A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakekatnya merupakan proses pembangunan bangsa secara keseluruhan, dimana pendidikan berperan dalam mengembangkan aspek-aspek kehidupan terutama dalam masa reformasi yang serba transparan seperti sekarang ini. Pendidikan pada dasarnya berperan dalam mencerdaskan kehidupan bagsa yang sasarannya adalah upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia, baik sosial, spiritual dan intelektual serta kemampuan yang professional. Di dalam pembukaan UUD 1945 alenia ke IV, merupakan cita-cita dari bangsa Indonesia yang salah satunya berbunyi mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, kemudian diatur lebih lanjut dalam pasal 31 ayat (1) setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Di dalam UU RI no 20 tahun 2003 Bab II pasal 3, ditetapkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang lebih rinci sebagai berikut:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Untuk menjalankan fungsi dan mencapai tujuan pendidikan tersebut kita mengenal adanya pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Pendidikan formal dan nonformal diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan. Pada Pasal 1 (satu), dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
2. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Berdasarkan kutipan di atas untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, pemerintah mewajibkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di dalam kurikulum persekolah dimulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Sebagaimana lazimnya suatu bidang studi yang diajarkan di sekolah, materi keilmuan dari mata pelajaran kewarganegaraan mencakup dimensi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan nilai (values).
Secara kusus ide pokok Mata Pelajaran Kewarganegaraan yakni ingin membentuk warga negara yang ideal yaitu warga negara yang memiliki keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sesuai dengan konsep dan prinsip-prinsip kewarganegaraan. Pada gilirannya, warga negara yang baik tersebut diharapkan dapat membantu terwujudnya masyarakat yang demokratis dan berdasarkan konstitusional.
Berbagai negara di dunia memiliki kriteria masing-masing tentang warga negara yang baik, sesuai dengan konstitusinya. Bagi bangsa Indonesia warga negara yang baik tersebut tentu saja adalah warga negara yang dapat menjalankan perannya dalam hubungannya sesama warga negara dan hubungannya dengan negara yang sesuai dengan konstitusi negara (Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945).
Sehubungan dengan itu, mata pelajaran kewarganegaraan mencakup dimensi:
1. Pengetahuan Kewarganegaraan (civics knowledge) yang mencakup bidang politik, hukum dan moral. Secara lebih terperinci, materi pengetahuan kewarganegaraan meliputi pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan proses demokrasi, lembaga pemerintah dan non pemerintah, indentitas nasional, pemerintah berdasarkan hukum (rule of low) dan peradilan yang bebas dan tidak memihak, konstitusi, sejarah nasional, hak dan kewajiban warga negara, hak asasi manusia, hak sipil, dan hak politik.
2. Keterampilan Kewarganegaraan (civics skills) meliputi keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya: berperan serta aktif mewujudkan masyarakat madani (civil society), keterampilan mempengaruhi dan monitoring jalannya pemerintahan, dan proses pengambilan keputusan politik, keterampilan memecahkan masalah-masalah sosial, keterampilan mengadakan koalisi, kerja sama, dan mengelola konflik.
3. Nilai-Nilai Kewarganwgaraan (civics values) mencakup antara lain percaya diri, komitmen, penguasaan atas nilai religius, norma dan nilai-nilai luhur, nilai-nilai keadilan, demokratis, toleransi, kebebasan individual, kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan berserikat dan berkumpul, dan perlindungan terhadap minoritas.
Mata pelajaran kewarganegaraan merupakan bidang kajian multidisipliner, artinya materi keilmuan kewarganegaraan dijabarkan dari beberapa disiplin ilmu antara lain ilmu Politik, Ilmu Tata Negara, Hukum, dan Filsafat. Adapun bidang kajian dari dimensi Politik yakni manusia sebagai zoonpolitikon, dan proses terbentuknya masyarakat politik. Bidang kajian dari ilmu tata negara yakni proses terbentuknya negara, unsur negara, tujuan negara dan bentuk-bentuk negara. Dimensi kajian dari Hukum yakni negara hukum, konstitusi, sumber hukum dan subjek dan objek hukum. Bidang kajian dari filsafat yaitu pancasila sebagai falsafah bangsa.
Kewarganegaraan dipandang sebagai mata pelajaran yang memegang peranan penting dalam membentuk warga negara yang baik sesuai dengan falsafah bangsa dan konstitusi negara Republik Indonesia. Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1. Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda,
keutuhan negara kesatuan republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap negara kesatuan republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan.
2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku dimasyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistim hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional.
3. Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.
4. Kebutuhan warga negara, meliputi: Demokratis, hidup gotong royong, harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri , persamaan kedudukan warga negara.
5. Konstitusi negara, meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi.
6. Kekuasan dan politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintah pusat, demokrasi dan sistem politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi.
7. Pancasila, meliputi: kedudukan pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, proses perumusan pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari, pancasila sebagai ideologi terbuka.
8. Globalisasi, meliputi: Globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari Mata Pelajaran Kewarganegaraan setelah diadakan proses pembelajaran, siswa memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Berfikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu-isu kewarganegaraan
2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, bertindak secara cerdas dalam kegitan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti korupsi.
3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama bangsa-bangsa lain.
4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (Bambang Suteng: 2006).
Namun, realita yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia betapa banyak orang yang latar belakang pendidikannya tinggi melakukan hal-hal berupa pelanggaran norma, etika, dan moral sebangai manusia bernegara yang baik, seperti: korupsi, penyalah gunaan wewenang, dan itu hanya dilandasi oleh kepentingan individu semata. Sewaktu dibangku pendidikan semua peserta didik dibekali dengan suatu ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah dan etika kehidupan, baik kehidupan bernegara maupun kehidupan sosial bahkan kehidupan individu. Semua itu diperoleh dari suatu ilmu, ilmu itu adalah ilmu kewarganegaraan yang mempunyai empat tujuan seperti uraian di atas.
Dalam diri manusia ada beberapa aspek yang berperan yaitu aspek sosial, aspek kognitif dan aspek motorik. Hal ini dapat dipahami bahwa manusia itu berhubungan dengan orang lain (sosial), berfikir (kognitif), menilai (afektif) dan berbuat (motorik) maka aspek-aspek tersebut perlu dikembangkan dalam diri anak didik sebagai manusia yang tumbuh dan berkembang.
