Edisi
Oktober-Desember 2013
KPPOD
Membangun Indonesia dari Daerah
www.kppod.org
Pembangunan Ekonomi Daerah berbasis
Kewilayahan dan Sektor Unggulan
P
embangunan ekonomi daerah menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal, seperti masalah kesenjangan dan iklim globalisasi. Yang disebut belakangan ini menuntut tiap daerah untuk mampu bersaing di dalam dan luar negeri. Kesenjangan dan globalisasi berimplikasi kepada propinsi dan kabupaten/kota, untuk melaksanakan percepatan pembangunan ekonomi daerah secara terfokus melalui pengembangan kawasan dan produk andalannya. Dalam hal ini kemampuan pemerintah Pemda dalam merumuskan strategi pembangunan menentukan kemajuan daerah.Perlu diingat adanya “Fenomena Kutukan Sumber Daya”, yakni kebanyakan daerah kaya sumber daya ternyata berkembang menjadi daerah terbelakang. Sebaliknya daerah miskin sumber daya justru berkembang menjadi daerah maju. Keterbelakangan bukan karena kurangnya sumber daya alam, tetapi karena kekurangmampuan atau ketidakberdayaan dalam pengelolaan oleh pengusaha dan Pemda. Hal tersebut terjadi karena daerah tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menyerap modal dan teknologi karena kurang ketrampilan dan sikap entrepreneurship yang mendukung perubahan.
Seluruh stakeholders di daerah memiliki peran dalam mengisi pembangunan ekonomi dan harus bekerjasama melalui bentuk pengelolaan keterkaitan antar sektor, antar program, antar pelaku, dan antar daerah. Dengan kata lain pembangunan ekonomi daerah harus berbasis pada wilayah, yang setidaknya didasarkan pada prinsip: (1) berbasis pada sektor unggulan; (2) dilakukan atas dasar karakteristik daerah; (3) dilakukan secara komprehensif dan terpadu; (4) mempunyai keterkaitan kuat ke depan dan ke belakang; (5) dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip otonomi dan desentralisasi.
Pengembangan suatu wilayah harus melihat kondisi internal, dan mengantisipasi perkembangan eksternal. Faktor internal meliputi pola-pola pengembangan SDM, informasi pasar, sumber daya investasi, kebħ akan investasi, pengembangan infrastruktur, pengembangan kelembagaan lokal, dan tata kelola pemerintahan, serta kerjasama dan kemitraan. Faktor eksternal meliputi kesenjangan wilayah dan pengembangan kapasitas otonomi daerah, serta perdagangan bebas. Intinya adalah meningkatkan daya saing kawasan dan produk unggulan. Idealnya pengelolaan kawasan dimulai dengan menentukan visi dan misi pengembangan, kemudian disusun strategi pengembangan, serta mengembangkan hubungan pemerintah dan dunia usaha.
Beberapa kebħ akan yang diperlukan meliputi: (1) kebħ akan investasi, yang terkait dengan produk unggulan, insentif, dan promosi; (2) kebħ akan pengembangan kawasan, melalui identię kasi faktor penentu dan identię kasi strategi pendukung yang sesuai; (3) kebħ akan perdagangan, yang mengatur perdagangan antar daerah dan sektor, serta minimalisasi hambatannya; (4) kebħ akan pengembangan infrastruktur ę sik dan non ę sik (SDM); (5) kebħ akan pengembangan kelembagaan, mencakup mekanisme pengambilan keputusan di pemerintah, penciptaan regulasi, dan sosial dan budaya masyarakat.
Fungsi pengembangan Pemda harus sesuai dengan kompetensi inti daerah yang dapat menciptakan trickledown eě ect yang optimal bagi kesejahteraan masyarakat. Perekonomian daerah yang tangguh pada dasarnya mencakup pengembangan sektor/komoditas unggulan yang memanfaatkan potensi dan sumber daya yang dimiliki baik dalam skala kabupaten maupun skala perdesaan. Sektor/komoditas unggulan yang dikembangkan suatu daerah umumnya bergerak di sektor pertanian, tetapi dapat juga sektor non pertanian, seperti industri, perdagangan dan jasa serta pariwisata. Perlu diingat keterkaitan antar industri, baik antara industri hulu dan hilir maupun jaminan pasokan bahan baku dengan jenis/varitas, jumlah produksi dan harga yang stabil dan layak secara ekonomi.
Permasalahan yang juga dihadapi oleh daerah saat ini, karena konsep kompetensi inti (beserta manfaat-manfaatnya) belum diterapkan secara benar dalam perencanaan perekonomian daerah dan belum menjadi komitmen yang kuat dari pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun
2
E
DITORIAL
Potensi Daerah dan Dukungan Kebħ akan Pemda
DAFTAR ISI
Susunan Redaksi
Pemimpin Redaksi:
Robert Endi Jaweng
Redaktur Pelaksana:
Ig. Sigit Murwito
Staě Redaksi:
Sri Mulyati Boedi Rheza Elizabeth Karlinda
Distribusi:
Regina Retno Budiastuti Kurniawaty Septiani
Agus Salim
Design dan Layout:
Rizqiah D Winantyo
Alamat Redaksi:
Permata Kuningan Building 10th Fl.
Jl. Kuningan Mulia Kav. 9C Guntur Setiabudi Jakarta Selatan 12980 Phone : +62 21 8378 0642/53 Fax : +62 21 8378 0643 www.kppod.org http://perda.kppod.org http://pustaka.kppod.org Artikel ... 3 Review Regulasi ... 8 Dari Daerah ... 11 Opini ... 15
Laporan Diskusi Publik ... 17
Seputar Otonomi ... 19
Agenda KPPOD ... 21
Sekilas KPPOD ... 23
Sejatinya tidak ada negara/daerah yang miskin. Yang ada adalah Negara/ daerah yang tidak dikelola secara baik. Ujaran terkenal dari guru manejemen, Peter Drucker, ini menemukan relevansinya saat kita membincangkan manajemen pembangunan lokal di era desentralisasi ini. Semua daerah, tanpa kecuali, memiliki potensi dan modal ekonominya masing-masing: entah berupa kekayaan alam, sumber daya manusia, lokasi strategis, dsb. Tantangannya adalah: mampu tidak pemangku otoritas setempat, Pemda, mengenal betul kekuatan potensial mereka dan pada gilirannya menjadikan potensi tersebut sebagai titik ungkit membangun daerahnya? Bagaimana kualitas tata kelola kebħ akan dan persiapan kapasitas implementasi yang dimiliki agar potensi tersebut terkapaitalisasi secara produktif, tidak malah menjadi dead-capital?
Dalam KPPODBrief ini, sejumlah rubrik utama berisikan aneka pandangan peneliti KPPOD seputar masalah tersebut. Kerangka isu besarnya adalah bagaimana daerah membangun perekonomiannya berbasis potensi unggulan setempat. Kasus yang diangkat--berdasarkan hasil olahan atas sebagian materi hasil projek bersama Ford Foundation--prihal keberadaan (kontribusi?) komoditi kakao dalam pembangunan di Kabupaten Sikka-NTT dan Kabupaten Majene-Sulbar.
Membaca tulisan-tulisan tersebut segera kita tahu bahwa kakao strategis bagi kedua kabupaten tersebut. Strategis bagi rakyat, bagi lapangan kerja, bagi sumber penghidupan petani, dll. Namun, ironisnya, semua itu berjalan apa adanya, taken for granted, menjadi keseharian yang berjalan begitu saja. Perhatian dan dukungan riil berupa program dari Pemda terasa minim. Bahkan, sebuah gugatan layak diajukan, adakah Pemda menyadari bahwa kakao memang unggulan di daerahnya?
Pertanyaan retoris tersebut jelas serius. Kalau titik tolak menilai peran dan program pemerintah itu adalah pada sisi kebħ akan, maka kita patutu memeriksa wujud kebħ akan tersebut baik dalam instrumen regulasi maupun instrumen ę skal. Faktanya, dari temuan di dua daeraah lokasi projek tersebut, kedua instrument tersebut nyaris absen. Jika regulasinya lemah, maka resonansinya jelas: alokasi ę skal (APBD) bagi kakao juga lemah. Jika uang minim, bagaimana Pemda mengembangan program dan kegiatan untuk mendukung peningkatan produktię tas kakao di daerahnya? Akhirnya, kami berharap, tulisan-tulisan yang dihadirkan dalam rubrik utama mampu menggugah para pemangku otoritas di seantero negeri ini, dengan variasi sektor potensial dan komoditi unggulan yang ada. Bahwa, keberpihakan dan dukungan nyata Pemda itu harus terlihat dalam membangun potensi dan modal yang dimiliki. Bahwa, mengingat keterbatasan dalam hampir smeua lini, Pemda wajib memiliki manajemen fokus untuk berkonsentrasi pada sejumlah potensi dan modal pilihan yang memang strategis bagi pembangunan daerahnya.
3
Perumusan Kebħ akan Perekonomian Daerah
Berbasis Sektor Unggulan Daerah melalui Pendekatan
Regulatory Impact Assessment (RIA)
Artikel
Dalam konteks Kabupaten Sikka, kakao menjadi salah satu sumber penghasilan utama bagi 33.278 kepala keluarga di Sikka. Pengelolaannya yang masih dalam skala tradisional dan semakin berkurangnya lahan perkebunan kakao menjadi salah satu penyebab menurunnya produktivitas kakao Sikka. Sejak 2004, produktivitas kakao terus menurun hingga 54% atau hanya sebesar 7.739,93 ton (14.333,2 ton pada 2003). Padahal jika dilihat dari luas lahan perkebunan yang mencapai 22.257 ha (2012), kakao Sikka memiliki potensi besar untuk berkembang. Dilihat dari produktivitas keseluruhan di NTT, produktivitas kakao Sikka menyumbangkan hampir 55,1% kakao NTT dengan luas lahan Sikka mencapai 48,1% dari luas lahan NTT. Meskipun luas lahan kakao di Sikka masih luas, secara nasional, kakao Sikka hanya mampu menghasilkan 321kg/ha/tahun jauh dibawah rata-rata nasional yang mencapai 900kg/ha/tahun.
