• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 160

BAB VII

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

7.1 KESIMPULAN

Skema pemberdayaan masyarakat dilakukan berdasarkan pemetaan potensi ekonomi yang bisa dikembangkan. Sehingga dapat memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Berikut adalah hasil pemetaaan berikut adalah produk-produk unggulan yang ada di Kabupaten Bandung Barat :

7.1.1 Potensi-Potensi Ekonomi Yang Dapat Mendukung Pemberdayaan Masyarakat

A. Potensi Sektor Pertanian dan Perkebunan

Sektor pertanian masih menjadi unggulan di Kabupaten Bandung Barat dan penyumbang PDRB Dari total luas wilayah yang dimiliki, lahan untuk budidaya pertanian merupakan penggunaan lahan terbesar yaitu 66.500,294 Ha, sedangkan yang termasuk kawasan lindung seluas 50.150,928 Ha, budidaya non pertanian seluas 12.159,151 Ha dan lainnya seluas 1.768,654 Ha. Penggunaan lahan ini menandakan bahwa masyarakat Bandung Barat umumnya bekerja di sektor pertanian dan sangat mengandalkan hasil-hasil (komoditas) dari lahan yang dibudidayakan untuk menunjang perekonomian dan kehidupannya.

Sampai pada tahun 2016 sektor pertanian masih menjadi penyumbang PDRB (terhadap harga konstan) yang mencapai Rp. 3,855,69 miliyar rupiah. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang berada pada angka Rp. 3,458,72 miliyar rupiah dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 3,289,62 miliyar rupiah. Peningkatan ini merupakan alasan kuat bagi pemerintah untuk terus meningkatkan pembangunan di sektor pertanian (dan perkebunan). Beberapa komoditas yang menunjang sektor pertanian antara lain adalah pertanian basah untuk komoditi padi. Dari total penggunaan lahan untuk komoditi padi (sawah dan ladang), pada tahun 2016, 97% dari luas lahan produksi untuk komoditi padi sawah. Walau demikian dalam perkembangannya (juni 2017), luas lahan yang dimiliki untuk produksi padi belum meningkatkan angka produksi yang mampu mencukupi kebutuhan lokal. Bahkan kebutuhan beras di Kabupaten Bandung Barat yang mencapai 159.000 ton belum

(2)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 161

juga terpenuhi (defisit), sementara sampai juni 2017 produksi beras baru mencapai 11.459 ton.

Selain padi komoditas pangan lainnya adalah jagung. Budidaya jagung meliputi mayoritas kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang mencapai luas 3.476 Ha. Dari luas lahan tanam tersebut total luas panen sebesar 1.948 Ha dan produksi jagung sebesar 11.433 ton dengan rata-rata produksi 58,69 Kwintan/Ha. Pada tahun 2016, luas panen mengalami peningkatan yakni 5.532 Ha. Luas panen tersebut menghasilkan produksi jagung sebanyak 34.145 ton dengan produktivitas 60,09 Kwintal/Ha. Hampir seluruh bagian dari tanaman jagung mempunyai potensi nilai ekonomis. Buah jagung pipilan, sebagai produk utamanya merupakan bahan baku utama (50%) industri pakan, selain dapat dikonsumsi langsung dan sebagai bahan baku industri pangan.

Selain tanaman pangan padi dan jagung, komoditi unggulan di Kabupaten Bandung barat adalah produk holtikultura (khususnya tanaman hias) dan komoditi kopi yang sedang berkembang saat ini.

1) Tanaman Hias

Kawasan yang selama ini menjadi sentra budidaya tanaman hias masih berpusat di daerah utara Bandung Barat seperti Kecamatan Lembang dan Parongpong. Tanaman hias lebih mudah untuk dibudidayakan oleh masyarakat karena tidak membutuhkan lahan seperti area pertanian dan perkebunan yang luas. Tanaman hias dapat dikembangkan masyarakat bahkan di lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa jenis tanaman hias Bandung Barat yang cukup diminati pasar seperti bunga krisan, hebras, mawar, melati, anyelir dan sedap malam. Pada tahun 2016 produksi bung akrisant mencapai 4.284.500 tangkai. Selain bunga krisan jenis dengan produksi yang tinggi adalah Hebras (4081300 tangkai), mawar (1.114.800 tangkai), anyelir (1.176.100 tangkai) serta bunga sedap malam dengan produksi 1.006.600 tangkai. Produksi ini cukup membangkitkan gairah perekonomian masyarakat yang selama ini menggeluti pertanian hortukultura khususnya tanaman hias.

