• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Vol. 8, No. 1, Agustus 2016 ISSN 1978-5763

SANITASI

Jurnal Kesehatan Lingkungan

Volume 8, Nomor 1, Agustus 2016

Penerbit :

Jurusan Kesehatan Lingkungan

Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta Susunan Dewan Redaksi

Penanggung Jawab

Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan

Ketua Penyunting

Agus Kharmayana Rubaya

Wakil Ketua Penyunting

Siti Hani Istiqomah

Penyunting Pelaksana

Achmad Husein Heru Subaris Kasjono

M. Mirza Fauzie

Tata Usaha

Sapto Harmoko Ronatin Widyastuti

Alamat Penerbit dan Redaksi

Jurusan Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jalan Tata Bumi No.3 Banyuraden, Gamping, Sleman Yogyakarta

Telp./Fax. (0274) 560962 email : [email protected]

blog : jurnalsanitasi.blogspot.com website : www.keslingjogja.net

Redaksi menerima sumbangan tulisan berupa hasil penelitian atau hasil pemikiran yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan

dan belum pernah diterbitkan oleh media lain. Naskah diketik mengikuti “Petunjuk Penulisan”

yang ada di halaman belakang,

Naskah yang masuk akan dievaluasi dan disunting untuk keseragaman format, serta istilah dan tata-cara lainnya.

Terbit pertama kali pada Agustus 2007

(4)
(5)

Vol. 8, No.1, Agustus 2016 ISSN 1978-5763

SEKAPUR SIRIH

Alhamdulillah ya Allah, Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang,

atas perkenan-Mu lah segala kemudahan senantiasa diberikan, sehingga Sanitasi

dengan ajeg selalu terbit. Kali ini sudah memasuki volume yang ke-delapan.

Dari Jurusan Kesehatan Lingkungan Poliktenik Kesehatan di Kota

Pendidik-an, Yogyakarta, redaksi selalu berupaya menjaga misi Sanitasi sebagai wadah

publikasi hasil penelitian dan pemikiran yang berkaitan dengan ilmu Kesehatan

Lingkungan, melalui rutin-terbitnya jurnal ilmiah ini.

Untuk itu, masukan konstruktif berupa kritik dan saran bagi perbaikan kualitas

Sanitasi selalu kami harapkan. Terima kasih dan Salam Kesling.

Yogyakarta, Agustus 2016

Redaksi

(6)
(7)

Vol. 8, No. 1, Agustus 2016 ISSN1978-5763

SANITASI

Jurnal Kesehatan Lingkungan

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta

Penggunaan Kursi Ergonomis untuk Mengurangi Keluhan Nyeri Otot

Rangka (Musculoskeletal Disorders) pada Pekerja Laundry di

Wilayah Kota Yogyakarta

Dian Sugesti Ningsih, Lucky Herawati & Agus Suwarni 1 – 8

Pemberian Variasi Model Alat Pemungut Sampah terhadap

Frekuensi Memungut Sampah Murid TK Kudup Sari di Sidoluhur,

Godean, Sleman, Tahun 2016

Jati Khairudin, Adib Suyanto & Sigid Sudaryanto 9 – 15

Pengaruh Berbagai Luas Permukaan Daun Tanaman Lidah Mertua

(Sansevieria trifasciata ‘Golden Hahnii) terhadap Penurunan Radiasi

Komputer Ruang Kerja di RS KIA Sadewa Yogyakarta

Dwi Larasati, Sri Muryani & Achmad Husein 16 – 21

Pemanfaatan Limbah Bulu Ayam sebagai Bahan Tambahan Pakan

untuk Pertumbuhan (Berat dan Panjang) Ikan Nila (Oreochromis

niloticus)

Pipit Ika Lestari, Yamtana & Bambang Suwerda 22 – 28

Penggunaan Media Kartu Putar dalam Penyuluhan untuk

Meningkatkan Pengetahuan Mencuci Tangan Memakai Sabun pada

Siswa SD Tegalrejo 2, Kota Yogyakarta

Ikfina Agustina, Siti Hani Istiqomah & M. Mirza Fauzie 29 – 34

Studi Kadar Cholinesterase dalam Darah Petugas Fogging di

Kabupaten Bantul Tahun 2016

Hendrika Puspita Sari, Sardjito Eko Windarso & Achmad Husein 35 – 42

Variasi Waktu Elektrolisis Menggunakan Elektroda Alumunium untuk

Menurunkan COD Limbah “Batik Ayu” di Pijenan, Wijirejo, Pandak,

Bantul

Mia Nandha Sari, Tuntas Bagyono & Choirul Amri 43 – 50

Vol. 8, No. 1, Agustus 2016 ISSN1978-5763

SANITASI

Jurnal Kesehatan Lingkungan

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta

Penggunaan Kursi Ergonomis untuk Mengurangi Keluhan Nyeri Otot

Rangka (Musculoskeletal Disorders) pada Pekerja Laundry di

Wilayah Kota Yogyakarta

Dian Sugesti Ningsih, Lucky Herawati & Agus Suwarni 1 – 8

Pemberian Variasi Model Alat Pemungut Sampah terhadap

Frekuensi Memungut Sampah Murid TK Kudup Sari di Sidoluhur,

Godean, Sleman, Tahun 2016

Jati Khairudin, Adib Suyanto & Sigid Sudaryanto 9 – 15

Pengaruh Berbagai Luas Permukaan Daun Tanaman Lidah Mertua

(Sansevieria trifasciata ‘Golden Hahnii) terhadap Penurunan Radiasi

Komputer Ruang Kerja di RS KIA Sadewa Yogyakarta

Dwi Larasati, Sri Muryani & Achmad Husein 16 – 21

Pemanfaatan Limbah Bulu Ayam sebagai Bahan Tambahan Pakan

untuk Pertumbuhan (Berat dan Panjang) Ikan Nila (Oreochromis

niloticus)

Pipit Ika Lestari, Yamtana & Bambang Suwerda 22 – 28

Penggunaan Media Kartu Putar dalam Penyuluhan untuk

Meningkatkan Pengetahuan Mencuci Tangan Memakai Sabun pada

Siswa SD Tegalrejo 2, Kota Yogyakarta

Ikfina Agustina, Siti Hani Istiqomah & M. Mirza Fauzie 29 – 34

Studi Kadar Cholinesterase dalam Darah Petugas Fogging di

Kabupaten Bantul Tahun 2016

Hendrika Puspita Sari, Sardjito Eko Windarso & Achmad Husein 35 – 42

Variasi Waktu Elektrolisis Menggunakan Elektroda Alumunium untuk

Menurunkan COD Limbah “Batik Ayu” di Pijenan, Wijirejo, Pandak,

Bantul

(8)
(9)

PENGGUNAAN KURSI ERGONOMIS UNTUK MENGURANGI KELUHAN

NYERI OTOT RANGKA (MUSCULOSKELETAL DISORDERS)

PADA PEKERJA LAUNDRY DI WILAYAH KOTA YOGYAKARTA

Dian Sugesti Ningsih*, Lucky Herawati**, Agus Suwarni**

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293 email: [email protected]

**JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

Musculokeletal disorders is a pain at parts of skeletal muscles felt by a person which is caused by various factors, either internal or external. Musculoskeletal disorders is a common health pro-blem found in industrial sectors, included in the informal ones, such as in laundry business. Iron-ing process in laundry activities takes long duration and is a monotonous work. Many workers experiencing pain in their skeletal muscle after ironing, of which ergonomic factor is considered as one of the causes. Therefore, the research was intended to study about the application of er-gonomic chair in reducing the musculoskeletal disorders among laundry workers in Yogyakarta city by conducting a true experiment with pre-test post-test with control group design. As the study subjects were 30 ironing workers taken from 30 laundry services selected as the sample. They were then divided equally into two groups, i.e. 15 were allocated both in the treatment and the control groups. Proportional cluster random technique was used in the sampling process. The measurement of musculoskeletal pain employed a 15 item questionnaire based on the Nor-dic Body Map questionnaire. The data then were analyzed by using Mann-Whytney test with Į=0,05 and obtained a p-value of 0,0001 which shows that the pain difference between the control and the treatment groups was significant. In the treatment group, after using the ergo-nomic chairs, the pain was felt decrease at waist, back, left hand and left foot; meanwhile in the control group, the measurement results in pre-test and post-test were similar. Based on the results, it is advised that coordination between the Licensing Office and laundry owners is need-ed to provide ergonomic chairs for the workers to work comfortably and to avoid the muscular skeletal disorders. For further studies it is recommended to consider nutritional status, psycho-logical state and workload of the workers when applying the ergonomic chairs.

