• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kinerja

Kinerja adalah hasil atau tingkat keberasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkin, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. (Veithzal, 2005). Dan menurut Daryanto (1997) merinci pengertian kinerja adalah prestasi kerja, sesuatu yang dicapai atau diperlihatkan atau sesuatu kemampuan kerja. Jadi kinerja adalah kemampuan untuk melakukan kerja dengan hasil yang memuaskan, diukur dengan cara mengevaluasi hasil pekerjaan.

Kinerja dalam menjalankan fungsinya tidak berdiri sendir, tetapi berhubungan dengan mesin, lingkungan kerja, dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan dan sifat-sifat individu. Kinerja pada dasarnya ditentukan oleh tiga hal yaitu: (1) kemampuan, (2) keinginan dan (3) lingkungan.

Kinerja dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara pekerjaan dan kemampuan atau kinerja dapat ditingkatkan bila tuntutan tugas sesuai dengan kapasitas fisik dan mental mahasiswa. Tujuan tersebut dapat dicapai maka mahasiswa harus diberikan fasilitas meliputi: fasilitas stasiun kerja, sarana kerja, linkungan kerja, dan organisasi kerja dengan kemampuan, kebolehan, dan

(2)

keterbatasan mahasiswa, dengan harapan tercapainya hasil kerja yang berkualitas.

2.2 Pemotong Pelat Eser

2.2.1 Klasifikasi mesin potong pelat eser

Mesin potong pelat eser merk Colgar buatan Italia, tenaga potong dengan sistem hidrolik secara otomatis, dilengkapi dengan alat mengatur ketebalan pelat eser. Tebal pelat eser yang bisa dipotong maksimum 8 mm. Demensi mesin potong pelat eser; panjang 210 cm, lebar 60 cm dan tinggi 90 cm (Susila, 2001). Di intervensi adalah stasiun kerja pada mesin potong pelat eser yang belum maksimal dapat menyangga pelat eser yang mempunyai ukuran panjang 240 cm, lebar 120 cm, tebal 0,3 cm, dan berat 115 kg, masih dipegang oleh mahasiswa. Hasil yang hendak dicapai dari proses pemotongan pelat eser adalah agar mahasiswa dapat secara aman, nyaman efektif, efisien sehingga produktivitas kerja dapat ditingkatkan. Mesin potong pelat eser dapat dicermati pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Mesin Potong Pelat

(3)

2.2.2 Pemotongan pelat eser dan permasalahan ergonomi

Penelitian pendahuluan pada proses pemotong pelat eser di Bengkel Teknologi Mekanik Politeknik Negeri Bali didapatkan gambaran bahwa terdapat permasalahan khususnya pada bagian proses pemotongan pelat eser yang dapat meningkatkan beban kerja, keluhan muskuloskeletal dan menurunkan produktivitas kerja. Permasalahan yang dihadapi mahasiswa di bagian proses pemotong pelat eser dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:

1) Aktivitas angkat dan angkut, beban pelat eser cukup berat 115 kg/lembar dengan panjang 240 cm, lebar120 cm, tebal 0,3 cm, dilakukan 4 orang, jarak dari gudang material ke mesin potong 95 meter.

2) Aktivitas angkat dan angkut pada pemotongan pelat eser meliputi; mengangkat, mengangkut, menyangga, mendorong, menarik dan menaruh pelat eser yang dipotong dilakukan secara manual.

3) Posisi berdiri, tetap menyangga, mendorong, menarik pelat eser pada proses pemotongan pelat eser pekerjaan ini dilakukan sampai pelat eser itu selesai

dipotong dengan ukuran 50 mm x 50 mm dalam waktu 1 jam. Sikap kerja berdiri dilakukan karena stasiun kerja tidak dilengkapi alat kedudukan pelat eser sebagai landasan pelat eser yang dipotong. Hal tersebut jelas menimbulkan beban tambahan dan menyebabkan kelelahan otot.

Pengukuran pada mesin potong pelat eser dengan data lebar meja mesin 60 cm, panjang 240 cm, tinggi 90 cm, data ini sebagai acuan dalam mendesain alat kedudukan pelat eser. Permasalahan tersebut di atas menimbulkan beban kerja tambahan dan keluhan muskuloskeletal bagi mahasiswa pada akhirnya 10

(4)

dapat menurunkan produktivitas kerja. Mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan tugas-tugas mahasiswa, maka perlu dilakukan perbaikan terhadap stasiun kerja pada bagian pemotongan pelat eser.

2.3 Aspek Ergonomi

Aspek ergonomi dimaksudkan adalah tentang aspek manusia dalam lingkungan kerja yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, manajemen dan desain/perancangan (Manuaba, 2004). Pendekatan disiplin ilmu ergonomi diarahkan pada upaya memperbaiki kinerja manusia seperti kecepatan, keselamatan kerja disamping mengurangi kelelahan yang terlalu cepat dan mampu memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia serta meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia.

Jadi ergonomi adalah ilmu, teknologi, dan seni untuk menyerasikan alat, cara kerja dilakukan pada kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia sehingga diperoleh kondisi kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan efisien sehingga tercapai produktivitas yang setinggi-tingginya (Tarwaka, 2004).

Merangcang stasiun kerja perlu diperhatikan seperti: aspek-aspek ergonomi, informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia, sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem tersebut dengan baik. Tujuan ini dapat dicapai malalui aktivitas dengan efisien, efektif, aman, dan nyaman. Tujuan ideal adalah mangatur pekerjaan tersebut berada dalam batas-batas dimana manusia bisa mentolerirnya, tanpa menimbulkan kelainan-kelainan (Manuaba, 2006).

