• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 69/PUU-XIII/2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 69/PUU-XIII/2015"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 69/PUU-XIII/2015

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960

TENTANG PERATURAN DASAR POKOK-POKOK AGRARIA

DAN

UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974

TENTANG PERKAWINAN TERHADAP UNDANG-UNDANG

DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

MENDENGARKAN KETERANGAN PRESIDEN DAN DPR

(III)

J A K A R T A

RABU, 29 JULI 2015

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 69/PUU-XIII/2015 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria [Pasal 21 ayat (1) dan ayat (3), serta Pasal 36 ayat (1)] dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan [Pasal 29 ayat (1) dan Pasal 35 ayat (1)] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

PEMOHON 1. Ike Farida ACARA

Mendengarkan Keterangan Presiden dan DPR (III) Rabu, 29 Juli 2015 Pukul 11.14 – 11.50 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Arief Hidayat (Ketua)

2) Anwar Usman (Anggota)

3) Aswanto (Anggota)

4) I Dewa Gede Palguna (Anggota)

5) Manahan MP Sitompul (Anggota)

6) Patrialis Akbar (Anggota)

7) Suhartoyo (Anggota)

8) Wahiduddin Adams (Anggota)

(3)

Pihak yang Hadir:

A. Pemohon:

1. Ike Farida

B. Kuasa Hukum Pemohon:

1. Stanley Gunadi 2. Ahmad Basrafi 3. Yahya Tulus Nami

C. Pemerintah:

(4)

1. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sidang dalam Perkara Nomor 69/PUU-XIII/2015 dengan ini dibuka dan terbuka untuk umum.

Saya cek kehadirannya. Pemohon, yang hadir siapa? Saya persilakan.

2. PEMOHON: IKE FARIDA

Mohon maaf. Terima kasih, Yang Mulia. Nama saya Ike Farida. Hari ini saya dihadiri oleh Kuasa untuk mewakili. Sebelah kanan saya, Bapak Stanley Gunadi. Sebelah kiri saya, Bapak Yahya Tulus. Dan sebelah kiri saya lagi, Bapak Ahmad. Terima kasih.

3. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, terima kasih. Dari Pemerintah yang mewakili Presiden, saya persilakan.

4. PEMERINTAH: MUALIMIN ABDI

Terima kasih, Yang Mulia.

Assalamualaikum wr. wb. Pemerintah yang mewakili Presiden, saya Mualimin Abdi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Di samping kiri saya, dari Kementerian BPN dan Agraria Tata Ruang, ya. Kemudian, di belakang dari Kemenkum HAM dan Kementerian Agama, Yang Mulia. Terima kasih.

5. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, terima kasih, Pak Mualimin.

Agenda kita pada persidangan pagi hari ini adalah Mendengarkan Keterangan DPR dan Presiden. Karena DPR masih reses, tidak bisa hadir, maka satu-satunya agenda adalah mendengarkan keterangan Presiden.

Saya persilakan, Pak Mualimin.

SIDANG DIBUKA PUKUL 11.14 WIB

(5)

6. PEMERINTAH: MUALIMIN ABDI

Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang, salam sejahtera untuk kita semua. Yang Mulia Ketua dan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi.

Terkait dengan Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, dan Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang dimohonkan oleh Prinsipal yang hadir pada hari ini Ibu Ike Farida.

Kemudian, Presiden memberikan Kuasa kepada: pertama, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Bapak Yasonna H. Laoly, kemudian

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia memberikan kuasa kepada salah satunya saya, selaku Direktur Jenderal Hak Asasi Manusia, nama saya Mualimin Abdi. Kemudian, Presiden juga memberikan kuasa kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang, Kepala Badan Pertanahan Nasional Bapak Ferry Mursyidan Baldan. Kemudian yang ketiga, Presiden juga memberikan kuasa kepada Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama.

Yang Mulia Ketua Mahkamah Konstitusi bahwa sebagaimana permohonan yang disampaikan oleh Panitera Mahkamah Konstitusi kepada Presiden, kemudian didisposisi atau diinformasikan kepada Menteri Hukum dan HAM, antara lain terkait dengan Permohonan Pasal 21 ayat (1) dan ayat (3), serta Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, dan Pasal 26 ayat (1), ayat (3), ayat (4), serta Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap Ketentuan Pasal 27 ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28E ayat (1), Pasal 28H ayat (1) dan ayat (4), serta Pasal 28I ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sebagaimana tercatat di dalam Register Nomor 69/PUU-XIII/2015.

Selanjutnya, Pemerintah dapat menyampaikan keterangan sebagai berikut, Yang Mulia.

