MANFAAT PENGGUNAAN M.anisopliae DALAM PENGENDALIAN HAMA PADA TANAMAN KELAPA
Oleh : Umiati,SP
Kelapa (Cocos nuciferaL.) merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat tanaman kelapa tidak saja terletak pada daging buahnya yang dapat diolah menjadi santan, kopra, dan minyak kelapa, tetapi seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai manfaat yang besar.Demikian besar manfaat tanaman kelapa sehingga ada yang menamakannya sebagai pohon kehidupan (Asnawi dan Darwis, 1985).
Tanaman kelapa umumnya mulai berbuah pada umur 4 tahun (kelapa genjah) atau 6 tahun (kelapa dalam).Waktu panen sepanjang tahun, tanpa mengenal musim.Pemanenan atau Pemetikan dilaksanakan sesuai dengan peruntukkan buahnya. Apabila buah untuk dijadikan minyak atau kopra, buah kelapa dipetik pada buah yang telah tua yaitu telah berumur 12-15 bulan dihitung sejak terjadinya penyerbukan atau sejak bunga kelapa mekar.Produktifitas kelapa di Indonesiapada tahun 2010 mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2009 (Buku statistik perkebunan tahun 2009 – 2011, Ditjenbun 2011).Penyebab penurunan produktifitas ini adalah sebagian besar petani belum menggunakan benih kelapa unggul, benih bina dan teknik budidaya yang belum sesuai anjuran pemerintah.
Kelapa banyak terdapat di Negara Asia yang menghasilkan 52.127.000 ton (85,32%) produksi dunia dalam bentuk kelapa segar dengan luas ±9.361.000 ha pada tahun 2008 (Sirait, 2013). Menurut Anonim (2010) Produksi kelapa Indonesia menduduki peringkat pertama kemudian disusul Filipina, India, Srilanka, dan Brazil.
Berdasarkan data Coconut Statistical Yearbook2009 Asean Pasific Coconut Community (APCC), total luas perkebunan kelapa Indonesia pada tahun 2009 mencapai 3,85 juta ha ataumencapai 31,6%dari total luas areal kelapa di dunia sekitar 12,17 juta ha dan sebagian besar merupakan perkebunan rakyat .
Data Coconut Statistical Year Book APCCtahun 2009 menunjukkan bahwa jumlah ekspor produk agroindustri kelapa Indonesia tidak stabil bahkan cenderung menurun, seperti minyak kelapa pada tahun 2006 mengalami penurunan jumlah ekspor sebanyak 226.186 ton yang sebelumnya 745.742 ton pada tahun 2005, kemudian naik kembali menjadi 739.923 ton pada tahun 2007 dan turun kembali sampai menjadi 270.311 ton pada tahun 2009 .
Penurunan produksi kelapa dipengaruhi umur tanaman yang terlalu tua, kondisi pertanaman yang rusak dan intensitas pemeliharaan rendah (Abdurrahman dan Anny, 2003)
Selain itu penurunan produksi kelapa juga disebabkan adanya serangan hama dan penyakit .Salah satu upaya untuk meningkatkan produktifitas kelapa yang paling efektif adalah melalui penggunaan bahan tanaman yang unggul, sehat dan bebas dari serangan hama penyakit.
Menurut Wiryosoehardjo dan Budiman (1985), hama penting yang menyerang tanaman kelapa meliputi 19 jenis serangga, 6 jenis vertebrata, dan 1 jenis nematoda.
Dari 19 jenis serangga tersebut,Oryctes rhinoceros atau yang biasa disebut dengan kumbang badakadalah salah satu hama penting yang ada pada pertanaman kelapa. Stadium O.rhinoceros yang mampu dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman kelapa adalah stadium imago,baik imago jantan maupun betina.Serangan imago O.rhinoceros tersebut dapat mengurangi hasil panen, mematikan bibit muda pada persemaian dan tanaman tua,serta merusak areal replanting (Bedford, 1980).