Penurunan produksi kakao tersebut setara dengan kehilangan PDRB Rp.201,2 Milyar per tahun. Kehilangan PDRB sebesar itu mengakibatkan penurunan aktivitas multiplier eě ect roda perekonomian di Sikka berupa penurunan konsumsi barang dan jasa, produksi menurun, serapan tenga kerja dan bahan baku menurun, distribusi pendapatan masyarakat dan akhirnya masyarakat di sentra kakao terpuruk. Pengaruh penurunan produktivitas kakao di Sikka sangat besar karena kontribusi komoditi ini terhadap PDRB Sikka mencapai 8,46% (bersama dengan komoditi perkebunan lainnya).
Pendekatan RIA untuk Peningkatan Produktivitas Kakao
Dalam rangka merumuskan bentuk intervensi yang tepat guna meningkatkan produktivitas kakao dan sekaligus upaya mengembangkan sektor unggulan daerah di Sikka dilakukan dengan pendekatan RIA (Regulatori Impact Assessment). Kekuatan utama dari pendekatan RIA adalah dilakukan secara multistakholders dan adanya konsultasi public serta dilakukan berdasarkan kerangka berę kir yang logis dan rasional. Dalam rangka
perumusan kebħ akan tersebut, dilakukan dengan
melibatkan stakeholders yang berasal dari dinas-dinas terkait Melalui RIA, dirumuskan akar permasalahan berdasarkan fakta dan kondisi yang terjadi, dan selanjutnya dirumuskan alternatif tindakan dan bagaimana memutuskan suatu pilihan kebħ akan yang tepat berdasarkan pada analisis biaya dan manfaat yang ditimbulkan dari masing-masing alternatif tindakan yang diambil. Dengan melakukan perumusan masalah yang tepat, maka pemda dapat memutuskan bentuk intervensi apa yang tepat dilakukan.
Perumusan Masalah Sebagai Identię kasi Awal Penyusunan alternatif Kebħ akan yang Akan Dipilih
Dari hasil studi rantai nilai usaha kakao yang telah dilaksanakan oleh KPPOD, ditemukan bahwa penurunan produktivitas kakao di Sikka disebabkan oleh umur tanaman kakao yang sudah tua (umumnya 30-45 tahun), adanya serangan hama penyakit, dan pola tanam yang belum mengadopsi cara bercocok tanam yang baik (Good Agricultural Practices-GAP).
Minimnya program pembinaan dan pelatihan kepada petani juga menjadi salah satu bukti masih kurangnya komitmen Pemda Sikka dalam mengembangkan sektor usaha kakao di Sikka. Belum optimalnya koordinasi antar instansi Pemda maupun dengan pihak non pemda (lembaga keuangan, lsm, dll) menjadikan upaya pengembangan sektor kakao di Sikka belum dilaksanakan secara terpadu.
D
alam upaya meningkatkan perekonomian daerah, Pemda sejatinya mendasarkan program kebħ akannya pada sektor unggulan yang menjadi potensi daerah terkait. Melalui identię kasi potensi daerah, Pemda diharapkan dapat menghasilkan program kebħ akan yang tepat dengan kondisi daerah dan dapat menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Dengan begitu pemerintah dapat memutuskan strategi pengembangan yang sesuai, apakah melalui regulasi tertulis yang mengikat semua pihak (memiliki kekuatan hukum) ataukah cukup dengan kebħ akan yang bersifat program kegiatan. Keberadaan suatu regulasi (Perda, Perbup, dll) dapat dibuat dengan melihat kebutuhan daerah, jangan sampai adanya regulasi justru semakin membebani dan mempersulit berkembangnya sektor usaha di daerah.Sri Mulyati *
* Peneliti KPPOD
Metodologi Regulatory Impact Assessment (RIA)
Kerangka berpikir logis untuk membantu menyusun kebħ akan baru maupun kebħ akan yang sudah diimplementasikan untuk melihat manfaat keberadaan suatu kebħ akan. Metodologi RIA dilakukan melalui tahapan berikut:
1. Perumusan Masalah 2. Identię kasi Tujuan 3. Alternatif Tindakan 4. Analisis Biaya & Manfaat
5. Pemilihan Tindakan 6. Strategi Implementasi
4
Artikel
Secara umum permasalahan utama yang dihadapi petani di Sikka adalah rendahnya produktivitas kakao yang disebabkan oleh tanaman kakao tua dan serangan hama penyakit. Melalui pendekatan RIA, perumusan masalah diidentię kasi secara lebih menyeluruh sehingga didapatkan akar masalah yang menjadi penyebab dan perilaku siapa yang menyumbang terjadinya kondisi tersebut.
Pohon kakao yang mengalami busuk buah & Pohon kakao yang tua dan tidak terawat.
Akar permasalahan yang menjadi penyebab turunnya produktivitas tersebut disumbang oleh perilaku yang dilakukan baik oleh petani itu sendiri maupun stakeholder terkait lain. Kurangnya pengetahuan petani menyebabkan kegiatan budi daya selama ini dilakukan secara tradisional, petani tidak melakukan pola tanam yang baik dan petani tidak melakukan perawatan serta pemupukan pada kebun kakao sehingga kebun kakao rentan akan serangan hama penyakit. Sedangkan perilaku merugikan lainnya disumbang oleh para stakeholder terkait, dimana upaya pembinaan dan pelatihan kepada petani belum dilaksanakan secara optimal. Stakeholder terkait tersebut diantaranya dari pihak Pemda maupun Non Pemda. Pemda dalam hal ini khususnya Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) dan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh (BKP2) serta stakeholder lain di luar Pemda seperti lembaga keuangan, LSM, tokoh masyarakat, dll.
Dalam konteks Sikka, minimnya koordinasi antara Dinas pertanian dan Perkebunan (Distanbun) dan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh (BKP2) menyebabkan pelaksanaan program pembinaan dan pendampingan yang dilakukan keduanya belum berjalan secara optimal. Keterbatasan kapasitas dan jumlah PPL yang dimiliki oleh Distanbun dan BKP2 membuat program pendampingan kepada petani masih minim. Kendala lain terlihat dari belum efektifnya kinerja Dewan Kerjasama Ekonomi Daerah (DKED) dalam mengkoordinasikan semua stakeholder terkait kakao untuk mengembangkan kakao secara bersama-sama. DKED dengan fungsinya sebagai forum komunikasi stakeholder belum berperan secara optimal dalam mengupayakan kerjasama antar berbagai stakeholder terkait baik Pemda, LSM, lembaga keuangan, maupun stakeholder terkait sehingga program bantuan dan pembinaan kepada petani saat ini masih belum dilaksanakan secara terpadu. Salah satunya dapat dicontohkan dengan belum terserapnya dana program bantuan kredit dari lembaga keuangan dikarenakan kurangnya sosialisasi kepada petani dari lembaga keuangan dan pihak Pemda.
Akar permasalahan yang menyebabkan rendahnya produktivitas kakao di Sikka dapat digambarkan melalui pohon masalah dihalaman berikutnya.
Melalui identię kasi akar masalah tersebut, terlihat bahwa permasalahan yang muncul tidak hanya dikarenakan dari satu faktor saja namun dari beberapa faktor yang saling terkait satu sama lain. Dalam perumusan tindakan berikutnya harus melibatkan semua pihak terkait, mengidentię kasi perilaku siapa yang diharapkan berubah, mengidentię kasi hambatan dan faktor pendukung sehingga dalam merumuskan alternatif tindakan dapat dilakukan secara tepat, sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, dapat dilaksanakan dan dipatuhi semua pihak.
Pemilihan Alternatif Tindakan yang Tepat untuk menjawab permasalahan
Dengan mendasarkan pada akar masalah dan tujuan yang akan dicapai, yakni peningkatan produktivitas kakao, maka langkah selanjutnya adalah merumuskan berbagai alternatif tindakan. Penentuan alternatif tindakan dapat berupa regulasi maupun non regulasi. Alternatif tindakan yang bersifat regulasi dapat dilakukan melalui penyusunan atau penguatan payung hukum dari keberlanjutan setiap program pengembangan kakao maupun memperkuat kapasitas institusi DKED agar lebih optimal dalam menjalankan peran dan fungsinya. Sedangkan alternative tindakan yang bersifat non regulasi dapat dilakukan melalui upaya penyusunan program-program kegiatan untuk meningkatkan kapasitas petani dan kelompok petani, peningkatan kapasitas petani dan jumlah petugas penyuluh lapangan, dan optimalisasi koordinasi berbagai instansi terkait melalui DKED.
Berikut beberapa alternatif tindakan yang disusun berdasarkan pada rumusan akar masalah dan tujuan yang akan dicapai yakni peningkatan produktivitas kakao di Kabupaten Sikka.
I. Do Nothing/Membiarkan kondisi yang ada
Alternatif tindakan ini merupakan bentuk kebħ akan yang diambil oleh Pemda dengan membiarkan kondisi yang saat ini terjadi dan tidak melakukan intervensi apapun pada pengembangan sektor kakao. Dengan tindakan ini Pemda tidak mendapatkan manfaat apapun dari sektor kakao, pun Pemda tidak harus menambah alokasi anggaran untuk sektor perkebunan. Dari opsi ini, dampak negatif dirasakan paling besar oleh petani, produktivitas kakao yang semakin menurun, berdampak langsung pada menurunnya pendapatan petani dan sekaligus menurunkan kesejahteraan petani. Menurunnya kesejahteraan petani secara tidak langsung mengindikasikan gagalnya pemda dalam meningkatkan aktivitas perekonomian di daerahnya, sehingga dalam hal Pemda juga mendapatkan dampak negatif. Dampak negatif lainnya dirasakan oleh para pengusaha yang akan kesulitan mendapatkan bahan baku bħ i kakao dari petani sehingga pengusaha sulit untuk mengembangkan industrinya.