(5)

2.4 Desain Stasiun Kerja

Desain produk buatan Negara-negara maju, masih banyak ditemukan desain stasiun kerja khususnya mesin potong pelat eser yang tidak sesuai dengan antropometri pekerja lokal, sehingga pekerja tidak dapat melakukan gerakan dengan optimal, terangkatnya bahu, leher dan lengan, sebaliknya tempat penyangga pelat eser yang terlalu rendah menyebabkan tulang belakang membungkuk pada saat bekerja. Masalah tersebut dapat diatasi dengan penyesuaian antara karakter manusia, kapasitas dan keterbatasannya terhadap desain pekerjaan, mesin, sistemnya, ruangan, lingkungan kerja sehingga pekerja dapat bekerja secara sehat, aman, nyaman dan efisien (Manuaba, 2000). Kaitannya ergonomi dengan desain Sutalaksana (2000), konsep dasar ergonomi, bahwa dalam rangka mendukung efisiensi, kenyamanan, dan keselamatan dalam menggunakan desain alat kerja, maka desain yang ergonomis harus selalu mempertimbangkan aspek-aspek ergonomi, dan teknologi tepat guna, seperti faktor-faktor reabilitas, kenyamanan, lamanya waktu pemakian kemudahan dalam pemakian dan efisiensi dalam pemakian. Setiap peralatan yang dipakai tidak menimbulkan beban tambahan bagi pemakainya. Desain alat kedudukan pelat eser dapat dicermati pada Gambar 2.2.

(6)

Gambar 2.2 Desain Alat Kedudukan Pelat eser

2.4.1 Antropometri dan perbaikan stasiun kerja

Ukuran tubuh pekerja Indonesia khususnya pemotong pelat eser, lebih kecil dibandingkan di negara-negara maju seperti Eropa. Kondisi tersebut sering menimbulkan masalah ergonomi terutama dalam menggunakan peralatan kerja yang dibuat oleh negara-negara maju tersebut. Data antropometri sangat bermanfaat dalam desain peralatan kerja termasuk dalam desain stasiun kerja. Teori ergonomi bahwa peralatan kerja dan fasilitas kerja yang digunakan harus sesuai dengan orang yang menggunakan.

Keserasian intaraksi antara stasiun kerja dan manusia pemakainya akan sangat menentukan ergonomis tidaknya sikap kerja mahasiswa yang bersangkutan. Apabila ukuran atau desain stasiun kerja telah sesuai dengan ukuran tubuh pemakainya maka sikap kerja menjadi alamiah atau sebaliknya. Antropametri adalah pengukuran demensi tubuh dan karakteristik fisik tubuh lainnya yang digunakan untuk mendesain suatu produk atau alat (Suma’mur

160 125

50

90

(7)

(1984); Sanders.,Mecormick (1987).,Sutajaya (2009). setiap melakukan desain atau redesain stasiun kerja haruslah berpedoman pada data antropometri. Ini dimaksudkan agar pekerja dapat menggunakan stasiun kerja secara nyaman, aman, efektif, efisien untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Menentukan ukuran stasiun kerja alat kedudukan pelat eser pada mesin potong pelat eser, data antropometri mahasiswa memegang peranan penting. Mengetahui data antropometri dapat dilakukan perbaikan pada stasiun kerja yang sesuai bagi mahasiswa yang menggunakannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mendesain stasiun kerja pemotong pelat eser adalah sebagai berikut.

1) Tinggi alat kedudukan pelat eser

pada mendesain alat kedudukan pela teser tingginya disesuaikan dengan meja pada mesin potong agar alat kedudukan pelat eser datar.

2) Ruang gerak

Stasiun kerja harus didesain sesuai dengan aktivitas, sehingga mahasiswa dapat bergerak bebas selama proses pemotongan pelat eser.

2.4.2 Sikap kerja kaitannya dengan stasiun kerja

Mendesain dan mengorganisasikan pekerjaan akan lebih bijak dari kebiasaan sikap kerja yang tidak alamiah dijadikan dasar dalam mengubah menjadi kebiasaan baru dan prilaku alamiah (Sutajaya 1998). Masalah yang dihadapi pekerja akibat stasiun kerja yang tidak ergonomis antara lain timbulnya sikap kerja yang tidak alamiah seperti; membungkuk, mengangkat lengan dan bahu, menyangga beban yang berat, hal ini akan menyebabkan terjadinya 14

(8)

kelelahan otot. Menurut Bridger (1995) bahwa sikap kerja dipengaruhi oleh tiga faktor adalah sebagai berikut.

1) Karakteristik fisik seperti umur,jenis kelamin, data antropometri, berat badan, cepat dan efisien.

2) Jenis keperluan tugas seperti, pekerjaan yang memerlukan ketelitian, memerlukan kekuatan tangan, giliran tugas, waktu istirahat dan lain-lain. 3) Desain stasiun kerja seperti, ukuran tempat duduk, ketinggian landasan kerja kondisi permukaan atau bidang kerja dan faktor lingkungan kerja.