Pada tanaman kelapa dengan serangan ringan,O. rhinoceros menyebabkan tanaman - tanaman menunjukkan gejala daun seperti tergunting dan menyebabkan daya hasil menurun bahkan pada saat awal pertumbuhan generatif menyebabkan hasil produksi tertunda.Kumbang dewasa masuk ke dalam daerah titik tumbuh dan memakan bagian yang lunak.Bila serangan mengenai titik tumbuh, maka tanaman akan mati .
Menurut Anonim (2010) serangan O.rhinoceros dapat berlangsung sepanjang tahun dan populasinya dapat dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya tempat berkembang biak dari hama tersebut. Sistem peremajaan dengan menebang tanaman kelapa tua dan menggantidengan tanaman baru akan menimbulkan masalah hama O. rhinoceros karena tersedia tempat berkembang biaknya. Suatu populasi kumbang dalam tahap makan sebanyak 5 ekor perhektar dapat mematikan setengah dari tanaman kelapa yang baru ditanam.
Pengendalian kumbang badak secara konvensional dilakukan dengan cara pengambilan hama secara mekanik dan menggunakan insektisida kimiawi. Sejauh ini pengendalian hama tanaman yang dilakukan oleh para petani masih mengandalkan insektisida kimia
Petani umumnya menggunakan insektisida dengan frekuensi dan dosis yang tinggi. Hal ini mengakibatkan timbulnya dampak penggunaan pestisida seperti : gejala resistensi, resurjensi hama, terbunuhnya musuh alami, meningkatnya residu pada hasil, mencemari lingkungan dan gangguan kesehatan bagi pengguna. Secara hayati, pengendalian O. rhinoceros dapat dilakukan dengan menggunakan jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae (Untung,K., 2001).
Beberapa kelebihan pemanfaatan jamur entomopatogen dalam pengendalian hama ialah mempunyai kapasitas reproduksi yang tinggi, dapat membentuk spora yang tahan lama di alam walaupun dalam kondisi yang tidak menguntungkan, relatif aman, bersifat selektif,relatif mudah direproduksi, dan sangat kecil kemungkinan terjadi resistensi.
Pemanfaatan M. anisopliae untuk mengendalikan O. rhinoceros telah digunakan sejak 1913 (Bedford, 1980). Pemanfaatan M. anisopliae untuk mengendalikan O.rhinoceros sering dilakukan karena cukup efektif mematikan O.rhinoceros ,mudah diproduksi dan dikembangkan.M. anisopliae pernah dilaporkan dapat menginfeksi 200 spesies serangga dan penggunaan M. anisopliae direkomendasikan jika sudah diketahui tempat perkembangbiakan O. rhinoceros. Larva terinfeksi yang sudah mati ditumbuhi spora berwarna putih kemudian berubah warna menjadi hijau (green muscardine / green olive).
Kematian larva O.rhinoceros terjadi karena konidia jamur M. anisopliae mengandung destruxin A (C29H47O7N5), destruxin B (C25H42O6N4), destruxin C, D, E dan dipertimbangkan sebagai bahan aktif insektisida generasi baru.Efek destruxin berpengaruh pada organelasel target (mitokondria, endoplasm mikretikulum endoplasma, dan membrane inti),menyebabkan paralisis seldan berubahnya fungsi midgut, tebulus malphigi dan jaringan otot. Dijelaskan pula, destruxin yang dihasilkan M. anisopliae toksisitasnya berbeda tergantung dari jenis larva serangga . Sebelum direkomendasikan untuk digunakan sebagai agensia pengendalian hama dilapangan,potensi isolat jamur entomopatogen sebaiknya telah dikuantifikasi dengan cermat. Suatu patogen dapat diketahui berpotensi dengan menghitung besarnya daya infeksi pathogen tersebut terhadap inangnya.Daya infeksi merupakan banyaknya inang yang secara positif mati akibat pathogen tersebut. Inang dikatakan terinfeksi pathogen jika menunjukkan gejala khas penyakit yang ditimbulkan oleh pathogen tersebut .