5
Artikel
II. Penguatan Kapasitas Petani dan Kelembagaan Petani
Rendahnya pengetahuan petani dan pola tanam yang kurang baik menjadi salah satu penyebab utama rendahnya produktivitas tanaman kakao. Melalui upaya peningkatan kapasitas dan kelembagaan petani, diharapkan akan dapat merubah pola pikir petani dari yang tradisional menjadi lebih modern. Dengan meningkatnya pengetahuan, petani akan lebih memahami pentingnya merawat kebun, dan melakukan pola tanam yang baik sehingga dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas tanaman kakao. Sedangkan melalui peningkatan kelembagaan petani baik melalui poktan maupun gapoktan, petani akan dapat meningkatkan status legalitasnya sehingga dapat mempermudah akses permodalan kepada lembaga keuangan. Disamping itu, melalui penguatan kelembagan petani dapat diupayakan program-program pembinaan seperti kegiatan pemasaran bersama, pelatihan pupuk organik, maupun mempermudah akses petani dalam mengajukan bantuan kepada Pemda.
Dengan opsi ini, dampak positif dirasakan paling besar oleh petani. Petani menjadi aktor utama pelaksana budidaya kakao mendapatkan pembinaan dan pelatihan secara maksimal sehingga dapat berswadaya dan mampu mengurangi
ketergantungan dari bantuan yang diberikan baik oleh pemda maupun pihak lain. Hal tersebut menjadi salah satu dampak positif juga bagi Pemda, meskipun ada konsekuensi penambahan alokasi anggaran yang harus dikeluarkan. Meningkatnya kapasitas petani dalam budidaya kakao, akan dapat meningkatkan produktivitas kakao, mutu bħ i kakao yang dihasilkan lebih baik, harga yang didapat petani menjadi lebih tinggi sehingga kesejahteraan petani meningkat. Manfaat lain didapatkan oleh pengusaha yakni jaminan kepastian tersedianya bħ i kakao dalam jumlah dan kualitas yang baik untuk memenuhi kebutuhan industri.
III. Penguatan Kapasitas dan Jumlah PPL
Alternatif tindakan ini menjadi salah satu opsi dalam upayanya meningkatkan produktivitas tanaman kakao. Kondisi yang selama ini terjadi, program pendampingan dan pembinaan dari PPL belum optimal karena adanya keterbatasan baik dari sisi kualitas maupun kuantitas PPL yang dimiliki Distanbun maupun BKP2. PPL yang dimiliki Pemda umumnya bersifat polivalen dengan beragam latar belakang sehingga dalam menjalankan tugasnya tidak hanya fokus pada kakao tetapi pada tanaman pangan lainnya. Disamping itu keterbatasan anggaran juga menjadi sebab minimnya jumlah dan kapasitas PPL yang dimiliki pemda.
Pola Tanam yang Kurang Baik
(Jarak tanam; Pemangkasan; Peremajaan; Teknik sambung; Pemupukan, dll)
Kurangnya Pengetahuan Tidak ada insentif bagi petani Keterbatasan Modal Produksi Keterbatasan bibit yang sesuai
kondisi daerah Kurang Keterlibatan Swasta Keterbatasan Program Pemerintah Kurang Keterlibatan Lembaga Kurang Pendampingan Kurangnya Kapasitas Penyuluh Kurangnya Jumlah PPL Pemda Kurangnya Sosialisasi Bersama Program/Produk Jasa Keuangan Kurangnya Keterlibatan Penyuluh Swasta
Lemahnya Koordinasi & Sinergi Program Lintas Sektor
Kurang Optimalnya Peran & Fungsi DKED
Umur Tanaman Kakao Serangan Hama Penyakit
6
Artikel
Melalui peningkatan kapasitas dan jumlah PPL ini diharapkan akan mampu memberikan transfer pengetahuan secara maksimal kepada petani, sehingga pelaksanaan pembinaan dan pelatihan petani dapat dilakukan secara maksimal.
Pelaksanaan alternatif ketiga ini akan membantu kinerja Pemda dalam hal ini Distanbun dan BKP2 dalam hal melaksanakan pembinaan dan pelatihan kepada petani. Meskipun akan berdampak pada penambahan alokasi anggaran pemda, namun melalui opsi ini target kerja dari pemda akan lebih mudah tercapai. Adanya penguatan kapasitas dan peningkatan jumlah PPL akan memperluas jangkauan kerja dari petugas PPL. Semakin luas jangkauan kerjanya, maka manfaatnya akan semakin besar diterima oleh petani. Semakin banyak petani mendapatkan pembinaan dan pelatihan, maka akan semakin meningkat kapasitas petani dalam pengembangan usaha kakao.
IV. Revitalisasi DKED melalui Perubahan Dasar Hukum
Dewan Kerja sama Ekonomi Daerah (DKED) merupakan wadah bersama bagi semua stakeholder baik unsur Pemda maupun Non Pemda untuk mendiskusikan berbagai hal terkait pengembangan ekonomi daerah salah satunya forum kakao Sikka. DKED ini disahkan melalui SK Bupati No. 245/ HK/2012 tentang Pembentukan Dewan Kerja sama Ekonomi Daerah (DKED). Tugas utama dari DKED ini adalah mengkoordinasikan stakeholder baik dari unsur pemda, swasta, petani, LSM dan sebagainya dalam rangka pembangunan ekonomi.
Dengan pemilihan opsi ini manfaat yang diterima jangkauannya akan lebih besar diterima oleh semua stakeholder kakao. Bagi petani, manfaat yang diterima akan lebih komprehensif dari hilir sampai hulu. Dari mulai pembinaan budidaya kakao, akses kepada lembaga keuangan hingga aspek pemasaran, semuanya berada dalam ruang lingkup DKED. Manfaat lain juga diterima oleh stakeholder lainnya, melalui optimalisasi peran DKED ini akan dapat menggerakkan semua stakeholder untuk bersinergi dan bekerjasama dalam mengembangkan sektor usaha kakao di Kabupaten Sikka. Dengan adanya sinergi program antar stakeholder terkait, diharapkan program pengembangan kakao dapat berjalan secara terpadu, tidak tumpang tindih dan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Analisis Manfaat-Biaya Dilakukan untuk Menentukan Pilihan Kebħ akan Terbaik
Tahapan ini merupakan tahapan penting untuk menentukan alternatif tindakan mana yang dipilih. Penentuan tersebut dilakukan melalui analisis biaya dan manfaat atas masing-masing alternatif tindakan yang sudah ditentukan sebelumnya. Analisis manfaat ditujukan untuk melihat berbagai keuntungan/kebaikan
yang didapat dari diterapkannya suatu tindakan. Sedangkan analisis biaya dilakukan untuk menghitung komponen biaya/kerugian apa saja yang dikeluarkan sebagai dampak dari diterapkannya suatu tindakan. Penghitungan analisis manfaat dan biaya diawali dengan menentukan indikator manfaat dan biaya yang diterima oleh masing-masing stakeholder yang terlibat. Penghitungan dilakukan dengan menggunakan indikator pengukuran yang sama untuk setiap alternatif tindakan. Alternatif tindakan yang memiliki manfaat paling besar dengan biaya yang kecil merupakan alternatif tindakan yang terbaik. Berdasarkan analisis manfaat dan biaya yang dilakukan pada empat alternatif tindakan yang ditetapkan, diputuskan bahwa alternatif ke empat (4) yaitu revitalisasi peran dan fungsi
DKED memberikan manfaat bersih yang paling besar
dibandingkan dengan tiga alternatif lain.
Dalam hal ini, DKED menjadi wadah berkumpulnya semua stakeholder baik dari pihak pemda maupun non Pemda sehingga upaya intervensi melalui penentuan alternatif tindakan ke empat ini akan dapat mensinergikan program pengembangan kakao yang telah ditetapkan. Dengan pelibatan semua stakeholder terkait, upaya pengembangan kakao akan dapat berjalan secara terpadu dan lebih optimal dalam pelaksanaannya. Manfaat yang diterima dari pelaksanaan opsi ke empat ini dapat menjangkau semua stakeholder. Dengan koordinasi yang efektif dari semua stakeholder terkait, program intervensi yang dimiliki oleh masing-masing stakeholder dapat dilakukan dengan baik, tidak tumpang tindih, dan dapat bersinergi satu sama lain sehingga hasil yang dicapai lebih optimal.
Sedangkan pihak yang paling mendapat kerugian dengan diterapkannya alternatif tindakan ke 4 (empat) adalah para pedagang tengkulak, karena dengan adanya peningkatan kapasitas dan pengetahuan petani, adanya koordinasi yang baik antar semua stakeholder melalui DKED, maka diharapkan kedepannya petani tidak lagi menjual hasil kebunnya pada pedagang tengkulak namun menjualnya langsung pada pedagang besar, atau melalui UPH sehingga dapat memutus rantai nilai perdagangan dan dapat meningkatkan harga bħ i kakao yang diterima petani.
Meskipun bagi Pemda pemilihan alternatif ke empat ini berimplikasi pada penambahan alokasi dana dalam rangka optimalisasi peran dan fungsi DKED, namun manfaatnya masih lebih besar, dan jangakauan manfaatnya lebih luas dan bersifat jangka panjang. Eksternalitas positif yang dapat dihasilkan dapat berupa:
1) Peningkatan produktivitas kakao akan
meningkatkan nilai dan volume perdagangan sehingga akan terjadi peningkatan PDRB Kabupaten Sikka;
2) Akivitas ekonomi yang meningkat sehingga
menciptakan multiplier eě ect tehadap aktivitas sosial ekonomi;
3) Pendapatan masyarakat meningkat, sehingga daya beli masyarakat yang meningkat;
4) PDRB meningkat;
5) Peningkatan pendapatan masyarakat meningkat,
berdampak pada pembayaran pajak yang merupakan penerimaan pemerintah.
