• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN GALERI NASIONAL INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGEMBANGAN GALERI NASIONAL INDONESIA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PERANCANGAN ARSITEKTUR AKHIR

PENGEMBANGAN GALERI NASIONAL

INDONESIA

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU PERSYARATAN GUNA MEMPEROLEH GELAR SARJANA TEKNIK ARSITEKTUR

Disusun Oleh:

TOMY SURYANTO PUTRA (NIM: 41209010051)

SEMESTER GANJIL TAHUN AKADEMIK 2013 – 2014

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DESAIN

UNIVERSITAS MERCU BUANA

(2)
(3)
(4)

DAFTAR ISI

Daftar Isi ... 1

Daftar Gambar ... 3

Daftar tabel ... 5

Pengantar ... 6

Ucapan Terima Kasih ... 8

Bab I: Pendahuluan ... 10 1.1. Latarbelakang ... 10 1.2. Pernyataan Masalah ... 11 1.3. Tujuan ... 12 1.4. Sistematika Penulisan ... 12 1.5. Metode Perancangan ... 12

Bab II: Studi ... 14

2.1. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja ... 14

2.1.1. Tanggapan Terhadap KAK (Target Perancangan) ... 14

2.1.2. Tanggapan ... 15

2.2. Studi Pustaka ... 18

(5)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Pengembangan Galeri Nasional Indonesia

Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana | 2

2.2.2. Cagar Budaya ... 26 2.2.3. Insertion ... 28 2.3. Studi Banding ... 32 2.3.1. Latar Belakang ... 32 2.3.2. Data Proyek ... 32 2.3.3. Konsep ... 34

Bab III: Data dan Analisa ... 41

3.1. Data Fisik dan Non Fisik ... 41

3.1.1. Data Non Fisik ... 41

3.1.2. Data Fisik ... 41

3.2. Analisa Fisik ... 43

3.2.1. Analisa View ... 43

3.2.2. Orientasi Matahari ... 44

3.2.3. Kebisingan ... 44

3.2.4. Bangunan Cagar Budaya (Eksisting) ... 45

3.3. Konsep Zoning ... 46

3.3.1. Program Ruang ... 46

3.3.2. Rencana Dalam Tapak ... 48

Bab IV: Konsep ... 49

4.1. Konsep Dasar ... 49

4.2. Konsep Perancangan ... 49

4.2.1. Pendekatan Desain ... 49

4.2.2. Konsep Massa Bangunan ... 50

4.2.3. Konsep Tampak ... 51

Bab V: Hasil Rancangan ... 53

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Tampak bangunan cagar budaya ... 15

Gambar 2 konsep ruang luar ... 16

Gambar 3 Rencana waterfront ... 17

Gambar 4 Konsep massa ... 17

Gambar 5 Konsep hubungan area depan dan belakang ... 18

Gambar 6 Hubungan area depan dan belakang ... 18

Gambar 7 Jarak pandang mata terhadap lukisan ... 20

Gambar 8 Kemampuan gerak anatomi manusia ... 20

Gambar 9 Daerah visual dalam bidang horisontal ... 21

Gambar 10 Daerah visual dalam bidang vertikal ... 22

Gambar 11 Penyaringan sinar matahari ... 23

Gambar 12 Sistem pencahayaan buatan ... 24

Gambar 13 Tempe Center for the Arts ... 32

Gambar 14 Konsep ... 34

Gambar 15 Siteplan ... 35

Gambar 16 Denah ... 35

Gambar 17 Potongan ... 36

(7)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Pengembangan Galeri Nasional Indonesia

Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana | 4

Gambar 19 Potongan ... 37

Gambar 20 Organisasi ruang ... 37

Gambar 21 Denah Galeri ... 38

Gambar 22 Jenis sirkulasi ... 38

Gambar 23 Interior ... 38

Gambar 24 Teater ... 39

Gambar 25 Ruang-ruang ... 39

Gambar 26 Peta lokasi ... 41

Gambar 27 Utara : Gereja Imanuel ... 42

Gambar 28 Selatan : Kementrian Kelautan ... 42

Gambar 29 Barat : Jl. Merdeka Timur ... 42

Gambar 30 Timur: Kali Ciliwung ... 43

Gambar 31 Orientasi Matahari ... 44

Gambar 32 Kebisingan ... 44

Gambar 33 Bangunan cagar budaya ... 45

Gambar 34 Bangunan cagar budaya ... 46

Gambar 35 Rencana dalam tapak ... 48

Gambar 36 Skyline ... 51

Gambar 37 Konsep mengapit bangunan lama ... 51

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tinggi rata-rata pandangan ... 19

Tabel 2 Hubungan bangunan baru dengan bangunan eksisting ... 30

Tabel 3 Lokasi bangunan baru terhadap bangunan lama ... 30

Tabel 4 Insertion/separate ... 31

Tabel 5 Program ruang Galeri Nasional ... 46

Tabel 6 Program ruang masterplan kawasan ... 47

(9)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Pengembangan Galeri Nasional Indonesia

Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana | 6

PENGANTAR

Galeri Nasional Indonesia yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat berdiri setelah melalui proses yang cukup panjang. Gagasan awalnya berupa rencana pendirian Wisma Seni Nasional (WSN) yang terdiri dari ruang pameran seni rupa dan gedung pertunjukan teater berskala nasional. Gagasan ini telah muncul dan diusulkan pada sidang para wakil rakyat tahun 1960 dan dituangkan dalam suatu ketetapan yaitu TAP No. II/MPRS/1960 tentang Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana. Rencana pembangunan WSN itu telah dimasukkan sebagai salah satu sasaran pembangunan proyek berkode: AA. 3/4. Gagasan pendirian WSN itu sendiri sejalan dengan keinginan Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, menjadikan kawasan di sekitar Monumen Nasional (Monas) sebagai simbol peradaban dan pusat kebudayaan nasional yang terdiri dari museum, perpustakaan, galeri seni rupa dan gedung teater berskala nasional. Berbagai macam upaya untuk merealisasikan WSN dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 1974, mulai dari penyelengaraan lokakarya, penyelenggaraan sayembara gagasan/pra design, pembentukan panitia kerja nasional oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pembuatan masterplan dan studi pengadaan lahan. Namun pada praktiknya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menghadapi berbagai kendala dan hambatan, diantaranya adalah persoalan ketersediaan lahan dan kondisi keuangan negara yang tidak memungkinkan, utamanya pasca krisis moneter tahun 1985, yang mengakibatkan Proyek WSN termasuk daftar proyek yang harus ditunda dan ‘diistirahatkan’.

Pada tahun anggaran 1986/1987, Proyek WSN kembali diusulkan kepada pihak Suprasistem (Bappenas dan Departemen Keuangan) meski anggarannya terbatas. Usulan tersebut disetujui dan mulai tahun anggaran 1986/1987. Proyek WSN kembali berjalan dengan fokus pemugaran gedung aula menjadi Gedung Pameran Seni Rupa (GPSR) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai bagian dari

(10)

Proyek WSN. GPSR kemudian diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hassan pada tanggal 23 Februari 1987.

Seiring dengan semakin strategisnya peran GPSR dalam pengembangan seni rupa nasional dan peran aktif dalam perkembangan budaya dunia pasca Pameran Seni Rupa Kontemporer Negara-negara Non-Blok pada tahun 1995, serta atas usulan dari berbagai kalangan pejabat, seniman, budayawan dan kritikus, maka sejak tahun 1995 digagas wacana mengenai pengembangan GPSR menjadi Galeri Nasional. Akhirnya setelah diperjuangkan secara intensif, institusi Galeri Nasional Indonesia terbentuk pada tahun 1998, dan diresmikan operasionalnya pada tanggal 8 Mei 1999.