Yang pertama, terkait dengan Pokok Permohonan Pemohon, saya kira Pemerintah tidak akan membacakannya karena sudah dianggap diketahui oleh Pemohon maupun oleh Pemerintah.

Kemudian, terkait dengan legal standing atau kedudukan hukum, Pemohon juga Pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk menilai dan mempertimbangkannya, apakah Pemohon memiliki kedudukan hukum atau tidak, sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, yaitu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011.

Kemudian, Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi. Keterangan Pemerintah akan disampaikan ... nanti secara tertulisnya

(6)

akan disampaikan kepada Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, kami tidak akan bacakan semua. Namun pada intinya, yang pertama, Pemerintah mengapresiasi, pertama kepada Pemohon, yang kebetulan saya kenal dan kawan saya ini Pemohon.

Pemerintah mengapresiasi karena apa? Bahwa Pemohon saya kira kalau dikatakan mungkin sudah kehabisan jalan dan kehabisan akal terkait dengan hal-hal yang apa yang diperjuangkan, saya kira ini jalan terbaik untuk memperoleh keadilan, untuk memperoleh hal-hal yang terkait dan hak-hak yang memang diperjuangkan oleh Pemohon.

Tadi saya ketemu sebelum sidang, ini di belakang ini juga suporternya banyak. Katanya juga memiliki nasib yang sama dengan Pemohon. Saya tahu Pemohon juga bercerita bahwa sudah melakukan upaya-upaya, antara lain dengan meminta keadilan, berkirim surat kepada Menteri Hukum dan HAM, ya, yang kebetulan juga kami sudah respons, walaupun pada saat itu Dirjen HAM-nya belum saya, tetapi sudah direspons. Kemudian, minta juga legal opinion kepada Kementerian Agraria juga, ya? Sudah direspons, Yang Mulia. Namun ternyata, keadilan itu tidak kunjung hadir.

Semoga dengan permohonan ini, nanti Mahkamah Konstitusi bisa memberikan terobosan, bisa memberikan jalan hukum kepada Pemohon. Karena Yang Mulia, jika dicermati, Undang-Undang Perkawinan maupun Undang-Undang Agraria memang kalau kita lihat, apa yang dipikirkan pada saat Tahun 1960 dan Tahun 1974 tentunya dengan melihat dinamika yang terjadi saat ini, tentunya adalah berbeda pada saat apa yang dipikirkan pada saat oleh pembuat undang-undang pada saat itu. Namun, pada dasarnya bahwa pasal-pasal yang dimohonkan oleh Pemohon yang terkait dengan hal-hal yang dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka hemat Pemerintah bahwa memang Pemohon dalam hal ini, sebagaimana juga yang hadir di belakang, memang perlu diberikan adanya instrumen hukum yang baru ataupun apa pun istilahnya, apakah dalam bentuk peraturan menteri, apakah dalam bentuk instrumen hukum yang lain untuk mewadahi pihak-pihak seperti yang Pemohon ajukan itu.

Tapi kalau dilihat dari undang-undang yang dimohonkan untuk diuji, memang pada dasarnya undang-undang ini telah memberikan kepastian dan telah memberikan hal-hal yang memang berlaku secara umum, tidak hanya untuk Pemohon. Sebagaimana kita ketahui bahwa yang menjadi dasar atau menjadi masalah di dalam praktik yang Pemohon alami, kan sebetulnya terkait dengan yang Pemohon membeli sebuah unit apartemen, yang kemudian diketahui di belakang hari karena istrinya … eh, suaminya orang asing, kemudian si pengembang itu tidak mau menyerahkan, ya? Kalau tidak salah demikian ya, Ibu Farida, ya?

(7)

Nah, kalau dilihat dengan pasal-pasal yang dimohonkan untuk diuji, sebetulnya pasal-pasal itu terkait dengan apa yang ingin dicapai oleh ketentuan di dalam undang … baik Undang-Undang Pokok Agraria maupun Undang-Undang Perkawinan, sebetulnya memang itu adalah dalam rangka melindungi dan memberikan keadilan bagi setiap Warga Negara Indonesia. Namun terkait dengan kasus yang dialami oleh Pemohon itu sendiri, maka Pemerintah memberikan keterangan, memberikan statement bahwa memang diperlukan instrumen hukum yang lain. Pemerintah berani mengatakan bahwa memang terkait dengan Pemohon ini ada kekosongan, gitu. Bagaimana kalau terjadi seperti Pemohon itu? Lazimnya di dalam Undang-Undang Pokok-Pokok Agraria maupun Undang-Undang Perkawinan, khususnya yang terkait dengan apa yang disebut dengan perjanjian perkawinan. Pada umumnya, diletakkan sebelum perkawinan itu dilaksanakan.