Kombinasi dari tindakan alternatif 2, 3, dan 4 tentunya akan semakin memaksimalkan manfaat dan tercapainya tujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman kakao di Sikka. Dalam proses implementasi kegiatan perlu dipikirkan untuk mengkombinasi atau melaksanakan program secara simultan dari tiga opsi yang telah dirumuskan.
Strategi Implementasi Pelaksanaan Kebħ akan sebagai Upaya Mendorong Kepatuhan
Guna menjamin efektię tas pelaksanaan pilihan
kebħ akan yang sudah ditetapkan, perlu diupayakan strategi implementasi yang tepat. Untuk mengidentię kasi tingkat kepatuhan, para pelaksana
kebħ akan sebelumnya dapat melakukan analisis
persespsi tingkat kepatuhan, mekanisme dan sanksi yang dapat mendorong kepatuhan. Strategi lainnya dengan mengidentię kasi kelompok pendukung dan kelompok yang kontra, sehingga dengan begitu dapat menentukan pendekatan yang tepat dalam melakukan sosialisasi kegiatan sekaligus pada saat pelaksanaan dari pilihan kebħ akan tersebut.
Dalam upaya optimalisasi pelaksanaan upaya revitalisasi dan penguatan DKED Kab. Sikka, strategi implementasi dilakukan melalui beberapa langkah seperti sosialisasi melalui kegiatan FGD yang dilakukan kepada semua pihak terkait, audiensi dengan Bupati Sikka dan publikasi melalui media massa dan elektronik. Sedangkan upaya untuk mendorong kepatuhan terlaksananya opsi ke empat ini adalah dengan merekomendasikan hasil RIA menjadi salah satu materi dalam RPJMD yang disusun oleh Pemda, memperkuat legitimasi Tim RIA melalui SK Bupati sebagai pihak yang akan mengawal terlaksananya pilihan kebħ akan yang telah ditetapkan,
MOU antar pihak terkait, serta pendekatan lainnya yang bersifat persuasif hingga penetapan sanksi administrasi.
Konsultasi Publik sebagai Sarana Pelibatan Masyarakat Dalam Penyusunan Kebħ akan
Dalam metode RIA, idealnya pada setiap tahapan RIA dilakukan konsultasi publik kepada stakeholder terkait. Hal tersebut untuk memastikan bahwa produk kebħ akan nantinya benar-benar mencerminkan kenyataan di lapangan dan mewakili aspirasi dari semua stakeholder terkait. Konsultasi publik yang telah dilakukan dalam upaya penyusunan kebħ akan pengembangan kakao di Sikka ini telah dilakukan melalui berbagai media seperti diskusi kelompok terarah (FGD), wawancara dengan stakeholder terkait untuk verię kasi asumsi yang digunakan, publikasi melalui media cetak (koran lokal) dan dialog interaktif di radio. Melalui berbagai upaya konsultasi publik yang telah dilakukan tersebut, harapannya hasil kebħ akan yang telah disusun dapat mencerminkan aspirasi bersama dan mendapat dukungan dari semua pihak dalam pelaksanaannya.
Catatan Akhir
Mengacu pada upaya pemda dalam menyusun program pengembangan usaha kakao di Kabupaten Sikka, untuk menghasilkan kebħ akan yang baik dan tepat, maka proses perumusan kebħ akan tersebut harus mendasarkan diri pada kebutuhan masyarakat yang akan akan terkena dampak dari kebħ akan tersebut. Dengan mendasarkan pada kebutuhan dan kondisi fakta yang terjadi diharapkan akan dapat menghasilkan
kebħ akan yang efektif, dan dapat menjawab
permasalahan yang dihadapi di daerah terkait. Dimulai dari tahap perumusan akar masalah yang didasarkan pada fakta yang dirasakan oleh masyarakat, dan diikuti dengan serangkaian konsultasi publik untuk menjaring aspirasi masyarakat. Dengan membuka seluas-luasnya ruang keterlibatan masyarakat dalam proses perumusan kebħ akan diharapkan penerimaan masyarakat akan kebħ akan yang dihasilkan juga akan besar, sehingga tingkat kepatuhan masyarakat akan suatu kebħ akan akan lebih tinggi.
--o0o--Artikel
Saat ini KPPOD memiliki koleksi sekitar 20.000 Perda dalam versi elektronik
menyangkut topik ekonomi/investasi di daerah (Pajak, Retribusi, Perijinan, dll). Untuk melihat daft ar koleksi tersebut, silahkan akses http://perda.kppod.org.
Bagi individu/korporasi/organisasi yang akan memesan koleksi kami, dapat menelusuri prosedur dan syarat pemesanan yang tertera pada menu layanan submenu pemesanan perda.
Terima kasih
Bagian Keperpustakaan
8
Review Regulasi
Sektor perkebunan merupakan salah satu sektor unggulan di Indonesia. Beberapa contoh komoditas yang termasuk dalam sektor perkebunan adalah kakao, kelapa sawit, dan karet. Umumnya peran kunci dalam sektor perkebunan dipegang oleh petani. Banyak petani yang melakukan usaha perkebunan di daerah. Sedikit berbeda dengan komoditas kelapa sawit, sebagian usaha perkebunan dilakukan oleh perusahaan, meskipun ada yang dikelola oleh masyarakat melalui perkebunan inti rakyat (PIR).
Beberapa jenis komoditas yang perkebunannya dikelola oleh masyarakat, umumnya memiliki permasalahan yang sama. Kurangnya modal untuk mengelola kebun, belum adanya akses pasar yang memadai dan juga perawatan kebun yang tidak memadai. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, dapat dilakukan salah satu upaya yaitu melakukan kemitraan antara pengusaha dengan petani yang melakukan usaha tani. Peran pemda sebagai pemangku kewenangan dalam pengembangan sektor unggulan, juga dapat melakukan upaya mengeluarkan paying hukum bagi program kemitraan agar program kemitraan tersebut memiliki aturan yang jelas dan terstruktur.
Upaya untuk memayungi pelaksanaan kegiatan kemitraan tersebut diperlihatkan oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur, melalui Perda Propinsi Kaltim No. 3 tahun 2008 tentang kemitraan pembangunan perkebunan di propinsi Kalimantan timur. Perda ini dibuat untuk mengamankan program kemitraan pembangunan perkebunan sehingga dapat berjalan tertib, lancer dan mencapai asas manfaat dan berkelanjutan, keterpaduan, kebersamaan, keterbukaan serta berkeadilan, serta mencegah terjadinya pelanggaran dalam pelaksanaan program kemitraan pembangunan perkebunan (pasal 3).
Ringkasan Isi
Seperti yang telah disebutkan diatas, maksud dari penerbitan perda ini adalah untuk mengamankan dan menjamin pelaksanaan kemitraan menjadi tertib,
lancar dan berkelanjutan. Kemitraan pembangunan perkebunan yang dimaksudkan dalam Perda ini adalah serangkaian kegiatan yang meliputi pembangunan kebun binaan serta jaringan jalan kebun/jalan usaha tani dan fasilitas lainnya yang berkaitan dengan pengembangan usaha tani perkebunan binaan. Tujuan dari program kemitraan ini adalah untuk menumbuhkembangkan sinergi antara perkebunan besar dan pekebun rakyat agar tercapai peningkatan pendapatan masyarakat, lapangan kerja, produktię tas lahan, nilai tambah dan daya saing. Selain itu juga dengan penerapan perda ini diharapkan dapat mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan dan lestari serta meningkatkan penerimaan negara, dan devisa Negara (Pasal 3).
Hal lain yang diatur dalam perda ini adalah bentuk kemitraan itu sendiri. Terdapat 3 bentuk kemitraan yang diatur dalam perda ini yaitu:
a. Petani pekebun rakyat bekerjasama dengan Perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang perkebunan.
b. Petani pekebun rakyat bekerjasama dengan Perusahaan Badan Usaha Milik Daerah yang bergerak dalam bidang perkebunan.
c. Petani pekebun rakyat bekerjasama dengan Perusahaan Badan Usaha Milik Swasta dalam negeri maupun asing yang bergerak dalam bidang perkebunan.
Terdapat juga beberapa program yang merupakan bagian dari bentuk kemitraan tersebut yaitu:
a. Pembangunan kebun dilaksanakan penuh oleh perusahaan perkebunan pembina;
b. Perusahaan perkebunan pebina memberikan bibit unggul berlabel dan sarana produksi (pupuk dan pestisida) dengan pola kredit; c. Perusahaan perkebunan pembina membantu
proses pelaksanaan pengembalian kredit petani peserta;
Perda No. 3 tahun 2008 Kalimantan Timur tentang
K
EMITRAAN PEMBANGUNAN PERKEBUNAN
di PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
U
ntuk mengembangkan sektor unggulan, maka upaya-upaya terorganisir dan terstruktur harus dilakukan. Para stakeholder yang bergerak di sektor unggulan tersebut juga selayaknya turut berperan, bukan hanya pemda ataupun stakeholder kunci di sebuah sektor unggulan. Salah satu upaya yang dilakukan agar sektor unggulan ini dapat berkembang adalah membentuk program kemitraan antar para stakeholder, baik pemda, privat maupun masyarakat.Boedi Rheza*
Review Regulasi
d. Perusahaan perkebunan pembina membantu pembinaan dan pengembangan Koperasi petani peserta di sekitar wilayah perkebunan pembina; e. Perusahaan perkebunan pembina membantu
pelaksanaan kegiatan peremajaan pada kebun petani peserta yang telah memasuki masa peremajaan.