Untuk mencapai itu semua perlu dilaksanakan suatu proses pembelajaran yang melibatkan dua subjek yakni pendidik (guru) dan peserta didik (siswa). Proses pembelajaran merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah, agar pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar dan menarik maka diperlukan suatu model pembelajaran. Model pembelajaran banyak sekali jenisnya, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Tujuan yang berbeda dari setiap mata pelajaran, sesuai dengan jenis, fungsi, sifat, maupun isi dari mata pelajaran itu sendiri.
Adapun beberapa model pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam pembelajaran kewarganegaraan :
1. Model Pembelajaran Kooperatif (Robert E. Slavin : 2008)
2. Model Pembelajaran Telaah Yurisprudensi (Jurisprudential Inquiry) (Hamzah B. Uno : 2007)
3. Model Pembelajaran Bermain Peran (Hamzah B. Uno : 2007) 4. Model Pembelajaran Simulasi Sosial (Hamzah B. Uno : 2007)
Dari beberapa model tersebut sesuai dengan kajian penulis yang memfokuskan pada model kooperatif tipe STAD (student teams
achievement divisionts).
1. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah). Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. (Robert E. Slavin : 2008)
2. Model Pembelajaran Telaah Yurisprudensi (Jurisprudential Inquiry) Model pembelajaran ini membantu siswa untuk belajar berpikir secara sistematis tentang isu-isu kontemporer yang sedang terjadi dalam masyarakat. Dengan memberikan mereka cara-cara menganalisis dan mendiskusikan
isu-isu social, model pembelajaran ini membantu siswa untuk berpartisipasi dalam mendefinisi ulang nilai-nilai sosial. (Hamzah B. Uno : 2007)
3. Model Pembelajaran Bermain Peran
Model pembelajaran ini bertujuan untuk membantu siswa menemukan makna diri (jati diri) di dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok. Artinya, melalui bermain peran siswa belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan perilaku dirinya dan perilaku orang lain. Proses bermain peran ini dapat memberikan contoh kehidupan perilaku manusia yang berguna sebagai sarana bagi siswa untuk: menggali perasaannya, memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpegaruh terhadap sikap, nilai, dan persepsinya terhadap pemecahan masalah. (Hamzah B. Uno : 2007)
4. Model Pembelajaran Simulasi Sosial
Model ini menganggap siswa (pelajar) sebagai suatu sistem yang dapat mengendalikan umpan balik sendiri (self regulated feedback). Sistem tersebut mempunyai fungsi yang sama baik manusia maupun mesin, fungsi tersebut: menghasilkan gerakan untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan, mendeteksi kesalahan dan memanfaatkan kesalahan untuk diarahkan kembali kejalur yang benar. (Hamzah B. Uno : 2007)
Dalam meningkatkan partisipasi siswa untuk berbicara atau mengeluarkan pendapat (ide) dan merespon atau menanggapi permasalahan maka pendidik (guru) menggunakan suatu model pembelajaran yang lebih cenderung membuat siswa berperan aktif, maka dari empat model pembelajaran tersebut yang lebih membuat siswa berperan aktif yakni: Model
Pembelajaran Kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achivement Divisions), dimana kedua subjek berperan aktif dan siswa tidak dijadikan
objek oleh guru. Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achivement Divisions) dalam proses pembelajaran diharapkan siswa berperan aktif dan guru sebagai pasilitator.
Adapun output dari model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achivement Divisions) yakni kerja sama, kemampuan
mengeluarkan pendapat, kemampuan menanggapi pendapat, dan kemampuan menghargai pendapat orang lain. STAD adalah salah satu metode pembelajaran Tim Siswa yang paling sederhana dan paling banyak diterapkan. Holubec dalam Nurhadi dalam Arini (2009) mengemukakan model pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar. Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif adalah (http://yusti-arini.blogspot.com):
1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2. Kelompok dibentuk dari beberapa siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah
3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing-masing individu.
Dalam model pembelajaran kooperatif dikembangkan metode diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. (http://yusti-arini.blogspot.com).
Diskusi adalah suatu cara belajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama,(Yahya Nursidik: 2008). Metode diskusi menghasilkan keterlibatan murid karena meminta mereka menafsirkan pelajaran. Dengan demikian para murid tidak akan memperoleh pengetahuan tanpa mengambilnya untuk dirinya sendiri, diskusi membantu agar pelajaran dikembangkan terus-menerus atau disusun berangsur-angsur dan merangsang semangat bertanya dan minat perorangan.
Dari kutipan di atas diharapkan siswa mampu untuk berpartisipasi dalam hal mengemukakan pendapatnya , kreatif berbicara, menyanggah dan
mengkritik. Wazir Ws., et al. dalam Saca Firmansyah (2008) Menyatakan Partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama.
Istilah partisipasi seringkali digunakan untuk memberi kesan mengambil bagian dalam sebuah aktivitas. Mengambil bagian dalam sebuah aktivitas dapat mengandung pengertian ikut serta, tetapi dapat juga berarti ikut serta dalam menentukan jalannya suatu aktivitas, dalam artian ikut menentukan perencanaan dan pelaksanaan aktivitas tersebut.
Jadi berdasarkan dari latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk meneliti tentang “Penerapan Model Kooperatif Tipe STAD (student teams
achievement divisions) Dalam Meningkatkan Partisipasi Siswa Pada Pembelajaran Kewarganegaraan”
B. Batasan Masalah
Pembelajaran atau pengajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan model yang sesuai dengan konten materi untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pengembangan model pembelajaran tidak terlepas dari tahap-tahap sistem pendidikan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah:
1. Analisis
2. Rancangan
3. Pengembangan
4. Implementasi
5. Evaluasi
Untuk lebih memfokuskan penelitian ini penulis hanya membatasi pada “Tahapan Pembelajaran Yakni Pada Tahap Implementasi”.
Berpijak dari latar belakang dan batasan masalah di atas maka rumusan masalah dari penulisan ini adalah, sebagai berikut:
1. Apakah dengan menerapkan model kooperatif tipe
STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat?
2. Apakah dengan penerapan model kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan kemampuan siswa untuk berfikir kritis?
