• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasyf el Fikr Volume 2, Nomor 2, Desember 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kasyf el Fikr Volume 2, Nomor 2, Desember 2015"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PEMIKIRAN FILSAFAT MUHAMMAD IQBAL TENTANG INSAN KAMIL

(Oleh: Nadhirin)1

Abstract

Like many thinkers of his generation he felt that Islam had suffered for centuries under an "intellectual paralysis" that had allowed the West to leave it behind. The task, then, was the reconstruction of religious thought: "The task before the modern Muslim is, therefore, immense. He has to re-think the whole system of Islam without completely breaking with the past".

An important prerequisite for this re-thinking is a critical reception of modern knowledge: "The only course open to us is to approach modern knowledge with a respectful but independent attitude and to appreciate the teachings of Islam in the light of that knowledge."

The careful balance here is not accidental. However Iqbal's emphatic insistence on an independent attitude is something that tends, even nowadays, to be overlooked. "No people can afford to reject their past entirely, for it is their past that has made their personal identity. And in a society like Islam the problem of a revision of old institutions becomes still more delicate, and the responsibility of the reformer assumes a far more serious aspect".

Keyword: philosophy thought, human perfect

A. Pendahuluan

Dalam beberapa abad terakhir ini, untuk tidak mengatakan semuanya, negara negara Islam benar-benar dihadapkan pada kehidupan yang kurang mencerminkan cita-cita Islam. Negara negara Islam terutama di Timur tengah malah disibukkan dengan persoalan dan konflik politik dan kekuasaan internal. Perang dengan sesama negara Islam, yang pasti itu berdampak terhadap kehidupan sosial masyarakatnya.

(2)

Perang selalu meninggalkan kepiluan bagi warganya, seperti pengungsian, kemiskinan, aktifitas pendidikan terganggu, roda kehidupan ekonomi terganggu, pasar, rumah sakit, ,masjid, gedung-gedung sekolah yang rusak dan berbagai kekacauan kehidupan sosial lainnya. Bagaimana Islam bisa memanifestasikan cita-citanya dalam keadaan yang kacau seperti itu. Selain negara-negara Islam di Timur Tengah, negara-negara Islam di benua Afrika dan Asia juga dihadapkan pada masalah-masalah internal yang jauh dari kehidupan Islam yang dicita-citakan. Islam yang mengajarkan kehidupan yang maju, cerdas, sejahtera ternyata masih api jauh dari panggang. Kemisikinan, kebodohan, keterbelakangan, perbudakan masih menjadi isu sentral kehidupan umat Islam. Mengapa cita-cita Islam yang diajarkan dalam al-Qur’an dan sunnah begitu susah untuk diwujudkan.

Di samping masalah-masalah internal, umat Islam diberbagai negara Islam juga dihadapkan oleh tekanan idiologi sosial, ekonomi, politik negara-negara Barat. Islam bagi negara-negara Eropa dan Amerika masih didentik dengan teroris, musuh tata kehidupan dunia. Islamophobia masih menjangkit pada masyarakat non Muslim. Dalam berbagai kampanye para pemimpin negara di Amerika, issu Islam menjadi issu sentral.

Pemimpin-pemimpin dunia baru harus menyampaikan pandangan

kepemimimpinannya yang memberikan kepastian perlindungan terhadap aksi brutal terorisme. Orang yang yang memiliki nama dari bahasa Arab yang akan melakukan kunjungan internasional harus diinvestigasi sangat ketat oleh petugas imigrasi di bandara-bandara internasional dengan tujuan negara-negara Eropa dan Amerika. Dalam kehidupan sosial umat Islam saat ini mengalami penyimpangan akhlaq dan kepribadian yang sangat jauh. Kerudung, jilbab, sarung, pecis, majlis taklim, madrasah-madrasah

(3)

semuanya masih eksis, tetapi hanya tinggal simbol-simbol dan penanda orang Islam saja. Minuman keras, free sex, narkoba, kekerasan rumah tangga, pembiaran anak, traficking, korupsi merupakan kehidupan sehari-hari yang sangat dekat dan menjadi kehidupan umat Islam. Seolah saking seringnya tingkat penyimpangan, akhirnya masyarakat bersikap permisif terhadap penyimpangan ahlak massif yang nampak lumrah dan biasa.

Ada apa dengan kehidupan orang-orang Islam? apa yang salah dengan apa yang dipahami dalam al-Quran dan sunnah Muhammad? Apakah memang orang Islam ditakdirkan dengan kehidupan yang buruk, miskin, kriminal, trouble maker dan hidup di bawah pengawasan orang non muslim? Tentu para pemikir Islam sangat tidak setuju dengan lebel negatif umat Islam. Tapi dunia Islam hampir 800 tahun terakhir benar-benar hidup dalam bayang-bayang umat non muslim. Meskipun untuk tidak bermaksud mengatakan semuanya. Padahal al-Quran sungguh-sungguh dasar ajaran hidup yang melampaui kesempurnaan. Tetapi mengapa sumber ajaran yang sempurna tetapi mengapa tidak mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Apakah al-Quran dan sunnah hanya untuk kehidupan di akhirat? Tentunya tidak.

