Penerapan Diskresi oleh OJK terhadap Prosedur
PKPU Lembaga Jasa Keuangan
Prof. Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D
Focus Group Discussion Jakarta, 22 Oktober 2020
1
Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik
2
D a s a r H u k u m
2Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2011 tentang
Otoritas Jasa Keuangan
Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2014 tentang
Administrasi Pemerintahan
3
4
Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan Nomor
34/POJK.03/2018
tentang
Penilaian Kembali Bagi
Pihak Utama Lembaga Jasa
Keuangan
1. Penggunaan Diskresi untuk mengatasi
ketidaklengkapan prosedur pelaksanaan PKPU
1 (tahap) dalam POJK No. 34 Tahun 2018
berdasarkan UU Administrasi Pemerintahan
2. Perspektif terhadap penggunaan diskresi
prosedur PKPU terhadap kasus khusus yang
pengaturannya belum diatur secara lengkap
dan jelas dalam POJK
1. Konsep Diskresi
2. Pejabat Pemerintahan dan Diskresi
3. Batas-batas Diskresi
4. Penilaian Kembali Pihak Utama dan
Diskresi
Alur Materi
1| Konsep Diskresi
(Freies Ermessen)
1. E. Utrecht (1988)
“Struktur norma hukum publik yang akan dijadikan dasar bagi tindakan pemerintahan sifatnya berantai dan
bertingkat. Terhadap suatu urusan pemerintahan normanya tersebar dalam berbagai peraturan
perundang-undangan. Guna mengantisipasi persoalan dalam melakukan tindakan hukum tertentu, kepada pemerintah diberikan freies ermessen atau diskresi, yakni kemerdekaan pemerintah untuk dapat bertindak atas inisiatif sendiri dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial.”
2. S. Prajudi Atmosudirjo (1994)
“Diskresi didefinisikan sebagai kebebasan bertindak atau mengambil keputusan dari para pejabat administrasi
negara yang berwenang dan berwajib menurut pendapat sendiri.”
“Diskresi diperlukan sebagai pelengkap asas legalitas
yang menyatakan bahwa setiap tindak atau perbuatan administrasi negara harus berdasarkan ketentuan
undang-undang. Akan tetapi, tidak mungkin bagi
undang-undang untuk mengatur segala macam kasus posisi dalam praktek kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, perlu adanya kebebasan atau diskresi administrasi negara yang terdiri atas diskresi bebas dan diskresi terikat.”
Jenis Diskresi
ACCOUNTABILITY
HAS NO EXCUSE!!
1. Diskresi bebas, undang-undang hanya
menetapkan batas-batas dan administrasi negara bebas mengambil keputusan apa saja asalkan
tidak melampaui/ melanggar batas-batas tersebut;
2. Diskresi terikat, undang-undang menetapkan beberapa alternatif keputusan dan administrasi negara bebas memilih salah satu alternatif
keputusan yang disediakan oleh undang-undang.
3. Indroharto (1993)
“Diskresi merupakan kewenangan fakultatif, yaitu
wewenang yang tidak mewajibkan badan atau pejabat tata usaha negara menerapkan wewenangnya, tetapi memberikan pilihan sekalipun hanya dalam hal-hal tertentu sebagaimana ditentukan dalam peraturan dasarnya.”
4. Sjachran Basah (2010)
“
Untuk menjalankan tugas-tugas servis publik secaraaktif, maka bagi administrasi negara timbul konsekuensi khusus, yaitu diperlukan freies ermessen yang
dimungkinkan oleh hukum agar dapat bertindak atas inisiatif sendiri. … terutama dalam penyelesaian
persoalan-persoalan penting yang timbul secara tiba-tiba. Dalam hal demikian, administrasi negara terpaksa bertindak cepat, membuat penyelesaian. Namun,
keputusan-keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah-masalah itu, harus dapat
dipertanggungjawabkan.”
Diskresi Merupakan Instrumen
Pelayanan Publik
“kemerdekaan tertentu untuk bertindak atas inisiatifDalam administrasi negara, diberikan suatusendiri untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang memerlukan penanganan cepat, sementara terhadap permasalahan yang sedang dihadapi
tidak ada, atau masih belum dibentuk dasar hukum penyelesaiannya oleh legislatif yang kemudian
dalam hukum administrasi diberikan kewenangan bebas berupa diskresi.”