3. Apakah dengan penerapan metode kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam bekerja sama?
4. Apakah dengan penerapan metode kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam menilai kemampuan?
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini dapat dibagi menjadi dua yakni:
1. Tujuan secara umum.
a. Untuk menentukan langkah-langkah dari
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions).
b. Untuk mendapatkan gambaran penerapan
model STAD dalam pembelajaran kewarganegaraan.
c. Untuk menemukan kelemahan / titik lemah
dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions).
d. Untuk mengetahui apakah penerapan model
STAD dapat meningkatkan partisipasi belajar siswa.
2. Tujuan secara khusus.
a. Mengidentifikasi tingkat partisipasi siswa pada saat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
(Student Teams Achievement Divisions) dalam hal mengemukakan pendapat.
b. Mengidentivikasi tingkat kemampuan siswa
memandang suatu masalah.
c. Mengidentivikasi kemampuan siswa dalam
bekerja sama.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihak dan instansi terkait seperti:
1. Sumbangan dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi pembaca khususnya mahasiswa P-IPS/ PKn.
2. Bahan masukan bagi guru-guru.
3. Bagi penulis unutk tambahan ilmu pengetahuan dan
untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan (strata satu) pada Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan.
4. Sebagai bahan pertimbangan bagi dosen FKIP-PKn
Universitas Bung Hatta. 1. Manfaat secara praktis
a. Bagi Siswa
1) Siswa dapat saling bertukar pikiran antara sesama anggota kelompok sehingga setiap siswa dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih banyak.
2) Siswa dapat belajar untuk mau mendengarkan dan saling menghargai pendapat orang lain serta belajar bersosialisasi dengan cara memahami perbedaan-perbedaan yang tumbuh dalam kelompok.
b. Bagi Pihak Sekolah
Dapat digunakan sebagai bahan masukkan untuk mengadakan variasi model pembelajaran guna meningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Manfaat secara teoritis
Menambah pengetahuan pembaca terhadap model pembelajaran efektif terutama model STAD (Student Teams Achievement Divisions). b. Penelitian Berikutnya
Hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi peneliti-peneliti lain untuk mengadakan penelitian serupa di masa yang akan datang.
c. Peneliti yang bersangkutan
Menambah ilmu pengetahuan yang telah dimiliki peneliti dan merupakan wahana menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat di bangku kuliah.
A. Belajar dan Pembelajaran 1. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dengan belajar manusia mampu mengembangkan potensi-potensi yang dibawanya sejak lahir sehingga nantinya mampu menyesuaikan diri demi pemenuhan kebutuhan. Winkel dalam Gufron Faqih (2010) menyimpulkan bahwa belajar adalah Suatu aktifitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.
Pengertian belajar menurut Bigge dalam Darsono (2000) adalah suatu perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara genetis. Dalam hal ini perubahan yang dimaksud terjadi pada pemahaman, perilaku, persepsi, motivasi atau campuran dari semuanya secara sistematis sebagai akibat pengalaman dalam situasi-situasi tertentu.
Sedang menurut Hilgard dan Bower dalam Purwanto (1990) mengatakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku individu terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang-ulang. Perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).
Selanjutnya pengertian belajar menurut Hambalik dalam Gufron Faqih (2010) yaitu: Belajar adalah suatu cara untuk memotivasi dan mempertegas kelakuan melalui pengalaman dan merupakan proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya sehingga akan terjadi serangkaian pengalaman-pengalaman belajar.
Dari pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang yang
disebabkan adanya pengalaman untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap dari seseorang yang melakukan kegiatan belajar.
2. Pembelajaran
Dimyati dan Mudjiono (2006: 297) mengatakan bahwa pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dimana desain intruksional yang dimaksud adalah program pengajaran yang dibuat oleh guru secara konvensional, desain intruksional tersebut dikenal sebagai persiapan mengajar guru.
Menurut Degeng (2003:14) pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa.Dimana dalam pembelajaran terdapat kegiatan pemilih, menetapkan dan mengembangkan metode atau strategi yang optimal untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan.
Pembelajaran sendiri terdiri dari empat langkah berikut (Dimyati dan Mudjiono, 2006:14):
a. Langkah satu: menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri. b. Langkah dua: memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik
tersebut.
c. Langkah tiga: mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah. d. Langkah empat: menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan
keberhasilan dan melakukan revisi.
Dari hal diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses penyampaian berbagai konsep informasi dan aktifitas kepada siswa oleh guru dengan menggunakan metode atau strategi yang sesuai supaya siswa dapat belajar dengan mudah, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
B. Model Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Zaini dalam Yusti Arini (2009) model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang
untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar.
Dengan pemilihan metode, strategi, pendekatan, serta teknik pembelajaran, diharapkan adanya perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghafal (rote learning) ke arah berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah ke pendekatan discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual ke kooperatif, serta dari subject centered ke learner centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa.
Apakah model pembelajaran kooperatif itu? Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah).
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah). Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran
Holubec dalam Nurhadi dalam Yusti Arini (2009) dalam mengemukakan model pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan pada model pembelajaran yang lain. Dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya
untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta berkembangnya keterampilan sosial.
2. Prinsip Dasar dan Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Johnson & Johnson Yusti Arini (2009), prinsip dasar dalam model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
b. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
c. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
d. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi
e. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
f. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif adalah:
a. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b. Kelompok dibentuk dari beberapa siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
c. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing-masing individu.
Dalam model pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi
kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Terdapat 6 (enam) langkah model pembelajaran kooperatif:
a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. b. Menyajikan informasi.
c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. d. Membimbing kelompok belajar.
e. Evaluasi dan pemberian umpan balik. f. Memberikan penghargaan.
Keunggulan dari model pembelajaran kooperatif adalah (1) membantu siswa belajar berpikir berdasarkan sudut pandang suatu subjek bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam praktik berpikir, (2) membantu siswa mengevaluasi logika dan bukti-bukti bagi posisi dirinya atau posisi yang lain, (3) memberikan kesempatan pada siswa untuk memformulasikan penerapan suatu prinsip, (4) membantu siswa mengenali adanya suatu masalah dan memformulasikannya dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari bacaan atau ceramah, (5) menggunakan bahan-bahan dari anggota lain dalam kelompoknya, dan (6) mengembangkan motivasi untuk belajar yang lebih baik.