Salah satu penyebab kemunduran berbagai kehidupan kehidupan umat Islam menurut penulis adalah umat Islam tidak mau sungguh-sungguh belajar sejarah kehidupan negara dan umat Islam sebelumnya. Kehidupan Islam pada masa lalu, masa sekarang dan cita-cita Islam di masa depan adalah harus dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh. Sehingga mata rantai pertama, Islam pada Nabi Muhammad realitas Islam pada masa sekarang tidak mengalami penyempalan. Dengan pandangan seperti itu, cita-cita ideal Islam pada masa depan dapat

(4)

ditegakkan. Diantara berbagai tinggalan sejarah Islam, kita bisa mempelajari warisan pemikir Islam yang sangat terkenal di Asia kecil, India, yaitu Sir Muhammad Iqbal. Beliau pemikir Islam yang sangat revolusioner, modern, educated, akademis dan terbuka. Pemikirannya bahkan sampai melahirkan sebuah negara Islam Pakistan di India. Beliau di samping seorang ahli filsafat, juga seorang satrawan, politikus, dan ahli hukum. Banyak pemikiran besar Muhammad Iqbal tentang dunia Islam di berbagai bidang, termasuk pendidikan, politik, filsafat Islam, hukum dan moral. Dalam tulisan yang sederhana dan singkat ini, penulis akan memaparkan sedikit sisi pemikiran Muhammad Iqbal tentang insan kamil.

B. Biografi dan Karya Pemikiran Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal merupakan seorang filsuf yang ahli di bidang hukum, politik, penyair dan seorang reformis muslim yang dominan dikalangan umat Islam abad ke-20. Muhammad Iqbal lahir di Sialkot pada tanggal 09 November 1877 M tetapi ada yang mengatakan lahir pada Tanggal 22 Februari 1873 Matau pada bulan Dzulhijjah 1289 H.2 Ayahandanya bernama Syaikh Nur Muhammad, beliau memiliki kedekatan dengan kalangan Sufi. Karena kesalehan dan kecerdasannya, penjahit yang cukup berhasil ini dikenal memiliki perasaan mistis yang

2

Ada sedikit perbedaan berkaitan dengan kelahiran M. Iqbal, Khalifat Abd Hakim mencatat kelahiran Iqbal Tanggal 9 November 1877 M, lihat Khalifat Abd Hakim, “Renaissance In Indo-Pakistan: dalam M.M. Syarif(Ed.) A History of Muslim Philosophy,

( Jerman: Otto Horrosswitz, 1996), Vol. II. Hal. 1614, begitu juga menurut Hafiz Malik

(ed.), Iqbal, Poet Philosopher of Pakistan, (Newyork-London: Colombia Univerity Press, 19710, hal. 3. Penelitian yang terakhir membuktikan bahwa kelahiran Iqbal adalah Tanggal 9 Nopember 1877, lihat A. Syafii Maarif dalam Pendahuluan buku Iqba,

Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, (Yogyakarta: Jalasutra, 2008), hal.xi, lihat

juga Abdul Wahab Azzam dalam Danusiri (Ed.), Epistimologi dalam Tasawuf Iqbal (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hal. 17

(5)

dalam serta rasa keingintahuan ilmiah yang tinggi. Tak heran, jika Nur Muhammad dijuluki kawan-kawannya dengan sebutan “Sang Filosof”.3

Ibunda Iqbal juga dikenal sangat religius. Ia membekali kelima anaknya, tiga putri dan dua putra, dengan pendidikan dasar dan disiplin keislaman yang kuat. Di bawah bimbingan kedua orangtuanya yang taat inilah Iqbal tumbuh dan dibesarkan. Kelak di kemudian hari, Iqbal sering berkata bahwa pandangan dunianya tidaklah dibangun melalui spekulasi filosofis, tetapi diwarisi.4 Pendidikan Muhammad Iqbal dimulai sejak kanak-kanak, beliau belajar kepada ayahnya yang dikenal pula sebagai seorang ulama.5 Kemudian Iqbal mengikuti pelajaran al-Quran dan pendidikan Islam lainnya secara klasik di sebuah surau. Selanjutnya Iqbal dimasukan ayahnya ke Scotch Mission College di Sialkot agar ia mendapatkan bimbingan dari Maulawi Mir Hasan (teman ayahnya yang ahli bahasa Persia dan Arab).6 Pada tahun 1985 ia pergi Lahore, salah satu kota di India yang menjadi pusat kebudayaan, pengetahuan dan seni. Di kota inilah Iqbal bergabung dengan para sastrawan yang sering diundang Mu’syawarah, yaitu sebuah pertemuan di mana para penyair membacakan sajak-sajaknya.7 Hal ini merupakan tradisi yang masih berkembang di kota Lahore Iqbal melanjutkan pendidikan sarjananya dan mengajar di Goverment College. Pada tahun 1897 Iqbal memperoleh gelar B.A., kemudian ia mengambil program M.A dalam bidang

3

Abdul wahab Azzam, Filsafat dan Puisi Iqbal, Terj. Ahmad Rofi’I Utsman, (Bandung: Pustaka, 1985), hal. 13

4 Wilfred Contwell Smith, Modern Islam in India, A Social Analysis, (New

Delhi: Usha Publication, 1979), hal. 116-117.