2) Komoditas kopi

Kopi merupakan salah satu komoditas yang dihasilkan dari sektor perkebunan di Bandung Barat. Komoditas kopi di Bandung Barat berada di daerah segitiga emas yakni Gunung Halu, kawasan Gunung Burangrang dan Tangkuban Prahu.

(3)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 162

Di utara, lokus kopi ada di sekitar Lembang, di selatan ada di Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga, sedangkan untuk di tengah ada di Cikalongwetan. Dari berbagai kecamatan yang ada tanaman kopi, sentra kopi itu ada di Kecamatan Sindangkerta, Gununghalu, Cikalongwetan, Lembang, Cililin, dan Rongga. Lahan perkebunan kopi yang tersebar di berbagai daerah itu bukan saja mampu menghidupkan banyak orang, tetapi juga berkontribusi dalam menghasilkan devisa. Walaupun belum terlalu banyak, sejak 2012 kopi asal Kabupaten Bandung Barat telah diekspor ke luar negeri. Melalui kerja sama dengan eksportir lokal, kopi lokal Bandung Barat sudah diterima di pasar Jerman, Singapura, Tiongkok, Maroko, dan Korea Selatan. Pada 2016, sebanyak 36 ton atau dua kontainer kopi diekspor ke Korea Selatan. Sejauh ini perkebunan kopi merupakan salah satu unit usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Bandung Barat yang meliputi 14 kecamatan dari total 16 kecamatan yang ada. Dari data 2016, lahan tanaman kopi arabika di Kabupaten Bandung Barat yakni seluas 1.727 hektare, sedangkan kopi robusta ditanam di lahan seluas 492 hektare.

Kedua komoditas terakhir memiliki peluang besar untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di sektor pertanian. Hal ini karena keduanya selain mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak, juga karena peluang pasar yang masih cukup tinggi dan terbuka. Peluang ini harus mampu dimanfaatkan oleh pelaku-pelaku usaha dengan fasilitasi dan pendampingan yang diberikan oleh pemerintah daerah dan stakholder lainnya. Dengan pendampingan dan pemberdayaan yang komprehensif dan berkelanjutan, Bandung Barat ke depan akan jauh lebih dikenal salah satunya sebagai sentra tanaman hias dan kopi baik di taraf nasional maupun internasional. Maka dukungan dan fasilitasi inilah yang saat ini memungkinkan untuk terus mendorong masyarakat ke arah yang lebih mandiri secara ekonomi.

B. Potensi Sektor Pariwisata

Salah satu potensi sektor pariwisata yang cukup diminati di Kabupaten Bandung Barat adalah wisat alam yang dibagi dalam 3 zona wisata utama, yaitu Zona Bandung Utara, Bandung Selatan, dan Bandung Barat. Berdasarkan pengelolaannya, ada tiga kawasan wisata alam yang dikelola oleh pemerintah daerah, yakni Situ Ciburuy di Padalarang, Guha

(4)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 163

Pawon di Cipatat, dan Curug Malela di Kecamatan Rongga. Walau sejauh ini lahan ketiga objek wisata tersebut sebagian besar milik perseorangan dan Perum Perhutani.

Pengelolaan lahan ini menjadi penting untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berdasarkan data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat, sepanjang 2016 tercatat sebanyak 15.940 pengunjung. Jumlah itu terdiri atas 7.300 pengunjung Situ Ciburuy, 6.840 pengunjung Gua Pawon, dan 1.800 pengunjung Curug Malela. Sementara tahun 2015, tercatat 16.849 pengunjung, terdiri atas 6.879 pengunjung Situ Ciburuy, 6.970 pengunjung Gua Pawon, dan 3.000 pengunjung Curug Malela.