Nah, seperti Pemohon ini kan terjadi bagaimana kalau kemudian antara Pemohon yang kebetulan kawin dengan orang asing, ingin membeli yang sifatnya terkait dengan Undang-Undang Pokok Agraria, ada di tengah jalan. Apakah perjanjian perkawinan bisa dibuat di tengah jalan atau di mana? Ini menjadi masalah. Mungkin kalau ada instrumen hukum, misalnya setara dengan peraturan menteri, misalnya. Bahwa perjanjian perkawinan itu yang terkait dengan kepemilikan yang sudah sebagaimana dilakukan oleh Pemohon. Dan itu jika dimungkinkan, maka mungkin anggapan kerugian konstitusionalnya bisa terpulihkan. Dan menurut hemat Pemerintah, itu bisa menyelesaikan.

Sekali lagi, Yang Mulia. Bahwa Pemerintah pada posisi apa yang sebetulnya tercantum di dalam Undang-Undang Perkawinan? Walaupun Pemerintah menyerahkan sepenuhnya agar ada hal yang positif, agar hal-hal yang terjadi pada Pemohon walaupun … dan … apa … pihak-pihak yang lain yang saya yakin tidak hanya satu, dua, saya yakin banyak. Karena dinamika lalu lintas orang, kemudian perkawinan yang ada di Indonesia juga sekarang banyak sekali orang Indonesia yang kawin dengan bangsa-bangsa dari negara lain dan ini tidak bisa dicegah. Mau-tidak mau akan terkait dengan harta, akan terkait dengan kekayaan, akan terkait dengan properti, akan terkait dengan rumah, dan seterusnya. Oleh karena itu, barangkali ini yang kita perlu pikirkan bersama.

Oleh karena itu, Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, Pemerintah tidak akan menguraikan, apakah ini yang dimohon bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 atau tidak. Namun Pemerintah, pada dasarnya mendorong sebagaimana yang Pemerintah sudah sampaikan.

Tetapi, sebagai kesimpulannya bahwa pasal-pasal yang dimohonkan menurut Pemerintah justru itu pasal-pasal yang memang dalam rangka untuk memberikan perlindungan kepada setiap orang. Namun sekali lagi, Pemerintah memikirkan … perlu memikirkan setelah

(8)

nanti ada putusan dari Mahkamah Konstitusi, jalan apa yang harus kita tempuh, barangkali itu menjadi pijakan dan menjadi pedoman bagi Pemerintah dan masyarakat pada umumnya, agar pihak-pihak yang terkait dengan sebagaimana yang dialami oleh Pemohon di kemudian hari tidak terjadi dan kerugian konstitusional yang dialami oleh Pemohon dan pihak yang nasibnya sama dengan Pemohon dapat dipulihkan.

Saya kira ini, Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi. Maka sebagai petitumnya, Pemerintah kepada … memohon kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang memeriksa, mengadili, dan memutuskan Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk memberikan putusan yang seadil-adilnya dan yang sebijaksana-bijaksananya. Ex aequo et bono.

Terima kasih, wabillahitaufiq walhidayah. Wassalamualaikum wr. wb.

7. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Waalaikumussalam wr. wb. Terima kasih, Pak Mualimin.

Apakah ada yang akan dimintakan keterangan lebih lanjut? Silakan, Yang Mulia.

8. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA

Saya … enggak, saya hanya ini. Saya dengan … teringat dengan kejadian di sebuah seminar, 2 atau 3 tahun yang lalu, sebelum saya di Mahkamah Konstitusi. Saya pernah diundang oleh satu forum seminar nasional. Kalau enggak salah, yang mengadakan itu Perca atau apa, atau perkawinan campuran, tapi tidak terkait dengan persoalan ini. Tapi di situ, saya menemukan fakta bahwa salah satu yang saya ingat itu adalah memang ada banyak sekali persoalan-persoalan yang timbul dari akibat adanya perkawinan campuran itu yang ternyata belum ada regulasinya pada kita.

Nah, yang saya mau tanyakan, barangkali Pemerintah mempunyai data, entah siapa, ya, apakah di Kementerian Agraria, atau di Kementerian Hukum dan HAM, (suara tidak terdengar jelas) atau mungkin Kementerian Dalam Negeri malahan. Karena ini juga nanti berkait dengan soal kewarganegaraan misalnya, apakah punya data enggak yang lengkap? Ini sebenarnya ada berapa jumlah … apa … status warga negara kita yang seperti Pemohon ini, gitu, ya. Dan itu kan salah satu fakta sosiologis yang mungkin nanti bikin bahan pertimbangan dari Pemerintah … untuk dan juga bagi Mahkamah, ya.