Kondisikerja pada pemotongan pelat eser di Bengkel Teknologi Mekanik belum sepenuhnya mengikuti tiga faktor tersebut di atas, sehingga perlu dilakukan perubahan. Kondisi kerja seperti itu dapat meningkatkan beban kerja, keluhan muskuloskeletal, dan menurunkan produktivitas. Mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam pemakian kerja hendaknya prinsip-prinsip ergonomi harus sudah dimasukkan semenjak mendesain suatu alat atau stasiun kerja atau pada tahap perencanaan (Manuaba, 2004).

Sikap membungkuk, berdiri, berdiri miring adalah sikap kerja yang tidak alamiah yang memungkinkan tidak dapat melaksanakan pekerjaan dengan efektif dan usaha otot yang besar. Hal ini dilakukan karena tidak tahu bagiamana yang benar, terpaksa dilakukan karena ruangan terbatas, alat/mesin yang dioperasikan tidak dapat dilakukan dengan cara sikap alamian. Sikap kerja yang dilakukan pada pemotong pelat eser adalah sikap kerja berdiri sambil menyangga pelat eser, memdorong, menarik, sehingga menimbulkan sikap paksa pada beberapa 15

(9)

otot-otot tubuh. Sikap kerja hendaknya diupayakan dalam posisi alamiah sehingga tidak menimbulkan sikap paksa (Adiatmika, 2007., Cumming, 2003).

2.5 Aktivitas Angkat dan Angkut secara Manual

Aktivitas mengangkat dan mengangkut dan meletakkan pelat eser yang beratnya 115 kg/lembar masih dilakukan oleh tenaga manusia. Mengatasi masalah-masalah yang timbul perlu diperhatikan; medan kerja, cara angkat dan angkut, berat beban, jarak, frekuensi dan banyaknya beban yang diangkat dan diangkut harus benar-benar serasi dengan kemampuan, kebolehan dan batasan pekerja (Grandjean, 1998 dan Manuaba, 2001). Hal tersebut harus diupayakan agar gerakan yang dilakukan bersifat alamiah untuk menghindari beban tambahan dan kelelahan dini. Cara angkat dan angkut perlu dilakukan dengan benar, misalnya kedua tangan, lengan dan seluruh tubuh ikut berperan. Harus diupayakan agar kedua belah bahu dan tubuh terbebani secara merata. Di samping itu beban harus benar-benar diukur sesuai kemampuan pekerja (Thurman, 1988 dan Kroemer, 1994).

Titik kritis pada waktu mengangkat dan mengangkut objek terletak pada tidak terpenuhinya kebutuhan dan ketersediaan tenaga, belum tersedianya petunjuk praktis secara lengkap dalam mengangkat dan mengangkut objek, kurangnya proses pendidikan dan pelat eser bagi pekerja, lemahnya pengawasan di lapangan, dan tidak tersedianya program berkelanjutan (Adiputra, 1998a).

(10)

2.5.1 Alat bantu angkat dan angkut

Upaya untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan kerja yang sebesar-besarnya, maka tenaga manusia hendaknya tidak dijadikan sebagai alat angkat dan angkut utama. Menghindari manusia sebagai alat angkat dan angkut utama, maka pekerja perlu dilengkapi dengan alat bantu yang sesuai dengan jenis pekerjaan dan di desain sesuai dengan antropometri pekerjanya. Jenis alat bantu angkat dan angkut yang dapat digunakan antara lain; roller Conveyors, belt

comveyors, trolley conveyors, sliding rails conveyors dan sebagainya.

Aktivitas angkat dan angkut secara manual pada proses pemotongan pelat eser banyak melibatkan aktivitas mengangkat, menurunkan, mendorang, menarik, mengangkut, dan menyangga beban. Mencegah dan mengurangi cedera maka aktivitas angkat dan angkut secara manual tersebut perlu dilakukan dengan benar dan dilengkapi dengan alat bantu kerja yang ergonomi. Ada beberapa pedoman dalam melakukan modifikasi terhadap angkat dan angkut secara manual adalah sebagai berikut.

1) Kurangi tenaga mengangkat dan menurunkan dengan cara:

a. Mengeliminasi mengangkat dan mengangkut objek secara manual dengan menggunakan alat bantu elevating conveyors.

b. Mengurangi beban angkat dengan memperkecil ukuran objek, mengurangi kontainer, mengurangi jumlah objek yang diangkat.

c. Mengurangi aktivitas menahan dari tubuh dengan mengubah bentuk objek, menyediakan pegangan yang tepat.

(11)

2) Kurangi tenaga mendorong dan menarik dengan cara:

a. Mengeliminasi keperluan untuk mendorong dan menarik dengan menggunakan power conveyors, sliders, rollers.

b. Mengurangi berat objek dengan memperkecil ukuran objek.

c. Mengurangi jarak mendorong dan menarik dengan memperbaiki tata letak ruangan, relokasi ruang produksi, areal penyimpanan.

3) Kurangi tenaga mengangkut dengan cara:

a. Mengubah mengangkut secara manual menjadi mendorong atau menarik dengan menggunakan conveyors, sliders atau alat bantu yang sejenis. b. Mengurangi berat objek angkut dengan memperkecil ukuran objek. c. Mengurangi jarak angkut dengan memperbaiki tata letak ruang kerja. 4) Kurangi tenaga menyangga dengan cara:

a. Mengurangi berat objek dengan memperkecil ukuran objek. b. Mengurangi waktu menyangga beban.

c. Mengeliminasi menyangga dengan alat penyangga (jigs), meja conveyors. Aktivitas angkat dan angkut secara manual pada proses pemotongan pelat eser meliputi; mengangkat, menurunkan, mendorang, menarik, menyangga dan mengangkut pelat eser, maka prinsip-prinsip modifikasi di atas dapat dijadikan pedoman dalam perbaikan stasiun kerja. Salah satu alat bantu yang dapat digunakan untuk mengurangi beban aktivitas menyangga, mendorong dan menarik pelat eser adalah dengan mendesain alat kedudukan pelat eser sebagai penyangga dan mengangkut pelat eser dalam proses pemotongan pelat eser.