Tingginya keunjungan ini dapat menjadi modal kuat bagi pemerintah daerah untuk terus mengembangkan sektor pariwisata, salah satunya pengelolaan kawasan wisata alam yang terdapat di Bandung Barat. Ada banyak hal yang perlu disiapkan dalam pengelolaan wisata alam, seperti penataan lokasi perdagangan bagi masyarakat sehingga menambah minat dan betah pengunjung. Selain infrastruktur (sarana-prasarana) kebutuhan lainnya diperlukan adalah penyiapan SDM yang memadai untuk mendukung kelayakan sebuah kawasan wisata. Maka pemerintah diharapkan memiliki kebijakan dan program yang mampu mendukung keterlibatan masyarakat dalam peningkatan pembangunan sektor pariwisata ini. Pengembangan kawasan wisata ini akan membuka lapangan pekerjaan sehingga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat di yang berada sekitar kawasan wisata.

C. Potensi Sektor Industri Mikro, Kecil dan Menengah

Sektor industri pengolahan merupakan kategori yang menjadi engine of growth perekonomian Kabupaten Bandung Barat yang kontribusi sebesar 39,48 persen terhadap pembentukan PDRB tahun 2016 untuk kategori lapangan usaha. Sektor ini telah memebrikan andil yang cukup besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan pengalaman pada tahun 2008 Industri pengolahan berkontribusi atas 47,04 % total PDRB Kabupaten atas harga berlaku yang terkonsentrasi di Kecamatan Padalarang, Ngamprah, Batujajar dan Cipatat.

Dengan jumlah usaha skala sedang 155 usaha, 440 skal kecil dan 117 skala rumah tangga Kabupaten Bandung Barat dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 277.183 pekerja (statistik 2016). Jelas sektor ini sangat potensial untuk terus ditumbuh-kembangkan dalam

(5)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 164

rangka kemandirian ekonomi masyarakat. Namun demikian ada banyak persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Terutama terkait dengan “keberlanjutan” usaha yang digeluti masyarakat pada skala mikro, kecil dan menengah sehingga tetap menjadi penggerak ekonomi Kabupaten Bandung Barat di masa-masa yang akan datang.

7.1.2 Skema Pemberdayaan Masyarakat Yang Dapat Mendukung Kepesertaan Asuransi Kesehatan Masyarakat Mandiri

A. Skema Umum Pemberdayaan

Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan mengembangkan aktifitas-aktifitas perekonomian di sektor-sektor potensial melalui penguatan kelompok dan kelembagaan. Harapannya dengan penguatan kelembagaan koperasi, masyarakata yang terlibat dalam upaya pemberdayaan nantinya memiliki kemampuan finansial yang berkelanjutan dan didorong dalam kepesertaaan asuransi kesehatan masyarakat mandiri.

Pemberdayaan ini melibatkan multipihak atau berbagai pemangku kepentingan yang saling mendukung dalam rangka mencapai tujuan pemberdayaan. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas dilakukan dengan 3 (tiga) langkah utama, yakni: 1) penentuan sektor potensial yang menjadi fokus pengembangan; 2) Melakukan analisis stakeholder (pemangku kepentingan; 3) Peningkatan pengetahuan dan kemampuan sumber daya manusia; 4) penguatan kelompok (usaha dan koperasi);

1) Penentuan sektor potensial

Penentuan sektor potensial dilakukan mengkaji sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap kas daerah dan memiliki peluang untuk melibatkan masyarakat dalam pengembangannya. Dari hasil kajian ada tiga sektor yang memberikan kontribusi besar dalam PDRB Kabupaten Bandung Barat, yakni sektor pertanian, pariwisata dan industri. Ketiga sektor ini diharapkan memiliki dampak nyata dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan berkontribusi ril dalam pertumbuhan ekonomi daerah.