(9)

Kemudian yang kedua, sepengetahuan Pak Mualimin atau Wakil Pemerintah yang hadir di sidang ini, sudah pernah enggak ada semacam inisiatif, gitulah dari Presiden atau dari Pemerintah untuk mengajukan semacam rancangan undang-undang, atau entah perubahan, ataukah undang-undang baru yang berkait dengan pengaturan soal-soal ini? Karena menurut saya, ke depan ini yang persoalan ini akan menjadi persoalan yang makin serius. Dan memang seperti kata Pemerintah tadi juga, itu memerlukan ini. Tetapi, sayangnya kan kewenangan Mahkamah terbatas, dibatasi oleh Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Mahkamah misalnya tidak mempunyai kewenangan untuk memutus perkara pengaduan konstitusional misalnya, yang mungkin mirip dengan apa yang dihadi … diajukan oleh Pemohon sekarang ini. Ya, mungkin Mahkamah dalam batas-batas tertentu memang bisa berijtihad untuk itu. Tetapi, kan tentu tidak dengan soal-soal yang sudah pasti ditentukan secara fix bahwa itu merupakan kewenangan Mahkamah Konstitusi atau bukan.

Nah, sepanjang masih dalam kewenangan, saya kira bisa. Tetapi, yang saya mau tanyakan itu adalah data sosiologis, satu mengenai keberadaan warga negara yang mengalami masalah seperti ini, khususnya seperti Pemohon. Dan kemudian yang kedua, apakah ada inisia … pernah ada inisiatif dari Presiden misalnya, mengajukan rancangan perbaikan … undang-undang, ataukah hak-hak, mungkin ini nanti akan kami tanya juga kepada DPR, apakah di badan legisla … di balik DPR ada mengagendakan rancangan undang-undang yang berkait dengan soal ini, apakah itu nanti dimasukkan ke undang-undang kewarganegaraan. Tentu akan bercampur … akan apa namanya … bersinggungan dengan persoalan-persoalan yang lain, termasuk persoalan-persoalan perkawinan, persoalan pemilikan properti, dan sebagainya.

Nah, itu yang mungkin tidak perlu dijawab secara lisan oleh Pemerintah, mungkin nanti bisa ditambahkan dalam keterangan Pemerintah berikutnya.

Terima kasih, Yang Mulia.

9. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Terima kasih. Yang Mulia Pak Wahiduddin dulu. Saya persilakan.

10. HAKIM ANGGOTA: WAHIDDUDIN ADAMS

Baik, terima kasih, Yang Mulia Ketua. Saya ingin juga … mungkin nanti Pemerintah dapat memberikan kelengkapan dari yang disampaikan. Terutama terkait dengan Ketentuan Pasal 29 ayat (1) dan juga Pasal 35 ayat (1) dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, yang

(10)

di dalam permohonan dan petitum itu untuk frasa pada waktu atau sebelum dilangsungkan, ini dinyatakan bertentangan.

Nah, ini mohon diberikan penjelasan. Apabila hal itu dinyatakan bertentangan, bagaimana bunyi pasal itu? Karena ada dua hal, Pasal 29 ayat (1) itu terkait dengan judul Bab Perjanjian Perkawinan, Pasal 35 ayat (1) itu dalam Bab Harta Benda dalam Perkawinan.

Nah, di dalam permohonan Pemohon, juga belum disampaikan bahwa sebetulnya pada waktu Inpres Nomor 1 Tahun 1991, dikompilasi hukum Islam, itu juga pernah dibuat rincian yang nampaknya ini juga sebetulnya dapat dipakai terkait dengan masalah yang dihadapi oleh Pemohon. Karena di dalam Pasal 47 Inpres ya memang status … apa … hierarki perundang-undangannya … apa … tidak ada di dalam … apa … hierarki dan jenis perundang-undangan, tapi ini dipakai di dalam … di pengadilan, terutama di Pengadilan Agama. Yang di sana disebutkan perjanjian dapat meliputi percampuran harta pribadi dan pemisahan harta pencarian masing-masing, sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan hukum Islam.

Di samping ketentuan ayat (1), ayat (2) di atas, boleh juga isi perjanjian menetapkan kewenangan masing-masing untuk mengadakan ikatan hipotik atas harta pribadi, dan harta bersama, atau harta syarikat. Jadi artinya, pernah upaya-upaya untuk mencari solusi terhadap terkait dengan Pasal 29 ayat (1) itu.