Keywords : ergonomic chair, skeletal muscle pain, laundry workers

Intisari

Gangguan musculoskeletal adalah keluhan pada bagian otot rangka yang dirasakan oleh sese-orang yang disebabkan oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Keluhan nyeri otot rangka merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi di dunia industri, termasuk yang ber-sifat informal seperti usaha laundry. Proses menyetrika di laundry membutuhkan waktu penger-jaan yang panjang dan bersifat monoton. Banyak pekerja merasakan keluhan nyeri otot rangka sesudah melakukan kegiatan ini, di mana faktor ergonomi merupakan salah satu penyebabnya. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk mengkaji tentang penggunaan kursi ergonomis terha-dap penurunan keluhan nyeri otot rangka pada pekerja laundry di wilayah Kota Yogyakarta de-ngan melakukan eksperimen sungguhan menggunakan rancade-ngan pre-test post-test with control group. Subyek penelitian adalah 30 pekerja penyetrika dari 30 usaha laundry di Kota Yogyakarta yang terambil menjadi sampel. Subyek penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu masing-masing sebanyak 15 untuk kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Pengambilan sampel me-makai teknik proporsional cluster random sampling. Pengukuran keluhan menggunakan kuesio-ner yang terdiri dari 15 item pertanyaan yang diambil dari kuesiokuesio-ner Nordic Body Map. Data di-analisis dengan Mann-Whitney test pada Į=0,05 dan diperoleh nilai p = 0,0001 yang menunjuk-kan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara selisih keluhan pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Pada kelompok perlakuan, setelah menggunakan kursi ergonomis, penu-runan keluhan ditemui untuk pinggang, punggung, tangan kiri dan kaki kiri; sedangkan pada ke-lompok kontrol, hampir semua keluhan pada pengukuran pre-test dan post-test menunjukkan kesamaan. Berdasarkan hasil tersebut, diperlukan koordinasi antara Dinas Perizinan dengan pa-ra pemilik usaha laundry untuk menyediakan kursi ergonomis agar pekerja dapat bepa-raktivitas de-ngan nyaman dan mencegah keluhan nyeri otot rangka. Adapun untuk penelitian lanjutan disa-rankan untuk memperhatikan status gizi, keadaan psikologis dan beban kerja dalam menerap-kan kursi ergonomis

(10)

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8 No.1, Agustus 2016, Hal 1 – 8

PENDAHULUAN

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pada pasal 164 ayat 1 menyatakan bahwa upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melin-dungi pekerja agar hidup sehat dan ter-bebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan1). Salah satu upaya kesehatan kerja adalah penerapan syarat-syarat kesehatan kerja, yang meliputi: kesehat-an pekerja, persyaratkesehat-an bahkesehat-an baku, pe-ralatan dan proses kerja yang ergono-mis, agar pekerjaan dapat berjalan de-ngan optimal.

Aspek-aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun merupakan sa-lah satu hal yang penting untuk menun-jang produktivitas kerja dimana peranca-ngan analisis ergonomi akan memberi-kan kenyamanan secara antropometri kepada pengguna 2). Penciptaan kondisi tempat kerja yang ergonomis, bertujuan agar pekerja dapat bekerja secara aman dan nyaman, terhindar dari penyakit aki-bat kerja termasuk gangguan pada otot seperti kesemutan, kelelahan dan nyeri.

Data Depkes RI pada tahun 2005 menunjukkan sebanyak 40,5 % pekerja Indonesia memiliki keluhan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan pekerjaan, antara lain yaitu gangguan otot rangka sebanyak 16 % 3). Tampu-bolon 4) yang melakukan penelitian ten-tang keluhan musculoskeletal pada pe-kerja laundry di Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali, memper-oleh informasi bahwa keluhan yang di-alami pekerja meliputi: bahu kanan 22 orang (73,33 %), betis kiri dan betis ka-nan, masing-masing 17 orang (56,66 %), serta pinggang dan bahu kiri masing-ma-sing 16 orang (53,33 %).

Musculoskeletal disorders

merupa-kan salah satu penyakit akibat dari posisi atau sikap kerja yang salah 5). Postur kerja yang tidak alami, seperti selalu ber-diri, jongkok, membungkuk, mengangkat dan mengangkut dalam waktu yang la-ma dapat menyebabkan ketidak-nyala-ma- ketidak-nyama-nan dan nyeri pada salah satu anggota tubuh. Kelelahan akibat kerja juga dapat menimbulkan penyakit akibat kerja dan

kecelakaan kerja yang dapat menim-bulkan cacat tubuh hingga kematian 6).

Berdasarkan hasil survei pendahulu-an pada 12 hingga 16 Desember 2015 dengan menggunakan kuesioner Nordic

Body Map terhadap 10 pekerja dari

tu-juh usaha laundry yang ada di Kelurahan Nogotirto dan Banyuraden, diketahui bahwa 100 % pekerja di bagian penyetri-kaan mengalami keluhan

musculoske-letal disorders setelah menjadi pekerja laundry. Keluhan terbanyak dirasakan

pada bagian bahu kanan dan betis ka-nan sebesar 50 %; lengan atas kaka-nan, pergelangan tangan kanan, betis kiri, dan pergelangan kaki kanan, masing-masing sebanyak 40 %, serta bagian le-her atas bawah, punggung, pinggang, siku kanan, tangan kiri, dan pergelangan kaki kiri, masing-masing sebanyak 30 %. Kegiatan penyetrikaan merupakan proses yang cukup lama dan tidak bisa ditinggal atau dilakukan sambil menger-jakan pekerjaan yang lain. Selain itu, pa-da proses penyetrikaan, pekerja terpaku hanya di satu pekerjaan dan satu tempat dengan gerakan otot yang berulang dan posisi kerja yang menetap, sehingga monoton, tidak ergonomis serta membu-tuhkan tenaga yang cukup banyak.

Beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab nyeri otot rangka yang dike-luhkan pekerja laundry, salah satunya adalah kursi yang tidak ergonomis kare-na tanpa sandaran punggung. Hal terse-but sesuai dengan pendapat Tarwaka 7), bahwa: pelaksanaan pekerjaan yang ti-dak benar dan titi-dak sesuai dengan nor-ma ergonomi dapat menyebabkan kele-lahan dan gangguan nyeri otot rangka akibat kerja atau ”Gotrak”.

Kursi yang ergonomis akan mampu memberikan postur dan sirkulasi darah yang baik, sehingga membantu meng-hindari ketidak-nyamanan dan kelelah-an 8). Selain itu, penggunaan kursi yang didesain khusus dapat membuat pekerja bekerja dengan sikap kerja yang dina-mis 9). Dengan penelitian ini, permasa-lahan keluhan nyeri otot rangka tersebut dicoba untuk ditangani melalui pembuat-an kursi ypembuat-ang ergonomis untuk pekerja

laundry bagian penyetrikaan di wilayah

(11)

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8 No.1, Agustus 2016, Hal 1 – 8

PENDAHULUAN

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pada pasal 164 ayat 1 menyatakan bahwa upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melin-dungi pekerja agar hidup sehat dan ter-bebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan1). Salah satu upaya kesehatan kerja adalah penerapan syarat-syarat kesehatan kerja, yang meliputi: kesehat-an pekerja, persyaratkesehat-an bahkesehat-an baku, pe-ralatan dan proses kerja yang ergono-mis, agar pekerjaan dapat berjalan de-ngan optimal.

Aspek-aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun merupakan sa-lah satu hal yang penting untuk menun-jang produktivitas kerja dimana peranca-ngan analisis ergonomi akan memberi-kan kenyamanan secara antropometri kepada pengguna 2). Penciptaan kondisi tempat kerja yang ergonomis, bertujuan agar pekerja dapat bekerja secara aman dan nyaman, terhindar dari penyakit aki-bat kerja termasuk gangguan pada otot seperti kesemutan, kelelahan dan nyeri.

Data Depkes RI pada tahun 2005 menunjukkan sebanyak 40,5 % pekerja Indonesia memiliki keluhan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan pekerjaan, antara lain yaitu gangguan otot rangka sebanyak 16 % 3). Tampu-bolon 4) yang melakukan penelitian ten-tang keluhan musculoskeletal pada pe-kerja laundry di Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali, memper-oleh informasi bahwa keluhan yang di-alami pekerja meliputi: bahu kanan 22 orang (73,33 %), betis kiri dan betis ka-nan, masing-masing 17 orang (56,66 %), serta pinggang dan bahu kiri masing-ma-sing 16 orang (53,33 %).

Musculoskeletal disorders

merupa-kan salah satu penyakit akibat dari posisi atau sikap kerja yang salah 5). Postur kerja yang tidak alami, seperti selalu ber-diri, jongkok, membungkuk, mengangkat dan mengangkut dalam waktu yang la-ma dapat menyebabkan ketidak-nyala-ma- ketidak-nyama-nan dan nyeri pada salah satu anggota tubuh. Kelelahan akibat kerja juga dapat menimbulkan penyakit akibat kerja dan

kecelakaan kerja yang dapat menim-bulkan cacat tubuh hingga kematian 6).

Berdasarkan hasil survei pendahulu-an pada 12 hingga 16 Desember 2015 dengan menggunakan kuesioner Nordic

Body Map terhadap 10 pekerja dari

tu-juh usaha laundry yang ada di Kelurahan Nogotirto dan Banyuraden, diketahui bahwa 100 % pekerja di bagian penyetri-kaan mengalami keluhan

musculoske-letal disorders setelah menjadi pekerja laundry. Keluhan terbanyak dirasakan

pada bagian bahu kanan dan betis ka-nan sebesar 50 %; lengan atas kaka-nan, pergelangan tangan kanan, betis kiri, dan pergelangan kaki kanan, masing-masing sebanyak 40 %, serta bagian le-her atas bawah, punggung, pinggang, siku kanan, tangan kiri, dan pergelangan kaki kiri, masing-masing sebanyak 30 %. Kegiatan penyetrikaan merupakan proses yang cukup lama dan tidak bisa ditinggal atau dilakukan sambil menger-jakan pekerjaan yang lain. Selain itu, pa-da proses penyetrikaan, pekerja terpaku hanya di satu pekerjaan dan satu tempat dengan gerakan otot yang berulang dan posisi kerja yang menetap, sehingga monoton, tidak ergonomis serta membu-tuhkan tenaga yang cukup banyak.

Beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab nyeri otot rangka yang dike-luhkan pekerja laundry, salah satunya adalah kursi yang tidak ergonomis kare-na tanpa sandaran punggung. Hal terse-but sesuai dengan pendapat Tarwaka 7), bahwa: pelaksanaan pekerjaan yang ti-dak benar dan titi-dak sesuai dengan nor-ma ergonomi dapat menyebabkan kele-lahan dan gangguan nyeri otot rangka akibat kerja atau ”Gotrak”.

Kursi yang ergonomis akan mampu memberikan postur dan sirkulasi darah yang baik, sehingga membantu meng-hindari ketidak-nyamanan dan kelelah-an 8). Selain itu, penggunaan kursi yang didesain khusus dapat membuat pekerja bekerja dengan sikap kerja yang dina-mis 9). Dengan penelitian ini, permasa-lahan keluhan nyeri otot rangka tersebut dicoba untuk ditangani melalui pembuat-an kursi ypembuat-ang ergonomis untuk pekerja

laundry bagian penyetrikaan di wilayah

Kota Yogyakarta.

