, malah berlawanan (seperti metafora).. 2.2.5.4 Tindak Ujaran Tindak tutur diklasifikasikan menjadi 5 jenis fungsi umum, yaitu deklarasi, presentatif, ekspresi, direktif, dan komisif (Yule, 2006: 92-94). Deklarasi adalah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan. Contoh 1: Wasit: Anda ke luar! Seperti contoh 1 menggambarkan, penutur harus memiliki peran institusional khusus, dalam konteks khusus, untuk menampilkan suatu deklarasi secara tepat. Pada waktu menggunakan deklarasi penutur mengubah dunia dengan kata-kata. Representatif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan. Contoh 2: Bumi itu datar. Pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskrisian, seperti yang digambarkan dalam contoh 2, merupakan contoh dunia sebagai sesuatu yang diyakini oleh penutur yang menggambarkannya. Pada waktu menggunakan sebuah representatif, penutur mencocokkan kata-kata dengan dunia (kepercayaannya). Tindak tutur selanjutnya yaitu ekspresif. Ekspresif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur itu.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 35. mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, atau kesengsaraan. Contoh 3: Sungguh, saya minta maaf. Seperti yang digambarkan dalam contoh 3, tindak tutur mungkin disebabkan oleh sesuatu yang dilakukan oleh penutur atau pendengar, tetapi semuanya menyangkut pengalaman penutur. Pada waktu menggunakan ekspresif penutur menyesuaikan kata-kata dengan dunia (perasaannya). Direktif adalah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain mengatakan sesuatu. Jenis tindak tutur ini menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur. Tidak tutur ini meliputi; perintah, pemesanana, permohonan, dan pemberian saran. Contoh 4: Jangan menyentuh itu! Seperti yang digambarkan dalam contoh 4, bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif. Pada waktu menggunakan direktif penutur berusaha menyesuaikan dunia dengan kata (lewat pendengar). Tindak tutur berikutnya ialah komisif. Komisif adalah jenis tindak tutur yang dapat dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Tindak tutur ini menyatakan apa saja yang dimaksudkan oleh penutur. Tindak tutur ini menyatakan apa saja yang dimaksudkan oleh penutur. Tindak tutur ini dapat berupa; janji, ancaman, penolakan, dan ikrar. Contoh 5: Kami tidak akan melakukan itu. Seperti ditunjukkan dalam contoh 5, dapat ditampilkan sendiri oleh penutur atau penutur sebagai anggota kelompok. Pada waktu.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 36. menggunakan komisif, penutur berusaha untuk menyesuaikan dunia dengan katakata (lewat penutur). Dengan mendasarkan gagasan pendahulunya, yakni Austin (1962), John R. Searle (1969), dalam buku Speech Acts: An Essay in The Philisophy of Language menyatakan bahwa pada praktik penggunaan bahasa yang sesungguhnya itu terdapat tiga macam tindak tutur. Ketiga macam tindak tutur atau speech acts itu secara berturut-turut dapat disebutkan seperti berikut ini: (1) tindak lokusioner (locutionary acts), (2) tindak ilokusioner (illocutionary acts), dan (3) tindak perlokusioner (perlocutionary acts). 1. Tindak Lokusioner (locutionary acts) Tindak tutur lokusioner adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat, sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu sendiri. Adapun tindak tutur lokusioner itu dapat dinyatakan dengan ungkapan the act of saying something. Di dalam tindak lokusioner itu sama sekali tidak dipermasalhkan dalam ihwal maksud tuturan yang idsampaikan oleh penutur. Jadi sekali lagi perlu dikatakan bahwa tindak tutur lokusioner itu adalah tindak menyampaikan informasi yang disampaikan oleh penutur. 2. Tindak Ilokusioner (illocutionary acts) Tindak ilokusioner ini merupakan tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu di dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya. Tindak tutur ilokusioner dapat dinyatakan dengan ungkapan dalam bahasa.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 37. Inggris, the act of doing something. Jadi, ada semacam daya atau force di dalamnya yang dicuatkan oleh makna dari sebuah tuturan. 3. Tindak perlokusioner (perlocutionary acts) Tindak perlokusioner ini merupakan tindak menumbuhkan pengaruh kepada sang mitra tutur oleh penutur. Tindak perlokusioner dapat dinyatakan dengan ungkapan dalam bahasa Inggris, the act of affecting someone. (cf. Wijana, 1996); Rahardi, 2004;, dan Rahardi; 2006). Rahardi, 2009:17.. 2.2.6 Basa-basi sebagai Fenomena Pragmatik Abdul Chaer dan Leonie Agustina (2004:16), menjelaskan bahwa ungkapanungkapan yang digunakan dalam fatik atau yang dikenal dengan basa-basi, biasanya sudah berpola tetap, seperti pada waktu berjumpa, pamit, membicarakan cuaca, atau menanyakan keadaan keluarga. Ungkapan-ungkapan yang digunakan tidak dapat diartikan atau diterjemahkan secara harfiah. Misalnya, dalam bahasa Indonesia ada ungkapan seperti Apa kabar?, Bagaimana kabar keluarga di rumah?, Mau kemana nih?, dan sebagainya. Oleh karena itu, penggunaan suatu bahasa tidak akan lepas dari basa-basi, namun hanya berbeda kadar penggunaannya. Penggunaan paling besar dalam percakapan yang bertujuan untuk memelihara komunikasi, dimana ungkapan itu hanya uuntuk bersopan santun dan tidak untuk menyampaikan informasi. Malinowski dalam tesis Arimi (1998), mengatakan basa-basi digunakan sebagai kata anonim berarti bahwa kata ini bukanlah jenis kata contrived , dibuat-buat.