Kemudian terhadap Pasal 35, ini kalau harta bersama itu dimaknai hak untuk menuntut, itu juga terputus bunyi dari ketentuan Pasal 35 itu karena itu menyangkut tentang harta benda. Dan hampir juga sepanjang yang kita amati, ini sebetulnya ketentuan ini berasal dari BW bahwa pada waktu dan sebelum perkawinan itu dapat dilakukan, termasuk BW Belanda yang baru sekarang, Pasal 114 new BW, itu persis sama. Ya bahkan ketika Rancangan Undang-Undang Perkawinan di Pasal 29 itu tidak berubah dari rancangannya, yang waktu itu dituduh bahwa ini apa konkordan dengan BW Belanda, ternyata sama, dan sampai sekarang pun sama.

Jadi, di Belanda pun yang turunan ini tetap sama. Jadi, mungkin apakah masih … apa … terkait dengan Pasal 29 … Pasal 35, justru mungkin di Undang-Undang Agrarianya yang memang ada masalah, tapi bukan di Undang-Undang Perkawinannya. Ini untuk menjadi penjelasan nanti, mungkin Pemerintah bisa mencari beberapa bahan tambahan bagi Majelis.

Saya kira terima kasih.

11. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Terima kasih, Yang Mulia. Yang terakhir Yang Mulia Dr. Suhartoyo, saya persilakan.

(11)

12. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO

Terima kasih, Pak Ketua. Untuk sekarang atau saat ini, nampaknya berbeda Pak Dirjen ini dengan kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, apakah karena Pemohonnya temannya atau bagaimana ini? Biasanya selalu amar, tanggapan Pemerintah supaya NO atau ditolak, tapi untuk sekali ini, nampaknya berbeda atau memang ini ada kaitannya dengan kalau tidak salah, saya pernah membaca pemberitaan bahwa Presiden sendiri sudah punya wacana untuk itu, Pak … Pak Dirjen. Jangan kemudian, Presiden sudah sebenarnya mau me-launching, kemudian karena ada permohonan di Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Konstitusi menjadi bumper ini. Lebih aman kalau Mahkamah Konstitusi kemudian yang meluruskan, daripada Presiden mengeluarkan Kepres. Kalau tidak salah, waktu itu akan menggunakan Kepres. Bahkan Pak Wapres sendiri dalam suatu running teks saya baca, yang nilainya di bawah Rp 5 miliar, pembatasannya di sana. Artinya bahwa soal batasan mungkin tidak … tidak begitu penting, ya, tapi paling tidak bahwa sudah ada wacana dari pihak Presiden, Pemerintah, dalam hal ini bahwa memang ini akan dibuka.

Jadi, mohon nanti Pak Dirjen bisa menjelaskan. Jangan kemudian Mahkamah Konstitusi yang sebenarnya kewenangannya terbatas, tapi karena mempunyai kekuatan yang sedemikian luar biasa, artinya bahwa bisa kemudian dijadikan tempat untuk berlindung di balik itu, kemudian Presiden tidak jadi mengeluarkan kebijakan itu. Artinya, mohon nanti dijelaskan Pak Dirjen.

Kemudian yang kedua, memang menurut pemahaman saya, memang kalau misalnya ada perjanjian perkawinan tentang pemisahan harta, sebenarnya kan tidak ada persoalan untuk yang WNI untuk mendapatkan pemberian properti itu. Ini … artinya, ini juga hanya tambahan kalau nanti memang benar ini sampai kepada Mahkamah harus mengadili ... harus memeriksa substansinya artinya. Tapi, itu soal lain. Artinya, yang lebih di depan saya mohon nanti Pak Dirjen bisa menjelaskan soal ini, supaya kalau memang Presiden sudah punya (suara tidak terdengar jelas) seperti itu, lebih indah saya kira itu diutamakan.

Terima kasih, Pak.

13. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR

Terima kasih, Pak Ketua. Saya ingin menyampaikan kepada Pemerintah. Kemarin saya melakukan kritikan yang agak tajam kepada Pemerintah. Karena kalau ada pengujian undang-undang, seakan-akan berhadap-hadapan dengan masyarakat, sebetulnya kan enggak begitu. Jadi, sikap Pemerintah yang hari ini tolong dibiasakan seperti itu, gitu. Itu saja, terima kasih.

(12)

14. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Terima kasih, Yang Mulia. Ya, baik. Pak Mualimin, silakan akan direspons, yang tentunya nanti ditambahkan dalam respons tertulis, ya. Baik, silakan.