Dari beberapa bentuk dan program kemitraan yang dilakukan, secara garis besar perusahaan perkebunan Pembina mempunyai tugas dan kewajiban antara lain membangun perkebunan yang dilakukan perusahaan perkebunan Pembina seluas 20 persen dari total luas usaha perkebunan lengkap dengan fasilitas pengolahan
(pabrik) yang dapat menampung hasil kebun pembina dan kebun binaan sesuai dengan tata ruang yang berlaku, dengan penerapan teknologi yang ramah lingkungan, serta memfasilitasi aksesibilitas usaha tani, alih teknologi serta informasi bagi para petani peserta. Selain itu, juga menampung dan membeli seluruh hasil kebun binaan berdasarkan standar mutu dan harga yang ditetapkan pemerintah dengan pembayaran tepat waktu dan lainnya. Sedangkan hak yang didapat oleh perusahaan perkebunan Pembina adalah mendapatkan informasi yang diperlukan dalam pengembangan usaha, fasilitas proses perizinan dan fasilitasi penanaman modal.
Untuk dapat mengikuti program kemitraan ini, terdapat beberapa syarat bagi petani yaitu petani merupakan penduduk setempat, petani peladang berpindah dari kawasan hutan terdekat, masyarakat pemilik lahan atau transmigran di sekitar areal perusahaan perkebunan Pembina. Selain persyaratan tersebut, juga terdapat persyaratan lain seperti batasan umur, sehat jasmani dan rohani, serta tidak memiliki tunggakan pinjaman. Petani yang berhak mengikuti kemitraan juga merupakan petani yang lolos seleksi yang dilakukan oleh Pemda dan ditetapkan oleh Pemda. Pemda juga berperan untuk menetapkan harga jual atas produksi yang dilakukan. Penetapan Harga jual atau harga pembelian atas hasil penjualan produksi kebun binaan petani ditetapkan berdasarkan formula yang ditetapkan oleh pemerintah
yang dilaksanakan oleh instansi terkait (stakeholder) yang telah ditetapkan oleh Gubernur, sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam sebulan.
Potensi masalah:
1. Perda ini belum memasukkan PP No. 44 tahun
1997 tentang Kemitraan. PP ini menjabarkan teknis yang mengatur kemitraan antara perusahaan dengan petani atau pekebun. Dengan tidak adanya PP ini, dapat dikatakan perda ini tidak memiliki landasan yuridis yang lengkap.
2. Petani yang ikut ikut haruslah bebas dari
sumber: http://wisataindonesia.biz
tunggakan pinjaman lain dari perbankan pada waktu konversi diadakan, kecuali ada pertimbangan lain. Disini tidak jelas apa yang dimaksud dengan pertimbangan lain dan
3. melalui mekanisme apa pertimbangan tersebut
dilakukan. Hal ini dapat menimbulkan multi interpretasi bagi para pihak terutama bagi
4. petani maupun pemda sebagai pihak yang
melakukan penetapan peserta program kemitraan.
5. Keharusan petani menjual produknya kepada
perusahaan pembina perkebunan pada saat petani belum lunas kreditnya. Hal ini dapat mengakibatkan posisi tawar petani menjadi tidak kuat, karena akan menjadikan petani hanya sebagai penerima harga ketika masih memiliki tanggungan kredit.
6. Perda ini mengatur tentang hak yang didapat
oleh perusahaan, berupa fasilitas perizinan dan fasilitas penanaman modal. Namun perda ini tidak menjelaskan sejauh mana fasilitas ini diberikan atau dalam tingkatan apa fasilitas perħ inan maupun penanaman modal diberikan kepada perusahaan.
10
Review Regulasi
perkebunan yang dilakukan oleh gubernur sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan juga dapat menimbulkan permasalahan. Potensi permasalahan yang terjadi ketika penetapan harga ini adalah terdapatnya ketimpangan harga antara pasar dengan yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, tidak dħ elaskan mekanisme yang dilakukan untuk
mengantisipasi Ě uktuasi harga komoditas
perkebunan. Karena ada komoditas, seperti kakao, yang memiliki tingkat harga berĚ uktuasi setiap harinya, karena mengacu pada pasar di luar negeri.
8. Kewajiban pemda dalam pola kemitraan sudah
ada beberapa hal namun belum mencakup peran sebagai bapak asuh bagi para petani peserta. Memang dalam beberapa hal, Pemda bertugas menyediakan lahan, pendampingan bagi petani, namun pemda tidak ikut serta dalam menjamin ketersediaan lahan untuk pembinaan. Keseluruhan kewajiban untuk menyediakan lahan ditanggung oleh perusahaan. Seharusnya, pemda ikut menjamin ketersediaan lahan untuk pembinaan dengan
membantu perusahaan dalam menyediakan lahan binaan.
9. Tidak adanya mekanisme penyelesaian konĚ ik
yang terjadi dalam kemitraan di dalam perda ini. Hal ini berpotensi menyebabkan berlarut-larutnya konĚ ik ataupun permasalahan dalam kemitraan itu sendiri.
Rekomendasi
Upaya Pemprop Kaltim dalam memayungi program kemitraan melalui sebuah peraturan daerah layak untuk dihargai. Beberapa tujuan dari perda ini adalah untuk mengamankan program kemitraan dan mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaan program kemitraan antara petani dan pengusaha. Namun dari hasil analisis yang dilakukan, masih terdapat beberapa potensi permasalahan yang timbul dari perda ini, antara lain adanya aturan tentang calon peserta yang masih multitafsir, hak perusahaan yang belum disebutkan secara jelas dalam hal apa, maupun peran pemda yang belum begitu nampak dalam program kemitraan yang diatur melalui perda ini.
--o0o--Kakao Majene: Butuh Komitmen Pemda dalam Mengembangan
Kakao Sebagai Komoditas Utama
Dari Daerah
Dari keseluruhan total produksi kakao Indonesia, kontribusi terbesar (60 %) berasal dari Pulau Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Khusus di Sulawesi Barat, perkebunan kakao tersebar di hampir seluruh daerah, salah satunya adalah Kabupaten Majene. Kabupaten Majene merupakan salah satu dari lima kabupaten dalam wilayah Provinsi Sulawesi Barat yang menjadi sentra produksi kakao. Komoditas tersebut memberikan kontribusi terbesar dalam pendapatan masyarakat Majene. Dari data BPS menunjukkan, pada tahun 2010 subsektor perkebunan menyumbang kontribusi terbesar dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Majene yakni sebesar 40 %, dimana kakao mejadi komoditas utama di subsektor tersebut (Majene Dalam Angka 2012).
Faktor internal dan faktor eksternal Usaha Kakao Majene
Budidaya kakao di Kabupaten Majene melibatkan 10.289 KK. Jika satu keluarga di Majene memiliki empat orang anggota (ayah, ibu dan dua anak), artinya terdapat lebih dari 40.000 petani di Kabupaten Majene. Total produksinya di tahun 2011 mencapai 9.024 ton dengan produktivitas mencapai 880 kg/ha/tahun meningkat menjadi 950 ha/kg/tahun pada tahun 2013. Meskipun produktivitasnya sedikit lebih tinggi dari produktivitas nasional (821 ka/ha/tahun), namun nilai tersebut masih jauh produktivitas optimal kakao Majene yang sebesar 3.000 kg/ha/tahun (Bappeda Majene 2013).
Luas areal lahan kakao di Majene sebesar 12.412 ha. Tiga kecamatan yang menjadi sentra produksi kakao
di Majene adalah Kecamatan Tammerodo Sendana, Kecamatan Malunda dan Kecamatan Ulumanda. Luas areal kakao di tiga kecamatan tersebut berturut-turut pada tahun 2011 adalah 3.346 ha, 2.284 ha, dan 796 ha. Total produksi ketiga kecamatan tersebut mencapai 91 % dari total produksi kakao di Kabupaten Majene. Dari areal lahan kakao di Majene tersebut, seluruhnya (100%) merupakan perkebunan rakyat. Belum ada perkebunan swasta besar yang melakukan budidaya kakao di Majene. Sementara luas kepemilikan lahan rata-rata 1 ha/KK. Dari hasil observasi lapangan juga menunjukkan sangat jarang ada petani yang memiliki luas lahan kakao lebih dari 3 ha/KK.
Di lihat dari faktor eksternal, budidaya kakao masih dilakukan secara tradisional. Usaha ini telah dilakukan turun temurun sejak berpuluh tahun silam. Meskipun begitu, mayoritas petani kakao masih berada di bawah garis kemiskinan.
Nilai budaya kebersamaan di tingkat petani masih ada, namun mulai berkurang. Contohnya adalah beudaya gotong royong bersama dalam merawat kebun kakao milik petani. Namun, kini tidak semua poktan melakukan budaya tersebut., hanya sedikit yang masih menjalankannya.
Hingga kini belum ada LSM maupun perusahaan yang berperan dalam pengingkatan usaha kakao di Majene. Pembinaan dan pendampingan petani Majene beberapa kali pernah dilakukan LSM Wasiat yang berpusat di Kabupaten Polewali Mandar. Kerjasama antar petani (poktan) dengan perusahaan dalam bentuk jual beli maupun bantuan penyuluhan dan
K
akao merupakan komoditas strategis minimalnya karena dua hal. Pertama, Indonesia merupakan produsen kakao nomor dua di dunia setelah Pantai Gading, dengan produksi 809.586 tahun 2012. Dengan produksi sebesar itu, komoditas ini telah menyumbang devisa sebesar US $ 1,1 Milyar pada tahun 2012 yang merupakan perolehan devisa ketiga terbesar setelah kelapa sawit dan karet. Kedua, kegiatan usaha ini melibatkan petani kecil dengan tingkat kepemilikan lahan 0,5 -2 ha. Dengan demikian, perkembangan usaha kakao secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap ekonomi kerakyatan.Elizabeth Karlinda*
12
Dari Daerah
pendampingan dari perusahaan pun pun masing sangat jarang di Kabupaten Majene.
Kapasitas petani sebagai aktor utama usaha kakao masih rendah
Maju tidaknya usaha ini dipengaruhi oleh beberapa hal, terutama kapasitas SDM petani. Namun, kenyataannya kapasitas petani di Kabupaten Majene masih rendah dari aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan modal. Hal tersebut salah satunya ditunjukkan oleh kesadaran merawat kebun kakao yang masih rendah. Budidaya kakao yang kurang optimal tersebut mengakibatkan produktivitas dan kualitas bħ i kakao rendah. Terlebih hama dan penyakit yang banyak menyerang tanaman kakao semakin menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas tersebut.