Tabel 1. Menjelaskan Tentang Fase Pembelajaran Kooperatif:
Fase Kegiatan Tindakan Guru
1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa untuk belajar
2 Menyampaikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau jalan lewat bacaan
3 Mengorganisasikan siswa Guru menjelaskan pada siswa bagaimana membentuk kelompok-kelompok belajar dan membantu kelompok melakukan transisi secara efisien
4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka.
5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil belajarnya
6 Pemberian penghargaan Guru mencari cara-cara menghargai baik hasil belajar individu maupun kelompok Sumber: (Ibrahim, 2000:10)
3. Tipe-tipe Model Pembelajaran Kooperatif Dan Teknik Aplikasinya
Beberapa tipe model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain Slavin adalah sebagai berikut:
.a Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini pertama kali dikembangkan oleh Aronson dkk. Langkah-langkah mengaplikasikan tipe Jigsaw dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah serta jika mungkin anggota berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi gergaji).
2) Misal suatu kelas dengan jumlah siswa 40, dan materi pembelajaran yang dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari dari 5 bagian
materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh dalam diskusi di kelompok ahli dan setiap siswa menyampaikan apa yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang dilakukan oleh kelompok ahli maupun kelompok asal.
3) Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
4) Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual
5) Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
6) Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
7) Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan tipe Jigsaw untuk belajar materi baru, perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
.b Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Number Heads Together)
Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993). Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
Langkah-langkah penerapan tipe NHT:
1) Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2) Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
3) Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap anggota kelompok diberi nomor atau nama.
4) Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
5) Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu nomor (nama) anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu siswa yang ditunjuk oleh guru merupakan wakil jawaban dari kelompok.
6) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada akhir pembelajaran.
7) Guru memberikan tes/kuis kepada siswa secara individual.
8) Guru memberi penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
c. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD (Student Teams Achievement Divisions)
STAD adalah salah satu model pembelajaran koperatif yang dimulai dari pengarahan, membuat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar, LKS, modul secara kolaboratif, kemudian dipresentasi oleh kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. Kemudian dilakukan kuis individual dengan memberikan skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward.
Tipe STAD merupakan salah satu model dari pembelajaran kooperatif yang paling awal ditemukan dan dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawan di John Hopkins University. Tipe ini sangat popular karena mudah diaplikasikan dalam kelas. Ide dasar tipe STAD adalah bagaimana memotivasi siswa dalam kelompoknya agar mereka dapat saling mendorong dan membantu satu sama lain dalam menguasai materi yang disajikan, serta menumbuhkan suatu kesadaran bahwa belajar itu penting, bermakna dan menyenangkan.
Seperti dalam kebanyakan model pembelajaran kooperatif, tipe STAD bekerja berdasarkan prinsip siswa bekerja bersama-sama untuk belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri (Handayanto, 2003:115). Handayanto (2003:74) juga menyatakan bahwa “model pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan berbagai cirri pembelajaran langsung dan merupakan model pembelajaran yang mudah diterapkan dalam pembelajaran”.
Model ini dipandang sebagai model yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Para siswa didalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok atau tim yang masing-masing terdiri dari empat atau lima anngota kelompok. Setiap kelompok mempunyai anggota yang heterogen baik jenis kelamin, ras, etnik maupun kemampuannya (tinggi, sedang, rendah). (Nurhadi,2004: 65)
Komponen utama dalam tipe STAD (Student Teams-Achievement Divisions), yaitu: Slavin (2008)
1) Penyajian kelas (Class Presentation). Guru menyajikan materi didepan kelas secara klasikal yang difokuskan pada konsep-konsep materi yang akan dibahas saja. Selanjutnya siswa disuruh belajar dalam kelompok kecil untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
2) Pembentukan kelompok belajar (Teams). Siswa disusun dalam kelompok yang anggotannya heterogen (baik kemampuan akademiknya maupun jenis kelaminnya). Caranya dengan merangkingkan siswa berdasarkan nilai rapor atau nilai yang diperoleh oleh siswa sebelum model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Adapun fungsi pengelompokan ini adalah untuk mendorong adanya kerjasama kelompok dalam mempelajari materi dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
3) Pemberian tes atau kuis (Quizzes). Setelah belajar kelompok selesai, diadakan tes atau kuis dengan tujuan utnuk mengetahui atau mengukur kemampuan belajar siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Dalam hal ini siswa siswa sama sekali tidak dibenarkan untuk kerjasama dengan temannya. Tujuan tes ini adalah utuk memotivasi siswa agar berusaha dan
bertanggung jawab secara individual. Siswa dituntut untuk melakukan yang terbaik sebagai hasil belajar kelompoknya. Selain bertanggung jawab secara individual, siswa juga harus menyadari bahwa usaha dan keberhasilan mereka nantinya akan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesuksesan kelompok. Tes ini dilakukan setelah satu sampai dua kali penyajian kelas dan pembelajaran dalam kelompok.
4) Pemberian skor peningkatan individu (Individual Improvement Scores). Hal ini dilakukan untuk memberikan kepada siswa suatu sasaran yang dapat dicapai bila mereka bekerja keras dan memperlihatkan hasil yang baik dibandingkan dengan hasil yang sebelumnya. Pengelola skor hasil kerjasama siswa dilakukan dengan urutan berikut: Skor awal, skor tes, skor peningkatan dan skor kelompok.
Langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Slavin : 2008) :
1) Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh skor awal.
3) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mementingkan kesetaraan jender.
4) Bahan materi yang telah dipersiapkan didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai kompetensi dasar. Pembelajaran kooperatif tipe STAD biasanya digunakan untuk penguatan pemahaman materi.
5) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. 6) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
7) Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
d. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction)
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu, kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok-kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe TAI adalah sebagai berikut:
1) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
2) Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
3) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok terdiri dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender
4) Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
5) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. 6) Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai
peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
Berpijak dari latar belakang dan teori diatas peneliti ingin melihat implementasi dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions), yang dikembangkan oleh Slavin dkk. Yang lebih dirumuskan atau ditekankan pada diskusi kelas.
