• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Perkembangan dan Penyebaran Vegetasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Perkembangan dan Penyebaran Vegetasi"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Perkembangan dan Penyebaran Vegetasi

Pertumbuhan vegetasi (dan penyebarannya) akan dipengaruhi banyak faktor tempat tumbuh, diantaranya ketersediaan hara, cahaya, air, dsb. Eksistensi dan penampilan suatu tumbuhan di suatu tempat ditentukan oleh faktor tempat tumbuh yang keberadaannya pada kondisi yang paling buruk. Jadi, walaupun misalnya ketesediaan hara dan air adalah baik, tapi kalau ketersediaan cahaya adalah sangat buruk (dibawah taraf minimum tertentu) maka tumbuhan tersebut tidak akan bisa mempertahankan eksistensinya, seperti yang dikemukakan dalam hukum minimum dari Justus Von Liebig (dikutip dalam Brady, 1974). Selanjutnya bila semua faktor faktor tempat tumbuh telah berada diatas taraf ketersediaan minimumnya, barulah parameter parameter pertumbuhan tanaman (biomassa tanaman, dan ukuran kwantitatif lainnya dari tanaman) diharapkan berkorelasi dengan faktor faktor tempat tumbuh.

Menurut O’Hare (1994), upaya untuk menjelaskan asal usul suatu sebaran vegetasi dan komposisi spesies yang ada di dalamnya, adalah relatif sulit karena keberadaan vegetasi dipengaruhi banyak faktor yang sebagian besar diantaranya hanya bisa diduga, karena memang tidak diketahui, atau karena faktor tersebut muncul karena aspek peluang (chance). Meskipun demikian, ada empat aspek yang bisa membantu memahami mengapa suatu tipe vegetasi tertentu, berada di tempat tertentu, yaitu (O’Hare 1994):

(a) Kedatangan spesies baru.

Spesies yang ditemukan di suatu tempat , harus datang dari tempat lain sebagai benih, spora, dsb. Kedatangan tumbuhan dipengaruhi oleh faktor faktor seperti kemampuan tumbuhan untuk menyebar atau melakukan dispersal, jarak yang ditempuh, arah angin, dan waktu yang tersedia untuk transportasi.

(2)

(b) Faktor lingkungan eksternal.

Supaya bisa hidup terus dan mapan, spesies yang datang harus beradaptasi atau mampu mentolerir empat kelompok faktor lingkungan eksternal berikut ini:

1) Faktor iklim: misalnya cahaya, temperatur, curah hujan, kelembaban, angin, dan arah lereng.

2) Tanah atau faktor edafik: misalnya kedalaman tanah dan tekstur, sifat kimia tanah, dan suplai hara.

3) Faktor hidrologis: tipe dan distribusi air (air dan uap air) di atmosfir dan tanah.

4) Faktor biotik: efek biotik dari pemangsaan atau penginjakan oleh hewan, serta dari kegiatan manusia.

(c) Kompetisi internal.

Spesies tanaman yang ditemukan disuatu tempat, harus mampu mentolerir keberadaan tumbuhan lain. Dengan berjalannya waktu, spesies yang ada, beradaptasi terhadap tekanan biologis dari spesies tetangganya, yang bersaing untuk memperoleh cahaya, ruang dan sumberdaya lain.

(d). Waktu.

Pada suatu habitat tertentu, vegetasi akan berubah menurut waktu, sehingga komunitas vegetasi yang masih muda akan berbeda dengan komunitas yang lebih tua di wilayah yang sama.

2. Saninten (Castanopsis argentea ) 2.1. Kegunaan Saninten

Kayu saninten sering juga diperdagangkan dengan istilah berangan. Istilah berangan dalam perdagangan kayu mencakup juga kayu dari marga Lithocarpus spp, dan Quercus spp yang bersama dengan saninten termasuk famili Fagaceae. Kulit kayu (pepagan ) dan kulit buahnya dapat dipakai sebagai penghitam rotan yang telah dikupas ( Prosea, 1995 ).

(3)

Disamping kayunya, saninten menghasilkan buah yang sering diperdagangkan secara lokal. Buah saninten dimakan mentah, direbus, atau dipanggang, atau digunakan sebagai pencampur kue coklat ( Prosea, 1995).