15. PEMERINTAH: MUALIMIN ABDI

Terima kasih, Yang Mulia. Saya balik dulu dari yang paling ujung. Nah, justru ini memang terinspirasi oleh Pak ... Yang Mulia Pak Patrialis Akbar. Memang walaupun saya kemarin waktu hari apa saya tidak sempat hadir, tapi saya membaca risalah sidangnya Pak Patrialis Akbar.

Memang terkait dengan permohonan pengujian yang diajukan oleh Bu Ike Farida, sekaligus ini Pak ... merespons Pak Suhartoyo. Ya, memang kami kalau dengan kawan-kawan pengacara, memang semuanya kenal, Pak Suhartoyo itu, ya. Bahkan Ibu Ike Farida pun, ya, sering berkonsultasi gitu, ya, kalau seperti ini. Jadi ... oleh karena itu, kalau saya berpandangan bahwa walaupun kawan, walaupun teman, tetapi sembilan Hakim Yang Mulia inilah menjadi benteng terakhirnya, Yang Mulia.

Memang pada saat merespons permohonan ini, kami rapat, Yang Mulia, dengan Kementerian Agama dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Memang ini ada hal yang memang berbeda, Yang Mulia, halnya berbeda memang ini.

Ini ada Pemohon setelah kami teliti pasal per pasal, memang kami menyadari bahwa ini masalah yang memang harus diselesaikan. Saya sepakat dengan Yang Mulia Hakim Konstitusi Pak Suhartoyo, nanti kami akan menginformasikan kepada Bapak Menteri apa yang terjadi di persidangan hari ini, semoga nanti Pak Menteri Hukum dan HAM bisa mendorong juga Pak Presiden untuk segera memberikan atau mengambil jalan, gitu, mengapresiasi hal-hal yang seperti ini. Nanti kami akan laporkan kepada Bapak Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Poinnya adalah ke depan, Yang Mulia Pak Patrialis Akbar, kami akan cermati setiap permohonan yang memang kalau demikian halnya, kami tidak akan melakukan defense terus bahwa tidak bertentangan, menolak, tidak punya legal standing. Mudah-mudahan ke depan kita pikirkan, agar mungkin ... tapi walaupun Pemerintah demikian, ya, tetap saja nanti bentengnya di sembilan Hakim Mahkamah Konstitusi yang akan menilai, apakah itu bertentangan atau tidak dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

Kemudian yang terkait Yang Mulia Pak Palguna, nanti kami akan penuhi, Pak Palguna, datanya yang terkait dengan rekan-rekan yang telah melakukan perkawinan campuran itu.

Kemudian nanti, Yang Mulia Pak Wahiduddin Adams, nanti kami akan teliti kembali yang terkait dengan inpres yang terkait dengan

(13)

kompilasi hukum Islam. Memang di dalam tatanan praktik, seperti yang dialami oleh Pemohon, sebetulnya Pemohon juga sudah mencari-cari alasan, kenapa kok memilih ... membeli properti, begitu kemudian di belakang hari ketahuan suaminya orang asing, properti itu tidak diserahkan dengan alasan bahwa dia kawin dengan orang asing. Memang Pemohon sudah berdiskusi juga dengan kami, Yang Mulia. Celah apa, jalan apa agar pengembang itu meyakini bahwa dia memang berhak. Itu termasuk kompilasi hukum Islam kita buka juga, Yang Mulia, tapi nanti kita ... kita apa ... sempurnakan. Makanya, kami waktu itu berpikir dengan kawan-kawan Kementerian Agraria bahwa apakah instrumen hukum yang tadi antara lain yang ... Yang Mulia Pak Suhartoyo sampaikan ada rencana … apa ... kepres dan seterusnya, apakah ada instrumen dalam rangka itu yang lebih (suara tidak terdengar jelas) misalnya dengan peraturan menteri mengimbau atau paling tidak memberikan tekanan kepada pengembang, persoalan-persoalan begini jangan dihambat karena akan ... pada dasarnya, ini adalah hak-hak yang memang dimiliki oleh setiap orang dan termasuk Para Pemohon.

Barangkali ini yang kami bisa tambahkan, Yang Mulia. Nanti akan lebih secara rinci akan disampaikan secara tertulis.

Terima kasih, Yang Mulia.

16. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, terima kasih, Pak Mualimin, yang telah menambahkan keterangannya.

Sebelum saya akhiri persidangan ini, saya akan menanyakan pada Pemohon. Apakah Pemohon akan mengajukan saksi atau ahli dalam persidangan berikutnya?