Ningsih, Herawati & Suwarni, Penggunaan Kursi Ergonomis …

METODA

Jenis penelitian yang dilakukan ada-lah eksperimen sungguhan dengan ran-cangan pre-test post-test with control

group. Rancangan ini dipilih karena

ada-nya pengelompokan anggota menjadi kelompok kontrol dan kelompok ekspe-rimen yang dilakukan secara acak 10).

Populasi penelitian adalah usaha

laundry yang sudah berizin di wilayah

Kota Yogyakarta, yang menurut data da-ri Dinas Peda-rizinan ada 85 unit. Sampel sebanyak 30 usaha laundry, yang diper-oleh melalui teknik proporsional cluster

random sampling, dibagi menjadi dua

kelompok yaitu, 15 ke dalam kelompok eksperimen dan 15 lainnya ke dalam ke-lompok kontrol. Responden yang diambil dari masing-masing laundry terpilih se-banyak satu orang pekerja pada bagian penyetrikaan, yang memenuhi kriteria in-klusi yang ditetapkan, yaitu: perempuan, usia antara 30-35 tahun, masa kerja an-tara 1-3 tahun, dan tidak mempunyai ri-wayat penyakit yang berkaitan dengan otot rangka maupun tulang.

Pengukuran keluhan nyeri otot rang-ka dilakurang-kan dua rang-kali, yaitu sebelum dan sesudah perlakuan yang diobservasi se-lama tujuh hari dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 15 item per-tanyaan berdasarkan kuesioner Nordic

Body Map. HASIL

Jumlah laundry di Kota Yogyakarta yang sudah berizin berdasarkan data da-ri Dinas Peda-rizinan, adalah: di Kecamatan Mantrijeron 9 unit, Gondokusuman 6 u-nit, Gondomanan 1 uu-nit, Kraton dan Pa-kualaman 2 unit, Ngampilan 2 unit, Kota Gede 7 unit, Umbulharjo 38 unit, Mer-gangsan 5 unit, Wirobrajan 6 unit, Tegal-rejo 2 unit, Danurejan dan Gedong Te-ngen 3 unit serta Jetis 4 unit.

Karakteristik Responden

Responden bekerja kurang lebih se-lama 8 jam per hari, dimulai dari pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB. Ada beberapa laundry yang menerapkan sis-tem kerja shift. Rata-rata berat pakaian

yang disetrika dalam sehari adalah 34,7 kg. Distribusi frekuensi karakteristik res-ponden dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.

Distribusi frekuensi responden menurut umur, masa kerja dan posisi kerja

Variabel n % Umur 30 tahun 5 16,67 31 tahun 1 3,33 32 tahun 0 0,00 33 tahun 1 3,33 34 tahun 9 30,00 35 tahun 14 46,67 Jumlah 30 100,00 Masa kerja 1 tahun 13 43,33 2 tahun 8 26,67 3 tahun 9 30,00 Jumlah 30 100,00 Posisi kerja Berdiri 6 20,00

Duduk tanpa senderan 18 60,00

Duduk dengan kursi pendek 4 13,33

Duduk dengan sandaran 2 6,67

Jumlah 30 100,00

Dapat diketahui bahwa yang paling banyak adalah responden yang berumur 35 tahun (14 orang atau 46,67 %), me-miliki masa kerja satu tahun (13 orang atau 43,33 %) dan posisi kerja pada saat menyetrika duduk dengan kursi tanpa sandaran (18 orang atau 60,00 %).

Tingkat Keluhan Nyeri Otot Rangka

Pengukuran keluhan nyeri otot rang-ka dilaksanarang-kan tanggal 27 April hingga 17 Mei 2016. Jenis keluhan yang di-rasakan responden tersebut tersaji pada Tabel 2. yang memperlihatkan distribusi jumlah keluhan yang dirasakan oleh ma-sing-masing 15 orang responden yang ada di dalam kelompok kontrol dan ke-lompok perlakuan pada bagian-bagian tubuh yang berbeda, yang diperoleh dari hasil pengukuran pre-test dan post-test.

(12)

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8 No.1, Agustus 2016, Hal 1 – 8

Pada kelompok kontrol, banyaknya keluhan pada masing-masing bagian an-tara pre-test dan post-test, secara umum hampir semua sama. Namun demikian, untuk keluhan pada bagian kaki kiri, res-ponden yang merasa nyeri, jumlahnya mengalami penurunan sebanyak satu orang. Keluhan terbanyak ada pada ba-hu kanan dan tangan kanan, yaitu bertu-rut-turut sebanyak 14 dan 13 orang.

Tabel 2.

Distribusi jumlah keluhan responden di ke dua kelompok penelitian

Jenis keluhan Jumlah keluhan Klp kontrol Klp perlakuan P re -te st P ost -te st S el si ih P re -te st P ost -te st S el si ih

Kaku leher bag atas 6 6 0 7 7 0

Kaku leher bag bwh 6 6 0 5 5 0

Nyeri bahu kanan 14 14 0 13 8 5

Nyeri bahu kiri 5 5 0 11 8 3

Nyeri punggung 8 9 1 7 1 6

Nyeri pinggang 9 10 1 10 2 8

Nyeri bokong 1 1 0 2 1 1

Nyeri tangan kanan 13 13 0 11 8 3

Nyeri tangan kiri 5 5 0 6 2 4

Nyeri lutut kanan 5 4 1 5 4 1

Nyeri lutut kiri 5 4 1 5 3 2

Nyeri kaki kanan 12 13 1 9 6 3

Nyeri kaki kiri 11 10 1 9 5 4

Nyeri paha kanan 1 1 0 2 1 1

Nyeri paha kiri 1 1 0 3 1 2

Pada kelompok eksperimen, jumlah keluhan terbanyak yang ditemui sebelum digunakannya kursi ergonomis, adalah pada bagian bahu kanan, yaitu seba-nyak 13 orang. Setelah penggunaan kur-si, keluhan terbanyak dirasakan pada bagian bahu kanan, bahu kiri dan tangan kanan, masing-masing oleh delapan pe-kerja. Penurunan jumlah keluhan terbe-sar ditemui untuk bagian pinggang (8 o-rang) dan bagian punggung (6 oo-rang)

Selanjutnya, rekapitulasi hasil peng-ukuran jumlah keluhan nyeri otot rangka

untuk setiap responden di kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.

Selisih keluhan nyeri otot rangka setiap responden di ke dua kelompok penelitian

No urut responden Jumlah keluhan Klp kontrol Klp perlakuan P re -te st P ost -te st S el si ih P re -te st P ost -te st S el si ih 1 5 5 0 6 1 5 2 8 8 0 8 4 4 3 6 6 0 7 4 3 4 10 11 1 11 5 6 5 5 6 1 8 4 4 6 6 6 0 9 6 3 7 4 4 0 10 4 6 8 7 8 1 2 2 0 9 8 8 0 6 4 2 10 10 10 0 6 4 2 11 6 6 0 7 4 3 12 4 4 0 8 7 1 13 12 12 0 8 7 1 14 6 4 2 5 2 3 15 7 6 1 5 4 1 Jumlah 104 104 6 106 62 44 Rata-rata 6,93 6,93 0,4 7,06 4,13 2,9 SD 2,31 2,52 0,63 2,21 1,68 1,8

Tabel di atas menunjukkan, bahwa rerata selisih keluhan nyeri otot rangka pada kelompok kontrol sebesar 0,4 de-ngan Standard Deviation (SD) sebesar 0,63. Hampir semua jenis keluhan pada kelompok kontrol di awal dan akhir pene-litian sama, namun ada juga yang meng-alami penurunan, yaitu responden no-mor 14 dengan dua keluhan; serta ada juga ada yang mengalami kenaikan yaitu responden nomor 4 dan 5, dengan satu keluhan nyeri.

Rata-rata selisih keluhan nyeri otot rangka pada kelompok perlakuan sebe-sar 2,9 dengan SD sebesebe-sar 1,8. 14 dari 15 responden di kelompok ini mengalami

(13)

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8 No.1, Agustus 2016, Hal 1 – 8

Pada kelompok kontrol, banyaknya keluhan pada masing-masing bagian an-tara pre-test dan post-test, secara umum hampir semua sama. Namun demikian, untuk keluhan pada bagian kaki kiri, res-ponden yang merasa nyeri, jumlahnya mengalami penurunan sebanyak satu orang. Keluhan terbanyak ada pada ba-hu kanan dan tangan kanan, yaitu bertu-rut-turut sebanyak 14 dan 13 orang.

Tabel 2.

Distribusi jumlah keluhan responden di ke dua kelompok penelitian

Jenis keluhan Jumlah keluhan Klp kontrol Klp perlakuan P re -te st P ost -te st S el si ih P re -te st P ost -te st S el si ih

Kaku leher bag atas 6 6 0 7 7 0

Kaku leher bag bwh 6 6 0 5 5 0

Nyeri bahu kanan 14 14 0 13 8 5

Nyeri bahu kiri 5 5 0 11 8 3

Nyeri punggung 8 9 1 7 1 6

Nyeri pinggang 9 10 1 10 2 8

Nyeri bokong 1 1 0 2 1 1

Nyeri tangan kanan 13 13 0 11 8 3

Nyeri tangan kiri 5 5 0 6 2 4

Nyeri lutut kanan 5 4 1 5 4 1

Nyeri lutut kiri 5 4 1 5 3 2

Nyeri kaki kanan 12 13 1 9 6 3

Nyeri kaki kiri 11 10 1 9 5 4

Nyeri paha kanan 1 1 0 2 1 1

Nyeri paha kiri 1 1 0 3 1 2

Pada kelompok eksperimen, jumlah keluhan terbanyak yang ditemui sebelum digunakannya kursi ergonomis, adalah pada bagian bahu kanan, yaitu seba-nyak 13 orang. Setelah penggunaan kur-si, keluhan terbanyak dirasakan pada bagian bahu kanan, bahu kiri dan tangan kanan, masing-masing oleh delapan pe-kerja. Penurunan jumlah keluhan terbe-sar ditemui untuk bagian pinggang (8 o-rang) dan bagian punggung (6 oo-rang)

Selanjutnya, rekapitulasi hasil peng-ukuran jumlah keluhan nyeri otot rangka

untuk setiap responden di kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.