Hal ini berhubungan dengan pentingnya mengetahui besarnya potensi berbagai isolat atau biakan M. anisopliae yang tersedia sebelum digunakan secara lebih luas di lapangan
Keuntungan penggunaan jamur M.anisopliae tersebut tidak merusak lingkungan, tidak berbahaya bagi hewan dan manusia, serta menurunkan tingkat serangan hingga 72 %. Pembiakan Jamur Metarhizium sp cukup mudah dan dapat dilakukan secara alami oleh orang-orang yang bekerja di bidang pertanian. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan Jamur Metarhizium sp adalah:
1. Mengumpulkan uret yang sehat dari lapangan. Uret yang dipakai adalah pada masa pertumbuhan uret ke 3 (ukuran uret besar).
2. Uret dimasukkan ke dalam ember berkapasitas 20 liter yang telah diisi tanah dan serbuk gergaji/kompos dengan perbandingan 1:1 kurang lebih ½ bagian ember. Ember kemudian ditutup.Setiap liter media, diisi sekitar 3 ekor uret sehat.
3. Tiga ekor uret mati terserang Jamur Metarhizium sp diiris kemudian dicampurkan ke media yang berisi uret yang sehat, atau juga dengan ditaburi beras yang sudah ditumbuhi Jamur Metarhizium sp. Uret yang awalnya sehat akan mati dalam waktu beberapa hari karena terinfeksi.
Uret yang mati dikumpulkan 2 kali seminggu dan disebarkan pada sarang-sarang hama. 1. Selanjutnnya, ember diisi lagi dengan uret yang sehat sebagai ganti uret yang mati dan
sudah ditumbuhi jamur.
2. Jika dalam ember terjadi penularan oleh mikroorganisme lain, media dalam ember dibuang, dicuci bersih, diisi dengan media yang baru lagi.
Cendawan Metharizium anisopliae
M. anisopliae adalah salah satu cendawan entomopatogen yang termasuk dalam devisi Deuteromycotina : Hyphomycetes. Cendawan ini biasa disebut dengan green muscardine fungus dan tersebar luas di seluruh dunia (Lee dan Hou 1989; Tanada dan Kaya 1993; Kanga et al. 2003;Strack 2003).
M. anisopliae telah lama digunakan sebagai agen hayati dan dapat menginfeksi beberapa jenis serangga, antara lain dari ordo Coleoptera, Lepidoptera, Homoptera, Hemiptera, dan Isoptera (Gabriel dan Riyanto 1989; Baehaki dan Noviyanti 1993; Strack 2003). Cendawan ini pertama kali digunakan untuk mengendalikan hama kumbang kelapa lebih dari 85 tahun yang lalu, dan sejak itu digunakan di beberapa Negara termasuk Indonesia (Gabriel dan Riyanto1989).
Pada awal pertumbuhan, koloni cendawan berwarna putih, kemudian berubah menjadi hijau gelap dengan bertambahnya umur.Koloni dapat tumbuh dengan cepat pada beberapa media seperti potato dextrose agar (PDA), jagung, dan beras (Prayogo dan Tengkano 2002). Miselium bersekat, diameter 1,98-2,97 µm, konidiofor tersusun tegak, berlapis, dan bercabang yang dipenuhi dengan konidia. Konidia bersel satu berwarna hialin, berbentuk bulat silinder dengan ukuran 9,94 x 3,96 µm. Cendawan ini bersifat parasit pada beberapa jenis serangga dan bersifat saprofit di dalam tanah dengan bertahan pada sisa-sisa tanaman (Barnett dan Hunter 1972; Alexopoulos dan Mims 1979).
Temperatur optimum untuk pertumbuhan M. anisopliae berkisar 22-27 (Roddam dan Rath 1997), walaupun beberapa laporan menyebutkan bahwa cendawan masih dapat tumbuh pada temperatur yang lebih dingin (Glare et al.1995; Luz et al. 1998; Bidochka et al.2000). Konidia akan membentuk kecambah pada kelembapan di atas 90% (Millstein et al. 1983), namun demikian Milner et al. (1997) melaporkan bahwa konidia akan berkecambah dengan baik dan patogenisitasnya meningkat bila kelembapan udara sangat tinggi hingga
100%. Patogenisitas cendawan M.anisopliae akan menurun apabila kelembapan udara di bawa 86%.(Hardaningsih 2001).