Tidak hanya itu, kesadaran petani dalam melakukan proses pengolahan secara sempurna juga masih rendah. Akibatnya, pengeringan hanya dilakukan dalam waktu singkat (satu hari) dan prosesnya pun masih belum memerhatikan faktor kebersihan (sanitasi). Proses fermentasi pun masih sangat jarang dilakukan oleh para petani. Beberapa hal tersebut mengakibatkan kualitas bħ i kakao yang dihasilkan oleh petani semakin rendah. Kapasitas petani yang rendah juga menyebabkan mereka tidak memiliki posisi tawar terutama dalam sistem pemasaran. Justru peranan pengepul masih lebih menonjol ketimbang petani kakao di dalam rantai perdagangan kakao.
Beberapa hal yang menyebabkan kondisi rendahnya kapasitas petani, diantaranya adalah sebagai berikut: ¾Minimnya pelatihan bagi petani kakao Majene
Hingga kini, pelatihan yang diselenggarakan guna meningkatkan kapasitas petani di Kab. Majene masih minim. Hal ini dikarenakan anggaran yang digunakan untuk kegiatan tersebut masih terbatas. Minimnya anggaran pelatihan bagi para petani ini disebabkan oleh Tim Penyusun Anggaran Daerah (TPAD) tidak memprioritaskan program pengembangan kakao di Majene, khususnya di bidang penyuluhan. Padahal, ini tidak sesuai dengan misi Kabupaten Majene yakni Meningkatkan Kesejahteraan dan Taraf Hidup Masyarakat, dimana mayoritas petani kakao termasuk masyarakat miskin yang kesejahteraannya perlu ditingkatkan. Tidak hanya pemda, sesungguhnya progam pelatihan maupun pendampingan juga dilakukan oleh asosiasi kakao maupun perusahaan. Biasanya program tersebut dilakukan di daerah-daerah sentra produksi kakao. Namun, hal tersebut masih sangat jarang dilakukan di Majene. Akibatnya, kapasitas petani masih sulit ditingkatkan.
¾Kinerja penyuluh kurang optimal
Dilihat dari kuantitasnya, jumlah penyuluh di Kabupaten Majene masih kurang memadai. Masih ada penyuluh yang menangani lebih dari satu
FAKTOR INTERNAL FAKTOR EKSTERNAL
Jumlah petani kakao 10.289 KK (2011)
Lingkungan Sos-ial Budaya
• Budidaya masih tradisional
Total Produksi 9.024 ton (2011) • Usaha kakao dilakukan
turun
Total Luas Lahan
12.412 ha (2011) TBM : 1.700 ha TM: 10.254 ha TTM/TR : 458 ha
• Petani masih miskin
Produktivitas 880 kg/ha/tahun (2011)
Modal Sosial
• Nilai budaya kebersamaan di tingkat petani masih ada, namun mulai berkurang
Kepemilikan lahan 1 ha/KK
• Kemerosotan modal sosial secara kolektif ->Tidak memiliki rencana hidup sepanjang tahun Tidak ada kebħ akan
dari pemerintah untuk mempertahankan luas usaha kakao, atau menyediakan lahan untuk pengembanan usaha kakao
Peran NGO dan Perusahaan
NGO lokal yang berperan dalam peningkatan kakao di Majene hanya WASIAT, sementara belum ada perusahaan yang bekerja sama dengan petani
Ket:
TBM: Tanaman Belum Menghasilkan TM: Tanaman Menghasilkan
Dari Daerah
desa. Idealnya setiap penyuluh maksimal hanya menangani satu desa. Tidak hanya dari kuantitas, penyuluh pun masih memiliki kualitas rendah. Latar belakang penyuluh yang berbeda-beda menyebabkan tidak semua penyuluh memahami teknik budidaya kakao dengan baik.
Faktor lain yang mempengaruhi kinerja penyuluh adalah status tenaga penyuluh yang merupakan tenaga kontrak non PNS. Dalam hal ini, tenaga kontrak merupakan tenaga yang dikontrak oleh Kementerian Pertanian dalam jangka waktu 8 (delapan) bulan dan belum tentu dapat diperpanjang. Tenaga kontrak penyuluh pun hanya mendapatkan honor tenaga penyuluh, namun tidak mendapatkan biaya operasional. Sementara tunjangan operasional tersebut hanya ditujukan untuk tenaga penyuluh PNS. Status yang belum pasti tersebut dan pembiyaan tenaga kontrak penyuluh yang masih minim mengakibatkan kinerja penyuluh rendah dalam melakukan penyuluhan dan pendampingan kepada para petani. Motivasi mereka pun rendah karena tidak ditunjang oleh fasilitas yang memadai. Beberapa hal tersebut utamanya menyebabkan kinerja penyuluh kurang optimal dalam melaksanakan penyuluhan, pembinaan maupun pendampingan kepada para petani. Akibatnya, petani kakao masih mengalami kesulitan dalam menambah pengetahuan dan keterampilan budidaya.
¾Kelembagaan petani masih lemah
Hingga tahun 2012, terdapat 1.018 poktan di Majene. Namun, dari jumlah tersebut, hanya 10% atau sekitar 100 poktan yang dapat menerapkan fungsi kelompok tani dengan baik yakni tempat belajar, tempat bekerjasama dan unit produksi. Sedikitnya poktan yang belum berfungsi optimal dikarenakan banyak poktan yang dibentuk bukan berdasarkan kepentingan petani yang sesungguhnya (boĴ om up). Namun, seringkali poktan tersebut dibentuk untuk kepentingan politik, seperti mendapatkan suara pilih dari para petani. Akibatnya, banyak poktan yang mendapatkan bantuan dari pemda namun tidak melaksanakan fungsinya sebagai kelompok tani sehingga petani anggota tidak banyak menerima manfaat dari keberadaan poktan tersebut.
¾Kesulitan dalam mengakses kredit
Petani masih mengalami kesulitan dalam mengakses kredit perbankan. Padahal, terdapat dana revitalisasi yang merupakan paket program gernas dimana dana ini dapat dikredit dengan bunga yang rendah. Tujuan penyaluran kredit ini adalah untuk membiayai usaha budidaya kakao petani. Namun, hingga kini petani tidak dapat membiayai usaha kakaonya dengan dana tersebut.
Faktor yang menyebabkan sulitnya petani dalam
14
Dari Daerah
mengakses dana revitalisasi tersebut adalah tidak adanya petugas bank yang secara khusus untuk menangani administrasi penyaluran kredit untuk para petani. Selain itu, persyaratan yang diberikan oleh perbankan di Majene pun lebih banyak dan berbelit-belit dibandingkan dengan syarat yang telah ditentukan pusat berdasarkan pedoman pelaksanaan dana revitalisasi.
Capaian Program Gernas belum optimal, masih ada kendala dalam pelaksanaannya
Sebagai upaya peningkatan produktivitas, mutu dan pendapatan petani kakao, program gerakan nasional (gernas) ini telah dilakukan di Kabupaten Majene dari tahun 2009 hingga 2013. Capaian program ini pun mulai terlihat. Berdasarkan data BPS, terjadi peningkatan produksi kakao dari 5.717 ton pada tahun 2008 menjadi 9.024 ton pada tahun 2011. Produktivitas juga meningkat dari 568 kg/ha/tahun pada tahun 2008 menjadi 880 kg/ha/tahun pada tahun 2011 serta 950 kg/ha/tahun pada tahun 2013. Tidak hanya itu, pendapatan petani meningkat jumlah petani pun meningkat sebesar Rp 2.716.319 selama tahun 2008 hingga 2011. Peningkatan pendapatan tersebut menjadi insentif bagi petani untuk berkebun kakao sehingga jumlah petani pun meningkat. Namun, beberapa kendala terjadi dalam pelaksanaannya, diantaranya adalah lemahnya koordinasi dan sinkronisasi antar pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah daerah. Hal ini ditunjukkan dari tidak
sinkronnya kebħ akan di pusat dengan kondisi di
daerah, misalnya dalam pengadaan benih. Dalam kegiatan tersebut, pengadaan benih seluruhnya dilakukan oleh pusat penelitian kopi dan kakao (puslit koka) di Jember. Padahal, benih tersebut seringkali kurang cocok dengan kondisi iklim dan tanah yang ada di daerah. Akibatnya, banyak benih yang kemudian mati dan tidak dapat tumbuh. Ketidaksinkronan tersebut juga terlihat dari keterlambatan distribusi sarana produksi baik pupuk maupun benih. Antar pemda masih kurang koordinasi dalam jadwal pelaksanaan kegiatan utama (intensię kasi, rehabilitasi dan peremajaan) sehingga terjadi keterlambatan pembagian dan distribusi pupuk dan benih. Akibatnya, pelaksanaan Gernas mejadi terhambat.
Kendala lainnya dalam pelaksanaan Gernas adalah minimnya peserta yang diikutsertakan dalam berbagai pelatihan. jumlah peserta pelatihan pemberdayaan
petani masih sangat sedikit. Di tahun 2009, ada 253 orang dari 2.832 petani. Artinya 8,9% petani yang mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Bahkan di tahun 2012, proporsi petani yang mendapat pelatihan tersebut menurun menjadi 2,7%, dimana dari 12.289 dari total petani kakao, hanya 282 petani yang mengikuti kegiataan pemberdayaan tersebut (Dishutbun 2013).
Adanya bantuan berupa sarana produksi (pupuk, benih, peralatan) masih belum cukup sebagai upaya peningkatan produktivitas. Pada implementasinya, masih banyak petani yang belum memahami tata cara pelaksanaan kegiatan Gernas, misalnya kegiatan rehabilitasi yang menggunakan teknik sambung samping serta perawatan setelahnya. Akibatnya, banyak tanaman hasil program Gernas yang tidak dirawat dengan baik oleh para petani. Hal inilah yang menghambat tercapainya tujuan Gernas.