Selisih keluhan nyeri otot rangka setiap responden di ke dua kelompok penelitian

No urut responden Jumlah keluhan Klp kontrol Klp perlakuan P re -te st P ost -te st S el si ih P re -te st P ost -te st S el si ih 1 5 5 0 6 1 5 2 8 8 0 8 4 4 3 6 6 0 7 4 3 4 10 11 1 11 5 6 5 5 6 1 8 4 4 6 6 6 0 9 6 3 7 4 4 0 10 4 6 8 7 8 1 2 2 0 9 8 8 0 6 4 2 10 10 10 0 6 4 2 11 6 6 0 7 4 3 12 4 4 0 8 7 1 13 12 12 0 8 7 1 14 6 4 2 5 2 3 15 7 6 1 5 4 1 Jumlah 104 104 6 106 62 44 Rata-rata 6,93 6,93 0,4 7,06 4,13 2,9 SD 2,31 2,52 0,63 2,21 1,68 1,8

Tabel di atas menunjukkan, bahwa rerata selisih keluhan nyeri otot rangka pada kelompok kontrol sebesar 0,4 de-ngan Standard Deviation (SD) sebesar 0,63. Hampir semua jenis keluhan pada kelompok kontrol di awal dan akhir pene-litian sama, namun ada juga yang meng-alami penurunan, yaitu responden no-mor 14 dengan dua keluhan; serta ada juga ada yang mengalami kenaikan yaitu responden nomor 4 dan 5, dengan satu keluhan nyeri.

Rata-rata selisih keluhan nyeri otot rangka pada kelompok perlakuan sebe-sar 2,9 dengan SD sebesebe-sar 1,8. 14 dari 15 responden di kelompok ini mengalami

Ningsih, Herawati & Suwarni, Penggunaan Kursi Ergonomis …

penurunan jumlah keluhan. Penurunan yang tertinggi dirasakan oleh responden nomor 7 dan nomor 4 dengan enam ke-luhan nyeri, serta responden nomor 1 dengan lima keluhan. Adapun untuk res-ponden nomor 8 tidak merasakan keluh-an, baik untuk pre-test maupun post-test.

PEMBAHASAN

Analisis Penggunaan Kursi

Ergonomis terhadap Keluhan Nyeri Otot Rangka

Hasil analisis statistik dengan uji

Mann-Whitney memperoleh nilai p

sebe-sar 0,0001, yang menunjukkan adanya perbedaan penurunan keluhan di antara kedua kelompok penelitian. Ini berarti bahwa penggunaan kursi ergonomis ber-pengaruh secara bermakna terhadap pe-nurunan tingkat keluhan nyeri otot rang-ka pekerja laundry bagian penyetrirang-kaan.

Hal tersebut sesuai dengan penda-pat Iridiastadi 11), yaitu bahwa salah satu faktor utama terjadinya gangguan pada sistem otot rangka adalah tekanan yang disebabkan oleh posisi kerja. Selain itu, faktor yang berpengaruh terhadap kese-hatan kerja adalah yang berhubungan dengan aspek ergonomi atau sikap ker-ja, seperti pekerjaan yang berulang-u-lang dan posisi kerja yang tidak ergono-mis yang akan menyebabkan kelelahan, seperti timbulnya rasa nyeri pada otot 12).

Hasil uji statistik tersebut juga seja-lan dengan temuan penelitian yang dila-kukan Asmari 13), bahwa penggunaan kursi ergonomis, secara bermakna mem-pengaruhi tingkat kelelahan dan produk-tivitas kerja di industri bulu mata palsu di Desa Gading, Playen, Gunung Kidul.

Posisi berdiri pada saat menyetrika sedapat mungkin harus dikurangi karena seluruh berat tubuh tertopang oleh ke-dua kaki, dan kaki harus sejajar agar tu-buh tidak tergelincir 14), sehingga harus diganti dengan posisi duduk. Selain itu, berdiri terlalu lama dapat menyebabkan penggumpalan di pembuluh darah vena sehingga pergelangan kaki akan mem-bengkak karena aliran darah berlawanan dengan gaya gravitasi.

Menurut Susihono14), sikap duduk yang baik dapat dicapai dengan

meng-gunakan kursi bersandaran yang tepat menopang punggung, sehingga otot-otot punggung terasa enak. Namun, pada ke-nyataannya, duduk terlalu lama ketika menyetrika juga menimbulkan keluhan pada pinggang dan tangan, sehingga kedua posisi kerja tersebut perlu dilaku-kan secara bergantian.

Pekerja laundry biasanya lebih me-milih berdiri ketika menyetrika. Menurut mereka, dengan posisi tersebut, kecepa-tan kerja menjadi lebih tinggi sehingga pakaian yang disetrika lebih banyak di-bandingkan posisi duduk.

Ketika duduk menggunakan kursi tanpa sandaran, bagian punggung, ping-gang dan tangan akan cepat lelah kare-na tubuh dalam keadaan tegang. Seba-liknya, berdiri dalam waktu yang lama, bagian kaki, lutut dan bahu akan terasa kaku dan kesemutan, bahkan nyeri.

Menurut Kroemer yang dikutip oleh Susihono 14), ketika sikap duduk dilaku-kan maka otot-otot bagian paha adilaku-kan se-makin tertarik dan bertentangan dengan bagian pinggul. Kondisi ini menyebabkan tulang pelvis akan ke belakang dan bagi-an lumbal akbagi-an mengendor, sehingga sisi depan invertebrate disk menjadi ter-tekan dan sekelilingnya menjadi melebar sehingga mengakibatkan munculnya ra-sa nyeri pada punggung bagian bawah.

Salah satu faktor penyebab dari ke-luhan nyeri otot rangka oleh pekerja se-trika adalah ketidak-sesuaian antara u-kuran antropometri tubuh pekerja de-ngan ukuran kursi dan meja kerja. Untuk itu, perlu dilakukan penyerasian.

Antropometri adalah ukuran karakte-ristik tubuh seseorang yang dijadikan da-sar dalam merancang suatu peralatan atau sarana kerja agar sesuai dengan u-kuran tubuh pekerjanya, yaitu kursi yang ergonomis berukuran tinggi 52 cm, pan-jang 46 cm, tinggi sandaran punggung 60 cm dan lebar alas duduk 54 cm.

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 15 orang responden di kelompok eksperimen mengalami penurunan kelu-han nyeri otot rangka setelah menggu-nakan kursi ergonomis selama tujuh ha-ri, disebabkan karena pekerja merasa nyaman ketika menggunakan kursi de-ngan desain ergonomis tersebut. Selain

(14)

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8 No.1, Agustus 2016, Hal 1 – 8

itu, kondisi kursi yang digunakan sebe-lumnya tidak memiliki sandaran pung-gung dan pekerja biasanya menumpuk kursi agar tingginya sesuai dengan meja kerja yang digunakan.

Dalam hal ini, untuk responden yang tidak mengalami perubahan keluhan, bi-sa jadi disebabkan karena pekerja ter-sebut sudah terbiasa dengan keluhan yang muncul, sementara bagian tubuh yang dirasakan antara sebelum dan se-sudah menggunakan kursi ergonomis adalah sama. Selain itu, diketahui bahwa beban kerja yang diterima setiap hari o-leh responden ini ternyata lebih banyak dibanding lainnya, yaitu lebih dari 50 kg.

Hasil penelitian ini juga sejalan de-ngan temuan Purnomo 15), yaitu terjadi-nya 87,8 % penurunan keluhan

musculo-skeletal pada pekerja di industri gerabah

Kasongan Bantul dengan pendekatan ergonomi total pada sistem kerja.

Pada kelompok eksperimen, keluh-an terbkeluh-anyak sebelum penggunakeluh-an kursi ergonomis adalah bahu kanan, yaitu se-banyak 13 orang. Hal tersebut disebab-kan karena kursi yang digunadisebab-kan tidak sesuai dengan ukuran meja dan tubuh pekerja, sehingga tangan tidak terto-pang oleh meja dengan baik dan bahu terasa nyeri. Menurut Pheasant dalam Siswiyanti 16), permukaan bidang kerja yang terlalu tinggi akan menyebabkan postur tubuh pemakai menjadi tidak nya-man dan dapat melemahkan tubuh bagi-an atas atau membebbagi-ani otot-otot bahu.

Penggunaan Kursi Ergonomis dengan Penurunan Keluhan pada Punggung

Keluhan pada punggung sebelum digunakannya kursi ergonomis dirasakan oleh tujuh responden, dan setelah peng-gunaan turun menjadi satu orang saja. Ini menunjukkan adanya penurunan jum-lah keluhan pada punggung.

Hal tersebut terjadi karena dibuat-nya sandaran punggung pada kursi yang dipakai sehingga pekerja lebih nyaman karena bisa menyandarkan punggung-nya ke kursi. Menurut Kroemer dalam Susihono14), posisi kerja duduk menggu-nakan kursi tanpa sandaran, akan me-naikkan tekanan pada invertebrate disk sebesar 1/3 hingga 1/2 kali lebih tinggi

dibanding posisi berdiri. Berdasarkan pe-nelitian Koesyanto 17), sikap kerja duduk yang membungkuk dan didukung oleh desain kursi yang buruk, berisiko me-munculkan penyakit akibat kerja berupa gangguan musculoskeletal yang dapat menimbulkan kekakuan dan kesakitan pada punggung.