2) Analisis Stakeholders

Dari hasil analisis ada 5 (lima) stakeholder yang berperan dalam pemberdayaan masyarakat berbasis pada potensi ekonomi, yakni:

1) Pemerintah daerah dengan fungsi utama sebagai regulator (perencanaan dan kebijakan);

(6)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 165

2) Masyakarat, sebagai pelaku utama pemberdayaan;

3) Lembaga Keuangan dan Pihak Swasta; fungsi utama memberikan dukungan modal dan pasar.

4) Perguruan Tinggi; dengan fungsi utama alih daya teknologi dan ilmu pengetahuan dalam pemberdayaan sektor ekonomi unggulan.

5) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dengan fungsi turut dalam memebrikan peningkatan kapasitas masyarakat dengan pelatihan dan pendampingan serta mengawal jalannya pemberdayaan.

3) Peningkatan pengetahuan dan kemampuan SDM

Pemberdayaan berbasis potensi ekonomi membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam mengola potensi ekonomi sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Masyakarakat yang akan dilibatkan dalam pemberdayaan didata terlebih dahulu sebagai penerima manfaat atau yang akan dilibatkan dalam program pemberdayaan. Pendataan ini berfungsi untuk mengetahui seberapa banyak kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi bagian dalam pemberdayaan yang selanjutnya akan dilakukan pendampingan secara berkelanjutan. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan ini dilakukan dengan beberapa upaya, antara lain;

1) mendorong dan membimbing agar mampu bekerjasama di bidang ekonomi secara berkelompok;

2) menumbuh-kembangkan kelompok usaha melalui peningkatan fasilitasi bantuan dan akses permodalan, posisi tawar, peningkatan fasilitasi dan pembinaan kepada organisasi kelompok, dan peningkatan efisiensi dan efektivitas usahatani, serta

3) meningkatkan kapasitas SDM pelaku usaha melalui berbagai kegiatan pendampingan dan latihan yang dirancang secara khusus bagi pengurus dan anggota.

4) Penguatan kelembagaan

Selain fokus pada kemampuan sumberdaya, salah satu keberhasilan program pemberdayaan karena menguatnya kelembagaan yang membawahi masyarakat dalam beraktifitas ekonomi. Koperasi sebagai “soko guru” perekonomian nasional merupakan media yang strategis bagi kelompok-kelompok usaha untuk

(7)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 166

terus menumbuh-kembangkan tingkat perekonomiannya. Penguatan kelembagaan koperasi dilakukan dengan cara/strategi:

a) Peningkatan pengetahuan anggota koperasi berbasis pada kelompok-kelompok usaha masyarakat yang diberdayakan dengan cara meningkatkan kapasitas SDM pelaku usaha melalui berbagai kegiatan pendampingan dan latihan yang dirancang secara khusus bagi pengurus dan anggota.

b) Peningkatan pengetahuan dalam manajemen usaha yang dimiliki koperasi melalui pelatihan dan pendampingan.

c) Pemanfaatan sumber daya koperasi. Koperasi dapat dikatakan berhasil jika mampu meningkatkan kesejahteraan para anggotanya melalui pemberian added value yang diperoleh melalui peran serta dan transkasi para anggotanya dengan koperasi. Dengan peningkatan kemampuan SDM yang ada di koperasi diharapkan mampu mendorong transaksi-transaksi ekonomi.

d) Membangun kemitraan bisnis. Koperasi akan semakin berkembang dengan keterlibatan pihak lain dalam pengembangan usaha koperasi. Koperasi dapat berjejaring seperti dengan lembaga keuangan dan pihak lainnya.