S.F. Marbun dalam Pembentukan, Pemberlakuan, dan Peranan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Layak dalam Menjelmakan Pemerintahan yang Baik dan Bersih di Indonesia
Pasal 1 angka 9 UU AP
“Diskresi adalah Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal peraturan perundang-undangan yang memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak jelas, dan/atau adanya stagnansi pemerintahan.”
Tiga Unsur Definisi Diskresi:
1. Diskresi dapat berbentuk keputusan, tindakan, atau keputusan dan tindakan. Pihak yang dapat menetapkan dan/atau melakukan diskresi
adalah pejabat pemerintahan.
2. Tujuan dari diskresi adalah untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam
penyelenggaraan pemerintahan.
3. Kondisi tertentu atau keadaan yang menjadi batasan untuk dapat dilakukannya diskresi terdiri atas:
• Peraturan perundang-undangan yang memberikan pilihan;
• Tidak mengatur;
• Tidak lengkap atau tidak jelas; dan/atau
• Adanya stagnansi pemerintahan.
HAK PEJABAT
PEMERINTAHAN
Kedua ketentuan tersebut menegaskan bahwa meskipun diskresi merupakan hak pejabat pemerintahan, namun
penggunaannya harus memiliki tujuan yang jelas sesuai dengan peraturan perundang- undangan. PENGGUNAAN DISKRESI YANG TIDAK SESUAI DENGAN TUJUANNYA MENJADIKAN PEJABAT PEMERINTAHAN YANG BERSANGKUTAN DAPAT DIKATEGORIKAN MENYALAHGUNAKAN WEWENANG.
Pasal 6 UU 30/2014
(1) Pejabat Pemerintahan memiliki hak untuk menggunakan Kewenangan dalam mengambil Keputusan dan/atau Tindakan.
(2) Hak sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi:
e. menggunakan Diskresi sesuai dengan tujuannya;
Pasal 22 UU 30/2014
(2) Setiap penggunaan Diskresi Pejabat Pemerintahan bertujuan untuk: a. Melancarkan penyelenggaraan pemerintahan;
b. Mengisi kekosongan hukum;
c. Memberikan kepastian hukum; dan
d. mengatasi stagnasi pemerintahan dalam keadaan tertentu guna kemanfaatan dan kepentingan umum.
Kewajiban Pejabat
Pemerintahan
Pasal 7 UU AP
(2) Pejabat Pemerintahan memiliki kewajiban: d. mematuhi Undang-Undang ini dalam
menggunakan Diskresi;
Pengaturan tersebut menunjukkan jika sejatinya
DISKRESI BUKANLAH KEWENANGAN BEBAS, NAMUN KEWENANGAN YANG MEMILIKI
2| Batas-batas Diskresi
Diskresi sebagai Pelengkap Asas Legalitas
Asas legalitas dalam konteks hukum administasi, dalam hal ini
penerapan diskresi berkaitan dengan asas keabsahan dalam
pemerintahan (
het beginsel van wetmatigheid van bestuur
).
Keterbatasan jangkauan asas legalitas bisa saja mengakibatkan
suatu peraturan perundang-undangan mengalami cacat bawaan
(
natural defect
) maupun (
artificial defects
).
a. Persoalan-persoalan yang muncul harus menyangkut
kepentingan umum, yaitu kepentingan bangsa dan negara, kepentingan masyarakat luas, kepentingan rakyat
banyak/Bersama, serta kepentingan pembangunan;
b. Munculnya persoalan tersebut secara tiba-tiba, berada di luar rencana yang telah ditentukan;
c. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut peraturan perundang-undangan belum mengaturnya atau hanya mengatur secara umum, sehingga administrasi negara mempunyai kebebasan untuk menyelesaikan atas inisiatif sendiri;
d. Prosedurnya tidak dapat diselesesaikan menurut
administrasi yang normal, atau jika diselesaikan menurut prosedur administrasi yang normal justru kurang berdaya dan berhasil guna.
- S.F. Marbun
18
Unsur Persoalan Penting dalam
Menerapkan Kewenangan Diskresi
Persoalan Penting dan Mendesak
Bersifat Kumulatif
Bisa saja muncul persoalan yang penting
tetapi tidak mendesak untuk diselesaikan.