Penggunaan Kursi Ergonomis dengan Keluhan pada Pinggang

Hasil penelitian menunjukkan bah-wa keluhan sakit pinggang pada kelom-pok perlakuan mengalami penurunan dari 10 menjadi hanya 2 orang. Hal ter-sebut karena dibuatnya sandaran ping-gang pada kursi ergonomis yang sesuai dengan ukuran pekerja yaitu bagian atas sandaran tersebut tidak melebihi tepi wah ujung tulang belikat, dan bagian ba-wah setinggi garis pinggul.

Pada bagian pinggang pekerja se-ring merasa nyeri dan kesemutan akibat adanya siksa paksa dari penggunaan sarana kerja yang terlalu pendek atau tinggi 18). Dengan adanya sandaran ping-gang yang ditambahkan pada kursi ergo-nomis yang dibuat, membuat pinggang menjadi dapat ditopang, sehingga otot-ototnya dapat diregangkan sesekali keti-ka pekerja istirahat dan bersandar.

Keluhan Nyeri Otot Rangka Pekerja Laundry Bagian Penyetrikaan

Pekerja laundry bagian penyetrikaan banyak yang mengeluh bagian tangan dan kakinya tiba-tiba merasa kesemutan dan leher terasa kaku jika terlalu banyak pakaian yang disetrika. Setelah penggu-naan kursi ergonomis ini, masih ada dua responden yang mengeluh kesemutan pada bagian kaki. Hal tersebut terjadi karena kursi belum dilengkapi dengan pijakan kaki, demikian pula dengan meja yang digunakan, sehingga kaki mereka sedikit menggantung.

Menurut Helmi 19), kekakuan locking merupakan penyakit kekakuan sendi yang terjadi secara tiba-tiba akibat blok secara mekanis pada sendi oleh tulang rawan. Apabila kelainan yang ada meng-akibatkan ketidak-stabilan sendi maka penyebabnya dapat berupa kelelahan otot. Kondisi tersebut terjadi karena

(15)

pe-Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8 No.1, Agustus 2016, Hal 1 – 8

itu, kondisi kursi yang digunakan sebe-lumnya tidak memiliki sandaran pung-gung dan pekerja biasanya menumpuk kursi agar tingginya sesuai dengan meja kerja yang digunakan.

Dalam hal ini, untuk responden yang tidak mengalami perubahan keluhan, bi-sa jadi disebabkan karena pekerja ter-sebut sudah terbiasa dengan keluhan yang muncul, sementara bagian tubuh yang dirasakan antara sebelum dan se-sudah menggunakan kursi ergonomis adalah sama. Selain itu, diketahui bahwa beban kerja yang diterima setiap hari o-leh responden ini ternyata lebih banyak dibanding lainnya, yaitu lebih dari 50 kg.

Hasil penelitian ini juga sejalan de-ngan temuan Purnomo 15), yaitu terjadi-nya 87,8 % penurunan keluhan

musculo-skeletal pada pekerja di industri gerabah

Kasongan Bantul dengan pendekatan ergonomi total pada sistem kerja.

Pada kelompok eksperimen, keluh-an terbkeluh-anyak sebelum penggunakeluh-an kursi ergonomis adalah bahu kanan, yaitu se-banyak 13 orang. Hal tersebut disebab-kan karena kursi yang digunadisebab-kan tidak sesuai dengan ukuran meja dan tubuh pekerja, sehingga tangan tidak terto-pang oleh meja dengan baik dan bahu terasa nyeri. Menurut Pheasant dalam Siswiyanti 16), permukaan bidang kerja yang terlalu tinggi akan menyebabkan postur tubuh pemakai menjadi tidak nya-man dan dapat melemahkan tubuh bagi-an atas atau membebbagi-ani otot-otot bahu.

Penggunaan Kursi Ergonomis dengan Penurunan Keluhan pada Punggung

Keluhan pada punggung sebelum digunakannya kursi ergonomis dirasakan oleh tujuh responden, dan setelah peng-gunaan turun menjadi satu orang saja. Ini menunjukkan adanya penurunan jum-lah keluhan pada punggung.

Hal tersebut terjadi karena dibuat-nya sandaran punggung pada kursi yang dipakai sehingga pekerja lebih nyaman karena bisa menyandarkan punggung-nya ke kursi. Menurut Kroemer dalam Susihono14), posisi kerja duduk menggu-nakan kursi tanpa sandaran, akan me-naikkan tekanan pada invertebrate disk sebesar 1/3 hingga 1/2 kali lebih tinggi

dibanding posisi berdiri. Berdasarkan pe-nelitian Koesyanto 17), sikap kerja duduk yang membungkuk dan didukung oleh desain kursi yang buruk, berisiko me-munculkan penyakit akibat kerja berupa gangguan musculoskeletal yang dapat menimbulkan kekakuan dan kesakitan pada punggung.

Penggunaan Kursi Ergonomis dengan Keluhan pada Pinggang

Hasil penelitian menunjukkan bah-wa keluhan sakit pinggang pada kelom-pok perlakuan mengalami penurunan dari 10 menjadi hanya 2 orang. Hal ter-sebut karena dibuatnya sandaran ping-gang pada kursi ergonomis yang sesuai dengan ukuran pekerja yaitu bagian atas sandaran tersebut tidak melebihi tepi wah ujung tulang belikat, dan bagian ba-wah setinggi garis pinggul.

Pada bagian pinggang pekerja se-ring merasa nyeri dan kesemutan akibat adanya siksa paksa dari penggunaan sarana kerja yang terlalu pendek atau tinggi 18). Dengan adanya sandaran ping-gang yang ditambahkan pada kursi ergo-nomis yang dibuat, membuat pinggang menjadi dapat ditopang, sehingga otot-ototnya dapat diregangkan sesekali keti-ka pekerja istirahat dan bersandar.

Keluhan Nyeri Otot Rangka Pekerja Laundry Bagian Penyetrikaan

Pekerja laundry bagian penyetrikaan banyak yang mengeluh bagian tangan dan kakinya tiba-tiba merasa kesemutan dan leher terasa kaku jika terlalu banyak pakaian yang disetrika. Setelah penggu-naan kursi ergonomis ini, masih ada dua responden yang mengeluh kesemutan pada bagian kaki. Hal tersebut terjadi karena kursi belum dilengkapi dengan pijakan kaki, demikian pula dengan meja yang digunakan, sehingga kaki mereka sedikit menggantung.

Menurut Helmi 19), kekakuan locking merupakan penyakit kekakuan sendi yang terjadi secara tiba-tiba akibat blok secara mekanis pada sendi oleh tulang rawan. Apabila kelainan yang ada meng-akibatkan ketidak-stabilan sendi maka penyebabnya dapat berupa kelelahan otot. Kondisi tersebut terjadi karena

pe-Ningsih, Herawati & Suwarni, Penggunaan Kursi Ergonomis …

kerja setrika melakukan aktivitas yang berulang-ulang dan monoton sehingga kontraksi otot akan terjadi dan menim-bulkan rasa nyeri.

Menurut Guyton dan Hall dalam Su-setyo 20), pada saat kontraksi otot dibu-tuhkan ATP (Adenosin Tri Phospate), yang ketersediaannya tergantung pada ketersediaan oksigen dan zat makanan yang dihantarkan oleh sirkulasi intramas-kular. Kontraksi otot yang terjadi secara kontinyu dan monoton akan menyebab-kan okulasi intramaskular yang mengu-rangi produksi ATP sehingga terbentuk-lah asam laktat. Penurunan energi dan akumulasi asam laktat tersebut lalu me-nimbulkan rasa nyeri dan lelah.

Selain faktor ergonomi, status gizi, psikologis dan beban kerja juga merupa-kan faktor bagi timbulnya rasa lelah dan nyeri 12). Faktor-faktor tersebut dalam pe-nelitian ini belum dapat digambarkan ka-rena tidak dikendalikan akibat keterba-tasan waktu.

Status gizi yang baik akan menye-babkan kapasitas kerja dan ketahanan tubuh juga lebih baik, dan demikian pula sebaliknya. Keadaan psikologis seseo-rang juga mempengaruhi munculnya ke-luhan. Ketika kondisi jiwa sedang tidak stabil, atau mempunyai masalah dengan lingkungan kerja, maka kondisi fisik pe-kerja akan terpengaruh sehingga bepe-kerja tidak nyaman dan cepat merasa lelah.

Sementara itu, untuk beban kerja, Selama dilakukannya pengamatan pe-nelitian, hanya diketahui berat rata-rata pakaian yang disetrika, yaitu pada ke-lompok perlakuan sebesar 34,7 kg dan pada kelompok kontrol sebesar 35 kg. Tingginya beban kerja dan diperberat o-leh kondisi sarana kerja yang tidak ergo-nomis merupakan faktor dominan ter-hadap penurunan produktivitas kerja dan munculnya keluhan pada otot rangka 18).

KESIMPULAN

Rerata jumlah keluhan nyeri otot rangka pada pekerja laundry sebelum penggunaan kursi ergonomis adalah se-besar 7,06 dengan SD 2,21. Setelah kur-si ergonomis digunakan, reratanya turun menjadi 4,13 dengan SD 1,68

Setelah menggunakan kursi ergono-mis, distribusi keluhan pada responden mengalami penurunan jumlah yaitu pada bagian pinggang, punggung, tangan kiri dan kaki kiri.

Penggunaan kursi ergonomis yang dilakukan pada penelitian ini berpenga-ruh secara bermakna (p-value 0,0001) terhadap penurunan keluhan nyeri otot rangka pada pekerja laundry di wilayah Kota Yogyakarta.