17. PEMOHON: IKE FARIDA

Ya, terima kasih, Yang Mulia. Kami akan menghadirkan saksi, insya Allah saksi ahli juga akan hadir.

18. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Saya inventarisir supaya bisa kita agendakan. Berapa saksi? Berapa ahli?

19. PEMOHON: IKE FARIDA

Sampai dengan sekarang belum pasti, tapi kurang-lebih saksi fakta itu ada 15, Yang Mulia.

(14)

20. KETUA: ARIEF HIDAYAT Oh, banyak sekali.

21. PEMOHON: IKE FARIDA

Dan saksi ahli barangkali ada 3 insya Allah.

22. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Saksi ahlinya ... anu ... 3? Ahlinya 3 ya?

23. PEMOHON: IKE FARIDA

Ya, Yang Mulia.

24. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Saksinya 15?

25. PEMOHON: IKE FARIDA

Insya Allah, Yang Mulia.

26. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Begini. Kalau keterangannya mirip-mirip, itu bisa lebih efisien, tidak perlu sebanyak itu, ya. Nanti bisa dipikirkan, ya. Kalau melihat perkara ini, kan mungkin keterangannya akan mirip-mirip, sebagaimana yang sudah disampaikan di permohonan, permohonan itu kan menyantumkan ada beberapa kasus yang terjadi, ya. Kasusnya kan sekitar itu, jadi tidak perlu sebanyak itu, kecuali memang ada yang spesifik yang berbeda, silakan dipilah dan dipilih, sehingga lebih efisien, baik dari sisi waktu maupun dari sisi apa pun di dalam persidangan ini. Jadi mungkin tidak sebanyak 15, tapi nanti silakan, tapi kita akan mau mulai dari saksi fakta dulu atau ahli dulu?

27. PEMOHON: IKE FARIDA

Saya serahkan ke Yang Mulia, Yang Mulia.

28. KETUA: ARIEF HIDAYAT

(15)

29. PEMOHON: IKE FARIDA Baik, Yang Mulia.

30. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Tiga orang, tiga ahli kita akan dengar pada persidangan yang berikutnya, sambil kita juga akan mendengar keterangan dari DPR bagaimana. Terus kemudian yang 15 itu, nanti silakan Pemohon membicarakan dengan Kuasa Hukumnya, ya. Kira-kira itu tadi memilih dan memilah, sehingga keterangannya tidak sejenis, tapi keterangannya bisa ada spesifikasi tertentu yang bisa memperkuat permohonan ini, ya.

31. PEMOHON: IKE FARIDA

Baik, Yang Mulia.

32. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, kalau begitu (...)

33. PEMOHON: IKE FARIDA

Mohon maaf, Yang Mulia.

34. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Ya?

35. PEMOHON: IKE FARIDA

Mohon izin, seandainya untuk saksi ahli yang tadi akan dihadirkan duluan, kemudian kami baru mendapatkan satu atau dua orang, kemudian terseling dengan saksi fakta, apakah (...)

36. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Boleh, boleh, tapi ... baik, kalau begitu, kita agendakan begini, kalau bisa ahli 3, kita 3, ya. Tapi kalau tidak bisa, ahlinya 1, saksi faktanya 3. Itu, ya. Supaya 4 orang bisa kita dengarlah dalam persidangan yang akan datang. Nanti yang berikutnya baru 4 lagi, begitu ya.

(16)

37. PEMOHON: IKE FARIDA

Baik, terima kasih, Yang Mulia.

38. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, kalau begitu (...)

39. PEMOHON: IKE FARIDA

Mohon maaf, Yang Mulia. Satu ... mohon izin bicara satu menit barangkali?

40. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Silakan.

41. PEMOHON: IKE FARIDA

Ya, terima kasih. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan, saya hanya ingin memberikan sedikit garis bawah dari permohonan saya di dalam permohonan yang kami sampaikan, khususnya tadi menanggapi Yang Mulia Bapak Suhartoyo. Betul memang bagi WNI yang menikah dan mereka punya perjanjian kawin ada sebagian yang tidak bermasalah, tapi ternyata sebagian juga ada yang ditolak. Penolakan tersebut itu sangat bervariatif, terkadang terjadi di tahapan notaris, terjadi di tahapan BPN, terjadi di tahapan developer, ataupun bank. Misalnya salah satu dari kawan-kawan yang juga hadir di sini mengalami bahwa ketika dia menerima tanah dari orang tuanya, terus kemudian dan setelah dia menikah tanah tersebut mau dia gadaikan di bank untuk pinjam uang, kemudian karena dia tidak punya misalnya perjanjian, ditolak oleh pihak bank karena suami Anda orang asing.