5

Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta; Gaya Media Pratama, 1999), hal. 182

6 Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Post modern dalam Islam, (Jakarta;

Grasindo, 2003), hal. 45

7 Mohammad Iqbal, Sisi Insanwi Iqbal, terj. Ihsan Ali Fauzi dan Nurul

(6)

filsafat.8 Pada saat itulah ia bertemu dengan Sir Thomas Arnold (orientalis Inggris yang terkenal) yang mengajarkan filsafat di College tersebut. Dengan dukungan Arnold, Iqbal terkenal sebagai salah satu pengajar yang berbakat dan penyair Lahore sehingga sajak-sajaknya banyak diminati.9 Pada tahun 1905, ia studi di Cambridge pada R. A Nicholshon yaitu seorang spesialis dalam sufisme dan seorang Neo-Hegelian, yaitu John M.E. McTaggart.10 Iqbal kemudian belajar di Heidelberg dan Munich. Di Munich, ia menyelesaikan doktornya pada tahun 1908 dengan disertasi yang berjudul The Development of Metaphysic in

Persia. Disertasi ini kemudian diterbitkan dalam bentuk buku di

London, lalu Iqbal menghadiahkan buku tersebut kepada gurunya yaitu Sir Thomas Arnold.11

Setelah mendapatkan gelar doktor, ia kemudian kembali ke London untuk belajar keadvokatan sambil mengajar bahasa dan kesustraan Arab di Universitas London. Tidak jemu-jemunya Muhammad Iqbal mengadakan perbincangan tentang persoalan keilmuan dan filsafat. Disamping itu, Iqbal memberikan ceramah di berbagai kesempatan tentang Islam, dan kajiannya tersebut diterbitkan dalam surat kabar. Pada tahun 1908, Iqbal kembali ke Lahore dan mengajar di Goverment College dalam mata kuliah filsafat dan sastra Inggris.12 Untuk beberapa tahun, ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Kajian-Kajian Ketimuran dan ketua jurusan Kajian-kajian Filosofis. Selain itu, Iqbal pun menjadi anggota

8Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah, Pemikiran dan

Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), hal. 190

9

Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Arruz, 2006), hal 281.

10 Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam, (Jakarta: Bumi

Aksara, 1991), hal. 118

11 Ibid, hal. 191, lihat juga Khalifat Abdul Halim, Renaissance……, hal 1615,

dan juga Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam…., hal. 182

(7)

dalam komisi-komisi yang meneliti masalah perbaikan pendidikan di India. Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama, Iqbal beralih profesi dalam bidang Hukum. Profesi ini berlangsung sampai ia sering sakit yaitu pada tahun 1934, empat tahun sebelum ia meninggal.

Dalam bidang politik, Iqbal juga mengambil bagian, bahkan menjadi tulang punggung partai Liga Muslim India. Pada tahun 1926 ia terpilih menjadi anggota Majelis Legislatif di Punjab, sementara itu, kegiatannya di Liga Muslim India tidak berhenti. Pada tahun 1930 ia menjadi presiden Liga Muslim India. Ketika konferensi tahunan Liga Muslim India di Allahabad tanggal 29 Desember 1930, Iqbal adalah orang yang pertama kali menyerukan dibaginya India, sehingga kaum Muslim mempunyai negara otonom., hal itu tidak bertentangan dengan kaum muslim dan pan-islam. Dengan pemikiran tersebut Iqbal dikenal dengan Bapak Pakistan.13

Pada tahun 1931 dan 1932, Iqbal mengikuti konferensi Meja Bundar di London, pada konferensi tersebut membahas tentang konstitusi baru bagi India. Pada tahun berikutnya ia mengikuti konferensi Meja Bundar ke-3 yang pada saat itu ketika ia kembali, ia lewat spanyol untuk menyaksikan peninggalan-peninggalan umat Islam di tempat tersebut. Kunjungannya memberikan inspirasi dan ia mengubah sajak-sajaknya dan salah satu sajaknya yang terkenal adalah di mesjid Kordova. Pada tahun 1922 seorang wartawan Inggris mengusulkan kepada pemerintahannya untuk memberikan gelar Sir kepada Iqbal. Iqbal pun mendapat undangan penguasa Inggris untuk pertama kalinya, meski pada mulanya Iqbal menolak undangan tersebut.14

13 H. A. Musthofa, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hal. 331 14 Robert D Lee, Mencari Islam Autentik dari nalar Puitis Iqbal Hingga Nalar

(8)