(12)

2.5.2 Batasan beban yang boleh diangkat

Mengurangi cedera otot bagian belakang seperti; pinggang dan punggung pada aktivitas angkat dan angkut pelat eser maka harus dipertimbangkan kriteria angkat baik secara fisiologik maupun psikofisik. Batasan angkat didasarkan pada perhitungan risiko cedera pada discus lumbar-5 dan sacral-1 (L5/S1), maka batas angkat maksimum yang direkomendasikan adalah sebesar 3,4 Kn sebagai gaya tekan pada discus tersebut.

Di antara ruas-ruas tulang belakang terdapat discus yang berfungsi sebagai peredam bila ada gesekan atau benturan. Cedera atau nyeri sering terjadi pada discus (intervertebrae disc) yang berada di antara discus ke-4 dan ke-5 (L4/L5) atau terletak di antara lumbar ke-5 dan sacrum ke-1(L5/S1). Ilustrasi dari discus L4/L5 dan L5/S1 dapat dicermati pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Lokasi Vertebral Lumbalis Sakrallis (discus L4/L5 dan L5/S1). Kelainan Herniasi Akibat Mengangkat Terdapat pada L5/S1.

Sumber: Helander (1995)

(13)

Batasan angkat secara fisiologik dilakukan dengan cara mempertimbangkan rata-rata beban metabolisme dari aktivitas angkat yang berulang-ulang ( repetitive lifting), dapat ditentukan dari jumlah kebutuhan oksigen. Kelelahan kerja yang terjadi akibat aktivitas angkat yang berulang-ulang akan meningkatkan risiko rasa nyeri pada tberulang-ulang belakang. Selanjutnya batasan angkat secara psikofisik pada penilaian subjektif pekerja mempertimbangkan sejauh mana individu merasa mampu mengangkat beban maksimum (Helander, 1995 dan Bridger, 1995). Secara umum beban angkat perseorangan yang direkomendasikan oleh International Labor Organisation (ILO) untuk pria dan wanita dicermati pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1

Beban Angkat dan Angkut bagi Laki-laki dan Wanita yang Direkomendasi

Umur (tahun) Maksimum untuk Maksimum untuk Laki-laki (Kg) Wanita (Kg) 14 – 16 15 10 16 – 18 19 12 18 – 20 23 14 20 – 35 25 15 35 – 50 21 13 > 50 16 10 Sumber: Pheasant (1991).

Penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa cara mengangkat dan mengangkut, beban yang diangkat dan diangkut, ketinggian landasan mengangkat dan jarak angkut berpengaruh terhadap beban kerja, kelelahan dan produktivitas kerja. Faktor tugas pekerjaan, lingkungan kerja juga dapat mempengaruhi performansi kerja.

(14)

2.6 Organisasi Kerja

Manuaba (2000) bahwa jam yang berlebihan, jam kerja lembur diluar batas kemampuan akan dapat mempercepat munculnya kelelahan, menurunkan ketepatan, kecepatan dan ketelitian kerja. Setiap fungsi tubuh memerlukan keseimbangan yang ritmis antara asupan energi dan penggantian energi (kerja istirahat). Organisasi kerja menurut Suma’mur (1982) terutama mengenai waktu kerja, istirahat, dan waktu makan. Ketiganya menentukan tingkat kesehatan, dan effisiensi tenaga kerja. Waktu kerja menyangkut aspek-aspek lamanya waktu kerja, istirahat dan periode waktu, sedangkan menurut Grandjean (1998) dan Manuaba (2001) dengan menambah waktu kerja lama, menyebabkan irama kerja menjadi lambat dan output per jam turun. Sebaliknya dengan memperpendek waktu kerja dari 8,5 menjadi 8 jam per hari

output meningkat antara 3-10,5% terutama untuk pekerja manual.

2.6.1 Waktu kerja

Masalah waktu kerja yang memicu timbulnya kelelahan pekerja, manajemen berupaya untuk memecahkan masalahnya dengan memberikan waktu istirahat yang cukup untuk proses pemulihan kondisi fisik yang lelah, juga di lakukan pengetahuan waktu kerja yang di selingi dengan waktu istirahat. Perubahan waktu kerja dapat memberikan dampak terhadap efisiensi kerja. Menurut Grabdjean (1998) dan Wignjosoebroto (2003) bahwa memperpendek jam keja dari 8 ¾ jam per hari bisa meningkatkan keluaran antara 3% sampai 10%.

(15)

Waktu kerja 8 jam adalah waktu kerja optimal manusia bekerja sehari. Setiap 50 menit jam kerja diberi istirahat 10 menit, sehingga dapat meningkatkan produktivitas (Pheasent, 1991). Dalam setiap satu jam diperkenankan istirahat 10 menit atau setiap setengah jam terdapat 5 menit istirahat untuk mengurangi kelelahan otot. Jika hal ini dilampaui akan dapat mengakibatkan kerugian bagi pekerja. Bagi pekerja berat memperpanjang waktu kerja harian misalnya kerja lembur, bila dilakukan berlebihan dapat mengakibatkan kerugian yang biasa di mulai dengan meningkatkan absensi karena sakit akibat rasa lelah yang berlebihan (Manuaba, 2003a; Wignjosoebroto, 2003).