Catatan akhir: Butuh peran pemda dalam upaya peningkatan usaha kakao di Kabupaten Majene
Hingga saat ini, program-program yang diselenggarakan salam rangka peningkatan kesejahteraan petani yang diselenggarakan oleh pemerintah belum menyentuh substansi permasalahan yang dialami para petani di Kabupaten Majene. Oleh karena itu dibutuhkan komitmen yang kuat dari Pemda, tidak hanya dari program-program yang diselenggarakan, namun juga dalam bentuk dukungan regulasi. Program-program permda utamanya didorong untuk peningkatan kapasitas petani sebagai aktor kunci. Koordinasi yang baik antar SKPD akan dapat mengarahkan pencapaian program yang tepat sasaran secara efektif dan eę sien. Dukungan regulasi juga penting diberikan dalam upaya mengembangkan sektor unggulan daerah sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, mengingat kakao merupakan komoditas utama di Kabupaten Majene.
Tidak hanya Pemda, stakeholders lain pun seperti asosiasi, perusahaan, LSM, akademisi dan perbankan juga memiliki peran penting dalam pengembangan usaha kakao. Tanpa dukungan stakeholders lain, program dari Pemda belum cukup memadai dalam menyelesaikan berbagai masalah pada pengembangan komoditas kakao. Sinergitas program dan koordinasi Pemda dengan para pihak sangat dibutuhkan guna mencapai keberhasilan kakao di Kabupaten Majene.
--o0o--15
OpiniKebħ akan yang secara tegas fokus dalam pembangunan daerah di sejumlah daerah di Indonesia mampu menggerakkan perekonomian daerah secara signię kan.
Di beberapa daerah di Indonesia, kualitas kebħ akan – dan implementasinya, jelas menentukan kinerja suatu pemerintahan. Bali, tumpuan fokus kebħ akan sebagai daerah parawisata, mampu mendinamisir aktivitas perekonomian secara positif. Pemanfaatan keunggulan Bali yang mampu memadukan harmoni nilai-nilai spiritual, karya seni, keindahan alam dan kehidupan modern dalam kebħ akan pembangunan daerahnya, mampu menempatkan Bali sebagai daerah yang dikenal para wisatawan tidak saja wisatawan nusantara (wisnus) namun juga wisatawan mancanegara (wisman). Salah satu capaian kinerja perekonomian dari aktivitas parawisata Bali adalah jumlah PAD (pendapatan asli daerah) Kabupaten Badung sekitar 40% dari total pendapatan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) – yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional daerah daerah di Indonesia yang hanya mencapai 7%.
Contoh lain, Kota Batam, yang perekonomiannya dikembangkan sebagai free-trade zone dengan
memanfaatkan kedekatan geograę snya dengan
Singapura sebagai salah satu pusat perekonomian dunia. Kontribusi ekonominya cukup signię kan dalam pembentukan PDRB Nasional. Demikain pula halnya dengan Kota Surakarta yang memfokuskan pengembangan perekonomian rakyat kecil dengan basis kota budaya melalui melalui pembenahan pasar-pasar tradisional dan revitalisasi sarana dan prasarana seni-budaya.
Selain contoh-contoh di atas, masih dapat ditambahkan sejumlah contoh lainnya seperti Kabupaten Manggarai Barat dengan kapitalisasi endowment yang dimilikinya: Komodo, sebagai penghela aktivitas perekonomiannya – yang berkembang pesat 2-3 tahun belakangan ini, ditandai dengan maraknya pertumbuhan fasilitas pariwisata seperti hotel, transportasi, dan lonjakan kunjungan wisman dan wisnus. Kota Sawahlunto sebagai contoh lain yang fokus kebħ akan perekonomiannya dengan tumpuan parawisata kota tambang memberi kontribusi positif.
Menentukan Sektor/Produk Unggulan
Uraian di atas secara sederhana memberikan gambaran mengenai peran penting suatu kebħ akan – yang lebih lanjut diterjemahkan dalam peraturan perundang-undangan pendukungnya. Pertanyaan lanjut adalah bagaimana (caranya) menentukan fokus kebħ akan tersebut.
Ilmu ekonomi menawarkan sejumlah pilihan strategi pencapaian pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, dari pendekatan pengembangan industri berbasis ekspor (staple theory), pengembangan berbasis kutub pertumbuhan yang mengarah pada aglomerasi ekonomi (growth pole theory), maupun pertumbuhan berbasis pilihan spesię k industri unggulan (regional concentration
theory).
Dalam pembahasan ini, kita mencoba mendekatinya dari pilihan spesię k industri/sektor unggulan. Tabel
Input – Output acapkali digunakan para ekonom dalam
menentukan sektor unggulan suatu daerah/negara. Secara ringkas pendekatan ini mampu menunjukkan peta kontribusi sektor-sektor ekonomi dalam perekonomian suatu wilayah. Dari analisis yang dihasilkannya mampu memberikan arahan untuk pilihan sektor ekonomi unggulan yang perlu dikembangkan, bahkan sampai pada sub-sektor usaha, dan produk.
Pada umumnya, penentuan sektor unggulan didasarkan pada pertimbangan penciptaan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, keterkaitan lintas sektor (backward & forward linkages), pertimbangan aspek strategis (keamanan nasional, iptek, tradisi & budaya), ataupun keunggulan absolut seperti karunia alam, populasi, dan potensi pariwisata.
Menarik untuk disimak rumusan Kadin-Indonesia dalam“Revitalisasi Industri dan Investasi”(2004) yang mengelompokkan 2 kategori: ‘sektor yang perlu didukung’ untuk peningkatan nilai tambah ekonomi dalam pembentukan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), dan ‘sektor-sektor yang perlu dibantu’ yang meskipun tidak memberi sumbangan besar dalam pembentukan nilai tambah namun memberikan kontribusi sangat besar dalam penyerapan tenaga kerja (padat karya).
P
enentuan Kebħ akan Sektor Unggulan
*) Direktur Eksekutif DPN APINDO
M
engapa diperlukan Kebħ akan? Jawaban atas pertanyaan itu dapat didekati dari berbagai cara. Diantaranya dengan melihat efek kebħ akan, bahwa ketidakpuasan atas kebħ akan yang dinilai keliru dapat menimbulkan sinisme masyarakat. Misal: cibiran ‘negara auto-pilot’ yang merujuk banyak hal, diantaranya soal kinerja perekonomian dengan pertumbuhan yang tidak memuaskan – yang dinilai akibat buruknya kualitas kebħ akan dan implementasinya sehingga seolah Negara berjalan dengan sendirinya. Contoh lain, kebħ akan desentralisasi dalam kerangka otonomi daerah dinilai telah membawa perubahan mendasar tata kelola pemerintahan dalam berbagai hal, diantaranya dalam hal keuangan negara karena desentralisasi menyebabkan lebih dari 30% APBN berada dalam kontrol Pemerintah Daerah.Agung Pambudhi*
dinarasikan dari power point presentation dalam Diskusi KPPOD
16
Opini
Regulasi versus Deregulasi
Ketika sektor unggulan sudah ditentukan, tantangan berikut adalah bagaimana mengelolanya. Apakah diperlukan tambahan regulasi, dibiarkan seperti apa adanya dari kondisi saat ini, atau justru dilakukan deregulasi.
Kecenderungan pemerintahan negara-negara berkembang seperti Indonesia adalah membuat regulasi untuk mendukung pengembangan sektor ekonomi tertentu, yang dapat berbentuk insentif ę skal, proteksi, dan lain sebagainya. Namun adakalanya justru suatu kebħ akan menghasilkan kinerja sebaliknya dari tujuan
kebħ akan tersebut. Banyak contoh dalam hal ini,
diantaranya tata niaga cengkeh, mobil-nasional, dan lain-lain.
Pengambil kebħ akan sering lupa akan prinsip as long as
it is not proven guilty, maka regulasi tidak diperlukan.
Bahkan, adakalanya yang diperlukan justru deregulasi sebagaimana disampaikan Jusuf Kalla-mantan Presiden RI ‘Indonesia terlalu banyak regulasi, yang dibutuhkan justru
deregulasi ..… kita perbaiki komponen pokok yang membuat industri tidak eę sien’. Dalam hal ini, kajian KPPOD
atas ribuan peraturan daerah (perda) tentang ‘pajak dan retribusi daerah’ yang menunjukkan banyaknya perda-perda distortif terhadap aktivitas perekonomian (pungutan lalu-lintas barang antar daerah, pungutan ganda, pungutan terhadap komoditi, tidak ada manfaat langsung atas pembayaran retribusi, ‘sumbangan’ wajib, dll.), menunjukkan bahwa regulasi justru dapat merugikan perekonomian.
Pengaturan oleh negara/pemerintah melalui penerbitan sebuah regulasi harus memiliki alasan kuat dengan menimbang apakah ada alternatif lain selain regulasi. Regulasi harus merupakan best alternative dimana manfaatnya melebihi biaya. Lebih lanjut, dalam pendekatan RIA (regulatory impact assessment) selain pertimbangan cost and beneę t, penyusunan suatu regulasi harus terlebih dahulu melakukan konsultasi
publik dengan berbagai stakeholder.
Cost and Beneę t analysis dalam kerangka kerja RIA
yang dapat dilakukan terhadap regulasi yang sudah ada maupun untuk pembuatan suatu regulasi baru sangat penting mengingat banyaknya tumpang tindih kebħ akan nasional maupun daerah. Banyak contoh mengenai hal itu, diantaranya dalam hal pelayanan terpadu satu pintu yang substansinya tercakup dalam berbagai kebħ akan yakni Permendagri 24/2006, UU 25/2007, PP 41/2007, dan Permendagri 20/2008.
Skema ‘pohon masalah’ diatas adalah contoh RIA yang dilakukan dalam menjajaki kemungkinan penerbitan regulasi Perda Florikultura Kota Tomohon di Provinsi Gorontalo untuk mendukung fokus pengembangan ekonomi dengan sektor unggulan ‘bunga’ (KPPOD, 2005).