Kemungkinan dapat pula mucul persoalan
mendesak, tapi tidak terlalu penting untuk
diselesaikan. Oleh karena itu, kualifikasi
apakah permasalahan tersebut penting
adalah apabila menyangkut kepentingan
umum yang kriterianya ditetapkan di dalam
Produk Diskresi
Ketika Diskresi dituangkan dalam bentuk tertulis, maka akan melahirkan
peraturan kebijakan
, yakniperaturan umum yang dikeluarkan oleh instansi
pemerintahan berkenaan dengan pelaksanaan wewenang pemerintahan terhadap warga negara atau terhadap instansi
pemerintahan lainnya.
Dasar Hukum Peraturan
Kebijakan sebagai Produk
Diskresi
Sifatnya sebagai pelengkap dan kebebasan
bertindak dalam konteks administrasi negara
menjadikan peraturan kebijakan
tidak
memiliki dasar hukum yang tegas
dalam UUD dan peraturan
perundang-undangan lainnya baik langsung maupun tidak
langsung.
AUPB sebagai
Salah Satu Batasan Diskresi
Kebijakan pemerintah akan dikategorikan
sebagai kebijakan yang menyimpang serta
penyalahgunaan wewenang (detournement de
pouvoir) apabila kebijakan tersebut
mengandung unsur sewenang-wenang
(willekeur)dan bertentangan dengan
kepentingan umum.
Diskresi akan diuji setidaknya dengan asas:
1. Asas spesialitas
untuk menentukan apakah
wewenang tersebut diberikan untuk tujuan
tertentu; dan
2. Asas rasionalitas
untuk menguji kepatutan
dan kepantasan penerapan kebijakan.
RUANG LINGKUP DISKRESI
Pasal 23 UU AP
Diskresi Pejabat Pemerintahan meliputi:
a. pengambilan
Keputusan
dan/atau
Tindakan
berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang memberikan
suatu pilihan Keputusan dan/atau Tindakan;
RUANG LINGKUP DISKRESI
Pasal 23 UU AP
Diskresi Pejabat Pemerintahan meliputi:
b. pengambilan Keputusan dan/atau Tindakan karena peraturan
perundang-undangan tidak mengatur;
PENJELASAN
RUANG LINGKUP DISKRESI
Pasal 23 UU AP
Diskresi Pejabat Pemerintahan meliputi:
c. pengambilan Keputusan dan/atau Tindakan karena peraturan
perundang-undangan tidak lengkap atau tidak jelas;
RUANG LINGKUP DISKRESI
Pasal 23 UU AP
Diskresi Pejabat Pemerintahan meliputi:
d. pengambilan Keputusan dan/atau Tindakan karena adanya
stagnasi pemerintahan guna kepentingan yang lebih luas.
PENJELASAN
1. Sesuai dengan tujuan diskresi;
2. Tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
3. Sesuai dengan AUPB;
4. Berdasarkan alasan-alasan yang objektif;
5. Tidak menimbulkan konflik kepentingan;
dan
6. dilakukan dengan iktikad baik.
Persyaratan Diskresi
Perubahan syarat-syarat Diskresi
dalam UU Cipta Kerja
Pasal 165 UU Cipta Kerja
“Pejabat Pemerintahan yang menggunakan Diskresi harus memenuhi syarat:
a. Sesuai dengan tujuan diskresi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2)’
b. Sesuai dengan AUPB;
c. Berdasarkan alas an-alas an yang objektif;
d. Tidak menimbulkan konflik kepentingan; dan e. Dilakukan dengan iktikad baik
Perubahan Pasal 24 UU AP melalui Pasal 165 UU Cipta Kerja terkait syarat
diskresi telah
mengubah konsep diskresi
dan berpotensi
mengakibatkan terjadinya penyalahgunaan wewenang diskresi dengan
dihapusnya syarat
tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan
Mengacu kepada UU Cipta Kerja yang mutakhir menjadi bahan diskusi oleh Pusat Studi Hukum dan Kebijakan
KETIKA PEJABAT
PEMERINTAHAN
MENGGUNAKAN DISKRESI,
NAMUN TIDAK SESUAI
PROSEDUR DAN
BATASAN-BATASAN YANG ADA, APAKAH
DAPAT DIKATAKAN SEBAGAI
DISKRESI YANG
MENYALAHGUNAKAN
WEWENANG?
Tiga parameter untuk mengukur apakah penggunaan
diskresi oleh pejabat pemerintahan sah atau tidak:
1.
