• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALAT TERAPI BLUE LIGHT MENGGUNAKAN SENSOR PIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ALAT TERAPI BLUE LIGHT MENGGUNAKAN SENSOR PIR"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

ALAT TERAPI BLUE LIGHT MENGGUNAKAN SENSOR PIR

Asriyani

Teknik Elektro, D-III Teknik Elektromedik, stikes manadala waluya kendari, indonesia 93231

Abstrak

[Alat Terapi Blue Light Menggunakan Sensor Pir]Lampu Terapi Blue Light merupakan alatkesehatan yang berfungsi untuk menurunkan kadar bilirubin pada bayi yang menderita penyakit kuning. Bilirubin yang di maksud disini yaitu adanya fungsi organ dalam tubuh yang belum berfungsi secara normal karena adanya ilfilter yang menyaring panjang gelombang sinar infra merah pasif. Pada sinar lampu Blue Light pada umumnya masih menggunakan tombol manual. Oleh karena itu telah dirancang simulasi lampu terapi secara otomatis. Tujuan dari pembuatan alat ini ini agar mempermudah perawat dalam melakukan terapi tanpa perlu melakukan setingan secara manualAlat ini didesain dengan menggunakan sensor yang akan mendeteksi keberadaan objek yang akan mengirim sinyal ke mikrokontroller dan memerintahkan relay untuk menyalakan lampu terapi secara otomatis dan melakukan terapi pada objek dengan waktu yang telah ditentukan. apabila telah selesai melakukan terapi pada objek, maka lampu blue light akan mati dengan sendrinya secara otomatis.Berdasarkan hasil dari pengujian alat terhadap 10 kali pengujian, diperoleh hasil yang yang sesuai dengan prinsip alat, dimana jarak antara objek dan sensor dekat maka nyala lampu akan cepat merespon, dan apabila jarak antara objek dan sensor semakin jauh maka nyala lampu juga akan lambat merespon ( lambat menyala). Setelah melakukan proses perencanaan, percobaan, pengujian alat, dan pendataan secara umum, dapat disimpulkan bahwa alat ini dapat digunakan sesuai perencanaan. Untuk pengembangan alat diharapkan dapat dikembangkan dengan menambahkan timer untuk pelaksanaan terapy dan menambahkan LCD sebagai display untuk mempermudah penggunaan timer.

Kata Kunci :Objek, Driver Relay, Mikrokontroler, Sensor Pir

Abstract

[Blue Light Therapy Tools Usingg Pir Sensor]

Lights Blue Light therapy is a health device that functions to reduce bilirubin levels in babies suffering from jaundice. Bilirubin which means here is the function of organs in the body that have not functioned normally because of the ilfilter which filters the wavelength of passive infrared light. In the light of the Blue Light lamp generally still use the manual button. Therefore, automatic therapy lamp simulation has been designed. The purpose of making this tool is to make it easier for nurses to do therapy without the need to do manual settings This tool is designed using sensors that will detect the presence of objects that will send signals to the microcontroller and instruct the relay to turn on the therapy lights automatically and conduct therapy on objects with a predetermined time. if the therapy has been done on the object, the blue light lamp will automatically die. Based on the results of testing the tool against 10 times of testing, the results obtained are in accordance with the principle of the tool, where the distance between the object and sensor is close so the light will quickly respond, and if the distance between the object and the sensor farther away then the light will respond slowly ( slow on). After carrying out the process of planning, testing, testing tools, and general data collection, it can be concluded that this tool can be used according to planning. The development of tools is expected to be developed by adding a timer for the implementation of the therapy and adding an LCD as a display to facilitate the use of a timer.