Tapi juga (...)

42. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO

Tidak ada pernjanjian pemisahan harta bersama pasti ditolak.

43. PEMOHON: IKE FARIDA

(17)

44. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO

Tapi kalau ada pemisa ... perjanjian pemisah antar bersama, nah itu berarti di tataran implementasi. Unit-unit itu yang mestinya harus ada keseragaman, nah itu tentunya tugas Pak Dirjen itu. Terima kasih, Pak.

45. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Jadi (...)

46. PEMOHON: IKE FARIDA

Mohon maaf (...)

47. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Jadi intinya anu, ya. Intinya di lapangan, ya ada fakta bahwa ada penafsiran yang berbeda-beda karena penafsiran itu menyebabkan perlakuan yang berbeda-beda, ya?

48. PEMOHON: IKE FARIDA

Saya tidak melihat ini sebagai sebuah implementasi, tapi saya melihat sendiri bahwa pasal-pasal tersebutlah seperti yang tadi sudah disampaikan oleh pihak Pemerintah yang harus diakomodasi karena tidak sesuai lagi dengan kemajuan yang sekarang.

49. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Ya, baik.

50. PEMOHON: IKE FARIDA

Itu yang pertama, Yang Mulia. Mohon izin satu lagi.

Yang kedua adalah saya di sini sebagai Warga Negara Indonesia, tadi disampaikan bahwa mungkin Bapak Presiden ingin memfasilitasi untuk warga negara asing. Tapi saya di sini ini tidak meminta kepada Pemerintah untuk juga memberikan hak kepada suami kami yang asing, tidak. Setidaknya kepada kami.

51. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Ya, baik. Inti permohonannya memang begitu. Baik, ya sudah kita dengar itu ya dan di dalam permohonan sudah jelas yang kita pelajari ya.

(18)

Baik, baik nanti sambil kita berjalan dengan ... anu ... bisa juga nanti di dalam kesimpulan yang Saudara Pemohon simpulkan dari seluruh rangkaian persidangan ditambahkan apa yang menjadi ... anu ... itu ya.

52. PEMOHON: IKE FARIDA

Baik, terima kasih, Yang Mulia.

53. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, kalau begitu, sebelum saya akhiri, perlu saya sampaikan bahwa persidangan yang akan datang akan kita selenggarakan pada hari Selasa, 11 Agustus 2015, pada pukul 14.00 WIB, dengan agenda mendengarkan keterangan DPR dan keterangan saksi atau ahli dari Pemohon maksimal 4 orang, nanti yang akan kita dengar, ya. Sebelum persidangan, data curriculum vitae dari ahli dan data KTP dari saksi bisa disampaikan ke Kepaniteraan, ya.

54. PEMOHON: IKE FARIDA

Baik, Yang Mulia. Terima kasih.

55. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Terima kasih, sidang hari ini selesai dan ditutup.

Jakarta, 29 Juli 2015

Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d

Rudy Heryanto

NIP. 19730601 200604 1 004 SIDANG DITUTUP PUKUL 11.50 WIB

Referensi

Dokumen terkait

Jika sudah ketemu dengan file popojicms yang akan anda upload, silakan klik kanan pada nama file popojicms.v.1.2.5 lalu klik upload.. biarkan kosong saja, lalu klik

Apabila ketuban  pecah sebelum usia kehamilan kurang dari 37 minggu akan meningkatkan risiko infeksi, juga meningkatkan risiko terjadinya penekanan tali pusat yang

Berdasarkan perbandingan nilai korelasi antara nilai dugaan respon akhir dan peubah respon

Pada aplikasi 1: Gambar 1, 2 dan 3 dapat dilihat Pada aplikasi 2: Gambar 4, 5 dan 6 dapat dilihat bahwa prosentase kematian larva Aedes aegypti pada bahwa prosentase

Kedua, penelitian dengan judul “Coping Strategy pada Mahasiswa Salah Jurusan” yang dilakukan oleh Intani dan Surjaningrum (2010). Hasil penelitian tersebut memperlihatkan

Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi arus kas operasional perusahaan maka semakin tinggi kepercayaan investor pada perusahaan tersebut, sehingga

Dari hasil analisa pada studi banding dan literatur, pelaku utama adalah pemakai bangunan pusat perbelanjaan merupakan kelompok aktivitas yang di dalamnya

Mangrove di Kecamatan Maros Baru tersebar di sepanjang tepi pantai dan daerah aliran sungai yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang menjadi