2.2. Sifat Botani Saninten

Pohon saninten memiliki daun tunggal berseling, berbentuk ellips atau memanjang, panjang daun 7.5 – 21 cm. Warna daun putih keperakan dan mengkilap pada permukaan bawahnya, tulang daun sekunder 8 – 12 pada tiap sisinya ( Backer, 1965 ).

Saninten berbuah hampir sepanjang tahun, terutama antara bulan Nopember sampai Pebruari ( Martawijaya et al., 1986 ). Buah saninten bertangkai seperti buah rambutan, berkelompok, dan pada masing- masing buah, dinding luarnya ditutupi oleh duri-duri yang tumbuh berkelompok, ramping, tajam dan berkayu (Prawira, 1990 ). Diameter buah berkisar 2 – 3 cm, berwarna hijau muda kekuning – kuningan. Penampilan saninten (daun, bunga dan buah) dapat dilihat pada Gambar 2.

(4)

2.3. Penyebaran Alami Saninten (C. argentea)

C. argentea ditemukan di hutan primer atau sekunder tua, biasanya pada tanah kering yang subur, pada ketinggian 150 – 1750 m dpl. Di tempat–tempat tertentu di Jawa, spesies ini adalah dominan (Prosea, 1995 ).

C. argentea tersebar mulai dari bagian barat Indonesia, hingga ke bagian timur, tapi hanya sampai ke Jawa Tengah. Dalam hal ini C.argentea hanya dijumpai secara alami di Sumatra dan Jawa . Umumnya saninten dijumpai pada ketinggian 200 – 1600 meter diatas permukaan laut ( Heyne, 1987 )

3. Hubungan antara Penyebaran Vegetasi dan Sifat Sifat Tanah

Tanah merupakan akibat dari transformasi in situ lapisan teratas dari litosfir (Zech, 1993). Transformasi tersebut dipengaruhi oleh input dari atmosfir yang mencakup presipitasi, gas (CO2, SO2, NOx), partikel inorganik dan organik, aerosol,

radiasi dan organisme. Zona transformasi pada litosfir tersebut, disebut pedosfir (Zech, 1993).

Tanah terdiri dari bahan padatan inorganik (yang terbentuk dari batuan induk yang melapuk), bahan padatan organik (yang terbentuk dari jaringan tanaman/hewan yang mati dan melapuk), udara dan air. Tanah yang subur dicirikan oleh adanya kombinasi yang optimal antara bahan padatan, cair dan gas tersebut (Zech, 1993). Tanah yang subur mamp u mensuplai tanaman dengan hara (misalnya N dan S dari bahan organik, K dan Ca dari bahan padatan mineral), air dan oksigen (untuk respirasi akar) dalam jumlah dan komposisi yang optimum untuk menghasilkan biomassa. Meskipun demikian, kebutuhan tanaman sangat bervariasi, dan tanah sendiri bisa berubah menurut waktu, dalam hal ketersediaan hara, neraca air dan sebagainya.

Tanah berubah sebagai fungsi dari lingkungan. Menurut Jenny (1941, dalam Zech, 1993), tanah atau sifat sifat tanah, mengikuti persamaan (fungsi) berikut:

Tanah (sifat tanah) = f (bahan induk, iklim, topografi, organisme, waktu). Organisme utama yang tercakup dalam persamaan diatas adalah vegetasi. Antara

(5)

vegetasi, tanah dan faktor lingkungan lain, terjadi interaksi, misalnya faktor ik lim tertentu mempengaruhi sifat tanah tertentu. Kemudian sifat tanah tertentu ini menyebabkan munculnya vegetasi yang spesifik. Kemudian vegetasi yang spesifik ini memunculkan sifat sifat tertentu yang lain lagi pada tanah tersebut (Wambeke, 1992), seperti misalnya fenomena kemampuan tumbuhan mangrove Avicennia sp (lahan basah) yang akarnya mampu mengoksidasi daerah rizosfirnya (Nickerson dan Thibodeau, 1985; dalam Sherman, et. al., 1998). Pola pengaruh tumbuhan terhadap sifat tanah, juga dilaporkan ole h Vinton dan Burke (1997) dari penelitiannya di padang padang rumput Amerika Serikat dimana untuk daerah kering, penutupan oleh tumbuhan (hadir tidaknya suatu individu tumbuhan) lebih penting daripada komposisi spesies, dalam menjelaskan keragaman sifat tanah. Dilain pihak, untuk daerah yang lebih basah, komposisi spesies tumbuhan, lebih penting daripada penutupan oleh tumbuhan, dalam menjelaskan keragaman sifat sifat tanah. Daerah yang lebih basah tersebut, mempunyai penutupan tumbuhan yang lebih kontinu, yang menyebabkan lebih kecilnya variasi C dan N tanah yang disebabkan oleh penutupan tumbuhan, dibanding yang di daerah kering yang mempunyai tempat tempat tertentu yang tak tertutup tumbuhan. Disamping itu, spesies tumbuhan di daerah yang lebih basah juga punya kandungan C dan N yang lebih tinggi dan lebih bervariasi dibanding yang di daerah kering (Vinton dan Burke, 1997).