Saat Pakistan masih memerlukan karya-karayanya, pada tahun 1935 isterinya meninggal dunia. Musibah ini membekas sangat mendalam dan membawa kesedihan berlarut-larut kepada Iqbal. Akhirnya berbagai penyakit menimpa kepada Iqbal sehingga kondisi fisiknya semakin melamah.15 Akan tetapi semangatnya dalam menuliskan pemikiran-pemikirannya tidak pernah turun. Pada tahun 1938 sakitnya bertambah parah, ia merasa ajalnya sangat dekat, namun Iqbal menyempatkan diri berpesan kepada sahabat-sahabatnya. “Katakanlah kepadamu tanda seorang Mu’min, jika maut datang akan merekah senyum di bibir”. Ketika fajar 21 April 1938, dalam usia 60 tahun menurut kalender masehi atau 63 tahun dalam kalender hijriah, Iqbal berpulang ke rahmatullah.16 Beberapa karya pemikiran Muhammad Iqbal yang mengilhami pemikir – pemikir Islam saat ini diantaranya yaitu: (1)„Ilm Al-Iqtishad,(1903) (2)

Development of Methapyisic in Persia : A Contribution to The History of Muslim philoshopy (1908)(3) Islam as a Moral and Political Ideal, (1909)

(4) Asrar-i Khudi [Rahasia Pribadi], (1915)(5) Rumus-i Bekhudi [Rahasia Peniadaan Diri], (1918)(6) Payam Masyriq [Pesan dari timur] (1923)(7)

Bang-i Dara [Seruan dari perjalanan], (1924)(8) Self The Light of relativity Speeches and Statements of Iqbal, (1925)(9) Zahoor-i Ajam

[Kidung Persia10) Khusal Khan Khatak, (1928) (11) A Plea for Deeper

study of Muslim Scientific, (1929) (12)Presendential], (1927) (Addres to the All India Muslim Leaque (1930).17

15 Rosihan Anwar dan Abdur Rozak, Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia,

2001), hal. 220

16

M. Syafii Maarif dalam Pendahuluan Muhammad Iqbal, Rekonstruksi

Pemikiran Agama dalam Islam, (Yogyakarta: Jalasutra, 2008),terjemahan Ali Audah,

dkk. hal. viii

17 M. Iqbal, Amarghan-I-Hijaz, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hal. 26. Lihat

juga di Didin Saefuddin, pemikiran Modern dan Post Modern Islam, (Jakarta: Grasindo: 2003), hal. 44.

(9)

C. Pemikiran Muhammad Iqbal tentang Insan Kamil

Pandangan Iqbal tentang konsep manusia sempurna terinspirasi oleh kehidupan nyata umat Islam waktu itu yang penuh dengan kemunduran, terbelakang dan miskin, taqlid dan cenderung mistik dan eksklusif. Sebaliknya orang non muslim justru hidup penuh dengan penemuan, kesejahteraan, terpelajar dan mampu merubah kehidupan dunia. Sementara Islam mengajari manusia menjadi pribadi yang unggul, seimbang, berpribadi merubah, maju dan dalam ketaatan kepada hukum hukum Allah. Manusia dalam pandangan Islam sangat mendapatkan posisi yang utama. Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia agar menjadi pribadi yang paripurna dan sempurna. Tidak ada satu dasar ajaran yang mampu membentuk manusia yang unggul kecuali al-Quran dan sunnah nabi Muhammad. Islam sebagai agama juga mengajarkan berbagai keutamaan dan penerapan nilai-nilai utama universal untuk terbentuk pribadi yang paripurna (insan kamil). Secara umum insan kamil dipahami sebagai pribadi yang telah mengalamai pematangan fisik, batin, pikiran dan moral spiritual dengan telah mengalami keseimbangan antara kesadaran pribadi, kesadaran dengan dunianya dan kesadaran dengan Tuhan.18 Dari awal perkembangan pemikiran Islam hingga sampai sekarang pengertian, pemahaman dan penerapan insan kamil mengalami dinamika dan perkembangan sesuai konteks sosial, budaya, politik yang melingkupinya. Pada Masa kejayaan pemikiran Filsafat dalam Islam, Islam kamil dipahami sebagai sebuah pribadi yang telah mengalami puncak pemikiran dengan akal fikirannya sehingga menemukan pemahaman yang memuaskan tentang dirinya, lingkungannya, alam dan

(10)

Tuhan.19 Namun dalam dinamika pemikiran Tasawuf insan kamil dipahami sebagai pribadi yang telah mengalami puncak pengalaman spiritual dan penyatuan antara dirinya dan Tuhannya, bahkan insan kamil baru akan diperoleh jika kehidupan manusia telah kehilangan keterikatannya dengan semua kehidupan duniawi.

Muhammad Iqbal adalah pemikir Islam modern Asia pada abad XX dari India yang melihat pendefinisian dan pengamalan konsep-konsep insan kamil yang kurang komprehensip dan dipandangnya sebagai konsep yang pincang dan lemah. Sebagai seorang reformis pemikiran Islam dengan latar pendidikan Eropa di abad Modern dan di saat negaranya sedang dijajah Inggris serta Islam di tempat negaranya didominasi oleh kehidupan agama Hindhu. M. Iqbal India yang masih muda, dinamis dan revolusioner pemikirannya berusaha untuk membangun kehidupan beragama dan bernegara yang lebih cerdas dan maju. Di sisi lain secara umum keberagamaan Islam pada saat itu lebih bercorak mistik. Muhammad Iqbal ingin melakukan pencerahan kepada umat Islam dan dunia pada umumnya untuk memahami kembali pengertian insan kamil dengan memadukan pemahaman Islam secara normatif dan menghidupkannya dalam kehidupan yang nyata serta dengan melihat dan menyesuaikan pemahaman Islam dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan.