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. atau yang tidak alamiah. Akan tetapi, istilah basa-basi. 38. justru mengacu pada. pemakaian bahasa yang benar-benar alamiah (naturally occuring language) yang meresap pada konteks sosial-budaya Indonesia. Malinowski mempertegas fungsi basa-basi (phatic communion), untuk mengikat antara pembaca dan pendengar. Dikatakannya fungsi tersebut bukanlah merupakan alat pencerminan bahasa tetapi sebagai modus tindakan (antarpenutur). Lengkapnya ia mengatakan sebagai berikut: “ it consists in just this atmosphere of sociability and in the fact personal communion of these people. But this is in fact achieved by speech, and the situation in all such cases is created by the exchanged of word, by the specific feelings which form convivial gregariousness, by the give and take of utterances which make up ordinary gossip. Each utterances is an act serving the direct aim of binding hearer to speaker sentiment or other. Once more, language appears to us in this function not as isntrument of reflection but a mode of action.“ Malinowski (1923:315) dalam tesis Waridin (2008:13), mendefinisikan phatic communion sebagai “a type of speech in which ties of union are created by a mere exchange of word“. Phatic communion mempunyai fungsi sosial. Phatic communion digunakan dalam suasana ramah tamah dan dalam ikatan personal antar peserta komunikasi. Situasi tersebut diciptakan dengan pertukaran kata-kata dalam pembicaraan ringan, dengan perasaan tertentu untuk membentuk hidup bersama yang menyenangkan. Masyarakat modern melakukan ramah-tamah secara tulus (pure.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 39. sociabilities) dan bercakap-cakap dengan ringan (gossip) sama seperti suku primitif. Menurut Malinowski phatic communion yang digunakan suku primitif dan masyarakat modern berfungsi memantapkan ikatan personal diantara perserta komunikasi semata-mata karena adanya kebutuhan akan kebersamaan, dan tidak bertujuan mengomunikasikan ide. Malinowski dalam tesis Arimi (1998) mengatakan basa-basi digunakan sebagai kata anonim berarti bahwa kata ini bukanlah jenis kata contrived , dibuat-buat atau yang tidak alamiah. Akan tetapi, istilah basa-basi justru mengacu pada pemakaian bahasa yang benar-benar alamiah (naturally occuring language) yang meresap pada konteks sosial-budaya Indonesia. Malinowski mempertegas fungsi basa-basi (phatic communion), untuk mengikat antara pembaca dan pendengar. Dikatakannya fungsi tersebut bukanlah merupakan alat pencerminan bahasa tetapi sebagai modus tindakan (antarpenutur). Lengkapnya ia mengatakan sebagai berikut: “ it consists in just this atmosphere of sociability and in the fact personal communion of these people. But this is in fact achieved by speech, and the situation in all such cases is created by the exchanged of word, by the specific feelings which form convivial gregariousness, by the give and take of utterances which make up ordinary gossip. Each utterances is an act serving the direct aim of binding hearer to speaker sentiment or other. Once more, language appears to us in this function not as isntrument of reflection but a mode of action. “ Arimi (1998), dalam tesisnya membagi tuturan basa-basi yang dipakai dalam masyarakat bahasa Indonesia berdasarkan daya tuturannya digolongkan atas dua jenis, yaitu basa-basi murni dan basa-basi polar. Basa-basi murni adalah ungkapanungkapan yang dipakai secara otomatis sesuai dengan peristiwa tutur yang muncul,.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 40. maksudnya apa yang diucapkan oleh penutur selaras dengan kenyataan. Basa-basi murni digolongkan menjadi tiga subjenis, yaitu basa-basi murni keniscayaan, basabasi keteralamian, dan basa-basi keakraban. Basa-basi polar adalah tuturan yang berlawanan dengan realitasnya, dimana orang harus memilih tuturan yang tidak sebenarnya untuk menunjukkan hal yang lebih sopan. Basa-basi polar dibagi menjadi dua, yaitu basa-basi polar sosial dan basa-basi polar personal. Berikut ini contoh pemakaian basa-basi murni dan basa-basi polar. Contoh: 17.. Pak Ahmad. : Selamat pagi, pak.. Silakan mampir dulu? Pak Andi. : Selamat pagi juga, pak Ahmad.. Iya pak, terima kasih lain kali saja. Pada dialog (17) konteksnya ketika Pak Andi sedang berjalan di depan rumah Pak Ahmad dan Pak Ahmad sedang duduk-duduk di depan rumah. Tuturan tersebut termasuk basa-basi karena digunakan ketika Pak Ahmad bertemu dengan Pak Andi. Ungkapan “selamat pagi” dipakai secara otomatis sesuai dengan peristiwa tutur yang menandai realitas siang dan ungkapan tersebut merupakan basa-basi murni. Kemudian pada tuturan “silakan mampir dulu?” menunjukkan tuturan yang tidak sebenarnya karena Pak Ahmad melihat Pak Andi sedang berjalan di depan rumahnya. Tuturan “iya pak, terima kasih lain kali saja” menunjukkan tuturan yang tidak sebenarnya, karena tuturan Pak Andi bukan bersungguh-sungguh menyakinkan tuan.