2.6.2 Waktu istirahat

Suma’mur (1984), terdapat empat jenis waktu istirahat yaitu istirahat secara spontan, istirahat curian, istirahat karena adanya kaitan dengan proses kerja dan istirahat karena ditetapkan. Istirahat spontan istirahat pendek yang segera setelah pembebanan. Istirahat curian terjadi karena beban kerja tidak seimbang dengan kemampuan kerja. Istirahat oleh karena proses kerja adalah tergantung dari peralatan atau prosedur-prosedur kerja. Istirahat yang ditetapkan adalah istirahat yang diatur, misalnya istirahat paling sedikit 45 menit sampai 60 menit setelah empat jam kerja berturut-turut (Grandjean, 1998).

2.7 Lingkungan Kerja

Faktor lingkungan kerja dapat mempengaruhi beban kerja, kelelahan dan produktivitas kerja adalah sebagai berikut.

(16)

1) Kebisingan adalah suatu bunyi yang tidak dikehendaki dan tidak diinginkan dan bersifat menggangu kenyamanan dan kesehatan telinga (Buchari,2007). Bunyi adalah sensasi yang timbul dalam telinga akibat getaran udara atau media lain. Faktor yang mempengaruhi kebisingan adalah indensitas, sifat bising, dan paparan waktu kerja (Tana.L, 2002). Kebisingan juga dapat mempengaruhi fisiologi tubuh seperti denyut jantung meningkat, tekanan darah meningkat, metabolisme meningkat dan menurunnya aktivitas alat pencernaan (Adiputra, 2002). Nilai ambang batas (NBA) kebisangan adalah nilai intensitas suara tertinggi yang masih dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan gangguan daya dengar yang tetap untuk waktu kerja tidak lebih dari 8 jam sehari ditetapkan 85 dBA (Pulat, 1992).

2) Getaran adalah suatu assillasi mekanik (mechanical ascillation), yang dapat diterima oleh pekerja (Grandjean, 1998). Efek fisiologi getaran dapat berupa efek getaran seluruh tubuh (whole-body vibration) maupun efek pada tangan dan lengan (hand-arm vibration), dan getaran dapat menyebabkan efek performansi.

3) Debu yang ada di Bengkel Teknologi Mekanik khususnya pada bagian pemotongan pelat eser tidak ada masalah, sudah mendapat perhatian dari kepala bengkel. Suma’mur (1984), bahwa debu dapat masuk melalui:

a. Saluran pernapasan yang akan dibawa ke dalam paru-paru.

b. Mata, yang dapat menyebabkan iritasi, gatal, merah, bengkak.

c. Mulut, yang akan dibawa menuju saluran pencernaan yang dapat menyebabkan iritasi, mual, muntah, mulas dan lain-lain.

(17)

Mencegah dan mengendalikan terjadinya efek pernapasan akibat debu di tempat kerja dapat dilakukan dengan cara pengendalian teknis, administraktif dan proteksi diri (Suma’mur, 1984 dan Grandjean, 1998). Lingkungan kerja yang tidak dikendalikan dengan baik akan berpengaruh terhadap tingkat kenyamanan pekerja, hal ini dapat menyebabkan adanya beban kerja tambahan yang memicu timbulnya kelelahan lebih cepat.

2.8 Beban Kerja

Pekerja dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan akan dihadapkan pada beban kerja yang bervariasi. Menurut Adiputra (1998) bahwa beban kerja (work load) dapat dibedakan menjadi dua kelompok adalah sebagai berikut: 1) External load adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh dari pekerjaan yang dilakukan. Termasuk external load adalah tugas ( task), organisasi dan lingkungan kerja. Ketiga asfek ini disebut sebagai stressor (Adiputra, 1998).

a. Tugas (task) yang dilakukan bersifat fisik seperti stasiun kerja, sikap kerja, dan kecepatan lain-lain, yang bersifat mental seperti kompleksitas pekerjaan yang mempengaruhi tingkat emosi pekerja. b. Organisasi kerja, seperti lamanya waktu kerja, waktu istirahat, upah, stasiun kerja, tim kerja, kerja bergilir dan lain-lain.

c. Lingkungan kerja, seperti mikroklimat, intensitas penerangan, kebisingan, getaran, debu, dan lain-lain.

(18)

2) Internal load adalah beban kerja yang berasal dari dalam tubuh pekerja yang berkaitan erat dengan adanya harapan, keinginan, kepuasan, taboe dan lain – lain (Adiputra, 1998b).

Penilaian untuk dapat mengetahui tingkat beban kerja yang diterima oleh pekerja. Menurut Rodahl (1989) penilaian beban kerja dapat dilakukan dengan dua metode adalah sebagai berikut:

1) Metode subjektif, yaitu penilaian yang dilakukan oleh orang bersangkutan sebagai pengalaman pribadinya, misalnya beban kerja yang dirasakan sebagai kelelahan yang mengganggu, rasa sakit atau pengalaman lain yang dirasakan.

2) Metode objektif, yaitu penilaian yang dapat diukur dan dilakukan oleh pihak lain seperti reaksi fisiologi (denyut nadi, dan perubahan tindak

tanduk).