C. Pengertian Metode Diskusi dan Langkah-langkah Penerapan Diskusi
1. Pengeretian Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. (Yahya Nursidik: 2008 ).
Selanjutnya definisi diskusi juga di kemukakan oleh Heriyanto Chanra: (2004) Diskusi ialah percakapan ilmiah yang responsif berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematis permunculan ide-ide dan pengujian ide-ide ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan permasalahannya dan untuk mencari kebenaran.
Dari definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa diskusi merupakan suatu metode untuk pemecahan masalah dengan cara mengusulkan beberapa solusi dengan menarik suatu kesimpulan yang merupakan kesepakatan bersama. Yang lebih mengacu pada pendapat Yahya Nursidik:(2008).”Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama.”
2. Langkah-langkah Penerapan Metode Diskusi
Yahya Nursidik: (2008), menyebutkan langkah-langkah umum pelaksanaan diskusi sebagai berikut ini:
1) Guru menetapkan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan atau guru meminta kepada siswa untuk mengemukakan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan.
2) Guru menjelaskan tujuan diskusi.
3) Guru memberikan ceramah dengan diselingi tanya jawab mengenai materi pelajaran yang didiskusikan.
4) Guru mengatur giliran pembicara agar tidak semua siswa serentak berbicara mengeluarkan pendapat.
5) Menjaga suasana kelas dan mengatur setiap pembicara agar seluruh kelas dapat mendengarkan apa yang sedang dikemukakan.
6) Mengatur giliran berbicara agar jangan siswa yang berani dan berambisi menonjolkan diri saja yang menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.
7) Mengatur agar sifat dan isi pembicaraan tidak menyimpang dari pokok/problem.
8) Mencatat hal-hal yang menurut pendapat guru harus segera dikoreksi yang memungkinkan siswa tidak menyadari pendapat yang salah.
9) Selalu berusaha agar diskusi berlangsung antara siswa dengan siswa. 10) Bukan lagi menjadi pembicara utama melainkan menjadi pengatur
pembicaraan.
Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut: 1) Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau
mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas.
2) Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya, agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan.
3) Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok. 4) Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap
5) Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain.
6) Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat.
7) Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan.
8) Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat.
9) Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi.
10) Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang.
Budiardjo, dkk, (1994:20-23) membuat langkah penggunaan metode diskusi melalui tahap-tahap berikut ini.
1) Tahap Persiapan
a) Merumuskan tujuan pembelajaran
b) Merumuskan permasalahan dengan jelas dan ringkas. c) Mempertimbangkan karakteristik anak dengan benar.
d) Menyiapkan kerangka diskusi yang meliputi: (1) menentukan dan merumuskan aspek-aspek masalah,(2) menentukan alokasi waktu,(3) menuliskan garis besar bahan diskusi,(3) menentukan format susunan tempat,(4) menetukan aturan main jalannya diskusi.
e) Menyiapkan fasilitas diskusi, meliputi: (1) menggandakan bahan diskusi,(2) menentukan dan mendisain tempat,(3) mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
2) Tahap inti
a) Menyampaikan tujuan pembelajaran.
b) Menyampaikan pokok-pokok yang akan didiskusikan. c) Menjelaskan prosedur diskusi.
d) Mengatur kelompok-kelompok diskusi e) Melaksanakan diskusi.
3) Tahap penutup
a) Memberi kesempatan kelompok untuk melaporkan hasil. b) Memberi kesempatan kelompok untuk menanggapi. c) Memberikan umpan balik.
d) Menyimpulkan hasil diskusi. Peranan guru sebagai pemimpin diskusi:
Untuk mempertahankan kelangsungan, kelancaran dan efektivitas diskusi, guru sebagai pemimpin diskusi memegang peranan menentukan. Mainuddin, Hadisusanto dan Moedjiono, (1980:8-9) menyebutkan sejumlah peranan yang harus dimainkan guru sebagai pemimpin diskusi, adalah berikut ini.
a. Initiating, yakni menyarankan gagasan baru, atau cara baru dalam melihat masalah yang sedang didiskusikan.
b. Seeking information, yakni meminta fakta yang relavan atau informasi yang otoritarif tentang topik diskusi.
c. Giving information, yakni fakta yang relavan atau menghubungkan pokok diskusi dengan pengalaman pribadi peserta.
d. Giving opinion, yakni memberi pendapat tentang pokok yang sedang dipertimbangkan kelompok, bisa dalam bentuk menantang konsesus atau sikap "nrimo" kelompok.
e. Clarifying, yakni merumuskan kembali pernyataan sesorang; memperjelas pernyataan sesorang anggota.
f. Elaborating, yakni mengembangkan pernyataan seseorang atau memberi contoh atau penerapan.
g. Controlling, yakni menyakinkan bahwa giliran bicara merata; menyakinkan bahwa anggota yang perlu bicara, memperoleh giliran bicara.
h. Encouraging, yakni bersikap resetif dan responsitif terhadap pernyataan serta buah pikiran anggota.
i. Setting Standards, yakni memberi atau meminta kelompok menetapkan, kriteria untuk menilai urunan anggota.
j. Harmonizing, yakni menurunkan kadar ketegangan yang terjadi dalam diskusi.
k. Relieving tension, yakni melakukan penyembuhan setelah terjadinya tegangan.
l. Coordinating, yakni menyimpulkan gagasan pokok yang timbul dalam diskusi, membantu kelompok mengembangkan gagasan.
m. Orientating, yakni menyampaikan posisi yang telah dicapai kelompok dalam diskusi dan mengarahkan perjalanan diskusi selanjutnya.
n. Testing, yakni menilai pendapat dan meluruskan pendapat kearah yang seharusnya dicapai.
o. Consensus Testing, menialai tingkat kesepakatan yang telah dicapai dan menghindarkan perbedaan pandangan.
p. Summarizing, yakni merangkum kesepakatan yang telah dicapai
Dari dua langkah diatas maka langkah yang diterapakn adalah langkah Yahya Nursidik:(2008). Yang sesuai dengan pendapatnya tentang Definisi metode Diskusi itu sendiri.
Partisipasi Siswa
1. Pengertian Partisipasi
Saca Firmansyah (2008) Menyatakan Partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama.