Gambar 1. Kumbang badak Gambar 2. Larva O. rhinoceros Sehat
Manfaat
Manfaat cendawan M. anisopliae dalam mengendalikan larva O. rhinoceros sudah terbukti baik, namun setiap kali dilakukan di lapang dalam jumlah luas, hasilnya kurang memuaskan.Hal ini tidak bisa dipisahkan dari asal inokulum dan cara penggunaannya di lapang (Sitepu, 1988).
Pengendalian
Usaha pengendalian hama O.rhinoceros secara hayati mengunakan cendawan M. anisopliae memberikan hasil yang cukup efektif Cendawan M. anisopliae mengendalikan larva/ uret O. rhinoceros dengan tingkat mortalitas 80 –90 % (Wikardi, 1983).
O.rhinoceros sasarannya adalah tempat perkembangbiakan hama tersebut berupa bahan organik, seperti: kotoran ternak, limbah penggergajian, sekam padi, sampah yang telah melapuk, tunggul kelapa, dan bahan organik yang lainnya.
Pengendalian penggunaan cendawan M. anisopliae sasarannya adalah sarang aktif. Namun, untuk mencari sarang aktif (bahan organik/sarang yang ditemukan individu stadia hama O.rhinoceros) tidak selalu mudah ditemukan, maka dalam penelitian ini perlu dibuat sarang buatan (trapping), sehingga perlu dikaji patogenisitas cendawan terhadap hama O. rhinoceros pada berbagai teknik aplikasi.
Aplikasi
Aplikasi M. anisopliae pada konsentrasi 20 g/kg media menunjukkan perubahan pergerakan lamban, nafsu makan berkurang, hampir seluruh tubuh larva berwarna coklat kehitaman. Hal ini diduga selain infeksi, O. rhinoceros juga mengalami proses melanisasi, sehingga larva lebih tahan oleh M. anisopliae
Diduga selain infeksi, Oryctes. rhinoceros juga mengalami proses melanisasi, sehingga larva lebih tahan oleh M.anisopliae.
Gejala yang sama terjadi pada konsentrasi 10 g dan 15 g/Kg media, tetapi dengan skala yang lebih sedikit. Menurut Boucias dan Pendland ( Dalam Susanti et al., 2013), perubahan warna hitam yang terjadi pada tubuh serangga disebabkan oleh proses melanisasi yang merupakan suatu bentuk pertahanan tubuh serangga melawan patogen. Aplikasi M. anisopliae pada konsentrasi inokulum M. anisopliae 5 g/Kg media, O. rhinoceros menunjukkan gejala perubahan yaitu pergerakan lamban, nafsu makan berkurang, larva terinfeksi sedikit pada bagian abdomen, dan diduga tidak mengalami melanisasi sehingga larva lebih cepat mati. Warna larva lebih putih, tubuhnya kaku, kemudian tumbuh miselium pada tubuh O. rhinoceros. Media lebih efektif membunuh O. rhinoceros dibandingkan konsentrasi inokulum M.anisopliae 5 g/Kg media.
Gambar.3 Larva O. rhinoceros terinfeksi Metharizium anisopliae
Kesimpulan
1. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktifitas kelapa yang paling efektif adalah melalui penggunaan bahan tanaman yang unggul, sehat dan bebas dari serangan hama penyakit.karena dengan adanya serangan penyakit dan hama tanaman kelapa,
khususnya kumbang kelapa yang menyerang dan merusak daun kelapa akan mengakibatkan produksi kelapa menjadi tidak optimal.
2. Serangan hama dan penyakit kelapa dapat berkembang dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain : Keadaan iklim, tidak cukup tersedia musuh alami, hama yang baru masuk dari daerah lain, banyak terdapat tempat untuk berkembang biak buat hama dan kultivar kelapa yang rentan terhadap penyakit.