Penilaian beban kerja secara objektif yang paling mudah dan murah secara kuantitatif dapat dipercaya akurasinya adalah pengukuran frekuensi denyut nadi, sedangkan penilaian beban kerja subjektif dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner, dengan kuesioner akan terlihat adanya suatu kelelahan yang dialami pekerja, karena adanya interaksi pekerja dengan jenis pekerjaan, tempat kerja, cara kerja, peralatan kerja dan lingkungan, aktivitas yang disertai adanya stress mental dapat meningkatkan rerata denyut nadi secara bermakna sebesar 16,80 denyut per menit pada pria dan 18,70 denyut per menit pada wanita (p<0,01), (Bridger, 1995).

(19)

Penilaian beban kerja pemotong pelat eser dapat dilihat dari derajat beban kerja dengan menghitung denyut nadi kerja yaitu rerata denyut nadi kerja selama bekerja. Nadi kerja (work pulse) dihitung berdasarkan selisih denyut nadi saat kerja dengan denyut nadi istirahat (resting pulse). Grandjean (1998) bahwa meningkatnya denyut nadi istirahat ke denyut nadi saat bekerja yang diijinkan adalah 35 denyut per menit bagi laki-laki seperti; denyut nadi istirahat dihitung pada saat duduk dan 30 denyut per menit bagi wanita seperti denyut nadi istirahat dihitung pada saat duduk agar kerja bisa berlangsung 8 jam berkesinambungan. Adiputra (2002) denyut nadi per menit menggambarkan aktivitas jantung dalam memompa darah keluar masuk organ jantung. Hal ini sangat berhubungan dengan metabolisme tubuh. Semakin besar denyut jantung per menitnya itu berarti semakin tinggi aktivitas tubuh sehingga metabolisme tubuhpun semakin tinggi. Tubuh yang sedang bekerja, dapat saja direfleksikan oleh denyut nadi per menit atau besar asupan oksigen, suhu tubuh, dan pengeluaran kalorinya.

Salah satu cara yang digunakan untuk menghitung denyut nadi secara palpasi adalah dengan meraba denyut nadi kerja pada arteri radialis dan dicatat secara manual memakai jam henti (stop watch) menggunakan metode 10 denyut (Kilbon, 1992). Penggunaan nadi kerja untuk menilai berat ringannya beban kerja mempunyai beberapa keuntungan, lebih mudah, cepat dan murah juga tidak diperlukan peralatan yang mahal dengan hasil yang cukup reliabel. Kepekaan denyut nadi terhadap perubahan pembebanan yang diterima tubuh cukup tinggi. 26

(20)

Denyut nadi akan segera berubah selaras dengan perubahan pembebanan, baik yang berasal dari pembebanan mekanika, fisika maupun kimiawi.

Grandjean (1998) menjelaskan bahwa salah satu pendekatan untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah dengan menghitung denyut nadi kerja, konsumsi oksigen, kapasitas ventilasi paru dan suhu inti tubuh. Pada batas tertentu nadi kerja, konsumsi oksigen, kapasitas ventilasi paru dan suhu inti tubuh mempunyai hubungan linier tinggi dengan konsumsi oksigen atau pekerjaan yang dilakukan. Adiputra (2002) dan Suyasning (2007) bahwa beban kerja meningkat dibutuhkan Adenosin Triphosphat (ATP) atau energi lebih banyak. ATP atau energi diperoleh dari hasil metabolisme baik aerobik maupun

anaerobik. Pada metabolisme aerobik dibutuhkan oksigen yang bersenyawa

dengan glukosa sehingga terbentuk CO2 + H2O + ATP (Energi). Oksigen dibawa

ke otot-otot oleh sirkulasi darah. Dengan demikian apabila beban kerja meningkat maka kebutuhan oksigen juga akan meningkat. Memenuhi kebutuhan oksigen ini, denyut nadi bekerja lebih cepat.

Salah satu katagori penentuan berat ringannya beban kerja didasarkan pada perhitungan denyut nadi kerja, dapat dicermati pada Tabel 2.2.

(21)

Tabel 2.2

Katagori Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi Kerja

N0 Katagori Beban Kerja

Denyut Nadi Kerja ( denyut per menit ) 1 2 3 4 5 6 Sangat ringan Ringan Sedang Berat Sangat berat

Luar biasa beratnya(ekstrim)

60 – 70 75 – 100 100 – 125 125 – 150 150-175 Diatas 175 Sumber : Grandjean (1998)

Pada pekerjaan manual handling seperti pada pemotongan pelat eser sistem energi memegang peranan yang sangat penting. Pembentukan energi dalam otot dimulai dari rangsangan otot pada motor endplate yaitu awal dari adanya pengubahan ikatan energi kimiawi dalam bentuk ATP ke energi mekanis (ATP→ ADP + Phosphat + Energi). Oleh karena simpanan ATP sangat terbatas, maka dibentuk secara terus menerus dari energi yang didapat dalam oksidasi

glucose dan lemak. Selanjutnya oksigen ditransportasikan ke otot-otot darah.

Apabila oksigen cukup maka sistem aerobik berlangsung, karena merupakan metabolisme yang lengkap dengan hasil akhir energi yang lebih banyak. Kelelahan otot sering dihubungkan dengan metabolisme anaerobic, karena penurunan pH akibat dari terbentuknya asam laktat. Grandjean (1998) menjelaskan bahwa beban kerja fisik tidak hanya ditentukan oleh jumlah kilo

Joule (kJ) yang dikonsumsi, tetapi juga ditentukan oleh jumlah otot yang terlibat,

dan beban statis yang diterima serta tekanan panas dari lingkungan kerjanya yang dapat meningkatkan denyut nadi. Berdasarkan hal tersebut, maka denyut nadi lebih mudah dan dapat digunakan untuk menghitung indek beban kerja, khususnya beban kerja fisik.