Perda Ě orikultura tersebut barangkali yang memberikan kontribusi bagi Tomohon untuk mampu mengadakan
Tomohon Flower Festival 2008 dalam skala nasional yang
berkembang menjadi skala internasional di tahun 2010 dan 2012 dalam Tomohon International Flower Festival. Berdasarkan pengalaman implementasi RIA, termasuk yang pernah dilaksanakan oleh KPPOD, kerangka kerja RIA harus mampu memilih isu stratejik yang memerlukan pengaturan dalam sebuah regulasi. Tujuan kebħ akan harus jelas terdeskripsikan apakah merupakan fokus utama kebħ akan atau merupakan
kebħ akan pendukung. RIA juga harus mampu
menjelaskan penerima manfaat utama dari kebħ akan. Untuk dapat diterima berbagai pihak terkait, RIA tidak cukup hanya didukung pemerintah, namun juga perlu dukungan politik dari legislatif dan para stakeholder lainnya sehingga dalam implementasi kebħ akan akan mendapatkan alokasi anggaran serta dukungan kelembagaan yang diperlukan. Sebagai catatan tambahan, dalam banyak pengalaman RIA, suatu kebħ akan dapat ditelorkan apabila ada champion yang merupakan vocal point dalam setiap tahapan proses RIA.
POHON MASALAH
PERIZINAN/
PENDAFTARAN KEMITRAAN STRATEGIS PENETAPAN LOKASI
PERLINDUNGAN LINGKUNGAN Jenis Perħ inan Prosedur Perħ inan Opsi 1. Kondisi Saat ini
Opsi 2. Menyatukan menjadi ħ in khusus
Ě orikultura
Opsi 1. Kondisi Saat ini
Opsi 2. Ijin Florikultura masuk dalam UPTSP Opsi 3.Ijin Florikultura di Dinas Tabunakan Opsi 1. Mewajibkan Investor untuk Bermitra Opsi 2. Di Luar Kawasan Peruntukan Opsi 1. Dalam Kawasan Peruntukan Opsi 2. Memberikan Insentif kepada Investor yang
Bermitra Opsi 3. Memberikan Subsidi
kepada UKM dan Koperasi Opsi 1. Pengaturan Perlindungan Tanaman Budidaya Tanaman Opsi 2. Do Nothing Opsi 1. Pengaturan Opsi 2. Do Nothing
17
Seminar Nasional:
”Pemilu Kepala Daerah dalam Konteks Otonomi Daerah”
Laporan Diskusi Publik
P
emilihan Kepala daerah dan wakilnya yang secara langsung dipilih rakyat telah menjadi bagian dalam pembangunan demokrasi di Indonesia. Pemilihan kepala daerah adalah pintu masuk untuk rekrutmen pemimpin daerah, yang akan menentukan warna dan arah pembangunan daerah paling tidak dalam lima tahun periode kepemimpinan. Dengan demikian proses pemilihan kepala daerah adalah hal yang krusial bagi kemajuan demokrasi dan desentralisasi ke depan. Dalam rangka mendiskusikan rancangan undang-undang pemilian kepala daerah, KPPOD berkerjasama dengan POKJA mengadakan Seminar “Pemilu Kepala Daerah dalam Konteks Otonomi Daerah” pada tanggal 8 November 2013 yang diselenggarakan di Hotel Ibis Tamarin.Rizqiah Darmawiasih*
Seminar ini dihadiri oleh berbagai kalangan baik dari dunia usaha, pemerintahan, akademisi, NGO, seperti Asperindo, PMKRI, YAPPIKA, PGSP-UNDP, Yayasan TIFA dan berbagai media. Seminar dibuka oleh Imam Gailani selalu Direktur Yayasan TIFA yang mensuport kegiatan ini. Dalam sambutannya Irman Gailani menyampaikan bahwa spiritnya satu, yakni demokrasi harus tetap berjalan, namun sistemnya harus selalu ada perbaikan. Mekanisme pemilihan kepala daerah harus secara langsung, namun dengan mekanisme yang lebih sederhana dan dapat mengurangi tingginya biaya politik.
Seminar dilanjutkan dengan diskusi panel yang dimoderatori oleh Robert Endi Jaweng selaku Direktur Eksekutif KPPOD. Seminar ini mengundang beberapa pembicara yang ahli dalam bidangnya masing-masing, pelaku usaha diwakili oleh Sofyan Wanandi selaku ketua DPN APINDO atau Asosiasi Pengusaha Indonesia, Titi Anggraini yang merupakan Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), dan Arif Wibowo anggota Komisi II DPR RI yang berasal dari Fraksi PDI Perjuangan.
Titi Anggraini dan wakil ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia perjuangan Arif Wibowo. Dalam seminar ini Titi Anggraini memaparkan mengenai Menata Kembali Pengaturan pemilukada, bahwa tujuan umum dari penyelenggaraan Pilkada justru belum tercapai. Tujuan umum tersebut adalah keterwakilan politik, integritas politik, dan pemerintahan efektif. Solusi dari pemerintahan hanya mengembalikan Pilkada pada DPRD, seharusnya ada solusi yang diambil melalui kajian yang lebih baik (lebih komprehensif). Titi juga menyampaikan bahwa pemerintah belum membuat kerangka kebħ akan yang baik dalam menyelenggarakan pemilukada yang demokratis.
Menurut Titi Anggaraeni, seharusnya dimulai dari melakukan evaluasi pemilukada berdasarkan 13 prinsip pemilu yang demokratis, yakni Adanya pembagian kekuasaan, Adanya pemilu yg bebas, Adanya manajemen yg terbuka, Adanya kebebasan individu, Adanya peradilan yg bebas, Adanya pengakuan hak minoritas, Adanya pemerintahan yg berdasarkan hukum, Adanya persamaan yg bebas, Adanya beberapa partai politik, Adanya musyawarah, Adanya persetujuan parlemen, Adanya pemerintahan konstitusional, Adanya ketentuan Ĵ g pendemokrasian ,
Namun sayangnya, menurut Titik ternyata Pemerintah mengusulkan agar pemilihan kepala daerah dikembalikan pada DPRD. Hal tersebut berdasarkan berdasarkan hasil evaluasi dari 3 prinsip pemilu saja, yakni prinsip tidak melakukan korupsi, tidak berbiaya tinggi, dan tidak melakukan money politics. Alih-alih memperbaiki produk yang dihasilkan, tapi pemerintah mengambil langkah cepat dengan mengembalikannya pada DPRD. Fokus Pembahasan pemilukada dibagi dalam 7 Klaster yaitu Mekanisme pemilihan (khususnya fokus pemilihan Gubernur), tidak satu paket calon kepala daerah dan wakil kepala daerah, syarat-syarat kepala daerah, antara lain menyangkut hubungan kekerabatan, menyangkut tugas, wewenang dan syarat wakil. Dengan cara seperti itu, akar permasalahan dari penyelenggaraan pemilukada itu sendiri tidak terselesaikan.
Titi Anggraini mengusulkan, pemilu sebagai sistem demokrasi utama cukup dilakukan dua kali saja, yakni pemilu nasional dan pemilu daerah. Sehingga nantinya, dalam pemilu nasional akan dipilih pasangan calon presiden dan wakil presiden, serta calon legislatif di tingkat pusat secara serentak. Sementara itu, dalam
18
Laporan Diskusi Publik
sumber: http://inspirasibangsa.com pemilu daerah akan dipilih calon pasangan walikota,
bupati, gubernur, serta calon legislatif di tingkat provinsi secara serentak pula. Dengan sistem ini pelaksanaan pemilu akan lebih efektif dan biaya politik pemilu bisa ditekan ke angka yang lebih rendah.
Sofyan Wanandi selaku perwakilan dari pihak pengusaha menyatakan bahwa Ongkos demokrasi sangat mahal. Demokrasi tanpa aturan hukum yang jelas, akan sulit untuk membawa tujuan demokrasi pada kenyataan yaitu mensejahterakan rakyat. Indonesia seharusnya mampu tumbuh 7-8%, namun saat ini hanya 6% saja, 2-3% dari pertumbuhan ekonomi kita untuk membiayai ongkos berdemokrasi yang sangat mahal, dan penyelenggaraan otonomi yang tidak jelas. Faktor kepala daerah sangat dominan dan berpengaruh untuk dapat melaksanakan pembangunan ekonomi di daerah. Jika sistem pemilihan kepala daerahnya belum baik, maka dikhawatirkan hanya akan menghasilkan raja-raja kecil didaerah. “Negara kita terlalu besar dan terlalu kaya untuk bisa jatuh”. Sehingga seharusnya Indonesia mampu berubah, jangan sampai Indonesia
menjadi tujuan pasar dari negara-negara tetangga kita. Maju mundurnya suatu daerah sangat bergantung dari sosok pemimpin daerah. Untuk kedepannya, seharusna ada sistem yang dapat menjamin penyelenggaraan pelaksanaan tata kelola pemerintahan di daerah. Ke depannya, siapapun pemimpinnya jika sistemnya sudah kuat maka akan dapat menunjang pelaksanaan pembangunan di daerah.
Sementara Arif Wibowo mengemukakan, DPR masih mempertimbangkan dua isu dari empat isu utama dalam RUU Pilkada yang diusulkan pemerintah. Dua isu itu adalah: tata cara pemilihan untuk tingkat provinsi dan kota/kabupaten dan pengaturan dinasti politik. Isu pertama bahwa Komisi II masih memberikan keleluasaan kepada fraksi-fraksi untuk mendalami apakah sejalan dengan sikap dan pandangan pemerintah bahwa pilkada propinsi dipilih secara langsung dan pilkada kota/kabupaten melalui DPRD. Isu kedua yang juga menjadi pertimbangan adalah tentang pengaturan dinasti politik dalam RUU Pilkada, apakah perlu ada jeda waktu atau diperberat syarat-syaratnya.