Keywords : Objects, Driver Relays, Microcontrollers, Pir Sensors Bibliography: 20 (2009–2018)

(2)

Pendahuluan :Pada zaman ini kemajuan teknologi berkembang sangat pesat,tak terkecuali dibidang alat-alat kesehatan dirumah sakit dengan kebutuhan yang ada dirumah sakit harus ada pelayanan kesehatan yang layak dengan tingkat keakurasian dan keamanan yang terjamin. Untuk memenuhi semua itu maka dibutuhan suatu tindakan penanganan dalam proses penyembuhan atau terapi pasien yang menderita hiperbilirubin dapat ditangani dengan baik oleh dokter.Kelahiran premature disebabkan karena adanya masalah kesehatan ibu dan bayi, maka dari itu bayi yang lahir premature biasanya dapat menyebabkan hiperbilirubin.Hiperbilirubin adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadarbilirubin>5 mg/dl pada darah,yang sering ditandai oleh adanya icterus pada bayi baru lahir, hiperbilirubin sering terjadi oleh kemampuan hati bayi yang masih kurang untuk melaksanakan bilirubinyang terus diproduksi.Maka diperlukan alat yang dapat membantu pasien dalam proses penyembuhan penyakit hiperbilirubindengan memberikan parameter kelayakan alat tersebut dilakukan setiap alat akan digunakan untuk pasien yang menderita penyakithiperbilirubin.(Sari, Ekasari 2017).

Blue light terapi adalah alat terapi yang digunakan untuk bayi yang menderita

penyakit hiperbilirubinatau biasa disebut bayi kuning.Dalam hal ini ada bagian organ hati bayi penderita yang tidak dapat berfungsi seperti bayi normal. Apabila tidak cepat ditangani dan kadarbilirubin terlalu tinggi maka dampaknya akan menyebabkan penumpukan pada bagian otak dan menimbulkan gejala gangguan saraf hingga kematian. Selama menjalani terapi, bayi harus sering disusui karena ASI efektif dalam melancarkan proses buang air kecil dan buang air besar, dan bayi terhindar dari dehidrasi akibat efek panas sinar biru. Penggunaan alat ini bayi akan disinari oleh alat blue light terapi dengan panjang gelombang tertentu selama beberapa jam tergantung pada bilirubin pada bayi.

Sejalan dengan perkembangan teknologi maka penulis merancang alat terapi bluelightyang dulunya di operasikan secara manual menjadi suatu alat yang otomatis. Kekurangan alat tersebut jika secara manual alat tersebut dioperasikan masih memakai tombol untuk menyalakan dan mematikan lampu, dan kelebihan alat secara otomatislebih mempermudah operator dalam mengoperasikan alat tersebut karena tanpa menekan tombol lampu blue light tersebut akan menyala dan mati secara otomatis dengan bantuan sensor.Berdasarkan permasalahan tersebut

(3)

memotivasi penulis untuk membuat atau merancangalat terapiblue lightmenggunakan

sensor PIR.

Bahan dan Metode :Alat dan Bahan yang digunakan dalam pembuatan dan perancangan :

No Nama alat Spesifikasi Fungsi alat

1 Thermometer - Alat untuk mengukur suhu 2 Avometer Alat untuk mengukur arus tegangan dan

resistansi

3 Bor PCB - Alat untuk melubangi papan pcb 4 Solder 220-240

Volt, 40W

Alat untuk melelehkan timah

5 Obeng - Alat untuk melepas baut atau skrup 6 Power supply dc

(adaptor) -

Supply tegangan ke rangkaian 7 Atraktor

- Alat yang digunakan untuk menyedot timah

No Nama Bahan Spesifikasi Fungsi 1. MikrokontrolerAtme ga 328 Tegangan :1,8-5,5V Arus: 0,2mA

Digunakan sebagai otak dari rangkaian yang mengatur fungsi

kerja dari modul

2. Sensor PIR Pendeteksi adanya gerakan manusia 3. Lampu Blue light Tegangan:

220V Arus : 2A

Untuk menurunkan kadar bilirubin didalam darah bayi yang baru lahir 4. Relay

- Untuk mengendalikan On/Off pada daya listrik

5. Traffo Ballast - Untuk menaikkan tegangan 6. Kabel Jumper

-

Digunakan untuk menghubungkan pin p ada mikrokontroler ke beberapa rangkai an pada modul.