SARAN

Dinas Perizinan Kota Yogyakarta perlu berkoordinasi dengan para pemilik

laundry untuk menyediakan kursi

ergo-nomis, yaitu yang menggunakan sandar-an punggung, agar pekerja merasa nya-man ketika bekerja sehingga mengura-ngi munculnya keluhan nyeri otot rangka yang disebabkan oleh posisi kerja yang kurang baik.

Untuk melanjutkan penelitian ini, di-sarankan perlu memperhatikan kondisi status gizi, keadaan psikologis dan be-ban kerja pekerja, ketika menerapkan penggunaan kursi ergonomis ini untuk mengurangi keluhan nyeri otot rangka.

DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang No 36 tahun 2009

tentang Kesehatan, 2009. (http://

idn91185.pdf

2. Restantin, N. Y., Ushada, M., Ainuri M., 2012, Desain prototipe meja dan kursi pantai portabel dengan inte-grasi pendekatan ergonomi, Value

Engineering dan Kansei Engineer-ing, 14(1).

3. Departemen Kesehatan RI, 2006.

Profil Kesehatan Indonesia 2005

(http://resources/download/pusdatin/ profil-kesehatan-indonesia/profil-ke-sehatan-indonesia-2005.pdf, diak-ses 12 Januari 2016).

4. Tampubolon, J. S., dan Adiatmika, I. P. G., 2014. Keluhan muskuloskele-tal pada pekerja laundry di Kecama-tan Denpasar SelaKecama-tan, Bali, e-Jurnal

Medika Udayana, hal. 1–9 (http://

ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/ view/8862, diakses 4 Desember

(16)

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8 No.1, Agustus 2016, Hal 1 – 8

2015).

5. Ulfah, N. Harwanti, S. Nurcahyo, P. J., 2014. Sikap kerja dan risiko mus-culoskeletal disorders pada pekerja laundry, Jurnal Kesehatan

Masyara-kat, hal. 313–318 (http://

Jurnalkes-mas.ui.ac.id/index.php/kesmas/ arti-cle /view /371).

6. Wibowo, H., 2013. Studi Ergonomi

tenang Keluhan-Keluhan Fisik yang Dialami Karyawan di Unit Perpusta-kaan Fakultas Kedokteran Univer-sitas Gadjah Mada Yogyakarta,

Program Ilmu Perpustakaan dan Fa-kultas Adab dan Ilmu Budaya Uni-versitas Islam Negeri Sunan Kali-jaga ( http://diglib.uin.saka.ac.id/ide-print/8889.downdload.portalgaruda. org/article. php?article=131645 7. Tarwaka. 2011. Ergonomi Industri,

Dasar-dasar Pengetahuan Ergono-mi dan Implementasi K3 di Tempat Kerja, Harapan Press, Surakarta.

8. Astutik, S. S., 2015. Hubungan an-tara desain kursi kerja dengan ke-luhan nyeri punggung bawah pada pekerja bagian penenun di CV Pirsa Art Pekalongan, Unnes Journal Of

Public Health, hal. 61–68 (http://

journal. unnes. ac.id/sju/index.php/ ujph, diakses 21 Januari 2016).

9. Dinata, K. I. M., Adiputra, N, dan Adi atmaka, I. P. G., 2015. Alternating sitting-standing posture decrease fatigue, musculoskeletal complaint and increase productivity of ironing women worker in household, The

Indonesian Journal of Ergonomic,

hal.30-40 (http://ojs. unud.ac.id/in-dex.php/jei/article/view/120262015, diakses 10 Desember 2015).

10. Notoatmodjo, S., 2010. Metodologi

Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta

Jakarta.

11. Iridiastadi, H., 2014. Ergonomi

Su-atu Pengantar, PT. Remaja

Rosda-karya, Bandung.

12. Suma’mur, 2009. Hygiene

Perusa-haan dan Kesehatan Kerja (Hiper-kes), CV. Sagung Seto, Jakarta.

13. Asmari, T. N., 2014. Pengaruh

Pe-nggunaan Kursi Ergonomis terha-dap Tingkat Kelelahan dan

Produk-tivitas Kerja pada Industri Pembuat-an Bulu Mata Palsu Desa Gading Playen Gunung Kidul, Jurusan

sehatan Lingkungan Poltekkes Ke-menkes Yogyakarta.

14. Susihono, W., Prasetyo, W., 2012. Perbaikan postur kerja untuk me-ngurangi keluhan musculoskeletal dengan pendekatan Metode Owas,

Jurnal Teknik Industri, hal.1-13 (http:

//journal.uad.ac.id, diakses 4 De-sember 2015.

15. Purnomo, H., Manuaba, A., Adiputra N., 2007. Sistem kerja dengan pen-dekatan ergonomi total mengurangi keluhan muskuloskeletal, kelelahan dan beban kerja serta meningkatkan produktivitas pekerja industri gera-bah di Kasongan, Bantul,

Indone-sian Journal Biomedical of Science,

hal.1-12 (http://ojs.unud.ac.id /index/ php/ijbs/article /view/3659, diakses 7 Januari 2016).

16. Siswiyanti., Perancangan meja kursi ergonomis pada pembatik tulis di Kelurahan Kalinyamat Wetan Kota Tegal, Jurnal Ilmiah Teknik Industri

Universitas Pancasakti Tegal, hal.

179-191 (http://journals.ums.ac.id/in-dex.php/jiti/article/view/6442013, di-akses 10 Desember 2015).

17. Koesyanto, H., 2013. Masa kerja dan sikap kerja duduk terhadap nyeri punggung, Jurnal Kesehatan

Ma-syarakat, hal. 9-14

(http://journal.un-nes.ac.id/ nju/index.php/kesmas). 18. Rahmawati, Y. 2011. Sikap kerja

du-duk terhadap cummulative trauma disorders, Jurnal Kesehatan

Masya-rakat, hal. 7-13.

19. Helmi, Z. N., 2013. Bahan Ajar

Gangguan Musculoskeletal,

Pener-bit Salemba, Bandung.

20. Susetyo, J., Oes, T. I., Indonesiani, S. H., 2008. Prevalensi keluhan su-byektif atau kelelahan karena sikap kerja yang tidak ergonomis pada pengrajin perak, Jurnal Teknik

In-dustri IST AKPRIND, hal. 141-149

(http:// jurtek.akprind.ac.id/sites/de-fault/files/141_149_joko_s.pdf, diak-ses 9 Juni 2016).

(17)

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8 No.1, Agustus 2016, Hal 1 – 8

2015).

5. Ulfah, N. Harwanti, S. Nurcahyo, P. J., 2014. Sikap kerja dan risiko mus-culoskeletal disorders pada pekerja laundry, Jurnal Kesehatan

Masyara-kat, hal. 313–318 (http://

Jurnalkes-mas.ui.ac.id/index.php/kesmas/ arti-cle /view /371).

6. Wibowo, H., 2013. Studi Ergonomi

tenang Keluhan-Keluhan Fisik yang Dialami Karyawan di Unit Perpusta-kaan Fakultas Kedokteran Univer-sitas Gadjah Mada Yogyakarta,

Program Ilmu Perpustakaan dan Fa-kultas Adab dan Ilmu Budaya Uni-versitas Islam Negeri Sunan Kali-jaga ( http://diglib.uin.saka.ac.id/ide-print/8889.downdload.portalgaruda. org/article. php?article=131645 7. Tarwaka. 2011. Ergonomi Industri,

Dasar-dasar Pengetahuan Ergono-mi dan Implementasi K3 di Tempat Kerja, Harapan Press, Surakarta.

8. Astutik, S. S., 2015. Hubungan an-tara desain kursi kerja dengan ke-luhan nyeri punggung bawah pada pekerja bagian penenun di CV Pirsa Art Pekalongan, Unnes Journal Of

Public Health, hal. 61–68 (http://

journal. unnes. ac.id/sju/index.php/ ujph, diakses 21 Januari 2016).

9. Dinata, K. I. M., Adiputra, N, dan Adi atmaka, I. P. G., 2015. Alternating sitting-standing posture decrease fatigue, musculoskeletal complaint and increase productivity of ironing women worker in household, The

Indonesian Journal of Ergonomic,

hal.30-40 (http://ojs. unud.ac.id/in-dex.php/jei/article/view/120262015, diakses 10 Desember 2015).

10. Notoatmodjo, S., 2010. Metodologi

Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta

Jakarta.

11. Iridiastadi, H., 2014. Ergonomi

Su-atu Pengantar, PT. Remaja

Rosda-karya, Bandung.

12. Suma’mur, 2009. Hygiene

Perusa-haan dan Kesehatan Kerja (Hiper-kes), CV. Sagung Seto, Jakarta.

13. Asmari, T. N., 2014. Pengaruh

Pe-nggunaan Kursi Ergonomis terha-dap Tingkat Kelelahan dan

Produk-tivitas Kerja pada Industri Pembuat-an Bulu Mata Palsu Desa Gading Playen Gunung Kidul, Jurusan

sehatan Lingkungan Poltekkes Ke-menkes Yogyakarta.

14. Susihono, W., Prasetyo, W., 2012. Perbaikan postur kerja untuk me-ngurangi keluhan musculoskeletal dengan pendekatan Metode Owas,

Jurnal Teknik Industri, hal.1-13 (http:

//journal.uad.ac.id, diakses 4 De-sember 2015.

15. Purnomo, H., Manuaba, A., Adiputra N., 2007. Sistem kerja dengan pen-dekatan ergonomi total mengurangi keluhan muskuloskeletal, kelelahan dan beban kerja serta meningkatkan produktivitas pekerja industri gera-bah di Kasongan, Bantul,

Indone-sian Journal Biomedical of Science,

hal.1-12 (http://ojs.unud.ac.id /index/ php/ijbs/article /view/3659, diakses 7 Januari 2016).

16. Siswiyanti., Perancangan meja kursi ergonomis pada pembatik tulis di Kelurahan Kalinyamat Wetan Kota Tegal, Jurnal Ilmiah Teknik Industri

Universitas Pancasakti Tegal, hal.