(11)

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Pengembangan Galeri Nasional Indonesia

Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana | 8

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. atas rahmat dan karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini tepat pada waktunya. Salawat serta salam tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. keluarga, dan para sahabatnya.

Dalam pembuatan perancangan akhi ini penulis mendapatkan banyak sekali bantuan, motivasi, dukungan, dan arahan dari berbagai pihak, khususnya:

1. Bapak Usman Suryanto, ST. dan Ibu Kamini, selaku kedua orang tua tercinta yang selalu memberikan dukungan dan semangat dalam menempuh pendidikan dan khususnya dalam penyusunan laporan perancangan ini.

2.

Ibu Ir. Primi Artiningrum, M. Arch. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak sekali memberikan masukan dan membimbing selama proses perancangan dan penyusunan laporan.

3.

Bapak Danto Sukmajati, ST., M. Sc. selaku Koordinator Seminar Arsitektur dan Perancangan Arsitektur Akhir yang telah memberikan banyak arahan selama proses perancangan tugas arkhir.

4. Bapak Ir. Joni Hardi, MT. selaku Ketua Program Studi Teknik Arsitektur yang telah berperan dalam birokrasi perijinan sehingga saya dapat melaksanakan penelitian dan juga memperlancar proses pelaksanaan penelitian.

5. Kepada seluruh rekan Program Studi Teknik Arsitektur angkatan 2009, khususnya kepada Ibnu Khair, Mugi Frianto, Aryo Indra Nugroho, Dian Jaya Pratama, dan Viera Damayanthi yang telah menjadi rekan diskusi dan saling membantu dalam menyelesaikan perancangan akhir.

6. Kepada Selia Firawati yang selalu memberikan semangat, dukungan, dan bantuan secara khusus.

(12)

8. Kepada semua pihak yang terkait dalam proses perancangan tugas akhir ini dengan tanpa mengurangi rasa hormat namun tidak dapat disebutkan satupersatu.

Semoga segala kebaikan yang telah dicurahkan kepada penulis dapat bermanfaat dan menambah keberkahan hidup serta mendapat balasan dari Allah SWT.

Referensi

Dokumen terkait

Mereka berpendapat bahwa perubahan pada pendidikan seni rupa sebagai respon terhadap perubahan kondisi dalam dunia kontemporer di mana seni visual, termasuk seni populer dan seni

Berdasarkan temuan hasil penelitian apresiasi guru seni budaya (seni rupa) tingkat SMA Negeri di Kabupaten Gianyar Terhadap Perkembangan Seni Rupa

Selain itu dengan banyaknya agenda pameran di Yogyakarta banyak pengunjung yang berdatangan untuk melihat, mengagumi bahkan membeli karya-karya seni rupa baik pengunjung

Meyelesaikan permasalahan bentuk ruang yang sesuai untuk kegiatan pameran seni rupa lukis dan aktivitas yang terkait dengan itu.. Menjadikan Gedung Galeri Seni Rupa

OK. Video Jakarta International Video Art Festival 2003, telah memberi pelajaran berharga bagi ruangrupa, terutama bagaimana meletakan seni video dalam medan seni rupa Indonesia.

Fungsi utama dari Gedung Apresiasi adalah sebagai gedung pameran karya seni rupa modern dan kontemporer, pada area pameran ini juga dapat terjadi kegiatan jual-beli

Sebuah tempat dimana memungkinkan bagi masyarakat untuk bisa mengenal lebih dekat tentang karya seni di Semarang, terutama seni rupa kontemporer dengan konsep bangunan single memakai

Seni Rupa Standar Kompetensi: - Berkarya seni rupa 2 dua dimensi - Memamerkan karya seni rupa yang dibuat dalam sebuah kegiatan pameran di sekolah Kemampuan yang diuji: - Melukis