B. Skema Pemberdayaan Per Sektor Ekonomi 1. Skema pemberdayaan komoditas kopi

Merupakan bagian dari pemberdayaan potensi pertanian (dan perkebunan). Skema pemberdayaan dilakukan dengan konsep Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), yakni suatu sistem pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan oleh Perum Perhutani dan Masyarakat di sekitar hutan dengan jiwa berbagi, sehingga kepentingan bersama untuk mencapai keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan dapat diwujudkan secara optimal dan proporsional. Konsep ini bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi hutan secara optimal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani sekitar hutan. Beberapa aktifitas pendukung dalam pemberdayaan ini antara lain:

(8)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 167

1) Dukungan sumber daya. Lahan yang digunakan adalah kerjasama dengan pihak Perum Perhutani yang ada di wilayah Bandung Barat. Dalam pelaksanaan pengelolaannya, melibatkan masyarakat yang ada disekitar wilayah hutan yang diberikan pelatihan dan kemampuan dalam pengelolaan tanaman kopi. Produk kopi yang dibudidayakan dapat berupa kopi arabika maupun robusta sesuai dengan kecocokan terhadap iklim. Rata-rata untuk wilayah dengan ketinggian di atas 800 Mdpl menggunakan bibit arabika dan untuk daerah di bawah itu jenis robusta. Modal usaha dapat berasal dari kerjasama dengan pihak swasta, dengan difasilitasi oleh pemerintah daerah.

2) Penguatan kelompok tani kopi. Penguatan kelompok masyarakat difasilitasi oleh Pokja Pemberdayaan (yang dibentuk pemerintah) untuk memberikan pendidikan dan pelatihan terkait dengan pengetahuan dan kemampuan dalam pengelolaan keorganisasian dan bisnis. Pelatihan juga diberikan dalam rangka penguatan kelembagaan koperasi yang mewadahi masyarakat atau kelompok-kelompok tani.

3) Dukungan dan fasilitasi lainnya. Dukungan dan fasilitasi diberikan oleh komponen stakeholder lainnya untuk menunjang pengembangan komoditas kopi, seperti permodalan, bibit tanaman, pengetahuan tentang pembuatan pupuk dan pengendalian hama dan penyakit tanaman, teknologi dan dukungan terhadap akses pasar.

2. Skema pemberdayaan tanaman hias

Merupakan bagian dari pemberdayaan sektor pertanian yang memfoskuskan pada produk-produk tanaman hias. Dengan tujuan untuk meningkatkan produksi tanaman hias baik secara kuantitatif maupun kualitas. Diharapkan dengan pemberdayaan ini, kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi sasaran kepesertaan jaminan kesehatan masyarakat mandiri dapat dilibatkan dan mampu meningkatkan kemamdirian ekonomi. Beberapa aktifitas pendukung dalam pemberdayaan ini antara lain:

1) Dukungan sumber daya. Lahan yang digunakan disediakan pemerintah atau hasil kerjasama dengan masyarakat. Masyarakat juga dapat mengembangkan tanaman hias di areal tempat tinggalnya. Modal usaha dapat berasal dari iuran anggota

(9)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 168

kelompok usaha dan atau kerjasama dengan lembaga keuangan dalam bentuk kredit murah. Untuk peningkatan kualitas SDM, masyarakat diberikan pelatihan dan pendampingan mulai dari teknik pembibitan, penanaman, perawatan tanaman hingga paska produksi (misalkan: pengemasan dan pengiriman) tanaman hias. 2) Penguatan kelompok usaha tanaman hias. Penguatan kelembagaan masyarakat

difasilitasi oleh Pokja Pemberdayaan (yang dibentuk pemerintah) untuk memberikan pendidikan dan pelatihan terkait dengan pengetahuan dan kemampuan dalam pengelolaan keorganisasian dan bisnis. Pelatihan juga diberikan dalam rangka penguatan kelembagaan koperasi yang mewadahi masyarakat atau kelompok-kelompok usaha tanaman hias.

3) Dukungan dan fasilitasi lainnya. Dukungan dan fasilitasi dapat diberikan oleh komponen stakeholder lainnya untuk menunjang pengembangan tanaman hias, seperti permodalan, bibit tanaman hias, pengetahuan tentang pembuatan pupuk dan dukungan terhadap akses pasar.