Referensi

Dokumen terkait

analisis kebutuhan diatas, dilakukan perancangan sistem kerja baru untuk mengantisipasi tahapan kerja yang telah ada. Setelah cara kerja baru yang lebih baik didapatkan,

MAKMUM PENGAWAS KANKEMENAG KAB BANGKALAN Bangkalan 32 13052812720002 MOHAMAD YUSUF PENGAWAS PAI KEMENAG KAB... Ali

ﺔﺒﻴﻁ ﺎﻳ / y ā ṭ ayyibat / dipilih menjadi objek material dari tulisan ini karena memenuhi beberapa syarat yang dapat disebut sebagi sastra anak, yaitu video dan

Penurunan konsentrasi yang teradsorpsi disebabkan karena telah terjadinya kesetimbangan antara zat warna tartrazina dengan karbon aktif, ini berarti saat terjadi

Bahwa tidak sedikit oknum, baik dari parpol maupun non-parpol, yang mengeruk rente uang haram besar-besaran dari impor pangan.. Bahwa impor pangan itu bukan murni soal supply dan

Hal ini senada dengan apa yang dijelaskan oleh UU No. Dari kedua pasal ini dapat diartikan bahwa kalau ketentuan itu ditafsirkan secara a Contrarior, maka

· Siswa mampu menyebutkan kosakata baru yang diberikan dengan pelafalan dan nada yang benar serta dengan latihan esai yang diberikan, dapat mengetahui aksara Mandarin dari

diperkenankan memberikan penawaran dengan nilai yang sama dengan peserta