Di lain pihak, tumbuhan juga beradaptasi dengan sifat tanah tertentu. Sebagai misal, dalam adaptasi tumbuhan terhadap kandungan yang tinggi dari aluminium yang dapat dipertukarkan pada tanah, sebagian tumbuhan mengakumulasi aluminium tersebut pada jaringan tubuhnya, sedang sebagian tumbuhan lain menolaknya (Webb, 1954; Mc Cormick and Steiner, 1978; Haridasan, 1982; dalam Szott et. al., 1991). Adaptasi yang penting dari tumbuhan terhadap ketersediaan hara yang rendah adalah misalnya laju pertumbuhan yang lambat, kebutuhan yang rendah terhadap hara, usaha mempertahankan biomassa akar yang relatif lebih besar dibanding jaringan tanaman lainnya, akumulasi cadangan hara pada jaringan tanaman selama periode ketersediaan hara yang tinggi, pengurangan kehilangan hara melalui sclerophylly, atau retranslokasi hara sebelum jatuhnya serasah, dan proses rizosfir

(6)

yang meningkatkan ketersediaan hara (Chapin, 1980; Vitousek, 1982; Clarkson, 1985; Chajim et. al., 1986; Cuevas and Medina, 1986; Vitousek and Standford, 1987; dalam Szott et.al., 1991).

Bentuk lahan (land form) cukup banyak menentukan tipe vegetasi. Sebagai misal, data yang menunjukkan bahwa jenis pohon tertentu di hutan alam, ditemukan hanya pada lereng, menunjukkan preferensi jenis tersebut terhadap air tanah yang bergerak. Jenis yang tumbuh di lembah, tapi tidak tumbuh di punggung bukit, mungkin merupakan spesies yang peka terhadap tanah kering atau lebih banyak memerlukan hara dibanding jenis yang tumbuh di punggung bukit (Jacobs, 1981). Korelasi antara besarnya biomas vegetasi hutan dengan kesuburan tanah, cenderung erat, bila tanahnya muda (misalnya pada tanah alluvial yang baru atau endapan volkanik muda), dalam arti biomassa hutan yang besar cenderung menunjukkan tanah yang subur. Untuk tanah tua dan hutan yang klimaks, biomassa hutan yang besar belum tentu menunjukkan kesuburan yang tinggi (Jacobs, 1981).

Ashton (1976b; dalam Jacobs, 1981) mengamati di hutan hujan tropika Kalimantan bagian barat laut, bahwa keragaman floristik tertinggi ditemukan dimana kandungan fosfor tanah berkisar antara 40 sampai 150 ppm. Dibawah atau diatas kisaran itu, keragaman floristik menurun. Keterkaitan antara keragaman spesies tumbuhan dengan sifat sifat tanah nampaknya sangat spesifik untuk tiap wilayah. Dalam hal ini, El Ghani (1998) dalam penelitiannya di gurun yang arid di Mesir, melaporkan bahwa tekstur tanah, kadar karbon organik tanah dan kadar air tanah, terkait dengan keragaman spesies yang tinggi, sedang keragaman spesies yang rendah, terkait dengan salinitas yang tinggi serta kadar kalsium karbonat yang tinggi. Dilain pihak, dalam suatu ekosistem batuan granit (dengan tanah tanah autokhton yang dangkal) di Swedia, Tyler (1996) melaporkan bahwa keragaman spesies tumbuhan terkait dengan kedalaman tanah.