Sementara itu, Menurut Keit Davis dalam Sastroputro (1989:35) menyatakan bahwa partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta tanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan. George Terry dalam Winardi (2002:149) menyatakan bahwa partisipasi adalah turut sertanya seseorang baik secara mental maupun emosional untuk memberikan sumbangan-sumbangan pada
proses pembuatan keputusan, terutama mengenai persoalan dimana keterlibatan pribadi orang yang bersangkutan melaksanakan tanggung jawabnya untuk melakukan hal tersebut. Partisipasi siswa dalam pembelajaran sering juga diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran (Mulyasa, 2004:156).
Jadi partisipasi yang peneliti maksud adalah partisipasi siswa yang merupakan wujud tingkah laku siswa secara nyata dalam kegiatan pembelajaran yang merupakan totalitas dari suatu keterlibatan mental dan emosional siswa sehingga mendorong mereka untuk memberikan kontribusi dan bertanggung jawab terhadap pencapaian suatu tujuan yaitu tercapainya prestasi belajar yang memuaskan.
2. Jenis-jenis Partisipasi
Untuk meperoleh gambaran yang jelas tentang partisipasi, disini akan dipaparkan mengenai jenis-jenis partisipasi menurut Keit Davis dalam Sastroputro (1989:56). Jenis-jenis partisipasi tersebut adalah:
a. Partisipasi berupa pikiran (psychological participation) merupakan jenis keikutsertaan secara aktif dengan mengerahkan pikiran dalam suatu rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.
b. Partisipasi yang berupa tenaga (physical Participation) adalah partisipasi dari individu atau kelompok dengan tenaga yang dimilikinya, melibatkan diri dalam suatu aktifitas dengan maksud tertentu.
c. Partisipasi yang berupa tenaga dan pikiran (physical and psychological participation). Partisipasi ini sifatnya lebih luas lagi disamping terjadi karena orang atau kelompok tidak bisa terjun langsung dari kegiatan tersebut.
d. Partisipasi yang berupa keahlian (participation with skill) merupakan bentuk partisipasi dari orang atau kelompok yang mempunyai keahlian khusus, yang biasanya juga berlatar belakang pendidikan baik formal maupun non formal yang menunjang keahliannya.
e. Partisipasi yang berupa barang (material participation), partisipasi dari orang atau kelompok dengan memberikan barang yang dimilikinya untuk membantu pelaksanaan kegiatan tersebut.
f. Partisipasi yang berupa uang (money participation), partisipasi ini hanya memberikan sumbangan uang kepada kegiatan.
3. Faktor-faktor yang Menyebabkan Partisipasi
Menurut Sudjana dalam Hayati (2001:16) partisipasi siswa di dalam pembelajaran merupakan salah satu bentuk keterlibatan mental dan emosional. Disamping itu, partisipasi merupakan salah satu bentuk tingkah laku yang ditentukan oleh lima faktor, antara lain:
a. Pengetahuan/kognitif, barupa Pengetahuan tentang tema, fakta, aturan, dan ketrampilan membuat translation.
b. Kondisi situasional, seperti lingkungan fisik, lingkungan sosial, psikososial dan faktor-faktor sosial.
c. Kebiasaan sosial, seperti kebiasaan menetap dan lingkungan.
d. Kebutuhan, meliputi kebutuhan Approach (mendekatkan diri), Avoid (menghindari), kebutuhan individual.
e. Sikap, meliputi pandangan/perasaan, kesediaan bereaksi, interaksi sosial, minat dan perhatian.
4. Prasyarat Terjadinya Partisipasi
Berdasarkan pendapat Keit Davis dan Newstrom dalam Hayati (2001:18) bahwa ada beberapa prasayarat terjadinya partisipasi , yaitu antara lain:
.a Waktu yang cukup untuk berpartisipasi Maksudnya adalah harus ada waktu yang cukup untuk berpartisipasi sebelum diperlukan tindakan, sehingga partisipaisi hampir tidak tepat apabila dalamsituasi darurat. .b Keuntungannya lebih besar dari kerugian. Artinya kemungkinan mendapat
keuntungan seyogyanya lebih besar daripada kerugian yang diperoleh. .c Relevan dengan kepentingan siswa. Artinya bidang garapan partisipasi
.d Kemampuan siswa. Artinya siswa hendaknya mempunyai pengetahuan seperti kecerdasan dan pengetahuan untuk berpartisipasi.
.e Kemampuan berkomunikasi timbal balik. Maksudnya para siswa haruslah mampu berkomunikasi timbal balik untuk berbicara dengan bahasa yang benar dengan orang lain.
.f Tidak timbul perasaan terancam bagi kedua belah pihak Artinya masing-masing pihak seharusnya tidak merasa bahwa posisinya terancam oleh partisipasi.
.g Masih dalam bidang keleluasan. Maksudnya partisipasi untuk meneruskan arah tindakan dalam pembelajaran yang hanya boleh berlangsung dalam bidang keleluasaan belajar dengan batasan-batasan tertentu untuk menjaga kesatuan bagi keseluruhan.
Pada hakekatnya belajar merupakan interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil belajar yang optimal perlu keterlibatan atau partisipasi yang tinggi dari siswa dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa merupakan hal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan pembelajaran.
Dalam kegiatan belajar, siswa dituntut secara aktif untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran. Karena dengan demikian siswalah yang akan membuat suatu pembelajaran dikatakan sukses, efektif dan efesien. Siswa yang aktif dalam pembelajaran akan terlihat pada baik dan buruknya prestasi yang diperoleh.
Sudjana dalam Mulyasa (2004:156) mengemukakan syarat kelas yang efektif adalah adanya keterlibatan, tanggung jawab dan umpan balik dari siswa. Keterlibatan siswa merupakan syarat pertama dalam kegiatan belajar di kelas. Untuk terjadinya keterlibatan itu siswa harus memahami dan memiliki tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan belajar atau pembelajaran. Keterlibatan itupun harus memiliki arti penting sebagai bagian dari dirinya dan perlu diarahkan secara baik oleh sumber belajar.
Untuk mendorong partisipasi siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain memberikan pertanyaan dan menanggapi respon siswa secara
positif, menggunakan pengalaman berstruktur, dan menggunakan metode yang bevariasi yang lebih melibatkan siswa.