3. Hama penting yang menyerang tanaman kelapa adalah O.rhinoceres(Kwangwung) menyerang pelepah daun muda yang belum terbuka , bekas gerekan daun seperti di gunting rapih setelah pelepah daun terbuka, bertelur di sampah, kotoran hewan, tumpukan kompos, batang kelapa dan bahan organik lain. Sedangkan salah satu upaya pengendalian kumbang kelapa adalah dengan menggunakan musuh alami yaitu Jamur Metarhizium sp. Penggunaan jamur tersebut tidak merusak lingkungan, tidak berbahaya bagi hewan dan manusia, serta menurunkan tingkat serangan hingga 72 %.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman dan Anny M. 2003. Pemanfaatan lahan berpotensi untuk pengembangan produksi kelapa. Jurnal Litbang Pertanian 1: 24-32
Anonim. 2010. Solanum torvum Sw. http://www.flora.sa.gov.au. Diakses tanggal 30 Mei 2013.
Asnawi, S. dan S.N. Darwis. 1985. Prospek Ekonomi Tanaman Kelapa dan di Masalahnya Indonesia.. Balai Penelitian Kelapa, Manado. Terbitan Khusus 1985 . hal 6.
Barnett, H.L. and B.B. Hunter. 1972. Illustrated Genera of Imperfect Fungi. 3 ed. Burgess Publishing Company, Minneapolis, Minnesota.241 pp.
Bedford, G.C., 1980. Biologi, Ekologi, and Control Of Palm Hama Tanaman Sagu. Ann. Entomol. 25:309-339
Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2011a. Menteri Pertanian: peranan perkebunan tetap penting, Direktorat Jenderal Perkebunan. http://www. ditjenbun. deptan.go.id[diakses 9 Januari 2011.
Lee, P.C. and R. Hou. 1989. Pathogenesis ofMetarhizium anisopliae var. anisopliae in the smaller brown planthopper, laodelphaxstriatellus. Chinese J. Entomol. (9): 13−19.http://www.entsoc.org.tw/english/journal/9vol/nol/2.htm. [20 December 2003] Gabriel, B.P. dan Riyanto. 1989. Metarhizium anisopliae (Metsch.) Sor.Taksonomi,patologi,
produksi, dan aplikasinya. Proyek Pengembangan Perlindungan Tanaman Perkebunan,Departemen Pertanian, Jakarta. 25hlm.
Glare, T.R., R.J. Townsend, and S.D. Young.1995. Temperature limitations on field effectiveness of Metarhizium anisopliae against Costelytra zealandica (White) (Coleoptera: Scarabidae) in Canterbury. The New Zealand Plant Protection Society Incorporated http://www.hornet.co.nz/publi- cations/nzpps/proceeding/94/94 266. Htm [20 December 2003..
Prayogo y,Tengkano w 2002.Pengaruh Media Tumbuh Terhadap Daya Kecambah ,Sperulasi Virulensi Metarhizium anisopliae ( Metchnikoff )Sorokoi Isolate Kendal Payak Pada Larva Spodoptera litura. Jurnal Ilmiah Saintes 9:233-241.
Sitepu, D., 1988, Pengendalian Hama Oryctes dengan Jamur Metarhizium. Efektivitas, Pembiakan dan Penyebaran M. Anisopliae di Laboratorium Lapangan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur.12hal
Hardaningsih, S. 2001. Identifikasi ras jamur entomophaga. Hasil Penelitian Komponen Teknologi Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang. hlm. 53−59
Milner, R.J., J.A. Staples, and G.G. Lutton. 1997.The effect of humidity on germination andinfection of termites by the hyphomycete,Metarhizium anisopliae. J. Inverterbr. Pathol.(69): 64−69.
Millstein, J.A., G.C. Brown, and G.L. Nordin.1983. Microclimatic moisture and
conidial production in Erynia sp.(Entomophthorales:Entomophthoraceae): In vivo moisturebalance and conidiation phenology.Environ. Entomol. 12: 1339-1343
Untung, K., 2001. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada Uiversity Press, Yokyakarta
Wiryosoehardjo, S. & A. Budiman. 1985. Situasi Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa di Indonesia. Prosiding Seminar Proteksi Tanaman Kelapa. Puslitbangtri. Seri Pengembangan (3): 1988.