Iqbal menafsirkan insan kamil atau manusia utama, setiap manusia potensial adalah suatu mikrokosmos, dan bahwa insan yang telah sempurna kerohaniannya menjadi cermin dari sifat-sifat Tuhan, 20

sehingga orang suci dia menjadi khalifah atau wakil Tuhan. Manusia

19 Toto, loc.cit, hal. 13 20 Danusiri, loc.cit. hal. 134

(11)

dengan segala kelemahannya masih lebih tinggi derajatnya dibandingkan alam, karena manusia mengemban suatu amanah yang sangat luar biasa, sehingga ada manusia yang diberi nama Insan Kamil. Iqbal mengatakan, bahwa manusia merupakan suatu pribadi atau ego yang berdiri sendiri, tetapi belumlah dia menjadi pribadi yang utama. Dia yang dekat kepada Tuhan adalah yang utama. Semakin dekat semakin utama. Sedangkan semakin jauh jaraknya dengan Tuhan, berkuranglah bobot kepribadiannya. Pribadi sejati bukanlah pribadi yang menguasai tentang alam benda, akan tetapi pribadi yang yang dilingkupi sifat-sifat Tuhan dalam khudinya.21 Adapun tentang kehidupan, Iqbal mengatakan bahwa proses yang terus menerus maju ke depan dan esensinya ialah penciptaan terus menerus dari gairah dan cita-cita. Penciptaan gairah-gairah baru dan cita-cita yang baru tentulah selamanya mewujudkan ketegangan-ketegangan yang konstan.22

Hal-hal yang dapat memperkuat pribadi menurut Iqbal,23 ialah (1) Cinta kasih (2) Semangat atau keberanian, termasuk bekerja kreatif dan orisinal, artinya asli dari hasil kreasinya sendiri dan mandiri, (3)Toleransi (4) Faqr, artinya tidak mengharapkan imbalan dan ganjaran-ganjaran yang diberikan disana. Empat unsur di atas sungguh sangat elegant dan sangat relevan dengan usaha untuk mencapai pribadi kaffah. Betapa tidak manusia yang memiliki rasa cinta terhadap sesama sesuai dengan koredor dan mencintai keharmonisan dan jauh dari

21

Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam,

(Yogyakarta: Jalasutra, 2008), terjemahan Ali Audah, dkk. hal. 129-130

22 Ibid, hal. 131

23 KG. Saiyidain, Percikan Filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan (Iqbql‟s

Education Philosophy), terj. M.I. Soelaiman, (Bandung: CV. Diponegoro, 1981), hal

(12)

konflik dan perang.24 Manusia yang kejam, bengis dan ahli kejahatan adalah jauh dari cita-cita manusia kamil. Unsur mental berani, bermental merubah untuk lebih baik, menciptakan tata kehidupan baru yang berkembang adalah juga syarat untuk menjadi manusia menduduki insan kamil. Manusia tanpa perubahan adalah lebih rendah dari benda-benda mati di alam. Manusia dikaruniai akal pikiran yang sangat mahal dibandingkan dengan mahluk lain harus dimanfaatkan untuk merubah dunia. Dunia adalah sebuah kehidupan yang berisi berbagai ragam tipikal manusia dan bangsa yang komplek. Agar terhidar dari kerusakan kehidupan, terhindari dari konflik dan perang, manusia yang bijak adalah manusia yang bisa bersikap toleran terhadap berbagai perbedaan. Jiwa toleransi dalam manusia akan menjadikan pribadi emas yang membuat kehidupan ini menjadi dinamis, saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Jiwa toleransi dibutuhkan manusia kamil. Unsur lain yang menjadikan pribadi sempurna, menurut Iqbal adalah dipersyaratkannya mental faqr. Memiliki mental faqr tidak diartikan sebagai berkepribadian miskin, kere dan pengemis. Faqr adalah kondisi mental yang merasa cukup dan tidak rakus dan tamak seperti beberapa pribadi muslim Indonesia yang korup dan serakah. Mungkin secara lahiriah seseorang berharta benda yang banyak, tetapi pemiliknya memandangnya sebagai harta yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kehidupan sesama yang lebih baik. Sifat faqr sungguh begitu sulit ditemukan dalam kehidupan umat Islam saat ini. Kenyataannya yang ada adalah fakir dalam arti benar-benar secara lahiriah miskin dan banyak

24 Ibid, hal. 71-85

(13)

orang muslim yang nyatanya berlimpah harta tetapi orangnya korup, serakah dan bermental tidak pernah cukup.25

Sedangkan hal-hal yang dapat melemahkan pribadi adalah takut, suka minta-minta, perbudakan dan sombong. Dalam pusinya Javid Namah, Iqbal menyatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang penuh dengan usaha perjuangan, bukan suatu cara hidup yang menarik diri dan memencikan diri, bukan yang malas dan menganggap remeh kehidupan ini. Manusia sepanjang hayatnya hendaklah berusaha sungguh-sungguh untuk selalu maju dan bersifat kreatif. Dari beberapa komponen untuk memperkuat diri, Iqbal menyatakan bahwa

Faqr merupakan komponen yang terpenting. Jiwa faqr membuat

manusia menjadi semacam pejuang rohani yang gigih. Ia merupakan juga semacam perisai yang melindungi pemegannya dalam setiap langkahnya, karena terus menerus berusaha sifat-sifat Tuhan dalam dirinya.