(22)

2.9 Kelelahan Kerja

2.9.1 Pengertian Kelelahan

Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari cedera lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat (Eko, 2008). Kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi semuanya akan bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh (Fitrihana, 2008 dan Grandjean, 1998). Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kelelahan otot adalah merupakan tremor pada otot/perasaan nyeri pada otot. Dan kelelahan umum adalah biasanya ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh karena monotomi, intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan sebab-sebab mental, status kesehatan dan keadaan gizi (Grandjean, 1998 dan Waters & Bhattacharya, 1996). Secara gejala kelelahan dapat dimulai dari yang sangat ringan sampai perasaan yang sangat melelahkan dan kelelahan subjektif biasanya terjadi pada akhir jam kerja (Astrand & Rodohl, 1997 dan Pulat, 1992). Kelelahan otot dan kelelahan umum disebabkan karena jenis pekerjaan yang bersifat fisik berat dan lingkungan kerja.

2.9.2 Keluhan Muskuloskeletal

Sistem muskuloskeletal adalah sistem otot rangka atau otot yang melekat pada tulang yang terdiri atas otot-otot serat lintang yang sifat gerakannya dapat diatur (voluter). Pada pemotongan pelat eser banyak melibatkan kerja otot statis maupun dinamis. Kerja otot statis terjadi pada aktivitas mengangkat, menyangga, mendorong, menarik dan menurunkan beban ( otot lengan, bahu, 29

(23)

pinggang dan punggung), sedangkan kerja otot dinamis terjadi pada aktivitas mengangkut, mendorong, dan menarik seperti; otot-otot bagian bawah. Mengurangi tingkat kelelahan otot pada pemotongan pelat eser dapat dilakukan dengan menggunakan alat kedudukan pelat eser sebagai landasan pelat eser sebelum dan sesudah pelat eser dipotong sehingga aktivitas menyangga dapat ditiadakan. Sikap paksa sewaktu bekerja dan berlangsung lama dapat menyebabkan adanya beban pada sistem muskuloskeletal dan efek negatif pada kesehatan (Santoso, 2004). Kroeman (1994) menyatakan bahwa kelelahan otot terjadi akibat adanya kerja otot statik.

Kelelahan otot merupakan fenomena fisiologi dapat diukur secara langsung dengan Electromyography (EMG) untuk mendeteksi penyebab terjadinya kelelahan, sedangkan metode pengukuran secara tidak langsung berupa penilaian subjektif pada pekerja dengan menanyai dan menunjukan diagram tubuh atau kuesioner untuk menentukan lokasi kelelahan atau gangguan muskuloskeletal disebut Nordic Body Map. Kuesioner Nordic Body Map dipilih sebagai alat ukur untuk menilai kelelahan otot berupa gangguan muskuloskeletal dengan alasan digunakan metode ini karena mudah, murah dan cukup reliabel. Penerapan di lapangan dilakukan penjelasan sederhana kepada pekerja.

2.10 Produktivitas Kerja

2.10.1 Pengertian Produktivitas

Produktivitas adalah suatu perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input) per satuan waktu. Produktivitas dapat dikatakan meningkat apabila jumlah keluaran meningkat dengan jumlah masukan yang sama (Chew, 30

(24)

1991 dan Hardjosoedarmo, 1996). Manuaba (2004) menyatakan bahwa produktivitas dapat ditingkatkan melalui pendayagunaan seoptimal mungkin sumber daya manusia atau mengalihkan teknologi tepat guna, disamping upaya mengefisienkan kemampuan melalui penggunaan alat, cara kerja, dan lingkungan yang serasi.

Mendesain atau meredesain stasiun kerja harus memperhatikan aspek ergonomi yang ada. Dan konsep teknologi tepat guna yang dipadukan dengan pendekatan SHIP yang harus dilakukan secara konsekuen dan berkesinambungan (Manuaba, 2009a). Melalui pndekatan SHIP bahwa masalah harus dipecahkan: 1) Secara sistemik atau melalui pendekatan sistem dimana semua faktor yang ada di dalam suatu sistem dan diperkirakan dapat menimbulkan

masalah harus ikut diperhitungkan, sehingga tidak ada lagi masalah baru sebagai akibat dari keterkaitan sistem.

2) Secara holistik dimana suatu faktor yang terkait atau diperkirakan ada masalah haruslah dipecahkan secara proaktif dan menyeluruh.

3) Secara interdisipliner, artinya semua disiplin terkait harus dimanfaatkan karena makin kompleknya masalah yang ada tidak akan dipecahkan secara maksimal jika dikerjakan melalui satu disiplin, sehingga perlu dipecahkan melalui lintas disiplin ilmu.

4) Secara partisipatori, artinya semua orang yang terlibat dalam pemecahan masalah tersebut harus dilibatkan sejak awal secara maksimal agar dapat di wujudkan mekanisme kerja yang kondusif dan

(25)

diperoleh produk yang berkualitas sesuai dengan tuntutan jaman (Manuaba, 2003a).