Siswa sebagai subjek sekaligus objek dalam pembelajaran. Sebagai subjek siswa adalah individu yang melakukan proses belajar mengajar. Sebagai objek karena kegiatan pembelajaran diharapkaan dapat mencapai perubahan perilaku pada diri subjek belajar. Untuk itu, dari pihak siswa diperlukan partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Partisipasi aktif subjek belajar dalam proses pembelajaran antara lain dipengaruhi faktor kemampuan yang dimiliki hubungannya dengan materi yang akan dipelajari.
5. Indikator Partisipasi Siswa Dalam Pembelajaran
Berapa banyak kelompok yang bisa:
a. Bertanya
b. Merespon
c. Menyimpulkan pembelajaran
d. Mengerjakan tugas
Dari berbagai pendapat para ahli di atas tentang pengertian partisipasi, jenis-jenis partisipasi dan sarat terjadinya partisipasi, maka yang menjadi indikator dalam penelitian ini yaitu kemampuan memberikan pendapat, saran, tenaga, dan tanggung jawab terhadap tugas serta komunikasi timbal balik.
Maka ciri-ciri dalam kegiatan pembelajaran partisipatif adalah:
a. Pendidik menempatkan diri pada kedudukan tidak serba mengetahui terhadap semua bahan ajar.
b. Pendidik memainkan peran untuk membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
c. Pendidik melakukan motivasi terhadap peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran.
d. Pendidik menempatkan dirinya sebagai peserta didik. e. Pendidik bersama peserta didik saling belajar.
f. Pendidik membantu peserta didik untuk menciptakan situasi belajar yang kondusif.
g. Pendidik mengembangkan kegiatan pembelajaran kelompok.
h. Pendidik mendorong peserta didik untuk meningkatkan semangat berprestasi.
i. Pendidik mendorong peserta didik untuk berupaya memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya.
A. Jenis Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini digolongkan kedalam penelitian Eksprimen. Bertujuan mengumpulkan data yang berkaitan dengan status atau kondisi objek yang diteliti pada saat dilakukan penelitian. Kemudian data tersebut akan ditampilkan dalam bentuk narasi dan tabel. Diinterpresentasikan sesuai dengan tujuan dari penelitian ini.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA semen Padang dengan subyek penelitian Guru dan siswa sebagai pelaku proses belajar mengajar (PBM) dikelas XI (IPS1 dan IPS4) jumlah siswa 57 orang siswa, dengan perincian kelas XI IPS1 sebanyak 31 orang dan kelas XI IPS4 sebanyak 26 orang siswa. Waktu penelitian dimulai dari tanggal 25 mei sampai dengan 20 juli 2010.
B. Variabel dan Indikator Variabel
1. Variabel
Penelitian ini menggunakan dua (2) variabel, yaitu variabel Independen dan variabel Dependen. Adapun variabel independennya yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) dan variabel dependennya yaitu Partisipasi Siswa.
2. Indikator Variabel
Adapun indikator dari variabel independen:
a. Siswa
1) Komunikasi (bertanya dan merespon/mengeluarkan ide)
2) Komitmen
3) Tanggung jawab
b. Guru
1) Peran
3) RancanganPelaksanaa Pembelajaran (RPP)
4) Pengembangan
5) Implementasi
6) Evaluasi
Adapun indikator dari variabel dependen: Berapa banyak kelompok yang bisa:
a. Bertanya b. Merespon
c. Menyimpulkan pembelajaran d. Mengerjakan tugas
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas XI SMA Semen Padang. Dengan rincian sebagai berikut :
Tabel 2. Rincian Populasi Kelas
No Kelas XI Jumlah Siswa
1 IPA.1 38 orang 2 IPA.2 38 orang 3 IPA.3 39 orang 4 IPS.1 38 orang 5 IPS.2 32 orang 6 IPS.3 33 orang 7 IPS.4 33 orang
Sumber : Tata Usaha (TU)
2. Sampel
Sebagai sampel dari keseluruhan yang ada, yaitu kelas XI IPS1 dan IPS4
di SMA Semen Padang tahun ajaran 2010/2011.
D. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data:
a. Data primer, data yang langsung diperoleh dari guru dan siswa, berupa informasi yang diberikan dalam menjawab pertayaan yang akan dimuat dalam angket penelitian.
b. Data sekunder, data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang diperlukan untuk kepentingan penelitian. Seperti: absensi siswa, dan RPP.
2. Sumber Data
Sumber data adalah sesuatu yang didalamnya data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuisioner atau wawancara dalam pengumpulan data, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti baik pertanyaan tertulis maupun pertanyaan lisan (Arikunto, 2006: 129). Yang dijadikan sumber data dalam penelitian ini adalah siswa, guru kewarganegaraan dan tata usaha (TU).
E. Instrument Penelitian
Yang di maksud istrumen adalah sarana untuk memperoleh data, maka istrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Panduan Wawancara
Bertujuan untuk mendapatkan masukan dari siswa mengenai pembelajaran kooperatif yang telah dilakukan dengan menggunakan lembar pedoman wawancara yang dilakukan terhadap siswa.
2. Observasi
Digunakan untuk mengetahui data tentang aktifitas yang menunjukkan adanya data yang mempengaruhi aktifitas kooperatif siswa dan guru. Yang menjadi observer peneliti dan yang diobservasi pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa.
3. Daftar angket
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau peryataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
Dalam mengumpulkan data alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, angket dan observasi, dengan langkah-langkah:
.1 Tentukan indikator dan sub indikator yang dijadikan pedoman dalam penentuan butir-butir instrument.
.2 Membuat kisi-kisi observasi dan kisi-kisi angket.
Pengumpulan atau penyusunan data unutk angket ini dilakukan dengan menggunakan skala likert, dengan lima kategori yaitu: Selalu (SL), Sering (SR), Kadang-kadang (KK), Tidak Pernah (TP), Sangat Tidak Pernah (STP). Dan pengumpulan data observasi untuk melihat partisipasi siswa dipergunakan skala guttman dengan kategori Ada atau Tidak, setiap munculnya deskriptor Ada mendapat skor 2 dan tidak muncalnya deskriptor mendapat skor 0.