3. Skema pemberdayaan sektor pariwisata

Konsep pemberdayaan dilakukan dengan strategi penataan perdagangan di kawasan pariwisata alam yang selama ini dikelola oleh pemerintah daerah Kabupaetn Bandung Barat. Ada tiga lokasi wisata alam yakni Curug Malela, Situ Ciburuy, dan Guha Pawon. Beberapa aktifitas pendukung dalam pemberdayaan ini antara lain:

1) Dukungan sumber daya. Penyediaan lahan penataan perdagangan disediakan oleh pemerintah daerah atau bekerjasama dengan masyarakat setempat (area kawasan wisata). Pemerintah dapat bekerjasama dengan Perguruan Tinggi atau pihak swasta untuk merancang lanskap area perdagangan yang menambah nilai tambah dalam pariwisata. Produk yang diperdagangkan di area wisata seperti produk kerajinan (dan souvernir, cendramata) baik kerajinan tangan yang terbuat dari bambu, kayu atau marmer. Kedua, produk-produk kuliner baik yang dapat dinikmati pengunjung langaung di kawasan maupun yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

2) Penguatan kelompok pedagang. Penguatan kelembagaan masyarakat difasilitasi oleh Pokja Pemberdayaan (yang dibentuk pemerintah) untuk memberikan

(10)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 169

pendidikan dan pelatihan terkait dengan pengetahuan dan kemampuan dalam pengelolaan keorganisasian dan perdagangan di kawasan wisata. Pelatihan juga diberikan dalam rangka penguatan kelembagaan koperasi yang mewadahi masyarakat atau kelompok-kelompok pedagang.

3) Dukungan dan fasilitasi lainnya. Dukungan dan fasilitasi dapat diberikan oleh komponen stakeholder lainnya untuk menunjang pengembangan produk perdagangan, peningkatan kreativitas produk, peningkatan produksi dan kualitas.

4. Skema pemberdayaan industri mikro, kecil dan menengah

Konsep pemberdayaan dilakukan dengan memperkuat kelompok masyarakat pelaku-pelaku usaha dalam sektor indutri mikro, kecil dan menengah. Beberapa aktifitas pendukung dalam pemberdayaan ini antara lain:

1) Dukungan sumber daya. Pemberdayaan difokuskan di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi sentra produk olahan seperti kerajinan kayu, bambu, marmer (batu) dan homeinsdutri lainnya. Pemerintah dapat menentukan lokasi-lokasi pemberdayaan lainnya (baru) berdasarkan kesepakatan dengan stakeholder. SDM yang terlibat diberikan pelatihan dalam peningkatan baik skill maupun kemampuan usaha.bisnis. Untuk mendapatkan modal usaha, pemerintah daerah memfasilitasi pelaku usaha dengan pihak ketiga (lembaga keuangan dan swasta) untuk meningkatkan produktifitas hasil industri masyarakat. Modal usaha juga bisa berasal dari iuran para anggot kelompok usaha.

2) Penguatan kelompok usaha industri olahan. Penguatan kelembagaan masyarakat difasilitasi oleh Pokja Pemberdayaan (yang dibentuk pemerintah) untuk memberikan pendidikan dan pelatihan terkait dengan pengetahuan dan kemampuan dalam pengelolaan keorganisasian dan perdagangan di kawasan wisata. Pelatihan juga diberikan dalam rangka penguatan kelembagaan koperasi yang mewadahi masyarakat atau kelompok-kelompok pedagang.

3) Dukungan dan fasilitasi lainnya. Dukungan dan fasilitasi dapat diberikan oleh komponen stakeholder lainnya untuk menunjang pengembangan produk. Dukungan juga dapat berupa promosi hasil-hasil produksi untuk meningkatkan

(11)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 170

permintaan. Hal ini dilakukan dengan pembuatan media informasi cetak dan

online serta merancang aktivitas promosi melalui kegiatan pameran.

7.2 REKOMENDASI

Rekomendasi-rekomendasi dari kajian ini adalah:

1) Dari hasil kajian memperlihatkan kepesertaan masyarakat dalam jaminan kesehatan di Kabupaten Bandung Barat hingga akhir tahun 2017 lalu baru mencapai 59% dari total penduduk. Untuk meningkatkan kepesertaan khususnya jaminan kesehatan masyarakat mandiri (Non-PBI) dibutuhkan dukungan perencanaan dan kebijakan startegis pemerintah daerah yang mendorong pada peningkatan pendapatan masyarakat. Selain faktor ekonomi kepesertaan juga dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya jaminan kesehatan. Terkait dengan kesadaran masyarakat, pemerintah daerah dapat melakukan dengan kampanye/sosialisasi rutin yang tertarget (fokus) terhadap masyarakat yang menjadi sasaran untuk kepesertaan jaminan kesehatan mandiri dengan melibatkan BPJS-Kesehatan.