Iqbal tidak setuju dengan makna Faqr yang menyebabkan sikap isolasi diri, menhindar dan melarikan diri dari kenyataan. Mengenai semangat dan keberanian, tidaklah hanya untuk menguatkan jasmani saja, akan tetapi untuk menguatkan rohani yaitu bahaya dari kehilangan iman dan kehilangan nilai-nilai kita sendiri disaat segala sesuatu tidak berjalan beres. Dengan sikap toleransi, memungkinkan manusia mukmin atau manusia sejati untuk mengembangkan dirinya dan memperkokoh individualitas memlalui kontak yang aktif dengan lingkungannya. Manakala sang mukmin menguasai dunia, ia tetap tangguh dengan landasan moral insaninya. Harga dirinya memberikan kesanggupan dan keberanian untuk menjelajahi kehidupan baru, toleransi serta

25 Ibid. hal. 71-85

(14)

penghormatannya terhadap hak dan pribadi orang lain membuatnya peka terhadap tuntutan sesama manusia.

Pemikiran manusia sempurna dalam pandangan sangat dipengaruhi oleh kehidupan minoritas masyarakat muslim di tengah mayoritas Hindhu India. Menurutnya, manusia yang utama adalah manusia yang memiliki pribadi yang dinamis, bebas dan bertanggung jawab.26 Bebas dan tanggung jawab adalah monodualistik, integratif. Bebas bagi manusia adalah sunnatullah. Bebas adalah konsekwensi akal yang diberikan kepada manusia, dan tanggung jawab adalah konsekwensi logis kausatif atas kebebasan yang dimilikinya.27 Kebebasan pikiran manusia bukanlah kebebasan kehidupan rimba, tetapi kebebasan yang berada dalam koridor hukum agama. Islam yang stagnan bahkan mundur adalah karena sebuah pandangan saat itu yang mengisaratkan Islam telah selesai, telah sempurna. Ini pandangan yang split, sebuah pemahaman yang tanpa metodologis. Secara normatif al-Quran dan sunnah sudah sempurna memang tidak salah, tetapi ketika Islam dilihat dari dinamika singularitas faktualitas yang dinamis dan berubah tidak mengenal sempurna dan selesai. Hidup selalu berproses dan mengalir dengan tanpa batas selesai.28

Sebagaimana pernyataan Iqbal bahwa stagnasi intelektual umat Islam termasuk juga komunitas muslim India adalah salah dalam memahami dinamika kebebasan. Pemikiran Iqbal tentang konsep Ego dan keabadian juga terkait dengan konsep manusia kamil. Menurutnya, kebebasan manusia merupakan dasar adanya pertanggung jawaban. Ia

26 MM. Syarif, Iqbal: Tentang Tuhan dan Keindahan, terj. Yusuf Jamil,

(Bandung: Mizan, 1993), hal 37

27 Ibid, hal. 37 28 Ibid, hal. 38

(15)

memandang ego sebagai “a free personal causality”,29

yang dengan demikian ia menolak faham jabariyah, selanjutnya Iqbal mengemukakan bahwa faham tertutupnya pintu ijtihad sebagai “purification, Sebagai semata-mata fiksi, karena ijtihad itu sebenarnya merupakan jalan vital bagi dinamika Islam, tentu penutupan pintu ijtihad itu sama sekali tidak dapat dicarikan dasar legitimatifnya. Iqbal melihat adanya kominasi kaum konsertatif terhadap faham rasionalis dengan cara menggunakan otoritas syariat untuk membuat umat tunduk dan diam, sebagai salah satu sebab terjadinya kebekuan hukum Islam yang pada gilirannya menjadikan ijtihad sebagai suatu yang terlarang. Hal itu dilakukan semata-mata demi stabilitas sosial untuk mendukung kesatuan politik. Dalam kaitan dengan ini, upaya yang ditempuh oleh Ibn Taimiyah menolak pendirian bahwa keempat mazhab telah membahas semua persoalan yang dengan demikian ijtihad tidak diperlukan lagi, menarik minat Iqbal. Jadi, Manusia kamil menurut Iqbal menuntut pribadi yang aktif dalam melihat internal dirinya dan proporsional melihat lingkungan eksternalnya.