179-191 (http://journals.ums.ac.id/in-dex.php/jiti/article/view/6442013, di-akses 10 Desember 2015).

17. Koesyanto, H., 2013. Masa kerja dan sikap kerja duduk terhadap nyeri punggung, Jurnal Kesehatan

Ma-syarakat, hal. 9-14

(http://journal.un-nes.ac.id/ nju/index.php/kesmas). 18. Rahmawati, Y. 2011. Sikap kerja

du-duk terhadap cummulative trauma disorders, Jurnal Kesehatan

Masya-rakat, hal. 7-13.

19. Helmi, Z. N., 2013. Bahan Ajar

Gangguan Musculoskeletal,

Pener-bit Salemba, Bandung.

20. Susetyo, J., Oes, T. I., Indonesiani, S. H., 2008. Prevalensi keluhan su-byektif atau kelelahan karena sikap kerja yang tidak ergonomis pada pengrajin perak, Jurnal Teknik

In-dustri IST AKPRIND, hal. 141-149

(http:// jurtek.akprind.ac.id/sites/de-fault/files/141_149_joko_s.pdf, diak-ses 9 Juni 2016).

PEMBERIAN VARIASI MODEL ALAT PEMUNGUT SAMPAH

TERHADAP FREKUENSI MEMUNGUT SAMPAH

MURID TK KUDUP SARI DI SIDOLUHUR, GODEAN, SLEMAN, TAHUN 2016

Jati Khairudin*, Adib Suyanto**, Sigid Sudaryanto**

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293 email: [email protected]

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstract

Waste management can involve the entire community, including children. The involvement of very young children is a good first step for them to learn how to handle waste and to be respon-sible for caring the environment. The average age of Kudup Sari Kindergarten’s students, which is located in Sidoluhur, Godean, Sleman, is 6 years old. Children at this age are in the stage of imitating and receiving new knowledge easily. Therefore, it is expected that the children can easily apply the new received knowledge. This study was aimed to reveal the most preferred model of trash picking device among kindergarten children by conducting a quasi experiment which employed post-test only design. The population and sample of the study were all 41 stu-dents in the Class B of Kudup Sari Kindergarten. The observation was held in 10 times to ob-serve the number of children who pick the trash up that using the two picking models. Des-criptively, the difference of frequency average of trash picking is obvious, i.e. 4 times with the piercing model against 37 times with the clipping model. The result of independent t-test at 95 % level of confidence confirmed the difference since the obtained p-value that was smaller than 0,001, showing a significant disparity between the two averages. Therefore, this study shows that the clipping model is much more preferred by Kudup Sari Kindergarten students to pick trash than the piercing one.

Keywords : trash picking device model, trash picking frequency, kindergarten students

Intisari

Penanganan sampah dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat, termasuk anak-anak. Melibatkan anak usia dini merupakan langkah awal yang baik untuk pembelajaran penanganan sampah agar peduli terhadap lingkungan. Murid TK Kudup Sari rata-rata berusia 6 tahun, yaitu. usia yang berada dalam tahap meniru dan mudah menerima ilmu pengetahuan baru, sehingga diharapkan mereka lebih mudah untuk mengaplikasikan pembelajaran yang diperoleh. Studi ini bertujuan untuk mengetahui model alat pemungut sampah yang paling disukai murid TK me-lalui penelitian yang bersifat kuasi eksperimen dengan desain penelitian post-test only. Popu-lasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh 41 orang murid Kelas B TK Kudup Sari yang terle-tak di Sidoluhur, Godean, Sleman. Pengamatan dilakukan sebanyak 10 kali ulangan dan dila-kukan dengan cara mengamati jumlah anak yang memungut sampah dengan menggunakan dua model alat pemungut yang disediakan. Secara deskriptif terlihat jelas perbedaan rerata fre-kuensi memungut sampah yang dilakukan oleh siswa TK, yaitu empat kali menggunakan model alat tusuk dan 37 kali menggunakan model alat penjepit. Hasil uji t-test bebas pada derajat ke-percayaan 95 % mengkonfirmasi hal tersebut karena nilai p yang dihasilkan lebih kecil dari 0,001 sehingga perbedaan tersebut sangat signifikan, di mana alat pemungut sampah model penjepit jauh lebih disukai dibandingkan alat pemungut sampah model tusuk.

Kata Kunci : model alat pemungut sampah, frekuensi memungut sampah,

murid taman kanak-kanak

PENDAHULUAN

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 ten-tang Pengelolaan Sampah, dinyatakan bahwa sampah adalah sisa kegiatan se-hari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Berdasarkan

ba-han asalnya sampah dapat dibagi men-jadi dua jenis, yaitu sampah organik dan sampah anorganik 1).

Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, berbanding lu-rus dengan pertambahan jumlah sam-pah. Selain itu, pola konsumsi

(18)

masyara-Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8, No.1, Agustus 2016, Hal 9 – 15

kat, peningkatan kemampuan produksi, dan kegiatan pemasaran turut menye-babkan tingginya timbulan sampah. Ber-bagai kegiatan tersebut memberi kontri-busi dalam menghasilkan jenis sampah yang semakin beragam, seperti sampah kemasan yang berbahaya dan/atau sulit diurai oleh proses alam 2).

Sampah merupakan salah satu ma-salah lingkungan yang belum dapat dita-ngani dengan baik, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Sam-pah yang tidak dikelola dengan baik da-pat menurunkan etika dan estetika ling-kungan, menimbulkan bau tidak sedap, serta berperan sebagai tempat berkem-bangnya berbagai bibit penyakit 3).

Menurut UU Nomor 18 di atas, sam-pah telah menjadi permasalahan nasio-nal, sehingga pengelolaannya perlu di-lakukan secara komprehensif dan ter-padu dari hulu ke hilir supaya memberi-kan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masya-rakat 1).

Berbagai langkah untuk menangani sampah telah dilakukan, dari mulai me-ngurangi, memungut, memilah, menggu-nakan kembali sampai dengan mendaur ulang. Semua langkah tersebut telah ba-nyak disosialisasikan kepada masyara-kat, namun belum memberikan hasil yang optimal. Kepedulian masyarakat terhadap sampah masih sangat kurang.

Permasalahan sampah di Indonesia, termasuk di Kota Yogyakarta, tidak ha-nya menjadi tanggung-jawab pemerintah saja, tetapi masyarakat juga memiliki tanggung-jawab dalam pengelolaannya. Permasalahan sampah di masyarakat bukanlah masalah yang kecil, sebab jika tidak dikelola dengan baik akan menim-bulkan permasalahan baru. Menurut Ka-Subdin Pembersihan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta, masyara-kat hendaknya sejak dari lingkungan ru-mah tangga sudah melakukan pemilah-an jenis sampah 4).

Salah satu upaya untuk menangani sampah adalah memungut sampah yang berceceran. Murid taman kanak-kanak (TK) yang rata-rata berusia lima sampai

enam tahun merupakan awal yang baik untuk membiasakan mereka memungut sampah. Perioda umur ini merupakan masa yang menunjukkan bahwa ber-main dengan ber-mainan menunjukkan pun-caknya.

Usia dua sampai enam tahun dibut juga usia pra-sekolah yaitu usia se-belum anak memasuki sekolah dasar yang memiliki kesukaan terhadap alat yang dapat dipergunakan untuk belajar dan bermain. Selain itu, usia ini juga di-sebut sebagai usia kreatif, karena pada masa ini anak-anak lebih menunjukkan kreatifitas dalam bermain dibandingkan dengan masa-masa lain dalam kehidup-annya 5).

Berdasarkan wawancara dengan guru Kelas B TK Kudup Sari yang ter-letak di Kecamatan Godean pada tang-gal 18 Januari 2016, diperoleh informasi jumlah murid di TK tersebut adalah se-banyak 68 orang yang terbagi dalam 3 kelas, yaitu satu Kelas A dengan 27 mu-rid dan 2 kelas B, masing-masing de-ngan 20 murid dan 21 murid.

Murid TK Kudup Sari yang berada di Kelas B rata-rata berusia 6 tahun dan sudah diperkenalkan dengan sampah dan aktivitas memungut sampah pada mata pelajaran tematik lingkungan. Sam-pah yang paling banyak ditemui di ling-kungan TK tersebut adalah daun dan bungkus jajanan. Sampah tersebut ba-nyak berserakan di lingkungan sekolah pada saat jam istirahat dan pulang se-kolah.

Pada penelitian sebelumnya yang hampir serupa dengan penelitian ini, de-ngan hasil penelitian berupa frekuensi, ketepatan, dan kesukaan responden membuang sampah di tempat sampah, penelitian tersebut belum meneliti apa-kah sampah yang dibuang adalah sam-pah timbulan responden sendiri atau dari hasil memungut sampah di lingkungan.

Karena pembiasaan memilah dan membuang sampah pada tempat sam-pah sudah dilakukan, maka peneliti ter-tarik untuk melakukan pembiasaan me-mungut sampah dengan cara memberi-kan alat pemungut sampah kepada mu-rid TK dan mengukur tingkat kesukaan

(19)

Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.8, No.1, Agustus 2016, Hal 9 – 15

kat, peningkatan kemampuan produksi, dan kegiatan pemasaran turut menye-babkan tingginya timbulan sampah. Ber-bagai kegiatan tersebut memberi kontri-busi dalam menghasilkan jenis sampah yang semakin beragam, seperti sampah kemasan yang berbahaya dan/atau sulit diurai oleh proses alam 2).

Sampah merupakan salah satu ma-salah lingkungan yang belum dapat dita-ngani dengan baik, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Sam-pah yang tidak dikelola dengan baik da-pat menurunkan etika dan estetika ling-kungan, menimbulkan bau tidak sedap, serta berperan sebagai tempat berkem-bangnya berbagai bibit penyakit 3).