2) Sementara terkait dengan peningkatan perekonomian masyarakat, pemerintah daerah dapat mengembangkan potensi-potensi ekonomi unggulan yang di miliki melalui pengembangan yang terfokus dan konprehensif serta berkesinambungan. Pemberdayaan masyarakat berbasis sektor ekonomi unggulan adalah salah satu cara strategis untuk menjawab tantangan perekonomian yang dihadapi masyarakat. Pemberdayaan ini membutuhkan kerja sama seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) baik pemerintah daerah, masyarakat, pihak swasta, perguruan tinggi dan LSM untuk saling mendukung dalam mencapaian tujuan-tujuan pemberdayaan. Untuk mendukung program ini, pada tahap awal dibutuhkan identifikasi dan pendataan terhadap masyarakat yang akan menjadi target/sasaran khususnya untuk kepesertaan jamian kesehatan. Dalam proses pemberdayaan inilah, sosialisasi dan kampanye akan pentingnya jaminan kesehatan dapat dilakukan secara bersamaan dengan proses-proses pemberdayaan yang berjalan. Untuk itulah pemerintah daerah diharapkan mampu membangun sinergi dengan para pihak (stakholders lainnya) sehingga menjadi daya dukung yang signifikan dalam pemberdayaan. Dukungan dapat

(12)

LAPORAN AKHIR

KAJIAN ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MANDIRI 2018

Part-VII | 171

berasal dari elemen pemerintahan baik horisontal maupun vertikal. Dukungan juga dapat datang dari pihak-pihak lain di luar pemerintah seperti swasta, BUMN, melalui program CSR dan bentuk bantuan lainnya.

3) Dalam rangka mencapai keberhasilan program pemberdayaan berbasis potensi ekonomi untuk mendorong kepesertaan asuransi kesehatan masyarakat mandiri, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat perlu untuk membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Pemberdayaan yang tugas utamanya untuk mendapingi masyarakat yang diupayakan (penerima manfaat) program pemberdayaan. Pembentukan Pokja ini merupakan manifestasi dari keseriusan pemerintah dalam melakukan program pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan program pemberdayaan sebagai bagian dari pelayanan (sekunder) pemerintah terhadap warganya.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil biji aksesi plasma nutfah jagung pada kondisi cekaman air tidak berbe- da dengan varietas pembanding Wisanggeni yang toleran kekeringan (Tabel 3).. Hasil biji aksesi plasma

bersabda; “janganlah membeli ikan dalam air, sebab itu adalah penipuan”, karenanya menjual buah di pohon untuk beberapa tahun tidak diperbolehkan, karena termasuk penipuan,

Perlakuan pendahuluan berupa pengeringan kayu mangium segar dalam metode shed sampai mencapai kadar air titik jenuh serat mampu mengurangi waktu pengeringan kayu

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas

Jumlah cairan yang menguap setiap passsangat besar (karena pipa panjang) sehingga konsentrasi lokal dimulut pipa bagian atas akan sangat tinggi (ingat: cairan

permasalahan yang dihadapi PR Rezeki Abadi, maka tujuan dalam penelitian ini adalah melakukan perbaikan kondisi lingkungan kerja di bagian pencampuran tembakau dan melakukan

Saat ini perusahaan memiliki masalah yaitu waktu baku setiap stasiun kerja tidak diketahui, kinerja operator kurang maksimal, penempatan tata letak stasiun kerja

Penelitian mengenai Magersari atas Tanah Karaton Kasunanan Surakarta di Pengging (Desa Bendan) Kabupaten Boyolali, memiliki perbedaan dengan penelitian yang telah disebutkan di