Selanjutnya Iqbal melihat kezuhudan juga turun bertanggung jawab terhadap kemunduran umat, karena umat akan terbawa pada penolakan hidup materi untuk semata mencurahkan seluruh potensi pada ritus-ritus keagamaan semata, Dalam kaitannya dengan ini tampaknya kezuhudan yang berpengaruh di India juga dipersubur oleh faham – faham keagamaan di luar Islam seperti faham agama Budha, yang penganjur utamanya yaitu Ghautama jelas-jelas telah melepas kehidupan materialnya dalam upaya untuk menemukan hakikat hidup nirwana. Bagaimana bisa menjadi manusia yang kamil, kalau kita tidak mampu

(16)

mengemban tugas sebagai khalifah di bumi. Alam semesta ini ada adalah karena ada manusia. Manusia adalah sentral di alam semesta. Jabariyah adalah sebuah madhab pemikiran yang memandang alam dan kehidupan ini bersifat tetap. Keteraturan alam semesta memang telah Allah tetapkan hukum-hukum makro dan absolut. Dengan hukum hukum makro yang merupakan takdir (hukum alam), manusia dengan kemampuan pikirannya, diberi kesempatan untuk menentukan hukum-hukum turunan yang bersifat mikro dan relatif. Bahkan manusia diberi ruang untuk menciptakan hukum-hukum sosial dalam mengatur kehidupannya yang lebih baik yang sesuai dengan lingkup dan sosial kultural di mana manusia itu tinggal dengan tidak keluar dari hukum makro sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran.30

Sejarah Jatuhnya kota Baghdad, menurut Iqbal merupakan puncak penyebab kebekuan intelektual kaum muslimin. Seperti diketahui Baghdad merupakan pusat kemajuan pemikiran. Islam sampai pertengahan abad ketiga hijriyah. Ditambah lagi adanya sikap kaum konservatif menolak negara untuk pembaharuan dalam bidang hukum Islam untuk kemudian berpegang teguh pada produk ijtihad ulama pada masa dahulu, benar – benar mempunyai peranan besar terhadap terjdinya stagnasi intelektual tersebut. Terapi yang diberikan oleh Iqbal ialah menghidupkan kembali upaya ijtihad secara bebas. Lebih jauh Iqbal mengemukakan pentingnya pemindahan otoritas ijtihad dari wakil – wakil mazhab kepada dewan Islam, dan ia menyatakan inilah kemungkinan ijma` dewasa ini dapat terjadi.

Manusia kamil adalah manusia yang mampu melakukan hukum perubahan, menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda sesuai dengan

(17)

alam kehidupan sosial yang dihadapinya. Ini yang dinamakan ijtihad. Ijtihad berarti upaya mencurahkan segenap kemampuan intelektual, dan ini berarti menempatkan akal pada kedudukan yang tinggi. Bahkan menurut Iqbal ijtihad merupakan “the principle of movement in the

structure of islam”.31

Dengan demikian dalam konsep ijtihad terdapat pula aspek perubahan, karena dengan adanya perubahan itulah ijtihad perlu dilakukan. Dengan adanya perubahan, sekaligus perkandungan dinamika kehidupan umat manusia, bahkan juga dinamika alam semesta. Dari sinilah Iqbal amat cerdik sekali menemukan ajaran dinamisme. Ia menangkap adanya prinsip dinamika hampir pada semua segi, termasuk jatuh bangunnya suatu umat juga tidak terlepas dari prinsip dinamika ini.

Dalam syair-syairnya sebagaimana dinyatakan oleh Harun Nasution, Iqbal mendorong umat Islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam, intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup ialah menciptakan, maka Iqbal berseru kepada umat Islam supaya bangun dan menciptakan dunia baru.32 Untuk keperluan ini umat Islam harus menguasai ilmu dan teknologi, dengan catatan agar mereka belajar dan mengadopsi ilmu dari barat tanpa harus mengulangi kesalahan barat memuja kekuatan materi yang menyababkan lenyapnya aspek etika dan spiritual. Bahkan dalam satu pernyataannya, M Iqbal menyatakan bahwa orang kafir yang produktif lebih baik dari pada orang Islam yang hanya menghabiskan untuk tidur, bermalas-malasan dan taqlid. Ini sebuah pernyataan yang sekilas sangat kontroversial karena bagaimanapun kesalehan seseorang yang tidak beriman tentunya tidak serta merta

31 M. Iqbal, Membangun Kembali Alam Pemikiran Islam, terj. Osman Raliby,

(Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hal. 172

32 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah pemikiran dan

(18)

diangkat martabatnya melebihi orang beriman yang malas. Meskipun keimanan menuntut amal nyata. Ini bentuk pernyataan Iqbal kepada sesama saudaranya yang mengaku berikrar sebagai muslim, tetapi fakta kehidupannya sungguh tidak mencerminkan pribadi muslim. Ini hanya bahasa hiperbolis dan bersifat korektif dan motivatif terhadap instropektif terhadap kehidupan muslim untuk tergugah dan bangkit membangun kehidupan umat Islam dan tata kehidupan dunia sesuai dengan dinamika dunia yang semakin berubah dengan tidak berubah dari koridor al-Quran dan sunnah nabi.

D. Kesimpulan

1. Manusia menurut Muhammad Iqbal adalah manusia yang seimbang antara kehidupan lahir dan batin, seimbang dunia dan akhirat, seimbang akal dan batinnya.

2. Insan kamil menurut Iqbal adalah manusia yang bebas dalam menggunakan akal pikirannya dengan bertanggung jawab atas kebebasan yang telah dipilihnya.