F. Tekhnik Analisa Data
Setelah semua data terkumpul dengan lengkap, maka data-data tersebut dipriksa serta di teliti kebenarannya dan disajikan melalui teknik deskriptif
kualitatif dengan proses sebaagi berikut:
1. Mengumpulakan data-data yang sudah diproleh dari hasil penelitian. 2. Mencek keabsahan data yang sudah di tentukan.
3. Mengklafikasi data yang diperlukan sesuai dengan pertanyaan penelitian. 4. Mendeskripsikan data-data sudah diklafikasikan yang sesuai indikator. 5. Memaparkan dalam bab hasil dan pembahasan.
6. Membahas dan menganalisis termasuk menginterpretasi dari data-data yang telah diolah.
7. menghitung frekuensi dengan menggunakan rumus f Sudjana (1989:129) P = x 100 ket: P= jumlah persentase N f= frekuensi
N= jumlah sampel
Setelah data diolah dengan menggunakan rumus persentase, kemudian ditetapkan kriteria penilaian masing-masing data yang diperoleh dengan mengacu pada batasan Sudjana (1989:57) sebagai berikut :
0% - 20% =kurang baik 21% - 40% = kurang 41% - 60% = cukup 61% - 80% = baik 81% - 100%= sangat baik
8. Mengeneralisasi.
Tabel 3. Teknik Pengumpulan Data
No Data Sumber Instrumen
1 Data hasil observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Siswa dan guru
Observassi 2 Tingkat pemahaman dan tanggapan siswa
tentang model kooperatif tipe STAD .
Siswa Wawancara 3 Hasil angket untuk mengetahui tingkat
keberhasilan proses pembelajaran STAD
Siswa Angket Sumber: (data diolah)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Tingkat Partisipasi Siswa Dalam Mengemukakan Pendapat
Partisipasi adalah turut sertanya seseorang baik secara mental maupun emosianal untuk memberikan sumbangan berupa pikiran, tenaga, keahlian,
dan materi dalam proses pembuatan suatu keputusan. Adapun yang dimaksud dengan partisipasi siswa merupakan wujud tingkah laku siswa secara nyata dalam kegiatan pembelajaran yang merupakan totalitas dari suatu keterlibatan mental dan emosional siswa sehingga mendorang mereka untuk memberikan konstribusi dan bertanggung jawab terhadap pencapaian tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Partisipasi dalam mengemukakan pendapat bisa dilihat dari dua aspek yaitu bertanya dan merespon.
a) Kelas sampel XI IPS1
Berikut hasil partisipasi siswa dalam mengemukakan pendapat di kelas XI IPS1, pada tanggal 03 juni 2010 jam pertama (07:15 wib).
Adapun langkah-langkah pelaksanaan diskusi kelas :
1) Siswa dibagi menjadi tujuh kelompok.
2) Membahas tentang topik yang sama yaitu latar belakang terjadinya konflik Israel-Palestina, sikap kita seharusnya dan solusinya. 3) Kemudian satu kelompok mempresentasikannya di depan kelas.
4) Diskusi kelas.
Kelompok I (satu) yang mempersentasikan di depan kelas. Hasil diskusi kelompok I yang disampaikan oleh Amalia tizzany M.: “Yang melatar belakangi konflik Israel-Palestina adalah tindakan saparatis Israel yang ingin memperluas wilayah negaranya dengan menguasai wilayah Palestina. Tindakan yang harus dilakukan dewan keamanan PBB mesti lebih tegas dalam menyelesaikan masalah tersebut, mengusahakan penegakkan HAM yang tertindah oleh Israel, ikut serta dalam perdamaian dunia. Solusinya menurut pendapat kelompok kami yaitu melakukan embargo baik senjata dan ekonomi terhadap negara Israel karena negara itulah yang memicu konflik pertama”.
Kelompok yang bertanya :
1) Kelompok lima (V), Yokie rahmatugafur “Dalam konflik internasional banyak berdampak pada negara-negara lain, seperti demo yang dilakukan oleh bebrapa pihak. Bagaimana pengaruh dan apakah itu berupa solusi dari konflik?”
2) Kelompok dua (II), Yulia fransiska “Bagaimana menurut kelompok I, tentang peran PBB dalam hal perdamaian dunia?”
3) Kelompok enam (VI), Budi zikril hakim “Apa sikap negara Indonesia saat ini, sudah sesuai dengan ketentuannya yang dalam cita-citanya ikut serta dalam perdamaian dunia?”
4) Kelompok empat (IV), Widia nurindah fitri “Menurut kelompok anda penyebab utama konflik Israel-Palestina itu apa?”
Kelompok yang merespon :
1) Kelompok satu (I), Egi jordian “Orang-orang demo itu tidak hanya sekedar demo-demo saja, tetapi itu merupakan bentuk solidaritas sesama manusia. Dengan aksi itu pemerintah akan mempercepat tindakannya, dalam hal aparat negara untuk mewujudkan perdamaian dunia”.
2) Kelompok tujuh (VII), Audra tanthy ohana “Demo merupakan hak, asalkan masih sesuai dengan kode etik demo. Menurut saya sah-sah saja, setidaknya berdampak dalam bentuk kemanusiaan”.
3) Kelompok lima (V), Yokie rahmatugafur “Kalau begitu bagus berarti aksi demo, dengan catatan demo yang tidak anarkis. Saran saya jangan demo kecil-kecilan buat aksi yang lebih besar lagi, agar bisa didengar oleh PBB selaku penanggung jawab keamanan dunia”.
4) Kelompok satu (I), Rahmi febrianty putri “Menurut kelompok kami peran PBB, belum optimal dalam memecahkan solusi agar tidak terjadi konflik, karena PBB masih diperankan oleh Amerika yang secara tidak langsung mendukung salah satu pihak yang berkonflik”.
Uraian di atas memperlihatkan tingkat partisipasi siswa dalam hal mengemukakan pendapat dikategorikan sangat baik pada saat diskusi kelas karena dari tujuh kelompok (I, II, III, IV, V, VI, VII) ada enam kelompok (I, II, IV, V, VI, VII) ikut berpartisipasi dalam diskusi kelas tersebut.
b) Kelas sampel XI IPS4
Berikut hasil partisipasi siswa dalam mengemukakan pendapat di kelas XI IPS1, pada tanggal 03 juni 2010 jam kedua (09:15 wib).