7. Timah

- Menghubungkan komponen,PCB dan ka bel saat perakitan elektronika

(4)

1. Perancangan perangkat keras

Dalam perancangan hardware

atau perangkat keras pertama yang

dilakukan dalam penelitian ini adalah membuat diagram blok. Fungsi dari diagram blok sebagai acuan dalam pembuatan alur sistem kerja hardware.

Gambar 10. Blok diagram

Perancangan alat terapiblue light

menggunakan sensor PIR terdiri dari : a. Sensor PIR

Sensor PIR sebagai pendeteksi gerakan mahluk hidup.

b. Mikrokontroler Atmega328 MikrokontrolerAtmega328

digunakan sebagai otak dari rangkaian yang mengatur fungsi kerja dari alat.

c. Driver relay

Driver relay digunakan untuk

mengendalikan mati dan menyala lampu blue light.

d. Lampu blue light

Blue lightuntuk menurunkan kadar bilirubin di dalam darah bayi yang baru lahir

Cara kerja blok diagram:

Sensor PIR akan mendeteksi dimana ada objek atau tidak, selanjutnya jika ada objek maka sensor akan mengirim sinyal masuk ke mikrokontroler, dimana mikrokontroler sebagai control unit yang akan memberi perintah pada driver relay untuk

menghidupkan dan mematikan lampu blue light secara otomatis.

(5)

2. Diagram alir

(6)

Cara kerja diagram alir :

Di mulai dari sensor PIR yang mendeteksi jika ada makhluk hidup atau pasien, maka sensor akan mengirimsinyal ke mikrokontroler dan mikrokontroler akan memerintahkanrelay untuk

menghidupkan lampu blue light. Kemudian jika sensor PIR mendeteksi tidak ada makhluk hidup atau pasien, maka akan memutus sinyalyang dikirimkan dari sensor sebelumnya yang akan menyebabkan mikrokontroler memerintahkanrelay

untuk mematikan lampu blue light.

3. Sistem minimum Atmega328

(7)

Gambar 13. Driver Relay

(8)

Uji Coba Alat

1. Siapkan alat terapi blue light yang sudah dibuat.

2. Simulasikan apakah alat bekerja dengan baik, dengan cara memasukan tangan kedalam box pasien.

3. Amati apakah lampu blue light menyala otomatis saat memasukkan tangan, dan mati pada saat tangan diangkat

4. Jika alat tersebut sudah bekerja dengan benar, maka alat tersebut dapat digunakan, dan jika alat tersebut belum bekerja dengan benar, maka alat tersebut perlu dprogram ulang.

Hasil dan Pembahasan :

A. Pengujian Modul dan Pengambilan Data

1. Pengujian Modul

Setelah pembuatan modul selesai, selanjutnya melakukan pengujian alat dengan melakukan uji coba pada lampu. Hal ini dilakukan untuk membuktikan kebenaran alat dalam melakukan proses perhitungan dan memastikan tidak ada kesalahan pada alat, baik dalam rangkaian, maupun komponen-komponen yang digunakan. Sebelum melakukan pengujian pada alat, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut :

a. Menyiapkan berbagai alat dan bahan yang digunakan

b. Menyiapkan daftar tabel yang akan digunakan untuk mencatat data c. Menyiapkan objek benda mati dan

makhluk hidup yang akan digunakan d. Melakukan pengecekan pada

komponen-komonen yang akan digunakan, memastikan semua terhubung dengan baik

e. Melakukan pengecekan pada trafo, memastikan tegangan dalam keadaan stabil

f. Melakukan uji coba

g. Mencatat hasil uji coba pada tabel

2. Pengambilan Data

Adapun data pengamatan dan pengujian alat terapi Blue Light otomatis dapat ditampilkan pada tabel berikut : a. Benda Mati (Boneka)

Tabel 3. Data Pengamatan Pengujian Alat dengan menggunakan benda mati

NO.