Di habitat habitat vegetasi yang ekstrim, seperti gurun (iklim kering), tanah bersalinitas tinggi, dan tanah pasir, hubungan (korelasi) antara sifat sifat tanah dan penyebaran vegetasi, nampaknya cukup erat, seperti juga di habitat yang tidak ekstrim (tanah berdrainase baik, iklim yang bersifat mesik, dan sebagainya) (Franco

(7)

Vizcaino et. al., 1993; Toth et.al., 1995; Nornberg et.al., 1993; Bunyavejchewin, 1983). Meskipun demikian, mengingat adanya fenomena hukum minimum Justus Von Liebig, pada habitat yang ekstrim tersebut diduga korelasi antara sifat tanah dan vegetasi, lebih erat, dibanding pada habitat yang tidak ekstrim. Dugaan ini didukung oleh laporan dari Danin (1978; dalam Abd. El Ghani, 1998) yang menyatakan bahwa pada daerah gurun, keragaman edafis (sifat sifat tanah) mempengaruhi keanekaragaman spesies, lebih banyak dibanding keragaman iklim.

4. Beberapa Sifat Tanah yang Digunakan untuk Evaluasi Kesesuaian Lahan. Meskipun tumbuhan dapat dibesarkan sampai menjadi dewasa dalam media non tanah, seperti larutan hara yang diaerasi, tapi hampir semua tumbuhan darat, tumbuh di tanah. Tanah mampu memenuhi kebutuhan tanaman akan hal hal berikut ini (Wild, 1995):

a. Penjangkaran akar tanaman. b. Pasokan air.

c. Pasokan udara, terutama oksigen. d. Pasokan hara mineral.

e. Efek menyangga/meredam (buffer) terhadap perubahan temperatur dan pH yang bersifat merugikan tumbuhan.

Nampaknya, untuk fungsi a) dan e) seperti yang disebut sebelum ini, tanah lebih unggul dibanding media media yang lainnya.

Tanah jarang memberikan kondisi yang ideal bagi tumbuhan. Untuk tanaman budidaya, sifat tanah biasanya diubah untuk memperoleh panen yang baik, dan sebagian besar tanaman budidaya telah mengalami seleksi dan domestikasi untuk produksi yang tinggi di tanah subur. Sebaliknya, tumbuhan lain telah teradaptasi dengan kondisi lokal, misalnya suplai air, oksigen dan hara yang rendah; pH yang ekstrim, genangan air; konsentrasi yang tinggi dari unsur unsur toksik; persaingan dari tumbuhan lain; dan penjangkaran yang lemah bagi akar tumbuhan.

Pada tanaman budidaya, produksi tanaman (panenan) dan penampilannya diusahakan oleh para ahli untuk dikorelasikan dengan kondisi tanah. Semua sifat

(8)

tanah yang dikemukakan dalam hasil survey tanah serta sifat sifat yang dikwantifikasi di laboratoriun adalah penting untuk meramalkan penampilan tanaman. Prosedur (metode) analisis laboratorium untuk sifat sifat tanah tertentu, terutama ketersediaan hara tertentu bagi tanaman adalah suatu simulasi terhadap proses ekstraksi hara oleh tanaman. Metode metode ini, untuk hara tertentu bisa bermacam macam dan perlu dipilih salah satu yang korelasinya paling erat dengan penampilan tanaman di lapangan. Sifat (peubah) tanah tertentu juga berkorelasi dengan sifat (peubah) tanah yang lain, misalnya pH berkorelasi dengan kejenuhan basa ; dan kadar bahan organik berkorelasi dengan Kapasitas Tukar Kation, dan sebagainya.

4.1. Nilai pH Tanah.

Salah satu sifat kimia tanah yang paling mudah diukur dan banyak mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah pH tanah atau reaksi tanah, yang merupakan indikator keasaman atau kebasaan tanah. Secara kimia, pH adalah ekspresi dari aktifitas ion H (H+). Sifat sifat tanah lain yang sering berkorelasi dengan pH adalah antara lain, kejenuhan basa, ketersediaan berbagai unsur hara, Kapasitas Tukar Kation, aktifitas mikroba tanah, dll.