3. Insan kamil menurut Iqbal harus memiliki empat unsur sebagai pondasi bangunan pribadinya, yaitu memiliki unsur cinta kasih, berjiwa kreatif, toleran dan berjiwa cukup (fakir).

4. Insan kamil adalah bukanlah konsep pengalaman ketuhanan para sufi atau pengalaman puncak pemikiran filsafat, insan kamil adalah keseimbangan akal dalam meraih kebenaran sesuai dengan hukum akal dan juga mampu memperoleh pengalaman spiritual keagamaan

(19)

sesuai dengan pengalaman pribadi keagamaan seseorang dalam menghamba kepada ketuhanannya.

5. Muhammad Iqbal sangat cinta akan pendidikan, tampak dari latar belakang pendidikannya yang dimulai sejak masa kanak-kanak sampai beliau wafat. Beliau meraih gelar B.A di Lahore, lalu beliau menyelesaikan gelar doktornya di Munich. Beliau juga mengabdi di college tempat meraih gelar B.A-nya.

6. Sekitar kurang lebih 21 karya yang beliau keluarkan selama hidupnya. Salah satu karyanya yang terkenal adalah The

Reconstruction of Religious Thought in Islam [Pembangunan

Kembali Pemikiran Keagamaan dalam Islam]

7. Moral dan Insan Kamil merupakan satu keterkaitan dimana dengan moral yang baik maka Insan Kamil akan terwujud. Manusia menjadi insan kamil bukanlah manusia yang mengetahui alam benda akan tetapi manusia yang dilingkupi sifat-sifat Tuhan. Semakin dekat dengan Tuhan, maka akan semakin dekat pula kepada insan kamil begitupun sebaliknya, jika semakin jauh dengan Tuhan, maka semakin turun bobot kepribadiannya.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahab Azzam, Filsafat dan Puisi Iqbal, Terj. Ahmad Rofi’I Utsman, Bandung: Pustaka, 1985.

Hafiz Malik (ed.), Iqbal, Poet Philosopher of Pakistan, Newyork-London: Colombia Univerity Press, 1971

Danusiri, Epistimologi dalam Tasawuf Iqbal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996

Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Post modern dalam

Islam, Jakarta; Grasindo, 2003

H. A. Musthofa, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1997 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah, Pemikiran

(21)

Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, Jakarta; Gaya Media Pratama, 1999.

Khalifat Abd Hakim, “Renaissance In Indo-Pakistan: dalam M.M. Syarif(Ed.) A History of Muslim Philosophy, ( Jerman: Otto Horrosswitz, 1996), Vol. II.

KG. Saiyidain, Percikan Filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan

(Iqbal‟s Education Philosophy), terj. M.I. Soelaiman, (Bandung: CV.

Diponegoro, 1981.

Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, Yogyakarta: Jalasutra, terjemahan Ali Audah, dkk, 2008.

---, Amarghan-I-Hijaz, Jakarta: Bulan Bintang, 1976.

---, Membangun Kembali Alam Pemikiran Islam,

terj. Osman Raliby, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986

---, Sisi Insani Iqbal, terj. Ihsan Ali Fauzi dan Nurul Agustina, Bandung: Mizan, 1992

Robert D Lee, Mencari Islam Autentik dari nalar Puitis Iqbal

Hingga Nalar Kritis Arkoun, Bandung: Mizan, 2000

Rosihan Anwar dan Abdur Rozak, Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2001

Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Arruz, 2006 Wilfred Contwell Smith, Modern Islam in India, A Social Analysis, (New Delhi: Usha Publication, 1979.

Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991

MM. Syarif, Iqbal: Tentang Tuhan dan Keindahan, terj. Yusuf Jamil, (Bandung: Mizan, 1993

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga perlunya kombinasi untuk beberapa jenis rack yang sesuai dengan kriteria diatas, yaitu sesuai dengan kebutuhan pallet position yaitu sebesar 4955 pallet position,

Ikan pari berenang dengan gerakan mengelombang sirip pectoral yang lebar.warna punggung dari ikan pari mirip dengan warna dasar sekitar, dan beberapa jenis mempunyai duri beracun

Peta Bahaya Tanah longsor di jalan dampak kejadian tanah longsor di sekitar jalan bagi masyarakat Tindakan mitigasi oleh masayarakat dan pemerintah di Desa Ngadas. Sumber:

Aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan yang ditetapkan untuk dimiliki untuk periode tertentu dimana akan dijual dalam rangka pemenuhan likuiditas

Jurnal Edukasi dan Penelitian Informatika (JEPIN) Vol. Gregorius, Liliana, dan Steven [7] dalam penelitiannya telah mengaplikasikan SOM untuk memprediksi talenta pemain

Selanjutnya bagian Grup atas laba rugi entitas asosiasi, setelah penyesuian yang diperlukan terhadap dampak penyeragaman kebijakan akuntansi dan eliminasi laba atau

Kepentingan non-pengendali mencerminkan bagian atas laba atau rugi dan aset neto dari Entitas Anak yang tidak dapat diatribusikan secara langsung maupun tidak