JARAK (CM) KONDISI LAMPU

1. 10 cm Mati

2. 20 cm Mati

3. 30 cm Mati

4. 40 cm Mati

(9)

Pada jarak 10 cm sampai 50 cm kondisi lampu dalam keadan padam, karena tidak ada objek yang dideteksi oleh sensor

b. Makhluk Hidup ( manusia)

Tabel 4. Data Pengamatan Pengujian Alat dengan menggunakan makhluk hidup

NO JARAK (CM) KONDISI LAMPU

WAKTU RESET

ON OFF

1. 10 cm Menyala 0,7 detik 2,8 detik 2. 20 cm Menyala 0,7 detik 2,7 detik 3. 30 cm Menyala 2,7 detik 2,6 detik 4. 40 cm Menyala 7,5 detik 3,8 detik 5. 50 cm Menyala 11 detik 3,87 detik (Sumber: Data Primer. 2018)

pengujian alat menggunakan mahluk hidup (manusia), dimana dilakukan dengan jarak yang berbeda-beda, yakni 10cm, 20cm, 30cm, 40cm, dan 50cm, memperoleh kondisi lampu menyala. Dengan waktu reset on off berbeda. Pada jarak 10cm dan 20cm, diperoleh waktu resen on 0,7 detik. Dengan

waktu reset 2,8 detik dan 2,7 detik. Pada jarak 30cm, diperoleh waktu reset on 2,7 detik dan off 2,6 detik. Untuk jarak 40cm, diperoleh nilai reset on off 7,5 detik dan 3,8 detik. Dan pada jarak 50cm, diperoleh nilai reset on dan off 11 detik dan 3,87 detik.

B. Pembahasan

Pada saat On maka supply pada power supplay akan memberikan tegangan pada setiap blok rangkaian yang ada pada alat. Jika semua blok rangkaian sudah mendapatkan supply tegangan, maka minimum sistem dan sensor serta driver relay lampu secara otomatis akan aktif.

Alat terapi Blue Light (lampu biru) otomatis dilengkapi dengan sensor Pir adalah suatu alat yang dirancang untuk mendeteksi adanya makhluk hidup, dan menggunakan sensor untuk mempermudah dalam menyalakan dan mematikan lampu

secara otomatis. Alat ini bekerja untuk mendeteksi adanya objek atau makhluk hidup (mempumyai panas suhu tubuh).selama ada manusia atau makhluk hidup maka lampu blue light akan terus menyala dan menyinari objek, dan apabila objek dilepas maka lampu akan mati secara otomatis.Ketika pengujian pada alat dilakukan,sensor mendeteksi atau merespon adanya makhluk hidup dengan jarak yang telah ditentukan dengan pengujian data benda mati sebanyak 5kali dan makhluk hidup sebanyak 5kali.

(10)

Alat terapi Lampu biru otomatis yang telah dirancang memiliki beberapa kelebihan, dimana alat ini dapat mempermudah juga seorang perawat untuk menggunakan dengan hanya menekan tombol saklar on, kemudian meletakkan objek atau makhluk hidup didekat sensor tepatnya 50cm dibawah lampu dan lampu akan menyala secara otomatis,dan ketika objek diangkat maka lampunya akan mati juga secara otomatis.dimana alat ini hanya bisa mendeteksi makhluk hidup saja seperti manusia dan hewan yang mempunyai panas suhu tubuh, dan masih memiliki banyak kekurangan contohnya tidak memakai timer dan lcd untuk sebagai display

Lampu Terapi Blue Light merupakan alat kesehatan yang berfungsi untukmenurunkan kadar bilirubin pada bayi yang menderita penyakit kuning.Bilirubin yang di maksud disini yaitu adanya fungsi organ dalam tubuh yang belum berfungsi

secara normal karena adanya ilfilter yang menyaring panjang gelombang sinar infra merah pasif. Pada sinar lampu Blue Light

pada umumnya masih menggunakan tombol manual. Oleh karena itu telah dirancang simulasi lampu terapi secara otomatis.