Pendekatan ergonomi holistik atau teknologi tepat guna adalah suatu pendekatan dimana teknologi yang akan digunakan harus dikaji secara komprehensip melalui enam kriteria yaitu; secara teknis, ekonomis, ergonomis, sosio budaya bisa dipertanggung jawabkan, hemat akan energi, dan tidak merusak lingkungan (Manuaba, 2007).

2.10.2 Pengukuran produktivitas

Produktivitas adalah perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input) per satuan waktu (time). Konsep ini bisa dipakai di dalam menghitung produktivitas kerja di semua sektor kegiatan termasuk perbaikan stasiun kerja penggunaan alat kedudukan pelat eser sebagai penyangga dan mengangkut pelat eser sebelum dan setelah dilakukan pemotongan pelat eser. Pengukuran produktivitas dapat dilakukan dengan menghitung produktivitas total, yaitu perbandingan antara total keluaran dengan total masukan per satuan waktu. Hal ini semua faktor masukan terhadap total keluaran diperhitungkan. Menghitung produktivitas parsial, yaitu perbandingan dari keluaran dengan satu jenis masukan seperti upah tenaga kerja, bahan energi, beban kerja, skor keluhan sujebtif dan lain-lain. Produktivitas dihitung secara parsial dari sudut pandang ergonomi. Manuaba (2000) secara umum produktivitas dapat diformulasikan adalah sebagai berikut.

Luaran (output)

Produktivitas = (1) Masukan (input) x Waktu (time)

(26)

Keterangan formulasi produktivitas adalah sebagai berikut:

1) Luaran/produksi (output) adalah rerata jumlah hasil potongan pelat eser.

2) Masukan (input) adalah rerata nadi kerja denyut per menit yang didapat dari selisih rerata denyut nadi waktu kerja dikurangi rerata denyut nadi istirahat.

3) Waktu (time) adalah lama proses pemotongan pelat eser dalam satuan menit.

2.10.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Produktivitas

Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja baik yang berhubungan dengan tenaga kerja maupun yang berhubungan dengan lingkungan tempat kerja. Manuaba (2003a) dan Pheasant (1991) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja adalah sebagai berikut:

1) Tenaga kerja seperti; umur, gizi, kondisi fisik, keterampilan dan psikologis pekerja.

2) Peralatan kerja seperti; alat, sarana kerja, mesin-mesin dan lain-lain.

3) Lingkungan kerja seperti; kebisingan, getaran, suhu, kelembaban, debu dan lain-lain.

Manuaba (2005) menyatakan usaha-usaha yang harus dilakukan dalam perbaikan produktivitas kerja untuk pencapaian tujuan ergonomi dilakukan dengan memperhatikan delapan aspek ergonomi adalah sebagai berikut:

1) Status nutrisi yang memadai sebagai sumber energi seorang pekerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

2) Aplikasi tenaga otot secara optimal dan efisien untuk menekan stress pekerja sampai batas minimum.

3) Sikap tubuh yang diterapkan dalam sikap kerja dengan memperhatikan situasi 33

(27)

pembebanan terhadap tubuh, jenis pekerjaan dan ruang lingkungan pekerjaan. 4) Kondisi lingkungan kerja untuk mencegah beban yang berlebihan terhadap fisik dan mental.

5) Kondisi yang berkaitan dengan waktu atau yang berkaitan dengan pola kerja, waktu kerja dan waktu istirahat.

6) Kondisi informasi untuk menunjukkan penampilan (performance) kerja secara puas dan luas.

7) Kondisi sosial untuk meningkatkan kualitas intraksi antar pekerja. Tugas yang dilakukan sudah menjadi udaya kerja karena dilakukan dengan cara nyaman dapat menyokong kehidupan yang sejahtera bagi karyawan.

8) Intraksi manusia dengan mesin dengan proporsi pembagian tugas pekerjaan yang tepat antara manusia dengan mesin/alat.

(28)

BAB III

Gambar

Gambar 2.2 Desain Alat Kedudukan Pelat eser
Gambar 2.3 Lokasi Vertebral Lumbalis Sakrallis (discus L4/L5 dan L5/S1).

Referensi

Dokumen terkait

Pada sub bab ini dilakukan analisis yang diperlukan untuk merepresentasikan pengetahuan pada model yang telah disimpan pada basis data ke dalam representasi yang sesuai

Berdasarkan kondisi permasalahan diatas dan betapa pentingnya peran auditor internal di sebuah organisasi guna menjaga keberlanjutan organisasi itu sendiri dalam

11 Dalam penelitian ini peneliti mewawancarai pihak-pihak yang berkepentingan ( Manajer, Sekretaris, Teller ), wawancara ini dimaksudkan untuk mendapatkan data yang ingin

Kesan-kesan buruk lain : Tiada kesan yang penting atau bahaya kritikal yang diketahui.

Penggemukan sapi potong menjadi target dari Dinas Peternakan Kabupaten Kupang untuk diintrodusir kepada para peternak di NTT karena sapi-sapi yang akan dijual keluar

Proses kopling atau transfer daya optik pada fiber coupler serat optik analog dengan pandu gelombang planar.. Bedanya distribusi medan yang terkopel pada

Berdasarkan hasil yang didapat dari test, angket, wawancara maupun dokumenter dapat peneliti analisis, simpulkan dan laporkan bahwa kemampuan menterjemah teks

Dengan ini menyatakan bahwa apabila saya dinyatakan diterima dalam Program Diploma III tekonologi dan Pegnolahan Sawit Institut Teknologi dan Sains Bandung, saya bersedia untuk