Menurut UU Nomor 18 di atas, sam-pah telah menjadi permasalahan nasio-nal, sehingga pengelolaannya perlu di-lakukan secara komprehensif dan ter-padu dari hulu ke hilir supaya memberi-kan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masya-rakat 1).

Berbagai langkah untuk menangani sampah telah dilakukan, dari mulai me-ngurangi, memungut, memilah, menggu-nakan kembali sampai dengan mendaur ulang. Semua langkah tersebut telah ba-nyak disosialisasikan kepada masyara-kat, namun belum memberikan hasil yang optimal. Kepedulian masyarakat terhadap sampah masih sangat kurang.

Permasalahan sampah di Indonesia, termasuk di Kota Yogyakarta, tidak ha-nya menjadi tanggung-jawab pemerintah saja, tetapi masyarakat juga memiliki tanggung-jawab dalam pengelolaannya. Permasalahan sampah di masyarakat bukanlah masalah yang kecil, sebab jika tidak dikelola dengan baik akan menim-bulkan permasalahan baru. Menurut Ka-Subdin Pembersihan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta, masyara-kat hendaknya sejak dari lingkungan ru-mah tangga sudah melakukan pemilah-an jenis sampah 4).

Salah satu upaya untuk menangani sampah adalah memungut sampah yang berceceran. Murid taman kanak-kanak (TK) yang rata-rata berusia lima sampai

enam tahun merupakan awal yang baik untuk membiasakan mereka memungut sampah. Perioda umur ini merupakan masa yang menunjukkan bahwa ber-main dengan ber-mainan menunjukkan pun-caknya.

Usia dua sampai enam tahun dibut juga usia pra-sekolah yaitu usia se-belum anak memasuki sekolah dasar yang memiliki kesukaan terhadap alat yang dapat dipergunakan untuk belajar dan bermain. Selain itu, usia ini juga di-sebut sebagai usia kreatif, karena pada masa ini anak-anak lebih menunjukkan kreatifitas dalam bermain dibandingkan dengan masa-masa lain dalam kehidup-annya 5).

Berdasarkan wawancara dengan guru Kelas B TK Kudup Sari yang ter-letak di Kecamatan Godean pada tang-gal 18 Januari 2016, diperoleh informasi jumlah murid di TK tersebut adalah se-banyak 68 orang yang terbagi dalam 3 kelas, yaitu satu Kelas A dengan 27 mu-rid dan 2 kelas B, masing-masing de-ngan 20 murid dan 21 murid.

Murid TK Kudup Sari yang berada di Kelas B rata-rata berusia 6 tahun dan sudah diperkenalkan dengan sampah dan aktivitas memungut sampah pada mata pelajaran tematik lingkungan. Sam-pah yang paling banyak ditemui di ling-kungan TK tersebut adalah daun dan bungkus jajanan. Sampah tersebut ba-nyak berserakan di lingkungan sekolah pada saat jam istirahat dan pulang se-kolah.

Pada penelitian sebelumnya yang hampir serupa dengan penelitian ini, de-ngan hasil penelitian berupa frekuensi, ketepatan, dan kesukaan responden membuang sampah di tempat sampah, penelitian tersebut belum meneliti apa-kah sampah yang dibuang adalah sam-pah timbulan responden sendiri atau dari hasil memungut sampah di lingkungan.

Karena pembiasaan memilah dan membuang sampah pada tempat sam-pah sudah dilakukan, maka peneliti ter-tarik untuk melakukan pembiasaan me-mungut sampah dengan cara memberi-kan alat pemungut sampah kepada mu-rid TK dan mengukur tingkat kesukaan

Khairudin, Suyanto & Sudaryanto, Pemberian Variasi Model …

mereka terhadap model alat pemungut sampah tertentu.

Peneliti memberikan pelatihan cara penggunaan alat pemungut sampah un-tuk murid TK Kudup Sari, yaitu dengan metoda demonstrasi dan diikuti anak se-cara langsung. Penggunaan metoda de-monstrasi tersebut mengacu pada hasil penelitian yang pernah dilakukan sebe-lumnya bahwa penyuluhan dengan me-toda tersebut lebih baik dalam mening-katkan tindakan (39,83 %) dibandingkan dengan metoda ceramah (27,74 %) 6). Hasil penelitian tersebut mengisyarat-kan bahwa metoda demonstrasi mem-punyai pengaruh yang bermakna bagi tindakan responden dalam mengelola sampah.

Umur mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang, karena sema-kin bertambah umur maka akan semasema-kin berkembang pula daya tangkap dan pola pikir yang dimiliki.

Dalam penelitian ini responden di-pilih pada rentang usia 5-7 tahun (dido-minasi oleh usia 6 tahun), yaitu semua murid Kelas B TK Kudup Sari. Pemilihan rentang umur tersebut mengacu pada penelitian sebelumnya tentang “Peng-gunaan Permainan ‘Ular Tangga Anak Sehat’ sebagai Media Pembelajaran un-tuk Meningkatkan Pengetahuan Cuci Ta-ngan Pakai Sabun Siswa SD Negeri di Kutoarjo Purworejo”, di mana siswa res-ponden yang dipilih untuk mengukur ke-berhasilan suatu alat sebagai media pembelajaran, perbedaan umurnya tidak terpaut jauh, sehingga masing-masing responden memiliki daya tangkap dan pola pikir yang hampir sama 7).

Berdasarkan latar belakang terse-but, peneliti tertarik untuk membuat alat pemungut sampah dengan dua variasi, yaitu Model Penjepit (Model I) dan Model Tusuk (Model II) untuk murid TK sebagai alternatif media pembelajaran untuk me-nanamkan sifat peduli akan lingkungan dalam bentuk memungut sampah de-ngan tetap menjaga kebersihan tade-ngan mereka. Alat tersebut juga dapat ber-fungsi sebagai mainan untuk model pen-jepit, karena anak dapat mengatur ting-kat kekuatan karet, mengganti karet

se-suai dengan warna yang diinginkan, dan alat ini mudah dirangkai kembali ketika rusak sehingga dapat digunakan juga sebagai media untuk mengasah kete-rampilan motorik dan kreatifitas.

Variasi model alat pemungut sam-pah ini diberikan dengan tujuan agar mu-rid TK mau untuk memungut sampah yang berceceran dengan menggunakan model alat yang disukai namun tetap da-pat menjaga kebersihan tangan mereka.

Setelah pemberian alat ini, peneliti berharap tidak timbul lagi rasa takut ko-tor ketika memungut sampah. Alat ini di-desain untuk memungut sampah yang ri-ngan dan tidak mudah hancur seperti sampah plastik, kertas, daun, atau sam-pah lain yang sesuai dengan kriteria ter-sebut.

METODA

Penelitian yang dilakukan termasuk kuasi eksperimen dengan menggunakan desain post-test only, yang hasilnya di-analisis secara deskriptif dan analitik. Populasi penelitian adalah semua murid Kelas B TK Kudup Sari yang terletak di Kecamatan Godean Kabupaten Sleman, Provinsi D. I. Yogyakarta yang berjumlah 41 orang. Sebagai sampel penelitian adalah semua murid Kelas B TK ter-sebut yang memungut sampah dengan menggunakan alat yang telah disediakan oleh peneliti.

Variabel bebas yang diteliti adalah dua model alat pemungut sampah yang peneliti buat, yaitu Model Penjepit dan Model Tusuk. Sementara itu, variabel terikat yang diamati adalah frekuensi memungut sampah yang dilakukan de-ngan menggunakan model-model alat pemungut sampah yang telah disiapkan tersebut. Variabel terikat ini diukur mela-lui pengamatan langsung sebanyak 10 kali ulangan dalam waktu yang berbeda.

Data yang diperoleh dari hasil peng-amatan dianalisis secara deskriptif dan inferensial dengan menggunakan pro-gram SPSS for Windows 16.0. Analisis deskriptif dilakukan untuk mendapatkan gambaran distribusi frekuensi dari ma-sing-masing variabel.

Gambar

Tabel  1  memperlihatkan  bahwa  pa- pa-da Perlakuan A, rerata pengukuran  pre-test dan post-pre-test, masing-masing
Tabel  1  memperlihatkan  bahwa  pa- pa-da Perlakuan A, rerata pengukuran  pre-test dan post-pre-test, masing-masing
Grafik 1 menunjukkan berat rata-ra- rata-ra-ta  ikan  Nila  tertinggi  untuk  pengukuran  post-test  dihasilkan  dari  kelompok   per-lakuan dengan konsentrasi penambahan  limbah  bulu  ayam  10  %,  yaitu  sebesar  42,75 gram, dan yang terrendah ditemui
Tabel  2  memperlihatkan  bahwa  se- se-paruh dari responden berusia antara  41-50 tahun

Referensi

Dokumen terkait

several patients with erosive gastritis, pre-ulcer and ulcer lesions, gene e [ pressions of either cagA or even vacA was not found. In this study, cagA or even vacA gene could

Briket merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang berasal dari biomassa yang digunakan sebagai sumber energi sederhana dan murah.Biomassa yang digunakan dalam penelitian

Myös metsälaissa (12.12.1996/1093) on vastaavanlainen tarkoituspykälä, kuin vuonna 2011 uudistetussa kaivoslaissakin: metsälain 1 §:n mukaan ”lain tarkoituksena on edistää

tidak akan pernah bisa kreatif (belajar) dengan hasil yang baik, ketika prosesnya. tidak menghalalkan segala cara (misalnya saja dengan baju

Untuk pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di periode selanjutnya, sebaiknya pendataan yang dilakukan harus disesuaikan dengan jumlah masyarakat secara tepat, hal

The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume XLII-2/W3, 2017 3D Virtual Reconstruction and Visualization of

Mahendra (2008:16) mengemukakan bahwa : “D alam senam kependidikan anak belajar pada tingkatnya masing-masing, untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan

Tugas Akhir merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang untuk menyelesaikan