Dalam bidang kesehatan dan secara medis alat terapi blue lightini sangat diperlukan oleh banyak khalangan karena alat ini salah satu faktor utama untuk mempercepat penyembuhan pada bayi yang menderita penyakit hiperbilirubin. Dan proses penyembuhan terapi cukup memerlukan waktu yang lama tergantung dari kadar bilirubin.

Bilirubin terbagi menjadi 2 bagian yaitu normal dan abnormal. Bayi dikatakan abnormal jika bayi yang baru saja lahir berumur kurang dari 24 jam kadar 12mg/dl, sedangkan bayi normal jika bayi berusia 3 hari.

Kesimpulan :

Berdasarkan hasil perencanaan, pembuatan modul, penulisan dan analisa data dapat disimpulkan sebagai berikut ini:

1. Desain alat terapi blue light otomatis telah berhasil

2. Sensor pir dan driver relay dapat berfungsi dengan baik sebagai saklar otomatis dalam mematikan dan menyalakan lampu blue light

3. Dari hasil pengujian didapatkan hasil yang sesuai dengan perencanaan alat 4. Adanya keterbatasan dalam

pelaksanaan terapi blue light yaitu terkadang sensor tidak membaca atau mendeteksi adanya makhluk hidup

5.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengoper asian, perencanaan, dan pembuatan.

Saran :

1. Pembuatan body dapat diperbaiki lagi dengan pola yang lebih indah dan elegan

2. Menambahkan timer untuk pelaksanaan terapy dan

menambahkan LCD sebagai display untuk mempermudah penggunaan timer

(11)

Ucapan Terima Kasih :

Pada kesempatan ini menghaturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepadaLd.Muh.Arsyi,ST.,selaku

Pembimbing I dan kepadaRidia Utami

Kasih,SKM,M.Kesselaku Pembimbing II atas semua waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikannya dalam membimbing, mengarahkan, memberi saran maupun kritik sehingga Karya Tulis Ilmiah ini menjadi lebih baik.

Tak lupa pula Penulis haturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1 Ketua Yayasan Mandala Waluya Kendari .

2 Ketua STIKES Mandala Waluya Kendari.

3 Para Wakil Ketua ( Akademik, Non Akademik, Kemahasiswaan ) STIKES Mandala Waluya Kendari.

4 Para Ketua Lembaga (LPPM, LPM) STIKES Mandala Waluya Kendari. 5 Ketua Prodi Teknik Elektromedik

STIKES Mandala Waluya Kendari. 6 Lembaga Penelitian Daerah Sulawesi

Tenggara

7 Para Tim Penguji masing-masing :

- Ahmad Saleh,S.Farm,Mph.,Apt,

- Muh.Sainal AbidinS.Si.,M.Si,

- Ratna Umi Nurlila, S.Si.,M.Sc 8 Seluruh dosen dan staf/karyawan

STIKES Mandala Waluya Kendari yang telah banyak membantu Penulis semasa pendidikan.

9 Kepala Laboearorium Teknik Elektromedik

Kedua orangtua tercinta yang telah memberikan dukungan, kasih sayang serta motivasi. Seluruh teman – teman khususnya Program Studi Teknik Elektromedik yang telah memberikan bantuan dan motivasi kepada Penulis hingga selesainya Karya Tulis Ilmiah ini.

Daftar Pustaka

Anggraeni, Y. (2016). Hubungan antara persalinan premature dengan hiperbilirubin pada neonatus.Jurnal Kesehatan.Volume 2.

Gagat, Atsaurry, Nabilah, Islam. (2016).

Jurnal Teknologi Informasi dan Pendidikan.

Gata, Lestari. (2011). Webcam monitoring ruangan menggunakan sensor gerak pir.Jurnal of electrical and

electronis.Volume 2

Indriati, Herawati (2017). Pengaruh

pemberian ASI awal terhadap kejadian icterus pada bayi baru lahir 0-7

hari.Jurnal kesehatan ibu dan anak.Volume 2.