Pengukuran pH NaF sering digunakan untuk menaksir kandungan mineral mineral amorf tertentu yang banyak ditemukan di tanah tanah Andosol. Tanah tanah Andosol sendiri merupakan tanah tanah yang banyak ditemukan di daerah pegunungan yang merupakan daerah penyebaran C. argentea. Mineral mineral amorf tersebut, umumnya mempunyai fiksasi yang besar terhadap Fosfor (P). Karena itu nilai pH NaF merupakan salah satu karakteristik lahan yang diharapkan berkorelasi dengan sifat retensi Pospor (Gilkes and Hughes, 1994).

4.2 Kadar Bahan Organik Tanah.

Jumlah bahan organik dalam tanah tergantung pada laju input bahan organik (per satuan waktu) dan laju dekomposisi. Laju dekomposisi paling tinggi ditemukan di daerah iklim lembab yang basah. Kadar bahan organik terbesar, ditemukan di tanah

(9)

padang rumput daerah temperate (dimana terdapat input yang tinggi dan laju dekomposisi yang lambat) dan bukan di tanah hutan hujan tropika (Rowell, 1994). Kadar bahan organik mempengaruhi penyebaran tumbuhan melalui efeknya terhadap sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Bahan organik punya fungsi nutrisi, dimana dia merupakan sumber N,P dan S untuk pertumbuhan tanaman; punya fungsi biologis dimana dia banyak mempengaruhi aktifitas mikroflora dan mikrofauna; dan juga punya fungsi fisik dimana dia membantu pembentukan struktur tanah yang baik, yang kemudian memperbaiki keterolahan tanah (tilth), aerasi dan retensi air (Stevenson, 1982).

Dekomposisi sisa sisa tanaman dan hewan di tanah merupakan proses biologi dimana karbon (C) mengalami resirkulasi di atmosfir sebagai CO2, nitrogen dibuat

menjadi tersedia bagi tanaman sebagai amonium (NH4+) dan nitrat (NO3-), serta juga

berbagai unsur lain menjadi tersedia bagi tanaman. Dalam proses tersebut, sebagian C diasumsikan menjadi jaringan mikroba tanah (biomassa) dan sebagian dikonversi menjadi humus yang stabil. Pada saat yang bersamaan, sebagian humus mengalami mineralisasi. Karena itu kandungan bahan organik total di tanah adalah relatif konstan karena sudah berada dalam keadaan kesetimbangan dengan ekosistemnya (vegetasi, iklim, jenis tanaman budidaya, dsb) dan perlakuan manajemen terhadap tanah tersebut (Stevenson, 1982). Untuk merubah kadar bahan organik tanah secara permanen, tidak bisa hanya dengan sekedar menambah sisa sisa tumbuhan/hewan, ke dalam ekosistem, tapi juga harus merubah ekosistemnya dan tipe manajemen terhadap lahan tersebut (misal dari tanaman setahun monokultur menjadi tanaman tumpangsari agrokehutanan), atau dibiarkan mengalami suksesi menjadi hutan (Stevenson, 1982).

Metoda standar penentuan kadar bahan organik tanah adalah cara tak langsung, dimana C dalam bahan organik dioksidasi menjadi CO2 dan asam organik. Jumlah bahan oksidator yang terpakai, diukur, dan berat C tersebut ditentukan. Dalam analisis ini, yang diperoleh adalah kadar C organik tanah (dalam %). Karena bahan organik tanah secara rata rata mengandung 58 % C organik, maka hasil analisa yang menunjukkan kadar C organik, perlu dikalikan dengan 1.72 untuk memperoleh kadar

(10)

bahan organik tanah (McRae, 1988). Prosedur yang lazim untuk penentuan kadar C organik tanah adalah oksidasi basah (metoda Walkley- Black).

Kandungan bahan organik tanah dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya tekstur tanah. Bila faktor faktor lain sama, maka tanah betekstur halus cenderung mempunyai kadar bahan organik yang lebih tinggi dibanding yang bertekstur kasar. Ini disebakan karena fiksasi bahan humik dalam bentuk kompleks organomineral berperan melindungi bahan organik (Stevenson, 1982).