Sesuai wewenang;
2.
Sesuai prosedur;
3.
Sesuai substansi.
Jika diskresi pejabat pemerintahan tidak sesuai dengan prosedur yang ada, hal itu dapat dijadikan alasan untuk menjadikannya tidak sah atau batal karena cacat prosedur.
Namun, apakah itu termasuk penyalahgunaan
wewenang?
4| Penilaian Kembali Pihak Utama
dan Diskresi
Tata Cara PKPU Empat Tahap
Berdasarkan POJK Nomor 34/2018
Penetapan dan penyampaian hasil sementara
penilaian kembali kepada Pihak Utama yang dinilai
kembali Klarifikasi bukti, data, dan/atau
informasi kepada
Pihak Utama yang dinilai kembali
Penetapan dan pemberitahuan hasil akhir penilaian
kembali kepada Pihak Utama yang dinilai kembali
Tanggapan dari Pihak Utama yang dinilai kembali
terhadap hasil sementara penilaian kembali
Pengecualian Tata Cara
PKPU Empat Tahap
Berdasarkan POJK Nomor 34/2018
Apabila pihak utama terbukti melakukan tindak pidana yang
telah diputus oleh
pengadilan dan mempunyai kekuatan hukum tetap
Apabila pihak utama terbukti dinyatakan pailit dan/atau menjadi pemegang saham, anggota direksi, anggota dewan komisaris, atau yang
Dapatkah OJK Melakukan PKPU
Satu Tahap dengan
Menggunakan Diskresi?
POJK 34/2018 hanya memberikan pilihan kepada OJK untuk melakukan PKPU satu tahap terhadap pemilik utama yang terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan atau terbukti dinyatakan pailit sebagaimana telah diatur dalam Pasal 7.
Terhadap pihak utama yang tidak memenuhi kualifikasi ketentuan di atas, maka OJK hanya dapat melakukan PKPU terhadap yang
bersangkutan melalui empat tahap
sebagaimana diatur dalam Pasal 6 POJK 34/2018.
Diskresi tidak dapat digunakan oleh OJK
untuk melakukan PKPU satu tahap
terhadap pihak utama yang tidak
memenuhi kualifikasi Pasal 7 POJK
34/2018 dikarenakan
peraturan tersebut
tidak memberikan pilihan kepada OJK
untuk melakukan hal demikian dan
materi muatannya telah mengatur
secara jelas dan tegas prosedur
pelaksanaan PKPU
.
Apa Implikasi Penggunaan
Diskresi dalam Pelaksanaan
Implikasinya adalah diskresi yang digunakan oleh OJK berpotensi tidak sah atau dapat dibatalkan. Meskipun dinyatakan tidak sah atau dibatalkan, OJK tetap memiliki kesempatan untuk melakukan PKPU ulang yang
pelaksanaannya sesuai dengan tahapan-tahapan yang diatur dalam POJK 34/2018.
Pada dasarnya perbuatan penilaian
kembali merupakan bagian dari
pengaturan dan pengawasan sektor jasa
keuangan yang merupakan kewenangan
OJK itu sendiri
.
Bagaimana Langkah OJK untuk
Menggunakan Diskresi?
3
Pengaturan ketentuan sedemikian rupasudah terlebih dahulu dimuat dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang menjadi dasar pejabat kepolisian untuk menggunakan suatu diskresi dalam keadaan tertentu.1
Merujuk kepada pedoman penggunaan diskresi, yakni UU AP, maka yang dapat dilakukan OJK agar dapat melaksanakan PKPU satu tahap melalui
diskresi adalah dengan melakukan revisi atas POJK 34/2018 dan menambahkan ketentuan baru sebagai materi muatannya.
4
Ketentuan tersebut nantinya akanmenjadi ketentuan peraturan perundang-undangan yang akan memberikan suatu pilihan diskresi yang dapat digunakan oleh OJKdengan tetap berpedoman pada UU AP dan peraturan
perundang-undangan lainnya.
2
Ketentuan tersebut dapat dimuat dalamPasal 7 huruf c POJK 34/2018 dengan contoh pengaturan sebagai berikut:“Untuk kepentingan umum pejabat OJK berdasarkan penilaiannya sendiri dapat melaksanakan PKPU tanpa melalui seluruh tahapan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (2)”