Kadir, Abdul. 2016. Simulasi arduino, Jakarta:gramedia

Kumorowati, B. 2016.Analisis reduksi intensitas cahaya pada

smartphones.Elektronika Dasar

Nurvianthi Riskayuli, 2018. Mengenal radiasi sinar biru yang dipancarkan gawai.Elektronika Dasar.

Prima, A (2013). Perancangan system keamanan rumah menggunakan sensor PIR (passive infra red) berbasis

mikrokontroller.Jurnal pendidikan teknik, Elektro.

Sari, Ekasari.(2017). Hubungan prematuritas dengan kejadian hiperbilirubin pada bayi baru lahir.Jurnal kesehatan ibu dan anak.Volume 2.

Setyawan, B. 2016.proposalBlue

light.Elektronika DasarSlamet.(2009). Sistem pemantau ruang jarak jauh dengan sensor passive infrared

(12)

berbasis mikrokontroler

AT89S52.Jurnal tekomnika.Volume 7. Sonni,Laksono. (2009). Perancangan dan

implementasi relay arus lebih sesaat berbasis microcontroller.Jurnal Teknik

Komputer.Volume 9

Supatmi, Sri.2011. Pengaruh sensor ldr terhadap pengontrolan lampu.Majalah Ilmiah Unikom

Susatia, Sumarno, Puspitosari. (2013). Pengaruh paparan sinar matahari pagi terhadap penurunan tanda ikterus pada ikterus neonatorum fisiologis.Jurnal Kedokteran Brawijaya.Volume 3. Turang Dao, 2015.Pengembangan sistem

relay pengendalian dan penghematan pemakaian lampu berbasis

mobile.Elektronika Dasar

Wahyuni Ibrahim, 2012, Mikrokontroller AVR ATMega 328, PenerbitInformatika.

Wildian (2013). Sistem otomatis perekaman video dengan camera cmos 12 led berbasis mikrokontroler AT89S51 menggunakan sensor PIR ( passive infrared receiver). Jurnalfisika unand

Volume 2

Yulianah, (2012).Mobilisasi dan imobilisasi pelaksanaan terapi sinarmenurunkan bilirubin pada Neonatus

Aterm.Journals, of ners community, Volume 3.

Zain, A. (2013). Sistem keamanan ruangan menggunakan sensor PIR dilengkapi kontrol penerangan pada ruangan berbasis mikrokontroller ATMega 8535 dan real time clock DS1307.

Jurnal teknologi informasi dan pendidikan.Volume 6.

Gambar

Gambar 10. Blok diagram
Gambar 11. Diagram alir
Gambar 12. Rangkaian mikrokontroler Atmega328 dan Sensor PIR
Gambar 14. Rangkaian Regulator
+3

Referensi

Dokumen terkait

[r]

[r]

Kontrak Pengalaman Pekerjaan Perusahaan sesuai bidang yang ditampilkan dalam Dokumen Kualifikasi (Asli). Demikian disampaikan, atas perhatiannya diucapkan

Setiap hari kamu membutuhkan makan dan minum. Makanan dan minuman yang masuk dalam tubuh akan dicerna oleh organ pencernaan. Pencernaan adalah proses melumatkan bahan makanan

Untuk mengatasi berbagai permasalahan dan isu-isu yang mucul dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut ini, dibutuhkan suatu model pengelolaan yang kolaboratif yang

Fakultas Teknik Sistem PV berbasis IoT Sebagai Sarana Untuk Pengaturan Penerangan Jalan Umum Cerdas di Era Industrialisasi 4.0 HIBAH PENELITIAN GRUP RISET 2020 1 1 PN 02..

Untuk balok dengan panjang 2,8 meter dengan pengaku miring hasil beban kritis lebih besar dari pada beban kritis hasil pengujian balok tanpa pengaku. Untuk balok

Pada saat Tuhan Yesus naik ke sorga Ia menjanjikan Roh Kudus sebagai PENOLONG manusia yang akan membimbing, menghibur, menguatkan, menolong, mendampingi anak anaknya