4.3. Tekstur Tanah.

Tekstur tanah mempengaruhi penyebaran tumbuhan melalui efeknya terhadap banyak sifat tanah yang lain, terutama yang berkaitan dengan retensi hara dan air. Tekstur tanah adalah proporsi relatif dari partikel pasir, debu dan liat di dalam tanah, yang mana ketiga jenis partikel tersebut adalah komponen inorganik (mineral) dari tanah. Ketiga jenis (kelas) partikel tersebut dibedakan berdasarkan ukuran diameternya berdasarkan standar tertentu, yang menurut standar Soil Taxonomy USDA (1998) adalah sebagai berikut:

1) Pasir : diameter 0.05 – 2.00 mm 2) Debu: diamater 0.002 – 0.05 mm 3) Liat: diameter < 0.002 mm.

Masing masing butir pasir, debu, atau liat tersebut disebut partikel primer.

Tekstur tanah adalah salah satu sifat fisik tanah yang penting karena mempengaruhi banyak sifat sifat tanah yang lain dan kemudian juga mempengaruhi tumbuhan. Peranan tekstur adalah dalam hal (O’Hare, 1988):

a) Ketersediaan air dan areasi tanah. b) Retensi hara.

c) Kemudahan pengolahan tanah dan penetrasi akar.

Di lapangan, partikel partikel primer yang disebut sebelum ini, sebagian bisa tersemen satu sama lain oleh bahan penyemen tertentu, misalnya beberapa butir debu tersemen menjadi seolah olah satu butir pasir, dan disebut pseudosand (pasir semu),

(11)

atau sekumpulan partikel liat tersemen menjadi seolah olah satu butir debu dan menjadi pseudosilt (debu semu).

Penentuan tekstur tanah disebut juga Analisis Ukuran Partikel. Perlakuan pendahuluan terhadap tanah sebelum analisis ini adalah penghancuran bahan bahan yang menyemen partikel partikel tanah seperti yang disebut sebelum ini, sehingga partikel partikel primer tersebut terdispersi secara sempurna atau maksimum. Perlakuan pendahuluan juga bertujuan agar dispersi ini tetap dipertahankan ketika analisis berlangsung (Baver et. al., 1972). Bahan penyemen yang dihancurkan ini bisa berupa bahan organik, seskuioksida, kalsium karbonat, dan lain lain (Van Reeuwijk, 1986).

Menurut Van Reeuwijk (1986) perlakuan penghancuran bahan penyemen masih perlu diperdebatkan perlu-tidaknya, karena pada kenyataan di lapangan, yang secara aktual mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah partikel partikel primer yang kadang kadang sebagian diantaranya tersemen satu sama lain oleh bahan penyemen dan membentuk susunan pori, struktur, retensi air, retensi hara, dan lain lain yang secara aktual mempengaruhi tanaman.

Bila penghancuran bahan penyemen dilakukan sebelum analisis tekstur tanah di laboratorium, maka tekstur tanah yang diperoleh bisa lebih halus dibanding yang dirasakan dengan perabaan di lapangan, untuk tanah tanah tertentu, misalnya yang banyak mengandung seskuioksida (Junaedi A. Rahim, Komunikasi Pribadi).

Karena hal hal tesebut, Van Reeuwijk (1986) menyarankan bahwa perlakuan pendahuluan untuk dispersi, bersifat tidak mutlak untuk dilakukan (opsional).

4.4. Kelas Drainase Tanah.

Drainase tanah terkait dengan ketersediaan oksigen di tanah untuk keperluan perakaran tanaman. Oksigen yang diperlukan akar tanaman tersedia di pori pori tanah. Pori tanah bisa diisi oleh dua kemungkinan, yaitu udara atau air. Karena itu, drainase tanah juga terkait dengan kecepatan hilangnya air dari tanah, terutama melalui aliran permukaan dan aliran didalam tanah. Akar punya lubang yang disebut lentisel yang memungkinkan pertukaran gas antara akar dengan sekelilingnya.

(12)

Oksigen berdifusi ke sel sel akar dan digunakan untuk respirasi, sedang CO2 berdifusi

menuju ke tanah.

Tanah yang berdrainase baik punya banyak pori yang berisi udara, dan terletak pada posisi dimana tanah tak pernah jenuh air. Tanah yang berdrainase buruk biasanya terletak pada posisi dimana tanahnya sering jenuh air, sehingga pori pori lebih banyak terisi air.

Tiap tanah punya sifat drainase alami yang diklasifikasikan menjadi kelas kelas drainase misalnya sebagai berikut ini (CSR/FAO staff, 1983): cepat, agak cepat, baik, agak baik, agak buruk, buruk, dan sangat buruk. Bila tanah berdrainase buruk, maka (Foth dan Turk, 1972):

1) Kedalaman perakaran berkurang.

2) Warna tanah dengan bercak bercak terdapat dekat dengan lapisan tanah atas. 3) Warna tanah lapisan bawah berubah dari coklat terang (kuning terang atau

merah terang) menjadi abu abu dengan bercak bercak karatan besi.

Sifat morfologi tanah seperti tersebut diatas seringkali bisa dijadikan indikator yang bisa diandalkan untuk menaksir kelas drainase alami dari tanah tersebut, (kecuali di tanah tanah yang masih sangat muda) dan pengamatan ini bisa dilakukan sepanjang tahun, dalam keadaan kering ataupun basah (Foth dan Turk, 1972). Yang dimaksud bercak bercak (mottles) adalah penampakan yang warnanya cukup kontras dengan warna dasar tanah yang bersangkutan.

Warna tanah bisa memberi petunjuk penting mengenai komponen penyusun tanah, dan mengenai status oksidasi-reduksi suatu tanah, atau bagian bagian tertentu dari tanah yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena komponen komponen tanah yang sensitif terhadap oksidasi, seperti besi oksida bebas dan bahan organik terhumifikasi, sangat besar pengaruhnya terhadap warna tanah (Fanning and Fanning,

1989).

Pola warna tanah berkaitan diantaranya dengan proses gleisasi yang menunjukkan drainase tanah yang buruk. Pada proses gleisasi, besi mengalami reduksi dari Fe (III) menjadi Fe (II) karena suasana tanah yang basah, pada beberapa bagian atau seluruh bagian tanah. Pada proses ini, Fe (II) menjadi larut dan

(13)

umumnya tercuci atau bergerak pindah dalam profil tanah. Proses reduksi ini umumnya diikuti oleh proses oksidasi Fe (II) menjadi Fe (III) dan pengendapan besi oksida {istilah oksida disini dicetak miring karena mencakup hidroksida, oksihidroksida (seperti FeOOH), dan juga oksida sejati} di bagian lain dari tanah tersebut (Fanning dan Fanning, 1989). Proses proses tersebut cenderung memunculkan warna dengan chroma rendah (umumnya abu abu) pada bagian tana h dimana besinya telah pindah, dan warna dengan chroma tinggi (warna karat) dimana oksida tersebut terakumulasi. Komponen komponen tanah yang lain, seperti bahan organik, mangan oksida dan mineral mineral yang mengandung sulfur, juga sensitif terhadap kondisi oksidasi dan reduksi, dan bisa menimbulkan sifat sifat morfologi tanah yang disebabkan oleh fenomena gleisasi.

Gambar

Gambar 2.  Daun, bunga dan buah saninten (C. argentea)

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini akan berpengaruh terhadap populasi cacing tanah karena ketebalan serasah di atas tanah mempengaruhi suhu, kelembaban, kadar air tanah dan bahan organik tanah (Prijono

Bahan organik sisa tanaman juga merangsang pertumbuhan hewan dan tumbuhan kecil di dalam tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas proses penguraian zat hara tanah..

Dalam permentan, pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa tanaman dan/atau kotoran hewan yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair dan dapat

Menurut Soepardi (1983), sumber fosfor dalam tanah yang utama adalah (1) pupuk buatan, (2) pupuk organik, (3) sisa tanaman dan pupuk hijau dan (4) senyawa alamiah baik organik

Dengan pengolahan tanah kedua, tanah men- jadi gembur dan rata, tata air diperbaiki, sisa-sisa tanaman dan tumbuhan pengganggu dihancurkan dan di- campur dengan

Komposisi tumbuhan bawah menggambarkan susunan jenis tersebut dalam suatu ekosistem, untuk mengetahui nilai penting suatu jenis tumbuhan bahwa dapat diketahui dari indeks

Kompos merupakan istilah untuk pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa buangan makhluk hidup (tanaman maupun hewan) yang berperan

Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi bukan sekedar untuk menghentikan terjadinya perusakan sumberdaya hutan dan ekosistemnya saja, tetapi diarahkan